Anda di halaman 1dari 45

ANALISIS FINANSIAL BUDIDAYA SENGON DAN

SALAK PADA SISTEM PENGELOLAAN AGROFORESTRI DI


DESA KALIMENDONG KECAMATAN LEKSONO,
KABUPATEN WONOSOBO

RURI DIAH ARIANI

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN


SUMBER INFORMASI SERTA PELIMPAHAN HAK CIPTA*
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Analisis Finansial
Budidaya Sengon dan Salak pada Sistem Pengelolaan Agroforestri di Desa
Kalimendong Kecamatan Leksono Kabupaten Wonosobo adalah benar karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip
dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah
disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir
skripsi ini.
Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada
Institut Pertanian Bogor.

Bogor, November 2013

Ruri Diah Ariani

ABSTRAK
RURI DIAH ARIANI. Analisis Finansial Budidaya Sengon dan Salak pada
Sistem Pengelolaan Agroforestri di Desa Kalimendong, Kecamatan Leksono,
Kabupaten Wonosobo. Dibimbing oleh LETI SUNDAWATI dan DODIK RIDHO
NURROCHMAT.
Agroforestri merupakan sistem pengelolaan hutan rakyat yang mampu
memaksimalkan fungsi lahan. Agroforestri telah banyak diterapkan di Kabupaten
Wonosobo, khususnya di Desa Kalimendong dengan tanaman utama sengon dan
tanaman sela salak. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kelayakan finansial
dari agroforestri sengon dan salak, serta mengetahui persepsi petani tentang
keuntungan budidaya salak dibanding sengon. Pengelolaan hutan rakyat dengan
sistem agroforestri di Desa Kalimendong layak untuk dikembangkan karena
memiliki nilai NPV sebesar Rp 233.261.645, nilai BCR 4,61 dan nilai IRR
sebesar 74,83%. Monokultur salak dinilai lebih menguntungkan dari jenis
pengelolaan lainnya, tetapi penerapan sistem pengelolaan agroforestri diharapkan
tetap jadi prioritas utama petani karena mampu memberikan keuntungan secara
ekonomi, sosial dan ekologi.
Kata kunci: Sistem pengelolaan, Analisis finansial, dan persepsi
ABSTRACT
RURI DIAH ARIANI. Financial Analysis of Cultivation Sengon and Salak in
Agroforestry Management System in Kalimendong Village, Leksono Sub-district,
Wonosobo Regency. Supervised by LETI SUNDAWATI and DODIK RIDHO
NURROCHMAT.
Agroforestry is a community forest management system that is able to
maximize the utilization of land. Agroforestry has been widely applied in
Wonosobo especially Kalimendong Village, with primary plant is sengon and
secondary plant is salak. The purpose of this research are determine the financial
feasibility of sengon and salak agroforestry system, and measure the perception
level of farmer regarding to the benefits of cultivation between sengon and salak.
Community forest management with agroforestry systems in KalimendongVillage
is worth to develope because its NPV that reached of Rp 233.261.645, BCR of
4,61 and an IRR of 74,83%. Monoculture of salak plantation system considered to
be more profitable than other types of management, but the agroforestry
management system application still expected to be the main priority of its
benefits economy, social and ecology.
Keywords: Management of agroforestry, financial analysis, and perception.

ANALISIS FINANSIAL BUDIDAYA SENGON DAN SALAK


PADA SISTEM PENGELOLAAN AGROFORESTRI DI DESA
KALIMENDONG KECAMATAN LEKSONO, KABUPATEN
WONOSOBO

RURI DIAH ARIANI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kehutanan
pada
Departemen Manajemen Hutan

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN


FAKULTAS KEHUTANAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2013

Judul Skripsi : Analisis Finansial Budidaya Sengon dan Salak Pada Sistem
Pengelolaan Agroforestri di Desa Kalimendong Kecamatan
Leksono, Kabupaten Wonosobo
Nama
: Ruri Diah Ariani
NIM
: E14090073

Disetujui oleh

DrIr Leti Sundawati, MSc.F.Trop


Pembimbing I

Dr Ir Dodik Ridho Nurrochmat, MSc.F.Trop


Pembimbing II

Diketahui oleh

Dr Ir Ahmad Budiaman, MSc.F.Trop


Ketua Departemen

Tanggal Lulus:

PRAKATA
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat-Nya dan segala kemudahan sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul Analisis Finansial Budidaya Sengon dan
Salak pada Sistem Pengelolaan Agroforestri di Desa Kalimendong
Kecamatan Leksono Kabupaten Wonosobo dengan baik. Skripsi ini
merupakan tugas akhir yang harus dipenuhi untuk memperoleh gelar Sarjana
Kehutanan, di Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Dr.Ir.Leti Sundawati,M.Sc.F dan
Dr.Ir.Dodik Ridho Nurrochmat,M.Sc.F selaku dosen pembimbing yang telah
dengan sabar mendidik hingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak, Ibu, Kakak dan adik
tersayang atas segala bentuk motivasi dan ketulusan doanya untuk penulis.
Penghargaan sebesar-besarnya tak lupa penulis sampaikan kepada Camat Leksono
dan Kepala Desa Kalimendong beserta staf yang telah memberikan ijin dan
dukungan kepada penulis untuk melaksanakan tugas akhir. Ucapan terima kasih
juga terlimpahkan kepada Bapak dan Ibu Mulyadi, teman-teman MNH 46, temanteman IPMRT, para penghuni Wisma Balio Bawah, Listya Nuriyana, Syifa Alfiati,
Finitya Arlini, yang telah memberikan semangat pada penulis serta seluruh pihak
yang telah membantu dan tidak dapat disebutkan satu persatu.
Penulis menyadari masih terdapat banyak kekurangan dalam penyusunan
ataupun penulisan skripsi ini, untuk itu penulis mengucapkan permohonan maaf
apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian di dalamnya. Penulis juga
menerima apabila ada saran dan kritik yang membangun agar skripsi ini dapat
lebih baik lagi. Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak
terutama dalam bidang pendidikan.

Bogor, November 2013

Ruri Diah Ariani

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

ii

DAFTAR LAMPIRAN

ii

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Perumusan Masalah

Tujuan Penelitian

Manfaat Penelitian

METODE

Lokasi dan Waktu Penelitian

Sasaran Penelitian

Jenis dan Sumber Data

Metode Pengambilan Contoh

Error! Bookmark not defined.

Metode Pengolahan dan Analisis Data

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

Letak Desa Kalimendong

Pembagian Tata Guna Lahan

Kependudukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

Karakteristik Responden

Sistem Pengelolaan Agroforestri

Analisis Finansial Tanpa Investasi Lahan

10

Analisis Sensitivitas

12

Analisis Finansial dengan Investasi Lahan

13

Persepsi Petani

14

KESIMPULAN DAN SARAN

16

Kesimpulan

16

Saran

16

DAFTAR PUSTAKA

17

LAMPIRAN

18

RIWAYAT HIDUP

33

DAFTAR TABEL
1
2
3
4
5
6

7
8

Jenis dan sumber data penelitian


Kategori tingkat persespi
Luas wilayah dan tata guna lahan
Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian
Karakteristik umur, pendidikan dan jumlah anggota keluarga
responden petani hutan rakyat di Desa Kalimendong
Rekapitulasi cash flow pada jenis pengelolaan agroforestri,
monokultur salak dan monokultur sengon tanpa variable biaya
investasi lahan
Analisis sesitivitas jenis pengelolaan agroforestri(Agr),
monokultur salak (Msa) dan monokultur sengon (Mse)
Rekapitulasi cash flow pada jenis pengelolaan agroforestri
monokultur salak dan monokultur sengon dengan variable biaya
investasi lahan
Tingkat persepsi masyarakat terhadap budidaya salak
dibandingkan dengan sengon

3
6
6
7
8

12
14

15
16

DAFTAR LAMPIRAN
1 Produksi dan harga produk pada sistem pengelolaan
agroforestri sengon dan salak berdasarkan tahun tanam
2 Produksi dan harga produk pada sistem pengelolaan
monokultur salak berdasarkan tahun tanam
3 Produksi dan harga produk pada sistem pengelolaan monokultur
sengon berdasarkan tahun tanam
4 Biaya pengelolaan hutan rakyat dengan sistem agroforestri
5 Biaya pengelolaan hutan rakyat dengan sistem monokultur salak
6 Biaya pengelolaan hutan rakyat dengan sistem monokultur
Sengon
7 Rincian upah pekerja per HOK (Hari Orang Kerja) pada sistem
pengelolaan agroforestri
8 Rincian upah pekerja per HOK (Hari Orang Kerja) pada sistem
pengelolaan monokultur salak
9 Rincian upah pekerja per HOK (Hari Orang Kerja) pada sistem
pengelolaan monokultur sengon
10 Cashflow monokultur salak tanpa variabel biaya investasi
lahan (Rp/Ha/Tahun)

18
18
18
19
19
20
20
21
21
22

11 Lanjutan cashflow monokultur salak tanpa variabel biaya


Investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
12 Cashflow monokultur sengon tanpa variabel biaya investasi
lahan (Rp/Ha/Tahun)
13 Lanjutan cashflow monokultur sengon tanpa variabel biaya
investasilahan (Rp/Ha/Tahun)
14 Cash flow agroforestri sengon dan salak tanpa variabel biaya
investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
15 Lanjutan cash flow agroforestri sengon dan salak tanpa
variabelbiaya investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
16 Cash flow monokultur salak dengan variabel biaya investasi
lahan (Rp/Ha/Tahun)
17 Lanjutan cash flow monokultur salak dengan variabel biaya
Investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
18 Cash flow monokultur sengon dengan variabel biaya investasi
lahan (Rp/Ha/Tahun)
19 Lanjutan Cash flow monokultur sengon dengan variabel biaya
investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
20 Cash flow agroforestri sengon dan salak dengan variabel biaya
investasilahan (Rp/Ha/Tahun)
21 Lanjutan Cash flow agroforestri sengon dan salak dengan
variabel biaya investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
22 Gambar hutan rakyat Desa Kalimendong

