Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

Tenggelam merupakan kasus gawat darurat, termasuk penyebab kematian utama


karena kecelakaan pada anak, dan memerlukan pertolongan cepat di tempat kejadian,
kemudian dilanjutkan dengan perawatan secara intensif. Secara umum, di dunia, sekitar
500.000orang tenggelam setiap tahunnya. Kejadian tenggelam pada anak sekitar
4,6/100.000/tahun. Kematian terjadi 32,8/100 korban tenggelam, 5-12% korban yang berhasil
bertahan hidup mengalami kerusakan neurologis berat yang permanen.1,2
Awalnya,

kasus

tenggelam

(immersion/drowning)

dan

hampir

tenggelam

(submersion/near drowning) dianggap sama dengan keadaan tenggelam (drowning). Akibat


terpenting peristiwa tenggelam/hampir tenggelam adalah hipoksia, sehingga oksigenisasi,
ventilasi, dan perfusi harus dipulihkan secepat mungkin. Hal ini memerlukan tindakan
resusitasi jantung paru dan layanan kegawatdaruratan medis. 1,3-6 Terapi resusitasi di tempat
kejadian sebelum sampai di rumah sakit dilanjutkan respons cepat dan tatalaksana agresif tim
ruang gawat darurat dan ruang intesif rumah sakit sangat diperlukan karena gangguan
kardiorespiratori akibat tenggelam. Kerusakan neurologis karena hipoksemia dan iskemia
menjadi penyebab mortalitas dan morbiditas jangkan panjang.1
Hampir tenggelam (near drowning) sering menyebabkan pneumonia aspirasi dengan
komplikasi sepsi dan abses otak.3

BAB II
PENDAHULUAN
2. 1 DEFENISI
Tenggelam (drowning) adalah kematian akibat asfiksia disebabkan oleh aspirasi
cairan1 yang terjadi dalam 24 jam setelah peristiwa tenggelam di air, sedangkan hampir
tenggelam (near drowning) adalah korban masih dalam keadaan hidup lebih dari 24 jam
setelah setelah peristiwa tenggelam di air sehingga terjadi gangguan fisiologi tubuh.
Jadi, tenggelam (drowning) merupakan suatu keadaan fatal, sedangkan hampir
tenggelam (near drowning)mungkin dapat berakibat fatal.1,7,8
Sedangkan WHO mendefinisikan sebagai proses gangguan pernapasan akibat
tenggelam/hampir tenggelam dalam cairan.9
2.2 EPIDEMIOLOGI
Tenggelam merupakan penyebab kematian kedua pada anak berusia 1-14 tahun di
Amerika Serikat berdasarkan data National Center Health for Statistics tahun 1997,
sedangkan di California, Arizona dan Florida, tenggelam merupakan penyebabkematian
kecelakan nomor satu. The US consumer Product Safety Comission melaporkan bahwa
pada anak usia < 5 tahun, jumlah kematian di kolam renang 14 kali lebih banyak dari
pada kecelakaan lalu lintas, lebih dari 1500 anak meninggal setiap tahunnya karena
tenggelam.1-3,7
Angka kejadian tenggelam di Indonesia yang tepat belum dan pasti belum ada,
akan tetapi mengingat tanah air kita terdiri dari ribuan pulau dengan sungai-sungai yang
besar, angka kejadian tenggelam pasti besar.3
Kasus-kasus hampir tenggelam pada anak umumnya terjadi di kolam renang di
perumahan. Pearn dan Nixon mendapatkan bahwa 74% lokasi kejadian adalah kolam
renang pribadi di perumahan, tempat lainnya adalah bak kamar mandi, saluran air,
empang, danau, laut, dan teluk.1,3
Kasus hampir tenggelam di luar rumah lebih banyak terjadi pada laki-laki daripada
perempuan, yaitu 3:1 sampai 10:1.1 Model melaporkan bahwa kelompok usia terbesar
yang mengalami peristiwa tenggelam adalah usia 1-4 tahun dan 10-19 tahun.1,5,8-10

