Anda di halaman 1dari 47

LAPORAN PRAKTIK PEMAGANGAN PROFESI AKUNTANSI (P3A)

EVALUASI PROSEDUR PENYELESAIAN KLAIM ASURANSI KREDIT


PADA PT ASKRINDO CABANG MAKASSAR

Disusun sebagai syarat dalam pencapaian derajat pendidikan profesi


akuntansi

Disusun oleh:
NUR RAHMAH SARI
13/358788/EE/06503

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA
2014

ii

iii

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Allah SWT karena rahmat-Nya sehingga penulis


dapat menyelesaikan laporan praktek pemagangan sebagai persyaratan untuk
memenuhi praktek pemagangan pada Pendidikan Profesi Akuntansi Universitas
Gadjah Mada dengan judul EVALUASI PROSEDUR PENYELESAIAN KLAIM
ASURANSI KREDIT PADA PT ASKRINDO CABANG MAKASSAR. Penulis
berharap laporan praktek pemagangan ini dapat memberi tambahan wawasan
mengenai prosedur dalam penyelesaian klaim asuransi atas produk-produk yang
disediakan di PT ASKRINDO cabang Makassar, dan mungkin dapat digunakan
sebagai bahan referensi baik bagi mahasiswa maupun umum.
Laporan ini dapat diselesaikan atas bimbingan dan bantuan dari berbagai
pihak. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Allah SWT, yang senantiasa memberikan petunjuk, kemudahan, kelancaran,
kesabaran serta jalan terbaik dalam penyusunan laporan ini.
2. Dr.

Hardo

Basuki,

M.Soc.,Sc,.CSA.,CA.,Ak

selaku

Ketua

Program

Pendidikan Profesi Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas


Gadjah Mada.
3. Wiwin Rahmanti, SE., M.Com., Ak, selaku pembimbing yang telah banyak
membantu dan membimbing penulis.
4. Staf pegawai PT Asuransi Kredit Indonesia Cabang Makassar yang banyak
membantu penulis selama menjalankan pemagangan.

iv

5. Tunggoro Widiandaru, SE., Ak, selaku Pembimbing Institusi.


6. Ayahanda Abdul Rahman dan Ibunda Nur Alam yang telah memberikan
dukungan dan kasih sayang serta doa yang tak ada hentinya bagi penulis.
Semoga Allah SWT selalu memberikan kebahagiaan bagi kalian, Amin.
7. Sahabat-sahabat rekan seperjuangan di PPAK UGM.
8. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan laporan ini.
Semoga Allah SWT memberikan balasan kepada semua pihak yang telah
membantu penulis dalam pelaksanaan Praktek Pemagangan Profesi Akuntansi
(P3A) Universitas Gadjah Mada. Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi
pembacanya.

Yogyakarta, 1 Juli 2014


Penulis,

NUR RAHMAH SARI

DAFTAR ISI
Hal.
HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
HALAMAN PENGESAHAN ......................................................................... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING .............................................. iii
KATA PENGANTAR .................................................................................... iv
DAFTAR ISI ................................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... 1
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Tujuan ........................................................................................... 4
C. Manfaat ......................................................................................... 4
BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................... 5
A. Asuransi ........................................................................................ 5
B. Penjaminan ................................................................................... 6
C. Kredit ............................................................................................ 7
D. Kredit Usaha Rakyat .................................................................... 10
E. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah ............................................. 11
F. Subrogasi ...................................................................................... 12
G. Ketentuan Penjaminan ................................................................. 13
BAB III PEMBAHASAN .............................................................................. 17
A. Gambaran Tempat Magang .......................................................... 17
B. Kegiatan Kerja di Tempat Magang ............................................... 19
C. Evaluasi Tempat Magang ..................................................... 20
BAB IV SIMPULAN DAN SARAN............................................................... 40
A. Simpulan ....................................................................................... 40
B. Saran ............................................................................................. 40
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... vii

vi

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Dalam perkembangan ekonomi Indonesia, Usaha Mikro, Kecil, dan
Menengah (UMKM) merupakan salah satu sektor yang memiliki peranan
yang sangat penting. Bahkan UMKM dianggap sebagai tulang punggung
kekuatan ekonomi yang mampu memberikan kontribusi yang sangat
signifikan. Hal ini karena sebagian besar penduduk Indonesia hidup dalam
kegiatan usaha kecil baik di sektor tradisional maupun modern, sehingga
memberikan perhatian lebih terhadap perkembangan UMKM dianggap
mampu meningkatkan kesempatan kerja bagi banyak masyarakat dan secara
tidak langsung akan memberi pengaruh positif dalam perkembangan
perekonomian Negara.
Namun

demikian,

dalam

perkembangannya

UMKM

banyak

menghadapi kendala, khususnya terkait masalah pembiayaan. Sulitnya


mendapat modal menjadi kendala utama yang dihadapi UMKM di Indonesia.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk membantu permodalan UMKM
yaitu penyediaan dana melalui penyaluran kredit. Bank merupakan salah satu
lembaga

yang

menyediakan

jasa

penyaluran

kredit

tersebut.

Tapi

kenyataannya, memperoleh permodalan melalui kredit di Bank bukan lah hal


mudah bagi beberapa UMKM. Keterbatasan legatlitas, keterbatasan agunan,
tingginya suku bunga kredit, serta sulitnya memenuhi persyaratan dari Bank
menjadi

penyebab

sulitnya

UMKM

memperoleh

permodalan

yang

diharapkan.
1

Kredit merupakan salah satu sumber pendapatan utama namun juga


seringkali menjadi sumber masalah bagi Bank karena dinilai dapat
mempengaruhi tingkat kesehatan suatu Bank. Oleh karena itu Bank sangat
berhati-hati dalam pengelolaan kredit yang diberikannya, termasuk dalam
keputusan terkait pemberian kredit bagi UMKM. Proposal pengajuan kredit
dari UMKM sering dinilai tidak cukup layak, seperti tidak dipenuhinya
beberapa persyaratan yang diberikan Bank kepada UMKM yang mengajukan
kredit sehingga sulit untuk mendapat persetujuan. Selain itu, pihak Bank juga
mengalami kesulitan dalam menganalisa kemampuan para pengelola UMKM.
Tidak diterapkannya manajemen usaha yang baik menyulitkan pihak Bank
dalam melakukan analisis keuangan UMKM khususnya saat akan
memberikan persetujuan atas pengajuan kredit.
Beberapa masalah seperti adanya kredit macet seringkali harus dihadapi
Bank dalam pengelolaan kredit yang diberikannya. Kredit macet terjadi
karena ketidaksanggupan pihak yang menerima dana kredit untuk membayar
atau melunasi kredit tersebut kepada Bank. Karena itu, untuk mengantisipasi
risiko kegagalan kredit tersebut, Bank membutuhkan lembaga yang dapat
memberikan jaminan atas kredit yang telah diberikannya. Menanggapi hal
tersebut, pemerintah mengambil langkah dengan mendirikan Badan Usaha
Milik Negara ((BUMN) yang bergerak dalam memberikan asuransi dan
penjaminan kredit, khususnya bagi UMKM.
PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau lebih dikenal sebagai
ASKRINDO merupakan salah satu BUMN yang bergerak dalam asuransi

atau penjaminan. ASKRINDO didirikan oleh pemerintah berdasarkan


Peraturan Pemerintah No. 1 Tahun pada tanggal 11 Januari 1971, dengan
tujuan untuk menjembatani kesenjangan antara UMKM dengan Perbankan.
Lembaga ini berfungsi sebagai penanggung atau penjamin risiko kredit macet
yang

diberikan

oleh

Bank

kepada

UMKM

secara

wajar.

