Anda di halaman 1dari 241

HUKUM GADAl SYARIAH

PERHATIAN
KECELAHAAN BAG1 ORANG-ORANGYANG CURANG
(QSAl-Muthaffifin Ayat 1)
Para pembajak, penyalur, penjual, pengedar, dan. PEMBELI BUKU
BAJAKAN adalah bersekongkol dalam alam perbuatan CLIRANG.
Kelompok genk ini sating membantu memberi peluang hancurnya
citra bangsa, 'merampas" dan 'memakan" hak orang lain dengan
cara yang bathil dan kotor. Kelompok 'makhluk" ini semua ikut
berdosa, hidup dan kehidupannya tidak akan diridhoi dan
dipqsempit rizkinya oleh ALLAH SWT.
(Pesan dari Penerbit ,&f&cr&

HUKUM GADAl SYARIAH

A D R ~ ~SUTEDI,
N
S.H, M.H.

Hak Cipta Dilindungi Undang-undang


Dilarang keras memperbanyak, memfotokopi sebagian
atau seluruh isi buku ini, serta memperjualbelikannya
tanpa mendapat izin tertulis dari Penerbit.

O 2011, Penerbit Alfabeta, Bandung


Ban03 (x + 230) 16 x 24.cm
Judul Buku
: HUKUM GADAl SYARIAH
Penulis
: Adrian Sutedi, S.H., M.H.
Penerbit
: ALFABETA, cv
Telp. (022) 200 8822 Fax. (022) 2020 373
Website: www.cvalfabeta.com
EmaCI: alfabetabdg@yahoo.co.id
Cetakan Kesatu
:,Desember 2011
ISBN
: 978-602-9328-18-9
Anggota lkatan Penerbit Indonesia (IKAPI)

KATA PENGANTAR

Adanya. pembangunan ekonomi yang berkesinambungan, para pelaku


ekonomi baik pemerintah maupun masyarakat, baik perseorangan maupun
badan hukum memer1u)can dana yang besar. Seiring dengan kegiatan
ekonomi tersebut, kebutuhan akan pendanaan pun akan semakin meningkat.
Kebutuhan pendanaan tersebut sebagian besar dapat dipenuhi melalui
kegiatan pinjam meminjam.
Kegiatan pinjam meminjam ini dilakukan oleh perseorangan atau
badan hokum dengan suatu lembaga, baik lembaga informal maupun formal.
Indonesia yang sebagian masyarakatnya masih berada di garis kemiskinan
cenderung memilih melakukan kegiatan pinjarn rneminjam kepada lembaga
informal seperti misalnya rentenir. Kecenderungan ini dilakukan karena
mudahnya persyaratan yang hams dipenuhi, mudah diakses dan dapat
dilakukan dengan waktu yang relatif singkat. Namun di balik kemudahan
tersebut, rentenir atau sejenisnya menekan masyarakat dengan tingginya
bunga.
Jika masyarakat mau melihat keadaan lembaga formal yang dapat
dipergunakan untuk melakukan pinjam meminjam, mungkin masyarakat
akan cenderung memilih lembaga fonnal tersebut untuk memenuhi kebutuhan dananya. Lembaga formal tersebut dibagi menjadi dua yaitu lembiaga
bank dan lembaga nonbank. Saat ini, masih terdapat kesan pada masyarakat
bahwa meminjam ke bank adalah suatu ha1 yang lebih rnembanggakan
dibandingkan dengan lembaga formal lain, padahal dalam prosesnya memerlukan waktu yang relatif lama dengan persyaratan yang cukup rumit. Padahal, pemerintah telah memfasilitasi masyarakat dengan suatu perusahaan
umum (perum) yang melakukan kegiatan pegadaian yaitu Perum Pegadaian
yang menawarkan akses yang lebih mudah, proses yang jauh lebih singkat
dan persyaratan yang relatif sederhana dan mempermudah masyarakat dalam
memenuhi kebutuhan dana.
Namun ternyata tidak hanya sampai di situ fasilitas yang diberikan
oleh pemerintah. Karena sebagian besar masyarakat Indonesia adalah
penganut agama Islam, maka Perum Pegadaian meluncurkan sebuah produk

gadai yang berbasiskan prinsip-prinsip syariah sehingga masyarakat mendapat beberapa keuntungan yaitu .cepat, praktis dan menentramkan. Cepat
karena hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk prosesnya, praktis karena
persyaratannya mudah, jangka waktu fleksibel dan terdapat kemudahan lain,
serta menentramkan karena sumber dana berasal dari sumber yang sesuai
dengan syariah begitu pun dengan proses gadai yang diberlakukan. Produk
yang dimaksud di atas adalah produk Gadai Syariah.
Namun, pertanyaan yang kini muncul adalah sejauh mana kesinambungan antara teori dan prinsip-prinsip syariah mengenai gadai syariah
dengan aplikasi yang diterapkan oleh Perum Pegadaian? Untuk menjawab
pertanyaan tersebut, maka perlu dianalisis dengan cari membandingkan
antara teori dan aplikasi di dunia riil.
Pegadaian adalah suah hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiu&ng oleh seorang yang mempunyai utang atau
oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang. Seseorang yang
berutang tersebut memberikan kekuasaan kepada orang yang berpiutang
untuk menggunakan barang bergerak yang telah diserahkan untuk melunasi
utang apabila pihak yang berutang tidak dapat melunasi kewajibannya pada
saat jatuh tempo.
Sedangkan gadai adalah suatu hak yang diperoleh d e h orang yang
berpiutang atas suatu' benda bergerak yang diberikan oleh orang yang berpiutang sebagai suatu jaminan dan barang tersebut bisa dijual jika orang
yang berpiutang tidak marnpu melunasi utangnya pada saat jatuh tempo.
Syariat pegadaian ini rnerup& salah satu bukti bahwa Islam tqlah
memiliki sistem perekonomian yang lengkap dan sempurna, sebagaimana
syariat Islam senantiasa memberikan jaminan ekonomis yang adil bagi
seluruh pihak yang terkait dalam setiap transaksi. Penerima piutang dapat
memenuhi kebutuhannya, dan pernberi piutang mendapat jaminan keamanan
bagi uangnya, selain mendapat pahala dari Allah atas pertolongannya kepada
orang lain.
Gadai dalam perspektif Islam disebut dengan istilah rahn, yaitu
suatu perjanjian untuk rnerfahan sesuatu barang sebagai jaminan atau tanggungan utang. Kata rahn secara etimologi berarti "tetap", "berlangsung" dan
"menahan". Maka, dari segi ba!!asa rahn bisa diartikan sebagai menahan
sesuatu dengan tetap. Ar-Rahn adalah rnenahan salah satu harta rnilik si

peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya rahn merupakan


suatu akad utang piutang dengaw menjadikan barang yang mempunyai nilai
harta menurut pandangan syara' sebagai jaminan, hingga orang yang bersangkutan boleh mengambil utang.
Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1990 dapat
dikatakan menjadi tonggak awal kebangkitan Pegadaian, satu ha1 yang perlu
dicermati bahwa PPlO menegaskan misi yang hams diemban oleh Pegadaian
untuk mencegah praktik riba, misi ini tidak berubah hingga terbitnya
Peraturan Pemerintah ~ h m o r103 Tahun 2000 yang dijadikan sebagai landasan kegiatan usaha Perum Pegadaian sampai sekkang.
Berkat Rahmat Allah Swt. ban setelah melalui kajian panjang, akhirnya disusunlah suatu konsep pendirian unit Layanan Gadai Syariah sebagai
langkah awal pembentukan divisi khusus yang menangani kegiatan usaha
syariah. Konsep operasi Pegadaian syariah mengacu pada sistem administrasi modem yaitu azas rasionalitas, efisiensi dan efektifitas yang diselaraskan dengan nilai Islam. Fungsi operasi Pegadaian Syariah itu sendiri
dijalankan oleh kantor-kantor Cabang Pegadaian ~ y a r i a hUnit
~ ' Layanan
Gadai Syariah XULGS) sebagai satu' unit organisasi di bawah biiaan Divisi
Usaha Lain Perurn? Pegadaian. ULGS ini merupakan unit bisnis mandiri yang
secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai konvensional.

'

La

Akad pegadaian ialah suatu akad yang berupa penahanan suatu


barang sebagai jarninan atas suatu piutang. Penahanan barang ini bertujuan
agar pemberi piutang merasa arnan atas haknya. Dengan demikian, barang
yang ditahan haruslah merniliki nilai jual, agar pemberi piutang dapat
menjual barang gadaian. apabila orang yang b e r u k g tidak rnampu melunasi
piutangnya pada tempo yang telah disepakati.
Bila akad pegadaian telah dihukumi sah menurut syariat, maka akan
akad pegadaian memiliki beberapa konsekuensi hukum. Berikut ini adalah
hukum-hukum yang harus kita indahkan bila kita telah menggadaikan suatu
barang
Hukum pertama: barang gadai adalah amanah Sebagaimana telah
diketahui dari penjabaran di ata's, bahwa gadai berfungsi sebagai jaminan
atas hak pernilik uang. Dengan demikian, status barang gadai selama berada
di tangan pemilik uang adalah sebagai arnanah yang. hams ia jaga sebaikbaiknya. Sebagai salah satu konsekuensi amanah adalah, bila terjadi kerusakan yang tidak disengaja dan tanpa ada kesalahan prosedur dalam
vii

!.