2.3 KLASIFIKASI
Berdasarkan temperatur air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi tiga:3,11
1. Tenggelam di air hangat (warm water drowning), bila temperatur air 20C
2. Tenggelam di air dingin (cold water drowning), bila temperatur air 5-20C
3. Tenggelam di air dingin (cold water drowning), bila temperatur air 5-20C

Berdasarkan osmolaritas air, klasifikasi tenggelam dibagi menjadi dua:3


1. Tenggelam di air tawar
2. Tenggelam di air laut
AIR TAWAR

AIR LAUT

Osmolaritas < darah

Osmolaritas > darah

Hipotonik

Hipertonik

Hipervolemik

Hipovolemik

Hemodilusi

Hemokonsentrasi

Tabel 1. Perbedaan antara sifat air tawar dan air laut

Berdasarkan Kondisi Paru-Paru Korban2,3


1. Typical Drawning, keadaan dimana cairan masuk ke dalam saluran
pernapasan korban saat korban tenggelam.
2. Atypical Drawning
a) Dry Drowning, keadaan dimana hanya sedikit bahkan tidak ada cairan
yang masuk ke dalam saluran pernapasan.
b) Immersion Syndrom, terjadi terutama pada anak-anak yang tiba-tiba
terjun ke dalam air dingin ( suhu < 20C ) yang menyebabkan
terpicunya reflex vagal yang menyebabkan apneu, bradikardia, dan
vasokonstriksi dari pembuluh darah kapiler dan menyebabkan
terhentinya aliran darah koroner dan sirkulasi serebaral.
c) Submersion of the Unconscious, sering terjadi pada korban yang
menderita epilepsy atau penyakit jantung khususnya coronary atheroma,
hipertensi atau peminum yang mengalami trauma kepala saat masuk ke
air.
d) Delayed Dead, keadaan dimana seorang korban masih hidup setelah
lebih dari 24 jam setelah diselamatkan dari suatu episode tenggelam.
2.4 PENYEBAB
Near drowning terjadi ketika korban tidak dapat bernafas dalam air dalam periode
waktu tertentu. Selama tenggelam, intake oksigen akan mengalami penurunan dan
sistem utama tubuh dapat berhenti akibat kekurangan oksigen. Dalam beberapa kasus
terutama yang terjadi pada anak, hal ini dapat terjadi dalam hitungan detik sedangkan
pada dewasa terjadi lebih lama. Sangat penting untuk diingat bahwa selalu ada
3

kemungkinan untuk menyelamatkan seseorang yang tenggelam walaupun dalam waktu


cukup lama.
Tenggelam bisa disebabkan oleh :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Terganggunya kemampuan fisik akibat pengaruh obat-obatan


Ketidakmampuan akibat hipotermia, syok, cedera, atau kelelahan
Ketidakmampuan akibat penyakit akut ketika berenang
Perahu atau kapal tenggelam
Terperangkap atau terjerat di dalam air
Bunuh diri

2.5 FAKTOR RESIKO


Beberapa faktor yang meningkatkan resiko terjadinya tenggelam, yaitu8,11 :
a. Pria lebih beresiko untuk mengalami kejadian tenggelam terutama dengan usia
18-24 tahun
b. Kurang pengawasan terhadap anak terutama yang berusia 5 tahun ke bawah
c. Tidak memakai pelampung ketika menjadi penumpang angkutan air
d. Kondisi air melebihi kemampuan perenang, arus kuat dan air yang sangat
dalam
e. Ditenggelamkan