Dalam

perkembangan usahanya ASKRINDO mengalami pasang surut, menunjukkan


bahwa usaha asuransi kredit yang dijalankan lembaga ini mengandung risiko
yang cukup tinggi.
Kunci dari menjalankan usaha asuransi kredit ini adalah dalam hal
penyelesaian klaim yang sesuai dengan ketentuan. Klaim atas asuransi
merupakan sebuah permintaan resmi kepada perusahaan asuransi dari pihak
tertanggung untuk mendapatkan pembayaran berdasarkan ketentuan dalam
perjanjian sebelumnya. Terkait asuransi kredit, lembaga penjamin biasanya
menerima klaim dari pihak tertanggung jika terjadi kredit macet yang
disebabkan pihak yang memperoleh kredit tidak mampu melunasi kredit yang
telah diasuransikan oleh pihak pemberi kredit atau Bank. Kondisi tersebut
juga dikenal dengan istilah wanprestasi.
Menghadapi besarnya risiko kemungkinan terjadinya klaim, lembagalembaga asuransi kredit tentu memiliki standar tertentu dalam pengelolaan
asuransi khususnya terkait penyelesaian klaim dari pihak tertanggung, tidak
terkecuali ASKRINDO sebagai salah satu lembaga asuransi kredit yang
didirikan oleh pemerintah. Oleh karena itu, laporan ini akan membahas

mengenai prosedur penyelesaian klaim atas asuransi penjaminan kredit pada


PT Asuransi Kredit Indonesia cabang Makassar.

B. TUJUAN
Tujuan penulis dalam praktik permagangan yaitu untuk mengetahui dan
mengevaluasi prosedur yang dijalankan ASKRINDO dalam menyelesaikan
klaim sebagai akibat adanya wanprestasi.

C. MANFAAT
Manfaat dari praktik permagangan yaitu:
1.

Bagi penulis, memperoleh wawasan mengenai kegiatan-kegiatan yang


dilakukan ASKRINDO sebagai perusahaan yang menjalankan usahanya
dalam

bidang

asuransi

kredit,

khususnya

mengenai

prosedur

penyelesaian klaim yang dijalankan perusahaan saat adanya klaim dari


penerima jaminan sebagai akibat terjadinya wanprestasi.
2.

Bagi perusahaan, laporan ini diharapkan bisa menjadi masukan dan


bahan

pertimbangan

bagi

perusahaan

yang

bermanfaat

dalam

mengevaluasi prosedur penyelesaian klaim asuransi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Asuransi
Berdasarkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian,
asuransi atau pertanggungan adalah perjanjian antara 2 (dua) pihak
atau lebih, dengan mana pihak penanggung mengikatkan diri kepada
tertanggung dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan
penggantian kepada tertanggung karena kerugian kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab hukum
kepada pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang
timbul dan suatu peristiwa tidak pasti atau untuk memberikan suatu
pembayaran yang didasarkan atas rneninggal atau hidupnya seseorang
yang dipertanggungkan.
Dalam definisi tersebut dijelaskan adanya dua pihak atau lebih yang
terlibat dalam asuransi. Perjanjian atau kesepakatan dilakukan oleh pihak
penanggung dan pihak tertanggung dimana pihak tertanggung wajib
memenuhi

persyaratan

tertentu,

termasuk

membayar

premi

untuk

mendapatkan asuransi dalam bentuk penggantian kerugian dari pihak


tertanggung.
Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan RI No. 124/PMK.010/2008
tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Lini Usaha Asuransi Kredit dan
Suretyship,
asuransi kredit adalah lini usaha asuransi umum yang memberikan
pemenuhan kewajiban finansial penerima kredit apabila penerima kredit
tidak mampu memenuhi kewajibannya sesuai dengan perjanjian kredit.

Asuransi kredit sangat erat kaitannya dengan penjaminan kredit.


Lembaga yang memberikan asuransi akan bertindak sebagai pihak yang
memberikan atau melakukan kewajiban pembayaran kredit yang diterima
oleh perseorangan atau badan tertentu yang digunakan untuk pengembangan
usahanya, jika suatu hari orang atau badan tersebut tidak dapat melunasi
kredit yang diterimanya. Hal ini tentu dilakukan sesuai dengan persyaratan
dan prosedur tertentu.

B. Penjaminan
Berdasarkan

KEP-20/D.I.M.EKON/11/2010

tentang

Standar

Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat, penjaminan


adalah kegiatan pemberian jaminan atas pemenuhan kewajiban finansial
debitur KUR oleh Perusahaan Penjamin.
Dalam kegiatan penjaminan kredit, ada 3 (tiga) pihak yang terlibat
yaitu:
1.

Perusahaan Penjamin
Perusahaan penjamin yaitu lembaga yang memberikan jasa
penjaminan bagi kredit atau pembiayaan dan bertanggung jawab
untuk memberikan ganti rugi kepada penerima jaminan akibat
kegagalan Debitur dalam memenuhi kewajibannya sebagaimana
diperjanjikan dalam perjanjian kredit/pembiayaan.

2.

Penerima Jaminan

Penerima jaminan adalah Kreditur, baik bank maupun bukan bank


yang memberikan fasilitas kredit atau pembiayaan kepada Debitur
atau Terjamin, baik kredit uang maupun kredit bukan uang atau
kredit barang.
3.

Pihak Terjamin
Pihak terjamin adalah Debitur, yaitu badan usaha atau perorangan
yang menerima kredit dari penerima jaminan. Debitur umumnya
adalah perorangan yang menjalankan suatu usaha produktif atau
pelaku usaha mikro, kecil, menengah (UMKM).

C. Kredit
Berdasarkan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan,
kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjammeminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak
peminjam untuk melunasi utangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan pemberian bunga.
Dari pengertian tersebut diketahui bahwa pemberian kredit merupakan
salah satu jasa yang disediakan oleh bank atau lembaga keuangan lain yang
menyediakan dana dalam jumlah dan dengan persyaratan tertentu bagi pihak
lain yang membutuhkan dana tersebut. Pihak penerima dana atau peminjam
wajib melunasi kembali dana yang dipinjamnya dalam jangka waktu sesuai
dengan perjanjian.

