Anda di halaman 1dari 13

e.

Analisis Data
Metode analisis data menggunakan analisis deskriptif. Data yang di analisis
berupa dokumen-dokumen terkait kegiatan pemanfaatan secara lestari sumber
daya alam hayati dimasing-masing tingkat pengelola.
3.4. Hasil dan Pembahasan
1. Perlindungan Sistem Penyangga Kehidupan
a. Air
Keberadaan sumberdaya air sebagai dalah satu sistem penyangga kehidupan
di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) menjadi salah
satu hal yang perlu dilindungi agar kelestarian dari sumberdaya tersebut
senantiasa tetap terjaga dan mampu memberikan manfaat bagi ekosistem dan
masyarakat disekitarnya. Sumber daya air ini pula masih berkaitan dengan
sejarah penunjukannya kawasan TNBTS, yaitu dengan adanya potensi air yang
ada didalam kawasan TNBTS yang berupa badan air danau (ranu), sungai,
mata air, dan air terjun. Dengan luas sekitar 52000 ha, TNBTS mampu
mendukung keberadaan sumberdaya air yang berada didalam kawasan, tecatat
6 (enam) ranu/danau di dalam kawasan TNBTS yaitu Ranu Pani (5,536 ha,
RPTN

Ranu

Pani,

Kec.Senduro),

Ranu

Kuning

(RPTN

Seroja,

Kec.Pasrujambe), Ranu Darungan (0,534 ha, RPTN Ranu Darungan,


Kec.Pronojiwo), Ranu Regulo (3,640 ha, RPTN Ranu Pani, Kec.Senduro),
Ranu Kumbolo (17 ha, RPTN Ranu Pani, Kec.Senduro), serta Ranu Tompe
(0,5 ha, RPTN Ranu Pani, Kec.Senduro). Selain itu terdapat 25 sungai, 28mata
air dan 2 air terjun yang terdapat di dalam kawasan.

Gambar 3. Peta Potensi Sumber Air


(Sumber : RPTN Bromo Tengger Semeru 2015-2024)
Kegiatan perlindungan sumber daya air yang dilakukan oleh pihak
pengelola dimulai dari kegiatan inventarisasi potensi, pengukuran kualitas,
perbaikan kualitas, dan penjagaan kualitas. Kegiatan inventarisasi potensi telah
dilakukan oleh pihak pengelola yang dibantu dengan stakeholder terkait,
dimana hasilnya dapat dilihat dari paragraf diatas. Kegiatan pengukuran
kualitas sumberdaya air ditunjukan untuk mengetahui seberapa besar potensi
yang dihasilkan oleh sumberdaya air. Pengukuran sumberdaya air secara
berkelanjutan nantinya akan sangat membantu menilai sumber air yang
memiliki kualitas terbaik maupun terburuk guna dilakukan kegiatan
pengelolaan lebih lanjut.
Selain kegiatan inventarisasi dan pengukuran potensi sumberdaya air, pihak
pengelola juga melakukan perbaikan sumberdaya air yang berfungsi sebagai
upaya

dalam

mempertahankan

dan

melestarikan

keberadaan

fungsi

sumberdaya air tersebut. Upaya-upaya yang dilakukan oleh pihak pengelola


dalam perbaikan fungsi adalah sebagai berikut :

