Anda di halaman 1dari 12

AKUISISI, MARGER DAN DEVISTASI

Pengertian Akuisisi
Sebelum membahas lebih lanjut tentang tujuan dan motivasi perusahaan melakukan akuisisi,
terlebih dahulu akan dibahas pengertian dari akuisisi. Ada beberapa pendapat dari para ahli
tentang definisi akuisisi yang dapat dikemukakan sebagai berikut :
Menurut PSAK No. 2 paragraf 08 tahun 1999 : Akuisisi (acqusition) adalah suatu
penggabungan usaha dimana salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi (acquirer)
memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusahaan yang diakuisisi (acquiree),
dengan memberikan aktiva tertentu, mengakui suatu kewajiban, atau mengeluarkan
saham.
Sedangkan Michael A. Hitt, dkk (2002 : 259) menyatakan bahwa : Akuisisi yaitu
memperoleh atau membeli perusahaan lain dengan cara membeli sebagian besar saham
dari perusahaan sasaran.
Definisi lainnya menurut P.S Sudarsanan (1999) dalam Christina (2003 : 9); Akuisisi
dapat didefinisikan sebagai sebuah perjanjian, sebuah perusahaan membeli aset atau
saham perusahaan lain, dan para pemegang dari perusahaan lain menjadi sasaran akuisisi
berhenti menjadi pemilik perusahaan.
Marcell Go dalam Christina (2003 : 9), dalam bukunya yang berjudul manajemen grup
bisnis menyatakan bahwa : Akuisisi sering juga disebut sebagai investasi peranan
modal. Akuisisi adalah penguasaan sebagian saham dari perusahaan subsidiary, melalui
pembelian saham hak suara perusahaan subsidiary, dalam jumlah material (lebih dari
50%).
Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka akuisisi dapat disimpulkan sebagai
pengambilalihan kepemilikan suatu perusahaan oleh perusahaan lain yang dilakukan dengan cara
membeli sebagian atau seluruh saham perusahaan, dimana perusahaan yang diambil alih tetap
memiliki hukum sendiri dan dengan maksud untuk pertumbuhan usaha.

Klasifikasi Akuisisi
a. Berdasarkan bentuk dasar akuisisi, terdapat tiga prosedur dasar yang tepat dilakukan
perusahaan untuk mengambil alih perusahaan lain, yaitu :
1. Merger atau konsolidasi Istilah merger sering digunakan untuk menunjukkan
penggabungan dua perusahaan atau lebih, dan kemudian tinggal nama salah satu
perusahaan yang bergabung. Sedangkan consolidation menunjukkan penggabungan dari
dua perusahaan atau lebih, dan dari perusahaan-perusahaan yang bergabung tersebut
hilang, kemudian muncul nama baru dari perusahaan gabungan.
2. Akuisisi saham Cara kedua untuk mengambil alih perusahaan lain adalah membeli saham
perusahaan tersebut, baik dibeli secara tunai, ataupun menggantinya dengan sekuritas lain
(saham atau obligasi). Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan untuk memilih antara
akuisisi saham atau merger :
Dalam akuisisi saham, tidak diperlukan rapat umum pemegang saham (RUPS)
dan pemungutan suara
Dalam akuisisi saham, perusahaan yang akan mengakuisisi dapat berhubungan
langsung dengan pemegang saham target lewat tender offer.

Akuisisi saham seringkali dilakukan secara tidak bersahabat untuk menghindari


manajemen perusahaan target yang seringkali menolak akuisisi tersebut.
Seringkali sejumlah minoritas pemegang saham dari perusahaan target tetap tidak
mau menyerahkan saham mereka untuk dibeli dalam tender offer, sehingga
perusahaan target tetap tidak sepenuhnya terserap ke perusahaan yang
mengakuisisi.
3. Akuisisi Assets Suatu perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan jalan
membeli aktiva perusahaan tersebut. Cara ini akan menghindarkan perusahaan dari
kemungkinan memiliki pemegang saham minoritas, yang dapat terjadi pada peristiwa
akuisisi saham. Akuisisi assets dilakukan dengan cara pemindahan hak kepemilikan
aktiva-aktiva yang dibeli.
b. Berdasarkan keterkaitan operasinya, akusisi dikelompokkan sebagai berikut :
Akuisisi Horisontal
Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan lain yang mempunyai bisnis atau bidang
usaha yang sama. Perusahaan yang diakuisisi dan yang mengakuisisi bersaing untuk
memasarkan produk yang mereka tawarkan
Akuisisi vertical
Akuisisi ini dilakukan terhadap perusahaan yang berada pada tahap proses produksi yang
berbeda. Misalnya, perusahaan rokok mengakuisisi perusahaan perkebunan tembakau.
Akuisisi konglomerat
Perusahaan yang mengakuisisi dan yang diakuisisi tidak mempunyai keterkaitan operasi.
Akuisisi perusahaan yang menghasilkan food-product oleh perusahaan komputer, dapat
dikatakan sebagai akuisisi konglomerat (Suad Husnan, 1998 : 648-651)