Terkait

dengan

20/D.I.M.EKON/11/2010

Kredit
tentang

Usaha
Standar

Rakyat,

berdasarkan

Operasional

dan

KEPProsedur

Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat,


kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan
dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam
meminjam antara Bank Pelaksana dengan Debitur KUR yang
mewajibkan Debitur KUR untuk melunasi hutangnya setelah jangka
waktu tertentu dengan pemberian bunga.
Pengertian kredit berdasarkan KEP-20/D.I.M.EKON/11/2010 ini
hampir sama dengan pengertian kredit berdasarkan Undang-undang Nomor
10 tahun 1998, namun lebih mengacu pada Kredit Usaha Rakyat dimana
pihak penerima kredit atau peminjam menggunakan dana tersebut dalam
rangka pengembangan usaha.
Berdasarkan Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia (BI) No.
32/268/KEP/DIR tanggal 27 Pebruari 1998, kredit dapat dibedakan menjadi :
1.

Kredit lancar
Kredit lancar yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan
pembayaran bunganya tepat waktu, perkembangan rekening baik dan
tidak ada tunggakan serta sesuai dengan persyaratan kredit. Kredit lancar
mempunyai kriteria sebagai berikut:

2.

a.

Pembayaran angsuran pokok dan bunga tepat waktu.

b.

Memiliki mutasi rekening yang aktif.

c.

Bagian dari kredit yang dijamin dengan uang tunai.

Kredit kurang lancar

Kredit kurang lancar yaitu kredit yang pengembalian pokok


pinjaman

atau

pembayaran

bunganya

terdapat

tunggakan

telah

melampaui 90 hari sampai 180 hari dari waktu yang telah disepakati.
Kredit kurang lancar mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.

Terdapat tunggakan angsuran pokok dan bunga yang telah


melampaui 90 hari.

b.

Frekuensi mutasi rendah.

c.

Terjadi pelnggaran terhadap kontrak yang telah dijanjikan lebih dari


90 hari.

3.

d.

Terjadi mutasi masalah keuangan yang dihadapi debitur.

e.

Dokumentasi pinjaman lemah.

Kredit diragukan
Kredit diragukan yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman
dan pembayaran bunganya terdapat tunggakan yang telah melampaui 180
hari sampai 270 hari dari waktu yang disepakati. Kredit diragukan
memiliki kriteria sebagai berikut:
a.

Terdapat tunggakan angsuran pokok atau bunga yang telah


melampaui 180 hari.

b.

Terjadinya wanprestasi lebih dari 180 hari.

c.

Terjadi cerukan yang bersifat permanen.

d.

Terjadi kapitalisasi bunga.

e.

Dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian maupun


pengikat pinjaman.

4.

Kredit macet
Kredit macet yaitu kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan
pembayaran bunganya terdapat tunggakan telah melampaui 270 hari.
Kredit macet mempunyai kriteria sebagai berikut:
a.

Terdapat tunggakan angsuran pokok yang telah melampaui 270 hari.

b.

Kerugian operasional dituntut dengan pinjaman baru.

c. Jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar, baik dari segi hukum
maupun dari segi kondisi pasar.

D. Kredit Usaha Rakyat


Berdasarkan

KEP-20/D.I.M.EKON/11/2010

tentang

Standar

Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat


Kredit Usaha Rakyat adalah kredit/pembiayaan modal kerja dan atau
investasi kepada UMKM di bidang usaha yang produktif dan layak
namun belum bankable dengan plafon kredit sampai dengan Rp.
500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) yang dijamin oleh Perusahaan
Penjamin.
Dari definisi tersebut diketahui bahwa UMKM yang bisa menerima
Kredit Usaha Rakyat sebagai tambahan pembiayaan hanya UMKM yang
memiliki bidang usaha yang produktif dan layak. Dalam hal ini, bank hanya
akan memberikan dananya kepada UMKM apabila bank menilai UMKM
tersebut memiliki prospek usaha yang baik. Hal ini untuk mengurangi

10

kemungkinan terjadinya kredit macet atau kemungkinan adanya risiko dana


tersebut tidak dapat dikembalikan oleh UMKM sebagai pihak penerima
kredit.
E. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun
2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, berikut maasing-masing
definisi mengenai Usaha Mikro, Usaha Kecil, dan Usaha Menenengah:
1.

Usaha Mikro adalah usaha produktif milik orang perorangan dan/atau


badan usaha perorangan yang memenuhi kriteria:
a.

Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp50.000.000,00 (lima


puluh juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
atau

b.

Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp300.000.000,00


(tiga ratus juta rupiah).

2.

Usaha Kecil adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang
dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau bukan cabang perusahaan yang
dimiliki, dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak
langsung dari Usaha Menengah atau Usaha Besar yang memenuhi
kriteria:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp50.000.000,00 (lima puluh
juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp500.000.000,00 (lima

11

ratus juta rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha;
atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp300.000.000,00 (tiga
ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp2.500.000.000,00
(dua milyar lima ratus juta rupiah).
3.

Usaha Menengah adalah usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri,


yang dilakukan oleh orang perorangan atau badan usaha yang bukan
merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki,
dikuasai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung
dengan Usaha Kecil atau Usaha Besar dengan jumlah kekayaan bersih
atau hasil penjualan tahunan yang memenuhi kriteria:
a. Memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp500.000.000,00 (lima ratus
juta rupiah) sampai dengan paling banyak Rp10.000.000.000,00
(sepuluh milyar rupiah) tidak termasuk tanah dan bangunan tempat
usaha; atau
b. Memiliki hasil penjualan tahunan lebih dari Rp2.500.000.000,00 (dua
milyar lima ratus juta rupiah) sampai dengan paling banyak
Rp50.000.000.000,00 (lima puluh milyar rupiah).

F. Subrogasi
Dalam ketentuan pasal 284 KUHD dinyatakan:
penanggung yang telah membayar ganti kerugian atas benda yang
diasuransikan, menggantikan tertanggung dalam segala hak yang
diperolehnya terhadap pihak ketiga yang telah menimbulkan kerugian

12

tersebut, dan tertanggung bertanggung jawab untuk setiap perbuatan


yang dapat merugikan hak penanggung terhadap pihak ketiga itu.
Dalam hal ini, yang dimaksud sebagai pihak penanggung adalah pihak
pemberi jaminan, tertanggung adalah pihak penerima jaminan, dan pihak
ketiga adalah debitur yang memperoleh kredit

G. Ketentuan

Penjaminan

berdasarkan

KEP-20/D.I.M.EKON/11/2010

tentang Standar Operasional dan Prosedur Pelaksanaan Kredit Usaha


Rakyat
1.

Syarat Klaim
Klaim dapat diajukan kepada perusahaan penjamin setelah:
a.

Perjanjian kredit jatuh tempo dan debitur KUR tidak melunasi


kewajiban pengembalian pinjaman, atau

b.

KUR yang bersangkutan dalam kolektibilitas kredit 4 (diragukan)


sesuai ketentuan Bank Indonesia, atau

c.

Keadaan insolvent:
1) Debitur dinyatakan pailit oleh pengadilan yang berwenang
2) Debitur dikenakan likuidasi berdasarkan keputusan pengadilan
yang berwenang dan untuk itu telah ditunjuk likuidator
3) Debitur diletakkan di bawah pengampuan.

2.

Besarnya Klaim
Klaim penjaminan yang dapat diajukan oleh bank pelaksana sebesar:

13

a.