dengan

paksa

oleh

orang

lain

dengan

tujuan

membunuh,kekerasan atau permainan di luar batas


2.6 PATOFISIOLOGI
Keselamatan seseorang yang tenggelam dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain
adalah ketahan fisik, kemampuan berenang, keberadaan bantuan alat pelampung, jarak
untuk mencapai tempat yang aman, suhu air, usia, dan lain-lain.3
Serangkaian proses akan terjadi sebagai berikut: pertama terjadi suatu periode
panik dan usaha yang hebat dengan berhenti bernapas selama 1- 2 menit, selajutnya
terjadi refleks menelan sejumlah air diikuti laringospasme, hipoksia menyebabkan
apnea, penurunan kesadaran, lalu relaksasi laring dan air masuk ke dalam paru-paru
dalam jumlah lebih banyak akhirnya menjadi asfiksia dan kematian. Pada sebagian
besar kasus, terjadi aspirasi air yang banyak ke dalam paru, tetapi pada lebih kurang
10% korban tetap terjadi laringospasme, dan terjadi apa yang disebut dry
drowning.2,3,7,11
Secara teoritis, berdasarkan tonisitas cairan yang masuk ke ruang alveolus, kasus
tenggelam dibedakan menjadi tenggelam di air laut dan di air tawar. Selain itu ada juga
4

pembagian kasus tenggelam berdasarkan temperatur airnya.2,11


Luas permukaan tubuh anak lebih besar daripada dewasa, dan secara proporsional
memiliki jumlah lemak subkutan yang lebih sedikit. Hal ini akan memudahkan
timbulnya hipotermia. Beberapa teori menyatakan bahwa pada hipotermia atau pada
keadaan tenggelam di air dingin akan terjadi refleks diving pada anak. Refleks
tersebut terdiri dari bradikardi, penurunan atau penghentian laju pernapasan, dan
perubahan dramatis pada sirkulasi, sehingga terjadi redistribusi darah ke organ-organ
seperti jantung, paru dan otak. Patofisiologi hampir tenggelam berhubungan erat
dengan hipoksemia multiorgan.1,3
2.6.1 Efek Terhadap Paru
Pada korban tenggelam di air tawar, terjadi perpindahan (absorpsi) air secara
besar-besaran dari rongga alveolus ke dalam pembuluh darah paru. Hal ini
dikarenakan tekanan osmotik di dalam pembuluh darah paru lebih tinggi daripada
tekanan osmotik di dalam alveolus. Perpindahan tersebut akan menyebabkan
hemodilusi. Air akan memasuki eritrosit, sehingga eritrosit mengalami lisis.
Eritrosit yang mengalami lisis ini akan melepaskan ion kalium ke dalam sirkulasi
darah dan mengakibatkan peningkatan kadar kalium di dalam plasma
(hiperkalemi).3
Keadaan hiperkalemi ditambah dengan beban sirkulasi yang meningkat akibat
penyerapan air dari alveolus dapat mengakibatkan fibrilasi ventrikel. Apabila
aspirasi air cukup banyak, akan timbul hemodilusi yang hebat. Keadaan ini akan
menyebabkan curah jantung dan aliran balik vena bertambah, sehingga
mengakibatkan edema umum jaringan termasuk paru. 1-3,11 Aspirasi air tawar
hipotonik dapat mengurangi konsentrasi surfaktan sehingga dapat menyebabkan
instabilitas alveolar sehingga terjadi kolaps paru.1
Pada inhalasi air laut, tekanan osmotik cairan di dalam alveolus lebih besar
daripada di dalam pembuluh darah. Oleh karena itu, plasma darah akan tertarik ke
dalam alveolus. Proses

ini

dapat

mengakibatkan

berkurangnya

volume

intravaskular, sehingga terjadi hipovolemia dan hemokonsentrasi. Hipovolemia


mengakibatkan terjadinya penurunan tekanan darah dengan laju nadi yang cepat,
dan akhirnya timbul kematian akibat anoksia dan insufiensi jantung dalam 3 menit.
Keluarnya cairan ke dalam alveolus juga akan mengurangi konsentrasi surfaktan.
Selanjutnya, akan terjadi kerusakan alveoli dan sistem kapiler, sehingga terjadi

penurunan kapasitas residu fungsional dan edema paru.1-3,11 Akibat lebih lanjut lagi,
dapat terjadi atelektasis karena peningkatan tekanan permukaan alveolar.1
Bila korban mengalami aspirasi atau edema paru, dapat terjadi acute
respiratory distress syndrome (ARDS). Saluran respiratorik yang tersumbat oleh
debris di dalam air akan menyebabkan peningkatan tahanan saluran respiratorik
dan