23
24
24
25
26
27
28
29
29
30
31
32

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kebutuhan kayu sebagai bahan baku industri terus meningkat begitu pesat
seiring dengan semakin berkurangnya fungsi hutan alam dalam menyediakan
bahan baku kayu. Banyak upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
pasar terhadap kayu yang terus meningkat. Salah satu solusi atas permasalahan
tersebut adalah dengan pembangunan hutan rakyat. Hingga saat ini hutan rakyat
dipercaya sebagai usaha yang cukup menjanjikan. Selain itu manfaat langsung
yang diperoleh dari pembangunan hutan rakyat diantaranya adalah meningkatkan
produktivitas lahan, pendapatan para pelaku pemasarannya dan kesejahteraan
masyarakat. Manfaat tidak langsung berupa kelestarian fungsi ekologi seperti
pengaturan tata air tanah, menghasilkan udara yang bersih, mengendalikan erosi di
sekitar, menciptakan iklim mikro yang sejuk dan lain-lain, dengan berbagai
manfaat inilah hutan rakyat saat ini berkembang begitu pesat (Hindra 2006).
Salah satu bentuk dari tipe pola tanam hutan rakyat adalah hutan campuran,
wanatani atau agroforestri. Sistem pengelolaan hutan dengan agroforestri saat ini
semakin banyak diminati salah satunya di Desa Kalimendong, Desa Kalimendong
merupakan salah satu desa percontohan yang memiliki metode pengelolaan hutan
rakyat yang baik di Kabupaten Wonosobo. Pada mulanya komoditas utama dari
hutan rakyat di Desa Kalimendong adalah kayu sengon, namun sejak tahun enam
puluhan mulai masuk tanaman pertanian yang kemudian dikombinasikan pada
hutan rakyat yang diterapkan hingga saat ini. Atas dasar berbagai pertimbangan
terpilihlah tanaman salak yang menurut petani paling layak untuk dikembangkan
mendampingi tanaman sengon pada lahan hutan rakyat di Desa Kalimendong.
Pengelolaan salak yang relatif mudah dan keuntungan yang menjanjikan
dibanding sengon, secara tidak langsung dapat mempengaruhi minat budidaya
sengon dan tidak menutup kemungkinan suatu saat lahan hutan rakyat milik petani
berubah menjadi monokultur sengon. Perlunya memberikan gambaran keuntungan
finansial dari pengelolaan hutan rakyat dengan sistem agroforestri agar petani
tertarik untuk terus mempertahankan sistem tersebut, serta pentingnya untuk
mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi petani terhadap budidaya
sengon dibanding salak agar dapat meminimalisir penyebab berkurangnya luasan
hutan rakyat dengan tanaman utama sengon.
Perumusan Masalah
Masuknya tanaman salak sebagai tanaman pendamping pohon sengon
pada hutan rakyat dengan sistem agroforestridi Desa Kalimendong dimungkinkan
dapat menurunkan produksi sengon sebagai tanaman utama sehingga perlu adanya
penelitian lebih lanjut tentang pengaruh tanaman salak terhadap sengon dan
persepsi petani tentang keuntungan membudidayakan salak dibanding sengon
Tujuan Penelitian
1. Menganalisis keuntungan finansial dari budidaya salak dan sengon pada
hutan rakyat sistem agroforestri di Desa Kalimendong

2. Mengidentifikasi persepsi petani tentang keuntungan memproduksi salak


dibanding sengon
3. Mengidentifikasi pengaruh tanaman salak terhadap produksi sengon.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran keuntungan
secara finansial dari pengelolaan agroforestri agar petani tetap mempertahankan
sistem tersebut. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi informasi kepada
pihak-pihak terkait pengelolaan hutan rakyat agar dapat memberikan terobosanterobosan baru untuk melestarikan hutan rakyat.

METODE
Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian analisis finansial budidaya sengon dan salak pada sistem
pengelolaan agroforestri dilaksanakan di Desa Kalimendong, Kecamatan Leksono,
Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah pada bulan Juni 2013.
Sasaran Penelitian
Sasaran dari penelitian ini yaitu petani di Desa Klimendong, Kecamatan
Leksono, Kabupaten Wonosobo, Propinsi Jawa Tengah yang menerapkan sistem
agroforestri dalam pengelolaan lahannya, dengan tanaman utama sengon dan
tanaman sela salak.
Jenis dan Sumber Data
Data yang dikumpulkan selama penelitian adalah data primer dan data
sekunder. Pengumpulan data baik data primer ataupun data sekunder dilakukan
dengan beberapa teknik, yaitu teknik observasi, teknik wawancara dan studi
pustaka (Tabel 1).

Tabel 1 Jenis dan sumber data penelitian


No

Jenis data

Primer
Karakteristik
responden
Sistem pengelolaan
agroforestri
Biaya dan
pendapatan petani
dari agroforestri

Teknik
Observasi

Wawancara
Petani dan
Kepala Desa

Petani

Lahan
agroforestri

Petani

Lahan
agroforestri

Daftar
pustaka
Daftar
pustaka

Profil desa

Upah tenaga kerja

Petani

Persepsi

Petani

Sekunder
Kondisi umum
lokasi penelitian

Studi Pustaka

Daftar
pustaka
Daftar
pustaka
Daftar
pustaka

Metode Pengambilan Contoh


Pengambilan sampel untuk responden dilakukan secara acak sedangkan
lokasi penelitian dipilih berdasarkan metode purposive sampling, kriteria petani
yang menjadi responden adalah petani di Desa Kalimendong yang menanam jenis
kayu rakyat sengon dan tanaman salak pada hutan rakyatnya. Jumlah responden
yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 88 orang dari total 688 petani yang
memiliki usaha hutan rakyat dengan sistem agroforestri, teknik yang digunakan
untuk menentukan jumlah responden adalah rumus Slovin (Umar 2005), sebagai
berikut:
n=
Keterangan:
n
= Jumlah sampel
N
= Ukuran populasi
e
= Standar error = 10 %
Metode Pengolahan dan Analisis Data
Analisis finansial
Indikator yang digunakan untuk mengetahui manfaat secara finansial
adalah sebagai berikut:
1. Net Present Value (NPV)
Suatu usaha dapat dikatakan menguntungkan bila memiliki nilai NPV
yang positif atau NPV > 0. Formula dari NPV sebagai berikut (Gittinger
1986):
NPV =

Keterangan:
NPV = Net Present Value
Bt
= Keuntungan pada tahun ke-t
Ct
= Biaya pada tahun ke-t
n
= Umur ekonomis dalam suatu pengusahaan
i
= Suku bunga yang berlaku
2. Benefit Cost Ratio(BCR)
Suatu usaha dikatakan menguntungkan apabila nilai BCR > 1, BCR < 1
usaha tidak layak dan jika BCR = 1 maka usaha tersebut tidak mengalami
kerugian dan tidak pula menguntungkan. Formula dari Benefit Cost Ratio
adalah sebagai berikut (Gittinger 1986):

BCR =

Keterangan:
BCR = Benefit Cost Ratio
Bt
= Keuntungan pada tahun ke-t
Ct
= Biaya pada tahun ke-t
n
= Umur ekonomis dalam suatu pengusahaan
i
= Suku bunga yang berlaku
3. Tingkat pengembalian internal (Internal Rate of Return/IRR)
Suatu usaha dikatakan layak apabila IRR suku bunga. Formula untuk
menentukan Internal Rate of Return adalah sebagai berikut:
NPV(+)
[ i(-) i(+) ]

IRR = i(+) +
NPV (+) NPV (-)

Keterangan:
IRR
= Internal Rate of Return
NPV(+) = NPV bernilai positif
NPV(-) = NPV bernilai negatif
i(+)
= Suku bunga yang membuat NPV positif
i(-)
= Suku bunga yang membuat NPV negatif
Asumsi dasar penelitian
Asumsi-asumsi dasar yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Tingkat suku bunga atau diskonto yang digunakan adalah suku bunga kredit
yang berlaku di Bank Jawa Tengah pada tahun 2013 sebesar 14%, dengan
asumsi dana yang digunakan berdasarkan dari pinjaman.
2. Sumber modal seluruhnya adalah modal sendiri.
3. Satuan yang digunakan adalah Rupiah/Ha/tahun.
4. Umur yang digunakan dalam penghitungan finansial masing-masing produk
menggunakan daur tanaman sengon yaitu selama 10 tahun.
5. Pendapatan dari salak dihitung sesuai periode panen.
6. Upah tenaga kerja dihitung per HOK.