1) Identifikasi faktor-faktor penyebab kerusakan ekosistem sumberdaya air


2) Monitoring dan Evaluasi tingkat kerusakan ekosisten sumberdaya air
3) Penerapan teknik konservasi tanah dan air untuk menyelamatkan
ekosistem sumberdaya air dari penurunan kualitas dan kuantitas airnya,
4) Pelibatan masyarakat dalam pemulihan ekosistem sumberdaya air,
5) Monitoring dan evaluasi berkala kualitas ekosistem sumberdaya air.
Dalam kegiatan perlindungan ini, pihak pengelola juga berkerja sama
dengan berbagai pihak, kerjasama dengan BPDAS Provinsi yang merupakan
kerjasama yang berkesinambungan dimana kerjasama ini terkait dengan adanya
upaya pemanfaatan sumberdaya air bagi masyarakat. Adapun pihak akademisi
dapat menjadi salah satu stakeholder yang dapat memperlancar kegiatan
perlindungan yang dilakukan melalui kerjasama dalam bentuk penelitian,
praktek kerja lapang (PKL), magang, dan lainnya.
Saat ini pihak pengelola TNBTS masih mengandalkan kerjasama dengan
stakeholder untuk melakukan beberapa kegiatan perlindungan, hal ini
dikarenakan masih kurangnya sumberdaya manusia (SDM) yang memiliki
kemampuan khusus di bidang pengelolaan terlebih di bidang pengukuran air.
Jumlah SDM ini belum cukup untuk menjaga kualitas dan tetap
mempertahankan kuantitas air yang ada masih kurang, sehingga pengelolaan
kurang maksimal dengan melihat banyaknya potensi air di TNBTS.
Di Seksi Wilayah 4 khususnya di resort Ranu Darungan, pengelolaan air
yang dilaksanakan diarahkan pada pengelolaan pemanfaatan air oleh
masyarakat sekitar dan keberlangsungan sumber mata air. Kegitan pengelolaan
perlindungan ini bekerja sama dengan orang kunci yang berasal dari masyarakat
sekitar yang mampu memegang kendali oleh masyarakat sekitar. Bentuk
kegiatan perlindungan ini adalah menjaga menjaga kualitas dan kuantitas air
yang dihasilkan dengan cara penanaman kembali area hutan sekitar sumber
mata air. Selain itu, masyarakat desa di beri pengarahan dalam pemanfaatan air
dan pengelolaan pembagian air secara lestari sehingga air yang dimanfaatkan
tidak digunakan secara berlebihan dan tidak terbuang secara sia-sia.
b. Perambahan
Gangguan perambahan kawasan hutan oleh masyarakat desa penyangga
baik desa enclave maupun desa di sekitar kawasan TNBTS, titik lokasi

perambahan berada di hampir seluruh lokasi Resort Pengelolaan Taman


Nasional Bromo Tengger Semeru. Pada beberapa lokasi, ditemukan bahwa
ladang pertanian masyarakat melebihi batas dari yang diperbolehkan. Lahan
pertanian yang seharusnya diperbolehkan hanya sampai area enclave saat ini
telah melebihi batas dan masuk dalam zona tradisional. Perambahan yang
terjadi disebabkan karena beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut adalah
kebutuhan masyarakat untuk pembukaan ladang bagi penanaman pangan dan

kebun, kepemilikan lahan tidak sebanding dengan perkembangan jumlah


penduduk, ketidakjelasan batas kawasan antara TNBTS dengan Perum
Perhutani (pal batas hilang/rusak) sehingga masyarakat menganggap kawasan
TNBTS adalah kawasan tumpangsari milik Perhutani, masyarakat menganggap
kawasan TNBTS yang tidak bervegetasi terkesan dibiarkan dan belum
sepenuhnya wewenang pengelolaan BB TNBTS, kurangnya pemantauan, serta
lemahnya penegakan hukum. Total intensitas gangguan kawasan TNBTS tiap
tahun mengalami peningkatan berdasarkan data dari laporan kejadian perkara
yang ada di TNBTS mulai tahun 2006-2012.

Gambar 4. Grafik Gangguan Perambahan Kawasan di TNBTS


Tahun 2006-2012
(Sumber : RPTN Bromo Tengger Semeru 2015-2024)

Dari seluruh kawasan di TN Bromo Tengger Semeru, resort yang memiliki


gangguan perambahan antara lain yaitu resort G. Penanjakan, Seroja, Coban
Trisula, Gucialit, Jabung, Taman Satriyan, Candipuro, Ranu Pani, Ngadas,
Ranu Darungan, dan Sumber. Dari data tersebut artinya untuk Bidang
Pengelolaan Wilayah Taman Nasional II pada seluruh resortnya terdapat
gangguan perambahan termasuk resort yang ada di Seksi Pengelolaan Taman
Nasional IV khususnya Ranu Darungan. Di resort Ranu Darungan bentuk
perambahan yang terjadi adalah perambahan kaliandra. Kaliandra tersebut
ditanam oleh warga untuk dijadikan pakan ternak.