Untuk sektor pertanian, kelautan dan perikanan, kehutanan dan


industri kecil: 80% (delapan puluh persen) x (sisa pokok + bunga
pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya
sebesar 80% (delapan puluh persen) x plafon KUR.

b.

Untuk sektor lainnya: 70% (tujuh puluh persen) x (sisa pokok +


bunga pada saat pengajuan klaim + denda) dengan setinggi-tingginya
sebesar 70% (tujuh puluh persen) x plafon KUR.

3.

Resiko kerugian debitur KUR yang tidak dijamin, yaitu:


a. Bencana alam nasional (dan/atau wabah penyakit menular pada
manusia/hewan berkuku/unggas) yang ditetapkan oleh Pemerintah
Pusat.
b. Reaksi nuklir, sentuhan radio aktif, radiasi reaksi inti atom yang
langsung mengakibatkan kegagalan usaha debitur untuk melunasi
KUR tanpa memandang bagaimana dan dimana terjadinya.
c. Peperangan baik dinyatakan maupun tidak atau sebagian wilayah
Indonesia dinyatakan dalam keadaan bahaya atau dalam keadaan
darurat perang.
d. Huru-hara yang berkaitan dengan gerakan atau kerusuhan politik
yang secara langsung mengakibatkan kegagalan debitur untuk
melunasi KUR.

14

e. Tindakan hukum yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia


terhadap debitur dan/atau bank yang mengakibatkan debitur
wanprestasi. Kecuali ditetapkan lain oleh Komite Kebijakan.

4.

Subrogasi
a. Klaim yang telah dibayar oleh perusahaan penjamin kepada bank
pelaksana tidak membebaskan debitur dari kewajibannya untuk
melunasi kredit/pembiayaan.
b. Dalam hal perusahaan penjamin telah membayar klaim kepada bank
pelaksana maka hak tagih dan hasil penjualan agunan beralih menjadi
hak subrogasi yang dibagi secara proporsional antara Perusahaan
Penjamin dan Bank Pelaksana.
c. Berdasarkan pertimbangan dan untuk kepentingan Debitur KUR,
antara lain dalam hal pemenuhan agunan tambahan, maka
Kementerian Keuangan melalui Peraturan Menteri Keuangan dapat
mengatur kembali mengenai ketentuan dan pelaksanaan subrogasi
tersebut di atas.

5.

Pelaksanaan pembayaran klaim:


a. Dalam hal terjadi tuntutan klaim dari bank pelaksana dan persyaratan
klaim telah terpenuhi untuk dibayar sedangkan pihak penjamin belum
menerima Imbal Jasa Penjaminan dari pemerintah, maka Perusahaan
Penjamin harus melakukan pembayaran atas tuntutan klaim tersebut.

15

b. Secara keseluruhan pembayaran klaim maksimum yang dapat


dilakukan oleh Perusahaan Penjamin adalah sebesar maksimum dana
Penyertaan Modal Negara (PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan
Penjamin ditambah hasil investasi dari modal PMN dan Imbalan Jasa
Penjaminan setelah dikurangi biaya operasional.

6.

Tata cara pengajuan penjaminan, tata cara pengajuan klaim, gugurnya


hak klaim, subrogasi dan lain-lain agar mengacu pada Perjanjian
Kerjasama yang ditandatangani oleh Bank Pelaksana dengan Perusahaan
Penjamin.

16

BAB III
PEMBAHASAN

A. Gambaran Tempat Magang

PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) atau PT Askrindo (Persero)


merupakan salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak
dalam asuransi/perusahaan penjaminan, tidak dapat dipisahkan dari
pembangunan ekonomi Bangsa dan Negara Republik Indonesia.
Sejak pemerintah menyusun dan menetapkan REPELITA I tahun 1969,
yang salah satu sasaran pokok rencana tersebut adalah pemerataan hasil-hasil
pembangunan dalam bidang kesempatan berusaha, pendapatan masyarakat
dan sekaligus merangsang pertumbuhan lapangan kerja. Dalam rangka
mencapai sasaran ini pemerintah mengambil langkah konkrit antara lain
dengan mengembangkan usaha kecil dan menengah dengan cara mengatasi
salah satu aspek usaha yang penting yaitu aspek pembiayaan.
Berdiri tanggal 6 April 1971 berdasarkan Peraturan Pemerintah
Republik Indonesia Nomor 1/1971 tanggal 11 Januari 1971, untuk
mengemban misi dalam pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah
(UMKM) guna menunjang pertumbuhan perekonomian Indonesia. Peran
ASKRINDO dalam pemberdayaan UMKM adalah sebagai lembaga
perusahaan penjamin atas kredit yang disalurkan oleh perbankan kepada
UMKM.

17

Sesuai dengan Visi dan Misinya, ASKRINDO senantiasa menjalankan


peran dan fungsinya sebagai Collateral Subtitution Institution, yaitu lembaga
perusahaan penjamin yang menjembatani kesenjangan antara UMKM yang
layak namun tidak memiliki agunan cukup untuk memperoleh kredit dengan
lembaga keuangan, baik perbankan maupun lembaga non bank (feasible
tetapi tidak bankable).
Sejalan dengan berubahnya waktu, saat ini ASKRINDO memiliki
empat lini usaha yaitu Asuransi Kredit Bank, Asuransi Kredit Perdagangan,
Surety Bond dan Customs Bond. ASKRINDO sejak tahun 2007 melaksanakan
program pemerintah dalam rangka Inpres 6/2007 atau yang lebih dikenal
sebagai perusahaan penjaminan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dalam
pelaksanaannya bersama dengan ASKRINDO memberikan perusahaan
penjaminan atas kredit yang disalurkan oleh enam Bank pelaksana yaitu :
Bank BRI, Bank BNI, Bank Mandiri, Bank Bukopin, Bank Syariah Mandiri
dan 26 (dua puluh enam) Bank Pembangunan Daerah.
Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia merupakan
tulang punggung kekuatan ekonomi yang mampu memberikan kontribusi
yang sangat signifikan. Menguatnya permodalan UMKM akan memberikan
multiplier effects berupa tumbuhnya kegiatan usaha yang diikuti dengan
terbukanya lapangan kerja serta meningkatkan nilai usaha. Terciptanya
UMKM yang tangguh pada tahap berikutnya mampu memberikan kontribusi
dalam menekan angka pengangguran dari kemiskinan di Indonesia.

18

ASKRINDO senantiasa mengembangkan sayap usahanya untuk


memberikan layanan yang prima, dengan didukung oleh Kantor Cabang dan
Kantor Unit Pelayanan berjumlah 50 Kantor yang tersebar di 30 Provinsi
seluruh Indonesia.
Visi Perusahaan: Menjadi Perusahaan Penanggung Risiko yang unggul
dengan layanan global guna mendukung perekonomian nasional

Misi Perusahaan:

Menjalankan kegiatan usaha penanggungan risiko yang mendukung


pembangunan ekonomi nasional terutama program Pemerintah dalam
pengembangan UMKM dan usaha korporasi lainnya;

Menjalankan kegiatan usaha penanggungan risiko dengan layanan global;

Memberikan manfaat kepada para pemangku kepentingan dengan


menerapkan tata kelola perusahaan yang baik, Sistem Pengendalian
Intern (SPI) dan Manajemen Risiko.

