Anda di halaman 1dari 13

Laporan Praktikum

Hari/tanggal

: Rabu, 18 Februari 2015

Biokimia Umum

Waktu

: 14.00 17.00 WIB

PJP

: Puspa J Puspita

Asisten

: Amik Choirul
Eneng Nurlaela
Pamungkas RF
Mutmainah
Yuyun H

BIOFISIK I
( Bobot Jenis, Tegangan Permukaan, Emulsi )
Kelompok V
Novdesari Mia Alstonia

B04140024

Jeni Maharani

B04140045

Argo Wibowo Bayu Aji

B04140077

DEPARTEMEN BIOKIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2015

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sifat biofisik merupakan sifat alami yang dimiliki oleh suatu larutan atau cairan.
Praktikum biofisik kali ini akan mempelajari tentang bobot jenis larutan, tegangan
permukaan, dan emulsi.
Bobot jenis adalah rasio bobot zat baku yang volumenya sama pada suhu
yang sama dan dinyatakan dalam desimal. Bobot jenis menggambarkan hubungan
antara bobot suatu zat terhadap bobot suatu zat baku. Jadi, bobot jenis hanyalah suatu
perbandingan dari massa jenis suatu benda terhadap massa jenis substansi standar
(Ansel 2004). Bobot jenis dapat ditentukan dengan menggunakan berbagai tipe
piknometer, neraca Mohr-Westphal, hidrometer dan alat-alat lain.
Tegangan permukaan cairan adalah gaya persatuan panjang pada permukaan
yang melawan ekspansi dari luas permukaan. Tegangan permukaan merupakan sifat
permukaan suatu zat cair yang berperilaku layaknya selapis kulit tipis yang kenyal
atau lentur akibat pengaruh tegangan. Pengaruh tegangan tersebut disebabkan oleh
adanya gaya tarik-menarik antar-molekul di permukaan zat cair tersebut ( Indarniati
2012 ). Zat padat juga mempunyai tegangan permukaan, tetapi lebih sukar untuk
ditentukan ( Alberty 1992 ).
Emulsi adalah suatu dispersi atau suspensi suatu cairan dalam cairan yang
lain, yang molekul-molekul kedua cairan tersebut tidak saling berbaur tetapi saling
antagonistik. Pada umumnya emulsi bersifat tidak stabil, yaitu dapat dipecah atau
lemak dan air dapat terpisah, tergantung dari keadaan lingkungannya. Emulsi ada dua
macam yaitu emulsi air dalam lemak atau emulsi water in oil (w/o) dan emulsi lemak
dalam air atau emulsi oil in water (o/w). Untuk menstabilkan sistem emulsi biasanya
distabilkan dengan zat pengemulsi atau surfaktan yang cocok (Effendi 2004). Emulsi
yang dikenal mayonnaise, french dressing, cheese cream, kuning telur, serta susu.
Dalam farmasi, bobot jenis adalah faktor yang memungkinkan pengubahan
jumlah zat dalam formula farmasetik dari bobot menjadi volume dan sebaliknya

(Ansel 2004). Sifat emulsi dari Biofisik juga dapat digunakan untuk pembuatan obatobatan dalam bentuk gel maupun salep. Secara keseluruhan aplikasi sifat-sifat
biofisik dalam bidang medis sangat berperan untuk pembuatan obat-obatan. Secara
otomatis, sifat biofisik juga berperan dalam bidang kedokteran hewan. Obat-obatan
merupakan hal utama dalam praktik kedokteran hewan. Tanpa obat, pelaksanaan
fungsi dokter hewan tidak terlaksana. Sehingga aplikasi sifat-sifat biofisik sangat
diperlukan dalam bidang kedokteran hewan (Einstein 2005)

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah
1) menentukan bobot jenis suatu larutan,
2) mengamati perbedaan tegangan permukaan pada berbagai jenis larutan,
3) mengamati perbedaan sifat berbagai jenis emulsi.

