Anda di halaman 1dari 9

ASKEP

Selasa, 18 September 2012


THYPUS ABDOMINALIS
BENEDIKTA ABI THYPUS ABDOMINALIS
2.1
Definisi
Demam tifoid atau thypoid fever atau thypus abdominalis merupakan penyakit infek
si akut pada saluran pencernaan yang disebabkan oleh kuman Salmonella typhii, di
tandai gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencer
naan dan dengan atau tanpa gangguan kesadaran (T.H. Rampengan dan I.R. Laurentz,
1995). Penularan penyakit ini hampir selalu terjadi melalui makanan dan minuman
yang terkontaminasi.
2.2
Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi kuman Samonella Thypiia/Eberthela Thypii ya
ng merupakan kuman negatif, motil dan tidak menghasilkan spora, hidup baik sekal
i pada suhu tubuh manusia maupun suhu yang lebih rendah sedikit serta mati pada
suhu 700C dan antiseptik.
Salmonella mempunyai tiga macam antigen, yaitu antigen O (Ohne Hauch) merupakan
somatik antigen (tidak menyebar) ada dalam dinding sel kuman, antigen H (Hauch,
menyebar) terdapat pada flagella dan bersifat termolabil dan antigen V1 (kapsul)
merupakan kapsul yang meliputi tubuh kuman dan melindungi O antigen terhadap fa
gositosis. Ketiga jenis antigen ini di manusia akan menimbulkan tiga macam antib
odi yang lazim disebut aglutinin.
2.3
Patofisiologi
Kuman Salmonella masuk bersama makanan atau minuman yang terkontaminasi, setelah
berada dalam usus halus mengadakan invasi ke jaringan limfoid usus halus (terut
ama plak peyer) dan jaringan limfoid mesenterika. Setelah menyebabkan peradangan
dan nekrosis setempat kuman lewat pembuluh limfe masuk ke darah (bakteremia pri
mer) menuju organ retikuloendotelial sistem (RES) terutama hati dan limpa. Di te
mpat ini kuman difagosit oleh sel-sel fagosit retikuloendotelial sistem (RES) da
n kuman yang tidak difagosit berkembang biak.
Pada akhir masa inkubasi 5-9 hari kuman kembali masuk ke darah menyebar ke selur
uh tubuh (bakteremia sekunder) dan sebagian kuman masuk ke organ tubuh terutama
limpa, kandung empedu yang selanjutnya kuman tersebut dikeluarkan kembali dari k
andung empedu ke rongga usus dan menyebabkan reinfeksi usus. Dalam masa bakterem
ia ini kuman mengeluarkan endotoksin. Endotoksin ini merangsang sintesa dan pele
pasan zat pirogen oleh lekosit pada jaringan yang meradang. Selanjutnya zat piro
gen yang beredar di darah mempengaruhi pusat termoregulator di hipothalamus yang
mengakibatkan timbulnya gejala demam.
Makrofag pada pasien akan menghasilkan substansi aktif yang disebut monokines ya
ng menyebabkan nekrosis seluler dan merangsang imun sistem, instabilitas vaskule
r, depresi sumsum tulang dan panas. Infiltrasi jaringan oleh makrofag yang menga
ndung eritrosit, kuman, limfosist sudah berdegenerasi yang dikenal sebagai tifoi
d sel. Bila sel ini beragregasi maka terbentuk nodul terutama dalam usus halus,
jaringan limfe mesemterium, limpa, hati, sumsum tulang dan organ yang terinfeks
i.
Kelainan utama yang terjadi di ileum terminale dan plak peyer yang hiperplasi (m
inggu I), nekrosis (minggu II) dan ulserasi (minggu III). Pada dinding ileum ter
jadi ulkus yang dapat menyebabkan perdarahan atau perforasi intestinal. Bila sem
buh tanpa adanya pembentukan jaringan parut.

