Anda di halaman 1dari 350

KINERJA PERUSAHAAN INTI RAKYAT KELAPA SAWIT

DI SUMATERA SELATAN: ANALISIS KEMITRAAN


DAN EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI

DISERTASI

Oleh:

LAILA HUSIN BAKIR

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam


disertasi saya yang berjudul:

KINERJA PERUSAHAAN INTI RAKYAT KELAPA SAWIT


DI SUMATERA SELATAN: ANALISIS KEMITRAAN DAN
EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI
Merupakan gagasan atau hasil penelitian disertasi saya sendiri, dengan bimbingan
Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan rujukannya. Disertasi ini
belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada program sejenis di perguruan
tinggi lain. Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas
dan dapat diperiksa kebenarnnya.

Bogor, Januari 2007

Laila Husin Bakir


Nrp. 975003/EPN

ABSTRAK
LAILA HUSIN BAKIR. Kinerja Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit di Sumatera
Selatan: Analisis Kemitraan dan Ekonomi Rumahtangga Petani (BONAR M,
SINAGA sebagai Ketua, SRI UTAMI KUNTJORO, SRI HARTOYO dan ERWIDODO
sebagai Anggota Komisi Pembimbing).
Proyek Perusahaan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit sudah dimulai sejak tahun
1980/1981 di Sumatera Selatan. Pada tahun 2003, posisi Sumatera Selatan adalah
terbesar ketiga dalam luas areal dan produksi daalam industri kelapa sawit
Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah: (1) menganalisis struktur, perilaku dan
kinerja ekonomi pola perusahaan inti rakyat (pola PIR-Sus, PIR-Trans, PIR-KUK)
kelapa sawit di Sumatera Selatan, (2) menganalisis perilaku produksi, curahan kerja,
penggunaan input dan pengeluaran rumahtangga petani plasma kelapa sawit, dan
(3) menganalisis dampak faktor eksternal dan internal terhadap kinerja ekonomi
rumahtangga petani plasma kelapa sawit.
Fokus analisis adalah rumahtangga petani plasma kelapa sawit dan
keterkaitan lembaga lain. Penelitian ini menggunakan konsep kelembagaan
ekonomi, pendekatan struktur-perilaku-kinerja dan model ekonomi rumahtangga
petani. Data yang digunakan adalah data cross section hasil survey tahun 2002 dari
10 desa di 3 kabupaten, jumlah contoh 350 rumahtangga petani dan data time
series dari berbagai sumber. Struktur, perilaku dan kinerja pasar dianalisis secara
deskriptif tabulasi. Estimasi model persamaan simultan menggunakan two stage
least squares (2 SLS), validasi menggunakan kriteria root mean squares percentage
error (RMSPE), U-Theils dan koefisien determinasi variabel endogen (R). Simulasi
model menggunakan faktor eksternal dan internal sebagai variabel instrumen.
Struktur pasar kelapa sawit dengan kemitraan (pola PIR) bersaing tidak
sempurna dimana posisi petani lebih lemah dibandingkan inti. Harga produk yang
ditetapkan oleh pemerintah dan perusahaan inti seringkali tidak adil dan cara
pembayaran tidak transparan dan merugikan petani plasma. Berdasarkan kriteria
kelayakan finansial maka ketiga pola PIR masih menguntungkan, berdasarkan
kriteria kelayakan teknis maka kinerja pola PIR-Trans lebih baik dibandingkan pola
PIR lainnya (PIR-Sus dan PIR-KUK). Perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma
kelapa sawit non-rekursif, dimana perilaku produksi dan konsumsi atau pengeluaran
saling terkait dan mempengaruhi secara nyata. Skenario peningkatan kombinasi
harga output dan harga input, perluasan kebun plasma kelapa sawit dengan
mengkonversi lahan yang ada, dan peningkatan penggunaan tenaga kerja keluarga
di kebun plasma dengan merealokasi curahan tenaga kerja keluarga memberikan
dampak positif pada kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma.
Kinerja PIR kelapa sawit di Sumatera Selatan selayaknya ditingkatkan
dengan mengoreksi struktur pasar dengan kemitraan menjadi struktur pasar yang
lebih menguntungakan petani plasma (monopoli bilateral), memperbaiki kinerja
rumahtangga petani plasma, organisasi petani, dan sistim penetapan harga dan
cara pembayaran produk kelapa sawit (TBS) rumahtangga petani plasma.
Kata Kunci: kelapa sawit, perusahaan inti, petani plasma, kemitraan, strukturperilaku-kinerja, model ekonomi rumahtangga petani.

ABSTRACT
LAILA HUSIN BAKIR. The Performance of Oil Palm Nucleus Estate Smallholder in
South Sumatera: Analysis of Partnership and Farm Household Economics (BONAR
M, SINAGA as Chairman, SRI UTAMI KUNTJORO, SRI HARTOYO and
ERWIDODO as Members of the Advisory Committee).
The Nucleus Estate Smallholder (NES) project of oil palm plantation in South
Sumatera has started since 1980/1981. In 2003, contribution of South Sumatera is
the third in area and in production. The objectives of this research are: (1) to analyze
the structure, conduct and economic performance of oil palm NES schemes (PIRSus, PIR-Trans and PIR-KUK schemes) in South Sumatera, (2) to analyze the
behavior of production, working time, input use and expenditure of oil palmsmallholder farm household, and (3) to analyze the impacts of external and internal
factors on the economic performance of the oil palm-smallholder farm households.
The focus of analysis is the the oil palm-smallholder farm households, and
the other linkage of economic institutions. The research used the economic
institution concept, structure-conduct-performance approach and farm household
economic model. The data used were cross section data of survey in 2002 at 10
villages, 3 districts, 5 nucleus estates with 350 households as samples in South
Sumatera and time series data from some sources. The market structure, conduct
and performance are analyzed using tabular description. The estimation of
simultaneous equations model uses two stage least squares method (2SLS), and
validation uses root mean squares percentage error (RMSPE), U-Theils coefficient
and coefficient of determination of the endogenous variables (R). Simulations use
some external and internal factors as instrument variables.
The market structure of partnership (NESS) is imperfect competition, the
smallholder farmers bargaining position is weaker than nucleus estate. The oil palm
product price setting system is often unfair and the product payment system is non
transparent and unprofitable for the farmers. Based on physical feasibility criteria,
the performances of NESS (PIR-Sus, PIR-Trans and PIR-KUK) are still profitable,
based on financial feasibility criteria, the PIR-Trans performance is better than
others (PIR-Sus and PIR-KUK). The behavior of oil palm-smallholder farm
households are non recursive where behavior of production and consumption or
expenditure are significantly related and affected each other. The scenario of
combination of increase in output price and input price, the scenario of increase in
farmers oil palm area by converting the available area, and the scenario of increase
of using family labors in farmers oil palm area by reallocating the family labors have
positive impacts for oil palm-smallholder farm household economic performance .
The performance of oil palm NES in South Sumatera should be increased by
correcting the market structure of partnership into market structure which is more
profitable for the smallholder farm households (bilateral monopoly), improving of the
performance of the oil palm-smallholder farm households, the farmer organizations,
the oil palm product price setting and the oil palm product payment system of
smallholder farm household.
Key Words: oil palm, nucleus estate, smallholder, partnership, structure-behaviorperformance, farm household economic model.

@ Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2007


Hak cipta dilindungi
Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari
Institut Pertanian Bogor, sebagian atau seluruhnya dalam
bentuk apapun, baik cetak, fotokopi, mikro film, dan sebagainya

KINERJA PERUSAHAAN INTI RAKYAT KELAPA SAWIT


DI SUMATERA SELATAN: ANALISIS KEMITRAAN
DAN EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI

Oleh:

LAILA HUSIN BAKIR

Disertasi
sebagai salah satu syarat memperoleh gelar
Doktor
pada
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2007

Judul Disertasi

: Kinerja Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit di


Sumatera Selatan: Analisis Kemitraan dan Ekonomi
Rumahtangga Petani

Nama Mahasiswa

: Laila Husin Bakir

Nomor Pokok Mahasiswa : 975003


Prorgam Studi

: Ilmu Ekonomi Pertanian

Menyetujui,
Komisi Pembimbing

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA


Ketua

Prof. Dr. Ir. Sri Utami Kuntjoro, MS


Anggota

Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS


Anggota

Dr. Ir. Erwidodo, MS


Anggota

Mengetahui,

Ketua Program Studi


Ilmu Ekonomi Pertanian

Dekan Sekolah Pascasarjana


Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Bonar M. Sinaga, MA

Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, MS

Tangga Ujian: 27 Maret 2006

Tanggal Lulus:

PRAKATA
Syukur Alhamdulillah penulis ucapkan karena berkat pertolongan, hidayah
dan rahmatNya penulis dpat menyelesaikan disertasi ini. Disertasi ini merupakan
hasil penelitian tentang kinerja Perusahaan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit di
Sumatera Selatan yang menggunakan analisis kemitraan dan ekonomi rumahtangga
petani.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu memperbaiki program

pengembangan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan disamping


komoditi perkebunan penting lainnya.
Tulisan ini dapat diselesaikan melalui proses yang cukup panjang,
menghadapi banyak kesulitan serta keterbatasan karena awamnya pengetahuan
dan kurangnya pengalaman di bidang penelitian. Alhamdulillah, semua ini dapat
diatasi dengan bantuan dari banyak pihak, terutama komsisi pembimbing. Pada
kesempatan yang baik ini, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Prof. Dr. Ir. Bonar, M. Sinaga, MA sebagai ketua komisi pembimbing, Prof. Dr. Ir.
Sri Utami Kuntjoro, MS, Dr. Ir. Sri Hartoyo, MS dan Dr. Ir. Erwidodo, MS sebagai
anggota komisi pembimbing.
2. Rektor, Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor yang telah
memberikan kesempatan kepada penulis untuk mengikuti program S3 di IPB.
Staf pengajar Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian IPB atas bimbingannya
selama masa perkuliahan, persiapan ujian kualifikasi doktor dan penelitian.
3. Rektor, Dekan Fakultas Pertanian dan Pimpinan Jurusan Sosial Ekonomi
Pertanian Universitas Sriwijaya, yang telah memberikan kesempatan kepada
penulis untuk studi di IPB. Khusus kepada rekan kerja : Dr. Ir. Imron Zahri, MS,
Dr. Ir. Andy Mulyana, MSc., Ir. Maryati Mustofa, MS, Ir. Nukmal Hakim, MS,

Ir. Mirza Antoni, MS dan rekan-rekan lain yang tidak dapat saya sebut satu
persatu atas bantuannya dalam proses pengumpulan dan penggolahan data.
4. Lembaga yang telah memberikan bantuan dana (beasiswa) pendidikan dan
penelitian yaitu Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Yayasan Pengembangan
Sumberdaya Manusia Indonsia kerjasama dengan Bank of Tokyo-Mitsubishi , dan
Yayasan Supersemar Indonesia.
5. Khusus pada Dr. Ir. Nunung Kusnadi, MS dan Dr. Ir. Gunawan, MS, mereka
sangat berjasa membantu penulis memahami dan mengolah data dengan
program SAS/ETS, serta teman diskusi dalam respesifikasi model penelitian.
6. Terakhir tetapi yang terpenting adalah keluarga tercinta (ibu dan ayah, suami,
anak-anak dan saudara-saudara) yang telah banyak berkorban dan berdoa untuk
keberhasilan studi penulis.

Khusus untuk suamiku, ucapan terimakasih dan

penghargaan yang tulus penulis sampaikan atas pengorbanannya karena harus


mencari nafkah lebih keras untuk membiayai studi penulis setelah beasiswa
BPPS berakhir. Semoga Allah membalas dengan pahala yang berlimpah. Amin.
Tulisan ini diyakini sangat banyak kekurangan dan keterbatasan, namun
demikian penulis berharap dapat memberikan manfaat seperti yang diharapkan.

Wassalam
Bogor, Januari 2007.

Laila Husin Bakir

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 23 April 1959 di Palembang, Sumatera


Selatan. Orang tua penulis adalah H. Husin Agustjik dan Hj. Maryam. Pada tahun
1977 lulus dari SMA Yayasan Pendidikan Nasional Plaju, Palembang. Terdaftar di
IPB melalui Proyek Perintis II tahun 1978 dan memperoleh gelar Sarjana Pertanian
dalam bidang Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian IPB pada tahun
1982. Tahun 1984 melanjutkan studi di University of Kentucky melalui proyek BKSBarat dengan beasiswa US-AID dan memperoleh gelar Master of Science pada
tahun 1986 dalam bidang Ilmu Ekonomi Pertanian dari Agriculture Economics
College. Tahun 1997 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Pascasarjana,
Program Studi Ilmu Ekonomi Pertanian, IPB dengan memperoleh beasiswa dari
dana TMPD/BPPS.
Sejak tahun 1983 hingga sekarang penulis bekerja sebagai staf pengajar di
Fakultas Pertanian, Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Program Studi Agribisnis,
Unversitas Sriwijaya, Indralaya, Ogan Ilir (dahulu berlokasi di Palembang). Penulis
pernah menjabat sebagai Sekretaris Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian
Universitas Sriwijaya pada tahun 1989-1995. Tahun 1996 membantu pada Program
Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang sebagai staf dosen mata kuliah
manajemen agribisnis. Sejak tahun 1987, penulis terdaftar sebagai staf pengajar
pada beberapa PTS di lingkungan Kopertis Wilayah II, Sumatera Selatan.
Penulis menikah dengan Dr. Ir. M. Bakir Ali, MS pada tahun 1982 dan
dikaruniai tiga orang anak, dua orang putra dan satu orang putri, yaitu bernama:
Joko Ariya, SE, Linda Rosalina dan Rahmat Adiwiguna.

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Sub sektor perkebunan dalam perekonomian Indonesia mempunyai peranan
strategis, antara lain sebagai penyerap tenaga kerja, penyedia pangan, penopang
pertumbuhan

industri

manufaktur

dan

sebagai

sumber

devisa

negara.

Pengembangan subsektor perkebunan diharapkan dapat mendorong pertumbuhan,


pemerataan, dinamika ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di
pedesaan dalam bentuk kegiatan agribisnis maupun agroindustri.
Menurut Departemen Pertanian (2005), secara umum dapat diindikasikan
bahwa pengembangan agribisnis kelapa sawit masih mempunyai prospek, ditinjau
dari harga, ekspor dan pengembangan produk.

Secara internal pengembangan

agribisnis kelapa sawit didukung oleh potensi kesesuaian dan ketersediaan lahan,
peningkatan produktivitas dan perkembangan industri hilir. Dengan memperhitungkan prospek dan potensi ini diharapkan agribisnis kelapa sawit dapat berkembang
melalui pemberdayaan sektor hulu dan penguatan sektor hilir.
Menurut Bangun (2003), permintaan domestik terhadap komoditas minyak
sawit terus meningkat dari tahun ke tahun karena meningkatanya penduduk dan
konsumsi minyak goreng per kapita dalam negeri.

Jika tahun 1998, kebutuhan

minyak sawit mencapai 2.60 juta/tahun (kebutuhan minyak goreng per kapita
sebesar 9.40 kg/tahun), maka pada tahun 2010 diperkirakan kebutuhan minyak
sawit menjadi 3.40 juta ton/tahun atau meningkat 33.77% karena peningkatan
kebutuhan minyak goreng per kapita (menjadi 13.00 kg/tahun).
Investor domestik dan mancanegara mengantisipasi prospek permintaan
minyak sawit dengan meningkatkan investasi pada perkebunan kelapa sawit. Hal ini

dapat dilihat dari perkembangan perkebunan yang pesat baik dari pertambahan luas
areal, wilayah maupun peningkatan produksi.
Jika pada tahun 1968, luas areal kelapa sawit 120 ribu hektar maka pada
tahun 2003 menjadi 4 926 ribu hektar (meningkat lebih 4000%). Luas areal kelapa
sawit terbesar diusahakan oleh perkebunan besar milik swasta (PBS) dengan
pangsa 52.80%, diikuti oleh perkebunan rakyat (PR) sebesar 34.90% dan luas
terkecil diusahakan oleh perkebunan besar milik negara (PBN) yaitu hanya 12.30%
Selain petambahan areal, penyebaran lahan kelapa sawit juga mengalami
peningkatan yang semula hanya terdapat pada tiga provinsi di Sumatera, saat ini
telah menyebar menjadi 17 provinsi di Indonesia. Pulau Sumatera masih memiliki
areal kelapa swit terluas di Indonesia (mencapai 75.98%), diikuti oleh Kalimantan
(20.53%) dan Sulawesi, (2.81%).

Komposisi pengusahaan kelapa sawit juga

mengalami perubahan, yaitu semula hanya diusahakan oleh PBN, sekarang


diusahakan oleh PR dan PBS.
Produksi kelapa sawit mengalami peningkatan, dimana pada tahun 1968
hanya 181 ribu ton CPO maka pada tahun 2003

menjadi 9 800 ribu ton CPO

(meningkat lebih 5300%). PBS memberikan kontribusi produksi terbesar (47.13%),


diikuti oleh PR sebesar 37.12%, sedangkan kontribusi terkecil berasal dari PBN yaitu
hanya 15.70%.
Kontribusi produksi PBS terbesar akibat luasnya areal kebun bukan karena
tingginya produktivitas (2.58 ton CPO/ha atau setara 12.90 ton TBS/ha), karena
umumnya PBS masih berumur relatif muda atau kondisi tanaman belum
menghasilkan (TBM). Hal sebaliknya terjadi pada PBN yang mempunyai kontribusi
produksi terendah justru mempunyai produktivitas tertinggi (3.14 ton CPO/ha atau

setara 15.70 ton TBS/ha), tetapi luas areaal kebun paling rendah. Produktivitas PR
menduduki posisi menengah yaitu sebesar 2.73 ton CPO/ha atau 13.65 ton TBS/ha,
Sumatera Selatan sebagai salah satu daerah penghasil kelapa sawit di
Indonesia, hingga tahun 2003 menduduki peringkat ketiga dalam luas areal dan
produksi setelah Provinsi Riau dan Sumatera Utara dengan pangsa areal 8.86% dan
pangsa produksi 9.58%.

Peringkat ini diharapkan meningkat mengingat potensi

lahan yang sesuai untuk penanaman kelapa sawit masih luas dan minat investor
untuk mengembangkan perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan cukup besar.
Pertambahan areal kebun kelapa sawit terutama diusahakan oleh swasta (PBS),
selanjutnya oleh rakyat (PR), sedangkan yang diusahakan Negara (PBN) tidak
mengalami perkembangan yang berarti.
Sejak awal penanaman kelapa sawit hingga tahun 1980, perkembangan
perkebunan kelapa sawit di Indonesia termasuk Sumatera Selatan tidak diimbangi
oleh perkembangan PR, karena mahalnya biaya investasi pembukaan kebun baru
dan pembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit (pabrik PKS).

Selain itu

karakteristik produk kelapa sawit berupa tandan buah segar (TBS) bersifat cepat
rusak (perishable) dan ruah (bulky) sehingga agribisnis produk ini harus terintegrasi
secara vertikal antara usaha di bidang produksi (agroindustri hulu) dengan usaha di
bidang pengolahan dan pemasaran hasil (agroindustri hilir). Dengan memperhatikan
kendala dan karakteristik produk kelapa sawit, pemerintah berupaya untuk
memberdayakan perkebunan rakyat agar petani tidak hanya sebagai pekerja tetapi
sekaligus pemilik dan pengelola kebun kelapa sawit.

Salah satu kebijakan yang

dilakukan pemerintah adalah dengan membuat proyek Perusaahaan Inti Rakyat


(proyek PIR) yaaitu sistim kemitraan antara perkebunan besar (sebagai pengusaha
menengah atau besar) dengan petani (sebagai pengusaha kecil) sehingga disebut

sebagai kemitraan inti-plasma. Melalui kemitraan ini diharapkan kendala-kendala


bersifat teknis (transfer teknologi) maupun non teknis (finansial, manajemen) dapat
diatasi dan menguntungkan kedua pihak yang bermitra baik petani sebagai pemasok
bahan baku tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dengan perkebunan besar
sebagai pembeli produk TBS dan penghasil minyak sawit.
Menurut Ahmad (1998), latar belakang dan motivasi berkembangnya proyek
PIR di Indonesia karena faktor-faktor antara lain: (1) kondisi petani pada perkebunan
rakyat yang miskin, (2) adanya enclave pada perkebunan besar milik negara, dan
(3) pertimbangan untuk kepentingaan makro.

Selanjutnya kondisi petani pada

perkebunan rakyat cenderung miskin disebabkan antara lain: (1) fragmentasi


pemilikan lahan perkebunan melalui sistim pewarisan, (2) perilaku petani yang
cenderung tidak memelihara tanaman perkebunan dengan intensif sehingga
produktivitasnya rendah.

Selain itu petani kurang tertarik menerapkan teknologi

budidaya yang baik karena mereka menghadapi beberapa masalah kemiskinan


yaitu: (1) miskin aset, (2) miskin modal, (3) miskin sifat pionir, (4) miskin akses, dan
(5) miskin motif ekonomi.
Penerapan

proyek

PIR

sebagai

proyek

terpadu

diharapkan

dapat

memecahkan masalah perkebunan rakyat secara simultan yaitu dapat berfungsi


sebagai : (1) salah satu wahana untuk meningkatkan kesejahteraan umum dan
mencerdaskan kehidupan bangsa, (2) penjabaran dan upaya perwujudan pasal 33
UUD 1945 dengan konsep kebersamaan atau kemitraan, (3) instrument dalam
akselerasi pemerataan pembangunan ke berbagai daerah yang selama ini terisolasi
dan tertinggal, dan (4) upaya meningkatkan daya beli masyarakat untuk
pertumbuhan ekonomi nasional.

Penerapan proyek PIR dengan berbagai bentuk atau pola pada dasarnya
bertujuan memecahan masalah kemiskinan yang dihadapi perkebunan rakyat yaitu:
(1) miskin aset diatasi dengan mengadakan pembagian tanah kepada masingmasing petani (untuk tanaman perkebunan seluas 2.00 hektar dan untuk
perumahan/pekarangan seluas 1.00 hektar), (2) miskin modal diatasi dengan
penyediaan paket kredit yang mempunyai prosedur sederhana dan bersyarat lunak,
(3) miskin sifat pioner diatasi dengan menggerakkan dan mengarahkan petani ikut
serta membangun kebun melalui proyek PIR, (4) miskin iptek diatasi dengan
memberi bimbingan dan pelatihan intensif kepada petani peserta dalam rangka
mengembangkan kegiatan usaha perkebunannya, (5) miskin akses diatasi dengan
menghubungkan petani ke berbagai lembaga terkait dengan bantuan organisasi
proyek, dan (6) miskin motif ekonomi diatasi dengan membimbing dan menerapkan
peraturan pengembalian kredit, sertifikasi tanah (Ahmad, 1998).
Proyek PIR sebetulnya sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh negara lain
dengan nama Nucleus Estate Small-holders Scheme (NESS), diperkenalkan
pertamakali di Indonesia oleh Bank Dunia dan berdasarkan pengalaman FELDA di
Malaysia. Instansi dan pejabat pemerintah banyak terlibat dalam proyek ini mulai
dari Menteri Pertanian hingga pimpinan pemerintah daerah (Gubernur, Bupati atau
Walikota). Hal ini menunjukkan bahwa proyek PIR ini adalah proyek pemerintah
yang dikelola secara serius.
Jenis pola PIR telah mengalami banyak perbaikan, selain itu sumber dana
yang digunakan juga beragam, antara lain berasal dari luar negeri (world bank),
disebut pola PIR Berbantuan seperti: PIR-Bun atau NESS atau dari dalam negeri
(APBN/APBD) disebut pola PIR Swadana, seperti: PIR Khusus (PIR-Sus) PIR-Lokal.
Selain itu dalam rangka meningkatkan pemerataan kesejahteraan penduduk, maka

proyek PIR melibatkan semua penduduk baik penduduk lokal maupun pendatang
(transmigran), sehingga dikenal proyek PIR-Lokal, jika sebagian besar pesertanya
adalah penduduk lokal dan PIR-Transmigrasi (PIR-Trans), jika sebagian besar
pesertanya adalah penduduk pendatang atau transmigran. Pola PIR-Bun kelapa
sawit di Sumatera Selatan dimulai tahun 1980, dimana pola PIR-Sus atau NESS
sejak tahun 1980/1981, pola PIR-Trans sejak tahun 1987/1988, dan pola PIR-KKPA
dan PIR-KUK (Perusahaan Inti Rakyat Kredit Koperasi kepada Petani Anggota
Koperasi dan Perusahaan Inti Rakyat Kredit Usaha Kecil) sejak tahun 1994 (Dinas
Perkebunan Sumatera Selatan, 1997/1998).
Menurut Simatupang (1998), adanya proyek PIR kelapa sawit telah berhasil
memberikan kesempatan kepada petani kecil untuk menjadi tuan di kebunnya
sendiri, akan tetapi permasalahan yang muncul semakin banyak dan kompleks,
sehingga belum dapat diselesaikan secara tuntas oleh pemerintah pusat dan
daerah.
1.2. Perumusan Masalah
Pola PIR adalah pola pengembangan perkebunan rakyat dengan sistem
kemitraan yang memadukan kegiatan produksi, pengolahan dan pemasaran hasil
dalam satu sistem kerjasama terpadu atau koordinasi vertikal, dimana perkebunan
besar bertindak sebagai inti dengan beberapa petani pada perkebunan rakyat
sebagai plasma. Perusahaan inti disamping mengusahakan kebunnya sendiri juga
berkewajiban membangun kebun plasma dan membeli hasil produksi kebun plasma
untuk diolah lebih lanjut.
Dalam perkembangannya sistem kemitraan dalam bentuk inti-plasma dinilai
beberapa peneliti kurang berhasil karena kurang berdasarkan prinsip-prinsip

kemitraan, seperti saling ketergantungan, saling membutuhkan, saling menguntungkan, transparansi berdasarkan perjanjian dan kesepakatan bersama, prinsip alih
pengetahuan dan pengalaman, pertukaran informasi, keadilan, memperkuat dan
melengkapi, serta adanya wewenang dan tangungjawab masing-masing lembaga,
dan manajemen yang profesional. Ketidak berhasilan proyek PIR mengembangkan
prinsip-prinsip kemitraan tersebut merupakan penyebab kegagalan kerjasama dalam
pola PIR kelapa sawit (Hasbi, 2001 dan Zahri, 2003).
Pelaksanaan kerjasama dalam kemitraan PIR kelapa sawit masih ditemui
banyak masalah dan kendala, baik sebelum maupun setelah masa konversi. Masa
sebelum konversi merupakan masa yang kritis, karena umumnya tanaman belum
menghasilkan dan status kebun masih milik Inti. Petani menggarap lahan kebun
dengan mendapat upah harian, dimana tingkat upah berkisar Rp 15 000 per hari
dirasa terlalu rendah untuk membiayai hidup sehari-hari sehingga mendorong petani
mencari sumber pendapatan lain di luar kebun plasma (Zahri, 2003).
Penyebab lain yang mempengaruhi komitmen kerjasama dalam pola PIR
adalah: (1) masuknya pelaku lain diluar sistem sebagai pedagang perantara maupun
pengolah produk, dan (2) perilaku Inti yang memanfaatkan informasi yang tidak
simetris, terutama dalam penentuan rendemen dan jenis potongan untuk biaya
transaksi, (3) penetapan harga dan sistem pembayaran TBS, distribusi risiko dan
distribusi keuntungan yang masih merugikan petani pada kebun plasma, dan (4)
pembinaan, harga beli oleh perusahaan inti relatif lebih rendah dan tidak ada
jaminan pemasaran hasil.
Hasbi (2001) menemukan bahwa penentuan harga TBS hanya berdasarkan
rendemen rata-rata kebun sehingga tidak memberikan insentif bagi petani untuk
memperbaiki mutu buah sawit, selain itu mereka umumnya belum menguasai

mekanisme penentuan harga TBS, sehingga mereka lebih mengutamakan kuantitas


daripada kualitas buah sawit yang dipanen dan menjual produk TBS ke perusahaan
non Inti.

Jika hal ini terus terjadi akan berpengaruh pada proses alih kelola

(konversi) dan alih kepemilikan kebun plasma dari pihak inti ke petani plasma.
Dradjat dan Daswir (1995) menemukan faktor penyebab tingginya biaya transaksi,
antara lain akibat banyaknya potongan yang dilakukan oleh inti melalui nilai jual
produk kelapa sawit petani plasma yang dijual ke pabrik PKS inti. Jenis potongan
mencapai 10 komponen dengan nilai sekitar 21.00% (untuk petani yang sudah lunas
kredit) atau 52.00% (untuk petani yang belum lunas kredit) dari total nilai jual produk.
Permasalahan penting lain adalah keberlangsungan proyek PIR kelapa sawit
yaitu persiapan peremajaan kebun sebelum usia ekonomis (kira-kira umur 25 tahun).
Investasi peremajaan kebun bersifat jangka panjang yang memerlukan biaya besar,
sehingga perlu pemupukan modal. Menurut Suminartika (1997), untuk meningkatkan dana peremajaan kebun diperlukan peningkatan pendapatan kelapa sawit dari
kebun plasma dengan mengelola kebun secara lebih intensif. Selanjutnya Hakim
(2004) yang mengkaji tiga pola PIR yang berbeda menemukan bahwa pengelolaan
kebun plasma oleh rumahtangga petani pola PIR-Trans relatif lebih baik
dibandingkan pola PIR lainnya (pola PIR-Sus dan PIR-KUK), sehingga pendapatan
kelapa sawit petani pola PIR-Trans relatif paling tinggi. Selain itu pendapatan kelapa
sawit (hampir Rp 6 juta/ha/tahun) mempunyai kontribusi 96.00% dari pendapatan
total, sedangkan curahan kerja keluarga hanya 25.00% dari waktu produktif.
Penelitian Daswir (1986) juga menguatkan temuan di atas bahwa penggunaan
tenaga kerja keluarga untuk kebun kelapa sawit belum optimal, sehingga masih
dapat ditingkatkan. Hasil penelitian Suminartika (1997), menunjukkan bahwa
peningkatan waktu produktif anggota rumahtangga dapat meningkatkan produktifitas

kebun plasma, selanjutnya pendapatan kelapa sawit sehingga dapat menjadi


sumber dana peremajaan kebun. Menurut Daswir et al. (1995) dan Salman dan
Wahyono (1998), kinerja rumahtangga petani dapat dilihat dari produktivitas kebun
plasma, adopsi teknologi dan pendapatan rumahtangga petani.

Hasil penelitian

Salman dan Wahyono (1998) membuktikan bahwa produktivitas kebun plasma


masih rendah, hasilnya hanya cukup untuk menutupi kebutuhan pokok sehingga
anggota rumahtangga petaani harus mencari tambahan pendapatan.
Pada dasarnya kendala rumahtangga petani plasma dapat bersifat internal
atau eksternal. Kendala internal antara lain: (1) kemampuan pengembangan produk
petani masih rendah, (2) profesionalisme petani sebagai pengelola kebun plasma
masih rendah, dan (3) permodalan dan penguasaan teknologi masih rendah.
Kendala eksternal terkait dengan: (1) iklim usaha yang belum baik, (2) kebijakan
pemerintah yang belum kondusif dan tepat sasaran (3) fasilitas perkebunan yang
belum memadai terutama sarana dan prasarana transportasi, dan (4) pembinaan
manajemen, pelatihan dan penyuluhan yang belum optimal.

Direktorat Jenderal

Perkebunan (2004) merinci permasalahan utama pelaksanaan proyek PIR-Bun


kelapa sawit yaitu: (1) rendahnya produktivitas kebun plasma, (2) kurang lancarnya
pengembalian kredit kebun plasma atau cenderung kredit macet, (3) adanya
tuntutan pengurangan atau penghapusan sisa kredit oleh petani plasma, (4) kondisi
kebun plasma yang terlantar bahkan terbakar setelah pasca konversi, (5) masih
adanya kebun plasma yang belum konversi/ menandatangani surat pengakuan
hutang (SPH), (6) sertifikat belum terbit, rusak atau hilang, (7) terhambatnya
pengembangan kelembagaan petani, dan (8) kebijakan/regulasi oleh pemerintah
belum sepenuhnya mengakomodasi perkembangan permasalahan yang ada.
PERUMUSAN PERMASALAHAN

10

Fenomena

Kinerja perkebunan rakyat kelapa


sawit di Sumatera Selatan
Produktivitas kebun dan kualitas buah
sawit dari perkebunan rakyat (PR)
lebih rendah daripada perkebunan
besar (PBN dan PBS).
Masih ditemukan kebun plasma tidak
dikelola secara baik, terlantar, bahkan
dijual peserta PIR kepada petani non
peserta PIR.

Kebijakan pemerintah melalui proyek


PIR kelapa sawit
Petani pada Perkebunan Rakyat diikutsertakan dalam sistem kemitraan IntiPlasma (proyek PIR).

Banyak terjadi penyimpangan/pelanggaran dalam perjanjian kemitraan


yang cenderung merugikan rumahtangga petani plasma kelapa sawit

Peraturan/kebijakan untuk mempertahankan sistem kemitraan Inti-plasma


dan meningkatkan kinerja rumahtangga
petani plasma belum berhasil

Pengadaan input, transfer teknologi dan


pembinaan rumahtangga petani plasma
oleh Inti dan koperasi menghadapi
banyak kendala.

Permasalahan

Mengapa kinerja kemitraan PIR kelapa sawit masih rendah, mengapa


kesepakatan kemitraan dalam pola PIR belum berjalan baik, kebijakan
apa yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja rumahtangga petani
plasma dan kemitraan PIR kelapa sawit.

Pemecahan Masalah

Perlu mengkaji struktur pasar, perilaku dan kinerja ekonomi sistem kemitraan
PIR kelapa sawit, perilaku rumahtangga petani plasma serta dampak faktor
eksternal dan internal terhadap kinerja PIR kelapa sawit di Provinsi Sumatera
Selatan.

Sasaran

Struktur pasar yang terbentuk dan aturan kemitraan yang diterapkan


menguntungkan semua pihak yang bermitra, produktivitas dan kualitas kelapa
sawit kebun plasma serta pendapatan dan kesejahteraan rumahtangga petani
plasma meningkat. Selanjutnya diharapkan kinerja perkebunan rakyat meningkat sehingga kinerja PIR kelapa sawit secara keseluruhan baik.

1.3.

Gambar 1. Alur Pikir dalam Perumusan Permasalahan Penelitian


Tujuan Penelitian

11

Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kinerja pola


perusahaan inti rakyat (pola PIR) kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan,
sedangkan tujuan spesifik penelitian ini adalah:
1. Menganalisis struktur, perilaku dan kinerja ekonomi pola perusahaan inti rakyat
(pola PIR-Sus, PIR-Trans dan PIR-KUK) kelapa sawit di Sumtera Selatan.
2. Menganalisis

perilaku

produksi,

curahan

kerja,

penggunaan

input

dan

pengeluaran rumahtangga petani plasma kelapa sawit.


3. Menganalisis dampak faktor eksternal dan internal terhadap kinerja ekonomi
rumahtangga petani plasma kelapa sawit.
1.4. Ruang Lingkup Penelitian
Kajian kinerja pola PIR kelapa sawit Sumatera Selatan dalam penelitian ini
dibatasi hanya pada sub industri perkebunan dengan tiga pola PIR yang berbeda
(pola PIR-Sus, PIR-Trans dan PIR-KUK) dari tiga kabupaten, 10 desa dan 5
perkebunan besar sebagai perusahaan inti yang yang terlibat dalam proyek PIR di
Sumatera Selatan.
Khusus kajian perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma digunakan
rumahtangga petani plasma contoh dari ketiga pola PIR kelapa sawit tersebut
dengan menggunakan data cross section hasil survey tahun 2002. Model ekonomi
rumahtangga petani plasma kelapa sawit yang dibangun secara agregat, sedangkan
untuk melihat perbedaan perilaku dan kinerja untuk ketiga pola PIR yang berbeda
tersebut digunakan variabel boneka (dummy variable).
Perbedaan perilaku dan kinerja rumahtangga petani plasma berdasarkan
pola PIR terhadap perubahan faktor eksternal dan internal dilakukan pada saat

12

simulasi model ekonomi rumahtangga petani plasma dengan menggunakan


beberapa variabel instrumen yang dianggap penting.
1.5. Signifikansi Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan tujuan penelitian di atas, penelitian ini
dianggap perlu dilakukan mengingat Sumatera Selatan mempunyai potensi dan
prospek yang baik dalam pengembangan kelapa sawit, baik dari luas areal kebun
maupun produksi terutama sejak dikembangkannya proyek PIR kelapa sawit.
Penelitian ini mencoba mengkaji kinerja proyek PIR kelapa sawit dalam
bentuk tiga pola dengan menggunakan kombinasi analisis deskriptif tabulasi dan
analisis kuantitatif (ekonometrika). Hasil analisis ini diharapkan dapat memberikan
gambaran yang lengkap tentang kinerja pola PIR kelapa sawit, mengevaluasi
kebijakan yang sudah ada dan merumuskan langkah-langkah perbaikan untuk
pengembangan industri kelapa sawit di Sumatera Selatan.
1.6. Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini diupayakan dapat memberikan gambaran aktual mengenai tiga
bentuk kemitraan atau pola PIR kelapa sawit (pola PIR-Sus, PIR-Trans dan PIRKUK) dalam industri kelapa sawit Sumatera Selatan. Namun dalam pelaksanaannya
ditemukan beberapa keterbatasan diantaranya adalah:
1. Kurangnya data sekunder jenis data time series mengenai kinerja PIR kelapa
sawit di Sumatera Selatan, sehingga kinerja PIR kelapa sawit hanya dapat dikaji
dari hasil survey dan laporan penelitian sebelumnya. Jenis data cross section
yang digunakan adalah dari hasil survei tahun 2002 dari 10 desa, 3 kabupaten di
Provinsi Sumatera Selatan .

13

2. Sesuai tujuan penelitian dan keterbatasan peneliti maka analisis model ekonomi
rumahtangga petani plasma dilakukan secara agregat (gabungan ketiga
rumahtangga contoh petani plasma dengan tiga pola PIR yang berbeda).
Karena keterbatasan data maka analisis konsumsi hanya untuk konsumsi
barang, belum dilakukan untuk waktu (home time), pendapatan rumahtangga
belum memperhitungkan pendapatan bukan dari aktivitas kerja (warisan, hadiah,
sewa), dan curahan kerja untuk kegiatan di luar usahatani pokok (kelapa sawit)
hanya dianalisis secara agregat, tidak dirinci berdasarkan usaha yang dilakukan.
3. Analisis simulasi di fokuskan pada rumahtangga petani plasma kelapa sawit
sedangkan keterkaitan pelaku lain (perusahaan inti dan koperasi) dalam
kemitraan tersebut diwakili (proxy) oleh beberapa variabel eksogen dan variabel
boneka

(dummy

variables),

antara

lain

oleh

variabel-variabel

yang

mencerminkan komponen biaya pasca panen (ongkos angkut TBS, fee KUD,
biaya cicilan kredit, biaya administrasi) dan variabel boneka pola PIR yang
mencerminkan perbedaan kelembagaan dan tingkat teknologi yang digunakan.

14

II.

2.1.

PERKEMBANGAN INDUSTRI KELAPA SAWIT


DI SUMATERA SELATAN

Potensi dan Prospek Komoditi Kelapa Sawit


Provinsi Sumatera Selatan merupakan daerah penghasil beberapa komoditi

perkebunan utama Indonesia, akan tetapi sebagian besar komoditi perkebunan di


Sumatera Selatan dihasilkan oleh perkebunan rakyat (PR) dalam bentuk
perusahaan inti rakyat perkebunan (PIR-Bun) atau perusahaan inti rakyat khusus
(PIR-Sus), perusahaan inti rakyat transmigrasi (PIR-Trans).

Bentuk pengusahaan

perkebunan lain adalah perkebunan besar negara (PBN) dan perkebunan besar
swasta (PBS). Menurut Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan (2004), jenis
komoditi perkebunan di Sumatera Selatan yang utama adalah: karet, kelapa sawit,
kopi, kelapa, lada, dan lain-lain (Tabel 1).
Tabel 1. Perkembangan Areal Beberapa Komoditi Perkebunan
di Sumatera Selatan Tahun 1996 - 2002
No

Komoditi

Luas Areal (ha)


1998
2000
856 176
858 652

Karet

1996
755 598

Kelapa sawit

258 764

422 803

390 067

414 801

Kopi

250 212

259 154

283 948

294 402

Kelapa

58 481

60 972

46 029

43 235

Lada

43 665

49 099

3 242

5 998

Lain-lain

35 798

30 188

23 394

26 343

1 402 515

1 678 392

1 605 332

1 675 541

Jumlah

Keterangan: *) tidak termasuk Bangka dan Belitung (sejak tahun


2001 menjadi Provinsi Bangka Belitung).
Sumber

: Dinas Perkebunan, 2004.

2002*)
890 762

15

Berdasarkan Tabel 1, meskipun secara total areal kebun karet lebih luas
daripada areal kebun kelapa sawit, akan tetapi laju pertumbuhan areal kelapa sawit
jauh lebih basar, yaitu rata-rata 34.87% per tahun, sedangkan pertumbuhan areal
karet hanya 8.50%. Besarnya pertumbuhan areal kelapa sawit karena komoditi ini
mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan komoditi perkebunan lainnya,
antara lain:
1. Nilai Internal Rate of Return (IRR) kelapa sawit (24.50%) lebih besar daripada
karet dan kopi (masing-masing IRR 17.00% dan 15.00%) (Susila et al. 2000).
2. Curahan tenaga kerja pada perkebunan kelapa sawit seluas satu kapling (kirakira dua hektar) membutuhkan tenaga kerja rata-rata hanya 60.00 HOK/tahun
atau 29.00% dari total tenaga kerja rumahtangga untuk kegiatan produktif yang
memberikan pendapatan hingga mencapai Rp 12.30 juta/tahun bahkan bisa
mencapai Rp 30.00 juta/tahun atau kira-kira Rp 1.25 juta/ha/bulan pada umur
tanaman puncak (Zahri, 2003).
3. Kemajuan pembangunan desa lebih nyata pada pemukiman perkebunan kelapa
sawit dibandingkan pemukiman komoditi perkebunan lain, yang dapat dilihat dari
kondisi perumahan, jenis alat transportasi petani dan indikator kesejahteraan
lainnya.
4. Pada beberapa lokasi kebun, petani cenderung memilih menjadi pengusaha
kebun kelapa sawit dibandingkan komoditi lainnya baik sebagai peserta PIR
maupun petani pekebunan rakyat, bahkan banyak terjadi konversi dari
perkebunan karet menjadi perkebunan kelapa sawit.
Perkembangan areal perkebunan kelapa sawit makin pesat dengan
dibukanya areal perkebunan baru yang menyebar hampir di seluruh wilayah di
Sumatera Selatan. Upaya ini dilakukan agar produksi kelapa sawit dapat memenuhi

16

kebutuhan industri minyak goreng domestik dan di masa yang akan datang kelapa
sawit menjadi komoditi ekspor unggulan Sumatera Selatan.
Posisi industri kelapa sawit Sumatera Selatan cukup besar andilnya diantara
provinsi-provinsi lain di Indonesia karena melibatkan juga perkebunan rakyat (PR),
disamping perkebunan besar milik negara (PBN) dan perkebunan besar milik swasta
(PBS).

Pada tahun 2003, Sumatera Selatan menduduki posisi ketiga setelah

Provinsi Riau dan Sumatera Utara, dimana pangsa luas areal sebesar 8.86% dan
pangsa produksi sebesar 9.58% (Tabel 2 dan 3).
Kontribusi areal perkebunan kelapa sawit Sumatera Selatan terbesar berasal
dari perkebunan besar milik swasta (PBS) dengan pangsa 52.00%, sedangkan
kontribusi PBN paling kecil yaitu hanya 5.00%, kontribusi PR berada pada posisis
nomor dua dengan pangsa 43.00%.
Pangsa areal kebun PBS relatif paling tinggi dibandingkan areal kebun PR
dan PBN mencerminkan usaha di bidang perkebunan kelapa sawit mempunyai
prospek yang baik sehingga mampu menarik investor swasta untuk menanamkan
modalnya pada komoditi ini. Hal sebaliknya untuk PBN dimana kontribusinya dalam
industri kelapa sawit Sumatera Selatan justru relatif kecil akibat pemerintah daerah
tidak lagi menambah areal perkebunan PBN, tetapi memberi kesempatan kepada
pihak swasta, rakyat atau penduduk sekitar lokasi perkebunan terlibat dalam
kepemilikan dan pengelolaan perkebunan kelapa sawit. Hal ini dilakukan antara lain
dengan memberikan berbagai kemudahan dan menerapkan berbagai proyek
kemitraan antara petani dengan perkebunan besar dalam pola perusahaan inti
rakyat (pola PIR).

17

Tabel 2. Luas Areal Perkebunan Kelapa Sawit pada Beberapa Provinsi di


Indonesia Tahun 2003
No

Provinsi

Luas Areal Berdasarkan Bentuk


Pengusahaan (ha)

Total (ha)

(%)

PR

PBN

62 845

40 270

136 713

239 828

4.87

2 Sumatera Utara

163 974

273 586

311 892

769 452

15.62

3 Sumatera Barat

58 247

29 497

141 043

279 982

5.68

4 Riau

660 756

97 372

568 395

1 326 023

26.92

5 Jambi

156 367

15 585

142 940

320 892

6.51

6 Sumatera Selatan

188 395

21 826

226 441

436 662

8.86

1 266

107 363

108 629

2.21

8 Bengkulu

34 853

566

44 621

80 040

1.62

9 Lampung

73 854

11 845

66 671

151 370

3.07

3 747

3 747

0.08

6 332

5 225

11 587

0.23

166 888

29 655

148 730

345 273

7.01

13 Kalimantan Tengah

34 328

300 695

335 023

6.80

14 Kalimantan Selatan

20 204

1 500

141 576

163 280

3.31

15 Kalimantan Timur

36 764

16 012

106 338

159 114

3.23

16 Sulawesi Tengah

10 243

6 485

28 938

55 666

1.13

17 Sulawesi Selatan

28 544

6 634

14 991

80 136

1.63

1 102

200

1 302

0.03

19 Irian Jaya

31 139

3 367

23 568

58 074

1.18

Indonesia

1 310 641
(31.93)

560 557 2 554 882


(14.89)
(53.18)

4 926 080
(100.00)

100.00

1 DI Aceh

7 Bangka Belitung

10 Jawa Barat
11 Banten
12 Kalimantan Barat

18 Sulawesi Tenggara

PBS

Keterangan : ( ) pangsa luas areal kelapa sawit dalam persentase


Sumber
: Ditjend Perkebunan, Deptan (2004).
Kontribusi produksi kelapa sawit Sumatera Selatan paling tinggi justru
berasal dari PR (47.07%), bukan dari PBS yang mempunyai areal terluas dengan

18

pangsa 46.69%.

Kontribusi produksi PBN paling kecil (6.24%) sesuai dengan

kontribusi areal kebun yang juga paling kecil.


Tabel 3. Produksi Kelapa Sawit pada Beberapa Provinsi di Indonesia
Tahun 2003
No

Provinsi

Produksi Berdasarkan Bentuk


Pengusahaan (000 ton)
PR

1 DI Aceh

PBN

Total
(000 ton)

(%)

PBS

68.53

56.23

157.41

282.17

2.64

2 Sumatera Utara

517.79

947.78

1 074.70

2 494.77

23.35

3 Sumatera Barat

146.31

120.13

428.90

695.59

6.51

1 395.36

282.33

1 658.97

3 337.15

31.24

5 Jambi

414.25

40.22

219.55

674.02

6.31

6 Sumatera selatan

481.45

63.83

477.62

1 022.90

9.58

0.23

294.32

294.56

2.76

8 Bengkulu

54.82

1.31

93.42

149.55

1.40

9 Lampung

63.84

32.50

73.68

171.47

1.61

4.84

4.84

0.05

13.43

13.15

26.58

0.25

261.57

100.96

155.18

517.71

4.85

13 Kalimantan Tengah

61.38

255.26

316.65

2.96

14 Kalimantan Selatan

4.05

215.92

219.97

2.06

15 Kalimantan Timur

42.13

34.03

90.35

166.51

1.56

16 Sulawesi Tengah

15.15

24.90

40.05

0.37

17 Sulawesi Selatan

56.99

14.80

101.49

173.29

1.62

0.00

19 Irian Jaya

51.42

9301

34.40

95.12

0.89

Indonesia

3 648.77
(26.41)

1 673. 22
(30.61)

5 360.92
(42.98)

10 682.90
(100.00)

100.00

4 Riau

7 Bangka Belitung

10 Jawa Barat
11 Banten
12 Kalimantan Barat

18 Sulawesi Tenggara

Keterangan: ( ) menyatakan persentase


Sumber
: Ditjend Perkebunan, Deptan 2004

19

Tahun tanam pada perkebunan rakyat (PR) umumnya lebih awal yaitu sejak
tahun 1980/1981 sehingga banyak tanaman yang sudah menghasilkan (TM),
sedangkan tahun tanam pada perkebunan milik swasta (PBS) baru dimulai sejak
tahun 1986/1987, dan paling banyak dimulai tahun 1994 sehingga tanaman masih
banyak dalam kondisi belum menghasilkan (TBM) yaitu mencapai 40.10%.
Meskipun areal kelapa sawit yang dikelola Negara (PBN) mempunyai produktivitas
tertinggi yaitu 4.625 ton/ha, akan tetapi karena pangsa luas kebun paling kecil
(hanya 5.00%) sehingga total produksi PBN mempunyai pangsa paling kecil
(6.24%).

Khusus untuk provinsi Sumatera Selatan pemanfaatan lahan potensial

untuk perkebunan kelapa sawit belum dilakukan secara maksimal, yaitu rata-rata
hanya 47.86% (Tabel 4).

Tabel 4. Potensi dan Realisasi Penanaman Kelapa Sawit Berdasarkan


Kabupaten Di Sumatera Selatan Tahun 2003
Kabupaten

Potensi lahan II.


(ha)

Musi Banyuasin /
Banyuasin
Ogan Komering Ilir

164 200

Ogan Komering Ulu

60 800

Musi Rawas

76 700

Muara Enim

34 900

Lahat

42 000

Total

451 400
(42.14)

72 800

Areal
tanam
(ha)
121 829
(42.59)
109 779
(60.13)
27 154
(30.87)
84 210
(52.33)
40 135
(53.49)
31 936
(43.19)
414 400
(47.86)

Total lahan
(ha)

Keterangan: ( ) menyatakan pangsa


Sumber
: Disbun Sumatera Selatan (2004).

Produktivitas
( ton /ha )

286 029

2.836

182 579

2.809

87 954

3.023

160 910

2.361

75 035

3.092

73 936

1.525

865 800
(100.00)

2.564

20

Pembukaan areal kebun kelapa sawit masih dapat ditingkatkan terutama di


Ogan Komering Ulu dengan areal tanam sebesar 30.87%, sedangkan produktivitas
kebun relatif tinggi yaitu 3.023 ton CPO/ha.

Beberapa daerah lain yang juga

mempunyai produktivitas kebun kelapa sawit cukup tinggi adalah Kabupaten Muara
Enim dan Ogan Komering Ulu, sedangkan produktivitas kebun paling rendah
terdapat di Kabupaten Lahat (1.50 ton CPO/ha).
Buah kelapa sawit yang dipanen berupa tandan buah segar (TBS) tidak bisa
dikonsumsi langsung, tetapi memerlukan pengolahan khusus di pabrik pengolahan
kelapa sawit (pabrik PKS) menjadi minyak sawit dan produk derivatnya. Investasi
untuk

pengolahan

kelapa

sawit

memerlukan

dana

yang

besar

sehingga

pembangunan pabrik PKS baru dapat dilakukan oleh perkebunan besar milik
pemerintah (PBN) atau milik swasta (PBS). Sebagai ilustrasi biaya pembangunan
pabrik PKS CPO dengan kapasitas 30 ton TBS/jam memerlukan dana sekitar Rp 45
milyar rupiah yang dapat digunakan untuk mengolah kelapa sawit seluas 6 000 ha.
Sampai tahun 2000, di Sumatera Selatan terdapat 87 perusahaan yang
terlibat dalam industri pengolahan kelapa sawit dengan lahan seluas 510 524 ha.
Untuk mengolah hasil kelapa sawit dari lahan kebun tersebut, telah dibangun dan
beroperasi 17 pabrik PKS yang menyebar pada berbagai lokasi. Selain itu terdapat
7 pabrik kelapa sawit yang baru dibangun sejak tahun 1999. Jumlah pabrik PKS
terbanyak terdapat di Kabupaten Musi Banyasin (7 pabrik PKS) dengan kapasitas
total 345 ton TBS/jam.

Sisanya sebanyak 17 pabrik menyebar di 7 kabupaten lain

di Sumatera Selatan. Kapasitas pabrik PKS berkisar 30 hingga 60 ton TBS/jam,


hanya satu unit yang mempunyai kapasitas pengolahan 120 ton TBS/jam, yaitu
pabrik PKS PT Selapan Jaya Permai di Kecamatan Mesuji, Kabupaten Ogan
Komering Ilir. Pabrik PKS dengan kapasitas kecil umumnya berupa pabrik PKS tua

21

yang masih dapat beroperasi, sedangkan pabrik PKS dengan kapasitas relatif besar
merupakan pabrik baru selesai dibangun dan sudah beroperasi (Dinas Perkebunan
Provinsi Sumatera Selatan, 2000).
Pada tahun 2004 jumlah pabrik PKS adalah sebanyak 24 unit dengan
kapasitas 1 115 ton TBS/jam, akantetapi kapasitas pabrik PKS ini belum dapat
menampung seluruh produksi TBS yang ada di Sumatera Selatan. Berdasarkan
perhitungan luas areal perkebunan kelapa sawit yang ada, maka perlu dibangun lagi
pabrik PKS sebanyak 25 unit dengan kapasitas total sebesar 905 ton TBS/jam.
Pabrik PKS tersebut direncanakan akan dibangun pada enam kabupaten di
Sumatera Selatan (Dinas Perkebunan Sumatera selatan, 2004) (Tabel 5).
Tabel 5. Jumlah Pabrik PKS yang Ada dan Rencana Dibangun di Sumatera
Selatan Tahun 2004
No

Kabupaten

Pabrik PKS yang Ada


Unit

Pabrik PKS Rencana


Dibangun
Unit
Kapasitas
(ton TBS/jam)
5
150

Musi Banyuasin / Banyuasin

Kapasitas
(ton TBS/jam)
395

Ogan Komering Ilir

270

270

Ogan Komering Ulu

120

20

Musi Rawas

150

240

Muara Enim/ Prabumulih

140

75

Lahat

30

150

Jumlah

23

1 115

25

905

Sumber: Disbun Sumatera Selatan (2004).


Berdasarkan Tabel 5 ternyata Kabupaten Musi Banyuasin dan Banyuasin
dengan jumlah pabrik PKS terbanyak (8 unit) ternyata masih perlu dibangun 5 unit
pabrik PKS mengingat kebun kelapa sawit yang ada di kabupaten ini adalah terluas,

22

selain itu kondisi pabrik yang ada sudah tua terutama pabrik PKS pada PBN.
Jumlah pabrik PKS terbanyak yang akan dibangun terdapat di Kabupaten Ogan
Komering Ilir yaitu sebanyak 7 unit dengan kapasitas 270 ton TBS/jam terutama
untuk menampung produksi TBS dari kebun PBS dan PBS-Plasma.
Menurut Dinas Perkebunaan Sumatera Selatan (2004), dalam pembangunan
pabrik PKS harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut:
1. Pembangunan pabrik PKS memerlukan biaya sebesar 27.00% dari total biaya
pembangunan

sistem

agribisnis

kelapa

sawit.

Apabila

pembangunan

perkebunan kelapa sawit dilaksanakan dengan pola Inti-Plasma maka dalam


pembangunan pabrik PKS dapat juga diikutsertakan petani plasma sebagai
pemilik atau pemegang saham dengan cara pemberian kredit pemilikan pabrik.
2. Pembangunan pabrik PKS haruslah dilakukan oleh investor atau petani yang
memiliki areal perkebunan sendiri sebagai pemasok bahan baku, pembangunan
pabrik PKS tanpa pemilikan kebun sendiri terutama pada lokasi yang berdekatan
dapat menimbulkan konflik dalam pembelian TBS, pengembalian kredit
pemilikan kebun oleh petani plasma dan pencuriaan buah kelapa sawit.
Perkembangan volume dan nilai ekspor kelapa sawit di Sumatera Selatan
sangat fluktuatif, terutama akibat krisis ekonomi sejak tahun 1997. Perkembangan
ekspor/impor komoditi kelapa sawit Sumatera Selatan sangat ditentukan oleh tingkat
produksi kebun kelapa sawit, perkembangan luas areal tanaman menghasilkan dan
laju konsumsi minyak sawit domestik (Tabel 6).
Apabila tidak terjadi intervensi pemerintah maka perdagangan kelapa sawit di
pasar dunia sangat ditentukan oleh marjin keuntungan berupa selisih harga dunia
dan harga domestik.

Jika harga dunia lebih tinggi maka pengusaha lebih

mengutamakan memasarkan ke mancanegara atau ekspor produk kelapa sawit

23

untuk memperoleh keuntungan lebih besar. Akan tetapi apabila pemerintah


mengeluarakan kebijkan dengan membatasi ekspor untuk menjaga kestabilan stok
domestik, maka jumlah ekspor ditentukan oleh selisih produksi dengan konsumsi
domestik. Intervensi pemerintah banyak dilakukan mengingat komoditi kelapa sawit
merupakan komoditi pangan yang bernilai politis dan strategis untuk kebutuhan
domestik dan sumber devisa.
Tabel 6.
Tahun
1991

Perkembangan Volume dan Nilai Ekspor CPO di Sumatera


Selatan Tahun 1991-2002

Volume Ekspor
Pertumbuhan
(ton/tahun)
(%)
7 224 390.00
-

Nilai Ekspor
Pertumbuhan
(US $)
(%)
2 178 912.00
-

1992

8 600 000.00

19.04

2 949 800.00

35.38

1993

10 281728.00

19.55

3 623 832.00

22.85

1994

22 979 410.00

123.50

10 315 132.00

184.65

1995

2 389 630.00

-89.60

1 419 432.00

-86.24

1996

4 417 576.00

84.86

1 885 267.00

32.82

1997

2 219 200.00

-49.76

60 690 752.00

319.21

1998

38 404 620.00

1630.56

11 743 038.00

-80.65

1999

130 900 000.00

240.84

19 999 980.00

70.31

2000

145 980 000.00

11.52

29 094 886.00

45.47

2001

140 713 000.00

-3.60

28 114 400.00

-3.37

2002

144 654 569.00

2.80

26 126 514.00

-7.07

Sumber: Disbun Sumatera Selatan (1999) dan Deperindag (2003)


Produsen kelapa sawit termasuk di Sumatera Selatan hanya berperan
sebagai penerima harga (price taker) dari pasar CPO/PKO dunia. Sejak tahun 1972
hingga tahun 2003, harga CPO dan PKO dunia mengalami perubahan yang cukup
fluktuatif dimana perubahan harga CPO dunia berkisar US $ 211.00 hingga US $
723.00, sedangkan perubahan harga PKO dunia berkisar US $ 198.00 hingga US $

24

723.02.

Perubahan harga CPO domestik berkisar Rp 190.00/kg hingga Rp 39

422.50 (tahun1998). Harga terendah umumnya terjadi tahun 1972 (harga CPO dan
PKO), sedangkan harga tertinggi terjadi tahun 1985 (harga CPO) dan tahun 1997
(harga PKO). Selama kurun waktu 30 tahun, perkembangan harga CPO dan PKO
dunia sangat fluktuatif, dimana rata-rata perubahan harga CPO dunia sebesar 8%
sedangkan harga PKO dunia sebesar 7% (Gambar 2)

800
700

Harga (US $/ton)

600
500
400
300
200
100

T a h u n

02
20

98

00
20

19

96
19

94
19

92

90

19

19

88
19

86
19

82

84
19

19

80
19

78
19

76
19

74
19

19

72

CPO(CIF-Rotterdam)
PKO(CIF-London)

Gambar 2 Perkembangan Harga CPO dan PKO Dunia Tahun 1972 - 2002
Sebagai dampak fluktuasi harga CPO/PKO dunia maka perkembangan
harga CPO domestik juga fluktuaitif, dan meningkat selama kurun waktu 30 tahun,
dimana laju peningkatan mencapai rata-rata 13.00%.

Kenaikan harga tertinggi

terjadi pada tahun 1998/1999, dengan kenaikan harga hampir tiga kali lipat. Hal ini
akibat masa krisis yang belum pulih sehingga banyak kebun kelapa sawit dalam

25

kondisi rusak, dijarah dan terlantar.

Harga kelapa sawit kembali turun secara

perlahan setelah tahun 2000 dan sedikit meningkat tahun 2002. Secara umum laju
perkembangan harga CPO domestik meningkat karena pengaruh perkembangan
produksi dan konsumsi kelapa sawit domestik disamping akibat fluktuasi harga CPO
dan PKO dunia dan pengaruh nilai tukar rupiah yang fluktuaitif dan cenderung
melemah (Gambar 3).
4500

Harga CPO Domestik (Rp/kg)

4000
3500
3000
2500
2000
1500
1000
500

19
72
19
74
19
76
19
78
19
80
19
82
19
84
19
86
19
88
19
90
19
92
19
94
19
96
19
98
20
00
20
02

T a h u n

Gambar 3. Perkembangan Harga CPO Domestik Tahun 1972 - 2002


Harga minyak goreng dalam negeri juga dipengaruhi oleh fluktuasi harga
CPO domestik karena CPO merupakan bahan baku utama minyak goreng.
Peningkatan harga minyak goreng domestik termasuk harga minyak goreng di kota
Palembang dan Provinsi Sumatera Selatan menunjukkan kecenderungan yang terus
meningkat. Kecenderungan perubahan harga minyak goreng domestik mendekati
kecenderungan harga CPO domestik. Peningkatan harga minyak goreng sangat
besar terjadi pada tahun 1998 -1999, tetapi sedikit menurun pada tahun 1999

26

meskipun kemudian meningkat lagi tahun 2000.

Sejak tahun 1999, harga minyak

goreng di kota Palembang berada di atas harga rata-rata atau harga minyak goreng
Sumatera Selatan (Gambar 4).
7000.00

Harga Minyak Goren (RP/kg)

6000.00

5000.00

4000.00

3000.00

2000.00

1000.00

19
99

19
97

19
95

19
93

19
91

19
89

19
87

19
85

19
83

19
81

19
79

19
77

0.00

Palembang
Sum Sel

Gambar 4. Perkembangan harga minyak goreng di kota Palembang dan


Sumatera Selatan Tahun 1977 - 2000
2. 2. Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit
Proyek perusahaan inti rakyat (proyek PIR) kelapa sawit di Indonesia dimulai
sejak tahun 1977 (khusus perkebunan karet), yaitu berupa proyek NES I di
Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan dan di Kabupaten Alue Merah,
Daerah Istimewa Aceh. Pelaksanaan proyek PIR perkebunan (PIR-Bun) ini diatur
dalam Keputusan Presiden RI No. 11 tahun 1974 tertanggal 11 Maret 1974, nama
PIR-Bun untuk membedakan dengan pola PIR pada sub sektor lainnya. Proyek PIR
ini dikenal juga dengan nama pola PIR-Khusus (disingkat PIR-Sus).

27

UUD 1945
Pasal 33, ayat 3

UUD 1945
Pasal 4 ayat 1

TAP MPR RI No IV/MPR/73

UUPA Pasal 2 ayat 1,2,3 dan Pasal 14 ayat 1d dan 1e

Pelaksanaan Fisik
____________________
SK Menteri Pertanian,
Penunjukan PTP sebagai
Pembina PIR
Dir Jend Perkebunan
sebagai penanggung jawab
PIR, a.n. Menteri minta
pencadangan areal tanah

Kep Pres No 11 tahun 1974.


Repelita II Bab 10

Dijabarkan dalam Proyek:


PIR NES, PIR Swadana

Gubernur Kepala
Daerah Tingkat I

Tim Pembebasan Tanah


Pra Survai:
-Fisik dan
-Sosio ekonomik termasuk
status tanah

SURVEI Studi Kelayakan


Fihak ketiga (Kontraktor)
- Fisik Tanah (mendalam)
- Kelayakan Ekonomi

SK Gubernur KDH I
Pencadangan Areal Tanah

Lokasi PIR-Perkebunan
(PIR-Bun)

Gambar 5. Dasar Hukum Pembentukan Pola PIR-Perkebunan


Sumber

Soetiknjo (1985).

28

Pembentukan pola PIR-Bun atau PIR-Sus menggunakan UUD 1945 sebagai


dasar hukum utama yang telah dijabarkan dalam Tap MPR RI No IV, tahun 1973
dan dirinci dalam Undang Undang Pokok Agraria pasal 2 dan pasal 14, selanjutnya
dikeluarkan keputusan presiden no 11 tahun 1974 dalam Repelita II (Gambar 5).
Pada tahun 1980/1981 dibangun proyek PIR kelapa sawit yang pertama di
Indonesia yaitu PIR Betung Barat, Kabupaten Musi Banyuasin Sumatera Selatan
dengan kebun Intinya Betung Barat yaitu milik PTP Nusantara VII dan petani plasma
sebagai mitra kerjanya. Pada tahun 1982/1983 dibangun perkebunan besar swasta
(PBS), selanjutnya PBS ini dilibatkan juga dalam proyek PIR sebagai perusahaan
inti.

Pada tahun 1987/1988 pola PIR dikaitkan dengan program transmigrasi,

selanjutnya disempurnakan melalui Instruksi presiden No 1 tahun 1986, dengan


nama PIR-Transmigrasi (disingkat PIR-Trans). Dalam perkembangannya, Inpres ini
memilki kelemahan sehingga ditinjau lagi dan dikeluarkan Paket Kebijaksanaan 6
Mei 1986.

Pada tahun 1990 dikeluarkan Paket Januari (Pakjan) yang

menyempurnakan PIR-Trans menjadi PIR-Trans-KKPA/KTI, dengan Inpres No 1


tahun 1986.

Pola PIR kembali diperbaiki tahun 1994/1995 untuk meningkatkan

peranan koperasi sebagai mitra kerja petani, dengan nama pola PIR dengan skim
Kredit Koperasi Primer untuk Anggotanya dan skim Kredit Usaha Kecil (disingkat
Pola PIR-KKPA/KUK).
Menurut Ditjenbun (2004) pembangunan kebun kelapa sawit dengan proyek
PIR di Indonesia telah mencapai 32 unit yaitu 13 unit untuk pola PIR-Bun/NES,
11unit untuk pola PIR-Khusus dan 8 unit untuk pola PIR-Lokal.

Realisasi

pembangunan kebun inti dan kebun plasma kelapa sawit umumnya hampir
mencapai target terutama kebun Inti (rata-rata 98.17%), bahkan kebun Inti PIR-Bun
melebihi target (109.82%) (Tabel 7).

29

Tabel 7. Profil Proyek PIR-Kelapa Sawit di Indonesia Tahun 2001


Lokasi
PTPN I
-PIR III Aceh Timur
-PIR-Sus II Alur
Punti
-PIR-Lok Cot Girek
PTPN II Sum Ut
-PIR-ADB Besitang
-PIR-Lok Langkat
PTPN II Irian Jaya
- PIR-OP I Prafi
- PIR-Sus II Prafi
- PIR-Sus II Arso
PTPN III Sum Ut
- PIR-Lok Lab Batu
- PIR-Lok Bd Tinggi
- PIR-Lok Asahan
PTPN IV Sum Ut
-PIR-Lok Asahan, L
Batu, Simalungan
-PIR-Lok Tonduhan
PTPN V Sum Ut
-PIR-Lok Bgn Batu
PTPN V Riau
-PIR OPII S Buatan
-PIR OP II S Garo
-PIR OP II S Galuh
-PIR-SusI STapung
-PIR-Sus II Siak
-PIR-Sus II Bagan
Sinembah
PTPN VI Sum Bar
-PIR-OPHIR
Pasaman
PTPN VI Jambi
-PIR-Sus II S Bahar
PTPN VII Sum Sel
-PIR-Sus IV Betung
Tebenan
-PIR-Sus II M Enim
PTPN VII Bengkulu
-PIR-Sus VII
Talopino
PTPN VIII
-PIR V Banten Sel
(KRAL, KRAP)

Realisasi
(%)

Tahun
tanam
Kebun Inti

Realisasi
(%)

Tahun tanam kebun


Plasma

1981-1982
-

105 %
-

1985-1990

83 %

1986-1991

100 %

1987-1992

126 %

1982-1986
1981-1993

94%

1982-1986
1981-1985

100 %
100 %

1250.00
4500.00

1986-1989
1984-1986
1990

101 %
77 %
23 %

1986-1991
1986-1987
1984-1991

100 %
100 %
100 %

2000.00
2400.00
3600.00

1981-1986
1983-1986
1982-1986

1983-1991
1983-1986
1982-1986

100 %
73 %
93 %

7000.64
1540.00
1862.00

1982-1986

1982-1986

61 %

2660.00

1983-1986

1983-1986

71 %

1422.80

1982-1985

1982-1985

100 %

4703.00

1985-1986
1987-1990
1985-1992
1984-1987
1986-1993
1986-1987

100 %
160 %
113 %
107 %
107 %
100 %

1986-1988
1987-1990
1986-1990
1982-1988
1983-1987
1984-1986

100 %
85 %
100 %
100 %
100 %
100 %

7.17
-

5000.00
5974.00
7992.83
5000.00
10000.00
6000.00

1983-1993

272 %

1982-1986

100 %

4800.00

1984-1990

100 %

1983-1988

100 %

6000.00

1982-1991

100 %

1982-1991

100 %

8023.15

1986-1989

89 %

1984-1990

100 %

12040.54

1987-1993

65 %

1984-1994

75 %

358.00

1981-1990

105 %

1982-1988

92 %

1318.62

Sumber : Ditjen Perkebunan, 2001

Puso

a)

TBM

b)

722.00

a)

2155.94

b)

a)

a)

a)

TM kebn
Plasma
(ha)
1778.00
5417.25

4157.00
6018.38

30

Realiasasi kebun plasma rata-rata 87.33%, tertinggi pada PIR-Lokal. Proyek


PIR-Bun dibangun dengan melibatkan PTPN I di Aceh (tahun 1981-1990) hingga
PTPN XIV di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah (tahun 1984-1990) (Ditjen Bina
Produksi Perkebunan, 2001).
Khusus di Provinsi Sumatera Selatan, pola PIR-Bun dikelola oleh PTP
Nusantara VII berupa PIR-IV Betung dan Tebenan serta PIR-Sus II di Muara Enim
dengan tahun tanam 1982-1991.

Realisasi pembangunan kebun inti dan kebun

plasma kelapa sawit pola PIR-Bun di Sumatera Selatan adalah 3 unit kebun,
terdapat pada tiga lokasi yaitu PIR-IV Betung dan Tebenan di Kabupaten Musi
Banyuasin serta PIR-Sus II Gunung Megang, Kabupaten Muara Enim. Proyek ini
dikaitkan dengan keberadaan PTPN VII.

Sampai bulan September tahun 2001,

areal kebun inti sudah terealisasi 100% atau seluas 5 630.00 ha di kabupaten Musi
Banyuasin dan baru terealisasi sebanyak 89% (seluas 3 562 ha) dari target 4 000 ha
kebun inti di Muara Enim.
PTPN VII hanya mengelola dua kebun di Sumatera Selatan, kinerja pada
proyek PIR-Bun ini cukup baik terutama jika dibandingkan dengan kebun di provinsi
lain (terutama proyek PIR-Bun di Aceh dan Sumatera Utara) dalam hal kondisi
tanaman kelapa sawit dan target realisasi kebun plasma. Target luas areal kebun
plasma yang sudah dibuka mencapai 100.00% dengan luas 8 023.15 ha di
Kabupaten Musi Banyuasin (tahun tanam sejak tahun 1982) dan 12 040.54 ha di
Kabupaten Muara Enim (tahun tanam sejak tahun 1984).

Semua kebun kelapa

sawit dalam kondisi tanaman menghasilkan (TM), yang mana hampir 50.00% kondisi
kebun plasma di Musi Banyuasin dalam katagori kelas A, sisanya kelas B, C dan D,
sayang sekali kondisi kebun plasma di Muara Enim masih relatif buruk yaitu hanya
25.00% dalam katagori kelas A, sisanya hanya kelas B, C dan D.

31

Pembangunan perkebunan melalui pola PIR yang dikaitkan dengan program


transmigrasi (PIR-Trans) telah diatur dalam Inpres No 1 tanggal 3 Maret tahun 1986
sebagai kelanjutan pengembangan pola PIR-Sus dengan mengikutsertakan sektor
swasta sebagai Inti yaaitu perkebunan besar swasta.

Hal ini dilakukan dengan

pertimbangan agar pengembangan perkebunan di daerah bukaan baru dapat tetap


berlanjut, sekaligus sebagai penjabaran paket deregulasi dengan ketentuan
pelaksanaan dari instansi terkait.
Proyek PIR-Trans dimulai tahun 1990/1991 mempunyai tujuan antara lain:
(1) mendorong peningkatan pendapatan petani, (2) penyerapan tenaga kerja, (3)
peningkaatan produksi perkebunan sekaligus komoditi ekspor, (4) pembangunan
wilayah, (5) pembukaan sentra produksi baru, dan (6) pertumbuhan ekonomi
wilayah.

Pengembangan PIR-Trans telah mencakup semua tahapan kegiatan

pengembangan pola PIR yaitu: (1) pembangunan fisik kebun, (2) penempatan
petani, (3) proses ambil alih pemilikan kebun plasma (konversi), (4) pembangunan
fasilitas pengolahan, (5) pengembalian kredit, dan (6) pasca kredit lunas. Sampai
tahun 2001 pembangunan kebun kelapa sawit pola PIR-Trans telah selesai seluas
586 535 ha (83.92%) yang terdiri dari areal kebun inti tahap I seluas 160 027 ha dan
kebun inti KKPA tahap dua seluas 4 733 ha. Untuk areal kebun plasma tahap I
dibangun seluas 426 509 ha dan kebun plasma KKPA tahap II seluas 3 273 ha
dengan penempatan petani peserta sebanyak 180 253 KK yaitu 69.15%
dilaksanakan pada tahap pertama dan 30.85% pada tahap kedua.
Untuk menunjang keberhasilan program transmigrasi, pelaksanaannya
dikoordinir oleh instansi terkait yaitu: (1) Menteri Negara Perencana Pembangunan
Nasional/Ketua Bappenas selaku koordinator, (2) Menteri Pertanian, (3) Menteri
Transmigrasi, (4) Menteri Tenaga Kerja, (5) Menteri Dalam Negeri,

(6) Menteri

32

Keuangaan, (7) Menteri Kehutanan, (8) Menteri Koperasi, (9) Menteri Muda Urusan
Produksi Tanaman Keras, (10) Gubernur Bank Indonesia, dan (11) Ketua Badan
Koordinasi Penanaman Modal. Masing-masing instansi tersebut akan melaksanakan fungsi dan tugasnya, antara lain:
1. Menteri Negara Perencana Pembangunan Nasional/Ketua Bappenas menyusun
dan mengkoordinasikaan rencana-rencana pembangunan yang terkait dengan
rencana pelaksanaan proyek PIR.
2. Menteri Pertanian memantapkan dan meningkatkan usaha pengembangan
perkebunan dalam proyek PIR.
3. Menteri Transmigrasi menyiapkan atau melaksanakan latihan dan pengiriman
transmigran (sebagai peserta proyek PIR) serta menyiapkan lahan pangan,
pembangunan pemukiman dan pembinaan para transmigran.
4. Menteri Tenaga Kerja melaksanakan seleksi, latihan dan pengiriman angkatan
kerja antar daerah sebagai karyawan perkebunan Inti dan kebun plasma.
5. Menteri Dalam Negeri mengatur penyediaan dan pemberian hak atas lahan
tersebut, memberi petunjuk dan pengarahan kepada gubernur, bupati tentang
koordinasi dalam pembinaan pelaksanaan proyek PIR-Trans
6. Menteri Keuangaan mengatur penyediaan dana atau menetapkan ketentuan
yang bersumber dari dana APBN.
7. Menteri Kehutanan mengatur proses pelepasan lahan dari kawasan hutan.
8. Menteri Koperasi melaksanakan pembinaan petani plasma kearah pertumbuhan
koperasi sebagai usaha bersama dalam mengelola kebun.
9. Menteri Muda Urusan Produksi Tanaman Keras mengkoordinasikan pelaksanaan usaha pengembangan perkebunan dengan pola PIR-Trans.

33

10. Gubernur Bank Indonesia mengatur penyediaan dana dan/atau menetapkan


ketentuan-ketentuan pembiayaan proyek PIR.
11. Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memperlancar perizinan
dan pemberian fasilitas penanaman modal untuk pengembangan perkebunan.
Selain petani plasma sebagai pelaku utama dalam pola PIR maka terdapat
tiga pihak lain yang secara langsung bertanggungjawab terhadap pelaksanaan
program PIR-Bun: (1) pelaksana, (2) pembina perkebunan, dan (3) pembina petani
plasma.

Pelaksana adalah perusahaan perkebunan milik negara (PBN) atau

perekebunan milik swasta (PBS) atau Koperasi yang ditetapkan oleh Menteri
Pertanian. Perusahaan ini bertugas membangun perkebunan plasma dan membina
petani plasma sampai kebun siap di serahkan pengelolaannya.
Pembina perkebunan adalah Departemen Pertanian dengan Menteri
Pertanian sebagai penanggung jawab. Direktur Jenderal Perkebunan mengatur
kebijaksanaan teknis operasional dimana dalam pelaksanaan awalnya dibantu oleh
tim khusus proyek PIR (TK-PIR). TK-PIR dibentuk oleh Menteri Pertanian dan
bertanggungjawab kepada Direktur Jendeal Perkebunan, bertugas membantu
persiapan, pelaksanaan dan pengendalian proyek PIR.

Pembinaan di lapangan

dilakukan oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi selaku sekretaris tim khusus.
Pembina petani plasma adalah Departemen Transmigrasi yang bertanggung
jawab mulai dari membangun pemukiman, membina usahatani pekarangan sampai
membina masyarakat dan membangun desa-desa baru.

Di tingkat provinsi dan

ditingkat kabupaten, pembinaan dilaksanakan oleh instansi transmigrasi tingkat


daerah, sedangkan pemukiman pembinaan dilakukan oleh para petugas unit
pemukiman transmigrasi. Selain itu, terdapat lembaga lain yaitu forum koordinasi
yang melibatkan berbagai instansi secara fungsional. Di tingkat provinsi dibentuk

34

tim pembina proyek perkebunan daerah tingkat satu (TP3D I), tingkat kabupaten
atau tingkat dua (TP3D II). Pembentukan forum koordinasi untuk membantu
memecahkan perma-salahan yang ada di lokasi proyek, misalnya: dalam hal
penyediaan lahan, pengadaan bibit, sarana produksi, pembinaan petani peserta,
pembiayaan dan pembangunan sarana dan prasarana penunjang. Di tingkat pusat,
forum koordinasi dibentuk oleh Menteri Pertanian, di tingkat provinsi dibentuk oleh
Gubernur dan ditingkat kabupaten oleh Bupati.
Jika dilihat dari sumber dananya maka pola PIR dapat dibedakan atas pola
PIR-Swadana (pola PIR Lokal dan PIR-Khusus), yaitu pola PIR dengan sumber
dana dari dalam negeri (APBN/APBD) dan pola PIR Berbantuan/NES dengan
sumber dana dari bantuan luar negeri (World Bank).

Jika dibedakan atas asal

daerah peserta maka dikenal pola PIR-Lokal dan PIR-Trans.

PIR-Lokal yaitu

pesertanya adalah petani disekitar proyek yang tanahnya terkena pembangunan


proyek PIR dan bersedia bergabung menjadi plasma. PIR-Trans yaitu pola PIR
yang pesertanya adalah penduduk dari luar lokasi proyek melaui program
transmigrasi.

Selain itu dikenal pola PIR-Akselerasi yaitu proyek PIR yang

dikembangkaan di pemukiman transmigrasi yang sudah ada atas dasar permintaan


para transmigran pada lahan usaha dua yang luasnya satu hektar.
Pembiayaan pembangunan dilakukan untuk kebun plasma dan inti, rumah,
lahan pangan dan pekarangan, sarana jalan di/ke pemukiman proyek, dan fasilitas
pengolahan merupakan komponen kredit, sedangkan pembiayaan pembinaan dan
fasilitas sosial/pendidkan dan kesehatan merupakan komponen non kredit. Seluruh
biaya pembangunan ini menjadi tanggung jawab pihak perusahaan Inti, selanjutnya
biaya ini diganti oleh bank pemerintah.

35

Perbedaan Pola PIR dapat dirinci menurut kriteria Dirjen Perkebunan yaitu
berdasarkan luas lahan yang dibagikan, ukuran rumah untuk masing-masing Kepala
Keluarga (KK) sebagai fasilitas pemukiman, lokasi pembangunaan kebun plasma
dan sumber dana untuk membiayai proyek PIR (Tabel 8).
Tabel 8. Perbedaan Pola Perusahaan Inti Rakyat Berdasarkan Kriteria
Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta Tahun 1986
No
1

Kriteria
NES
2.00 ha

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Sus
PIR-Bun
2.00 ha
2.00 ha

PIR-Trans
2.00 ha

Tanaman
pokok
Tanaman
pangan
Lahan
pekarangan
Peserta

Ukuran rumah

tidak ada

36 m 2

Lokasi

bukaan baru bukaan baru bukaan baru

Sumber dana

sekitar
perkebunan
Bank Dunia

2
3

Keterangan:
Sumber

1)

0.00 ha

0.75 ha

0.75 ha

0.50 ha

0.00 ha

0.25 ha

0.25 ha

0.50 ha

penduduk lokal

transmigran

penduduk
lokal
36 m 2

transmigran
APPDT 1)
36 m 2

swadana

bantuan luar kredit khusus


negeri

APPDT= alokasi penempatan penduduk di daerah


transmigrasi

: Dirjen Perkebunan (1986) dalam Ahmad (1998).

Perbandingan antar proyek PIR dapat juga menggunakan kriteria Dinas


Perkebunan Sumatera Selatan Tahun 2000 yaitu dilihat dari perbedaan: (1) bentuk
badan hukum, (2) sumber dana untuk membiayai proyek, (3) perbandingan
komposisi petani lokal dan transmigrasi sebagai peserta PIR, dan (4) persyaratan
pengalihan kebun dari Inti kepada Petani plasma. Selanjutnya perbedaan tersebut
mengakibatkan perbedaan pada: (1) pola pembinaan, (2) persyaratan menjadi

36

peserta kemitraan, (3) nilai dan komponen kredit pemilikan kebun plasma, dan (4)
cara pelunasannya dan sebagainya (Tabel 9).
Tabel 9. Perbandingan Beberapa Pola Perusahaan Inti Rakyat Berdasarkan
Kriteria Dinas Perkebunan Sumatera Selatan Tahun 2000
No

Kriteria

Badan hukum

Sumber dana

Komposisi
peserta

Pengalihan
Kebun

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR - Khusus
PIR-Transmigrasi
(PIR-Sus)
(PIR-Trans)
BUMN
BUMN dan Swasta
Bantuan luar
negeri dan APBN
20% lokal : 80%
trans, dijadikan
50% lokal : 50%
trans
Dinilai tim teknis
PIR pusat bersama Bank pelaksana dan inti
secara acak

PIR-KKPA/KUK

APBN

BUMN, Swasta
Nasional dan PMA
APBN atau APBD

50% petani lokal


dan 50%
transmigran

100% petani lokal


harus menjadi
anggota koperasi

Dinilai secara individu oleh tim


(teknis, bank,
asuransi)

Dinilai oleh tim


tek-nis,
dikoordinasikan
melalui koperasi
dan inti (Perda No
17 tahun 1998).

Sumber: Disbun Sumatera Selatan, 2000 dalam Zahri (2003).


2.3. Kebijakan-Kebijakan Ekonomi Pada Industri Kelapa Sawit
Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk kelangsungan industri
kelapa sawit nasional dengan melakukan berbagai kebijakan untuk mempertahankan stabilitas pasokan dan harga CPO, serta harga minyak goreng untuk kebutuhan
domestik.

Untuk mengantisipasi gejolak harga minyak goreng di dalam negeri

tersebut, pemerintah berupaya memacu pertumbuhan perkebunan kelapa sawit,


sekaligus menjadikannya sebagai komoditi andalan ekspor nasional.

Kebijakan

pemerintah ini diwujudkan dengan memberikan kesempatan kepada pihak swasta


nasional untuk investasi di bidang kelapa sawit yaitu melalui pemberian Kredit
Liquiditas Bank Indonesia (KLBI) tahun 1978.

37

Mengingat komoditi minyak kelapa sawit merupakan komoditi perdagangan


baik di pasar domestik maupun pasar dunia, maka instrumen-instrumen kebijakan
yang sering digunakan oleh pemerintah Indonesia antara lain: (1) penetapan pajak
ekspor secara berkala, (2) penetapan kebutuhan dalam negeri berupa pembatasan
ekspor, (3) pengadaan cadangan penyangga minyak sawit untuk kebutuhan
domestik, (4) pelarangan ekspor, dan (5) impor minyak goreng dalam upaya
menstabilkan harga minyak goreng melalui operasi pasar dan lain-lain.
Sejak tahun 1977, komoditi minyak sawit tidak lagi diprioritaskan untuk
ekspor, tetapi lebih diutamakan untuk kebutuhan domestik yaitu bahan baku industri
minyak goreng. Kebijakan ini dikeluarkan pemerintah Indonesia mengingat kopra
sebagai bahan baku utama minyak goreng domestik sudah tidak bisa diandalkan
lagi, selain itu untuk mencegah impor kopra secara besar-besaran seperti yang
terjadi pada tahun 1977 (Djauhari dan Pasaribu, 1996).
Pada tahun 1978 pemerintah menetapkan kewajiban setiap produsen minyak
sawit untuk menyisihkan 35.00% dari produksinya untuk kebutuhan domestik atau
industri dalam negeri, selebihnya baru diekspor.

Kebijakan pemerintah ini dibuat

melalui Surat Keputusan Bersama tiga menteri, yaitu Menteri Perdagangan dan
Koperasi, Menteri Pertanian dan Menteri Perindustrian No.275/KPB/XII/1978;
No.764/Kpts/UM/12/1978; No.252/M/SK/1978 tanggal 16 Desember 1978 tentang
pengadaan

minyak

nabati

untuk

kebutuhan

dalam

negeri.

Departemen

Perdagangan dan Koperasi menetapkan harga minyak sawit untuk pemasaran


dalam negeri. Penetapan harga domestik ini dilakukan setiap tiga bulan sejak tahun
1978. Pengaturan harga minyak sawit bervariasi sampai tahun 1990. Harga CPO
pernah dibebaskan berdasarkan harga pasar yang berlaku melalui Paket
Kebijaksanaan Deregulasi 3 Juni 1990. Pada tahun 1990, penetapan harga minyak

38

sawit diperbaharui menjadi Rp 475/kg FOB Belawan melalui Keputusan Menteri


Perdagangan RI No. 164/KP/IV/90 tentang penetapan harga minyak sawit untuk
kebutuhan industri dalam negeri (Departemen Pertanian, 1991). Pada tanggal 26
September 1990, Menteri Koordinator Bidang Ekuin/Wasbang mengeluarkan
peninjauan kembali kebijakan tata niaga kopra, minyak kelapa dan minyak sawit
yaitu berupa penyesuaian kebijakan tata niaga dari non tarif menjadi mekanisme
tarif. Bila terjadi kenaikan harga minyak goreng domestik di atas tingkat harga yang
wajar akibat peningkatan permintaan CPO di luar negeri, maka terhadap ketiga
komoditi ekspor tersebut dikenakan pajak ekspor tambahan. Besarnya pajak ekspor
dan pajak tambahan diperhitungkan berdasarkan harga FOB. Sejak 3 Juni 1991,
keputusan tersebut dicabut melalui Keputusan Bersama Menteri Perdagangan,
Menteri Pertanian dan Menteri Perindustrian No.136/KPB/VI/ 91; No.340/Kpts/
KB.320/VI/1991 dan No.50/M/SK/6/1991, sehingga mendorong produsen minyak
sawit untuk mengalokasikan sumberdaya ekonomi yang ada secara lebih efisien.
Sebagai dasar penetapan harga adalah harga FOB Belawan.

Pembebasan

perdagangan dan ekspor ini hanya berlaku sampai Agustus 1994.


Pada periode September 1994 - Juli 1997, pemerintah menetapkan pajak
ekspor progresif yaitu 40.00% - 60.00% tergantung harga FOB. Selain itu untuk
menjamin stabilitas pasar minyak goreng domestik, pemerintah melakukan
pengadaan cadangan penyangga bahan baku CPO dan operasi pasar minyak
goreng untuk konsumen rumahtangga. Selama Juli - Nopember 1997, pemerintah
mencoba meningkatkan volume ekspor dengan menurunkan pajak ekspor menjadi
5.00%. Akan tetapi dua bulan berikutnya ditetapkan pajak ekspor tambahan bagi
ekspor CPO, bahkan dilanjutkan dengan pelarangan sementara ekspor CPO selama
dua bulan untuk menahan laju ekspor dan memenuhi kebutuhan bahan baku minyak

39

goreng domestik. Pada bulan April 1998, pajak ekspor CPO kembali ditetapkan
sebesar 40.00% dan dua bulan berikunya diturunkan menjadi 10.00%.
Kebijakan harga minyak sawit otomatis akan mempengaruhi harga TBS
ditingkat petani, karena harga TBS ditentukan berdasarkan rumus harga yang
dikeluarkan oleh Mentan, dimana komponen-komponen penentu harga TBS antara
lain adalah harga CPO dan PKO. Kebijakan pemerintah dalam penentuan harga
TBS ini selanjutnya akan mempengaruhi perilaku dan keputusan petani dalam
mengelola kebun plasma kelapa sawit.