memicu

pelepasan

mediator-mediator

inflamasi,

sehingga

terjadi

vasokonstriksi yang menyebabkan proses pertukaran gas menjadi terhambat.1,2,11


2.6.2 Efek Terhadap Kardiovaskular
Sebagian

besar

korban

tenggelam

mengalami

hipovolemia

akibat

peningkatan permeabilitas kapiler yang disebabkan oleh hipoksia. Hipovolemia


selanjutnya akan mengakibatkan hipotensi. Keadaan hipoksia ini juga akan
mempengaruhi fungsi miokardium, sehingga dapat terjadi disritmia ventrikel dan
asistol. Selain itu, hipoksemia juga dapat menyebabkan kerusakan miokardium dan
penurunan curah jantung. Hipertensi pulmoner dapat terjadi akibat pelepasan
mediator inflamasi.3

2.6.3 Efek Terhadap Susunan Saraf Pusat


Kerusakan pada susunan saraf pusat berhubungan erat dengan lamanya
hipoksemia, dan pasien dapat jatuh dalam keadaan tidak sadar. Efek lain dari
hipoksia diantaranya adalah disseminated intravascular coagulation (DIC),
insufisiensi ginjal dan hati, serta asidosis metabolik. Pada penelitian kasus-kasus
hampir tenggelam dilaporkan terdapat kelainan elektrolit yang ringan. Perubahan
yang mencolok dan penting adalah perubahan gas darah dan asam-basa akibat
insufisiensi respirasi, diantaranya adalah hipoksemia, hiperkapnia, serta kombinasi
asidosis metabolik dan respiratorik. Kelainan yang lebih banyak terjadi adalah
hipoksemia. Keadaan yang segera terjadi setelah tenggelam dalam air adalah
hipoventilasi dan kekurangan oksigen. Pada percobaan binatang, tekanan parsial O2
arterial (PaO2) menurun drastis menjadi 40 mmHg dalam satu menit pertama,
menjadi 10 mmHg setelah 3 menit, dan 4 mmHg setelah 5 menit.1,3
Disfungsi serebri dapat terjadi akibat kerusakan hipoksia awal, atau dapat
juga karena kerusakan progresif susunan saraf pusat yang merupakan akibat dari
6

hipoperfusi serebri pasca resusitasi. Hipoperfusi serebri paska resusitasi terjadi


