Anda di halaman 1dari 63

PEMBUATAN GTL PADA

KASUS TORUS PALATINUS


DAN HUBUNGAN RAHANG
KELAS III

Santo dan suryanto

Tinjauan pustaka

Torus palatinusmerupakan (eksostosis)


suatu penonjolan massa tulang yang
keras, yang terdapat pada sutura midline
palatum durum.
Exostosisadalah suatupertumbuhan
benigna jaringan tulang yang menonjol
keluar dari permukaan tulang.

Tinjauan pustaka

Torus palatinus akan mempengaruhi


dalam pembuatan GTL, karena bentuk
dari palatum akan mempengaruhi retensi
dari sebuah GTL rahang atas.
Torus yang besar undercut: perlu
pembedahan
Torus yang kecil perlu relief

Klasifikasi torus palatinus


menurut morfologinya:

Torus datar (flat)

Torus nodular

Torus lobular

Inidikasi pembedahan torus palatinus:


Torus palatinus besar yang menutupi hampir
seluruh ruang palatum sehingga mengganggu
stabilitas dan retensi dari gigi tiruan
Torus yang panjang hingga mengganggu
penutupan tepi pada ah line
Torus yang berlobus-lobus sehingga debri
makanan menumpuk yang menyebabkan
inflamasi dan bau mulut

Klasifikasi menurut PDI

Morfologi linggir sisa

Tipe
TipeBB
Kehilangan vestibulum bukal psoterior
Kehilangan vestibulum bukal psoterior
Tuberositas meragukan untuk
Tuberositas meragukan untuk
perpanjangan
perpanjanganposterior
posteriordari
daribasis
basisdental
dental
Torus maksila atau lateral yang tidak
Torus maksila atau lateral yang tidak
mempengaruhi
mempengaruhiperluasan
perluasanke
keposterior
posterior
dari
basis
dental
dari basis dental
Lengkung palatal yang dapat menahan
Lengkung palatal yang dapat menahan
pergerakan
pergerakanhorizontal
horizontaldan
danvertikal
vertikaldari
dari
dental
dentalbasis
basis

Tipe
Tipe CC

Kehilangan
Kehilangan anterior
anterior labial
labial (vestibulum)
(vestibulum)

Sutura
Sutura midline
midline yang
yang prominan
prominan

Torus
Torus maksila
maksila dengan
dengan terdapat
terdapat tulang
tulang yang
yang
undercut
undercut tetapi
tetapi tidak
tidak mempengaruhi
mempengaruhi
perluasan
perluasan basis
basis ke
ke posterior
posterior

Pergerakan
Pergerakan linggir
linggir sisa
sisa anterior
anterior yang
yang
mempengaruhi
mempengaruhi stabilitas
stabilitas dan
dan retensi
retensi

Lengkung
Lengkung palatal
palatal dengan
dengan resistensi
resistensi minimal
minimal
terhadap
terhadap pergerakan
pergerakan vertikal
vertikal dan
dan horizontal
horizontal
basis
basis

Tipe
TipeDD
Kehilangan kedalaman vestibulum
Kehilangan kedalaman vestibulum
anterior
anteriordan
danposterior
posterior
Torus maksila yang menggangu
Torus maksila yang menggangu
perlekatan
perlekatanbasis
basis
Linggir sisa anterior yang berlebihan
Linggir sisa anterior yang berlebihan
Lengkung palatal dengan resistensi
Lengkung palatal dengan resistensi
minimal
minimalterhadap
terhadappergerakan
pergerakanvertikal
vertikaldan
dan
horizontal
horizontalbasis
basis
Anterior nasal spine yang prominent
Anterior nasal spine yang prominent

Perlekatan otot
Tipe A
Tipe A
Perlekatan yang adekuat dari mukosa basis
Perlekatan yang adekuat dari mukosa basis
Tipe B
Tipe B
-Perlekatan yang adekuat kecuali vestibulum anterior bukal
-Perlekatan yang adekuat kecuali vestibulum anterior bukal
-perlekatan otot mentalis yang tinggi
-perlekatan otot mentalis yang tinggi
Tipe C
Tipe C

Perlekatan yang adekuat kecuali vestibulum anterior bukal

Perlekatan yang adekuat kecuali vestibulum anterior bukal


dan lingual
dan lingual

perlekatan
otot mentalis dan genyoglossus yang tinggi

perlekatan otot mentalis dan genyoglossus yang tinggi


Tipe D
Tipe D
Perlekatan yang adekuat region lingual posterior
Perlekatan yang adekuat region lingual posterior
Tipe E
Tipe E
Tidak ada perlekatan di regio manaoun
Tidak ada perlekatan di regio manaoun

Prosthodontic Dental
Index
Klas I
Klas ini mencirikan tahap edentulous yang paling sesuai
dirawat dengan gigitiruan penuh yang dibuat dengan
teknik gigitiruan konvensional. Adapun kriteria diagnostik
dari klas ini adalah :

1. Tinggi sisa tulang 21 mm yang diukur pada tinggi


vertikal rahang bawah terendah pada radiografik
panoramik.