Motivasi Akuisisi
Alasan yang sering dikemukakan ketika perusahaan bergabung dengan perusahaan lain
atau melakukan akuisisi adalah karena dengan akuisisi, perusahaan mampu mencapai
pertumbuhan lebih cepat daripada harus membangun unit usaha sendiri. Selain itu, faktor yang
paling mendasari perusahaan melakukan akuisisi adalah motif ekonomi (mendapat keuntungan).
Beberapa perusahaan melakukan akuisisi karena adanya beberapa motivasi. Menurut Suad
Husnan (1998 : 658-660) motivasi akuisisi salah satunya adalah
Sinergi
Sinergi merupakan nilai gabungan dari kedua perusahaan yang bergabung, lebih besar
dari penjumlahan masing-masing nilai perusahaan yang digabungkan. Jadi, kondisi saling
menguntungkan Pdari peristiwa akuisisi, akan terjadi jika telah diperoleh sinergi. Sinergi yang
dihasilkan akuisisi ada dua jenis yaitu operasional sinergi dan sinergi keuangan. Operasional
sinergi adalah sinergi yang dinikmati perusahaan karena kombinasi dari beberapa operasi,
sehingga dapat menekan biaya atau menaikkan penghasilan. Sedangkan sinergi keuangan,
berasal dari penghematan yang dinikmati perusahaan yang berasal dari sumber pendanaan
(financing). Sinergi yaitu kondisi dimana nilai keseluruhan lebih besar daripada hasil
penjumlahan bagian-bagiannya. Pengaruh sinergi bisa timbul dari empat sumber, yaitu:
penghematan operasi, yang dihasilkan dari skala ekonomis dalam manajemen pemasaran, produksi,
atau distribusi;

penghematan keuangan, yang meliputi biaya transaksi yang lebih rendah dan evaluasi yang lebih baik
oleh para analis sekuritas;
perbedaan efisiensi; dan
peningkatan penguasaan pasar akibat berkurangnya persaingan.

Manfaat

Akuisisi

Menurut Shapiro (1991 : 933) dalam Christina (2003 : 12), keuntungan atau manfaat akuisisi
adalah sebagai berikut :
Peningkatan tingkat pertumbuhan yang lebih cepat dalam bisnis sekarang daripada
melakukan pertumbuhan secara internal.
Mengurangi tingkat persaingan dengan membeli beberapa badan usaha guna
menggabungkan kekuatan pasar dan pembatasan persaingan.
Memasuki pasar baru penjualan dan pemasaran sekarang yang tidak dapat ditembus
Menyediakan manag erial skill, yaitu adanya bantuan manajerial mengelola aset-aset
badan usaha.

Proses Akuisisi
Proses akuisisi merupakan suatu faktor penting, terutama karena pembelian suatu unit
bisnis tertentu pada umumnya berkaitan dengan jumlah uang yang relatif besar dan
membutuhkan waktu yang relatif lama, sehingga bagi perusahaan pengambil alih, sebelum
memutuskan untuk akuisisi terhadap suatu perusahaan terlebih dahulu akan berusaha memahami
secara lebih jelas mengenai prospek dan sasaran yang akan dicapai.
a. Proses akuisisi menurut P.S Sudarsaman (1999 : 50) dalam Christina (2003 : 15) terdiri dari
tiga tahap, yaitu :
1. Tahap persiapan, meliputi :
Mengembangkan strategi akuisisi, alasan penciptaan nilai dan kriteria akuisisi
Meneliti, menyaring dan mengidentifikasi perusahaan target.
Evaluasi strategi terhadap sasaran dan menilai kelayakan akuisisi
2. Tahap negosiasi, meliputi :
Pengembangan strategi pengarahan
Mengevaluasi keuangan dan perhitungan harga perusahaan target
Negosiasi dan transaksi pembiayaan
3. Tahap integrasi (penggabungan), meliputi :
Mengevaluasi kesehatan organisasi dan budaya perusahaan
Mengembangkan pendekatan integrasi
Menyesuaikan strategi, organisasi dan budaya antara perusahaan pengakuisisi dan
perusahaan yang diakusisi.
Hasil-hasil

