Anda di halaman 1dari 10

51

BAB VIII
ANALISA KIMIAWI AIR FORMASI
8.1.

TUJUAN PERCOBAAN
1. Untuk mengetahui fungsi dari air formasi.
2. Untuk mengetahui sifat fisik dari air formasi.
3. Untuk mengetahui sifat kimia dari air formasi.
4. Untuk mengetahui pengaruh air formasi terhadap proses produksi.
5. Untuk mengetahui hubungan Stabilitas Indeks (SI) terhadap temperatur.

8.2.

DASAR TEORI
Air formasi disebut pula dengan oil field water. Air formasi ini ada yang
ikut terproduksi bersamasama minyak dan gas. Air formasi hampir selalu
ditemukan di dalam reservoir hidrokarbon, karena adanya air ikut
terakumulasinya minyak. Air selalu menempati sebagian dari reservoir. Air
formasi diperkirakan berasal dari air laut yang ikut terendapkan bersama-sama
dengan endapan disekelilingnya, karena situasi pengendapan batuan reservoir
minyak terjadi pada lingkungan pengendapan laut.
Adapun sifat sifat air formasi :
a. Sifat fisik yang meliputi :
- Kompresibilitas
- Kelarutan gas dalam air
- Viskositas air dalam formasi
- Berat jenis
- Konduktivitas
b. Sifat kimia yang meliputi :
-

Anion

Kation

52

Keberadaan air formasi akan menimbulkan gangguan produksi sumur,


tetapi walau demikian keberadaan air formasi juga mempunyai kegunaan yang
cukup penting yaitu:
a. Untuk mengetahui penyebab korosi pada peralatan produksi suatu
sumur.
b. Untuk mengetahui adanya scale formation.
c. Untuk dapat menentukan sifat lapisan dan adanya suatu kandungan
yodium dan barium yang cukup besar, dan dapat juga digunakan untuk
mengetahui adanya reservoir minyak yang cukup besar.
Adapun kesulitan yang ditimbulkan karena adanya air formasi :
a. Adanya korosi
b. Adanya solid deposit
c. Adanya scale formation
d. Adanya emulsi
e. Adanya kerusakan formasi
Untuk menganalisa air formasi secara tepat, dipakai klasifikasi air
formasi yang digambarkan, secara grafis hal ini dimaksudkan untuk
mengidentifikasi sifat air formasi dengan cara yang paling sederhana tetapi
dapat

dipertanggungjawabkan,

spesifikasinya.
8.3.

PERALATAN DAN BAHAN

8.3.1 Peralatan
1. Alat titrasi
2. Gelas ukur
3. Kertas lakmus
4. Pipet
5. DR 1

hanya

kelemahannya

tergantung

pada

53

8.3.2

Bahan
1. Sample air formasi.

8.4.

TANGGAL DAN TEMPAT PRAKTIKUM

8.5.

Tanggal
Tempat

: 14 Desember 2014
: Kampus Ex. Pajak STT Migas Balikpapan

PROSEDUR PERCOBAAN
1. Penentuan pH (elektrolit):
Dihubungkan alat pengukur elektroliit atau yang sejenisnya dengan
arus listrik sesuai petunjuk.
Dikalibrasikan alat sebelum digunakan.
Disterilkan alat agar tidak terjadi kontaminasi.
2.

Penentuan Alkalinitas

Diambil contoh air formasi 1 cc dan menambahkan PP 2 tetes.

Dititrasi dengan larutan H2SO4 0,02 N. Bila larutan telah jernih,


mencatat jumlah larutan pentitrasi yang digunakan.

Ditetesi dengan larutan MO 2 tetes.

Dititrasi kembali sampai ada perubahan warna menjadi pink, mencatat


volume larutan pentitrasi.

Perhitungan:

Kebasahan P = Vp / banyaknya cc contoh air


Kebasahan M = Vm / banyaknya cc contoh air
Penentuan untuk setiap ion dalam mili eqivalen (me / L) dapat ditentukan
dari table berikut:

54

Tabel 8.1. Klasifikasi Konsentrasi Ion

3.