2.4
Manifestasi Klinis
Masa inkubasi 7-20 hari, inkubasi terpendek 3 hari dan terlama 60 hari (T.H. Ram
pengan dan I.R. Laurentz, 1995). Rata-rata masa inkubasi 14 hari dengan gejala k

linis sangat bervariasi dan tidak spesifik (Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab/UP
F Ilmu Penyakit Dalam RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 1994).
Walaupun gejala bervariasi secara garis besar gejala yang timbul dapat dikelompo
kan dalam : demam satu minggu atau lebih, gangguan saluran pencernaan dan gnaggu
an kesadaran. Dalam minggu pertama : demam, nyeri kepala, anoreksia, mual, munta
h, diare, konstipasi dan suhu badan meningkat (39-410C). Setelah minggu kedua ge
jala makin jelas berupa demam remiten, lidah tifoid dengan tanda antara lain nam
pak kering, dilapisi selaput tebal, dibagian belakang tampak lebih pucat, dibagi
an ujung dan tepi lebih kemerahan. Pembesaran hati dan limpa, perut kembung dan
nyeri tekan pada perut kanan bawah dan mungkin disertai gangguan kesadaran dari
ringan sampai berat seperti delirium.
Roseola (rose spot), pada kulit dada atau perut terjadi pada akhir minggu pertam
a atau awal minggu kedua. Merupakan emboli kuman dimana di dalamnya mengandung k
uman salmonella.
2.5
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang pada klien dengan typhoid adalah pemeriksaan laboratorium,
yang terdiri dari :
1.
Pemeriksaan leukosit
Di dalam beberapa literatur dinyatakan bahwa demam typhoid terdapat leukopenia d
an limposistosis relatif tetapi kenyataannya leukopenia tidaklah sering dijumpai
. Pada kebanyakan kasus demam typhoid, jumlah leukosit pada sediaan darah tepi b
erada pada batas-batas normal bahkan kadang-kadang terdapat leukosit walaupun ti
dak ada komplikasi atau infeksi sekunder. Oleh karena itu pemeriksaan jumlah leu
kosit tidak berguna untuk diagnosa demam typhoid.
2.
Pemeriksaan SGOT dan SGPT
SGOT dan SGPT pada demam typhoid seringkali meningkat tetapi dapat kembali norma
l setelah sembuhnya typhoid.
3.
Biakan darah
Bila biakan darah positif hal itu menandakan demam typhoid, tetapi bila biakan d
arah negatif tidak menutup kemungkinan akan terjadi demam typhoid. Hal ini dikar
enakan hasil biakan darah tergantung dari beberapa faktor :

Teknik pemeriksaan Laboratorium


Hasil pemeriksaan satu laboratorium berbeda dengan laboratorium yang lain, hal i
ni disebabkan oleh perbedaan teknik dan media biakan yang digunakan. Waktu penga
mbilan darah yang baik adalah pada saat demam tinggi yaitu pada saat bakteremia
berlangsung.

Saat pemeriksaan selama perjalanan Penyakit


Biakan darah terhadap salmonella thypi terutama positif pada minggu pertama dan
berkurang pada minggu-minggu berikutnya. Pada waktu kambuh biakan darah dapat po
sitif kembali.

Vaksinasi di masa lampau


Vaksinasi terhadap demam typhoid di masa lampau dapat menimbulkan antibodi dalam
darah klien, antibodi ini dapat menekan bakteremia sehingga biakan darah negati
f.

Pengobatan dengan obat anti mikroba


Bila klien sebelum pembiakan darah sudah mendapatkan obat anti mikroba pertumbuh
an kuman dalam media biakan terhambat dan hasil biakan mungkin negatif.
4.
Uji Widal
Uji widal adalah suatu reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin)
. Aglutinin yang spesifik terhadap salmonella thypi terdapat dalam serum klien d
engan typhoid juga terdapat pada orang yang pernah divaksinasikan. Antigen yang
digunakan pada uji widal 3adalah suspensi salmonella yang sudah dimatikan dan di
olah di laboratorium. Tujuan dari uji widal ini adalah untuk menentukan adanya a
glutinin dalam serum klien yang disangka menderita typhoid. Akibat infeksi oleh
salmonella thypi, klien membuat antibodi atau aglutinin yaitu :
* Aglutinin O, yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuma
n).
* Aglutinin H, yang dibuat karena rangsangan antigen H (berasal dari flagel kum
an).