Perlakuan Akuntansi Akuisisi


Dilihat dari segi akuntansinya, apabila dua atau lebih badan usaha diselenggarakan
bersama atau digabungkan dengan tujuan untuk melanjutkan usaha-usahanya yang terdahulu.
Sebagai akibat adanya kombinasi tersebut, maka prosedur pencatatan akuntansinya terdiri dari

dua macam metode yaitu metode pembelian (by purchase) dan metode penyatuan kepentingan
(by pooling of interest)
b. Menurut Hadori Yunus (1981 : 251, 258) :
1. Metode pembelian (by purchase), yaitu apabila di dalam suatu kombinasi usaha dari dua
atau lebih badan usaha, dimana bagian yang terpenting dari pemilikan perusahaan atau
perusahaan-perusahaan yang diperoleh itu dieliminasikan. Atau apabila penggabungan
badan usaha tersebut berakibat para pemilik perusahaan yang bergabung tidak lagi ikut
berpartisipasi secara substansil di dalam perusahaan tunggal yang dibentuk. Dengan lain
perkataan, sebagai akibat kombinasi usaha itu terjadi (timbul) suatu pemilikan baru.
2. Metode penyatuan kepentingan (by pooling of interest), yaitu pada suatu kombinasi usaha
dari dua atau lebih badan usaha, dimana pemegang-pemegang dari bagian penting atas
pemilikan masing-masing badan usaha itu menjadi pemilik dari badan usaha yang
kemudian memiliki harta kekayaan dan usaha-usaha dari perusahaan yang bergabung,
baik secara langsung atau melalui satu atau lebih anak perusahaan.
c. Sedangkan menurut Suad Husnan (1998 : 655,656)
1. Metode pembelian (by purchase)
Metode ini mencatat kekayaan perusahaan yang diakuisisi pada harga pasar yang wajar
(fair market value) pada buku perusahaan yang melakukan akuisisi. Dengan demikian,
maka perusahaan yang melakukan akuisisi dapat menentukan harga perolehan yang baru
(new cost basis) untuk aktiva-aktiva yang diakuisisi. Pada metode ini, istilah akuntansi
goodwill diciptakan. Goodwill merupakan selisih antara harga yang dibayar dengan
nilai pasar yang wajar dari aktiva yang diakuisisi.
2. Metode penyatuan kepentingan (by pooling of interest)
Dengan metode ini, aktiva-aktiva perusahaan baru dinilai sama dengan nilai buku dari
perusahaan yang mengakuisisi dan diakuisisi. Perusahaan yang baru, dimiliki bersama
oleh para pemegang saham perusahaan-perusahaan lama. Aktiva total dan ekuitas total
tidak mengalami perubahaan. Tidak ada goodwill yang timbul. Metode ini digunakan
apabila perusahaan pengakuisisi menerbitkan saham dengan hak suara (voting stock)
sebagai pertukaran minimal sebanyak 90% dari saham denga hak suara yang diakuisisi.

Dampak Negatif & Positif Marger dan Akuisisi


a. Dampak Positif dan Negatif Sebelum Merger dan Akuisisi
Strategi merger dan akuisisi yang terjadi di industri dapat memberikan dampak langsung
pada perusahaan yang melakukan proses merger. Secara mikroekonomi, penerapan strategi
ini ternyata disamping dapat memberikan pengaruh yang positif dapat juga memberikan
rekaman hitam dalam bentuk kekecewaan, konflik dan bahkan kegagalan dari proses itu
sendiri. Pada tingkat makro ekonomi, sementara ini strategi merger dan akuisisi belum
memberikan dampak positif yang besar.
1. Dampak Positif
Dimungkinkannya pertukaran cadangan cash flow secara internal antar perusahaan
yang melakukan merger, sehingga bank hasil merger dapat memanage risiko
likuiditas dengan lebih fleksibel.