METODE PRAKTIKUM
Tempat dan Waktu Praktikum
Praktikum ini dilakukan di laboratorium biokimia FMIPA Institut Pertanian
Bogor pada hari Rabu tanggal 18 Februari 2015 pukul 14.00 17.00 WIB.
Alat dan Bahan
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah urinometer, gelas arloji,
gelas piala, jarum, pipet mohr, pipet volumetrik, balb, tabung reaksi, mortar,
termometer, dan mikroskop.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah akuades, larutan
NaCl 0,3%, NaCl 0,9%, NaCl 5%, glukosa 5%, air kelapa, air kran, larutan albumin
1%, urin, cairan empedu, air sungai, larutan detergen, larutan NaCl 20%, alkohol,
minyak mineral (minyak tanah), air sabun, minyak kelapa, sudan merah, gum arab,
susu segar, dan margarin.
Prosedur Percobaan
Mengukur bobot jenis dari berbagai jenis cairan. Pertama, menentukan bobot
jenis akuades, larutan NaCl 0.3%, NaCl 0.9%, NaCl 5%, glukosa 5%, air kelapa, air
kran, dan larutan albumin 1%. Kemudian menentukan bobot jenis urin pada masingmasing kelompok dan memasukkan data ke dalam tabel.
Menentukan tegangan permukaan cairan. Pertama, menentukan tegangan
permukaan cairan alamiah. Prosedurnya yakni meletakkan satu jarum pada gelas
arloji kemudian mengisinya dengan akuades dengan hati-hati sehingga jarum tersebut
terapung. Lalu ulangi dengan cairan empedu, air kelapa, air sungai dan larutan
detergen. Kedua, menentukan jumlah tetesan 2 ml akuades menggunakan pipet yang
dipegang lurus. Sebelumnya bersihkan dan bilaslah pipet dengan akuades. Lalu
ulangi lagi untuk larutan NaCl 20%, alkohol, minyak tanah, dan air sabun.

Mempelajari sistem emulsi. Pertama, membuat emulsi minyak kelapa dan air
dengan mencampurkan keduanya di dalam tabung reaksi dan mengocoknya. Lalu
menambahkan sudan merah untuk mewarnai minyak kelapa. Kedua, membuat emulsi
minyak kelapa dan sabun seperti cara pertama. Ketiga, membuat emulsi minyak
kelapa dan gum arab dengan mencampurkannya ke dalam mortal lalu mengaduknya.
Setelah itu masukkan campuran ke dalam tabung reaksi dan tambahkan sudan merah.
Keempat, mengamati emulsi susu segar lalu menambahkan sudan merah. Kelima,
mengamati emulsi margarin dan menambahkan sudan merah. Terakhir mengambil
sampel dari masing-masing emulsi untuk diamati di mikroskop lalu menentukan jenis
emulsinya.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Bobot jenis larutan
Tabel 1. Data pengukuran bobot jenis larutan alamiah
T Larutan
Larutan
T Alat (oC)
(C)
Akuades
20
27

Faktor

BJ

Koreksi
2

Terkoreksi
1,006

NaCl 0,3%

20

30

1,009

NaCl 0,9%

20

30

1,013

NaCl 5%

20

29

1,039

Glukosa 5%

20

28

1,023

Air kelapa

20

28

1,021

Air kran

20

27

1,004

Larutan albumin 1%

20

29

1,013

Bobot jenis suatu zat adalah perbandingan antara bobot zat dibanding dengan
volume zat pada suhu tertentu (biasanya suhu kamar), didefiniskan sebagai hubungan
dari massa (m) suatu bahan terhadap volume (v). Bobot jenis suatu larutan
bergantung pada jumlah zat yang terlarut dalam larutan tersebut. Hidrometer atau
Urinometer digunakan dalam percobaan ini untuk mengukur bobot jenis suatu cairan
atau larutan pada temperatur yang tercatat pada hidrometer. Pada percobaan ini, suhu
tera yang tercantum pada hidrometer yang digunakan adalah 20C, jadi untuk cairan
yang suhunya berbeda harus dikoreksi terlebih dahulu untuk memperkecil galat atau
kesalahan.
Berdasarkan hasil percobaan, setelah dikoreksi didapat bobot jenis akuades
1,006; NaCl 0,3% 1,009; NaCl 0,9 % 1,013; NaCl 5% 1,039; glukosa 5% 1,023; air
kelapa 1,021; air kran 1,004; dan larutan albumin 1% 1,013. Perbedaan masingmasing bobot jenis cairan ini karena adanya perbedaan konsentrasi dan zat terlarut
yang terkandung didalam masing-masing cairan tersebut. Dari hasil tersebut, NaCl
5% memiliki bobot jenis lebih besar dibandingkan NaCl 0,3% dan NaCl 0,9%. Hal