Selama ini harga TBS ditentukan

berdasarkan harga ekspor FOB minyak sawit, dimana sejak tahun 1978, harga TBS
ditentukan sebesar 14.00% dari nilai ekspor CPO pelabuhan Belawan. Pada tahun
1987 harga TBS diubah kembali berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian
No. 43/Kpts/KB.320/2/87, dimana harga TBS ditentukan sebesar 14.00% dari harga
ekspor CPO dan nilai ekspor PKO.
Selain kebijakan di bidang harga dan perdagangan kelapa sawit, pemerintah
juga mengeluarkan berbagai kebijakan di bidang produksi. Salah satu kebijakan di
bidang produksi kelapa sawit adalah mengatur sistem kerjasama antara petani
plasma dengan perkebunan besar (perusahaan Inti) sebagai mitra kerja petani
melalui pola PIR. Dalam organisasi produksi PIR-Sawit, perusahaan Inti berkewajiban memberikan bimbingan teknik budidaya dan manajemen kepada petani
plasma serta membeli seluruh produksi yang dihasilkan dari kebun plasma, demikian
juga petani plasma berkewajiban menjual seluruh TBS yang dihasilkan kepada
perusahaan Inti sekaligus berkewajiban mencicil semua kredit yang diperoleh petani
untuk pembukaan kebun plasma dan fasilitas perumahan.
Harga pembelian TBS dari petani oleh perusahaan Inti harus berdasarkan
pada

Surat

Keputusan

Menteri

Pertanian

No.43/Kpts/KB.3202/1987.

Dasar

40

perhitungan harga TBS menggunakan indeks proporsi tertentu atas harga minyak
sawit (CPO), inti sawit (PKO) dan rendemen. Selanjutnya harga TBS kelapa sawit
produksi petani diperbaiki melalaui keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan
No. 627/Kpts-II/98 tanggal 11 September 1998 tentang ketentuan penetapan harga
pembelian TBS kelapa sawit produksi petani dalam ranga menjamin perolehan
harga yang wajar dari TBS kelapa sawit produksi petani dan mencegah persaingan
tidak sehat diantara pabrik PKS. Rincian Ketentuan Penetapan Harga Pembelian
Tandan Buah Segar (TBS) berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan
Perkebunan tahun 1998 dapat dilihat pada Lampiran 8.
Sebagai tindak lanjut Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan
(SK Menhutbun No. 627/Kpts-II/98) maka dikeluarkan juga surat keputusan Gubenur
Kepala Daerah Tingkat I Sumatera Selatan, No: 898/SK/V/1998 tanggal 5 Desember
1998 tentang pembentukan tim penetapan harga pembelian tandan buah segar
(TBS) kelapa sawit produksi petani. Susunan anggota penetapan harga pembelian
TBS petani plasma diketuai oleh Kepala Dinas Perkebunan Dati I Sumatera Selatan
dengan anggota seluaruh Kantor wilayah (Kanwil), Biro, Perkebunan besar
(PTP/PTPN) serta perwakilan KUD petani kelapa sawit di Sumatera Selatan.
Secara matematis penentuan harga TBS petani yang dibeli perusahaan Inti
berdasarkan rumus sebagai berikut:
H TBS

= K (H CPO

x R CPO CPO + H IS x R IS )

dimana:
H TBS = Harga TBS acuan yang diterima yang diterima petani di tingkat
pabrik (Rp/kg)
K

= Indeks proporsi yang menunjukkan bagian yang diterima oleh


petani dinyatakan dalam persentase

41

H CPO = Harga rata-rata minyak sawit kasar (CPO) tertimbang realisasi


penjualan ekspor (FOB) dan lokal masing-masing perusahaan
pada bulan sebelumnya dinyatakan dalam Rp/kg.
H IS = Harga rata-rata inti sawit tertimbang realisasi penjualan ekspor
(FOB) dan lokal masing-masing perusahaan pada bulan
sebelumnya dinyatakan dalam Rp/kg
R CPO = Rendemen minyak sawit kasar dinyatakan dalam persentase
R IS = Rendemen inti sawit dinyatakan dalam persentase.
Pada periode 2000-2005, pemerintah daerah Sumatera Selatan mengeluarkan juga kebijakan program pemberdayaan masyarakat perkebunan dengan
menggunakan pendekatan kawasan industri masyarakat perkebunan (disingkat
Kimbun) agar perkebunan rakyat dapat lebih efisien dan berkelanjutan (Dinas
Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, 1999). Uraian tentang beberapa bentuk
alternatif pola pengembangan perkebunan kelapa sawit berdasarkan pendekatan
Kimbun diujelaskan pada Lampiran 1.

42

III. TINJAUAN PUSTAKA


3.1. Penelitian tentang Kinerja Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit
Kinerja perusahaan inti rakyat (PIR) kelapa sawit dapat di nilai dari umur
tanaman waktu lahan dikonversi (alih kelola dari perkebunan inti kepada petani
plasma), tingkat produksi atau produktivitas, lama pelunasan kredit dan pendapatan
kelapa sawit. Selain itu dapat dikaji juga dari pengelolaan perkreditan serta peranan
unsur kelembagaan membina kemitraan antara petani dan inti seperti yang
dilakukan oleh Limbong (1991) pada pola PIR-NES V di Banten Selatan, Jawa
Barat.

Peranan proyek PIR dapat juga dikaji dari peningkatan pendapatan dan

kesempatan kerja masyarakat di wilayah tersebut,

seperti yang dilakukan oleh

Riyadi (1993) di Kecamatan Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, atau dari


perubahan pola pemukiman dan mata pencaharian masyarakat setempat, seperti
yang dilakukan oleh Yosep (1996) pada proyek PIR kelapa sawit di Kabupaten
Manokwari, provinsi Irian Jaya.
Studi yang dilakukan oleh Dradjat dan Daswir (1995) pada proyek PIR kelapa
sawit di Sumatera menemukan bahwa pelaksanaan proyek PIR kelapa sawit sering
menghadapi masalah kelembagaan. Peneliti menemukan kendala potensial yang
berkaitan dengan dominasi perusahaan inti dan koperasi terhadap rumahtangga
petani plasma sebagai peserta proyek PIR.

Penelitian sejenis dilakukan oleh

Herman dan Dradjat (1996) pada proyek PIR kelapa sawit di Sumatera, Jawa dan
Kalimantan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peranan koperasi unit desa (KUD)
sebagai lembaga ekonomi petani pada masa pasca konversi tidak selalu efektif dan
dipengaruhi oleh ada tidaknya organisasi ekonomi sebelumnya, tingkat pendidikan
dan pengalaman ketua KUD dalam mengelola koperasi, posisi kelompok tani, tingkat

43

partisipasi petani, intensitas pembinaan dan wilayah kerja. Selanjutnya penelitian ini
menyarankan untuk meningkatkan pembinaan dan mengalihkan beberapa kegiatan
inti kepada KUD secara bertahap, seperti: penyediaan saprodi, pengangkutan TBS
dan pemotongan cicilan kredit. Hasil penelitian sejenis oleh Daswir dan Sulistyo
(1991) pada kasus PIR ADB Besitang membuktikan pentingnya peranan koperasi
dan kelompok tani sebagai lembaga ekonomi dalam mentransfer teknologi dan
meningkatkan pendapatan rumahtangga petani plasma, yang mana pendapatan dari
kelapa sawit telah melebihi target pada panen tahun ke lima dan keenam (target
adalah US $ 1 500/KK/tahun).

Studi Wahyono (1996) pada pola PIR-Bun Ophir

Sumatera Barat, PIR-Trans Sei Pagar dan PIR-Trans Sari Lembah Riau juga
memperkuat temuan di atas yaitu jika peranan kelompok tani dan KUD masih
rendah maka keberhasilan usahatani kelapa sawit juga akan rendah.
Kajian tentang aspek kelembagaan dan kinerja proyek PIR dapat dilakukan
dengan analisis deskriptif kuantitatif seperti yang dilakukan oleh Daswir dan Sulistyo
(1991), akan tetapi kajian seringkali menggunakan analisis kualitatif seperti yang
dilakukan oleh Saputro, et al. (1995) pada pola PIR-Bun kelapa sawit di empat
provinsi (Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Jawa Barat dan Kalimantan Barat),
Herman dan Dradjat (1996) pada pola PIR kelapa sawit di Sumatera, Jawa dan
Kalimantan, penelitian oleh Zulher (1993) dan Marnis (1993) pada proyek PIR-Sus
di Provinsi Riau.

Melalui analisis kualitatif diperoleh informasi yang berkaitan

dengan hak dan kewajiban, fungsi dan tugas, aturan dan norma yang berkaitan
dengan kerjasama pelaku kemitraan tersebut (rumahtangga petani plasma,
perusahaan inti dan koperasi).
Sistim kemitraan dalam perkebunan kelapa sawit mempunyai berbagai pola,
masing-masing mempunyai kelebihan dan kelemahan.

Daswir et al. (1995)

44

mengkaji sistim manajemen usahatani secara kolektif murni pada pola PIR-Bun,
dimana kelebihannya dalam hal tanggungjawab bersama untuk meningkatkan
produksi dan pendapatan, sedangkan kelemahannya adalah adanya petani yang
tidak terlibat langsung dalam kegiatan di kebun plasma. Selanjutnya Priyambodo
dan Kusnohadi (1995) menilai sistim kemitraan anak angkat - bapak angkat (pola
PIR-ABA) di Kabupaten Bangka yang merupakan penyempurnaan pola PIR-Trans.
Daswir dan Lubis (1995) mengkaji kelayakan usahatani kelapa sawit pola PIRKKPA, dimana usaha tersebut dinyatakan layak pada tingkat bunga 14.00% per
tahun dengan didukung oleh pelaksanaan teknis, tersedianya fasilitas sosial
ekonomi dan harga produk yang stabil.
Kinerja proyek PIR kelapa sawit dapat juga dikaji dari perilaku dan kinerja
ekonomi rumahtangga petani plasma, seperti yang dilakukan Daswir et al. (1995)
dan Salman dan Wahyono (1998) yang mengkaji kinerja rumahtangga petani dari
produktivitas kebun plasma, adopsi teknologi dan pendapatan rumahtangga petani
plasma pada kasus PIR-ADB di Besitang, Sumatera Utara dan kasus PIR-Bun
kelapa sawit di Sumatera Selatan. Hasil studi menunjukkan bahwa produktivitas
kebun plasma relatif rendah sehingga hanya cukup untuk kebutuhan pokok,
akibatnya rumahtangga petani mencari tambahan pendapatan di luar usahatani
kelapa sawit sehingga kegiatan pemeliharaan kebun plasma relatif terganggu.
Sukiyono (1995) mengkaji dampak faktor-faktor ekonomi dan non ekonomi
sebagai faktor eksternal terhadap perilaku rumahtangga petani plasma pada pola
PIR-Bun/NESS.

Hasil studi ini menunjukkan bahwa harga kelapa sawit, upah

tenaga kerja dan perubahan teknologi mempengaruhi keputusan petani untuk


memperluas areal kebun, sehingga disarankan agar harga kelapa sawit ditetapkan

45

berdasarkan

mekanisme

pasar

bukan

melalui

intervensi

pemerintah

agar

menguntungkan petani plasma.


Kinerja pola PIR dapat juga ditinjau dari aspek pengolahan seperti yang
dilakukan oleh Hasbi (2001) pada kebun kelapa sawit PTP Minanga Ogan, Ogan
Komering Ilir, Sumatera Selatan.

Hasil analisis dengan simulasi menunjukkan

bahwa dengan membangun pabrik pengolahan kelapa sawit (pabrik PKS) mini
dengan teknologi tepat sasaran di lokasi perkebunan rakyat dapat meningkatkan
pendapatan petani rata-rata 23.00% per tahun karena dapat menekan biaya angkut
TBS dari kebun plasma ke pabrik PKS inti.
3. 2. Penelitian tentang Ekonomi Rumahtangga
Secara umum model pengambilan keputusan pada rumahtangga petani
dapat dibagi berdasarkan peran rumahtangga dalam keputusan ekonomi (tunggal
atau ganda), maksimisasi fungsi utilitas yang digunakan (agregat atau individu) dan
keterkaitan perilaku produksi dan konsumsi dalam rumahtangga petani (rekursif atau
non rekursif) (Gambar 6).
1. Model

rumahtangga

berperan

tunggal

(conventional

model)

dimana

rumahtangga dianggap hanya sebagai produsen atau konsumen saja.


2. Model rumahtangga berperan ganda tetapi diasumsikan mempunyai utilitas
tunggal (unitary model atau common preference model) yang diwakili oleh utilitas
rumahtangga dikenal sebagai model unitary (traditioanal concepts).
3. Model rumahtangga berperan ganda tetapi diasusikan mempunyai utilitas yang
merupakan agregasi utilitas tunggal yang berbeda dari masing-masing angota
keluarga dan berusaha memaksimumkan kesejahteraannya melalui pembagian
peran atau negossiasi sebagai model kolektif (familly economics).

46

4. Model rumahtangga berperan ganda tetapi memasukkan keseimbangan umum


atau faktor keseimbangan pasar (market-clearing prices) dalam model ekonomi
rumahtangga.

Model Pengambilan Keputusan


pada Rumahtangga Petani

Model Rumahtangga
Berperan Tunggal
(conventional model)

Model Unitary
(traditional concepts)

Model Rumahtangga
Berperan Ganda
( farm household model)

Model Kolektif
(family economics)

Rekursif

Keterangan:

Model Keseimbangan
Umum

Non Rekursif

perilaku atau keputusan rumahtangga

Gambar 6. Pembagian Model Rumahtangga Petani


3.2.1. Model Rumahtangga Berperan Tunggal
Model rumahtangga berperan tunggal yaitu rumahtangga hanya sebagai
produsen atau konsumen saja (conventional model). Penelitian yang menggunakan
rumahtangga hanya sebagai produsen dilakukan Key, et al. (2000) yang melihat

47

pengaruh biaya transaksi terhadap respon penawaran rumahtangga petani.


Rumahtangga sebagai supply tenaga kerja di Cina dilakukan oleh Yang (1997), yang
membuktikan perlunya kualitas dan manajemen tenaga kerja terhadap efisiensi
usahatani, dimana kualitas tenaga kerja umumnya dilihat dari tingginya pendidikan
kepala keluarga. Rong, et al. (1996) menggunakan model a shadow-price profit
frontier untuk melihat pengaruh karakteristik rumahtangga terhadap efisiensi
produksi rumahtangga petani di Cina.

Bernet (1997) menggunakan model

optimisasi rumahtangga untuk mengetahui aktivitas yang dapat meningkatkan


keuntungan produsen susu dengan tiga wilayah ekologis agronomis.
Rumahtangga yang berperan hanya sebagai konsumen seperti yang
dilakukan Sheng, et al. (1998) yang mengestimasi fungsi permintaan rumahtangga,
Fen, et al. (1995), Lee, et al. (1994) dan Halbrendt, et al. (1994) menggunakan
model two stage LES-AIDS, kombinasi model Rotterdam dan Almost Ideal Demand
System (AIDS) untuk menjelaskan perilaku konsumen. Model permintaan tenaga
kerja yang stokastik dan dinamis dengan model non-separability dikembangkan oleh
Skoufias (1993). Model rumahtangga dapat juga menjelaskan keputusan konsumsi,
penyimpanan pangan, tabungan dan penggunaan tenaga kerja seperti yang
dilakukan oleh Saha dan Stroud (1994). Model konsumsi yang terpisah berdasarkan
gender dilakukan oleh Hopkins, et al. (1994).

Yoo dan Giles (2002) mengkaji

perilaku kehati-hatian (precautionary) dalam keputusan konsumsi dan menabung


rumahtangga pedesaan Cina, dengan model a constant relative risk aversion model.
Edmeades et al. (2002) mengkaji permintaan yang bervariasi dalam model
rumahtangga petani berdasarkan preferensi rumahtangga.

Phimister (1994)

memasukkan kendala pinjaman dan biaya penyesuaian dalam investasi lahan untuk
peternakan di Belanda.

48

Penelitian dengan kasus rumahtangga petani Indonesia dilakukan oleh


Mangkuprawira (1985) yang menganalisis alokasi waktu dan kontribusi kerja
anggota keluarga dalam kegiatan ekonomi rumahtangga pedesaan dan perkotaan di
Kabupaten Sukabumi. Hasil penelitian membuktikan bahwa sumber pencari nafkah
utama keluarga rumahtangga adalah suami sebagai kepala rumahtangga, disusul
oleh istri dan anak-anak. Selain itu adanya kecenderungan nyata bahwa makin
tinggi lapisan ekonomi rumahtangga makin besar kontribusi kerja suami dan istri
terhadap pendapatan keluarga.

Hal yang berbeda terjadi pada lapisan ekonomi

rendah ternyata kontribusi curahan kerja anak-anak di pedesaan cenderung makin


tinggi. Pitt dan Roswnzweigh (1986) juga menggunakan kasus rumahtangga petani
Indonesia dengan mengembangkan model ekonomi rumahtangga Strauss, tetapi
mengkaitkan kesehatan anggota rumahtangga dengan keuntungan usahatani.
3.2.2. Model Rumahtangga Berperan Ganda
Nakajima (1969) dan Becker (1976) merupakan pelopor teori ekonomi
rumahtangga yang menganggap kegiatan produksi dan konsumsi merupakan satu
kesatuan atau rumahtangga berperan sebagai produsen sekaligus konsumen atau
rumahtangga berperan ganda (agricultural or farm household model), khususnya
ketika rumahtangga akan berinteraksi dengan pasar tenaga kerja.
Berdasarkan perbedaan fungsi utulitas yang digunakan dalam maksimisasi
fungsi tujuan maka model ekonomi rumahtangga petani dapat dibagi lagi menjadi
model unitary (traditional concepts) jika maksimisasi fungsi tujuan menggunakan
fungsi utilitas rumahtangga secara agregat dan model kolektif (family economics)
jika maksimisasi fungsi tujuan menggunakan fungsi utilitas individu masing-masing
anggota rumahtangga.

49

1. Model Unitary
Model ini menggunakan analisis ekonomi mikro neo-klasik, dimana secara
teoritis fungsi permintaan harus memenuhi syarat homogen hukum Walras dan
restriksi preferensi (berupa persamaan Slutsky). Menurut Caillavet et al. (1994),
ekonomi rumahtangga didefinisikan mempunyai fungsi utilitas tunggal (utilitas
rumahtangga) bukan utilitas individu dalam rumahtangga tersebut.

Asumsi ini

sesuai dengan perilaku rumahtangga berdasarkan formulasi tradisional (Chicago


School). Model rumahtangga Becker merupakan pelopor model dasar rumahtangga
petani dengan asumsi bahwa pembuat keputusan rumahtangga dilakukan oleh
kepala rumahtangga secara tunggal.
Menurut Bourguignon dan Chiappori (1994), model rumahtangga unitary
sebagai model tradisional mempunyai beberapa kelemahan dalam metodologis dan
asumsi teoritis, tetapi model ini masih banyak digunakan oleh peneliti ekonomi
rumahtangga karena lebih attractive dan convenient terutama berkaitan dengan
ketersediaan data rumahtangga.

Beberapa model ekonomi rumahtangga petani

yang dibangun berdasarkan model Sing, et al. (1986), antara lain dilakukan oleh
Sing dan Subramanian (1986) dengan program linier produksi untuk mengkaji faktor
alokasi sumberdaya diantara beberapa tanaman yang diusahakan rumahtangga
petani. Strauss (1986) melihat dampak kebijakan harga barang konsumsi terhadap
peningkatan keuntungan usahatani dan pendapatan rumahtangga.
2. Model Kolektif
Model kolektif pada dasarnya membuka kotak hitam (black box) model
ekonomi rumahtangga petani unitary yang dianggap sebagai model tradisional.
Model kolektif menggunakan skema Nash bargaining atau alokasi intra-household

50

untuk analisis konsumsi, kemakmuran atau kesejahteraan anggota rumahtangga


yang selama ini diabaikan oleh model unitary. Teori ini diturunkan dari pendekatan
ekonomi keluarga (family economics), dimana Becker (1981) dalam Caillavet (1994)
mengasumsikan bahwa kepala keluarga mendistribusikan sumberdaya rumahtangga
dengan cara yang altruistic diantara anggota kelauarga.
Bourguignon dan Chiappori (1994) mempermasalahkan pendekatan ekonomi
keluarga karena analisis kesejahteraan individu dianggap kontradiktif dengan teori
dasar ekonomi rumahtangga yang mendefinisikan kesejahteraan hanya pada tingkat
rumahtangga (agregat). Meskipun konsumsi individu dapat diperhitungkan secara
teknis, tetapi secara teoritis akan menghadapi masalah non-assignability, seperti
masalah data set karena umumnya informasi konsumsi rumahtangga dinyatakan
secara agregat.
Penelitian yang menggunakan model kolektif antara lain dilakukan oleh
Caiumi dan Perali (1997) yang mengkaji partisipasi tenaga kerja wanita di Italia,
Brossollet (1994) menganalisis keputusan rumahtangga pada perilaku penawaran
tenaga kerja rumahtangga, Bourguignon dan Chaippory (1994) yang mereview
kelompok utama dari model kolektif berdasarkan hipotesis efisiensi pareto. Caillavet
(1994), membahas aplikasi bargaining theory pada perilaku rumahtangga petani dan
pendekatan intra-household economics untuk menganalisis distribusi sumberdaya
dalam rumahtangga serta konsep game theory dalam konteks rumahtangga petani.
3. Model Kesimbangan Umum
Model yang memasukkan faktor keseimbangan pasar (market-clearing
prices) dilakukan oleh Braverman dan Hammer (1986), Minot and Goletti (1998).
Benjamin dan Guyomard (1994) dengan menyajikan model keputusan kerja dengan

51

kerangka teori keseimbangan subjektif.

Corsi (1994) juga menggunakan teori

keseimbangan untuk mengkaji peranan pasar tenaga kerja yang tidak sempurna,
yang ditentukan oleh preferensi dan ekspektasi pendapatan.

Becker (1994)

menganalisis keputusan penggunaan faktor input pada rumahtangga pedesaan


subsisten dan beresiko dengan model produksi/konsumsi berdasarkan teori
rumahtangga petani keseimbangan neoklasik.
Selanjutnya pada model rumahtangga petani berperan ganda dapat
ditemukan perilaku rekursif atau

non rekursif.

Perilaku rekursif dicirikan oleh

keputusan produksi mempengaruhi keputusan konsumsi melalui pendapatan


rumahtangga tetapi tidak sebaliknya, sedangkan perilaku non rekursif dicirikan oleh
keputusan produksi dan konsumsi saling mempengaruhi. Asumsi yang digunakan
untuk mendefinisikan model rekursif umumnya bersifat restriktif antar lain: (1) semua
pasar bersifat kompetitif dan sempurna, (2) biaya transaksi (transaction cost) dan
biaya perpindahan (commuting cost) adalah nol, (3) tenaga kerja keluarga dan
upahan bersubstitusi sempurna dalam fungsi produksi, dan (4) curahan tenaga kerja
keluarga di usahatani dan luar usahatani bersubstitusi sempurna dalam fungsi
Utilitas (Caillavet et al.,1994). Seperti yang sudah diungkapkan sebelumnya bahwa
perilaku rekursif mengacu pada hubungan satu arah yaitu dari produksi ke
konsumsi, tetapi tidak terjadi sebaliknya. Menurut Caillavet et al. (1994), perilaku
konsumsi dan produksi yang terpisah (separable) atau rekursif (recursive), pada
dasarnya hanya untuk penyederhanaan, karena jika menggunakan model tidak
terpisah (non-sparable model) umumnya mempunyai kesulitan terutama dalam
mengestimasi model ekonometrik.
Jika persyaratan atau asumsi rekursif digunakan maka keputusan produksi
dan konsumsi dianggap terpisah dan melalui dua tahap. Tahap pertama adalah

52

memaksimumkan keuntungan terhadap harga produk dan input yang bervariasi


untuk keputusan produksi. Pada tahap kedua, rumahtangga petani memilih level
konsumsi dan waktu santai berdasarkan keuntungan yang diperoleh. Keputusan
konsumsi dipengaruhi oleh keputusan produksi tetapi tidak berlaku sebaliknya.
Beberapa penelitian yang menggunakan persyaratan rekursif antara lain oleh
Rose dan Graham (1986) dengan memasukkan faktor resiko produksi ke dalam
model rumahtangga petani.

Lambart dan Magnac (1994) menganalisis perilaku

recurcivity dengan mengestimasi sistem permintaan dan penawaran bersyarat


(conditional demand and supply system). Penggunaan perilaku rekursif pada model
ekonomi rumahtangga (ERT) yang lebih kompleks dilakukan oleh Sawit (1993),
dimana dibangun model ERT menggunakan dua komoditi (padi dan palawija
sebagai produk komposit) dengan pendekatan multi input dan multi output. Model
diestimasi secara terpisah, dimana sisi produksi didekati dengan fungsi keuntungan,
sedangkan sisi konsumsi didekati dengan fungsi AIDS (Almost Ideal Demand
System). Keduanya diselesaikan dengan menggunakan model SUR (Seemingly Un
Related Model). Perilaku ekonomi rumahtangga petani Jawa Barat dapat dijelaskan
dan dibandingkan dengan pendekatan konvensioanal, dimana menghasilkan
parameter estimasi yang berbeda dalam besaran (magnitude) dan tanda (sign),
sehingga mempunyai implikasi yang sangat penting bagi penentu kebijakan.
Menurut Coyle (1994), model ekonomi rumahtangga dengan karakteristik
non-rekursif mempunyai asumsi antara lain: (1) semua anggota mempunyai
preferensi identik dan menghadapi harga yang sama, sehingga fungsi utilitas
rumahtangga bersifat simple, monotonic transformation, (2) anggota rumahtangga
bersifat indiferen apakah berpartisipasi dalam aktivitas rumahtangga atau aktivitas

53

kolektif, dan (3) pasar tidak kompetitif, yang dicirikan oleh adanya biaya informasi,
faktor resiko dan dinamika rumahtangga.
Perilaku non rekursif sebagai lawan rekursif menunjukkan adanya hubungan
simultan yang timbal balik antara keputusan produksi dan keputusan konsumsi atau
adanya hubungan dua arah. Coyle (1994), cenderung memilih perilaku non rekursif
atau model rumahtangga yang tidak terpisah (non sparable farm household model).
Dengan menggunakan pendekatan duality, Coyle (1994) menyimpulkan bahwa
model tidak terpisah (non separable model) mempunyai keunggulan yang lebih
besar dalam analisis teoritis dan spesifikasi empiris dibandingkan model terpisah
(sparable model).
Beberapa penelitian yang menggunakan perilaku non rekursif antara lain
dilakukan oleh Iqbal (1986), Sicular (1986) dan Lopez (1986). Model rumahtangga
yang sedikit berbeda yaitu dengan memasukkan model produksi sebagai variabel
endogen dalam sitem permintaan rumahtangga dilakukan oleh Muller (1994).
Skoufias (1994) juga menggunakan upah bayangan (shadow wages) untuk
mengestimasi penawaran tenaga kerja rumahtangga petani di India, dengan
memperhitungkan keputusan produksi dan konsumsi secara simultan pada
rumahtangga petani.

Brown (2004) mengkaji model waktu terpisah (a spatio

temporal model) dari ekstraksi sumberdaya kehutanan oleh peladang berpindah


(shifting cultivation).

Kriteria keputusan tergantung pada model rumahtangga

pertanian non sparable yang dikembangkan dengan memasukkan dimensi waktu


dan tempat.
Penelitian pada rumahtangga petani di Indonesia dengan menggunakan
asumsi harga bayangan (shadow price) untuk tenaga kerja dalam keluarga dan
lahan pada model ekonomi rumahtanga petani tanaman pangan dengan model non

54

rekursif dilakukan oleh Kusnadi (2005).

Penggunaan asumsi harga bayangan

karena terbukti adanya ketidaksempurnaan pada pasar input (imperfect input


market).
Menurut Muller (1994), terlepas dari asumsi model rekursif atau non rekursif,
maka kajian model ekonomi rumahtangga petani di negara berkembang seharusnya
mengutamakan adanya kompleksitas interaksi antar variabel keputusan produksi
dan konsumsi secara simultan sesuai dengan karakteristik rumahtangga petani
tersebut.

Jika keputusan produksi dan konsumsi terkait erat, maka seharusnya

dibuat model yang simultan antara keputusan permintaan dan produksi.

Sadoulet

dan Janvry (1995) juga berpendapat sama tentang adanya keterkaitan antar
kegiatan konsumsi dan produksi pertanian oleh rumahtangga petani di negara
berkembang dengan ciri antara lain: (1) tidak terpisahnya antar kegiatan produksi
dan rumahtangga, (2) petani menghasilkan produk untuk dipasarkan dan memenuhi
kebutuhan konsumsi rumahtangga, (3) penggunaan tenaga kerja keluarga lebih
diutamakan, (4) terbatasnya ketersediaan tenaga kerja keluarga, dan (5) petani
berperilaku sebagai penerima harga input dan harga output serta tidak mampu
mempengaruhi harga pasar.
Nakajima (1986) mempunyai pendapat yang sama bahwa keunikan
rumahtangga sebagai unit ekonomi karena adanya hubungan simultan antara
perilaku produksi dan perilaku konsumsi yang tidak terjadi pada unit ekonomi
perusahaan atau unit ekonomi konsumen. Jika perusahaan hanya melakukan
kegiatan produksi barang dan jasa untuk mencapai keuntungan maksimum,
sedangkan konsumen hanya melakukan kegiatan konsumsi untuk memaksimumkan
kepuasan dengan kendala sejumlah anggaran tertentu, selanjutnya perilaku secara
agregat akan menurunkan fungsi permintaan rumahtangga.

55

Model ekonomi rumahtangga petani dapat juga mengkaji pengaruh kebijakan


pada perilaku rumahtangga seperti yang dilakukan oleh Smith dan Strauss (1986),
Strauss (1986), dan Sing et al. (1986), Offutt (2003). Pengaruh subsidi pemerintah
terhadap keputusan alokasi tenaga kerja rumahatngga secara terpisah (decouple)
dilakukan oleh Hennessy (2003).
Beberapa penelitian model ekonomi rumahtangga petani yang menggunakan
persamaan simultan sebagai metode penyelesaian dengan topik dan kajian yang
beragam banyak dilakukan pada kasus-kasus rumahtangga di Indonesia. Beberapa
model yang dibangun umumnya memperjelas perilaku rumahtangga secara umum
sehingga sistem persamaan mengandung sejumlah kemiripan yaitu sistem
persamaan mewakili kegiatan produksi, penggunaan tenaga kerja keluarga dan luar
keluarga, pendapatan usahatani, pendapatan luar usahatani, persamaan konsumsi,
pengeluaran untuk investasi (pendidikan, kesehatan dan tabungan).

Perbedaan

khusus pada kelompok rumahtangga yang dianalisis berdasarkan kelompok atau


strata.

Suminartika (1997) membedakan rumahtangga petani sebagai peserta

proyek PIR teh dan rumahtangga petani sebagai peserta PIR kelapa sawit karena
perbedaan perilaku produksi di kebun.

Idris (1999) membedakan rumahtangga

karyawan perusahaan agroindustri pada tingkat manajemen bawah (lower


manajemen) dan personil operasi karena perbedaan pola pengeluaran pangan
karyawan. Muhammad (2002) membedakan rumahtangga nelayan menjadi nelayan
juragan dan nelayan pandega karena perbedaan sistim bagi hasil tangkapan.
Selanjutnya

Zahri

(2003)

membedakan

rumahtangga

petani

berdasarkan

kesikutsertaannya sebagai peserta PIR kelapa sawit dengan pola yang berbeda
(pola PIR-Sus, PIR-Trans dan PIR-KKPA), sedangkan Kusnadi (2005) membedakan
rumahtangga berdasarkan luas lahan yaitu sempit, sedang dan lahan luas pada

56

usahatani tanaman pangan. Model ekonomi rumahtanga petani dapat juga hanya
mengkaji komoditi tertentu seperti penelitian Dirgantoro (2001) yang meneliti hanya
satu komoditi yaitu sawi di kabupaten Bogor. Pada usahatani daerah tropis seperti
di Indonesia maka rumahtangga petani cenderung menggunakan multi komoditi
karena banyaknya komoditi yang diusahakan.
Selanjutnya model ekonomi rumahtangga petani memungkinkan untuk
menganalisis dampak beberapa variabel makro dan mikro atau dampak faktor
inernal/eksternal

terhadap

kinerja

ekonomi

rumahtangga

petani

dengan

menggunakan model simulasi. Idris (1999) melihat dampak perubahan tunjangan


jabatan, pendapatan lembur perusahaan dan jaminan sosial terhadap alokasi waktu
dan pendapatan karyawan agroindustri Jakarta.

Dirgantoro (2001) mengkaji

dampak faktor eksternal terhadap kinerja ekonomi rumahtangga petani sawi yaitu
perubahan sewa lahan, harga benih, harga pupuk, harga sawi, dan upah di luar
pertanian.

Syukur (2002) melihat dampak perubahan kredit, tabungan dan pajak

terhadap kinerja ekonomi rumahtangga peserta kredit di Kabupaten Bogor.


Muhammad (2002) melihat dampak perubahan mutu sumber daya manusia, aset
kapal, teknologi, curahan kerja (sebagai faktor internal) dan dampak perubahan
prasarana pelabuhan, harga ikan, harga bahan bakar minyak, kredit, dan
pemanfaatan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan (sebagai faktor eksternal)
terhadap kinerja ekonomi rumahtangga nelayan. Kusnadi (2005) melihat dampak
perubahan faktor eksternal (upah buruh wanita dan pria), faktor internal (luas lahan
yang dikuasai) serta perubahan variabel makro (suku bunga kredit) terhadap
perilaku ekonomi rumahtangga petani di beberapa provinsi di Indonesia.
Model ekonomi rumahtangga petani umumnya diestimasi dengan metode
two-stage least squares (2SLS) seperti yang dilakukan oleh Suminartika (1997), Idris

57

(1999), Dirgontoro (2001) dan Muhammad (2003) atau metode three-stage least
squares (3SLS) seperti yang dilakukan oleh Zahri (2003) dan Kusnadi (2005). Pada
dasarnya kedua metode tersebut dapat digunakan jika hasil identifikasi model
adalah identifikasi berlebih (over identified). Penggunaan 2SLS dapat menghindari
adanya bias pada sistem persamaan simultan, akantetapi metode ini belum
memperhatikan besaran hubungan variabel pengganggu pada satu persamaan
struktural dengan variabel pengganggu pada persamaan struktural lainnya (nilai
covariance).

Pilihan metode 3SLS apabila diyakini adanya hubungan yang kuat

antar variabel pengganggu (disturbance terms) jika menggunakan metode 2SLS.


Jika hubungan variabel pengganggu tersebut lemah maka penggunaan 2SLS atau
3SLS memberikan hasil yang tidak berbeda.

Selain itu kelemahan penggunaan

metode 3SLS memerlukan jumlah observasi yang cukup besar, jika jumlah
observasi relatif kecil maka pilihan metode estimasi sebaiknya menggunakan 2SLS.
3. 3. Perilaku Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit di Sumatera
Selatan umumnya berperan ganda (conventional model), karena usahatani yang
dikelola bersifat tradisional dengan skala usaha relatif kecil (rata-rata 2 hektar).
Rumahtangga berperan sebagai produsen (dalam pasar tenaga kerja dan output)
dan sekaligus sebagai konsumen (dalam pasar barang konsumsi).

Curahan kerja

anggota keluarga dapat dibedakan berdasarkan fungsi anggota keluarga dalam


rumahtangga yaitu curahan kerja suami, istri dan anak berdasarkan pembagian
jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh masing-masing anggota keluarga baik di
kebun plasma maupun luar kebun plasma (Zahri, 2003 dan Mulyana 2003).

58

Pembagian ini juga sesuai dengan pembagian tenaga kerja yang dilakukan oleh
Benyamin dan Guyomard (1994).
Perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit Sumatera
Selatan tidak dapat memenuhi secara penuh asumsi model rekursif seperti yang
diungkapkan oleh Caillavet et al. (1994), terutama asumsi pasar kompetitif dan
sempurna karena rumahtangga terikat sistem kontrak dalam kemitraan (pola PIR).
Meskipun kondisi pasar yang terbentuk cenderung tidak sempurna (imperfect
market) sebagai konsekuensi perjanjian dalam kemitraan pola PIR, rumahtangga
petani hanya sebagai penerima harga (price taker) baik dalam pasar input maupun
pasar output. Biaya transaksi bernilai positif bukan nol terutama biaya pasca panen.
Pasar tenaga kerja di lokasi kebun kelapa sawit cenderung tidak kompetitif,
tercermin dari kecilnya peranan tenaga kerja luar keluarga (hanya 18.00%) bukan
sebagai tenaga kerja substitusi sempurna dengan tenaga kerja keluarga karena
umumnya rumahtangga mengerjakan sendiri semua kegiatan di kebun plasma.
Selain itu tingkat upah di kebun plasma relatif berbeda untuk jenis pekerjaan yang
sama pada lokasi kebun yang berbeda. Tingkat upah ditentukan juga berdasarkan
jenis pekerjaan tertentu dan ketersediaan tenaga kerja di lokasi kebun.

Tingkat

upah tidak selalu berdasarkan hari orang kerja (HOK), dapat juga menggunakan
sistim upah borongan sesuai kesepakatan atau kebiasaan setempat. Pada musin
penen puncak, tenaga kerja relatif sulit diperoleh sehingga relatif mahal, maka
diberlakukan sistim upah borongan.

Rumahtangga umumnya bekerja di kebun

sendiri, curahan kerja mereka dinilai dengan tingkat upah yang sama jika mereka
bekerja di kebun plasma lain. Mereka bekerja di luar kebun plasma karena masih
banyaknya waktu luang dan kebutuhan pendapatan tambahan untuk memenuhi
kebutuhan keluarga (Zahri , 2003 dan Hakim, 2005).

59

IV. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIS


Dalam bab ini akan diuraikan beberapa teori, konsep atau pendekatan yang
akan digunakan dalam analisis kinerja pola PIR kelapa sawit di Sumatera Selatan,
terutama yang berhubungan dengan konsep kemitraan, kelembagaan dan model
ekonomi rumahtangga petani.
4.1.

Konsep Kelembagaan untuk Menjelaskan Kinerja Kemitraan


Menurut Hoff, et al. (1993) dalam Syahyuti (2003), pada dasarnya

kelembagaan sangat beragam dengan derajat yang berbeda-beda.

Suatu

kelembagaan dapat berupa individu-individu atau interaksi berbagai lembaga.


Kelembagaan harus memenuhi persyaratan antara lain memiliki tujuan, struktur,
anggota, aturan, norma serta penghargaan dan sanksi sosial.

Kelembagaan

mempunyai hubungan sosial baik vertikal, maupun horizontal. Contoh hubungan


vertikal adalah tataniaga produk pertanian, sedangkan hubungan horizontal pada
kelompok tani dan koperasi.
kelembagaan

dan

aspek

Setiap kelembagaan dapat dibagi menjadi aspek


keorganisasian.

Konsep

operasional

dari

aspek

kelembagaan (institutional aspect) adalah mengkaji perilaku yang menggunakan


nilai, norma dan aturan, sedangkan dari aspek keorganisasian (organization aspect)
lebih memfokuskan kepada kajian struktur dan peran.

Bentuk perubahan sosial

pada aspek kelembagaan bersifat kultural sehingga proses perubahannya relatif


lebih lama, sedangkan aspek keorganisasian lebih berisifat struktural, sehingga
perubahannya relatif lebih cepat.

Kontribusi utama aspek kelembagaan dalam

proses pembangunan adalah mengkoordinir pemilik input, proses transformasi input


menjadi output dan distribusi output kepada pengguna output.

60

Kinerja

suatu

usaha

merupakan

dampak

bekerjanya

lembaga

dan

kelembagaan yang ada, sehingga kelembagaan tersebut harus cukup mapan


selama periode tertentu agar dapat berfungsi dengan baik dan mempengaruhi arah
serta laju perkembangan teknologi. Kinerja kelembagaan adalah kemampuan untuk
mengunakan sumberdaya yang dimilikinya secara efisien yaitu menghasilkan output
yang sesuai dengan tujuannya dan relevan dengan kebutuhan pengguna. Kinerja
kelembagaan dapat dinilai dari produknya sendiri dan dari faktor manajemen yang
membuat produk tersebut bisa dihasilkan. Menurut Schmid (1987), kinerja suatu
lembaga dapat diukur dengan variabel yang berkaitan dengan siapa yang
mendapat dan siapa yang membiayai. Kinerja kelompok tertentu dapat dicirikan
dari level hidupnya, keamanan, kualitas lingkungan, dan kualitas hidupnya.
Produktivitas sebagai salah satu ukuran kinerja tidak hanya dihasilkan dari
penggunaan faktor produksi konvensional (lahan, tenaga kerja dan modal) tetapi
merupakan kontribusi inovasi kelembagaan disamping teknologi dan modal
manusia.

Selanjutmya inovasi kelemabagaan harus melibatkan reorganisasi hak

kepemilikan (property rights) dalam rangka menghasilkan arus pendapatan yang


lebih tinggi dan penerapan teknologi pada petani tidak mungkin diseragamkan
karena adanya perbedaan karakteristik alam, sosial ekonomi dan budaya (Eicher
dan Staatz, 1990).
Israel (1987) menggunakan konsep kekhususan (specificity) dan persaingan
(competition) untuk menjelaskan peningkatan kemampuan suatu lembaga. Aspek
kekhususan bersifat lebih spesifik sedangkan aspek persaingan bersifat lebih umum.
Kekhususan diartikan sebagai tingginya kemungkinan untuk mengkhususkan suatu
kegiatan tertentu guna mencapai tujuan, metode-metode untuk mencapai tujuan
serta cara untuk mengontrol prestasi dan implikasinya.

Aspek persaingan

61

merupakan konsep ekonomi yang sudah dipelajari sejak lama oleh ekonom dengan
dasar teori struktur pasar. Di bidang pertanian dan pembangunan pedesaan,
kelembagaan umumnya berciri kekhususan rendah serta tidak bersaing sehingga
keberhasilan pembangunan kelembagaan di bidang ini tidak semudah dan secepat
di sektor industri. Menurut Anwar (1995), pada dasarnya perbedaan kelembagaan
akan mempengaruhi kinerja dari berbagai aspek dengan tingkat yang berbeda yaitu:
(1) aspek ekonomi, berupa efisiensi (efficiency), (2) aspek sosial berupa pemerataan
(equity), dan (3) aspek keadilan (fairness).

Analisis aspek-aspek kelembagaan

umumnya dilakukan melalui pendekatan kualitatif, tetapi dampak dari bekerjanya


sistem kelembagaan tersebut, misalnya untuk mengetahui berapa besar perubahan
kinerja ekonominya dapat dilakukan melalui pendekatan kuantitatif.

Studi

kelembagaan bersifat multi disiplin (perpaduan ilmu ekonomi dan sosiologi) dan
multi metodologi (dengan metode survei, observasi beperan dan studi dokumen).
Salah satu pendekatan kelembagaan yang dapat digunakan dalam mengkaji kinerja
suatu kemitraan adalah menggunakan konsep struktur-perilaku-kinerja (StructureConduct-Performance).
4. 2. Pendekatan Struktur - Perilaku - Kinerja
Pendekatan Struktur-Perilaku-Kinerja atau disingkat S-C-P pertamakali
digunakan dalam analisis ekonomi mikro untuk membahas organisasi industri.
Hubungan antara struktur, perilaku dan kinerja suatu pasar atau lembaga, kondisi
dasar (basic conditions) serta kebijakan pemerintah (government policy) saling
berinteraksi satu sama lain, meskipun hubungan yang jelas tidaklah diketahui secara
mendalam (Gambar 7).

62

Kondisi Awal (basic conditions):


Permintaan Konsumen
Elastisitas permintaan
Barang pengganti
Musiman, Lokasi
Tingkat pertumbuhan
Jumlah pesanan

Produksi
Teknologi
Bahan mentah
Serikat pekerja
Daya tahan produk
Skala ekonomi

Struktur (Structure):
Jumlah penjual dan pembeli
Kendala memasuki pasar
Diferensiasi produk
Diversifikasi

Perilaku (Conduct):
Advertensi
Penelitian &
Pengembangan (R & D)
Penetapan harga
Investasi Pabrik
Merger dan Kontrak
Pemilihan produk
Kolusi
Taktik yang legal

Kebijakan Pemerintah
Peraturan anti trust
Kendala masuk industri
Pajak dan subsidi
Insentif berinvestasi
Insentif tenaga kerja
Kebijakan Ekonomi Makro

Kinerja (Performance):
Harga
Equity
Keuntungan
Kualitas produk
Kemajuan teknis
Efisiensi produksi
Efisiensi alokatif

Gambar 7. Keterkaitan Struktur-Perilaku-Kinerja Pasar


Sumber : Carlton and Perloff (1994)

63

Menurut Schmid (1987), Carlton dan Perloff (1994) bahwa keterkaitan antar
komponen tersebut (struktur, perilaku dan kinerja) saling berpengaruh, dimana
struktur dianggap akan menentukan pola perilaku, dan pola perilaku akan
mempengaruhi kinerja dan akhirnya kinerja akan mempengaruhi struktur pasar atau
kelembagaan ekonomi yang bersangkutan. Selain itu ketiga komponen dipengaruhi
juga oleh kondisi dasar serta kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan kegiatan
ekonomi tersebut. Struktur suatu industri atau lembaga ekonomi saling berpengaruh
terhadap faktor-faktor yang ada pada kondisi dasar, seperti: permintaan konsumen,
produksi, teknologi, bahan baku, skala usaha, lingkup ekonomi.
Berdasarkan pemikiran di atas maka kajian terhadap kinerja usaha dapat
dimulai

dengan

memperhatikan

hal-hal

berikut:

(1)

memahami

struktur

pasar/kelembagaan atau berbagai faktor yang dapat mempengaruhi struktur


tersebut, (2) mengidentifikasi perilaku pelaku ekonomi dan penjelasan tentang
terbentuknya perilaku tersebut, dan (3) memahami keterkaitan dan pengaruh
perilaku terhadap kinerja yang dihasilkannya.
Dalam konteks pasar maka struktur (structure) merupakan penentu tingkat
persaingan dalam suatu pasar dan pembentukan harga di dalam pasar yang
bersangkutaan. Penentuan struktur pasar dapat dilihat berdasarkan kriteria antara
lain: (1) jumlah pembeli dan penjual secara potensial dan yang terlibat dalam
transaksi (2) kemudahan dalam memasuki suatu pasar atau ada tidaknya hambatan
untuk masuk pasar (3) diferensiasi produk, (4) integrasi vertikal dan (5) diversifikasi
produk (Carlton dan Perloff, 1994 ; Koutsoyiannis, 1983).
Perilaku adalah berbagai kegiatan suatu perusahaan yang berkaitan dengan
pasar. Perilaku perusahaan menjadi menarik hanya jika persaingan tidak sempurna.
Situasi yang membedakan persaingan sempurna dan tidak sempurna antara lain

64

ada tidaknya kolusi, perilaku strategik, advertensi, penelitian dan pengembangan


produk (R & D), perilaku dalam penetapan harga jual/beli produk, investasi
perusahaan/pabrik, taktik legal dalam mengelola usaha, pilihan produk yang akan
dihasilkan, kolusi, merger dan kontrak (Carlton and Perloff, 1994 ; Martin, 1994),
Kinerja adalah keberhasilan suatu pasar atau pelaku ekonomi dalam
mengembangkan usaha atau memberikan manfaat (benefit) kepada masyarakat
sekitarnya.

Selanjutnya Martin (1994), membahas kinerja ditinjau dari struktur

pasar, dimana pada pasar bersaing maka jumlah barang yang diminta sama dengan
barang yang ditawarkan pada tingkat harga (P) dimana harus sama dengan biaya
marjinal untuk memproduksi produk tersebut (MC) atau dinyatakan dengan
persamaan: P = MC. Produksi efisien jika semua perusahaan mempunyai akses
pada

teknologi

yang

sama,

akan

tetapi

jika

perusaahaan

tidak

mampu

menggunakan teknologi yang tersedia secara efisien, maka isu kemajuan teknologi
(technology progress) tidak sesuai digunakan dengan model persaingan sempurna.
Pada pasar persaingan sempurna diasumsikan bahwa untuk terciptanya teknologi
maka harus tersedia pengetahuan sempurna dan lengkap. Untuk menduga kinerja
pasar dalam persaingan tidak sempurna akan lebih sulit karena asumsi ketersediaan
pengetahuan sempurna dan lengkap tidak terpenuhi.
Peranan pemerintah dalam struktur-perilaku-kinerja pasar dapat dilihat
pengaruhnya melalui berbagai kebijakan antara lain berbagai bentuk regulasi, anti
trust, hambatan masuk pasar, pajak dan subsidi, insentif dalam berinvestasi dan
penyiapan lapangan kerja, serta dalam bentuk kebijakan-kebijakan makroekonomi
lainnya (Carlton and Perloff, 1994).
Pengertian yang paling sederhana dari masing-masing konsep ini dapat juga
menggnakan

pengertian dari Websters New World Dictionary (1982), dimana

65

struktur (structure) diartikan sebagai sesuatu yang membangun atau susunan


semua bagian secara keseluruhan, dan perilaku (conduct) diartikan sebagai aktivitas
atau pengelolaan, sedangkan kinerja (kinerjance) adalah efektifitas dari fungsi-fungsi
yang ada dalam sistem tersebut. Lewis (1978) menggunakan pengertian kinerja
yang disamakan dengan pengertian performa (performance) yang berarti hasil suatu
kegiatan/usaha.
Menurut Tambunan (1996), dalam Pola PIR perkebunan (PIR-Bun) termasuk
PIR kelapa sawit, paling tidak ada tiga alternatif struktur pasar yang mungkin
terbentuk dan dapat mempengaruhi perilaku ekonomi antara inti dan plasma dalam
kemitraannya. Ketiga bentuk struktur pasar tersebut adalah: (1) model kompetitifmonopsoni, (2) model monopoli-monopsoni dan (3) model kompetitif-kompetitif
(Tabel 10).
Tabel 10. Alternatif Struktur Pasar dalam Perusahaan Inti Rakyat
Perkebunan Kelapa Sawit di Indonesia
Unsur

Model 1

Model 2

Model 3

pembeli

satu (monopsoni)

satu (monopsoni)

banyak (kompetitif)

penjual

banyak (kompetitif)

satu KUD (monopoli)

banyak (kompetitif)

harga

inti penentu

negosiasi

pasar

peranan
pemerintah

membuat Inti tidak penengah


menekan plasma
perundingan

menginstitusikan
etika bisnis

peranan
unsur luar

koperasi atau LSM

pemerintah atau LSM

UU Anti monopoli
LSM/pemerintah

output

rendah

rendah dari yang seharusnya

lebih tinggi (menguntungkan sesuai kebutuhan pasar)

Sumber: Tambunan (1996).

66

Model pertama merupakan model struktur pasar yang terbentuk secara luas
dan berlaku pada sistem, dimana petani (tanpa organisasi) yang besar jumlahnya
menawarkan produk pertanian (TBS) pada perusahaan inti yang jumlahnya hanya
satu pada lokasi tersebut. Pengendali harga adalah perusahaan inti yang kurang
mengikuti perkembangan harga pasar walaupun harga TBS telah diatur melalui
keputusan pemerintah, sehingga dapat merugikan petani pekebun jika perhitungan
harga oleh perusahaan inti tidak dilakukan secara transparan.
Model kedua terbentuk apabila diantara peserta dibentuk KUD yang memiliki
kekuatan dalam menentukan harga jual produk (TBS). Dalam model ini terbentuk
pasar monopoli bilateral, dimana terjadi hubungan antara monopoli (yang diwakili
oleh KUD) dengan monopsoni (perusahaan inti).

Pembentukan harga TBS

berdasarkan negosiasi antara pembeli dan penjual dengan merujuk harga ditingkat
domestik dan internasional.
Model ketiga merupakan struktur pasar dengan pengembangan organisasi
agribisnis yang cukup baik untuk memperbaiki posisi petani plasma dan inti
seebagai peserta kemitraan dalam memperbaiki keuntungan masing-masing pihak.
Pengertian struktur pasar yang dimaksudkan oleh Tambunan di atas
berdasarkan teori dalam ekonomi mikro, antara lain konsep struktur pasar kompetitif
dicirikan oleh tidak adanya pesaing diantara sesama perusahaan secara individu,
berarti

posisi

perusahaan

sebagai

pelaku

pasar

sama

kuatnya.

Menurut

Koutsoyiannis (1987), beberapa asumsi yang dapat dijadikan dasar pembentukan


pasar kompetitif, antara lain: (1) jumlah pembeli dan penjual banyak, (2) produk
yang dihasilkan relatif homogen, (3) adanya kebebasan perusahaan untuk keluar
atau masuk ke pasar, (4) tujuan perusahaan maksimisasi keuntungan, (5) tidak

67

adanya peraturan pemerintah, (6) mobilitas sempurna faktor produksi, dan (7)
adanya pengetahuan sempurna. Selanjutnya pengertian struktur pasar monopsoni
terjadi apabila ada produsen yang menjadi pembeli tunggal (single buyer) terhadap
produk tertentu (sebagai faktor produksi) untuk menghasilkan produk lain.
Permintaan produsen merupakan permintaan pasar dari faktor produksi tersebut.
Tidak adanya pembeli lain di pasar produk tersebut (untuk wilayah tertentu), maka
pembeli dapat menetapkan harga beli produk (price maker), pembeli seperti ini
disebut monopsonist.
Pengertian struktur pasar monopoli apabila hanya terdapat penjual tunggal
(single seller) dan tidak ada produk substitusi yang mendekati produk yang
dihasilkan serta terdapat kendala (barriers) untuk memasuki pasar.

Penyebab

terbentuknya struktur pasar monopoli adalah: (1) kepemilikan bahan baku yang
strategis atau pengetahuan teknologi produksi yang ekslusif, (2) hak paten untuk
produk atau proses produksi, (3) adanya lisensi dari pemerintah atau imposisi
pembatasan perdagangan asing untuk mengeluarkan pesaing dari luar negeri, (4)
ukuran pasar berupa satu perusahaan dengan ukuran yang optimal, dan (5)
perusahaan mengadopsi kebijakan penetapan harga batas (limit-pricing policy).
Pengertian pasar monopoli bilateral (bilateral monopoly) adalah pasar yang
terdiri dari penjual tunggal (monopolist) dan pembeli tunggal (monopsonist). Baik
penjual tunggal maupun pembeli tunggal mempunyai kekuatan untuk menentukan
tingkat harga dan produk keseimbangan.

Keseimbangan pada pasar monopoli

bilateral tidak dapat ditentukan melalui keseimbangan penawaran (supply) dan


permintaan (demand) secara tradisional. Analisis ekonomi hanya dapat menetapkan
kisaran dimana harga produk (P) dapat terjadi.

Akantetapi level harga dan produk

(X) yang tepat akan ditentukan oleh faktor non ekonomi, seperti kekuatan tawar

68

menawar (bargaining power), keahlian, dan strategi lain dari perusahaan peserta
(Koutsoyiannis, 1987) (Gambar 8).

Harga (P)
C D

(Marginal Expenditure atau ME)

E2

P1
P*

Marginal Cost (MC)

E1

P2

X2

Demand (D)

X1

Marginal Revenue (MR)


X*
Output (X)

Gambar 8. Keseimbangan Pasar Monopoli Bilateral


Sumber

: Koutsoyiannis, 1987.

Jika pembeli sebagai pembeli tunggal (monopolist) ingin memaksimumkan


keuntungan maka keseimbangan pasar akan tercapai pada titik E 1 yaitu titik potong
biaya marjinal atau marginal cost (MC) dan penerimaan marjinal atau marginal
revenue (MR) atau MC = MR pada tingkat produk X 1 dan harga P 1 . Akan tetapi
produsen tidak dapat mencapai posisi di atas keuntungan maksimum karena
menjual pada pembeli tunggal (monopsonist), dimana keputusan pembeli juga akan
mempengaruhi harga pasar.

Pembeli juga penentu harga (price maker) akan

memaksimumkan keuntungan dengan membeli tambahan input (X) pada tingkat


dimana pengeluaran marjinal atau marginal expenditure (ME) sama dengan harga
(P) yang ditentukan oleh kurva permintaan DD.

Keseimbangan monopsonist

69

tercapai pada titik E 2 , dimana membeli pada tingkat X 2 dan harga P 2 ditentukan
oleh titik A pada kurva supplai MC. Akan tetapi pembeli juga menghadapi penjual
tunggal yang akan menjual pada tingkat harga P 1 , sehingga tidak tercapai kepastian
tingkat harga pasar.

Kedua pelaku pasar tersebut selanjutnya akan melakukan

negosiasi lagi dan akan mencapai kesepakatan harga yang berada pada kisaran P 1
dan P 2 atau pada tingkat P* (P 2 < P* < P 1 ) dimana besarnya P* tergantung tingkat
keahlian dan kekuatan tawar menawar pelaku pasar yang telibat tersebut.
Dalam analisis struktur-perilaku-kinerja pada berbagai pola PIR yang ada,
maka analisis dapat dimulai dengan mendeteksi bentuk struktur pasar yang paling
mendekati dari beberapa alternatif yang ada dalam kemitraan inti-plasma.
Berdasarkan kerangka teoritis di atas dan Hardjanto (2003), maka terdapat empat
unsur penting yang dapat digunakan untuk menentukan struktur pasar suatu produk
yaitu:

(1) tingkat konsentrasi penjual/pembeli, (2) sifat khas produk, dan (3)

hambatan berusaha.

Penilaian kinerja PIR kelapa sawit dapat dikaji dari sisi

produksi yang dilakukan rumahtangga petani plasma antara lain: (1) masa konversi
lahan dan penyerahan sertifikat kepemilikan tanah kebun, (2) tingkat pengembalian
kredit, (3) produktivitas kebun dan pendapatan petani peserta PIR, (4) pemupukan
dana untuk peremajaan kebun (replanting) atau tabungan, dan (5) faktor
eksternalitas lainnya.
4. 3. Model Dasar Ekonomi Rumahtangga Petani
Menurut Nakajima (1986), sebagai suatu industri maka pertanian dapat
dikelompokkan menjadi tiga katagori utama, yaitu: (1) karakteristik teknologi
produksi pertanian, (2) karakteristik rumahtangga petani (farm household) sebagai

70

unit ekonomi, dan (3) karakteristik produk-produk pertanian sebagai komoditi. Teori
ekonomi pertanian mempelajari ketiga karakteristik di atas, sedangkan teori ekonomi
rumahtangga (household economics theory) hanya memfokuskan pada karakteristik
kedua yaitu rumahtangga petani. Keberhasilan pembangunan di sektor pertanian
terkait erat dengan pemahaman perilaku ekonomi rumahtangga petani. Salah satu
indikator keberhasilan pembangunan pertanian adalah keberhasilan petani sebagai
produsen yang dicerminkan oleh meningkatnya kesejahteraan rumahtangga petani.
Oleh karena itu menurut Sadoulet dan Janvry (995) setiap strategi untuk
menurunkan tingkat kemiskinan penduduk suatu negara harus dimulai dengan
memahami terlebih dahulu faktor-faktor penentu kesejahteraan rumahtangga petani
tersebut.
BPS (2000) menggunakan istilah kesejahteraan untuk kesejahteraan rakyat,
dimana dimensi ini sangat luas dan kompleks sehingga tidak semua permasalahan
kesejahteraan rakyat dapat diamati atau diukur, hanya aspek tertentu yaitu
menggunakan indikator tunggal atau indikator komposit. Beberap aspek spesifik
kesejahteraan adalah kependudukan, kesehatan, pendidikan, ketenagakerjaan,
konsumsi rumahtangga dan perumahan. Sedangkan batasan rumahtangga yang
digunakan BPS (2003) adalah sekelompok orang yang mendiami sebagian atau
seluruh bangunan fisik dan biasanya tinggal serta makan dari satu dapur.
Pengertian satu dapur adalah jika pengelolaan kebutuhan sehari-hari dikelola
bersama menjadi satu.

Selanjutnya Bryant (1990), mendefinisikan rumahtangga

adalah mereka yang tinggal di bawah satu atap dan membentuk suatu keluarga.
Rumahtangga merupakan sekelompok manusia yang secara bersama berusaha
mengontrol kehidupannya sehingga tercapai tujuannya.

71

Nakajima (1986) lebih menekankan pada konsep rumahtangga sebagai


suatu unit ekonomi yang kompleks yaitu sebagai perusahaan usahatani, tenaga
kerja keluarga dan konsumen yang memaksimumkan utilitas.

Bryant (1990),

mendukung pendapat Nakajima tentang tujuan rumahtangga dari konteks ekonomi


yaitu mencapai kepuasan (satisfaction) dan kegunaan (utility), dimana kepuasan
atau kegunaan yang akan dicapai rumahtangga dapat berupa materi dan non materi.
Selanjutnya Nakajima (1986) dan Bryant (1990) mengungkapkan beberapa
karakteristik rumahtangga petani yang penting antara lain: (1) rumahtangga harus
mempunyai sumberdaya agar dapat memberikan kepuasan dan dapat dibagi
diantara anggota rumahtangga, dan (2) rumahtangga harus mempunyai cara
alternatif untuk meningkatkan kepuasannya sehingga timbul banyak pilihan
(choices). Aktifitas ekonomi yang beragam dari rumahtangga petani dapat dipahami
secara konsisten dengan asumsi bahwa aktivitas ini dilakukan berdasarkan prinsip
maksimisasi utilitas sebagai motivasi subjektif. Hal ini berarti untuk menjelaskan
aktivitas ekonomi rumahtangga petani maka harus memahami motivasi dari ketiga
entitas ekonomi di atas yaitu perilaku rumahtangga sebagai perusahaan usahatani,
perilaku sebagai sumber tenaga kerja dan perilaku konsumsi.

Keunikan

rumahtangga sebagai unit ekonomi karena adanya hubungan simultan antara


perilaku produksi dan perilaku konsumsi yang tidak terjadi pada organisasi
perusahaan. Perusahaan sebagai suatu unit ekonomi hanya melakukan kegiatan
produksi barang dan jasa untuk mencapai tujuan yaitu keuntungan maksimum.
Kegiatan konsumsi individu biasanya diturunkan dari perilaku individu yang rasional
yaitu memaksimumkan kepuasan dengan kendala anggaran tertentu, sedangkan
perilaku secara agregat akan menurunkan fungsi permintaan rumahtangga. Adanya
hubungan simultan antara perilaku produksi dan perilaku konsumsi dalam

72

rumahtangga petani memerlukan landasan teori ekonomi khusus untuk menjelaskan


perilaku ekonomi rumahtangga tersebut.
Sadoulet dan Janvry (1995) mendukung pendapat di atas dengan
mengungkapkan beberapa ciri khusus kegiatan produksi pertanian di negara-negara
berkembang yang diwakili oleh rumahtangga petani. Ciri-ciri khusus tersebut antara
lain: (1) tidak terpisahnya antara kegiatan produksi dan kegiatan rumahtangga
petani, (2) tujuan petani menghasilkan produk tidak hanya untuk dipasarkan tetapi
juga untuk kebutuhan konsumsi rumahtangga, (3) penggunaan tenaga kerja
keluarga lebih diutamakan, (4) terbatasnya ketersediaan tenaga kerja keluarga, dan
(5) petani lebih banyak berperilaku sebagai penerima harga input dan harga output
serta tidak mampu mempengaruhi harga pasar (price taker).

Kekhususan

karakteristik rumahtangga pertani ini memerlukan analisis khusus, yaitu model


ekonomi rumahtangga petani (agricultural household model). Nakajima (1966) dan
Becker (1976) merupakan pelopor teori ekonomi rumahtangga petani yang
menganggap kegiatan produksi dan konsumsi merupakan satu kesatuan (unitary),
khususnya ketika rumahtangga akan berinteraksi dengan pasar tenaga kerja.
Model rumahtangga Becker telah menjadi dasar pembentukan model dasar
rumahtangga petani dengan asumsi bahwa pembuat keputusan rumahtangga petani
dilakukan oleh kepala rumahtangga (Sing et al, 1986). Pada dasarnya model
rumahtangga

Becker

menggunakan

teori

tradisional,

dimana

rumahtangga

memaksimumkan fungsi utilitasnya dengan persamaan sebagai berikut:


U = U (X 1 , X 2 , X n ) .....(1)
dengan memperhatikan kendala sumberdaya:

73

pi Xi =Y =W+E

, untuk i = 1, 2, 3, m ... ...(2)

i =1

dimana:
X i , p i = barang dan harga barang ke i yang dibeli di pasar untuk dikonsumsi
Y

= pendapatan tunai (money income)

= penghasilan (earnings)

= pendapatan dari sumber lain

Selanjutnya rumahtangga diasumsikan mengkombinasikan waktu dengan


barang yang dibeli dipasar (X i ) untuk menghasilkan komoditi yang lebih mendasar
sebagai komoditi akhir agar dapat langsung dinikmati dan dimasukkan dalam fungsi
utilitas.

Menurut Becker, yang menghasilkan utilitas bukan barang atau jasa

tersebut tetapi produk akhir yaitu barang Z.

Tentu saja secara praktis,

mengindentifikasikan barang Z tidak semudah mengindentifikasikan barang atau


jasa

yang

dihasilkan

oleh

kegiatan

perusahaan.

Misalnya

rumahtangga

mengkombinasikan sayuran atau bahan pangan lainnya dan waktu yang diperlukan
untuk memasak serta menyajikan masakan akan menghasilkan barang Z untuk
dinikmati anggota rumahtangga.

Menghasilkan barang Z memerlukan teknologi

tertentu, sehingga Becker mengajukan bahwa rumahtangga mempunyai fungsi


produksi tertentu yang dinyatakan dengan komoditi baru yang dihasilkan ini disebut
komoditi Z i , dimana setiap komiditi Z i dirumuskan sebagai berikut:
Z i = f ( X i , T i ) , untuk i = 1., 2, n..(3)
Persamaan 3 mempunyai arti bahwa rumahtangga adalah unit produksi yang
memaksimumkan kepuasan.

Mereka mengkombinasikan waktu (T i ) dan barang

74

yang dibeli di pasar (X i ) melalui fungsi produksi untuk menghasilkan beberapa


komoditi dengan cara konvesional yaitu maksimisasi fungsi utilitas:
U = U ( Z 1 , Z m ) U ( f 1 , f m ) U (x 1 , x m ; T 1 , T m ) ..(4)
dengan memperhatikan kendala anggaran:
g (Z 1 , Z m ) = Z......(5)
dimana g adalah fungsi pengeluaran (expenditure) dari Z i , yang dibatasi oleh
ketersediaan sumberdaya. Konsep ini berbeda debgab teori konsumsi yang akan
menghasilkan utilitas langsung dengan cara mengkonsumsi barang atau jasa
tertentu. Konsep ini menjelaskan bahwa kegitan rumahtangga dipandang sebagai
unit ekonomi yang melakukan dua kegiatan sekaligus, yaitu kegiatan produksi dan
kegiatan konsumsi.
Penggabungan kegiatan produksi dan konsumsi oleh rumahtangga secara
simultan masih banyak dipertentangkan, karena beberapa ekonom cenderung
memisahkan secara tegas kedua kegiatan tersebut, yaitu kegiatan produksi hanya
dilakukan oleh perusahaan dan kegiatan konsumsi oleh rumahtangga. Akantetapi
akhir-akhir ini ekonom mulai menyadari bahwa rumahtangga sebetulnya adalah
pabrik kecil (small factory) yang mengkombinasikan modal, bahan baku dan
tenaga kerja untuk menghasilkan komoditi yang lebih berguna.
Pendekatan sangat langsung adalah dengan memaksimumkan fungsi Utilitas
(persamaan 4) dengan memperhatikan kendala pengeluaran untuk barang yang
dibeli di pasar, waktu, dan fungsi produksi pada persamaan 6, 7 dan 8. Kendala
pengeluaran barang yang dihasilkan dapat dituliskan sebagai berikut:
m

i =1

P i X i = Y = T w W + E......(6)

75

Kendala waktu dapat ditulis sebagai berikut:


m

i =1

T i = T c = T - T w ..(7)

Fungsi produksi dapat ditulis sebagai berikut:


T i t i Z i dan
dimana:

X i b i Z i .(8)

X i = barang ke i yang dibeli di pasar untuk memproduksi barang Z ke i


T i = waktu yang digunakan untuk memproduksi barang Z ke i
P i = harga barang X ke i
T w = waktu yang digunakan untuk bekerja
W = upah tenaga kerja
T c = waktu yang digunakan untuk bersantai (konsumtif)
T = jumlah waktu yang tersedia dalam rumahtangga
Y = kendala pengeluaran untuk membeli barang
E = penerimaan dari sumber lain atau dari bukan aktivitas kerja.
Masalah akan muncul jika memaksimumkan fungsi utilitas (persamaan 4)
dengan memperhatikan kendala 6, 7 dan 8, karena waktu yang dikonversikan untuk
menghasilkan barang akan mengurangi waktu yang digunakan untuk konsumsi.
Untuk memanfaatkan variabel T pada kendala waktu, maka T w dalam persamaan 6
disubstitusi ke dalam persamaan 7 sehingga menghasilkan kendala tunggal sebagai
berikut:
m

i =1

Pi Xi +

T i W = S = T W + E .(9)

i =1

dimana: S = pendapatan penuh (full income).

76

Gabungan ketiga kendala tersebut disebut juga kendala sumberdaya total


atau pendapatan uang maksimum yang dapat dicapai. Becker (1976) menyebutnya
sebagai pendapatan penuh (full income), yaitu penerimaan rumahtangga jika waktu
yang tersedia dalam rumahtangga diukur dengaan tingkat upah yang berlaku
ditambah dengan penerimaan dari bukan aktivitas kerja.
Selanjutnya Sing et al. (1986) menyusun model dasar yang banyak
digunakan dalam studi empiris untuk mengkaji perilaku rumahtangga petani. Model
dasar yang digunakannya sedikit berbeda dengan Becker, dimana jenis barang yang
dikonsumsi rumahtangga yaitu barang yang dihasilkan sendiri (X a ) dan barang yang
dibeli di pasar (X m ).

Untuk setiap siklus produksi, rumahtangga diasumsikan

memaksimumkan fungsi utilitasnya (U) dengan mengkonsumsi barang pertanian


yang dihasilkan sendiri, barang yang dibeli di pasar dan waktu santai.

Secara

matematis fungsi kepuasan konsumen dinyatakan sebagai berikut:


U = u (X a , X m , X l )..(1.1)
dimana:
U

= kepuasan/daya guna total (total utility)

= menyatakan fungsi

X a = konsumsi barang dari usahatani sendiri (sebagai makanan pokok)


X m = konsumsi barang yang dibeli di pasar
X l = waktu yang digunakan untuk kegiatan konsumsif atau santai (leisure)
Kepuasan rumahtangga (fungsi Utilitas) dimaksimumkan dengan memperhatikan kendala pendapatan tunai (cash income constraint):
P m X m = P a (Q - X a ) W ( L - F) (1.2)

77

dimana :
P m , P a = harga barang yang dibeli di pasar dan harga barang
pokok yang dihasilkan sendiri.
Q

= produksi produk pokok yang dihasilkan rumahtangga petani

(Q - X a ) = kelebihan produksi untuk dipasarkan (marketed surplus)


L

= total input tenaga kerja yang digunakan dalam kegiatan produksi

= input tenaga kerja yang tersedia dalam keluarga.

Jika ketersedian tenaga keluarga melebihi kebutuhan tenaga kerja untuk


produksi atau (F L) > 0 maka maka rumahtangga dapat menawarkan kelebihan
tenaga kerja keluarga di pasar tenaga kerja sehingga menambah pendapatan tunai.
Sebaliknya jika ketersedian tenaga kerja keluarga tidak mencukupi kebutuhan
tenaga kerja untuk produksi atau (F L) < 0

maka rumahtangga harus

mempekerjakan tenaga kerja dari luar keluarga sebagai tenaga kerja upahan
sehingga mengurangi pendapatan tunai.
Rumahtangga

petani

juga

menghadapi kendala waktu

(T),

dimana

rumahtangga mengalokasikan waktu yang ada untuk kegiatan konsumtif dan


kegiatan produktif. Kendala waktu dirumuskan sebagai berikut:
T

Xl

.(1.3)
dimana T adalah

total waktu yang tersedia dalam rumahtangga petani.

Rumahtangga juga menghadapi kendala produksi atau teknologi produksi yang


dapat dijelaskan melalui hubungan input - output berikut ini:
Q = Q (L, A) .(1.4)
dimana A adalah input tetap, misal: lahan untuk usahatani yang jumlahnya tetap.

78

Selanjutnya
selanjutnya

model

ekonomi

rumahtangga

yang

kompleks

tersebut

dapat disajikan lebih sederhana dengan menggunakan beberapa

asumsi, antara lain: (1) input variabel hanya tenaga kerja, (2) petani hanya
memproduksi satu produk,

(3) tenaga kerja keluarga dan tenaga kerja upahan

mempunyai substitusi sempurna dan penggunaannya bisa dijumlahkan secara


langsung, (4) produksi oleh rumahtangga petani bersifat tanpa resiko (riskless), dan
(5) merupakan asumsi paling penting yaitu P m , P a dan W tidak dipengaruhi oleh
aktivitas rumahtangga petani atau penerima harga (price taker) pada ketiga pasar
yang ada yaitu pasar produk, pasar input dan pasar tenaga kerja.
Jika ketiga kendala di atas digabung dengan mensubstitusi kendala produksi
(Q) dan kendala waktu (F) kedalam kendala pendapatan tunai maka akan
menghasilkan kendala tunggal sebagai berikut:
P m X m + P a X a + W X l = S = W T + ......(1.5)
dimana: = P a Q (L, A) - W L adalah keuntungan atau pendapatan usahatani.
Konsep pendapatan penuh (full income) merupakan perluasan model
ekonomi rumahtangga yang diturunkan oleh Becker (1976). Sedangkan persamaan
(1.1) dan (1.5) merupakan inti dari model ekonomi rumahtangga petani menurut
pendapat Sing et al. (1986).

Ciri khas dari model ini adalah memasukkan

pendapatan usahatani () kedalam komponen pendapatan penuh (full income)


dengan memperhitungkan semua biaya tenaga kerja yang digunakan dalam
usahatani sendiri, baik berasal dari tenaga kerja keluarga maupun luar keluarga
pada tingkat upah yang berlaku.

Hal ini merupakan konsekuensi dari asumsi

perilaku penerima harga pada pasar tenaga kerja, dimana tenaga kerja keluarga dan
tenaga kerja upahan mempunyai sifat substitusi sempurna. Dengan menggunakan

79

fungsi keuntungan usahatani (), rumahtangga bisa memilih level konsumsi


komoditi dan permintaan input tenaga kerja dalam produksi pertaniannya.
Selanjutnya maksimisasi fungsi keuntungan adalah:
= P a Q (L, A) W L ......(1.6)
Selanjutnya dicari derivatif pertama secara parsial fungsi keuntungan () terhadap
input tenaga kerja (L) sebagai syarat pertama (first order condition) yaitu:

/ L = P a Q / L - W = 0 atau

MVP L = W (1.7)

dimana: MVP L adalah nilai produk marjinal tenaga kerja.


Selanjutnya rumahtangga akan menyamakan MVP L dengan tingkat upah pasar
atau MVP L = W. Persamaan ini hanya mengandung satu variabel endogen yaitu
tenaga kerja (L), sedangkan variabel lain (X m , X a dan X l ) tidak muncul sehingga
tidak mempengaruhi pilihan rumahtangga dalam penentuan jumlah tenaga kerja.
Selanjutnya persamaan (1.3) dapat digunakan untuk mencari fungsi L, dimana
adalah L = fungsi dari upah tenaga kerja (W), harga produk (P a ), parameter
teknologi dari fungsi produksi serta input tetap lahan (A). Jika keputusan produksi
dan keputusan konsumsi dibuat terpisah, maka keputusan penawaran tenaga kerja
atau santai menjadi:
L * = f ( W, P a , A) ........(1.8)
Fungsi (1.8) ini selanjutnya disubstitusi ke persamaan kendala (1.5) sehingga
diperoleh nilai pendapatan penuh sebagai kendala ketika petani memaksimumkan
fungsi keuntungan produksi pertanian dengan menggunakan input tenaga kerja yang
tepat yaitu:
P mX m + P a X a + W X l = S

80

Selanjutnya sebagai konsumen, rumahtangga akan memaksimumkan fungsi


utilitasnya sebagai berikut:
Maks U = u (X a , X m , X l ) ..(1.9)
dengan kendala: P m X m + P a X a + W X l = S .....(1.10)
Selanjutnya fungsi Lagrange yang diperoleh:
L = u (X a , X m , X l ) - (P m X m + P a X a + W X l - S) .....(1.11)
Derivatif pertama dari fungsi L di atas atau mencari kondisi ordo pertama (FOC):
L a = U / X a - P a = 0 atau U a = P a .(1.12a)
L m = U / X m - P m = 0 atau U m = P m .....(1.12b)
L l = U / X l - W

= 0 atau U l = P l ....(1.12c)

L = -(P m X m +P a X a + W X l - S) = 0
Atau: P m X m + P a X a + W X l = S.. ....(1.12d)
Dengan menggunakan empat persamaan (1.12) di atas secara simultan,
akan diperoleh persamaan permintaan konsumen untuk barang atau jasa ke-i (X i ):
X i = f (P a , P m , W, S), untuk i = a, m, l. ...( 1.13)
Dalam kasus rumahtangga petani maka pendapatan ditentukan oleh aktivitas
produksi rumahtangga petani, dimana perubahan dalam faktor-faktor yang
mempengaruhi produksi akan merubah pendapatan penuh (S) dan selanjutnya
merubah perilaku konsumsi melalui permintaan atau konsumsi barang dan waktu
santai (X a , X m , X l ). Oleh karena itu perilaku konsumsi dipengaruhi oleh perilaku
produksi melalui pendapatan, sedangkan perilaku produksi tidak dipengaruhi oleh
perilaku konsumsi. Hal ini memperjelas bahwa keputusan produksi dalam hal ini

81

penggunaan input dibuat terpisah dengan keputusan konsumsi dan keputusan


penawaran tenaga kerja.
Sadoulet dan Janvry (1995) menurunkan model rumahtangga petani sama
dengan Sing et al. (1986), dimana menurut Sadoulet dan Janvry bahwa pembuat
keputusan dalam rumahtangga petani akan mengintegrasikan secara simultan
keputusan produksi, konsumsi dan keputusan bekerja. Ketiga keputusan tersebut
harus disatukan kedalam masalah tunggal rumahtangga. Akantetapi Sadoulet dan
Janvry memasukkan juga karakteristik rumahtangga (Z h ) kedalam fungsi kepuasan
(Utility) rumahtangga, sehinga bentuk struktural dari fungsi kepuasan rumahtangga
petani menjadi:
Max U = u(X a , X m , X l ; Z h ) ..(1.14)
dimana Z h adalah karakteristik rumahtangga. Hasil penurunan fungsi maksimisasi
Utilitas di atas akan diperoleh fungsi permintaan barang dan waktu yang dikonsumsi
rumahtangga (persamaan 1.13) yang mengandung variabel Z h sebagai variabel
eksogen.
X i = f (P a , P m , W, S, Z h ), untuk i = a, m, l. ......(1.15)
Dengan mempelajari perilaku ekonomi rumahtangga petani yang dihadapi
dan asumsi-asumsi yang dibuat maka akan dapat diperoleh bentuk model ekonomi
rumahtangga berdasarkan prinsip keseimbangan optimum yaitu maksimisasi
keuntungan

produsen

serta

maksimisasi

kepuasan

memperhitungkan kendala-kendala yang dihadapi.

konsumen

dengan

Berdasarkan uraian di atas

maka dapat diformulasikan model rumahtangga dengan kondisi pasar sempurna


(perfect market) atau model rumahtangga dengan kondisi pasar yang terdistorsi
(market failure).

82

Menurut Sadoulet dan Janvry (1995), jika diasumsikan bahwa pasar


sempurna (perfect market) terjadi pada pasar produk, pasar input dan pasar tenaga
kerja, maka semua harga yaitu harga produk, harga input dan harga jasa tenaga
kerja (upah) bersifat eksogen bagi rumahtangga dan semua produk serta input yang
digunakan dapat diperdagangkan tanpa biaya transaksi. Dalam kasus ini keputusan
produksi, konsumsi atau bekerja bisa dilakukan dengan memasukkan faktor harga
yaitu dengan menghitung biaya kesempatan (opportunity cost) untuk semua produk
dan input yang digunakan rumahtangga dan yang berasal dari rumahtangga atau
usahatani sendiri.
Jika semua pasar bekerja dan tidak terdapat biaya transasksi, maka dasar
pertimbangan dalam membuat keputusan rumahtangga akan menggunakan alasan
non material, seperti keputusan dalam penggunaan produk yang dihasilkan
(dikonsumsi sendiri atau dijual ke pasar produk), penggunaan tenaga kerja keluarga
(untuk usahatani sendiri atau dijual ke pasar tenaga kerja). Berdasarkan kondisi ini,
rumahtangga akan bersikap seakan keputusan produksi, konsumsi atau keputusan
untuk bekerja dibuat secara berurutan atau teratur.

Pasar sempurna hanya

merupakan syarat kecukupan (sufficient condition) tetapi bukan syarat keharusan


(necessary condition) untuk membuat model rumahtangga usahatani sebagai
keputusan terpisah (separability).
Model ekonomi rumahtangga petani yang dijelaskan di atas masih terbatas
pada asumsi bahwa rumahtangga hanya menggunakan satu faktor produksi variabel
yaitu tenaga kerja dan menghasilkan hanya satu jenis produk pertanian. Asumsi
tersebut bisa dilonggarkan dengan membuka kemungkinan: (1) rumahtangga
menggunakan lebih dari satu jenis input, misal input tenaga kerja dan input non
tenaga kerja seperti pupuk, pestisida, (2) menghasilkan lebih dari dari satu jenis

83

produk (menghasilkan komoditi pokok dan komoditi sampingan), dan (3)


mengkonsumsi lebih dari satu macam barang (barang dari hasil usahatani sendiri
dan barang yang dibeli di pasar). Dengan menggunakan asumsi ini diharapkan lebih
mendekati kenyataan.
Selanjutnya alokasi waktu anggota rumahtangga dapat dipisah berdasarkan
tenaga kerja suami dan tenaga kerja istri (Benyamin dan Guyomard, 1994), dengan
alasan bahwa alokasi waktu suami dan istri mungkin mempunyai konotasi utilitas
yang berbeda, selanjutnya tenaga kerja suami dan istri tidak mungkin diasumsikan
bersubstitusi sempurna karena tenaga kerja suami dan istri menghasilkan kinerja
yang berbeda akibat aktivitas yang dilakukan berbeda.

Hal ini sedikit berbeda

seperti yang dilakukan oleh Sawit (1993) yang memisahkan tenaga kerja
berdasarkan jenis kelamin yaitu wanita dan pria dalam bekerja sebagai anggota
rumahtangga dan penghasil pendapatan.
kompleks

dapat

menggunakan

Untuk membahas model yang lebih

penyajian

secara

matematik

seperti

yang

dikemukakan oleh Strauss (1986). Justifikasi model dilakukan untuk merumuskan


model ekonomi rumahtangga untuk kasus rumahtangga petani plasma kelapa sawit
di Sumatera Selatan.
4. 4. Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Usahatani kelapa sawit dalam pola PIR pada dasarnya merupakan usahatani
keluarga. Pada usahatani keluarga maka berbagai perilaku ekonomi seperti:
produksi, konsumsi, alokasi tenaga kerja dan perilaku ekonomi lainnya akan
dipertimbangkan

secara

terintegrasi

dalam

setiap

pengambilan

keputusan

rumahtangga petani. Formulasi model ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa


sawit mengikuti tahapan pemikiran Sing et al (1986) dan Sawit (1993) dengan

84

beberapa modifikasi seperti yang sudah dibahas di atas, yaitu pada aspek-aspek
sebagai berikut:
1. Sesuai dengan tujuan penelitian untuk melihat kinerja perusahaan inti rakyat
kelapa sawit dengan fokus analisis perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma
kelapa sawit maka kegiatan produksi yang dikaji hanya usahatani kelapa sawit
(Q a = kelapa sawit), sementara perilaku produksi usahatani non kelapa sawit
hanya sebagai faktor eksogen dan dinilai dari pendapatannya saja.
2. Sesuai dengan karakteristik komoditi kelapa sawit maka produksi usahatani
kelapa sawit dari kebun plasma seluruhnya dijual, selanjutnya pendapatan yang
diperoleh digunakan untuk membeli kebutuhan konsumsi barang yang di jual
pasar (X m > 0 dan X a = 0).
3. Formulasi fungsi produksi kelapa sawit memasukkan input tenaga kerja yang
didisagregasi berdasarkan tenaga kerja suami, istri dan anak, disamping input
variabel non tenaga kerja, input tetap, karakteristik usahatani, faktor teknologi
dan kelembagaan yang diproxy dengan dummy variable pola PIR kelapa sawit.
4. Pemisahan tenaga kerja suami dan istri pada curahan kerja di kebun plasma dan
luar kebun plasma menggunakan pendapat Benyamin dan Guyomard, (1994).
Kecilnya curahan kerja anak dan tenaga luar keluarga di kebun plasma (tenaga
kerja upahan) sehingga tidak dilihat perilakunya (sebagai variabel eksogen) dan
diasumsikan sebagai substitusi tenaga kerja keluarga di kebun plasma. Tingkat
upah yang digunakan disederhanakan berdasarkan hari orang kerja setara pria
(HOKP) sehingga semua tenaga kerja dinilai berdasarkan tingkat upah yang
berlaku (upah per HOKP).

85

5. Sesuai dengan tujuan penelitian pola PIR kelapa sawit maka pembagian
pendapatan

berdasarkan pendapatan

dari usahatani kelapa sawit dan

pendapatan dari luar kelapa sawit (sebagai variabel eksogen), yang terdiri dari
pendapatan lahan pangan, pendapatan kebun karet, pendapatan usaha ternak
dan pendapatan non usahatani.
6. Mengingat jenis barang yang dikonsumsi rumahtangga petaani cukup beragam
maka jumlah barang konsumsi yang dibeli di pasar (pangan dan non pangan)
tidak dirinci berdasarkan jumlah fisik tetapi hanya dinilai berdasarkan
pengeluaran untuk memperoleh barang tersebut secara agregat.
7. Pengeluaran rumahtangga didisagregasi berdasarkan aspek pengeluaran untuk
konsumsi saat ini (konsumsi pangan dan non pangan) dan pengeluaran untuk
investasi

(pendidikan,

kesehatan,

produksi,

asuransi

dan

tabungan).

Berdasarkan keterbatasan data yang ada maka tidak semua pengeluaran


rumahtangga dikaji perilakunya. Perilaku yang dikaji adalah konsumsi pangan,
investasi

pendidikan,

investasi

kesehatan

dan

pengeluaran

asuransi.

Pengeluaran lain yaitu: konsumsi non pangan, peneluaran investasi produksi,


dan tabungan hanya sebagai variabel eksogen.
8. Selain melihat kinerja utama dalam rumahtangga (produksi, konsumsi dan
curahan kerja) maka untuk menilai kinerja rumahtangga petani sebagai peserta
PIR kelapa sawit yang mempunyai kewajiban melunasi pinjaman pembukaan
kebun plasma maka dilihat juga perilaku kemampuan melunasi kredit yang
diukur berdasarkan waktu (tahun) pelunasan.
Rumahtangga petani kelapa sawit diasumsikan memaksimumkan utilitas
dengan kendala fungsi produksi kelapa sawit, waktu yang tersedia dan pendapatan.
Utilitas diasumsikan merupakan fungsi dari konsumsi barang yang dibeli di pasar

86

dan leisure yang merupakan konsumsi total rumahtangga petani kelapa sawit.
Waktu keluarga untuk santai merupakan selisih waktu yang ada (T) dengan waktu
untuk kerja (L), tetapi waktu santai ini tidak dikaji. Karakteristik rumahtangga (Z h )
dianggap mempengaruhi pola konsumsinya, sehingga fungsi utilitas rumahtangga
petani menjadi:
U = u (X m , R p , R w ; Z h ) ...(3.1)
dimana:
U (.) = fungsi Utilitas rumahtangga petani plasma kelapa sawit
X m = barang dan jasa yang dibeli di pasar
R

= jumlah waktu santai (leisure) oleh suami (petani)

R w = jumlah waktu santai (leisure) oleh istri petani


Z h = karakteristik rumahtangga petani
Rumahtangga diasumsikan menghadapi kendala fungsi produksi kelapa sawit
sebagai berikut:
Q a = q (L p , L w , X v , A).....(3.2)
dimana:
Q a = produksi kelapa sawit dari kebun plasma
q (.) = menyatakan fungsi
L p = total penggunaan input tenaga kerja suami (petani)
L w = adalah total penggunaan input tenaga kerja istri petani
X v = penggunaan input variabel non tenaga kerja (pupuk, pestisida)
A

= input tetap

87

Kendala lain yang digunakan adalah kendala ketersediaan waktu anggota


rumahtangga petani plasma yang hanya dibedakan menjadi waktu untuk tenaga
kerja suami (petani) dan waktu untuk tenaga kerja istri petani atau berupa potensi
tenaga kerja anggota rumahtangga.
Tp = Fp + Np + R

.........(3.3.1)

Tw = Fw + Nw + R

..............(3.3.2)

dimana:
T p = potensi tenaga kerja suami (petani)
T w = potensi tenaga kerja istri petani
F p = penggunaan tenaga kerja suami (petani) pada usahatani sendiri,
F w = penggunaan tenaga kerja istri petani pada usahatani sendiri,
N p = penggunaan tenaga kerja suami (petani) di luar usahatani kelapa sawit,
N w = penggunaan tenaga kerja istri petani di luar usahatani kelapa sawit,
Kendala pendapatan tunai merupakan total pengeluaran untuk membeli
barang dan jasa yang dibeli di pasar (X m ) pada harga P m ,

atau sebagai total

anggaran yang tersedia sebesar X m P m . Besarnya nilai X m P m harus sama dengan


seluruh pendapatan tunai rumahtangga dari berbagai sumber.
Pendapatan usahatani () merupakan selisih penerimaan dan biaya yang
dikeluarkan di usahatani sendiri. Jika diasumsikan input variabel yang digunakan
adalah tenaga kerja (L) dan input variabel non tenaga kerja (X v ) dan input tetap
berupa biaya penggunaan input tetap (A).
dinyatakan dengan persamaan berikut:

Fungsi keuntungan usahatani ()

88

= P a Q a W p (L p F p ) W w ( L w - F w ) - P v X v - A .(3.4)
dimana:
P a = harga produk kelapa sawit
W p = upah tenaga kerja suami (petani )
W w = upah tenaga kerja istri petani
P v = harga input variabel non tenaga kerja (pupuk, pestisida)
Kendala pendapatan tunai dapat dinyatakan sebagai berikut:
P m X m = P a Q a W p (L p F p )W w ( L w - F w )- P v V A + P p N p + P w N w
(3.5)
dimana:
P a = harga komoditi kelapa sawit
P v = harga input variabel non tenaga (pupuk, pestisida)
P p = upah atau pendapatan tenaga kerja suami (petani) di luar usahatani
kelapa sawit
P w = upah atau pendapatan istri petani di luar usahatani kelapa sawit.
E = pendapatan keluarga dari luar usahatani kelapa sawit sebagai faktor
eksogen.
Nilai (L p F p ) dan (L w -F w ) merupakan keseimbangan penggunaan tenaga
kerja keluarga di usahatani kelapa sawit. Jika (L p F p ) atau (L w - F w ) positif berarti
terdapat kekurangan tenaga kerja di kebun sendiri sehingga terdapat pengeluaran
upah untuk sewa tenaga kerja, sebaliknya nilai negatif maka terdapat kelebihan
tenaga kerja keluarga yang dapat digunakan untuk bekerja di luar kebun plasma
sendiri sehingga terdapat penerimaan upah dalam bentuk pendapatan tunai.