Diperolehnya peningkatan modal perusahaan (biasanya CAR akan meningkat tetapi


tidak terlalu cukup tinggi) dan adanya keunggulan dalam memanage biaya akibat
bertambahnya skala usaha.
Dicapainya keunggulan market power dalam persaingan, yang kemudian dapat
memperbesar margin bunga pinjaman.
2. Dampak Negatif
Karena proses merger biasanya dilakukan atas dorongan untuk cepat terselesaikannya
kemelut keuangan di salah satu bank peserta, maka harga penjualan sahamnya
cenderung akan dinilai dibawah harga pasar yang wajar.
Proses merger biasanya diikuti dengan peningkatan ketidakpastian pada pihak direksi,
manajer dan karyawan.
Proses merger perbankan nasional di Indonesia biasanya diikuti dengan pengurangan
jumlah pegawai dan staf kurang profesional di perusahaan perbankan hasil merger.
Terjadinya benturan kepentingan, kondisi saling curiga dan bahkan konflik diantara
para anggota komisaris dan direksi. Hal ini terjadi jika bank hasil merger tersebut
dikuasai oleh lebih satu pemegang saham pengendali.
Kegiatan merger dalam dua tahun pertama cenderung diikuti dengan strategi efisiensi
sehingga hal ini akan mengurangi semangat dan kreativitas dari sebagian pihak
direksi dan staf profesional.
Benturan budaya perusahaan tidak dapat dielakkan sehingga perusahaan hasil merger
akan mengalami penurunan dalam jangka pendek.
Dampak Positif dan Negatif Meger dan Akuisisi
Begitu dua atau lebih perusahaan melakukan merger maka akan terjadi perubahan tingkah
laku dari perusahaan gabungan tersebut.
1. Dampak Positif
Dimungkinkannya pertukaran cadangan cash flow secara internal antar perusahaan
yang melakukan merger, sehingga perusahaan hasil merger dapat mengola risiko
likuiditas dengan lebih fleksibel.
Diperolehnya peningkatan modal perusahaan (biasanya CAR akan meningkat tetapi
tidak terlalu cukup tinggi) dan adanya keunggulan dalam mengelola biaya akibat
bertambahnya skala usaha. Efisiensi perusaahaan dapat dilakukan lebih lanjut,
khususnya dalam efisiensi biaya provisi kredit.
Dicapainya keunggulan market power dalam persaingan, yang kemudian dapat
memperbesar margin bunga pinjaman.
2. Dampak Negatif
Rasio keuangan tersebut mengalami penurunan setelah perusahaan melakukan merger
dan akuisisi. Berdasarkan analisis kinerja keuangan perusahaan dari sisi rasio
keuangan, merger dan akuisisi tidak menimbulkan sinergi bagi perusahaan. Atau
dengan kata lain, motif ekonomi belum tercapai bagi perusahaan yang melakukan
merger dan akuisisi untuk satu dan dua taun kedepan.
Hasil pengujian terhadap rasio keuangan diperkuat dengan hasil pengujian terhadap
abnormal return perusahaan yang melakukan merger dan akuisisi. Hasil pengujian
menunjukkan abnormal return perusahaan pada periode jendela sebelum
pengumuman merger dan akuisisi (H-22 sampai dengan H-1) tidak berbeda dengan

abnormal return pada periode jendela setelah merger dan akuisisi (H+1 sampai
H+22).
Abnormal return setelah melakukan merger dan akuisisi justru negative yaitu
-0.001493, sedangkan sebelum melakukan merger dan akuisisi abnormal return
positif sebesar 0.001251. Artinya, kinerja perusahaan dari sisi saham (abnormal
return) justru mengalami penurunan setelah melakukan merger dan akuisisi. Investor
menganggap merger dan akuisisi yang dilakukan perusahaan tidak menimbulkan
sinergi bagi perusahaan, bahkan menjadi reverse synergy (pembalikan).
Proses merger perusahaan di Indonesia biasanya diikuti dengan pengurangan jumlah
pegawai dan staf kurang professional di perusahaan hasil merger.
Terjadinya benturan kepentingan, kondisi saling curiga dan bahkan konflik diantara
para anggota komisaris dan direksi. Hal ini terjadi jika perushaan hasil merger
tersebut dikuasai oleh lebih dari satu pemegang saham pengendali. Sebagian anggota
komisaris dan direksi yang ada cenderung untuk berlomba mewakili kepentingan
masing-masing pemilik dari perusahaan hasil merger dengan menunjukkan prestasi
kelompoknya masing-masing.