ini dikarenakan NaCl 5% memiliki konsentrasi yang lebih besar dari pada yang lain.
Sesuai dengan teori bahwa semakin besar konsentrasi senyawa suatu larutan, maka
semakin besar pula berat jenis larutan tersebut.
Akuades dan air kran memiliki bobot jenis yang paling kecil. Hal ini
dikarenakan akuades dan air kran tidak mengandung zat-zat terlarut atau sangat
sedikit zat terlarutnya. Semakin tinggi konsentrasi zat terlarut menunjukkan bahwa
jumlah zat terlarut semakin banyak, sehingga bobot jenisnya tinggi. Sebaliknya,
semakin rendah konsentrasi zat terlarut menunjukkan bahwa zat terlarut sedikit,
sehingga bobot jenis larutan rendah. Adapun kesalahan yang terjadi dari pengukuran
bobot jenis akuades dan air kran, yaitu seharusnya bobot jenis air kran lebih besar
dari bobot jenis akuades karena air kran mengandung zat terlarut lebih banyak
dibanding akuades. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena kesalahan pembacaan
hidrometer.
Tabel 2. Data pengukuran bobot jenis urin manusia
Larutan urin meja
ke
1

T Alat (oC)

T Larutan

Faktor

BJ

(C)

Koreksi

Terkoreksi

29

1,021

20

20

20

20

20

20

20

Pengukuran bobot jenis urin dilakukan dengan menggunakan urinometer.


Bobot jenis urin setiap manusia berbeda-beda. Faktor-faktor yang mempengaruhi
perbedaan bobot jenis urin adalah makanan yang dikonsumsi, jumlah relatif air, dan
zat terlarut yang dapat berupa garam dan urea yang tersedia untuk ekskresi. Bobot

jenis normal urin manusia adalah 1,010-1,025 (Carpenito 2009). Kemampuan ginjal
memekatkan urin yaitu dari 1,001-1,035. Urin manusia paling pekat didapatkan pada
saat bangun tidur karena saat tidur biasanya kekurangan air. Bila urin encer, maka
warnanya akan pucat dan bobot jenisnya rendah, sedangkan bila urin pekat warnanya
gelap dan bobot jenisnya tinggi (Brooker 2001).
Tegangan permukaan
Tabel 3. Data tegangan permukaan
Jenis Cairan
Akuades

Tabel 4. Pengamatan jumlah tetesan

Pengamatan
Tenggelam

Empedu

Tenggelam

Air kelapa

Mengapung

Air sungai

Mengapung

Larutan detergen

Tenggelam

Jenis Cairan
NaCl 20%

Pengamatan
48 tetes

Alkohol

96 tetes

Minyak tanah

117 tetes

Air sabun

150 tetes

Percobaan Biofisik 1 ialah


membandingkan tegangan permukaan pada beberapa larutan yang memiliki
kandungan berbeda-beda. Larutan tersebut akan ditambahkan pada gelas arloji yang
telah diisi oleh sebuah jarum. Tegangan permukaan dapat dibandingkan dengan
mengamati reaksi pada jarum. Berdasarkan tabel (3) data yang dibandingkan
tegangan permukaannya adalah larutan akuades, larutan empedu, air kelapa, air
sungai dan larutan detergen. Setelah satu buah jarum di dalam gelas arloji
ditambahkan larutan diatas secara bergantian hasilnya yakni, jarum terapung pada air
kelapa dan air sungai. Hal ini disebabkan oleh banyaknya jumlah zat yang terkandung
didalam kedua air tersebut. Partikel-partikel yang terkandung didalam air kelapa dan
air sungai saling berikatan satu sama lain dan juga berikatan dengan jarum dan
mendorongnya ke atas sehingga jarum dapat terapung. Sedangkan pada larutan
akuades, larutan empedu, dan larutan deterjen, jarung tenggelam. Hal ini disebabkan

oleh sedikitnya jumlah zat yang terkandung didalam ketiga larutan tersebut. Dengan
kata lain jarum tenggelam karena sedikitnya partikel yang mendorongnya keatas.
Selanjutnya ialah membandingkan tegangan permukaan dengan meneteskan
larutan pada sebuah pipet. Tegangan permukaan dapat dibandingkan dengan
menghitung jumlah tetesan larutan dari pipet. Semakin banyak jumlah tetesan maka
tegangan permukaannya semakin kecil. Semakin sedikit jumlah tetesan

maka

sebaliknya tegangan permukaannya semakin besar. Berdasarkan tabel (4) data yang
dibandingkan jumlah tetesannya yakni dari larutan NaCl 20%, alkohol, minyak tanah,
dan air sabun. Setelah masing-masing larutan diteteskan dengan volume yang sama
menggunakan pipet hasilnya yakni, pada larutan NaCl 20% menghasilkan sebanyak
48 tetes, alkohol menghasilkan sebanyak 96 tetes, minyak tanah menghasilkan
sebanyak 117 tetes, dan air sabun menghasilkan sebanyak 150 tetes. Dari data yang
didapatkan, urutan tegangan permukaan dari yang paling besar ialah pada larutan
NaCl 20%, alkohol, minyak tanah, dan air.
Emulsi
Tabel 5. Jenis-jenis emulsi
Larutan
Minyak