7. Semua harga input dan output yang digunakan dalam analisis ini berdasarkan
harga yang berlaku selama tahun penelitian, dengan asumsi harga konstan
selama usaha.
8. Analisis dilakukan sesuai dengan praktek dan kebiasaan yang dilakukan oleh
petani.
9. Pendapatan mulai dihitung ketika lahan yang ditanami sudah menghasilkan.
Analisis sensitivitas
Skenario yang digunakan dalam analisis sensitivitas kegiatan agroforestri
salak dan sengon adalah sebagai berikut:
1. Apabila terjadi kenaikan biaya total produksi salak ataupun sengon sebesar
10%
2. Apabila terjadi penurunan harga dari produk salak ataupun sengon sebesar 10%.
Simulasi
1. Simulasi monokultur sengon, besarnya biaya disesuaikan dengan biaya
perawatan sengon pada sistem pengelolaan agroforestri, sedangkan pendapatan
disesuaikan dengan persentase jumlah kayu yang dipanen setiap umur tanam.
2. Simulasi monokultur salak, besarnya biaya disesuaikan dengan biaya
perawatan salak pada sistem pengelolaan agroforestri, sedangkan pendapatan
disesuaikan dengan rata-rata panen setiap tanaman pertahun (Kg/tahun).
3. Simulasi penggunaan variabel investasi tanah, nilai investasi tanah sesuai
NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) Kabupaten Wonosobo yaitu sebesar Rp
10.000/m2.
Persepsi petani
Persepsi petani terhadap keuntungan memproduksi salak dibanding sengon
dapat diukur dengan melakukan penghitungan hasil skor dari kegiatan wawancara.
Metode yang digunakan adalah metode rating yang dijumlahkan atau yang biasa
disebut Skala Likert.Rumus yang digunakan berdasarkan Slamet (1993) sebagai
berikut:
n=

Keterangan :
=Batas selang
n
Max = Nilai maksimum yang diperoleh dari jumlah skor
Min = Nilai minimum yang diperoleh dari jumlah skor
k
= Jumlah kategori
Kategori jawaban dan skor dari tiap jawaban disajikan pada Tabel 2:
Tabel 2 kategori tingkat persepsi
No
1
2
3
4
5

Kategori
Sangat baik
Baik
Sedang
Kurang
Sangat kurang

Skor
18,2x<21
15,4x<18,2
12,6x<15,4
9,8x<12,6
7x<9,8

KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN


Letak Desa Kalimendong
Secara geografis Desa Kalimendong berada di Kecamatan Leksono
Kabupaten Wonosobo, berjarak 135 km dari ibukota propinsi, 16 km dari ibukota
kabupaten dan 7 km dari ibukota kecamatan. Batas administratif, yaitu sebelah
Utara dibatasi oleh Desa Manggis, sebelah Selatan dibatasi oleh Desa Jonggolsari,
sebelah Barat dibatasi dengan Desa Tlogo dan sebelah Timur dibatasi oleh Desa
Timbang.
Topografi Desa Kalimendong sebagian besar berbukit-bukit dengan
ketinggian 700 hingga 800 meter diatas permukaan laut. Curah hujan di tempat ini
adalah 3.400 mm pertahun dengan jumlah bulan kering selama 5 bulan dan bulan
basah mencapai 7 bulan, sedangkan untuk suhu rata-rata harian antara 23 hingga
30oC (Desa Kalimendong 2012).
Pembagian Tata Guna Lahan
Luas wilayah Desa Kalimendong 432 Ha dan sebanyak 68,80%
merupakan lahan yang diperuntukkan sebagai hutan rakyat atau lazimnya
masyarakat Kalimendong menyebutnya dengan kebun/tegal/wono. Selebihnya
luas wilayah dan tata guna lahan disajikan dalam Tabel 3.
Tabel 3 Luas wilayah dan tata guna lahan
No
1
2
3
4
5

Keterangan/ penggunaan
Perkampungan
Sawah
Tegal/ kebun
Hutan Negara
Lain lain

Luas (ha)
15.338
21.430
297.360
69.400
28.440

%
3,55
4,96
68,06
16,06
6,58

Sumber:Desa Kalimendong 2012

Kependudukan
Berdasarkan data profil Desa Kalimendong tahun 2012, Desa
Kalimendong terdiri dari 3 dusun, 29 Rukun Tetangga dan 4 Rukun Warga.
Jumlah penduduk di Desa Kalimendong sebanyak 3.175 jiwa dengan jumlah lakilaki sebanyak 1.580 orang, wanita 1.595 orang yang terdiri dari 801 kepala
keluarga dan kepadatan penduduk 0,05 per km. Seluruh penduduk Desa
Kalimendong memeluk agama Islam. Komposisi penduduk menurut usia
sebanyak 301 orang penduduk Desa Kalimendong berusia 0-6 tahun, sebanyak
431 orang penduduk Desa Kalimendong berusia 7-18 tahun, sebanyak 1.826 orang
penduduk Desa Kalimendong berusia 19-56, dan sebanyak 365 orang penduduk
Desa Kalimendong berusia 57 tahun ke atas.
Berdasarkan data profil Desa Kalimendong jenis mata pencaharian
penduduk Desa Kalimendong mayoritas sebagai petani dengan persentase sebesar
90,36% dengan jumlah 956 orang, hal ini menunjukkan bahwa masih banyak
penduduk yang menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian dan kehutanan.

Keterangan mengenai jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian dapat


dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4 Jumlah penduduk berdasarkan mata pencaharian
No
1
2
3
4
5
6

Mata pencaharian
Petani
PNS
Karyawan
Buruh
Pedagang
Jasa dll

Jumlah (orang)

Persentase (%)

956
5
32
33
32
52

90,36
0,47
3,02
3,12
3,02
4,91

Sumber: Desa Kalimendong 2012

HASIL DAN PEMBAHASAN


Karakteristik Responden
Responden yang dipilih dalam penelitian ini adalah petani hutan rakyat
baik sebagai pemilik ataupun penggarap yang menerapkan sistem agroforestri
sengon dan salak di Desa Kalimendong. Jumlah responden sebanyak 88 orang
dengan rincian sebanyak 13 orang berjenis kelamin perempuan dan sebanyak 75
orang berjenis kelamin laki-laki. Karakteristik petani tersebut meliputi tingkat
umur, pendidikan, dan jumlah anggota keluarga (Tabel 5).
Tabel 5 Karakteristik umur, pendidikan dan jumlah anggota keluarga responden
petani hutan rakyat di Desa Kalimendong
No
Umur
20-30
31-40
41-50
51-60
61-70
>70
Tingkat pendidikan
SD
SLTP
SLTA
Jumlah anggota keluarga
2
3
4
5
6

n (orang)

Persentase (%)

6
16
30
15
18
3

6,82
18,18
34,09
17,05
20,45
3,41

67
16
5

76,14
18,18
5,60

10
18
30
20
10

11,36
20,45
34,09
22,72
11,36

Karakteristik umur responden berdasarkan Tabel 5, sebaran responden


terbanyak pada usia 41-50 tahun. Hal ini menunjukan bahwa mayoritas responden
berada pada usia produktif yaitu antara usia 15-64 tahun (BPS 2013), sehingga
dapat lebih aktif dalam bekerja mengelola hutan rakyatnya agar memperoleh hasil
yang maksimal. Rata-rata petani di Desa Kalimendong aktif bertani pada lahan
milik sendiri mulai dari umur 20 tahun atau setelah berumah tangga dengan status
lahan adalah lahan warisan dan tetap melakukan aktifitas bertani hingga lanjut
usia. Hal ini menunjukkan bahwa petani di Desa Kalimendong telah lama
melakukan kegiatan pengelolaan hutan rakyat, sehingga petani di Desa
Kalimendong telah memiliki pengetahuan tentang pengelolaan hutan rakyat yang
baik berdasarkan pengalamannya.
Tingkat pendidikan masyarakat di Desa Kalimendong tergolong cukup
rendah, karena berdasarkan hasil penelitian sebanyak 67 orang dari total 88
responden petani (76,14%) petani pendidikan terakhir adalah tamat SD. Tingkat
pendidikan yang tergolong rendah berpengaruh terhadap pola pikir saat menjawab
pertanyaan wawancara dan tentunya pola piker, selain itu dapat berpengaruh juga
pada pengelolaan hutan rakyat yang mereka lakukan. Tabel 5 memperlihatkan
pula gambaran jumlah anggota keluarga di Desa Kalimendong yang bervariasi,
namun mayoritas jumlah anggota keluarga responden sebanyak 4 orang dengan
persentase sebesar 34,09% berjumlah 30 orang dari 88 responden yang
diwawancarai.
Sistem Pengelolaan Agroforestri
Petani di Desa Kalimendong pada umumnya menerapkan hutan rakyat
dengan sistem wanatani atau agroforestri pada lahannya. Seperti yang disebutkan
dalam Fakultas Kehutanan (2000) bahwa hutan rakyat campuran dengan sistem
agroforestri memiliki ciri pada satu lahan terdapat tanaman kehutanan yang
dipadukan dengan tanaman perkebunan, pertanian, ataupun peternakan yang
dalam hal ini untuk kasus Desa Kalimendong, jenis tanaman sela yang dipilih
adalah salak. Awal mulanya tanaman utama sengon diselingi dengan tanaman
pertanian seperti jagung, singkong, cabai dan kopi, baru sekitar tahun 1980
hingga saat ini tanaman sengon ditumpangsarikan dengan tanaman salak karena
tanaman salak dinilai memiliki keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan
tanaman sela yang digunakan sebelumnya. Penggantian tanaman pendamping ini
sejalan dengan hasil penelitian Suharjito (2002) bahwa petani cendrung mengikuti
modernisasi tetapi tetap mempertahankan tradisi dalam memilih tanaman yang
akan dibudidayakan pada lahannya, yang mana pada kasus ini tanaman salak
sebagai tanaman modern dan sengon sebagai tanaman yang dijadikan tradisi.
Sebagian besar kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan hutan
rakyat dengan sistem agroforestri di Desa Kalimendong dilakukan sendiri oleh
petani pemilik lahan karena seluruh responden yang terlibat dalam penelitian ini
merupakan petani pemilik sekaligus penggarap dan kegiatan bertani merupakan
mata pencaharian utama bagi mereka. Tidak semua kegiatan pengelolaan yang
semestinya dilakukan dalam pembangunan hutan rakyat dengan sistem
agroforestri diterapkan pula oleh petani di Desa Kalimendong. Kegiatan
pembangunan hutan rakyat yang dilakukan pada sistem agroforestri di Desa
Kalimendong sebagai berikut:

1. Persiapan lahan
Persiapan lahan yang dilakukan oleh petani Desa Kalimendong berupa
pembersihan lahan, pembuatan terasering dan pembuatan lubang tanam.
Tanaman salak memiliki jarak tanam rata-rata 2 x 2 meter atau 2,5 x 2,5 meter
sedangkan untuk penanaman sengon jarak tanam disesuaikan dengan kondisi
tanaman salak. Tanaman salak dewasa yang telah memiliki tajuk lebar dapat
mempengaruhi pertumbuhan pohon sengon yang memiliki sifat intoleran,
sehingga penanaman sengon dilakukan di sela-sela tanaman salak yang masih
jarang.
2. Pengadaan bibit
Hampir semua petani hutan rakyat di Desa Kalimendong memperoleh bibit
sengon dengan cara membeli dan ada pula yang berasal dari anakan,
sedangkan bibit tanaman salak petani memperolehnya dari membeli dan stek
tunas sendiri. Jenis bibit sengon yang dijual berasal dari benih dan cangkokan,
namun yang lebih banyak diminati untuk ditanam kembali adalah jenis
cangkokan karena persentase untuk tumbuh lebih besar dibanding dengan bibit
yang berasal dari benih terutama untuk kondisi tempat tumbuh yang ternaungi
pelepah tanaman salak dewasa. Asumsi yang digunakan bahwa penyediaan
bibit awal adalah total tanaman pada lahan ditambah dengan 20% dari total
tanaman.
3. Penanaman
Penanaman jenis tanaman baik sengon ataupun salak dilakukan pada
tahun ke-1, penanaman pada umumnya dilakukan sendiri oleh petani pemilik.
Petani mampu menanam rata-rata 100 bibit salak perhari sedangkan untuk
penanaman bibit sengon petani mampu menanam hingga 30 bibit sengon
cangkokan perhari. Berdasarkan keterangan dari responden dan hasil
pengolahan data, dalam 1 hektar lahan hanya terdapat rata-rata 134 pohon
sengon, dan 1.785 tanaman salak. Menurut Atmosuseno (1998) dalam 1 hektar
lahan dengan pola monokultur dapat ditanami hingga 800 atau bahkan 1.000
bibit dengan jarak tanam 3 x 4 atau 3 x 3 meter, sedangkan Anarsis (1996)
mengungkapkan bahwa pada 1 hektar lahan mampu ditanami hingga 2.500
tanaman salak dengan sistem pengelolaan monokultur.
4. Pemeliharaan
Pemeliharaan yang diterapkan pada tanaman sengon hutan rakyat dengan
sistem agroforestri di Desa Kalimendong antara lain penyiangan, pendangiran,
pemupukan dan pemotongan cabang, sedangkan pada tanaman salak antara
lain penyiangan, pendangiran, pemupukan, penyerbukan dan pemotongan
pelepah. Periode kegiatan penyiangan dan pendangiran dilakukan selama satu
tahun sekali dan pada umumnya untuk kegiatan penyiangan hanya dilakukan
hingga tanaman salak berumur 3 tahun, untuk tahun ke 4 dan tahun-tahun
berikutnya tidak dilakukan penyiangan karena saat tanaman salak telah
memiliki pelepah yang lebat dan menaungi sekitarnya, disekitar tanaman salak
tidak ditumbuhi rumput lagi.
Pemberian pupuk kandang untuk tanaman salak dilakukan sebanyak satu
tahun sekali sedangkan untuk pemberian pupuk jenis urea ataupun NPK
dilakukan hingga 2 kali dalam setahun. Petani hanya memberikan pupuk
kandang pada sengon, tetapi pada umumnya petani di Desa Kalimendong
tidak melakukan pemupukan yang intensif pada tanaman sengonnya hal ini

10

dikarenakan petani berasumsi bahwa tanaman sengon yang tumbuh didekat


tanaman salak akan dapat menyerap nutrisi dari pupuk yang diberikan pada
tanaman salak.
5. Pemberantasan hama dan penyakit
Penyakit sengon yang dianggap paling merugikan adalah penyakit yang
berasal dari jamur Uromycladium tepperianum atau biasa disebut karat puru,
Jamur ini dapat menular dengan cepat karena spora yang dihasilkannya. Ciri
penyakit adalah adanya pembengkakan atau gall akibat jamur di cabang,
pucuk ranting, tangkai dau dan daun sengon (Mulyana dan Asmarahman
2010). Salah satu penyebab menurunnya minat petani untuk menanam sengon
adalah karena adanya penyakit ini, belum ada upaya pencegahan ataupun
pengobatannya. Petani hanya bisa menebang pohon sengon yang terserang
penyakit ini walaupun belum dapat dimanfaatkan dan belum memiliki nilai
ekonomi, berbeda dengan tanaman salak petani tidak menemukan adanya
hama atau penyakit yang menyebabkan kerugian, sehingga minat petani untuk
memperbanyak tanaman salak mereka semakin besar.
6. Pemanenan
Pemanenan sengon tidak dilakukan berdasarkan daurnya namun petani
lebih menerapkan tebang butuh. Seluruh biaya pemanenan pohon merupakan
tanggung jawab pembeli karena pemanenan pohon sengon dilakukan oleh
pembeli dengan sistem bayar di tempat setelah ada kesepakatan harga
sebelumnya. Sedangkan untuk sistem pemanenan salak, petani yang
melakukan pemanenan setiap dua bulan sekali dan setelah salak dipanen.
Masih banyak ditemukan sengon dengan umur hingga lebih dari 10
tahun di lapangan, petani beranggapan bahwa semakin tua umur sengon
mereka maka semakin tinggi harganya. Sengon belum ditebang pada umur
tersebut dikarenakan petani telah mampu memenuhi kebutuhan pokok seharihari dengan adanya hasil dari salak yang kontinu sehingga sengon hanya akan
ditebang saat ada kebutuhan yang mendesak.
7. Pemasaran
Pemasaran kayu sengon dari petani langsung ke tengkulak, tengkulak
menjual kayu tersebut ke depo-depo dan dari depo kemudian dijual ke industri.
Sedangkan untuk alur pemasaran buah salak, buah yang sudah dipanen oleh
petani kemudian dijual kepada pengepul dan kemudian oleh pengepul salak
yang telah terkumpul didistribusikan antar kota hingga antar provinsi ataupun
ke industri pengolahan salak di Kabupaten Wonosobo.
Analisis Finansial Tanpa Investasi Lahan
Analisis finansial memiliki tujuan untuk memantau aliran kas sehingga
dapat menghindari keterlanjuran investasi yang memakan dana relatif besar tapi
tidak memberikan keuntungan yang maksimal (Gittinger 1986). Indikator yang
digunakan untuk analisis finansial diantaranya adalah Net Present Value (NPV),
Benefit Cost Ratio (BCR) dan Internal Rate of Retur (IRR). Saat melakukan suatu
analisis finansial diperlukan informasi mengenai pendapatan yang diperoleh dari
suatu usaha dan biaya-biaya yang dikeluarkan dalam jangka waktu berjalannya
usaha tersebut. Pendapatan yang terhitung dalam analisis finansial ini hanya
berupa hasil penjualan produk baik kayu sengon ataupun buah salak (Lampiran 1).

11

Biaya-biaya yang dikeluarkan dalam pengelolaan hutan rakyat dengan


sisten agroforestri antara lain biaya pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB),
biaya pembersihan lahan, pengadaan bibit, pengadaan alat, pembelian pupuk,
biaya pengangkutan (salak) dan upah kerja (Lampiran 4). Pada penelitian ini
variable investasi lahan tidak dimasukkan karena mayoritas petani di Desa
Kalimendong mendapatkan lahannya dari warisan turun-temurun.
Kegiatan pengelolaan hutan rakyat dilakukan sendiri oleh petani, namun
terdapat sebagian kecil petani yang memperkerjakan anggota keluarganya dengan
menerapkan sistem upah harian yang bervariasi sesuai dengan jenis kegiatan yang
dikerjakan. Kebutuhan tenaga kerja lebih banyak tercurah pada kegiatan budidaya
tanaman salak, karena perawatan tanaman salak lebih intensif dibandingkan
dengan sengon. Rincian upah tenaga kerja per HOK (Hari Orang Kerja)
ditampilkan pada Lampiran 7.
Selain pada hutan rakyat dengan sistem agroforestri di Desa Kalimendong,
analisis finansial juga dilakukan dengan simulasi monokultur salak dan sengon
pada luasan yang sama, dalam jangka waktu usaha yang sama dan dengan
menggunakan suku bunga sebesar 14% berdasarkan suku bunga kredit yang
berlaku di Bank Jawa Tengah tahun 2013. Data yang digunakan dalam simulasi
monokultur sengon dan monokultur salak adalah data yang disesuaikan dengan
metode pengelolaan yang diterapkan pada sistem agroforestri di Desa
Kalimendong baik untuk biaya ataupun pendapatannya. Hasil perhitungan analisis
finansial pada sistem agroforestri, monokultur salak dan monokultur sengon tanpa
variable biaya investasi lahan ditampilkan dalam Tabel 6.
Tabel 6 Rekapitulasi Cash flow pada jenis pengelolaan agroforestri, monokultur
salak dan monokultur sengon tanpa variable biaya investasi lahan
Agroforestri
Pendapatan
terdiskonto
Biaya
terdiskonto
NPV (Rp)
BCR
IRR (%)

Monokultur salak

Monokultur sengon

297.824.054

401.436.736

83.570.609

64.562.409

83.412.599

29.225.694

233.261.645
4,61
74,83

318.024.137
4,81
80,73

54.344.915
2,85
29,56

Net Present Value (NPV)


