Anda di halaman 1dari 10

LONG CASE

COMBUSTIO GRADE II DERAJAT SEDANG BERAT PADA PASIEN


ANAK USIA 1 TAHUN

Disusun oleh :
Liliani Muslimahwati Tjikoe
20100310212

Pembimbing : dr. Puguh Sisiwidijono, Sp.B, Msi. Med

KEPANITERAAN KLINIK ILMU BEDAH


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
RSUD SALATIGA
2015

HALAMAN PENGESAHAN
Telah disetujui dan disahkan, long case dengan judul
COMBUSTIO GRADE II DERAJAT SEDANG BERAT PADA PASIEN
ANAK USIA 1 TAHUN

Disusun oleh :
Liliani Muslimahwati Tjikoe
20100310212

Telah dipresentasikan
Hari/Tanggal : Jumat, 30 Januari 2015

Disahkan oleh :
Dosen pembimbing

dr. Puguh Sisiwidijono, Sp.B, Msi. Med

BAB. I
PENDAHULUAN
1. Identitas Pasien
IDENTITAS

Nama

An. A

Umur

1.5 tahun

Jenis Kelamin

Laki - Laki

Alamat

Koripan

Tanggal Masuk RS

25 11 - 2014

2. Pemeriksaan
A) Primary Survey :

Airway

: Clear (bebas) tidak ada hambatan atau obstruksi jalan nafas

Breathing

: Spontan, RR : 25x/menit reguler, tipe pernafasan normal,

adekuat

Circulation

: Spo2 96%, CRT ekstermitas superior dan ekstermitas inferior

dextra et sinistra <2 detik, akral hangat

Disabiltiy

: KU lemah kesakitan, GCS : E4V5M6, Tanda

lateralisasi (-)

Exposure

: Clear (bebas), tubuh pasien sudah dibebaskan dari

sumber panas, dan tetap dijaga kehangatannya.

B) Secondary Survey

Keluhan Utama
Pasien rujukan dari puskesmas, datang ke IGD dengan keluhan luka bakar di
daerah dada sampai perut dan di sekitar lengan atas sebelah kanan. Pada saat itu
pasien sudah terpasang infus.

Riwayat Penyakit Sekarang


Setelah dianamnesis lebih lanjut, orang tua pasien mengatakan bahwa
beberapa jam sebelumnya (1 jam sebelumnya) pasien terkena dengan teh panas yang
tidak sengaja tertumpah pada saat pasien sedang berlari. Air panas tersebut tertumpah
di daerah dada dan perut korban sampai tangan. Pada saat itu pasien dalam keadaan
tidak memakai baju. Segera setelahnya pasien langsung dibawa di puskesmas. Pada
saat di rumah orang tua belum memberikan terapi apapun. Pada saat itu di puskesmas
diberikan kompres larutan garam fisiologis, dan ditutup perban lalu pasien dirujuk ke
RSUD dan sampai ke IGD kira kira 3 jam setelah kejadian. Sejak terkena air panas
pasien menangis dan menggigil karena menahan sakit. Mual (-), muntah (-), BAK (+)
sedikit sejak kejadian, BAB (-) sejak kejadian. Keluhan yang lain tidak dilaporkan.

Riwayat Penyakit Dahulu


Riwayat kelahiran :
a) Pranatal : Kesehatan ibu baik, Riwayat merokok atau konsumsi obat obatan
dan alkohol pada saat kehamilan disangkal.
b) Natal

: Bayi lahir normal di bidan, saat itu berat badan bayi normal (3,1 kg),

panjang bayi normal, kondisi bayi sehat.


c) Antenatal : Riwayat infeksi dan penyakit lainnya di sangkal
Riwayat Tumbuh kembang :
a) Pertumbuhan fisik : Berat badan saat ini 10 kg, tinggi saat ini (tidak diukur),
lingkar kepala (tidak diukur), periode pertumbuhan normal (menurut informasi
ibu)
b) Perkembangan bicara : Baik, pasien sudah bisa mengucapkan beberapa kata.
c) Perkembangan sosial : Pasien tidur pada waktu malam hari, terbangun pada pagi
hari, bermain siang hari, tidur sore hari, bangun lagi pada malam hari bermain lalu
tidur lagi. Pola tidur sering berubah.
Status kesehatan sekarang :
a) Alergi : Sejauh ini tidak dilaporkan
b) Riwayat imunisasi : Sampai saat ini lengkap

c) Riwayat ASI : Pasien masih mengkonsumsi ASI namun sudah dicampur dengan
susu kemasan.

Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat hipertensi : Disangkal
Riwayat diabetes melitus : Disangkal
Riwayat penyakit metabolik dan keganasan lainnya : Disangkal

Riwayat personal sosial


Pasien adalah anak pertama dari ibu usia 24 tahun, dan ayah usia 27 tahun. Sehari
hari ibu pasien bekerja berjualan makanan, dan ayah pasien bekerja sebagai
cleaning service. Pasien tinggal bersama kakek neneknya, dan rumah pasien sering
ramai karena berdekatan dengan sepupu sepupunya sehingga mereka sering bermain
bersama. Pasien adalah anak yang aktif, karena pasien baru bisa berjalan sehingga
pasien sedang senang berlari lari.

Review system :
Umum

: Berat badan proporsional dengan anak seusianya, pasien

tampak lemah dan kesakitan


Kulit

: Tampak luka bakar kemerahan di sekujur dada dan perut

korban, sampai tangan sebelah kiri dari lengan sampai 1/3 atas lengan bawah.
Daerah sekitar luka bakar tampak hiperemi. Kulit sekitar yang tidak mengalami luka
bakar normal.
Kepala, Mata, Telinga, Hidung, Tenggorok (KMTHT) : Tidak terdapat keluhan
Leher

: Tidak terdapat keluhan

Respirasi

: Tidak terdapat keluhan, pasien tidak tampak sesak, hanya

terlihat kesakitan karena terdapat luka bakar pada daerah dada.


Kardiovaskular

: Tidak terdapat keluhan

Gastrointestinal

: Tidak terdapat keluhan, BAB normal 1 hari 2x konsistensi

lembek (tidak cair)


Perkemihan

: BAK (+) normal, warna kuning pucat

Genital

: Tidak terdapat keluhan

Muskuloskeletal

: Tidak terdapat keluhan, pasien hanya terlihat lemah karena

kesakitan menahan luka bakar yang terjadi

Neurologi

: Tidak terdapat keluhan

Hematologi

: Tidak terdapat keluhan

Pemeriksaan Fisik
KU : Compes Mentis, tampak lemah dan kesakitan
Vital Sign

Nadi

: 76 x / menit, reguller, isi dan tekanan normal

Suhu

: 36C (axilla)

BB

: 10 kg

RR

: 25 x/menit, reguller,spontan adekuat, tipe pernafasan normal

SpO2

: 96 %
Pemeriksaan Fisik

Kepala

Normocephal, depresi tulang tengkorak (-)

Mata

SI (- / -), CA (+/+), starbismus (-/-), defek


kuadrantik mata (-/-)

Telinga

Keloid (-/-), serumen (-/-), eritema (-/-)

Hidung

Edem (-/-), eritema (-/-), deviasi septum (-/-),


perforasi (-/-)

Mulut

Sianosis (-), pucat (-), stomatitis (-), bibir


kering (-), gingivitis (-), tonsilitis (-), abses
peritonsiler (-)

Leher

Jaringan parut (-), massa (-), simeteris (+),


limfadenopati (-), deviasi trakea (-)

Thoraks

Suara Dasar Vesikuler: (+ / +), Ronkhi (+/+),


Wheezing (- /-), Simterisitas (+), ketinggalan
gerak (-/-)

Abdomen

Bising Usus (+) Normal (-)

Ekstermitas

Ekstermitas edem :-/- Ekstermitas dingin : -/CRT ekstermitas superior dan inferior < 2
detik

STATUS LOKALIS

Inspeksi : Pada regio thorax dan abdomen dan


pada regio antebrachium anterior sampai regio
cubitalis anterior, tampak luka bakar derajat II
A B (terlihat permukaan luka sebagian yang
merah dan ada yang putih), tampak kemerahan (+), bulla (+), dengan total luas luka
bakar 16,5 % (Lund and Browder) 24,5 % (Rule of nine)

Palpasi : Nyeri tekan disekitar luka bakar (+), sekitar kulit teraba hangat (+)

3. DIAGNOSIS KERJA
Combustio grade II A B derajat sedang berat dengan total luas luka bakar 16,5
% (Lund and browder) - 24,5 % (Rule of Nine)

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan

Hasil Abnormal

Nilai rujukan

25 11 14

Hemoglobin : 8.3 ()

12 16 g/dl

(Darah Rutin)

MCV : 73.2 ()

86 108 fl

MCH : 25.1 ()

28 31 pg

Limfosit : 44.1 ()