89

Rumahtangga petani dapat mempunyai sumber pendapatan lain di luar


pendapatan pokok seperti nilai tenaga kerja (W.T) atau sumber pendapatan lain
yang jumlahnya tertentu (given). Menurut Sing et al. (1986) sumber pendapatan
laain ini dapat dikelompokkan sebagai pendapatan eksogen (exogenous income)
dan dinyatakan sebagai variabel eksogen (E). Selanjutnya jika ketiga kendala di
atas digabung menjadi kendala pendapatan penuh (full income) sebagai kendala
tunggal:
P m X m + W p R p + W w R w = S = + W p T p + W w T w + E ...(3.6)
Selanjutnya fungsi Lagrange rumahtangga dapat ditulis sebagai berikut:
L=U (X m , R p , R w ; Z h )+ [P a Q a W p (L p F p ) W w ( L w - F w ) P v X v
A +W p T p + W w T w + E- P m X m - W (R p + R w )] + [Q a (L p , L w , X v , A)]
(3.7)
Maximisasi fungsi Utilitas rumahtangga petani dengan memperhatikan
kendala yang ada akan diperoleh fungsi permintaan barang dan waktu untuk
konsumsi sebagai berikut:

L / X m = U m - P m = 0 atau = U m / P m .........(3.8.1)
L / R p = U p - W p = 0 atau = U p / W p .. .(3.8.2)
L / R

= Uw -

W w = 0 atau

= U w / W w .............(3.8.3)

L / = [P a Q a W p (L p F p ) W w ( L w - F w ) - P v X v A +
W p T p + W w T w + E - P m X m - W (R p +R w )] = 0 .(3.8.4)

L / Q a = P a + G a = 0 atau (1/ ) ( L / Q a ) = P a + (/ ) G a = 0
L / L p = - W p + G p = 0 atau (1/ ) ( L / L p ) = - W p + (/ ) G p = 0
L / L w = - W w + G w = 0 atau (1/ ) ( L / L w ) = - W w + (/ ) G w = 0

90

L / X v = - P v + G v = 0 atau (1/ ) ( L / G v ) = - P v + (/ )G v = 0
L / = G ( Q a , L p , L w , X v , A ) = 0 ...(3.9)
Selanjutnya dengan penyelesaian secara simultan terhadap persamaan (3.9)di atas
diperoleh fungsi permintaan rumahtangga terhadap barang dan waktu santai
rumahtangga petani sebagai berikut:
Dx i = f (P a , P m , W p , W w , P v , S, Z h ), untuk i = m, p, w .(3.10)
dimana m menyatakan barang yang dibeli di pasar, p menyatakan suami (petani)
dan w menyatakan istri petani.

Karakteristik keluarga petani dapat dicirikan oleh

umur, tingkat pendidikan, pengalaman atau keterampilan dalam usahatani (dalam


hal ini hanya suami dan istri petani), jumlah anggota keluarga dan etos kerja (yang
diproxy oleh variabel boneka asal daerah petani dan istri petani).

Pendapatan

penuh (S) dapat dipecah menjadi pendapatan dari usahatani pokok () dan
pendapatan dari sumber lain (E).
Tingkat upah yang berlaku di lokasi penelitian tidak dibedakan berdasarkan
jenis kelamin tetapi berdasarkan jenis pekerjaan yang dapat dilakukan oleh anggota
rumahtangga.

Kegiatan

pembersihan

gulma

pada

kebun

secara

kimiawi

(penyemprotan herbisida), pembersihan gulma pada pohon kelapa sawit dan


kegiatan panen, umumnya dilakukan oleh tenaga kerja pria dewasa yaitu suami
(petani) sedangkan kegiatan pembersihan gulma sekitar pohon, dan pengumpulan
serta pengangkutan hasil panen (buah sawit) dari lokasi kebun ke tempat
pengumpulan hasil (TPH) biasanya dilakukan oleh istri petani dan anak. Semua
curahan kerja sudah disetarakan dengan hari orang kerja setara pria (HOK)
sehingga upah yang yang digunakan sama yaitu W, selanjutnya jika penyesuaian di

91

atas dimasukkan maka diperoleh fungsi permintaan rumahtangga terhadap barang


dan waktu santai rumahtangga petani yang baru:
DX i = f ( P a , P m , W, P v , , E, Z h ), untuk i = m, p, w .(3.11)
sehingga: Xm = permintaan barang yang dibeli di pasar, Xp = permintaan waktu
santai suami (petani) dan Xw = permintaan waktu santai istri petani. Jika fungsi
permintaan rumahtangga sudah diketahui maka dapat juga dirumuskan fungsi
penawaran tenaga keja keluarga untuk kegiatan usahatani pokok (kelapa sawit) dan
kegiatan luar usahatani pokok (luar kelapa sawit).
Penawaran tenaga kerja dari rumahtangga petani pada dasarnya merupakan
total tenaga kerja keluarga dikurangi dengan waktu santai (leisure), sehingga fungsi
penawaran tenaga kerja keluarga merupakan fungsi dari faktor-faktor yang sama
dengan permintaan waktu santai pada persamaan di atas yaitu :
Sk

= f (P a , P m , W, P v , , E, Z h ), untuk j = p, w ; k = s, t ...(3.12)

dimana s menyatakan usahatani kelapa sawit, sedangkan t menyatakan usaha di


luar kelapa sawit, p menyatakan suami (petani) dan w menyatakan istri petani.
Selanjutnya dari persamaan (3.11) di atas akan diperoleh fungsi penawaran
produk usahatani dan permintaan input usahatani sendiri. Fungsi penawaran dan
permintaan input tersebut merupakan fungsi dari harga produk, upah tenaga kerja,
harga input variabel dan faktor lain sebagai input tetap dan karakteristik usahatani
(Z q ). Fungsi penawaran produk usahatani pokok dapat dinyatakan dengan
persamaan berikut:
Q a = f (P a , P m , W, P v , , E, Z q ) ......(3.13)
Fungsi permintaan input usahatani sendiri dinyatakan dengan persamaan berikut:

92

X k = f (P a , P m , W, P v , , E, Z q ) , untuk k = n, p, k, d, .... ..(3.14)


dimana n menyatakan input pupuk Nitrogen (N), p untuk input pupuk Posfat (P), k
untuk input pupuk Kalium (K) sedangkan d menyatakan input pestisida.
Pada penelitian ini, model ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit
yang dibangun menggunakan sistem persamaan simultan, dengan mempertimbangkan aspek teori dan karakteristik usahatani kelapa sawit sebagai usahatani keluarga.
Untuk perilaku yang tidak dapat diwakili oleh persamaan yang ada akan dijadikan
variabel eksogen, seperti variabel biaya penyusutan dan biaya pasca panen
persatuan produk. Sebaliknya apabila secara teoritik memerlukan variabel tertentu
tetapi data yang tersedia tidak memadai maka diganti dengan variabel sejenis
sebagai bentuk pendekatan (proxy), seperti: variabel upah non usahatani
menggunakan variabel pendapatan non usahatani. Variabel pendapatan bukan dari
aktivitas kerja (E) digunakan pendapatan rumahtangga dari sumber lain di luar
usahatani pokok kelapa sawit sebagai variabel eksogen, yang terdiri dari
pendapatan lahan pangan, pendapatan karet, pendapatan ternak dan pendapatan
non usahatani
4.5.

Dampak Faktor Eksternal dan Internal terhadap Kinerja Ekonomi


Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Menurut Sadoulet dan Janvry (1995) beberapa

bentuk campur tangan

(intervensi) pemerintah dalam pembangunan pertanian antara lain dapat berupa:


(1) subsidi pada usahatani di negara maju dengan programprice support,
(2) perpajakan pertanian di negara terbelakang dengan overvalued exchange rate,
proteksi dan pajak ekspor, (3) stabilisasi harga melalui stok pangan dan bea masuk
yang beragam, (4) swasembada pangan dan ketahan pangan, (5) penetapan skala

93

usaha penanaman secara minimum dan maksimum, (6) Subsidi pangan konsumen
dengan kebijakan pangan murah (fair price shop) dan kupon pangan (food stamps),
(7) subsidi input pupuk dan kredit, (8) pengawasan pasar monopolistik melalui
lembaga yang tepat, (9) peraturan persaingan pada pemasaran produk pertanian,
(10) transfer pendapatan dan harta secara langsung,

melalui reformasi lahan

(decoupling dan land reform), (11) investasi pemerintah berupa barang publik di
sektor pertanian, dan (12) pembangunan infrastruktur, irigasi, penelitian dan
penyuluhan.
Pemerintah paling banyak melakukan intervensi secara ekstensif di bidang
pertanian, karena mempunyai banyak konsekuensi dan kepentingan. Secara teoritis
adanya intervensi pemerintah baik berupa kebijakan (policy) maupun peraturan
(regulation) mempunyai dua alasan pokok, antara lain untuk mencapai: (1) tujuan
efisiensi, yaitu meningkatkan efisiensi penggunaan sumberdaya dan distribusi
pendapatan sekaligus untuk memperbaiki kegagalan pasar (market failure) yang
disebabkan oleh struktur pasar tidak sempurna, dan (2) tujuan non efisiensi, yaitu
menghasilkan efisiensi biaya sekaligus melindungi konsumen domestik akibat pasar
domestik terintegrasi dengan pasar dunia.

Beberapa argumen yang digunakan

untuk mengesahkan intervensi pemerintah yang berorientasi efisiensi, antara lain:


(1) adanya barang publik, (2) adanya eksternalitas, (3) skala ekonomi, (4) kekuatan
pasar, dan (5) biaya transaksi dan informasi yang tidak sempurna.
argumen yang berorientasi non efisiensi adalah:

Sedangkan

(1) kesejahteraan yaitu untuk

mengurangi kemiskinan penduduk dan distribusi pendapatan, (2) keberlangsungan


dan keadilan antar generasi, dan (3) ketahanan pangan serta aspek-aspek lain.
Beberapa kebijakan (policy) maupun peraturan (regulation) yang dilakukan
pemerintah

khususnya

pada

komoditi

kelapa

sawit

bertujuan

untuk:

(1)

94

mengendalikan laju inflasi, (2) mengendalikan pasokan CPO di dalam negeri melalui
pembatasan ekspor dan atau larangan ekspor dalam rangka menstabilkan harga
minyak goreng dalam negeri, (3) mencegah terjadinya distorsi pasar mengingat
struktur pasar CPO dan minyak goreng cenderung berbentuk pasar oligopoly, dan
(4) mencegah terjadinya eksploitasi harga TBS ditingkat kebun yaitu pada saat
pemasaran TBS petani plasma kepada perusahaan inti karena struktur pasar yang
terjadi tidak sempurna (cenderung berbentuk monopsoni).
Pada dasarnya pasar domestik kelapa sawit Indonesia terintegrasi dengan
pasar kelapa sawit dunia, dimana apabila terjadi fluktuasi harga CPO di pasar dunia
maka ketersediaan CPO dalam negeri menjadi terganggu. Jika terjadi kenaikan
harga CPO dunia maka produsen lebih tertarik mengekspor CPO ke manca negara,
akibatnya ketersediaan CPO di dalam negeri menjadi berkurang. Persediaan CPO
domestik sebagai bahan baku utama minyak goreng yang berkurang akan
meningkatkan harganya selanjutnya juga meningkatkan harga minyak goreng.
Sebaliknya terjadi jika harga CPO dunia turun maka ketersediaan CPO dalam negeri
berlebih sehingga harga CPO dan harga minyak goreng domestik turun.
Selanjutnya berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) yang dihasilkan
rumahtangga petani plasma.

Menurut Sukiyono (1995), faktor-faktor eksternal

seperti harga kelapa sawit, harga input, upah tenaga kerja dan perubahan teknologi
merupakan

faktor

penting

dalam

mempengaruhi

keputusan

petani

untuk

memperluas areal kebun kelapa sawit.


Kebijakan-kebijakan pemerintah pada dasarnya akan berdampak pada
distribusi tingkat kesejahteraan pelaku ekonomi dalam industri kelapa sawit,
termasuk kelangsungan usahatani kelapa sawit rumahtangga petani plasma.

95

Beberapa variabel yang dapat dilihat dampak perubahannya pada perilaku dan
kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma antara lain:
1. Peningkatan harga produk kelapa sawit (harga TBS) yang mana ditentukan oleh
trend perubahan harga CPO dan PKO di pasar domestik dan pasar dunia
selama 30 tahun.
2. Peningkatan harga pupuk (Nitrogen, Posfat dan Kalium) serta pestisida akibat
kenaikan harga bahan bakar minyak dan faktor inflasi
3. Kenaikan upah yang berlaku di lokasi kebun dengan mengacu pada trend upah
di kebun dan UMR daerah setempat, baik upah di kebun plasma maupun upah
di luar kebun plasma (dalam hal ini dipilih upah di kebun inti).
4. Peningkatan ongkos angkut TBS ke pabrik PKS akibat kenaikan harga bahan
bakar minyak dan peningkatan fee KUD sebagai dampak kenaikan inflasi.
5. Peningkatan secara bersama semua biaya (kenaikan harga input pupuk,
pestisida), upah dan biaya angkut serta fee KUD.
6. Peningkatan harga TBS dan kenaikan harga input (pupuk dan pestisida, upah di
kebun, kenaikan ongkos angkut dan fee KUD) secara bersama untuk melihat
dampaknya pada kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma.
7. Perluasan areal kebun plasma dengan memperhatikan ketersediaan lahan
petani yang sudah ada dan siap dikonversi menjadi kebun kelapa sawit.
8. Peningkatan tenaga kerja keluarga di kebun plasma untuk menggantikan
penggunaan tenaga kerja luar keluarga di kebun plasma (tenaga kerja upahan)
9.

Realokasi tenaga kerja keluarga yaitu peningkatan curahan tenaga kerja


keluarga di kebun plasma dengan mengurangi curahan tenaga kerja keluarga di
luar kebun plasma.

96

V. MODEL DAN PROSEDUR ANALISIS


Model adalah penjelasan fenomena aktual sebagai proses sistematis, yang
menjelaskan hubungan antar variabel dan dapat dinyatakan dalam bentuk
diagramatis maupun matematis (Koutsoyiannis, 1978). Menurut Silberberg (1990),
suatu model harus merupakan aspek logis secara murni suatu teori, sehingga suatu
model dapat menjadi suatu teori bila asumsi-asumsi yang berhubungan dengan
pembentukan teori ditambahkan pada objek nyata.

Selanjutnya Pindyck dan

Rubinfeld (1991) menyatakan bahwa melalui model ini peneliti dapat melakukan
analisis kebijakan (policy) dan peramalan (forecasting).
5.1.

Analisis Struktur, Perilaku dan Kinerja Ekonomi Perusahaan Inti Rakyat


Kelapa Sawit
Analisis secara umum struktur, perilaku dan kinerja ekonomi perusahaan inti

rakyat (PIR) kelapa sawit dilakukan secara deskriptif. Analisis struktur pasar dengan
mengkaji secara deskriptif bentuk pasar berdasarkan kriteria struktur pasar secara
teoritis dan bentuk pasar yang mungkin terbentuk pada perkebunan dengan bentuk
kemitraan perusahaan inti rakyat (PIR) menurut Tambunan (1996).
Analisis perilaku pelaku kemitraan (petani, inti dan koperasi) dilakukan
secara deskriptif dengan mengkaji tugas peserta PIR berdasarkan tahap
pembangunan, kewajiban dan hak masing-masing pelaku proyek PIR sebagai
komponen

kelembagaan

kemitraan

dengan

merujuk

pada

pedoman

yang

dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan Sumatera Selatan (2000) (Lampiran 6 dan 7).
Analisis kinerja PIR kelapa sawit dilakukan secara deskriptif tabulasi dengan
menghitung beberapa indikator kinerja antara lain: kelayakan teknis dan kelayakan
finansial/ekonomi.

Kelayakan teknis dicerminkan oleh umur tanaman kebun

97

dikonversi, waktu pelunasan kredit, dan produktivitas kebun.

Kelayakan

finansial/ekonomi: harga jual, penerimaan dan pendapatan kelapa sawit, rasio


penerimaan terhadap biaya (Return to Cost ratio) atau R/C, rasio manfaat terhadap
biaya (Benefit to Cost ratio) atau B/C dengan perhitungan tunai (finansial) dan
perhitungan ekonomi (memperhitungkan nilai tenaga kerja keluarga).
5.2.

Analisis Perilaku Produksi, Curahan Kerja, Penggunaan Input ddan


pengeluaran Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Dalam membangun model diawali dengan melakukan deskripsi tentang

perkembangan industri dan sistim kemitraan atau pola perusahaan inti rakyat (PIR)
kelapa sawit Sumatera Selatan serta pengkajian karakteristik rumahtangga petani
plasma. Hasil kajian secara deskriptif tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar
membangun model ekonomi rumahtangga petani plasma PIR kelapa sawit di
Provinsi Sumatera Selatan.

Tahap-tahap membangun model adalah sebagai

berikut:
1. Pengkajian kondisi umum wilayah penelitian, perkembangan industri kelapa
sawit dan perkembangan PIR kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan.
2. Memasukkan jenis kemitraan atau pola PIR sebagai variabel boneka (dummy
variable) sekaligus sebagai pendekatan (proxy) tingkat teknologi dan faktor
kelembagaan dalam model ekonomi rumahtangga petani plasma PIR kelapa
sawit.
3. Menyusun model ekonometrik dari model ekonomi rumahtangga petani kelapa
sawit, melakukan estimasi dan evaluasi model dengan mengkuti tahapan kerja
seperti dalam diagram pada Gambar 9.

98

DESKRIPSI KINERJA INDUSTRI DAN


PERUSAHAAN INTI RAKYAT KELAPA
SAWIT SUMATERA SELATAN

DESKRIPSI KARAKTERISTIK
RUMAHTANGGA PETANI
PLASMA KELAPA SAWIT

MODEL EKONOMI
RUMAHTANGGA PETANI
PLASMA KELAPA SAWIT

MODEL
EKONOMETRIK RUMAHTANGGA
PETANI PLASMA KELAPA SAWIT

ESTIMASI
PARAMETER

EVALUASI
MODEL

VALIDASI
MODEL

MODEL YANG
VALID

Gambar 9. Diagram Alur Pikir Membangun Model Ekonometrik Rumahtangga


Petani Plasma Kelapa sawit

99

5.2.1. Spesifikasi Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit


Model ekonometrika adalah suatu bentuk khusus dari model aljabar, dengan
unsur stokastik dari satu atau lebih variabel pengganggu (Intriligator, 1978).
Selanjutnya suatu model dikatakan baik jika model dapat memenuhi kriteria-kriteria
berikut: (1) kriteria ekonomi, yaitu berhubungan dengan tanda (sign) dan besaran
(magnitude) dari parameter estimasi, (2) kriteria statistik, yaitu berhubungan dengan
uji statistik, dan (3) kriteria ekonometrik, yaitu mencakup asumsi ekonometrik. Dari
ketiga kriteria di atas yang lebih penting adalah kriteria ekonomi, selanjutnya baru
diperhatikan kriteria statistik dan ekonometrik (Koutsoyiannis, 1978).

Dalam

spesifikasi model ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit dideskripsikan


seluruh variabel yang digunakan dalam model tersebut.
Model ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit menggunakan data
cross section sehingga variabel penjelas (expalanatory variables) hanya berupa
variabel eksogen, tanpa variabel beda kala (lagged variable).
digunakan

Variabel yang

pada model ini hanya terdiri dari variabel endogen dan eksogen.

Variabel endogen adalah variabel yang nilainya ditentukan didalam model,


sedangkan variabel eksogen merupakan variabel yang nilainya ditentukan di luar
model.
Model ekonomi yang dibangun dalam penelitian ini adalah model ekonomi
rumahtangga non rekursif dan menggunakan sistem persamaan simultan. Sistem
persamaan simultan dipilih karena dianggap dapat menggambarkan kompleksitas
keterkaitan antar variabel ekonomi rumahtangga petani.

Secara teoritik jumlah

variabel yang menggambarkan perilaku ekonomi rumahtangga petani tidak terbatas,


akantetapi karena keterbatasan data maka penyusunan model disesuaikan dengan
tujuan penelitian dan ketersediaan data yang relevan.

100

Sistem persamaan yang digunakan terdiri dari beberapa persamaan


struktural dan identitas, dimana jumlah persamaan mencerminkan jumlah variabel
endogen yaitu variabel yang berada pada sisi sebelah kiri persamaan.

Setiap

persamaan yang dibangun disamping mempertimbangkan aspek teori juga karakteristik data yang tersedia. Apabila secara teoritis suatu persamaan memerlukan
variabel tertentu tetapi data yang tersedia tidak ada atau tidak memadai maka
diganti variabel sejenis sebagai bentuk pendekatan (proxy). Jika dalam pemilihan
variabel-variabel penjelas terdapat ketidakcocokan dengaan teori ekonomi maka
dilakukan transformasi, seperti dalam bentuk rasio, pangkat, nilai rata-rata dan lainlain.

Melalui pendekatan seperti ini maka model yang dibangun adalah model

sistem persamaan simultan yang telah mengalami spesifikasi beberapa kali dan
merupakan model yang paling memungkinkan digunakan secara operasioanal.
Usahatani kelapa sawit dengan pola PIR mempunyai beberapa ciri khas
maka model rumahtangga petani plasma kelapa sawit juga memiliki ciri tersendiri.
Karakteristik komoditi kelapa sawit sebagai tanaman perdagangan (cash crops)
sehingga posisi rumahtangga petani sebagai produsen hanya sebagai penerima
harga (price taker) untuk pasar komoditi tersebut. Produksi kelapa sawit berupa
tandan buah segar (TBS) dijual semuanya ke pabrik pengolahan kelapa sawit,
karena buah sawit yang dihasilkan tidak mungkin dikonsumsi langsung sehingga
jumlah produk yang dipasarkan (marketed surplus) merupakan total produksi kelapa
sawit yang dihasilkan petani (konsumsi dari usahatani kelapa sawit adalah nol).
Dari hasil penurunan fungsi Lagrange yang memaksimumkan fungsi Utilitas
rumahtangga petani diperoleh fungsi permintaan rumahtangga terhadap barang dan
waktu santai rumahtangga petani, dimana fungsi permintaan merupakan fungsi dari
harga produk, upah, harga input variabel non tenaga kerja (pupuk dan pestisida),

101

pendapatan usahatani pokok, pendapatan bukan dari aktivitas kerja dan karakteristik
rumahtangga petani. Karakteristik rumahtangga petani dicirikan oleh umur, tingkat
pendidikan, pengalaman dalam usahatani, jumlah anggota keluarga, jumlah anak
sekolah, jumlah anak balita dan etos kerja yang didekati dengan dummy varaiabel
asal daerah (penduduk lokal atau pendatang). Selanjutnya pada setiap persamaan
yaitu penawaran produk, permintaan atau konsumsi barang maupun penawaran
tenaga kerja tidak menggunakan semua variabel penjelas sekaligus dalam setiap
persamaan, tetapi dapat dimasukan ke dalam persamaan struktural lain, selanjutnya
persamaan tersebut dapat masuk ke persamaan berikutnya sehingga terjadi
keterkaitan yang erat sebagai ciri khas sistem persamaan simultan.
Sebagai contoh variabel harga input variabel dapat mempengaruhi produksi
melalui penggunaan input (pupuk dan pestisida). Selanjutnya penggunaan input
variabel ini akan mempengaruhi persaamaan produktifitas kebun kelapa sawit.
Penggunaan input tenaga kerja keluarga di kebun plasma merupakan penawaran
tenaga kerja keluarga di kebun sendiri, mengingat petani dapat mencari tenaga kerja
upahan untuk kebun plasma sebagai tenaga substitusi, selain itu petani juga dapat
bekerja pada usaha di luar usahatani kelapa sawit dengan tingkat upah yang berlaku
atau nilai kompensasi yang diterima.
Dalam penelitian ini hanya melihat permintaan rumahtangga terhadap
barang, tidak mengkaji permintaan terhadap waktu santai.

Permintaan terhadap

barang yang dibeli di pasar dinyatakan dengan besarnya pengeluaran untuk


mengkonsumsi barang tersebut yang dibagi berdasarkan pengeluaran untuk
konsumsi pangan dan konsumsi non pangan.

Selain itu dilihat juga perilaku

pengeluaran untuk konsumsi yang ditunda atau investasi yaitu pengeluaran untuk
investasi pendidikan, kesehatan, produksi, asuransi, dan tabungan.

102

Model operasional ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit dibagi


menjadi empat blok, yaitu: (1) blok produksi, (2) blok curahan tenaga kerja, (3) blok
biaya produksi dan pendapatan, dan (4) blok pengeluaran dan pelunasan kredit
yang disajikan pada Tabel 11.
Tabel 11. Komponen Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa
Sawit
No

Blok

Produksi

Curahan Kerja

Nomor
Persamaan
1-3
1
2
3
4 - 11
4
5
6
7
8
9
10
11

Biaya dan
Pendapatan

Komponen

S/I

Luas Areal KS Kebun Plasma


Produktivitas K S Kebun Plasma
Produksi Total Kelapa Sawit

S
S
I

Curahan TK Suami di Kebun Plasma


KS
Curahan TK Istri di Kebun Plasma KS
Total Curahan Kerja Keluarga di Kebun
Plasma
Total Curahan Kerja di Kebun Plasma
Produktivitas TK di Kebun Plasma
Curahan TK Suami di Luar Kebun
Plasma
Curahan Kerja Istri di Luar Kebun
Plasma
Total Curahan Kerja Keluarga di Luar
Kebun Plasma

S
S
I
I
I
S
S
I

12 - 30
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23

Penggunaan Pupuk Nitrogen


Penggunaan Pupuk Posfat
Penggunaan Pupuk Kalium
Penggunaan Pupuk Komposit
Penggunaan Pestisida
Biaya Pupuk Nitrogen
Biaya Pupuk Posfat
Biaya Pupuk Kalium
Biaya Pestisida
Biaya Tenaga Kerja Upahan
Biaya Produksi Kebun Plasma
Nilai Produksi Total

S
S
S
I
S
I
I
I
I
I
I
I

103

Tabel 11. Lanjutan


No

Blok

Pengeluaran
dan Pelunasan
Kredit

Nomor
Persamaan
24
25
26
27
28
29
30
31 - 36
31
32
33
34
35
36

Komponen

S/I

Biaya Administrasi
Biaya Transportasi
Biaya Manajemen KUD
Biaya Produksi Total Kelapa Sawit
Pendapatan Kelapa Sawit
Pendapatan Luar Kelapa Sawit
Pendapatan Keluarga

I
I
I
I
I
I
I

Konsumsi Pangan
Investasi Pendidikan
Investasi Kesehatan
Pengeluaran Asuransi
Total Pengeluaran Keluarga
Periode Pelunasan Kredit

S
S
S
S
I
S

Keterangan: KS = Kelapa Sawit


S = Persamaan Struktural
I = Persamaan Identitas.
A. Blok Produksi
1. Fungsi Luas Areal Kelapa Sawit Kebun Plasma
Model ekonomi rumahtangga petani plasma memerlukan fungsi produksi.
Secara teoritis fungsi produksi diduga dipengaruhi oleh penggunaan input variabel
dan input tetap serta karakteristik usahatani. Kegitan produksi kelapa sawit dapat
dibagi menjadi dua persamaan yaitu persamaan luas areal kelapa sawit di kebun
plasma (LAKS) dan produktivitas kebun plasma (YKKS).
Fungsi luas areal kebun plasma (LAKS) diduga dipengaruhi oleh total input
tenaga kerja yang dibutuhkan untuk mengelola kebun plasma (TCTKKS), input tetap
yang diwakili oleh nilai aset lahan (ASETLHN).

Nilai aset lahan mencerminkan

faktor produksi lahan yang dapat digunakan untuk perluasan kebun kelapa sawit,

104

satuan yang digunakan adalah nilai lahan untuk menggambarkan perbedaan kondisi
lahan pada waktu dibeli petani.

Variabel lain sebagai sumber modal adalah

pendapatan kelapa sawit (PDPTKS) dan pendapatan luar kelapa sawit yang diwakili
oleh pendapatan lahan pangan (PDPTLPG) dan pendapatan non usahatani
(PDPTNUT). Selain itu digunakan variabel boneka untuk melihat perbedaan luas
kebun plasma jika usahatani sebagai usaha pokok atau bukan (DKSUPP).
Semua variabel di atas kecuali pendapatan lahan pangan sebagai faktor
produksi sehingga diharapkan bertanda positif. Usaha pada lahan pangan dianggap
menyaingi usaha perkebunan kelapa sawit dalam penggunaan lahan sehingga
pendapatan dari lahan pangan mempunyai tanda negatif. Persamaan luas areal
kelapa sawit dalam bentuk struktural dan dirumuskan sebagai berikut:
LAKS = a 0 + a 1 TCTKKS + a 2 ASETLHN + a 3 PDPTKS + a 4 PDPTLPG
a 5 PDPTNUT + a 6 DKSUPP + 1 ..........(1)
Hipotesis parameter estimasi: a 1 , a 2 , a 3 , a 4 , a 6 > 0 ; a 5 < 0,
dimana:
LAKS

= luas areal kelapa sawit kebun plasma (hektar)

TCTKKS

= total curahan tenaga kerja keluarga di kebun plasma


(HOK/tahun)

ASETLHN = nilai aset lahan (Rp000)


PDPTKS

= pendapatan kelapa sawit dari kebun plasma(Rp000/tahun)

PDPTLPG = pendapatan dari usahatani lahan pangan (Rp000/tahun)


PDPTNUT = pendapatan dari non usahatani (Rp000/tahun)
DKSUPP

= variabel boneka (dummy variable ),


dimana: 1
0

= jika usahatani kelapa sawit usaha pokok


= jika usahatani kelapa sawit bukan usaha pokok.

105

2. Produktivitas Kebun Plasma Kelapa sawit


Secara teoritis fungsi produktivitas sama dengan fungsi produksi. Fungsi
produktivitas kebun plasma (YKKS) dipengaruhi oleh harga TBS (HTBS),
penggunaan input pupuk sebagai barang komposit (QIP), curahan tenaga kerja
keluarga (CTKKS) dan curahan tenaga kerja upahan (CTKUKS) di kebun plasma,
jumlah pohon kelapa sawit per kapling (JBTKS), produktivitas tenaga kerja sebagai
proxy kualitas tenaga kerja (YTKKS). Semua variabel di atas kecuali harga produk
merupakan faktor produksi (endowment factors) yang menentukan produktifitas
kebun kelapa sawit, sehingga diharapkan tandanya positif. Persamaan produktivitas
kebun plasma dalam bentuk struktural dan dirumuskan sebagai berikut:
YKKS = b 0 + b 1 HTBS + b 2 QIP + b 3 CTKKS + b 4 CTKUKS + b 5 JBTKS +
b 6 YTKKS +

.......................................(2)

Hipotesis parameter estimasi:

b1 , b 2 , b3, b4 , b6 > 0

dimana:
YKKS

= produktivitas kebun plasma (kg TBS/ha)

HTBS

= harga komoditi kelapa sawit atau TBS (Rp/kg)

QIP

= penggunaan input sebagai barang komposit (kg/tahun)

CTKKS = curahan tenaga kerja keluarga di kebun plasma (HOK/tahun)


CTKUKS = curahan tenaga kerja luar keluarga di kebun plasma (HOK/tahun)
JBTKS

= jumlah pohon kelapa sawit per kapling (pohon/kapling)

YTKKS

= produktivitas tenaga kerja di kebun plasma (kg/HOK).

3. Produksi Kelapa sawit kebun plasma


Produksi kelapa sawit kebun plasma (QTKS) merupakan perkalian luas areal
kebun plasma (LAKS) dengan produktivitas kebun plasma (YKKS), sehingga

106

variabel-variabel penjelas produksi dapat masuk melalui persamaan luas areal dan
atau persamaan produktivitas.

Persamaan produksi kelapa sawit dalam bentuk

identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:


QTKS = LAKS * YKKS ......(3)
dimana:
QTKS = produksi total kelapa sawit kebun plasma (kg/tahun).
B. Blok Curahan Tenaga Kerja
4. Curahan Kerja Petani Plasma (Suami) di Kebun Plasma Kelapa Sawit
Curahan kerja suami di kebun plasma kelapa sawit (CTKKSPP) dapat
dianggap sebagai penawaran tenaga kerja keluarga pada kebun sendiri karena
setiap saat petani dapat bekerja di kebun plasma sendiri atau bekerja di luar kebun
plasma (kebun inti, kebun plasma petani lain) pada tingkat upah yang berlaku
(UPAHKS). Makin tinggi upah di kebun plasma maka makin tinggi curahan kerja
suami di kebun plasma sendiri, karena suami memilih mengelola kebun sendiri
dibandingkan bekerja di luar kebun plasma untuk menghemat biaya upah tenaga
kerja, sehingga variabel upah di kebun plasma mempunyai tanda positif. Tingkat
upah di kebun inti (UPAHINT) bersifat bersaing dengan tingkat upah di kebun
plasma sehingga tandanya diharapkan negatif.
Luas areal kebun plasma (LAKS) dan umur tanaman kelapa sawit (UTKS)
mencerminkan karakteristik usahatani, dimana variabel ini mencerminkan kebutuhan
curahan kerja pada usahatani kelapa sawit di kebun plasma sehingga diharapkan
bertanda positif. Makin luas kebun plasma maka makin banyak dibutuhkan curahan
kerja. Demikian juga makin tua umur tanaman maka makin tinggi pohon kelapa
sawit sehingga memerlukan waktu kerja yang lebih lama.

Curahan kerja anak

107

(CTKKSAN) dan tenaga kerja luar keluarga atau tenaga upahan (CTKUKS)
merupakan substitusi tenaga kerja petani di kebun plasma sehingga diharapkan
bertanda negatif.

Menurut Benjamin dan Guyomard (1994), perilaku suami

dipengaruhi oleh karakteristik usahatani sedangkan partisipasi istri tergantung pada


karakteristik individu dan karakteristik rumahtangga dalam pasar tenaga kerja luar
usahatani.
Umur (UMPP) dan pengalaman petani (PUTKS) mewakili karakteristik petani
sekaligus mencerminkan kemampuan fisik dan kualitas kerja sehingga makin tua
umur makin kecil curahan kerjanya, sebaliknya makin berpengalaman petani maka
makin tinggi curahan kerjanya.

Asal daerah petani mencerminkan etos kerja

(DADPP), dimana petani yang berasal dari penduduk lokal (Sumatera Selatan)
umumnya mempunyai etos kerja lebih buruk yaitu curahan kerja lebih rendah,
sehingga diharapkan tandanya negatif. Persamaan curahan kerja petani plasma
pada kebun plasma dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
CTKKSPP = c 0 + c 1 UPAHKS + c 2 UPAHINTI + c 3 LAKS + c 4 UTKS +
c 5 CTKKSAN + c 6 CTKUKS + c 7 UMPP + c 8 PUTKS +
c 9 DADPP + 3 .(4)
Hipotesis parameter estimasi: c 1 , c 3 , c 4 , c 8 > 0 ; c 2 , c 5 , c 6 , c 7 , c 9 < 0
dimana:
CTKKSPP= curahan tenaga kerja suami di kebun plasma (HOK/tahun)
UPAHKS = upah di kebun kelapa sawit milik plasma (Rp/HOK)
UPAHINTI = upah di kebun kelapa sawit milik Inti (Rp/HOK)
UTKS

= umur tanaman kelapa sawit kebun plasma (tahun)

CTKKSAN = curahan tenaga kerja anak di kebun plasma (HOK/tahun)


UMPP

= umur suami (petani) (tahun)

108

PUTKS

= pengalaman dalam usahatani kelapa sawit (tahun)

DADPP

= dummy variable asal daerah


dimana 1 = penduduk lokal ; 0 = penduduk pendatang.

5. Curahan Kerja Istri Petani di Kebun Plasma


Curahan kerja istri di kebun plasma (CTKKSIP) dapat dianggap sebagai
penawaran tenaga kerja anggota keluarga pada kebun plasma sendiri. Variabelvariabel yang digunakan memerlukan penjelasan yang sama dengan persamaan
curahan tenaga kerja suami di kebun plasma, kecuali variabel jumlah anak balita
(JABALT).

Jumlah anak balita dianggap membatasi waktu istri untuk bekerja di

kebun plasma karena harus merawat anak di rumah, sehingga diharapkan bertanda
negatif. Persamaan curahan kerja istri petani pada kebun plasma dalam bentuk
struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
CTKKSIP = d 0 + d 1 LAKS + d 2 UTKS + d 3 CTKKSAN + d 4 CTKUKS +
d 5 JABALT + d 6 UMIPP + d 7 PUTKS + d 8 DADPP +

.(5)

Hipotesis parameter estimasi: d 1 , d 2 , d 7 > 0 ; d 3 , d 4 , d 5 , d 6 , d 8 < 0


dimana:
CTKKSIP = curahan kerja istri di kebun plasma kelapa sawit (HOK/tahun)
JABALT

= jumlah anak balita (orang)

UMIPP

= umur istri petani (tahun).

6. Curahan Tenaga Kerja Keluarga di Kebun Plasma


Curahan tenaga kerja keluarga di kebun plasma (CTKKS) merupakan
penjumlahan curahan tenaga kerja suami (CTKKSPP), curahan tenaga kerja istri
(CTKKSIP) dan curahan tenaga kerja anak (CTKKSAN) di kebun plasma.
Persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
CTKKS = CTKKSPP + CTKKSIP + CTKKSAN ...........(6).

109

7. Total Curahan Tenaga Kerja di Kebun Plasma


Total curahan tenaga kerja di kebun plasma (TCTKKS) merupakan
penjumlahan curahan tenaga kerja keluarga petani (CTKKS) dengan curahan
tenaga kerja dari luar keluarga atau tenaga kerja upahan di kebun plasma
(CTKUKS). Persamaannya dalam bentuk identitas dan dirumuskan sebagai berikut:
TCTKKS = CTKKS + CTKUKS ............(7).
8.

Produktivitas Tenaga Kerja di Kebun Plasma


Produktivitas tenaga kerja di kebun plasma (YTKKS) merupakan rasio

produksi kelapa sawit (QTKS) dengan total curahan tenaga kerja di kebun plasma
(TCTKKS). Persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai
berikut:
YTKKS = QTKS / TCTKKS .............(8).
9. Curahan Tenaga Kerja Petani (Suami) di Luar Kebun Plasma
Seperti halnya curahan kerja suami pada kebun plasma maka curahan kerja
suami di luar kebun plasma (CTKLKSPP) juga dapat dianggap sebagai penawaran
tenaga kerja keluarga diluar kebun plasma.

Curahan kerja suami diluar kebun

plasma diduga dipengaruhi oleh upah di kebun inti (UPAHINT) atau kompensasi lain
seperti pendapatan non usahatani (PDPTNUT), sehingga diharapkan bertanda
positif. Pilihan kerja luar usahatani menurut Corsi (1994) ditentukan oleh preferensi
dan ekspektasi pendapatan akibat peranan pasar tenaga kerja yang tidak sempurna.
Penggunaan tenaga kerja suami di luar kebun plasma juga dipengaruhi oleh
luas areal yang digarap selain untuk kebun plasma (LALKS), hal ini mencerminkan
besarnya waktu yang dapat dicurahkan suami di luar kebun plasma sehingga makin
luas lahan yang tersedia maka makin besar curahan kerja suami. Keputusan suami

110

bekerja di luar kebun plasma untuk mencari tambahan pendapatan agar dapat
menutupi pengeluaran rumahtangga (TPENGKP), sehingga variabel ini diharapkan
bertanda positif.
Curahan kerja suami ditentukan juga oleh karakteristik suami seperti
pengalaman usahatani (PUTKS) dan lama pendidikan formal (LPDPP).

Jenis

pekerjaaan yang tersedia di luar kebun plasma umumnya tidak memerlukan tingkat
pendidikan yang tinggi, tetapi hanya sebagai pekerja kasar sehingga lebih
mengutamakan pengalaman dan kemampuan fisik, sehingga variabel PUTKS
diharapkan bertanda positif, sedangkan variabel LPDPP diharapkan bertanda
negatif.

Persamaannya dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai

berikut:
CTKLKSPP = e 0 + e 1 UPAHINTI + e 2 PDPTNUT + e 3 LALKS +
e 4 TPENGKP + e 7 PUTKS + e 8 LPDPP +

............(9)

Hipotesis parameter estimasi: e 1 , e 2 , e 3 , e 4 , e 5 , e 6 , e 7 > 0 ; e 8 < 0


dimana:
CTKLKSPP = curahan tenaga kerja petani (suami) di luar kebun plasma
(HOK/tahun)
LALKS

= luas areal di luar kebun plasma (hektar)

TPENGKP = total pengeluaran rumahtanga petani (Rp000/tahun)


LPDPP

= lama pendidikan formal suami (tahun).

10. Curahan Tenaga Kerja Istri Petani di Luar Kebun Plasma


Persamaan

curahan kerja

istri

di

luar kebun

plasma

(CTKLKSIP)

memerlukan penjelasan sama dengan curahan kerja suami di luar kebun plasma.
Istri petani mempunyai pilihan untuk bekerja di kebun plasma atau luar kebun
plasma tergantung tingkat upah dalam hal ini diwakili oleh upah di kebun inti

111

(UPAHINT) atau kompensasi yang diterimanya jika bekerja di luar kebun plasma,
dalam hal ini berupa pendapatan non usahatani (PDPTNUT), sehingga UPAHINT
dan PDPTNUT diharapkan bertanda positif, sedangkan upah di kebun plasma
(UPAHKS) sebagai kompensasi yang harus dikorbankan jika bekerja di luar kebun
plasma diharapkan bertanda negatif.
Curahan kerja istri petani dipengaruhi juga oleh karakteristik ussahatani yaitu
luas kebun plasma (LAKS) dan karakteristik keluarga yaitu keberadaan jumlah anak
balita (JABALT) yang membatasi waktu istri untuk bekerja di luar kebun plasma,
dimana makin luas kebun plasma dan makin banyak anak balita maka waktu yang
tersedia makin sedikit untuk bekerja di luar kebun plasma atau curahan kerja di luar
kebun plasma makin kecil, sehingga kedua variabel ini diharapkan bertanda negatif.
Karakteristik individu pada istri petani dicerminkan oleh pengalaman
usahatani (PUTKS) dan lama pendidikan formal (LPDIPP). Pengaruh pengalaman
dan pendidikan formal terhadap penawaran tenaga kerja keluarga di luar kebun
plasma (terutama istri) sebenarnya tidak bisa diduga, namun jika diasumsikan
bahwa lapangan kerja di luar kebun plasma yang dipilih oleh istri petani terbatas
hanya pekerjaan yang memerlukan keahlian dan pendidikan lebih tinggi maka kedua
varibel ini dapat dianggap berpengaruh positif. Jika jenis pekerjaan yang tersedia di
luar kebun plasma memerlukan kerja fisik yang lebih berat daripada di kebun plasma
maka istri lebih memilih bekerja di kebun plasma sendiri mengingat keterbatasan
waktu untuk kerja fisik yang dimiliki. Persamaan curahan kerja istri petani di luar
kebun plasma dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
CTKLKSIP = f 0 + f 1 UPAHINTI + f 2 PDPTNUT + f 3 UPAHKS + f 4 LAKS +
f 5 JABALT + f 6 PUTKS + f 7 LPDIPP +

....(10)

Hipotesis parameter estimasi: f 1 , f 2 , f 6 , f 7 > 0 ; f 3 , f 4 , f 5 < 0

112

dimana:
CTKLKSIPP = curahan kerja istri petani di luar kebun plasma (HOK/tahun)
LPDIPP

= lama pendidikan formal istri petani plasma (tahun).

11. Total Curahan Tenaga Kerja Keluarga Petani di Luar Kebun Plasma
Total curahan tenaga kerja keluarga petani di luar kebun plasma (CTKLKS)
merupakan

penjumlahan

curahan

tenaga

kerja

suami

(CTKLKSPP),

istri

(CTKLKSIP) dan anak (CTKLKSAN) di luar kebun plasma. Persamaannya dalam


bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
CTKLKS = CTKLKSPP + CTKLKSIP + CTKLKSAN .....(11)
dimana:
CTKLKS

= total curahan tenaga kerja keluarga di luar kebun plasma


(HOK/tahun)

CTKLKSAN = curahan tenaga kerja anak di luar kebun plasma


(HOK/tahun).
C. Blok Biaya Produksi dan Pendapatan
Model Ekonomi rumahtangga petani dapat juga dibedakan berdasarkan
perilakunya yang bersifat rekursif atau non rekursif, seperti yang dilakukan Rose dan
Graham (1986), Lambart dan Magnac (1994). Hal yang berlawanan dilakukan oleh
Iqbal (1986) dan Sicular (1986) yang melepaskan karakteristik rekursif. Demikian
juga Lopez (1986) membuktikaan bahwa model rumahtangga petani tidak bersifat
rekursif lagi atau bersifat non rekursif.

Pada penelitian ini ingin dibuktikan juga

bahwa perilaku rumahtangga petani plasma bersifat non rekursif yang dicirikan oleh
keputusan

produksi

akan

mempengaruhi

keputusan

konsumsi

keputusan konsumsi juga akan mempengaruhi keputusan produksi.

selanjutnya

113

12. Penggunaan atau Permintaan Input Pupuk Nitrogen


Penggunaan input pupuk Nitrogen (QIPN) dapat dianggap sebagai fungsi
permintaan input dimana dipengaruhi oleh harga input itu sendiri, harga input lain,
harga output, pendapatan dan karakteristik usahatani. Karena tanda harga input
dan harga output tidak sesuai dengan harapan, maka digunakan transformasi
berupa rasio harga input pupuk N terhadap harga produk TBS (RHIPNTBS) yang
diharapkan hasil rasionya bertanda negatif. Variabel upah mewakili harga input lain
(UPAHKS), dianggap sebagai harga dari input substitusi sehingga diharapkan
tandanya posistif. Pendapatan non usahatani (PDPTNUT) dan pendapatan lahan
pangan (PDPTLPG) merupakan sumber modal rumahtangga petani untuk
membiayai usahataninya sehingga tandanya diharapkan positif.
Variabel pengeluaran untuk pangan (KONSPNG) dan investasi kesehatan
(INVSKES) mewakili variabel keputusan pengeluaran konsumsi yang mempengaruhi
pengeluaran untuk produksi, sehingga kedua variabel pengeluaran ini saling terkait
dan bersaing dalam alokasi anggaran rumahtangga sehingga tanda yang
diharapkan negatif.
Karaktersitik usahatani diwakili oleh variabel luas areal kebun plasma (LAKS)
dan umur tanaman kelapa sawit (UTKS).

Variabel dummy pola PIR-Trans

(DPIRKS 1 ) mencerminkan pengaruh faktor kelembagaan (pola PIR-Trans) dimana


pada pola ini dosis pupuk Nitrogen per hektar relatif lebih tinggi dibandingkan pola
PIR lainnya, sehingga tanda yang diharapkan positif.

Persamaan penggunaan

pupuk Nitrogen dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
QIPN = g 0 + g 1 RHIPNTBS + g 2 UPAHKS + g 3 LAKS + g 4 UTKS +
g 5 PDPTNUT + g 6 PDPTLPG + g 7 KONSPNG + g 8 INVSKES +
g 9 DPIRKS 1 +

........(12)

114

Hipotesis parameter estimasi: g 2 , g 3 , g 4 , g 5 , g 6 , g 9 > 0 ; g 1 , g 7 , g 8 < 0


dimana:
QIPN

= penggunaan input pupuk Nitrogen (kg/tahun)

RHIPNTBS = rasio harga pupuk Nitrogen dengan harga produk kelapa sawit
KONSPNG = pengeluaran untuk konsumsi pangan (Rp000/tahun)
INVSKES

= pengeluaran untuk investasi kesehatan (Rp000/tahun).

DPIRKS 1

= variabel boneka (dummy variable),


dimana:

1 = pola PIR-Trans
0 = selain pola PIR-Trans.

13. Penggunaan atau Permintaan Input Pupuk Posfat


Persamaan penggunaan atau permintaan input pupuk Posfat (QIPP)
memerlukan penjelasan yang sama dengaan persamaan penggunaan pupuk
Nitrogen (QIPN), akan tetapi dalam persamaan ini dapat digunakan langsung harga
input pupuk posfat (HIPP) tanpa melalui transformasi.

Persamaan penggunaan

input pupuk posfat dalam bentuk struktural dan dirumuskan sebagai berikut:
QIPP = h 0 + h 1 HIPP+ h 2 UPAHKS + h 3 LAKS + h 4 UTKS + h 5 PDPTNUT +
h 6 PDPTLPG + h 7 KONSPNG + h 8 INVSKES + h 9 DPIRKS 1 + 8
..........(13)
Hipotesis parameter estimasi: h 2 , h 3 , h 4 , h 5 , h 6 , h 9 > 0 ; h 1 , h 7 , h 8 < 0
dimana:
QIPP = penggunaan atau permintaan input pupuk Posfat (kg/tahun)
HIPP = harga input pupuk Posfat (Rp /kg).
14. Penggunaan atau Permintaan Input Pupuk Kalium
Persamaan penggunaan atau permintaan input pupuk Kalium (QIPK)
memerlukan penjelasan yang sama dengan persamaan penggunaan input pupuk

115

lainnya (QIPN dan QIPP), akan tetapi dalam persamaan ini dapat digunakan
variabel harga input pupuk kalium (HIPK) dan harga output (TBS) secara terpisah.
Persamaan penggunaan pupuk Kalium dalam bentuk struktural dan dirumuskan
sebagai berikut:
QIPK = i 0 + i 1 HIPK + i 2 UPAHKS + i 3 HTBS + i 4 LAKS + i 5 PDPTNUT +
i 6 KONSPNG + i 7 INVSKES + i 8 DPIRKS 1 + 9 ......(14)
Hipotesis parameter estimasi: i 2 , i 3 , i 4 , i 5 , i 8 > 0 ; i 1 i 6 , i 7 < 0
dimana:
QIPK = penggunaan atau permintaan input pupuk Kalium (kg/tahun)
HIPK = harga input pupuk Kalium (Rp/kg).
15. Penggunaan Pupuk Komposit
Penggunaan input pupuk gabungan (sebagai barang komposit) dinyatakan
dalam satuan fisik rata-rata tertimbang, persamaannya dalam bentuk identitas dan
dapat dirumuskan sebagai berikut:
QIP = ((QIPN*HIPN) + (QIPP*HIPP) + (QIPK*HIPK)) : (HIPN+HIPP+HIPK)
.(15)
dimana:
QIP = penggunaan pupuk sebagai barang komposit (kg/tahun).
16. Biaya Penggunaan Input Pupuk Nitrogen
Biaya penggunaan pupuk Nitrogen (BIPN) dinyatakan dalam ribuan rupiah
per tahun, persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai
berikut:
BIPN = (QIPN*HIPN) /1000 ......(16)
dimana:
BIPN = biaya penggunaan pupuk Nitrogen di kebun plasma (Rp000/tahun).

116

17. Biaya Penggunaan Input Pupuk Posfat


Biaya penggunaan pupuk Posfat (BIPP) dinyatakan dalam ribuan rupiah per
tahun, persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
BIPP = (QIPP*HIPP) /1000 .......(17)
dimana:
BIPP= biaya penggunaan pupuk posfat di kebun plasma (Rp000/tahun).
18. Biaya Penggunaan Input Pupuk Kalium
Biaya penggunaan pupuk Kalium (BIPK) dinyatakan dalam ribuan rupiah per
tahun, persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
BIPK = (QIPK*HIPK) /1000 .......(18)
dimana:
BIPK = biaya penggunaan pupuk kalium di kebun plasma (Rp000/tahun).
19. Penggunaan atau Permintaan Input Pestisida
Persamaan penggunaan atau permintaan input pestisida (QIPD) memerlukan
penjelasan yang sama dengan persamaan penggunaan input pupuk, dimana dalam
persamaan ini dapat digunakan harga input pestisida (HIPD) tanpa melalui
transformasi. Persamaan penggunaan input pestisida dalam bentuk struktural dan
dapat dirumuskan sebagai berikut:
QIPD = j 0 + j 1 HIPD + j 2 UPAHKS + j 3 LAKS + j 4 UTKS + j 5 PDPTNUT
+ j 6 PDPTLPG +

10

....(19)

Hipotesis parameter estimasi: j 2 , j 3 , j 4 , j 5 , j 6 > 0 ; j 1 , < 0


dimana:
QIPD = penggunaan atau permintaan input pestisida (liter/tahun)
HIPD = harga input pestisida (Rp/liter).

117

20. Biaya Penggunaan Input Pestisida


Biaya penggunaan pestisida (BIPD) merupakan hasil perkalian penggunaan
input pestisida (QIPD) dengan harganya (HIPD) yang dinyatakan dalam ribuan
rupiah per tahun. Persamaannya dalam bentuk identitas dan dirumuskan sebagai
berikut:
BIPD = (QIPD * HIPD)/1000 .........(20)
dimana:
BIPD = biaya penggunaan pestisida pada kebun plasma (Rp000/tahun).
21. Biaya Upah Tenaga Kerja Luar Keluarga
Biaya upah tenaga kerja luar keluarga atau tenaga upahan (BTKUKS)
merupakan perkalian curahan tenaga kerja upahan (CTKUKS) dengan upah yang
berlaku di kebun plasma (UPAHKS) dinyatakan dalam ribuan rupiah per tahun.
Persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
BTKUKS = (CTKUKS * UPAHKS) / 1000........(21)
dmana:
BTKUKS = biaya tenaga kerja upahan pada kebun plasma (Rp000/tahun).
22. Biaya Produksi Kelapa sawit di Kebun Plasma
Biaya produksi kelapa sawit di kebun plasma merupakan penjumlahan biaya
pembelian pupuk (BIPN, BIPP dan BIPK), biaya pembelian pestisda (BIPD), biaya
upah tenaga kerja (BTKUKS) dan biaya penyusutan alat (BPALKS). Persamaannya
dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
BPRKS = BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS.........(22)
dimana:
BPRKS = Biaya produksi kelapa sawit (Rp 000/tahun)
BPALKS = biaya penyusutan alat pada kebun plasma (Rp000/tahun).

118

23. Nilai Produk Total Kelapa Sawit


Nilai produk total kelapa sawit (NPTKS) merupakan perkalian produksi
kelapa sawit di kebun plasma (QTKS) dengan harga produk kelapa sawit persatuan
(HTBS) dinyatakan dalam ribuan rupiah per tahun. Persamaannya dalam bentuk
identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
NPTKS = (QTKS * HTBS) / 1000..... ...(23)
dimana:
NPTKS = nilai produk total kelapa sawit yang dijual ke inti (Rp000/tahun).
24. Biaya Administrasi Kelapa Sawit
Biaya administrasi kelapa sawit (BADMS) merupakan potongan langsung
oleh KUD sebesar 5.00 % terhadap hasil penjualan TBS petani plasma (NPTKS)
sebagai pengganti biaya pemeliharaan kebun dan jalan produksi di lokasi kebun
secara kolektif.

Persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan

sebagai berikut:
BADMS = 0.05 * NPTKS ...(24)
dimana: BADMS= biaya administrasi kebun plasma kelapa sawit (Rp000/tahun).
25. Biaya Transportasi Kelapa Sawit
Biaya transportasi kelapa sawit ke pabrik pengolahan kelapa sawit (PKS) inti
(BTRANS) merupakan biaya pengangkutan TBS petani ke pabrik PKS inti.
Besarnya biaya merupakan perkalian ongkos angkut TBS perkilogram (OATBS)
dengan produksi total kelapa sawit (QTKS) yang dijual ke pabrik PKS inti.
Persamaannya dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
BTRANS = (OATBS * QTKS) / 1000.........(25)
dimana:

119

BTRANS = biaya transportasi kelapa sawit ke pabrik PKS (Rp000/kg)


OATBS = biaya angkut TBS dari kebun plasma ke pabrik PKS (Rp/kg TBS).
26. Biaya Manajemen KUD
Biaya manajemen KUD (BMKUD) merupakan biaya yang dibebankan
kepada petani, yaitu perkalian fee KUD per kilogram TBS (FEEKUD) dengan
produksi total TBS yang dijual kepada Inti (QTKS). Biaya ini langsung dipotong oleh
Inti untuk jasa KUD pada saat pembayaran nilai produk TBS petani. Persamaannya
dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
BMKUD = (FEEKUD * QTKS)/1000....(26)
dimana:
BMKUD = Biaya untuk manajemen KUD (Rp000/kg)
FEEKUD = fee untuk jasa KUD (Rp/kg).
27. Biaya Produksi Total Kelapa sawit
Biaya produksi total kelapa sawit (BPTKS) merupakan penjumlahan biaya
produksi kelapa sawit di kebun plasma (BPRKS), biaya cicilan kredit (BCKKS), biaya
transportasi TBS (BTRANS), biaya manajemeen KUD (BMKUD) dan biaya
administrasi kelapa sawit (BADMKS). Persamaannya dalam bentuk identitas dan
dapat dirumuskan sebagai berikut:
BPTKS

= BPRKS + BCKKS + BTRANS + BMKUD + BADMS. ...........(27)

dimana:
BPTKS = biaya produksi total kelapa sawit kebun plasma (Rp000/tahun)
BCKKS = biaya cicilan kredit kebun plasma (Rp000/tahun).

120

28. Pendapatan Petani Plasma dari Kebun Kelapa Sawit


Pendapatan petani plasma dari kebun kelapa sawit merupakan selisih nilai
total produksi kelapa sawit (NPTKS) dengan semua biaya produksi total kelapa sawit
di kebun plasma (BPTKS).

Pendapatan kelapa sawit (PDPTKS) yang dihitung

hanya memperhitungkan biaya tunai. Opportunity cost tenaga kerja keluarga sudah
diperhitungkan pada biaya tenaga kerja upahan yang lebih rendah.

Persamaan

pendapatan kelapa sawit dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai
berikut:
PDPTKS = NPTKS BPTKS .............................(28)
dimana:
PDPTKS = Pendapatan rumahtangga dari kelapa sawit (Rp000/tahun).
29. Pendapatan Rumahtangga Petani Plasma dari Luar Kebun Kelapa Sawit
Pendapatan petani plasma dari luar kebun kelapa sawit (PDPTLKS)
merupakan nilai bersih dari kegiatan anggota keluarga mencari tambahan
penghasilan selain di kebun plasma. Jenis dan ketersediaan data pendapatan yang
tersedia terbatas sehingga hanya dikelompokkan dalam empat kelompok dan
disajikan nilai bersihnya saja yaitu pendapatan lahan pangan (PDPTLPG),
pendapatan kebun karet (PDPTKRT), pendapatan usaha ternak (PDPTTRNK) dan
pendapatan non usahatani (PDPTNUT). Persamaan pendapatan luar kebun kelapa
sawit dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
PDPTLKS = PDPTLPG + PDPTKRT + PDPTTRNK + PDPTNUT ..(29)
dimana:
PDPTLKS = Pendapatan dari luar kebun kelapa sawit (Rp000/tahun)
PDPTKRT = Pendapatan dari kebun karet petani (Rp000/tahun).
PDPTTRNK = Pendapatan dari usaha ternak (Rp000/tahun).

121

30. Pendapatan Keluarga Petani Plasma


Pendapatan keluarga petani plasma merupakan penjumlahan pendapatan
dari kebun kelapa sawit (PDPTKS) dan pendapatan dari luar kebun kelapa sawit
(PDPTLKS). Pendapatan keluarga petani plasma berupa persamaan identitas dan
dirumuskan sebagai berikut:
PDPTKP = PDPTKS + PDPTLKS ..(30)
dimana:
PDPTKP = Pendapatan keluarga petani plasma (Rp000/tahun).
D. Blok Pengeluaran dan Pelunasan Kredit
31. Pengeluaran untuk Konsumsi Pangan
Pengeluaran rumahtangga untuk konsumsi pangan merupakan permintaan
rumahtangga terhadap pangan yang dibeli di pasar. Mengingat jenis pangan yang
dibeli di pasar beragam maka digunakan pendekatan nilai produk atau pengeluaran
untuk membeli produk pangan secara gabungan dan dinyatakan dengan variabel
peneluaran untuk konsumsi pangan (KONSPNG).

Perilaku konsumsi pangan

dipengaruhi oleh jumlah anggota keluarga petani (JAKP), pendapatan rumahtangga,


dan karakteristik rumahtangga. Jumlah anggota keluarga merupakan tanggungan
keluarga sehingga variabel ini diharapkan bertanda positif. Perilaku konsumsi non
pangan tidak dikaji, hanya dimasukkan sebagai variabel eksogen karena sulitnya
menentukan variabel penjelas yang dapat digunakan.
Becker (1976) menggunakan istilah pendapatan rumahtangga sebagai
pendapatan penuh (full income), yang terdiri dari pendapatan dari usahatani pokok,
pendapatan dari upah dan pendapatan bukan dari aktivitas kerja seperti dari
transfer, hasil sewa, warisan dan lain-lain. Rumahtangga petani plasma mempunyai

122

pendapatan dari berbagai sumber sehingga pendapatan rumahtangga dirinci


berdasarkan pendapatan dari kebun plasma yaitu pendapatan kelapa sawit
(PDPTKS), pendapatan dari luar kebun plasma (PDPTLKS) yang terdiri dari
pendapatan dari lahan pangan (PDPTLPG), pendapatan dari non usahatani
(PDPTNUT), pendapatan dari usaha ternak (PDPTTRNK) dan pendapatan dari
kebun karet (PDPTKRT). Semua sumber pendapatan keluarga ini mempengaruhi
konsumsi pangan, sehingga diharapkan bertanda positif.

Data pendapatan dari

bukan aktivitas kerja pada rumahtangga petani plasma tidak tersedia.


Pengeluaran rumahtangga petani tidak hanya untuk konsumsi saat ini, tetapi
juga untuk konsumsi yang akan datang (pengeluaran untuk investasi). Pengeluaran
investasi berupa asuransi (ASURANSI) dalam persamaan konsumsi pangan
(KONSPNG) merupakan pesaing dalam alokasi anggaran rumahtangga petani
sehingga tanda yang diharapkan negatif. Pola konsumsi menentukan besar kecilnya
pengeluaran rumahtangga yang diwakili oleh asal daerah petani (DADPP).
Persamaan konsumsi pangan dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan
sebagai berikut:
KONSPNG = k 0 + k 1 JAKP + k 2 PDPTKS + k 3 PDPTLPG + k 4 PDPTNUT +
k 5 PDPTTRNK + k 6 PDPTKRT + k 7 ASURANSI + DADPP
+

11 ...................................................................................

Hipotesis parameter estimasi: k 0 , k 1 , k 2 , k 3 , k 4 , k 5 , k 6 > 0 ; k 7 < 0


dimana:
JAKP

= jumlah anggota keluarga petani plasma (orang)

ASURANSI = pengeluaran untuk investasi asuransi (Rp000/tahun).

(31)

123

32. Pengeluaran untuk Investasi Pendidikan


Pengeluaran untuk investasi pendidikan (INVSPEND) merupakan permintaan
untuk pengeluaran konsumsi yang akan datang, diduga dipengaruhi oleh jumlah
anak sekolah (JASEKL), pendapatan rumahtangga seebagai sumber dana investasi
pendidikan yaitu pendapatan dari kelapa sawit (PDPTKS), pendapatan dari lahan
pangan (PDPTLPG), pendapatan dari non usahatani (PDPTNUT) dan pendapatan
dari

usaha

mempunyai

ternak
tanda

(PDPTTRNK),
positif.

diharapkan

Adanya

semua

pengeluaran

variabel

pendapatan

untuk investasi produksi

(INVSPROD) dan pengeluaran untuk asuransi (ASURANSI) merupakan persaing


dalam alokasi anggaran rumahtangga, sehingga tanda yang diharapkan negatif.
Persamaannya dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
INVSPEND = l 0 + l 1 JASEKL + l 2 PDPTKS + l 3 PDPTLPG + l 4 PDPTNUT +
l 5 PDPTTRNK + l 6 INVSPROD + l 7 ASURANSI +

12

...........................................................................(32)

Hipotesis parameter estimasi: l 1 , l 2 , l 3 , l 4 , l 5 > 0 ;


dimana:

l6, l7 < 0

INVSPEND = pengeluaran untuk investasi pendidikan (Rp000/taahun)


JASEKL

= jumlah anak sekolah dalam rumahtangga (orang)

INVSPROD = pengeluaran untuk investasi produksi (Rp 000/tahun).


33. Pengeluaran untuk Investasi Kesehatan
Penjelasan untuk pengeluaran investasi kesehatan (INVSKES) sama dengan
penge-luaran investasi pendidikan, hanya saja karakteristik rumahtangga diganti
dengan jumlah anggota keluarga (JAKP) dan jumlah anak balita (JABALT). Sumber
pendapatan rumahtangga yang berpengaruh adalah pendapatan dari kebun kelapa
sawit (PDPTKS) dan pendapatan dari kebun karet (PDPTKRT), dimana tanda yang

124

diharapkan positif.

Persamaan investasi kesehatan dalam bentuk struktural dan

dapat dirumuskan sebagai berikut:


INVSKES = m 0 + m 1 JAKP + m 2 JABALT + m 3 PDPTKS + m 4 PDPTKRT +
+

13

.............................................................................(33)

Hipotesis parameter estimasi: m 1 , m 2 , m 3 , m 4 , m 5 > 0


dimana:
INVSKES = pengeluaran untuk investasi kesehatan (Rp000/taahun).
34.

Pengeluaran Iuntuk Asuransi


Persamaan pengeluaran untuk asuransi (ASURANSI) dapat dijelaskan

dengan cara yang sama dengan pengeluaran untuk pendidikan atau kesehatan.
Pengeluaran asuransi dilakukan secara kolektif oleh lembaga ekonomi (koperasi
atau kelompok tani) dengan memotong langsung dari nilai penjualan kelapa sawit
(NPTKS).

Adakalanya petani menyetor sendiri dari sumber pendapatan lain

misalnya pendapatan dari lahan pangan (PDPTLPG), pendapatan non usahatani


(PDPTNUT) dan pendapatan dari kebun karet (PDPTKRT).

Semua sumber

pendapatan tersebut merupakan sumber dana untuk membayar iuran asuransi


sehingga diharapkan bertanda positif.
Akan tetapi dalam memutuskan besarnya pengeluaran untuk asuransi,
rumahtangga harus mempertimbangkan jenis pengeluaran lain yang saling bersaing
dalam alokasi anggaran, yaitu pengeluaran untuk investasi pendidikan (INVSPEND)
dan investasi produksi (INVSPROD), sehingga kedua variabel ini diharapkan
bertanda negatif.

Pengeluaran lain yang juga menjadi pesaing karena dipotong

langsung dari nilai penjualan produk kelapa sawit adalah biaya cicilan kredit kebun
plasma

(BCKKS),

sehingga

tanda

yang

diharapkan negatif.

Persamaan

pengeluaran asuransi dalam bentuk struktural dirumuskan sebagai berikut:

125

ASURANSI = n 0 + n 1 NPTKS + n 2 PDPTLPG + n 3 PDPTNUT +


n 4 PDPTKRT + n 5 INVSPEND + n 6 INVSPROD +
n 7 BCKKS +

14

......(34)

Hipotesis parameter estimasi: n 1 , n 2 , n 3 , n 4 , > 0 ; n 5 , n 6 , n

<0

35. Total Pengeluaran Keluarga Petani Plasma


Total

pengeluaran

keluarga

petani

plasma

(TPENGKP)

merupakan

penjumlahan semua pengeluaran rumahtangga petani plasma yang terdiri dari


konsumsi pangan (KONSPNG), konsumsi non pangan (KONSNPG), investasi
pendidikan (INVSPEND), investasi kesehatan (INVSKES), investasi produksi
(INVSPROD), pengeluaran asuransi (ASURANSI) dan pengeluaran untuk tabungan
(TABUNGAN).

Persamaannya berupa identitas dan dapat dirumuskan sebagai

berikut:
TPENGKP = KONSPNG + KONSNPG + INVSPEND + INVSKES +
INVSPROD + ASURANSI +TABUNGAN..........(35)
dimana:
TPENGKP = total pengeluaran keluarga petani plasma (RP000/taahun)
KONSNPG = pengeluaran untuk konsumsi non pangan (Rp000/tahun)
TABUNGAN= pengeluaran untuk tabungan rumahtangga (Rp000/tahun).
36. Periode Pelunasan Kredit Kebun Plasma
Periode pelunasan kredit kebun plasma (PLUNKRED) mencerminkan
kemampuan rumahtangga melunasi pinjamannya pada lembaga perbankan, yang
dicerminkan oleh lamanya waktu pelunasan kredit. Besarnya beban kredit yang
harus dilunasi mencerminkan nilai kredit kebun kelapa sawit plasma (NKKS) dimana
makin besar beban kredit maka makin lama waktu yang diperlukan untuk melunasi
kredit sehingga diharapkan bertanda positif.

126

Petani mencicil kredit dengan dipotong langsung melalui nilai penjualan


produk kepada inti tersebut. Nilai penjualan produk merupakan perkalian produksi
(QTKS) dan harga produk kelapa sawit (HTBS), dimana makin besar produksi dan
makin tinggi harga jual TBS maka makin besar cicilan kredit yang dapat dilunasi
sehingga makin cepat pelunasan kredit, kedua variabel ini diharapkan bertanda
negatif.

Banyaknya potongan yang harus ditanggung petani dari nilai jual produk

kelapa sawit menjadi penghambat waktu pelunasan keredit, antara lain berupa fee
KUD (FEEKUD) sehingga tanda yang diharapkan adalah positif.
Keputusan rumahtangga membayar kredit harus memperhitungkan juga
pengeluaran rumahtangga lainnya yaitu pengeluaran untuk konsumsi maupun untuk
investasi.

Pengaruh pengeluaran terhadap pelunasan kredit dinyatakan dalam

bentuk total pengeluaran keluarga petani (TPENGKP), dimana makin besar


pengeluaran rumahtangga maka makin lama waktu pelunasan kredit sehingga tanda
yang diharapkan positif.
Lokasi kebun diduga mempengaruhi waktu pelunasan kredit, dimana lokasi
kebun didekati (proxy) dengan variabel jarak kebun ke pabrik pengolahan kelapa
sawit (JRKPKS). Makin jauh lokasi kebun maka makin mahal biaya angkut, makin
mudah turun kualitas buah sawit sehingga menurunkan harga jual produk
selanjutnya menurunkan kemampuan petani membayar kredit. Jarak kebun plasma
ke pabrik pengolahan kelapa sawit juga mencerminkan besarnya kesempatan
petani untuk menghindari pelunasan kredit, misal dengan tidak menjual produk ke
pabrik PKS inti, tetapi menjual ke pabrik non inti karena pelaku non inti lebih mudah
masuk ke kebun plasma yang lokasinya jauh dari inti atau karena pengawasan
rendah maka petani dapat juga menjual TBS dengan menitip kepada petani plasma
yang sudah lunas kredit agar tidak terjadi pemotongan cicilan kredit. Meskipun data

127

kuantitatif tidak tersedia, karena transaksi ini dianggap melanggar kesepakatan


kemitraan, akan tetapi fakta adanya petani yang belum melunasi kredit meskipun
telah berproduksi lebih dari 10 tahun terutama pada pola PIR-Sus memperjelas
temuan di atas.
Rumahtangga petani plasma umumnya mempunyai pekerjaan lain di luar
kebun plasma, seperti mengusahakan kebun karet, lahan pangan, usaha ternak dan
bekerja di sektor non usahatani.

Besarnya perhatian rumahtangga petani pada

kegiatan di luar kebun plasma dinyatakan dengan curahan kerja keluarga di luar
kebun plasma (CTKLKS) dimana variabel ini diharapkan bertanda positif.
Rumahtangga petani pola PIR-Sus mempunyai kegiatan di luar kebun plasma paling
banyak sehingga kebun plasma dengan pola PIR-Sus umumnya lebih lama
melunasi kredit, sehingga variabel boneka pola PIR-Sus (DPIRKS 2 ) diharapkan
bertanda positif. Persamaan pelunasan kredit dinyatakan dalam bentuk struktural
dan dapat dirumuskan sebagai berikut:
PLUNKRED = o 0 + o 1 NKKS + o 2 QTBS + o 3 HTBS + o 4 FEEKUD
o 5 TPENGKP + o 6 JRKPKS + o 7 CTKLKS + o 8 DPIRKS 2 +

15 .

. .(36)

Hipotesis parameter estimasi : o 1 , o 4 , o 5 , o 6 , o 7 , o 8 > 0 ; o 2 , o 3 , < 0


dimana:
PLUNKRED= periode pelunasan kredit kebun plasma (tahun)
NKKS

= nilai kredit kebun kelapa sawit petani plasma (Rp000)

TPENGKP = pengeluaran keluarga petani (Rp000/tahun)


JRKPKS

= jarak kebun plasma ke pabrik PKS Inti (km).

128

Secara diagramatis dan matematis, keterkaitan variabel endogen dan


variabel penjelas dalam model ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit
dapat di lihat pada Lampiran 2, 3 dan 4.
5.2.2. Identifikasi dan Metode Estimasi Model
Model ekonometrik yang telah dirumuskan di atas merupakan model sistem
persamaan yang terdiri dari persamaan struktural dan persamaan identitas yang
bersifat simultan, sehingga perlu dilakukan lebih dahulu identifikasi model sebelum
ditentukan

metode

estimasi

terhadap

parameter-parameternya.

Menurut

Koutsoyiannis (1977) identifikasi adalah masalah formulasi, sehingga suatu model


dikatakan teridentifikasi jika mempunyai bentuk yang unik secara statistik.
Identifikasi dari sistem persamaan merupakan identifikasi untuk setiap

persamaan

dalam sistem tersebut, identifikasi parameter untuk setiap persamaan yang sudah
ada jika kita bisa membuktikan bahwa bentuk statistiknya khas.

Aturan ini

menetapkan persayaratan identifikasi dengan menggunakan metode syarat ordo


(order condition) sebagai syarat keharusan dan syarat pangkat (rank condition)
sebagai syarat kecukupannya.

Rumusan identifikasi model berdasarkan kriteria

syarat ordo adalah sebagai berikut:


Over identified

: ( K - M ) > (G 1)

Exactly identified : ( K - M ) = (G 1)
Under identified : ( K - M ) < (G 1)
dimana: K = jumlah variabel dalam model, yaitu variabel endogen dan
prederteminan
M = jumlah variabel endogen dan eksogen dalam setiap persamaan
tertentu dalam model
G = jumlah persamaan dalam model atau jumlah variabel endogen
dalam model.

129

Syarat ordo terkait erat dengan ukuran matriks segi yang berukuran (G-1) x
(G-1) yang berunsur parameter estimsi dalam sistem persamaan simultan. Untuk
mengecek syarat ordo pada masing-masing persamaan dalam model yang ada,
dapat dilakukan dengan menghitung jumlah persamaan struktural atau jumlah
variabel endogen (G) dan jumlah keseluruhan variabel atau variabel endogen dan
eksogen dalam model (K) dan dalam setiap persamaan (M). Hasil identifikasi untuk
setiap persamaan struktural harus mempunyai kriteria teridentifikasi berlebih (over
identified) atau teridentifikasi secara tepat (exactly identified) atau ( K - M ) > (G 1)
agar dapat diestimasi parameternya.
Syarat ordo belum menjamin matriks segi yang terbentuk mempunyai
pangkat penuh (full rank).

Oleh karena itu dalam proses identifikasi masih

diperlukan syarat pangkat. Kriteria syarat pangkat menentukan bahwa suatu


persamaan teridentifikasi jika dan hanya jika dimungkinkan untuk membentuk
minimal satu determinan yang bernilai bukan nol pada ordo (G 1) dari parameter
struktural variabel yang tidak termasuk dalam persamaan tersebut.
Dalam model ekonometrik rumahtangga petani plasma yang diestimasi
terdapat 33 persamaan atau 33 variabel endogen (G), terdiri dari 15 persamaan
perilaku dan 18 persamaan identitas.

Jumlah seluruh variabel dalam model (K)

adalah 74, sedangkan jumlah variabel pada masing-masing persamaan struktural


(M) berkisar 6 hingga 10 variabel.

Dengan memperhatikan jumlah keseluruhan

persamaan dalam model, jumlah variabel pada masing-masing persamaan yang


diidentifikasi maka dapat disimpulkan bahwa setiap persamaan perilaku mempunyai
kondisi identifikasi berlebih (over identified) karena semua persamaan memenuhi
persyaratan (K - M) > (G - 1). Selanjutnya proses identifikasi syarat pangkat secara
manual sangat tidak praktis. Oleh karena itu proses identifikasi ini dilakukan pada

130

waktu melakukan respesifikasi model dengan bantuan program SAS/ETS Versi 6.12
Prosedur Syslin Metode 2SLS.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada waktu respesifikasi model dapat
disimpulkan bahwa seluruh persamaan pada model di atas teridentifikasi berlebih.
Menurut Koutsoyianis (1977) jika persamaan dalam model diidentifikasi sebagai
identifikasi berlebih maka metode estimasi yang dapat diterapkan, antara lain: 2SLS
(two-stage least squares), LIML (limited information maximum likelihood), 3SLS
(three-stage least squares) atau FIML (full information maximum likelihood).
Masing-masing metode mempunyai kelebihan dan kelemahan, sehingga
pemilihan metode disesuaikan dengan tujuan penelitian yaitu untuk memperoleh
koefisien persamaan struktural secara simultan.

Estimasi parameter struktural

secara simultan akan membantu simulasi kebijakan secara simultan juga dan
memberikan hasil estimasi yang lebih efisien.

Menurut Koutsoyiannis (1977),

estimasi yang diperoleh dari penggunaan LIML dan FIML akan bias jika
menggunakan contoh yang kecil, akantetapi hasil estimasi konsisten atau biasnya
cenderung nol jika jumlah contoh ditingkatkan. Metode LIML dan 2SLS mempunyai
kemiripan mendasar, tetapi prosedur penghitungan LIML tidak praktis (cumbersome)
dan lebih rumit daripada 2SLS. Demikian juga persyaratan penggunaan FIML yang
memerlukan informasi lengkap dalam spesifikasi model dianggap sebagai
persyaratan yang terlalu keras (stringent). Umumnya peneliti hanya tertarik dengan
satu atau dua persamaan, karena spesifikasi keseluruhan model sangat sulit dan
tampaknya hanya membuang waktu. Hal ini menjadi alasan mengapa ahli
ekonometrik cenderung memilih metode 2SLS sebagai alat

analisis metode

ekonometrik. Selain itu penggunaan 2SLS pada dasarnya dapat menghindari


adanya bias pada sistem persamaan simultan yang bersumber dari keberadaan

131

variabel endogen sebagai variabel penjelas dari setiap persamaan.

Variabel

endogen ini mempunyai komponen sistematik yang ditentukan oleh variabel


eksogen dan komponen acak (random) dari persamaan struktural.

Akantetapi

metode 2SLS belum memperhatikan besaran hubungan variabel pengganggu pada


satu persamaan struktural dengan variabel pengganggu pada persamaan struktural
lainnya (nilai covariance). Jika hubungan tersebut lemah maka penggunaan 2SLS
atau 3SLS tidak berbeda.

Apabila diyakini adanya hubungan yang kuat antar

variabel pengganggu jika menggunakan metode 2SLS, maka pilihan yang tepat
adalah metode 3SLS. Selain itu penggunaan metode 3SLS memerlukan jumlah
observasi yang cukup besar, jika jumlah observasi relatif kecil maka pilihan metode
estimasi sebaiknya 2SLS.
Berdasarkan pertimbangan di atas maka pemilihan metode 2SLS dianggap
pilihan yang tepat berdasarkan karakteristik data yang ada dan kendala yang
dihadapi. Menurut Koutsoyiannis (1977), metode 2SLS merupakan aplikasi ordinary
least squares (OLS) dengan dua tahap, yaitu mula-mula mengestimasi seluruh
persamaan struktural yang ada dalam bentuk yang direduksi (reduced form) dengan
metode OLS. Bentuk yang direduksi dari persamaan struktural diperoleh melalui
manipulasi matematika sehingga setiap variabel endogen diregresikan hanya
terhadap variabel eksogen. Dari hasil estimasi ini diperoleh estimasi untuk setiap
variabel endogen yang selanjutnya digunakan untuk mengestimasi masing-masing
persamaan struktural yang ada dalam model ekonometrik. Berdasarkan kriteria dan
pertimbangan di atas melalui proses iterasi secara berulang (respesifikasi model)
maka model ekonometrik rumahtangga usahatani PIR kelapa sawit ini dianggap
tepat jika diestimasi dengan menggunakan metode kuadrat terkecil dua tahap (twostage least squares ) dan disingkat 2 SLS.

132

5.3.

Analisis Dampak Faktor Eksternal dan Internal terhadap Kinerja


Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
5.3.1. Validasi Model
Untuk mengetahui apakah model cukup valid digunakan untuk simulasi maka

terlebih dahulu dilakukan validasi model. Kriteria statistik yang sering digunakan
untuk validasi model, antara lain adalah galat rataan kuadrat terkecil (Root Mean
Squares Percent Error) dan Theils Inequality Coefficient (U) (Pindyck dan Rubinfeld,
1991). Kriteria-kriteria tersebut dirumuskan sebagai berikut:

1 N Yi s Yi a
(1) RMSPE =

N i =1 Yi a

(2) U =

1
N
1
N

(Y
i =1

(Y
i =1

) +

s 2

Yi a ) 2
1
N

(Y
i =1

a 2

dimana:
RMSPE = persentase dari akar nilai tengah galat yang dikuadratkan
(root mean squares percent error)
U

= Nilai koefisien ketidaksamaan Theil (U)

Yi s

= Nilai simulasi dari Y i

Yi a

= Nilai aktual dari Y i

= jumlah pengamatan dalam simulasi

Statistik RMSPE digunakan untuk mengukur seberapa jauh nilai-nilai variabel


endogen hasil estimasi menyimpang dari alur nilai aktualnya dalam ukuran relatif
(persen), atau seberapa dekat nilai dugaan itu mengikuti perkembangan nilai
aktualnya.

Sedangkan

statistik

untuk

mengetahui

kemampuan

model

menganalisis simulasi peramalan, yaitu menyatakan besarnya penyimpangan nilai

133

dugaan tersebut. Nilai koefisien ketidaksamaan Theil (U) berkisar antara 0 dan 1.
Pada dasarnya semakin kecil nilai RMSPE dan U maka semakin baik estimasi
model, akan tetapi jika U = 0 maka estimasi model adalah naf.
Koefisien determinasi (R 2 ) dalam estimasi model ekonomi rumahtangga
petani plasma kelapa sawit sebagian bernilai negatif sehingga nilai R 2 dihitung ulang
dengan meregresikan variabel endogen hasil prediksi terhadap variabel endogen
aktual atau Y prediksi = fungsi Y aktual.

Nilai R 2 yang dihasilkan menjelaskan

proporsi keragaman variabel terikat (dalam hal ini Y prediksi) yang dapat dijelaskan
melalui variasi variabel bebas (dalam hal ini Y aktual). Jika jumlah variabel bebas
hanya satu maka koefisien determinasi juga mencerminkan koefisien korelasi (r 2 ).
Pada dasarnya R 2 mencerminkan kebaikan atau ketepatan garis regresi
terhadap nilai observai contoh atau mengukur sebaran nilai observasi sekitar garis
regresi. Hal ini berarti makin dekat sebaran obeservasi disekitar garis regresi maka
makin baik hasil regresi tersebut (goodness of fit).

Koefisien determinasi

mempunyai nilai berkisar nol hingga satu, dimana jika nilai R 2 mendekati nilai satu
berarti garis regresi mampu memberikan gambaran yang sangat tepat tentang
observasi, sebaliknya makin kecil nilai R 2 atau mendekati nol maka garis regresi
makin tidak tepat menjelaskan nilai observasi (Koutsoyianis, 1977).
5.3.2. Simulasi Model
Analisis simulasi menggunakan beberapa variabel instrument sebagai faktor
eksternal dan internal yang dianggap penting pengaruhnya terhadap perubahan
kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma. Pada simulasi dilakukan beberapa
skenario sebagai berikut:

134

1. Harga produk kelapa sawit (harga TBS) naik 15 persen berdasarkan trend harga
CPO/PKO domestik dan dunia selama 30 tahun.
2. Harga input pupuk (N, P dan K) dan pestisida naik secara bersama 20.00 %
sebagai akibat kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang memicu inflasi
hampir 19.00 %.
3. Upah di kebun plasma dan kebun inti naik 15.00% berdasarkan kecenderungan
(trend) upah minimum regional (UMR) Provinsi Sumatera Selatan selama 10
tahun dan trend upah di perkebunan selama 20 tahun
4. Ongkos angkut naik 100.00% akibat harga BBM rata-rata naik hampir 100.00%
dan fee KUD naik 20.00% sebagai dampak kenaikan harga BBM yang memicu
inflasi meningkat hampir 19.00%
5. Kombinasi skenario 2, 3 dan 4 yaitu upah di kebun kelapa sawit naik 15.00%,
harga input pupuk dan pestisida naik 20.00%, ongkos angkut naik 100.00% dan
fee KUD naik 20.00%
6. Kombinasi skenario 1 dan 5 yaitu harga TBS naik 15.00% dan kenaikan harga
input pupuk dan pestisida naik 20.00%, upah di kebun plasma naik 15.00%,
ongkos angkut naik 100.00% dan fee KUD naik 20.00%.
7. Peningkatan luas lahan kebun kelapa sawit dengan mengkonversi areal di luar
kebun plasma yang sudah tersedia (rata-rata 0.95 ha) atau memperluas areal
kebun plasma kira-kira 50.00% dari luas kebun plasma saat ini.
8. Peningkatan curahan kerja keluarga di kebun plasma sebesar 22.00% yang
selama ini relatif kecil (hanya 16.47%) diharapkan dapat meningkatkan
produktifitas kebun kelapa sawit untuk menggantikan curahan tenaga kerja luar
keluarga (tenaga kerja upahan)
9. Peningkatan curahan kerja di kebun plasma sebesar 50.00% dengan
mengalihkan curahan kerja keluarga di luar kebun plasma sebesar 10.00%. Hal
ini dilakukan mengingat nilai tenaga kerja persatuan HOK di kebun plasma relatif
lebih tinggi dibandingkan nilai tenaga keluarga di luar kebun plasma.
Analisis simulasi model ekonomi rumahtangga petani plasma dibedakan
berdasarkan kelompok atau pola PIR yaitu pola PIR-Sus, PIR-Trans dan PIR-KUK.
Hal ini dilakukan mengingat ketiga kelompok rumahtangga petani plasma tersebut
mempunyai perbedaan dalam karakteristik (individu, rumahtangga dan usahatani)
dan perilaku (produksi, curahan kerja maupun pengeluaran dan kemampuan
melunasi kredit.

135

5. 4. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian adalah Provinsi Sumatera Selatan dengan pertimbangan
bahwa provinsi ini dapat mewakili provinsi lainnya di Indonesia ditinjau dari
penyebaran wilayah penanaman kelapa sawit, dimana perkebunan kelapa sawit
menyebar pada hampir semua kabupaten di Sumatera Selatan, kecuali kota
Palembang.

Selain itu perkembangan luas areal dan produksi terus meningkat

sehingga pada tahun 2003 menduduki posisi nomor tiga di Indonesia. Berdasarkan
alasan tersebut maka pemilihan provinsi Sumatera Selatan diharapkan dapat
mewakili provinsi-provinsi lain di Indonesia untuk menjelaskan kinerja pola PIR
kelapa sawit.
Perkebunan kelapa sawit dengan sistim kemitraan atau pola PIR di Sumatera
Selatan terdapat pada 28 lokasi kebun yang menyebar pada enam kabupaten,
dikelompokkan kedalam tiga pola PIR yang dominan yaitu: pola PIR-Khusus, PIRTransmigrasi dan PIR-KKPA/KUK. Di provinsi ini di temukan perkebunanan kelapa
sawit dengan umur tanaman yang sangat beragam yaitu mulai umur tanaman belum
menghasilkan (TBM) atau di bawah empat tahun hingga tanaman berumur tua yaitu
lebih dari 20 tahun dan perlu diremajakan.
5. 5. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan adalah data sekunder baik berupa data cross
section maupun data time series. Data cross section diperoleh dari hasil survei oleh
tim peneliti Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas
Sriwijaya, Ogan Ilir, Sumatera Selatan pada tahun 2002. Penentuan tiga kabupaten
secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa pada ketiga kabupaten
tersebut paling banyak melaksanakan proyek PIR kelapa sawit, yaitu kabupaten

136

Musi Banyuasin, Muara Enim dan Ogan Komering Ilir. Dari tiga kabupaten tersebut
dipilih secara sengaja lima kebun yang melaksanakan tiga pola PIR kelapa sawit,
selanjutnya dari tiap kebun dipilih dua desa contoh sehingga keseluruhannya
berjumlah 10 desa. Dari tiap desa diambil minimal 30 rumahtangga petani contoh
sehingga jumlah keseluruhan adalah 350 rumah tangga petani plasma atau 5.66%
dari jumlah populasi (Tabel 12).
Tabel 12. Metode Pengambilan Contoh Rumahtangga Petani Plasma
Kelapa Sawit di Provinsi Sumatera SelatanTahun 2002
No
A

Lokasi Kebun
(Kecamatan, Kabupaten)

PIR-Sus
1 PTPN VII Betung Barat/
PIR-Bun Betung
(S. Lilin, Musi Banyuasin)
2 PTPN VII/NES IIB/
PIR-Bun Sungai Lengi
(Gunung Megang,
Muara Enim)
PIR-Trans
1 PT Aek Tarum
(Mesuji, OKI)
2 PT Hindoli
(Sungai Lilin,
Musi Banyuasin)
PIR-KKPA/KUK
1 PT Selapan Jaya
(Mesuji, OKI)
Jumlah Rumahtangga
Petani Plasma

Nama Desa Contoh

Populasi
(RTPPKS)

Contoh
(RTPPKS)

1. Tjng Agung Baru


2. Gajah mati

570
570

36
36

3. Semaja Makmur
4. Sidomulyo

500
500

35
36

2140

150
(7.01 %)

400
490
473
427

31
32
36
33

1790

132
(7.37 %)

604
654
1258

33
35
68

5 188
(100.00%)

350
(6.75 %)

5.
6.
7.
8.

