Anda di halaman 1dari 7

TUGAS TEORI INFORMASI

DISUSUN OLEH :
NAMA
NIM

: Muhammad Iqbal AY
: D411 11 282

JURUSAN TEKNIK ELEKTRO


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN

Pada sistem komunikasi, proses pengiriman informasi dari sumber ke tujuan


dapat dikatakan baik bila informasi yang dikirim sama dengan informasi yang
diterima. Akan tetapi, pada kenyataannya selama proses pengiriman informasi
tersebut, mengalami gangguan yang dapat menyebabkan kesalahan pada data.
Beberapa studi mengatakan, jika sistem komunikasi menggunakan pengkodean, maka
dapat diperoleh kemampuan yang sangat andal untuk mengkoreksi kesalahan.
Kesalahan (error) merupakan masalah pada sistem komunikasi, sebab dapat
mengurangi kinerja dari sistem. Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu
sistem yang dapat mengkoreksi error. Oleh karena itu pada sistem komunikasi
diperlukan sistem pengkodean. Untuk maksud tersebut, banyak kode yang dapat
digabungkan antara lain : Kode BCH, kode Reed Salomon, kode Hamming, kode
konvolusi dan lain-lain. Pemilihan kode Konvolusi karena kemampuannya yang dapat
mengkoreksi semua acak dari t error dengan algoritma decoding yang sederhana.
Pentingnya kode Reed Salomon disebabkan kemampuannya untuk mengkoreksi
kesalahan jamak (multiple error). Kode Hamming mampu untuk mengkoreksi semua
kesalahan tunggal dalam satu blok. Kode Konvolusi memiliki algoritma encoding
yang efisien.
SISTEM PENGKODEAN DATA
Dalam penyaluran data antar komputer, data yang disalurkan harus dimengerti oleh
masing-masing perangkat baik oleh pengirim maupun penerima. Untuk itu digunakan
system sandi sesuai standard. Suatu karakter didefinisikan sebagai huruf, angka,tanda
aritmetik dan tanda khusus lainya.
Sistem Pengkodean
Karakter-karakter data yang akan dikirim dari satu titik ke titik lain, tidak dapat
dikirimkan secara lansung. Sebelum dikirim, karakter-karakter data tersebut harus
dikodekan terlebih dahulu dengan kode-kode yang dikenal oleh setiap terminal.
Tujuan dari sebuah pengkodean adalah menjadikan tiap karakter dalam sebuah
informasi digital yaitu ke dalam bentuk biner untuk dapat ditransmisikan.
Kode-kode yang sering digunakan pada beberapa sistem komunikasi data dan dikenal

oleh berbagai terminal diantaranya adalah Kode Tujuh Bit (ASCII) dan kode
ABCDIC

Kode Tujuh Bit (ASCII)


Kode tujuh bit yang dikenal dengan nama Internasional Alphabet No.5 dari
Internasional Standar Organisation (ISO). Di Indonesia lebih dikenal dengan nama
kode ASCII (American Standard Code for Information Exchange). Kode ASCII
seperti yang terlihat pada tabel 1 dibawah ini menyediakan 128 kombinasi. Dari 128
kombinasi tersebut, 22 kode diantaranya digunakan untuk fungsi-fungsi kendali
seperti kendali piranti, kendali format, pemisah informasi dan kendali pengiriman.
Kode ini merupakan kode alphanumeric yang paling popular dalam teknik
komunikasi data. Kode ini menggunakan tujuh bit untuk operasinya sedangkan bit ke
delapan dapat ditambahkan untuk posisi pengecekan bit secara even atau odd parity.
Kendali Format
Kendali format (format control) merupakan karakter-karakter yang digunakan untuk
mengendalikan format pengaturan posisi print head atau kursor sesuai dengan
keinginan. Ada enam karakter yang digunakan untuk melakukan kendali format
yaitu :
BS (Back Space) Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau menampilkan
kursor satu posisi ke belakang.
HOT (Horisontal Tabulation) Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau
memindahkan kursor ke depan menuju tab berikutnya atau menghentikan posisi.
LF (Line Feed) Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau menampilkan
kursor menuju posisi karakter yang sesuai pada baris berikutnya.
VT (Vertical Tabulation) Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau
menampilkan kursor menuju rangkaian baris berikutnya.
FF (Form Feed) Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau menampilkan
kursor menuju posisi awal halaman, form atau layar berikutnya.
CR (Carriage Return) Menunjukkan gerakan mekanisme penulisan atau
menampilkan kursor menuju pada posisi awal di baris yang sama.