akibat berbagai mekanisme, antara lain yaitu peningkatan tekanan intrakranial,
edema serebri sitotoksik, spasme anteriolar serebri yang disebabkan masuknya
kalsium ke dalam otot polos pembuluh darah, dan radikal bebas yang dibawa
oksigen.1,3
2.7 TATALAKSANA
Pada prinsipnya, tata laksana kasus hampir tenggelam adalah mengatasi gangguan
oksigenisasi, ventilasi, sirkulasi, keseimbangan asam basa, dan mencegah kerusakan
sistim saraf pusat yang lanjut. Segera setelah korban ditolong, harus dilakukan
resusitasi jantung paru. Oksigen harus diberikan secepatnya dan dilanjutkan dalam
perjalanan ke rumah sakit. Setiap menit yang dilalui tanpa pernapasan dan sirkulasi
yang adekuat menurunkan secara dramatis kesempatan luaran yang baik. Semua korban
hampir tenggelam harus dirawat di rumah sakit, bagaimanapun kondisi pasien. 1 Pasien
yang tidak bergejala harus diobservasi, minimal selama 24 jam di rumah sakit.
Kematian yang lambat dapat terjadi akibat atelektasis yang luas, edema paru akut, dan
hipoksemia setelah pasien meninggalkan ruang gawat darurat.1,3
Jalan napas harus bersih dari muntahan dan benda asing. Abdominal thrusts tidak
dianjurkan untuk mengeluarkan cairan dari paru. Bila diduga adanya benda asing,
manuver chest compression atau back blows lebih dianjurkan.1 Bila pasien dapat
bernapas spontan, berikan oksigen 100% yang dilembabkan, dengan menggunakan
masker. Jika korban tidak bernapas, ventilasi darurat segera dilakukan, setelah
membersihkan jalan napas. Pemberian oksigen selanjutnya disesuaikan dengan hasil
pemeriksaan analisis gas darah arteri.1,3 Spina servikal dijaga bila terdapat kemungkinan
cedera tulang leher. Leher diposisikan dalam posisi netral.1
Pemantauan tanda vital, penilaian kardiopulmonal dan neurologis berulang, x-ray
dada, dan penilaian oksigenisasi melalui AGD atau oksimetri perifer harus dilakukan
pada semua korban tenggelam. Pemeriksaan lainnya bergantung kondisi klinis dan
tempat kejadian. Pada korban yang asimptomatik atau gejala minimal, hampir
setengahnya perburukan atau hipoksemia pada 4-8 jam setelah peristiwa tenggelam. 1
Pemantauan suhu inti tubuh merupakan hal penting, pengukuran terbaik dilakukan pada
membrane timpani karena berkorelasi kuat dengan suhu otak. Alat untuk
menghangatkan penderita dapat digunakan selimut penghangat atau radiant warmer.1
Gejala pernapasan atau edema paru lambat yang ringan sampai berat dapat terjadi
meski awalnya penderita menunjukkan pemeriksaan fisik dan x-ray dada normal.

Sebaliknya, kebanyakan anak dengan gejala minimal saat ke UGD dapat menjadi
asimptomatik dalam 18 jam setelah tenggelam.1
X-ray dada biasanya didapatkan gambaran edema antar sel atau edema alveolar.
Sebagian besar menunjukkan adanya infiltrate nodular yang berkonfluensi pada 1/3
medial lapangan paru.1,3
Menurut Model dan kawan-kawan, 70% kasus mengalami asidosis metabolik. Bila
pasien menunjukkan hipotensi atau tidak ada respons, dianjurkan pemberian natrium
bikarbonat dengan dosis 1 mEq/kg BB secara intravena. Jika pemeriksaan analisis gas
darah dapat dilakukan, natrium bikarbonat diberikan sesuai dengan rumus:3
Na bikarbonat (mEq) = berat badan (kg) x deficit basa (mEq) x 0,3
Jalan napas harus dibersihkan dari kotoran dan dijamin tetap terbuka. Pada korban
hampir tenggelam yang banyak menelan air, risiko aspirasi muntahan sangat besar.
Oleh karena itu, lambung harus cepat dikosongkan dengan memakai pipa nasogastrik.3
Pengobatan selanjutnya bergantung pada hasil evaluasi PaO2, PaCO2, dan pH
darah. PaCO2 lebih dari 60 mmHg merupakan indikasi untuk melakukan bantuan
pernapasan. Bila terjadi kegagalan oksigenisasi meskipun telah diberikan oksigen, perlu
dilakukan intubasi endotrakeal.3 Inisial positive end-expiratory pressure (PEEP)
dimulai sekitar 5 cm H2O, dapat di naikkan bertahap hingga 10-15 cm H 2O bila
oksigenisasi masih belum adekuat (target SaO2>90%).1
Anak-anak korban tenggelam menunjukkan irama jantung asistol 55%, ventrikel
takikardi (VT) atau ventrikel fibrilasi (VF) 29% dan bradikardi 16%. Defibrilasi
elektrik atau kardioversi diperlukan pada korban dengan VF atau VT tanpa nadi. Obatobatan

kardioaktif

mungkin

diperlukan

untuk

memperbaiki

ritme

jantung.