Net Present Value dapat menggambarkan keuntungan dari kegiatan
penjualan suatu produk yang diperoleh selama jangka waktu pengusahaan.
Metode ini menggunakan selisih dari nilai biaya total bersih sekarang dengan
pendapatan bersih sekarang (Gittinger 1986). Pada Tabel 6 menunjukkan bahwa
agroforestri sengon dengan tanaman sela salak mampu menghasilkan keuntungan
sebesar Rp 233.261.645 menurut nilai sekarang atau dengan kata lain setiap
tahunnya kegiatan agroforestri ini memberikan keuntungan cukup besar yaitu
sebesar Rp 23.326.164. Monokultur salak memiliki nilai NPV tertinggi

12

dibandingkan dengan jenis pengelolaan lainnya yaitu sebesar Rp 318.024.137,


atau keuntungan bersih yang diterima petani sebesar Rp 31.802.413 setiap tahun
menurut nilai sekarang.
Selama kurun waktu 10 tahun monokultur sengon hanya menghasilkan
nilai NPV sebesar Rp 54.344.915 menurut nilai sekarang sehingga dalam satu
tahun kegiatan monokultur sengon dengan sistem pengelolaan seperti yang
diterapkan di desa Kalimendong menghasilkan keuntungan sebesar Rp 5.434.491.
Kecilnya nilai NPV pada monokultur sengon dikarenakan dari total banyaknya
tanaman sengon yang terdapat di lahan hanya sebanyak 59% yang dipanen selama
daur, nilai ini berdasarkan asumsi bahwa sistem pengelolaan monokultur sengon
sama dengan agroforestri di Desa Kalimendong.
Benefit Cost Ratio (BCR)
Benefit Cost Ratio adalah perbandingan antara pendapatan dan
pengeluaran selama jangka waktu pengusahaan dengan tetap memperhitungan
suku bunga yang berlaku (Gittinger 1986). Melalui hasil penghitungan dengan
menggunakan tingkat suku bunga sebesar 14% menghasilkan nilai BCR sebesar
4,61 untuk jenis pengelolaan lahan dengan sistem agroforestri dan nilai BCR
tertinggi ada pada monokultur salak sebesar 4,81 sedangkan monokultur sengon
menghasilkan nilai BCR sebesar 2,85. Ketiga nilai BCR pada masing-masing
sistem pengelolaan memiliki nilai lebih dari 1 sehingga jenis pengelolaan lahan
dengan sistem agroforestri, monokultur salak ataupun sengon layak untuk
dikembangkan. Nilai BCR menunjukkan perbandingan antara pendapatan yang
diterima untuk setiap pengeluaran Rp 1.
Internal Rate of Return (IRR)
Internal Rate of Return adalah tingkat suku bunga yang membuat NPV
sama dengan nol atau tingkat suku bunga yang menyebabkan besarnya biaya sama
dengan besarnya pendapatan (Gittinger 1986). Pada jenis pengelolaan lahan
dengan sistem agroforestri menghasilkan IRR sebesar 74,83%, sistem monokultur
salak menghasilkan nilai IRR terbesar yaitu 80,73%, sedangkan sistem
monokultur sengon menghasilkan nilai IRR sebesar 29,56%. Menurut Gittinger
(1986) suatu proyek yang memiliki nilai tingkat pengembalian internal (IRR)
tinggi tidak selalu lebih baik dibandingkan proyek yang memiliki nilai IRR
rendah, proyek yang baik tetap merupakan proyek yang memberikan lebih banyak
hasil kepada pendapatan dibandingkan terhadap sumberdaya yang digunakan.
Nilai IRR yang dihasilkan menunjukkan bahwa baik sistem agroforestri,
monokultur salak ataupun monokultur sengon, memiliki kemampuan
pengembalian modal yang lebih besar dari tingkat suku bunga yang harus
dibayarkan yaitu sebesar 14%, dengan demikian ketiga sistem pengelolaan lahan
tersebut layak untuk dikembangkan.
Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas disusun untuk mempersiapkan menghadapi
ketidakpastian dalam usaha. Ketidakpastian dalam usaha menyebabkan
berkurangnya kemampuan suatu proyek bisnis dalam beroprasi untuk
menghasilkan laba dari perusahaan, dalam melakukan analisis sensitivitas dapat

13

merujuk bagian pemasaran dan bagian produksi, dengan memberikan taksiran


yang optimistik dan pesimistik (Umar 1997).
Analisis sensitivitas ini dilakukan dengan menguji ketiga jenis pengelolaan
dengan melakukan uji kepekaan bila terjadi penurunan harga jual produk sebesar
10% dan jika terjadi kenaikan biaya produksi sebesar 10%. Hasil analisis
sensitivitas dapat dilihat pada Tabel 7.
Tabel 7 Analisis sesitivitas jenis pengelolaan agroforestri(Agr), monokultur salak
(Msa) dan monokultur sengon (Mse)
Jenis
Uraian
pengelolaan
NPV
(Rp)
BCR
IRR
(%)

Agr1
Msa2
Mse3
Agr
Msa
Mse
Agr
Msa
Mse

Keterangan:

1
3

Kondisi
Normal
233.261.645
318.024.137
54.344.915
4,61
4,81
2,85
74,83
80,73
29,56

Harga turun
(10%)
203.479.239
277.880.463
45.987.854
4,15
4,33
2,57
74,78
75,02
29,55

Biaya naik
(10%)
226.805.404
309.682.877
51.422.345
4,19
4,37
2,59
74,82
75,04
29,56

Persen
perubahan (%)
Harga Biaya
turun
naik
-12,76
-2,76
-12,62
-2,62
-15,37
-5,37
-9,97
-9,11
-9,97
-9,14
-9,82
-9,12
-0,06
-0,03
-7,01
-7,04
-0,03
0,00

jenis pengelolaan agroforestri, 2 jenis pengelolaan monokultur salak dan


jenis pengelolaan monokultur sengon.

Tabel 7 menunjukkan bahwa penurunan harga produk ataupun kenaikan


biaya produksi tidak merubah kelayakan usaha agroforestri (Agr), monokultur
salak (Msa) maupun monokultur sengon (Mse) karena nilai NPV, BCR dan IRR
masih layak. Nilai NPV dari kondisi normal ke kondisi menurunnya harga jual
produk rata-rata persentasi perubahannya menurun lebih dari 10% untuk ketiga
jenis pengelolaan, sedangkan penurunan nilai NPV tidak lebih dari 10% saat
kondisi biaya produksi menurun sehingga dapat diindikasikan bahwa ketiga usaha
tersebut lebih sensitiv terhadap adanya penurunan harga jual produk.
Analisis Finansial dengan Investasi Lahan
Investasi lahan merupakan salah satu biaya yang keluar pada awal
pembangunan hutan rakyat. Meskipun hutan rakyat di Desa Kalimendong
mayoritas dikelola secara turun-temurun sehingga pada penghitungan analisis
finansial sebelumnya investasi lahan tidak dimasukkan, namun tidak menutup
kemungkinan penghitungan keuntungan finansial yang melibatkan variabel harga
lahan perlu untuk di analisis agar dapat memberikan gambaran apabila akan
melakukan pembangunan hutan rakyat dengan sistem pengelolaan agroforestri,
menerapkan monokultur salak ataupun monokultur sengon di Desa Kalimendong.
Harga lahan di Desa Kalimendong berkisar Rp 10.000/m2 harga ini berdasarkan
Nilai Jual Obyek Pajak (NJOP) tahun 2013 untuk lahan pekarangan, maka untuk 1

14

hektar lahan pekarangan di Desa Kalimendong seharga Rp 100.000.000. Hasil


penghitungan analisis finansial dengan investasi lahan ditampilkan pada Tabel 8.
Tabel 8 Rekapitulasi Cash flow pada jenis pengelolaan agroforestri, monokultur
salak dan monokultur sengon dengan variabel biaya investasi lahan
Agroforestri
Pendapatan
terdiskonto
Biaya
terdiskonto
NPV (Rp)
BCR
IRR (%)

Monokultur salak

Monokultur sengon

297.824.054

401.436.736

83.570.609

164.562.409

183.412.599

129.225.694

133.261.645
1,81
17,09

218.024.137
2,18
26,60

-45.655.085
0,64
6,86

Tabel 8 menunjukkan kondisi kelayakan secara finansial pengelolaan


hutan rakyat dengan sistem agroforestri di Desa Kalimendong, simulasi jenis
pengelolaan monokultur salak dan sengon, dengan memasukkan variabel investasi
lahan. Terlihat bahwa secara finansial pada jenis pengelolaan agroforestri dapat
dikatakan layak karena nilai NPV yang dihasilkan menunjukkan bahwa dalam
jangka waktu 10 tahun jenis pengelolaan tersebut mampu menghasilkan
keuntungan sebesar Rp 133.261.645. Berdasarkan nilai BCR jenis pengelolaan
agroforestri mampu memberikan pendapatan sebesar Rp 1,81 setiap Rp 1 biaya
yang dikeluarkan dan dari nilai IRR yang dihasilkan jenis pengelolaan ini tetap
mampu memberikan keuntungan hingga suku bunga mencapai 17,09%.
Jenis pengelolaan monokultur salak juga dapat dikatakan layak apabila
dilihat dari nilai NPV yang dihasilkan, selama jangka waktu 10 tahun jenis
pengelolaan ini mampu memberikan keuntungan sebesar Rp 218.024.137.
Berdasarkan nilai BCR jenis pengelolaan monokultur salak mampu memberikan
pendapatan sebesar Rp 2,18 setiap Rp 1 biaya yang dikeluarkan dan dari nilai IRR
yang dihasilkan jenis pengelolaan ini tetap mampu memberikan keuntungan
hingga suku bunga mencapai 26,60%.
Pengelolaan monokultur sengon secara finansial dapat dikatakan tidak
layak karena memiliki nilai NPV negatif sehingga selama 10 tahun jenis
pengelolaan ini dapat mengalami kerugian sebesar Rp 45.655.085. BCR dari jenis
pengelolaan ini bernilai kurang dari 1 yaitu 0,64 dan nilai IRR yang dihasilkan
kurang dari suku bunga yaitu 6,86%. Jenis pengelolaan monokultur sengon
mampu memberikan keuntungan pada daur ke-2 yaitu ketika petani tidak lagi
mengeluarkan biaya investasi lahan. Pada Tabel 8 terlihat bahwa jenis monokultur
sengon mampu menghasilkan keuntungan sebesar Rp 54.344.915, sehingga
kerugian yang dialami pada daur pertama mampu tertutupi saat daur kedua apabila
suku bunga yang berlaku nilainya tetap.