perawatan, maka pemilik uang tidak berkewajiban untuk mengganti


kerugian.
Hukum kedua: pemilik uang krhak untuk membatalkan pegadaian.
Akad pegadaian adalah salah satu akad yang mengikat salah satu pihak saja,
yaitu pihak orang yang berutang. Dengan dernikian, ia tidak dapat membatalkan akad pegadaian, melainkan atas kerelaan pemilik uang. Adapun
pemilik uang, maka ia merniliki wewenang sepenuhnya untuk membatalkan
akad, karena pegadaian disyariatkan untuk menjamin haknya. Oleh karena
itu, bila ia rela haknya terutang tanpa' ada jaminan, &a tidak mengapa.
Hukum ketiga: pemilik uang tidak dibenarkan untuk memanfaatkan
barang gadaian Sebelum dan setelah digadaikan, barang gadai adalah rnilik
orang yang berutang, sehingga pemanfaatannya menjadi milik pihak orang
yang berutang, sepenuhnya. Adapun pemilik uang, maka ia hanya berhak,
untuk menahan barang tersebut, sebagai jaminan atas uangnya yang dipinjam sebagai utahg oleh pegnilik barang. Dengan demikian, pemilik uang
tidak dibenarkan untuk memanfaatkan barang gadaian, baik dengan izin
pemilik barang a$u tanpa seizin darinya. Bila ja memanfaatkan tanpa izin,
maka itu nyata-nyata haram, dan bila ia memanfaatkan dengan izin pemilik
barang, maka itu adalah riba. Bahkan, banyak ulama menfatwakan bahwa
persyaratan tersebut menjadikan akad utang-piutang beserta pegadaiannya
batal dan tidak sah.
--,
Perusahaan Umum Pegadaian adalah iuatu badan usaha di Indonesia
yang secara resrni mempunyai izin untuk melaksanakan kegiatan lembaga
keuangan berupa pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana ke masyarakat
atas dasar hukum gadai.
Selain itu, Implementasi operasi Pegadaian Syariah hampir bermiripan dengan Pegadaian konvensional. Seperti halnya Pegadaian konvensional, Pegadaian Syariah juga menyalurkan uang pinjaman bengan jaminan
barang bergerak.

Penulis

viii

DAFTAR IS1

................................................................................
.............................................................................................

KATA PENGANTAR
DAFTAR IS1

BAB 1
TINJAUAN UMUM GADAI SYARIAH
A. Tinjauan Umum Tentang Gadai Konvensional Gadai ...........................
1. Pengertian Gadai................................................................................
2 . Sifat-sifat Gadai ...............................................................................
3. Obyek Gadai .....................................................................................
4. Terjadinya Gadai ..............................................................................
. .
5. Hak dan Kewajiban Pemegang Gadai...............................................
6. Hak dan Kewajiban Peniberi Gadai ..................................................
7 Hapusnya Gadai ...............................................................................
B. Urgensi Lembaga Gadai Syariah dalam Sistem Jaminan .......................
C. Ruang Lingkup Gadai Syariah (Rahn)...................................................
1. Pengertian Gadai Syariah (Rahn) .....................................................
2. Sifat Gadai Syariah ...........................................................................
3. Rukun Gadai Syariah ........................................................................
4. Hakikat dan Fungsi Gadai Syariah ...................................................
5. Syarat Sah Gadai Syariah .................................................................
6. Perlakuan Bunga dan Riba dalam Perjanjian Gadai .........................
7. Ketentuan Gadai dalam Islam .................;.........................................
8. Hak dan Kewajiban Para Pihak Gadai Syariah.................................
. D. Prospek Gadai Syariah ..........................................................................
E. ManfaaVKeuntungan Gadai Syairah ......................................................
F . Perbedaan dan Persamaan Gadai Konvensional dan Gadai Syariah ......

...................................................

BAB 2
PERAN LEMBAGA PEGADAIAN SYARIAH
A Sejarah Pegadaian ..................................................................................
B. Sejarah Berdirinya Pegadaian Syariah ...................................................
1. Dasar Hukum Berdirinya Pegadian Syariah .....................................
2 . Aspek Legal Pendirian Gadai Syariah .............;..............:.................
3. Tujuan Pendirian Pegadaian Syariah ................................................
4. Tugas Pokok Pegadaian Syariah .......................................................

........................................

C.
D.

5. Fungsi Pegadaian Syariah .................................................................


6. Struktur Organisasi Pegadaian Syariah.............................................
Penggunaan Dana Gadai Syariah ..........................................................
Beberapa Masalah Operasional Pegadaian Syariah ................................

BAB 3
PELAKSANAAN GADAI SYARIAH
OLEH LEMBAGA PEGADAIAN
A. Produk Unit Layanan pada Pegadaian Syariah ......................................
B. Barang Jaminan Gadai Syariah ..............................................i ...............
C. Pemanfaatan Dana Pinjaman ..........;........................................................
D. Akad yang Digunakan ............................................................................
E. Batas Waktu Pinjaman dan Tarif Simpanan...........................................
F . Pelelangan Barang Jaminan Gadai .Syariah ............................................
l a n Syariah .................
G. Mekanisme dan Prosedur ~ e n ~ o ~ e r a s i o n aGadai
H . Peranan Gadai Syariah dalam Pembangunan .........................................

.............................................................

BAB 4
PENYELESAIAN SENGKETA JAMINAN GADAI SYARLAH
A . Dasar Hukum Gadai Syariah ..................................................................
B. Perlindungan Hukum Bagi Para Pihak dalam Pelaksanaan
Gadai Syariah ........................................................................................
C. Pelelangan Benda Jaminan Gadai Syariah .............................................
D. Pelelangan Benda Jaminan Gadai pada Pegadaian Syariah ...................
E. Penyelesaian Sengketa Gadai Syariah Melalui Arbitrase Syariah..........
F. Penyelesaian Sengketa Gadai Syariah Melalui Litigasi Pengadilan.......

............

....................................................................................
.................................................................................

DAFI'AR PUSTAKA
TENTANG PENULIS

BAB 1

TINJAUAN UNPUM GADAI SYARIAH


A. Tinjauan Umum tentang Gadai Konvensional Gadai
I

1. Pengertian Gadai
Pegadaian menurut Susilo (1999) adalah suatu hak yang diperoleli
oleh seorang yang mcmpunyai piutang atas suatu barang bergerak. Barang
bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh seorang
yang mempunyai utang atau oleh orang lain atas nama orang yang mempunyai utang. Seorang yang berutang tersebut memberikan kekuasaan pada
orang lain yang berpiutang untuk' rnenggunakan barang bergerak yang telali
diserahkan untuk melunasi utang apabila pihak yang berutang tidak dapat
melunasi kewajibannya pada saat jatuh tempo.
Gadai. adalah suatu hak yalig diperoleh oleh orang yang orang yang
berpiutang atas suatu barang yang bergerak yang diserahkan oleh orang yang
berpiutang sebagai jaminan utangnya dan barang tersebut dapat dijual oleh
yang berpiutang bila yang berutang tidak dapat melunasi kewajibannya'pada
saat jatuh tempo. Sedangkan BUMN hanya berfungsi memberikan pembiayaan dalam bentuk penyaluran dana kredit kepada masyarakat atas dasalhukum gadai.
Gadai ini diatur dalam Buku I1 it el' 20 Pasal 1 150 sampai dengan
Pasal 1 161 KUHPerdata. Menurut Pasal 1 150 KUHPerdata pengertian dari
gadai adalah Suatu hak yang diperoleh seorang kreditor atas suatu barang
bergerak yang bertubuh maupun tidak bertubuh yang diberikan kepadanya
oleh debitor atau orang lain atas namanya untuk menjamin suatu utang, dan
yang memberikan kewenangan kepada kreditor untuk mendapatkan pelunasan dari barang tersebut lebih dahulu daripada kreditor-kreditor lainnya
terkecuali biaya-biayil i~ntuknielelang barang tersebut dan biaya yang telah
dikeluarkan untuk niemelihara benda itu, biaya-biaya mana hal-us didahulukan.
Dari definisi gadai tersebut terkandung adanya beberapa unsur
pokok, yaitu:
1. Gadai lahir karena perjanjian penyerahan kekuasaan atas barang gadai
kepada kreditor pemegang gadai;
Tinjauan Umum Gadai Syariah

2. Penyerahan itu dapatl dilakukan oleh debitor atau orang lain atas nama
debitor;
3. Barang yang menjadi obyek gadai hanya barang bergerak, baik bertubuh
maupun tidak bertubuh;
4. Kreditor pemegang gadai berhak untuk mengambil pelunasan dari barang
gadai lebih dahulu daripada kreditor-kreditor lainnya.'
2. Sifat-sifat Gadai
a. Gadai adalah Hak Kebendaan
'

'

'

Dalam Pasal 1150 KlJHPerdata tidak disebutkan sifat ini, namun demikian
sifat kebendaan ini dapat diketahui dari Pasal 1152 ayat (3) KUHPerdata
yang mengatakan bahwa: "Pemegang gadai mempunyai hak revindikasi dari
Pasal 1977 ayat (2) KUHPerdata apabila barang gadai hilang atau dicuri."
Oleh karena hak gadai mengandung hak revindikasi, maka hak gadai
merupakan hak kebendaan sebdb revindikasi merupakan ciri khas dari hak
kebendaan.
Hak kebendaan dari hak gadai bukanlah hak untuk menikmati suatu
benda seperti eigendom, hak bezit, hak pakai dan sebagainya. Memang
benda gadai harus dis'erahkan kepada kreditor tetapi tidak untuk dinikmati,
melainkan untuk menjamin piutangnya dengan mengambil, penggantian dari
benda tersebut guna membayar piutangnya.2
b. Hak Gadai BersifAt Accessoir
Hak gadai hanya merupakan tambahan saja dari perjanjian pokoknya, yalig
berupa perjanjian pinjam uang. Sehingga boleh dikatakan bahwa seseorang
akan mempunyai hak gadai apabila ia mempunyai piutang, dan tidak mungkin seseorang dapat mempunyai hak gadai tanpa mempunyai piutang. Jadi
hak gadai merupakan hak tambahan atau accessoir, yang ada dan tidaknya
tergantung dari ada dan tidaknya piutang yang merupakan perjanjian pokoknya. Dengan demikian hak gadai aka11hapus jika perjanjian pokoknya hapus.
Beralihnya piutang membawa serta beralihnya hak gadai, hak gadai
berpindah kepada orang lain bersama-sama dengan piutang yang dijamin
dengan hak gadai tersebut, sehingga hak gadai tidak mempunyai kedudukan
yang berdiri sendiri melainkan accessoir terhadap perjanjian pokoknya."