HCO3

CO3

OH

P = 0

M 20

P = M

20 P

2P = M

40 P

2P < M

20 ( M - 2P )

40 P

2P > M

40 ( M - P )

20 ( 2P - M )

Penentuan Kalsium dan Magnesium


Penentuan kesadahan total:

Diambil 20 ml air suling dan menambahkan 2 tetes larutan buffer


kesadahan total dan 1 tetes indicator, warna harus biru asli ( jernih ).

Ditambah 5 ml contoh air, warna akan berubah merah.

Dititrasi dengan larutan kesadahan total hingga warna kembali jernih,


mencatat volume pentitrasi.

Perhitunggan:
Bila menggunakan larutan 1 ml = 2 epm
Volume titrasi 2
Kesadahan total, me/L =
Volume contoh air
Bila menggunakan larutan 1 ml = 20 epm
Volume titrasi 20
Kesadahan total, me/L =
Volume contoh air

Penetuan Kalsium (Ca):

Diambil 20 ml air suling, menambahkan 2 tetes larutan buffer calver


dan 1 tepung indicator calcer II, warna akan berubah menjadi cerah.

55

Ditambahkan 5 cc air yang dianalisa. Bila ada Ca larutan yang berubah


menjadi kemerahan.

Dititrasi dengan larutan kesadahan total 20 epm, warna akan berubah


jernih, mencatat volume titrasi.

Penentuan Magnesium (Mg):


Magnesium, me/L = (kesadahan total, me/L) - (kalsium, me/L)
= Magnesium, me/L 12,2
4.

Penentuan Klorida
Diambil 20 ml air sample, menambahkan 5 tetes KcrO, warna akan
menjadi bening.
Dititrasi dengan larutan AgNO3 1 ml = 0,001 g Cl sampai warna
coklat kemerahan, mencatat volume pentitrasi.
Jika menggunakan AgNO3 0,001 N :
ml titer 1000
Kadar Cl, mg/L =
ml contoh air
Jika menggunakan AgNO3 0,01 N :
ml titer 10000
Kadar Cl, mg/L =
ml contoh air

5.

Penentuan Sodium
Dikonversikan

mg/L anion dengan

me/L dan menjumlahkan

mg/L kation menjadi

me/L dan menjumlahkan

harganya.
Dikonversikan
harganya.
Kadar sodium ( Na ), mg/L = ( anion kation ) 23.

56

6.

Grafik hasil analisa air


Hasil analisa air dibuat dalam bentuk grafik dengan memplotkan
tiap komponen dengan konsentrasinya masing masing dengan
membedakan anion dan kationnya.

7.

Perhitungan indeks stebilitas CaCO3


Indeks stabilitas ini didapat dengan memplotkan jumlah harga
tenaga ion dengan Ca dan CO3 pada grafik yang telah disediakan, bila
indeks berharga positif berarti air sample memiliki gejala membentuk
endapan dan apabila bernilai negatif bersifat korosif.

8.6.

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN

8.6.1. Analisa
1.

Penentuan Alkalinitas
pH air

= 8

Volume sample = 10 cc
Konsentrasi ion CO3 = 10 me/l
Konsentrasi ion OH = 3 me/l

57

Penentuan Sodium (Na+)

2.

Tabel 8.2. Hasil Analisa

Konsentrasi Anion
Anion BM
mg/l
me/l

35.5
24400
687,324
Cl
96
300
6,25
SO42
60
300
10
CO32

61
0
0
HCO3

17
51
3
OH
706,574
Anion
Kadar Sodium (Na+)

Konsentrasi Kation
Kation BM
mg/l
me/l
Ca++
40
40
2
++
Mg
24
0
0
++
Fe
56
1000
35,714
++
Ba
137
-

Kation

37,714

= Anion Kation
= (706,574 37, 714) mg/l = 668,860 mg/l

Anion

Kation

OHKation
Anion

HCO32- 2CO3
10 9

3 4

2-

SO4
2

Grafik 8.1 Diagram Stiff - Davis


-

(10 ) Cl

9 10

Ba2+
Fe2+(102)
Mg2+
Ca2+
Na++ (102 )

58

Grafik 8.2 Ion Strength vs Temperatur

Perhitumgan Indeks Stabilitas CaCO3

3.