Gambar 5. Peta Perambahan Kawasan Hutan TNBTS


(Sumber : RPTN Bromo Tengger Semeru 2015-2024)

Pihak TN Bromo Tengger Semeru telah melakukan upaya-upaya untuk


menindak kegiatan perambahan yang ada di wilayah TN. Penanggulangan
perambahan tersebut antara lain secara represif (pemberian sanksi hukum)
melalui kerjasama dengan pemerintah kecamatan dan pemerintah daerah.
Tidak hanya upaya represif semata yang ditempuh oleh pengelola, upaya
preventif atau pencegahan pun dilakukan oleh pengelola sebagai bentuk
tanggung jawab mereka dalam memberikan perlindungan terhadap sistem
penyangga

kehidupan maupun sumber daya yang ada. Upaya pencegahan

tersebut berupa kegiatan penyuluhan kepada masyarakat sekitar taman


nasional, pemancangan batas, peningkatan patroli rutin maupun gabungan,
koordinasi pengamanan kawasan dengan instansi terkait, serta pemasangan
papan peringatan di daerah yang rawan akan kegiatan perambahan. Dari data
Matrik Capaian Sasaran Strategis Balai Besar TN Bromo Tengger Semeru
Tahun 2012 dan Prognosis Tahun 2013, pada tahun 2012, 6 kasus telah
terselesaikan dan pada tahun 2013, 2 kasus perambahan telah terselesaikan.
Upaya yang dilakukan untuk mengatasi kegiatan perambahan antara lain
patroli pengamanan hutan dan penyidikan.

Selain itu, ada kegiatan fasilitasi tim perambahan sebanyak 4 kali pada tahun
2013 terkait penanganan perambahan.
TAMBAHKAN BUKTI PERAMBAHAN YANG TERJADI
c. Kebakaran
Kebakaran merupakan salah satu bencana yang bersifat destruktif atau
merusak bagi kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Pada
umumnya, hal ini dapat diakibatkan oleh beberapa faktor seperti adanya
kegiatan masyarakat yang baik di sengaja maupun tidak disengaja, meskipun
adanya faktor klimatologi tidak menutup kemungkinan turut menyumbang
peluang akan terjadinya hal tersebut. Bencana kebakaran yang terjadi di
kawasan TNBTS mempunyai intensitas gangguan kawasan dimana menurut
data dari tahun 2006-2012 sudah mulai menurun, tetapi bila dibandingkan
dengan data perambahan hutan yang terjadi di kawasan TNBTS mempunyai
intensitas ganggunan yang lebih tinggi. Pembukaan lahan yang dilakukan oleh
masyarakat dengan cara membakar hutan menjadi penyebab yang paling sering
ditemui dilapangan.

Gambar 6. Grafik Intensitas Gangguan Kebakaran dan Perambahan di TNBTS


(Sumber : RPTN Bromo Tengger Semeru 2015-2024)

Aktivitas masyarakat sekitar kawasan menjadi penyebab yang paling sering


ditemui dilapangan. Aktivitas masyarakat berupa pembakaran lahan rumput
yang telah panen menjadikan salah satu titik api yang pada akhirnya meluas
karena bantuan angin. Ditambah lagi, ekosistem di TNBTS sebagian besar
berupa jenis tanaman yang mudah terbakar di musim kemarau (rumput, paku-

pakuan, alang-alang/ semak/ belukar) menyebabkan mudahnya menyebar


dengan dengan mudah. Selain itu tingginya aktivitas pendakian gunung, juga
menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya kebakaran hutan di kawasan
TNBTS.
Daerah yang menjadi titik rawan terjadinya kebakaran tersebar pada
kawasan SPTN I, STPN II, dan STPN III, tetapi daerah terbesar yang berada
pada wilayah SPTN I dikarenakan tipe ekosistemnya yang berupa savana atau
padang rumput. Daerah-daerah yang menjadi titik awal terjadinya api adalah
Blok Laut Pasir, Pananjakan, Blok Pakis Bincil, Blok Ngadas dan Blok
Bantengan.