Oksigenisasai dan ventilasi yang adekuat merupakan syarat memperbaiki fungsi


miokard. Resusitasi cairan dan inotropik seringkali dibutuhkan untuk memperbaiki
fungsi jantung dan perfusi perifer, namun pada keadaan disfungsi miokard pemberian
cairan yang agresif mungkin dapat memperburuk edema paru. Infuse epinefrin (dosis
0,05-1g/kg/menit) biasanya merupakan pilihan utama pada penderita dengan disfungsi
jantung atau hipotensi setelah kejadian hipoksik-iskemik, dobutamin (dosis 220g/kg/menit) dapat memperbaiki cardiac output pada penderita normotensi.1
Pengobatan lain yang perlu dipertimbangkan adalah pemberian bronkodilator dan
antibiotik. Jika pada pemeriksaan fisis didapatkan bronkospasme, pemberian
bronkodilator seperti

aminofilin

intravena

atau

nebulisasi

agonis-2 akan

memberikan hasil yang baik. Pemberian antibiotik pada saat awal tidak dianjurkan,
meskipun seringkali air yang diaspirasi mengalami kontaminasi. Oleh karena itu perlu
pemeriksaan kultur darah, kultur sputum, jumlah lekosit, dan analisis tanda vital.
8

Pemilihan antibiotik dilakukan berdasarkan kultur darah atau sputum. Penggunaan obat
steroid tidak dianjurkan karena tidak ada bukti baik secara klinis maupun eksperimental
yang menunjukkan bahwa penggunaannya bermanfaat.1,3
2.8 KOMPLIKASI
Komplikasi yang terjadi adalah akibat dari keadaan hipoksia, aspirasi air ke
dalam paru dan infeksi yang terjadi setelahnya2,7.
a. Ensefalopati Hipoksik : suatu keadaan di mana bagian otak tertentu yang
mengalami hipoksia saat tenggelam tidak dapat kembali ke fungsi normal atau
telah terjadi kerusakan yang permanen
b. Pneumonia aspirasi : merupakan kompliasi yang paling sering terjadi akibat
masuknya air ke dalam paru atau terhirupnya air saat pasien berusaha untuk
meyelamatkan diri. Bakteri maupun mikrorganisme lain yang ada di air akan
berkembang biak di dalam paru dan menyebabkan terjadinya infeksi
c. Gagal Ginjal : Fungsi ginjal penderita tenggelam yang telah mendapat
resusitasi

biasanya

tidak

menunjukkan

kelainan,

tetapi

dapat

terjadi

albuminuria, hemoglobonuria, oliguria dan anuria. Kerusakan ginjal progresif


akan mengakibatkan tubular nekrosis akut akibat terjadinya hipoksia berat,
asidosis laktat dan perubahan aliran darah ke ginjal.
2.9

PROGNOSIS
Penentuan prognosis yang terbaik pada korban hampir tenggelam adalah dengan

melakukan evaluasi awal status hemodinamiknya. Sembilan puluh dua persen korban
hampir tenggelam akan pulih seperti semula. Penelitian terhadap 93 korban hampir
tenggelam dengan usia rata-rata 31 bulan menyatakan, bahwa pasien yang tidak
mengalami koma saat datang ke ICU atau datang ke IGD dengan nadi teraba dan
tekanan darah terukur, tidak mengalami kerusakan neurologis permanen. Akan tetapi
mereka yang datang dengan pemeriksaan awal nadi tidak teraba atau dalam keadaan
koma, biasanya meninggal atau mengalami kerusakan otak yang parah. 3,10 Luaran yang
buruk dihubungkan dengan adanya asistol, tenggelam > 15 menit, tidak mendapat
resusitasi di tempat kejadian, lama resusitasi > 30 menit, mendapat epinefrin, asidosis
metabolik, dan suhu inti tubuh rendah.12 Nilai pH < 7,1; Glagow Coma Scale (GCS) <5;
pupil yang terfiksasi dan berdilatasi saat masuk rumah sakit menandakan prognosis
buruk, tetapi bukan berarti indikasi kontra untuk melakukan resusitasi. Akan tetapi, bila
asidosis dan koma tetap berlangsung 4 jam setelah resusitasi, kemungkinan untuk
mempertahankan sistem neurologis seperti semula akan sulit. Anderson dkk.,
9

mendapatkan faktor prediktor luaran neurologis adalah pH 7,1, rasio PaO2/PAO 2


0,35 dan anion gap 15 mEq, masing-masing nilai skor 1, bila skor 2, maka
luarannya buruk yaitu gejala sisa permanen atau kematian. 13 Bila setelah 24-48 jam
terapi resusitasi yang adekuat tidak terdapat perbaikan klinis, kemungkinan besar
kematian otak atau kerusakan berat pada otak telah terjadi.14