Friendly takeover
Sebuah pengambilalihan perusahaan terdiri dari merger antara dua perusahaan atau
akuisisi saham atau aset dari satu perusahaan oleh entitas atau individu, dengan persetujuan
direksi dan pemegang saham kedua perusahaan. Dalam merger, salah satu dari dua perusahaan
yang dikenal sebagai "perusahaan yang masih hidup," dan perusahaan lainnya menghilang
sebagai badan hukum yang independen. Pemegang Saham di perusahaan menghilang
dikeluarkan saham di perusahaan yang masih hidup. Cara lain untuk mengambil alih sebuah
perusahaan adalah dengan hanya membeli saham mayoritas di saham perusahaan lain, atau
membeli aset. Jika kedua pihak perusahaan, kombinasi sumber daya dapat memungkinkan
mereka untuk mengambil keuntungan dari skala ekonomi dan untuk merampingkan operasi
dengan menghilangkan divisi berlebihan.
Hostile Takeover
Karakteristik kunci dari Hostile Takeover adalah manajemen perusahaan tidak ingin
adanya kesepakatan. Kadang-kadang manajemen perusahaan akan bertahan terhadap
pengambilalihan yang tidak diinginkan dengan menggunakan beberapa strategi.

Strategi Defensif
Dalam mempertahankan posisi perusahaan terhadap pesaing, perusahaan perlu mengenal
berbagai pesaing, baik dari pendatang baru (new entrants) maupun pesaing yang sudah mapan
(established competitor). Perusahaan dapat menggunakan strategi bertahan, atau disebut strategi
defensive yang bertujuan mengurangi kemungkinan diserang, membelokkan serangan ke arah
yang tidak membahayakan, atau mengurangi intensitasnya.
Strategi bersaing yang paling berhasil merupakan perpaduan antara komponen ofensif
dan komponen defensif. Strategi defensif pada dasarnya mempengaruhi proses pengambilan
keputusan pesaing sehingga dari sudut pandang penantang setiap serangan kepada perusahaan
tidak akan menguntungkan bagi mereka. Hal ini dilakukan dengan mengurangi perangsang bagi

pesaing untk menyerang perusahaan, atau, membangun hambatan masuk (entry barrier) atau
hambatan mobilitas (mobility barrier) sehingga serangan akan sulit dilakukan.

Strategi defensif bertujuan mempengaruhi perhitungan penantang tentang keuntungan


yang dapat diharapkan dari strategi masuk atau perbaikan posisi, sehingga penantang
berkesimpulan bahwa rencana tindakannya tidak layak atau condong pada strategi yang tidak
berbahaya. Untuk melaksanakan strategi ini, perusahaan dapat melakukan tiga jenis taktik
defensif, yaitu
1. Membangun hambatan struktural
2. Meningkatkan kemungkinan serangan balasan, dan
3. Menurunkan dorongan menyerang
Membangun Hambatan Struktural
Setiap jenis hambatan dapat dipengaruhi oleh perusahaan bertahan. Dalam beberapa industri,
kegiatan operasi perusahaan menciptakan hambatan sebagai produk sertaannya. Jika kegiatan
yang berjalan dengan sendirinya menciptakan hambatan struktural yang tinggi, maka perusahaan
bertahan pada posisi yang menguntungkan karena tidak perlu melakukan investasi defensif lebih
lanjut dalam upaya menciptakan hambatan. Namun dalam jangka panjang mungkin lebih
menguntungkan melakukan investasi untuk membangun hambatan yang lebih tinggi lagi
daripada hambatan alamiah yang sudah ada.
Taktik defensif yang menimbulkan hambatan struktural adalah dengan menutup jalan yang
mungkin dipakai penantang untuk menyerang. Beberapa taktik defensif dalam menimbulkan
hambatan struktural adalah sebagai berikut:
1. Mengisi kesenjangan produk atau posisi.
Hambatan akan meningkat bila perusahaan bertahan mengisi kesenjangan dalam lini
produknya atau memonopoli berbagai tema pemasaran yang mungkin akan dipakai
perusahaan penantang. Tindakan ini memaksa penantang berhadapan langsung dengan
perusahaan bertahan sehingga tidak mungkin memperoleh posisi awal yang aman.
2. Menutup akses saluran.
Bila perusahaan mempersulit penantang untuk mencapai saluran distribusi, berarti
perusahaan telah membangun hambatan struktural yang besar. Strategi defensif harus
diarahkan tidak hanya untuk menutup saluran distribusi perusahaan, namun juga saluaran
lain yang dapat menjadi saluran pengganti atau batu loncatan untuk memasuki saluran
distribusi perusahaan.
3. Menimbulkan biaya peralihan pembeli (buyer switching cost).
Perusahaan bertahan dapat meinmbulkan hambatandengan menimbulkan switching cost
pada pembeli, misalnya layanan pelatihan cuma-cuma/murah, partisipasi pengembagan
produk bersama pembeli, membentuk ikatan kerja sama melalui jaringan komputer, dan
memiliki fasilitas atau peralatan pergudangan untuk dipakai di likasi pembeli.
4. Meningkatkan biaya percobaan produk.
Perusahaan penantang akan menghadapi masalah bila menggunakan biaya yang besar untuk
membuat pembeli mencoba produknya. Untuk menimbulkan hambatan ini, perusahaan
bertahan harus memahami jenis produk yang pertama dibeli, serta ciri pembeli yang paling
cenderung mencoba dan membeli produk perusahaan penantang.
5. Meningkatkan skala ekonomi secara defensif.
Peningkatan ini menimbulkan hambatan karena akan meningkatkan biaya dan investasi.
Peningkatan skala ekonomi yang sering terjadi adalah dalam bidang periklanan dan
pengembangan teknologi.