B. Kegiatan Kerja di Tempat Magang


Penulis melaksanakan magang selama kurang lebih dua minggu pada
ASKRINDO cabang Makassar. Pada hari pertama magang, penulis diminta
untuk membaca dan mempelajari penjelasan singkat mengenai ASKRINDO
beserta produk-produk dan kegiatan usahanya. Selanjutnya penulis diberi
kesempatan untuk membantu karyawan di beberapa divisi perusahaan.
beberapa kegiatan yang penulis lakukan selama melaksanakan magang yaitu:

19

1.

Membantu divisi Suretyship mencocokkan Bank Garansi dengan


persetujuan prinsip Kontra Bank Garansi

2.

Mengelompokkan persetujuan prinsip Kontra Bank Garansi dengan


cabang bank yang ada

3.

Mencocokkan bukti pembayaran premi asuransi dengan arsip polis


asuransinya

4.

Melakukan penghitungan jumlah premi yang diterima

5.

Mencocokkan polis asuransi Suretybond dengan bukti bayarnya

6.

Mengarsipkan polis asuransi yang telah dicocokkan dengan bukti


bayarnya

C. Evaluasi Tempat Magang


Dalam pelaksanaan kegiatan usahanya sebagai perusahaan penjamin,
ASKRINDO memiliki empat divisi usaha yaitu divisi penjaminan kredit,
divisi surety dan custom bond, divisi klaim dan subrogasi, serta divisi
keuangan dan umum. Divisi klaim dan subrogasi bertugas untuk
menyelenggarakan pertanggungan dan subrogasi. Dalam melaksanakan tugas
tersebut, divisi ini menjalankan fungsi sebagai berikut:
1.

Menyusun rencana dan program kegiatan penyelesaian klaim, subrogasi


dan recovery kantor cabang sesuai dengan kebijakan yang telah
ditetapkan oleh kantor cabang/pusat.

2.

Menyelenggarakan analisa dan penilaian serta membuat konsep


rekomendasi untuk mendapatkan persetujuan kepala kantor cabang untuk

20

penyelesaian atau pembayaran atas tuntutan ganti rugi yang berada dalam
wewenang kantor cabang.
3.

Menyelenggarakan/menyiapkan analisa dan penilaian serta membuat


konsep rekomendasi untuk mendapatkan persetujuan kantor pusat atas
tuntutan ganti rugi yang wewenang keputusannya berada di atas
wewenang kepala kantor cabang.

4.

Menyelenggarakan administrasi penyelesaian klaim.

5.

Menyelenggarakan administrasi piutang sebagai subrogasi atas klaimklaim yang telah dibayarkan.

6.

Melakukan penagihan-penagihan kepada bank agar melimpahkan


recovery atas setoran-setoran debitur yang menjadi bagian dari
ASKRINDO.

7.

Menyusun laporan periodik/sewaktu-waktu kepada kantor pusat.

Divisi klaim dan subrogasi melaksanakan tugasnya berdasarkan Standar


Operasional dan Prosedur (SOP) sebagai berikut:
1.

Syarat Klaim
Beberapa hal yang dianggap dapat menjadi penyebab utama
timbulnya hak klaim yaitu:
a.

Pada saat perjanjian KUR jatuh tempo, namun pihak debitur tidak
melunasi kewajiban pengembalian KUR tersebut.

b.

KUR yang bersangkutan dalam kolektibilitas 4 sesuai ketentuan BI.


Jika KUR telah masuk dalam kolektibilitas 4 dan pihak penerima

21

jaminan telah mengajukan klaim, namun

terjadi perbaikan

kolektibilitas KUR sebelum pihak perusahaan penjamin melakukan


pembayaran,

maka

penerima

jaminan

dapat

membatalkan

permohonan klaim secara tertulis kepada perusahaan penjamin tanpa


membatalkan hak klaimnya.

2.

Tata cara pengajuan klaim


Saat terjadi kredit macet, penerima jaminan mengajukan klaim
kepada perusahaan penjamin dengan ketentuan sebagai berikut:
a.

Sebelum mengajukan surat klaim, penerima jaminan berkewajiban


melakukan upaya penyelamatan atau penagihan kepada debitur KUR
sesuai dengan ketentuan KUR. Pada saat KUR jatuh tempo, pihak
penerima jaminan yang juga sebagai pihak yang menyediakan dana
KUR tersebut tidak dianjurkan untuk langsung mengajukan klaim,
namun sebelumnya harus melakukan usaha untuk menagih debitur.
Jika upaya telah dilakukan dan debitur masih tidak bisa melakukan
pembayaran, baru lah pihak penerima jaminan mengajukan klaim
kepada pihak pemberi jaminan.

b.

Penerima jaminan mengajukan surat klaim dalam waktu paling


lambat enam bulan sejak KUR jatuh tempo.

c.

Pengajuan surat klaim dapat dilakukan secara individu/kolektif


dengan mengunakan form klaim.

22

d.

Saat mengajukan surat klaim, pihak penerima jaminan juga harus


melampirkan:
1) Copy

Sertifikat

Perusahaan

penjaminan

KUR

beserta

lampirannya.
2) Berita Acara klaim (sesuai form ).
3) R/C debitur 6 (enam) bulan terakhir sebelum jatuh tempo.
4) Copy Surat Tegutan/Peringatan/Laporan Kunjungan Nasabah.
5) Copy kelengkapan dokumen :
a) Copy Identitas dan Legalitas debitur
b) SPPK/Offering Letter
c) Copy PK/SPH dilegalisasi Pejabat Bank yang berwenang
d) Hasil SID BI
e) Copy Memorandum Analisa Kredit (MAK)
e.

Pihak pemberi jaminan berkewajiban menyampaikan secara tertulis


kepada penerima jaminan apabila lampiran surat klaim belum
diterima secara lengkap dalam waktu sepuluh hari kerja. Dalam
penyampaian tertulis tersebut pihak pemberi jaminan memberikan
informasi bahwa berkas-berkas yang semestinya dilampirkan
bersama surat klaim belum seluruhnya dipenuhi oleh penerima
jaminan dan penerima jaminan harus segera melengkapinya.

f.

Penerima jaminan harus melengkapi kekurangan lampiran paling


lambat enam bulan sejak tanggal diterimanya surat pemberitahuan
kekurangan data. Penerima jaminan harus mengirimkan kembali

23

berkas-berkas yang masih dianggap kurang untuk melengkapi


lampiran surat klaim yang dipersyaratkan pihak pemberi jaminan.
g.

Jika jangka waktu yang diberikan pihak pemberi jaminan untuk


melengkapi berkas lampiran yang dipersyaratkan telah berakhir dan
penerima jaminan belum memenuhi kekurangan lampiran tersebut
maka perusahaan penjamin tidak berkewajiban membayar klaim.
Dengan kata lain, hak penerima jaminan untuk mengajukan klaim
dinyatakan daluarsa.

3.