'
'
2

Purwahid Patrik dan Kashadi, Hukum Jaminan, Fakultas Hukurn Undip, 2003. hal. 13
Purwahid Patrik dan Kashadi, Hukum Jaminan, Edisi Revisi dengan UUHT. Fakultas Hukurn Undip.
2005, hal. 13-14
Purwahid Patrik dan Kashadi. Hukum Jaminun, Edisi Revisi dengan UUHT. Fakultas Hukurn Undip.
2005, hal. 14

Hukum Godoi Syariah

c. Hak gadai tidak dapat dibagi-bagi

Karena hak gadai tidak dapat dibagbbagi, maka dengan dibayarnya sebagian
utang tidak akan membebaskan sebagian dari benda gadai. Hak gadai tetap
membebani benda gadai secara keseluruhan.
Dalam Pasal 1 160 KUHPerdata disebutkan bahwa: "Tak dapatnya
hak gadai dan bagi-bagi dalam ha1 kreditor, atau debiti~rmeninggal dunia
dengan meninggalkan beberapa ahli waris." Ketentuan ini tidak merupakan
ketentuan hukum memaksa, sehingga para pihak dapat menentukan
sebaliknya atau dengan perkataan lain sifat tidak dapat dibagi-bagi dalam
gadai ini dapat disimpangi apabila telah diperjanjikati lebih dahuIu oleh para
pihak.
d. Hak gadai adalah hak yang didahulukan
Hak gadai adalah hak yang didahulukan. Ini dapat diketahui dari ketentuan
Pasal 1 133 dan 11 50 KUHPerdata. Karena piutang dengan hak gadai mempunyai hak untuk didahulukan daripada piutang-piutang lainnya, maka
kreditor pemegang gadai mempunyai hak mendahulu (droit de preference).
e. Benda yang menjadi obyek gadai adalah benda bergerak baik yang
bertubuh maupun tidak bertubuh
f. Hak gadai adalah hak yang kuat dan mudah penyitaannya4
Menurut Pasat 1134 ayat (2) KUHPerdata dinyatakan bahwa "Hak gadai dan
hipotik lebih diutamakan daripada privilege, kecuali jika undang-undang
menentukan sebaliknya". Dari bunyi pasal tersebut jelas bahwa hak gadai
mempunyai kedbdukan yang kuat.
Di samping itu kreditor pemegang gadai adalah termasuk kreditor
separatis. Selaku separatis, pemegang gadai tidak terpengaruh oleh adanya
kepailitan si debitor.
Kemudian apabila si debitor wanprestasi, pemegang gadai dapat dengan
mudah menjual benda gadai tanpa memerlukan perantaraan hakim, asalkan
penjualan benda gadai dilakukan di muka umum dengan lelang dan menurut
kebiasaan setempat dan harus memberitahukan secara tertulis lebih dahulu
akan maksud-maksud yang akan dilakukan oleh pemegang gadai apabila
tidak ditebus (Pasal 1155 juncto 1158 ayat (2) KUHPerdata). Jadi di sini
acara penyitaan Iewat juru sita dengan ketentuan-ketentuan menurut Hukum
Acara Perdata tidak berlaku bagi gadai.

Ibid, hal. 15-16

Tinjauan Urnum Gadai Syariah

3. Obyek Gadai

Obyek gadai adalah segala benda bergerak, baik yang bertubuh ~naupun
tidak bertubuh. Hal ini dapat dilihat dalam Pasal 1 150juncties 1 153 ayat (I),
1 152 bis, dan 1153 KUHPerdata. Namun benda bergerak yang tidak dapat
dipindahtangankan tidak dapat digadaikan.
Dalam Pasal 1152 ayat (1) KUHPerdata disebutkan tentang hak
gadai atas surat-surat bawa dan seterusnya, demikian juga dalam Pasal 1153
bis KUHPerdata dikatakan bahwa untuk meletakkan hak gadai atas suratsurat tunjuk di per1ukan endorsemen dan penyerahan suratnya. Penyebutan
untuk surat-surat ini dapat nlenimbulkan kesan yang keliru mengenai obyek
gadai adalah piutang-piutng dibuktilan dengan surat-surat t e r s e b ~ ~ t . ~

4. Terjadinya Gadai

..

Untuk terjadinya gadai harus dipenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan sesuai dengan jenis benda yang digadaikan Adapun cara-cara terjadi~iya
gadai dalah sebagai berikut:
1. Cara te&dinya gadai pada benda bergerak bertubuh
a. Perjanjian gadai
. -- -d3alcim ha1 ini antara debitor dengan kreditor mengadakan perjanjian
pinjam uang (kredit) dengan janji sanggup memberikan benda bergerak sebagai jaminan gadai atau perjanjian untuk memberikan hak
gadai (perjanjian gadai).
Perjanjian ini bersifat konsensual dan obligatoir. Dalam Pasal 1 151
KUHPerdata disebutkan bahwa "Perjanj ian gadai dapat d ibuktikan
dengan segala alat yang diperbolehkan bagi pembuktian perjanjian
pokok". Dari ketentuan ini dapat disimpulkan bahwa bentuk perjanjian
gadai tidak terikat pada formalitas tertentu (bentuknya bebas),
sehingga dapat dibuat secara tertulis maupun isa an.^
b. Penyerahan benda gadai
Dalam Pasal 1 152 ayat (2) KUHPerdata disebutkan: "Tidak ada hak
gadai atas benda yang dibiarkan tetap dalam kekuasaan debitor atas
kemauan kreditor." Dengan demikian hak gadai terjadi dengan
dibawanya barang gadai ke luar dari kekuasaan di debitor pemberi
gadai. Syarat bahwa. barang gadai harus dibawa keluar dari kekuasaan

Ibid, hal, 17
~ a r t i n Muljadi
i
dan Gunawan Widjaja, Hak Istimewa, Gadai, Dan Hiporek. Prenada Media, Jakarta,
2005, hal. hal. 74-75

Hukum Gadai Syariah

si pemberi gadai ini merupakan syarat hbezitstelling" Inbezitstelling


adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam gadai.
Barang dikatakan dibawa ke luar dan kekuasaan pemberi gadai jika
barang gadai diserahkan oleh pemberi gadai kepada kreditor atau
pihak ketiga (sebagai pemegang gadai) yang disetujui oleh kreditor.
Mengingat benda gadai harus dibawa keluar dari kekuasaan pemberi
gadai maka diperlukan suatu penyerahan. Penyerahan benda gadai
dapat dilakukan secara nyata, simbolis, traditto brevt manu ataupun
traditio longa manu. Panyerahan secara constituturn possessorium
tidak menimbulkan hak gadai karena tidak memenuhi syarat
irzbezitstelling.
2. Cara terjadinya gadai pada piutang atas bawa (atas tunjuk atau
aantoonder)
a. Perjanjian gadai
Antara debitor dengan kreditor dibuat perjanjian untuk memberikan
hak gadai. Perjanjian ini bersifat konsensual, obligator dan bentuknya
bebas.
b. Penyerahan surat buktinya
Pasal 1 152 ayat (1) KUHPerdata mengatakan bahwa "Gadai surat atas
bawa terjadi, dengan menyerahkan surat itu ke dalarn tangan pemegang gadai atau pihak ketiga yang disetujui kedua belah pihak." Perlu
diketahui bahwa piutang atas bawa (atas tunjuk) selalu ada surat buktinya, surat bukti ini mewakili piutang. Surat (piutang) atas bawa (atas
tunjuk) adalah surat yang dibuat debitor, dimana diterangkan bahwa ia
berutang sejumlah uang tertentu kepada pemegang surat, surat mana
diserahkannya ke dalam tangan pemegang. Pemegang berhak menagih
pembayaran dari debitor, dengan mengembalikan surat atas bawa itu
kepada debitor.
Contoh gadai suratlpiutang atas bawa (atas tunjuk) misalnya sertifikat
deposito. Menurut Bank Indonesia sertifikat deposito adalah bukti
- surat utang yang dikeluarkan oleh bank atas sejumlah uang yang
dipercayakan kepadanya untuk jangka waktu. tertentu. Sertifikat
deposito dikeluarkan atas bawa, dapat diperjualbelikan sewaktu-waktu
dan dijaminkan untuk s u m kredit dari bank.
-

Bank Dagang Negara melakukan pengikatan gadai dengan menahan


asli sertifikat deposito yang dijaminkan sampai fasilitas kreditnya
lunas. Dalam hal ini tidak diperlukan surat kuasa, namuh untuk

Btjmma h u m L d a i Syariah

membuktikan bahwa bank menahan sertifikat deposit0 tersebut skcara


sah, maka nasabah harus menandatangani "Surat Kuasa Pencairan
~e~osito"?
Sedang contoh lain piutang atas bawa adalah obligasi, saham tidak
atas nama.
3. Cara terjadinya gadai pada piutang atas order (aanorder)
a. Perjanjian gadai
Antara kreditor dan debitor membuat perjanjian gadai yang bersifat
konsensual, obligator dan bentuknya bebas.
b. Adanya endosemen yang diikuti dengan penyerahan suratnya Pasal
1152 bis KUHPerdata. menyebutkan bahwa: "Untuk mengadakan hak
gadai piutang atas tunjuk, diperlukan adanya endosemen pada surat
utangnya dan diserahkannya surat utang kepada pemegang gadai."
Piutang atas tunjuk ini juga selalu ada surat buktinya, di mana surat
bukti ini mewakili piutang. Endosemen adalah pernyataan penyerahan
piutang yang ditandatangani kreditor (endosen) yang bertindak
sebagai pemberi gadai dan hams memuat nama pemegang gadai
(geendmseerde). Bentuk gadai piutang atas order misalnya wesel.
Wesel adalah surat yang mengandung perintah dari penerbit (trekker)
kepada tersangkut (betraWren) untuk membayar sejumlah uang kepada
pemegang (houder). Hak yang timbul dari wesel itu, oleh pemegang
wesel dapat diletakkan sebagai jaminan kredit kepada pemberi kredit.
4. Cara terjadinya gadai pada piutang atas nama (opnaam)
a. Perjanjian kredit
Debitor dengan kreditor membuat perjanjian gadai. Perjanjian ini
bersifat konsensual, obligator dan bentuknya bebas.
b. Adanya pemberitahuan kepada debitor dari piutang yang digadaikan.
Pasal 1 153 KUHPerdata menyebutkan bahwa: "Hak gadai piutang atas
nama diadakan dengan memberitahukan akan penggadaiannya
(perjanjian gadainya) kepada debitor."
Dalam memberitahukan ini debitor dapat meminta bukti tertulis
perihal penggadaiannya dan persetujuan dari pemberi gadai. Setelah
itu debitor hanya dapat membayar utangnya kepada pemegang gadai.

