Anda di halaman 1dari 8

BAB III

HASIL DAN PEMBAHASAN


3.1 Hasil
No.

1.

Pengujian

Oksihemoglobin

Warna Awal

Setelah
Penambahan
Stoke

Hasil Akhir Warna

Merah muda

Merah muda

Merah muda

Merah muda

Merah muda

Merah agak

Merah kehitaman

kehitaman dan

dan berbusa

Deoksihemoglobin
2.

Tanpa
penambahan
stokes

Penambahan stokes

berbusa
Karboksihemoglobin
3.

Tanpa
penambahan gas
CO

Merah muda

Merah agak
kehitaman dan

Merah muda

Penambahan gas CO

berbusa
Merah kehitaman
dan berbusa

Ket: (-) tidak ditambahkan pereaksi stokes

Percobaan
Oksihemoglobin

Foto Hasil

Merah agak
kehitaman
dan berbusa
Merah kehitaman
dan berbusa

Deoksihemoglobin

Karboksihemoglobi
n
(HbCO)

3.2 Pembahasan
Pada praktikum biologi molekuler mengenai hemoglobin dan sifat membran,
dilakukan dua percobaan. yaitu mengenai pembentukan reaksi Deoksihemoglobin dan
oksihemoglobin yang bertujuan untuk memperlihatkan bahwa Hb dapat mengikat
oksigen menjadi HbO2 dan dapat terurai kembali menjadi deoksihemoglobin dan
oksigen.
Ketika hemoglobin membawa O2 itu disebut oksihemoglobin dan bila tidak
membawa O2 ini dikenal sebagai deoxyhemoglobin. Deoksi-Hb dan oksihemoglobin
memiliki warna yang berbeda. Sehingga hal tersebut dapat menjelaskan mengapa darah
di arteri kita (oksihemoglobin) berwarna merah terang daripada darah dalam pembuluh
darah kita. Oksigen berikatan dengan Fe kelompok heme karena memiliki pasangan
elektron bebas yang dapat berkoordinasi untuk Fe. Ketika suspensi darah dilarutkan
dengan aquades maka akan terbentuk warna merah terang. Yang menandakan bahwa
terbentuknya oksihemoglobin. Dalam keadaan tereduksi, Fe yang berada di dalam Hb
mengikat oksigen menjadi oksihemoglobin ( HbO2).

Ketika ditambahkan pereaksi stokes dan dikocok secara kuat- kuat. Maka oksigen
pada Hb terlepas kembali dan membentuk deoksihemoglobin. Pelepasan O2

ini

menyebabkan berubahnya warna darah menjadi merah gelap.


Reaksi hemoglobin dengan O2 terjadi sangat cepat (hanya 1/10th detik). Setelah O
mengikat satu molekul, bentuk hemoglobin berubah, sehingga memudahkan oksigen
berikutnya mengikat 2 molekul yang membuatnya lebih mudah bagi sisa molekul O2
untuk mengikat hemoglobin. Hal ini terjadi di paru-paru, dan eritrosit (sel darah merah)
yang menjadi jenuh dengan O2. Hemoglobin mengangkut O2 ke kapiler yang
dilepaskan untuk digunakan dalam jaringan. Pada kapiler, molekul yang dikenal
sebagai 2,3 - BPG (2,3-bisphosphoglycerate) masuk ke deoksihemoglobin untuk
mencegah O2 terikat lagi (sehingga O2 dilepas ke jaringan ). 2,3-BPG berinteraksi
dengan deoxyhemoglobin, mengubah bentuknya sehingga tidak dapat mengambil O.
Sedangkan percobaan kedua adalah mengenai pembentukan karbonmonoksida
hemoglobin (HbCO) yang bertujuan untuk memperlihatkan bahwa CO dapat mengikat
hemoglobin menjadi HbCO .
Secara teori, Karbon monoksida dengan rumus kimia CO, adalah gas yang tak
berwarna, tak berbau, dan tak berasa. Ia terdiri dari satu atom karbon yang secara
kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan
kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon dan oksigen.
Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari senyawa karbon,
sering terjadi pada mesin pembakaran dalam. Karbon monoksida terbentuk apabila
terdapat kekurangan oksigen dalam proses pembakaran. Karbon monoksida mudah
terbakar dan menghasilkan lidah api berwarna biru, menghasilkan karbon dioksida.
Walaupun ia bersifat racun, CO memainkan peran yang penting dalam teknologi
modern, yakni merupakan prekursor banyak senyawa karbon.
Pada praktikum, 1ml suspensi darah dilarutkan dengan 9ml aquadest. Dari
penambahan aquades ini terbentuklah oksihemoglobin. Yaitu Hb yang mengikat
oksigen. Ketika gas CO dialirkan dengan hati pada oksihemoglobin maka terjadi
perubahan warna. Dimana, warna darah menjadi lebih terang dibanding pada awalnya.
Penambahan reagent stokes selanjutnya tidak menyebabkan adanya perubahan.
Hal ini dapat menjelaskan bahwa pereaksi stokes tidak mampu melepaskan ikatan
HbCO, karena ikatan HbCO 200 kali lebih kuat dibandingkan ikatan HbO2 yang mudah
dilepaskan bila ditambah dengan reagen stokes. Didalam tubuh, karbon monoksida
(CO) apabila terhisap ke dalam paru-paru akan ikut peredaran darah dan akan