Daluarsa Hak Klaim


Beberapa hal yang menjadi penyebab daluarsa hak klaim penerima
jaminan yaitu:
a.

Pengajuan klaim dari penerima jaminan kepada pihak pemberi


jaminan melewati enam bulan sejak KUR jatuh tempo.

b.

Penerimaan jaminan tidak melengkapi berkas lampiran yang menjadi


persyaratan klaim dalam waktu enam bulan sejak surat permintaan
untuk melengkapi dokumen tersebut dari perusahaan penjamin.

c.

Penerima jaminan tidak memberikan tanggapan atas penolakan


klaim dari perusahaan penjamin atau besarnya jumlah klaim yang
akan dibayar perusahaan penjamin dalam waktu enam bulan sejak
tanggal penolakan klaim atau persetujuan klaim dari perusahaan
penjamin

24

4.

Keputusan dan Pembayaran Klaim


a.

Perusahaan penjamin memberikan keputusan atas atas klaim yang


diajukan penerima jaminan paling lambat 15 hari kerja terhitung
sejak surat klaim diterima lengkap oleh perusahaan penjamin.
Penerima jaminan akan memutuskan apakah akan menerima atau
menolak klaim sesuai dengan data-data dari berkas yang dilampirkan
bersama dengan surat klaim.

b.

Bila dipandang perlu perusahaan penjamin atau penerima jaminan


secara sendiri-sendiri atau bersama-sama melakukan penelitian
lapangan sebelum memberikan keputusan atas klaim dari penerima
jaminan.

c.

Jika klaim diputuskan untuk disetujui, maka pemberi jaminan akan


menyampaikan surat persetujuan klaim kepada penerima jaminan.
Keputusan bahwa klaim disetujui akan disampaikan melalui surat
tersebut.

d.

Jika klaim diputuskan ditolak, maka pemberi jaminan akan


menyampaikan surat penolakan klaim kepada penerima jaminan
disertai dengan alasan penolakan.

e.

Penerima jaminan berhak mengajukan banding atas penolakan


dimaksud dalam waktu paling lambat enam bulan sejak surat
penolakan diterima. Pengajuan banding dilakukan apabila pihak
penerima jaminan tidak setuju dengan alasan penolakan klaim oleh
pihak pemberi jaminan.

25

f.

Apabila jangka waktu telah berakhir sedangkan pemberi jaminan


belum memberikan keputusan penolakan klaim maka permohonan
klaim dinyatakan disetujui oleh penerima jaminan.

g.

Pemberi jaminan wajib melakukan pembayaran jumlah klaim yang


disetujui paling lambat 15 hari sejak surat persetujuan klaim.

5.

Besarnya Nilai Klaim


a.

Besarnya nilai klaim untuk KUR yang harus dibayar oleh perusahaan
penjamin kepada penerima jaminan adalah sebesar 70% X (sisa
pokok+tunggakan bunga dan denda sampai dengan timbulnya hak
klaim) setinggi-tingginya 70% X Plafond KUR.

b.

Besarnya nilai klaim untuk sektor khusus adalah sebesar 80% X (sisa
pokok + tunggakan bunga dan denda sampai dengan timbulnya hak
klaim) setinggi-tingginya sebesar 80% X Palfond KUR. Sektor
Khusus : Pertanian, Kelautan&Perikanan, Kehutanan, Industri Kecil
dan TKI.

c.

Bagian dari jumlah kerugian yang tidak diganti oleh pihak pemberi
jaminan merupakan risiko sendiri penerima jaminan.

6.

Batalnya Hak Penerima Jaminan atas Klaim


Hak penerima jaminan untuk mengajukan klaim kepada perusahaan
penjamin menjadi batal apabila terjadi salah satu dari hal-hal berikut:

26

a.

KUR yang disalurkan tidak sesuai dengan ketentuan KUR yang


berlaku pada penerima jaminan. Dalam hal ini, penerima jaminan
memiliki kriteria dan ketentuan untuk KUR yang akan dijaminnya.
Jika ketentuan tersebut tidak terpenuhi, maka pihak penerima
jaminan tidak berhak untuk mengajukan klaim jika terjadi
wanprestasi oleh pihak penerima KUR.

b.

Penerima

jaminan

tidak

melaporkan

perpanjangan

dan/atau

tambahan kredit (suplesi) atau restrukturisasi KUR.


c.

7.

Pengajuan klaim sudah daluarsa.

Subrogasi
a.

Klaim yang telah dibayarkan oleh perusahaan penjamin kepada


penerima

jaminan

tidak

membebaskan

debitur

KUR

dari

kewajibannya untuk melunasi KUR. Pihak penerima jaminan masih


harus tetap melakukan penagihan kepada debitur KUR.
b.

Jika pihak pemberi jaminan telah melaksanakan pembayaran klaim


kepada penerima jaminan, maka perusahaan penjamin memiliki hak
piutang subrogasi. Piutang subrogasi ini diselesaikan dalam bentuk
recoveries

baik

dengan

melakukan

penagihan

maupun

penjualan/pencairan agunan debitur KUR, yang hasilnya akan dibagi


sesuai besarnya klaim yang telah dibayarkan pihak pemberi jaminan.

27

c.

Penerima jaminan membantu penyelesaian recoveries sampai


dengan diperoleh jumlah yang sama dengan jumlah pembayaran
klaim dari perusahaan penjamin kepada penerima jaminan.

d.

Hak subrogasi atas recoveries akan dibagi untuk penerima jaminan


dan perusahaan penjamin secara proporsional menurut perbandingan
kerugian para pihak.

e.

Pihak pemberi jaminan harus membayarkan subrogasi dalam jangka


waktu sepuluh hari

f.

Jika penjualan/pencairan agunan dilakukan setelah pemberi jaminan


membayarkan klaim, maka hasil penjualan agunan tersebut
digunakan untuk menurunkan hutang pokok KUR dari pihak
penerima dan KUR yang bersangkutan secara proporsional.

g.

Apabila terdapat penerimaan/pembayaran dari asuransi kerugian


dengan bankers clause penerima jaminan menjadi sumber
recoveries yang dibagi secara Proporsional antara penerima jaminan
dengan perusahaan penjamin.

Berlandaskan Standar Operasional dan Prosedur tersebut, proses


penyelesaian klaim yang dijalankan oleh ASKRINDO khususnya pada divisi
klaim dan subrogasi adalah sebagai berikut:
1.

Penerima jaminan menginformasikan terjadinya kredit macet


Pada saat terjadi kredit macet yaitu pada saat KUR telah jatuh
tempo dan pihak debitur tidak dapat melakukan pembayaran, pihak

28

penerima jaminan harus segera melaporkan atau menginformasikan hal


tersebut pada ASKRINDO. Sesuai dengan ketentuan perusahaan,
ASKRINDO hanya akan memberikan tanggapan jika pihak penerima
jaminan menginformasikan hal tersebut paling lambat enam bulan setelah
KUR yang tidak dapat tertagih tersebut jatuh tempo.
Setelah mendapatkan informasi, ASKRINDO akan melakukan
inspeksi untuk memastikan apakah hal tersebut menjadi kewajiban
perusahaan. Beberapa hal yang dilakukan ASKRINDO dalam tahap ini
yaitu:
a.