'

Mariam Darus Badrul'iaman Bab-bab fentang Credietverband, gadai danfidusia, Alumni, Bandung.
hal. 97

HukurnGadai Syariah

Bentuk pemberitahuan ini dapat dilakukan baik secara terteptu maupun secara lisan.
Pemberitahuan dengan perantaraan j uru sita perlu di lakukan
apabila si debitor tidak bersedia memberikan keterangan tertulis
tentang persetujuan pemberian gadai itu.
Dalam gadai piutang atas nama tersai~gkuttiga pihak seperti
penyerahan piutang atas nama (cessie). Gadai piutang atas nama juga
dinamakan cessie,, karena di sini yang digadaikan adalah piutang atas
nama, sedang penyerahan piutang atas nama di lakukan dengan cessie.'
5. Hak dan Kewajiban Pemegang Gadai
Selama berlangsungnya gadai, pemegang gadai mempunydi beberapa hak
dan kewajiban yang harus dipenuhi, baik pada gadai benda bergerak bertubuh rnaupun pada gadai atas piutang (benda bergerak tidak bertubuh).
Hak-hak pemegang gadai adalah sebagai berikut:
a. Hak untuk menjual benda gadai atas kekuasaan sendiri atau mengeksekusi benda gadai (parate executie)
Dalam Pasal 1155 KUH Perdata disebutkan bahwa: " ~ p a b i l aoleh para
pihak tidak telah diperjanjikan lain, jika si berutang atau si pemberi gadai
wanprestasi, maka si kreditor berhak menjual barang gadai dengan
maksud untuk mengambil pelunasan piutang pokok, bunga dan biaya dari
pendapatan penjualan tersebut."
b. Hak untuk menahan benda gadai (hak retentie)
Pasal 1 159 ayat (1) KUHPerdata menyatakan Dalam ha1 pemegang gadai
tidak menyalahgunakan benda gadai, maka si berutang tidak berkuasa
untuk menuntut pengembaliannya, sebelum ia membayar sepenuhnya
baik utang pokok, maupun bunga dan biaya utangnya yang untuk menjaminnya barang gadai telah diberikai, beserta segala biaya yang telah
dikeluarkan untuk menyelamatkan barang gadai.
Ketentuan ini memberi wewenang kepada pemegang gadai untuk
menahan benda gadai sela~nadebitor belum melunasi utangnya.
c. Hak Kompensasi
Hak ini erat hubungannya dengan utang kedua sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 1159 ayat (2) KUHPerdata apabila guna melunasi piutang
pertama si kreditor telah mengeksekusi benda gadai, maka dari hasil

Purwahid Patrik dan Kashadi, Op. Cir , hat. 20-21

Tinjouon Umum Gadoi Syoriah

7:

pendapatan lelang kreditor dapat ~nengambillebih d a h ~ ~sejiumlah


l~r
uang
yang sama banyaknya dengan piutang pertama yang dijarnin dengan
gadai. Jika ada sisa, maka diserahkan kepada debitor. Apabila sisa tersebut tidak diserahkan kepada debitor, maka kreditor berutang kepada
debitor. Dalam Pasal 1425 disebutkan bahwa: ".lika dua orang saling
berutang satu kepada yang lain, maka terjadilah antara ~nerekas ~ l a t ~ ~
perjumpaan utang, dengan rnana utang-utang antara kedua orang tersebut
dihapuskan." Berdasarkan ketentuan tersebut, maka pemegang gadai
dapat mengkompensasikan piutangnya yang kedua dengan utangnya (sisa
penjualan lelang benda gadai) kepada debitor.
d. Hak untuk mendapatkan ganti rugi atas biaya uang telah dikeluarkan
untuk menyelamatkan benda
Pasal 1157 ayat (2) KUHPerdata menentukan bahwa yang harus diganti
oleh debitor adalah biaya-biaya yang berguna dan perlu yang telah dikeluarkan guna keselamatan barang gadai. Selama biaya-biaya itu belum
dibayar, maka si kreditor tidak diwajibkan untuk mengembalikan barang
gadai kepada debitor. Di sini kreditor mempunyai hak retensi juga.
e. Hak untuk menjual dalam kepailitan debitor
Jika debitor pailit, maka kreditor pemegang gadai dapat melaksanakan
hak-haknya, seolah-olah tidak terjadi kepailitan. Dengan demikian llak
kreditor untuk melakukan parade eksekusi berkurang dengan terjadinya
kepailitan debitor. Hak untuk menjual barang gadai harus dilakukan
dalam jangka waktu 2 (dua) bulan setelah debitor dinyatakan pailit,
kecuali jika. tenggang waktu tersebut diperpanjang oleh hakim.
f. Hak preferensi
Kreditor pemegang gadai mempunyai hak untuk didahulukan dala~n
pelunasan piutangnya daripada kreditor-kreditor yang lain.
g. Atasiziti hakim tetap mengi~asaibenda gadai
Pemegang gadai dapat menuntut agar benda gadai akan tetap pada pernegang gadai untuk suatu jumlah yang akan ditetapkan dalam vonis hingga
sebesar utangnya beserta bunga dan biaya (Pasal 1156 ayat (1)
KUHPerdata). Hal ini berarti bahwa barang gadai dibeli oleh kreditor
dengan harga pantas menurut pendapat hakim.
h. Hak untuk menjual benda gadai dengan perantaraan hakim Penjualan
henda gadai untuk mengambil pelunasan piutang dapat juga terjadi jika si
berpiutang menuntut di muka hakim supaya barang gadai dijual menurut
cara-cara yang ditentukan oleh hakim untuk melunasi utang pokok

Hukum Godoi Syorioh

beserta bunga dan biaya. Hal ini biasanya terjadi jika benda gadai beri~pa
benda antik.
i. Hak untuk menerima bunga piutang gadai
Hak ini berdasarkan Pasal 1158 KUHPerdata yang menentukan bahwa:
"Pemegang gadai dari suatu piutang yang menghasilkan bunga, berhak
menerima bunga itu, dengan kewajiban memperhitungkan dengan bunga
piutang yang harus dibayarkan kepadanya."

j. Hak untuk menagih piutang gadai


Hak ini dilakukan dengan cara pemberian kuasa yang tidak dapat dicabut
kembali dari pemberi gadai kepada pemegang gadai ~ ~ n t umenagih
k
dan
menerima pembayaran dari debitor yang utang-utangnya digadaikan.
Pemberian kuasa ini dicantumkan dalam perjanj'ian gadai.
Adapun kewajiban-kewajiban dari pemegang gadai adalah sebagai
berikut:
a. Kewajiban memberitahukan kepada pemberi gadai jika barang gadai
dijual.
Pemberitahuan dengan telegraf atau surat tercatat berlaku sebagai
pemberitahuan yang sah (Pasal 1156 ayat (3) KUHPerdata)
b. Kewajiban memelihara benda gadai
Kewajiban memelihara benda gadai ini dapat disimpulkan dari bunyi
Pasal 1 157 ayat (I) dan Pasal 1 159 ayat ( I ) KUHPerdata.
Dalam Pasal 1 157 ayat (1) KUHPerdata ditentukan bahwa "Pemegang
gadai bertanggung jawab atas hilangnya atau merosotnya barang gadai,
sekedar itu telah terjadi karena kelalaiannya."
Begitu juga pemegang gadai tidak boleh menyalahgunakan benda gadai
(Pasal 1 159 ayat ( I ) KUHPerdata).
c. Kewajiban untuk memberikan perhitungan antara hasil penjualan barang
gadai dengan ebsarnya piutang kepada pemberi gadai.
d. Kewajiban untuk mengembali kan barang gadai
Kewajiban ini dapat diketahui dari bunyi Pasal
KUHPerdata, yaitu apabila:

1159 ayat ( 1 )

1) Kreditor telah menyalahgunakan barang gadai;


2) Debitor telah melunasi sepenuhnya, baik utang pokok, bunga dan
biaya utangnya serta biaya untuk menyelamatkan barang gadai
e. Kewajiban untuk memperhitungkan hasil penagihan bunga pilltang gadai
dengan besarnya bunga piutangnya kepada debitor.
Tinjauan Umum Gadai Syariah

f. Kewajiban untuk mengembalikan sisa hasil penagihan piutang gadai


kepada pemberi gadai.