2. Morfologi dari sisa lingir resisten terhadap pergerakan


horizontal dan vertikal basis gigitiruan; RA tipe A.

3. Lokasi perlekatan otot kondusif untuk retensi dan


stabilitas gigi tiruan; RB tipe A atau tipe B.

4. Hubungan rahang klas I.

Kelas I

Kelas II
Secara khas ditandai dengan adanya
degradasi
fisis
anatomi
jaringan
pendukung gigitiruan yang berkelanjutan.
Klas ini juga ditandai dengan adanya
kemunculan dini interaksi penyakitpenyakit sistemik serta ditandai dengan
adanya penatalaksanaan pasien spesifik
dan pertimbangan pertimbangan gaya
hidup.

Kelas II
Kriteria diagnostik dari klas ini adalah :
1.
Tinggi sisa tulang 16-20 mm yang diukur pada tinggi
vertikal rahang bawah terendah pada radiografi
panoramik.
2.
Morfologi sisa lingir resisten terhadap pergerakan
horizontal dan vertikal basis gigitiruan; rahang atas tipe
A atau tipe B.
3.
Lokasi perlekatan otot sedikit mempengaruhi retensi dan
stabilitas gigitiruan; rahang bawah tipe A atau tipe B.
4.
Hubungan rahang klas I.
5.
Adanya sedikit perubahan kondisi, pertimbangan
psikososial dan penyakit sistemik ringan yang
bermanifestasi pada rongga mulut

Kelas II

Kelas III
Klas III Klas ini ditandai dengan adanya kebutuhan akan
revisi dari struktur pendukung gigitiruan untuk
memungkinkan diperolehnya fungsi gigitiruan yang
adekuat. Kriteria diagnostik dari klas ini yaitu :

1. Tinggi sisa tulang 11-15 mm yang diukur pada


tinggi vertikal rahang bawah terendah pada
radiografik panoramik.

2. Morfologi sisa lingir sedikit berpengaruh dalam


menahan pergerakan horizontal dan vertikal basis
gigitiruan; rahang atas tipe C.

3. Lokasi perlekatan otot cukup berpengaruh


terhadap retensi dan stabilitas gigitiruan; rahang
bawah tipe C. 4. Hubungan rahang klas I, II atau III.

5. Kondisi-kondisi yang membutuhkan perawatan gigitiruan :


a) Prosedur modifikasi jaringan keras minor, termasuk di dalamnya
alveoplasti.
b) Pemasangan implan sederhana; tidak membutuhkan augmentasi.
c) Pencabutan beberapa gigi yang menghasilkan edentulous penuh
untuk pemasangan gigitiruan immediate.
d) Keterbatasan ruang antar rahang 18-20 mm.

6.

Pertimbangan psikososial tingkat sedang dan/atau


manifestasi penyakit sistemik atau kondisi-kondisi seperti
xerostomia dalam tingkatan sedang.
7. Gejala-gejala TMD.
8. Lidah besar (memenuhi ruang interdental) dengan atau
tanpa hiperaktivitas.
9. Hiperaktivitas refleks muntah.

Kelas III

Kelas IV

Klas IV Klas ini mewakili kondisi


edentulous
yang
paling
buruk.
Pembedahan rekonstruksi harus selalu
diindikasikan tetapi tidak selamanya
dapat
dilakukan
karena
tidak
menguntungkannya kesehatan pasien,
minat, riwayat dental, dan pertimbangan
finansial. Jika pembedahan revisi bukan
salah satu pilihan, maka teknik gigitiruan
khusus
harus
dilakukan
untuk
mendapatkan hasil yang adekuat.

1. Tinggi vertikal 10 mm yang diukur pada


tinggi vertikal rahang bawah terendah pada
radiografi panoramik.
2. Hubungan rahang klas I, II atau III.
3. Sisa lingir sama sekali tidak dapat
menahan pergerakan horizontal maupun
vertikal, rahang atas tipe D.
4. Lokasi perlekatan otot dapat diperkirakan
berpengaruh terhadap retensi dan stabilitas
gigitiruan, rahang bawah tipe D atau tipe E.