Gambar 7. Peta Daerah Rawan Kebakaran Hutan


(Sumber : RPTN Bromo Tengger Semeru 2015-2024)

Masih seringnya terjadi kebakaran di daerah di kawasan ini dari tahunketahun dikarenakan kurangnya jumlah personil untuk mengatasi kebakaran,
sehingga terjadi kebakaran pihak pengelola sulit untuk mengendalikannya.
Ditambah lagi, pihak pengelola tidak memiliki fasilitas yang cukup mendukung
untuk mengendalikan. Minimnya fasilitas mempersulit mengatasi kebakaran
yang ada yang ada. Kegiatan pencegahan yang dilakukan oleh pihak pengelola

hutan adalah dengan meningkatkan intenmsitas penjaga (patroli). Untuk


kegiatan penanggulangan bencana salah satunya dengan meningkatkan
kegiatan pengendalian kebakaran hutan (Dalkarhut) dengan bekerjasama
dengan berbagai pihak seperti polisi, TNI, Brimob, dan lain-lain.

Gambar .. Kegiatan Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) oleh Petugas


Pada wilayah SPTN IV, sangat minim kegiatan pengendalian kebakaran.
Kegiatan pengendalian kebakaran hutan di khusus pada wilayah SPTN I, SPTN
II, dan SPTN III. Minimnya kegiatan pengendalian kebakaran di wilyaha SPTN
IV dikarenakan ekosistem hutan yang berada di wilayah ini masih berupa hutan
alam tropis sehingga memiliki strata tajuk yang merata mulai dari tajuk hingga
penutupan lantai hutan yang tinggi.
d. Strategi Khusus Kegiatan Perlindungan
Pihak pengelolaan telah merumuskan setidaknya 5 strategi khususnya untuk
langkah pencegahan, strategi tersebut dijabarkan sebagai berikut :
1) Melaksanakan sistem peringatan dini kebakaran, contohnya adalah
pengawasan berkala pada titik panas dan pembuatan sistem peringatan
bahaya kebakaran
2) Meningkatkan kerja sama dengan masyarakat, sebagai contoh dengan
mengajak masayarakat untuk melakukan kegiatan pencegahan dengan
membentuk suatu kelompok masyarakat peduli api (MPA) yang anggota
tidak hanya bersal dari masyarakat sekitar kawasan tetapi melibatkan pihak

pemerintahan sekitar serta instansi terkait yang menangani masalah


kebakaran;
3) Penyuluhan dan kampanye, baik dari pihak pengelola, instansi terkait dan
tokoh masyarakat sekitar kawasan. Bentuk upaya penyuluhan dan kampanye
ini dengan mengajak masyarakat untuk ikut serta dalam pengendalian
kebakaran hutan.
4) Mengenalkan kepada masyarakat teknik-teknik ramah lingkunan dalam
pengendalian

kebakaran

hutan,

contohnya

dengan

mempraktekan

pembuatan sekat bakar dan melakukan kegiatan pelatihan kepada


masyarakat.
5) Sistem penyiapan lahan tanpa bakar (PLTB) baik jalur hijau atau jalur
kuning. Ini dimaksudkan untuk memperjelas daerah target operasi yang
dilindungi, seperti hutan primer dan areal rehabilitasi.
Pihak TN Bromo Tengger Semeru juga melakukan upaya pencegahan lain.
Upaya tersebut dilakukan dalam bentuk Program Desa Binaan. Upaya tersebut
sebenarnya tidak hanya difokuskan untuk mencegah gangguan berupa