Kendali Pengiriman
Kendali pengiriman ini digunakan untuk mengemas pesan ke dalam format yang
dikenal dan untuk mengontrol aliran data dalam jaringan. Kendali pengiriman ini
digunakan dalam protokol-protokol yang berorientasi karakter. Protokol yang
berorientasi karakter, menggunakan karakter-karakter khusus untuk membedakan
segmen-segmen bingkai informasi yang berbeda-beda pada saat pengiriman. Pada
protokol ini, semua pesan dikirim dalam sederetannya byte.
Beberapa karakter yang digunakan untuk kendali pengiriman antara lain adalah :
- SOH (Start of Heading) : Menunjukkan bagian awal heading yang berisikan alamat
atau arah informasi
- STX (Start of Text) : Menunjukkan bagian awal teks dan bagian akhir heading
- ETX (End of Text) : Menunjukkan bagian akhir teks yang dimulai dengan karakter
STX
- EOT (End of Transmision) : Menunjukkan selesainya transmisi dan kemungkinan
mencakup atau teks lebih berikut dengan headingnya
- ENQ (Enquiry) : Menunjukkan permintaan tanggapan dari station yang berjauhan
- ACK (Acknowledgement) : Menunjukkan respon persetujuan kepada pengirim.
Karakter ini dikirimkan oleh penerima untuk menunjukkan respon positif pada
pengirim
- NAK (Negative Acknowledgement) : Dikirimkan oleh penerima untuk menunjukkan
respon negatif kepada pengirim
- SYN (Synchronous /IDLE) : Digunakan oleh sistem transmisi sinkron untuk
mempercepat proses sinkronisasi
- ETB (End of Transmission Block) : Menunjukkan bagian akhir block data untuk
keperluan komunikasi
Kendali Piranti
Kendali piranti (Device Control) merupakan karakter-karakter yang digunakan untuk
mengendalikan piranti seperti mengendalikan operasi fisik dari setiap terminal.
Contoh implementasinya adalah seperti menghidupkan atau mematikan tombol
penggerak. Karakter-karakter yang dipakai untuk mengendalikan piranti-piranti

tersebut antara lain adalah DC1, DC2, DC3 dan DC4. DC1 dan DC3 biasanya dipakai
untuk mengendalikan aliran data dari terminal tak sinkron. DC1 untuk menghidupkan
aliran dan DC3 untuk mematikan aliran data.
Pemisah Informasi
Pemisah informasi (Information Separator) digunakan untuk memisahkan informasi
yang dikirim sehingga memudahkan perekaman dan penyimpanan data. Dari daftar
kode ASCII pada tabel 1, terdapat empat karakter yang dikategorikan sebagai pemisah
informasi. Keempat karakter tersebut adalah :
US (Unit Separator)
RS (Record Separator)
GS (Group Separator)
FS (File Separator)
Kode 8 bit (Kode EBCDIC)
EBCDIC singkatan dari Extended Binary Coded Decimal Interchange Code terdiri
dari kombinasi 8 bit yang memungkinkan untuk mewakili karakter sebanyak 256
kombinasi karakter.
Pada kode 8 bit (EBCDIC) ini, high order bits atau 4-bit pertama disebut dengan zone
bits atau 4 bit kedua disebut dengan numeric bits. Kode-kode EBCDIC ini banyak
digunakan oleh komputer-komputer IBM.
Kode 5 bit (Kode BOUDOT)
Kode BOUDOT terdiri atas 5 bit yang dipergunakan pada terminal teletype dan tele
printer. Karena kode ini terdiri atas 5 bit, maka hanya terdiri atas 25 atau 32
kombinasi dengan kode huruf dan gambar yang berbeda. Jika kode ini dikirm
menggunakan trasnmisi serial tak sinkron, maka untuk pulsa stop bit-nya pada
umumnya memiliki lebar 1,5 bit. Hal ini berbeda dengan kode ASCII yang
menggunakan 1 atau 2 bit untuk pulsa stop bit-nya.