5.
5. Kondisi
Kondisi utama
utama yang
yang membutuhkan
membutuhkan
pembedahan
pembedahan praprostodontik
praprostodontik ::
a)
a)
b)
b)
c)
c)
d)
d)

Pemasangan
Pemasangan implan
implan kompleks,
kompleks, augmentasi
augmentasi
dibutuhkan.
dibutuhkan.
Koreksi
Koreksi kelainan-kelainan
kelainan-kelainan dentofasial
dentofasial secara
secara
bedah
bedah dibutuhkan
dibutuhkan
Augmentasi
Augmentasi jaringan
jaringan keras
keras dibutuhkan.
dibutuhkan.
Revisi
Revisi jaringan
jaringan lunak
lunak mayor
mayor dibutuhkan
dibutuhkan yaitu
yaitu
perluasan
perluasan vestibulum
vestibulum dengan
dengan atau
atau tanpa
tanpa
pencangkokan
pencangkokan jaringan
jaringan lunak
lunak

6. Riwayat parasthesia atau disesthesia.


7. Ketidakcukupan ruang antar rahang yang membutuhkan
pembedahan koreksi.
8. Defek maksilofasial yang bersifat kongenital atau
didapatkan.
9. Manifestasi penyakit sistemik yang parah pada rongga
mulut.
10. Ataxia maksillomandibular.
11. Hiperaktivitas lidah yang mungkin disebabkan oleh retraksi
posisi lidah dan atau morfologi yang berhubungan. 12.
Hiperaktivitas refleks muntah yang ditatalaksana dengan
pengobatan.
13. Pasien kambuhan (pasien yang melaporkan keluhankeluhan kronik setelah menjalani terapi yang sesuai), yang
terus mengalami kesulitan

Kenapa harus memakai


gtl?

Mencegah
pengeruta
n tulang
alveolar

berkurangny
a vetikal
dimensi

turunnya
otot-otot pipi

hilangnya
oklusi
sentrik.

Kenapa hubungan rahang


menjadi kelas III

Selama
berfungsi
rahang
bawah
berusaha berkontak dengan rahang atas
sehingga dengan tidak adanya gigi-gigi
rahang atas dan rahang bawah akan
menyebabkan hilangnya oklusi sentrik
sehingga mandibula menjadi protrusi dan
hal ini menyebabkan malposisitemporomandibular joint.

Identitas pasien

156 cm
Ingin membuat gigi palsu lengkap.

Tinggi Badan
Tinggi Badan
Keinginan Pasien
Keinginan Pasien

Foto profil

Tampak depan

anamnesis

Pencabutan terakhir : 2 tahun yang


lalu
regio : 2
Tidak Pernah memakai GTL atas/bawah
Ingin membuat GTL atas/bawah
dengan tujuan : untuk mengembalikan
fungsi mastikasi dan estetik

STATUS UMUM : Baik

Status lokal
Extra oral

Muka : Simetris; lonjong

Mata : Simetris; bergerak

Hidung : Simetris; bernafas melalui hidung

Telinga : tragus : simetris

Bibir : RA : simetris; RB : simetris

Kelenjar Submandibula :
kiri & kanan: tidak teraba; tidak sakit

Sendi kiri : kripitasi, tidak sakit


Sendi kanan : Normal, tidak sakit

Intra oral
Vestibulum
Vestibulum
Rahang Atas
Rahang Atas
- Posterior kiri
: sedang
- Posterior kiri
: sedang
- Posterior kanan : sedang
- Posterior kanan : sedang
- Anterior kiri
: sedang
- Anterior kiri
: sedang
- Anterior kanan : sedang
- Anterior kanan : sedang

Rahang Bawah
Rahang Bawah
- Posterior kiri
: sedang
- Posterior kiri
: sedang
- Posterior kanan : sedang
- Posterior kanan : sedang
- Anterior kiri
: sedang
- Anterior kiri
: sedang
- Anterior kanan : sedang
- Anterior kanan : sedang

Intra oral
Frenulum
Frenulum
Rahang Atas
Rahang Atas
Labialis : sedang
Labialis : sedang
Bukalis kiri : rendah
Bukalis kiri : rendah
Bukalis kanan
: rendah
Bukalis kanan
: rendah

Rahang Bawah
Rahang Bawah
Labialis : rendah
Labialis : rendah
Bukalis kiri
: rendah
Bukalis kiri
: rendah
Bukalis kanan
: rendah
Bukalis kanan
: rendah
Lingualis
: sedang
Lingualis
: sedang

Hubungan
Linggir
Sisa
Hubungan
Linggir
Sisa
Rahang atas/rahang bawah sagital
:
kelas III