menghalangi masuknya oksigen yang akan dibutuhkan oleh tubuh. Hal ini dapat terjadi
karena gas CO bersifat racun metabolisme, ikut bereaksi secara metabolisme dengan
darah. Seperti halnya oksigen, gas CO bereaksi dengan darah (hemoglobin) :
Hemoglobin + O2 > O2Hb (oksihemoglobin)
Hemoglobin + CO > COHb (karboksihemoglobin)
Gas CO sangat berbahaya, tidak berwama dan tidak berbau, berat jenis sedikit
lebih ringan dari udara (menguap secara perlahan ke udara), CO tidak stabil dan
membentuk CO2 untuk mencapai kestabilan phasa gasnya. CO berbahaya karena
bereaksi dengan haemoglobin darah membentuk Carboxy haemoglobin (CO-Hb).
Akibatnya fungsi Hb membawa oksigen ke sel- sel tubuh terhalangi, sehingga gejala
keracunan sesak nafas dan penderita pucat. Reaksi CO dapat menggantikan O2 dalam
haemoglobin dengan reaksi :
O2Hb + CO > OHb + O2
Konsentrasi gas CO sampai dengan 100 ppm masih dianggap aman jika waktu
kontaknya sebentar. Gas CO sebanyak 30 ppm apabila dihisap manusia selama 8 jam
akan menimbulkan rasa pusing dan mual. Pengaruh karbon monoksida (CO) terhadap
tubuh manusia ternyata tidak sama dengan manusia yang satu dengan yang lainnya.
Konsentrasi gas CO disuatu ruang akan naik bila di ruangan itu ada orang yang
merokok. Orang yang merokok akan mengeluarkan asap rokok yang mengandung gas
CO dengan konsentrasi lebih dari 20.000 ppm yang kemudian menjadi encer sekitar
400-5000 ppm selama dihisap. Konsentrasi gas CO yang tinggi didalam asap rokok
menyebabkan kandungan COHb dalam darah orang yang merokok jadi meningkat.
Orang yang merokok dalam waktu yang cukup lama (perokok berat) konsentrasi COHb dalam darahnya sekitar 6,9%. Hal inilah yang menyebabkan perokok berat mudah
terkena serangan jantung.
Percobaan

selanjutnya

adalah

mengenai

pembentukan

karbonmonoksida

hemoglobin (HbCO) yang bertujuan untuk memperlihatkan bahwa CO dapat mengikat


hemoglobin menjadi HbCO.
Secara teori, karbonmonoksida dengan rumus kimia CO, adalah gas yang tak
berwarna, tak berbau, dan tak berasa. Ia terdiri dari satu atom karbon yang secara
kovalen berikatan dengan satu atom oksigen. Dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan
kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon dan oksigen.
Karbonmonoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari senyawa karbon,
sering terjadi pada mesin pembakaran dalam. Karbonmonoksida terbentuk apabila