Kemang Indah
Rotan Mulya
Sumber Rezeki
Sukadamai Baru

9. Sumbu Sari
10. Kerta Mukti

Keterangan: RTPPKS = rumahtangga petani plasma kelapa sawit

137

Selain itu dilakukan juga survei ulang secara singkat pada beberapa lokasi
kebun yaitu pengecekan kondisi kebun plasma dan lembaga ekonomi petani serta
mengumpulkan informasi dari orang-orang penting (key persons) yang dapat
memberikan penjelasan tentang hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan
penelitian.

Survei singkat ini dilakukan oleh peneliti dengan dibantu oleh beberapa

staf Dinas Perkebunan tingkat kabupaten pada bulan April 2005.


Data sekunder jenis time series berupa dokumen-dokumen penting tentang
perkembangan

industri

kelapa

sawit,

latar

belakang

pembentukan

dan

perkembangan pola PIR, kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan pola PIR
kelapa sawit. Data ini diperoleh dari beberapa laporan tahunan dan buku statistik
dari Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Departemen Kehutanan dan
Perkebunan atau Direktorat Jenderal Perkebunan, Departemen Pertanian dan
Badan Pusat Statistik Jakarta dengan periode tahun yang berbeda yaitu berkisar
tahun 1972 hingga tahun 2003.
5. 6. Definisi Operasional
Konsep pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Pola PIR kelapa sawit adalah pengembangan perkebunan rakyat dengan sistim
kemitraan inti-plasma.

Usaha pokok petani adalah mengelola kebun plasma

kelapa sawit dengan luas rata-rata dua hektar atau satu kapling dengan jumlah
tanaman kelapa sawit sekitar 137 batang/ha atau 274 batang/kapling.
2. Perusahaan inti adalah perkebunan besar milik negara (PBN) maupun swasta
(PBS) yang bertindak sebagai mitra kerja petani plasma dalam proyek PIR
kelapa sawit. Perusahaan inti ini ditentukan oleh pemerintah pusat berdasarkan
Surat Keputusan Direktorat Jenderal Perkebunan.

138

3. Petani plasma adalah petani yang memenuhi syarat menjadi peserta PIR kelapa
sawit, dimana mereka mendapat lahan kebun kelapa sawit dan pembinaan serta
berbagai fasilitas lainnya.

Penetapan petani plasma sebagai peserta PIR

berdasarkan Surat Keputusan Bupati setempat.


4. Karakteristik rumahtangga petani plasma adalah faktor-faktor yang membentuk
identitas sebagai peserta PIR kelapa sawit, antara lain umur, pendidikan,
pengalaman usahatani, asal daerah, jumlah anggota keluarga, jumlaah anak
sekolah dan jumlah anak balita. Karakteristik ini akan mempengaruhi perilaku
ekonomi rumahtangga petani di kebun plasma dan di luar kebun plasma.
5. Struktur pasar adalah bentuk pasar yang terjadi dalam transaksi TBS di lokasi
kebun kelapa sawit yang ditentukan oleh kekuatan tawar menawar penjual
(plasma) dan pembeli (inti).
6. Perilaku pelaku dalam pola PIR adalah aktivitas pelaku-pelaku utama
(rumahtangga petani plasma, inti dan koperasi) yang terlibat dalam kemitraan
PIR kelapa sawit mulai dari kegiatan pembukaan kebun plasma, penanaman,
produksi, panen dan penjualan hasil panen.
7. Perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma adalah aktivitas anggota
rumahtangga petani dalam kebun dan di luar kebun plasma yang ditunjukkan
oleh persamaan perilaku produksi, curahan kerja, dan konsumsi serta perilaku
melunasi kredit.
8. Kinerja pola PIR adalah hasil kerjasama pelaku kemitraan PIR kelapa sawit,
dicerminkan oleh kelayakan teknis seperti: umur tanaman waktu konversi,
produktivitas kebun plasma, dan kemampuan melunasi kredit. Selain itu dilihat
juga kelayakan usaha seperti harga jual produk, pendapatan rumahtangga, rasio

139

penerimaan terhadap biaya (R/C), dan rasio pendapatan terhadap biaya (B/C)
untuk masing-masing pola PIR yang berbeda.
9. Kinerja rumahtangga petani plasma kelapa sawit dicerminkan oleh variabelvariabel endogen dalam model ekonomi rumahtangga petani plasma yaitu
kinerja produksi, curahan kerja, pengunaan input, biaya produksi, pendapatan
kelapa sawit, konsumsi dan investasi serta periode pelunasan kredit.
10. Konversi adalah proses alih kelola dan tanggung jawab kebun plasma dari inti
kepada petani plasma berdasarkan penilaian katagori kelayakan kebun plasma
menurut Dinas Perkebunan Sumatera Selatan, seperti jumlah pohon per kapling,
umur tanaman, dan kondisi jalan kebun. Konversi dilakukan setelah tanaman
kelapa sawit menghasilkan (setelah umur 48 bulan) melalui akad kredit.
11. Pasca konversi adalah tahapan pengelolaan kebun plasma kelapa sawit yang
ditandai dengan dikelolanya kebun plasma secara penuh oleh rumahtangga
petani plasma, peranan inti hanya sebagai pembina dan pembeli produk.
12. Faktor eksternal rumahtangga petani plasma adalah faktor yang berasal dari luar
sistem baik langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap kinerja
rumahtangga

petani

plasma,

dapat

berupa

kebijakan

pemerintah

atau

goncangan siklus bisnis perekonomian suatu negara seperti perubahan harga


input, harga output, tingkat upah, harga bahan bakar minyak (BBM).
13. Faktor internal rumahtangga petani plasma adalah faktor yang berasal dari
dalam sistem baik langsung maupun tidak langsung berpengaruh terhadap
kinerja rumahtangga petani plasma, misal perubahan luas areal kelapa sawit dan
curahan kerja angota rumahtangga.

140

VI.

DESKRIPSI KEBUN INTI, KEBUN PLASMA DAN


RUMAHTANGGA PETANI PLASMA KELAPA SAWIT

6. 1. Karakteristik Kebun Inti dan Plasma


Kebun Perusahaan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit yang akan dibahas adalah
kebun plasma dan kebun inti dari tiga kabupaten yang dipilih secara sengaja yaitu
Kabupaten Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir dan Muara Enim. Pola perusahaan
inti rakyat (pola PIR) yang dikaji diwakili oleh beberapa kebun yaitu pola PIR Khusus
(pola PIR-Sus) diwakili oleh PIR-Sus Betung Barat di Kabupaten Musi Banyuasin
dan PIR-Sus Sungai Lengi di Kabupaten Muara Enim. Pola PIR Transmigrasi (pola
PIR-Trans) diwakili oleh PIR-Trans PT Aek Tarum di Kabupaten Ogan Komering Ilir
dan PIR-Trans PT Hindoli di Kabupaten Musi Banyuasin sedangkan pola PIR kredit
usaha kecil (pola PIR-KUK) diwakili oleh PIR-KUK PT Selapan Jaya di Kabupaten
Ogan Komering Ilir (Tabel 13).
Kebun inti paling luas (10 561 ha) terdapat pada pola PIR-Sus Betung Barat,
Kabupaten Musi Banyuasin, sedangkan kebun inti paling sempit (1 633.91 ha)
terdapat pada pola PIR-KUK Selapan Jaya, Kabupaten Ogan Komering Ilir. Kebun
plasma paling luas (19 738.79 ha) justru terdapat di pola PIR-KUK Selapan Jaya
Kabupaten Ogan Komering Ilir yang dibina oleh inti dengan kebun paling sempit,
sedangkan kebun plasma paling sempit (5 790 ha) terdapat pada pola PIR-Sus
Sungai Lengi, Kabupaten Muara Enim.
Masing-masing kebun plasma dibagi dalam hamparan yang lebih kecil
dengan nama yang lazim terdapat di lokasi masing-masing, seperti: kampung sawit
(village) di lokasi kebun PIR-Sus Betung Barat dan rayon untuk PIR-Trans di
Kabupaten Musi Banyuasin, afdeling untuk kebun PIR-Sus Sungai Lengi, di
Kabupaten Muara Enim.

Tabel 13. Perbandingan Karakteristik Kebun Kelapa Sawit Inti dan Plasma Contoh di Sumatera Selatan
Tahun 2002
No

Karakteristik

PIR-Sus
Betung Barat

PIR-Sus
Sungai Lengi

PIR-Trans
PT Aek
Tarum

PIR-Trans
PT Hindoli

PIR-KUK
PT Selapan
Jaya

Nama lain

PIR-IV Betung
Talang Sawit

PIR-Sus II B Sule

Kebun inti

PTPN VII Unit


Sungai Lengi,
Muara Enim.

PT Aek Tarum,
Mesuji, OKI.

PT Hindoli,
Musi Banyuasin

PT Selapan
Jaya, OKI

Luas kebun
Inti

PTPN VII Unit


Usaha Talang
Sawit, Betung,
Musi Banyuasin
10 561 ha

7 103.49 ha

4 841 ha dibagi
2, kebun Belida
dan Mesuji

10 000 ha

1 633.91 ha,
kebun Limau
Mungkur dan
Gading Jaya

Tahun tanam
kebun inti

1976/1977

1976/1977

1990-1995 dan
1989-2001

1997/1991

1994-2000

Luas kebun
plasma
Lokasi

5 790 ha dibagi
dalam 6 Afdeling,
Luas afdeling :
750ha -1702ha
175 km dari
Palembang. Desa
Penanggiran,
Gng Megang,
Muara Enim

6 554 ha terdiri
kebun Belida
dan Mesuji, di
4 desa
155 km dari
Palembang.
Kec Mesuji, Kab
OKI

16 673 ha, ada


4 Rayon (A, B,
C dan D) atau
26 Afdeling
115 km dari
Palembang. Di
Kec Keluang
dan Bayung
Lencir, Muba

19 738.79 ha
dibagi 6
kebun

8 000 ha
dibagi dalam 21
kampung sawit ,
Village I - XXI
88 km dari kota
Palembang. Desa
Gardu Harapan,
Kec Perwakilan
Lais, Muba

165 km dari
Palembang,
di Kec Mesuji
dan
Pedamaran,
OKI.

Tabel 13. Lanjutan


7

Tahun tanam
kebn plasma

1981/82-1984/85

1985/1986

1991-1994 &
1992-1996

1992 1995 &


1993 -1995

1994 - 1996
& 1995- 2001

Koperasi

KUD Tri Jaya


(KUD Mandiri Inti)

KUD Plasma
Sule

KPKS pada
setiap desa

KPKS di setiap
desa

KPKS di
setiap desa

Jumlah
Anggota

3 766 KK (95%
petani plasma)
atau 7532 ha

1700 KK
menyebar di Kec
Gunung Megang

2 994 KK

8 338 KK

11 022 KK

10

Pabrik PKS

kapasitas 60 ton
TBS/jam

kapasitas 60 ton
TBS/jam, sejak
tahun 1992

kapasitas 60 ton
TBS/jam

kapasitas
120 ton
TBS/jam

11

Proporsi
peserta
plasma

100 % penduduk
lokal

50 % lokal dan
50% pendatang

20% lokal dan


80% pendatang

kapasitas 45
ton TBS/jam,
dibangun
tahun1996/1997
20% lokal dan
80% pendatang

12

Nilai kredit
per kapling
(2 ha)
Komponen
kredit

Rp 6.594 juta

Rp 7.310 juta
rumah, kebun
dan jalan produksi di kebun

Rp 7.56 juta
hingga Rp
10.40 juta
kebun dan jalan
produksi di
kebun

Rp 6.96 juta

rumah, kebun dan


jalan produksi di
lokasi kebun

Rp 7.56 juta
hingga Rp 10.40
juta
kebun dan jalan
produksi di
kebun

13

100 %
transmigran
(APPDT)

kebun dan
jalan produksi di
kebun

Sumber
: Data penelitian PIR kelapa sawit Sumatera Selatan, tahun 2002 (rekapitulasi)
Keterangan: KPKS = koperasi produsen kelapa sawit ; OKI= Ogan Komering Ilir
APPDT = alokasi penempatan penduduk di daerah transmigrasi
PKS = pengolahan kelapa sawit

143

Sesuai dengan tahun dimulainya proyek PIR maka kebun inti dengan pola
PIR-Sus mempunyai tahun tanam paling tua yaitu tahun 1976/1977, sedangkan
kebun inti dengan pola PIR-KUK mempunyai tahun tanam paling muda

yaitu

berkisar tahun 1994 hingga tahun 2000.


Lokasi kebun paling dekat dengan ibukota provinsi (kota Palembang) adalah
kebun pola PIR-Sus Betung Barat di Musi Banyuasin (kira-kira 88 km sebelah Timur
kota Palembang), sedangkan lokasi kebun paling jauh dari ibukota provinsi adalah
kebun pola PIR-Sus Sungai Lengi di Muara Enim (kira-kira 175 km sebelah Selatan
kota Palembang). Masing-masing kebun inti mempunyai pabrik pengolahan kelapa
sawit (pabrik PKS) untuk mengolah buah kelapa sawit dari kebun inti dan kebun
plasma. Umumnya kapasitas pabrik PKS inti adalah 60 ton TBS/jam, kecuali pabrik
PKS di pola PIR-KUK Selapan Jaya dengan kapasitas lebih besar (120 ton
TBS/jam).

Kapasitas pabrik PKS yang relatif kecil umumnya berumur tua,

sedangkan kapasitas pabrik PKS yang relatif besar umumnya berumur relatif muda.
Kelompok tani atau koperasi adalah lembaga ekonomi petani yang
membantu proses penjualan hasil panen TBS kebun plasma kepada inti. Sesuai
dengan latar belakang terbentuknya maka koperasi unit desa (KUD) merupakan
hasil pembentukan pemerintah seperti KUD Tri Jaya pada pola PIR-Sus Betung
Barat, Kabupaten Musi Banyuasin dan KUD Plasma Sule pada pola PIR-Sus Sungai
Lengi, Kabupaten Muara Enim.

Koperasi ini bertugas membina petani plasma,

membantu penyaluran input, mengkoordinir pengangkutaan hasil panen kebun


plasma ke pabrik PKS inti dan kegiatan produktif lainnnya. Sebagai gambaran, KUD
Trijaya didirikan tahun 1986/1987 dengan wilayah kerja mencakup Proyek PIR IV
Talang Sawit dengan PTP Nusantara VII Talang Sawit sebagai inti. Sampai akhir
tahun 2000, terdapat 20 kampung sawit yang dikelola oleh 3 766 rumahtangga

144

petani sebagai anggota KUD dan 234 rumahtangga petani sebagai calon anggota.
Sampai tahun 2000, KUD Trijaya masih mempunyai kinerja yang baik, tercermin dari
jumlah unit usaha produktif yang dikelolanya (terdapat 8 unit usaha), besarnya
pangsa modal sendiri dan sisa hasil usaha terhadap total modal. Selain itu lembaga
ini menerima banyak penghargaan sebagai lembaga ekonomi dengan kinerja yang
baik, sampai tahun 2000 jenis penghargaan yang diterima antara lain: (1) KUD
terbaik tingkat Kabupaten Musi Banyuasin, terbaik tingkat Provinsi Sumatera Selatan
dan tingkat Nasional, (2) KUD Mandiri teladan tingkat Nasional, (3) Pemegang
GPKS tingkat Kabupaten Musi Banyuasin, dan (4) Mitra usaha berprestasi tingkat
nasional tahun 1997 dari Menteri Pertanian.
Hasil kunjungan peneliti di lokasi KUD pada bulan April 2005, menunjukkan
hasil yang relatif berbeda dimana kinerja lembaga ekonomi ini mulai menurun akibat
terjadi banyak penyimpangan dalam pengelolaan dana pengadaan input pupuk dan
pestisida dan wilayah kerja KUD yang terlalu luas (mencakup satu kecamatan)
sehingga pembinaan dan pengawasan kebun kurang efektif. Selain itu KUD belum
siap swadana sedangkan bantuan dana dari pemerintah melalui perusahaan inti
mulai dikurangi secara bertahap.

Alasan teknis yang juga diungkapkan adalah

produktivitas kebun plasma semakin menurun karena usia tanaman kelapa sawit
rata-rata di atas 20 tahun.

Rendahnya produktivitas kebun berdampak pada nilai

jual produk sehingga petani tidak mampu menyisihkan sebagian penerimaan kelapa
sawit untuk dana peremajaan kebun. Rendahnya pemupukan modal mengakibatkan
sebagian besar kebun plasma pola PIR-Sus belum siap diremajakan (replanting)
sedangkan kegiatan peremajaan kebun selayaknya siap dilakukan pada tahun 2006
(Informasi lisan pengurus KUD dan Staf Disbun Banyuasin, Provinsi Sumatera
Selatan, April 2005).

145

Pada pola PIR-Trans dan PIR-KUK, tugas pengadaan input dan penjualan
TBS dari kebun plasma umumnya dikoordinir oleh koperasi produsen kelapa sawit
(KPKS) yaitu lembaga hasil pembentukan petani plasma dengan wilayah kerja relatif
kecil (pada setiap desa) sehingga pembinaan lebih efektif karena jumlah petani yang
menjadi anggota dan dibina relatif sedikit.

Sebagai contoh KPKS Suka Rezeki di

Kabupaten Musi Banyuasin, didirikan tahun 1998 dan mempunyai empat bidang
kegiatan. Setiap bidang mempunyai tiga hingga lima kegiatan ekonomi sesuai
kebutuhan anggota.

Meskipun sisa hasil usaha (SHU) koperasi relatif kecil,

akantetapi kesadaran anggota untuk membentuk modal usaha sendiri cukup tinggi
pada tahun 1999 - 2001 yaitu berupa simpanan pokok (rata-rata pertumbuhan
3.20%) dan simpanan wajib (rata-rata pertumbuhan hampir 60.00%).
Karakteristik kebun kelapa sawit rumahtangga petani plasma contoh dapat
dilihat pada Tabel 13. Pada awal penempatan di kebun pola PIR-Sus Betung Barat
mengutamakan petani peserta penduduk lokal (hampir 100 persen), sedangkan
petani peserta pada pola PIR-Trans dan PIR-KUK umumnya berupa penduduk
pendatang (transmigran) dan APPDT (alokasi penempatan penduduk di daerah
transmigrasi). Petani APPDT adalah petani peserta transmigrasi umum tanaman
pangan tahun 1980/1981, dimana lahan tanaman pangannya di ubah menjadi kebun
kelapa sawit dan mereka menjadi peserta PIR kelapa sawit. Umumnya mereka
mempunyai rumah sendiri serta mata pencaharian lain di luar usahatani kelapa
sawit.
Petani peserta PIR kelapa sawit menerima lahan kebun kelapa sawit seluas
satu kapling atau kira-kira dua hektar. Setelah alih kelola (konversi) kebun plasma
maka rumahtangga petani mampu mengelola kebun secara lebih mandiri.

146

Tabel 14. Karakteristik Kebun Rumahtangga Petani Plasma Kelapa


Sawit Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
Variabel
Tahun penempatan
Thn penanaman bibit
Tahun konversi
Tahun lunas Kredit
Petani lunas kredit
Jumlah kapling
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Kelas kebun
a) Kisaran
b) Mode
Umur tanaman (tahun)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Umur konversi (tahun)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rata-rata
Jumlah pohon/kapling:
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Nilai pengembalian
kredit (Rp juta/kapling)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Lunas kredit (tahun)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Sus
PIR-Trans

Rata-rata
PIR-KUK

1980 - 1999
1990 - 1997
1994 - 2000
1999 - 2005
109 orang
(83.00 %)

1992 - 1999
1992 - 2000
1994 - 2000
2003 - 2006
0 orang
(00.00 %)

1977 -1999
1979 - 2000
1984 - 2000
1987 - 2006
251 orang
(71.70 %)

1.00 - 5.00
1.00
1.27

0.50 7.00
1.00
1.17

1.00 7.00
1.00
1.19

0.50 7.00
1.00
1.22

C-A
A

D-A
A

C-A
A

D -A
A

14 - 23
18.00
17.92

5 - 12
10.00
10.00

5 - 10
7.00
6.93

5 - 23
10.00
12.79

3 13
6.00
7.00

39
5.00
4.75

3- 7
5.00
4.88

3 -13
5.00
5.78

175 - 310
256.00
253.00

239 - 284
270.00
259.98

154 - 270
256.00
254.00

154 - 310
270.00
255.98

4.5 - 12.4
6.50
6.86

10.4 -12.5
10.40
10.56

10.4 -15.0
13.00
12.66

4.5 -15.0
10.40
9.39

0.00 -18.00
12.00
7.00

1.00- 8.00
4.00
3.69

1977 - 1996
1979 - 1988
1984 - 1997
1987 - 2002
142 orang
(95.00 %)

4.00-10.00
5.00
6.07

*)

0.0 -18.00
4.00
5.58

Keterangan: 1 kapling adalah kira-kira 2 hektar


*)
angka perkiraan
Selanjutnya jika sudah melunasi kredit maka petani plasma mempuyai hak
pemilikan penuh atas lahan kebun yang ditandai dengan diterimanya sertifikat tanah.
Pada tahap ini sering terjadi transaksi jual beli lahan kebun kelapa sawit sehingga

147

luas lahan kebun petani plasma berubah, dimana luas kebun plasma contoh berkisar
0.50 hingga 7.00 kapling atau kira-kira 1.00 ha -14.00 ha, dengan luas rata-rata 2.50
hektar.
Umur tanaman kelapa sawit kebun plasma contoh berkisar lima hingga 23
tahun atau rata-rata 12.79 tahun.

Sebagian besar petani peserta pola PIR-Sus

merupakan petani karet yang mana sebagian lahan kebunnya terkena proyek PIR
kelapa sawit. Umur tanaman kelapa sawit pola PIR-Sus relatif lebih tua (rata-rata
17.92 tahun), sedangkan umur tanaman kelapa sawit pola PIR-KUK relatif paling
muda (rata-rata 6.93 tahun) dan umur tanaman kelapa sawit pola PIR-Trans
mendekati umur puncak (rata-rata 10.00 tahun).
Menurut buku pedoman proyek PIR kelapa sawit, maka umur tanaman yang
layak dikonversi adalah 48 bulan atau 4 tahun. Umur tanaman kelapa sawit kebun
plasma contoh dikonversi berkisar tiga hingga tiga belas tahun atau rata-rata 5.78
tahun atau lebih tua umur yang ditetapkan pada buku pedoman proyek PIR. Umur
konversi yang mendekati umur ideal terdapat pada pola PIR-Trans dan PIR-KUK
yaitu rata-rata 4.75 tahun dan 4.88 tahun, sedangkan pada pola PIR-Sus, umumnya
umur konversi relatif tua (rata-rata 7.00 tahun).
Jumlah pohon pada kebun plasma berkisar 154 hingga 310 pohon, rata-rata
jumlah pohon adalah 256 pohon/kapling atau 128 pohon/ha.

Jumlah pohon

terbanyak terdapat pada kebun plasma pola PIR-Trans (260 pohon/kapling),


sedangkan jumlah pohon kurang dari 200 pohon/kapling banyak ditemui pada kebun
plasma pola PIR-Sus. Jumlah pohon paling sedikit (154 batang/kapling) terdapat di
kebun plasma pola PIR KUK, akibat serangan hama babi hutan pada saat tanaman
berusia muda (umumnya di bawah dua tahun).

148

Kriteria lain agar kebun plasma layak untuk dikonversi adalah jumlah pohon
melebihi 240 pohon/kapling, atau kondisi kebun termasuk katagori A. Kenyataan di
lokasi penelitian masih ditemui kebun plasma contoh yang lebih rendah dari katagori
A, yaitu katagori B dan C pada pola PIR-Sus dan PIR-KUK, dan katagori B, C dan D
pada pola PIR-Trans. Jumlah lahan kebun dengan kualitas bukan A terbanyak pada
pola PIR-Sus (18.67%), sebesar 2.94% pada pola PIR-KUK dan hanya 2.27% pada
pola PIR-Trans.

Kualitas kebun yang relatif rendah akan mempengaruhi

produktivitas kebun, selanjutnya mempengaruhi penerimaan dan pendapatan petani


sehingga

dapat

menurunkan

kemampuan

petani

melunasi

kredit

dan

memperpanjang waktu pelunasan kredit pembukaan kebun plasma.


Biaya pembukaan kebun plasma yang menjadi nilai pengembalian kredit
rumahtangga petani plasma sangat bervariasi tergantung tahun pembukaan kebun
dan penanaman bibit kelapa sawit yaitu berkisar Rp 4.50 - Rp 15.00 juta per kapling.
Perbedaan nilai kredit juga ditentukan oleh jenis proyek PIR yang mengelolanya,
perbedaan kondisi lahan kebun dan biaya pemeliharaan kebun plasma selama
tanaman belum menghasilkan (TBM). Sebagai contoh komponen kredit pada pola
PIR-Sus memperhitungkan juga rumah yang ditempati keluarga petani.
Sebagian besar rumahtangga petani plasma contoh sudah melunasi kredit
dengan masa pelunasan yang beragam, dimana pelunasan kredit pada pola PIRSus adalah 95.00% dan pola PIR-Trans adalah 83.00%. Masa pelunasan kredit
paling lama terdapat pada petani pola PIR-Sus (rata-rata 7.00 tahun), sedangkan
petani pola PIR-Trans mampu melunasi kredit lebih cepat (rata-rata 3.69 tahun),
bahkan ada petani yang mampu melunasi kredit hanya satu tahun. Kasus seperti ini
diduga karena petani selain sebagai peserta pola PIR juga merangkap pedagang
pengumpul kelapa sawit dari kebun plasma lain. Jumlah petani pola PIR-Sus yang

149

belum lunas kredit sebanyak delapan orang (5.33%) sedangkan jumlah petani pola
PIR-Trans yang belum lunas kredit lebih banyak yaitu 23 orang (10.67%).
Penundaan pelunasan cicilan kredit dapat disebabkan oleh faktor-faktor teknis
maupun non teknis, antara lain: produktivitas kebun yang rendah, petani menjual
kepada pabrik PKS non inti untuk menghindari potongan dari nilai jual produk TBS
oleh inti terlalu rendah. Sayang sekali data tentang berapa jumlah TBS yang dijual
kepada pabrik PKS non inti tidak diperoleh.
Pada waktu pengumpulan data tahun 2002, semua rumahtangga petani
plasma pola PIR-KUK belum melunasi kredit karena umur tanaman relatif muda
(rata-rata 6.93 tahun) sehingga masa mencicil hutang baru berjalan kira-kira 3 tahun
untuk pinjaman sebesar Rp13 juta. Diperkirakan petani mampu melunasi cicilan
kredit paling cepat empat tahun, bahkan beberapa petani sudah melunasi kredit
(Informasi dari pengurus KUD dan TK-PIR pola PIR-KUK Selapan Jaya, Kabupaten
Ogan Komering Ilir pada bulan April tahun 2005).
6.2.

Karakteristik Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit Contoh


Karakteristik rumahtangga petani plasma contoh pada masing-masing pola

PIR dicerminkan oleh variabel umur petani (suami) dan istri petani (istri), jumlah
anggota keluarga, jumlah tenaga kerja keluarga, jumlah anak usia sekolah, jumlah
anak balita, pengalaman usahatani (suami dan istri), lamanya menjalani pendidikan
formal (dalam tahun) serta asal daerah suami dan istri (Tabel 15).
Umur suami dan istri paling tua terdapat pada pola PIR-Sus dan termuda
terdapat pada pola PIR-Trans.

Rata-rata umur suami adalah 43.15 tahun,

sedangkan rata-rata umur istri adalah 37.39 tahun. Rata-rata umur suami dan istri
pada ketiga pola PIR ini relatif sama dan masih berada pada usia produktif.

150

Tabel 15. Karakteristik Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit


Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
Variabel

PIR-Sus
Umur suami (tahun)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Umur istri (tahun):
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Jumlah anggota keluarga (org)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Jumlah TK keluarga (org)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata

Rata-rata

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Trans

PIR-KUK

23 - 74
48.00
45.48

20 - 70
35.00
40.86

23 - 70
42.00
42.46

20 - 74
50.00
43.15

20 - 65
40.00
38.91

18 - 58
30.00
36.23

20 - 59
40.00
36.13

18 - 65
40.00
37.39

1-8
4
5.00

2-7
4
4.17

1-9
4
4.00

1-9
4
4.40

1-4
2
2.00

1-4
2
1.73

1-4
2
2.00

1-4
2
1.87

Jumlah anak balita (orang)


a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata

0-2
0
0.23

0-2
0
0.42

0-1
0
0.25

0-2
0
0.31

Jumlah anak sekolah (orang)


a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata

0-5
2.00
2.14

04
2
1.42

04
3
1.87

0-5
2
1.82

Lama menetap (tahun):


a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata

6 - 25
15.00
16.57

2-8
6.00
5.42

2 -8
3.00
3.96

2 - 25
6.00
9.91

3 - 21
15.00
11.48

2-8
6.00
5.42

2-8
3.00
3.99

2 - 21
6.00
7.74

TS - D3
SD
7.00

TTSD - S1
SD
7.03

TS - SLTA
SD
6.82

TTSD - S1
SD
6.94

TS-D3
SD
7.00

TS-D3
SD
6.57

TS-SLTA
SD
6.56

TS-S1
SD
6.62

Pengalaman usahatani (tahun)


a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Pendidikan suami (tahun)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata
Pendidikan istri (tahun)
a) Kisaran
b) Mode
c) Rerata

Keterangan: TK= Tenaga Kerja; TS = tidak sekolah; TTSD = tidak tamat SD.

151

Jumlah petani berasal dari penduduk lokal sebagai peserta PIR kelapa sawit
relatif kecil (berkisar 14.00% - 33.00%), terbanyak pada pola PIR-Sus. Sebagian
besar petani peserta pola PIR-Trans adalah penduduk pendatang (luar Sumatera
Selatan) yang berasal dari Pulau Jawa dan Bali.

Mereka didtangkan sebagai

peserta transmigrasi. Petani pola PIR-KUK umumnya penduduk pendatang yang


menetap di wilayah Sumatera Selatan sebagai transmigrasi umum tanaman pangan
sejak tahun 1980/81.
Anggota rumahtangga adalah jumlah orang yang biasanya bertempat tinggal
di suatu rumah tangga, baik yang berada di rumah pada waktu pencacahan maupun
sementara tidak ada (BPS, 2003), dimana rata-rata jumlah anggota keluarga
rumahtangga petani contoh adalah 4.40 orang. Angka ini sama dengan rata-rata
jumlah anggota rumahtangga penduduk Sumatera Selatan, tetapi relatif lebih besar
dari rata-rata jumlah anggota keluarga rumahtangga Indonesia (3.80 orang). Angka
ini mengandung arti bahwa dalam rumahtangga petani plasma contoh terdapat
suami, istri dan dua hingga tiga orang anak atau anggota lain yang berdiam dalam
satu rumah, dimana keluarga petani umumnya menganut prinsip keluarga inti
(nucleus family).
Sumber tenaga kerja keluarga merupakan anggota keluaarga yang termasuk
usia kerja, yaitu anggota keluarga yang berumur antara 15 - 64 tahun (BPS, 2003),
dimana rata-rata tenaga kerja rumahtangga petani plasma contoh adalah 1.87
orang.

Sumber tenaga kerja keluarga di lokasi penelitian umumnya terdiri dari

petani plasma (suami), istri dan anak yang sudah besar tetapi tidak bersekolah lagi.
Jika jumlah tenaga kerja keluarga tidak mencukupi, biasanya petani menggunakan
tenaga kerja luar keluarga sebagai tenaga kerja upahan.

152

Beberapa rumahtangga petani plasma contoh mempunyai anak balita yaitu


penduduk berusia dibawah lima tahun. Menurut Benjamin dan Guyomard (1994)
karakteristik keluarga terutama yang terdapat anak-anak di rumah mempunyai
pengaruh negatif yang signifikan terhadap peluang istri untuk melakukan kegaiatan
yang menghasilkan upah.

Dalam penelitian ini adanya anak-anak (anak balita)

menjadi kendala bagi istri petani plasma untuk mencurahkan waktunya secara
penuh pada kegiatan produktif.

Rata-rata rumahtangga petani plasma contoh

mempunyai anak balita 0.31 orang, dimana jumlah anak balita terbanyak pada pola
PIR-Trans (0.45 orang) atau hampir dua kali dari pola PIR-Sus dan PIR-KUK.
Jumlah anak usia sekolah dan sedang bersekolah rata-rata 1.82 orang atau
hampir separuh dari jumlah anggota keluarga (rata-rata 41.36%). Jika diasumsikan
setiap keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak, berarti umumnya anak-anak
petani dalam status bersekolah (75.83%). Besarnya pangsa anak yang bersekolah
mencerminkan pola pikir rumahtangga petani plasma contoh yang cukup maju
dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan. Akantetapi
jumlah anak bersekolah pada rumahtangga petani sekaligus merupakan kendala
rumahtangga petani dalam pengadaan tanaga kerja keluarga.
Lamanya keluarga petani menetap di lokasi kebun plasma sangat beragam
yaitu berkisar 2 hingga 25 tahun atau rata-rata 9.91 tahun, paling lama pola PIR-Sus
(rata-rata 16.57 tahun), dan paling baru adalah pola PIR-KUK (rata-rata 3.96 tahun).
Hal ini sesuai dengan tahun pembukaan kebun plasma, dimana PIR-Sus merupakan
pola PIR yang pertama kali di kembangkan tahun 1980/1981, sedangkan pola PIRKUK merupakan proyek PIR paling baru dilaksanakan yaitu dimulai tahun 1992.
Pengalaman dalam usahatani kelapa sawit ditentukan dari lamanya petani
dan istri menggarap kebun plasma. Rata-rata pengalaman petani pada usahatani

153

kelapa sawit adalah 7.74 tahun, pengalaman paling lama pada pola PIR-Sus (ratarata 11.48 tahun), sedangkan pengalaman paling baru pada petani pola PIR-KUK
dan petani pendatang yang membeli lahan kebun plasma dari petani peserta PIR.
Tingkat pendidikan suami dan istri mencerminkaan kualitas pengelola kebun
plasma kelapa sawit. Kisaran pendidikan sangat variatif yaitu dari tidak sekolah (TS)
hingga perguruan tinggi (D3 dan S1).

Tingkat pendidikan rata-rata dan terbanyak

adalah tamat SD, atau mengalami pendidikan formal berkisar enam hingga tujuh
tahun. Suami atau istri dengan pendidikan relatif tinggi umumnya adalah pendatang
yang membeli lahan kebun milik petani plasma lama atau mereka yang tinggal di
lokasi kebun akantetapi mempunyai pekerjaan tetap dengan jabatan tertentu (seperti
guru, karyawan kebun inti atau pengurus KUD), selanjutnya menyerahkan
pengelolaan lahannya kepada kelompok tani sesuai perjanjian yang disepakati.
Fenomena di atas membuktikan bahwa pendidikan formal yang relatif tinggi tanpa
disertai pengalaman usahatani yang memadai cenderung menjadi penyebab
beralihnya tenaga kerja keluarga dari usahatani kelapa sawit ke luar usahatani
kelapa sawit terutama ke sektor non usahatani.
6.3. Alokasi Waktu Kerja Anggota Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Alokasi tenaga kerja anggota rumahtangga petani plasma kelapa sawit
dihitung dari jumlah waktu kerja riil yang dicurahkan oleh tenaga kerja rumahtangga
petani plasma contoh untuk mencari nafkah baik di dalam kebun plasma (kegiatan
produksi kelapa sawit), maupun di luar kebun plasma (kegiatan di kebun karet, lahan
pangan, usaha ternak atau kegiatan non usahatani).

Alokasi waktu kerja

dikelompokkan berdasarkan curahan kerja suami, istri dan anak berdasarkan pola
PIR kelapa sawit yaitu pola PIR-Sus, PIR-Trans dan PIR-KUK (Tabel 16)

154

Tabel 16. Alokasi Waktu Kerja Anggota Rumahtangga Petani Plasma


Kelapa Sawit Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
Curahan Kerja Keluarga
(HOK/tahun)

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Trans

PIR- KUK

37.23
(53.42)
25.38
(36.42)
7.07
(10.15)

21.54
(75.00)
4.52
(15.74)
2.66
( 9.26)

24.28
(64.47)
8.19
(21.75)
5.19
(13.78)

28.65
(60.31)
14.18
(29.85)
4.67
(9.84)

Total di kebun plasma

69.68
(100.00)

28.72
(100.00)

37.66
(100.00)

47.50
(100.00)

Pangsa terhadap total (%)

(19.15)*

(12.51)*

(15.08)*

(16.47)*

152.64
(51.90)
141.46
(48.20)
0.00
( 0.00)

138.82
(69.09)
44.39
(22.09)
17.73
( 8.82)

109.02
(51.40)
83.07
(39.17)
20.00
( 9.43)

137.63
(57.14)
92.68
(38.48)
10.57
( 4.38)

Total di luar kebun plasma

294.10
(100.00)

200.94
(100.00)

212.09
(100.00)

240.88
(100.00)

Pangsa terhadap total (%)

(80.85)*

(87.49)*

(84.92)*

(83.43)*

Total Curahan Kerja

363.78
(100.00)*

229.66
(100.00)*

249.75
(100.00)*

288.38
(100.00)*

Kebun Plasma
1. Suami
2. Istri
3. Anak

Luar Kebun Plasma


1. Suami
2. Istri
3. Anak

PIR-Sus

Rata-rata

Keterangan: ( ) menyatakan persentase


Rata-rata total curahan kerja suami, istri dan anak dalam setahun sebanyak
166.28 HOK (57.67%), 106.86 HOK (37.05%) dan 15.24 HOK (5.28%). Waktu kerja
suami umumnya lebih banyak dibandingkan anggota keluarga lainnya yaitu rata-rata
1.56 kali dari waktu kerja istri dan 10.92 kali dari waktu kerja anak.

155

Peranan suami yang dominan dalam mencari nafkah terjadi pada ketiga pola
PIR dengan pangsa lebih dari 50.00% dari total curahan kerja keluarga. Hal ini
menunjukkan bahwa peranan suami tetap sebagai pencari nafkah utama dalam
rumahtangga, akantetapi partisipasi istri dalam mencari nafkah cukup besar (yaitu
64% dari waktu kerja suami) disamping mereka melakukan kegiatan rutin
rumahtangga (domestic activities) seperti: mengurus anak, membersihkan rumah,
menyiapkan makan dan minum anggota keluarga.
Total curahan kerja anggota keluarga pada kegiatan mencari nafkah adalah
rata-rata 288.38 HOK/tahun atau hanya sekitar 23 jam/orang/minggu. Curahan kerja
produktif ini lebih kecil dibandingkan dengan ukuran bekerja menurut BPS (2003),
dimana seseorang dianggap bekerja minimal bekerja selama 35 jam/orang/minggu.
Jika penduduk bekerja kurang dari angka tersebut maka dapat dikelompkkan
sebagai penduduk setengah menganggur.

Angka ini memang sesuai dengan

fenomena di lapangan, dimana rumahtangga petani umumnya mempunyai waktu


luang yang relatif besar terutama pada masa menunggu panen.

Kelapa sawit

sebagai tanaman tahunan tidak memerlukan pemeliharaan seintensif tanaman


pangan sehingga pemanfaatan tenaga kerja keluarga di luar kebun plasma menjadi
kunci pemanfaatan tenaga kerja secara lebih intensif.
Curahan kerja terbesar terdapat pada keluarga petani dengan pola PIR-Sus
(363.78 HOK) dan curahan kerja terkecil terdapat pada keluarga petani dengan pola
PIR-Trans (229.66 HOK). Rendahnya curahan kerja keluarga petani pola PIR-Trans
terutama akibat paling rendahnya kontribusi curahan kerja istri petani yaitu hanya
30.00% dari curahan kerja istri petani pola PIR-Sus dan hanya 54.00% dari curahan
kerja istri petani pola PIR-KUK. Hal ini disebabkan antara lain oleh keberadaan
anak balita pola PIR-Trans dalam jumlah paling banyak (0.45 orang) atau hampir

156

dua kali dari rumahtangga petani pola PIR-Sus dan PIR-KUK. Keberadaan anak
balita seperti yang diungkapkan oleh Benjamin dan Guyomard (1994) mempunyai
pengaruh negatif yang signifikan terhadap peluang bagi istri untuk untuk mencari
kegaiatan yang menghasilkan upah atau adanya anak balita menjadi kendala bagi
wanita yang sudah berkeluarga (istri) untuk mencurahkan waktu pada kegiatan
produktif di luar rumahtangga.
Sebelum menjadi petani plasma umumnya petani pola PIR-Sus sudah
mempunyai pekerjaan pokok di luar kebun plasma, baik di sektor pertanian maupun
non pertanian.

Pekerjaan di sektor pertanian seperti: petani kebun karet, buah-

buahan dan tanaman pangan serta usaha peternakan. Sedangkan pekerjaan di


sektor non pertanian hampir sama dengan petani pola PIR lainnya (seperti: buruh
tani, buruh industri rumahtangga, sopir, guru dan lain-lain).
Rata-rata curahan kerja suami, istri dan anak pada kebun kelapa sawit
plasma dalam setahun berturut-turut sebanyak 28.65 HOK (60.31%), 14.18 HOK
(29.85%) dan 4.67 HOK (9.84%). Curahan kerja suami pada kebun plasma lebih
dominan dibandingkan curahan kerja istri dan anak, demikian juga curahan kerja
toatal suami pada ketiga pola PIR juga dominan yaitu lebih dari 50.00% atau
berkisar 53.42% 75.00% dari total curahan kerja keluarga.
Pengelolaan kebun kelapa sawit sebagai tanaman perkebunan merupakan
pekerjaan yang cukup berat sehingga memerlukan curahan kerja fisik yang lebih
besar. Jenis pekerjaan di kebun lebih memerlukan tenaga kerja pria dewasa (suami
atau anak laki-laki dewasa), sedangkan tenaga kerja wanita dewasa (istri dan anak
perempuan) hanya dibutuhkan pada kegiatan penyiangan gulma dan pengumpulan
hasil panen.

Selain itu lokasi kebun terpisah cukup jauh dari rumah, sehingga

memberatkan para istri terutama yang mempunyai anak balita. Tenaga kerja anak

157

memberikan kontribusi paling kecil yaitu hanya berkisar 9.26% 13.78%, karena
umumnya mereka berada pada usia sekolah dan sedang menjalani pendidikan.
Curahan kerja anggota keluarga rumahatangga petani plasma contoh pada
kebun plasma jauh lebih kecil dibandingkaan dengan kegiatan di luar kebun plasma.
Mereka bekerja di kebun plasma hanya pada waktu tertentu, yaitu kegiatan
memupuk kira-kira 2 - 3 kali setiap tahun, menyiang dan menyemprot setiap 2 bulan
sekali terutama jika terdapat gulma atau hama penyakit tanaman, kegiatan panen
serta pengumpulan buah sawit ke tempat pengumpulan hasil (TPH) dilakukan setiap
2 minggu sekali. Kegiatan pemeliharaan dilakukan lebih intensif hanya pada saat
menjelang panen terutama jika harga tandan buah segar (TBS) meningkat.
Kegiatan panen TBS di kebun plasma umumnya dilakukan sesuai jadwal yang
disusun dan diketahui oleh kelompok tani, pengurus KUD atau pihak lain yang
bertugas mengangkut hasil panen petani. Hal ini dilakukan agar hasil panen (TBS)
dapat segera diangkut dan diolah di pabrik untuk mencegah penumpukkan TBS di
TPH dan kerusakan buah selama di timbun di lokasi pabrik pengolahan kelapa sawit
(pabrik PKS) inti.
Alokasi waktu kerja suami, istri dan anak pada luar kebun plasma bervariasi
tergantung ketersediaan tenaga kerja keluarga dan kebutuhan keluarga untuk
menutupi biaya usahatani kelapa sawit serta pengeluaran lainnya. Rata-rata alokasi
waktu kerja suami pada luar kebun plasma dalam setahun paling banyak yaitu
sebesar 137.63 HOK (57.14%), sedangkan alokasi waktu kerja istri dan anak
masing-masing sebanyak 92.68 HOK (38.48%) dan 10.57 HOK (4.38%).
Besarnya persentase curahan kerja suami pada kegiatan di luar kebun
plasma untuk ketiga pola PIR (lebih dari 50.00%) menunjukkan bahwa peranan
suami tetap dominan dalam mencari nafkah dibandingkan istri dan anak. Istri dan

158

anak hanya tenaga kerja pelengkap untuk menambah pendapatan keluarga.


Bahkan pada pola PIR-Sus tidak ada tenaga kerja anak yang di curahkan pada luar
kebun plasma, mereka hanya membantu pada kebun kelapa sawit keluarga saja.
Rata-rata total curahan kerja anggota keluarga di luar kebun plasma jauh
lebih besar (yaitu 240.88 HOK/tahun) sedangkan curahan kerja di kebun plasma
hanya 47.50 HOK/tahun. Curahan kerja masing-masing anggota keluarga secara
fisik umumnya lebih banyak pada kegiatan di luar kebun plasma, dimana curahan
kerja suami hampir 4.80 , curahan kerja istri 6.51 dan curahan kerja anak 2.26 kali
dari curahan kerja mereka pada kebun plasma.
Curahan kerja istri pada luar kebun plasma lebih besar dibandingkan
curahan kerja pada kebun plasma baik secara nominal maupun persentase.
Fenomena ini terjadi pada ketiga pola PIR, dimana para istri cenderung
memanfaatkan waktu luangnya untuk mencari nafkah tambahan di luar kebun
plasma daripada di kebun plasma. Pekerjaan di kebun kelapa sawit di rasa cukup
berat bagi para istri terutama yang mempunyai anak balita, selain itu kerja di kebun
plasma tidak memberikan penghasilan tunai, sedangkan mereka membutuhkan
dana tunai untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang mana penghasilan tunai
tersebut dapat mereka peroleh dari kegiatan di luar kebun plasma.
Jenis pekerjaan di luar kebun plasma cukup variatif dan fleksibel sesuai
dengan kemampuan dan karakteristik rumahatngga.

Pekerjaan yang dilakukan

umumnya adalah berdagang (membuka warung di rumah), menggarap lahan


pekarangan, buruh industri batu bata, buruh tani di lahan pangan atau di kebun
plasma tetangga pada kegiatan tertentu seperti: panen. Bahkan ada juga istri petani
plasma yang menjadi guru sekolah atau pegawai administrasi koperasi terutama
mereka yang mempunyai tingkat pendidikan relatif tinggi.

159

6.4. Kegiatan Produksi pada Kebun Plasma Kelapa Sawit


Kegiatan rumahtangga petani plasma pada kebun kelapa sawit dicerminkan
dari kegiatan penggunaan input variabel yaitu input non tenaga kerja dan input
tenaga kerja.

Penggunaan input non tenaga kerja adalah penggunaan pupuk

Nitrogen (N), Posfat (P), Kalium (K) dan pestisida (Tabel 17).
Tabel 17. Rincian Pengunaan Input Variabel Kelapa Sawit Rumahtangga
Petani Plasma Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
Jenis Input Variabel

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Sus PIR-Trans PIR- KUK

Ratarata

Permintaan pupuk Nitrogen


(kg/tahun)
Dosis Pupuk N (kg/ha)
Harga pupuk N (Rp/kg)

304.00

300.00

150.00

322.14

119.69
1 230

128.21
1 130

63.02
1 100

103.64
1 180

Permintaan pupuk Posfat (kg/thn)


Dosis Pupuk Posfat (kg/ha)
Harga pupuk Posfat (Rp/kg)

302.00
118.89
1 290

390.15
166.73
1 530

238.97
100.41
1 400

323.00
128.68
1 400

Permintaan pupuk Kalium (kg/thn)


Dosis Pupuk Kalium (kg/ha)
Harga pupuk Kalium (Rp/kg)

302.00
118.89
1 300

396.21
169.32
1 850

220.96
92.84
1 850

321.93
127.02
1 670

Permintaan pestisida (liter/tahun)


Dosis pestisida (liter/ha)
Harga pestisida (Rp/liter)

5.72
2.25
45 000

4.83
2.06
33 880

5.76
2.42
32 970

5.39
2.24
38 470

Penggunaan TK keluarga (HOK)

69.67

28.71

37.66

47.50

Penggunaan TK upahan (HOK)


Upah TK di kbn plasma (Rp/HOK)

20.91
11 770

4.91
17 840

2.26
15 000

10.63
14 690

90.58
35.66

33.62
14.37

39.92
16.77

58.13
22.27

Penggunaan TK total (HOK)


Tingkat curahan kerja (HOK/ha)

Keterangan: TK = tenaga kerja; HOK = hari orang kerja.


Rata-rata penggunaan pupuk N, P dan K di kebun plasma pertahun adalah
berturut-turut 322.14 kg, 323.00 kg dan 321.93 kg. Penggunaan ketiga jenis pupuk
terbesar ditemukan pada kebun plasma pola PIR-Trans dan terendah pada kebun

160

plasma pola PIR-KUK. Rata-rata penggunaan pestisida per tahun adalah 5.39 liter.
Penggunaan pestisida terbesar justru terdapat pada kebun plasma pola PIR-KUK
(5.76 liter/tahun) dan penggunaan terendah pada kebun pola PIR-Trans (4.83
liter/tahun).
Harga rata-rata untuk ketiga jenis pupuk yaitu pupuk Nitrogen, Posfat dan
Kalium adalah Rp 1180/kg Urea, Rp 1400/kg Posfat dan Rp 1670/kg Kalium,
sedangkan harga rata-rata pestisida adalah sebesar Rp 38470/liter. Harga pupuk
dan pestisida di lokasi penelitian beragam untuk ketiga pola PIR. Perbedaan harga
input non tenaga kerja ini adalah akibat perbedaan sistim penyaluran input, saranaprasarana transportasi dan permintaan input tersebut sesuai umur tanaman kelapa
awit. Harga pupuk paling murah terdapat pada lokasi kebun pola PIR-Sus karena
lokasi kebun umumnya disepanjang jalan Lintas Timur Palembang-Banyu Asin dan
jalan raya Palembang-Muara Enim dengan kondisi jalan relatif baik. Harga pupuk
paling mahal ditemukan pada lokasi kebun pola PIR-Trans, dimana kondisi jalan
Lintas Timur Palembang-Jambi dalam keadaan rusak parah. Permintaan dan dosis
pemupukan di kebun plasma pola PIR-Trans relatif paling tinggi sehingga
mendorong harga jual pupuk meningkat. Hal sebaliknya terjadi pada input pestisida,
dimana akibat permintaan dan dosis pestisida paling rendah maka harga pestisida
paling rendah di lokasi kebun pola PIR-Trans.
Penggunaan total tenaga kerja di kebun plasma sebanyak 58.13 HOK/tahun.
Hampir 82.00% sumber tenaga kerja di kebun plasma menggunakan tenaga kerja
keluarga. Penggunaan tenaga kerja terbanyak pada kebun plasma pola PIR-Sus,
hal ini sesuai dengan umur tanaman yang relatif paling tua (17.92 tahun) dan luas
lahan garapan terluas (2.54 ha). Pengunaan tenaga kerja paling sedikit justru pada
pola PIR-Trans, karena rata-rata luas lahan kebun plasma pola PIR-Trans paling

161

kecil (2.34 ha), umur tanaman kelapa sawit lebih muda (rata-rata 10 tahun), sedikit
lebih tua dari umur tanaman kelapa sawit pada pola PIR-KUK (6.93 tahun) dengan
luas lahan relatif lebih luas (2.38 ha).
Penggunaan tenaga kerja keluarga petani di kebun plasma rata-rata 47.50
HOK/tahun.

Penggunaan tenaga kerja keluarga petani di kebun plasma terbesar

pada pola PIR-Sus (69.67 HOK/tahun) dan penggunaan tenaga kerja keluarga
terkecil pada pola PIR-Trans (28.71 HOK/tahun) atau hanya 41.18% dari
penggunaan tenaga kerja pola PIR-Sus dan 76.23% dari penggunaan tenaga kerja
pola PIR-KUK. Meskipun umur tanaman kebun plasma pola PIR-Trans relatif lebih
tua dari kebun pola PIR-KUK, akantetapi luas kebun plasma pola PIR-KUK relatif
lebih luas, sehingga curahan kerja di kebun plasma pertahun relatif lebih sedikit
pada pola PIR-Trans. Selain itu ketersediaan tenaga kerja keluarga pada lokasi
kebun pola PIR-Trans paling sedikit (rata-rata 1.73 orang/rumahtangga) diduga
menjadi penyebab tingginya upah di lokasi kebun plasma pola PIR-Trans yaitu
mencapai Rp 17 840/HOK, bandingkan tingkat upah di lokasi kebun pola PIR lainnya
(Rp 11 770 dan Rp 15 000 per HOK). Relatif tingginya tingkat upah ini mendorong
rumahtangga petani mencoba mengelola kebun secara lebih intensif dengan
mengutamakan penggunaan input pupuk N, P dan K dengan dosis yang paling tinggi
dibandingkan kebun pola PIR lainnya.

Intensifnya pengelolaan kebun plasma

tercermin dari jumlah pohon per kapling terbanyak (259 pohon), produktivitas kebun
kelapa sawit paling tinggi (16.00 ton/ha) terutama jika dibandingkan dengan kebun
plasma pola PIR-Sus dengan rata-rata umur tanaman 17 tahun (belum umur
puncak) dengan produktivitas lebih rendah (10.93 ton/ha), dan kebun plasma pola
PIR-KUK yang berumur lebih muda 3 tahun mempunyai produktivitas jauh lebih
rendah (6.68 ton TBS/ha).

Menurut Ochs (1980) dalam Rural Development

162

Programs (1985), bahwa tanaman kelapa sawit jika dikelola dengan baik dan benar
maka pada kisaran umur tanaman 5 tahun -17 tahun akan mempunyai produktivitas
TBS relatif sama yaitu 26 ton - 27 ton TBS per hektar.
Sebagian rumahtangga petani menggunakan tenaga kerja dari luar keluarga
sebagai tenaga kerja upahan.

Besarnya penggunaan tenaga kerja upahan

bervariasi tergantung pada luas areal kebun plasma, besarnya curahan tenaga kerja
dari dalam keluarga, tingkat upah, dan pola PIR dimana petani sebagai peserta
proyek (mencerminkan umur tanaman, aspek teknologi dan kelembagaan).
Penggunaan

tenaga

kerja

luar

keluarga

umumnya

diperlukan

pada

saat

pembersihan gulma menjelang panen, kegiatan panen dan pasca panen. Kegiatan
panen memerlukan tenaga kerja paling banyak dimana kegiatan ini harus selesai
dalam waktu satu hari agar mutu buah kelapa sawit (TBS) tidak rusak.
Curahan tenaga kerja luar keluarga rata-rata 10.63 HOK/tahun, penggunaan
tenaga kerja luar keluarga terbesar pada pola PIR-Sus karena rata-rata luas kebun
plasma paling besar (rata-rata 2.54 ha), umur tanaman paling tua (rata-rata 17.92
tahun) sehingga ukuran pohon relatif tingi yang memerlukan curahan kerja paling
banyak sedangkan keluarga petani umumnya mempunyai banyak usaha lain di luar
kebun plasma. Penggunaan tenaga kerja luar keluarga terkecil pada pola PIR-KUK,
karena umur tanaman paling muda (rata-rata 7 tahun) sehingga ukuran pohon relatif
rendah, secara biologis produktifitas kebun plasma juga masih rendah, selain itu
sumber pendapatan dari luar kebun plasma masih sedikit yaitu hanya dari kegiatan
non usahatani dan kegiatan di lahan pangan sehingga kemampuan petani
membayar tenaga kerja upahan masih rendah disamping mereka mempunyai waktu
luang relatif banyak untuk mengelola sendiri kebun plasmanya.

163

Apabila semua biaya yang dikeluarkan pada kegiatan di kebun plasma yaitu
berupa penggunaan input variabel dan penggunaan input tetap diperhitungkan untuk
ketiga pola PIR maka diperoleh biaya produksi di kebun kelapa sawit petani plasma
contoh (Tabel 18).
Tabel 18. Rincian Biaya Produksi Kebun Kelapa Sawit Rumahtangga
Petani Plasma Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
Komponen Biaya
Produksi
(Rp 000/tahun)

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Sus

PIR-Trans

Rata-rata

PIR-KUK
1 404.10
(73.91) a )

1 274.30
(63.28) a )
(46.37)

1 758.85
(85.12) a )
(66.40)

1 001.84
(75.31) a )
(52.86)

257.40
(12.78) a )

217.33
(10.52) a )

255.44
(19.13) a )

b)

b)

(8.20)
55.15
(2.67) a )

b)

Biaya upah tenaga kerja

(9.37)
447.08
(22.20) a )

(13.48)
37.94
(2.85) a )

(9.48)
219.78
(11.57) a )

b)

b)

(2.08)
35.00
(1.69) a )

b)

Biaya penyusutan alat

(16.27)
35.00
(1.74) a )

(2.00)
35.00
(2.63) a )

(8.61)
35.00
(1.84) a )

(1.27)
734.20

b)

(1.32)
582.58

b)

(1.85)
564.93

b)

(1.37)
652.57

b)

(21.99)
2 066.33
(100.00) a )

b)

(29.81)
1 330.22
(100.00) a )

b)

(25.57)
1 899.79
(100.00) a )

Biaya pupuk

Biaya pestisida

Nilai tenaga kerja


keluarga
Biaya produksi tunai
kebun plasma (secara
finansial)
Biaya produksi rill kebun
plasma (secara ekonomi)

(26.72)
2 013.78
(100.00) a )
2 747.98
(100.00)

b)

2 648.91
(100.00)

b)

1 895.15
(100.00)

b)

b)

(55.01)
241.91
(12.73) a )
b)

b)

b)

b)

2 552.36
(100.00)

b)

Keterangan: ( ) menyatakan persentase


a)
persentase dari biaya produksi tunai di kebun plasma
b)
persentase dari biaya produksi riil di kebun plasma.
Biaya variabel diperhitungkan dari biaya yang dikeluarkan untuk membeli
input pupuk N, P, K dan pestisida.

Biaya penyusutan alat sebagai biaya tetap

dihitung secara rata-rata dan dibebankan sama untuk semua kebun plasma yaitu
sebesar Rp 35 000/tahun. Jika komponen biaya produksi dihitung dua kali yaitu

164

pertama berdasarkan biaya tunai yaitu tanpa memperhitungkan nilai tenaga kerja
keluarga (secara finansial) dan kedua berdasarkan biaya yang diperhitungkan yaitu
memasukkan juga nilai tenaga kerja keluarga (secara ekonomi).
Biaya produksi di kebun plasma merupakan biaya pupuk yang memberikan
beban terbesar baik secara finansial (73.91%) maupun ekonomi (55.01%),
sedangkan komponen biaya terendah adalah biaya penyusutan alat (kurang dari dua
persen).

Petani banyak menggunakan tenaga kerja keluarga di kebun plasma,

sehingga pangsa nilai tenaga kerja keluarga (perhitungan berdasarkan tingkat upah
yang berlaku) mencapai 25.92% atau lebih dari tiga kali lipat dari pangsa biaya
tenaga kerja luar keluarga (8.61%).
Apabila dikaji berdasarkan pola PIR, maka biaya produksi tunai kebun
plasma untuk ketiga pola PIR juga berbeda, dimana biaya produksi terbesar terdapat
pada kebun plasma PIR-Trans sedangakan, sedangkan biaya produksi terendah
adalah kebun plasma PIR-KUK. Pada kebun plasma pola PIR-Sus curahan tenaga
kerja keluarga paling besar sehingga biaya produksi kelapa sawit di kebun plasma
yang diperhitungkan (secara ekonomi) menjadi terbesar, sedangkan biaya produksi
paling kecil baik secara tunai maupun ekonomi terdapat pada pola PIR-KUK.
Produksi dan dan harga jual produk menghasilkan nilai jual produk kelapa
sawit dari kebun plasma. Akan tetapi nilai jual produk ini tidak seluruhnya diterima
keluarga petani sebagai penerimaan kelapa sawit, karena adanya potonganpotongan yang dibebankan kepada petani sebagai biaya pasca panen. Biaya pasca
panen adalah biaya yang dibebankan kepada rumahtangga petani berupa biaya
administrasi, biaya transportasi, sumbangan (fee) untuk manajemen KUD dan cicilan
kredit (Tabel 19).

165

Tabel 19. Rincian Biaya Pasca Panen Kelapa Sawit Rumahtangga


Petani Plasma Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
Komponen Biaya
Pasca Panen
(Rp 000/tahun)

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Sus
PIR-Trans
PIR-KUK

Rata-rata

Biaya administrasi TBS

492.60
(35.56)

766.89
(27.44)

283.94
(11.05)

514.48
(24.42)

Biaya transportasi TBS

743.80
(53.69)

1 135.46
(40.62)

499.47
(19.44)

844.04
(40.06)

Biaya manajemen KUD

93.85
( 6.77)

193.04
( 6.91)

68.63
( 2.67)

128.91
( 6.12)

Biaya cicilan kredit

55.07
( 3.98)

695.67
(24.89)

1 717.84
(66.85)

619.72
(29.41)

1 385.32
(100.00)

2 795.02
(100.00)

2 569.88
(100.00)

2 107.15
(100.00)

Total Potongan

Keterangan: ( )
menyatakan persentase
TBS = tandan buah segar, KUD = koperasi unit desa.
Biaya administrasi besarnya kira-kira 5.00% dari nilai jual produk, biaya
transportasi dihitung berdasarkan jumlah TBS yang diangkut dikali ongkos angkut
TBS per satuan (kg) dari tempat pemungutan hasil (TPH) ke pabrik PKS yang
besarnya bervariasi (antara Rp 25.00 Rp 51.00 per kg TBS) tergantung jarak
kebun plasma ke pabrik PKS inti, dan sumbangan (fee) untuk manajemen KUD
dibebankan setiap kilogram TBS yang dijual petani yang besarnya juga bervariasi
(antara Rp 2.00 Rp 9.00) serta biaya cicilan kredit petani yaitu sebesar 10.00%
untuk pola PIR-Sus atau 30.00% untuk pola PIR-Trans dan PIR-KUK dari nilai jual
produk kelapa sawit petani plasma.

Banyaknya potongan sebagai biaya pasca

panen mencerminkan besarnya biaya transaksi dalam pemasaran produk kelapa


sawit di kebun plasma pada ketiga pola PIR.

166

Dari keempat komponen biaya pasca panen ini maka biaya transportasi TBS
adalah biaya dengan pangsa terbesar (40.06%), sedangkan biaya manajemen KUD
mempunyai pangsa terkecil (6.12%). Tingginya biaya transportasi mencerminkan
kondisi infra struktur di lokasi penelitiaan yang kurang baik yang merupakan ciri
umum lokasi produksi pertanian.
Komponen biaya cicilan kredit menduduki posisi kedua terbesar yaitu ratarata 29.41%. Petani pola PIR-KUK sampai tahun 2002, belum ada yang lunas kredit
sehingga pangsa biaya cicilan kredit tertinggi (66.85%), sedangkan petani pola PIRSus umumnya sudah lunas kredit sehingga cicilan kredit mempunyai pangsa
terkecil.

Komponen biaya administrasi menduduki posisi ketiga yaitu rata-rata

24.42%. Komponen biaya ini dibebankan dengan persentase yang sama yaaitu
5.00% terhadap nilai jual produk kelapa sawit, digunakan untuk biaya pemeliharaan
jalan kebun dan biaya
Apabila komponen biaya produksi di kebun plasma (Tabel 18) dan komponen
biaya pasca penen (Tabel 19) digabung maka dapat diketahui besarnya biaya
produksi total di kebun plasma pada masing-masing pola PIR yang diperhitungkan
secara tunai dan ekonomi (Tabel 20).
Rata-rata biaya produksi total rumahtangga petani plasma adalah sebesar
Rp 4 679.22/tahun (secara ekonomi) atau Rp 4 051.98 (secara finansial).
Komponen biaya terbesar adalah biaya produksi di kebun (54.55%) terutama dari
biaya non tenaga kerja (biaya pupuk dan pestisida), sedangkan komponen terkecil
adalah biaya cicilan kredit (13.24%).

Biaya produksi total terbesar pada kebun

plasma pola PIR-Trans dan terkecil pada kebun plasma pola PIR-Sus baik
berdasarkan perhitungan ekonomi maupun ffinansial. Petani plasma pola PIR-KUK
mengeluarkan biaya produksi total relatif lebih tinggi daripada petani pola PIR-Sus

167

akibat masih besarnya beban cicilan kredit petani yang mencapai 38.47%,
sedangkan petani pola PIR-Sus mengeluarkan biaya cicilan kredit paling kecil
(1.33%), karena hampir semua petani sudah melunasi kredit (95.00%).
Tabel 20. Rincian Biaya Produksi Total Kelapa Sawit Rumahtangga
Petani Plasma Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
Komponen Biaya
Produksi
(Rp 000/tahun)
A. Biaya Produksi di
Kebun
(A = 1+ 2 + 3+4)
1. Biaya Input Non TK

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Sus
PIR-Trans PIR-KUK
2 747.98
(66.49)

1 895.15
(42.44)

2 552.36
(54.55)

1 531.70

1 976.18

1 257.28

1 646.01

447.08

55.15

37.94

219.78

35.00

35.00

35.00

35.00

734.20

582.58

564.93

652.57

2. Biaya Input TK Luar


Keluarga
3. Biaya Penyusutan
Alat
4. Biaya Input TK
Keluarga
B. Biaya Pasca Panen
(B = 1 + 2+3)

2 648.91
(48.69)

Rata-rata

2 095.39
(38.52)

1 329.6
(32.17)

852.04
(19.08)

1 425.68
(30.47)

1. Biaya Transportasi

743.80

1 135.46

499.47

844.04

2. Biaya Pengelolaan
KUD
3. Biaya Administrasi

93.85

193.04

68.63

128.91

492.60

766.89

283.94

514.48

55.07
(1.33)

695.67
(12.79)

1 717.84
(38.47)

619.72
(13.24)

D. Biaya produksi total


(secara ekonomi)
(D = A + B + C )

4 132.65
(100.00)

5 439.97
(100.00)

4 465.03
(100.00)

4 679.22
(100.00)

E. Biaya produksi total


tunai
(secara finansial)
(E = D A4)

3 398.45
(100.00) *)

4 857.39
(100.00) *)

3 900.10
(100.00) *)

4 051.98
(100.00) *)

C. Biaya Cicilan Kredit

Keterangan: ( ) menyatakan persentase; TBS= tandan buah segar


TK = Tenaga Kerja; KUD = Koperasi Unit Desa

168

6.5. Pendapatan Rumahtangga Petani Plasma Kelapa sawit


Pendapatan rumahtangga petani plasma dapat bersumber dari kelapa sawit
di kebun plasma dan usaha di luar kebun plasma. Pendapatan dari kelapa sawit di
kebun plasma merupakan selisih penerimaan TBS dengan biaya total kelapa sawit
di kebun plasma. Pendapatan dari luar kebun plasma bersumber dari pendapatan
kebun karet, ternak, tanaman pangan dan pendapatan non usahatani (Tabel 21).
Tabel 21. Rincian Pendapatan Rumahtangga Petani Plasma
Kelapa Sawit Contoh di Sumatera Selatan Tahun 2002
No
A
1.
2.

1.
2.
3.
4.
B
C

Jenis Pendapatan
Keluarga
(Rp 000/tahun)
Pendapatan Kelapa
sawit Kebun Plasma
Per satuan luas lahan
(Rp/ha)
Total (Rp/tahun)

Pendapatan dari
kebun karet
Pendapatan dari
lahan pangan
Pendapatan usaha
ternak
Pendapatan non
usahatani
Pendapatan dari Luar
Kebun Plasma
(B = 1 + 2 + 3+4)
Pendapatan Total
Keluarga Petani
Plasma
(C = A + B)

Pola Perusahaan Inti Rakyat

Rata-rata

PIR-Sus

PIR-Trans

PIR- KUK

2 540.77

4 478.82

683.55

2 567.71

6 453.55
(47.90)

10 480.44
(81.44)

1 626.86
(27.73)

6 186.95
(56.62)

3 514.77
(26.09)
2 164.79
(16.07)
324.00
(2.40)
1 017.02
(7.54)

584.12
(4.54)
78.63
(0.61)
1 726.33
(13.41)

300.88
(5.13)
0
3 939.94
(67.14)

1 510.65
(14.07)
1 208.30
(11.25)
168.77
(1.57)
1 852.77
(17.26)

7 020.58
(52.10)

2 389.08
(18.56)

4 240.82
(72.27)

4 740.50
(43.38)

13 474.13
(100.00)

12 869.52
(100.00)

5 867.68
(100.00)

10 927.45
(100.00)

Keterangan: ( ) menyatakan persentase dari pendapatan total


Rata-rata pendapatan rumahtangga petani plasma dari kelapa sawit adalah
sebesar Rp 6 186.95 juta/tahun atau 56.62% dari total pendapatan keluarga.

169

Pangsa pendapatan kelapa sawit per tahun terbesar terdapat pada petani pola PIRTrans (81.44%) dan terkecil pada petani pola PIR-KUK (25.45%).

Pendapatan

kelapa sawit per satuan luas (hektar) terbesar juga terdapat pada rumahtangga
petani pola PIR-Trans (Rp 4 478 820/ha), dimana tingkat pendapatannya adalah
1.76 kali dari pola PIR-Sus atau 6.55 kali dari pola PIR-KUK.

Keseriuasan

rumahtangga petani pola PIR-Trans mengelola kebun plasma tercermin juga dari
kecilnya kontribusi pendapatan rumahtangga dari luar kebun plasma yaitu hanya
18.56%, dibandingkan pola PIR lainnya. Rata-rata pendapatan rumahtangga petani
dari luar kebun plasma mencapai Rp 4.74 juta/tahun atau 43.38% dari pendapatan
total rumahtangga petani. Sebagai perbandingan kontribusi pendapatan luar kebun
plasma pada pola PIR-Sus adalah 52.10% dan kontribusi pendapatan luar kebun
plasma paling sebesar pada pola PIR-KUK yang mencapai 72.27%.
Rumahtangga petani pola PIR-KUK mempunyai sumber pendapatan luar
kebun plasma terbesar terutama dari sektor non usahatani (61.64%).

Besarnya

pendapatan dari luar kebun plasma pada polaa PIR-KUK akibat kecilnya
pendapatan dari kebun plasma yaitu hanya Rp 1 626 860/tahun (27.73%) sehingga
mereka berusaha menutupi kebutuhan keluarga dari luar kebun plasma yaitu dari
lahan pangan dan non usahatani.

Rumahtangga petani pola PIR-Sus juga

mempunyai pendapatan dari luar kebun plasma (52.10%) lebih besar daripada
pendapatan kelapa sawit di kebun plasma terutama dari kebun karet (26.09%),
disamping pendapatan dari lahan pangan, usaha ternak dan non usahatani. Hal ini
akibat luasnya areal kebun karet yang dimiliki petani plasma sebelum menjadi
peserta PIR kelapa sawit.
Rata-rata sumber pendapatan luar kebun plasma terbesar berasal dari
pendapatan non usahatani (16.96%) antara lain bekerja sebagai buruh tani, buruh

170

industri rumahtangga yang mendapat upah. Pendapatan non usahatani terbesar


diperoleh oleh rumahtangga petani pola PIR-KUK (70.30%) dan terkecil oleh
rumahtangga petani pola PIR-Sus (8.37%).

Petani bekerja pada kegiatan non

usahatani umumnya sebagai buruh tani, buruh industri atau sektor informal lainnya.
Rata-rata upah sebagai buruh non usahatani (buruh lain) adalah Rp 15 311/HOK,
uapah ini relatif lebih tinggi dibandingkan bekerja sebagai buruh tani (kebun plasma
atau kebun inti) (Tabel 22).
Bekerja sebagai buruh tani umumnya di kebun kelapa sawit Inti atau kebun
petani plasma lainnya. Tingkat upah buruh tani yang berlaku relatif homogen, jika
terdapat variasi upah di lokasi penelitian disebabkan adanya perbedaan kegiatan
pada kebun kelapa sawit (kegiatan pemeliharaan atau panen), lokasi kebun dan
sistim upah yang berbeda akibat perbedaan pola PIR atau umur tanaman.
Tenaga kerja buruh tani sangat diperlukan pada kegiatan pemupukan,
penyiangan, penyemprotan dan panen. Penyiangan terutama dilakukan menjelang
panen, yaitu membersihkan gulma yang merambat pohon dan kegiatan membuang
pelepah pohon kelapa sawit yang sudah tua terutama yang menutupi tandan buah
kelapa sawit (pruning). Kegiatan pembersihan pelepah daun kelapa sawit untuk
memudahkan pemotongan buah sawit. Kegiatan pemeliharaan menggunakan sistim
upah harian, sedangkan kegiatan panen menggunaan sistim upah borongan yaitu
dibayar untuk setiap ton TBS yang dipanen. Jika dikonversikan dengan upah harian
maka tingkat upah yang berlaku relatif sama karena untuk panen satu ton TBS
memerlukan curahan kerja sebanyak satu hingga dua HOK.
Rata-rata upah tertinggi pada lokasi pola PIR-Trans dan upah terendah pada
lokasi pola PIR-KUK, hal ini akibat ketersediaan tenaga kerja keluarga di lokasi

171

tersebut (suplai tenaga kerja), perbedaan tingkat kesulitan atau jenis pekerjaan, dan
tingkat pendapatan dari sumber lain.
Tabel 22. Variasi Tingkat Upah Tenaga Kerja di Lokasi Kebun Kelapa Sawit
Sumatera Selatan Tahun 2002
Pola PIR dan
Lokasi Penelitian

Upah buruh
kebun plasma
Pemeliharaan
Panen*)
(Rp/HOK)
(Rp/ton)

Upah
Buruh inti
(Rp/HOK)

Upah
Buruh lain
(Rp/HOK)

PIR-Sus Betung
Barat
1. Gajah Mati
2. Tanjung Agung

12 500
10 000

25 000
25 000

12 500
10 000

12 500
10 000

15 000

25 000

15 000

15 000

PIR-Sus Sungai
Lengi
1. Semaja Makmur
2. Sido Mulyo

13 000
13 000

15 000
15 000

15 000
15 000

15 000
15 000

13 000

15 000

15 000

15 000

PIR-Trans Aek
Tarum
1. Kemang Indah
2. Rotan Mulya

12 500
10 000

25 000
25 000

15 000
15 000

15 000
15 000

15 000

25 000

15 000

15 000

PIR-Trans Hindoli
1. Sumber Rezeki
2. Suka Damai

14 000
14 000
14 000

25 000
25 000
25 000

15 000
15 000
15 000

15 000
15 000
15 000

PIR-KUK Slapan
Jaya,
1. Sumbu Sari

10 000
10 000

15 000
15 000

15 000
15 000

14 000
14 000

13 109

22 234

14 346

15 311

Rata-rata

Keterangan: *) pekerjaan untuk memanen satu ton TBS membutuhkan


waktu berkisar 1 - 2 HOK sehingga tingkat upah
per HOK relatif sama.
Kegiatan di kebun plasma pola PIR-KUK relatif lebih mudah karena umur
tanaman masih muda sehingga ketersediaan tenaga kerja keluarga berlebih.
Penawaran tenaga kerja yang lebih besar menurunkan tingkat upah sehingga tingkat
upah buruh lebih rendah. Hal sebaliknya terjadi pada kebun plasma pola PIR-Sus

172

dan PIR-Trans, dimana umur tanaman lebih tua (pohon kelapa sawit lebih tinggi)
yang memerlukan curahan kerja yang lebih banyak dan pekerjaannya lebih sulit
sehingga upah lebih tinggi. Selain itu rata-rata pendapatan kelapa sawit pada pola
PIR-Trans paling tinggi (yaitu sebesar Rp 10 480 440/tahun atau Rp 4 478 820/ha)
sehingga respon penawaran tenaga kerja anggota keluarga bekerja di luar kebun
plasma menurun.

Anggota rumahtangga petani lebih memilih untuk bersantai

(leisure) daripada mencari tambahan pendapatan di luar kebun plasma kelapa sawit
karena pendapatan dari kelapa sawit dianggap cukup memadai untuk memenuhi
kebutuhan keluarga.
6. 6. Pengeluaran dan Pelunasan Kredit Rumahtangga Petani Plasma
Kelapa Sawit
Penggunaan pendapatan rumahtangga petani plasma (total pengeluaran
keluarga petani) untuk memenuhi kebutuhan keluarga dirinci berdasarkan
pengeluaran untuk konsumsi (pangan dan non pangan), pengeluaran unttuk
investasi (pendidikan, kesehatan, produksi), pengeluaran untuk asuransi dan
tabungan (Tabel 23).
Rata-rata pengeluaran rumahtangga petani plasma contoh adalah sebesar
Rp 8 381 780/KK atau Rp158 746/kapita/bulan. Angka pengeluaran rumahtangga
petani plasma ini masih lebih rendah daripada angka rata-rata pengeluaran
penduduk pedesaan Indonesia (Rp 166 756.kapita/bulan) dan rata-rata pengeluaran
penduduk Indonesia (Rp 224 902/kapita/bulan). Selanjutnya pangsa pengeluaran
konsumsi pangan rumahtangga petani plasma contoh relatif lebih kecil (45.62%) jika
dibandingkaan pangsa pengeluaran konsumsi pangan rumahtangga nasional
(56.89%) (Susenas 2003 dalam BPS 2003).

173

Pada penelitian ini pengeluaran untuk konsumsi rumahtangga dibedakan


atas konsumsi pangan dan konsumsi non pangan. Pengeluaran untuk konsumsi
pangan adalah semua pengeluaran untuk membeli bahan makanan dan minuman,
seperti beras, lauk pauk, sayur mayur, bumbu, kopi, teh, garam, gula pasir, minyak
goreng dan minyak tanah.

Pengeluaran untuk konsumsi non pangan adalah

pengeluaran untuk kebutuhan pakaian, perbaikan rumah, rokok, biaya rekreasi dan
kegiatan sosial.
Tabel 23. Pengeluaran Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit Contoh
di Sumatera Selatan Tahun 2002
No

Jenis Pengeluaran
(Rp 000/tahun)

A
1.
2.

Konsumsi
Pangan
Non pangan

B
1.
2.
3.

Investasi
Pendidikan
Kesehatan
Produksi

Asuransi

Tabungan

Total pengeluaran
keluarga petani
(E= A+B+C+D)

Keterangan: (

Pola Perusahaan Inti Rakyat


PIR-Sus
PIR-Trans
PIR-KUK

Rata-rata

4 207.60
1 302.23
5 509.83
(65.46)

3 592.58
1 781.56
5 374.14
(59.53)

3 425.29
619.41
4 044.70
(76.22)

3 823.66
1 416.92
5 240.58
(62.52)

1 049.79
99.17
873.70

1 011.48
251.06
1 229.27

850.88
18.53
210.29

984.37
147.54
983.34

2 022.65
(24.03)

2 491.82
(27.60)

1 079.71
(20.35)

2 115.25
(25.24)

477.51
( 5.67)

606.26
( 6.72)

00.00
( 0.00)

361.25
(5.00)

407.733
(4.84)

555.573
(6.15)

182.353
(3.44)

419.31
(7.24)

8 417.723
(100.00)

9 027.793
(100.00)

5 306.763
(100.00)

8 381.78
(100.00)

) menyatakan persentase

Pengeluaran untuk investasi dibagi atas pendidikan, kesehatan dan produksi.


Investasi pendidikan merupakan pengeluaran keluarga untuk membiayai pendidikan

174

anggota keluarga. Investasi kesehatan merupakan pengeluaran untuk pengobatan


anggota keluarga yang sakit. Investasi produksi adalah pengeluaran untuk membeli
peralatan dan mesin pertanian untuk usahatani kelapa sawit. Pengeluaran untuk
asuransi berupa iuran peremajaan kebun plasma atau iuran dana perkebunan
(disingkat Idapertabun).

Sebagai peserta asuransi Idapertabun atau nasabah

Perusahaan Asuransi Jiwa Bersama Bumi Putera, petani harus memenuhi semua
persyaratan yang telah ditetapkan perusahaan, antara lain: membayar iuran dana
peremajaan yang dipotong langsung dari nilai jual TBS kepada Inti. Perusahaan
asuransi akan memberi penggantian biaya peremajaan kebun kelapa sawit jika
kondisi kebun plasma sudah harus diremajakan.

Perusahaan asuransi juga

memberikan proteksi berupa asuransi jiwa kepala keluarga, sehingga jika terjadi
sesuatu yang tidak diinginkan proses peremajaan kebun plasma tidak terganggu,
bahkan keluarga petani mendapat santunan berupa asuransi jiwa (Lampiran 5).
Masing-masing komponen pengeluaran mempunyai pangsa yang berbeda
untuk pola PIR yang berbeda. Rata-rata pengeluaran rumahtangga petani plasma
terbesar untuk kebutuhan konsumsi pangan dan non pangan yaitu Rp 5.24 juta
(62.52%).

Meskipun

secara

nominal

rumahtangga

petani

pola

PIR-Sus

mengeluarkan konsumsi pangan terbesar, akantetapi secara persentase konsumsi


pangan terbesar justru terdapat pada rumahtangga petani pola PIR-KUK (76.22%).
Pendapatan total rumahtangga petani kelapa sawit yang relatif kecil mendorong
mereka mengutamakan pengeluaran konsumsi pangan dibandingkan konsumsi non
pangan. Pengeluaran untuk konsumsi pangan rata-rata hampir tiga kali lipat dari
konsumsi non pangan, angka ini berbeda dengan angka Susenas (2003) dimana
komposisi pengeluaran untuk konsumsi pangan hanya 1.3 kali dari pengeluaran
konsumsi non pangan.

175

Rata-rata pengeluaran untuk investasi adalah Rp 2.12 juta atau 25.24% dari
total pengeluaran petani.

Pengeluaran untuk investasi merupakan pengeluaran

terbesar kedua setelah pengeluaran untuk konsumsi.

Secara nominal dan

persentase, pengeluaran untuk investasi terbesar dikeluarkan oleh rumahtangga


petani pola PIR-Trans yang mencapai Rp 2.492 juta/tahun (27.60%).

Pengeluaran

untuk investasi terkecil dikeluarkan oleh petani PIR-KUK yaitu hanya Rp1.08 juta
(20.35%). Rata-rata investasi pendidikan dan produksi mempunyai pangsa yang
relatif sama yaitu hampir separuh dari pengeluaran investasi (46.54% dan 46.49%),
sedangkan pangsa pengeluaran untuk investasi kesehatan paaling kecil (6.98%).
Rendahnya pangsa pengeluaran kesehatan akibat adanya pusat kesehatan
masyarakat atau balai pengobatan yang dibangun inti dan pemerintah daerah serta
kebiasaan berobat menggunakan obat-obat tradisional.
Rata-rata pengeluaran untuk asuransi hanya sebesar Rp 606.69 (7.24%),
pengeluaran untuk peremajaan kebun plasma hanya terdapat pada rumahtangga
petani pola PIR-Sus dan pola PIR-Trans.

Petani pola PIR-KUK belum menjadi

peserta asuransi Idapertabun karena mereka lebih mengutamakan pembayaran


cicilan kredit yang juga dipotong langsung dari nilai penjualan kelapa sawit. Ratarata pengeluaran asuransi rumahtangga petani pola PIR-KUK umumnya adalah nol.
Komponen pengeluaran untuk tabungan paling kecil (5.00%), yaitu rata-rata hanya
Rp 419 310/tahun. Kebiasaan menabung terbesar secara nominal dan persentase
terdapat pada rumahtangga petani pola PIR-Trans yaitu Rp 555 573/tahun (6.15%).

176

VII.

STRUKTUR, PERILAKU DAN KINERJA EKONOMI


PERUSAHAAN INTI RAKYAT KELAPA SAWIT

Struktur, perilaku dan kinerja perkebunan kelapa sawit di Indonesia tidak


terlepas dari keterkaitan antara industri hulu dan industri hilir perkebunan, sehingga
analisis struktur, perilaku dan kinerja perkebunan kelapa sawit termasuk dengan
sistim kemitraan pola perusahaan inti rakyat (PIR) dapat menggunakan kriteria
keterkaitaan ke belakang (backward linkages) dan keterkaitan ke depan (forward
linkages) (Arifin, 2000).

Kinerja industri perkebunan sangat tergantung dari

kemampuan pelakunya mengkombinasikan kegiatan tradisional pada sektor hulu


dengan kegiatan modern pada sektor hilir. Sektor hulu biasanya sangat tergantung
pada kondisi alam, sedangkan sektor hilir sarat dengan teknologi.

Sebaiknya

pemerintah menciptakan regulasi yang memungkinkan pelaku industri meningkatkan


kinerja perkebunan melalui berbagai kemudahan termasuk pengadaan berbagai
infra struktur dan iklim kerja yang kondusif (Daihani, 2000).
Menjadi peserta proyek PIR kelapa sawit pada dasarnya menjadi peserta
kemitraan antara perkebunan rakyat sebagai petani plasma dengan perkebunan
besar sebagai perusahaan inti.

Untuk menjadi peserta plasma, petani harus

memenuhi beberapa persyaratan yang sudah ditentukaan oleh pemerintah daerah


berdasarkan petunjuk Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta. Sistem kelembagaan pada pola PIR telah disepakati bersama oleh kedua belah pihak yang bermitra
pada saat menandatangani akad kredit penyerahan pengelolaan kebun plasma
(konversi) dari inti kepada petani plasma.

Sistem kelembagaan tersebut berupa

aturan tentang hak dan kewajiban yang harus dipatuhi oleh masing-masing peserta
PIR yang diatur melalui Peraturan Daerah Sumatera Selatan No 17 tahun 1998.

177

Apabila peserta kemitraan (plasma dan inti) tidak mematuhi aturan tersebut maka
dikenakan sangsi sesuai dengan Bab XIV pasal 37 tentang Ketentuan Pidana dan
Bab XV pasal 38 tentang Ketentuan Penyidik. Selanjutnya struktur dan perilaku
pelaku kemitraan ini berpedoman pada tugas, kewajiban dan hak yang telah diatur
dalam perjanjian kemitraan (Lampiran 6 dan 7). Pedoman ini menjadi acuan pelaku
proyek PIR dalam berperilaku sebagai peserta proyek PIR kelapa sawit, selanjutnya
perilaku ini mempengaruhi kinerja proyek PIR kelapa sawit secara keseluruhan.
Sesuai dengan konsep kelembagaan ekonomi dan struktur-perilaku-kinerja
(konsep S-C-P), serta peraturan pemerintah daerah di atas maka penilaian kinerja
ekonomi perkebunan kelapa sawit dengan pola PIR dikaji berdasarkan perilaku
masing-masing pelaku proyek PIR terutama perilaku rumahtangga petani plasma
pada setiap tahap kegiatan, yaitu tahap (1) persiapan lahan dan produksi di kebun
plasma, (2) pemasaran kelapa sawit, dan (3) pengolahan buah kelapa sawit.
7. 1. Persiapan Lahan dan Produksi Kelapa Sawit di Kebun Plasma
Aktivitas-aktivitas tahap persiapan dan pembangunan kebun plasma
dilakukan oleh inti hingga tanaman berumur 4 tahun (sejak penanaman bibit hingga
tanaman menghasilkan) dengan kegiatan-kegiatan antara lain: (1) pembukaan dan
persiapan lahan kebun plasma, (2) pembibitan, (3) penanaman bibit dan tanaman
penutup tanah, dan (4) pemeliharaan tanaman.
Menurut Hayami (2001), pembangunan perkebunan memerlukan modal awal
yang besar terutama pembangunan infra struktur sehingga harus dilakukan oleh
perusahaan dengan skala usaha yang besar.

Kegiatan pembukaan kebun dan

pembuatan infra struktur di kebun kelapa sawit umumnya menggunakan sumber


dana dari luar perusahaan. Sumber dana berbeda tergantung jenis proyek PIR yang

178

dilakukan. Pada proyek dengan pola PIR khusus (PIR-Sus) dibiayai oleh anggaran
pendapatan dan belanja negara (APBN) dan bantuan luar negeri (world bank) , pada
proyek PIR transmigrasi (PIR-Trans) dibiayai oleh APBN, sedangkan pada proyek
PIR kredit usaha kecil (PIR-KUK) dibiayai oleh APBN atau anggaran pendapatan
dan belanja daerah (APBD).
Besarnya nilai kredit yang dibebankan pada rumahtangga petani plasma
mencerminkan biaya investasi awal pembukaan kebun plasma dan fasilitas
pendukung lainnya.

Komponen biaya yang dibebankan sebagai nilai kredit antara

lain: biaya pembukaan kebun plasma sampai tanaman menghasilkan, biaya


pembukaan lahan pangan, pembangunan rumah (khusus pola PIR-Sus), dan
pembangunan jalan produksi disekitar kebun plasma (berlaku untuk ketiga pola
PIR). Selain membangun kebun plasma, perusahaan inti juga membangun sarana
dan prasarana pemukiman, seperti: rumah, air, jalan kebun, fasilitas kesehatan,
pendidikan dan ibadah, pembentukan kelompok tani/koperasi. Nilai kredit petani
plasma contoh berkisar Rp 6.60 juta Rp 10.40 juta per kapling atau Rp 3.30 juta
Rp 5.40 juta per hektar (tahun tanam 1980/1981-2000/2001). Biaya ini dinilai cukup
murah dibandingkan jika petani membuka sendiri kebun kelapa sawit.