Rahang atas/rahang bawah sagital


:
kelas III
Rahang atas/rahang bawah transversal
:
kiri :
kelas III
Rahang
atas/rahang
bawah
transversal
:
kiri
:
kelas III

kanan
:
keas III

kanan
:
keas III

Intra oral

Bentuk penampang transversal palatum lengkung


Torus palatinus yang kecil
Tidak terdapat torus mandibula
Tahanan jaringan linggir sisa atas tinggi, bawah
rendah.
Tahanan jaringan palatum tinggi
Tidak terdapat eksotosis
Bentuk lidah normal dan aktif
Retromylohyoid kanan dangkal, kiri dalam
Tidak terdapat pigmentais
Tubermaksila (kiri dan kanan ) rendah

Foto intra oral

diagnosis
Pasien endtulus dengan klasifikasi kelas II
Prosthodontic Dental Index dengan
disertai torus palatinus

Intra
Intra oral
oral
Rahang Bawah
Rahang Bawah
- Frenulum labialis dan
- Frenulum
labialis dan
bukalis
rendah
Rahang Atas
bukalis rendah
Rahang Atas
- Tahanan jaringan linggir
- Frenulum bukalis rendah
- Tahanan
- Frenulum bukalis rendah sisa
rendah jaringan linggir
sisa rendah
- Torus palatinus kecil
- Torus palatinus kecil
- Retromilohyoid kiri
- Retromilohyoid kiri
- Tuber maksila rendah
dangkal
- Tuber maksila rendah
dangkal
- Retromylohyoid kanan
- Retromylohyoid kanan
dalam
dalam

Rencana perawatan

Pembuatan GTL akrilik atas dan bawah


dengan mengoptimalkan dalam segi
retensi, keseimbangan oklusi,
keseimbangan terhadap otot dan estetik.
Hubungan rahang kelas III menjadi kelas I

Tahapan pekerjaan

Penceetakan pertama dan


model studi

SCP rahang atas dan rahang


bawah

Penghalusan tepi

Border molding

Pembuatan Lubang pada


SCP

Cetakan kedua

Beading and boxing

Basis acrilik dan galangan gigit

Cek kesejajaran

A
B

Garis A : pataokan
anterior dengan
garis iterpupil
Garis B : patokan
posterior dengan
mengunakan garis
chamfer

Cek vertikal
DVI
DVI

Cek vertikal
DVO
DVO

DVI
DVI--22

Cek horizontal
Garis piltrum :
sebagai garis
midline

Cuping hidung : sebagai


patokan untuk garis
distal C

Fiksasi dan pembuatan


kunci

Pemasangan dalam artikulator


dan penyusunan gigi

Pemasangan malam

Pemasangan akrilik

kontrol

pembahasan
Pada kasus ini dimana pasien yang memiliki
hubungan rahang kelas III menerima gigi
tiruan
lengkap
yang
telah
dimodifikasikan menjadi hubungan kelas
I.
Hal ini bertujuan untuk memberikan
tampilan klinis yang lebih estetik kepada
pasien.
Dimana pasien sudah tidak merasakan
rahang bawahnya terlalu maju ke depan
dibandingkan rahang atas.

pembahasan

Hubungan rahang kelas III ini diakibatkan


pasien edentolus secara penuh dalam
waktu yang lama.
Dengan
tidak
adanya
gigi
untuk
berartikulasi
saat
makan,
maka
mandibula akan bergerak maju secara
reflek utuk melakukan gerakan artikulasi.

pembahasan

Pembuatan hubungan rahang kelas I


sangat dibantu oleh penentuan relasi
sentrik kelas I.

Tips menyusun gigi pada kasus


hubungan rahang kelas III
Cara dalam pembuatan :

Gigi anterior edge to edge

Inklinasi

insisivus

harus

sama

dengan

gigi

posterior

Bagian servikal insisivus rahang atas lebih ke


labial sehingga plat labial lebih tebal

Usahakan gigi insisivus rahang atas terlihat lebih


menonjol dari gigi insisivus rahang bawah

pembahasan

Pasien ini juga memeliki torus palatinus yang


kecil, 1 lobus pada midline palatal.
Pada kasus ini pembuatan sendok cetak
perorangan dibuat pembolongan relief pada
daerah torus palatinus tersebut, sama seperti
bagian bagian lainnya yang memiliki
ketahanan jaringan yang rendah maupun
flabby sekalipun.

pembahasan

Hal ini bertujuan untuk membiarkan


bahan cetakan tidak terperangkap pada
saat dilakukan pencetakan kedua.
Sehingga bisa didapatkan hasil rekaman
rongga mulut yg baik
Tujuan akhir relief ini yaitu agar gigi
tiruan ini tidak mengiritasi torus palatinus
pasien dan untuk mendapatkan retensi
yang maksimal.

TERIMA
KASIH