terdapat kekurangan oksigen dalam proses pembakaran. Karbonmonoksida mudah


terbakar dan menghasilkan lidah api berwarna biru, menghasilkan karbondioksida.
Gas CO sangat berbahaya karena bereaksi dengan hemoglobin darah membentuk
HbCO. Akibatnya fungsi Hb membawa oksigen ke sel-sel tubuh terhalangi, sehingga
timbul gejala seperti keracunan, sesak nafas, dan penderita pucat. CO dapat
menggantikan O2 dalam haemoglobin dengan reaksi :
HbO2 + CO HbCO + O2
Pada praktikum ini, 1 ml darah dicampurkan dengan 9 ml aquades. Ketika darah
dicampur dengan aquades, darah berwarna merah muda atau merah terang. Dari
pencampuran dengan aquades ini terbentuklah oksihemoglobin, yaitu Hb yang
mengikat oksigen. Suspensi darah tersebut kemudian dibagi ke dalam dua tabung reaksi
(masing-masing 5 ml). Salah satu suspensi darah dalam tabung reaksi dialirkan gas CO
selama 1 menit, sedangkan suspensi darah dalam tabung reaksi yang satu lagi tidak
dialirkan gas CO (sebagai pembanding). Suspensi darah yang dialirkan gas CO berubah
warna menjadi merah kehitaman dan berbusa, menandakan bahwa CO dapat mengikat
hemoglobin menjadi HbCO. Suspensi darah yang telah dialiri CO tersebut tetap
berwarna merah kehitaman walaupun sudah ditetesi pereaksi stokes. Hal ini dapat
menjelaskan bahwa pereaksi stokes tidak mampu melepaskan ikatan HbCO, karena
ikatan HbCO 200 kali lebih kuat dibandingkan ikatan HbO2 yang mudah dilepaskan
bila ditambah dengan reagen stokes. Sedangkan suspensi darah yang tidak dialiri CO
(HbO2) berubah warna menjadi kecoklatan setelah ditambahkan pereaksi stokes karena
O2 berpisah dari Hb.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Berdasarkan praktikum kali ini, dapat disimpulkan bahwa:

Suspensi darah dengan aquadest terbentuk warna merah muda, menandakan


terjadinya ikatan antara Hb dan O2 menjadi HbO2.

Ketika suspensi hasil percobaan oksihemoglobin diberikan pereaksi stokes warna


berubah dari merah muda menjadi merah kehitaman, hal tersebut menandakan
bahwa molekul oksigen yang diikat oleh Hb lepas, dari HbO2 menjadi Hb dan O2.

Suspensi darah yang dialirkan gas CO berubah warna menjadi merah kehitaman
dan berbusa, menandakan bahwa CO dapat mengikat hemoglobin menjadi HbCO.

Suspensi darah yang telah dialiri CO tetap berwarna merah kehitaman walaupun
sudah ditetesi pereaksi stokes karena pereaksi stokes tidak mampu melepaskan
ikatan HbCO yang 200 kali lebih kuat dibandingkan ikatan HbO2.

Suspensi darah yang tidak dialiri CO (HbO2) berubah warna menjadi kecoklatan
setelah ditambahkan pereaksi stokes karena O2 berpisah dari Hb.

4.2 Saran
Sebaiknya praktikan lebih berhati-hati dalam mengerjakan prosedur praktikum
terutama yang menggunakan gas CO karena gas CO dapat bereaksi dengan
hemoglobin darah membentuk HbCO.
Sebaiknya praktikan menggunakan masker selama pengerjaan prosedur
tersebuut

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan edisi 31. Jakarta: EGC Penerbit Buku
Kedokteran.

Ganong, William F. 1985. Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.
Gibson,John.2003.Fisiologi dan Anatomi Modern untuk Perawat Edisi II. Jakarta: EGC.
Girindra, A. 1986. Biokimia I. Jakarta: Gramedia.
Hawk, Phillip B.1913. Practical Physiological Chemistry. P. Blakiston's Sons & Co.,
Philadelphia.
Lehninger, A. 1988. Dasar-dasar Biokimia. Terjemahan Maggy Thenawidjaya. Erlangga,
Jakarta.
Pearce, Evelyn R. 2005. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta: PT Gramedia
Pustaka Utama.
Schwartz, Seymour I. 2000. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu bedah Edisi 6. Jakarta: EGC.
Staf Pangajar Departemen Farmakologi Fakultas kedokteran Universitas Sriwijaya. 2009.
Kumpulan Kuliah Farmakologi Edisi II. Jakarta: EGC