Jenis

Kestabilan

Medium

Fase

Emulsi
w/o

Tidak stabil

Pendispersi
Oil

terdispersi
Water

w/o

Tidak stabil

Oil

Water

kelapa +
air

Minyak
kelapa +
air sabun

Gambar

Minyak

o/w

Tidak stabil

Water

Oil

Susu segar

o/w

Stabil

Water

Oil

Margarin

w/o

Stabil

Oil

Water

kelapa +
Gum arab

Emulsi adalah dispersi koloid zat cair dalam zat cair lain yang tidak bercampur.
Koloid ini dapat dibuat dengan mengaduk campuran dua zat cair tersebut. Agar stabil,
perlu ditambahkan emulgator, seperti macam-macam sabun, alkana, sulfonat, atau
sulfat (Bregas 2010). Berdasarkan medium pendispersi dan zat terdispersinya, emulsi
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu emulsi minyak dalam air (o/w) dan emusi air
dalam minyak (w/o). Emulsi minyak dalam air (o/w) memiliki medium pendispersi
berupa air dengan fase terdispersi berupa minyak, sedangkan emulsi air dalam
minyak (w/o) medium pendispersinya berupa minyak dan fase terdispersinya berupa
air.
Percobaan sistem emulsi dilakukan dengan menggunakan beberapa sampel
emulsi, yaitu emulsi minyak kelapa dan air, minyak kelapa dan air sabun, minyak
kelapa dan gum arab, emulsi alamiah berupa susu segar, dan emulsi industri berupa
margarin. Hasil percobaan menunjukkan bahwa emulsi minyak kelapa dan air,
minyak kelapa dan air sabun serta margarin jenis emulsinya adalah air dalam minyak
(w/o). Sementara itu, emulsi minyak kelapa dan susu segar merupakan emulsi minyak
dalam air (o/w). Hasil percobaan juga menunjukkan bahwa susu segar dan margarin
merupakan emulsi yang bersifat stabil, sedangkan sampel lainnya bersifat tidak stabil.
Seharusnya, emulsi minyak kelapa dan gum arab bersifat stabil karena gum arab

sendiri berfungsi sebagai emulgator (penstabil). Kesalahan ini dapat disebabkan


karena jumlah gum arab yang diberikan kurang sehingga tidak berpengaruh terhadap
kestabilan emulsi.

SIMPULAN
Bobot jenis larutan dapat dihitung dengan menggunakan urinometer. Hasil
pengukuran bobot jenis akuades 1,006; NaCl 0,3% 1,009; NaCl 0,9 % 1,013; NaCl
5% 1,039; glukosa 5% 1,023; air kelapa 1,021; air kran 1,004; dan larutan albumin
1% 1,013. Percobaan tegangan permukaan jarum terapung pada air kelapa dan air
sungai, sedangkan pada larutan akuades, larutan empedu, dan larutan deterjen, jarum
tenggelam. Semakin banyak jumlah tetesan maka tegangan permukaannya semakin
kecil. Semakin sedikit jumlah tetesan maka sebaliknya tegangan permukaannya
semakin besar. Emulsi minyak kelapa dan air, minyak kelapa dan air sabun serta
margarin jenis emulsinya adalah air dalam minyak (w/o). Sementara itu, emulsi
minyak kelapa dan susu segar merupakan emulsi minyak dalam air (o/w). Hasil
percobaan juga menunjukkan bahwa susu segar dan margarin merupakan emulsi yang
bersifat stabil, sedangkan sampel lainnya bersifat tidak stabil.

DAFTAR PUSTAKA
Ansel 2004
Indarniati 2012 (jurnal)
Alberty 1992
Effendi 2004
Bregas 2010 (jurnal)
Carpenito 2009
Brooker 2001
Einstein, Yazid. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta(ID): Andi.