15

Persepsi Petani
Setiadi (2003) mengemukakan bahwa persepsi merupakan suatu proses
bagaimana stimuli-stimuli diseleksi, diorganisasikan dan diinterpretasikan.
Persepsi bersifat subjektif pada masing-masing orang dan hal ini dipengaruhi oleh
pikiran dan lingkungan sekitar. Pada penelitian ini ingin diketahui bagaimana
persepsi masyarakat tentang manfaat budidaya salak dibandingkan dengan sengon.
Teknik pengukuran yang digunakan untuk mengetahui persepsi petani adalah
skala Likert, skala Likert memiliki beberapa keuntungan antara lain: (1) mudah
dibuat dan diatur, (2) responden mudah mengerti bagaimana cara menggunakan
skala pada kuisioner, dan (3) mengukur pada tingkat skala ordinal (Rahayu 2005).
Melalui hasil wawancara diketahui bahwa persepsi masyarakat cenderung
lebih memihak pada budidaya salak, sebagian besar masyarakat menganggap
bahwa manfaat budidaya salak lebih besar dari pada sengon. Hingga saat ini
sengon dinilai kurang memberikan manfaat karena adanya penyakit karat puru
yang banyak menyerang sengon tanpa dapat dicegah serta teknis penanaman
ataupun perawatan sengon yang semakin sulit apabila ditanam berdekatan dengan
tanaman salak yang sudah tumbuh besar, sehingga dengan kondisi tersebut petani
lebih memilih untuk menghindari penanaman sengon terlalu banyak. Hal ini
terlihat pada Tabel 9 tentang tingkat persepsi masyarakat terhadap produksi
sengon dibandingkan dengan salak.
Tabel 9 Tingkat persepsi masyarakat terhadap budidaya sengo
dibandingkan dengan salak
Kriteria
n
%
Sangat Baik
0
00,00
Baik
0
00,00
Sedang
22
25,00
Buruk
54
61,36
Sangat Buruk
12
13,64
Jumlah
88
100
Berdasarkat Tabel 9, sebanyak 12 orang dari total responden atau sebesar
13,64% responden memiliki persepsi yang sangat buruk tehadap tanaman sengon.
Petani beranggapan bahwa budidaya sengon tidak dapat memberikan keuntungan,
sehingga petani dengan persepsi sangat buruk tehadap sengon tidak ingin
melakukan penanaman kembali, sengon yang berada pada lahannya hanya sengon
yang berumur lebih dari daur. Sebanyak 54 dari total responden atau sebesar
61,36% responden memiliki persepsi buruk terhadap sengon, artinya petani masih
berminat untuk menanam sengon pada lahannya walaupun mayoritas petani hanya
berniat menjadikan sengon sebagai tanaman pinggiran dan mereka memiliki
persepsi bahwa membudidayakan salak lebih banyak memberikan keuntungan
dibandingkan sengon. Sebanyak 22 orang responden dari total seluruh responden
atau sebesar 25,00% responden menganggap baik budidaya sengon ataupun salak
sama-sama dapat memberikan keuntungan.
Di masa yang akan datang apabila persepsi masyarakat terhadap
keuntungan budidaya salak semakin tinggi, besar kemungkinan sistem agroforestri

16

sengon dan salak dapat berubah menjadi lahan dengan sistem pengelolaan
monokultur salak. Walaupun monokultur salak memiliki keuntungan finansial
yang cukup tinggi namun pengelolaan hutan dengan sistem agroforestri tetap lebih
banyak memberikan keuntungan tidak hanya secara ekonomi namun keuntungan
ekologi dan sosial. Sebenarnya tanaman sengon masih dapat berkontribusi
memberikan keuntungan yang besar kepada petani di Desa Kalimendong, karena
dari 100% pohon sengon yang ada dilahan hanya 59% yang dipanen sesuai daur
sehingga apabila mengabaikan factor kerugian akibat serangan hama masih ada
sebanyak 41% pohon sengon petani masih memiliki tabungan berupa pohon
sengon yang sengaja tidak dipanen selama daur 10 tahun. Selain itu Hardiatmi
(2008) menyebutkan beberapa keuntungan agroforestri diantaranya adalah
keuntungan secara ekologi berupa kualitas lahan yang semakin subur dan
produktif karena selalu memperoleh penambahan bahan organik dari dedaunan
yang gugur serta stabilitas tanah juga dapat lebih baik dengan adanya perakaran
tanaman berkayu, sedangkan keuntungan sosial berupa kekuatan ikatan psikologis
masyarakat yang tinggal disekitar hutan semakin peduli dan bertanggungjawab
terhadap hutan. Budiastuti (2013) mengungkapkan kelebihan dari agroforestri
yaitu tingkat variasi tanaman dalam sistem agroforestri akan menciptakan tingkat
stratifikasi tajuk yang tinggi pula, sehingga perbedaan tingkat stratifikasi tajuk
dapat mengurangi kecepatan dan kekuatan pukulan bulir air hujan yang jatuh ke
tanah.

KESIMPULAN DAN SARAN


Kesimpulan
Hutan rakyat dengan sistem agroforestri di Desa Kalimendong menghasilkan
nilai NPV sebesar Rp 233.261.645, nilai BCR 4,61 dan nilai IRR sebesar 74,83%.
Ketiga nilai tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan hutan rakyat dengan sistem
agroforestri di Desa Kalimendong layak untuk dikembangkan. Sebagian besar
responden beranggapan bahwa saat ini tanaman salak lebih menguntungkan
dibanding sengon. Tanaman salak menyebabkan kendala teknis budidaya sengon
semakin besar, sehingga minat petani untuk memperbanyak sengon semakin
berkurang.
Saran
1. Petani lebih memperhatikan jarak tanam antar tanaman dan meningkatkan
sistem pengelolaan hutan rakyat agar hasil dapat meningkat.
2. Perlu dikaji kontribusi tanaman berkayu (sengon atau tanaman lain) dan
tanaman sela (selain salak) yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat
bersimbiosis mutualisme dalam pola agroforestri yang lestari.
3. Untuk penelitian selanjutnya sebaiknya mengkaji lebih dalam keuntungan
finansial dari tanaman komersil lainnya yang mulai dibudidayakan pada hutan
rakyat di Desa Kalimendong

17

DAFTAR PUSTAKA
Anarsia W. 1996. Agribisnis Komoditas Salak. Jakarta (ID): PT Bumi Aksara
Atmosuseno BS. 1998. Budidaya, Kegunaan dan Prospek Sengon. Jakarta
(ID):Penebar Swadaya.
[BPS] Badan Pusat Statistik. 2013. Proyeksi Penduduk 2000-2025. [Diunduh 2013
Juli
20].
Tersedia
pada:
http://www.datastatistikindonesia.com/proyeksi/index.php?option=com_content&task=view&id=920&
Itemid=936
Budiastuti S. 2013. Sistem Agroforestry Sebagai Alternatif Hadapi Pergeseran
Musim Guna Mencapai Keamanan Pangan. J ekosains Vol. V No.1
Desa Kalimendong. 2012. Profil Desa Kalimendong. Kabupaten Wonosobo.
Fakultas Kehutanan IPB. 2000. Hutan Rakyat di Jawa : Perannya dalam
Perekonomian Desa. Didik Suharjito, Editor. Program Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan Masyarakat (P3KM). Bogor
Gittinger JP. 1986. Analisa Ekonomi Proyek-Proyek Pertanian. Penerjemah:
Slamet Sutomo dan Komet Mangiri. Jakarta (ID): Universitas Indonesia Press.
Hardiatmi S. 2008. Kontribusi Agroforestry Dalam Menyelamatkan Hutan dan
Ketahanan Pangan Nasional. J Inovasi Pertanian Vol. 7, No. 1, (26-32)
Hindra B. 2006. Potensi Kelembagaan Hutan Rakyat [Prosiding].Seminar Hasil
Litbang Hasil Hutan 2006:14-23
Mulyana D, Asmarahman C. 2010. 7 Jenis Kayu Penghasil Rupiah. Jakarja
Selatan (ID): Agromedia Pustaka
Rahayu S. 2005. Aplikasi SPSS Versi 12.00 dalam Riset Pemasaran. Bandung
(ID): Alfabeta.
Setiadi Nugroho J. 2003. Perilaku Konsumen: Perspektif Kontemporer pada Motif,
Tujuan, dan Keinginan Konsumen. Jakarta (ID): Kencana Prenada Media Grup.
Slamet Y. 1993. Analisis Kuantitatif untuk Data Sosial. Solo (ID): Dabara
Publisher
Suharjito D. 2002. Pemilihan Jenis Tanaman Kebun-Talun: Suatu Kajian
Pengambilan Keputusan Oleh Petani. J Manajemen Hutan Tropika Vol.VII.
No.2:47-56
Umar H. 1997. Studi Kelayakan Bisnis. Jakarta (ID): PT Gramedia Pustaka Utama.
______. 2005. Riset Pemasaran dan Perilaku Konsumen. Jakarta (ID): PT
Gramedia Pustaka Utama.