6.
7.

8.

9.
10.

11.

12.

13.

Meningkatkan kebutuhan modal secara defensif.


Jika perusahaan bertahan dalam peningkatan jumlah modal yang diperlukan untuk bersaing,
maka penantang akan cenderung mundur.
Memonopoli teknologi alternatif.
Monopoli teknologi akan menyebabkan penutupan peluang pesaing dalam menyerang.
Misalnya paten teknologi alternatif, meneruskan paten dalam bentuk pembelian lisensi, dan
membantu atau memberikan lisensi kepada pesaing pendukung.
Melakukan investasi untuk melindungi pengetahuan rahasia.
Perusahaan dapat bertahan dengan melindungi rahasia pengetahuan tentang produk, proses,
dan kegiatan lain dalam rantai nilai sehingga dapat menciptakan hambatan bagi pesaing.
Perusahaan juga sering tidak memiliki program yang sistematis untuk membatasi
penyebaran pengetahuan mereka.
Mengikat pemasok.
Hambatan pesaing meningkat jika perusahaan dapat memonopoli atau membatasi akses
perusahaan penantang pada sumber bahan baku, tanaga kerja, atau masukan lainnya.
Meningkatkan biaya masukan pesaing.
Hambatan pesaing meningkat bila perusahaan dapat mempertahankan peningkatan biaya
masukan relatif dari penantang. Alasan cara ini adalah atas dasar perbedaan dalam struktur
biaya pesaing (atau pesaing potensial), sehingga perubahan harga masuk yang sama dapat
memberikan dampak yang lebih besar kepada para pesaing.
Membentuk keterkaitan secara defensif.
Perusahaan dapat mengurangi biaya atau meningkatkan diferensiasinya dengan membentuk
keterkatitan yang tidak dapat ditandingi oleh pesaing. Pertimbangan defensif menghendaki
perusahaan membentuk keterkaitan ini, termasuk memasuki beberapa bisnis baru untuk
memperkuat posisi defensifnya.
Mendukung kebijakan pemerintah yang menimbulkan hambatan.
Dalam beberapa bidang, kebijakan pemerintah dapat merupakan hambatan strukturr.
Kebijakan semacam ini dapat meningkatkan ekonomi skala, kebuuthan modal, dan
hambatan potensial lainnya. Perusahaan seringkali dapat mempengaruhi sifat kebijakan
pemerintah sesuai dengan yang dikehendakinya untuk mempertahankan posisinya.
Membentuk koalisi untuk menimbulkan hambatan atau merangkul para penantang.
Koalisi dengan perusahaan lain dapat menimbulkan hambatan dengan bentuk-bentuk seperti
monopoli teknologi, atau mengisi kesenjangan produk.

Meningkatkan Kemungkinan Serangan Balasan


Ancaman serangan balasan tergantung pada kemungkinan serangan balasan serta intensitas
tindakan yang diperkirakan. Berbagai taktik dapat dipakai perusahaan yang bertahan untuk
mengisyaratkan tujuan melakukan serangan balasan pada setiap penantang.
1. Komitmen mempertahankan diri.
Perusahaan dapat meningkatkan ancamannya untuk mengadakan serangan balasan bila
perusahaan terus menekankan maksudnya untuk mempertahankan posisi. Penekanan ini
dapat dilaksanakan secara konsisten melalui semua media (misalnya pernyataan di surat
kabar dan televisi) yang tersedia agar dampak defensif terlihat semaksimal mungkin.
2. Isyarat hambatan awal.
Taktik ini menimbulkan hambatan struktural yang efektif menghendaki perusahaan
melakukan investasi yang besar. Namun kadang-kadang perusahaan dapat memperoleh efek

3.