perambahan, namun untuk mencegah seluruh gangguan yang berpotensi


muncul khususnya gangguan yang disebabkan oleh masyarakat. Contoh
program yang dijalankan antara lain pengembangan jamur tiram untuk MDK,
bantuan ternak kambing, bantuan bibit jeruk nipis, pelatihan pengolahan
limbah plastik, bantuan modal dari dinas provinsi 8,5 juta, bantuan bibit durian
montong dan petai, bantuan ternak kambing, pembinaan MPA, pelatihan
pembuatan biogas, bantuan unit biogas, bantuan kotak lebah madu, pelatihan
budidaya lebah madu, kegiatan belajar antar desa dengan tema desa wisata ke
Saranga dan Yogyakarta, bantuan bibit salak madu, bantuan bibit jahe merah
dari Dinas Provinsi, bantuan bibit kapulogo, sumbangan polybag untuk
penanaman kayu pasang dan cemara, serta pelatihan pengolahan limbah
plastik. Program tersebut adalah program-program yang dilaksanakan di
Bidang Wilayah Pengelolaan Taman Nasional II. Sedangkan program yang
dilakukan khususnya di Resort Ranu Darungan adalah bantuan stup lebah,
instalasi biogas, budidaya lebah madu, budidaya anggrek, dan bantuan alat
untuk SPKP.
Kegiatan pengelolaan perlindungan hutan yang di lakukan pada wilayah SPTN
IV ini ditunjukan pada kegiatan pemanfaatan air dan pengendalian perembahan
hutan. Kegiatan pengendalian kebakaran hutan tidak dilaksanakan pada SPTN
IV karena minimnya kejadian kebakaran hutan yang terjadi di wilayah SPTN
IV dikarenakan memiliki ekosistem yang berbeda dengan SPTN lainnya.
e. Sumber Daya Manusia
Kegiatan perlindungan di TN Bromo Tengger Semeru dilakukan oleh
pegawai-pegawai yang bekerja di wilayah TN Bromo Tengger Semeru.
Pegawai yang bersentuhan langsung dengan kegiatan perlindungan khususnya
adalah Polisi Hutan (Polhut) dan Pengendali Ekosistem Hutan (PEH). Polhut
lebih berperan terhadap perlindungan kawasan dari gangguan-gangguan
eksternal seperti dari manusia. Tabel berikut menunjukkan jumlah personil
polhut dan PEH yang ada di TN Bromo Tengger Semeru dari tahun 2008
hingga 2013.

Tabel 1. Jumlah Pegawai berdasarkan Status Kepegawaian (Sumber : RPTN


Bromo Tengger Semeru 2015-2024)

jumlah pegawai berdasarkan status kepegawaian


Tahun
struktural

nonstruktural

jumlah
polhut penyuluh PEH

2008

14

54

23

11

103

2009

14

62

23

11

111

2010

14

59

25

11

111

2011

14

57

24

12

109

2012

14

52

24

14

106

2013

13

52

23

12

102

Bila berdasarkan data tabel diatas, jumlah Polhut dan PEH yang tersedia di
kawasan TNBTS, untuk polhut hanya ada sekitar 23 orang dan PEH 12 orang
pada tahun 2013. Jumlah ini sangat kurang mencukupi untuk melindungi
kawasan TNBTS. Bila dilihat dari total luasan TNBTS dibagi dengan total
Polhut dan PEH tahun 2013, 1 orang pegawai mendapatkan luasan sekitar
1436.5 Ha. Hal ini masih kurang mencukupi untuk memenuhi kebutuhan
perlindungan di TNBTS.
Kurangnya jumlah anggota lapangan yang dimiliki oleh pengelola taman
nasional tidak menjadi hambatan yang begitu berat bagi para anggota pekerja
yang tersedia. Meskipun dengan minimnya anggota khususnya sumber daya
manusia yang memiliki spesifikasi khusus dalam perlindungan air, pengelolaan
perambahan dan kebaran, pihak pengelola taman nasional memiliki strategi
dengan mengajak masyarakat atau orang kunci yang mengerti dan memahami
seluk beluk dalam perlindungan air, permasalahan perambahan dan kebakaran
hutan. Masyarakat atau orang kunci ini dijadikan sebagai partner dalam
melakukan kegiatan perlindungan. Sebagai gambaran yang terdapat di resort
Ranu Darungan, terdapat 1 orang kunci yang menangani pengelolaan dan
permasalahan air. Orang kunci tersebut bertugas sebagai ketua pengelola
pembagian air yang dimanfaatkan oleh masyarakat, dimana air tersebut berasal

dari sumber air yang berada di dalam kawasan taman nasional. Selain itu, beliau
juga berkontribusi dalam penganganan penanaman kembali daerah sekitar
sumber air yang bertujuan untuk keberlangsungan sumber air tersebut.