BAB III
KESIMPULAN
Tenggelam merupakan kasus gawat darurat dan memerlukan pertolongan cepat di
tempat kejadian, kemudian dilanjutkan dengan perawatan secara intensif. Angka
kejadian tenggelam di Indonesia belum ada data yang pasti, namun diperkirakan
tinggi. Tenggelam termasuk penyebab kematian utama pada anak. Pada prinsipnya,
tata laksana kasus hampir tenggelam adalah mengatasi gangguan oksigenisasi,
ventilasi, sirkulasi, keseimbangan asam basa, dan mencegah kerusakan sistem saraf
pusat yang lanjut.

10

DAFTAR PUSTAKA
1.

Kallas H. Drowning and near drowning. Dalam: Behrman RE, Kliegman


RM,penyunting. Nelson textbook of pediatrics. Edisi ke-18. Philadelphia:

Saunders; 2007. h. 321-30.


2. Zulkarnaen I. Hampir Tenggelam Dalam: NN Rahajoe, B Supriyatno, DB
Setyanto, penyunting Buku Ajar Respirologi Anak Edisi pertama
3.

Jakarta:Ikatan Dokter Anak Indonesia;2008 hlm 427-32


Stevenson M, Rimajova M, Edgecombe D, Vickery K. Childhood
drowning: barriers surrounding private swimming pools. Pediatrics

2003:111;e 115-9.
4. Nasrullah M, Muazzam S. Drowning mortality in the United States, 19992006 J Community Health (2011) 36:69-75.
5. American Heart Association. Drowning Circulation. 2005;112:IV-133-I135.
6. Numa AH, Hammer J, Newth C. Near-drowning and drowning. Dalam:
Chernick V, Boat TF, Wilmott RW, Bush A, penyunting. Kendig's disorders
of therespiratory tract in children. Edisi ke-7.Philadelphia: SaundersElsivier; 2006. hlm.661-75.
7. Quan L. Near-drowning. Pediatr in Rev 1999;20(8):255-9.
8. Brenner R, Taneja G. Injury prevention: Drowning Encyclopedia on Early
Childhood
Development.
Tersedia
dari:
http://www.childencyclopedia.com/documents/Brenner-TanejaANGxp.pdf.

Diunduh

10

maret 2015.
9. World Health Organization. Facts about injuries: drowning. Injuries &
Violence prevention. Non-communicable Diseases and Mental Health.
tersedia dari: www.who.int/violence_injury_prevention. Diunduh 10 Maret
2015.
10. Habib DM, Tecklenburg F, Sally A, Anas N, Perkin R. Prediction of
childhood drowning and near-drowning morbidity and mortality. Pediatr
Emergency Care 1996;12(4):55-8.
11. Verive
MJ.
Near

Drowning.

Tersedia

dari:

http://emedicinemedscapecom/article/908677-overview. Diunduh 10 Maret


2015.
12. Leroy p, Smismans A, Seute T. Invasive pulmonary and central nervous
system aspergillosis after near-drowning of a child: Case report and review
of the literature. Pediatrics 2006. 118;e509.
11

13. Anderson K, Roy T, Danzl D. Submersion incidents: a review of 39 cases


and development of the submersion outcome score Journal of Wilderness
Medicine 1991: 2:27-36.
14. Monttes J, Conn A. Near-drowning: an unusual case. Canad Anaesth Soc J
1980:27(2):172-174.

12