6. Hak dan Kewajiban Pemberi Gadai


Hak-hak pemberi gadai:
a. Hak untuk menerima sisa hasil pendapatan penjualan benda gadai setelah
dikurangi dengan piutang pokok, bunga dan biaya dari pemegang gadai
b. Hak untuk menerima penggantian benda gadai apabila benda gadai telah
hilang dari kekuasaan si pemegang gadai.
Kewajiban-kewaj iban pemberi gadai:
i
benda gadai dari bencana alamlforce majeure di dalam
a. ~ e m keselamatan
praktik sering pemberi gadai diwajibkan untuk mengasuransikan benda
gadai. Kewajiban ini memang efisien untuk kredit dalam jumlah besar.
b. Apabila yang digadaikan adalah piutang, maka selama piutang itu
digadaikan pemberi gadai tidak boleh melakukan penagihan atau menerima pembayaran dari debitornya (debitor piutang gadai). Jika debitor
piu-tang gadai telah membayar utangnya kepada pemberi gadai, rnaka
pembayaran itu tidak sah dan kewajibannya untuk membayar kepada
pemegang gadai tetap m ~ ~ i k a t . ~
7. Hapusnya Gadai

Hak Gadai menjadi hapus karena beberapa alasan:


a. Karena hapusnya perikatan pokok
Hak gadai adalah hak accessoir, maka dengan hapusnya perikatan pokok
membawa serta hapusnya hak gadai.
b. Karena benda gadai keluar dari kekuasaan pemegang gadai
Pasal 1152 ayat (3) KUHPerdata menentukan bahwa: "Hak gadai hapus
apabila barang gadai keluar dari kebiasaan si pemegang gadai".
Namun demikian hak gadai tidak menjadi hapus apabila pemegang gadai
kehilangan kekuasaan atas barang gadai tidak dengan suka rela (karena
hilang atau dicuri). Dalam ha1 ini jika ia memperoleh kembali barang
gadai tersebut, maka hak gadai dianggap tidak pernah hilang.

c. Karena musnahnya benda gadai


Tidak adanya obyek gadai mengakibatkan tidak adanya hak kebendaan
yang semula membebani benda gadai, yaitu hak gadai.

'

10

Purwahid Patrik dan Kashadj, Op. Cit, hal. 29

Hukum Godai Syariah

d. Karena penyalahgunaan benda gadai Pasal, 1 159 ayat ( I ) KUHPerdata


menyebutkan bahwa: "Apabila kreditor menyalahgunakan benda gadai,
pemberi gadai berhak menuntut pengembalian benda gadai."
Dengan dituntutnya kembali benda gadai oleh petnberi gadai Inaka hak
gada yang dipunyai pemegang gadai menjadi hapus, apabila pemegang
gadai menyalahgunakan benda gadai.

5. Karena pelaksanaan benda gadai


Dengan ditaksanakannya eksekusi terhadap benda gadai, maka benda
gadai berpindah ke tangan orang lain. Oleh karena itu Inaka hak gadai
menjadi hapus.
6. Karena kreditor melepaskan benda gadai secara sukarela
Pasal 1152 ayat (2) KUHPerdata menyebutkan bahwa. "Tak ada hak
gadai apabila barang gadai kembali dalam kekuasaan pemberi gadai."
7. Karena percampuran
Percarhpuran terjadi apabila piutang yang dijamin dengan hak gadai dan
benda gadai berada dalam tangan satu orang. Dalam ha1 ini terjadi
percampuran, maka hak gadai menjadi hapus. Orang tidak lnungkin
mempunyai hak gadai atas benda miliknya sendiri.I0
B. Urgensi Lembaga Gadai Syariah dalam Sistem Jaminan
Telah dikemukakan diatas bahwa sejarah Pegadaian dimulai pada saat
Pemerintah Belanda (VOC) mendirikan Bank Van Leening yaitu lembaga
keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama
kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746. Pegadaian sudah
beberapa kali berubah status, yaitu sebagai Perusahaan Negara (PN) sejak I
Januari 196 1 kemudian berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1969
menjadi Perusahaan Jawatan (PERJAN) selanjutnya berdasarkan Perattlran
Pemerintah No. 10 Tahun 1990, yang diperbaharui dengan Peraturan
Pemerintah No. 103 Tahun 2000, berubah lagi menjadi Perusahaan urnurn."
Dalam perkembangannya kemudian Perum Pegadaian mengembangkan
gadai dengan sistem syariah. Bagi Perum Pegadaian, bisnis syariah
merupakan peluang yang tidak bisa dilewatkan begitu saja. Apalagi, mayuritas warga Indonesia yang memanfaatkan jasa pegadaian adalah Muslim.
Sistem gadai syariah diberlakukan mulai Januari 2003 lalu. Diharapkan,
I"
I'

J. Satrio. Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, Citra Aditya Bakti. Bandung, 2002, ha1.132
Wikipedia Indonesia.com

Tinjouan Umum Gadai Syariah

11

sistern ini akan rnernberikan ketenangan bagi ~nasyarakatdalam rnelnperoleh


pinjarnan tanpa bunga dan halal.
Ini berarti.ratusan tahun sudah ekonorni dunia di dolninasi oleh
sistern bunga. Harnpir semua perjanjian di bidang ekonorni dikaitkan dengan
bunga. Banyak negara yang telah dapat rnencapai kernakrnurannya dengan
sistern bunga ini di atas kerniskinan negara lain sehingga terus-rnenerus terjadi kesenjangan. Pengalarnan di bawah dominasi perekonomian dengan
sistem bunga selama ratusan tahun membuktikan ketidakmarnpuannya untuk
menjembatani kesenjangan ini. Di dunia, diantara negara,rnaju dan negara
berkembang kesenjangan itu semakin lebar sedang di dalan~negara berkernbang, kesenjangan itu 'pun sernakin dalam.
Dalam kaitan dengan kesenjangan ekonomi yang terjadi, para ahli
ekonomi tidak melihat sistem bunga sebagai biang keladinya, karena luput
dari pengarnatan, Pemerintah di negara manapun dibikin repot dengan ulah
sistem bunga yang build-in concept nya rnernang bersifat kapitalistik dan
diskriminalistik. Karena ketidaksadaran akan besarnya kelernahan sistern
bunga, Pemerintah di negara-negara itu 'rnenjadi si buk menarnbalnya dengan
berbagai kebijaksanaan dan peraturan yang rnemaksa para pelaku ekonomi
yang diuntungkan sistem bunga agar menaruh peduli kepada pelaku ekonorni
yang dirugikan sistem bunga itu. Tetapi para pelaku ekonorni yang diuntungkan sistern bunga dan telah menjadi konglornerat itu kebanyakan lebih
rnerasakannya sebagai paksaan daripada kewajiban, sebaliknya para penyandang gelar ekonorni lemah (PEGEL) korban sistem bunga lebih rnerasakannya sebagai belas kasihan dari pada hak. Dan pemasaran tapi sayangnya
sistem bunga yang berlaku secara otomatis rnenjaga jarak tetap diantara
keduanya.
Namun di Indonesia, kita patut bersyukur bahwa sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 dengan sernua ketentuan
pelaksanaannya baik berupa Peraturan Pemerintah, Keputusali Menteri
Keuangan, dan Edaran Bank Indonesia, Pemerintah telah rnernberi peluang
berdirinya lembaga-lembaga keuangan syariah berdasarkan sistern bagi
hasil.
Sebagian umat Islam di Indonesia yang rnarnpil rnensyukuri nik~nat
Allah itu rnulai rnernanfaatkan peluang tersebut dengan rnendukung berdirinya bank syariah, asuransi syariah, dan reksadana syariah dalarn bentuk
rnenjadi pernegang saham, menjadi penabung dan nasabah, rnenjadi
pernegang polis, rnenjadi investor, dan sebagainya. Lebih dari itu banyak
pula yang secara kreatif mengernbangkan ide untuk berdirinya lernbaga12

HukumGodoi Syorioh

lembaga keuangan syariah bukan bank lainnya seperti: modal ventu~*a,


leasing, dan pegadaian.
Aktivitas gadai sekarang ini, sudah jauh berbeda dengan jaman
Rasulullah Saw. Sebab dewasa ini aktivitas gadai sudah tidak lagi bersifat
.
perorangan, namun sudah berupa lembaga keuangan formal ~ a n gtelah
diakui oleh pemerintah. Mengenai fungsi dari lembaga pegadaian tersebut
tentu sudah sangat jauh berbeda, yaitu bukan lagi bersifat sosial, namun
sudah bersifat komersial. Pada suatu kenyataan, bahwa dengan fungsi gadai
tersebut tentu akan berakibat pula pada perubahan sistem operasionalnya.
Artinya dalam aktivitasnya lembaga tersebut harus memperoleh pendapatan
guna mengganti biaya-biaya yang telah dikeluarkannya. Untuk menutupi
biaya-biaya yang telah dikeluarkan, maka lembaga tersebut mewajibkan
menambahkan sejumlah uang atau prosentase tertentu dari pokok utang pada
waktu membayar utang kepada penggadai sebagai imbalan jasa. Hal ini lebih
lazim disebut dengan "bunga gadai". Praktik semacam ini jelas akan sangat
memberatkan dan merugikan pihak penggadai. Sebab pembayaran bunga
gadai tersebut harus dilakukan setiap 15 hari sekali, dan setiap kali terjadi
keterlambatan satu hari bunga tersebut akan naik menjadi dua kali lipat."
Islani membenarkan adanya praktik pegadaian yang d i lakukan
dengan cara-cara dan tujuan yang tidak merugikan orang lain. Pegadaian
dibolehkan dengan syarat rukun yang bebas dari unsur-unsur yang dilarang
dan merusak perjanjian gadai. Pegadaian yang berlaku saat ini di masyarakat, masih terdapat satu di antara banyak unsur yang dilarang oleh syuru ',
yaitu dalam upaya meraih keuntungan (laba) pegadaian tersebut memungut
sewa modal atau lebih lazim disebut dengan bunga. Lahirnya pegadaian
syariah diharapkan dapat menjawab kebutuhan masyarakat beragama Islam
terlebih lagi dengan diterbitkannya fatwa MU1 tentang pengharaman bunga.
Meski didirikan dengan landasan syariah Islam, pegadaian syariah tidak
secara eksklusif diperuntukkan untuk masyarakat yang beragama Islam saja,
dengan konsep ini diharapkan pegadaian syariah dapat menjadi alternatif
utama bagi masyarakat yang ingin memperoleh dana segar secara aman dan
cepat serta memberi berkah bagi keseluru han umat.
Perkembangan perekonomian dan dunia bisnis akan selalu diikuti
oleh perkembangan kebutu han akan kredit. dan pe~nberianfasi l itas kredil
yang selalu memdrlukan jaminan, ha1 ini demi keamanan pe~nberiankredil

Ibid, hal. 3 1.