Tabel 8.3. Perhitumgan Indeks Stabilitas CaCO3

Ion
ClSO4
CO3
HCO3
Ca2++
Mg2++
Fe2++
Ba2++
Na2++

Konsentrasi
me/l
687,324
6,25
10
0
2
0
1000
35,714
Negative

Faktor Koreksi
ppm
me/l
2,4 x 10-5
6 x 10-4
2,1 x 10-5
1 x 10-3
-5
3,3 x 10
1,5 x 10-3
0,8 x 10-5
5 x 10-3
-5
3 x 10
2 x 10-3
8,2 x 10-5
1 x 10-3
-5
8,1 x 10
1,5 x 10-3
-5
2,2 x 10
2 x 10-4
Molar Ionic Strength

Tenaga ion keseluruhan ( K) :


Pada temperatur 0 C diperoleh harga K

= 3,64

Pada temperatur 20 C diperoleh harga K

= 3,38

Pada temperatur 40 C diperoleh harga K

= 2,96

Pada temperatur 60 C diperoleh harga K

= 2,38

Pada temperatur 80 C diperoleh harga K

= 1,71

Pada temperatur 100 C diperoleh harga K = 0,94

Harga pCa = 3,0 ; pAlk = 3,2

Tenaga Ion
0,412
0,006
0,015
0
0,004
0
0,054
0,1338
0,625

59

Berdasarkan hasil analisa tersebut diatas, maka indeks stabilitas ( SI )


dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :
SI = pH K pCa palk

Grafik 8.3 Indeks Stabilitas vs Temperatur

8.7.

PEMBAHASAN
Jika perhitungan indeks stabilitas (SI) di atas menghasilkan suatu angkaangka, maka akan dapat diketahui sifat-sifat dari air formasi yang diteliti
dengan memperhatikan hubungan antara pH air formasi, tenaga ion
keseluruhan, temperatur, serta pCa dan palk, dimana jika SI menunjukkan
hasil yang positif, maka pada temperatur tersebut akan cenderung untuk
membentuk scale. Sebaliknya, jika SI menunjukkan hasil negatif maka pada
temperatur tersebut air formasi akan cenderung untuk membentuk korosi pada

60

alat-alat produksi, akan tetapi jika SI menunjukkan hasil nol (SI = 0) maka
pada temperatur tersebut air formasi dalam keadaan setimbang dimana tidak
terbentuk scale maupun korosi. Sayang sekali praktikan tidak dapat
menyelesaikan perhitungan SI akibat tidak adanya grafik untuk perhitungan
tersebut serta kurangnya waktu untuk membahasnya.
Tetapi, secara garis besar, penelitian air formasi ini akan dapat
memberikan informasi mengenai seberapa banyak kadar unsur dan ion yang
terkanndung dalam air formasi tersebut, sehingga dapat digunakan untuk
mengantisipasi dampak berupa kerusakan terhadap pipa pemboran maupun
alat-alat produksi lainnya akibat adanya scale dan korosi.
8.8.

KESIMPULAN
1. Air formasi dapat digunakan sebagai untuk mengetahui korelasi lapisan
batuan, menentukan kebocoran cashing, menentukan kualittas sumber air
untuk proses water flooding.
2. Sifat fisik dari air formasi meliputi kompresibilitas, kelarutan gas dalam
air, viskositas, berat jenis, dan konduktifitas.
3. Sifat kimia dari air formasi adalah mengandung ion positif dan ion negatif.
4. Air formasi yang mengandung endapan membentuk scale dapat
mengganggu proses produksi.
5. Jika SI bernilai negatif maka bersifat asam dan bersifat korosif. Jika nilai
SI bernilai positif maka bersifat basa dan dapat membentuk scale.