Encoding dan Decoding


Encoding, merupakan proses pengkonversian suatu sumber data analog maupun
digital menjadi sinyal digital. Bentuk sinyal yang dihasilkan nantinya bergantung
kepada teknik encoding dan media transmisi yang digunakan. Sinyal yang paling
banyak dikenal adalah sinyal audio yang berbentuk gelombang bunyi dan dapat
didengar oleh manusia. Sinyal ini biasa disebut dengan speech. Sinyal yang dihasilkan
dari speech tersebut memiliki komponen frekuensi antara 20 Hz sampai 20 kHz.
Tetapi sebagian spektrum energinya terkonsentrasi pada frekuensi rendah. Untuk
menjadikan sinyal digital, maka sumber analog di encoding terlebih dahulu menjadi
sinyal digital. Data digital atau analog akan melewati suatu alat yang disebut dengan
encoder yang digunakan untuk melakukan encoding sehingga menghasilkan sinyal
digital. Sinyal digital tersebut digunakan dalam kegiatan transmisi data. Sedangkan
untuk menuju kepada penerima akan diubah kembali pada sinyal asli baik analog
maupun digital. Untuk itu digunakan alat yang disebut dengan nama decoder dan
proses perubahan sinyal yang dinamakan decoding.
MACAM-MACAM KODE
1. Kode Baudot
Berawal dari kode morse. Ada kode 4-an, 5-an, 6-an, dan 8-an yang digunakan untuk
pengiriman telegraph yang disimpan di pita berupa lubang tutup. Untuk lubang
sebanyak 6x berturut-turut disebut sebagai kode 6-an. Begitu juga yang lainya. Kode
ini juga digunakan sebagai satuan kecepatan pengiriman data. Kode baudot ini ada
sejak 1838 ditemukan oleh Frenchman Emile Baudot sebagai bapak komunikasi data.
Terdiri dari 5 bit perkarakter (sehingga dapat dibuat 32 karakter) dan untuk
membedakan huruf dengan gambar dipakai kode khusus, yakni 111111 untuk letter
dan 11011 untuKode ASCII
2. Standard Code (Americank figure. for Information Interchange)
Didefinisikan sebagai kode 7 bit (sehingga dapat dibuat 128 karakter). Masing-masing
yaitu 0-32 untuk karakter kontrol (unprintable) dan 32-127 untuk karakter yang
tercetak (printable). Dalam transmisi synkron tiga karakter terdiri dari 10 atau 11 bit :
1 bit awal, 7 bit data, 1 atau 2 bit akhir dan 1 bit paritas

3. Kode 4 atau Kode 8


Kombinasi yang diijinkan adalah 4 bit 1 dan 4 bit 0 sehingga dapat dibuat
kombinasi 70 karakter.
4. Kode BCD (binary code desimal)
Terdiri dari 6 bit perkarakter dengan kombinasi 64 karakter. Untuk asynkron terdiri
dari 9 bit: 1 bit awal, 6 bit data, 1 bit paritas dan 1 bit akhir.
5. Kode EBCID
Menggunakan 8 bit perkarakter dengan 256 kombinasi karakter.
Asynkron: 1 bit awal, 8 bit data, 1 bit paritas dan 1 bit akhir.

PENGGUNAAN SISTEM PENGKODEAN


Sejak ditemukannya radio maka penggunaannya semakin lama semakin banyak dan
berbagai macam. Hal ini menimbulkan permasalahan yaitu padatnya jalur komunikasi
yang menggunakan radio. Bisa dibayangkan jika pada suatu kota terdapat puluhan
stasiun pemancar radio FM dengan bandwidth radio FM yang disediakan antara 88
MHz 108 MHz. Tentunya ketika knob tunning diputar sedikit maka sudah
ditemukan stasiun radio FM yang lain. Ini belum untuk yang lain seperti untuk para
penggemar radio kontrol yang juga menggunakan jalur radio. Bahkan untuk
pengontrollan pintu garasi juga menggunakan jalur radio. Jika kondisi ini tidak ada
peraturannya maka akan terjadi tumpang tindih pada jalur radio tersebut.
Alternatifnya yaitu dengan menggunakan cahaya sebagai media komunikasinya.
Cahaya dimodulasi oleh sebuah sinyal carrier seperti halnya sinyal radio dapat
membawa pesan data maupun perintah yang banyaknya hampir tidak terbatas dan
sampai saat ini belum ada aturan yang membatasi penggunaan cahaya ini sebagai
media komunikasi.