Tinjouan h u m Godoi Syoriah

13

tersebut dalam arti piutang yang meminjamkan akan terjamin dengan adanya
jaminan. Dalam konteks inilah letak pentingnya lembaga jaminan itu.
Bentuk lembaga jaminan, sebagian besar mempunyai ciri-ciri internasional yang dikenal hampir di semua negara dan perundangundangan
modern, yaitu bersifat menunjang perkembangan ekonomi dan perkreditan
serta memenuhi kebutuhan masyarakat akan fasilitas modal.
Lembaga jaminan, tergolong bidang hukum yang bersifat netral,
karena tidak mempunyai hubungan yang erat dengan kehidupan spiritual dan
budaya bangsa. Sehingga terhadap bidang hukum yang demikian, tidak ada
keberatannya untuk diatur dengan segera. Karena'jika dilihat, peraturanperaturan hukum yang bertalian d-engan lembaga jaminan tersebut d i
Indonesia pada umurnnya sudah usang. Sedikit sekali peraturan yang Inengalarni perubahan sejak pembentukannya sebagaimana dikenal dalam Kitab
Undang-Undang Hukum Perdata dan peraturan-peraturan khusus lainnya,
misalnya hipotik dan crediet verband.
Gadai merupakan lembaga jaminan yang telah sangat dikenal dan
dalam kehidupan masyarakat, dalam upayanya untuk mendapatkan dana
guna berbagai kebutuhan. Pegadaian adalah sebuah BUMN di lndonesia
yang usaha intinya adalah bidang jasa penyaluran kreditlpinjaman kepada
masyarakat atas dasar hukum gadai.

C. Ruang Lingkup Gadai Syariah (Rahn)


1.

Pengertian Gadai Syariah (Rahn)

Dalam fiqh muamalah dikenal dengan kata pinjaman dengan jaminan yang
\
disebut ar-rahn, yaitu menyimpan suatu barang sebagai tanggungan utang.
Ar-rahn (gadai) menurut bahasa bkrarti al-tsubut dan al-hubs yaitu
penetapan dan penahanan. Dan ada pula yang menjelaskan bahwa ruhn
adalah terkurung atau terjerat, di samping it11 rahn diartikan pula secara
bahasa dengan tetap, kekal, dan jaminan.I3

Menurut Zainuddin dan Jamhari, gadai adalah menyerahkan benda


berharga dari seseorang kepada orang lain sebagai penguat atau tanggungan
dalam utang piutang. Borg adalah benda yang dijadikan jaminan. Benda
sebagai borg ini akan diambil kembali setelah utangnya terbayar. Jika waktu
pembayaran telah ditentukan telah tiba dan utang belum dibayar, maka borg

'
14

H. Hendi Suhendi, F~qhMuamalah (Cet I, Jakarta PT. Raja Grafindo Persada. 2002). ha1 105

Hukum Gadai Syarlah

ini digunakan sebagai ganti yaiti~dengall cara dijual sebagai bayaran dan jika
ada kelebihan dikembalikan kepada orang yang berutang.I4
Menurut istilah syara' ar-rahn terdapat beberapa pengertian di
antaranya:
1. Gadai adalah akad perjanjian pinjam memilljam dengall ~iienyeralikan
barang sebagai tanggiingan utang.
2. Gadai adalah suatu barang yang dijadikan peneguhan atail penguat
kepercayaan dalam utang piutang.
3. Akad yang obyeknya menahan hargalerhadap sesuati~hak yang mi~ngkin
diperoleh bayaran dengan sempurna darinya.I5
sedang menilrut pendapat Syafe'i Antonio, Ar-rahn (Gadai) adalah
menahan salah satu harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman
yang diterimanya.I6
Menurut beberapa mazhab, rahn berarti perjanjian penyerahan harta
yang oleh pemil iknya dijadikan jaminan utang yang naiitinya dapat dijadikan
sebagai pembayar hak piutang tersebut, baik seluruhnya maupun sebagainya.
Penyerahan jaminan tersebut tidak harus bersifat aktual (benvujud), namun
yang terlebih penting penyerahan itu bersifat legal, misalnya beri~papenyerahan sertifikat atau surat bukti kepemilikan yang sah silatu harta jaminan."
Dalam ha1 gadai Ghufron A. Mas'adi, mengemukakan bahwa yang
dimaksud ar-rahn (gadai) adalah sebuah akad utang piutang yang disertai
dengan jaminan (atau agunan).I8 Sedangkan di dalam syariah, ar-rahn itu
berarti memegang sesuatu yang mempunyai nilai, bila pemberian it11
dilakukan pada waktu terjadinya utang.I9
%

Dalam Fiqh Sunnah, menurut bahasa Rahn adalah tetap dan lestari.
seperti juga dinamai a/-habsu artinya penahanan, seperti dikatakan:
Ni 'matun Rahinah, artinya karunia yang tetap dan ~estari.~'
Sedangkan menurut syara' apabila seseorang ingin berutang kepada
orang lain, ia menjadikan barang miliknya baik berupa barang tak bergerak

'

A. Zainuddin dan Muhammad Jamhari. Al-lslum 2. Muumuluh dan Akhluq (Czt. I; Bandung: I'uslal;~
Setia. 1999).hal. 21
I".
Hendi Suhendi. op.cif.. hal. 105-106
If'
Muh. Syafei Anto~~io,
Bank Syuriuh dun Duri Teori Ke Prukfik (Cet. I: Jakarta: (jema Insnni Prcss.
2003). hal. 128
"
Hassan Sadily, Ensiklopedi Islam. Jilid V (Jakarta: PT. lchtiar van Hoove. 2000).hal. 1480
111
Ghution A.M. As'adi. Fiqh M~~umululi
Konfeksfuul (Cet. I: Jakarta: PT. Raia Gratindo I'ersada.
2002). hal. 175-176
I"
A. Rahman I. Doi, M~iamulaliSyuriah 111 (Cet. 1: Jakarta: PT. Raja Gratindo Persada. 1996). hal. 72
20
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah 12 (Cet. I: Bandung: PT. Al-Ma'arif. 1987), hal. 150

Tinjouon Umm Godoi Syariah

15

atau berupa ternak berada di bawah kekuasaannya (pernberi pinjaman)


sampai ia melunasi utangnya.*'

Rahn dalam hukum lslam dilakukan secara sukarela atas dasar


tolong menolong dan tidak untuk mencari keuntungan. Sedangkan gadai
dalam hukum perdata, di samping berprinsip tolong menolong juga menarik
keuntungan melalui sistem bunga atau sewa modal yang ditetapkan di muka.
Dalam hukum lslam tidak dikenal "bunga uang", dengan demikian dala~n
transaksi rahn (gadai syari'ah) pemberi gadai tidak dikenakan tambahan
pembayaran atas pinjaman yang diterimanya. Namun demikian masih
dimungkinkan bagi penerima gadai untuk memperoleh imbalan berupa sewa
tempat penyimpanan marhun (barang jaminanlagunan).**
Berdasarkan beberapa pengertian di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa ar-rahn (gadai) ialah suatu sistem muamalah dimana pihak yang
satu memberikan pinjaman dan pihak yang lain menyimpan barang berharga
atau bernilai sebagai jaminan atas pinjaman terhadap orang yang menerirna
gadai.
Secara tegas m-rahn (gadai; adalah memberikan suatu barang untuk
ditahan atau dijadikan sebagai jaminanlpegangan manakala salah si pem injam tidak dapat mengembalikan pinjamannya sesuai dengan waktu yang
disepakati dan juga sebagai pengikat kepercayaan di antara keduanya, agar si
pemberi pinjaman tidak ragu atas pengembalian barang yang dipinjarnnya.
Ar-rahn merupakan mashdar dari rahana-yarhanu-rahnun; bentuk
pluralnya rihdn[un], ruhtin[un] dan ruhun[un]. Secara bahasa artinya adalah
ats-tsubiit wu ad-dawdm (tetap dan langgeng); juga berarti ol-buhs
(penahanan).2"
Secara syar'i, ar-rahn (agunan) adalah harta yang dijadikan jaminan
utang (pinjaman) agar bisa dibayar dengan harganya oleh pihak yang wajib
membayarnya, jika dia gagal (berhalangan) menunaikannya.
Gadai dalam Bahasa Arab diistilahkan dengan rahn dan dapat juga
dinamai dengan al-hasbu. Secara etimologis rahn berarti "tetap atau lestari"
sedangkan al-hasbu berarti "penahanan".24 Menurut bahasa, "ruhn" berarti
pemenjaraan. Misa lnya perkataan rnereka (orang Arab), "rahunusy syui-u"

'I
23

''
16

Ihid., hal. I50

Perum Pegiidaian. Munuul Oyerusi Ilnir hyunan (iadai Syuriah, hal. I dari 2
Lihat: Ibn Muflih al-Hanbali, a/-Mubdi'. IVD13, at-Maktab al-lslami. Reir~~t.
1400 : Muhammad hin
Ahmad ar-Ramli al-Anshari. Ghrjah al-Baydn Syarh Zabidi ihn Rustin. 11193. Liar al-Ma'rifah.
Beirut. tt; Abu Abdillah al-Maghribi, Mmvihib 01-Jalil, VD. Dar al-Fikr. Bein~t.cet. ii. 1398.
Rachmat Syafe'i. Fiqh Muumulah, Pustaka Setia, Bandung, 2000, hal. 159

Hukum GodoiSyariah

artinya apabila sesuatu itu terus menerus dan menetap. Rahn, dala~nbahasa
Arab, memiliki pengertian "tetap dan k ~ n t i n ~ u " . ~ '
Dalam bahasa Arab dikatakan bahwa' bWI bgl apabila tidak
mengalir, dan kata % 3
1
jbermakna nikmat yang tidak putus. Ada yang
menyatakan, kata "rahn" bermakna "tertahan", dengan dasar firman Allah,