Memeriksa apakah polis asuransi masih berlaku

b.

Meninjau kembali apakah kerugian tersebut disebabkan oleh


bencana yang diasuransikan

c.

Memeriksa pembayaran premi pihak penerima jaminan


Apabila hasil inspeksi membuktikan bahwa hal-hal tersebut

terpenuhi, maka ASKRINDO akan mengirimkan formulir surat klaim


kepada

pihak

penerima

jaminan.

Namun

apabila

ASKRINDO

menemukan ada salah satu dari syarat pokok tersebut yang tidak
dipenuhi, maka proses penyelesaian klaim tidak akan dilanjutkan.

2.

Penerima jaminan mengajukan klaim


Pegajuan klaim oleh pihak penerima jaminan dilakukan dengan
menggunakan formulir surat klaim yang diterima dari ASKRINDO, yang
memuat hal-hal berikut:

29

a.

Data debitur

b.

Data kredit (Nomor PK, Plafon kredit, Jangka waktu kredit)

c.

Data penjaminan

d.

Data agunan (macam/jenis pengikatan, nilai transaksi saat kredit


disetujui dan saat diklaim)

e.

Data kerugian (saldo pokok saat timbulnya hak mengajukan klaim


penjaminan dan sebab-sebab kemacetan kredit)

f.

Kompensasi kerugian (hasil pencairan agunan)

g.

Saldo kompensasi kerugian


Formulir surat klaim yang telah diisi lengkap dikirimkan ke

ASKRINDO dan dilampirkan pula:


a.

Copy sertifikat jaminan

b.

Copy kelengkapan dokumen administrasi KUR yang disimpan di


penerima jaminan meliputi:
1) Identitas debitur
2) Surat Penawaran Pemberian Kredit (SPPK)
3) Perjanjian Kredit atau Surat Pengakuan Hutang
4) Hasil SID BI

c.

Copy kartu pinjaman atau rekening koran:


1) Enam bulan terakhir sebelum kredit jatuh tempo sampai dengan
saat pengajuan klaim penjaminan, dalam hal pengajuan
pencairan setelah kredit jatuh tempo

30

2) Enam bulan terakhir sebelum hak klaim timbul sampai dengan


saat pengajuan klaim, dalam hal klaim sebelum kredit jatuh
tempo
d.

Copy surat peringatan atau surat penagihan dari penerima jaminan


kepada debitur atau laporan kunjungan nasabah

e.

Copy surat-surat izin yang dipersyaratkan sesuai dengan ketentuan


yang berlaku, misalnya izin usaha, izin trayek dan lain sebagainya
kecuali sektor usaha yang tidak dipersyaratkan

f.

Copy pertimbangan pemberian kredit yang dipakai sebagai dasar


pemberian kredit

g.

Copy berita acara pemeriksaan setempat yang terakhir yang


diketahui/ditandatangani oleh debitur, yang menerangkan kondisi
usaha, kewajiban pokok, dan kondisi agunan debitur

h.

Surat

keterangan/pernyataan dari

yang berwajib atau

yang

berwenang bilamana debitur melarikan diri, meninggal dunia, atau


pindah tempat

3.

Melakukan analisa kelayakan klaim


Setelah semua dokumen diterima, ASKRINDO akan segera
melakukan analisa terhadap klaim yaitu dengan meneliti kebenaran dan
kelengkapan data dari penerima jaminan. Apabila data yang diberikan
penerima

jaminan

ternyata

belum

lengkap,

ASKRINDO

akan

mengirimkan permintaan kelengkapan data paling lambat sepuluh hari

31

terhitung sejak diterimanya surat klaim penjaminan. Penerima jaminan


diminta melengkapi data surat klaim 20 sampai dengan 60 hari terhitung
sejak diterimanya surat permintaan kelengkapan data klaim oleh
ASKRINDO.
Setelah penerima jaminan telah melengkapi kembali data yang
diminta dan seluruh data tersebut memenuhi kriteria pengajuan klaim,
ASKRINDO akan mencairkan penjaminan selambat-lambatnya 20 hari
sejak data yang diterima dinyatakan lengkap dan benar. Namun apabila
data yang diterima tidak memenuhi kriteria pengajuan klaim,
ASKRINDO akan mengirimkan surat penolakan klaim kepada penerima
jaminan dengan menyebutkan alasan penolakan.
Jika klaim diputuskan ditolak, penerima jaminan memiliki
kesempatan untuk melakukan sanggahan penolakan klaim kepada
ASKRINDO dalam waktu 30 hari terhitung sejak tanggal surat penolakan
klaim. Apabila penerima jaminan tidak melakukan sanggahan tersebut,
maka hak untuk mendapatkan pembayaran klaim dari ASKRINDO akan
terhapus dengan sendirinya. Tapi jika penerima jaminan melakukan
sanggahan, ASKRINDO akan memberikan tanggapan atas sanggahan
paling lambat 20 hari sejak diterimanya surat sanggahan.

4.

Melakukan penghitungan besarnya nilai klaim jika klaim diterima


Besarnya nilai klaim yang dibayarkan oleh ASKRINDO adalah
sebesar 70% dari jumlah kerugian yang dijamin. Sisa kerugian sebesar

32

30% merupakan bagian dari jumlah kerugian penerima jaminan


yang tidak diganti oleh ASKRINDO dianggap sebagai risiko sendiri, dan
ditanggung sendiri oleh penerima jaminan.
Apabila

di

kemudian

hari

debitur

mampu

melanjutkan

angsurannya, maka hal tersebut dinamakan recoveries dan hasilnya


dibagi secara proporsional menurut perbandingan kerugian yang diderita
oleh penerima jaminan dan pembayaran klaim yang dibayar oleh
ASKRINDO.

5.

Melakukan proses pembayaran klaim


Proses penyelesaian klaim diakhiri dengan pembayaran klaim dari
ASKRINDO kepada penerima jaminan sebesar nilai yang telah dihitung
sebelumnya.

33

Berikut ini ringkasan mengenai perbedaan-perbedaan dalam pelaksanaan penyelesaian klaim asuransi di ASKRINDO
cabang Makassar dengan Standar Operasional dan Prosedur perusahaan dan Kementrian Kooordinator Bidang Perekonomian RI:
SOP Kementrian Koordinator Bidang

SOP Perusahaan

Perekonomian RI

Pelaksanaan klaim ASKRINDO


cabang Makassar

Syarat Klaim:

Syarat Klaim:

Syarat Klaim:

1.

Perjanjian kredit jatuh tempo

1.

Perjanjian kredit jatuh tempo

Sesuai SOP perusahaan

2.

KUR masuk dalam kolektibilitas

2.

KUR masuk dalam kolektibilitas

kredit empat sesuai ketentuan BI


3.

kredit empat sesuai ketentuan BI

Keadaan insolvent:
a.

Debitur dinyatakan pailit

b.

Debitur dikenakan likuidasi

c.