Sebagai

ilustrasi biaya yang diperlukan mulai pembukaan kebun kelapa sawit hingga umur
tanaman satu tahun mencapai Rp 14.00 juta/ha, sedangkan biaya pemeliharaan
sampai tanaman menghasilkan (umur 48 bulan) adalah Rp 7.00 juta/ha, maka total
biaya untuk kebun kelapa sawit hingga menghasilkan sebesar Rp 21.00 juta/ha
(Informasi lisan staf ADO PT. Hindoli, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan, 2005).
Selama masa prakonversi (sebelum umur tanaman 4 tahun atau belum
menghasilkan), maka pengelolaan kebun plasma menjadi tanggung jawab inti,
sedangkan petani hanya menjadi karyawan dan mendapat upah sebesar kira-kira

179

Rp 15 ribu per hari orang kerja (HOK), selanjutnya biaya upah ini diperhitungkan
sebagai salah satu komponen hutang petani.

Untuk menambah penghasilan

keluarga umumnya petani juga mengelola lahan pekarangan dan lahan pangan.
Setelah tanaman menghasilkan (kira-kira umur tanaman 4 tahun), pihak
proyek

PIR

melakukan

penilaian

kondisi

kebun

apakah

layak

dialihkan

pengelolaannya dari inti kepada petani plasma (konversi). Konversi dilakukan jika
lahan sudah menghasilkan agar petani memperoleh penghasilan dan mampu
mengembalikan kredit dengan mencicil. Kebun plasma dinyatakan layak jika kondisi
kebun dalam kondisi baik (katagori A), antara lain dilihat dari jumlah tanaman per
kapling (sekitar 2 hektar) adalah minimal 240 pohon sesuai syarat-syarat yang
ditetapkan Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan. Kebun plasma contoh
dikonversi rata-rata berumur 5.78 tahun, kebun pola PIR-Trans dan pola PIR-KUK
dikonversi lebih cepat (rata-rata umur 4.80 tahun) dibandingkan kebun plasma pola
PIR-Sus (rata-rata umur 7.00 tahun).
Jika jumlah pohon kelapa sawit di kebun plasma lebih sedikit dari jumlah
standar maka konversi kebun plasma ditunda, selanjutnya dilakukan perbaikan
kondisi kebun, antara lain: (1) konversi kebun ditunda selama enam bulan jika
termasuk katagori B (jumlah pohon berkisar 180 - 239 pohon/kapling), (2) konversi
kebun ditunda selama 12 bulan jika termasuk katagori C (jumlah pohon kurang dari
180 pohon/kapling).

Berkurangnya jumlah pohon kelapa sawit di kebun plasma

umumnya karena mati terserang hama (terutama hama babi), terserang penyakit
dan kurangnya pemeliharaan pada tanaman berumur kurang dari dua tahun dan
tidak segera dilakukan penyulaman.
Setelah tahap konversi (tahun ke 4 hingga tahun ke 6), dilanjutkan tahap
pembinaan dan pengawasan tanaman oleh Inti serta pengadaan input dan penjualan

180

hasil panen melalui bantuan jasa koperasi. Pada tahap ini, maka pemeliharaan
kebun plasma menjadi tanggung jawab petani plasma secara penuh disamping tetap
mengusahakan lahan pangan. Untuk memudahkan pembayaran kredit maka petani
harus menjadi nasabah bank secara perorangan dan menjadi anggota kelompok
tani/koperasi.

Kelompok tani dan koperasi membantu memperlancar kegiatan

produksi dan panen di kebun plasma serta membantu inti dalam pengadaan dan
penyaluran input kelapa sawit untuk kebun plasma.
Pada tahap pasca konversi hingga pelunasan kredit (setelah tahun ke 6),
pihak inti tetap melakukan pembinaan baik pada kegiatan produksi, panen maupun
pasca panen. Pada setiap kegiatan panen yang sudah dijadwalkan, maka hasil
panen tandan buah segar (TBS) dikumpulkan di tempat pengumpulan hasil (TPH)
pada masing-masing kebun, selanjutnya TBS ini diangkut oleh truk milik inti atau
koperasi ke pabrik pengolahan kelapa sawit (pabrik PKS) inti. Semua transaksi
diwakilkan petani plasma melalui pengurus lembaga petani (kelompok tani atau
koperasi), mereka hanya menerima hasil penjualan buah kelapa sawit setiap awal
bulan.

Koperasi juga membantu penyuluhan, pengaturan kelompok kerja dan

membantu mengamankan harga TBS.


Karakteristik kelembagaan panen, pasca panen, dan pemasaran produk
(TBS) akan menentukan besarnya biaya transaksi yang harus ditanggung petani.
Menurut Sadoulet dan Janvry (1995), adanya biaya transaksi merupakan salah satu
faktor penyebab terjadinya kegagalan pasar (market failure), disamping faktor-fktor
lain seperti pasar lokal yang dangkal (shallow local market), resiko harga dan
perilaku menghindari resiko (price risks and risk aversion). Jenis biaya transaksi
yang ditanggung rumahtangga petani umumnya berupa potongan langsung dari nilai
jual produknya antara lain biaya angkut TBS dari kebun ke pabrik PKS inti yang

181

besarnya bervariasi (berkisar Rp 25.00 - Rp 51.00 per kg TBS), fee KUD untuk
membayar jasa mengelola lembaga KUD (yang besarnya Rp 2.00 - Rp 9.00 per kg
TBS), dan biaya administrasi untuk pemeliharaan jalan kebun desa sebesar 5.00%
dari nilai jual TBS.
Komponen biaya transaksi yang mempunyai pangsa terbesar adalah biaya
transportasi (41.00%), sedangkan komponen terkecil adalah fee KUD (6.00%).
Menurut Sadoulet dan Janvry (1995), biaya transportasi merupakan jenis biaya
transaksi paling penting pada sektor pertanian, meskipun pada kondisi pasar yang
bersaing sempurna akibat jarak lokasi produsen ke lokasi pasar. Oleh karena itu
kondisi infra struktur dari kebun plasma ke lokasi pabrik PKS inti (sebagai lokasi
pasar hasil panen kebun plasma) seharusnya mendapat perhatian khusus agar
dapat menekan biaya transaksi yang besar.
Dalam penelitian ini jarak kebun plasma ke pabrik PKS inti, kondisi jalan di
kebun dan kondisi alat angkut merupakan faktor penentu biaya transportasi. Ratarata jarak kebun plasma ke pabrik PKS inti adalah 6.26 km, akan tetapi jarak paling
jauh mencapai 17.50 km dan terdekat hanya 2.50 km. Alat angkut yang digunakan
untuk mengangkut TBS dari kebun plasma biasanya menggunakan mobil truk dan
dan mobil pick up. Kegiatan panen dan pengangkutan hasil dilakukan sesuai jadwal
panen, biasanya dimulai pada pagi hari dan harus selesai sore hari. Pengangkutan
buah sawit (TBS) yang mempunyai karakteristik mudah rusak (perishable) dan ruah
(bulky) ini sangat ditetukan oleh kondisi jalan dan fasilitas alat angkut untuk
mempertahankan kualitas TBS agar tetap baik pada saat diolah di pabrik PKS.
Pembahasan selanjutnya tentang kondisi dan kinerja kebun plasma dengan
tiga pola PIR yang berbeda yang dicerminkan oleh umur tanaman kelapa sawit yang
berbeda sesuai waktu pelaksanaan proyek tersebut. Kinerja proyek PIR ini dikaji

182

berdasarkan kriteria teknis, finansial dan ekonomis atau analisis kelayakan usaha.
Beberapa kriteria yang dipakai antara lain: umur tanaman dikonversi, jumlah pohon
per kapling, produktivitas kebun, harga jual TBS, penerimaan/pendapatan kelapa
sawit, biaya produksi kelapa sawit, rasio penerimaan/pendapatan terhadap biaya
(tunai atau riil), besarnya dana untuk peremajaan kebun plasma dan waktu
pelunasan kredit (Tabel 24).
Umur tanaman kelapa sawit pola PIR-Sus berkisar 14 hingga 23 tahun (ratarata 17.92 tahun), umur tanaman kelapa sawit pola PIR-Trans berkisar 5 hingga 12
tahun (rata-rata 10.00 tahun) sedangkan umur tanaman kelapa sawit pola PIR-KUK
berkisar 5 hingga 10 tahun (rata-rata 6.93 tahun). Menurut Ochs (1980) dalam Rural
Development Programs (1985), bahwa tanaman kelapa sawit jika dikelola dengan
baik dan benar maka pada kisaran umur tanaman 5 tahun hingga 17 tahun akan
mempunyai produktivitas TBS relatif sama (26 ton - 27 ton TBS/hektar), selanjutnya
dengan umur tanaman berkisar 5 tahun hingga 23 tahun akan mempunyai
rendemen relatif sama (19.25% - 22.20% untuk CPO dan 4.35% - 5.10% untuk
PKO). Perbedaan produktivitas dan rendemen akan sangat nyata jika usia tanaman
kurang dari 5 tahun atau lebih dari 23 tahun, karena produktivitas TBS akan
menurun yaitu lebih kecil dari 16.00 ton/ha, rendemen menurun kurang dari 16.00%
(untuk CPO) dan kurang dari 3.70% (untuk PKO).
Faktor lain yang menjadi penentu produktivitas kebun adalah skala usaha
atau luas lahan yang digarap. Menurut Ellis (1988), tingkat produktivitas dan skala
usaha umumnya mempunyai hubungan terbalik, dimana makin luas lahan usahatani
keluarga maka lahan cenderung dikelola secara kurang intensif sehingga
menghasilkan produktivitas yang makin kecil.

183

Tabel 24. Perbandingan Kinerja Kebun Plasma pada Ketiga Pola PIR
Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Tahun 2002
No

Kriteria Kelayakan

Pola PIR Kelapa Sawit


PIR-Sus
PIR-Trans
PIRKUK

Kelayakan Teknis
1

Umur tanaman (tahun)

17.92

10.00

6.93

Umur tanaman dikonversi (tahun)

7.00

4.75

4.88

Masa tanaman produktif (tahun)

10.92

5.25

2.05

Jumlah pohon/kapling

253

260

254

Produktivitas TBS (ton TBS/ha)

10.83

16.02

6.68

Waktu Pelunasan Kredit (tahun)

7.00

3.69

6.07**)

359.33

397.28

355.00

Kelayakan Finansial/Ekonomi
7

Harga jual TBS (Rp/kg)

Penerimaan dari TBS (Rp 000/tahun)

9 852.00

15 337.83

5 678.84

Biaya Produksi KebunTunai (Rp 000/tahun)

1 978.78

2 031.33

1 295.22

10

Biaya Produksi Kebun Riil (Rp 000/tahun)

2 712.98

2 613.91

1 860.15

11

Pendapatan KS Tunai *)
(Rp 000/tahun) ( 10 = 7 8 )
Pendapatan KS Riil *)
(Rp 000/tahun) ( 11 = 7 9 )
Rasio Penerimaan-Biaya kebun tunai
(R/C tunai = 7: 8)
Rasio Penerimaan-Biaya kebun ril
(R/C riil = 7 : 9)
Rasio Pendapatan -Biaya tunai
(B/C tunai = 10 : 8)
Rasio Pendapatan-Biaya ril
(B/C riil = 11 : 9 )
Pemupukan dana/asuransi (Rp 000/tahun)

7 873.22

13 306.50

4 383.62

7 139.02

12 723.92

3 818.69

4.98

7.55

3.05

3.53

5.87

3.05

3.98

6.55

3.38

2.63

4.86

2.05

477.51

606.26

12
13
14
15
16
17

Keterangan: tunai = perhitungan finansial


ril
= perhitungkan ekonomi (nilai TK keluarga dihitung)
*) hanya memperhitungkan biaya produksi di kebun
**) Angka prediksi.

184

Hal ini terlihat nyata pada kondisi kebun plasma pola PIR-Sus, yang mana
seharusnya mempunyai produktivitas kebun plasma lebih tinggi karena umur
tanaman lebih tua, akan tetapi karena petani mengelola lahan yang lebih luas (lahan
untuk tanaman kelapa sawit dan selain kelapa sawit) maka pengelolaan kebun
kelapa sawit kurang intensif sehingga produktivitas kebun lebih rendah.
Perbedaan produktivitas juga dapat disebabkan oleh faktor lain di luar faktor
teknis, menurut Eicher dan Staatz (1990), perubahan dalam produktivitas
merupakan faktor residual yang tidak dapat dijelaskan hanya dari output setelah
memperhitungkan faktor produksi konvensional (lahan, tenaga kerja dan modal).
Faktor residual dapat berupa kontribusi teknologi baru, modal manusia dan inovasi
kelembagaan yang melengkapi penggunaan input dalam proses produksi. Pada
pola PIR-Sus sebagai pola yang pembentukannya paling awal (tahun 1980/81) tentu
saja mempunyai lebih banyak kelemahan dibandingkan pola PIR lainnya terutama
berkaitan dengan faktor teknologi dan sistim kelembagaan.

Untuk meengatasi

kelemahan tersebut pemerintah terus berupaya melakukan perbaikan dengan


membentuk pola PIR baru seperti pola PIR-Trans, PIR-KUK dan PIR-KKPA.
Kebun petani plasma contoh pada penelitian ini masih termasuk dalam
kisaran umur dengan produktivitas dan rendemen yang seharusnya relatif sama dan
belum mencapai umur puncak 20 tahun. Kisaran produktivitas kelapa sawit pada
kebun plasma adalah 5.00 ton hingga 19.50 ton per ha TBS. Produktivitas tertinggi
pada pola PIR-Trans (rata-rata 16.02 ton TBS/ha) dengan umur tanaman rata-rata
10 tahun, sedangkan produktivitas terendah pada pola PIR-KUK (rata-rata 6.68 ton
TBS/ha) dengan umur tanaman rata-rata 6.93 tahun, dan produktivitas pola PIR-Sus
adalah lebih rendah dari PIR-Trans (rata-rata 10.83 ton/ha) dengan umur tanaman
lebih tua yaittu rata-rata 17.92 tahun. Peningkatan produktivitas kebun plasma yang

185

sudah berumur di atas 20 tahun (seperti pada beberapa kebun pola PIR-Sus) hanya
dapat dilakukan dengan peremajaan kebun (replanting).
Dari ketiga pola PIR yang ada ternyata produktivitas yang mendekati ideal
berdasarkan umur tanaman adalah produktivitas kebun plasma pola PIR-Trans,
sedangkan

produktivitas

kebun

plasma

pola

PIR-Sus

jauh

lebih

rendah.

Produktivitas kebun pola PIR-Trans relatif tinggi selain karena faktor umur tanaman,
diduga karena peranan sistem kelembagaan dalam kegiatan produksi, panen dan
pasca panen yang memberikan insentif bagi petani untuk meningkatkan kinerjanya.
Kebun plasma sebelum masa produktif (tanaman belum menghasilkan)
menjadi tanggung jawab petani plasma sebagai penggarap dan inti sebagai
pembina.

Setelah melalui penilaian kriteria tertentu maka kebun plasma dapat

diserahkan pengelolaannya secara penuh (dikonversi) kepada rumahtangga petani


plasma yang dilakukan setelah tanaman kelapa sawit berumur 4 tahun.

Kebun

plasma contoh pola PIR-Trans dan PIR-KUK dikonversi pada umur tanaman relatif
sama (4.80 tahun) sedangkan pada pola PIR-Sus dikonversi pada umur tanaman
relatif lebih tua (7.00 tahun). Salah satu faktor penentu kebun siap dikonversi adalah
jumlah pohon per satuan luas, dalam hal ini digunakan kapling (satu kapling kira-kira
dua hektar). Rata-rata jumlah pohon di kebun plasma pola PIR-Trans adalah 260
pohon/kapling, lebih tinggi dari kebun plasma pola PIR lainnya (253 pohon/kapling).
Jumlah pohon per kapling ini mencerminkan kinerja pengelolaan kebun pada saat
belum menghasilkan, selanjutnya akan menentukan kinerja kebun plasma setelah
menghasilkan (produktivitas kebun).

Kebun plasma pola PIR-Trans yang

mempunyai jumlah pohon per kapling paling banyak ternyata juga mempunyai
produktivitas paling tinggi. Hal ini mencerminkan adanya kerjasama yang baik antar

186

pelaku kemitraan (petani plasma, inti dan lembaga petani) pada saat sebelum dan
sesudah kebun dikonversi.
Temuan ini sesuai dengan pendapat Eicher dan Staatz (1990) yang
menyatakan bahwa penentu produktivitas tanaman perkebunan tidak hanya hasil
faktor produksi konvensional (lahan, tenaga kerja dan modal) tetapi juga kontribusi
inovasi kelembagaan disamping faktor teknologi dan modal manusia. Komitmen inti
sebagai mitra kerja dan lembaga ekonomi petani yang membantu kegiatan produksi
dan pemasaran hasil kebun plasma merupakan faktor penentu penting dalam
menghasilkan kinerja kebun plasma yang lebih baik. Pembentukan lembaga petani
pada pola PIR-Trans oleh petani plasma pada setiap desa dan dibiayai oleh anggota
sendiri (bottom up), yaitu berupa kelompok tani dan koperasi produsen kelapa sawit
(KPKS) sangat menentukan kegiatan dan kinerja kebun plasma kelapa sawit di
lokasi penelitian.
Secara biologis faktor umur tanaman kelapa sawit merupakan salah satu
faktor penentu rendemen CPO yang selanjutnya akan menentukan harga jual TBS.
Menteri Kehutanan dan Perkebunan (2000), menetapkan harga jual TBS petani
berdasarkan umur tanaman, dimana untuk umur kelapa sawit berkisar 5 hingga 9
tahun sedikit variatif dan lebih kecil dari harga TBS dengan umur berkisar 10 hingga
20 tahun. Harga TBS pada kisaran umur tanaman 10 hingga 20 tahun ditetapkan
sama, karena diperkirakan rendemennya relatif sama (Lampiran 9). Harga TBS ini
berdasarkan rumusan harga TBS yang telah ditetapkan berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan tahun 1998 (Lampiran 8).
Harga jual pada kebun plasma pola PIR-Trans (Rp 397.28/kg TBS)
menghasilkan harga paling tinggi jika dibandingkan dengan harga TBS pada pola
PIR lainnya termasuk pola PIR-Sus dengan umur tanaman lebih tua (rata-rata 17.92

187

tahun) yang seharusnya mempunyai harga jual lebih tinggi karena rendemen lebih
tinggi. Meskipun angka-angka ini tidak mutlak mencerminkan kinerja, akan tetapi
temuan ini memberikan informasi tentang kondisi kebun petani plasma dengan pola
PIR yang berbeda yang diwakili oleh tanaman dengan umur tanaman yang berbeda
sesuai waktu dimulainya proyek PIR kelapa sawit di Sumatera Selatan. Ternyata
umur tanaman bukanlah faktor penentu utama terjadinya perbedaan kinerja kebun
plasma karena faktor pengelolaan kebun juga sangat menentukan. Pengelolaan
kebun plasma merupakan hasil kerjasama pihak yang bermitra (petani plasma dan
inti) dengan dibantu oleh lembaga petani (kelompok tani dan koperasi) yang diatur
oleh sistem kelembagaan yang ada.
Berdasarkan kriteria kelayakan financial/ekonomi maka semua kebun plasma
masih mempunyai R/C bernilai lebih dari satu dan B/C bernilai positif. Perhitungaan
biaya pada kriteria ini tidak memasukkan besarnya cicilan kredit yang dibayar petani
plasma, hanya menghitung komponen biaya yang berhubungan langsung dengan
kegiatan di kebun plasma agar benar-benar mencerminkan kinerja rumaahtangga
petani plasma dengan pola PIR yang berbeda.

Kriteria kinerja lain yang dapat

digunakan adalah pemupukan dana untuk peremajaan kebun plasma melalui


program asuransi Idapertabun (lihat Lampiran 5). Program asuransi Idapertabun ini
dilakukan dengan memotong langsung nilai jual produk kelapa sawit petani sebagai
pengeluaran untuk asuransi.
Rata-rata petani pola PIR-Trans mengeluarkan dana asuransi lebih tinggi
dibandingkan pola PIR lainnya, sedangkan pola PIR-KUK dengan alasan belum
lunas kredit dan penerimaan kelapa sawit masih rendah sehingga mereka belum
mampu menyisihkan dana untuk membayar asuransi. Pengeluaran asuransi sangat
ditentukan oleh penerimaan kelapa sawit dan responsif (elastis).

Penerimaan

188

kelapa sawit selanjutnya ditentukan oleh luas lahan, produktivitas kebun dan harga
jual TBS. Kebun plasma pola PIR-Trans meskipun mempunyai luas lahan yang
relatif paling sempit akan tetapi produktivitas dan harga jual TBS yang lebih tinggi
dari pola PIR lainnya akan sangat menentukan kemampuan petani menyisihkan
sebagian penerimaannya untuk dana persiapan peremajaan kebun plasma.
Peremajaan kebun plasma dilakukan setelah tanaman kelapa sawit tidak produktif
lagi atau biasanya mendekati umur 25 tahun.
Menurut Dinas Perkebunan Sumatera Selatan (1999), nilai investasi
peremajaan kebun memerlukan biaya sebesar Rp 10.19 juta/ha, sedangkan biaya
peremajaan dengan menggunakan model menyisip diantara tanaman lama sebesar
Rp 8.2 juta/ha.

Untuk memenuhi biaya peremajaan ini berarti petani harus

menabung rata-rata Rp 0.65 juta Rp 0.85 juta per hektar per bulan atau kira-kira
Rp 7.80 juta Rp 10.20 juta per hektar per tahun, sedangkan pendapatan petani
dari kelapa sawit umumnya hanya sebesar antara Rp 0.25 Rp 0.35 juta per bulan
atau kira-kira Rp 3 juta Rp 6.5 juta per hektar per tahun.
Kriteria kinerja lain yang dapat digunakan adalah waktu pelunasan kredit,
dimana waktu pelunasan kredit paling singkat adalah kebun plasma pola PIR-Trans
(rata-rata 3.60 tahun) sedangkan kebun plasma pola PIR-Sus memerlukan waktu
lebih lama (rata-rata 7.00 tahun).

Sampai tahun 2002, belum ada petani plasma

pola PIR-KUK yang sudah lunas kredit karena masa pembayaran cicilan kredit
umumnya baru dua tahun.

Informasi terakhir yang diterima peneliti bahwa

pembayaran cicilan kredit cukup lancar bahkan beberapa petani sudah lunas kredit
(setelah pembayaran selama 4 tahun), diperkirakan petani mampu melunasi kredit
rata-rata 6 tahun (Hasil kunjungan ke lokasi kebun plasma contoh dan informasi
TKPIR dan pengurus KUD pada bulan April tahun 2002).

189

Berdasarkan kriteria umur tanaman dikonversi dan waktu pengembalian


kredit maka kedua pola PIR (PIR-Trans dan PIR-KUK) mempunyai kinerja relatif
sama dan lebih baik dari pada pola PIR-Sus.
7. 2. Pemasaran Kelapa Sawit
Pemasaran produk TBS terikat perjanjian atau kontrak yaitu petani harus
menjual produk yang dihasilkannya kepada mitra kerjanya (inti), demikian juga pihak
inti wajib membeli paling sedikti 75.00% produk TBS dari kebun plasma. Analisis
terhadap aspek pemasaran hasil ditinjau melalui empat aspek, yaitu: (1) sistim
distribusi (distribution system), (2) struktur pasar (market structure), (3) perilaku
pasar (market conduct), dan (4) kinerja pasar (market performance).
7. 2. 1. Sistem Distribusi
Sistem distribusi produk kelapa sawit berupa tandan buah segar (TBS) dari
kebun plasma ke inti umumnya melalui kelompok tani (poktan), kemudian
dikumpulkan oleh koperasi produsen kelapa sawit (KPKS) atau koperasi unit desa
(KUD).

Petani yang lokasinya berdekatan dengan pabrik PKS kadang-kadang

menjual TBS langsung ke pabrik PKS inti. Selain itu sebagian petani menjual hasil
panennya kepada PKS Non Inti meskipun secara illegal (Gambar 10).
Kegiatan illegal ini umumnya dapat diselesaikan secara damai, dimana
petani diberi pembinaan/penyuluhan, akantetapi karena beberapa alasan mendesak,
kasus seperti ini sering berulang lagi.
petani plasma antara lain:

Alasan-alasan yang sering dikemukakan

(1) keperluan uang tunai mendesak, sedangkan inti

hanya membayar setiap awal bulan, (2) tidak puas dengan sisitim penentuan
rendemen dan harga beli oleh inti, (3) hasil panen relatif sedikit sehingga
dihawatirkan penerimaan TBS tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari jika harus

190

menanggung potongan-potongan ketika menjual TBS ke pabrik PKS inti, (4) adanya
pembeli non inti yang berlokasi dekat kebun plasma dan secara agresif mendatangi
kebun plasma, dan (5) mobilitas petani plasma cukup tinggi terutama lokasi kebun
plasma sepanjang jalan Lintas Timur Palembang-Jambi.
Hal sebaliknya terjadi pada lokasi kebun dengan kualitas buah lebih jelek dan
tidak terdapat pabrik PKS non inti maka konflik harga jual TBS jarang ditemukan,
bahkan beberapa petani non plasma bersedia menjadi anggota koperasi agar dapat
menjual produk TBS ke pabrik PKS inti karena mereka tidak mungkin menjual ke
luar lokasi kebun yang berjarak cukup jauh (contoh: lokasi kebun PIR-KUK, Selapan
Jaya di OKI).

Berbagai alternatif saluran pemasaran TBS dari kebun plasma ke

pabrik PKS menunjukkan bahwa saluran pemasaran yang baku yang seharusnya
dilakukan oleh pihak yang bermitra belum sepenuhnya efektif.

Petani
Plasma

Kelompok
Tani

Koperasi
(KPKS/KUD)

Pedagang/Lembaga
Perantara

Pabrik
PKS Inti

Pabrik
PKS
Non Inti

Keterangan: PKS = pengolahan kelapa sawit


-----> = jarang terjadi (dianggap illegal)
Gambar 10. Pola Umum Saluran Pemasaran Tandan Buah Segar Kebun
Plasma Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Tahun 2002.

191

7.2.2. Struktur Pasar


Struktur pasar adalah karakteristik pengorganisasian pasar suatu produk
yang mana secara strategis berpengaruh terhadap persaingan dan pembentukan
harga pasar. Menurut Martin (1994) ada empat unsur penting yang dapat dipakai
sebagai acuan penentuan struktur pasar suatu produk yaitu: (1) tingkat konsentrasi
penjual atau pembeli, (2) diferensiasi produk, dan (3) ada atau tidaknya hambatan
dalam berusaha.
1. Tingkat Konsentrasi Penjual atau Pembeli
Tingkat konsentrasi penjual/pembeli mencerminkan kekuatan tawar pelaku
pasar baik sebagai penjual atau pembeli. Makin tinggi tingkat konsentrasi pelaku
pasar maka makin kuat posisinya sebagai penentu harga produk. Dalam pasar
produk TBS dengan pola PIR, maka penjual adalah sejumlah rumahtangga petani
plasma yang menghadapi inti sebagai pembeli. Luas kebun plasma adalah berkisar
6 000 ha hingga 8000 ha untuk setiap lokasi kebun.
Jika ditinjau dari luas kebun kebun plasma secara kolektif (skala usaha)
umumnya lebih besar dibandingkan skala usaha kebun inti kecuali untuk pola PIRSus Sungai Lengi. Perbandingan luas luas kebun plasma dengan kebun inti adalah
70.00% : 30.00% (pola PIR-Sus Betung Barat), 45.00% : 55.00% (pola PIR-Sus
Sungai Lengi), 59.00% : 41.00% (pola PIR-Trans PT Aek Tarum, OKI), 63.00% :
37.00% (pola PIR-Trans PT Hindoli, Muba) dan 92.00% : 8.00% (pola PIR-KUK PT
Selapan Jaya, OKI).

Kebun plasma yang relatif lebih luas tersebut dimiliki oleh

banyak petani yaitu sekitar 3 000 hingga 4 000 rumahtangga petani dan sulit
terkonsentrasi secara baik pada saat transaksi. Konsentrasi pelaku transaksi justru
terdapat pada pihak pembeli (perkebunan inti), karena untuk setiap lokasi kebun
plasma hanya terdapat satu inti yang memiliki satu atau lebih pabrik PKS.

192

Kepemilikan pabrik PKS sebagai aset khusus perusahaan inti dan


karakteristik buah sawit dari kebun plasma yang harus segera diolah menjadi
penentu posisi tawar pelaku pasar kelapa sawit.

Kondisi ini secara otomatis

menjadikan inti sebagai pembeli tunggal dan penentu harga pproduk (price maker).
Meskipun ada pembeli lain (non inti), akan tetapi karena transaksi ini sangat jarang
dilakukan (bersifat illegal), sehingga keberadaan non inti tidak menjadi pesaing
penting dalam pemasaran produk kelapa sawit dalam proyek PIR.
Berdasarkan ulasan sebelumnya maka mekanisme penentuan harga TBS
pada lokasi kebun plasma untuk semua pola PIR cenderung bersifat tidak kompetitif
dimana pembeli tunggal (inti) berhadapan dengan banyak penjual (petani plasma).
Sejauh ini lembaga ekonomi yang ada (koperasi atau kelompok tani) yang
seharusnya menjadi wadah petani plasma (sebagai penjual) untuk bernegosiasi
dengan pihak inti (sebagai pembeli) belum berfungsi secara optimal, lembaga petani
tersebut hanya berfungsi sebagai lembaga perantara dalam pemasaran hasil dan
belum mampu mewakili petani plasma dalam transaksi dengan inti.
Hal yang harus diperhatikan adalah tingkat harga TBS yang ditentukan
berdasarkan rumus harga oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan tahun 1998
seharusnya menghasilkan harga beli TBS yang kompetitif untuk menghindari
penjualan TBS di luar jalur resmi (sesuai kontrak).

Petani akan selalu mencari

informasi harga jual TBS yang lebih tinggi, karena informasi harga TBS di pasar
dapat diakses cukup baik oleh petani plasma baik melalui radio maupun telepon
seluler (umumnya petani plasma mempunyai fasilitas telepon seluler dengan
menambah instalasi antena pribadi, terutama pada lokasi kebun PIR-Trans Musi
Banyuasin).

193

Pada dasarnya pedoman harga yang ditetapkan pemerintah hanya


menetapkan harga rata-rata sebagai harga minimum yang harus dibayar oleh inti
pada waktu membeli TBS petani. Seharusnya pihak inti menyesuaikan lagi harga
TBS yang sudah ditetapkan tersebut berdasarkan kondisi kebun plasma yang
dibinanya, yaitu memperhatikan juga variasi rendemen untuk umur tanaman yang
berbeda, variasi kualitas buah akibat teknik pemanenan dan pasca panen (Informasi
lisan pada Rapat Penentuan Harga Bulan April 2005 di Palembang).
Hasil wawancara dan informasi rapat penentuan harga TBS ternyata harga
TBS yang telah ditetapkan tersebut justru dijadikan harga maksimum oleh inti
untuk membeli TBS petani plasma sehingga sering menimbulkan konflik. Pada
dasarnya rumus harga yang ditetapkan oleh Surat Keputusan Menteri Kehutanan
dan Perkebunan tahun 1998 dan tahun 2000 (Lampiran 8 dan 9) bertujuan untuk
mempertahankan efektivitas kemitraan inti-plasma karena :

(1) dapat meredam

dampak fluktuasi harga minyak sawit dari pasar dunia dan domestik selama satu
bulan terhadap tingkat harga TBS tingkat petani, (2) menilai kualitas kebun plasma
berdasarkan hamparan agar kualitas TBS lebih seragam dan kekompakan anggota
kelompok tani dipertahankan, dan (3) petani mendapat kepastian tempat penjualan
TBS karena sesuai kontrak maka perusahaan inti diwajibkan membeli TBS petani
minimal 75.00% dari kapasitas pabrik PKS Inti.
Menurut hasil kajian Mulyana (2003), harga jual yang ditetapkan pemerintah
ini pada dasarnya telah mengurangi eksploitir inti kepada plasma, dimana jika
pemerintah tidak mengatur harga jual TBS pada kebun plasma, maka harga beli
TBS petani hanya 71.67% dari harga TBS setelah ditetapkan pemerintah melalui
Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan tersebut. Berdasarkan hasil
estimasi persamaan perilaku produksi ternyata faktor harga jual produk sangat

194

penting bagi peningkatan produktivitas kebun plasma, karena pengaruh perubahan


harga TBS terhadap produktivitas sangat signifikan meskipun produktivitas TBS
terhadap harga TBS tidak responsif (in elastis). Kenaikan harga TBS diharapkan
akan memotivasi petani untuk mengelola kebun lebih baik.

Hasil simulasi juga

membuktikan bahwa dampak kenaikan harga TBS dengan persentase yang lebih
kecil (15.00%) dibandingkan kenaikan harga input variabel dengan persentase yang
lebih besar (20.00%) ternyata masih memberikan dampak positif pada kinerja
rumahtangga petani plasma terutama produktivitas kebun plasma, penerimaan dan
pendapatan kelapa sawit dan mempercepat periode pelunas kredit.
Selanjutnya menurut Bamin (2000), jika pemerintah tidak mengawasi
mekanisme penentuan harga jual TBS kebun plasma maka dihawatirkan harga
produk TBS cenderung menjadi alat eksploitasi monopsonistik oleh perusahaan inti
terhadap petani plasma.

Rendahnya posisi tawar petani plasma terhadap inti

menurut Mulyana (2003) karena petani plasma sebagai penjual produk kelapa sawit
mempunyai respon penawaran kurang elastis dibandingkan respon permintaan inti
sebagai pembeli produk TBS terhadap perubahan harga produk TBS itu sendiri.
Pihak inti mempunyai lebih banyak pilihan untuk memenuhi kapasitas pabrik PKS
yaitu produksi dari kebun sendiri dan dari kebun plasma

sehingga penundaan

pembelian TBS petani oleh inti dapat dilakukan dengan alasan-alasan yang bersifat
teknis. Hal sebaliknya terjadi pada petani plasma, dimana mereka harus menjual
semua produknya kepada inti karena terikat kontrak dan dalam waktu yang singkat
untuk mencegah penurunan kualitas buah sawit. Jika menjual kepada PKS-non inti
mereka dikenakan sanksi karena dianggap melanggar perjanjian kemitraan.

195

2. Diferensiasi Produk
Salah satu cara untuk membedakan harga jual produk dapat dilakukan
dengan merubah bentuk produk (diferensiasi produk), baik melalui kegiatan
pengolahan maupun fungsi-fungsi pemasaran lainnya. Secara umum karakteristik
buah sawit (berupa TBS) yang di jual petani plasma mempunyai sifat relatif
homogen sehingga petani tidak mampu menentukan harga jual yang berbeda.
Diferensiasi produk hanya dapat dilakukan jika TBS diolah untuk memperoleh nilai
tambah (value added) yaitu menjadi minyak sawit atau produk olahan lainnya, akan
tetapi biaya investasi peembangunan pabrik pengolahan kelapa sawit sangat mahal
sehingga belum dapat dilakukan petani secara individu maupun kolektif.
Selain itu beberapa karakteristik produk TBS dan perjanjian kemitraan dalam
pola PIR kelapa sawit cenderung merugikan petani plasma, antara lain: (1) produk
tidak dapat dikonsumsi langsung atau dijual kepada konsumen akhir, (2) produk
cepat rusak dan harus segera diolah sebelum 12 jam, (3) produk bersifat ruah
(bulky) dan memerlukan alat angkut khusus, dan (4) produk hanya boleh dijual ke
pabrik PKS inti. Karakteristik produk TBS dan perjanjian kemitraan dalam pola PIR
ini mengakibatkan petani tidak mungkin menyimpan produk untuk memperoleh
kegunaan waktu (time utility), petani tidak mungkin mengolah sendiri produk untuk
memperoleh kegunaan bentuk (form utility), dan petani tidak mungkin menjual
produk ke lokasi lain untuk mendapatkan kegunaan tempat (place utility).
Karakteristik ini menjadikan posisi tawar petani lebih lemah dalam setiap transaksi
TBS sehingga posisi petani plasma cenderung sebagai penerima harga (price taker).

196

3. Ada atau Tidaknya Hambatan Berusaha.


Beberapa sumber penyebab adanya hambatan berusaha karena adanya
keuntungan yang positif akibat diferensiasi produk, dan perbedaan tingkat
superioritas produsen yang satu dengan produsen lain akibat perbedaan skala
usaha.

Petani plasma mempunyai posisi yang sama ditinjau dari hak dan

kewajibannya sebagai peserta PIR, selain itu skala usaha relatif sama (rata-rata dua
hektar) dan pemasaran produk dilakukan dengan cara dan saluran pemasaran yang
juga sama, sehingga persaingan antar plasma berdasarkan skala usaha tidak
terjadi. Selain itu volume TBS yang dihasilkan individu relatif kecil dibandingkan
dengan volume TBS yang dihasilkan oleh kelompok tani dalam satu hamparan
(sekitar 40 ha - 60 ha) yang beranggotakan sekitar 20 KK - 30 KK.

Relatif

seragamnya skala usaha ini mengakibatkan tidak adanya superioritas diantara


petani plasma.

Meskipun untuk menjadi petani peserta PIR kelapa sawit

memerlukan syarat-syarat khusus akantetapi skala usaha yang relatif kecil tidak
menjadi hambatan bagi petani perkebunan rakyat untuk bergabung dalam sisitim
kemitraan dengan pola PIR yang ada di lokasi penelitian. Kebijakan pemerintah
yang membuka kesempatan bagi perkebunan rakyat untuk bergabung dalam sistim
kemitraan dengan memberi kemudahan untuk memasuki industri kelapa sawit akan
menghasilkan keuntungan usaha yang relatif kecil atau mendekati nol sehingga
terjadi kebebasan untuk memasuki atau keluar dari industri kelapa sawit (free entry
and exit into industry).
Berdasarkan uraian di atas maka struktur pasar kelapa sawit pada lokasi
penelitian dengan tiga pola PIR (pola PIR-Sus, PIR-Trans dan PIR-KUK) cenderung
bersifat tidak kompetitif, dimana penjual yang banyak (petani plasma) menghadapi
satu pembeli (inti), posisi tawar tidak seimbang atau inti relatif lebih kuat daripada

197

petani plasma sehingga inti cenderung mempengaruhi harga produk (price maker)
dan petani plasma cenderung penerima harga (price taker).

Selain itu adanya

intervensi pemerintah dalam penentuan harga jual dan informasi harga jual produk
yang tidak simetris memperkuat terjadinya struktur pasar yang tidak kompetitif.
7.2.3. Perilaku Pasar
Perilaku pasar adalah berbagai kegiatan atau cara yang dianut para pelaku
pasar dalam penyesuaian aktivitasnya terhadap kondisi pasar.

Petani plasma,

sebagai penjual produk, memiliki bentuk kerjasama antar petani dalam kelompok
tani (poktan), selanjutnya beberapa poktan bergabung dalam koperasi, yaitu
koperasi produsen kelapa sawit (KPKS) atau koperasi unit desa (KUD). Selanjutnya
perilaku petani dalam menjual produk apakah melalui jalur resmi atau jalur tidak
resmi biasanya berdasarkan pertimbangan ekonomi dan non ekonomi.
Petani yang sudah melunasi hutangnya seringkali mengingkari kesepakatan
kemitraan karena merasa tidak mempunyai kewajiban berhubungan dengan inti.
Penjualan melalui jalur resmi hanya dilakukan oleh petani yang memahami arti
kemitraan dengan mematuhi semua perjanjian yang telah disepakati.

Untuk itu

pembinaan dan pengawasan harus selalu dilakukan secara teratur kepada petani
plasma agar mematuhi perjanjian kemitraan.

Pembinaan atau penyuluhan

dimaksudkan untuk memberi pengertian bahwa jika petani menjual TBS secara
teratur kepada inti, maka mereka dapat melunasi kredit kebun plasma secara tepat
waktu, berarti mempercepat proses kepemilikan lahan kebun yang dikelolanya.
Penjualan TBS dari kebun plasma kepada inti setelah lunas kredit bertujuan
untuk mempersiapkan proses peremajaan kebun karena sebagian dana yang
dipotong dari nilai penjualan TBS setelah lunas kredit digunakan untuk dana

198

asuransi peremajaan kebun (berupa asuransi Idapertabun).

Apabila seluruh

perjanjian ini dipatuhi pelaku kemitraan (petani plasma dan inti) maka sistim
kemitraan akan berjalan lebih baik dan kesinambungan kerjasama dalam pola PIR
akan dapat dipertahankan. Hingga tahun 2002, tingkat pelunasan kredit pada pola
PIR-Sus mencapai 95.00% dengan tahun konversi berkisar antara 1984 -1997,
tingkat pelunasan kredit pada pola PIR-Trans mencapai 83.00% dengan tahun
konversi antara 1994 - 2000. Khusus pada kebun plasma pola PIR-KUK belum
satupun yang lunas kredit karena umur konversi rata-rata baru dua tahun.
Perilaku koperasi sebagai wadah petani membantu menjadwalkan panen,
mengangkut dan mencatat jumlah TBS petani yang dijual ke inti, kemudian
membagikan hasil penjualan TBS kepada petani berdasarkan jumlah produk TBS
yang tercatat melalui kelompok tani setiap awal bulan.

Untuk kompensasi jasa ini,

pengurus koperasi memperoleh komisi berupa biaya angkut jika pengangkutan


menggunakan kendaraan milik koperasi dan komisi untuk biaya operasional
koperasi (management fee) yang harus dibayar oleh setiap petani plasma
berdasarkan satuan produk yang dijualnya. Dari hasil penelitian pada 10 lokasi
kebun plasma contoh, ongkos angkut yang dipungut melalui koperasi adalah
berkisar Rp 25.00 Rp 35.00 per kilogram TBS tergantung jarak kebun plasma ke
pabrik PKS inti, sedangkan besarnya fee untuk manajemen KUD yang harus petani
plasma berkisar Rp 2.00 Rp 9.00 per kilogram TBS tergantung jasa KUD.
Perilaku pelaku pasar lain di luar saluran pemasaran resmi adalah perilaku
pedagang pengumpul non inti sebagai pembeli TBS petani plasma. Mereka
umumnya mengunjungi kebun plasma pada musim kemarau, dimana produksi TBS
relatif sedikit sehingga harga jual TBS lebih mahal.

Biasanya pedagang sudah

mengikat petani dengan hutang untuk pembelian barang konsumsi keluarga.

199

Kegiatan transaksi ilegal ini dapat merugikan pihak inti karena pabrik PKS inti akan
kekurangan bahan baku atau beroperasi di bawah kapasitas pabrik.

Perilaku

pedagang seringkali di luar pengawasan petugas PIR terutama pada wilayah kebun
yang luas dan kondisi jalan yang buruk.
Temuan di lapangan ini sesuai dengan pernyataan Pakpahan (2005), bahwa
marjin pemasaran komoditas perkebunan untuk ekspor termasuk kelapa sawit
sangat sedikit dinikmati petani yaitu hanya 10.00%, sebagian besar marjin diambil
pedagang baik domestik (30.00%) maupun luar negeri (60.00%). Petani umunya
hanya dibina untuk memproduksi produk bukan untuk memasarkan hasil secara
kompetitif akibat institusi petani dengan kekuatan tawar rendah (Agroindonesia, Vol
1, No.30 4Januari 2005, hal 4).
7. 2. 4. Kinerja Pasar.
Dimensi yang sering dipakai dalam menilai kinerja pasar adalah tingkat
efisiensi, hubungan harga jual dengan biaya yang dikeluarkan produsen serta biaya
promosi (Bain, 1959 dalam Martin, 1994), efisiensi, keuntungan, kualitas dan harga
jual produk (Carlton and Perloff, 1994). Dalam penelitian ini, dimensi yang relevan
dengan pasar produk kelapa sawit (TBS) dan hanya dibahas adalah tingkat efisiensi,
hubungan harga jual dengan biaya produksi per satuan (harga pokok), keuntungan
pelaku pasar.
Tingkat efisiensi usaha sangat dipengaruhi oleh skala usaha, dimana
semakin besar skala usaha (sampai batas tertentu) maka semakin efisien.
Berdasarkan pengalaman petani plasma maka jumlah kapling yang layak dimiliki
petani paling sedikit tiga kapling (kira-kira 6.00 ha) untuk mencapai luas garapan
yang dapat memenuhi kebutuhan keluarga dan keberlanjutan usaha.

Hal ini

200

diperkuat oleh temuan empiris bahwa petani yang mempunyai lahan lebih dari tiga
kapling umumnya mempunyai tabungan, mampu membayar asuransi peremajaan
kebun dan mampu melunasi kredit lebih cepat. Kepemilikan lahan lebih dari satu
kapling hanya terjadi pada sebagian kecil petani contoh, akantetapi paling banyak
ditemukan pada petani pola PIR-Sus

(18.67%), sedangkan paling sedikit pada

petani pola PIR-KUK (7.40%), pada petani PIR-Trans hanya ditemukan 10.56%.
Pada ketiga pola PIR ini ternyata meskipun mereka mempunyai lahan kebun lebih
dari dua hektar, kualitas kebun relatif baik (katagori kelas A) sehingga perluasan
kebun plasma hingga mencapai enam hektar masih dapat dikelola dengan baik
mengingat curahan kerja rumahtangga petani pada kebun plasma baru berkisar
21.00%, sedangkan sebagian besar curahan kerja anggota rumahtangga (hampir
80.00%) untuk kegiatan di luar kebun plasma.
Berdasarkan hasil perhitungan tingkat keuntungan pada Tabel 25, meskipun
harga jual TBS ditetapkan oleh pemerintah dan inti, akan tetapi harga jual TBS yang
diterima petani plasma pada ketiga pola PIR masih lebih besar dibandingkan harga
pokok TBS atau selisih harga jual dengan harga pokok TBS masih bernilai positif
(rata-rata marjin keuntungan Rp 151.20 per kilogram TBS). Rata-rata tingkat
keuntungan pada ketiga pola PIR masih lebih besar dari satu (1.68).
Secara umum kriteria ini menggambarkan bahwa kinerja pasar kelapa sawit
di lokasi kebun plasma pada ketiga pola PIR masih menguntungkan petani atau
masih efisien karena keuntungan per satuan produk masih positif atau tingkat
keuntungan bernilai lebih besar dari satu.

Efisiensi tertinggi dicapai oleh kebun

plasma pola PIR-Trans, sedangkan efisiensi paling rendah dicapai oleh kebun
plasma pola PIR-KUK. Hasil ini konsisten dengan analisis kinerja kebun plasma
dengan pola PIR yang berbeda yang sudah dibahas sebelumnya pada Tabel 24.

201

Tabel 25. Perbandingan Kinerja Beberapa Pola Perusahaan Inti Rakyat


Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Tahun 2002
No

Kinerja Kemitraan

Biaya Produksi TBS


(Rp/tahun)

Pola Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit


PIR-Sus
PIR-Trans PIR-KUK Rata-rata
5 709 590

7 893 710

5 395
990

6 482 380

Produksi TBS (kg/tahun)

26 813

38 597

16 357

29 226

Harga Pokok TBS (Rp/kg)

212.94

204.52

329.89

221.80

Harga jual TBS (Rp/kg)

359.00

397.00

355.00

373.00

Keuntungan per satuan


produk (Rp/kg)
Efisiensi
(tingkat keuntungan)*)

146.06

192.48

25.11

151.20

1.69

1.94

1.08

1.68

Keterangan: *) efisiensi atau tingkat keuntungan = harga jual : harga pokok


Jika harga pokok TBS dibandingkan dengan harga jual TBS pada ketiga pola
PIR untuk beberapa alternatif struktur pasar seperti yang dikaji oleh Tambunan
(1996), maka dapat dibandingkan ketiga pola PIR dengan tiga alternatif struktur
pasar berdasarkan kriteria kinerja struktur pasar tersebut (Tabel 26).
Struktur pasar dengan kemitraan (alternatif 1) merupakan bentuk pasar yang
mempunyai harga jual TBS terendah kedua tetapi masih lebih tinggi dari harga TBS
struktur pasar monopsoni (alternatif 2). Adanya intervensi pemerintah dalam hal
penetapan harga TBS dan peraturan yang melindungi petani dapat mengurangi
eksploitasi monopsonistik pada petani sebagai penjual produk sebesar RP
105.67/kg TBS.

Struktur pasar monopsoni (alternatif 2) merupakan bentuk pasar

yang paling merugikan petani, karena harga beli TBS oleh inti paling rendah.
Sedangkan struktur pasar monopoli bilateral (alternatif 3) merupakan bentuk pasar
yang dianggap paling menguntungkan petani dimana harga jual TBS paling tinggi.

202

Struktur pasar kompetitif (alternatif 4), sulit terwujud jika skala usaha dan
permodalan petani belum setara dengan inti dan hanya dapat terjadi jika petani
tidak terikat kontrak kerja dalam bentuk kemitraan inti-plasma (pola PIR kelapa
sawit).
Tabel 26. Perbandingan Harga Jual TBS pada Beberapa Alternatif Struktur
Pasar Kelapa Sawit di Sumatera Selatan Tahun 2002
No

Harga Jual TBS (Rp/kg)

Pola Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit


PIR-Sus
PIR-Trans
PIR-KUK Rata-rata

Pasar dengan Kemitraan

359.00

397.00

355.00

373.00

Pasar Monopsoni

287.50

257.50

260.00

267.33

Pasar Monopoli Bilateral

508.50

482.50

362.50

451.17

Pasar Kompetitif

500.00

449.25

355.00

434.75

Sumber

: Data penelitian 2002 (hasil olahan) dan hasil penelitian pada


lokasi yang sama oleh Mulyana (2003).

Pada struktur pasar alternatif empat maka setiap pelaku pasar (pembeli
maupun penjual) bebas melakukan transaksi kepada siapapun, tidak ada intervensi
pemerintah dalam pembentukan harga produk TBS karena harga ditentukan oleh
penawaran dan permintaan pasar.
Model alternatif ketiga yang diajukan oleh Tambunan (1996), yaitu lembaga
ekonomi petani berhadapan dengan perkebunan besar (inti) dengan cara
rumahtangga petani bergabung dalam wadah koperasi sebagai penjual tunggal
menghadapi pihak inti sebagai pembeli tunggal. Jika hal ini dapat diwujudkan maka
struktur pasar yang terjadi mendekati bentuk monopoli bileteral (bilateral monopoly).
Hal ini dapat dilakukan jika lembaga petani (kelompok tani, KPKS, KUD) lebih
diberdayakan baik dari segi manajemen, terknologi maupun permodalan.

Jika

203

model monopoli bilateral dapat diwujudkan maka harga produk yang terbentuk
merupakan hasil negosiasi dari kedua pihak yang melakukan transaksi dengan
kekuatan tawar menawar relatif sama.

Peranan pemerintah untuk terwujudnya

struktur pasar ini sangat diperlukan dengan perbaikan sistem penetapan harga
antara lain: (1) penetapan harga ditentukan lebih sering misal: setiap minggu jika
mungkin setiap hari bukan setiap bulan satu kali, (2) cara penentuan harga lebih
transparan terutama dalam menentukan rendemen (R) dan faktor K dengan
melibatkan lembaga petani, (3) penentuan R berdasarkan kebun atau luasan yang
lebih kecil agar lebih mewakili, dan (4) masa tunggu pembayaran TBS petani
dipersingkat jika mungkin secara tunai agar petani tidak terjerat hutang oleh
pedagang karena kekurangan uang tunai.
Menurut Darmowiyono (2004), salah satu upaya pemerintah untuk
mengembangkan kelembagaan petani adalah melalui pengembangan kawasan
pemukiman perkebunan (Kimbun) yang difokuskan pada kegiatan penguatan,
penumbuhan

kelembagaan

ekonomi

petani

dan

pemantapan

kemitraan.

Pengembangan kawasan ini akan dibangun di setiap sentra-sentra produksi melalui


upaya pemberdayaan dan peningkatan peran serta pengusaha kecil, menengah dan
koperasi.

Langkah

perkebunan

yang

implementasinya
mengutamakan

adalah

efisiensi,

masyarakat dalam satu paket kebijakan.

dengan

mengembangkan

produktivitas

dan

peran

pola
serta

Sebagai wadah pemberdayaan

masyarakat digunakan koperasi sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan


Perkebunan Nomor: 107/Kpts-II/1999 tanggal 3 Maret 1999, yaitu: (1) pola Koperasi
Usaha Perkebunan, (2) pola Patungan Koperasi dan Investor, (3) pola Patungan
Investor dan Koperasi, (4) pola BOT, dan (5) pola Bank Tabungan Negara (BTN)
(Lampiran 1).

204

7.3.

Pengolahan Kelapa Sawit


Pengolahan adalah semua tindakan atau perlakuan yang merubah bahan

baku menjadi barang setengah jadi atau barang jadi melalui berbagai tahapan atau
proses.

Menurut Austin (1992), pengolahan (processing) meliputi kegiatan

transformasi dan pengawetan melalui perubahan fisik atau kimia, penyimpanan,


pengemasan, dan distribusi.

Pengolahan produk pertanian termasuk buah kelapa

sawit merupakan kegiatan agroindustri hilir.

Agroindustri hilir kelapa sawit di

Sumatera Selatan masih didominasi oleh pabrik pengolahan CPO dan minyak
goreng, sehingga masih terdapat potensi untuk meningkatkan nilai tambah produk
dengan melakukan pengolahan lebih lanjut CPO menjadi produk derivatnya dan
pengolahan inti sawit menjadi PKO yang selama ini belum dilakukan, agar
pengolahan buah sawit (TBS) dapat lebih beragam sesuai dengan pohon industri
kelapa sawit.
Menurut Hasbi

(2001), pengembangan agroindustri hilir ini memberikan

banyak keuntungan, antara lain: (1) memberi nilai tambah yang lebih tinggi, (2)
meningkatkan pendapatan petani, (3) menghasilkan produk yang tahan lama, (4)
mengawetkan dan memanfaatkan hasil panen, (5) meningkatkan daya saing produk,
dan (6) memperluas lapangan kerja
Kegiatan pengolahan buah kelapa sawit menjadi minyak sawit pada lokasi
kebun dengan tiga pola PIR masih dilakukan di pabrik pengolahan kelapa sawit
(pabrik PKS) inti sedangkan petani plasma hanya dilibatkan sampai tahap panen
dan pengumpulan hasil di kebun plasma, karena investasi pengolahan kelapa sawit
memerlukan biaya sangat besar. Sebagai gambaran untuk membangun satu pabrik
pengolahan kelapa sawit (pabrik PKS) mini dengan kapasitas kira-kira 30 ton/jam
diperkirakan memerlukan dana sekitar Rp 45 milyar dengan pasokan buah kelapa

205

sawit dari kebun seluas kira-kira 6 000 ha yang memerlukan dana pembukaan
sekitar Rp 11.38 milyar. Apabila tersedia dana sebesar tersebut maka agribisnis
kelapa sawit masih menguntungkan karena nilai IRR (internal net of return)
mencapai 23.18% kecuali terjadi krisis ekonomi.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan pabrik PKS baru
adalah:

(1) biaya pembangunan pabrik PKS mempunyai pangsa cukup besar

terhadap biaya total (mencapai 27.00%), dan (2) pembangunan pabrik PKS harus
disertai membangun kebun kelapa sawit sendiri agar tidak terjadi konflik dalam
pengadaan bahan baku TBS. Meskipun biaya investasi untuk membangun pabrik
PKS cukup besar, akantetapi keuntungan yang akan diperolah juga besar. Sebagai
gambaran pembangunaan pabrik PKS dengan kapasitas 5.00 ton TBS/jam yang
membutuhkan areal 1 000 ha (pada lahan kelas II di Sumatera Selatan) diperkirakan
akan memberikan keuntungan sebesar Rp 2.90 milyar/tahun (Dinas Perkebunan
Sumatera Selatan, 2004).
Menurut Wahyono dalam Disbun Sumatera Selatan (2004), bila koperasi
mampu maka dapat dibangun kebun seluas 200 ha dan pabrik PKS super mini
dengan kapaitas 0.50 ton TBS/jam atau 10 ton TBS/hari. Pembangunan pabrik dan
kebun kelapa sawit ini membutuhkan biaya sekitar Rp 3.80 milyar. Jika setiap petani
dengan luas masing-masing dua hektar dilibatkan berarti dana Rp 3.80 milyar harus
dibebankan sebesar Rp 38.00 juta/rumahtangga petani plasma.

Dana sebesar ini

hanya dimungkinkan jika pemerintah memberikan pinjaman langsung atau melalui


lembaga petani yang ada (koperasi atau kelompok tani).
Meskipun biaya investasi pembangunan pabrik PKS cukup mahal, hal ini
dapat meningkatkan kinerja kebun plasma karena nilai IRR pembangunan pabrik
PKS super mini mencapai 21.00 %, titik impas diperkirakan dicapai dalam waku

206

tujuh tahun, sedangkan umur produktif tanaman kelapa sawit sebelum diremajakan
daapat dicapai selama 20 tahun.

Selama umur produktif tanaman ini, petani dapat

mencicil biaya ivestasi pembangunan pabrik PKS dari hasil penjualan TBS.
7.4.

Ringkasan
Perilaku pelaku kemitraan umumnya telah sesuai dengan fungsi/tugas, hak

dan kewajiban yang diatur oleh pemerintah daerah tentang proyek PIR kelapa sawit.
Perilaku pelaku pada pola PIR yang sedikit berbeda karena perbedaan karakteristik
rumahtangga petani plasma dan perbedaan faktor kelembagaan yang mengatur
kerjasama pelaku kemitraan tersebut yaaitu petani plasma dengan inti.
Berdasarkan beberapa kriteria teknis (umur konversi, produktivitas dan
periode pelunasan kredit) dan kriteria finansial/ekonomi (harga, nilai jual produk, R/C
dan B/C) maka secara keseluruhan kinerja kebun plasma pada ketiga pola PIR
cukup baik terutama kinerja kebun plasma pola PIR-Trans. Kinerja kebun plasma
ketiga pola PIR ini masih dapat ditingkatkan terutama produktivitas kebun plasma
dan kualitas buah sawit yang dihasilkan. Kinerja kebun plasma pola PIR-KUK belum
dapat dibandingkan secara penuh karena proyek PIR ini relatif baru, sedangkan
kebun plasma pola PIR-Sus belum dapat diremajakan yang seharusnya dilakukan
tahun 2006.
Struktur pasar yang terbentuk cenderung tidak kompetitif dan sistem
kemitraan dengan pola PIR belum memberikan manfaat yang setara dimana posisi
tawar petani plasma relatif lebih rendah dibandingakan mitra usahanya (inti) dan
peranan lembaga ekonomi petani (koperasi) belum sesuai harapan. Struktur pasar
yang tidak kompetitif tersebut mempengaruhi mekanisme transaksi produk TBS
keebun plasma kepada perushaan inti. Transaksi produk yang berpedoman pada

207

hasil penetapan harga TBS yang diatur dalam Surat Keputusan Menteri Kehutanan
dan Perkebunan tahun 1998 dan 2000 masih mempunyai beberapa kelemahan
sehingga petani cenderung hanya sebagai penerima harga (price taker).
Akan tetapi tingkat harga TBS yang terjadi ini masih relatif lebih baik jika
dibandingkan dengan harga TBS pada pasar jika tidak ada intervensi pemerintah
sama sekali. Jika lembaga petani (koperasi dan kelompok tani) lebih diberdayakan
untuk meningkatkan kekuatan tawar menawarnya maka tingkat harga jual TBS
diharapkan lebih tinggi dan lebih menguntungkan rumahtangga petani plasma.
Secara keseluruhan kinerja pasar yang dihasilkan masih efisien yang dicerminkan
oleh tingkat keuntungan petani plasma bernilai positif.

208

VIII.

PERILAKU EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI PLASMA


KELAPA SAWIT

Bab ini membahas hasil estimasi model ekonomi rumahtangga petani plasma
kelapa sawit di Provinsi Sumatera Selatan. Untuk memudahkan pembahasan, hasil
estimasi disajikan berdasarkan pengelompokan kedalam empat blok, yaitu: (1) blok
produksi, (2) blok curahan kerja, (3) blok biaya dan pendapatan, dan (4) blok
pengeluaran dan pelunasan kredit.

Model ekonomi rumahtangga petani plasma

kelapa sawit terdiri atas 15 persamaan struktural dan 18 persamaan identitas, akan
tetapi yang disajikan dalam tabel berikut ini hanya persamaan struktural, sedangkan
persamaan identitas hanya dibahas secara deskriptif.
Model ekonomi rumah tangga petani plasma kelapa sawit menggunakan
sistem persamaan simultan.

Pada model ini sudah dilakukan spesifikasi secara

berulang untuk memperoleh model yang bermakna menurut kriteria ekonomi dan
memuaskan

menurut

kriteria

statistika.

Hasil

respesifikasi

ini

diharapkan

menghasilkan model yang paling memungkinkan secara teoritis dan empiris.


Program dan hasil estimasi model ekonometrik rumahtangga petani plasma kelapa
sawit yang menggunakan program SAS versi 6.12 prosedur Syslin disajikan pada
Lampiran 10 dan 11.
Menurut

Koutsoyiannis

(1977),

pada

model

ekonometrik

seringkali

dihadapkan pada persoalan antara kriteria statistik dan kriteria ekonomi.


Berdasarkan kriteria statistik maka sebaiknya setiap persamaan mempunyai nilai
koefisien determinasi (R) yang besar dan kesalahan baku (standard error)
parameter estimasi yang kecil. Namun jika salah satu dari kedua kriteria statistik
tersebut tidak terpenuhi maka perlu dipilih secara bijaksana tergantung pada tujuan
akhir yang akan diperoleh. Jika model ekonometrik yang dibangun bertujuan untuk

209

menjelaskan perilaku maka kriteria yang tepat adalah nilai kesalahan baku yang
kecil, sedangkan jika untuk peramalan maka lebih tepat menggunakan kriteria R.
Selanjutnya jika semua kriteria statistik tidak terpenuhi, maka kriteria terakhir yang
perlu dipertahankan adalah kriteria ekonomi yaitu mempertahankan arah atau tanda
(sign) dan besaran (magnitude) dari parameter estimasi. Pada penelitian ini akan
lebih banyak menggunakan kriteria ekonomi dibandingkan kriteria statistik, akan
tetapi kriteria statistik juga dibahas.
Berdasarkan kriteria ekonomi, hasil parameter estimasi menunjukkan bahwa
semua variabel penjelas (explanatory variables) pada persamaan perilaku
mempunyai tanda sesuai harapan. Berdasarkan kriteria statistik, ternyata koefisien
determinasi (R2) pada persamaan perilaku menunjukkan nilai yang cukup besar
yaitu R2 > 0.50 sebanyak 11 persamaan (73.33%), sedangkan nilai R2 yang relatif
kecil yaitu R2 < 0.50 sebanyak 4 persamaan (26.67%). Penelitian ini menggunakan
data kerat lintang (cross section) dan mengkaji perilaku ekonomi rumahtangga
petani plasma sehingga nilai R2 tersebut masih cukup memuaskan, karena yang
dipentingkan adalah tanda parameter estimasi.
8.1. Perilaku Produksi Kelapa Sawit
Perilaku produksi kelapa sawit pada kebun plasma disusun dalam dua
persamaan perilaku dan satu persamaan identitas. Persamaan perilaku adalah luas
areal kebun plasma (LAKS), dan produktivitas kebun plasma (YKKS), sedangkan
persamaan identitas berupa produksi total kelapa sawit di kebun plasma (QTKS).
Hasil estimasi persamaan perilaku produksi menunjukkan seluruh tanda
parameter estimasi sesuai harapan (kriteria ekonomi).

Nilai positif parameter

estimasi berarti perubahan variabel-variabel penjelas tersebut searah dengan

210

perubahan variabel endogen luas areal kebun plasma (LAKS) dan produktivitas
kebun plasma (YKKS), sebaliknya nilai negatif parameter estimasi berarti perubahan
variabel-variabel penjelas tersebut berlawanan arah dengan perubahan variabel
endogen LAKS dan YKKS (Tabel 27).
Tabel 27. Estimasi Parameter dan Elastisitas Persamaan Produksi
Kelapa Sawit Rumahtangga Petani Plasma Tahun 2002
No

Variabel

A
1

Blok Produksi
Luas Areal K S Kebun Plasma
Total Curahan TK kel di kebun plasma
Nilai aset lahan
Pendapatan kelapa sawit
Pendapatan lahan pangan
Pendapatan non usahatani
Usahatani sebagai usaha pokok
2

Estimasi
Parameter

Peluang

Elastisitas

0.01260
0.00006
0.00008
-0.00002
0.00005
0.90766

0.0001
0.0001
0.0001
0.0254
0.0005
0.0001

0.2820
0.0002
0.0455
-0.0674
0.0248
-

14.4689
6.0655
12.7621
15.3938
1.2219
4.9385

0.0001
0.0020
0.1229
0.0237
0.4200
0.0001

0.4614
0.1666
0.0584
0.0130
0.0266
0.2755

R = 0.8720; Adj R = 0.8696


2

Produktivitas K S Kebun Plasma


Harga tandan buah segar
Penggunaan pupuk gabungan
Curahan TK kel di kebun plasma
Curahan TK upahan di kebun plasma
Jumlah pohon KS per hektar
Produktivitas TK di kebun plasma
2

R =0.9448; Adj R

= 0.9436

Semua parameter estimasi pada persamaan luas kebun plasma (LAKS)


berbeda dari nol pada taraf nyata kurang dari 10%. Nilai positif parameter estimasi
mempunyai arti bahwa perubahan variabel-variabel penjelas tersebut searah dengan
perubahan variabel LAKS. Makin tinggi penggunaan total curahan tenaga kerja di
kebun plasma (TCTKKS), nilai aset lahan (ASETLHN), pendapatan dari kelapa sawit
(PDPTKS) dan pendapatan non usahatani (PDPTNUT) maka makin luas areal
kebun plasma (LAKS).

Nilai negatif pendapatan dari lahan pangan (PDPTLPG)

berarti perubahan pendapatan dari lahan pangan berlawanan arah dengan

211

perubahan luas areal kebun plasma kelapa sawit (LAKS) karena usahatani pada
lahan pangan merupakan kegiatan yang bersaing dengan usahatani kelapa sawit
terutama dalam penggunaan input.
Ketersediaan

tenaga

kerja

di

kebun

plasma

(TCTKKS)

sangat

mempengaruhi luas kebun plasma (LAKS) dan respon perubahan luas kebun
plasma relatif paling besar akibat perubahan total curahan kerja di kebun plasma
(TCTKKS) dibandingkan perubahan variabel penjelas lainnya. Hal ini disebabkan
karena setiap petani di lokasi penelitian mempunyai kebun kelapa sawit, sehingga
ketersediaan tenaga kerja sebagai faktor produksi sangat penting bagi perluasan
kebun kelapa sawit. Sebagian besar tenaga kerja di kebun plasma disediakan dari
dalam keluarga (81.71%), sedangkan kebutuhan tenaga kerja dari luar keluarga
hanya sebagian kecil (18.29%).
Faktor lain yang sangat menentukaan luas kebun plasma

adalah

ketersediaan modal baik berupa aset lahan (ASETLHN) maupun pendapatan


keluarga dari berbagai sumber terutama dari kebun kelapa sawit (PDPTKS) dan dari
sektor non usahatani (PDPTNUT). Rata-rata nilai aset lahan rumahtangga petani
plasma adalah sebesar Rp 1.35 juta, akan tetapi tidak semua petani memiliki aset
lahan (nilai aset lahan nol). Selain itu rata-rata kontribusi pendapatan kelapa sawit
(PDPTKS) cukup besar yaitu mencapai 56.62%, sedangkan kontribusi pendapatan
non usahatani (PDPTNUT) hanya sebesar 17.26% terhadap pendapatan keluarga
petani (PDPTKP).

Kegiatan dari lahan pangan merupakan kegiatan bersaing

dengan perluasan kebun kelapa sawit dalam hal penggunaan beberapa input
sehingga tandanya negatif. Variabel usahatani sebagai usaha pokok (DKSUPP)
menjelaskan bahwa jika rumahtangga petani plasma menekuni usahatani kelapa
sawit sebagai usaha pokok maka mereka mempunyai kebun plasma rata-rata lebih

212

luas 0.9076 hektar dibandingkan rumahtangga petani yang mempunyai usaha pokok
bukan usahatani kelapa sawit.
Seluruh tanda parameter estimasi pada fungsi perilaku produktivitas kebun
plasma (YKKS) telah sesuai harapan atau sesuai kriteria ekonomi. Berdasarkan
kriteria statistik ternyata sebagian besar parameter estimasi berbeda dari nol pada
taraf nyata kurang dari 10% kecuali variabel curahan tenaga kerja keluarga di kebun
plasma (CTKKS) dan jumlah pohon kelapa sawit di kebun plasma (JBTKS). Tanda
positif parameter estimasi mengandung arti perubahan variabel penjelasnya searah
dengan perubahan perilaku produktivitas kebun plasma yaitu makin tinggi harga
produk kelapa sawit (HTBS), makin tinggi penggunaan input pupuk kumulatif (QIP),
curahan tenaga kerja keluarga (CTKKS), curahan tenaga kerja luar keluarga
(CTKUKS), jumlah pohon kelapa sawit per kapling (JBTKS), dan produktivitas
tenaga kerja (YTKKS) di kebun plasma maka makin tinggi produktivitas kebun
plasma (YKKS), hal yang sama terjadi sebaliknya.
Perubahan produktivitas kebun plasma terhadap perubahan setiap variabel
penjelasnya tidak responsif. Hal ini berarti jika rumahtangga petani plasma ingin
meningkatkan produktivitas kebun plasma, maka mereka tidak dapat meningkatkan
hanya salah satu faktor produksi yang ada karena pengaruh masing-masing faktor
produksi sangat kecil terhadap produktivitas kebun plasma.

Respon terbesar

produktivitas kebun plasma (YKKS) terhadap perubahan variabel penjelas adalah


terhadap harga produk kelapa sawit (HTBS). Perubahan harga TBS akan
memberikan perubahan paling besar pada produktivitas kebun plasma dibandingkan
variabel-variabel penjelas lainnya, meskipun msih tidak elastis (E = 0.46).
Produksi total kelapa sawit (QTKS) merupakan perkalian luas areal kebun
plasma (LAKS) dan produktivitas kebun plasma (YKKS), sehingga faktor-faktor yang

213

mempengaruhi luas areal kebun plasma dan produktivitas kebun plasma akan
mempengaruhi perubahan produksi total kelapa sawit di kebun plasma (QTKS)
(persamaan QTS adalah bentuk identitas dan tidak disajikan dalam Tabel 27).
8.2.

Perilaku Curahan Tenaga Kerja Keluarga


Curahan tenaga kerja dalam keluarga baik pada kebun plasma maupun di

luar kebun plasma dapat dilihat dari sisi rumahtangga petani plasma sebagai
penawar tenaga kerja. Perilaku curahan kerja keluarga petani plasma kelapa sawit
disusun dalam empat persamaan perilaku dan empat persamaan identitas.
Persamaan perilaku berupa curahan tenaga kerja keluarga di kebun plasma yaitu
oleh suami (CTKKSPP), oleh istri (CTKKSIP), curahan tenaga kerja keluarga di luar
kebun plasma yaitu oleh suami (CTKLKSPP) dan oleh istri (CTKLKSIP). Persamaan
identitas berupa curahan tenaga kerja keluarga di kebun plasma (CTKKS), curahan
tenaga kerja keluarga di luar kebun plasma (CTKLKS), total curahan kerja di kebun
plasma (TCTKKS) dan produktivitas tenaga kerja keluarga di kebun plasma
(YTKKS) (Tabel 28).
Kriteria statistik menunjukkan bahwa sebagian besar parameter estimasi
pada perilaku curahan kerja suami di kebun plasma (CTKKSPP) berbeda dari nol
pada taraf nyata kurang dari 10% kecuali variabel karakteristik suami yaitu variabel
umur suami (UMPP), curahan tenaga kerja anak di kebun plasma (CTKKSAN),
pengalaman suami pada usahatani kelapa sawit (PUTKS) dan variabel boneka asal
daerah suami (DADPP). Hal yang sama terjadi pada perilaku curahan kerja istri di
kebun plasma (CTKKSIP) dimana hampir semua parameter estimasi berbeda dari
nol pada taraf nyata kurang dari 10%, kecuali variabel curahan kerja anak sebagai
tenaga kerja substitusi (CTKKSAN).

214

Tabel 28. Estimasi Parameter dan Elastisitas Persamaan Curahan


Kerja Anggota Rumahtangga Petani Plasma Tahun 2002
No
1

Variabel
Curahan TK suami di kebun plasma
Upah TK di kebun Plasma
Upah TK di kebun Inti
Luas areal Kebun Plasma
Umur tanaman KS
Curahan TK anak di kebun Plasma
Curahan TK upahan di kebun Plasma
Umur petani plasma
Pengalaman usahatani di Kebun Plasma
Asal daerah petani plasma
2

R = 0.7679; Adj R = 0.7624


Curahan TK suami luar kebun plasma
Upah TK di kebun kelapa sawit Inti
Pendapatan non usahatani
Luas areal selain kebun Plasma
Total pengeluaran keluarga petani
Pengalaman Usahatani
Lama Pendidikan suami (petani)
2

R = 0.6418; Adj R = 0.6345


Curahan TK istri luar kebun plasma
Upah TK di kebun Inti
Pendapatan non usahatani
Upah TK di kebun Plasma
Luas areal kebun Plasma
Jumlah anak balita
Pengalaman usahatani KS
Lama pendidikan istri plasma
R

Peluang

Elastisitas

0.00066
-0.00049
2.23753
1.84504
-0.01235
-0.09942
-0.06307
0.12267
-1.32450

0.0001
0.0523
0.0293
0.0001
0.4354
0.0052
0.1895
0.3793
0.2869

0.3381
-0.2409
0.1874
0.8245
-0.0046
-0.0342
-

2.01030
1.48623
-0.01035
-0.06328
-0. 15651
-3. 25128
0. 58850
-4. 32873

0.0229
0.0001
0.4270
0.0331
0.0048
0.0082
0.0348
0.0119

0.2396
0.9447
-0.0054
-0.0310
-

0.005079
0.002356
3.286873
0.001951
4.676081
1.096507

0.0002
0.0809
0.2534
0.0731
0.0002
0.3231

0.5129
0.0317
0.0220
0.1049
-

0. 00110
0.00375
-0.00129
-5.06519
-15.51358
6.97446
7.90639

0.2702
0.0049
0.0618
0.1849
0.0496
0.0001
0.0005

0.1647
0.0747
-0.2035
-0.1308
-

R = 0.8087; Adj R = 0.8037


Curahan TK istri di kebun plasma
Luas areal kebun Plasma
Umur tanaman
Curahan TK anak di Kebun Plasma
Curahan TK upahan di Kebun Plasma
Umur istri petani plasma
Jumlah anak balita
Pengalaman usahatani KS
Asal Daerah Petani plasma
2

Estimasi
Parameter

= 0.5717; Adj R

= 0.5629

Seluruh tanda parameter estimasi telah sesuai harapan atau memenuhi


kriteria ekonomi.

Curahan kerja anak (CTKKSAN) pada perilaku curahan kerja

suami (CTKKSPP) dan istri (CTKKSIP) di kebun plasma diharapkan sebagi tenaga

215

kerja substitusi ternyata berpengaruh tidak nyata pada taraf 10%. Tenaga kerja
anak cenderung sebagai faktor suplemen bukan susbtitusi.

Mereka hanya

membantu bekerja di kebun plasma pada waktu tertentu seperti kegiatan panen dan
pengumpulan hasil panen, karena umumnya mereka anak yang aktif bersekolah.
Sebaliknya curahan tenaga kerja upahan (CTKUKS) berpengaruh nyata pada taraf
10% terhadap curahan kerja suami (CTKKSPP) dan curahan kerja istri di kebun
plasma (CTKKSIP). Tanda parameter estimasi yang negatif mencerminkan kedua
jenis tenaga kerja di kebun plasma (dari dalam keluarga dan luar keluarga/upahan)
bersifat substitusi meskipun tidak sempurna dan respon perubahannya rendah. Hal
ini berarti penggunaan tenaga kerja luar keluarga hanya bersifat musiman (terutama
pada saat panen) dan hanya menggantikan sebagian kecil curahan kerja keluarga.
Rata-rata penggunaan tenaga kerja dari luar keluarga hanya 10.63 HOK/tahun
(18.29%) dari total kebutuhan tenaga kerja di kebun plasma.
Studi Benyamin dan Guyomard (1994) mendukung penelitian ini meskipun
hasilnya sedikit berbeda, dimana hasil penelitian Benyamin dan Guyomard
memberikan hasil bahwa curahan kerja dari dalam keluarga dan luar keluarga pada
kegiatan usahatani merupakan tenaga kerja yang saling bersubstitusi, selanjutnya
keputusan dalam alokasi tenaga kerja keluarga (pada usahatani atau luar usahatani)
dan keputusan menggunakan jenis tenaga kerja (dari dalam keluarga atau luar
keluarga) merupakan proses bersama (joint process).
Curahan kerja suami di kebun plasma lebih ditentukan oleh karakteristik
usahatani, yaitu luas kebun plasma (LAKS) dan umur tanaman kelapa sawit (UTKS)
daripada karakteristik individu seperti: umur suami (UMPP), pengalaman usahatani
(PUTKS) dan asal daerah suami (DADPP). Curahan kerja istri di kebun plasma
ditentukan oleh ketiga kerakteristik yaitu karakteristik usahatani (yaitu LAKS dan

216

UTKS), karakteristik individu istri (yaitu umur istri, pengalaman usahatani dan asal
daerah istri) serta karakteristik rumahtangga (jumlah anak balita (JABALT)). Hasil
penelitian ini sedikit berbeda dengan studi Benyamin dan Guyomard (1994) dimana
perilaku curahan kerja suami lebih dipengaruhi oleh karaktersitik usahatani
sedangkan perilaku curahan kerja istri lebih dipengaruhi oleh karakteristik individu
dan rumahtangga dalam pasar tenaga kerja.
Umur suami (UMPP) dan umur istri (UMIPP) sebagai tenaga kerja di kebun
plasma berpengaruh negatif, berarti makin tua umur suami dan istri maka makin
rendah curahan kerja mereka.

Curahan kerja di kebun plasma memerlukan

kekuatan fisik sehingga sangat ditentukan oleh umur pelakunya. Adanya anak balita
juga memberikan pengaruh negatif secara nyata terhadap curahan kerja istri baik di
kebun plasma maupun di luar kebun plasma. Hasil penelitian ini sesuai dengan
studi Benyamin dan Guyomard (1994) bahwa karakteristik keluarga terutama
adanya anak-anak di rumah mempunyai pengaruh negatif yang nyata terhadap
peluang bagi wanita yang sudah menikah (istri) untuk mencari kegiatan produktif
(yang menghasilkan upah).
Respon perilaku curahan kerja suami dan istri di kebun plasma terhadap
sebagian besar variabel penjelas bersifat kurang elastis, akantetapi respon terhadap
umur tanaman kelapa sawit (UTKS) bersifat hampir elastis (E UTKS =0.82 dan 0.94).
Variabel UTKS merupakan variabel penentu perilaku curahan kerja suami dan istri di
kebun plasma, dimana makin tua umur tanaman maka makin tinggi pohon kelapa
sawit, makin sulit kegiatan pemeliharaan dan panen buah kelapa sawit sehingga
memerlukan curahan kerja lebih banyak.

Untuk pohon yang tinggi maka petani

menggunakan tangga dan alat pemotong dengan gagang panjang untuk membantu

217

keegiatan pemeliharaan dan panen.

Rata-rata curahan kerja keluarga di kebun

plasma pada pola PIR-Sus lebih tinggi dibandingkan curahan kerja anggota keluarga
pada pola PIR lainnya, hal ini sesuai dengan umur tanaman kelapa sawit pola PIRSus yang rata-rata lebih tua dibandingkan pola PIR lainnya (pola PIR-Trans dan
PIR-KUK).
Variabel boneka asal daerah petani (DADPP) merupakan proxy etos kerja.
Nilai negatif parameter estimasi variabel DADPP mencerminkan curahan kerja
suami atau istri penduduk lokal lebih rendah dibandingkan curahan kerja suami atau
istri penduduk pendatang di kebun plasma. Pengaruh variabel DADPP terhadap
CTKKSIP sangat nyata dan terhadap CTKKSPP tidak nyata pada taraf 10%.
Penduduk lokal adalah penduduk berasal dari Sumatera Selatan sedangkan
penduduk pendatang umumnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur. Curahan kerja
suami (penduduk lokal) pada kebun plasma rata-rata lebih rendah 1.32 HOK/tahun,
sedangkan curahan kerja istri (penduduk lokal) rata-rata lebih rendah 4.32
HOK/tahun.
Curahan tenaga kerja keluarga di kebun plasma (CTKKS) merupakan
penjumlahan curahan tenaga kerja seluruh anggota keluarga yaitu petani
(CTKKSPP), istri petani (CTKKSIP) dan anak petani (CTKKSAN). Total curahan
tenaga kerja di kebun plasma (TCTKKS) merupakan penjumlahan curahan tenaga
kerja keluarga (CTKKS) dan curahan tenaga kerja luar keluarga atau tenaga kerja
upahan (CTKUKS) di kebun plasma. Produktivitas tenaga kerja (YTKKS) merupakan hasil bagi produksi total kelapa sawit di kebun plasma (QTKS) dibagi curahan
tenaga kerja di kebun plasma (TCTKKS).

Semua faktor yang mempengaruhi

produksi total kelapa sawit dan curahan tenaga kerja di kebun plasma secara
otomatis akan mempengaruhi produktivitas tenaga kerja yang dicurahkan pada

218

kebun plasma.

Persamaan CTKKS, TCTKKS dan YTKKS adalah persamaan

identitas dan tidak disajikan pada Tabel 28.


Sebagian besar variabel penjelas pada perilaku curahan kerja suami di luar
kebun plasma (CTKLKSP) berbeda dari nol pada taraf nyata kurang dari 10%,
kecuali variabel luas areal di luar kebun plasma (LAKS) dan pendidikan formal suami
(LPDPP).

Variabel luas areal di luar kebun plasma (LALKS) merupakan lahan

untuk tanaman karet dan tanaman pangan, ternyata bukan faktor penyebab
tingginya curahan kerja suami di luar kebun plasma. Motivasi suami bekerja di luar
kebun plasma lebih besar karena faktor kompensasi yang akan diterima dan untuk
menutupi pengeluaran keluarga (TPENGKP).

Pengaruh kompensasi terhadap

curahan kerja suami baik di kebun inti (UPAHINTI) atau di sektor non usahatani
(PDPTNUT) sangat nyata pada taraf kurang dari 10% meskipun kurang responsif
(E=0.34 dan E= 0.51).

Hasil deskripsi membuktikan bahwa rata-rata kontribusi

pendapatan dari non usahatani (PDPTNUT) terhadap pendapatan keluarga paling


tinggi (17.26%) dibandingkan pendapatan lainnya di luar kebun plasma (pendapatan
kebun karet (PDPTKRT), lahan pangan (PDPTLPG) maupun pendapatan usaha
ternak (PDPTRNK)).
Pengalaman usahatani (PUTKS) berpengaruh nyata, sedangkan pendidikan
formal petani (LPDPP) berpengaruh tidak nyata pada curahan kerja suami di luar
kebun plasma.

Jenis pekerjaan yang tersedia di lokasi penelitian umumnya

pekerjaan kasar yang memerlukan kekuatan fisik bukan kemampuan pikir (nalar),
sehingga pengalaman usahatani lebih penting daripada pendidikan formal. Curahan
kerja suami pada luar kebun plasma terbesar pada usahatani karet (pola PIR-Sus)
dan kegiatan non usahatani (pada pola PIR-Trans dan pola PIR-KUK). Temuaan ini

219

sedikit berbeda dengan studi Benyamin dan Guyomard (1994), bahwa tingkat
pendidikaan suami menentukan besarnya curahan kerja di luar usahatani.
Sebagian besar variabel penjelas berpengaruh nyata terhadap perilaku
curahan kerja istri di luar kebun plasma (CTKLKSIP) kecuali upah di kebun inti
(UPAHINTI) dan luas kebun plasma (LAKS). Keputusan istri petani untuk
mencurahkan waktunya di luar kebun plasma untuk menghemat biaya tenaga kerja
di kebun plasma (UPAHKS) dan mendapatkan tambahan pendapatan dari kegiatan
non usahatani (PDPTNUT). Faktor karakteristik indvidu istri yaitu tingkat pendidikan
(LPDIPP) dan pengalaman usahatani (PUTKS) juga menentukan besarnya curahan
kerja istri di luar kebun plasma karena lapangan kerja terutama di luar usahatani
lebih terbuka bagi istri yang mempunyai keahlian dan keterampilan.

Besarnya

curahan kerja istri di luar kebun plasma dibatasi oleh faktor karakteristik
rumahtangga (jumlah anak balita), karena istri harus juga mencurahkan waktunya
untuk memelihara anak di rumah.

Hasil penelitian ini mirip dengan penelitian

Benyamin dan Guyomard (1994) bahwa makin tinggi pendidikan formal istri maka
makin besar curahan kerja istri petani, sebaliknya makin banyak jumlah anak balita
maka makin menurun curahan kerja istri di luar usahatani.
Curahan tenaga kerja keluarga di luar kebun plasma (CTKLKS) merupakan
penjumlahan curahan tenaga kerja seluruh anggota keluarga di luar kebun plasma
yaitu suami (CTKLKSPP), istri (CTKLKSIP) dan anak (CTKLKSAN). Persamaan
CTKLKS adalah persamaan identitas dan tidak disajikan pada Tabel 28.
8.3.

Perilaku Penggunaan Input pada Kebun Plasma


Blok penggunaan input dan pendapatan rumahtangga petani plasma disusun

dalam 4 persamaan perilaku dan 12 persamaan identitas.

Persamaan perilaku

220

berupa penggunaan pupuk Nitrogen (QIPN), penggunaan pupuk Posfat (QIPP),


penggunaan pupuk Kalium (QIPK) dan penggunaan pestisida (QIPD) (Tabel 29).
Tabel 29. Estimasi Parameter dan Elastisitas Persamaan Perilaku
Penggunaan Input pada Kebun Plasma Tahun 2002
No
1

Variabel (Endogen dan Penjelas)


Penggunaan Pupuk Nitrogen
Rasio HIPN dengan HTBS
Upah di kebun KS
Luas areal kebun KS
Umur tanaman KS
Pendapatan non usahatani
Pendapatan lahan pangan
Konsumsi pangan
Penge investasi kesehatan
Pola PIR Trans (DPIRKS1)
2

R = 0.8756; Adj R = 0.8723


Penggunaan Pupuk Kalium
Harga pupuk Kalium
Harga produk KS
Upah di kebun KS
Luas areal kebun KS
Pendapatan non usahatani
Konsumsi pangan
Peng investasi kesehatan
Pola PIR Trans (DPIRKS1)
2

R = 0.8691; Adj R = 0.8661


Penggunaan Pestisida
Harga pestisida
Upah di kebun KS
Luas areal kebun KS
Pendapatan non usahatani
Pendapatan lahan pangan
Asal daerah petani plasma
2

Peluang

Elastisitas

-11.08119
0.00823
90.35035
6.76805
0.00168
0.00148
-0.02372
-0.07234
98.09544

0.2093
0.0001
0.0001
0.0004
0.2163
0.2164
0.0087
0.0725
0.0001

-0.1110
0.3769
0.6754
0.2698
0.0097
0.0056
-0.2819
-0.0573
-

-0.01018
0.00848
87.8677
5.77920
0.00123
0.00157
-0.02573
-0.06732
103.94756

0.3714
0.0001
0.0001
0.0005
0.2818
0.1964
0.0040
0.1019
0.0001

-0.0454
0.3873
0.6557
0.2301
0.0071
0.0059
-0.3049
-0.0532
-

-0.09371
0.00839
0.28867
98.63299
0.00185
-0.00433
-0.08049
115.45350

0.0001
0.0001
0.0127
0.0001
0.2003
0.2635
0.0617
0.0001

-0.4885
0.3841
0.3353
0.7378
0.0107
-0.0515
-0.0638
-

-0.00004
0.00003
2.35932
0.04811
0.00009
0.00003

0.1304
0.1970
0.0001
0.2415
0.0445
0.2006

-0.2775
0.0781
1.0505
0.1143
0.0294
0.0074

R = 0.8757; Adj R = 0.8724


Penggunaan Pupuk Posfat
Harga pupuk Posfat
Upah TK di kebun KS
Luas areal kebun KS
Umur tanaman KS
Pendapatan non usahatani
Pendapatan lahan pangan
Konsumsi pangan
Peng. investasi kesehatan
Pola PIR Trans (DPIRKS1)
2

Estimasi
Parameter

R = 0.7599; Adj R = 0.7557

221

Hasil estimasi persamaan perilaku penggunaan input pupuk (N, P dan K) dan
pestisida menunjukkan seluruh tanda parameter estimasi telah sesuai harapan atau
kriteria ekonomi. Nilai positif parameter estimasi berarti perubahan variabel-variabel
penjelas tersebut searah dengan perubahan variabel endogen.

Nilai negatif

parameter estimasi berarti perubahan variabel-variabel penjelas tersebut berlawanan arah dengan perubahan variabel endogen QIPN, QIPP, QIPK dan QIPD.
Sebagian besar parameter estimasi variabel penjelas berbeda dari nol pada
taraf nyata kurang dari 10%, kecuali variabel rasio harga pupuk N terhadap harga
TBS (RHPNTBS), harga pupuk posfat (HIPP) dan pendapatan non usahatani
(PDPTNUT). Hal ini membuktikan bahwa kegiatan pemupukan lebih ditentukan oleh
karakteristik usahatani yaitu luas kebun plasma (LAKS) dan umur tanaman kelapa
sawit (UTKS) daripada faktor harga intput pupuk itu sendiri.
Pada penggunaan pupuk Kalium, pengaruh faktor harga pupuk (HIPK) dan
harga produk TBS (HTBS) sangat nyata pada taraf 10%.

Penggunaan pupuk

Kalium akan meningkat jika harga pupuk Kalium menurun meskipun respon
penggunaan pupuk terhadap perubahan harganya rendah atau inelastis (E HIPK =
0.49). Hal sebaliknya terjadi yaitu penggunaan pupuk Kalium akan meningkat jika
harga kelapa sawit (HTBS) meningkat meskipun respon penggunaan pupuk
terhadap

perubahan

harga

produk

kelapa

sawit

rendah

atau

inelastis

(E HTBS =0.3841).
Variabel lain yang berpengaruh nyata terhadap perilaku penggunaan pupuk
adalah upah di kebun plasma (UPAHKS) serta faktor kelembagaan yang diproxy
dengan variabel dummy pola PIR-Trans (DPIRKS 1 ). Meningkatnya upah di kebun
plasma (UPAHKS) mendorong petani untuk mencurahkan tenaga kerja keluarga

222

lebih besar agar dapat menghemat biaya upah.