4.

5.

6.
7.
8.

9.

yang sama melalui pengisyaratan pasar atau intervensi pasar. Tujuan intervensi ini untuk
meningkatkan kemungkinan serangan balasan perusahaan di masa depan. Pengisyaratan
pasar dapat membuat perusahaan penantang menunda komitmen masa depannya sampai
diperoleh lebih banyak informasi untuk memastikan apakah isyarat itu dapat dipercaya.
Membangun posisi penghalang.
Perusahaan dapat memberikan peringatan mengenai kemungkiknan serangan balasan dengan
membangun posisi penghalang atau posisi defensif di negara lain atau dalam industri yang
dihuni pesaing atau pesaing potensial. Posisi penghalang dalam unit usaha dimana pesaing
menghasilkan sebagian besar dari arus kas atau profitabilitasnya menjadi landasan untuk
sarangan balasan yang efektif.
Memberi jaminan lebih baik.
Perusahaan meningkatkan ancamannya dengan melakukan serangan balasan jika perusahaan
memperlihatkan komitmennya untuk menandingi harga atau keunggulan pesaing, misalnya
memberi potongan harga atau memperlihatkan klaimnya di media massa.
Meningkatkan sanksi keluar dari industri.
Segala sesuatu yang meningkatkan kebutuhan ekonomis perusahaan untuk mempertahankan
pangsa pasarnya merupakan cara yang meyakingkan untuk menunjukkan kesungguhan
perusahaan melakukan serangan balasan.
Menghimpun sumber daya untuk serangan balasan.
Ancaman serangan balasan akan meningkat jika perusahaan memiliki sumber daya yang
diperlukan untuk serangan balasan.
Mendukung pesaing sejawat.
Dalam banyak industri, kehadiran pesaing sejawat meningkatkan ancaman bagi penantang
karena merupakan perisai depan dalam pertahanan menghadapi penantang.
Menunjukkan contoh.
Perusahaan dapat meningkatkan citranya sebagai perusahaan yang akan melakukan serangan
balasan melalui perilakunya terhadap pesaing yang mungkin bukan ancaman sesungguhnya
atau reaksinya terhadap penantang yang mengancam. Nilai defensif seringkali dicapai dari
tindakan terhadap penantang yang tidak mengancam untuk menunjukkan betapa kerasnya
sikap perusahaan terhadap penantang.
Membentuk koalisi defensif.
Koalisi dengan perusahaan lain dapat meningkatkan ancaman serangan balasan dengan
mempengaruhi banyak faktor-faktor diatas.

Menurunkan Dorongan Menyerang


Jenis taktik ini adalah tindakan yang dapat menurunkan rangsangan menyerang, bukan
meningkatkan biaya. Secara umum, keuntungan merupakan perangsang bagi perusahaan
penantang untuk menyerang. Keuntungan yang diharapkan perusahaan penantang tergantung
pada sasaran laba serta asumsi yang dipakai penantang.
1. Mengurangi sasaran laba.
Perusahaan dapat dengan sengaja mengorbankan laba yang diperoleh untuk mengurangi
rangsangan bagi pesaing untuk menyerang, misalnya dengan menurunkan harga, menaikkan
diskon, dan sebagainya.
2. Mempengaruhi asumsi pesaing.
Asumsi penantang tentang prospek masa depan industri dapat mendorong mereka untuk
menyerang perusahaan. Jika para penantang percaya bahwa industri memiliki potensi

pertumbuhan yang baik, mereka akan menyerang perusahaan meskipun banyak hambatan
yang akan dihadapi.
Dalam perspektif luas, strategi defensif ini dapat dilihat sebagai upaya mempengaruhi
asumsi pesaing, termasuk asumsi mengenai kemungkinan serangan balasan dan tingginya
hambatan.