18

Lampiran 1 Produksi dan harga produk pada sistem pengelolaan agroforestri


sengon dan salak berdasarkan tahun tanam
Tahun ke-

Item

Sengon
(batang)

18

25

18

10

Harga
(Rp/batang)

100.000

200.000

400.000

500.000

700.000

1.000.000

10.710

10.710

10.710

21.420

21.420

21.420

21.420

21.420

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

Salak (Kg)
Harga
(Rp/Kg)

10

Lampiran 2 Produksi dan harga produk pada sistem pengelolaan monokultur


salak berdasarkan tahun tanam
Item
Salak (Kg)
Harga
(Rp/Kg)

Tahun ke5
6

15.000

15.000

15.000

5.000

5.000

5.000

10

30.000

30.000

30.000

30.000

30.000

5.000

5.000

5.000

5.000

5.000

Lampiran 3 Produksi dan harga produk pada sistem pengelolaan monokultur


sengon berdasarkan tahun tanam
Item
Sengon
(batang)
Harga
(Rp/batang)

134

100.000

Tahun ke5

10

187

134

75

52

15

200.000

400.000

500.000

700.000

1.000.000

19

Lampiran 4 Biaya pengelolaan hutan rakyat dengan sistem agroforestri


No

Jenis biaya

Harga satuan
(Rp)

1. Pajak Bumi dan


Bangunan (PBB)
2. Pembersihan lahan
3. Pengadaan bibit
a. Salak
5.000
b. Sengon
12.000
4. Pengadaan alat
a. Cangkul
50.000
b. Sabit
40.000
c. Gunting
20.000
d. Keranjang
10.000
5. Pengadaan pupuk
a. Pupuk urea
97.000/25 kg
b. Pupuk NPK 130.000/25 kg
c. Pupuk
800/kg
kandang
6. Pengangkutan Salak
10.000/50 kg

Keterangan
(per Ha)

Kebutuhan
pertanaman

Waktu
pengeluaran

Jumlah (Rp)

2.000.000

t0

2.142 bibit
160 bibit

10.710.000
1.920.000

t0
t0

2 unit
2 unit
2 unit
5 unit

100.000
80.000
40.000
50.000

357 kg 0,2 Kg/tanaman


178 kg 0,1 Kg/tanaman
3.570 kg 2 Kg/tanaman

1.552.000
1.560.000
2.800.000

t0-t10
t0-t10
t0-t10

2.142.000

t0-t10

115.593

t0-t10

t0, t5, t10


t0, t5, t10
t0, t3, t6, t9
t0-t10

Lampiran 5 Biaya pengelolaan hutan rakyat dengan sistem monokultur salak


No
1.
2.
3.
4.

5.

6.

Jenis biaya

Harga satuan
(Rp)
-

Pajak Bumi dan


Bangunan (PBB)
Pembersihan lahan
Pengadaan bibit salak
5.000
Pengadaan alat
e. Cangkul
50.000
f. Sabit
40.000
g. Gunting
20.000
h. Keranjang
10.000
Pengadaan pupuk
d. Pupuk urea
97.000/25 kg
e. Pupuk NPK 130.000/25 kg
f. Pupuk
800/kg
kandang
Pengangkutan Salak
10.000/50 kg

Keterangan
(per Ha)
-

Kebutuhan
pertanaman

Jumlah (Rp)
-

115.593

3000 bibit

2.000.000
15.000.000

2 unit
2 unit
2 unit
5 unit

100.000
80.000
40.000
50.000

500 kg 0,2 Kg/tanaman


250 kg 0,1 Kg/tanaman
5000 kg 2 Kg/tanaman

1.940.000
1.300.000
4.000.000

3.000.000

Waktu
pengeluaran
t0-t10
t0
t0
t0, t5, t10
t0, t5, t10
t0, t3, t6, t9
t0-t10
t0-t10
t0-t10
t0-t10
t0-t10

20

Lampiran 6 Biaya pengelolaan hutan rakyat dengan sistem monokultur


sengon
No

Jenis biaya
1. Pajak Bumi dan
Bangunan (PBB)
2. Pembersihan lahan
3. Pengadaan bibit
sengon
4. Pengadaan alat
a. Cangkul
b. Sabit
5. Pengadaan pupuk
kandang

Harga satuan
(Rp)
-

Keterangan
(per Ha)
-

Kebutuhan
pertanaman

12.000

1200 bibit

2.000.000
14.400.000

50.000
40.000
800/kg

2 unit
2 unit
5000 kg

2 Kg/tanaman

100.000
80.000
4.000.000

Jumlah (Rp)
-

115.593

Waktu
pengeluaran
t0-t10
t0
t0
t0, t5, t10
t0, t5, t10
t0-t10

Lampiran 7 Rincian upah pekerja per HOK (Hari Orang Kerja) pada sistem
pengelolaan agroforestri

No

Jenis kegiatan

Penanaman (salak dan sengon)

Pemupukan (salak dan sengon)

Panen (Salak)
Penyerbukan dan pemotongan
pelepah (salak)

28

Lama
kerja
(jam)
6 jam

40.000

Jumlah
pekerja
(orang)
2

8 jam

40.000

320.000

24

6 jam

20.000

960.000

45

4 jam

10.000

450.000

HOK
(hari/tahun)

Upah
(Rp)

Upah total
(Rp/tahun)
2.240.000

21

Lampiran 8 Rincian upah pekerja per HOK (Hari Orang Kerja) pada sistem
gelolaan monokultur salak
Jenis kegiatan

HOK
(hari/tahun)

Penanaman salak

25

Lama
kerja
(jam)
6 jam

Pemupukan salak

Panen (Salak)
Penyerbukan dan
pemotongan pelepah
(salak)

No

40.000

Jumlah
pekerja
(orang)
2

8 jam

40.000

320.000

34

6 jam

20.000

1.360.000

63

4 jam

10.000

630.000

Upah
(Rp)

Upah total
(Rp/tahun)
2.000.000

Lampiran 9 Rincian upah pekerja per HOK (Hari Orang Kerja) pada sistem
pengelolaan monokultur sengon

Penanaman sengon

33

Lama
kerja
(jam)
6 jam

Pemupukan sengon

8 jam

No

Jenis kegiatan

HOK
(hari/tahun)

40.000

Jumlah
pekerja
(orang)
2

40.000

Upah
(Rp)

Upah total
(Rp/tahun)
2.640.000
320.000

22

Lampiran 10

Cash flow monokultur salak tanpa variabel biaya investasi lahan


(Rp/Ha/Tahun)
Tahun ke-

Uraian
0

Kas masuk
Panen salak

75.000.000

75.000.000 75.000.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

15.000.000

2.000.000

100.000

100.000

2. Sabit

80.000

80.000

3. Gunting

40.000

40.000

4. Keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

Kas keluar
Pajak tanah
Bibit salak
Persiapan lahan
A.Pembelian alat
1. Cangkul

B.Upah pekerja
1. Penanaman

2.000.000

2. Pemupukan

320.000

320.000

3. Penyerbukan

630.000

4. Panen

1.360.000

1.360.000

1.360.000

1. Pupuk kandang

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

2. Pupuk urea

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

0
7.725.593

0
8.355.593

3.000.000
12.755.593

3.000.000
12.715.593

3.000.000
12.895.593

320.000
630.000

320.000
630.000

320.000
630.000

C.Pengadaan pupuk

3. NPK
Pengangkutan salak
Total

0
19.270.000

23

Lampiran 11 Lanjutan cash flow monokultur salak tanpa variabel biaya investasi
lahan (Rp/Ha/Tahun)
Tahun Ke-

Uraian
6

10

Kas masuk
Panen salak

150.000.000

150.000.000

150.000.000

150.000.000

150.000.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

Bibit salak

Persiapan lahan

1. Cangkul

100.000

2. Sabit

80.000

Kas keluar
Pajak tanah

A.Pembelian alat

3. Gunting

40.000

40.000

4. Keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

1. Penanaman

2. Pemupukan

320.000
630.000

320.000
630.000

320.000
630.000

320.000
630.000

320.000
630.000

4. Panen
C.Pengadaan
pupuk

1.360.000

1.360.000

1.360.000

1.360.000

1.360.000

1. Pupuk kandang

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

2. Pupuk urea

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

3. NPK
Pengangkutan
salak
Total

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

3.000.000
15.755.593

3.000.000
15.715.593

3.000.000
15.715.593

3.000.000
15.755.593

4.800.000
15.895.593

B. Upah pekerja

3. Penyerbukan

NPV
BCR
IRR

= Rp 318.024.137
=4,81
= 80,73%

24

Lampiran 12 Cash flow monokultur sengon tanpa variabel biaya investasi lahan
(Rp/Ha/Tahun)
Uraian

Tahun ke2

Kas masuk
Panen

0 13.400.000

37.400.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

14.400.000

Kas keluar
Pajak
Bibit salak
Persiapan lahan

2.000.000

A.Pengadaan alat
1. Cangkul

200.000

200.000

2. Sabit

160.000

160.000

2.700.000

80.000

80.000

80.000
1.600.000

80.000
1.600.000

1.795.593

2.155.593

B.Upah pekerja
1. Penanaman
2. Pemupukan
0

1.600.000 1.600.000

80.000
1.600.000

19.575.593

1.795.593 1.795.593

1.795.593

Pupuk kandang
TOTAL

Lampiran 13 Lanjutan cash flow monokultur sengon tanpa variabel biaya


investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
Uraian

Tahun Ke6

10

53.600.000

37.500.000

36.400.000

15.000.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

1. Cangkul

200.000

2. Sabit

160.000

1. Penanaman

2. Pemupukan
Pupuk kandang

80.000
1.600.000

80.000
1.600.000

80.000
1.600.000

80.000
1.600.000

80.000
1.600.000

TOTAL

1.795.593

1.795.593

1.795.593

1.795.593

2.155.593

Kas masuk
Panen
Kas keluar
Pajak
Bibit salak
Persiapan lahan
A.Pengadaan alat

B.Upah pekerja

NPV = Rp 54.344.915
BCR =2,85
IRR = 29,56%

25

Lampiran 14 Cash flow agroforestri sengon dan salak tanpa variabel biaya
investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
Tahun ke-