Penggunaan pupuk pada

rumahtangga petani plasma PIR-Trans lebih tinggi, hal ini membuktikan bahwa
penggunaan pupuk pada kebun plasma pola PIR-Trans lebih intensif dibandingkan
penggunaan pupuk pada kebun plasma pola PIR lainnya (PIR-Sus dan PIR-KUK).
Nilai negatif variabel konsumsi pangan (KONSPNG) dan pengeluaran untuk
investasi kesehatan (INVSKES) mencerminkan perubahan kedua variabel tersebut
berlawanan arah dengan variabel pengunaan pupuk (QIPN, QIPP dan QIPK). Biaya
pupuk dengan pengeluaran rumahtangga merupakan komponen yang saling
bersaing dalam alokasi anggaran rumahtangga petani plasma.
Respon penggunaan input pupuk dan pestisida di kebun plasma terhadap
hampir semua variabel penjelasnya kurang elastis, akan tetapi respon penggunaan
pupuk terhadap luas areal kebun plasma mendekati satu (E LAKS = 0.7), hanya
respon penggunaan pestisida terhadap perubahan areal kebun plasma (LAKS)
bersifat elastis (E LAKS = 1.05).

Hal ini berarti jika petani menambah areal kebun

kelapa sawit (LAKS) maka jumlah pemakaian pupuk (QIPN, QIPP atau QIPK) akan
bertambah tetapi dengan dosis yang makin turun untuk setiap penambahan areal
kebun kelapa sawit.

Penggunaan pestisida bersifat elastis, berarti setiap

penambahan areal kelapa sawit akan diikuti dengan penambahan penggunaan


pestisida (QIPD) dengan dosisi yang relatif sama bahkan cenderung meningkat.
Persamaan identitas adalah biaya pupuk N (BIPN) biaya pupuk P (BIPP) dan
biaya pupuk K (BIPK), biaya pestisida (BIPD), biaya transportasi (BTRANS), biaya
manajemen KUD (BMKUD), biaya pengolahan (BPENGKS), biaya produksi di kebun
plasma (BPRKS), biaya produksi total kelapa sawit (BPTKS), nilai produksi total
(NPTKS), pendapatan dari kelapa sawit (PDPTKS), pendapatan keluarga petani

223

(PDPTKP).

Biaya penggunaan pupuk yaitu BIPN, BIPP dan BIPK merupakan

perkalian jumlah permintaan pupuk QIPN, QIPP, QIPK dengan harga pupuk masingmasing (HIPN, HIPP, HIPK). Semua faktor yang mempengaruhi penggunaan pupuk
akan mempengaruhi biaya penggunaan pupuk. Biaya penggunaan pestisida (BIPD)
merupakan perkalian jumlah penggunaan pestisida (QIPD) dengan harga pestisida
(HIPD). Semua faktor yang mempengaruhi QIPD akan mempengaruhi BIPD. Biaya
produksi di kebun plasma (BPRKS) merupakan penjumlahan biaya pupuk, biaya
penggunaan pestisida, biaya tenaga kerja upahan (BTKUKS) dan biaya penyusutan
alat (BPALKS). Biaya produksi kelapa sawit total (BPTKS) merupakan penjumlahan
biaya produksi di kebun plasma dengan biaya administrasi kelapa sawit (BADMS),
biaya cicilan kredit (BCKKS), biaya transportasi TBS (BTRANS), dan biaya
manajemen KUD (BMKUD).
Nilai produksi total kelapa sawit (NPTKS) merupakan perkalian QTKS
dengan HTBS. Pendapatan dari kelapa sawit (PDPTKS) merupakan selisih NPTKS
dengan BPTKS. Pendapatan keluarga petani (PDPTKP) merupakan penjumlahan
pendapatan kelapa sawit (PDPTKS) dan pendapatan dari luar kelapa sawit yang
terdiri dari pendpatan lahan pangan (PDPTLPG), pendapatan non usahatani
(PDPTNUT), pendapatan usaha ternak (PDPTTRNK) dan pendapatan kebun karet
(PDPTKRT). Persamaan di atas dinyatakan dalam persamaan identitas sehingga
tidak disajikan Tabel 29.
8.4.

Perilaku Pengeluaran Keluarga dan Pelunasan Kredit


Perilaku pengeluaran rumahtangga petani plasma PIR kelapa sawit terdiri

dari 5 persamaan perilaku dan satu persamaan identitas.

Persamaan perilaku

berupa persamaan pengeluaran untuk konsumsi pangan (KONSPNG), investasi

224

pendidikan (INVSPEND), investasi kesehatan (INVSKES), pengeluaran untuk


asuransi (ASURANSI), dan persamaan periode pelunasan kredit (PLUNKRED).
Sedangkan persamaan identitas adalah total pengeluaran keluarga petani
(TPENGKP) (Tabel 30).
Keempat persamaan perilaku pengeluaran rumahtangga mempunyai nilai
koefisien determinasi (R) lebih kecil dari 0.50. Hal ini menunjukkan bahwa perilaku
pengeluaran dan pelunasan kredit hanya mampu dijelaskan oleh varibel-variabel
penjelas yang ada sebesar kurang dari 50%. Rendahnya nilai koefisien determinasi
ini mencerminkan karakteristik data kerat lintang (cross section) yang digunakan
dalam

penelitian

yaitu

kurang

mampu

menjelaskan

perilaku

pengeluaran

rumahtangga petani secara baik.


Hasil estimasi menunjukkan bahwa seluruh tanda parameter estimasi telah
sesuai harapan atau sesuai kriteria ekonomi.

Kriteria statistik menunjukkan

sebagian besar parameter dugaan berbeda dari nol pada taraf nyata kurang dari
10% terutama variabel karakteristik rumahtangga seperti jumlah anggota dalam
keluarga (JAKP), jumlah anak sekolah dan jumlah anak balita (JABALT). Pengaruh
variabel pendapatan sebagai anggaran untuk pengeluaran rumahtangga cukup
nyata, meskipun respon perubahannya tidak elastis. Hal ini sesuai dengan sifat
pengeluaran untuk konsumsi pangan (KONSPNG).

Fungsi perilaku pengeluaran

untuk konsumsi pangan menunjukan seluruh tanda parameter estimasi telah sesuai
harapan atau sesuai kriteria ekonomi. Kriteria statistik menunjukkan hanya sebagian
kecil parameter estimasi dari variabel penjelas berbeda dari nol pada taraf nyata
kurang dari 10% yaitu intercept, variabel jumlah anggota keluarga (JAKP) dan
pendapatan dari kebun karet (PDPTKRT).

225

Tabel 30. Estimasi Parameter dan Elastisitas Persamaan Perilaku


Pengeluaran dan Pelunasan Kredit Tahun 2002
No
1

Variabel (Endogen dan Penjelas)


Konsumsi Pangan
Intersep
Jumlah anggota keluarga
Pendapatan dari kebun KS
Pendapatan lahan pangan
Pendapatan non usahatani
Pendapatan usaha ternak
Pendapatan kebun karet
Pengeluaran asuransi
Asal daerah keluarga petani
2

R = 0.3895; Adj R =0.3789


Pengeluaran Asuransi
Nilai Produk Total KS
Pendapatan lahan pangan
Pendapatan non usahatani
Pendapataan kebun karet
Peng investasi pendiddikan
Peng investasi produksi
Biaya cicilan kredit
2

R = 0.3895; Adj R = 0.3789


Investasi Kesehatan
Jumlah anggota keluarga
Jumlah anak balita
Pendapatan dari kebun KS
Pendapatan kebun karet
2

Elastisitas

1846.6764
357.5764
0.0274
0.0735
0.0120
0.0268
0.0313
-0.0532
154.0577

0.0001
0.0001
0.1121
0.0001
0.2834
0.3517
0.0001
0.2873
0.2195

0.0444
0.0232
0.0046
0.0014
0.0124
-0.0068
-

238.553352
0.046680
0.052510
0.072239
0.333389
-0.137273
-0.049379

0.0001
0.0091
0.0027
0.0016
0.0001
0.2051
0.3301

0.0494
0.0233
0.0058
0.0012
0.0124
-0.0079

24.186345
18.237876
0.019407
0.000665

0.0001
0.5251
0.0001
0.5502

0.5249
0.0040

0.077482
0.013919
0.024615
0.001262
-0.177096
-0.030675
-0.207440

0.0001
0.1603
0.0618
0.3888
0.0041
0.3879
0.0001

1.4603
0.0295
0.0800
0.0033
-1.1855
-0.0523
-0.2297

0.000260
-0.000010
-0.006895
0.171163
0.000041
0.425815
0.004852
2.874036

0.0007
0.1991
0.0017
0.0678
0.0135
0.0001
0.0002
0.0001

R =0.3804; Adj R =0.3696


Periode Lunas Kredit
Nilai pengembalian kredit kebun
Produksi kelapa sawit kebun plasma
Harga buah kelapa sawit (TBS)
Fee untuk KUD
Total pengeluaran keluarga
Jarak kebun plasma ke pabrik
Curahan TK di luar kebun plasma
Pola PIR-Sus (DPIRKS 2 )
2

Peluang

R = 0.2755; Adj R = 0.2649


Investasi Pendidikan
Jumlah anak sekolah
Pendapatan dari kebun KS
Pendapatan lahan pangan
Pendapatan non usahatani
Pendapatan usaha ternak
Peng investasi produksi
Pengeluaran asuransi
2

Estimasi
Parameter

R = 0.8630; Adj R = 0.8606

0.4280
-0.0506
-0.4509
0.1297
0.0527
0.4669
0.2052
-

226

Secara keseluruhan beberapa variabel penjelas berpengaruh tidak nyata


pada taraf 10% yaitu variabel pendapatan kelapa sawit (PDPTKS), pendapatan non
usahatani (PDPTNUT), pendapatan usaha ternak (PDPTTRNK), dan pengeluaran
asuransi (ASURANSI).
Pada persamaan KONSPNG maka pendapatan yang berpengaruh sangat
nyata adalah pendapatan dari lahan pangan (PDPTLPG) dan pendapatan karet
(PDPTKRT).

Pendapatan

lahan

pangan

merupakan

sumber

pendapatan

rumahtangga petani plasma pada ketiga pola PIR, sedangkan pendapatan karet
hanya terdapat pada rumahtangga pola PIR-Sus.

Semua jenis pendapatan

berpengaruh nyata pada persamaan pengeluaran untuk investasi pendidikan


(INVSPEND) kecuali pendapatan

dari

kelapa

sawit

(PDPTKS).

Perilaku

pengeluaran untuk investasi kesehatan (INVSKES) sangat ditentukan oleh


pendapatan kelapa sawit (PDPTKS).

Nilai penjualan kelapa sawit (NPTKS)

berpengaruh pada pengeluaran untuk asuransi (ASURANSI) pada taraf kurang dari
10% dan perubahan pengeluaran asuransi terhadap perubahan variabel NPTKS
responsif (E > 1), karena prosedur pengumpulan dana asuransi yang dipotong
langsung dari nilai penjualan kelapa sawit (NPTKS). Nilai positif variabel intercep
pada KONSPNG mencerminkan bahwa jika semua variabel penjelas yang ada
diasumsikan konstan (ceteris paribus) maka rumahtangga tetap mengeluarkan
anggaran untuk konsumsi pangan rata-rata sebesar Rp 1 860 679 /tahun atau kirakira Rp 300 ribu /bulan.
Banyaknya jumlah anggota keluarga (JAKP), jumlah anak sekolah (JASEKL)
dan anak balita (JABALT) mencerminkan karakteristik keluarga yaitu jumlah
tanggungan keluarga. Variabel karaktersitik keluarga ini mencerminkan besarnya

227

alokasi dana untuk biaya sekolah atau biaya pendidikan (INVSPEND) dan
kesehatan (INVSKES) anggota rumahtangga petani plasma.
Nilai negatif variabel pengeluaran tertentu pada masing-masing perilaku
pengeluaran rumahtangga petani plasma mencerminkan bahwa komponen tersebut
saling bersaing. Sebagai contoh pengeluaran investasi produksi (INVSPROD) dan
asuransi (ASURANSI) merupakan pesaing pengeluaran untuk investasi pendidikan
(INVSPEND).

Selanjutnya INVSPEND, INVSPROD dan cicilan kredit (BCKKS)

merupakan komponen yang bersaing dengan pengeluaran untuk asuransi. Hanya


pengeluaran untuk investasi kesehatan (INVSKES) tidak mempunyai komponen
pesaing.

Fenomena ini menunjukkan bahwa rumahtangga petani plasma

mengutamakan pengeluaran kesehatan anggota keluarga terutama bersumber dari


pendapatan kelapa sawit (PDPTKS).

Perilaku pengeluaran untuk tabungan

(TABUNGAN) tidak dikaji karena hanya sebagian kecil rumahtangga petani contoh
mempunyai tabungan.

Variabel ini hanya sebagai variabel eksogen dan tidak

mempengaruhi perilaku pengeluaran rumahtangga lain kecuali sebagai salah satu


komponen pengeluaran keluarga petani (TPENGKP). Persamaan total pengeluaran
keluarga petani (TPENGKP) adalah persamaan identitas sehingga tidak disajikan
pada Tabel 30.
Fungsi perilaku pelunasan kredit (PLUNKRED) menunjukan seluruh tanda
parameter dugaan telah sesuai kriteria ekonomi.

Kriteria statistik menunjukkan

hampir semua parameter dugaan berbeda dari nol pada taraf nyata kurang dari 10%
kecuali variabel produksi kelapa sawit.

Nilai positif parameter dugaan pada

persamaan PLUNKRED mengandung arti bahwa perubahan variabel-variabel


penjelas tersebut searah dengan perubahan variabel endogennya, yaitu makin tinggi
nilai pengembalian kredit kebun plasma (NKKS), makin besar potongan untuk iuran

228

jasa KUD (FFEKUD), makin besar pengeluaran keluarga (TPENGKP), makin besar
alokasi tenaga kerja di luar kebun plasma (CTKLKS) dan makin jauh lokasi kebun
dari Inti (JRKPKS) maka makin lama pelunasan kredit petani plasma (PLUNKRED).
Nilai positif variabel dummy DPIRKS 2 menjelaskan bahwa petani pada pola PIRSus mempunyai masa lunas kredit rata-rata lebih lama 2.87 tahun dibandingkan
petani plasma pola PIR lainnya. Rumahtangga petani plasma contoh peserta PIRSus rata-rata lunas kredit 7 tahun sedangkan rumahtangga pola PIR-Trans rata-rata
lunas kredit 3.69 tahun dan PIR-KUK rata-rata 6.07 tahun. Kinerja rumahtangga
petani plasma pola PIR-Trans relatif paling baik ditinjau dari perilaku pelunasan
kredit sedangkan kinerja rumahtangga petani plasma pola PIR-Sus relatif paling
buruk.
Nilai negatif parameter estimasi pada persamaan PLUNKRED mengandung
arti bahwa perubahan varibel-variabel penjelas tersebut berlawanan arah dengan
perubahan variabel endogennya, yaitu makin tinggi produksi kelapa swit (QTKS) dan
makin tinggi harga produk (HTBS) maka makin singkat waktu pelunasan kredit.
Kedua variabel ini menentukan nilai jual produk kelapa sawit (NPTKS) sedangkan
cicilan kredit dipotong dari NPTKS. Makin tinggi potongan untuk cicilan kredit petani
maka makin cepat periode pelunasan kreditnya.
Pada perilaku pelunasan kredit, ternyata respon perubahan periode
pelunasan kredit terhadap perubahan harga TBS lebih besar sembilan kali lipat
dibandingkan terhadap perubahan produksi kelapa sawit (QTKS), ceteris paribus.
Hal ini berarti upaya untuk mempercepat pelunasan kredit dapat memberikan hasil
yang lebih baik melalui peningkatan harga jual TBS di tingkat petani dibandingkan

229

peningkatan produksi kelapa sawit. Respon perubahan periode pelunasan kredit


terhadap perubahan semua variabel penjelasnya bersifat tidak elastis.
Petani banyak menghadapi kendala pada proses pelunasan kredit, antara
lain: adanya kebutuhan uang tunai dan besarnya kebutuhan keluarga yang
mendesak serta ongkos angkut TBS yang tinggi akibat jarak kebun plasma ke pabrik
PKS inti yang cukup jauh.

Harga yang tinggi akan memotivasi petani menjual ke

pabrik PKS inti, akan tetapi kebutuhan mendesak untuk keluarga berupa uang tunai
ditambah kurangnya pengawasan akan membuka peluang petani untuk menjual
hasil panennya ke PKS non inti. Hal ini cenderung terjadi jika harga beli oleh pabrik
PKS non inti lebih tinggi, banyak terjadi di wilayah kebun yang cukup luas dengan
kapasitas PKS inti relatif kecil, serta di lokasi kebun tersebut terdapat pabrik PKS
non inti, seperti di Kabupaten Musi Banyuasin dan Kabupaten Banyuasin.
Jarak kebun yang jauh dari pabrik disamping kondisi jalan kebun juga
menentukan akan meningkatkan ongkos angkut persatuan berat TBS yang dijual
petani. Akibatnya harga yang diterima petani lebih rendah, petani menerima hasil
penjualan lebih kecil, potongan untuk cicilan kredit juga lebih kecil, sehingga
pelunasan kredit makin lama. Kegiatan ini dapat dihindari jika proses pengangkutan
lebih cepat, pengawasan lebih intensif dan tidak ada pelaku non inti.
8.5.

Ringkasan
Perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit pada semua

kegiatan (produksi, curahan kerja dan pengeluaran serta pelunasan kredit) telah
sesuai dengan harapan atau kriteria ekonomi, meskipun beberapa variabel harus
diwakili (proxy) dengan variabel lain. Pengaruh variabel-variabel tersebut umumnya
signifikan atau berbeda dari nol pada taraf nyata kurang dari 10%.

230

Hasil estimasi menunjukkan adanya keterkaitan yang nyata antara perilaku


produksi dengan perilaku konsumsi melalui variabel pendapatan kelapa sawit.
Selanjutnya perilaku konsumsi (konsumsi pangan dan investasi kesehatan)
mempengaruhi perilaku produksi (penggunaan input pupuk). Pengaruh perilaku
produksi umumnya signifikan, demikian juga pengaruh konsumsi pangan dan
pengeluaran investasi kesehatan terhadap perilaku produksi umumnya signifikan
kecuali pengaruh konsumsi pangan pada penggunaan pupuk Kalium.
Perilaku produksi dalam persamaan luas areal dan produktivitas kebun
plasma tidak hanya ditentukan oleh faktor produksi tetapi juga karakteristik
usahatani dan faktor kelembagaan (pola PIR). Perilaku curahan kerja suami lebih
ditentukan oleh karakteristik usahatani di kebun plasma (terutama umur tanaman
kelapa sawit) dibandingkan faktor upah atau kompensasi lain, sedangkan perilaku
curahan kerja istri selain ditentukan oleh karakteristik usahatani juga ditentukan oleh
karakteristik rumahtangga dan individu. Variabel umur tanaman sangat berpengaruh
terhadap curahan kerja suami dan istri, respon curahan kerja terhadap umur
tanaman hampir elastis dan paling tinggi dibandingkan terhadap variabel penjelas
lainnya. Tanaman dengan umur yang lebih tua mempunyai pohon yang lebih tinggi
sehingga membutuhkan curahan kerja relatif lebih banyak untuk kegiatan
pemeliharaan dan panen.
Perilaku penggunaan input pupuk dan pestisida sangat ditentukan oleh luas
areal dan faktor upah di kebun plasma, akantetapi respon penggunaan pupuk
mendekati elastis, sedangkan respon penggunaan pestisida elastis.

Dosis

pemupukan akan makin menurun jika areal kebun ditambah, tetapi dosis pestisida
konsisten dengan perluasan areal kebun. Perbedaan pola PIR juga membuktikan
adanya perbedaan dosis pupuk yang signifikan, dimana penggunaan pupuk pada

231

pola PIR-Trans lebih tinggi dari pola PIR lainnya sehingga produktivitas kebun
plasma pola PIR-Trans paling tinggi dibandingkan kebun dengan pola PIR lainnya.
Harga input pupuk dan harga produk TBS sangat berpengaruh terhadap
penggunaan input pupuk Kalium, sedangkan terhdap penggunaan pupuk Nitrogen,
Posfat dan pestisida berpengaruh tidak nyata pada taraf 10%. Perilaku pemupukan
Nitrogen dan Posfat dipengaruhi oleh karakteristik usahatani (umur tanaman dan
luas areal kelapa sawit), sedangkan perilaku pemupukan Kalium lebih ditentukan
oleh faktor harga (harga pupuk K dan harga TBS)
Perilaku konsumsi rumahtangga petani plasma sangat ditentukan oleh
tersedianya anggaran berupa pendapatan keluarga dan karakteristik keluarga
(jumlah anggota keluarga). Konsumsi pangan sangat ditentukan oleh pendapatan
luar kelapa sawit (PDPTLPG dan PDPTKRT), sedangkan pengeluaran investasi
terutama investasi kesehatan (INVSKES) sangat ditentukan oleh pendapatan kelapa
sawit (PDPTKS). Perilaku pengeluaran asuransi sangat ditentukan oleh nilai jual
produk TBS (NPTKS), dan responsif terhadap perubahan nilai jual produk sehingga
pemupukan dana peremajaan kebun plasma hanya efektif melalui upaya
peningkatan penerimaan kelapa sawit dari kebun plasma.
Keterkaitan perilaku rumahtangga petani plasma dalam pengeluaran
diicerminkan oleh saling bersaingnya komponen pengeluaran untuk konsumsi
pangan, investasi (produksi, pendidikan dan kesehatan), pengeluaran untuk
peremajaan kebun atau asuransi dan untuk melunasi kredit. Hanya pengeluaran
untuk tabungan bersifat eksogen dan residual, sedangkan pengeluaran untuk
investasi kesehatan tidak dapat ditunda bahkan menggeser penggunaan anggaran
rumahtangga untuk pembelian pupuk (pupuk Urea dan Kalium) meskipun responnya
tidak elastis.

232

Perilaku pelunasan kredit tidak hanya ditentukan oleh besarnya jumlah kredit
yang harus dikembalikan tetapi ditentukan juga oleh perilaku lain yang terkait erat
dengan produksi kelapa sawit, konsumsi, curahan kerja di luar kebun plasma, faktor
lingkungan dan faktor kelembagaan yang ada.

Produksi dan harga jual

mempercepat proses pelunasan kredit, sebaliknya pengeluaran rumahtangga dan


biaya transaksi di lokasi kebun kelapa sawit justru memperlambat proses pelunasan
kredit karena mengurangi jumlah anggaran yang dapat digunakan untuk membayar
cicilan kredit. Produktivitas kebun pola PIR-Sus relatif rendah dibandingkan kebun
plasma pola PIR-Trans akan mempengaruhi kemampuan melunasi kredit sehingga
kemampuan petani pola PIR-Sus mengembalikan cicilan kredit relatif lebih lama
(0.67 kali) dibandingkan pola PIR-Trans.

233

IX.

DAMPAK FAKTOR EKSTERNAL DAN INTERNAL TERHADAP


KINERJA EKONOMI RUMAHTANGGA PETANI PLASMA

Secara teoritis kinerja ekonomi rumahtangga petani dipengaruhi oleh perilaku


rumahtangga dalam kegiatan produksi, curahan kerja dan konsumsi.

Model

ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit disusun dalam bentuk sistem
persamaan, dimana hubungan antara variabel-variabel endogen dan eksogen terkait
secara simultan. Oleh karena itu perubahan kinerja ekonomi rumahtangga petani
tersebut dapat diukur secara langsung melalui perubahan perilaku produksi, curahan
kerja dan konsumsi yang dicerminkan oleh perubahan variabel-variabel endogen
sebagai akibat perubahan faktor eksternal dan internal dalam model simulasi.
Pada dasarnya simulasi bertujuan untuk menganalisis dampak perubahan
faktor eksternal dan internal terhadap kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma
baik perubahan secara individu maupun kombinasi. Simulasi pada model ekonomi
rumahtangga petani plasma kelapa sawit di Sumatera Selatan dilakukan
berdasarkan pengelompokan jenis kemitraan atau pola PIR. Program komputer dan
hasil validasi model dapat dilihat pada lampiran (Lampiran 12, 13, 14 dan 15).
9. 1. Hasil Validasi Model
Untuk mengetahui apakah model tersebut cukup baik maka dilakukan
validasi. Pada bagian ini hanya dibahas beberapa ukuran validasi yang dianggap
penting sehingga dapat dilakukan simulasi. Sebagai dasar penentuan valid tidaknya
maka digunakan kriteria nilai kesalahan persenatase akar nilai tengah kuadrat (root
mean square pencentage error) atau disingkat RMSPE, nilai U-Theil (Theils
Inequality Coefficient) dan nilai koefisien determinasi (R 2 ) dari 36 variabel endogen
(Tabel 31).

Tabel 31. Nilai Validasi Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit Tahun 2002
Variabel Endogen
Luas kebun kelapa sawit plasma
Produktivitas kebun kelapa sawit plasma
Produksi total kebun kelapa sawit plasma
Curahan kerja suami di kebun plasma
Curahan kerja istri di kebun plasma
Curahan kerja keluarga di kebun plasma
Curahan kerja suami di luar kbn plasma
Curahan kerja istri di luar kbn plasma
Curahan kerja keluarga di luar kbn plasma
Total Curahan kerja di kebun plasma
Produktivitas tenaga kerja di kebun plasma
Penggunaan pupuk Urea
Biaya pupuk Urea
Penggunaan pupuk Posfat
Biaya pupuk Posfat
Penggunaan pupuk Kalium
Biaya pupuk Kalium
Penggunaan pestisida
Biaya pestisida
Biaya tenaga kerja upahan
Biaya produksi kelapa sawit di kebun
Penggunaan pupuk gabungan
Biaya pengangkutan TBS ke pabrik
Biaya pengelolaan KUD
Nilai jual produk kelapa sawit
Biaya administrasi
Biaya total kelapa sawit plasma
Pendapatan kelapa sawit plasma
Pendapatan luar kebun kelapa sawit
Pendapatan keluarga plasma
Pengeluaran konsumsi pangan
Pengeluaran investasi pendidikan
Pengeluaran investasi kesehatan
Pengeluaran investasi asuransi
Total pengeluaran keluarga petani plasma
Periode pelunasan kredit

Pola PIR-Sus
RMSPE
U-Theil
32.2326
0.1672
28.7772
0.1441
50.4988
0.2268
226.3308
0.2170
86.5385
0.2574
68.2633
0.1937
59.7126
0.1473
42.3337
0.2620
.
0.2918
46.2005
0.2331
59.8721
0.2795
84.6293
0.2132
84.6293
0.2151
85.1528
0.2142
85.1528
0.2183
66.9164
0.2105
60.6381
0.2436
107.2957
0.3394
107.2957
0.3394
.
0.0000
77.7435
0.2096
47.9912
0.1735
50.4988
0.2290
50.4988
0.2290
50.4988
0.2290
50.4988
0.2268
35.7505
0.1699
72.8975
0.2630
.
0.0000
46.6544
0.0786
57.3089
0.3674
.
0.4660
203.5666
0.4757
0.4803
.
0.1912
33.2065
0.2052
105.8986

R
0.75
0.49
0.74
0.53
0.60
0.64
0.82
0.47
0.46
0.47
0.57
0.55
0.61
0.55
0.63
0.59
0.62
0.60
0.60
1.00
0.57
0.77
0.74
0.77
0.77
0.77
0.81
0.74
1.00
0.99
0.46
0.62
0.56
0.44
0.78
0.64

Pola PIR-Trans
RMSPE
U-Theil
31.498
0.1671
22.477
0.1138
47.385
0.2282
586.517
0.2470
50.536
0.2153
73.338
0.1820
66.319
0.1627
239.288
0.3689
.
0.4886
385.563
0.2747
48.789
0.3568
74.826
0.1830
74.826
0.1832
75.185
0.1794
75.185
0.1776
68.809
0.2020
46.998
0.3184
76.833
0.2347
76.833
0.2354
.
0.0000
72.003
0.1846
48.527
0.1745
47.3853
0.2256
47.385
0.2256
47.385
0.2250
47.385
0.2267
36.885
0.1427
130.258
0.2589
.
0.0000
0.2074
57.291
0.3462
49.344
0.5500
.
0.3364
233.591
0.5130
.
0.1868
29.130
0.1762
43.853

R
0.47
0.47
0.39
0.63
0.37
0.62
0.73
0.49
0.51
0.66
0.59
0.48
0.49
0.49
0.58
0.52
0.37
0.30
0.32
1.00
0.50
0.40
0.44
0.57
0.39
0.39
0.65
0.46
1.00
0.68
0.19
0.53
0.45
0.55
0.57
0.46

Pola-PIR/KUK
RMSPE
U-Theil
21.416
0.3309
29.480
0.1281
28.605
0.3257
102.763
0.3128
62.995
0.3778
36.595
0.2503
34.591
0.2419
790.188
0.5178
.
0.4801
708.929
0.3575
70.426
0.3078
71.983
0.3464
71.983
0.3464
78.049
0.3430
78.049
0.3430
86.297
0.3872
50.853
0.5420
35.410
0.4138
35.410
0.3526
.
0.0000
69.229
0.3591
36.427
0.3717
28.605
0.2845
28.605
0.2845
28.605
0.3510
28.605
0.3713
13.739
0.1903
1027
0.4498
.
0.0000
0.1454
44.676
0.3785
52.762
0.4347
.
0.3978
103.424
.
.
0.2349
37.623
0.1380
25.846

R
0.52
0.23
0.52
0.44
0.42
0.60
0.60
0.50
0.52
0.62
0.52
0.54
0.54
0.53
0.53
0.54
0.47
0.50
0.46
1.00
0.54
0.54
0.62
0.53
0.54
0.54
0.81
0.12
1.00
0.93
0.30
0.58
0.49
.
0.55
0.37

275

5. Pola Bank Tabungan Negara


Pola ini mengadopsi dari dari pola pengembangan perumahan rakyat
oleh Bank Tabungan Negara (BTN). Pemerintah bukan hanya menyediakan
paket kredit untuk membangun kebun, tetapi juga mengembangkan
kelembagaan keuangan perkebunan sebagai lembaga yang membiayai
pembangunan kebun atau pabrik yang dilaksanakan oleh developer.
Dalam hal ini developer dibatasi hanya BUMN atau BUMS yang kemampuan
dan keahlian di bidang perkebunan.

Kapling kebun yang telah dibangun

dapat dimiliki oleh para peminat dalam investasi bentuk kebun. Koperasi
dikembangkan untuk mengelola kawasan perkebunan tersebut secara utuh
dengan dukungan dana operasi bersumber dari jasa pengelolaan kawasan
perkebunan.

235

Pada hasil validasi yang disajikan pada Tabel 31 terdapat lima variabel yang
mempunyai nilai RMSPE yang diberi tanda titik yaitu variabel CTKLKSIP, BTKUKS,
PDPTLKS, INVSPEND. Hal ini menunjukkan setidaknya ada satu observasi yang
menghasilkan angka RMSPE ekstrim akibat nilai variabel yang menjadi angka
pembagi mendekati nol pada rumus perhitungan RMSPE.

Semua variabel

ASURANSI pola PIR-KUK bernilai titik karena tidak satupun rumahtangga contoh
membayar asuransi atau besarnya pengeluaran asuransi bernilai nol. Selain itu
terdapat beberapa nilai RMSPE yang bernilai lebih dari 100%, yang berarti bila nilai
RMSPE pada variabel-variabel ini dibandingkan dengan nilai RMSPE variabel lain
dalam setiap pola PIR maka hasil dugaan terhadap variabel-variabel tersebut tidak
memuaskan atau kesalahan estimasi dibandingkan dengan data aktual lebih dari
100%. Beberapa nilai RMSPE untuk variabel lain relatif kecil, bahkan bernilai sangat
kecil (kurang dari 30). Hasil validasi menggunakan RMSPE dapat menggunakan
nilai minimum dan maksimum serta patokan angka tertentu.

Dalam tulisan ini

digunakan nilai RMSPE < 30 dan nilai RMSPE > 30, lalu dihitung jumlahnya serta
persentasenya dan dibahas.
Dari hasil validasi yang disajikan pada Tabel 31 tersebut menunjukkan
bahwa pada pola PIR-Sus, variabel endogen dengan nilai RMSPE < 30 sebanyak
2.78%, nilai RMSPE > 30 adalah sebanyak 97.22%. Pada pola PIR-Trans maka
variabel endogen dengan nilai RMSPE < 30 sebanyak 5.56%, nilai RMSPE > 30
adalah 94.44% atau lebih banyak daripada pola PIR-Sus. Pada pola PIR-KUK maka
variabel endogen dengan nilai RMSPE < 30 adalah 25.00% atau paling banyak,
sedangkan nilai RMSPE > 30 adalah 75.00% atau paling sedikit dibandingkan pola
PIR lainnya. Validasi dengan menggunakan kriteria RMSPE ternyata memberikan
hasil validasi relatif paling baik pada pola PIR-KUK dan hasil validasi relatif paling

236

jelek pada pola PIR-Sus. Hasil validasi menggunakan U-Theil akan lebih mudah jika
menggunakan besaran minimum dan maksimum serta patokan angka tertentu.
Dalam tulisan ini menggunakan nilai U-Theil < 0.30 dan nilai U-Theil > 0.30. Pada
pola PIR-Sus maka variabel endogen dengan nilai U-Theil < 0.30 sebanyak 83.33%,
sedangkan nilai U-Theil > 0.30 sebanyak 16.67%.

Pada pola PIR-Trans maka

variabel endogen dengan nilai U-Theil < 0.30 adalah 77.78% atau lebih sedikit, nilai
U-Theil > 0.30 adalah 22.22% atau lebih banyak daripada pola PIR-Sus. Pada pola
PIR-KUK maka variabel endogen dengan nilai U-Theil < 0.30 adalah 30.56% atau
paling sedikit, sedangkan nilai U-Theil > 0.30 adalah 69.44% atau paling banyak
dibandingkaan kedua pola PIR lainnya.

Validasi menggunakan nilai U-Theil

memberikan hasil validasi terbaik adalah pola PIR-Sus dan hasil paling jelek adalah
pola PIR-KUK. Hasil validasi secara lengkap disajikan ada pada Lampiran 13.
Nilai R 2 dari hasil estimasi variabel endogen aktual terhadap variabel
endogen prediksi bevariasi cukup besar. Pada pola PIR-Sus maka diperoleh nilai
R 2 > 0.50 sebanyak 86.11%, sedangkan nilai R 2 < 0.50 sebanyak 13.89%. Pada
pola PIR-Trans maka diperoleh nilai R 2 > 0.50 adalah 47.22% atau lebih sedikit,
sedangkan nilai R 2 < 0.50 adalah 52.78 % atau lebih banyak daripada pola PIR-Sus.
Sedangkan pada pola PIR-KUK diperoleh nilai R 2 > 0.50 adalah 69.44% atau lebih
sedikit, sedangkan nilai R 2 < 0.50 adalah 30.56% atau lebih banyak.

Validasi

menggunakan nilai R 2 dengan hasil terbaik adalah pola PIR-Sus dan hasil paling
jelek adalah pola PIR-Trans.

Hasil validasi dengan menghitung nilai R 2 secara

lengkap disajikan pada Lampiran 15.


Berdasarkan kriteria-kriteria yang dikembangkan di atas, ditemukan beberapa variabel yang mempunyai hasil validasi kurang memuaskan, terutama dilihat

237

dari nilai RMSPE. dan nilai koefisien determinasi (R 2 ).

Akantetapi jika dilihat dari

nilai U-Theil maka hasil validasi model ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa
sawit dapat dikatakan cukup baik terutama pada pola PIR-Sus dan pola PIR-Trans.
Selain itu dengan memperhatikan jenis data yang digunakan yaitu cross section,
dan terpenuhinya kriteria ekonomi yang ditunjukkan oleh tanda parameter estimasi
telah sesuai harapan, maka dapat disimpulkan bahwa secara umum model ekonomi
rumahtangga petani plasma kelapa sawit di Sumatera Selatan dapat dikatakan valid
secara teori serta memiliki kemampuan prediksi cukup baik.

Hasil tersebut

menunjukkan bahwa walaupun model diestimasi untuk rumahtangga petani secara


gabungan untuk ketiga pola PIR di Sumatera Selatan, tetapi model ini masih relatif
baik jika diterapkan berdasarkan kelompok atau pola PIR kelapa sawit.
9. 2. Simulasi Model
Untuk melihat dampak perubahan beberapa faktor eksternal dan internal
terhadap kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma maka dilakukan simulasi
dengan merubah beberapa variabel instrument baik secara tunggal maupun
kombinasi.
Perubahan faktor eksternal yaitu perubahan variabel yang berada di luar
kemampuan rumahtangga petani plasma untuk merubahnya, tetapi dampak
perubahannya dapat dirasakan melalui perubahan kinerja produksi, curahan kerja
maupun konsumsi dalam rumahtangga petani. Perubahan faktor eksternal biasanya
berkaitan dengan perubahan harga output (harga TBS), harga input (harga pupuk,
pestisida, upah) dan perubahan biaya (ongkos angkut, fee KUD), karena
diasumsikan petani sebagai penerima harga (price taker) sehingga tidak mampu
mempengaruhi perubahan harga-harga tersebut.

238

Simulasi faktor eksternal menggunakan beberapa skenario yang terdiri dari


simulasi 1 sampai simulasi 6 yang disajikan pada Tabel 32, dan 33. Perubahan
faktor internal adalah perubahan faktor-faktor dalam pengendalian rumahtangga
petani, berupa perluasan areal kebun plasma dan realokasi penggunaan tenaga
kerja keluarga.

Simulasi faktor internal menggunakan beberapa skenario yang

terdiri dari simulasi 7 sampai simulasi 9 yang disajikan pada Tabel 34. Rekapitulasi
hasil simulasi damapak faktor eksternal dan internal terhadap kinerja ekonomi
rumahtangga petani plasma kelapa sawit berdasarkan pola PIR disajikan pada
Lampiran (Lampiran 18, 19 dan 20).
9. 2. 1. Dampak Perubahan Faktor Eksternal
Dampak perubahan faktor eksternal dapat dilihat dari perubahan harga
kelapa sawit, harga pupuk, harga pestisida, upah di kebun plasma dan upah di
kebun inti, ongkos angkut TBS ke pabrik PKS, iuran untuk manajemen KUD (fee
KUD).

Perubahan faktor eksternal ini dapat sendiri-sendiri atau berubah secara

bersamaan.
Berdasarkan trend harga CPO domestik selama kurun waktu 30 tahun, maka
harga

CPO

domestik

cenderung

meningkat

rata-rata

13.00%,

selanjutnya

mempengaruhi penetapan harga TBS tingkat petani peserta PIR kelapa sawit
Sumatera Selatan yang diperkirakan meningkat 15.00% (Simulasi 1) akan
berdampak pada kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma sebagai berikut
(Tabel 32):
1. Kenaikan harga TBS akan meningkatkan produktivitas kebun plasma dan
produksi total, tetapi responnya rendah. Peningkatan produktivitas tertinggi pada
pola PIR-KUK sedangkan peningkatan produksi tertinggi pada pola PIR-Trans.

Tabel 32. Dampak Faktor Eksternal (Simulasi 1, 2 dan 3) terhadap Kinerja Ekonomi Rumahtangga
Petani Plasma Kelapa Sawit di Sumatera Selatan
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Variabel Endogen

Luas Areal Kebun Plasma


Produktivitas KS Kebun Plasma
Curahan TK Suami di Kbn Plasma
Curahan TK Istri di Kbn Plasma
Curhn TK Suami Luar Kbn Plasma
Curhn TK Istri Luar Kbn Plasma
Penggunaan Pupuk Urea
Penggunaan Pupuk Posfat
Penggunaan Pupuk Kalium
Penggunaan pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Biaya Produksi di Kebun Plasma
Biaya Total Kelapa sawit
Pendapatan dari Kelapa Sawit
Pendapatan Keluarga Petani
Pengeluaran Konsumsi Pangan
Pengeluaran Investasi Pendidikan
Pengeluaran Investasi Kesehatan
Pengeluaran untuk Asuransi
Total Pengeluaran Keluarga
Periode Pelunasan Kredit

Simulasi 1 (%)
PIRSus
2.03
6.90
0.33
0.37
0.89
-0.23
1.68
0.24
5.63
2.16
0.00
2.00
7.23
34.62
16.53
2.09
5.28
16.39
35.94
5.66
-5.37

PIRTrans
3.54
4.87
0.70
1.08
1.39
-0.58
1.26
0.29
4.94
3.65
0.00
2.00
7.15
32.95
26.67
3.80
9.45
20.02
33.22
8.64
-11.27

PIRKUK
1.74
8.58
0.43
0.68
0.76
-0.21
1.98
0.19
7.68
1.80
0.00
2.56
4.42
72.01
22.11
1.57
3.85
15.57
-230.05
5.82
-6.49

Simulasi 2 (%)
PIRSus
-0.29
-0.65
-0.05
-0.05
2.11
0.03
-2.24
-0.81
-8.41
-6.23
0.00
13.11
7.13
-5.02
-2.39
-0.37
-0.82
-2.37
-1.09
-0.46
0.22

PIRTrans
-0.44
-0.56
-0.09
-0.13
2.94
0.07
-1.50
-0.75
-8.62
-5.45
0.00
15.08
5.74
-4.07
-3.30
-0.55
-1.25
-2.47
-1.16
-0.65
0.50

PIRKUK
-0.26
-1.25
-0.06
-0.10
1.50
0.03
-2.76
-1.08
-17.52
-6.22
0.00
12.25
3.32
-10.82
-3.30
-0.28
-0.61
-2.34
11.14
-0.58
0.16

Simulasi 3 (%)
PIRSus
-0.74
-0.07
-0.12
-0.14
-0.17
0.08
-0.07
-0.06
-0.21
-0.79
0.00
-0.22
22.54
-12.66
-6.04
-0.93
-2.09
-5.99
-0.46
-0.99
1.70

PIRTrans
-1.38
-0.11
-0.27
-0.42
-0.32
0.23
-0.09
-0.08
-0.26
-1.42
0.00
-0.21
23.43
-12.84
-10.40
-1.76
-3.99
-7.80
-1.32
-1.74
4.50

Keterangan: Simulasi 1: Harga produk TBS naik 15%


Simulasi 2: Harga semua input pupuk dan pestisida naik 20%
Simulasi 3: Kenaikan biaya pasca panen yaitu ongkos angkut naik 100%, fee KUD naik 20%

PIRKUK
-0.67
-0.08
-0.17
-0.26
-0.13
0.08
-0.06
-0.05
-0.20
-0.69
0.00
-0.09
13.10
-27.77
-8.50
-0.73
-1.62
-5.99
1.54
-1.05
3.04

240

2. Kenaikan harga TBS memotivasi anggota keluarga meningkatkan curahan


kerjanya di kebun plasma, untuk itu terjadi realokasi curahan kerja istri yaitu
mengurangi sebagian curahan kerja dari luar kebun ke kebun plasma (terutama
pada pola PIR-Trans).
3. Peningkatan produksi di kebun plasma menghasilkan peningkatan biaya
produksi kebun dan biaya total (responnya rendah), selanjutnya meningkatkan
pendapatan kelapa sawit rata-rata 46.53% (responnya tinggi), kenaikan terbesar
pada pola PIR-KUK. Peningkatan pendapatan selanjutnya meningkatkan
pengeluaran rumahtangga petani terutama pengeluaran untuk asuransi (respon
paling tinggi), kecuali pada pola PIR-KUK.
4. Rumahtangga petani pola PIR-Trans mengutamakan pengeluaran untuk
investasi (kenaikannya paling tinggi), meskipun kenaikan pendapatan relatif
paling rendah dibandingkan pola PIR lainnya.
5. Kenaikan pendapatan kelapa sawit selanjutnya mempercepat periode pelunasan
kredit rata-rata 8.30% (responnya rendah), kenaikan terbesar pada pola PIRTrans.
Kenaikan harga BBM rata-rata hampir 100.00% akan meningkatkan harga
gas sebagai bahan baku utama pupuk, dimana Asosiasi Gas Industri Indonesia
(AGII) menyetujui menaikkan harga gas untuk industri 15.00% - 20.00% pada awal
tahun 2006 (Kompas, 30 Nopember 2005, halaman 18, kolom 2 5). Selain itu
kenaikan harga BBM juga berdampak pada sektor industri pestisida yang
diperkirakan harga pestisida naik 20.00% sesuai dengan tingakat inflasi. Kombinasi
kenaikan harga pupuk dan pestisida secara bersama diperkirakan naik 20.00%
(Simulasi 2) berdampak pada kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma sebagai
berikut (Tabel 32).

241

1. Terjadi penurunan penggunaan ketiga jenis pupuk dan pestisida (responnya


rendah), dimana penurunan penggunaan pupuk terkecil adalah pupuk P,
penurunan terbesar adalah pupuk K (lebih dari 10.00%), sedangkan penggunaan
pestisida menurun sekitar 6.00%.

Penggunaan pupuk K dianggap tidak

berpengaruh pada pertumbuhan tanaman kelapa sawit dalam jangka pendek


sehingga petani memilih mengurangi sementara penggunaan pupuk K paling
besar ketika terjadi kenaiakan harga pupuk.
2. Penurunan penggunaan input pupuk dan pestisida terbesar pada pola PIR-KUK,
sedangkan peningkatan biaya produksi kebun terbesar pada pola PIR-Trans
(mendekati elastis). Petani pola PIR-KUK mempunyai sumber dana paling kecil
sehingga ketika terjadi kenaikan harga input pupuk dan pestisida, respon
penurunan penggunaan input paling besar. Hal sebaliknya pada petani pola
PIR-Trans yang tetap berusaha mengelola kebun plasma secara baik, tercermin
dari kenaikan biaya pupuk dan biaya pestisida tertinggi untuk mengimbangi
kenaikan harga input tersebut.
3. Kenaikan harga pupuk dan pestsida ini selanjutnya menurunkan pendapatan
kelapa sawit kurang dari 10% (inelastis), dimana dampak terbesar pada pola
PIR-KUK (10.82%) sedangkan dampak terkecil pada pola PIR-Trans (4.07%).
4. Penurunan pendapatan kelapa sawit selanjutnya menurunkan pengeluaran
rumahtangga petani berkisar satu hingga dua persen (responnya sangat
rendah).
5. Penurunan pendapatan kelapa sawit selanjutnya memperlambat periode
pelunasan kredit meskipun dampaknya sangat kecil (kurang dari satu persen).
Jika kenaikan BBM berdampak pada biaya pasca panen terutama ongkos
angkut TBS (naik 100%) dan kenaikan fee KUD sebesar 20.00% diberlakukan

242

bersama (Simulasi 3) maka akan berdampak pada perubahan kinerja ekonomi


rumahtangga petani plasma sebagai berikut (Tabel 32):
1. Peningkatan ongkos angkut TBS dan fee KUD secara bersama hanya
menurunkan produksi relatif kecil (kurang dari satu persen), tetapi dampak
langsung adalah menaikkan biaya produksi total cukup besar (rata-rata 19.69%).
2. Komponen ongkos angkut dan fee KUD merupakan komponen yang cukup
besar pada biaya total kelapa sawit terutama pada pola PIR-Sus dan pola PIRTrans (lebih dari 30.00%), sehingga berdampak langsung pada kenaikan biaya
produksi total (naik lebih dari 20.00%). Petani pola PIR-KUK mempunyai beban
biaya cicilan kredit yang relatif lebih tinggi (hampir 40.00% dari biaya total)
karena umumnya belum lunas kredit, sehingga kenaikan biaya ini berdampak
paling besar pada pola PIR-KUK dalam menurunkan pendapatan kelapa sawit
(hampir 30.00%)
3. Dampak selanjutnya akan menurunkan semua pengeluaran rumahtangga petani,
dimana penurunan terbesar pada pengeluaran untuk investasi kesehatan (lebih
dari 5.00%) dan penurunan terkecil pada pengeluaran konsumsi pangan (hanya
satu persen).
4. Meskipun penurunan pendapatan paling kecil akantetapi rumahtangga petani
pola PIR-Trans menekan paling besar semua pengeluaran rumahtangga sebagai
kiat menyeimbangkan anggaran rumahtangga yang terganggu akibat kenaikan
harga BBM.
5. Kenaikan ongkos angkut dan fee KUD ini selanjutnya memperlambat periode
pelunasan kredit terutama pada pola PIR-Trans (naik 4.50%)

243

Dengan merujuk pada perkembangaan upah minimum regional (UMR)


Sumatera Selatan tahun 1991-2001 yaitu naik rata-rata 17.72% dan perkembangan
upah buruh di perkebunan tahun 1980-2000, naik rata-rata 8.96% (BPS, 2003) maka
untuk simulasi 4 adalah jika upah di kebun kelapa sawit (kebun plasma atau kebun
inti) naik 15% maka akan berdampak pada kinerja ekonomi rumahtangga petani
plasma (Tabel 33):
1. Peningkatan curahan kerja keluarga di kebun plasma kurang dari 2.00%
(inelastis), peningkatan terbesar adalah curahan kerja suami terutama pada pola
PIR-Trans (2.79%). Penigkatan upah inti juga akan meningkatkan curahan kerja
keluarga di luar kebun plasma (kebun inti) terutama oleh suami, tertinggi pada
pola PIR-KUK (7.55%). Kenaikan upah hanya direspon sangat rendah oleh
curahan kerja istri petani di kebun plasma, bahkan istri petani mengurangi
curahan kerjanya di luar kebun plasma.
2. Peningkatan curahan kerja keluarga baik di kebun plasma maupun di luar kebun
plasma akan meningkatkan penggunaan pupuk dan pestisida, selanjutnya akan
meningkatkan produktivitas dan produksi total kelapa sawit (lebih dari satu
persen) tetapi menurunkan produktivitas tenaga kerja (kurang dari satu persen).
3. Kenaikan upah akan meningkatkan biaya produksi kelapa sawit di kebun (lebih
dari 5 persen), dampaknya pada pendapatan kelapa sawit sedikit meningkat
pada PIR-Trans dan sedikit menurun pada pola PIR lainnya. Dampaknya pada
pengeluaran rumahtangga sedikit menurun pada pola PIR-Sus dan PIR-KUK
dan sedikit meningkat pada PIR-Trans.
4. Dampak kenaikan upah selanjutnya memperlambat proses pelunasan kredit
(kurang dari satu persen).

Tabel 33. Dampak Faktor Eksternal (Simulasi 4, 5 dan 6) terhadap Kinerja Ekonomi Rumahtangga
Petani Plasma Kelapa Sawit di Sumatera Selatan
No

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Variabel Endogen

Luas Areal Kebun Plasma


Produktivitas KS Kebun Plasma
Curahan TK Suami di Kb Plasma
Curahan TK Istri di Kbn Plasma
Curhn TK Suami Luar Plasma
Curhn TK Istri Luar Kbn Plasma
Penggunaan Pupuk Urea
Penggunaan Pupuk Posfat
Penggunaan Pupuk Kalium
Penggunaan pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Biaya Produksi di Kebun Plasma
Biaya Total Kelapa sawit
Pendapatan dari Kelapa Sawit
Pendapatan Keluarga Petani
Pengeluaran Konsumsi Pangan
Pengeluaran Invests Pendidikan
Pengeluaran Invests Kesehatan
Pengeluaran untuk Asuransi
Total Pengeluaran Keluarga
Periode Pelunasan Kredit

Simulasi 4 (%)
PIRSus
0.03
0.80
0.52
0.01
5.30
-0.09
4.12
4.23
4.82
0.89
15.00
5.07
3.24
-0.39
-0.18
-0.05
-0.09
-0.18
1.27
0.08
0.45

PIRTrans
0.26
0.79
2.79
0.08
6.88
-1.61
5.28
5.33
5.69
1.73
15.00
5.38
2.64
0.29
0.23
0.00
0.06
0.18
1.44
0.25
0.77

PIRKUK
0.13
1.28
2.17
0.05
7.55
-0.55
7.23
7.19
8.90
1.63
15.00
6.76
2.34
-0.53
-0.15
-0.06
-0.05
-0.11
-12.36
0.14
0.58

Simulasi 5 (%)
PIRSus
0.04
0.46
3.19
0.01
3.11
-1.91
2.07
3.61
-3.35
-5.02
15.00
19.10
11.15
-4.89
-2.33
-0.37
-0.82
-2.32
1.04
-0.28
0.10

PIRTrans
0.20
0.33
6.87
0.06
4.29
-4.93
3.95
4.75
-2.72
-3.33
15.00
21.68
9.10
-3.41
-2.76
-0.50
-1.09
-2.07
0.93
-0.28
0.10

PIRKUK
0.33
0.28
8.78
0.13
2.59
-3.75
4.76
6.38
-8.23
-4.12
15.00
20.66
6.32
-10.61
-3.24
-0.28
-0.63
-2.28
-7.20
-0.30
-0.05

Simulasi 6 (%)
PIRSus
0.92
6.99
0.66
0.17
8.29
-0.20
3.77
3.58
1.79
-4.09
15.00
21.10
42.71
14.73
7.03
0.65
2.00
6.97
35.23
4.10
-2.99

PIRTrans
1.77
4.98
3.09
0.54
11.11
-1.86
5.12
4.78
1.71
-1.71
15.00
23.47
41.42
14.39
11.65
1.27
3.71
8.74
31.44
6.15
-5.46

Keterangan: Simulasi 4: Upah tenaga kerja di kebun kelapa sawit (plasma dan inti) naik 15%
Simulasi 5: Kenaikan komponen biaya produksi (kombinasi Simulasi 2, 3, dan 4)
Simulasi 6: Kenaikan harga produk TBS dan biaya produksi (kombinasi Simulasi 1 dan 5)

PIRKUK
0.82
8.52
2.34
0.32
9.89
-0.63
6.74
6.23
-1.18
-3.60
15.00
23.13
25.08
28.20
8.67
0.39
1.30
6.10
-227.16
4.16
-2.69

245

Kombinasi kenaikan semua komponen biaya produksi yaitu harga input


variabel pupuk dan pestisida naik 20.00%, upah tenaga kerja di kebun naik 15.00%,
ongkos angkut nik 100.00% dan fee KUD naik 20.00% (Simulasi 5) akan berdampak
pada perubahan

kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma sebagai berikut

(Tabel 33):
1. Peningkatan biaya produksi akan menurunkan penggunaan input pupuk K dan
pestisida, tetapi meningkatkan penggunaan pupuk N dan P.

Respon

peningkatan penggunaan pupuk N dan P terbesar pada pola PIR-Trans, tetapi


penurunan penggunaan pupuk K dan pestisida paling rendah pada pola PIRTrans dimana petani pola PIR-Trans tetap berusaha mengelola kebun kelapa
sawitnya dengan baik meskipun harus meningkatkan biaya produksi di kebun
paling tinggi (21.68%).
2. Peningkatan biaya produksi ini selanjutnya menurunkan pendapatan kelapa
sawit kurang dari 10.00% (inelastis), dimana dampak terbesar pada petani pola
PIR-KUK (10.61%) sedangkan dampak terkecil pada pola PIR-Trans (4.41%).
3. Penurunan

pendapatan

ini

selanjutnya

akan

menurunkan

pengeluaran

rumahtangga satu hingga dua persen (inelastis), kecuali pengeluaran asuransi


pada pola PIR-Sus dan PIR-Trans yang sedikit meningkat, dan relatif tidak
menganggu waktu periode pelunasan kredit (berubah hanya 0.10%).
Jika kombinasi kenaikan harga TBS dan biaya produksi atau kombinasi
simulasi 1 dan 5 (Simulasi 6) maka akan berdampak pada kinerja ekonomi
rumahtangga petani plasma sebagai berikut (Tabel 33):
1. Secara keseluruhan peningkatan harga produk dan biaya produksi masih tetap
meningkatkan kinerja produksi kecuali penggunaan pestisida sedikit menurun
(kurang dari 5.00%), curahan kerja istri di luar kebun plasma sedikit menurun

246

2. Kenaikan harga ini akan meningkatkan biaya produksi kelapa sawit di kebun
lebih dari 20.00%, responnya relatif sama pada ketiga pola PIR.
3. Meskipun kombinasi kenaikan harga TBS dan harga input ini meningkatkan
biaya produksi total akan tetapi tetap meningkatkan pendapatan kelapa sawit
rata-rata hampir 20.00%, dimana dampak terbesar pada pola PIR-KUK
(28.20%).
4. Peningkatan pendapatan ini selanjutnya meningkatkan pengeluaran untuk
konsumsi pangan dan investasi pendidikan (kurang dari 4.00%) untuk kesehatan
(lebih dari 8.00%), peningkatan pengeluaran untuk asuransi relatif besar (lebih
dari 30.00%), kecuali pola PIR-KUK yang menurun.
5. Kenaikan harga produk dan biaya produksi ini selanjutnya mempersingkat waktu
pelunasan kredit yang menurun rata-rata 4.00% (terbesar pada pola PIR-Trans).
9. 2. 2. Dampak Perubahan Faktor Internal
Dampak perubahan faktor internal dinyatakan dalam persentase perubahan
kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit.

Dampak perubahan

faktor internal ini dapat dilihat dari perluasan areal kebun kelapa sawit rumahtangga
petani, peningkatan curahan kerja keluarga untuk menggantikan tenaga kerja
upahan dan realokasi curahan kerja keluarga petani di kebun plasma dan luar kebun
plasma (Tabel 34).
Berdasarkan hasil wawancara banyak rumahtangga petani berminat
memperluas skala usaha untuk memanfaatkan waktu luang anggota keluarga.
Rata-rata rumahtangga petani plasma mempunyai lahan di luar kebun plasma
seluas 0.95 hektar. Jika lahan yang ada diubah penggunaannya menjadi kebun
kelapa sawit maka luas kebun plasma kelapa sawit bertambah kira-kira 50.00%.

Lampiran 6. Pembagian Tugas Peserta Proyek Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit Berdasarkan
Tahap Pembagunan
Tahap

Persiapan / Pembangunan
Tahun ke0 ke 3

Konversi / Pembinaan
Tahun ke 4 ke 6

Pasca Konversi-Pelunasan Kredit


Tahun ke 6 seterusnya

Perusahaan
Inti

Pada Kebun Plasma

Pada Kebun Plasma

Pada Kebun Plasma

-Pembukaan dan persiapan lahan


-Pembibitan dan penanaman bibit KS
-Penanaman tanaman penutup tanah
-Pemeliharaan tanaman & pemupukan
-Membantu usahatani tanaman pangan

-Mengalihkan pengelolaan tanaman


menjadi milik petani secara kredit .
-Pengadaan sarana produksi kebun
-Pembinaan/ pengawasan tanaman

-Pembinaan dalam pemeliharaan


tanaman KS
-Pembinaan pemetikan hasil panen

Prasarana/Sarana
-Membangun desa, pemukiman, rumah
petani, sarana air dan jalan di kebun.
-Menyiapkan sertifikat tanah
-Memberikan penyuluhan, bimbingan
dan latihan pada petani
-Pembentukan organisasi Koperasi atau
KUD

Petani
Plasma

Tahap Pertanaman
-Menjadi karyawan Inti dibayar upah
-Menanam tanaman pangan

Tahap Produksi
-Menerima tanaman KS dari Inti dalam
bentuk kredit (sesuai akad kredit)
-Pemeliharaan tanaman pokok (KS)
-Mengusahakan tanaman pangan
-Menjadi nasabah bank secara perorangan

Tahap Produksi dan Panen


-Pemeliharaan tanaman pokok yang
produktif
-Pemetikan hasil panen petani
-Mengusahakan tanaman pangan

248

Jika luas areal kebun plasma kelapa sawit bertambah 50.00% (Simulasi 7)
maka akan berdampak pada kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma sebagai
berikut (Tabel 34):
1. Penambahan areal kebun plasma akan meningkatkan curahan kerja istri dengan
mengurangi curahan kerja di luar kebun plasma (meskipun pengurangan lebih
rendah), respon peningkatan curahan kerja paling tinggi pada pola PIR-KUK.
2. Perluasan lahan kebun plasma akan meningkatkan penggunaan input pupuk dan
pestisida (tertinggi pada pola PIR-KUK), selanjutnya meningkatkan produksi dan
biaya produksi, akan tetapi masih meningkatkan pendapatan kelapa sawit pada
ketiga pola PIR yaitu berkisar 67.42% - 304.00%, peningkatan terbesar pada
pola PIR-KUK dan terkecil pada pola PIR-Trans. Petani pola PIR-KUK sangat
antusias dengan perluasan kebun kelapa sawit, mengingat waktu luang masih
banyak dan sumber pendapatan di luar kebun plasma relatif kecil (hanya dari
sektor non usahatani).
3. Peningkatan pendapatan ini selanjutnya meningkatkan pengeluaran rumahtangga petani pada ketiga pola PIR, peningkatan pengeluaran terkecil pada
konsumsi pangan (kurang dari 10.00%), peningkatan pengeluaran terbesar
adalah pengeluaran untuk asuransi pada pola PIR-Trans dan pola PIR-Sus
(yang meningkat lebih dari 50.00%) kecuali pada pola PIR-KUK. Selanjutnya
perluasan kebun plasma ini kan berdampak pada percepatan pelunasan kredit
(terbesar pada pola PIR-Trans).
Pada awal penempatan setiap petani menggarap lahan kebun plasma seluas
kira-kira dua hektar.

Setelah di konversi petani mulai merasakan banyak waktu

luang jika hanya mengusahakan kebun kelapa sawit seluas dua hektar. Rata-rata
curahan kerja keluarga hanya 16.47% dari total waktu untuk kegiatan poduktif.

249

Curahan kerja ini hanya untuk pemupukan kiraa-kira 2 - 3 kali setahun, pembersihan
gulma pada lahan kebun dan pohon kelapa sawit, serta penyemprotan pestisida dua
kali setahun, pembersihan pelepah daun menjelang panen serta kegiatan panen dua
kali sebulan (Hakim, 2005).

curahan kerja keluarga petani yang relatif kecil

tercermin pada kondisi kebun dan jalan sekitar kebun yang rusak serta sulit dilalui
terutama setelah turun hujan. Kondisi paling parah dijumpai pada kebun plasma di
kabupaten Musi Banyuasin. Peningkatan curahan kerja anggota keluarga petani
plasma sebesar 22.00% diharapkan dapat menggantikan curahan tenaga kerja
upahan (rata-rata 18.00%) dari total tenaga kerja yang dibutuhkan di kebun plasma
(Simulasi 8) akan berdampak pada kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma
(Tabel 34):
1. Peningkatan produktivitas kebun rata-rata 3.00% dimana peningkatan terbesar
pada kebun plasma PIR-KUK, akan tetapi luas areal di kebun plasma PIR-Sus
dan PIR-Trans akan berkurang 3.72% dan 1.26%, kecuali pada kebun plasma
PIR-KUK yang justru meningkat 7.73%. Rumahtangga petani pola PIR-Sus dan
PIR-Trans mempunyai kegiatan diluar kebun plasma lebih banyak dibandingkan
dengan pola PIR-KUK sehingga mereka membutuhkan tenaga kerja upahan
untuk mengerjakan beberapa kegiatan tertentu di kebun plasma seperti: kegiatan
panen dan pengumpulan hasil panen.
2. Peningkatan curahan kerja keluarga di kebun plasma akan mengurangi curahan
kerja suami di kebun plasma (pada pola PIR-Sus dan PIR-Trans), tetapi relatif
tidak mengganggu curahan kerja suami pola PIR-KUK di luar kebun plasma, hal
sebaliknya terjadi pada curahan kerja istri petani.

250

3. Pengurangan curahan kerja tenaga upahan akan menurunkan penggunaan input


pupuk dan pestisida pada pola PIR-Sus dan PIR-Trans, tetapi justru
meningkatkan penggunaan input pupuk dan pestisida pada pola PIR-KUK
4. Peningkatan curahan kerja keluarga di kebun plasma akan meningkatkan
pendapatan kelapa sawit yang beragam pada ketiga pola PIR (0.11% - 35.23%)
dimana tertinggi pada pola PIR-KUK dan terendah bahkan relatif konstan pada
pola PIR-Sus.
5. Petani pola PIR-Sus mempunyai aktivitas yang beragam di luar kebun plasma
sehingga mereka membutuhkan tenaga kerja upahan paling banyak akibat
besarnya curahan kerja keluarga di luar kebun plasma. Sebaliknya pada pola
PIR-KUK, peningkatan curahan kerja keluarga dengan memanfaatkan waktu
luang akan memperbaiki kinerja kebun plasma.
Seperti diuraikan di atas bahwa rata-rata curahan kerja keluarga hanya
16.47% dari total waktu untuk kegiatan poduktif. Rumahtangga petani banyak yang
mencari usaha produktif lain sebagai sumber pendapatan tambahan di luar kebun
plasma. Jika dilakukan realokasi tenaga kerja keluarga agar terjadi peningkatan
curahan kerja keluarga di kebun plasma sebesar 50.00% dengan menurunkan
curahan kerja keluarga di luar kebun plasma sebesar 10.00% (Simulasi 9) akan
berdampak pada kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma sebagai berikut
(Tabel 34):
1. Peningkatan produktivitas kebun plasma lebih dari 10.00% pada pola PIR-KUK
dan PIR-Sus dan kurang dari 10.00% pada pola PIR-Trans. Produktivitas kebun
plasma pola PIR-Trans relatif paling tinggi dibandingkan pola PIR lainnya
sehingga peningkatan produktivitas akibat peningkatan curahan kerja saja tanpa
peningkatan penggunaan input lain hanya akan direspon relatif kecil.

251

2. Peningkatan produktivitas kebun selanjutnya akan meningkatkan biaya produksi


di kebun (kira-kira 6.00%) dan biaya produksi total (hampir 9.00%), dimana
peningkatan terbesar pada pola PIR-KUK dan terkecil pada pola PIR-Trans.
3. Peningkatan

produktivitas

dan

produksi

ini

selanjutnya

meningkatkan

pendapatan petani (8.69% - 60.02%), peningkatan tertinggi pada pola PIR-KUK


dan terendah pada PIR-Trans.
4. Peningkatan pendapatan ini selanjutnya akan berdampak pada pengeluaran
konsumsi yang meningkat relatif kecil tetapi meningkat paling besar pada
pengeluaran investasi terutama pengeluaran untuk asuransi (tertinggi pada pola
PIR-KUK)
5. Peningkatan pendapatan ini selanjutnya akan memperpendek waktu pelunasan
kredit (0.29% - 3.04%), dimana respon paling tingi pada pola PIR-Trans dan
terendah pola PIR-Sus.
9. 3. Ringkasan
Validasi

model

ekonomi

rumahtangga

petani

plasma

kelapa

sawit

menggunakan nilai Root Mean Square Percent Error (RMSPE), nilai U-Theil (Theils
Inequality Coefficient) dan nilai koefisien determinasi (R 2 ) dari 36 variabel endogen.
Secara keseluruhan nilai validasi dengan menggunakan RMSPE relatif kurang baik,
akan tetapi nilai validasi menggunakan nilai U-Theil (Theils Inequality Coefficient)
dan nilai koefisien determinasi (R 2 ) pada ketiga pola PIR memberikan hasil yang
relatif sama dan cukup baik. Kedua ukuran validasi ini mencerminkan pola nilai
prediksi yang sudah mengikuti pola nilai aktualnya sehingga dengan menggunakan
kedua ukuran validasi ini maka model ekonomi rumahtangga petani plasma dapat

252

digunakan untuk simulasi yaitu melihat pengaruh beberapa faktor eksternal dan
internal terhadap kinerja rumahtangga petani plasma kelapa sawit.
Simulasi dengan menggunakan beberapa faktor eksternal dan internal
memberikan dampak yang berbeda untuk ketiga pola PIR.

Peningkatan harga

output (TBS) umunya akan meningkatkan kinerja rumahtangga petani plasma, yaitu
meningkatkan penggunaan input, produksi dan pendapatan kelapa sawit (tertinggi
pada pola PIR-KUK), pengeluaran investasi dan mempercepat pelunasan kredit
(terutama pola PIR-Trans). Sebaliknya kenaikan biaya produksi yaitu harga-harga
input pupuk, pestisida, fee KUD, ongkos angkut dan upah tenaga kerja akan
menurunkan kinerja produksi rumahtangga petani plasma yaitu menurunkan
penggunaan pupuk Kalium dan pestisida (terutama pada pola PIR-Trans). Untuk
mengantisipasi hal tersebut, rumahtangga meningkatkan curahan kerja baik di
kebun plasma (terutama pola PIR-KUK) agar kebun tetap terawat dengan baik,
maupun di luar kebun plasma untuk menutupi kenaikan biaya produksi (terutama
oleh curahan kerja suami pola PIR-Trans). Untuk mengantisipasi kenaikan curahan
kerja di kebun plasma maka curahan kerja istri di luar kebun plasma berkurang.
Peningkatan harga produk TBS dan peningkatan biaya produksi bersamaan
secara umum masih memberikan dampak positif terhadap kinerja rumahtangga
petani plasma.

Dampak perubahan harga TBS secara langsung terhadap

peningkatan penggunaan input, produktivitas dan pelunasan kredit, sedangkan


dampak tidak langsung terhadap pengeluaran rumahtangga melalui variabel
pendapatan kelapa sawit. Meskipun dampak kenaikan biaya produksi paling tinggi
akan tetapi masih menaikan pendapatan kelapa sawit akibat peningkatan
produktivitas kebun (tertinggi pada pola PIR-KUK).

253

Peningkatan tenaga kerja keluarga untuk menggantikan tenaga kerja upahan


di kebun plasma secara umum masih meningkatkan produktivitas kebun (terutama
pola PIR-KUK), tetapi sedikit menurunkan luas areal kelapa sawit (pola PIR-Sus dan
PIR-Trans), akibat menurunnya kegiatan penggunaan input. Secara keseluruhan
peningkatan tenaga kerja keluarga ini masih meningkatkan pendapatan kelapa sawit
dan mempercepat periode pelunasan kredit (tertinggi pada pola PIR-KUK).
Realokasi tenaga kerja keluarga (dari luar kebun plasma ke kebun plasma)
umumnya memberikan dampak positif pada kinerja rumahtangga petani plasma
terutama pada pola PIR-KUK.

Penurunan curahan kerja keluarga di luar kebun

plasma hanya dilakukan oleh tenaga kerja istri. Peningkatan curahan kerja keluarga
di kebun plasma akan meningkatkan penggunaan input, selanjutnya produksi dan
pendapatan kelapa sawit (tertinggi pada pola PIR-KUK). Realokasi tenaga kerja
keluarga juga memperpendek waktu pelunasan kredit (terutama pada pola PIRTrans).

254

X.

KESIMPULAN DAN SARAN

10. 1. Kesimpulan
1. Struktur kemitraan dalam pola perusahaan inti rakyat (pola PIR) dan perilaku
peserta PIR kelapa sawit di Sumatera Selatan (inti, petani plasma dan koperasi)
umumnya telah sesuai dengan pedoman tentang tugas peserta proyek PIR
(Lampiran 6) serta kewajiban dan hak sebagai peserta proyek perusahaan inti
rakyat (Lampiran 7) yang dikeluarkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera
Selatan tahun 2000.
2. Berdasarkan kriteria kelayakan finansial (harga jual TBS, pendapatan, rasio
penerimaan biaya (R/C) dan rasio pendapatan-biaya (B/C)) maka kinerja ketiga
pola PIR kelapa sawit masih menguntungkan, berdasarkan kriteria kelayakan
teknis (umur tanaman kebun dikonversi, produktivitas, dan periode pelunasan
kredit) maka pola PIR-Trans relatif lebih baik dibandingkan pola PIR lainnya
(PIR-Sus dan PIR-KUK).
3. Struktur pasar dengan kemitraan pada pola PIR kelapa sawit cenderung tidak
kompetitif (imperfect market) yang dicirikan oleh lebih rendahnya posisi tawar
(bargaining position) petani daripada inti (petani hanya sebagai penerima harga
sedangkan inti sebagai penentu harga produk TBS) sehingga jenis kemitraan
pola PIR ini belum mampu memberikan manfaat setara bagi pesertanya dimana
cenderung merugikan petani plasma dan menguntungkan inti.
4. Meskipun sistim penetapan harga TBS berdasarkan Surat Keputusan Menteri
Kehutanan dan Perkebunan tahun 1998 dan 2000, akan tetapi harga jual TBS
yang ditetapkan untuk kebun plasma dan cara pembayarannya cenderung lebih
menguntungkan inti dibandingkan petani plasma, akan tetapi rata-rata harga jual
TBS aktual (pasar dengan kemitraan) masih lebih tinggi dibandingkan harga TBS

255

tanpa kemitraan (pasar monopsoni) dan lebih rendah daripada harga TBS pada
pasar monopoli bilateral.
5. Perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma kelapa sawit saling terkait (non
rekursif) yaitu antara perilaku produksi (penggunaan input pupuk) dengan
perilaku pengeluaran (konsumsi pangan), antara pengeluaran investasi kebun
plasma (pengeluaran asuransi) dengan pengeluaran investasi sumberdaya
manusia (pengeluaran pendidikan).
6. Ketersediaan input adalah faktor penentu dalam keputuasan produksi (luas areal
dan produktivitas kebun plasma), dan keputusan peningkatan produktivitas
kebun plasma juga ditentukan oleh harga produk TBS, dimana ketersediaan
input yang mencukupi dan harga TBS yang menguntungkan akan memotivasi
rumahtangga petani plasma untuk meningkatkan kinerja produktivitas kebun
plasma.
7. Keputusan suami untuk bekerja di kebun maupun di luar kebun plasma selain
ditentukan oleh faktor upah/kompensasi juga ditentukan oleh karakteristik
usahatani (luas areal kebun plasma dan umur tanaman kelapa sawit),
sedangkan keputusan curahan kerja istri ditentukan oleh faktor yang lebih
kompleks yaitu karakteristik usahatani, individu (umur, pengalaman dan
pendidikan) dan karakteristik keluarga (jumlah anak balita).
8. Keputusan rumahtangga petani plasma menggunakan input (pupuk dan
pestisida) cenderung lebih ditentukan oleh karakteristik usahatani (terutama luas
areal kebun plasma) daripada harga input dan harga produk TBS kecuali pada
penggunaan pupuk Kalium.

Akan tetapi jika rumahtangga petani plasma

memperluas areal kebun plasma maka dosis penggunaan pupuk cenderung


menurun, meskipun penggunaan pupuk pada pola PIR-Trans relatif lebih tinggi

256

dibandingkan pola PIR lainnya (PIR-Sus dan PIR-KUK), sedangkan dosis


penggunaan pestisida hanya sedikit meningkat pada ketiga pola PIR kelapa
sawit.
9. Perilaku pengeluaran rumahtangga petani plasma (konsumsi dan investasi)
ditentukan oleh ukuran rumahtangga (jumlah anggota keluarga), pendapatan
keluarga (dari kebun plasma dan luar kebun plasma) dan pengeluaran untuk
kebutuhan lain (pengeluaran untuk konsumsi, investasi dan produksi di kebun
kelapa sawit).
10. Kemampuan

petani

mempersiapkan

dana

peremajaan

kebun

plasma

(pengeluaran asuransi) tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan di kebun


plasma (produksi dan harga produk yang tinggi), akan tetapi ditentukan juga oleh
kompensasi di luar kebun plasma (besarnya pendapatan di luar kebun plasma)
dan besarnya pengeluaran lain (pengeluaran untuk pendidikan, produksi, dan
biaya cicilan kredit).
11. Keberhasilan rumahtangga petani plasma melunasi kredit ditentukan oleh
banyak faktor baik faktor internal di kebun plasma (produktivitas kebun), dalam
rumahtangga petani plasma (total pengeluaran keluarga), maupun faktor
eksternal yaitu biaya pengelolaan KUD (fee KUD) dan kondisi kebun kelapa
sawit (jarak kebun plasma ke pabrik pengolahan kelapa sawit inti).
12. Kenaikan harga produk TBS saja akan meningkatkan produktivitas kebun,
pendapatan kelapa sawit (terutama pada pola PIR-KUK) dan mempercepat
waktu pelunasan kredit (terutama pada pola PIR-Trans). Hal sebaliknya terjadi
jika terjadi kenaikan harga input (pupuk dan pestisida), biaya pasca panen (fee
KUD dan ongkos angkut) secara sendiri atau bersama, umumnya akan
menurunkan kinerja rumahtangga petani plasma yaitu menurunkan produksi,

257

pendapatan kelapa sawit (terutama pola PIR-KUK) dan memperlambat waktu


pelunasan kredit.
13. Kebijakan menaikkan harga produk TBS meningkatkan lebih besar kinerja
ekonomi rumahatangga petani plasma daripada kebijakan menurunkan atau
memberi subsidi harga input, yaitu meningkatkan produksi dan curahan kerja di
kebun plasma, pendapatan kelapa sawit (terutama pola PIR-KUK) dan
mempercepat waktu pelunasan kredit (terutama pola PIR-Trans).
14. Perluasan

kebun

kelapa

sawit

rumahtangga

petani

plasma

(dengan

mengkonversi lahan di luar kebun plasma menjadi kebun kelapa sawit) dapat
meningkatkan penggunaan tenaga kerja keluarga di kebun plasma, tetapi
mengurangi sedikit curahan kerja istri di luar kebun plasma.

Secara umum

perluasan kebun plasma meningkatkan kinerja ekonomi rumahtangga petani


plasma pada ketiga pola PIR yaitu meningkatkan produksi sekaligus pendapatan
kelapa sawit (terutama pola PIR-KUK) dan mempercepat waktu pelunasan kredit
(pada semua pola PIR).
15. Peningkatan tenaga kerja keluarga untuk mengurangi tenaga kerja upahan
memberikan sedikit dampak negatif pada rumahtangga petani pola PIR-Sus dan
PIR-Trans yaitu menurunkan luas kebun plasma dan penggunaan input (pupuk
dan pestisida), mengurangi pengeluaran asuransi pada pola PIR-Sus, sebaliknya
akan meningkatkan pengeluaran asuransi pada pola PIR-Trans dan PIR-KUK.
Secara umum peningkatan tenaga kerja keluarga di kebun plasma mampu
meningkatkan pendapatan kelapa sawit dan mempercepat waktu pelunasan
kredit pada ketiga pola PIR kelapa sawit.
16. Peningkatan penggunaan tenaga kerja keluarga dengan mengurangi curahan
tenaga kerja keluarga di luar kebun plasma umumnya meningkatkan kinerja

258

ekonomi rumahtangga petani plasma yaitu meningkatkan produksi kelapa sawit


(terutama pada pola PIR-Sus dan PIR-KUK), pendapatan kelapa sawit dan
persiapan peremajaan kebun (pengeluaran asuransi) terutama pada pola PIRKUK dan mempecepat waktu pelunasan kredit (terutama pola PIR-Trans).
10. 2. Saran
10. 2. 1. Implikasi Kebijakan
1. Upaya meningkatkan kekuatan tawar petani agar lebih setara dengan inti
(struktur pasar monopoli bilateral) dapat dilakukan dengan mengoreksi struktur
pasar dengan kemitraan yang tidak kompetitif yaitu dengan memberdayakan
kelompok tani/koperasi dari aspek manajemen dan finansial dimana lembaga
ekonomi petani ini diharapkan mempunyai posisi tawar yang lebih kuat sehingga
dapat menjadi wakil petani plasma pada setiap transaksi dengan inti terutama
dalam menentukan harga produk TBS.
2. Setiap kebijakan berkaitan dengan proyek PIR kelapa sawit selayaknya
memperhatikan juga karakteristik rumahtangga petani plasma (umur, jumlah
anggota, asal daerah atau etnis, pendidikan dan pengalaman usahatani kelapa
sawit) dan perilaku ekonomi rumahtangga petani plasma yang kompleks atau
saling terkaitnya keputusan ekonomi rumahtangga petani plasma yaitu antara
keputusan produksi dengan keputusan pengeluaran konsumsi dan antara
keputusan investasi sumberdaya manusia (pengeluaran pendidikan) dengan
investasi produksi kebun plasma (pengeluaran asuransi).
3. Upaya meningkatkan produksi kelapa sawit di kebun plasma tidak hanya dengan
memperbaiki ketersediaan input (pupuk dan pestisida) tetapi juga dengan
menekan harga input dan memperbaiki harga produk TBS untuk memotivasi

259

rumahtangga petani plasma dalam meningkatkan curahan kerjanya di kebun


plasma

sehingga

dapat

meningkatkan

pendapatan

kelapa

sawit

dan

meningkatkan dana peremajaan kebun plasma (berupa pengeluaran untuk


asuransi Idapertabun).
4. Untuk mempersingkat waktu pelunasan kredit kebun plasma, perlu dilakukan
perbaikan kinerja ekonomi rumahtangga petani plasma dan kinerja kemitraan
PIR kelapa sawit sebagai suatu sistem kerjasama antara petani plasma, inti dan
koperasi yaitu dengan mengawasi pelaksanaan kerjasama ini secara konsisten
dan adil agar mampu memberikan manfaat yang setara bagi semua peserta
kemitraan.
5. Upaya memperbaiki harga jual TBS sebaiknya dilakukan pemerintah dengan
merevisi Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan tahun 1998
tentang penentuan harga TBS kebun plasma yaitu dengan memperhitungkan
juga rendemen TBS per kelompok tani dalam menentukan faktor k sehingga
lebih mewakili kondisi kebun petani dalam kelompok yang lebih kecil, selanjutnya
perlu dilakukan pengawasan implementasi penetapan harga TBS tersebut agar
pendapatan kelapa sawit rumahtangga petani plasma dapat ditingkatkan.
6. Perluasan areal kebun plasma dengan mengkonversi lahan yang tersedia dapat
dijadikan alternatif untuk meningkatkan pemanfaatan tenaga kerja keluarga di
kebun plasma sekaligus dapat meningkatkan pendapatan rumahtangga petani
plasma.

Pembukaan kebun dan penanaman bibit sebaiknya difasilitasi oleh

pemerintah daerah (melalui dinas perkebunan) atau perkebunan besar (inti),


dilakukan secara kelompok dan dikoordinir oleh koperasi atau kelompok tani.

260

10. 2. 2. Penelitian Lanjutan


1. Disarankan analisis ekonomi rumahtangga petani plasma juga merinci
penggunaan waktu anggota rumahtangga untuk kegiatan konsumsi (home time)
dan kegiatan non usahatani. Selain itu dapat dikaji juga pendapatan bukan dari
kegiatan kerja (warisan, kiriman dan hadiah) sebagai salah satu komponen
pendapatan total (full income).
2. Untuk penelitian lanjutan dapat digunakan harga bayangan (shadow price) untuk
memperkuat salah satu asumsi perilaku non rekursif (adanya pasar tenaga kerja
yang tidak sempurna) sehingga hasil analisis diharapkan lebih sesuai dengan
kondisi rumahtangga petani di negara berkembang.
3. Untuk penelitian selanjutnya perlu dikaji juga perilaku dan dampak adanya
pekerjaan lain di luar kebun plasma terhadap kinerja produksi dan curahan kerja
di kebun plasma dan terhadap kesejahteraan rumahtangga petani plasma.
4. Untuk penelitian lanjutan disarankan mengkaji perilaku pelaku kemitraan lain
pada pola PIR kelapa sawit (perusahaan inti dan koperasi) secara lebih detail,
agar dapat dibuat implikasi kebijakan pola PIR secara lebih luas di masa yang
akan datang.
5. Disarankan

menggunakan

panel

data

agar

dapat

dikaji

perubahan

perilaku/keputusan penting dalam rumahtangga petani plasma secara dinamis


terutama pada saat produksi puncak atau kegiatan peremajaan kebun plasma
kelapa sawit.

261

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad, R. 1998. Perkebunan dari NES ke PIR. Cetakan Pertama. Penerbit Puspa
Swara, PT Penebar Swadaya, Jakarta.
Anwar, A. 1995. Pengkajian Kelembagaan dalam Sistem Agribisnis. Makalah Ceramah
Kelembagaan dalam Sistem Agribisnis , 28 Mei 1995. Bogor.
Arifin, B. 2000. Keterkaitan Industri Hulu dan Hilir Perkebunan Indonesia: Struktur
Perilaku, dan Kinerja. Makalah Seminar Sehari Kebijakan Industri Hilir Perkebunan,
Jakarta, 14 September 2000. Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, Bogor.
Austin, J.E. 1981. Agroindustrial Project Analysis. The Johns Hopkins University Press,
Baltimore.
Badan Pusat Statistik.
Jakarta.

2000.

Indikator Kesejahteraan Rakyat.

Badan Pusat Statistik,

__________________. 2004. Sensus Pertanian 2003, Angka Propinsi Hasil Pendaftaran


Rumahtangga. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Balitbang Pertanian. 1997. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Agribisnis. Departemen
Pertanian, Jakarta.
Bamin, A. I. 2000. Analisis Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit di Tingkat Petani
Perusahaan Inti Rakyat Sumatera Selatan.
Tesis Magister Sains. Program
Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang.
Becker, G. S. 1976. The Economic Approach to Human Behavior. The University of
Chicago Press, Chicago.
Becker, H. 1994. A Linear Programming Approach to the Subjective Equilibrium Theory of
the Farm Household within Traditional Agricultural Societies In Mali. In: Caillavet, F.,
H. Guyomard and R. Lifran (Eds). Agricultural Household Modeling and Family
Economics. Elsevier Science B.V., Amsterdam.
Benjamin, C. and H. Guyomard. 1994. off-Farm Work Decisions of French Agricultural
Households. In: Caillavet, F., H.Guyomard and R. Lifran (Eds).
Agricultural
Household Modeling and Family Economics. Elsevier Science B.V., Amsterdam.
Bourguignon, F. and P. A. Chiappori. 1994. Collective Models of Household Behavior. In:
Caillavet, F., H.Guyomard and R. Lifran (Eds). Agricultural Household Modeling and
Family Economics. Elsevier Science B.V., Amsterdam.

262

Braverman, A. and J. S. Hammer. 1986. Multi Market Analysis of Agricultural Pricing


Policies in Senegal. In: Sing, I., L. Squire, and J. Strauss (Eds).
Agricultural
Household Models: Extensions, Applications, and Policy. Published for the World
Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.
Brossolet, C. 1994. Household Rationality and Labor Decisions: A Strategic Rationality
Approach. In: Caillavet, F., H. Guyomard and R. Lifran (Eds).
Agricultural
Household Modeling and Family Economics. Elsevier Science B.V. , Amsterdam.
Brown, D.R. 2004. A Spatiotemporal Model of Shifting Cultivation and Forest Cover
Dynamics. Paper on North East Universities Development Consortium Conference.
Department of Applied Economics and Management, Cornell University, Ithaca.
Bryant, W.K. 1990. The Economic Organization of The Household. Cambridge University
Press, Cambridge.
Caillavet, F., H.Guyomard and R. Lifran (Eds). 1994. Agricultural Household Modeling and
Family Economics. Elsevier Science B.V., Amsterdam.
Caillavet, F. 1994. Negotiation and Accumulation Behaviour within The Household: A
Methodological Approach. In: Caillavet, F., H. Guyomard and R. Lifran (Eds).
Agricultural Household Modeling and Family Economics. Elsevier Science B.V.,
Amsterdam.
Caiumi,A. and F. Perali. 1997. Female Labor Force Participation: Comparison between
Urban and Rural Families. American Journal of Agricultural Economics, 79 (2): 595601.
Carlton, D.W. and J. M. Perloff. 1994. Modern Industrial Organization. Second Edition.
Harper Collins College Publishers, Chicago.
Colman, D. and T. Young. 1990. Principles of Agricultural Economics: Markets and Prices
in Less Developed Countries. Cambridge University Press, Cambridge.
Corsi, A. 1994. Imperfect Labor Markets, Preferences and Minimum Income As
Determinants of Pluriactivity Choices. In: Caillavet, F., H. Guyomard and R. Lifran
(Eds). Agricultural Household Modeling and Family Economics. Elsevier Science
B.V., Amsterdam.
Coyle, B. T. 1994. Duality Approaches to the Specification of Agricultural Household
Models. In: Caillavet, F., H. Guyomard and R. Lifran (Eds). Agricultural Household
Modeling and Family Economics. Elsevier Science B.V., Amsterdam.

263

Daihani, D.U. 2000. Mengapa Industri Hilir Perkebunan Indonesia Tidak Berkembang.
Makalah Seminar Sehari Kebijakan Industri Hilir Perkebunan, Jakarta, 14 September
2000. Asosiasi Penelitian Perkebunan Indonesia, Bogor.
Daswir. 1986. Evaluasi Perkreditan Petani Kelapa Sawit Pola PIR Berbantuan di Sumatera
Barat. Buletin Perkebunan, 17 (2): 93-102.
______. 1988. Produktivitas dan Pemasaran Kelapa Sawit Rakyat Pola PIR-Berbantuan di
Sumatera Barat. Buletin Perkebunan, 19 (4): 197-205.
Daswir dan A. U. Lubis. 1995. Analisis Ekonomi Usaha Perkebunan Kelapa Sawit Rakyat
Pola Kredit Koperasi Primer untuk Anggota. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 3 (2):
151-162.
Daswir dan B. Sulistyo. 1991. Peranan Koperasi dalam Meningkatkan Pendapatan Petani
Kelapa Sawit PIR-ADB Besitang. Berita Penelitian Perkebunan,1 (3): 153-158.
Daswir, T. Wahyono dan S. Lubis. 1995. Permasalahan Usahatani Sistem Kolektif Murni.
Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Asosiasi Peneliti Perkebunan Indonesia,
Medan, 1995, 3 (1): 29-34.
Didu, M.S. 2000. Rancang Bangun Sistem Pengembangan Agroindustri Kelapa Sawit
untuk Perekonomian Daerah. Disertasi Doktor. Program Pasca-sarjana, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan. 1998, 1999, 2000, 2004. Laporan Tahunan
Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera
Selatan, Palembang.
_____________________________________. 2000. Petunjuk Pelaksanaan
Jadwal Tahapan Pembangunan dan Tahapan Pengalihan Kebun kepada Petani
Peserta Proyek Pola PIR-Sus, PIR-Trans, dan PIR-KKPA/KUK. Dinas Perkebunan
Provinsi Sumatera Selatan, Palembang.
_____________________________________. 2004. Arah dan Kebijakan Jangka Panjang
Pembangunan Perkebunan Sumatera Selatan 2020. Dinas Perkebunan Provinsi
Sumatera Selatan, Palembang.
Direktorat Jenderal Perkebunan. 1991. Proses dan Ketentuan Pengalihan Kebun Plasma
PIR-Trans. Departemen Pertanian, Jakarta.
__________________________. 1998. Statistik Perkebunan Indonesia 1997-1999 Kelapa
sawit (Oil Palm). Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen
Kehutanan dan Perkebunan, Jakarta.