* Aglutinin Vi, yang dibuat karena rangsangan antigen Vi (berasal dari simpai k
uman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan titernya
untuk diagnosa, makin tinggi titernya makin besar klien menderita typhoid.
2.6
Penatalaksanaan
1.
Tirah baring atau bed rest.
2.
Diit lunak atau diit padat rendah selulosa (pantang sayur dan buahan),
kecuali komplikasi pada intestinal.
3.
Obat-obat :
a.
Antimikroba :
Kloramfenikol 4 X 500 mg sehari/iv
Tiamfenikol 4 X 500 mg sehari oral
Kotrimoksazol 2 X 2 tablet sehari oral (1 tablet = sulfametoksazol 400 m
g + trimetoprim 80 mg) atau dosis yang sama iv, dilarutkan dalam 250 ml cairan i
nfus.
Ampisilin atau amoksisilin 100 mg/kg BB sehari oral/iv, dibagi dalam 3 a
tau 4 dosis.
Antimikroba diberikan selama 14 hari atau sampai 7 hari bebas demam.
b.
Antipiretik seperlunya
c.
Vitamin B kompleks dan vitamin C
4.
Mobilisasi bertahap setelah 7 hari bebas demam.
2.7

Komplikasi
Perdarahan intestinal, perforasi intestinal, ileus paralitik, renjatan sept
ik, pielonefritis, kolesistisis, pneumonia, miokarditis, peritonitis, meningitis
, ensefalopati, bronkitis, karir kronik.

CASE STUDY
Kasus :
Tn. T (6 tahun) BB : 30 kg, di bawa ke
pagi turun sore malam naik lagi, mual
h perawat didapatkan data mukosa bibir
lemah, T : 40oC, N : 90 x/menit, RR :
luaran urin sedikit hanya 500 cc /jam.
oid.

UGD RS Gambiran karena demam tidak turun,


muntah, setelah dilakukan pemeriksaan ole
kering, turgor kulit jelek, pasien tampak
23 x/menit. Pasien tampak berkeringat, ke
Lidah kotor. Pasien didiagnosa demam thyp

3.1 Pengkajian
3.1.1
Anamnesa
a. Identitas
Nama
: Tn. T
Tempat tanggal lahir
: Jenis kelamin
: Laki-laki
Umur
: 6 tahun
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
:
Status
:
Agama
:
Alamat
:
Tanggal MRS
:
No. RM
:
Diagnosa Medis
: Demam Thypoid
b. Keluhan utama
:
Demam
c. Riwayat kesehatan

Riwayat penyakit sekarang


Sejak kapan pasien sudah merasa tidak enak badan dan kurang nafsu makan, diserta

i dengan sakit kepala, badan panas, mual dan ada muntah. Panas berkurang setelah
minum obat parasetamol, tapi hanya sebentar kemudian panas lagi.

Riwayat penyakit dahulu


Menanyakan apakah sebelumnya pasien pernah mengalami penyakit seperti sekarang i
ni, apakah pasien pernah dirawat di RS, atau pernah sakit biasa seperti flu, pil
ek dan batuk, dan sembuh setelah minum obat biasa yang dijual di pasaran.

Riwayat penyakit keluarga


Menanyakan apakah ada dalam keluarga pasien yang pernah sakit seperti pasien.
3.1.2
Pemeriksaan Fisik
a.
Keadaan umum
Mengkaji kesadaran dan keadaan umum pasien. Kesadaran pasien perlu di kaji dari
sadar
tidak sadar (composmentis
coma) untuk mengetahui berat ringannya prognosis
penyakit pasien

Suhu : 40oc

Nadi : 90 x/menit

RR : 23 x/menit
b.
Tanda-tanda vital dan pemeriksaan persistem
Suhu : 40oc, Nadi : 90 x/menit, RR : 23 x/menit
1.
B1 (breath)

Bentuk dada : simetris

Pola nafas : teratur

Suara nafas : tidak ada bunyi nafas tambahan

Sesak nafas : tidak ada sesak nafas

Retraksi otot bantu nafas : tidak ada

Alat bantu pernafasan : tidak ada alat bantu pernafasan


2.
B2 (Blood)

Irama jantung : teratur

Nyeri dada : tidak ada

Bunyi jantung : tidak ada bunyi jantung tambahan

Akral : Tangan bentuk simetris, tidak ada peradangan sendi dan oedem, dapat b
ergerak dengan bebas, akral hangat, tangan kanan terpasang infus. Kaki bentuk si
metris, tidak ada pembatasan gerak dan oedem, akral hangat.
3.
B3 (Brain)

Penglihatan (mata) : Gerakan bola mata dan kelopak mata simetris, konjungtiva
tampak anemis, sklera putih, pupil bereaksi terhadap cahaya, produksi air mata
(+), tidak menggunakan alat bantu penglihatan.