22 40 g/dl

4. Diagnosis

Combustio grade II A B derajat sedang berat dengan total luas luka bakar 16,5
% (Lund and browder) atau 24,5 % (Rule of Nine)

Anemia

5. Planning:

Infus D5 N 12 tpm

Inj. Ranitidin 2 x 1/3 amp

Inj. Cefotaxime 2 x 300 mg

Salep MEBO (u.e / 6 jam)


Terapi saat RJ :

Cefadroxil syr 3 x cth I

Ibuprofen syr 3 x cth I

Rawat Luka dengan MEBO / 6 jam

6. PEMBAHASAN
Menurut hasil pemeriksaan fisik maka dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami
luka bakar grade II karena pada luka bakar terdapat bula (sebagai hasil terlibatnya lapisan
kulit dermis), dengan warna kulit kemerahan, dan ada sebagian kulit yang terlihat pink
keputihan. Hal tersebut menunjukkan selain terjadi luka bakar pada daerah epidermis sampai
sebagian atas dermis superficial thickness (Grade II A), juga pada beberapa tempat terjadi
luka bakar di daerah epidermis sampai hampir seluruh dermis deep partial thickness
(Grade II B).
Untuk total luas luka bakar pasien terutama pada anak, ada beberapa rumus yang bisa
digunakan antara lain rumus dari Lund and Browder dan rumus Rule of Nine yang masing
masing memiliki gaya pengukuran tersendiri sehingga didapatkan perbedaan hasil
pengukuran.

Gambar 1. Rumus total luas luka bakar

Pada rumus Lund and Browder total luas luka bakar pasien adalah 16,5 % dengan
rincian : 13 % di daerah dada + 2% di darah lengan kiri atas anterior + 1.,5 % di setengah dari
lengan bawah anterior. Jika menggunakan rumus total luas luka bakar tersebut, maka derajat
luka bakar pasien masuk kedalam derajat sedang ( total luas luka bakar 10 20% pada anak).
Pada rumus Rule of Nine total luas luka bakar pasien adalah 24,5% dengan rincian : 18% di
daerah dada anterior + 4,5% di daerah lengan kiri atas anterior + 2 % di setengah dari lengan
bawah anterior. Jika menggunakan rumus total luas luka bakar tersebut, maka derajat luka
bakar pasien masuk kedalam derajat berat ( total luas luka bakar 20% pada anak).
Terlepas dari berapa jumlah total luas luka bakar pasien, pasien sebenarnya sudah
masuk indikasi dirawat di rumah sakit karena perlu penanganan resusistasi cairan untuk
mencegah dehidrasi, karena luka bakar yang terjadi sudah masuk pada derajat sedang, dan
usia pasien masih termasuk dalam kategori anak yang rentan jatuh kedalam keadaan shock
hipovolemik akibat kekurangan cairan. Terapi resusitasi yang diberikan bisa bermacam
macam menggunakan berbagai rumus, namun cara yang paling umum adalah menggunakan
rumus terapi cairan Baxter atau Evans, namun khususnya pada balita dan bayi bisa
menggunakan rumus dari Shriners Cincinnati.

7. KESIMPULAN
Menurut hasil pemeriksaan dapat disimpulkan bahwa pasien mengalami luka bakar
grade II A B derajat ringan sedang, dengan total luas luka bakar 16,5 24,5 %, yang
diakibatkan oleh air panas yang terkena di kulit (luka bakar termal). Terapi yang diberikan
sudah tepat yaitu dengan management nyeri berupa ibuprofen, profilaksis antibiotic berupa
cefotaxime (lalu cefadroxyl), pemberian ranitidine untuk mengatasi keluhan simptomatik
mual, dan perawatan luka dengan salep MEBO. Untuk resusitasi cairan selama perawatan
dinilai tepat dengan pemberian dextrose 5% yang masuk dalam cairan isotonik. Perhitungan
jumlah kebutuhan cairan bisa menggunakan rumus rumus yang tertera sesuai dengan
kehendak masing masing, namun untuk lebih spesifik dalam perhitungan balance cairan,
bisa menggunakan rumus pediatrics berupa rumus dari Shriners Cincinnati.
Saran perlu dilakukan koreksi kehilangan cairan berupa koreksi kadar natrium dan
kalium. Selain itu perlu dilakukan monitoring vital sign dan pemeriksaan laboratorium untuk
mengontrol keadaan pasien, dan mencegah pasien untuk jatuh kedalam keadaan shock
hipovolemik.