264

__________________________. 2001a. Laporan Tahunan Penyelenggaraan PIR-Trans


Tahun Anggaran 2000.
Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan,
Departemen Pertanian, Jakarta.
__________________________. 2001b. Statistik Perkebunan Indonesia 1999-2001 Kelapa
sawit (Oil Palm). Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen
Pertanian, Jakarta.
__________________________. 2004. Statistik Perkebunan Indonesia 2001-2003 Kelapa
sawit (Oil Palm). Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan, Departemen
Pertanian, Jakarta.
__________________________. 2004. Laporan Hasil Pemantauan, Pengawasan PIR-Bun
dan Fasilitasi Penyelesaian Masalah PIR Tahun 2004. Sekretariat Restrukturisasi
Usaha Perkebunan, Departemen Pertanian, Jakarta.
Dirgantoro, M. A. 2001. Alokasi Tenaga Kerja dan Kaitannya dengan Pendapatan dan
Pengeluaran Rumahtangga Petani Sawi.
Tesis Magister Sains.
Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Djauhari dan Pasaribu. 1996. Produksi dan Pemasaran Minyak Kelapa Sawit dalam
Ekonomi Minyak Goreng di Indonesia. Institut Pertanian Bogor Press, Bogor.
Dradjat, B., P.U. Hadi, R. Dereinda dan B. Sulistyo. 1995. Upaya Pengembangan Pasar
Produk Agroindustri Perkebunan (Komoditas Kelapa Sawit) dalam Pengkajian
Pengembangan Agribisnis Perkebunan. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Sosial Ekonomi Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta.
Dradjat, B. dan Daswir. 1995. Keragaan Kelembagaan dan Manajemen Pasca Konversi
PIR: Studi Kasus pada PIR Kelapa sawit XYZ di Sumatera. Jurnal Pengkajian
Agribisnis Perkebunan, 1(1): 28-39.
Eicher, C.K. and J.M. Staatz (Eds). 1990. Agricultural Development in the Third World.
The Johns Hopkins University Press, Baltimore.
Elmeades, S., M. Smale, M. Renkow, and D. Phaneuf. 2004. Variety Demand within The
Framework of An Agricultural Household Model with Attributes: The Case of
Bananas in Uganda. Environment and Production Technology Division, International
Food Policy Research Institute, New York.
Fen, S., E. J. Wailes and G. L. Cramer. 1995. Household Demand in Rural China. a
Complete Demand System of Chinese Rural Households is Estimated Using a TwoStage LES-AIDS. American Journal of Agricultural Economics, 77 (1): 54-62.
Hadi, E. 1985. Masalah Konversi dan Pasca Konversi dalam Perusahaan Inti Rakyat
Perkebunan (PIR-Bun). Majalah Perkebunan Indonesia, 3/4: 58-69.

265

Hakim, N. 2004. Alokasi Tenaga Kerja Petani Plasma Perkebunan Inti Rakyat Kelapa
Sawit dalam Berbagai Pola Pengembangan Agribisnis Kelapa sawit di Sumatera
Selatan. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Unversitas Sriwijaya,
Palembang.
Hardjanto. 2003. Keragaan dan Pengembangan Usaha Kayu Rakyat. Disertasi Doktor.
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Hasbi. 2001. Rekayasa Sistem Kemitraan Usaha Pola Mini Agroindustri Kelapa Sawit.
Disertasi Doktor. Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Harlbrendt, C., F. Tuan, C. Gempesaw, and E. D. Dolk. 1994. The Rural Chinese Food
Consumption:
The Case of Guangdong.
American Journal of Agricultural
Economics, 76 (4): 794-799.
Hayami, Y. 2001. Development Economics: From The Poverty to the Wealth of Nations.
Second Edition. Oxford University Press, New York.
Hennessy, T. 2003. Explaining The Labor Allocation Decision of Irish Farmers in The
Context of Decoupling. Rural Economy Centre, Teagasc.
Herman dan B. Dradjat. 1996. Effektivitas Kegiatan KUD di PIR Kelapa Sawit.
Pengkajian Agribisnis Perkebunan, (1): 8-16.

Jurnal

Hoff, K., A. Braverman and J. E. Stiglitz (Eds). 1993. The Economic of Rural Organization,
and Policy. The International Bank for Reconstruction and Development/the World
Bank, Oxford University Press, New York.
Hopkins, J., C. Levin, and L. Haddad. 1994. Women Income and Household Expenditure
Patterns: Gender or Flow? Evidence fom Niger. American Journal of Agricultural
Economics, 76 (5): 1219-1225.
Husin, D. A., 2001.
Analisis Kontribusi Koperasi Pertanian dalam Meningkatkan
Pendapatan Petani di Kabupaten Langkat. Jurnal Penelitian Pertanian, Universitas
Islam Sumatera Utara, 20(2): 87-95.
Idris, N. 1999. Alokasi Waktu dan Pendapatan dalam Kegiatan Ekonomi Rumah-tangga
Karyawan Agroindustri. Tesis Magister Sains. Program Pasca-sarjana, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Ilyas, S. 2003.
Analisis Finansial Kemampuan Petani Plasma Kelapa sawit untuk
Peremajaan pada Perusahaan Inti Rakyat di Sumatera Selatan. Makalah Seminar
Tesis. Program Pascasarjana, Universitas Sriwijaya, Palembang.
Intriligator, M. D. 1978. Econometric Models, Techniques and Application. Prentice Hall
International, New Delhi.

266

Iqbal, F. 1986. The Demand and Supply of Funds among Agricultural Households in India.
In: Sing, I., L. Squire, and J. Strauss (Eds). Agricultural Household Models:
Extensions, Applications, and Policy. Published for the World Bank. The John
Hopkins University Press, Baltimore.
Israel. A. 1987. Institutional Development, Incentive to Performance.
Publication. The John Hopkins University Press, Baltimore.

A World Bank

Key, N., E. Sadoulet, A. Janvry. 2000. Transaction Costs and Agricultural Household
Supply Response. American Journal of Agricultural Economics, 82 (2): 245-259.
Koninklijk Institut Voor de Tropen. 1985. PTP VI-OPHIR Oil Palm NES Project in Pasaman,
West Sumatera. Consultant Report to Kreditantstalt fur Wiederaufbau. Royal
Tropical Institut, Rural Development Program, Amsterdam.
Koutsoyiannis. 1977. Theory of Econometrics: An Introductory Exposition of Econometric
Methods. Second Edition. The Macmillan Press Ltd, London.
___________, 1987. Modern Microeconomics. Second Edition. The Macmillan Press Ltd,
London.
Kusnadi, N. 2005. Perilaku Ekonomi Rumahtangga Petani dalam Pasar Persaingan Tidak
Sempurna di Beberapa Provinsi di Indonesia.
Disertasi Doktor.
Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Lambert, S. and T. Magnac. 1994. Measurement of Implicit Prices of Family Labor In
Agriculture: An Application to Cote DIvoire. In: Caillavet, F., H. Guyomard and R.
Lifran (Eds). Agricultural Household Modeling and Family Economics. Elsevier
Science B.V., Amsterdam.
Lee, J. Y., M. G. Brown and J. L. Seale. 1994. The Model Choice in Consumer Analysis:
Taiwan, 1970-1989. American Journal of Agricultural Economics, 76 (3): 505-512.
Lewis, N. 1978. The New Rogets Thesaurus in Dictionary Form, The Rotget Dictionary G.
P. Putnams Sons, New York.
Lopez, R.E. 1986. Structural Models of The Farm Household that Allow for Interdependent
Utility and Profit-Maximization Decisions. In: Sing, I., L. Squire, and J. Strauss
(Eds). Agricultural Household Models: Extensions, Applications, and Policy.
Published for the World Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.
Lubis, A.U., L. Buana, dan Daswir. 1993. Prospek Harga Minyak Sawit pada Tahun 19952005. Buletin Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Asosiasi Peneliti Perkebunan
Indonesia, Medan, 1(1), 101-112.

267

Lubis, A.U. dan Daswir. 1995. Pembinaan Petani Pekebun Kelapa Sawit. Warta Pusat
Penelitian Kelapa Sawit. Asosiasi Peneliti Perkebunan Indonesia, Medan, 3 (2):
83-87.
Mangkuprawira, S. 1985. Alokasi Waktu dan Kontribusi Kerja Anggota Keluarga dalam
Kegiatan Ekonomi Rumahtangga. Disertasi Doktor. Fakultas Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Marnis. 1993. Dampak Pola PIR-Bun Kelapa Sawit terhadap Pendapatan Petani-nya di
Kabupaten Kampar, Riau. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Martin, S. 1994. Industrial Economics. Economic Analysis and Public Policy. Second
Edition. Macmillan Publishing Company, New York.
Mellor, J. W. 1966. The Economics of Agricultural Development. Cornell University Press.
Ithaca, New York.
Minot, N. and F. Goletti. 1998. Export Liberalization Household Welfare: The Case of Rice
in Vietnam. American Journal of Agricultural Economics, 80(4):738-749.
Muhammad, S. 2002. Ekonomi Rumahtangga Nelayan dan Pemanfaatan Sumber-daya
Perikanan di Jawa Timur: Suatu Analisis Simulasi Kebijakan. Disertasi Doktor.
Program Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Muller, C. 1994. The Role of Production Decisions In Modeling The Consumption Patterns
of Rural Households. In: Caillavet, F., H. Guyomard and R. Lifran (Eds).
Agricultural Household Modeling and Family Economics. Elsevier Science B. V.,
Amsterdam.
Mulyana, A. 2003. Analisis Penentuan Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit yang Ideal
dan Kesejahteraan Petani Plasma pada Perusahaan Inti Rakyat: Laporan Akhir
Penelitian Hibah Bersaing X Perguruan tinggi, Tahun Anggaran 2003. Fakultas
Pertanian, Universitas Sriwijaya, Ogan Ilir.
Nakajima, C. 1986. Subjective Equilibrium Theory of The Farm Household.
Science Publisher, Amsterdam.
Offutt, S. 2003. Policy Analysis for Globalized Agriculture.
Department of Agriculture, Washington.

Elsevier

Economics Service, U.S.

Parlindungan, A. P. 1985. Suatu Konsep dan Sasaran PIR-Bun. Majalah Perkebunan


Indonesia, 3/4:77-81.
Pasandaran, E. M., Gunawan, A. Pakpahan, Soentoro, dan A. Djauhari. 1989. Evolusi
Kelembagaan Pedesaan di Tengah Perkembangan Teknologi Pertanian.
Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian, Balitbang Pertanian,
Jakarta.

268

Phimister, E. 1995. Farm Consumption Behavior in The Presence of Uncertainty and


Restrictions on Credit. American Journal of Agricultural Economics, 77(4): 952-959.
Pindyck, R. S. and D. L. Rubinfeld. 1991. Econometric Models and Economic Forecasts.
Third Edition. McGraw-Hill, Inc., New York.
Pitt, M. M. and M. R. Rosenzweig. 1986. Agricultural Prices, Food Consumption, and The
Health and Productivity of Indonesian Farmers. In: Sing, I., L. Squire, and J.
Strauss (Eds). Agricultural Household Models: Extensions, Applications, and Policy.
Published for The World Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.
Priyambodo, A. dan N. Kusnohadi. 1995. Model Pengembangan Pola Perusahaan Inti
Rakyat Anak Angkat-Bapak Angkat pada Sub Sektor Perkebunan Kelapa Sawit.
Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Asosiasi Peneliti Perkebunan Indonesia,
Medan, 3 (3): 125-136.
Riyadi, S. 1993. Peranan Wanita dalam Meningkatkan Taraf Hidup Rumahtangga Petani
PIR, Kasus di PIR Kelapa sawit Kecamatan Ngabang, Kabupaten Pontianak,
Kalimantan Barat. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Rong, W.J., E.J. Wailes and G.L. Cramer. 1996. A Shadow-Price Frontier Measurement of
Profit Efficiency in Chinese Agriculture. American Journal of Agricultural Economics,
78 (1):146-156.
Royer, J. S. 1995. Industry Note: Potential for Cooperative Involvement in Vertical
Coordination and Value Added Activities. Agribusiness, an International Journal,
11(5): 473-481.
Sadaoulet, E. and A. Janvry. 1995. Quantitative Development Policy Analysis. The Johns
Hopkins University Press Ltd, London.
Saha, A. and J. Stroud. 1994. A Household Model of On-Farm Storage under Price Risk.
American Journal of Agricultural Economics, 76 (3): 522-534.
Salman, F dan T. Wahyono. 1998. Tingkat Pendapatan dan Ketahanan Petani Plasma
PIR Kelapa Sawit. Warta . Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Asosiasi Peneliti
Perkebunan Indonesia, Medan, 6(3): 127-132.
Saputro,T., Herman, U. Fadjar, B. Dradjat dan B. Wahjudjati. 1995.
Pengkajian
Pengembangan Agribisnis Perkebunan. Buku I: Pengkajian Sistem Kelembagaan
Pasca Konversi Pola PIR Perkebunan. Balitbang Pertanian, Departemen Pertanian,
Jakarta.
Sawit, M. H. 1993. A Farm Household Model for Rural Households of West Java,
Indonesia. Ph. D. Thesis. Department of Economics, University Of Wollongong,
Northfield Av., Wollongong.

269

Schmid, A. A. 1987. Property, Power, and Public Choice: An Inquiry into Law and
Economics. Second Edition. Praeger Publishers, New York.
Schroder, B. and F. Mavondo. 1994. Strategy/Performance/Environmental Linkages in
Agribusiness:
Conceptual Issues and a Developing Country Example.
Agribusiness, an International Journal, 10(5): 419-429.
Sheng, D. D., J. S. Shonkwiler and O.J. Capps. 1998. Estimation of Demand Function
Using Cross-Section Household Data: The Problem Revisited. American Journal of
Agricultural Economics, 80(3): 466-473.
Sicular, T. 1986. Using a Farm-Household Model to Analyze Labor Allocation on a Chinese
Collective Farm. In: Sing, I., L. Squire, and J. Strauss (Eds).
Agricultural
Household Models: Extensions, Applications, and Policy. Published for the World
Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.
Silberberg, E. 1990. The Structure of Economics: A Mathematical Analysis.
Edition. McGraw-Hill Publishing Company, Singapore.

Second

Simatupang, P. 1998. Kemitraan Agribisnis Berdasarkan Paradigma Ekonomi Biaya Tinggi


dalam Usaha Kecil Indonesia, Tantangan Krisis dan Globalisasi. Center for
Economic and Social Studies dengan the Asian Foundation, Ikatan Sarjana Ekonomi
Pertanian Indonesia, Jakarta.
Sing, I., L. Squire, and J. Strauss (Eds). 1986.
Agricultural Household Models:
Extensions, Applications, and Policy. Published for the World Bank. The John
Hopkins University Press, Baltimore.
_________________________________. 1986. The Basic Model: Theory, Empirical
Results, and Policy Conclusions. In: Sing, I., L. Squire, and J. Strauss (Eds).
Agricultural Household Models: Extensions, Applications, and Policy. Published for
the World Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.
Sing, I. and J. Subramanian. 1986. Agricultural Household Modeling in Multi Crop
Environment: Case Studies in Korea and Nigeria. In: Sing, I., L. Squire, and J.
Strauss (Eds). Agricultural Household Models: Extensions, Applications, and Policy.
Published for the World Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.
Skoufias, E. 1994. Using Shadow Wages to Estimate Labor Supply of Agricultural
Households. American Journal of Agricultural Economics, 76(2): 215-227.
Smith, V. E. and J. Strauss. 1986. Simulating the Rural Economy in Subsistence
Environment: Sierra Leone. In: Sing, I., L. Squire, and J. Strauss (Eds).
Agricultural Household Models: Extensions, Applications, and Policy. Published for
the World Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.

270

Soetiknjo, I. 1985. PIR-Bun dalam Rangka Reforma Agraria di Indonesia.


Perkebunan Indonesia, 3/4: 41-57.

Majalah

Strauss, J. 1986. The Theory and Comparative Static of Agricultural Household Models: A
General Approach. In: Sing, I., L. Squire, and J. Strauss (Eds).
Agricultural
Household Models: Extensions, Applications, and Policy. Published for the World
Bank. The John Hopkins University Press, Baltimore.
Sukiyono, K.
1995. PIR/NES dan Respon Penawaran Produsen Kelapa Sawit di
Indonesia. Jurnal Penelitian Kelapa Sawit, 3 (2): 163-190.
Suminartika. 1997. Analisis Kemampuan Ekonomi Rumahtangga dan Pengaruh Berbagai
Faktor serta Keterkaitan Keputusan dalam Peremajaan Tanaman pada Petani PIR
Teh dan Kelapa Sawit. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Syahyuti. 2003. Bedah Konsep Kelembagaan: Strategi Pengembangan dan Penerapannya
dalam Penelitian Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi
Pertanian, Balitbang Pertanian, Bogor.
Syukur, M. 2001. Analisis Keberlanjutan dan Perilaku Ekonomi Peserta SKIM Kredit
Rumahtangga Miskin. Disertasi Doktor. Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.
Tambunan, M. 1996. Kebijakan Aspek Ekonomi Agribisnis dan Industrialisasi Pertanian:
Kendala dan Agenda. Jurnal Keuangan dan Moneter, 3(2): 119-146. Departemen
Keuangan RI, Jakarta.
Wahyono, T. 1996. Kemampuan Kelompok Tani dalam Menunjang Keberhasilan Usahatani
Kelapa Sawit Pola PIR-BUN. Warta Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Asosiasi
Peneliti Perkebunan Indonesia, Medan, 4 (2): 93-101.
Yang, D. T. 1997. Education in Production: Measuring Labor Quality and Management.
American Journal of Agricultural Economics, 79(3): 764-772.
Yoo, K and J. Giles. 2002. Precautionary Behavior and Household Consumption and
Saving Decision; An Empirical Analysis Using Household Panel Data from Rural
China. Paper for North East Universities Development Consortium Conference.
Department of Economics, Michigan State University, Michigan.
Yosep, S. M. 1996. Pengaruh Program Transmigrasi dan Perkebunan Inti Rakyat terhadap
Struktur Keluarga dan Tingkat Kesejahteraan Masyarakat Tradisional Irian Jaya,
Kasus Suku Arfak di Kabupaten Manokwari. Tesis Magister Sains.
Program
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

271

Zahri, I. 2003. Pengaruh Alokasi Tenaga Kerja Keluarga terhadap Pendapatan Petani
Plasma PIR Kelapa Sawit Pasca Konversi di Sumatera Selatan. Disertasi Doktor.
Program Pascasarjana, Universitas Padjadjaran, Bandung.
Zulher.

1993. Dampak Pengembangan Perkebunan Rakyat (PIR-Khusus PTP V Sei


Tapung) terhadap Pembangunan Daerah di Kecamatan Tandun, Kabupaten Kampar
Provinsi Riau. Tesis Magister Sains. Program Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogor, Bogor.

LAMPIRAN

273

Lampiran 1. Uraian tentang Pola Pengembangan Perkebunan Kelapa sawit


Berdasarkan Pendekatan Kawasan Industri Masyarakat Perkebunan
Dalam rangka meningkatkan peran serta, efisiensi, produktivitas dan
berkelanjutan bidang perkebunan maka pemerintah daerah akan mengembangakan
perkebunan berdasarkan pendekatan kawasan industri masyarakat perkebunan
(Kimbun). Kawasan ini akan dibangun di setiap lokasi pengembangan dan sentrasentra produksi yang diselenggarakan melalui pendekatan agribisnis yang utuh di
pedesaan dengan azas kebersamaan ekonomi, yaitu melalui upaya pemberdayaan
dan peningkatan peran serta pengusaha kecil, menengah dan koperasi.
Langkah

implementasi

pembangunan

kawasan

ini

adalah

dengan

mengembangkan pola pengembangan perkebunan yang lebih berdimensi pada


penerapan nilai keadilan dan mengutamakan efisiensi, produktivitas dan peran serta
masyarakat dalam satu paket kebijakan.

Sebagai wadah untuk pemberdayaan

masyarakat digunakan Koperasi perkebunan dengan pola pengembangan sesuai


Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 107/Kpts-II/1999
tanggal 3 Maret 1999, yaitu :
1. Pola Koperasi Usaha Perkebunan
Masyarakat membentuk koperasi perkebunan, membangun kebun dan
fasilitas pengolahannya, serta mengembangkan sarana dan prasarana pokok
lainnya. Dalam proses pengembangan koperasi ini, masyarakat dapat meminta
bantuan pihak ketiga berdasarkan contract management (CM).

Biaya

pembangunan kebun, fasilitas pengolahan, sarana dan prasarana perkebunan


serta biaya CM bersumber dari fasilitas kredit lunak jangka panjang.

274

2. Pola Patungan Koperasi dan Investor


Pola ini merupakan pengembangan dari pola PIR yang ada saat ini
dengan menghilangkan pembatas kelembagaan antara plasma dan inti. Sejak
awal masyarakat membentuk koperasi dan sebagai suatu unit usaha patungan
perkebunan dengan perusahaan perkebunan. Secara keseluruhan komposisi
kepemilikan saham koperasi dan perusahaan adalah 65% : 35%.
3. Pola Patungan Investor dan Koperasi
Pola ini mirip denga Pola II tetapi kontribusi koperasi terbatas pada in
kind contribution yang disetarakan dengan nilai uang, seperti lahan usaha
koperasi (sebagai saham).

Secara menyeluruh pangsa koperasi pada tahap

awal sekurang-kurangnya 20 persen, selanjutnya secara bertahap meningkat


sesuai dengan perkembangan kondisi usahanya.
4. Pola BOT
Pola ini terbuka bagi investor termasuk badan usaha milik negara dan
milik swasta (BUMN, BUMS), termasuk penanaman modal asing (PMA). Dalam
pola ini investor membangun kebun, pabrik dan sarana serta prasarana
pendukungnya, termasuk membangun Koperasi Usaha Perkebunan yang akan
melanjutkan usaha tersebut. Tahapan serta persyaratan membangun, mengoperasikan dan mentransfer dirancang sesuai dengan karakteristik komoditi
perkebunan yang diusahakan serta perkiraan kondisi pasarnya.

Kebun dan

pabrik ditransfer pada saat koperasi sudah siap dan kondisi kebun serta pabrik
masih menguntungkan secara teknis-ekonomis untuk dikeloala oleh koperasi.

276

Lampiran 2. Diagram Keterkaitan Variabel Model Ekonomi Rumahtangga


Petani Plasma Kelapa Sawit
FEEKUD

ASETLHN

JBTKS

LAKS

YTKKS

QTKS

BMKUD
OATBS

YKKS

BTRANS
CTKKSAN

CTKKS

TCTKKS

LPDPP

UMPP

CTKLKSPP

UTKS
CTKUKS

CTKKSPP

UPAHKS

UPAHINTI

PUTKS

CTKKSIP
DPIRKS1

NPTKS

DADPP

QIP

UMIPP

CTKLKSIP

LPDIP

CTKLKSAN

BTKUKS
CTKLKS

HTBS

HIPN

HIPP

HIPK

HIP

QIPN

BIPN

QIPP

BIPP

QIPK

BIPK

BPRKS

BPTKS

BPALKS

BIPD

QIPD

BCKKS
PDPTKS
PDPTNUT

PDPTLPG

KONSPNG

PDPTKRT

JABALT

INVSPEND
ASURANSI

JASEKL
TABUNGAN

DKSUPP
NKKS

INVSKES
JAKP

PDPTTRNK

PLUNKRED

TPENGKP
INVSPROD

277

Lampiran 3. Hubungan Fungsional Model Ekonomi Rumahtangga


Petani Plasma Kelapa Sawit
No

Blok dan Variabel Endogen

Variabel Penjelas

( I ) Blok Produksi Kelapa Sawit


1

Luas Areal KS
LAKS
=

(+)
(+)
(+)
(-)
f (TCTKKS, ASETLHN, PDPTKS, PDPTLPG,
PDPTNUT, DKSUPP)
(+)
(+)

Produktivitas
YKKS
=

(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
f (HTBS, QIP, CTKKS, CTKUKS, JBTKS, YTKKS)

Produksi Total KS
3 QTKS
= LAKS * YKKS
(II). Blok Curahan Kerja
Curahan Kerja Suami di KS
(+)
(-)
(+)
(+)
(-)
4
CTKKSPP = f (UPAHKS, UPAHINTI, LAKS, UTKS, CTKKSAN,
CTKUKS, UMPP, PUTKS, DADPP)
(-)
(-)
(+)
(-)
Curahan Kerja Istri di Kebun KS
(+)
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
5
CTKKSIP = f (LAKS, UTKS, CTKKSAN, CTKUKS, UMPP, JABALT,
PUTKS, DADPP)
(+)
(-)
Total Curahan TK Keluarga di Kebun Plasma KS
6
CTKKS
=
CTKKSPP + CTKKSIP + CTKKSAN
Total Curahan TK di Kebun Plasma KS
7
TCTKKS = CTKKS + CTKUKS
Produktivitas TK di Kebun KS
8
YTKKS
= QTKS: TCTKKS
Curahan Kerja Suami di KS
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
9
CTKLKSPP = f (UPAHINTI, PDPTNUT, LALKS, TPENGKP, PUTKS,
LPDPP)
(+)
Curahan Kerja Istri di KS
(+)
(+)
(-)
(-)
(-)
10 CTKLKSIP = f (UPAHINTI, PDPTNUT, UPAHKS, LAKS, JABALT,
PUTKS, LPDIPP)
(+)
(+)
Total Curahan Kerja Keluarga di luar KS
11 CTKLKS = CTKLKSPP + CTKLKSIP + CTKLKSAN

278

(III). Blok Biaya dan Pendapatan


Penggunaan Pupuk N
12

QIPN

(-)
(+)
(+)
(+)
(+)
f (RHIPNTBS, UPAHKS, LAKS, UTKS, PDPTNUT,
PDPTLPG, KONSPNG, INVSKES, DPIRKS 1 )
(+)
(-)
(-)
(+)

Penggunaan Pupuk P
(-)
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
f (HIPP, UPAHKS, LAKS, UTKS, PDPTNUT, PDPTLPG,
KONSPNG, INVSKES, DPIRKS 1 )
(-)
(-)
(+)
Penggunaan Pupuk K
(-)
(+)
(+)
(+)
(+)
14 QIPK
= f (HIPK, HTBS, UPAHKS, LAKS, PDPTNUT, KONSPNG,
INVSKES, DPIRKS 1 )
(-)
(-)
(+)
Penggunaan Pupuk Komposit
15 QIP
= ((QIPN*HIPN) + (QIPP*HIPP)+(QIPK*HIPK)):
(HIPN+HIPP+HIPK)
Penggunaan Pestisida
(-)
(+)
(+)
(+)
(+)
16 QIPD
= f (HIPD, UPAHKS, LAKS, PDPTNUT, PDPTLPG)
13

QIPP

Biaya Pupuk N, P K
17 BIPN
= (QIPN*HIPN)
18

BIPP

(QIPP*HIPP)

19

BIPK

(QIPK*HIPK)

Biaya Pestisida
20 BIPD
=

(QIPD * HIPD)

Biaya TK Upahan
21 BTKUKS =

CTKUKS * UPAHKS

Biaya Produksi Kebun Plasma


22 BPRKS
= BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS
Nilai Produk Total KS
23 NPTKS
= QTKS * HTBS
Biaya Pasca Panen
24 BADMS
= 0.05 * NPTKS
25

BTRANS

OATBS

* QTKS

279

26

BMKUD

Biaya Total KS
27 BPTKS

FEEKUD * QTKS

BPRKS + BADMS + BTRANS + BMKUD

Pendapatan Kebun Plasma KS


28 PDPTKS = NPTKS - BPENGKS BCKKS BTRANS BMKUDBPRKS
Pendapatan dari Luar Kebun KS
29 PDPTLKS = PDPTRNK + PDPTKRT+ PDPTTPG + PDPTNUT
Pendapatan Keluarga
30 PDPTKP = PDPTKS + PDPTLKS
(IV)
Blok Pengeluaran dan Pelunasan Kredit RT Petani Plasma
Konsumsi Pangan
(+)
(+)
(+)
(+)
(+)
31 KONSPNG = f( JAKP, PDPTKS, PDPTLPG,PDPTNUT, PDPTTRNK,
PDPTKRT, ASURANSI, DADPP)
(+)
(-)
(+)
Investasi Pendidikan, Kesehatan dan Asuransi
(+)
(+)
(+)
(+)
32 INVSPEND = f( JASEKL, PDPTKS, PDPTLPG, PDPTNUT,
PDPTTRNK, INVSPROD, ASURANSI)
(+)
(-)
(-)
33

INVSKES

34

ASURANSI =

(+)
(+)
(+)
(+)
f(JAKP, JABALT, PDPTKS, PDPTKRT)
(+)
(+)
(+)
(+)
f(PDPTKS, PDPTLPG, PDPTNUT, PDPTKRT,
INVSPEND, INVSPROD, BCKKS)
(-)
(-)
(+)

Total Pengeluaran Keluarga


35 TPENGKP = KONSPNG + KONSNPG + INVSPEND + INVSKES +
INVSPROD + ASURANSI + TABUNGAN
Periode Lunas Kredit
36

PLUNKRED=

(+)
(-)
(-)
(+)
(+)
(+)
f(NKKS, HTBS, QTKS, FEEKUD, TPENGKP, JRKPKS,
CTKLKS, DPIRKS 2 )
(-)
(+)

280

Lampiran 4. Nama Variabel yang Digunakan dalam Model Ekonomi


Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
No

Variabel

1
2
3
4
5
6
7
8
9

UMPP
UMIPP
LPDPP
LPDIP
PUTKS
JAKP
JASEKL
JABALT
DADPP

10
11
12
13
14
15
16

HIPN
HIPP
HIPK
HIPD
UPAHKS
UPAHINTI
DPIRKS 1, 2

17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
38
39
40

CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKSAN
CTKKS
CTKUKS
TCTKKS
CTKLKSP
CTKLKSIP
CTKLKSAN
CTKLKS
YTKKS
QIPN
QIPP
QIPK
QIP
QIPD
BIPN
BIPP
BIPK
BIPD
BPALKS
BTKUKS
BPRKS
OATBS

Keterangan

Ukuran

Umur suami (petani plasma)


Umur istri petani plasma
Lama pendidikan suami
Lama pendidikan istri
Pengalaman pada usahatani kelapa sawit
Jumlah anggota keluarga petani plasma
Jumlah anggota keluarga yang sekolah
Jumlah anggota usia di bawah 5 thn
Asal daerah petani plasma, penduduk lokal = 1,
penduduk pendatang = 0
Harga input pupuk Urea (N)
Harga input pupuk Posfat (P)
Harga input pupuk Kalium (K)
Harga input pestisida (Round up)
Upah di kebun KS Plasma
Upah di kebun KS Inti
Pola PIR Kelapa sawit
DPIRKS 1 , PIR-Trans =1, lainnya= 0,

tahun
tahun
tahun
tahun
tahun
orang/RTPP
orang/RTPP
orang/RTPP
1/0

DPIRKS 2 , PIR-Sus = 1, lainnya= 0


Curahan TK suami (petani) di kebun plasma
Curahan TK istri di kebun plasma
Curahan TK anak di kebun plasma
Curahan TK keluarga di kebun plasma
Curahan TK upahan di kebun plasma
Total Curahan TK di kebun plasma
Curahan TK suami di luar kbn plasma
Curahan TK istri di luar kebun kelapa sawit
Curahan TK anak di luar kebun KS
Curahan TK keluarga di luar kebun KS
Produktivitas TK pada kebun KS
Permintaan pupuk N di kebun KS
Permintaan pupuk P di kebun KS
Permintaan pupuk K di kebun KS
Permintaan pupuk gabungan
Permintaa pestisida di kebun KS
Biaya pupuk Nitrogen (N)
Biaya pupuk Posfat (P)
Biaya pupuk Kalium (K)
Biaya input Pestisida
Biaya penyusutan alat di kbn KS
Biaya TK upahan di kebun KS
Biaya produksi di kebun KS
Ongkos angkut TBS ke pabrik PKS

Rp/kg
Rp/kg
Rp/kg
Rp/liter
Rp/HOK
Rp/HOK
1/0

HOK/thn
HOK/thn
HOK/thn
HOK/thn
HOK/than
HOK/thn
HOK/thn
HOK/thn
HOK/thn
HOK/thn
kg /HOK
kg/tahun
kg/tahun
kg/tahun
kg/tahun
ltr /tahun
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp/kg

281

Lampiran 4. Lanjutan
No

Variabel

41
42
43
44
45
46
47
48
49
50
51
52
53
54
55
56
57
58
59
60
61
62
63
64
65
66
67
68
69

BTRANS
FEEKUD
BMKUD
LAKS
YKKS
HTBS
NPTKS
BADMS
BCKKS
BPTKS
PDPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
PDPTTRNK
PDPTKRT
PDPTKP
KONSPNG
KONSNPG
INVSPEND
INVSKES
INVSPROD
ASURANSI
TPENGKP
TABUNGAN
NKKS
PLUNKRED
UTKS
JRKPKS
DKSUPP

70
71
72
73

RHIPNTBS
QTKS
LALKS
JBTKS

Keterangan
Biaya transportasi TBS ke pabrik PKS Inti
Fee untuk manajemen KUD
Biaya untuk manajemen KUD
Luas areal kebun kelapa sawit plasma
Prokduktivitas kebun kelapa sawit plasma
Harga jual TBS plasma
Nilai penjualan TBS dari kebun plasma
Biaya administrasi
Biaya cicilan kredit kebun plasma
Biaya produksi total kelapa sawit
Pendapatan KS dari kebun plasma
Pendapatan usahtani di lahan pangan
Pendapatan dari non usahatani
Pendapatan usaha ternak
Pendapatan dari kebun karet
Pendapatan total keluarga petani
Pengeluaran utk konsumsi pangan
Pengeluaran konsumsi non pangan
Pengeluaran investasi pendidikan
Pengeluaran investasi kesehatan
Pengeluaran investasi produksi
Pengeluaran untuk asuransi
Total pengeluaran keluarga petani
Pengeluaran untuk tabungan keluarga
Nilai pengembalian kredit kelapa sawit
Periode pelunasan kedit kelapa sawit
Umur tanaman kelapa sawit
Jarak kebun ke pabrik PKS
Usahatani KS sebagai usaha pokok
1= Usahatani KS usaha pokok
0= Usahatani KS bukan usaha pokok
Rasio harga pupuk N terhadap harga TBS
Produksi total kelapa sawit di kebun plasma
Luas areal selain kebun plasma
Jumlah pohon KS di kebun plasma

Keterangan : KS = kelapa sawit ; TBS = Tandan Buah Segar


TK = Tenaga Kerja ; kap= kapling
RT PP = Rumah Tangga Petani Plasma
PKS = Pabrik Kelapa Sawit

Ukuran
Rp000/thn
Rp/kg
Rp000/thn
ha /RTPP
kg /ha
Rp/kg
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000/thn
Rp000 /KK
Tahun
Tahun
Km
1/0

kg/tahun
ha/RTPP
batang/kap

282

Lampiran 5. Gambaran Umum tentang Program Asuransi Iuran Dana Peremajaan


Perkebunan Kelapa Sawit
Program asuransi iuran dana peremajaan perkebunan (idapertabun)
dikeluarkan tanggal 1 Februari 1995, merupakan jenis asuransi yang dipersiapkan
oleh perusahaan asuransi jiwa bersama (AJB) Bumiputera 1912 yang berkantor
pusat di Jalan HOS Cokroaminoto lantai 4, No. 85, Jakarta Pusat. Program ini
merupakan kerjasama Asuransi Jiwa Bersama Bumiputera dengan Direktorat
Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) sebagai pengelola pusat perusahaan inti rakyat
perkebunan

(PIR-Bun)

dalam

mempersiapkan

dana

peremajaan

tanaman

perkebunan petani plasma, termasuk tanaman kelapa sawit peserta pola.


Pertimbangan dibentuknya jenis asuransi yang berorientasi pada masyarakat
pedesaan

khususnya

petani

perkebunan

adalah

pengabdian,

tetapi

juga

memperhatikan norma-norma yang sesuai dengan prinsip usaha, yaitu dengan


dasar pertimbangan saling menguntungkan. Program asuransi ini menempatkan
petani plasma sebagai subyek asuransi dengan melihat jenis resiko yang akan
dihadapi baik sebagai pengusaha di bidang perkebunan dengan skala kecil maupun
petani sebagai kepala keluarga.

Program ini juga memasukkan faktor resiko,

misalnya jika kepala keluarga meninggal dunia, sehingga program ini menangani
dana peremajaan sekaligus asuransi jiwa petani.
Pada prinsipnya setelah kebun plasma dikonversi, maka tangung jawab
pengelolaan dan peremajaan tanaman dialihkan kepada petani plasma, akan tetapi
hal ini sulit dilakukan oleh petani terutama untuk melakukan peremajaan tanaman
jika tidak ada pembinaan dan pengarahan dari pemerintah atau perusahaan Inti.
Sebagian petani mempunyai kesanggupan untuk menyisihkan sebagian hasil
kebunnya untuk ditabung sebagai persiapan dana peremajaan tanaman, akan tetapi

283

kenyataannya peremajaan oleh petani plasma sendiri masih sulit dilakukan. Selain
itu petani belum terbiasa menabung sendiri dan belum ada bank yang beroperasi di
Iokasi pemukiman petani.
Untuk menjadi peserta program asuransi Idapertabun, petani harus menyisihkan sebagian penghasilan dari hasil penjualan kelapa sawitnya kepada inti, melalui
koperasi setempat. Syarat menjadi peserta adalah umur kepala keluarga petani
peserta di wilayah perusahaan inti rakyat perkebunan dengan rumusan bahwa umur
ditambah masa kontrak tidak lebih dari 70 tahun dan tidak sedang di rawat di rumah
sakit.
Dana peremajaan yang akan diperoleh berkisar rumahtangga petani adalah
berkisar Rp 6.00 hingga Rp 18.00 juta tergantung besarnya iuran atau premi yang
disetorkan petani kepada pihak asuransi. Jika kepala keluarga meninggal dunia
maka ahli waris akan memperoleh santunan kematian sebesar Rp 5.00 juta, setelah
itu ahli waris tidak perlu melanjutkan pembayaran iuran asuransi tetapi akan
memproleh dana peremajaan tanaman dengan jumlah sesuai dengan nilai
kontrak/paket benefit yang disepakati pada waktu mendaftarkan diri menjadi peserta
program asuransi idapertabun.
Dalam upaya mengembangkan dan memasyarakatkan program ini, sejak
April 1995 telah dibentuk Tim Operasional Program Idapertabun dengan anggota
terdiri dari Staf Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) dan AJB Bumi Putera.
Untuk operasional di lapangan dilibatkan beberapa petugas instansi lainnya seperti:
Staf Agricultural Development Officer (ADO) di wilayah PIR-Bun, koperasai serta
Site Manager Perusahaan Inti. Pada dasarnya Tim Operasional bertugas membantu
Ditjenbun sebagai penanggung jawab program Idapertabun dalam melakukan
penelaahan, evaluasi dan pembinaan pelaksanaan program.

284

Program ini tidak hanya menjamin peremajaan kebun dan asuransi petani
tetapi dapat pula digunakan sebagai jalur pengendalian dan pencegahan timbulnya
masalah pembangunan perkebunan pola PIR di lapangan. Sebagai contoh masalah
pembangunan perkebunan adalah adanya pengalihan/penjualan kavling kebun serta
penjualan hasil kebun petani kepada pihak ketiga yang sangat merugikan semua
pihak terkait. Kerugian yang ditimbulkan adalah: (1) bagi pemerintah mengalami
kerugian karena tujuan pokok proyek tidak tercapai akibat pengembalian kredit
petani tidak lancar, (2) bagi perusahaan inti mengalami kerugian karena pabrik
pengolah kelapa sawit (PKS) kekurangan bahan baku, dan (3) bagi petani sendiri,
hal ini telah menyimpang dari perjanjiannya sebagai

peserta PIR-Bun sehingga

tujuan program PIR yaitu meningkatkan kesejahteraan dan kepastian hak milik lahan
kebun plasma jika semua hutang petani lunas tidak akan tercapai. Meskipun jumlah
petani yang terlibat dalam program asuransi ini masih relatif kecil dibandingkan
dengan jumlah petani yang menjadi peserta PIR-Bun, akan tetapi program ini
mendapat sambutan positif dari petani plasma peserta PIR dan pihak-pihak terkait
lainnya.

Tabel 34. Dampak Faktor Internal (Simulasi 7, 8 dan 9) terhadap Kinerja Ekonomi Rumahtangga
Petani Plasma Kelapa Sawit di Sumatera Selatan
No

Variabel Endogen
PIRSus

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Luas Areal Kebun Plasma


Produktivitas KS Kebun Plasma
Curahan TK Suami di Kb Plasma
Curahan TK Istri di Kbn Plasma
Curhn TK Suami Luar Kb Plasma
Curhn TK Istri Luar Kbn Plasma
Penggunaan Pupuk Urea
Penggunaan Pupuk Posfat
Penggunaan Pupuk Kalium
Penggunaan pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Biaya Produksi di Kebun Plasma
Biaya Total Kelapa sawit
Pendapatan dari Kelapa Sawit
Pendapatan Keluarga Petani
Pengeluaran Konsumsi Pangan
Pengeluaran Invests Pendidikan
Pengeluaran Investasi Kesehatan
Pengeluaran untuk Asuransi
Total Pengeluaran Keluarga
Periode Pelunasan Kredit

50.00
7.65
6.92
7.71
5.67
-4.81
26.33
25.56
33.63
45.03
0.00
26.98
39.84
71.46
34.12
4.22
10.74
33.83
86.74
12.75
-1.74

Simulasi 7 (%)
PIRPIRTrans
KUK
50.00
5.81
9.40
14.49
6.56
-7.81
20.08
19.19
23.85
48.68
0.00
22.10
33.88
67.42
54.57
7.55
19.21
40.95
76.44
18.88
-4.36

50.00
16.27
21.97
34.39
9.50
-10.85
54.29
51.07
72.70
91.68
0.00
58.87
51.18
304.85
93.53
6.28
16.06
65.86
-1164
27.34
-3.11

Simulasi 8 (%)
PIRPIRPIRSus
Trans
KUK
-3.72
1.60
4.52
3.37
-2.36
0.42
-2.54
-2.46
-3.17
-3.97
-100.00
-14.14
-9.33
0.11
0.05
0.05
0.09
0.05
-4.59
-0.38
-0.09

-1.26
1.51
1.30
1.31
-0.76
0.21
-0.71
-0.67
-0.79
-1.29
-100.00
-4.06
-1.17
2.20
1.78
0.28
0.65
1.34
1.49
0.49
-0.19

7.73
6.06
2.70
3.87
0.65
-0.95
4.65
4.37
6.26
8.04
-100.00
3.38
4.48
35.23
10.81
0.73
1.86
7.61
126.15
3.02
-0.34

PIRSus
11.63
11.53
1.90
2.12
1.66
-1.32
6.87
6.67
8.89
12.40
0.00
6.91
14.21
31.15
14.88
1.85
4.73
14.75
36.20
5.43
-0.29

Simulasi 9 (%)
PIRPIRTrans
KUK
4.70
2.35
0.93
1.44
0.72
-0.78
1.91
1.83
2.29
4.84
0.00
2.22
4.07
8.69
7.04
0.99
2.48
5.28
9.74
2.43
-3.04

13.66
10.39
3.40
5.33
1.55
-1.68
8.25
7.76
11.09
14.21
0.00
9.14
8.87
60.02
18.43
1.23
3.17
12.97
222.24
5.27
-1.48

Keterangan: Simulasi 7: Perluasan kebun plasma sebesar 50% dengan mengkonversi lahan di luar kebun plasma
Simulasi 8: Peningkatan tenaga kerja keluarga 22% untuk menggantikan tenaga kerja upahan
Simulasi 9: Peningkatan tenaga kerja keluarga di kebun plasma 50% dengan mengurangi
tenaga kerja keluarga di luar kebun plasma 10%.

Koperasi
atau KUD

Tahap Pertanaman
-Mempersiapkan pembentukan
organisisasi koperasi

Tahap Produksi
-Pengadaan dan distribusi saprodi
-Persiapan kegiatan pengolahan dan
pemasaran TBS petani

Sumber: Zulher (1993) dan Dinas Perkebunan Sumatera Selatan (2000)

Tahap Produksi dan Panen


-Pengadaan dan distribusi saprodi
-Pengaturan kelompok kerja/
penyuluhan
-Pengumpulan & pengangkutan TBS
-Pengolahan dan pemasaran hasil
-Pengamanan harga jual TBS
-Penyelengara persero pabrik
-Pengelola saham

Lampiran 7. Kewajiban dan Hak Peserta Proyek Perusahaan Inti Rakyat Kelapa Sawit
Komponen
Kelembagaan
Perusahaan
Inti

Petani Plasma

Kewajiban-kewajiban

Hak-hak

1. Membeli dan membayar TBS petani sesuai pedoman


dari Mentan/Menhutbun
2. Menampung dan mengolah TBS petani
3. Menentukan besarnya faktor k
4. Memberi bimbingan dan penyuluhan kepada petani
5. Memasarkan hasil kebun plasma petani (TBS)
6. Membantu pengembangan kelembagaan tani
(kelompok tani) dan KUD
7. Membantu proses pengembalian kredit petani ke Bank
8. Membina alih teknologi budidaya selama masa pra
konversi

1. Menetapkan petani sebagai peserta proyek


2. Mengusulkan pembatalan sebagai peserta
3. Melakukan pemotongan hasil penjualan
untuk angsuran kredit
4. Menetapkan harga TBS sesuai pedoman
Menteri Pertanian
5. Menetapkan besarnya rendemen (R) minyak
sawit (CPO) dan minyak inti sawit (PKO)
6. Memperoleh biaya pengolahan TBS petani
7. Memperoleh biaya administrasi dari harga
rata-rata TBS

1. Memelihara tanaman sesuai petunjuk petugas inti


2. Memanen hasil kebun plasma kelapa sawit
3. Mengumpulkan dan menyerahkan hasil panen
(berupa TBS) kepada inti dengan harga yang sesuai
pedoman Menteri Pertanian
4. Membayar kredit ke pihak perbankan melaui inti
5. Menjadi anggota kelompok tani
6. Menjadi anggota KUD

1. Memperoleh kebun kelapa sawit seluas dua


hektar
2. Memperoleh lahan pangan seluas 0.75 hektar
3. Memperoleh lahan pekarangan seluas 0.25 ha
serta satu unit rumah (untuk PIR-Sus/NES)
4. Memperoleh sertifikat dari BPN, untuk
sementara dititip di Bank sebagai agunan
5. Memperoleh jaminan penjualan hasil TBS
dari Inti (+ 70%)
6. Dapat memanfaatkan sarana/fasilitas yang
dibangun inti, seperti: jalan di kebun, air bersih,
masjid, Puskesmas
7. Mengirim hasil panen ke inti dan menerima hasil penjualan TBS melalui KUD/kelompok tani

Lampiran 7. Lanjutan
KUD

1. Mengkoordinasikan pengangkutan TBS ke pabrik PKS


2. Menatausahakan unit kebun plasma
3. Menerima pembayaran TBS dari inti lalu menyerahkannya kepada petani melalui kelompok tani
4. Sebagai mitra kerjasama antara Inti dan petani
5. Penyalur saprodi, kredit, dana simpan pinjam dan usaha
ekonomi lainnya
6. Membantu pemasaran hasil kebun petani dari lahan non
kebun plasma
7. Membina petani utuk menjadi pelanggan perbankan
(bank minded)
8. Membantu penyaluran dan pengambilan kredit

Sumber: Zulher (1993) dan Dinas Perkebunan Sumatera Selatan (2000)

Lampiran 9. Harga Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Berdasarkan Umur Tanaman
untuk Bulan Januari September Tahun 2000
Umur
Tanam
(Tahun)

Bulan
Januari

Februari

Maret

April

Mei

Juni

Juli

292.00

389.95

285.27

288.36

333.00

295.00

294.68

297.79

269.00

282.00

308.93

304.02

307.67

354.00

322.00

614.82

318.54

288.00

345.00

333.82

328.48

332.28

381.00

330.00

339.83

343.67

311.00

347.00

345.51

339.96

343.91

397.80

359.60

351.73

355.68

321.00

303.00

357.73

351.97

355.97

412.30

379.00

363.08

367.99

332.00

358.54

367.30

360.14

367.62

425.88

385.59

375.87

380.02

344.44

384.83

379.43

372.04

379.68

439.79

398.19

388.13

392.33

355.56

10 - 20

397.33

391.72

447.25

351.16

453.89

410.95

400.55

404.81

366.86

Agustus. September

Sumber : Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan No. 627/KPTS-II / 2000, Jakarta.

289

Lampiran 8. Isi Surat Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Tahun 1998
Tentang Harga Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit dari
Kebun Plasma
Umum
1. Indeks k adalah indeks proporsi yang dinyatakan dalam persentase (%)
yang menunjukkan bagian yang diterima oleh petani.
2. Rendemen minyak sawit kasar (Rcpo) dan inti sawit (Ris) adalah berat
minyak sawit kasar dan inti sawit yang dihasilkan pabrik dibagi dengan berat
TBS yang diolah dan dikalikan dengan 100 persen.
3. Mutu panen TBS adalah hasil penilaian terhadap kematangan panen,
keadaan fraksi buah, buah menginap atau tidak, gagang panjang atau
pendek serta jumlah dan mutu brondolan yang diserahkan.
4. Matang panen untuk tandan yang boleh dipotong adalah apabila ada
brondolan di piringan sebanyak satu butir lepas per kg TBS.
5. Buah menginap ialah buah yang diserahkan pada pabrik setelah lewat hari
panen buah yang bersangkutan (lebih dari 24 jam sejak panen).
6. Gagang panjang adalah gagang TBS yang panjangnya lebih dari 2.5 (dua
setengah) cm diukur dari tandan dan potongan huruf V".
Tata Cara Panen
1. TBS yang dikirim ke pabrik beratnya minimal tiga kilogram per tandan.
2. Rotasi panen dilakukan sekali dalam tujuh hari dan pada keadaan tertentu
disesuaikan dengan kenyataan potensi produksi.
3. Brondolan yang dikirim ke pabrik harus bersih, tidak bercampur tanah, pasir
dan sampah lainnya.
4. Brondolan yang dikumpulkan dari piringan dimasukkan dalam karung dan
dikirim ke pabrik bersama-sama dengan tandan.
5. TBS yang dipanen harus dikirim ke pabrik pada hari itu juga (tidak lebih dari
24 jam sejak panen).

290

Sortasi TBS
1. Sortasi mutu panen TBS di pabrik dilakukan oleh karyawan pabrik bersama
wakil petani/kelembagaan petani.
2. Penilaian mutu panen TBS yang masuk ke pabrik diberlakukan bagi seluruh
TBS baik yang berasal dari perusahaan, petani/kelembagaan petani maupun
dari kebun lain.
3. Sortasi TBS dilakukan secara acak, minimal satu truk dari setiap bagian
kebun (afdeling) atau satuan pemukiman. TBS dalam truk yang disortasi,
dibongkar dan dituang ke lantai.
4. Hasil disortasi di pabrik disampaikan oleh perusahaan kepada petani melalui
kelembagaan petani.
5. TBS yang diterima di pabrik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. jumlah brondolan sekurang-kurangnya 12.5 % dari berat keseluruhan;
2. tandan terdiri dari buah mentah (0%), buah matang (minimal 85%) dan
buah lewat matang (maksimal 5%);
3. tandan tidak boleh bergagang panjang;
4. tidak terdapat tandan kosong;
5. brondolan segar dalam karung harus bebas dari sampah, tanah, pasir
atau benda lainnya.
Pengangkutan TBS
1. Pengangkut TBS bertangung jawab mengangkut TBS dari TPH sampai ke
pabrik dan tidak diperkenankan tertinggal dalam sarana pengangkutan.
2. Kelompok tani atau koperasi mempersiapkan sarana angkutan TBS yang
sebanding dengan berat TBS yang akan dipanen untuk menghindari
terjadinya TBS menginap.
3. Sarana angkutan TBS diwajibkan menggunakan jaring penutup untuk
menghindarkan jatuhnya TBS.
Penetapan Berat TBS

291

Penimbangan TBS dilakukan di pabrik dengan timbangan ynag telah ditera oleh
instansi berwenang yaitu Badan Metrologi.
Sanksi
1. Sanksi diberlakukan bagi seluruh TBS yang diolah di pabrik sebagai berikut:
1. Buah mentah (BM) didenda sebesar 50 % x BM x berat TBS yang diterima;
2. buah lewat matang (BLM) didenda sebesar 25 % x (BLM 5 %) x berat TBS
yang diterima;
3. tandan kosong (TK) didenda sebesar 100 % x TK x berat TBS yang diterima;
4. buah gagang panjang (BG) didenda sebesar 1% x BT x berat TBS yang
diterima;
5. brondolan yang dikirim diterima lebih kecil dari 12.5 % didenda sebesar 30 %
x (12.5 % - X) x berat TBS diterima;
6. brondolan yang diterima harus bersih, jika diterima kotor didenda sebesar 2 x
berat kotor;
7. TBS yang dikirim ke pabrik beratnya minimal 3 kilogram per tandan, jika
kurang didenda sebear 70 % x berat TBS yang diterima.
2.

Pengaturan lebih lanjut dari pelaksanaan sanksi dan atau insentif tersebut
diserahkan kepada perusahaan dan petani/kelembagaan petani

Insentif
Jika buah yang dikirim baik maka kepada yang bersangkutan diberi insentif
sebesar 3% dari TBS yang diterima.
Tata Cara Pembelian dan Pembayaran
1. Petani menyerahkan TBS kepada perusahaan melalui petani/kelembagaan petani
sesuai dengan perjanjian.
2. Penimbangan TBS di pabrik dilakukan oleh perusahaan dan disaksikan oleh
petani/kelembangan petani atau yang mewakili.

292

3. Kelembagaan petani atau yang mewakili mencatat besarnya penyetoran hasil


TBS masing-masing anggotanya berdasarkan petunjuk perusahaan dan
tembusannya disampaikan kepada perusahaan.
4. Perusahaan yang belum mempunyai pabrik dapat mengolahkan TBS kepada
pabrik pengolahan terdekat. Untuk pengembangan perkebunan pola PIR, biaya
angkut TBS yang menjadi beban petani hanya sampai dengan emplasemen
kantor kebun/perusahaan.
5. Hasil pembelian TBS petani dibayarkan oleh perusahaan kepada petani setelah
dikurangi kewajiban-kewajiban petani sesuai dengan ketentuan dan dilakukan
satu kali sebulan dan berdasarkan kesepakatan bersama antara petani/
kelembagaan petani dengan perusahaan.
Cara Perhitungan Besarnya Indeks K
1. Penetapan Indeks K dilakukan berdasarkan harga penjualan, biaya pengolahan
dan pemasaran minyak sawit kasar dan inti sawit serta biaya penyusutan
2. Komponen Biaya pengolahan dan pemasaran minyak sawit kasar dan inti sawit
3. Besarnya biaya penyusutan dihitung dengan menggunakan metode penyusustan
satuan hasil produksi. Berdasarkan metode ini besarnya biaya penyusutan
diperoleh melalui cara membagi harga perolehan pabrik dikurangi nilai sisa
dengan perkiraan jumlah produksi:
Biaya Penyusutan = Harga Perolehan Pabrik Nilai Sisa
Perkiraan Jumlah Produksi
Dengan pengertian:
Harga perolehan pabrik dihitung berdasarkan seluruh biaya pembangunan
pabrik mulai dari harga beli mesin dan peralatan, biaya pemasangan dan biaya
uji coba serta biaya bangunan.
Nilai sisa dihitung berdasarkan harga pabrik setelah melewati umur ekonomisnya dan besarnya sangat tergantung kepada kondisi masing-masing pabrik,
tetapi nilai sisa dinilai minimal 5 % dari harga perolehan pabrik.
Perkiraan jumlah produksi dihitung berdasarkan kapasitas pabrik selama umur
ekonomis dimana untuk mesin dan peralatan serta bangunan dihitung selama
15 tahun.
Perhitungan Besarnya Indeks K, Besarnya Indeks K dihitung dengan rumus
sebagai berikut:

293

H tbs
K = -------------------------------------- x 100 %
( Hcpo x Rcpo) + (Hi x Ri )
Dengan pengertian:
Htbs = nilai TBS di pabrik
Hcpo = nilai realisasi rata-rata tertimbang penjualan ekspor dan lokal minyak
sawit kasar (Harga FOB bersih).
Hi

= nilai realisasi rata-rata tertimbang penjualan ekspor dan lokal inti sawit

Rcpo = rendemen minyak sawit kasar


Ris

= rendemen inti sawit

Besarnya Rendemen Minyak dan Inti Sawit TBS Produksi Petani


Besarnya Rendemen minyak sawit dan inti sawit TBS produksi petani
ditetapkan berdasarkan kesepakatan antara perusahaan dengan petani/
kelembagaan petani yang dikoordinasikan oleh tim penetapan harga pembelian
TBS dengan alternatif sebagai berikut:

Berdasarkan rendemen realisasi yang dicapai pabrik (aktual) dengan rumus:


Berat CPO yang dihasilkan
Rcpo = -------------------------------------- x 100 %
Berat TBS yang diolah
Berat Inti Sawit yang dihasilkan
Ris = --------------------------------------------- x 100 %
Berat TBS yang diolah
Berdasarkan rendemen realisasi yang berasal dari TBS dengan umur tanaman
berbeda dan kondisi masing-masing wilayah seperti Tabel Besarnya Rendemen
Minyak dan Inti Sawit Tandan Buah Segar (TBS) Produksi Petani.

Sumber: Keputusan Menhutbun No: 627/Kpts-II/98, 11 September 1998, Jakarta.

295

Lampiran 10. Program Komputer Estimasi Model Ekonomi Rumahtangga Petani


Plasma Kelapa Sawit Menggunakan SAS/ETS Versi 6.12 Prosedur
SYSLIN Metode 2SLS
PROC ACCESS DBMS=EXCEL;
PROC ACCESS DBMS=EXCEL;
CREATE WORK._IMEX_.ACCESS;
PATH='C:\Disertasi\Disertasi mama\Data-newPIR.xls';
GETNAMES YES;
SCANTYPE=YES;
CREATE WORK._IMEX_.VIEW;
SELECT ALL;
DATA WORK.analisis;
SET WORK._IMEX_;
RUN;
Data laila;
set analisis;
BIPN
= (QIPN*HIPN)/1000;
BIPP
= (QIPP*HIPP)/1000;
BIPK
= (QIPK*HIPK)/1000;
BIPD
= (QIPD*HIPD)/1000;
BTKUKS = (CTKUKS * UPAHKS)/1000;
BPRKS
= BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS;
QTKS
= LAKS*YKKS;
BTRANS = (OATBS*QTKS)/1000;
BMKUD
= (FEEKUD*QTKS)/1000;
CTKKS
= CTKKSPP + CTKKSIP + CTKKSAN;
CTKLKS = CTKLKSPP + CTKLKSIP + CTKLKSAN;
TCTKKS = CTKKS + CTKUKS ;
YTKKS
= QTKS/TCTKKS ;
NPTKS
= (QTKS * HTBS)/1000;
BADMS
= 0.05*NPTKS;
PDPTKS = NPTKS - BCKKS - BTRANS - BMKUD - BADMS - BPRKS;
PDPTKP = PDPTKS + PDPTLPG + PDPTNUT + PDPTTRNK + PDPTKRT;
TPENGKP = KONSPNG + KONSNPG +INVSPEND +INVSKES +INVSPROD + ASURANSI+TABUNGAN;
QIP
= (QIPN*HIPN + QIPP*HIPP + QIPK*HIPK)/(HIPN+HIPP+HIPK);
RHIPNTBS = HIPN/HTBS;
RUN;
PROC SYSLIN 2SLS DATA=LAILA OUTEST=HASIL;
ENDOGENOUS LAKS YKKS QTKS CTKKSPP CTKKSIP CTKKS TCTKKS CTKLKSPP
CTKLKSIP CTKLKS YTKKS QIPN BIPN QIPP BIPP QIPK BIPK
QIPD BIPD QIP BTRANS BMKUD BPRKS NPTKS BADMS PDPTKS
PDPTKP KONSPNG INVSPEND INVSKES ASURANSI
TPENGKP PLUNKRED;
INSTRUMENTS

UMPP UMIPP LPDPP LPDIPP PUTKS JAKP JASEKL JABALT


UTKS JBTKS JRKPKS ASETLHN LALKS HTBS
CTKKSAN CTKLKSAN CTKUKS UPAHKS UPAHINTI FEEKUD
RHIPNTBS HIPP HIPK HIPD BPALKS BCKKS BTKUKS
KONSNPG INVSPROD TABUNGAN NKKS PDPTLPG PDPTNUT
PDPTTRNK PDPTKRT DADPP DKSUPP DPIRKS1 DPIRKS2 ;

296

Lampiran 10. Lanjutan


Model LAKS
Model YKKS
Identity QTKS
Model CTKKSPP
Model CTKKSIP
Identity CTKKS
Identity TCTKKS
Model CTKLKSPP
Model CTKLKSIP
Identity CTKLKS
Identity YTKKS
Model QIPN

=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=
=

Identity BIPN
Model QIPP

=
=

Identity BIPP
=
Model QIPK
=
Identity BIPK
=
Model QIPD
=
Identity BIPD
=
Identity QIP
=
Identity BTRANS =
Identity BMKUD =
Identity BPRKS =
Identity NPTKS =
Identity BADMS =
Identity PDPTKS =
Identity PDPTKP =
Model KONSPNG
=
Model INVSPEND =
Model INVSKES
=
Model ASURANSI =
Identity TPENGKP=
ModeL PLUNKRED
RUN;

TCTKKS ASETLHN PDPTKS PDPTLPG PDPTNUT DKSUPP/NOINT ;


HTBS QIP CTKKS CTKUKS JBTKS YTKKS /NOINT ;
QTKS;
UPAHKS UPAHINTI LAKS UTKS CTKKSAN CTKUKS UMPP PUTKS DADPP/NOINT;
LAKS UTKS CTKKSAN CTKUKS JABALT UMIPP PUTKS DADPP/NOINT;
CTKKSPP + CTKKSIP + CTKKSAN;
CTKKS + CTKUKS;
UPAHINTI PDPTNUT LALKS TPENGKP PUTKS LPDPP /NOINT;
UPAHINTI PDPTNUT UPAHKS LAKS JABALT PUTKS LPDIPP/NOINT;
CTKLKSPP + CTKLKSIP + CTKLKSAN;
YTKKS;
RHIPNTBS UPAHKS LAKS UTKS PDPTNUT PDPTLPG KONSPNG INVSKES
DPIRKS1/NOINT;
BIPN;
HIPP UPAHKS LAKS UTKS PDPTNUT PDPTLPG KONSPNG INVSKES
DPIRKS1/NOINT;
BIPP;
HIPK UPAHKS HTBS LAKS PDPTNUT KONSPNG INVSKES DPIRKS1/NOINT;
BIPK;
HIPD UPAHKS LAKS UTKS PDPTNUT PDPTLPG /NOINT;
BIPD;
QIP;
BTRANS;
BMKUD;
BIPN + BIPP + BIPK + BTKUKS + BIPD + BPALKS;
NPTKS;
BADMS;
NPTKS - BCKKS - BTRANS - BMKUD - BADMS - BPRKS;
PDPTKS + PDPTLPG + PDPTNUT + PDPTTRNK + PDPTKRT;
JAKP PDPTKS PDPTLPG PDPTNUT PDPTTRNK PDPTKRT ASURANSI DADPP/;
JASEKL PDPTKS PDPTLPG PDPTNUT PDPTTRNK INVSPROD ASURANSI/NOINT;
JAKP JABALT PDPTKS PDPTKRT /NOINT DW;
NPTKS PDPTLPG PDPTNUT PDPTKRT INVSPEND INVSPROD BCKKS/NOINT;
KONSPNG + KONSNPG + INVSPEND + INVSKES + INVSPROD + ASURANSI+
TABUNGAN;
NKKS QTKS HTBS FEEKUD TPENGKP JRKPKS CTKLKS DPIRKS2/ NOINT;

297

Lampiran 11. Hasil Estimasi Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa
Sawit Menggunakan SAS/ETS Versi 6.12 Prosedur SYSLIN Metode
2SLS

Model: LAKS
Dependent variable: LAKS LAKS

Source
Model
Error
U Total

SYSLIN Procedure
Two-Stage Least Squares Estimation

DF
6
343
349
Root MSE
Dep Mean
C.V.

Parameter
Variable DF
Estimate
TCTKKS
1
0.012655
ASETLHN
1
0.000059205
PDPTKS
1
0.000080672
PDPTLPG
1 -0.000023513
PDPTNUT
1
0.000049262
DKSUPP
1
0.907658
Model: YKKS
Dependent variable: YKKS YKKS

Analysis of Variance
Sum of
Mean
Squares
Square
2133.09106
355.51518
325.24724
0.94824
2534.00000
0.97378
R-Square
2.40115
Adj R-SQ
40.55470
Parameter Estimates
Standard
T for H0:
Error
Parameter=0
0.001354
9.348
0.000012920
4.582
0.000011867
6.798
0.000012002
-1.959
0.000014655
3.361
0.111652
8.129

F Value
374.920

Prob>F
0.0001

0.8677
0.8654

Prob > |T|


0.0001
0.0001
0.0001
0.0509
0.0009
0.0001

Analysis of Variance
Sum of
Mean
Source
DF
Squares
Square
F Value
Model
6 50907417875 8484569645.9
637.378
Error
343 4565908358.6 13311686.177
U Total
349 55325845000
Root MSE
3648.51835
R-Square
0.9177
Dep Mean 11688.53868
Adj R-SQ
0.9163
C.V.
31.21450
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Variable DF
Estimate
Error
Parameter=0
Prob > |T|
HTBS
1
14.468862
3.833788
3.774
0.0002
QIP
1
6.065497
2.100898
2.887
0.0041
CTKKS
1
12.762090
10.978308
1.162
0.2458
CTKUKS
1
15.393833
7.731439
1.991
0.0473
JBTKS
1
1.221939
6.028560
0.203
0.8395
YTKKS
1
4.938497
0.664395
7.433
0.0001
Model: CTKKSPP
Dependent variable: CTKKSPP CTKKSPP
Analysis of Variance
Sum of
Mean
Source
DF
Squares
Square
F Value
Model
9 312860.14857 34762.23873
160.520
Error
340 73630.49035
216.56027
U Total
349 387721.00000
Root MSE
14.71599
R-Square
0.8095

Prob>F
0.0001

Prob>F
0.0001

298

Dep Mean
C.V.
Parameter
Variable DF
Estimate
UPAHKS
1
0.000659
UPAHINTI
1
-0.000497
LAKS
1
2.237535
UTKS
1
1.845044
CTKKSAN
1
-0.012351
CTKUKS
1
-0.099424
UMPP
1
-0.063077
PUTKS
1
0.122672
DADPP
1
-1.324501
Model: CTKKSIP
Dependent variable: CTKKSIP CTKKSIP

Source
Model
Error
U Total

Analysis of Variance
Sum of
Mean
DF
Squares
Square
8 173498.54756 21687.31844
341 52432.98279
153.76241
349 225805.00000
Root MSE
12.40010
R-Square
Dep Mean
20.14040
Adj R-SQ
C.V.
61.56827
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Estimate
Error
Parameter=0
2.010297
0.807702
2.489
1.486234
0.267805
5.550
-0.010353
0.062627
-0.165
-0.063286
0.029913
-2.116
-3.251284
1.287763
-2.525
-0.156511
0.054171
-2.889
0.588503
0.301717
1.951
-4.328727
1.985299
-2.180

Variable DF
LAKS
1
UTKS
1
CTKKSAN
1
CTKUKS
1
JABALT
1
UMIPP
1
PUTKS
1
DADPP
1
Model: CTKLKSPP
Dependent variable: CTKLKSPP CTKLKSPP

Source
Model
Error
U Total

Variable
UPAHINTI
PDPTNUT
LALKS
TPENGKP
PUTKS

DF
1
1
1
1
1

28.65043
Adj R-SQ
51.36393
Parameter Estimates
Standard
T for H0:
Error
Parameter=0
0.000142
4.651
0.000296
-1.678
1.178240
1.899
0.332343
5.552
0.074596
-0.166
0.038265
-2.598
0.070727
-0.892
0.386128
0.318
2.373580
-0.558

Analysis of Variance
Sum of
Mean
DF
Squares
Square
6 6680381.0679 1113396.8447
343 3725628.8862 10861.89180
349 10434029.000
Root MSE
104.22040
R-Square
Dep Mean
137.54441
Adj R-SQ
C.V.
75.77218
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Estimate
Error
Parameter=0
0.005079
0.001449
3.505
0.002356
0.001680
1.402
3.286873
4.944745
0.665
0.001951
0.001340
1.456
4.676081
1.318409
3.547

0.8044

Prob > |T|


0.0001
0.0942
0.0584
0.0001
0.8686
0.0098
0.3731
0.7509
0.5772

F Value
141.044

Prob>F
0.0001

0.7679
0.7625

Prob > |T|


0.0133
0.0001
0.8688
0.0351
0.0120
0.0041
0.0519
0.0299

F Value
102.505

0.6420
0.6357

Prob > |T|


0.0005
0.1617
0.5067
0.1462
0.0004

Prob>F
0.0001

299

LPDPP
1
1.096507
Model: CTKLKSIP
Dependent variable: CTKLKSIP CTKLKSIP

Source
Model
Error
U Total

2.386268

0.460

Analysis of Variance
Sum of
Mean
DF
Squares
Square
7 3529468.5282 504209.78974
342 2641412.2453
7723.42762
349 6156849.0000
Root MSE
87.88303
R-Square
Dep Mean
92.94269
Adj R-SQ
C.V.
94.55615
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Estimate
Error
Parameter=0
0.001102
0.001700
0.648
0.003748
0.001424
2.632
-0.001287
0.000834
-1.544
-5.065189
5.639081
-0.898
-15.513576
9.381297
-1.654
6.974456
1.020426
6.835
7.906389
2.394490
3.302

Variable DF
UPAHINTI
1
PDPTNUT
1
UPAHKS
1
LAKS
1
JABALT
1
PUTKS
1
LPDIPP
1
Model: QIPN
Dependent variable: QIPN QIPN

Source
Model
Error
U Total

Analysis of Variance
Sum of
Mean
DF
Squares
Square
9 38997189.783 4333021.0870
340 5301048.8026 15591.32001
349 46387500.000
Root MSE
124.86521
R-Square
Dep Mean
321.06017
Adj R-SQ
C.V.
38.89153
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Estimate
Error
Parameter=0
-11.081188
13.679020
-0.810
0.008232
0.001403
5.870
90.350345
8.637093
10.461
6.768053
1.997859
3.388
0.001680
0.002138
0.786
0.001483
0.001851
0.801
-0.023723
0.009926
-2.390
-0.072343
0.049523
-1.461
98.095438
17.859491
5.493

Variable DF
RHIPNTBS
1
UPAHKS
1
LAKS
1
UTKS
1
PDPTNUT
1
PDPTLPG
1
KONSPNG
1
INVSKES
1
DPIRKS1
1
Model: QIPP
Dependent variable: QIPP QIPP

Source
Model
Error
U Total

DF
9
340
349
Root MSE
Dep Mean

Analysis of Variance
Sum of
Mean
Squares
Square
39315272.838 4368363.6487
5354228.9087 15747.73208
46692500.000
125.48997
R-Square
321.91977
Adj R-SQ

0.6462

F Value
65.283

Prob>F
0.0001

0.5720
0.5632

Prob > |T|


0.5174
0.0089
0.1236
0.3697
0.0991
0.0001
0.0011

F Value
277.912

Prob>F
0.0001

0.8803
0.8772

Prob > |T|


0.4185
0.0001
0.0001
0.0008
0.4325
0.4238
0.0174
0.1450
0.0001

F Value
277.396

0.8801
0.8770

Prob>F
0.0001

300

C.V.
38.98175
NOTE: The NOINT option changes the definition of the R-Square statistic to:
1 - (Residual Sum of Squares/Uncorrected Total Sum of Squares).
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Variable DF
Estimate
Error
Parameter=0
Prob > |T|
HIPP
1
-0.010178
0.030995
-0.328
0.7428
UPAHKS
1
0.008482
0.001734
4.890
0.0001
LAKS
1
87.953180
8.674077
10.140
0.0001
UTKS
1
5.786690
1.744816
3.317
0.0010
PDPTNUT
1
0.001235
0.002137
0.578
0.5636
PDPTLPG
1
0.001567
0.001831
0.856
0.3927
KONSPNG
1
-0.025730
0.009661
-2.663
0.0081
INVSKES
1
-0.067316
0.052867
-1.273
0.2038
DPIRKS1
1
103.947562
17.006956
6.112
0.0001
Model: QIPK
Dependent variable: QIPK QIPK
Analysis of Variance
Sum of
Mean
Source
DF
Squares
Square
F Value
Model
8 39901430.012 4987678.7515
285.561
Error
341 5955993.9742 17466.25799
U Total
349 48006875.000
Root MSE
132.15997
R-Square
0.8701
Dep Mean
320.84527
Adj R-SQ
0.8671
C.V.
41.19119
NOTE: The NOINT option changes the definition of the R-Square statistic to:
1 - (Residual Sum of Squares/Uncorrected Total Sum of Squares).
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Variable DF
Estimate
Error
Parameter=0
Prob > |T|
HIPK
1
-0.093712
0.022839
-4.103
0.0001
UPAHKS
1
0.008385
0.001399
5.992
0.0001
HTBS
1
0.288665
0.128647
2.244
0.0255
LAKS
1
98.632993
9.199614
10.721
0.0001
PDPTNUT
1
0.001850
0.002240
0.826
0.4095
KONSPNG
1
-0.004330
0.006838
-0.633
0.5270
INVSKES
1
-0.080489
0.052119
-1.544
0.1234
DPIRKS1
1
115.453501
17.523346
6.589
0.0001
Model: QIPD
Dependent variable: QIPD QIPD
Analysis of Variance
Sum of
Mean
Source
DF
Squares
Square
F Value
Model
6 11652.39897
1942.06650
189.704
Error
343
3511.41332
10.23736
U Total
349 16600.25000
Root MSE
3.19959
R-Square
0.7684
Dep Mean
5.38825
Adj R-SQ
0.7644
C.V.
59.38079
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Variable DF
Estimate
Error
Parameter=0
Prob > |T|
HIPD
1 -0.000038868
0.000035026
-1.110
0.2679
UPAHKS
1
0.000028634
0.000033557
0.853
0.3941

Prob>F
0.0001

Prob>F
0.0001

301

LAKS
UTKS
PDPTNUT
PDPTLPG
Model: KONSPNG
Dependent variable:

1
1
1
1

2.359321
0.048104
0.000085391
0.000033209

0.184783
0.068500
0.000050211
0.000039511

12.768
0.702
1.701
0.841

0.0001
0.4830
0.0899
0.4012

KONSPNG KONSPNG

Analysis of Variance
Sum of
Mean
Source
DF
Squares
Square
Model
8 230827105.92 28853388.239
Error
340 567157893.71 1668111.4521
C Total
348 795741574.12
Root MSE
1291.55389
R-Square
Dep Mean
3815.14040
Adj R-SQ
C.V.
33.85338
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Variable DF
Estimate
Error
Parameter=0
INTERCEP
1
1846.676358
290.167517
6.364
JAKP
1
357.576363
54.331509
6.581
PDPTKS
1
0.027399
0.022504
1.218
PDPTLPG
1
0.073536
0.017077
4.306
PDPTNUT
1
0.012044
0.021009
0.573
PDPTTRNK
1
0.026828
0.070404
0.381
PDPTKRT
1
0.031345
0.005645
5.553
ASURANSI
1
-0.053203
0.094688
-0.562
DADPP
1
154.057719
198.838184
0.775
Model: INVSPEND
Dependent variable: INVSPEND INVSPEND
Analysis of Variance
Sum of
Mean
Source
DF
Squares
Square
Model
7 505051369.77 72150195.681
Error
342 837518121.19 2448883.3953
U Total
349 1351198000.0
Root MSE
1564.89086
R-Square
Dep Mean
971.02579
Adj R-SQ
C.V.
161.15853
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Variable DF
Estimate
Error
Parameter=0
JASEKL
1
238.553352
55.576153
4.292
PDPTKS
1
0.046680
0.019688
2.371
PDPTLPG
1
0.052510
0.018716
2.806
PDPTNUT
1
0.072239
0.024293
2.974
PDPTTRNK
1
0.333389
0.077715
4.290
INVSPROD
1
-0.137273
0.166533
-0.824
ASURANSI
1
-0.049379
0.112248
-0.440
Model: INVSKES
Dependent variable: INVSKES INVSKES
Analysis of Variance
Sum of
Mean
Source
DF
Squares
Square
Model
4 25119736.885 6279934.2212
Error
345 26929653.386 78056.96634

F Value
17.297

Prob>F
0.0001

0.2893
0.2725

Prob > |T|


0.0001
0.0001
0.2242
0.0001
0.5668
0.7034
0.0001
0.5746
0.4390

F Value
29.462

Prob>F
0.0001

0.3762
0.3634

Prob > |T|


0.0001
0.0183
0.0053
0.0032
0.0001
0.4103
0.6603

F Value
80.453

Prob>F
0.0001

302

U Total

349 50749175.000
Root MSE
279.38677
R-Square
Dep Mean
254.22636
Adj R-SQ
C.V.
109.89685
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Estimate
Error
Parameter=0
24.186345
5.285623
4.576
18.237876
28.665997
0.636
0.019407
0.002984
6.503
0.000665
0.001113
0.598

Variable DF
JAKP
1
JABALT
1
PDPTKS
1
PDPTKRT
1
Model: ASURANSI
Dependent variable: ASURANSI ASURANSI

Analysis of Variance
Sum of
Mean
DF
Squares
Square
7 198561882.27 28365983.181
342 345791735.09 1011086.9447
349 514740259.24
Root MSE
1005.52819
R-Square
Dep Mean
569.91885
Adj R-SQ
C.V.
176.43357
Parameter Estimates
Parameter
Standard
T for H0:
Estimate
Error
Parameter=0
0.077482
0.007047
10.996
0.013919
0.013993
0.995
0.024615
0.015948
1.543
0.001262
0.004467
0.283
-0.177096
0.066628
-2.658
-0.030675
0.107693
-0.285
-0.207440
0.040878
-5.075

Source
Model
Error
U Total

Variable DF
NPTKS
1
PDPTLPG
1
PDPTNUT
1
PDPTKRT
1
INVSPEND
1
INVSPROD
1
BCKKS
1
Model: PLUNKRED
Dependent variable: PLUNKRED PLUNKRED

Source
Model
Error
U Total

Variable
NKKS
QTKS
HTBS
FEEKUD
TPENGKP
JRKPKS
CTKLKS
DPIRKS2

DF
1
1
1
1
1
1
1
1

DF
8
341
349
Root MSE
Dep Mean
C.V.