Pendengaran (telinga) : Bentuk D/S simetris, mukosa lubang hidung merah muda,
tidak ada cairan dan serumen, tidak menggunakan alat bantu, dapat merespon seti
ap pertanyaan yang diajukan dengan tepat.

Penciuman (hidung) : Penciuman dapat membedakan bau-bauan, mukosa hidung mera


h muda, sekret tidak ada, tidak ada terlihat pembesaran mukosa atau polip.

Kesadaran : kompos mentis


4.
B4 (Bladder)

Kebersiahan : bersih

Bentuk alat kelamin : normal

Uretra : normal

Produksi urin : tidak normal (sedikit) 500 cc/jam, buang air kecil tidak mene
ntu, rata-rata 4-6x sehari, tidak pernah ada keluhan batu atau nyeri.
5.
B5 (Bowel)

Nafsu makan : anoreksia

Porsi makan : porsi

Mulut : Mukosa bibir kering, lidah tampak kotor (keputihan), gigi lengkap, ti
dak ada pembengkakan gusi, tidak teerlihat pembesaran tonsil

Mukosa: pucat
6.
B6 (Bone)

Kemampuan pergerakan sendi : normal

Kondisi tubuh : kelelahan, malaise, lemah


3.2 Analisa Data
Analisa Data

Etiologi
Masalah
Keperawatan
Diagnosa
Keperawatan
Data Subjektif
1.
Demam (panas naik turun)
2.
Mual
3.
Muntah
Data Objektif
1.
Mukosa bibir kering
2.
Turgor kulit jelek
3.
Pasien tampak lemah
4.
Lidah tampak kotor
5.
Keluaran urin 500 cc/24 jam
6.
T : 40oc
7.
N : 90 x/m
8.
RR : 23x/m
9.
Berkeringat
Kuman Salmonella typhii
masuk ke saluran cerna
Sebagian dimusnahkan
Asam lambung

Peningkatan asam
lambung

Mual, Muntah

MK = Kekurangan Volume

Cairan

Kekurangan volume cairan


Berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat.
Data Subjektif
1.
Demam (panas naik turun)
Data Objektif
1.
Mukosa bibir kering
2.
Turgor kulit jelek
3.
Pasien tampak lemah
4.
Lidah tampak kotor
5.
T : 40oc
6.
N : 90 x/m
7.
Berkeringat

Kuman Salmonella typhii


masuk ke saluran cerna
Sebagian masuk
Ke usus halus
Ileun terminalis
Sebagian menembus
lamina propia
Masuk aliran limfe
Menembus dan masuk aliran darah
Hipothalamus
Demam
Peningkatan
Suhu tubuh
MK = Hipertermi
Hipertermi
Berhubungan dengan proses infeksi
3.3 Diagnosa
1.
Kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan p
eningkatan suhu tubuh
2.
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
3.4 Prioritas Masalah
1.
Kurangnya volume cairan berhubungan dengan kurangnya intake cairan dan p
eningkatan suhu tubuh.
3.5
No.

Planning

Diagnosa Keperawatan
Intervensi
Rasional
1.
Kekurangan volume cairan berhubungan dengan asupan cairan yang tidak adekuat.
Tujuan : asupan cairan adekuat dalam jangka waktu 1 x 24 jam
Kriteria Hasil:
- Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam.
- Menampilkan hidrasi yang baik misalnya membran mukosa yang lembab.
- Memiliki asupan cairan oral dan atau intravena yang adekuat.
1.

Kaji tanda-tanda dehidrasi.

2.
3.
4.
.

Berikan minum per oral sesuai toleransi.