Debitur diletakkan di bawah


pengampunan

34

Jika data tidak lengkap:

Jika data tidak lengkap:

Penerima jaminan harus memenuhi

Penerima jaminan diminta melengkapi

kekurangan lampiran paling lambat enam

data surat klaim 20 sampai dengan 60

bulan sejak tanggal diterimanya surat

hari terhitung sejak diterimanya surat

pemberitahuan kekurangan data.

permintaan kelengkapan data klaim oleh


ASKRINDO.

Penelitian lapangan:

Bila dipandang perlu penjamin atau


penerima jaminan secara sendiri-sendiri
atau bersama dapat melakukan penelitian
lapangan sebelm memberikan keputusan
atas klaim dari penerima jaminan

35

Kesempatan melakukan sanggahan:

Kesempatan melakukan sanggahan:

Penerima jaminan berhak mengajukan

Jika klaim diputuskan ditolak, penerima

banding atas penolakan dalam waktu

jaminan memiliki kesempatan untuk

paling lambat enam bulan sejak surat

melakukan sanggahan penolakan klaim

penolakan diterima.

kepada ASKRINDO dalam waktu 30


hari terhitung sejak tanggal surat
penolakan klaim.

Pembayaran klaim: Penjamin wajib

Pembayaran klaim: ASKRINDO akan

melakukan pembayaran jumlah klaim yang

mencairkan penjaminan selambat-

disetujui paling lambat dalam jangka

lambatnya 20 hari sejak data yang

waktu 15 hari sejak surat persetujuan

diterima dinyatakan lengkap dan benar

klaim.

36

Besarnya nilai klaim:

Besarnya nilai klaim:

Besarnya nilai klaim:

Secara keseluruhan pembayaran klaim

Sebesar 70% X (sisa pokok+tunggakan

Besarnya nilai klaim yang dibayarkan

maksimum yang dapat dilakukan oleh

bunga dan denda sampai dengan timbulnya

oleh ASKRINDO adalah sebesar 70%

Perusahaan Penjamin adalah sebesar

hak klaim) setinggi-tingginya 70% X

dari jumlah kerugian yang dijamin.

maksimum dana Penyertaan Modal Negara

Plafond KUR.

(PMN) yang ditempatkan pada Perusahaan


Penjamin ditambah hasil investasi dari
modal PMN dan Imbalan Jasa Penjaminan
setelah dikurangi biaya operasional.

Untuk sektor khusus yaitu sebesar 80% X


(sisa pokok + tunggakan bunga dan denda
sampai dengan timbulnya hak klaim)
setinggi-tingginya sebesar 80% X Palfond
KUR.

37

Tabel tersebut menunjukkan adanya beberapa perbedaan antara


pelaksanaan proses penyelesaian klaim yang dijalan ASKRINDO dengan
SOP perusahaannya, juga dengan SOP dari Kementrian Koordinator Bidang
Perekonomian RI. Secara garis besar, prosedur penyelesaian klaim asuransi
kredit di ASKRINDO telah dilaksanakan berdasarkan dengan Standar
Operasional dan Prosedur. Namun masih ada beberapa hal yang berbeda,
yaitu pada:
1.

Jangka waktu yang diberikan kepada penerima jaminan untuk


melengkapi data

2.

Jangka waktu yang diberikan kepada penerima jaminan untuk


mengajukan sanggahan atas penolakan klaim

3.

Jangka waktu untuk memberi keputusan atas klaim setelah penerima


jaminan melengkapi data
Selain itu, terkait syarat untuk mengajukan klaim bagi penerima

jaminan, ASKRINDO memang telah melaksanakan sesuai dengan SOP


perusahaan, namun jika dibandingkan dengan SOP pelaksanaan KUR
berdasarkan Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan
Keuangan Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian No. KEP20/D.I.M.EKON/11/2010, terdapat perbedaan yaitu adanya tambahan syarat
mengenai keadaan insolvent.
Dalam tabel tersebut memang terdapat perbedaan antara SOP
perusahaan dengan SOP dari Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian
RI dalam hal syarat untuk mengajukan klaim, dimana dalam SOP perusahaan

38

tidak terdapat penjelasan mengenai keadaan insolvent yang bisa menimbulkan


hal bagi pihak terjamin untuk mengajukan klaim seperti yang dijelaskan pada
SOP dari Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian RI. Selain
perbedaan tersebut, juga terdapat perbedaan pada besarnya nilai klaim yang
harus ditanggung perusahaan. SOP perusahaan memberikan persentase yang
lebih jelas mengenai berapa besar nilai yang akan menjadi kewajiban
ASKRINDO terkait klaim yang diajukan pihak penerima jaminan.
Melihat adanya beberapa perbedaan tersebut, sebaiknya dalam proses
penyelesaian klaim ASKRINDO meninjau kembali beberapa hal yang
pelaksanaannya

berbeda dengan Standar Operasional

dan Prosedur

perusahaan. Selain menggunakan SOP perusahaan sebagai dasar pelaksanaan


penyelesaian klaim, sebaiknya juga disesuaikan dengan aturan-aturan lain
yang berkaitan dengan prosedur penyelesaian klaim, salah satunya yaitu
Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan
Kementrian

Koordinator

Bidang

Perekonomian

No.

KEP-

20/D.I.M.EKON/11/2010.

39

BAB IV
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Proses penyelesaian klaim ASKRINDO dijalankan dengan menjadikan
SOP perusahaan sebagai dasarnya, namun dalam praktiknya masih ada
beberapa hal yang pelaksanaannya masih belum sesuai dengan SOP
perusahaan. Selain itu, SOP perusahaan sendiri juga masih memiliki
perbedaan dengan SOP untuk KUR yang ditetapkan dalam Keputusan Deputi
Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementrian Koordinator
Bidang Perekonomian Nomor KEP-20/D.I.M.EKON/11/2010. Adanya
beberapa hal yang kurang dalam SOP perusahaan bisa saja menyebabkan
beberapa kendala dalam pelaksanaan proses penyelesaian klaim bagi
ASKRINDO.

B. Saran
Bagi pelaksana magang selanjutnya, magang sebaiknya dilaksanakan
dalam jangka waktu yang lebih lama agar dapat lebih memahami sistem yang
dijalankan di perusahaan tempat dilakukannya magang.

40

DAFTAR PUSTAKA

Keputusan Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro Dan Keuangan


Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Nomor: Kep 20/D.I.M.Ekon/11/2010 tentang Standar Operasional dan Prosedur
Pelaksanaan Kredit Usaha Rakyat.
Partomo, Tiktik Sartika. 2004. Usaha Kecil Menengah dan Koperasi. Centre For
Industry and SME Studies Faculty of Economic University of Trisakti.
Peraturan Menteri Keuangan RI No. 124/PMK.010/2008 tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Lini Usaha Asuransi Kredit dan Suretyship.
Sosialisasi Ketentuan & Tata Cara Pengajuan Klaim Kur. Pks No. B.613Dir/Prg/09/2011, Ppk/Pks/12/Xi/2011
Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia (BI) No. 32/268/KEP/DIR tanggal 27
Pebruari 1998
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1992 tentang Usaha
Perasuransian
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 tentang Perbankan
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro,
Kecil, Dan Menengah
www.askrindo.co.id

vii