Parameter
Estimate
0.000260
-0.000010193
-0.006895
0.171163
0.000040620
0.425815
0.004852
2.874036

Analysis of Variance
Sum of
Mean
Squares
Square
12949.36071
1618.67009
2080.53557
6.10128
14951.00000
2.47008
R-Square
5.69914
Adj R-SQ
43.34121
Parameter Estimates
Standard
T for H0:
Error
Parameter=0
0.000080806
3.221
0.000012049
-0.846
0.002326
-2.964
0.114453
1.495
0.000037000
1.098
0.055073
7.732
0.001363
3.561
0.490002
5.865

0.4826
0.4766

Prob > |T|


0.0001
0.5251
0.0001
0.5502

F Value
28.055

Prob>F
0.0001

0.3648
0.3518

Prob > |T|


0.0001
0.3206
0.1236
0.7777
0.0082
0.7759
0.0001

F Value
265.300

0.8616
0.8583

Prob > |T|


0.0014
0.3981
0.0033
0.1357
0.2731
0.0001
0.0004
0.0001

Prob>F
0.0001

303

Lampiran 12. Program Komputer Validasi Model Ekonomi Rumahtangga Petani


Plasma Kelapa Sawit Menggunakan SAS/ETS Versi 6.12
SIMNLIN Metode Seidel
PROC ACCESS DBMS=EXCEL;
PROC ACCESS DBMS=EXCEL;
CREATE WORK._IMEX_.ACCESS;
PATH='C:\Disertasi\Disertasi mama\Data-newPIR.xls';
GETNAMES YES;
SCANTYPE=YES;
CREATE WORK._IMEX_.VIEW;
SELECT ALL;
DATA WORK.analisis;
SET WORK._IMEX_;
RUN;
PROC SORT DATA=SIMULASI; BY POLA; RUN;
PROC SimNlin DATA=simulasi type=2sls seidel maxiter=1500 Stats Simulate Outpredict
Theil Out=D;
ENDO LAKS YKKS QTKS CTKKSPP CTKKSIP CTKKS TCTKKS CTKLKSPP CTKLKSIP
CTKLKS YTKKS QIPN BIPN QIPP BIPP QIPK BIPK
QIPD BIPD BTKUKS QIP BPRKS NPTKS BADMS BTRANS BMKUD BPTKS
PDPTKS PDPTLKS PDPTKP KONSPNG INVSPEND INVSKES ASURANSI TPENGKP PLUNKRED;
EXO

UMPP UMIPP LPDPP LPDIPP PUTKS JAKP JASEKL JABALT


UTKS JBTKS JRKPKS ASETLHN LALKS HTBS
CTKKSAN CTKLKSAN CTKUKS UPAHKS UPAHINTI
OATBS FEEKUD HIPN HIPP HIPK HIPD BPALKS BCKKS
KONSNPG INVSPROD TABUNGAN NKKS PDPTLPG PDPTNUT
PDPTTRNK PDPTKRT DADPP DKSUPP DPIRKS1 DPIRKS2;

LAKS =

TCTKKS
ASETLHN
PDPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
DKSUPP

*
*
*
*
*
*

0.012655
0.000059205
0.000080672
-0.000023513
0.000049262
0.907658

YKKS =

HTBS
QIP
CTKKS
CTKUKS
JBTKS
YTKKS

*
*
*
*
*
*

14.468862
6.065497
12.762090
15.393833
1.221939
4.938497

CTKKSPP=UPAHKS
UPAHINTI
LAKS
UTKS
CTKKSAN
CTKUKS
UMPP
PUTKS
DADPP

*
*
*
*
*
*
*
*
*

0.000659
-0.000497
2.237535
1.845044
-0.012351
-0.099424
-0.063077
0.122672
-1.324501

+
+
+
+
+
+
+
+
;

+
+
+
+
+
;
+
+
+
+
+
;

304

Lampiran 12. . Lanjutan


CTKKSIP=LAKS
UTKS
CTKKSAN
CTKUKS
UMIPP
JABALT
PUTKS
DADPP

*
*
*
*
*
*
*
*

2.010297
1.486234
-0.010353
-0.063286
-0.156511
-3.251284
0.588503
-4.328727

+
+
+
+
+
+
+
;

CTKLKSPP=UPAHINTI
PDPTNUT
LALKS
TPENGKP
PUTKS
LPDPP

*
*
*
*
*
*

0.005079
0.002356
3.286873
0.001951
4.676081
1.096507

+
+
+
+
+
;

CTKLKSIP=UPAHINTI
PDPTNUT
UPAHKS
LAKS
JABALT
PUTKS
LPDIPP

*
*
*
*
*
*
*

0.001102
0.003748
-0.001287
-5.065189
-15.513576
6.974456
7.906389

QIPN=

*
*
*
*
*
*
*
*
*

HIPN/HTBS
UPAHKS
LAKS
UTKS
PDPTNUT
PDPTLPG
KONSPNG
INVSKES
DPIRKS1

QIPP = HIPP
UPAHKS
LAKS
UTKS
PDPTNUT
PDPTLPG
KONSPNG
INVSKES
DPIRKS1

*
*
*
*
*
*
*
*
*

QIPK = HIPK
UPAHKS
HTBS
LAKS
PDPTNUT
KONSPNG
INVSKES
DPIRKS1
PDPTLPG

*
*
*
*
*
*
*
*
*

+
+
+
+
+
+
;

-11.081188
0.008232
90.350345
6.768053
0.001680
0.001483
-0.023723
-0.072343
98.095438

+
+
+
+
+
+
+
+
;

-0.010178
0.008482
87.953180
5.786690
0.001235
0.001567
-0.025730
-0.067316
103.947562

+
+
+
+
+
+
+
+
;

-0.093712 +
0.008385 +
0.288665 +
98.632993 +
0.001850 +
-0.004330 +
-0.080489 +
115.453501 ;
0.000033209 ;

305

Lampiran 12. . Lanjutan


QIPD=

HIPD
UPAHKS
LAKS
UTKS
PDPTNUT

*
*
*
*
*

-0.000038868
0.000028634
2.359321
0.048104
0.000085391

+
+
+
+
+

KONSPNG= JAKP
PDPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
PDPTTRNK
PDPTKRT
ASURANSI
DADPP

*
*
*
*
*
*
*
*

357.576363
0.027399
0.073536
0.012044
0.026828
0.031345
-0.053203
154.057719

+
+
+
+
+
+
+
;

INVSPEND=JASEKL
PDPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
PDPTTRNK
INVSPROD
ASURANSI

*
*
*
*
*
*
*

238.553352
0.046680
0.052510
0.072239
0.333389
-0.137273
-0.049379

INVSKES= JAKP
JABALT
PDPTKS
PDPTKRT

*
*
*
*

24.186345
18.237876
0.019407
0.000665

+
+
+
+
+
+
;
+
+
+
;

ASURANSI=NPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
PDPTKRT
INVSPEND
INVSPROD
BCKKS

*
*
*
*
*
*
*

0.077482
0.013919
0.024615
0.001262
-0.177096
-0.030675
-0.207440

+
+
+
+
+
+
;

PLUNKRED=NKKS
QTKS
HTBS
FEEKUD
TPENGKP
JRKPKS
CTKLKS
DPIRKS2

*
*
*
*
*
*
*
*

0.000260
-0.000010193
-0.006895
0.171163
0.000040620
0.425815
0.004852
2.874036

+
+
+
+
+
+
+
;

QTKS
CTKKS
TCTKKS
CTKLKS
YTKKS
BIPN
BIPP

=
=
=
=
=
=
=

LAKS * YKKS;
CTKKSPP + CTKKSIP + CTKKSAN;
CTKKS + CTKUKS;
CTKLKSPP + CTKLKSIP + CTKLKSAN;
QTKS/TCTKKS ;
(QIPN*HIPN)/1000;
(QIPP*HIPP)/1000;

306

Lampiran 12. . Lanjutan


BIPK
=
BIPD
=
BTKUKS =
QIP
=
BTRANS =
BMKUD
=
BPRKS
=
NPTKS
=
BADMS
=
BPTKS
=
PDPTKS =
PDPTLKS =
PDPTKP =
TPENGKP =
RANGE N 1
BY POLA;
RUN;
QUIT;

(QIPK*HIPN)/1000;
(QIPD*HIPD)/1000;
(CTKUKS*UPAHKS)/1000;
(QIPN*HIPN + QIPP*HIPP + QIPK*HIPK)/(HIPN+HIPP+HIPK);
(OATBS*QTKS)/1000 ;
(FEEKUD*QTKS)/1000;
BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS ;
(QTKS*HTBS)/1000;
0.05*NPTKS;
BADMS + BCKKS + BTRANS + BMKUD + BPRKS;
NPTKS - BPTKS ;
PDPTLPG + PDPTNUT + PDPTTRNK + PDPTKRT;
PDPTKS + PDPTLKS;
KONSPNG + KONSNPG + INVSPEND + INVSKES + INVSPROD + ASURANSI+TABUNGAN;
TO 349;

307

Lampiran 13. Hasil Validasi Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa
Sawit Menggunakan SAS/ETS Versi 6.12 Prosedur SIMNLIN
Metode Seidel
1. Pola Perusahaan Inti Rakyat-Khusus (Pola PIR-Sus)
Descriptive Statistics
Actual

Predicted

Variable

Nobs

Mean

Std

Mean

Std

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150

150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150

2.5333
10183
26813
36.8867
29.3867
72.4933
91.3067
149.3667
139.5200
288.8867
334.0364
304.3333
392.6433
302.0000
420.6383
302.3333
423.4133
5.7200
257.4000
211.2167
302.8503
1740
9852
492.6000
746.1333
93.8467
3150
6702
7021
13722
4208
1016
266.3000
489.6192
8000
7.2800

1.3244
3017
20928
17.3973
18.8412
35.1989
50.5785
76.7903
78.1228
127.0722
213.7152
153.6946
217.2507
153.5792
250.3187
153.1916
253.3045
5.3220
239.4903
430.3585
153.2929
1046
8426
421.3013
624.2964
73.2489
2161
6485
23920
25374
1926
1937
357.4633
652.8978
5168
3.9817

2.6715
9649
26607
36.4859
29.4408
72.1467
90.9600
133.4854
118.9247
252.4101
300.9095
355.8997
454.7398
356.9378
491.5385
309.6082
394.3029
5.9117
266.0249
211.2167
340.3398
1853
9653
482.6465
732.3133
93.1260
3238
6415
7021
13435
2158
1099
248.7578
554.7854
6080
7.0247

0.8925
1051
14103
4.1750
6.7278
17.7893
39.8924
26.7676
37.1714
58.2859
87.3068
78.8915
129.9222
77.5065
169.0478
88.4350
130.9712
2.0944
94.2460
430.3585
80.7466
867.7695
5585
279.2684
406.7459
49.3606
1653
4051
23920
24346
1084
896.6028
82.4635
395.3358
4017
1.9420

308

Lampiran 13. Lanjutan


Statistics of Fit

Variable

Mean
Error

Mean %
Error

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150

0.1382
-534.7543
-205.8992
-0.4008
0.0541
-0.3467
-0.3467
-15.8812
-20.5953
-36.4765
-33.1269
51.5664
62.0964
54.9378
70.9001
7.2748
-29.1105
0.1917
8.6249
0
37.4895
112.5109
-199.0698
-9.9535
-13.8200
-0.7206
88.0168
-287.0866
0
-287.0866
-2050
82.7050
-17.5422
65.1662
-1919
-0.2553

14.1027
2.0124
16.8197
43.0977
37.6981
18.9794
13.6083
6.3653
.
1.7191
15.1327
42.0502
42.0502
43.5167
43.5167
22.3073
15.5355
49.9667
49.9667
.
35.6396
21.6745
16.8197
16.8197
16.8197
16.8197
14.5357
24.3695
.
13.3618
-42.0807
.
117.8250
.
-17.3051
35.4393

Mean Abs Mean Abs %


Error
Error
0.6490
2257
8609
10.8902
12.5865
20.6268
20.6268
55.4686
60.8075
93.9580
124.4118
107.0336
135.6805
107.6395
147.1634
93.0143
141.0965
2.8482
128.1683
0
98.7539
460.3172
3139
156.9617
237.8115
30.1323
764.1511
2526
0
2526
2114
1052
213.8893
504.1363
2347
2.6659

24.70991
22.39413
34.30044
61.25550
61.50537
36.77281
29.32109
34.80184
.
32.49994
41.91970
51.30211
51.30211
52.04052
52.04052
40.54129
40.47023
68.65424
68.65424
.
46.57315
32.78113
34.30044
34.30044
34.30044
34.30044
26.01913
45.95374
.
29.53613
48.70544
.
146.51470
.
28.65315
62.53134

RMS
Error

RMS %
Error

0.9482
2928
14527
16.8171
16.7472
29.9873
29.9873
79.6393
82.9647
133.8756
198.2812
150.3809
198.1371
150.7698
220.2288
139.0590
221.2862
4.7748
214.8671
0
144.4091
706.8753
5516
275.8130
414.1073
50.8452
1265
4443
0
4443
2586
1677
336.1902
718.0006
3211
3.1967

32.2326
28.7772
50.4988
226.3308
86.5385
68.2633
59.7126
42.3337
.
46.2005
59.8721
84.6293
84.6293
85.1528
85.1528
66.9164
60.6381
107.2957
107.2957
.
77.7435
47.9912
50.4988
50.4988
50.4988
50.4988
35.7505
72.8975
.
46.6544
57.3089
.
203.5666
.
33.2065
105.8986

309

Lampiran 13. Lanjutan


Theil Forecast Error Statistics
MSE Decomposition Proportions Inequality Coef
Variable

MSE

Corr
(R)

Bias
(UM)

Reg
(UR)

Dist
(UD)

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150

0.89902
8574059
211039609
282.81538
280.46780
899.23690
899.23690
6342
6883
17923
39315
22614
39258
22732
48501
19337
48968
22.79894
46168
0
20854
499673
30429119
76073
171485
2585
1601010
19738394
0
19738394
6685752
2811467
113024
515525
10308080
10.21862

0.704
0.294
0.719
0.245
0.465
0.519
0.804
0.117
0.169
0.192
0.397
0.402
0.504
0.409
0.561
0.438
0.495
0.439
0.439
.
0.422
0.748
0.761
0.761
0.754
0.719
0.812
0.736
.
0.985
0.571
0.499
0.358
0.131
0.871
0.608

0.021
0.033
0.000
0.001
0.000
0.000
0.000
0.040
0.062
0.074
0.028
0.118
0.098
0.133
0.104
0.003
0.017
0.002
0.002
.
0.067
0.025
0.001
0.001
0.001
0.000
0.005
0.004
.
0.004
0.628
0.002
0.003
0.008
0.357
0.006

0.002
0.003
0.004
0.000
0.015
0.000
0.001
0.049
0.083
0.064
0.000
0.013
0.011
0.009
0.017
0.023
0.001
0.003
0.003
.
0.012
0.015
0.022
0.022
0.024
0.004
0.006
0.026
.
0.021
0.000
0.002
0.018
0.185
0.023
0.022

0.977
0.963
0.996
0.999
0.985
1.000
0.999
0.911
0.856
0.862
0.972
0.870
0.891
0.858
0.880
0.974
0.982
0.996
0.996
.
0.920
0.960
0.977
0.977
0.975
0.996
0.989
0.970
.
0.975
0.372
0.996
0.979
0.807
0.620
0.971

Var Covar
(US) (UC)
0.206
0.448
0.219
0.614
0.520
0.335
0.126
0.392
0.242
0.262
0.404
0.246
0.193
0.253
0.135
0.215
0.304
0.454
0.454
.
0.251
0.063
0.263
0.263
0.274
0.219
0.160
0.298
.
0.053
0.105
0.382
0.665
0.128
0.128
0.404

0.773
0.519
0.781
0.385
0.480
0.665
0.874
0.568
0.696
0.664
0.568
0.637
0.709
0.614
0.761
0.782
0.679
0.544
0.544
.
0.682
0.911
0.735
0.735
0.725
0.781
0.835
0.698
.
0.943
0.266
0.615
0.333
0.864
0.515
0.589

U1

0.3319
0.2758
0.4276
0.4126
0.4802
0.3723
0.2875
0.4745
0.5193
0.4244
0.5005
0.4414
0.4419
0.4453
0.4503
0.4106
0.4489
0.6121
0.6121
0.0000
0.4257
0.3484
0.4261
0.4261
0.4262
0.4276
0.3316
0.4772
0.0000
0.1544
0.5591
0.7686
0.7558
0.8817
0.3374
0.3855

0.1672
0.1441
0.2268
0.2170
0.2574
0.1937
0.1473
0.2620
0.2918
0.2331
0.2795
0.2132
0.2151
0.2142
0.2183
0.2105
0.2436
0.3394
0.3394
0.0000
0.2096
0.1735
0.2290
0.2290
0.2290
0.2268
0.1699
0.2630
0.0000
0.0786
0.3674
0.4660
0.4757
0.4803
0.1912
0.2052

310

Lampiran 13. Lanjutan


Theil Relative Change Forecast Error Statistics
Relative Change

MSE Decomposition Proportions Inequality Coef

Variable

MSE

Corr
(R)

Bias
(UM)

Reg
(UR)

Dist
(UD)

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149
149

0.18026
0.08271
0.34562
1.29301
0.85607
0.38181
0.20431
0.40346
.
0.29741
1.51236
0.62479
0.62497
0.61964
0.61978
0.52647
0.58076
1.63452
1.63452
.
0.56929
0.31076
0.34320
0.34320
0.34894
0.34562
0.21484
0.58718
.
0.29024
0.73494
.
6.74515
.
0.25801
0.84312

0.791
0.569
0.765
0.971
0.537
0.818
0.907
0.397
.
0.536
0.490
0.667
0.666
0.660
0.659
0.676
0.632
0.563
0.563
.
0.672
0.798
0.765
0.765
0.763
0.765
0.804
0.737
.
0.951
0.748
.
0.355
.
0.863
0.541

0.016
0.009
0.009
0.007
0.018
0.000
0.000
0.015
.
0.045
0.008
0.084
0.084
0.102
0.102
0.004
0.001
0.011
0.011
.
0.053
0.033
0.009
0.009
0.009
0.009
0.022
0.009
.
0.006
0.461
.
0.081
.
0.270
0.059

0.004
0.144
0.066
0.541
0.051
0.027
0.046
0.074
.
0.079
0.000
0.013
0.013
0.018
0.018
0.000
0.002
0.061
0.061
.
0.007
0.009
0.062
0.062
0.064
0.066
0.042
0.074
.
0.022
0.072
.
0.093
.
0.012
0.478

0.980
0.847
0.925
0.452
0.931
0.973
0.954
0.911
.
0.876
0.992
0.903
0.902
0.880
0.880
0.995
0.997
0.928
0.928
.
0.941
0.958
0.929
0.929
0.927
0.925
0.935
0.917
.
0.972
0.467
.
0.826
.
0.718
0.462

Var Covar
(US) (UC)
0.159
0.010
0.009
0.668
0.092
0.227
0.185
0.126
.
0.055
0.362
0.095
0.096
0.084
0.084
0.174
0.183
0.068
0.068
.
0.121
0.055
0.010
0.010
0.010
0.009
0.013
0.010
.
0.000
0.279
.
0.104
.
0.116
0.103

0.825
0.981
0.982
0.325
0.890
0.773
0.815
0.859
.
0.900
0.630
0.820
0.820
0.815
0.814
0.821
0.817
0.921
0.921
.
0.826
0.913
0.981
0.981
0.981
0.982
0.965
0.981
.
0.993
0.260
.
0.815
.
0.614
0.838

U1

0.6059
0.8825
0.6517
0.3519
0.8488
0.5714
0.4204
0.9391
.
0.8792
0.8577
0.7667
0.7670
0.7834
0.7839
0.7221
0.7588
0.8221
0.8221
.
0.7462
0.5984
0.6502
0.6502
0.6523
0.6517
0.5977
0.6842
.
0.2997
0.9482
.
1.0095
.
0.5787
1.2169

0.3387
0.4644
0.3330
0.2056
0.4726
0.3288
0.2303
0.5687
.
0.4967
0.5795
0.4126
0.4127
0.4167
0.4169
0.4191
0.4516
0.4490
0.4490
.
0.4117
0.3149
0.3329
0.3329
0.3339
0.3330
0.3049
0.3504
.
0.1495
0.5784
.
0.5573
.
0.3261
0.4958

NOTE: Percent error statistics for 5 variables were set to missing values because an
actual

311

Lampiran 13. Lanjutan


2. Pola Perusahaan Inti Rakyat-Transmigrasi (Pola PIR-Trans)
Descriptive Statistics
Actual

Predicted

Variable

Nobs

Mean

Std

Mean

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131

131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131

2.2595
16013
36327
21.4885
13.0229
37.1908
41.2214
139.5115
44.7328
202.1069
1141
383.2061
432.8244
387.7863
600.9733
393.8931
717.8626
4.8130
161.9359
64.4656
388.9596
2013
14427
721.3718
1072
176.5626
4684
9743
2389
12132
3568
987.1450
299.4656
957.7008
7841
3.6947

0.7705
3629
16193
14.6804
5.2645
17.0276
20.0259
103.1725
80.2991
156.6596
842.5076
149.0819
171.8008
149.9156
257.2896
175.5511
300.8961
2.0299
69.8396
240.7235
156.5246
772.3481
6362
318.0933
476.1072
81.7041
2508
5314
4024
6442
813.0634
1690
224.4148
1507
5155
1.3179

2.3015
15981
37109
25.8921
15.0918
43.6633
47.6938
112.0314
70.5886
200.4826
810.0548
428.0627
484.0509
436.1087
676.6979
405.0485
458.2350
5.2725
178.0376
64.4656
421.0260
1896
14758
737.9078
1098
180.1565
4614
10145
2389
12534
1815
921.9197
306.6565
897.7554
5969
3.6981

Std
0.6431
650.2619
12500
5.5450
2.4894
10.1738
15.2165
14.2994
25.9608
70.0020
247.2289
75.6365
94.7705
76.0685
169.1902
88.8176
107.8995
1.5636
52.5810
240.7235
81.8909
517.5790
5051
252.5457
386.6925
67.3549
2065
4657
4024
6369
405.7398
398.3547
91.7258
573.8958
3675
0.6036

312

Lampiran 13. Lanjutan


Statistics of Fit

Variable
LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

Mean
N
Error
131
0.0419
131 -31.9047
131 782.2935
131
4.4035
131
2.0689
131
6.4724
131
6.4724
131 -27.4801
131
25.8558
131
-1.6242
131 -330.8994
131
44.8566
131
51.2265
131
48.3224
131
75.7247
131
11.1554
131 -259.6276
131
0.4596
131
16.1017
131
0
131
32.0664
131 -116.5747
131 330.7204
131
16.5360
131
25.7145
131
3.5939
131 -70.7303
131 401.4507
131
0
131 401.4507
131
-1753
131 -65.2254
131
7.1908
131 -59.9454
131
-1871
131 0.003397

Mean %
Error
7.0609
4.5360
13.0336
217.1467
26.9187
39.5392
35.1994
63.7421
.
106.4645
-4.2797
30.2949
30.2949
30.8949
30.8949
21.3333
-25.0523
30.3561
30.3561
.
26.5055
5.1909
13.0336
13.0336
13.0336
13.0336
6.1406
29.5045
.
16.8807
-47.6277
.
105.3811
.
-19.9516
12.6537

Mean Abs Mean Abs %


Error
Error
0.5107
21.11875
2862
18.08703
11607
31.84634
10.2599 231.38530
4.4446
36.29560
12.1050
48.69445
12.1050
43.99927
76.9895 103.17971
62.3063
.
103.0451 133.83992
497.1068
38.77755
121.3751
43.78233
137.6238
43.78233
119.0550
42.89300
185.4400
42.89300
132.5968
42.79878
292.9459
36.95509
1.8126
47.81282
61.4190
47.81282
0
.
123.9551
42.78547
585.3004
32.67806
4601
31.84634
230.0419
31.84634
341.3840
31.84634
56.3124
31.84634
1065
25.88597
3731
50.42040
0
.
3731
35.54155
1756
47.74626
934.2302
.
201.1097 139.53706
845.1691
.
2105
24.60542
0.9866
30.23062

RMS
Error
0.7980
3689
17999
12.9575
6.3164
15.5967
15.5967
105.5977
81.5048
128.4648
807.5069
154.7870
175.5755
153.9473
239.9284
170.7682
397.6080
2.5158
85.1697
0
156.4944
719.0124
7074
353.6853
525.5641
87.6629
1479
5759
0
5759
1910
1625
233.3606
1459
3060
1.3510

RMS %
Error
31.4982
22.4773
47.3853
586.5172
50.5362
73.3383
66.3193
239.2876
.
385.5632
48.7894
74.8262
74.8262
75.1847
75.1847
68.8098
46.9986
76.8337
76.8337
.
72.0034
48.5266
47.3853
47.3853
47.3853
47.3853
36.8850
130.2578
.
57.2915
49.3435
.
233.5910
.
29.1305
43.8534

313

Lampiran 13. Lanjutan


Theil Forecast Error Statistics
MSE Decomposition Proportions Inequality Coef
Variable

MSE

Corr
(R)

Bias
(UM)

Reg
(UR)

Dist
(UD)

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131

0.63682
13611218
323975530
167.89592
39.89733
243.25574
243.25574
11151
6643
16503
652067
23959
30827
23700
57566
29162
158092
6.32926
7254
0
24490
516979
50037311
125093
276218
7685
2186271
33171822
0
33171822
3649748
2642026
54457
2129732
9360908
1.82533

0.371
-.026
0.229
0.593
-.075
0.550
0.705
0.127
0.264
0.584
0.538
0.259
0.309
0.295
0.489
0.303
0.166
0.063
0.081
.
0.295
0.447
0.244
0.244
0.268
0.316
0.807
0.337
.
0.595
0.372
0.265
0.096
0.264
0.902
0.165

0.003
0.000
0.002
0.115
0.107
0.172
0.172
0.068
0.101
0.000
0.168
0.084
0.085
0.099
0.100
0.004
0.426
0.033
0.036
.
0.042
0.026
0.002
0.002
0.002
0.002
0.002
0.005
.
0.005
0.842
0.002
0.001
0.002
0.374
0.000

0.199
0.040
0.237
0.059
0.207
0.003
0.005
0.000
0.003
0.028
0.065
0.057
0.056
0.042
0.032
0.043
0.021
0.323
0.301
.
0.052
0.057
0.243
0.243
0.242
0.223
0.001
0.246
.
0.193
0.003
0.001
0.090
0.014
0.101
0.081

0.798
0.960
0.761
0.825
0.685
0.825
0.823
0.932
0.896
0.972
0.767
0.859
0.859
0.859
0.868
0.953
0.553
0.643
0.663
.
0.906
0.917
0.755
0.755
0.756
0.776
0.997
0.749
.
0.802
0.155
0.997
0.909
0.984
0.525
0.919

Var Covar
(US) (UC)
0.025
0.647
0.042
0.493
0.192
0.192
0.094
0.703
0.441
0.452
0.539
0.223
0.191
0.228
0.134
0.256
0.234
0.034
0.041
.
0.226
0.125
0.034
0.034
0.029
0.027
0.089
0.013
.
0.000
0.045
0.627
0.321
0.405
0.232
0.277

0.972
0.353
0.956
0.391
0.701
0.636
0.733
0.229
0.458
0.548
0.293
0.693
0.724
0.673
0.767
0.740
0.340
0.933
0.924
.
0.732
0.849
0.964
0.964
0.969
0.972
0.909
0.982
.
0.995
0.113
0.372
0.678
0.593
0.394
0.723

U1

0.3344
0.2247
0.4528
0.4985
0.4499
0.3816
0.3406
0.6094
0.8893
0.5031
0.5701
0.3766
0.3772
0.3705
0.3672
0.3962
0.5111
0.4819
0.4832
0.0000
0.3735
0.3336
0.4489
0.4489
0.4482
0.4509
0.2785
0.5194
0.0000
0.4196
0.5221
0.8329
0.6244
0.8197
0.3264
0.3446

0.1671
0.1138
0.2282
0.2470
0.2153
0.1820
0.1627
0.3689
0.4886
0.2747
0.3568
0.1830
0.1832
0.1794
0.1776
0.2020
0.3184
0.2347
0.2354
0.0000
0.1846
0.1745
0.2256
0.2256
0.2250
0.2267
0.1427
0.2589
0.0000
0.2074
0.3462
0.5500
0.3364
0.5130
0.1868
0.1762

314

Lampiran 13. Lanjutan


Theil Relative Change Forecast Error Statistics
Relative Change

MSE Decomposition Proportions Inequality Coef

Variable

MSE

Corr
(R)

Bias
(UM)

Reg
(UR)

Dist
(UD)

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130
130

0.14073
0.05445
0.36218
16.71801
0.25073
0.51700
0.43076
4.93064
.
8.60823
1.27699
0.33512
0.33546
0.33569
0.33642
0.31635
0.29633
0.56475
0.56404
.
0.31664
0.16252
0.36210
0.36210
0.36134
0.53229
0.15665
0.96407
.
0.48721
0.29747
.
5.56810
.
0.14701
0.24613

0.558
0.483
0.452
0.715
0.474
0.528
0.743
0.612
.
0.649
0.660
0.680
0.681
0.686
0.689
0.634
0.600
0.611
0.609
.
0.669
0.711
0.454
0.454
0.453
0.585
0.705
0.718
.
0.789
0.684
.
0.507
.
0.848
0.569

0.003
0.007
0.008
0.109
0.147
0.149
0.132
0.001
.
0.018
0.067
0.158
0.159
0.166
0.167
0.056
0.384
0.049
0.050
.
0.115
0.000
0.008
0.008
0.008
0.012
0.002
0.010
.
0.020
0.845
.
0.067
.
0.413
0.004

0.151
0.224
0.256
0.700
0.202
0.197
0.083
0.230
.
0.510
0.060
0.447
0.448
0.448
0.450
0.427
0.040
0.323
0.310
.
0.447
0.300
0.254
0.254
0.252
0.477
0.208
0.261
.
0.437
0.002
.
0.378
.
0.004
0.035

0.846
0.769
0.737
0.191
0.651
0.654
0.785
0.768
.
0.472
0.873
0.395
0.393
0.386
0.383
0.517
0.575
0.628
0.641
.
0.439
0.700
0.738
0.738
0.740
0.512
0.790
0.729
.
0.543
0.153
.
0.555
.
0.583
0.960

Var Covar
(US) (UC)
0.010
0.002
0.000
0.434
0.001
0.000
0.003
0.002
.
0.158
0.445
0.156
0.157
0.161
0.164
0.098
0.032
0.032
0.026
.
0.140
0.041
0.000
0.000
0.001
0.105
0.007
0.027
.
0.166
0.046
.
0.036
.
0.081
0.106

0.987
0.991
0.992
0.456
0.852
0.851
0.866
0.996
.
0.825
0.488
0.686
0.684
0.673
0.668
0.846
0.584
0.919
0.924
.
0.746
0.959
0.992
0.992
0.992
0.883
0.990
0.963
.
0.813
0.110
.
0.897
.
0.506
0.890

U1

0.8919
0.9917
1.0224
1.5278
1.0797
1.0306
0.7387
0.8608
.
1.0571
0.7864
1.1462
1.1480
1.1514
1.1511
1.0555
1.0364
0.9753
0.9688
.
1.1021
0.8284
1.0205
1.0205
1.0187
1.1105
0.7841
0.8011
.
0.8118
1.8475
.
1.1188
.
0.6805
0.8271

0.4644
0.5032
0.5117
0.4898
0.5124
0.4814
0.3598
0.4237
.
0.4327
0.5411
0.4457
0.4458
0.4452
0.4442
0.4427
0.5404
0.4376
0.4380
.
0.4404
0.3826
0.5107
0.5107
0.5106
0.4671
0.3781
0.3733
.
0.3456
0.6902
.
0.4869
.
0.3743
0.4726

NOTE: Percent error statistics for 10 variables were set to missing values because an
actual

315

Lampiran 13. Lanjutan


3. Pola Perusahaan Inti Rakyat-Kredit Usaha Kecil (Pola PIR-KUK)
Solution Range N = 282 To 349
Descriptive Statistics
Actual

Predicted

Variable

Nobs

Mean

Std

Mean

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68

68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68

2.3824
6679
15975
24.2794
13.4559
42.9265
44.2500
107.6765
83.0735
210.7500
411.3634
238.2353
262.0588
238.9706
334.5588
220.9559
441.9118
5.7647
185.4118
19.8529
230.7843
1279
5603
280.1596
505.6397
84.9132
3867
1736
4241
5977
3425
840.2941
140.4412
0
5208
6.0735

1.6302
1095
12160
12.1788
8.8460
21.1740
21.2022
148.9736
106.3612
210.0236
325.1287
211.2273
232.3501
211.3559
295.8982
216.7695
433.5389
4.9509
123.9620
112.2330
212.7113
1074
3858
192.8974
430.8833
92.7742
2854
1221
4038
3904
1313
1162
146.4142
0
2101
1.3194

1.8992
7971
15234
17.0549
9.7886
32.0347
33.3582
102.1499
78.1455
200.2953
484.6590
259.7274
285.7001
268.8373
376.3722
214.8723
236.3595
4.3085
141.1032
19.8529
242.6260
1094
5515
275.7643
474.1508
77.5772
3640
1876
4241
6116
1783
915.9293
159.4333
-53.4438
3607
5.7269

Std
0.3484
892.9316
3911
2.0681
2.5988
9.6843
10.9239
13.7010
23.3905
68.6110
139.0247
31.1802
34.2983
30.6859
42.9602
36.9595
40.6555
0.9333
28.4125
112.2330
31.5976
185.7301
2174
108.6876
128.1314
42.8539
1351
1830
4038
4376
530.0034
385.2222
45.5408
254.3303
1605
1.3983

316

Lampiran 13. Lanjutan


Statistics of Fit

Variable

Mean
Error

Mean %
Error

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68

-0.4831
1293
-741.0117
-7.2245
-3.6673
-10.8918
-10.8918
-5.5266
-4.9281
-10.4547
73.2956
21.4921
23.6413
29.8667
41.8134
-6.0836
-205.5523
-1.4562
-44.3086
0
11.8417
-184.4062
-87.9053
-4.3953
-31.4889
-7.3360
-227.6264
139.7211
0
139.7211
-1642
75.6352
18.9921
-53.4438
-1601
-0.3467

-11.8627
21.5113
7.1969
2.2648
-12.3200
-16.0103
-16.6347
426.8496
.
267.6777
42.7597
36.9359
36.9359
41.9170
41.9170
34.1766
-26.2029
-9.6029
-9.6029
.
34.0817
3.6461
7.1969
7.1969
7.1969
7.1969
0.9172
149.0320
.
9.2885
-38.9734
.
64.5077
.
-27.1027
-3.0123

Mean Abs Mean Abs %


Error
Error
0.5653
1566
4400
11.0218
4.4587
14.6894
14.6894
92.2274
80.6720
132.7942
194.5590
95.7211
105.2932
101.3502
141.8903
88.1056
227.5817
2.1125
65.3093
0
89.3682
409.0012
1531
76.5387
145.1995
26.0697
556.4134
1180
0
1180
1801
744.5571
99.2776
137.2424
1778
1.3566

15.97054
23.91732
21.51911
55.54313
31.15937
32.12822
30.85527
457.67848
.
299.58908
53.62072
46.60301
46.60301
50.78046
50.78046
50.90317
43.78601
29.32723
29.32723
.
45.09440
27.32649
21.51911
21.51911
21.51911
21.51911
10.22757
187.73100
.
27.29886
49.44784
.
82.18922
.
32.49188
21.80619

RMS
Error

RMS %
Error

1.5917
1894
11641
13.8562
9.8948
20.3366
20.3366
148.0687
103.6369
181.5989
316.0722
200.5154
220.5670
201.8458
282.5842
203.7943
464.2681
4.9576
129.1896
0
200.1930
1031
3615
180.7558
404.7808
79.3666
1651
2127
0
2127
2091
1052
146.3083
258.0483
2244
1.6708

21.4161
29.4802
28.6050
102.7632
62.9956
36.5951
34.5910
790.1881
.
708.9294
70.4264
71.9827
71.9827
78.0489
78.0489
86.2968
50.8529
35.4104
35.4104
.
69.2298
36.4270
28.6050
28.6050
28.6050
28.6050
13.7389
1027
.
44.6763
52.7620
.
103.4241
.
37.6230
25.8459

317

Lampiran 13. Lanjutan


Theil Forecast Error Statistics
MSE Decomposition Proportions Inequality Coef
Variable

MSE

Corr
(R)

Bias
(UM)

Reg
(UR)

Dist
(UD)

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68

2.53358
3585700
135503999
191.99444
97.90623
413.57543
413.57543
21924
10741
32978
99902
40206
48650
40742
79854
41532
215545
24.57799
16690
0
40077
1063559
13069061
32673
163847
6299
2725218
4523562
0
4523562
4370964
1105834
21406
66589
5036490
2.79144

0.391
0.028
0.275
0.213
-.015
0.592
0.582
0.039
0.198
0.536
0.322
0.399
0.399
0.398
0.398
0.389
0.389
0.280
0.174
.
0.425
0.360
0.379
0.379
0.333
0.516
0.941
0.060
.
0.873
0.220
0.426
0.161
.
0.665
0.267

0.092
0.466
0.004
0.272
0.137
0.287
0.287
0.001
0.002
0.003
0.054
0.011
0.011
0.022
0.022
0.001
0.196
0.086
0.118
.
0.003
0.032
0.001
0.001
0.006
0.009
0.019
0.004
.
0.004
0.617
0.005
0.017
.
0.509
0.043

0.033
0.205
0.002
0.001
0.075
0.019
0.005
0.003
0.001
0.058
0.012
0.069
0.069
0.069
0.069
0.053
0.075
0.008
0.003
.
0.085
0.037
0.038
0.038
0.001
0.004
0.645
0.672
.
0.204
0.013
0.011
0.022
.
0.008
0.386

0.875
0.329
0.994
0.727
0.787
0.694
0.708
0.996
0.997
0.939
0.935
0.920
0.920
0.909
0.909
0.946
0.729
0.905
0.880
.
0.912
0.931
0.961
0.961
0.993
0.987
0.336
0.324
.
0.791
0.370
0.984
0.961
.
0.482
0.571

Var Covar
(US) (UC)
0.639
0.011
0.495
0.525
0.393
0.315
0.252
0.822
0.632
0.597
0.342
0.794
0.794
0.789
0.789
0.767
0.706
0.647
0.539
.
0.806
0.731
0.214
0.214
0.551
0.390
0.817
0.081
.
0.049
0.138
0.537
0.468
.
0.048
0.002

0.269
0.523
0.501
0.204
0.470
0.399
0.461
0.176
0.366
0.399
0.605
0.194
0.194
0.189
0.189
0.232
0.098
0.267
0.343
.
0.190
0.237
0.786
0.786
0.443
0.602
0.164
0.915
.
0.947
0.245
0.458
0.515
.
0.443
0.955

U1

0.5527
0.2798
0.5814
0.5109
0.6158
0.4255
0.4150
0.8095
0.7714
0.6126
0.6045
0.6318
0.6318
0.6347
0.6347
0.6608
0.7527
0.6545
0.5806
0.0000
0.6400
0.6194
0.5327
0.5327
0.6112
0.6336
0.3443
1.0046
0.0000
0.2986
0.5705
0.7370
0.7239
.
0.4000
0.2689

0.3309
0.1281
0.3257
0.3128
0.3778
0.2503
0.2419
0.5178
0.4801
0.3575
0.3078
0.3464
0.3464
0.3430
0.3430
0.3872
0.5420
0.4138
0.3526
0.0000
0.3591
0.3717
0.2845
0.2845
0.3510
0.3713
0.1903
0.4498
0.0000
0.1454
0.3785
0.4347
0.3978
.
0.2349
0.1380

318

Lampiran 13. Lanjutan


Theil Relative Change Forecast Error Statistics
Relative Change

MSE Decomposition Proportions Inequality Coef

Variable

MSE

Corr
(R)

Bias
(UM)

Reg
(UR)

Dist
(UD)

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67
67

0.63407
0.08447
0.70436
0.59076
1.01741
0.33758
0.32956
73.41817
.
45.25695
2.22125
0.91436
0.91436
0.96420
0.96420
1.06308
1.01193
0.76096
0.46424
.
0.89580
0.35216
0.67608
0.67608
0.73946
0.71400
0.16299
16275
.
1.96397
0.41615
.
0.92032
.
0.25415
0.07533

0.433
0.346
0.353
0.788
0.816
0.731
0.758
0.421
.
0.647
0.513
0.258
0.258
0.255
0.255
0.312
0.312
0.297
0.304
.
0.260
0.315
0.396
0.396
0.386
0.750
0.879
-1.00
.
0.364
0.632
.
0.445
.
0.815
0.377

0.087
0.491
0.003
0.103
0.133
0.199
0.198
0.041
.
0.005
0.017
0.057
0.057
0.078
0.078
0.026
0.201
0.079
0.104
.
0.043
0.010
0.003
0.003
0.004
0.003
0.012
0.015
.
0.005
0.570
.
0.423
.
0.456
0.025

0.026
0.252
0.003
0.122
0.187
0.011
0.026
0.121
.
0.032
0.009
0.164
0.164
0.180
0.180
0.233
0.020
0.017
0.054
.
0.154
0.113
0.008
0.008
0.001
0.007
0.319
0.985
.
0.394
0.003
.
0.421
.
0.001
0.580

0.886
0.257
0.993
0.775
0.680
0.790
0.775
0.838
.
0.962
0.975
0.780
0.780
0.742
0.742
0.741
0.779
0.904
0.842
.
0.803
0.877
0.989
0.989
0.995
0.990
0.668
0.000
.
0.601
0.427
.
0.156
.
0.543
0.395

Var Covar
(US) (UC)
0.569
0.022
0.400
0.002
0.484
0.208
0.239
0.056
.
0.075
0.426
0.075
0.075
0.058
0.058
0.020
0.247
0.326
0.193
.
0.087
0.115
0.317
0.317
0.393
0.087
0.597
0.003
.
0.010
0.068
.
0.163
.
0.045
0.115

0.343
0.486
0.597
0.895
0.384
0.593
0.563
0.903
.
0.920
0.557
0.868
0.868
0.864
0.864
0.955
0.552
0.594
0.703
.
0.870
0.875
0.680
0.680
0.603
0.909
0.391
0.982
.
0.985
0.363
.
0.414
.
0.499
0.861

U1

0.9439
1.8481
0.9254
0.6760
0.6902
0.7549
0.7299
0.9491
.
0.7488
0.8546
1.0754
1.0754
1.1029
1.1029
1.0779
1.0517
0.9850
1.0143
.
1.0581
0.9928
0.9090
0.9090
0.9112
0.6509
0.5741
1.8880
.
1.1648
1.1603
.
2.2616
.
0.7686
1.4647

0.7286
0.6456
0.6532
0.3381
0.4574
0.4556
0.4433
0.5061
.
0.4104
0.5630
0.5916
0.5916
0.5891
0.5891
0.5641
0.6907
0.6908
0.6568
.
0.5931
0.6013
0.6105
0.6105
0.6375
0.3608
0.3698
0.9999
.
0.5556
0.5941
.
0.6573
.
0.4113
0.5869

NOTE: Percent error statistics for 15 variables were set to missing values because an
actual

319

Lampiran 14. Program Komputer Validasi dengan Menghitung Koefisien


Determinasi (R2) pada Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma
Kelapa Sawit untuk Ketiga Pola PIR Menggunakan SAS/ETS Versi
6.12 Metode OLS
DATA R1;
SET D.LAILA (OBS=349);
BTKUKS = (CTKUKS*UPAHKS)/1000;
BPRKS = BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS ;
BPTKS = BADMS + BCKKS + BTRANS + BMKUD + BPRKS;
PDPTKS = NPTKS - BPTKS ;
PDPTLKS = PDPTLPG + PDPTNUT + PDPTTRNK + PDPTKRT;
IF DPIRKS1=0 AND DPIRKS2=1 THEN POLA=1;
IF DPIRKS1=1 AND DPIRKS2=0 THEN POLA=2;
IF DPIRKS1=0 AND DPIRKS2=0 THEN POLA=3;
ALAKS
= LAKS;
AYKKS
= YKKS;
AQTKS
= QTKS ;
ACTKKSPP = CTKKSPP;
ACTKKSIP = CTKKSIP;
ACTKKS = CTKKS ;
ATCTKKS = TCTKKS;
ACTKLKSP = CTKLKSPP;
ACTKLKSI = CTKLKSIP;
ACTKLKS = CTKLKS;
AYTKKS = YTKKS;
AQIPN
= QIPN;
ABIPN
= BIPN;
AQIPP
= QIPP;
ABIPP
= BIPP;
AQIPK
= QIPK;
ABIPK
= BIPK;
AQIPD
= QIPD;
ABIPD
= BIPD;
ABTKUKS = BTKUKS;
AQIP
= QIP ;
ABTRANS = BTRANS;
ABMKUD = BMKUD;
ABPRKS
= BPRKS;
ANPTKS
= NPTKS;
ABADMS = BADMS;
ABPTKS
= BPTKS;
APDPTKS = PDPTKS;
APDPTLKS = PDPTLKS;
APDPTKP = PDPTKP;
AKONSPNG= KONSPNG;
AINVSPEN = INVSPEND;
AINVSKES = INVSKES;
AASURANS = ASURANSI;
ATPENGKP = TPENGKP;
APLUNKRE = PLUNKRED;
KEEP N POLA KAB ALAKS AYKKS AQTKS ACTKKSPP ACTKKSIP ACTKKS ATCTKKS ACTKLKSP
ACTKLKSI ACTKLKS AYTKKS AQIPN ABIPN AQIPP ABIPP AQIPK ABIPK
AQIPD ABIPD ABTKUKS AQIP ABTRANS ABMKUD ABPRKS ANPTKS ABADMS ABPTKS APDPTKS
APDPTLKS APDPTKP AKONSPNG AINVSPEN AINVSKES AASURANS ATPENGKP APLUNKRE;
RUN;
DATA R2;
SET D.HS;

320

Lampiran 14. Lanjutan


BTKUKS = (CTKUKS*UPAHKS)/1000;
BPRKS = BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS ;
BPTKS = BADMS + BCKKS + BTRANS + BMKUD + BPRKS;
PDPTKS = NPTKS - BPTKS ;
PDPTLKS = PDPTLPG + PDPTNUT + PDPTTRNK + PDPTKRT;
PLAKS
= LAKS;
PYKKS
= YKKS;
PQTKS
= QTKS;
PCTKKSPP = CTKKSPP;
PCTKKSIP = CTKKSIP;
PCTKKS
= CTKKS ;
PTCTKKS
= TCTKKS ;
PCTKLKSP = CTKLKSPP;
PCTKLKSI = CTKLKSIP ;
PCTKLKS
= CTKLKS ;
PYTKKS
= YTKKS ;
PQIPN
= QIPN ;
PBIPN
= BIPN ;
PQIPP
= QIPP ;
PBIPP
= BIPP ;
PQIPK
= QIPK ;
PBIPK
= BIPK ;
PQIPD
= QIPD ;
PBIPD
= BIPD ;
PBTKUKS = BTKUKS;
PQIP
= QIP ;
PBTRANS = BTRANS;
PBMKUD
= BMKUD ;
PBPRKS
= BPRKS ;
PNPTKS
= NPTKS ;
PBADMS
= BADMS;
PBPTKS
= BPTKS;
PPDPTKS = PDPTKS ;
PPDPTLKS = PDPTLKS;
PPDPTKP = PDPTKP ;
PKONSPNG = KONSPNG;
PINVSPEN = INVSPEND;
PINVSKES = INVSKES ;
PASURANS = ASURANSI;
PTPENGKP = TPENGKP ;
PPLUNKRE = PLUNKRED ;
KEEP N PLAKS PYKKS PQTKS PCTKKSPP PCTKKSIP PCTKKS PTCTKKS PCTKLKSP
PCTKLKSI PCTKLKS PYTKKS PQIPN PBIPN PQIPP PBIPP PQIPK PBIPK
PQIPD PBIPD PBTKUKS PQIP PBTRANS PBMKUD PBPRKS PNPTKS PBADMS PBPTKS PPDPTKS
PPDPTLKS PPDPTKP PKONSPNG PINVSPEN PINVSKES PASURANS PTPENGKP PPLUNKRE;
RUN;
PROC SORT DATA=R1; BY N; RUN;
PROC SORT DATA=R2; BY N; RUN;
DATA RR;
MERGE R1 R2; BY N;
RUN;
PROC SORT DATA=RR; BY POLA ;RUN;
PROC MODEL DATA=RR;

321

Lampiran 14. Lanjutan


ALAKS
=A10+A11*PLAKS;
AYKKS
=A20+A21*PYKKS;
AQTKS
=A30+A31*PQTKS;
ACTKKSPP=A40+A41*PCTKKSPP;
ACTKKSIP =A50+A51*PCTKKSIP;
ACTKKS =A60+A61*PCTKKS;
ATCTKKS =A70+A71*PTCTKKS;
ACTKLKSP=A80+A81*PCTKLKSP;
ACTKLKSI =A90+A91*PCTKLKSI;
ACTKLKS =A100+A101*PCTKLKS;
AYTKKS =A110+A111*PYTKKS;
AQIPN
=A120+A121*PQIPN;
ABIPN
=A130+A131*PBIPN;
AQIPP
=A140+A141*PQIPP;
ABIPP
=A150+A151*PBIPP;
AQIPK
=A160+A161*PQIPK;
ABIPK
=A170+A171*PBIPK;
AQIPD
=A180+A181*PQIPD;
ABIPD
=A190+A191*PBIPD;
ABTKUKS =A200+A201*PBTKUKS;
AQIP
=A210+A211*PQIP;
ABTRANS =A220+A221*PBTRANS;
ABMKUD =A230+A231*PBMKUD;
ABPRKS =A240+A241*PBPRKS;
ANPTKS =A250+A251*PNPTKS;
ABADMS =A260+A261*PBADMS;
ABPTKS
=A270+A271*PBPTKS;
APDPTKS =A280+A281*PPDPTKS;
APDPTLKS =A290+A291*PPDPTLKS;
APDPTKP =A300+A301*PPDPTKP;
AKONSPNG=A310+A311*PKONSPNG;
AINVSPEN =A320+A321*PINVSPEN;
AINVSKES =A330+A331*PINVSKES;
AASURANS=A340+A341*PASURANS;
ATPENGKP =A350+A351*PTPENGKP;
APLUNKRE =A360+A361*PPLUNKRE;
FIT ALAKS AYKKS AQTKS ACTKKSPP ACTKKSIP ACTKKS ATCTKKS ACTKLKSP
ACTKLKSI ACTKLKS AYTKKS AQIPN ABIPN AQIPP ABIPP AQIPK ABIPK
AQIPD ABIPD ABTKUKS AQIP ABTRANS ABMKUD ABPRKS ANPTKS ABADMS ABPTKS
APDPTKS APDPTLKS APDPTKP AKONSPNG AINVSPEN AINVSKES AASURANS ATPENGKP APLUNKRE;
BY POLA;
RUN;
QUIT;

322

Lampiran 15. Hasil Validasi dengan Menghitung Koefisien Determinasi (R 2) pada


Model Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit untuk
Ketiga Pola PIR Menggunakan SAS/ETS Versi 6.12 Metode OLS

1. Pola Perusahaan Inti Rakyat Khusus (Pola PIR-Sus)


OLS Estimation
Nonlinear OLS Summary of Residual Errors

Equation
ALAKS
AYKKS
AQTKS
ACTKKSPP
ACTKKSIP
ACTKKS
ATCTKKS
ACTKLKSP
ACTKLKSI
ACTKLKS
AYTKKS
AQIPN
ABIPN
AQIPP
ABIPP
AQIPK
ABIPK
AQIPD
ABIPD
ABTKUKS
AQIP
ABTRANS
ABMKUD
ABPRKS
ANPTKS
ABADMS
ABPTKS
APDPTKS
APDPTLKS
APDPTKP
AKONSPNG
AINVSPEN
AINVSKES
AASURANS
ATPENGKP
APLUNKRE

DF
DF
Model Error
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298
298

SSE

MSE

Root MSE

R-Square

Adj R-Sq

129.22874
1371375918
3.35346E10
42222
41806
134221
134198
937665
974523
2553585
5823231
3148962
5545148
3145111
6823998
2878336
7306149
3369
6821805
0
2996611
26989931
410799
73020275
4814372289
212313818
672575239
2034469809
0
2033741556
596449206
422355867
16852904
70581313
1315820253
1725

0.43365
4601932.6
112532285
141.68359
140.28784
450.40643
450.32809
3146.5
3270.2
8569.1
19541.0
10567.0
18607.9
10554.1
22899.3
9658.8
24517.3
11.30467
22892.0
0
10055.7
90570.2
1378.5
245034.5
16155612
712462.5
2256963.9
6827079.9
0
6824636.1
2001507.4
1417301.6
56553.4
236850.0
4415504.2
5.78863

0.65852
2145.2
10608.1
11.90309
11.84432
21.22278
21.22094
56.09391
57.18577
92.56930
139.78929
102.79585
136.41070
102.73298
151.32522
98.27943
156.57994
3.36224
151.30090
2.9504E-13
100.27831
300.94889
37.12843
495.00957
4019.4
844.07492
1502.3
2612.9
2.1612E-11
2612.4
1414.7
1190.5
237.80952
486.67242
2101.3
2.40596

0.7528
0.4944
0.7431
0.5319
0.6048
0.6365
0.8240
0.4664
0.4642
0.4693
0.5722
0.5527
0.6057
0.5525
0.6345
0.5884
0.6179
0.6009
0.6009
1.0000
0.5721
0.7676
0.7431
0.7762
0.7724
0.7724
0.8098
0.7427
1.0000
0.9891
0.4606
0.6222
0.5574
0.4444
0.7762
0.6349

0.7519
0.4927
0.7422
0.5303
0.6035
0.6352
0.8234
0.4646
0.4624
0.4675
0.5707
0.5512
0.6044
0.5510
0.6333
0.5870
0.6166
0.5995
0.5995
1.0000
0.5706
0.7668
0.7422
0.7754
0.7717
0.7717
0.8091
0.7418
1.0000
0.9890
0.4588
0.6209
0.5559
0.4425
0.7755
0.6337

323

Lampiran 15. Lanjutan


2. Pola Perusahaan Inti Rakyat Transmigrasi (Pola PIR-Trans)
OLS Estimation
Nonlinear OLS Summary of Residual Errors

Equation
ALAKS
AYKKS
AQTKS
ACTKKSPP
ACTKKSIP
ACTKKS
ATCTKKS
ACTKLKSP
ACTKLKSI
ACTKLKS
AYTKKS
AQIPN
ABIPN
AQIPP
ABIPP
AQIPK
ABIPK
AQIPD
ABIPD
ABTKUKS
AQIP
ABTRANS
ABMKUD
ABPRKS
ANPTKS
ABADMS
ABPTKS
APDPTKS
APDPTLKS
APDPTKP
AKONSPNG
AINVSPEN
AINVSKES
AASURANS
ATPENGKP
APLUNKRE

DF
DF
Model Error
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260
260

SSE

MSE

Root MSE

R-Square

Adj R-Sq

81.12586
1827519408
4.15329E10
20809
4542
28699
28671
1405666
822443
2148490
76571733
3028273
3887245
2986897
7253515
3870616
14719905
744.43746
861046
0
3181201
35031534
983052
66611768
6368952804
280870819
935560944
2687934443
0
2766402289
139494200
347959729
7197030
267348037
922466330
245.66230

0.31202
7028920.8
159741738
80.03496
17.46750
110.38010
110.27268
5406.4
3163.2
8263.4
294506.7
11647.2
14950.9
11488.1
27898.1
14887.0
56615.0
2.86322
3311.7
0
12235.4
134736.7
3781.0
256199.1
24495972
1080272.4
3598311.3
10338209
0
10640009
536516.2
1338306.7
27680.9
1028261.7
3547947.4
0.94486

0.55859
2651.2
12638.9
8.94623
4.17941
10.50619
10.50108
73.52827
56.24270
90.90337
542.68468
107.92222
122.27404
107.18239
167.02734
122.01223
237.93911
1.69211
57.54749
4.6092E-13
110.61370
367.06494
61.48959
506.16115
4949.3
1039.4
1896.9
3215.3
2.6229E-12
3261.9
732.47263
1156.9
166.37573
1014.0
1883.6
0.97204

0.4744
0.4663
0.3908
0.6286
0.3697
0.6193
0.7250
0.4921
0.5094
0.6633
0.5851
0.4760
0.4935
0.4888
0.5786
0.5169
0.3747
0.3051
0.3210
1.0000
0.5006
0.4056
0.4336
0.5705
0.3948
0.3948
0.6503
0.4640
1.0000
0.6798
0.1884
0.5314
0.4504
0.5470
0.5750
0.4560

0.4724
0.4643
0.3885
0.6272
0.3673
0.6178
0.7240
0.4901
0.5075
0.6620
0.5835
0.4739
0.4915
0.4869
0.5769
0.5151
0.3723
0.3025
0.3184
1.0000
0.4987
0.4033
0.4314
0.5689
0.3924
0.3924
0.6489
0.4619
1.0000
0.6785
0.1853
0.5296
0.4482
0.5453
0.5734
0.4539

324

Lampiran 15. Lanjutan


3. Pola Perusahaan Inti Rakyat Kredit Usaha Kecil (Pola PIR-KUK)

OLS Estimation
Nonlinear OLS Summary of Residual Errors

Equation
ALAKS
AYKKS
AQTKS
ACTKKSPP
ACTKKSIP
ACTKKS
ATCTKKS
ACTKLKSP
ACTKLKSI
ACTKLKS
AYTKKS
AQIPN
ABIPN
AQIPP
ABIPP
AQIPK
ABIPK
AQIPD
ABIPD
ABTKUKS
AQIP
ABTRANS
ABMKUD
ABPRKS
ANPTKS
ABADMS
ABPTKS
APDPTKS
APDPTLKS
APDPTKP
AKONSPNG
AINVSPEN
AINVSKES
AASURANS
ATPENGKP
APLUNKRE

DF
DF
Model Error
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2
2

134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134
134

SSE

MSE

Root MSE

R-Square

Adj R-Sq

171.00269
122952541
9594240003
11063
6070
24087
23989
1490193
730102
2227849
6725715
2764078
3344535
2784169
5456971
2865408
13241970
1654
1101655
0
2763171
11543702
438948
72249992
909603841
40113529
312322145
62400104
0
150222195
162006427
75509886
1472062
0
224297255
147.78990

1.27614
917556.3
71598806
82.56143
45.29883
179.75161
179.02552
11120.8
5448.5
16625.7
50191.9
20627.4
24959.2
20777.4
40723.7
21383.6
98820.7
12.34049
8221.3
0
20620.7
86147.0
3275.7
539179.0
6788088.4
299354.7
2330762.3
465672.4
0
1121061.2
1209003.2
563506.6
10985.5
0
1673860.1
1.10291

1.12966
957.89158
8461.6
9.08633
6.73044
13.40715
13.38004
105.45542
73.81409
128.94084
224.03550
143.62259
157.98485
144.14361
201.80106
146.23146
314.35755
3.51290
90.67144
1.3277E-13
143.59901
293.50815
57.23398
734.28812
2605.4
547.13316
1526.7
682.40195
3.5632E-12
1058.8
1099.5
750.67077
104.81193
0
1293.8
1.05020

0.5198
0.2353
0.5158
0.4434
0.4211
0.5991
0.6018
0.4989
0.5184
0.6231
0.5252
0.5377
0.5377
0.5349
0.5349
0.5449
0.4742
0.4965
0.4650
1.0000
0.5443
0.5360
0.6194
0.5327
0.5439
0.5439
0.8054
0.1616
1.0000
0.9262
0.2986
0.5824
0.4875
.
0.5497
0.3664

0.5162
0.2296
0.5121
0.4392
0.4168
0.5961
0.5988
0.4952
0.5148
0.6203
0.5216
0.5342
0.5342
0.5314
0.5314
0.5415
0.4703
0.4928
0.4610
1.0000
0.5409
0.5325
0.6166
0.5292
0.5405
0.5405
0.8039
0.1553
1.0000
0.9257
0.2934
0.5793
0.4837
.
0.5463
0.3617

325

Lampiran 16. Contoh Program Komputer Simulasi Skenario 1 : Harga Tandan


Buah Segar (HTBS) Dinaikkan Sebesar 15 Persen pada Model
Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa sawit dengan
Menggunakan SAS/ETS Versi 6.12 Prosedur SIMNLIN Metode
Seidel
PROC ACCESS DBMS=EXCEL;
PROC ACCESS DBMS=EXCEL;
CREATE WORK._IMEX_.ACCESS;
PATH='C:\Disertasi\Disertasi mama\Data-newPIR.xls';
GETNAMES YES;
SCANTYPE=YES;
CREATE WORK._IMEX_.VIEW;
SELECT ALL;
DATA WORK.analisis;
SET WORK._IMEX_;
RUN;
DATA SIMULASI;
SET LAILA;
IF DPIRKS1=0 AND DPIRKS2=1 THEN POLA=1;
IF DPIRKS1=1 AND DPIRKS2=0 THEN POLA=2;
IF DPIRKS1=0 AND DPIRKS2=0 THEN POLA=3;
BIPN
= (QIPN*HIPN)/1000;
BIPP
= (QIPP*HIPP)/1000;
BIPK
= (QIPK*HIPK)/1000;
BIPD
= (QIPD*HIPD)/1000;
BTKUKS = (CTKUKS * UPAHKS)/1000;
BPRKS
= BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS;
QTKS
= LAKS*YKKS;
BTRANS = (OATBS*QTKS)/1000;
BMKUD
= (FEEKUD*QTKS)/1000;
CTKKS
= CTKKSPP + CTKKSIP + CTKKSAN;
CTKLKS = CTKLKSPP + CTKLKSIP + CTKLKSAN;
TCTKKS = CTKKS + CTKUKS ;
YTKKS
= QTKS/TCTKKS ;
NPTKS
= (QTKS * HTBS)/1000;
BADMS
= 0.05*NPTKS;
BPTKS
= BADMS + BCKKS + BTRANS + BMKUD + BPRKS;
PDPTKS = NPTKS - BPTKS ;
PDPTLKS = PDPTLPG + PDPTNUT + PDPTTRNK + PDPTKRT;
PDPTKP = PDPTKS + PDPTLKS ;
TPENGKP = KONSPNG + KONSNPG + INVSPEND + INVSKES + INVSPROD + ASURANSI+TABUNGAN;
QIP
= (QIPN*HIPN + QIPP*HIPP + QIPK*HIPK)/(HIPN+HIPP+HIPK);

Skenario 1 (SIM 1): Menaikkkan Harga Tandan Buah Segar (HTBS) sebesar 15 persen:
HTBS = 1.15*HTBS;
RUN;
PROC SORT DATA=SIMULASI; BY POLA; RUN;
PROC SimNlin DATA=simulasi type=2sls seidel maxiter=1500 Stats Simulate Outpredict
Theil Out=D;

326

Lampiran 16. Lanjutan


ENDO LAKS YKKS QTKS CTKKSPP CTKKSIP CTKKS TCTKKS CTKLKSPP CTKLKSIP
CTKLKS YTKKS QIPN BIPN QIPP BIPP QIPK BIPK
QIPD BIPD BTKUKS QIP BPRKS NPTKS BADMS BTRANS BMKUD BPTKS
PDPTKS PDPTLKS PDPTKP KONSPNG INVSPEND INVSKES ASURANSI TPENGKP PLUNKRED;
EXO

UMPP UMIPP LPDPP LPDIPP PUTKS JAKP JASEKL JABALT


UTKS JBTKS JRKPKS ASETLHN LALKS HTBS
CTKKSAN CTKLKSAN CTKUKS UPAHKS UPAHINTI
OATBS FEEKUD HIPN HIPP HIPK HIPD BPALKS BCKKS
KONSNPG INVSPROD TABUNGAN NKKS PDPTLPG PDPTNUT
PDPTTRNK PDPTKRT DADPP DKSUPP DPIRKS1 DPIRKS2;

LAKS =

TCTKKS
ASETLHN
PDPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
DKSUPP

*
*
*
*
*
*

0.012655
0.000059205
0.000080672
-0.000023513
0.000049262
0.907658

YKKS =

HTBS
QIP
CTKKS
CTKUKS
JBTKS
YTKKS

*
*
*
*
*
*

14.468862
6.065497
12.762090
15.393833
1.221939
4.938497

CTKKSPP=UPAHKS
UPAHINTI
LAKS
UTKS
CTKKSAN
CTKUKS
UMPP
PUTKS
DADPP

*
*
*
*
*
*
*
*
*

0.000659
-0.000497
2.237535
1.845044
-0.012351
-0.099424
-0.063077
0.122672
-1.324501

CTKKSIP=LAKS
UTKS
CTKKSAN
CTKUKS
UMIPP
JABALT
PUTKS
DADPP

*
*
*
*
*
*
*
*

2.010297
1.486234
-0.010353
-0.063286
-0.156511
-3.251284
0.588503
-4.328727

+
+
+
+
+
+
+
;

CTKLKSPP=UPAHINTI
PDPTNUT
LALKS
TPENGKP
PUTKS
LPDPP

*
*
*
*
*
*

0.005079
0.002356
3.286873
0.001951
4.676081
1.096507

+
+
+
+
+
;

+
+
+
+
+
;
+
+
+
+
+
;
+
+
+
+
+
+
+
+
;

327

Lampiran 16. Lanjutan


CTKLKSIP=UPAHINTI
PDPTNUT
UPAHKS
LAKS
JABALT
PUTKS
LPDIPP
QIPN= HIPN/HTBS
UPAHKS
LAKS
UTKS
PDPTNUT
PDPTLPG
KONSPNG
INVSKES
DPIRKS1
QIPP = HIPP
UPAHKS
LAKS
UTKS
PDPTNUT
PDPTLPG
KONSPNG
INVSKES
DPIRKS1

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

0.001102 +
0.003748 +
-0.001287 +
-5.065189 +
-15.513576 +
6.974456 +
7.906389 ;
-11.081188 +
0.008232 +
90.350345 +
6.768053 +
0.001680 +
0.001483 +
-0.023723 +
-0.072343 +
98.095438 ;
-0.010178 +
0.008482 +
87.953180 +
5.786690 +
0.001235 +
0.001567 +
-0.025730 +
-0.067316 +
103.947562 ;

QIPK =

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

-0.093712
0.008385
0.288665
98.632993
0.001850
-0.004330
-0.080489
115.453501
-0.000038868
0.000028634
2.359321
0.048104
0.000085391
0.000033209
357.576363
0.027399
0.073536
0.012044
0.026828
0.031345
-0.053203
154.057719

HIPK
UPAHKS
HTBS
LAKS
PDPTNUT
KONSPNG
INVSKES
DPIRKS1
QIPD = HIPD
UPAHKS
LAKS
UTKS
PDPTNUT
PDPTLPG
KONSPNG = JAKP
PDPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
PDPTTRNK
PDPTKRT
ASURANSI
DADPP

+
+
+
+
+
+
+
;
+
+
+
+
+
;
+
+
+
+
+
+
+
;

328

Lampiran 16. Lanjutan


INVSPEND=JASEKL
PDPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
PDPTTRNK
INVSPROD
ASURANSI
INVSKES = JAKP
JABALT
PDPTKS
PDPTKRT
ASURANSI=NPTKS
PDPTLPG
PDPTNUT
PDPTKRT
INVSPEND
INVSPROD
BCKKS
PLUNKRED =NKKS
QTKS
HTBS
FEEKUD
TPENGKP
JRKPKS
CTKLKS
DPIRKS2
QTKS
=
CTKKS
=
TCTKKS =
CTKLKS =
YTKKS
=
BIPN
=
BIPP
=
BIPK
=
BIPD
=
BTKUKS =
QIP
=
BTRANS =
BMKUD
=
BPRKS
=
NPTKS
=
BADMS
=
BPTKS
=
PDPTKS =
PDPTLKS =
PDPTKP =
TPENGKP =
RANGE N 1
BY POLA;
RUN;
QUIT;

*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*

238.553352
0.046680
0.052510
0.072239
0.333389
-0.137273
-0.049379
24.186345
18.237876
0.019407
0.000665
0.077482
0.013919
0.024615
0.001262
-0.177096
-0.030675
-0.207440
0.000260
-0.000010193
-0.006895
0.171163
0.000040620
0.425815
0.004852
2.874036

+
+
+
+
+
+
;
+
+
+
;
+
+
+
+
+
+
;
+
+
+
+
+
+
+
;

LAKS * YKKS;
CTKKSPP + CTKKSIP + CTKKSAN;
CTKKS + CTKUKS;
CTKLKSPP + CTKLKSIP + CTKLKSAN;
QTKS/TCTKKS ;
(QIPN*HIPN)/1000;
(QIPP*HIPP)/1000;
(QIPK*HIPN)/1000;
(QIPD*HIPD)/1000;
(CTKUKS*UPAHKS)/1000;
(QIPN*HIPN + QIPP*HIPP + QIPK*HIPK)/(HIPN+HIPP+HIPK);
(OATBS*QTKS)/1000 ;
(FEEKUD*QTKS)/1000;
BIPN + BIPP + BIPK + BIPD + BTKUKS + BPALKS ;
(QTKS*HTBS)/1000;
0.05*NPTKS;
BADMS + BCKKS + BTRANS + BMKUD + BPRKS;
NPTKS - BPTKS ;
PDPTLPG + PDPTNUT + PDPTTRNK + PDPTKRT;
PDPTKS + PDPTLKS;
KONSPNG + KONSNPG + INVSPEND + INVSKES + INVSPROD + ASURANSI+TABUNGAN;
TO 349;

329

Lampiran 17. Contoh Hasil Simulasi Skenario 1 : Harga Tandan Buah Segar
(HTBS) Dinaikkan Sebesar 15 Persen pada Model Ekonomi
Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit dengan Menggunakan
SAS/ETS Versi 6.12 Prosedur SIMNLIN Metode Seidel

SIMNLIN Procedure
Model Summary
Model Variables
Endogenous
Exogenous
RANGE Variable
Equations

75
36
39
N
36

Number of Statements

36

SIMNLIN Procedure
Simultaneous Simulation

-------------------------------------------- POLA=1 --------------------------------WARNING: The end of the BY group within DATA=SIMULASI was reached at N=150 which is
before the specified RANGE limit N=349.
NOTE: Execution stopped at observation number 194 with N=150.
Solution Summary
Dataset Option
DATA=
OUT=
Variables Solved
Solution RANGE
First
Last Requested
Solved

Dataset
SIMULASI
D
36
N
1
349
150

Solution Method
SEIDEL
CONVERGE=
1E-8
Maximum CC
9.92147E-9
Maximum Iterations
17
Total Iterations
1845
Average Iterations
12.30
Observations Processed
Read
150
Solved
150
First
45
Last
194

330

Lampiran 17. Lanjutan


The SAS System
SIMNLIN Procedure
Simultaneous Simulation
-------------------------------------------- POLA=1 ---------------------------------

Solution Range N = 1 To 150


Descriptive Statistics
Actual

Predicted

Variable

Nobs

Mean

Std

Mean

Std

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150

150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150

2.5333
10183
26813
36.8867
29.3867
72.4933
91.3067
149.3667
139.5200
288.8867
334.0364
304.3333
392.6433
302.0000
420.6383
302.3333
423.4133
5.7200
257.4000
211.2167
302.8503
1740
9852
492.6000
746.1333
93.8467
3150
6702
7021
13722
4208
1016
266.3000
489.6192
8000
7.2800

1.3244
3017
20928
17.3973
18.8412
35.1989
50.5785
76.7903
78.1228
127.0722
213.7152
153.6946
217.2507
153.5792
250.3187
153.1916
253.3045
5.3220
239.4903
430.3585
153.2929
1046
8426
421.3013
624.2964
73.2489
2161
6485
23920
25374
1926
1937
357.4633
652.8978
5168
3.9817

2.7257
10315
28992
36.6070
29.5495
72.3765
91.1898
134.6671
118.6507
253.3178
327.6275
361.8892
462.4133
357.7777
492.7203
327.0246
416.7064
6.0393
271.7690
211.2167
348.4776
1890
12108
605.4056
798.5687
101.4711
3472
8636
7021
15656
2203
1157
289.5253
754.1686
6424
6.6472

0.9221
1088
15280
4.1480
6.7170
17.7763
39.9797
26.8936
37.2092
58.2413
96.6156
79.2990
131.2691
77.9473
169.8405
89.9763
134.8793
2.1633
97.3480
430.3585
81.5365
876.2429
6988
349.3845
442.4694
53.4793
1767
5326
23920
24586
1085
915.4215
104.3659
501.1383
4134
1.9819

331

Lampiran 17. Lanjutan

SIMNLIN Procedure
Simultaneous Simulation
-------------------------------------------- POLA=2 --------------------------------Solution Summary
Dataset Option
DATA=
OUT=
Variables Solved
Solution RANGE
First Requested
Solved
Last Requested
Solved

Dataset
SIMULASI
D
36
N
1
151
349
281

Solution Method
SEIDEL
CONVERGE=
1E-8
Maximum CC
9.99313E-9
Maximum Iterations
15
Total Iterations
1601
Average Iterations
12.22
Observations Processed
Read
131
Solved
131
First
195
Last
325

332

Lampiran 17. Lanjutan


SIMNLIN Procedure
Simultaneous Simulation
-------------------------------------------- POLA=2 ---------------------------------

Solution Range N = 151 To 281


Descriptive Statistics
Actual

Predicted

Variable

Nobs

Mean

Std

Mean

Std

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131

131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131
131

2.2595
16013
36327
21.4885
13.0229
37.1908
41.2214
139.5115
44.7328
202.1069
1141
383.2061
432.8244
387.7863
600.9733
393.8931
717.8626
4.8130
161.9359
64.4656
388.9596
2013
14427
721.3718
1072
176.5626
4684
9743
2389
12132
3568
987.1450
299.4656
957.7008
7841
3.6947

0.7705
3629
16193
14.6804
5.2645
17.0276
20.0259
103.1725
80.2991
156.6596
842.5076
149.0819
171.8008
149.9156
257.2896
175.5511
300.8961
2.0299
69.8396
240.7235
156.5246
772.3481
6362
318.0933
476.1072
81.7041
2508
5314
4024
6442
813.0634
1690
224.4148
1507
5155
1.3179

2.3829
16760
40299
26.0743
15.2555
44.0093
48.0398
113.5866
70.1761
201.6252
872.5512
433.4566
490.1390
437.3709
678.6288
425.0458
480.7774
5.4647
184.5432
64.4656
430.9987
1934
18432
921.6206
1192
195.6558
4944
13488
2389
15877
1884
1009
368.0345
1196
6485
3.2812

0.6721
665.5012
13689
5.5501
2.5125
10.2079
15.2630
14.5146
25.9650
70.0277
265.2477
75.9709
95.2857
76.3028
169.5613
89.2798
108.8426
1.6298
54.8202
240.7235
81.7982
520.7833
6363
318.1392
423.1952
73.6914
2106
5779
4024
7276
412.7014
410.5556
111.7510
660.7056
3720
0.6029

333

Lampiran 17. Lanjutan


SIMNLIN Procedure
Simultaneous Simulation
-------------------------------------------- POLA=3 --------------------------------WARNING: The input data set DATA=SIMULASI does not contain an observation for the
specified start of the RANGE N=1. Processing will start with N=282 at observation
number 326.
Solution Summary
Dataset Option
DATA=
OUT=
Variables Solved
Solution RANGE
First Requested
Solved
Last

Dataset
SIMULASI
D
36
N
1
282
349

Solution Method
SEIDEL
CONVERGE=
1E-8
Maximum CC
9.53018E-9
Maximum Iterations
15
Total Iterations
824
Average Iterations
12.12
Observations Processed
Read
68
Solved
68
First
326
Last
393

334

Lampiran 17. Lanjutan


SIMNLIN Procedure
Simultaneous Simulation
-------------------------------------------- POLA=3 ---------------------------------

Solution Range N = 282 To 349


Descriptive Statistics
Actual

Predicted

Variable

Nobs

Mean

Std

Mean

Std

LAKS
YKKS
QTKS
CTKKSPP
CTKKSIP
CTKKS
TCTKKS
CTKLKSPP
CTKLKSIP
CTKLKS
YTKKS
QIPN
BIPN
QIPP
BIPP
QIPK
BIPK
QIPD
BIPD
BTKUKS
QIP
BPRKS
NPTKS
BADMS
BTRANS
BMKUD
BPTKS
PDPTKS
PDPTLKS
PDPTKP
KONSPNG
INVSPEND
INVSKES
ASURANSI
TPENGKP
PLUNKRED

68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68

68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68
68

2.3824
6679
15975
24.2794
13.4559
42.9265
44.2500
107.6765
83.0735
210.7500
411.3634
238.2353
262.0588
238.9706
334.5588
220.9559
441.9118
5.7647
185.4118
19.8529
230.7843
1279
5603
280.1596
505.6397
84.9132
3867
1736
4241
5977
3425
840.2941
140.4412
0
5208
6.0735

1.6302
1095
12160
12.1788
8.8460
21.1740
21.2022
148.9736
106.3612
210.0236
325.1287
211.2273
232.3501
211.3559
295.8982
216.7695
433.5389
4.9509
123.9620
112.2330
212.7113
1074
3858
192.8974
430.8833
92.7742
2854
1221
4038
3904
1313
1162
146.4142
0
2101
1.3194

1.9322
8655
16835
17.1286
9.8548
32.1746
33.4981
102.9259
77.9786
200.9046
533.4430
264.8760
291.3636
269.3504
377.0905
231.3721
254.5093
4.3862
143.7002
19.8529
251.3774
1122
7028
351.4076
524.1557
85.7935
3801
3227
4241
7468
1811
951.2335
184.2497
69.5059
3817
5.3550

0.3567
1022
4415
2.0677
2.5995
9.6899
10.9271
13.7056
23.4029
68.6156
156.1009
31.2862
34.4149
30.7587
43.0621
38.8337
42.7170
0.9463
28.9803
112.2330
32.0447
186.6146
2856
142.7822
145.1711
47.8093
1383
2366
4038
4549
532.6041
384.8375
53.9824
279.0027
1623
1.4285

335

Lampiran 18. Rekapitulasi Dampak Faktor Eksternal dan Internal terhadap


Kinerja Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Pola PIR-Sus di Sumatera Selatan
Variabel Endogen
Luas Areal Kebun Plasma KS
Produktivitas Kebun KS
Total Produksi Kelapa Sawit
Curahan TK Petani di Kbn KS
Curahan TK Istri di Kebun KS
Curhn TK Kel di Kebun KS
Total Curahan TK di Kebun KS
Curhn TK Petani Luar KS
Curhn TK Istri Luar KS
Curhn TK Kel Petani Luar KS
Produktivitas TK di Kebun KS
Penggunaan Pupuk N
Biaya Penggunaan Pupuk N
Penggunaan Pupuk P
Biaya Penggunaan Pupuk P
Penggunaan Pupuk K
Biaya Penggunaan Pupuk K
Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Penggunaan Pupuk
Biaya Produksi di Kebun KS
Nilai Produksi Total
Biaya Administrasi KS
Biaya Transportasi TBS
Biaya Manajemen KUD
Biaya Total Kelapa Sawit
Pendapatan dari KS
Pendapatan dari Luar KS
Pendapatan Keluarga Petani
Pengel utk Konsumsi Pangan
Pengel Investasi Pendidikan
Pengel Investasi Kesehatan
Pengel untuk Asuransi
Total Pengeluaran Kel Petani
Periode Lunas Kredit

Nilai
Dasar
2.6715
9649.00
26607.00
36.4859
29.4408
72.1467
90.96
133.4854
118.9247
252.4101
300.9095
355.8997
454.7398
356.9378
491.5385
309.6082
394.3029
5.9117
266.0249
211.2167
340.3398
1853.00
9653.00
482.6465
732.3133
93.126
3238.00
6415.00
7021.00
13435.00
2158.00
1099.00
248.7578
554.7854
6080.00
7.0247

Keterangan: Simulasi 1(S1):


Simulasi 2 (S2):
Simulasi 3 (S3):
Simulasi 4 (S4):
Simulasi 5 (S5):

S1
(%)

S2
(%)

S3
(%)

S4
(%)

S5
(%)

2.03
6.90
8.96
0.33
0.37
0.32
0.25
0.89
-0.23
0.36
8.88
1.68
1.69
0.24
0.24
5.63
5.68
2.16
2.16
0.00
2.39
2.00
25.43
25.43
9.05
8.96
7.23
34.62
0.00
16.53
2.09
5.28
16.39
35.94
5.66
-5.37

-0.29
-0.65
-0.92
-0.05
-0.05
-0.05
-0.04
2.11
0.03
1.13
-0.91
-2.24
17.31
-0.81
18.99
-8.41
9.64
-6.23
12.52
0.00
-3.66
13.11
-0.94
-0.94
-0.94
-0.93
7.13
-5.02
0.00
-2.39
-0.37
-0.82
-2.37
-1.09
-0.46
0.22

-0.74
-0.07
-0.83
-0.12
-0.14
-0.12
-0.09
-0.17
0.08
-0.05
-0.70
-0.07
-0.07
-0.06
-0.06
-0.21
-0.22
-0.79
-0.79
0.00
-0.11
-0.22
-0.85
-0.85
98.28
19.00
22.54
-12.66
0.00
-6.04
-0.93
-2.09
-5.99
-0.46
-0.99
1.70

0.03
0.80
0.81
0.52
0.01
0.26
0.21
5.30
-0.09
2.76
0.56
4.12
4.21
4.23
4.36
4.82
4.94
0.89
0.89
15.00
4.38
5.07
0.83
0.83
0.84
0.81
3.24
-0.39
0.00
-0.18
-0.05
-0.09
-0.18
1.27
0.08
0.45

0.04
0.46
0.47
3.19
0.01
1.62
1.28
3.11
-1.91
0.74
-1.04
2.07
22.59
3.61
24.44
-3.35
15.85
-5.02
13.97
15.00
0.92
19.10
0.49
0.48
0.49
0.47
11.15
-4.89
0.00
-2.33
-0.37
-0.82
-2.32
1.04
-0.28
0.10

Harga produk TBS naik 15%


Harga pupuk dan pestisida naik 20%
Ongkos angkut naik 100% dan fee KUD naik 20%
Upah tenaga kerja di kebun plasma naik 15%
Kombinasi S2, S3 dan S4

336

Lampiran 18. Lanjutan


Variabel Endogen
Luas Areal Kebun Plasma KS
Produktivitas Kebun KS
Total Produksi Kelapa Sawit
Curahan TK Petani di Kbn KS
Curahan TK Istri di Kebun KS
Curhn TK Kel di Kebun KS
Total Curahan TK di Kebun KS
Curhn TK Petani Luar KS
Curhn TK Istri Luar KS
Curhn TK Kel Petani Luar KS
Produktivitas TK di Kebun KS
Penggunaan Pupuk N
Biaya Penggunaan Pupuk N
Penggunaan Pupuk P
Biaya Penggunaan Pupuk P
Penggunaan Pupuk K
Biaya Penggunaan Pupuk K
Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Penggunaan Pupuk
Biaya Produksi di Kebun KS
Nilai Produksi Total
Biaya Administrasi KS
Biaya Transportasi TBS
Biaya Manajemen KUD
Biaya Total Kelapa Sawit
Pendapatan dari KS
Pendapatan dari Luar KS
Pendapatan Keluarga Petani
Pengel utk Konsumsi Pangan
Pengel Investasi Pendidikan
Pengel Investasi Kesehatan
Pengel untuk Asuransi
Total Pengeluaran Kel Petani
Periode Lunas Kredit

Nilai
Dasar
2.6715
9649.00
26607.00
36.4859
29.4408
72.1467
90.96
133.4854
118.9247
252.4101
300.9095
355.8997
454.7398
356.9378
491.5385
309.6082
394.3029
5.9117
266.0249
211.2167
340.3398
1853.00
9653.00
482.6465
732.3133
93.126
3238.00
6415.00
7021.00
13435.00
2158.00
1099.00
248.7578
554.7854
6080.00
7.0247

S6
(%)

S7
(%)

0.92
6.99
7.83
0.66
0.17
0.40
0.32
8.29
-0.20
4.29
7.65
3.77
24.64
3.58
24.43
1.79
22.09
-4.09
15.09
15.00
3.08
21.10
24.12
24.12
115.89
29.39
42.71
14.73
0.00
7.03
0.65
2.00
6.97
35.23
4.10
-2.99

50.00
7.65
59.86
6.92
7.71
6.64
5.27
5.67
-4.81
0.73
44.85
26.33
26.44
25.56
25.78
33.63
33.89
45.03
45.04
0.00
28.33
26.98
60.85
60.85
60.18
59.85
39.84
71.46
0.00
34.12
4.22
10.74
33.83
86.74
12.75
-1.74

S8
(%)

S9
(%)

-3.72
1.60
-2.83
4.52
3.37
20.00
-2.77
-2.36
0.42
-1.05
12.28
-2.54
-2.76
-2.46
-2.85
-3.17
-3.47
-3.97
-3.97
-100.00
-2.71
-14.14
-3.06
-3.06
-3.05
-2.83
-9.33
0.11
0.00
0.05
0.05
0.09
0.05
-4.59
-0.38
-0.09

11.63
11.53
25.99
1.90
2.12
50.00
40.23
1.66
-1.32
-10.00
-8.28
6.87
6.63
6.67
6.32
8.89
8.59
12.40
12.40
0.00
7.43
6.91
25.46
25.46
25.18
25.99
14.21
31.15
0.00
14.88
1.85
4.73
14.75
36.20
5.43
-0.29

Keterangan: Simulasi 6 (S6): Kombinasi S1 dan S5


Simulasi 7 (S7): Perluasan kebun plasma 50%
Simulasi 8 (S8): Peningkatan tenaga kerja keluarga 22% untuk
menggantikan tenaga kerja upahan
Simulasi 9 (S9): Peningkatan tenaga kerja keluarga di kebun plasma
50% dengan mengurangi tenaga kerja keluarga di luar
kebun plasma 10%

337

Lampiran 19. Rekapitulasi Dampak Faktor Eksternal dan Internal terhadap


Kinerja Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Pola PIR-Trans di Sumatera Selatan
Variabel Endogen

Nilai
Dasar

S1
(%)

S2
(%)

S3
(%)

S4
(%)

S5
(%)

Luas Areal Kebun Plasma KS


Produktivitas Kebun KS
Total Produksi Kelapa Sawit
Curahan TK Petani di Kbn KS
Curahan TK Istri di Kebun KS
Curhn TK Kel di Kebun KS
Total Curahan TK di Kebun KS
Curhn TK Petani Luar KS
Curhn TK Istri Luar KS
Curhn TK Kel Petani Luar KS
Produktivitas TK di Kebun KS
Penggunaan Pupuk N
Biaya Penggunaan Pupuk N
Penggunaan Pupuk P
Biaya Penggunaan Pupuk P
Penggunaan Pupuk K
Biaya Penggunaan Pupuk K
Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Penggunaan Pupuk
Biaya Produksi di Kebun KS
Nilai Produksi Total
Biaya Administrasi KS
Biaya Transportasi TBS
Biaya Manajemen KUD
Biaya Total Kelapa Sawit
Pendapatan dari KS
Pendapatan dari Luar KS
Pendapatan Keluarga Petani
Pengel utk Konsumsi Pangan
Pengel Investasi Pendidikan
Pengel Investasi Kesehatan
Pengel untuk Asuransi
Total Pengeluaran Kel Petani
Periode Lunas Kredit

2.3015
15981.00
37109.00
25.8921
15.0918
43.6633
47.6938
112.0314
70.5886
200.4826
810.0548
428.0627
484.0509
436.1087
676.6979
405.0485
458.235
5.2725
178.0376
64.4656
421.026
1896.00
14758.00
737.9078
1098.00
180.1565
4614.00
10145.00
2389.00
12534.00
1815.00
921.9197
306.6565
897.7554
5969.00
3.6981

3.54
4.87
8.60
0.70
1.08
0.79
0.73
1.39
-0.58
0.57
7.72
1.26
1.26
0.29
0.29
4.94
4.92
3.65
3.65
0.00
2.37
2.00
24.89
24.90
8.56
8.60
7.15
32.95
0.00
26.67
3.80
9.45
20.02
33.22
8.64
-11.27

-0.44
-0.56
-1.00
-0.09
-0.13
-0.10
-0.09
2.94
0.07
1.67
-0.91
-1.50
18.20
-0.75
19.10
-8.62
9.70
-5.45
13.35
0.00
-4.06
15.08
-1.00
-1.00
-1.00
-1.00
5.74
-4.07
0.00
-3.30
-0.55
-1.25
-2.47
-1.16
-0.65
0.50

-1.38
-0.11
-1.50
-0.27
-0.42
-0.31
-0.28
-0.32
0.23
-0.10
-1.16
-0.09
-0.09
-0.08
-0.08
-0.26
-0.26
-1.42
-1.42
0.00
-0.16
-0.21
-1.50
-1.50
96.99
18.20
23.43
-12.84
0.00
-10.40
-1.76
-3.99
-7.80
-1.32
-1.74
4.50

0.26
0.79
1.03
2.79
0.08
1.68
1.54
6.88
-1.61
3.28
-0.31
5.28
5.32
5.33
5.47
5.69
5.73
1.73
1.78
15.00
5.47
5.38
1.03
1.03
1.00
1.01
2.64
0.29
0.00
0.23
0.00
0.06
0.18
1.44
0.25
0.77

0.20
0.33
0.51
6.87
0.06
4.10
3.75
4.29
-4.93
0.66
-3.21
3.95
24.78
4.75
25.86
-2.72
16.81
-3.33
15.97
15.00
1.58
21.68
0.51
0.50
0.46
0.49
9.10
-3.41
0.00
-2.76
-0.50
-1.09
-2.07
0.93
-0.28
0.10

Keterangan: Simulasi 1 (S1):


Simulasi 2 (S2):
Simulasi 3 (S3):
Simulasi 4 (S4):
Simulasi 5 (S5):

Harga produk TBS naik 15%


Harga pupuk dan pestisida naik 20%
Ongkos angkut naik 100% dan fee KUD naik 20%
Upah tenaga kerja di kebun plasma naik 15%
Kombinasi S2, S3 dan S4.

338

Lampiran 19. Lanjutan

Variabel Endogen

Nilai
Dasar

S6
(%)

Luas Areal Kebun Plasma KS


Produktivitas Kebun KS
Total Produksi Kelapa Sawit
Curahan TK Petani di Kbn KS
Curahan TK Istri di Kebun KS
Curhn TK Kel di Kebun KS
Total Curahan TK di Kebun KS
Curhn TK Petani Luar KS
Curhn TK Istri Luar KS
Curhn TK Kel Petani Luar KS
Produktivitas TK di Kebun KS
Penggunaan Pupuk N
Biaya Penggunaan Pupuk N
Penggunaan Pupuk P
Biaya Penggunaan Pupuk P
Penggunaan Pupuk K
Biaya Penggunaan Pupuk K
Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Penggunaan Pupuk
Biaya Produksi di Kebun KS
Nilai Produksi Total
Biaya Administrasi KS
Biaya Transportasi TBS
Biaya Manajemen KUD
Biaya Total Kelapa Sawit
Pendapatan dari KS
Pendapatan dari Luar KS
Pendapatan Keluarga Petani
Pengel utk Konsumsi Pangan
Pengel Investasi Pendidikan
Pengel Investasi Kesehatan
Pengel untuk Asuransi
Total Pengeluaran Kel Petani
Periode Lunas Kredit

2.3015
15981.00
37109.00
25.8921
15.0918
43.6633
47.6938
112.0314
70.5886
200.4826
810.0548
428.0627
484.0509
436.1087
676.6979
405.0485
458.235
5.2725
178.0376
64.4656
421.026
1896.00
14758.00
737.9078
1098.00
180.1565
4614.00
10145.00
2389.00
12534.00
1815.00
921.9197
306.6565
897.7554
5969.00
3.6981

1.77
4.98
6.82
3.09
0.54
2.02
1.85
11.11
-1.86
5.55
5.05
5.12
26.19
4.78
25.89
1.71
22.12
-1.71
17.91
15.00
3.64
23.47
22.84
22.84
113.57
28.16
41.42
14.39
0.00
11.65
1.27
3.71
8.74
31.44
6.15
-5.46

S7
(%)
50.00
5.81
57.07
9.40
14.49
10.58
9.69
6.56
-7.81
0.92
42.09
20.08
19.96
19.19
18.77
23.85
23.69
48.68
48.35
0.00
21.28
22.10
56.95
56.93
56.74
56.91
33.88
67.42
0.00
54.57
7.55
19.21
40.95
76.44
18.88
-4.36

S8
(%)

S9
(%)

-1.26
1.51
1.25
1.30
1.31
22.00
-4.87
-0.76
0.21
-0.35
30.48
-0.71
-0.69
-0.67
0.60
-0.79
-0.77
-1.29
-1.22
-100.00
-0.73
-4.06
1.15
1.15
1.18
1.09
-1.17
2.20
0.00
1.78
0.28
0.65
1.34
1.49
0.49
-0.19

4.70
2.35
7.38
0.93
1.44
50.00
25.42
0.72
-0.78
-10.00
-0.37
1.91
1.94
1.83
1.92
2.29
2.32
4.84
4.93
0.00
2.03
2.22
7.26
7.26
7.38
7.10
4.07
8.69
0.00
7.04
0.99
2.48
5.28
9.74
2.43
-3.04

Keterangan: Simulasi 6 (S6): Kombinasi S1 dan S5


Simulasi 7 (S7): Perluasan kebun plasma 50%
Simulasi 8 (S8): Peningkatan tenaga kerja keluarga 22% untuk
menggantikan tenaga kerja upahan
Simulasi 9 (S9): Peningkatan tenaga kerja keluarga di kebun plasma
50% dengan mengurangi tenaga kerja keluarga di luar
kebun plasma 10%

339

Lampiran 20. Rekapitulasi Dampak Faktor Eksternal dan Internal terhadap


Kinerja Ekonomi Rumahtangga Petani Plasma Kelapa Sawit
Pola PIR-KUK di Sumatera Selatan
Variabel Endogen

Nilai
Dasar

S1
(%)

S2
(%)

S3
(%)

S4
(%)

S5
(%)

Luas Areal Kebun Plasma KS


Produktivitas Kebun KS
Total Produksi Kelapa Sawit
Curahan TK Petani di Kbn KS
Curahan TK Istri di Kebun KS
Curhn TK Kel di Kebun KS
Total Curahan TK di Kebun KS
Curhn TK Petani Luar KS
Curhn TK Istri Luar KS
Curhn TK Kel Petani Luar KS
Produktivitas TK di Kebun KS
Penggunaan Pupuk N
Biaya Penggunaan Pupuk N
Penggunaan Pupuk P
Biaya Penggunaan Pupuk P
Penggunaan Pupuk K
Biaya Penggunaan Pupuk K
Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Penggunaan Pupuk
Biaya Produksi di Kebun KS
Nilai Produksi Total
Biaya Administrasi KS
Biaya Transportasi TBS
Biaya Manajemen KUD
Biaya Total Kelapa Sawit
Pendapatan dari KS
Pendapatan dari Luar KS
Pendapatan Keluarga Petani
Pengel utk Konsumsi Pangan
Pengel Investasi Pendidikan
Pengel Investasi Kesehatan
Pengel untuk Asuransi
Total Pengeluaran Kel Petani
Periode Lunas Kredit

1.8992
7971.00
15234.00
17.0549
9.7886
32.0347
33.3582
102.1499
78.1455
200.2953
484.659
259.7274
285.7001
268.8373
376.3722
214.8723
236.3595
4.3085
141.1032
19.8529
242.626
1094.00
5515.00
275.7643
474.1508
77.5772
3640.00
1876.00
4241.00
6116.00
1783.00
915.9293
159.4333
-53.4438
3607.00
5.7269

1.74
8.58
10.51
0.43
0.68
0.44
0.42
0.76
-0.21
0.30
10.07
1.98
1.98
0.19
0.19
7.68
7.68
1.80
1.84
0.00
3.61
2.56
27.43
27.43
10.55
10.59
4.42
72.01
0.00
22.11
1.57
3.85
15.57
-230.05
5.82
-6.49

-0.26
-1.25
-1.51
-0.06
-0.10
-0.07
-0.06
1.50
0.03
0.78
-1.45
-2.76
16.69
-1.08
18.70
-17.5
-1.03
-6.22
12.44
0.00
-7.99
12.25
-1.49
-1.49
-1.51
-1.50
3.32
-10.8
0.00
-3.30
-0.28
-0.61
-2.34
11.14
-0.58
0.16

-0.67
-0.08
-0.75
-0.17
-0.26
-0.17
-0.16
-0.13
0.08
-0.04
-0.57
-0.06
-0.06
-0.05
-0.05
-0.20
-0.20
-0.69
-0.70
0.00
-0.11
-0.09
-0.76
-0.77
98.47
19.05
13.10
-27.77
0.00
-8.50
-0.73
-1.62
-5.99
1.54
-1.05
3.04

0.13
1.28
1.40
2.17
0.05
1.17
1.12
7.55
-0.55
3.64
0.13
7.23
7.23
7.19
7.19
8.90
8.90
1.63
1.64
15.00
7.87
6.76
1.38
1.38
1.40
1.39
2.34
-0.53
0.00
-0.15
-0.06
-0.05
-0.11
-12.36
0.14
0.58

0.33
0.28
0.59
8.78
0.13
4.71
4.52
2.59
-3.75
-0.14
-4.31
4.76
25.72
6.38
27.66
-8.23
10.12
-4.12
14.98
15.00
0.20
20.66
0.58
0.58
0.59
0.60
6.32
-10.61
0.00
-3.24
-0.28
-0.63
-2.28
-7.20
-0.30
-0.05

Keterangan: Simulasi 1 (S1):


Simulasi 2 (S2):
Simulasi 3 (S3):
Simulasi 4 (S4):
Simulasi 5 (S5):

Harga produk TBS naik 15%


Harga pupuk dan pestisida naik 20%
Ongkos angkut naik 100% dan fee KUD naik 20%
Upah tenaga kerja di kebun plasma naik 15%
Kombinasi S2, S3 dan S4.

340

Lampiran 20. Lanjutan

Variabel Endogen
Luas Areal Kebun Plasma KS
Produktivitas Kebun KS
Total Produksi Kelapa Sawit
Curahan TK Petani di Kbn KS
Curahan TK Istri di Kebun KS
Curhn TK Kel di Kebun KS
Total Curahan TK di Kebun KS
Curhn TK Petani Luar KS
Curhn TK Istri Luar KS
Curhn TK Kel Petani Luar KS
Produktivitas TK di Kebun KS
Penggunaan Pupuk N
Biaya Penggunaan Pupuk N
Penggunaan Pupuk P
Biaya Penggunaan Pupuk P
Penggunaan Pupuk K
Biaya Penggunaan Pupuk K
Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan Pestisida
Biaya Penggunaan TK Upahan
Penggunaan Pupuk
Biaya Produksi di Kebun KS
Nilai Produksi Total
Biaya Administrasi KS
Biaya Transportasi TBS
Biaya Manajemen KUD
Biaya Total Kelapa Sawit
Pendapatan dari KS
Pendapatan dari Luar KS
Pendapatan Keluarga Petani
Pengel utk Konsumsi Pangan
Pengel Investasi Pendidikan
Pengel Investasi Kesehatan
Pengel untuk Asuransi
Total Pengeluaran Kel Petani
Periode Lunas Kredit

Nilai
Dasar

S6
(%)

1.8992
7971.00
15234.00
17.0549
9.7886
32.0347
33.3582
102.1499
78.1455
200.2953
484.659
259.7274
285.7001
268.8373
376.3722
214.8723
236.3595
4.3085
141.1032
19.8529
242.626
1094.00
5515.00
275.7643
474.1508
77.5772
3640.00
1876.00
4241.00
6116.00
1783.00
915.9293
159.4333
-53.4438
3607.00
5.7269

0.82
8.52
9.43
2.34
0.32
1.34
1.29
9.89
-0.63
4.80
7.94
6.74
28.09
6.23
27.48
-1.18
18.59
-3.60
15.63
15.00
3.45
23.13
26.17
26.15
118.9
31.36
25.08
28.20
0.00
8.67
0.39
1.30
6.10
-227
4.16
-2.69

S7
(%)

S8
(%)

S9
(%)

50.00
16.27
144.36
21.97
34.39
22.20
21.32
9.50
-10.85
0.61
75.95
54.29
54.29
51.07
51.07
72.70
72.70
91.68
88.41
0.00
60.42
58.87
137.52
137.50
150.76
161.60
51.18
304.8
0.00
93.53
6.28
16.06
65.86
-1164
27.34
-3.11

7.73
6.06
14.96
2.70
3.87
22.00
56.99
0.65
-0.95
-0.04
-23.12
4.65
4.65
4.37
4.37
6.26
6.26
8.04
8.19
-100.00
5.18
3.38
14.96
14.95
15.37
16.84
4.48
35.23
0.00
10.81
0.73
1.86
7.61
-126.15
3.02
-0.34

13.66
10.39
26.52
3.40
5.33
50.00
96.99
1.55
-1.68
-10.00
-33.97
8.25
8.25
7.76
7.76
11.09
11.09
14.21
14.46
0.00
9.20
9.14
26.29
26.29
27.11
29.70
8.87
60.02
0.00
18.43
1.23
3.17
12.97
-222
5.27
-1.48

Keterangan: Simulasi 6 (S6): Kombinasi S1 dan S5


Simulasi 7 (S7): Perluasan kebun plasma 50%
Simulasi 8 (S8): Peningkatan tenaga kerja keluarga 22% untuk
menggantikan tenaga kerja upahan
Simulasi 9 (S9): Peningkatan tenaga kerja keluarga di kebun plasma
50% dengan mengurangi tenaga kerja keluarga di luar
kebun plasma 10%.