Atur pemberian cairan infus sesuai order.
Ukur semua cairan output (muntah, urine, diare). Ukur semua intake cairan

Intervensi lebih dini


Mempertahankan intake yang adekuat
Melakukan rehidrasi
Mengatur keseimbangan antara intake dan output
2.
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi.
Tujuan : mempertahankan suhu tubuh dalam barts normal pada jangka waktu 1x24 jam
Kriteria Hasil:
Suhu antara 36o-37o c
RR dan nadi dalam batas normal
Membran mukosa lembab
Kulit dingin dan bebas dari keringat yang berlebih.
Pakaian dan tempat tidur pasien kering
1.

Monitor tanda-tanda infeksi.

2.

Monitor tanda-tanda vital tiap 2 jam.

3.
Berikan suhu lingkungan yang nyaman bagi pasien. Kenakan pakaian tipis pa
da pasien.
4.
5.
6.

Kompres dingin pada daerah yang tinggi aliran darahnya.


Berikan cairan iv sesuai order atau anjurkan intake cairan yang adekuat.
Berikan antipiretik, jangan berikan aspirin.

7.

Monitor komplikasi neurologis akibat demam.

Infeksi pada umumnya menyebabkan peningkatan suhu tubuh


Deteksi resiko peningkatan suhu tubuh yang ekstrem, pola yang dihubungkan dengan
patogen tertentu, menurun dihubungkan dengan resolusi infeksi.
Kehilangan panas tubuh melalui konveksi dan evaporasi
Memfasilitasi kehiliangan panas lewat konveksi dan konduksi.
Menggantikan cairan yang hilang lewat keringat.
Aspirin bersiko terjadi perdarahanGI yang menetap.
Febril dan enselopati bisa terjadi bila suhu tubuh yang meningkat.

3.6
No

Implementasi

Hari / Tanggal Waktu

Implementasi
Paraf
1.

Senin, 28 November 2011


Jam 10.00 WIB
1.
2.
3.
4.
ntake.

Mengkaji tanda-tanda dehidrasi.


Memberikan minum per oral sesuai toleransi.
Mengatur pemberian cairan infus sesuai order.
Mengukur semua cairan output (muntah,urine, diare), dan mengukur semua i

2.
Senin, 28 November 2011
Jam 11.00 WIB
1.
Memonitor tanda-tanda infeksi.
2.
Memonitor tanda-tanda vital setiap 2 jam.
3.
Memberikan suhu lingkungan yang nyaman pada pasien serta memakaikan pakai
an tipis.
4.
Mengkompres dingin pada daerah yang tinggi aliran darahnya.
5.
Memberikan cairan iv sesuai order atau memnganjurkan intake cairan yang a
dekuat.
6.
Memberikan antipiretik.
7.
Memonitor komplikasi neurologis.

3.7
Evaluasi
Diagnosa 1:
S
: Pasien menunjukkan hidrasi yang baik
O
: TTV normal, intake dan output cairan seimbang.
A
: Masalah teratasi
P
: Pasien pulang
Diagnosa 2:
S
: Pasien mengatakan tidak demam lagi
O
: TTV normal, membran mukosa lembab, kulit dingin dan bebas dari keringan
yang berlebih, pakaian dan tempat tidur pasien kering.
A
: Masalah teratasi
P
: Pasien pulang

DAFTAR PUSTAKA
Herdman T. Heather. 2010. Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC

Rampengan dan Laurentz, 1995, Penyakit Infeksi Tropik Pada Anak, cetakan kedua,
EGC, Jakarta.
Wilkinson M. Judith. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 7. Jakarta : EG
C
Anonim. 2007. Demam Thypoid. http://cnennisa.files.wordpress.com/2007/08/ demamthypoid.pdf (diakses pada tanggal 18 November 2011, Jam 09.00 WIB)
Diposkan oleh Benedikta Abi di 23.13
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar
Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)
Pengikut
Mengenai Saya
Foto Saya
Benedikta Abi
Lihat profil lengkapku
Arsip Blog
? 2012 (1)
? September (1)
THYPUS ABDOMINALIS
Template Awesome Inc.. Diberdayakan oleh Blogger.