Uraian
0

Kas masuk
panen salak

0 53.550.000 53.550.000 53.550.000

Penebangan

TOTAL

0 53.550.000 55.350.000 58.550.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

10.710.000

persiapan lahan

2.000.000

Bibit sengon

1.920.000

100.000

100.000

2. sabit

80.000

80.000

3. gunting

40.000

40.000

4. keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

1. penanaman

2.240.000

2. pemupukan

320.000

320.000

320.000

3. penyerbukan

450.000

450.000

320,000
450.000

320.000
450.000

4. Pemanenan

960.000

960.000

960.000

1. pupuk kandang

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

2. pupuk urea

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

3. NPK
pengangkutan salak

0
0

910.000
0

910.000
0

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

17.140.000

5.823.993

6.273.993

9.415.993

9.375.993

9.555.993

1.800.000

5.000.000

Kas keluar
pajak tanah
Bibit salak

A. pembelian alat
1. cangkul

B.Upahtenaga kerja

C. pembelian pupuk

TOTAL

26

Lampiran 15 Lanjutan cash flow agroforestri sengon dan salak tanpa variabel
biaya investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
Tahun Ke-

Uraian
6

10

Kas masuk
panen salak

107.100.000

107.100.000

107.100.000

107.100.000

107.100.000

Penebangan
TOTAL

7.200.000
114.300.000

5.000.000
112.100.000

4.900.000
112.000.000

0
107.100.000

2.000.000
109.100.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

Bibit salak

persiapan lahan

Bibit sengon

1. cangkul

100.000

2. sabit

80.000

Kas keluar
pajak tanah

A. pembelian alat

3. gunting

40.000

40.000

4. keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

1. penanaman

2. pemupukan
3. penyerbukan

320.000
450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

4. Pemanenan

960.000

960.000

960.000

960.000

960.000

1. pupuk kandang

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

2. pupuk urea

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

3. NPK
pengangkutan salak

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

11.557.993

11.517.993

11.517.993

11.557.993

11.697.993

B.Upah tenaga kerja

C. pembelian pupuk

TOTAL

NPV = Rp 233.261.645
BCR = 4,61
IRR = 74,83%

27

Lampiran 16 Cash flow monokultur salak dengan varabel biaya investasi lahan
(Rp/Ha/tahun)
Tahun ke-

Uraian
0

Kas masuk
Panen salak

75.000.000

75.000.000

75.000.000

Kas keluar
Pembelian lahan

100.000.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

15.000.000

2.000.000

100.000

100.000

2. Sabit

80.000

80.000

3. Gunting

40.000

40.000

4. Keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

1. Penanaman

2.000.000

2. Pemupukan

320.000

320.000

320.000

320.000

320.000

3. Penyerbukan

630.000

630.000

630.000

630.000

4. Panen

1.360.000

1.360.000

1.360.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

119.270.000

7.725.593

8.355.593

12.755.593

12.715.593

12.895.593

Pajak tanah
Bibit salak
Persiapan lahan
A.Pembelian alat
1. Cangkul

B. Upah pekerja

C. Pengadaan pupuk
1.Pupuk kandang
2. Pupuk urea
3. NPK
Pengangkutan
salak
Total

28

Lampiran 17 Lanjutan cash flow monokultur salak dengan varabel biaya investasi
lahan (Rp/Ha/tahun)
Tahun Ke-

Uraian
6

10

Kas masuk
Panen salak

150.000.000 150.000.000

150.000.000

150.000.000

150.000.000

Kas keluar
Pembelian lahan

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

1. Cangkul

100.000

2. Sabit

80.000

3. Gunting

40.000

40.000

4. Keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

1. Penanaman

2. Pemupukan

320.000
630.000

320.000
630.000

320.000
630.000

320.000
630.000

320.000
630.000

1.360.000

1.360.000

1.360.000

1.360.000

1.360.000

1.Pupuk kandang

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

4.000.000

2. Pupuk urea

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

1.940.000

3. NPK

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

1.300.000

Pengangkutan salak

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

3.000.000

15.755.593

15.715.593

15.715.593

15.755.593

15.895.593

Pajak tanah
Bibit salak
Persiapan lahan
A.Pembelian alat

B. Upah pekerja

3. Penyerbukan
4. Panen
C. Pengadaan pupuk

Total

29

Lampiran 18Cash flow monokultur sengon dengan variabel biaya investasi lahan
(Rp/Ha/tahun)
Tahun Ke-

Uraian
0

13.400.000

37.400.000

100.000.000

Pajak

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

Bibit

14.400.000

Kas masuk
Panen
Kas keluar
Pembelian lahan

Persiapan lahan

2.000.000

A. Pengadaan alat
1. Cangkul

200.000

200.000

2. Sabit

160.000

160.000

2.700.000

80.000

80.000

80.000

80.000

80.000

1.600.000

1.600.000

1.600.000

1.600.000

1.600.000

119.575.593

1.795.593

1.795.593

1.795.593

1.795.593

2.155.593

B. Upah tenaga kerja


1. Penanaman
2. Pemupukan
Pupuk
Pupuk kandang
TOTAL

Lampiran 19 Lanjutan cash flow monokultur sengon dengan variabel biaya


investasi lahan (Rp/Ha/tahun)
Tahun Ke-

Uraian
6

10

53.600.000

37.500.000

36.400.000

15.000.000

Pajak

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

Bibit

1. Cangkul

200.000

2. Sabit

160.000

1. Penanaman

2. Pemupukan

80.000

80.000

80.000

80.000

80.000

Pupuk kandang

1.600.000

1.600.000

1.600.000

1.600.000

1.600.000

TOTAL

1.795.593

1.795.593

1.795.593

1.795.593

2.155.593

Kas masuk
Panen
Kas keluar
Pembelian lahan

Persiapan lahan
A. Pengadaan alat

B. Upah tenaga kerja

Pupuk

NPV
BCR
IRR

= Rp -45.655.085
= 0,64
= 6,86%

30

Lampiran 20 Cash flow agroforestri sengon dan salak dengan variabel biaya
investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
Uraian

Tahun Ke0

Kas masuk
panen salak

0 53.550.000 53.550.000

Penebangan

1.800.000

5.000.000

TOTAL

0 53.550.000 55.350.000

58.550.000

100.000.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

10.710.000

Persiapan lahan

2.000.000

Pengadaan bibit Sengon

1.920.000

100.000

100.000

2. Sabit

80.000

80.000

3. Gunting

40.000

40.000

4. Keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

53.550.000

Kas keluar
Pembelian lahan
Pajak tanah
Bibit salak

A. Pembelian alat
1. Cangkul

B. Upah tenaga kerja


1. Penanaman

2.240.000

2. Pemupukan

320.000

320.000

3. Penyerbukan

450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

4. Pemanenan

960.000

960.000

960.000

1. Pupuk kandang

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

2. Pupuk urea

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

3. NPK

910.000

910.000

910.000

910.000
2.142.000
9.555.993

C. Pembelian pupuk

Pengangkutan salak
TOTAL

2.142.000

910.000
2.142.000

117.140.000

5.823.993

6.273.993

9.415.993

9.375.993

31

Lampiran 21 Lanjutan cash flow agroforestri sengon dan salak dengan variabel
biaya investasi lahan (Rp/Ha/Tahun)
Tahun KeUraian

panen salak

107.100.000

107.100.000

Penebangan

7.200.000

5.000.000

114.300.000

10

Kas masuk
107.100.000

107.100.000

4.900.000

2.000.000

112.100.000

112.000.000

107.100.000

109.100.000

115.593

115.593

115.593

115.593

115.593

Bibit salak

Persiapan lahan
Pengadaan bibit
Sengon

1. Cangkul

100.000

2. Sabit

80.000

TOTAL

107.100.000

Kas keluar
Pembelian lahan
Pajak tanah

A. Pembelian alat

3. Gunting

40.000

40.000

4. Keranjang

50.000

50.000

50.000

50.000

50.000

1. Penanaman

2. Pemupukan
3. Penyerbukan

320.000
450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

320.000
450.000

4. Pemanenan

960.000

960.000

960.000

960.000

960.000

1. Pupuk kandang

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

3.070.400

2. Pupuk urea

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

1.358.000

3. NPK

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

910.000
2.142.000

11.557.993

11.517.993

11.517.993

11.557.993

11.697.993

B. Upah tenaga kerja

C. Pembelian pupuk

Pengangkutan salak
TOTAL

NPV
BCR
IRR

= Rp 133.261.645
= 1,80
= 17%

32

Lampiran 22 Gambar hutan rakyat Desa Kalimendong

Gambar 1 Hutan rakyat tahun 2006

Gambar 3 Pembagian batang

Gambar 2 Hutan rakyattahun 2013

Gambar 4 Pemanenan sengon

33

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Aileu pada tanggal 11 Januari
1992 dari ayah bernama Purwandi, SH dan Ibu bernama
Siti Rofiah.Penulis adalah anak kedua dari tiga bersaudara.
Pada tahun 2009 penulis lulus dari SMA Negeri 2 Tuban
dan pada tahun yang sama penulis diterima di Institut
Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan. Selama menjadi
mahasiswa, penulis aktif dibeberapa organisasi diantaranya,
Koprasi Mahasiswa IPB, Organisasi Mahasiswa Daerah Tuban, PC Sylva IPB,
dan Forest Management Student Club(FMSC). Penulis juga ikut serta dalam
berbagai kepanitiaan di IPB.Selain itu penulis juga melakukan Praktek Kerja
Lapang di PT Fortuna Cipta Sejahtera, Kabupaten Muara Teweh, Kalimantan
Tengah pada bulan Februari-April 2013.