Artinya:
"Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atm perbuutan yung telah
dikerjakannya. " (Qs. Al-Muddatstsir: 38).
Pada ayat tersebut; kata "rahinah" bermakna "tertahan". Pengertian
kedua ini hampir sama dengan yang pertama, karena yang tertahan itu tetap
di tempatnya.26
Ibnu Faris menyatakan, "Huruf ra', ha', dan nun adalah asal kata
yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil dengan hak atau tidak.
Dari kata ini terbentuk kata 'ar-rahn', yaitu sesuatu yang digadaikan."27
Adapun definisi rahn dalam istilah syariat, dijelaskan para ulama
dengan ungkapan, "Menjadikan harta benda sebagai jaminan utang, agar
utang bisa dilunasi dengan jaminan tersebut, ketika si peminjam tidak
mampu melunasi utangnya". 28 Atau harta benda yang dijadikan jaminan
utang untuk melunasi (utang tersebut) dari nilai barang jaminan tersebut,
apabila si peminjam tidak mampu melunasi ~ t a n ~ n ~ a . " . ~ ~
"Memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai
pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut, bila pihak berutang
tidak mampu melunasinya."
Sedangkan Syekh al-Basaam mendefinisikan ar-rahn sebagai
jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan

''

l5

'"
27

''
"
'I'

Lihat: Kitab Taudhih al-Ahhm min Buhrgh al-Maram, Syekh Abdullah Al Bassam, cetakan kelima.
tahun 1423. Maktabah al-Asadi, Makkah. KSA, 41460.
Lisan al-Arab. karya lbnu Mandzur pada kata "rahana". dinukil dari kitah AI-Fiqh at-Muyassar,
Qislnul Mu'amalah. Prof Dr Abdullah bin Muhammad ath-Thayar. Prot Dr. Abdullali bin
Muhammad al-Muthliq. dan Dr. Muhammad bin lbrahim Alu Musa cetalian pzrtama. tahun IJ25t1.
Madar al-Wathani lin Nasyr. Riyadh. KSA. hal. 1 15.
Mu(iam Maquyis 01-Lzighah: 21452. dinukil dari Ahhats Hai'at Kihar al-IJlama hi1 Ma~nlaltahalArahiyah as-Su'udiyah. disusun oleh al-Amanah al-'Amah Lihai'at Kibar al-lllaiiia. celakan pertarnil.
tahun 1422 H. 61102.
Lihat: Al-Majmu' Syarhul Muhackab. Imam Nawawi. dengan penyempurnaan Muhamma Najich alMuthi'i. cetakan tahun 1419 H. Dar lhya at-Turats al-'Arahi. Bein~t.121299-300.
Lihat: M~rghni,lbnu Qudamah, tahqiq Dr. Abdullah bin Abdul Muhsin at-Turki dan Abdul Fatali
Muhammad al-Hulwu. cctakan kedua. tahun 1412 H, penerbit Hajar. Kairo. Mzsir. 61443.
Lihat: AI- Wajiz,fi Fiqkis Sunnah ival Kitab al-'Aziz.

Tinjouan Umurn Godoi Syorioh

17

barang tersebut atau dari nilai barang tersebut, apabila orang yang berutang
tidak lnampu ~ n e l u n a s i n ~ a . ~ '
Pengertian "tetap" dan "kekal" dimaksud, mel-upakan makna yang
tercakup dalam kata al-habsu, yang berarti menahan. Kata ini merupakan
makna yang bersifat materiil. Karena itu, secara bahasa kata ur-rahn berarti
"menjadikan sesuatu barang yang bersifat materi sebagai pengikat tan^".^'
Tolong-menolong dalam bentuk pinjaman, hukum Islarn mengajarkan agar kepentingan kreditur jangan sampai dirugikan. Oleh karena itu,
harus ada jaminan barang dari debitur atas pinjaman yang diberikan oleh
kreditur. Sehingga apabila debitur tidak mampu melunasi pi~~jamannya,
barang jaminan itu dapat dijual sebagai penebus pinjaman. Konsep inilah
dalam Fiqih Islam dikenal dengan istilah rahn atau gadai.3"
Secara etimologi rahn berarti (tetap dan lama) yakni tetap atau
berarti (pengekangan dan keharusan), sedangkan menurut ter~ninologi
syara'rahn artinya "Penahanan terhadap suatu barang dengan hak sehingga
dapat dijadikan sebagai pembayaran dari barang tersebut".
Pengertian gadai (rahn) secara bahasa seperti diitngkapkan di atas
adalah tetap, kekal, dan jaminan, sedangkan dalam pengertian istilah adalah
menyandera sejumlah harta yang diserahkan sebagai jaminan secara hak, dan
dapat diambil kembali sejumlah harta dimaksud sesudah ditebus. Namun,
pengertian gadai yang terungkap dalam Pasal 1 1 50 Kitab Undang-Undang
Hukum Perdata adalah suatu hak yang diperoleh seseorang yang mempunyai
piutang atas suatu barang bergerak, yaitu barang bergerak tersebut diserahkan kepada orang yang berpiutang oleh orang yang mempunyai utang ata~t
orang lain atas nama orang yang mempunyai utang. Karena itu, makna gadai
(rahn) dalam bahasa hukum perundang-undangan disebut sebagai barang
jaminan, agunan, dan rungguhan. Sedangkan pengertian gadai (rahn) dalam
hukum Islam (syara') adalah menjadikan suatu barang yang mempitnyai
nilai harta dalam pandangan syara' sebagai jaminan utang, yang memitngkinkan untuk mengambil seluruh atau sebagian utang dari barang tersebut.""
Jadi menurut istilah syara', yang dimaksud dengan ruhn ialah menjadikan suatu benda bernilai menurut pandangan ,syuru ' sebagai tanggungan
utang, dengan adanya benda yang menjadi tanggungan i ~ L Isclitrit 1 atau

"
'

"'
"

18

Taudhih ul-Ahkam Syarah Bulugh aCMaram: 41460.


Zainuddin Ali. Hukum Gadai Syariuh, Sinar Grafika. Jakarta. 2008. ha1 I
Heri Soedarsono, Bank & Lembaga Keuangan Syariah Deskripsi Dan Ilustrasi. Ekonisia, 2004. hal.
156.
Ibid, hal. 2.

Hukum Gadoi Syorioh

sebagian utang dapat diterima." Dalam istilah syaru', kata ruhri ialah
memperlakukan harta sebagai jaminan atas utang yang dipinjam, supaya
dianggap sebagai pembayaran manakala yang berutang tidak sanggup melunasi ~ t a n ~ n ~ a . ~ ~
Gadai dalaln hukum Islam disebut dengan Rahn yang berarti tetup,
kekal dan jaminan. Rahn dalam hukum positif Indonesia disebut dengan
barang jaminan, aguian, dan rungguhan. Dalam Islam ruhn merupakan
sarana saling tolong menolong bagi umat lslam tanpa adanya imbalan jasa.
Definisi rahn ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh ulama
fiqh. Ulama madzhab Maliki mendefinisikan dengan "hurtayang dijudikan
pemiliknya sebagai jaminan utang yang bersifat mengikat. " U lama madzhab
Hanafi mendefinisikan dengan "Menjadikan sesuutu (barang) sebugai

jaminan terhadap hak (piutang) yang mungkin dijadikan sebagai penzbuyur


hak (piutang) tersebut, baik seluruhnya maupun sebugian".
Ulama madzhab Syafii dan Hanbali mendefinisikan rahn dalam arti
akad, "menjadikan materi (barang) sebagai jaminan utang yang dapul
dijadikan pembayar utang apabila orang yang berutang tidak dapat
membayar utangnya".
Rahn d i tangan murtahin (pemberi utang, kreditor) hanya berfungsi
sebagai jaminan utang rahin (orang yang berutang, debitor). Barang jaminan
itu baru bisa dijualldihargai apabila dalam waktu yang disetiuui kedua belah
pihak, utang tidak bisa dilunasi oleh debitor. Oleh karena itu, hak kreditor
hanya terkait dengan barang jaminan apabila debitor melunasi utangnya.
Ulama fiqh mengemukakan bahwa akad rahn dibolehkan dala~n lsla~n
berdasarkan al-Qur'an (QS. A l Baqoroh,2:283) dan sunah Rasulullah.
UlamaJigh sepakat bahwa rahn bisa dilakukan dalam perjalanan dan
dalam keadaan hadir ditempat asal barang jaminan tersebut bisa langsung
dipegang (al-qobd) secara hukum oleh kreditor. Maksudnya, karena tidak
semua barang jaminan tidak dapat dipeganddikuasai oleh kreditor secara
langsung, maka paling tidak ada semacam pegangan yang dapat menjamin
bahwa barang dalam status ul-marhun (barang gadai). Misalnya, apabila
barangjaminan itu berbentuk sebidang tanah, maka yang dikuasai (at-qohd)
adalah sertifikat tanah tersebut.
Gadai syariah (rahn) adalah menahan salah satu harta milik nasabah
atau rahin sebagai barang jaminan atau marhun atas utandpinjaman atau

"

'"

Hendi Suhendi, Fiqih Muamaluhh,PT Raia Grafindo Persada, 2002. hal. 105.
Fathul Bari V: 140 dan Manarus Sabil I. hal. 35 1

Tinjauan Umum Gadai Syariah

19

marhun bih yang diterimanya. Marhun tersebut memiliki nilai ekonomis.