Aspek pajak dalam peristiwa akuisisi


Apabila suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan lain, transaksi tersebut mungkin
terkena pajak mungkin pula tidak. Dalam peristiwa taxable acquisition, pemegang saham dari
perusahaan yang diakuisisi diperlakukan sebagai menjual saham yang mereka miliki, dan
karenanya akan memperoleh capital gains (yang akan dikenakan pajak) atau loss. Dalam
peristiwa akuisisi yang taxable, perusahaan yang mengakuisisi mungkin melakukan revaluasi
atas aktiva tetap dari perusahaan yang diakuisisi.
Dalam peristiwa akuisisi yang tax-free, pemegang saham dari perusahaan yang diakuisisi
dipandang hanya melakukan pertukaran saham dengan nilai yang sama, sehingga tidak
memperoleh capital gains atau loss. Dalam transaksi yang tax-free, aktiva dari perusahaan yang
diakuisisi tidak revaluasi.

Akuntansi untuk akuisisi


Ada dua perlakuan akuisisi, yaitu dicatat sebagai pembelian (purchase) atau sebagai
penggabungan kepentingan (pooling of interest).
a. Dicatat sebagai pembelian
Metode ini mencatat kekayaan perusahaan yang diakuisisi pada harga pasar yang wajar (fair
market value) pada buku yang melakukan akuisisi. Dengan demikian maka perusahaan yang
melakukan akuisisi dapat menentukan harga perolehan yang baru (new cost basis) untuk
aktiva-aktiva yang diakuisisi. Pada metode ini, istilah akuntansi goodwill diciptakan.
Goodwill merupakan selisih antara harga yang dibayar dengan nilai pasar dengan nilai pasar
yang wajar dari aktiva yang diakuisisi.
b. Dicatat sebagai pooling of interest
Pooling of interest dianggap terjadi apabila kepemilikan atas dua atau lebih beberapa
perusahaan yang sebelumnya terpisah dikombinasikan dan berlanjut sebagai hasil pertukaran
saham hak kepemilikan. Perusahaan pengakuisisi akan memperoleh pengendalian dengan
menerbitkan saham kepada pemilik perusahaan terakuisisi. Kemudian saham dari perusahaan
pengakuisisi, yang diterbitkan untuk memperoleh perusahaan terakuisis, menggantikan
saham perusahaan terakuisisi. Oleh karena itu pooling of interest mewakili keberlanjutan dari
kepemilikan bisnis pada dua atau lebih perusahaan yang sebelumnya merupakan bisnis yang
terpisah, kombinasi bisnis akan dicatat sebagai penggabungan kepentingan kepemilikan. Ini
tidak akan dicatat sebagai akuisisi tetapi malah sebagai fusi dari dua atau lebih perusahaan
yang sebelumnya terpisah. Dalam kata aktiva-aktiva perusahaan baru dinilai sama dengan
nilai buku dari perusahaan yang mengakuisisi dan diakuisisi.
Leveraged Buyout
Leveraged Buyut (LBO) adalah transaksi ketika sebuah perusahaan atau aset tunggal
(misalnya, properti real estate) yang dibeli dengan kombinasi ekuitas dan sejumlah besar uang

yang dipinjam, disusun sedemikian rupa sehingga arus kas target atau aset digunakan sebagai
jaminan (atau "pengaruh") untuk mengamankan dan mengembalikan uang yang dipinjam untuk
membeli target. Karena utang memiliki biaya modal yang lebih rendah dari ekuitas, kembali
pada kenaikan ekuitas sebagai jumlah uang yang dipinjam tidak sampai struktur modal yang
sempurna tercapai. Akibatnya, utang efektif berfungsi sebagai tuas untuk meningkatkan
pengembalian atas investasi.

Divestasi
Divestasi sebagai upaya pemilik perusahaan untuk menjual aset atau sebuah divisi
kerjanya kepada pihak lain, yang mampu memberikan harga penawaran paling tinggi. Pada
proses divestasi perusahaan akan menerima dana dalam bentuk tunai dan biasanya diinvestasikan
lagi atau dikembalikan kepada pemegang saham sebagai dividen atau stock buybacks. Pola
divestasi yang dilakukan hampir seragam, yakni melalui strategic sales diikuti dengan market
placement
Alasan mengapa menempuh langkah divestasi.
Aset yang dijual lebih tinggi nilainya bagi pembeli, dalam arti pembeli bisa
menggunakan secara lebih efisien.
Divestasi bukan didorong oleh nilai aset, tetapi lebih ditekankan pada kemunculan
kebutuhan mendesak atas dana tunai oleh perusahaan yang melakukan divestasi. Hasil
divestasi itu biasanya digunakan untuk melunasi kewajibannya.
Alasan bahwa aset-aset yang dijual tidak ada hubungannya dengan bisnis utama
perusahaan yang bersangkutan.

Anda mungkin juga menyukai