Dengan demikian, pihak yang menahan atau peneri~nagadai atau lnurtuhin
memperoleh jaminan untuk dapat mengambil ke~nbaliseluruh atau sebagian
Menurut A.A. Basyir, rahn adalah perjanjian menahan sesuatu
barang sebagai tanggungan utang, atau menjadikan sesuatu benda bernilai
menurut pandangan syara' sebagai tanggungan marhun bih, sehingga
dengan adanya tanggungan utang itu seluruh atau sebagian i~tangdapat
diterima.'*
Menurut lmam Abu Zakariya Al Anshari,'rahn adalah menjadikan
benda yang bersifat harta untuk kepercayaan dari suatu marhun bih yang
dapat dibayarkan dari (harga) benda marhun itu apabila marhun bih tidak
d ibayar.39
Sedangkan Imam Taqiyyuddin Abu Bakar Al Husaini mendefinisikan rahn sebagai akad/perjanjian utang-piutang dengan menjadikan marhun
sebagai kepercayaadpenguat marhun bih dan murtahin berhak menjual/
melelang barang yang digadaikan itu pada saat ia menuntut haknya. Barang
yang dapat dijadikan jaminan utang adalah semua barang yang dapat diperjualbel ikan,'artinya semua barang yang dapat dijual itu dapat digadaikan.
Berdasarkan definisi di atas, disimpulkan baliwa rahn itu merupakan
suatu akad utang piutang dengan menjadikan barang yang memili ki nilai
harta menu rut pandangan syara ' sebagai jaminan marhun bih, seh ingga
rahin boleh mengambil marhun bih.
Pinjaman dengan menggadaikan marhun sebagai jaminan morhun
bih dalam bentuk rahn itu dibolehkan4', dengan ketentuan bahwa murtahin,
dalam ha1 ini Pegadaian syariah, mempunyai hak menahan marhun sampai
semua marhun bih dilunasi. Marhun dan manfaatnya tetap me~ijadimilik
rahin, yang pada prinsipnya tidak boleh d imanfaatkan murtahin, kecual i
dengan seizin rahin, tanpa mengurangi nilainya, serta sekedar sebagai pengganti biaya pemeliharaan dan perawatannya. Biaya pemeliharaan dan perawatan marhun adalah kewajiban rahin, yang tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah marhun bih. Apabila marhun bih telah jatuh tempo, maka
murtahin memperingatkan rahin untuk segera melunasi marhun hih, jika
"

LX

"
I"

Muhammad Syafi'i Antonio. Bank Syariali dari 'I'eori ke Praktik. Cetakati I. lieriasa~iia(iernl Ir~sil~ii
Press dengan Tazkia Institute, U P . Jakarta: 2001. hal. 128.
A.A. Basyir, Hukum Islam Tentang Riba. Utang-Piutang Gadai. Al-Ma'arif. Handung: 1983..lial. 50.
Chuziamah T. Yanggo dan Hafiz Anshari. Problematika Hukum lslani Kontemporer. Edisi 3.L.SIK.
Jakarta: 1997. hal. 60.
Fatwa DSN Nomor: 25lDSN-MU1/111/2002 tentang Rahn

20'

Hukum Godoi Syorioh

:.. ,

tidak dapat rnelunasi marhun bih, rnaka marhun dijual paksa ~nelaluilelang
sesuai syariah dan hasilnya digunakan untuk rnelunasi marhun bih, biaya
pemeliharaan dan penyimpanan marhun yang belurn dibayar, serta biaya
pelelangan. Kelebihan hasil pelelangan menjadi rnilik rahin dan kekurangannya menjad i kewaj i ban rahin. "
Perjanjian gadai hanya dirnaksudkan agar kreditur percaya penuh
kepada debitur, rnisalnya tidak ada kernampuan untuk ~nembayarpersoalan
dapat diselesaikan. Selqin itu pernberi gadai secara tidak langsung masih
ingin rnemel ihara pem i likan atas benda yang diserah kan. Dengan perjanj ian
gadai 2 (dua) kepentingan sekaligus dapat terayorni, untuk kreditur akan ada
kepastian pelunasan utang akan tetapi jangan sarnpai ada indikasi untuk
rnenguasai objek gadai tersebut. Sedangkan untuk debitur ketika seseorang
mernbutuhkan uang atau barang tidak sampai rnenjual barangnya dengan
harga yang kurang.
Transaksi hukurn gadai dalarn fikih Islam disebut ar-rahn. Ar-rahn
adalah suatu jenis perjanjian untuk menahan suatu barang sebagai tanggungan utang. Pengertian ar-rahn dalarn bahasa Arab adalah atstsubut wu
ad-dawam, yang berarti "tetap" dan "kekal", seperti dalarn kalimat maun
rahin, yang berarti air yang tenang. Hal itu, berdasarkan firman Allah Swt.
dalam QS. Al-Muddatstsir (74) ayat (38) yaitu "Setiap orang bertangpng
jawub atas apa yang telah diperbuatnya." 42
Selain pengertian gadai (ruhn) yang dikemukakan di atas, Zainuddin
Al i lebih lanjut mengungkapkan pengertian gadai (rahn) yang diberikan oleh
para ahli hukum lslam sebagai berikut:
1. Ulama syafi'iyah mendefinisi kan sebagai berikut:
Rahn adalah menjadikan suatu barang yang biasa dijual sebagai jarninan
utang dipenuhi dari harganya, bila yang berutang tidak sanggup membayar utangnya
2. Ulama Hanabilah mengungkapkan sebagai berikut:
Rahn adalah suatu benda yang dijadikan kepercayaan suatu utang. untuk
dipenuhi dari harganya, bi la yang berharga tidak sanggup rnembayar
utangnya

'
"

HB. Tamam Ali. dkk (Ed.). Ekonomi Syariah dalam Sorotan. Kerjasama Yayasan Amanah. MES.
dan PNM. Yayasan Amanah. Jakarta: 2003. hal. 205.
Rahmat Syafei. "Konsep Gadai: Ar-Rahn dalam Fikih lslam antara Nilai Sosial dan Nilai
Komersial". dalam Huzaimah T. Yanggo, Problernarika Hukum Islam Konremnporer Ill, (Jakarta:
Lembaga Studi lslam dan Kemasyarakatan, 1995, cet. 11, hal. 59.

Tinjauan h u m Gadai Sywiah

21

3. Ulama Malikiyah mendefinisikan sebagai berikut:


Rahn adalah sesuatu yang bernilai hartu (mutamawwal) yang diambil dari
pemili knya untuk dijadikan pengikat atas utang yang tetap (mengikat).

4. Ahmad Azhar Basyir


Rahn adalah perjanjian rnenahan sesuatu barang sebagai tanggungan
utang atau menjadikan sesuatu benda bernilai menurut pandangan syara'
sebagai tanggungan marhun bih, sehingga dengan adanya tanggungan
utang seluruh atau sebagian utang dapat diterirna.
5. Muhammad Syafi'I Antonio
Gadai syariah (rahn) adalah menahan salah satu harta milik nasabali
(rahin) sebagai barang jaminan (marhum) atas utangllpinjaman (murhz~n
bih) yang diterimanya. Marhun tersebut memiliki nilai ekonomis. Dengan
demikian, pihak yang menahan atau penerima gadai (murtahin) memperoleh jaminan untuk dapat mengambil kembali seluruh atau sebagian
piutangnya.43
Berdasarkan pengertian gadai yang dikemukakan oleh para ahli
hukum Islam di atas, dapat diketahui bahwa gadai (rahn) adalah rnenahan
barat jaminan yang bersifat materi milik si peminjam (rahin) sebagai
jaminan atau pinjarnan yang diterimanya, dan barang yang diterima tersebut
bernilai ekonorni sehingga pihak yang menahan (murtahin) memperolch
jarninan untuk mengarnbil kernbali seluruh atau sebagian utangnya dari
barang gadai dimaksud bila pihak yang menggadaikan tidak dapat menibayar
utang pada waktu yang telah ditentukan. Karena itu, tampak bahwa gadai
syariah merupakan perjanjian antara seseorang untuk menyerahkan harta
benda berupa emaslperhiasanl kendaraan danfatau harta benda lainnya sebagai jaminan danlatau agunan kepada seseorang danlatau lembaga pegadaian
syariah berdasarkan hukum gadai syariah; sedangkan pihak lembaga
pegadaian syariah menyerahkan uang sebagai tanda terima dengan jumlali
maksimal 90% dari nilai taksir terhadap barang yang diserahkan oleh
penggadai Gadai dimaksud, ditandai dengan mengisi dan menandatangani
Surat Bukti Gadai (Ruhn).
Jika memperhati kan pengertian gadai (rahn) di atas, niaka ta~npwk
bahwa fungsi dari akad perjanjian antara pihak peminjam dengan pihali yang
rneminjam uang adalah untuk memberikan ketenangan bagi pemilik uang
danlatau jamin keamanan uang yang dipinjamkan. Karena itu, ruhn pada
I'

22

Muhammad Syati'i Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Pruktik, Jakarta. tienla Ijisani Press. 2001.
hal. 128.

Hukum Godoi Syorioh

prinsipnya merupakan suatu kegiatan utang piutang yang murni berfungsi


sosial, sehingga dalam buku Jigh rnu'amalah akad ini merupakan akad
tabarru ' atau akad derma yang tidak mewajibkan imbalan.
Ada yang menyatakan kata Rahn bermakna tertahan dengan dasar
firman Allah yakni "Tiap-tiap diri bertanggung jawab (tertahan) atas apa
yang telah diperbuatnya" (QS. 74:38) kata Rahienah bermakna tertahan.
Pengertian kedua ini hampir sama dengan yang pertama karena yang tertahan itu tetap di tempatnya. lbnu Faaris menyatakan: Huruf Raa, Haa', dan
Nun adalah asal kata yang menunjukkan tetapnya sesuatu yang diambil
dengan hak atau tidak. Dari kata ini adalah kata Al Rahn yaitu sesuatu yang
digadaikan.
Adapun definisi Rahn dalam istilah Syari'at, dijelaskan para ulama
dengan ungkapgn menjadikan harta benda sebagai jaminan utang untuk
dilunasi dengan jaminan tersebut ketika tidak mampu melunasinya, Atau
harta benda yang dijadikan jaminan utang untuk dilunasi (utang tersebut)
dari nilai barang jaminan tersebut apabila tidak mampu melunasinya dari
orang yang berutang. memberikan harta sebagai jaminan utang agar digunakan sebagai pelunasan utang dengan harta atau nilai harta tersebut bila pihak
berutang tidak mampu melunasinya.
Sedangkan Syeikh Al Basaam mendefinisikan, Al Rahn sebagai
jaminan utang dengan barang yang memungkinkan pelunasan utang dengan
barang tersebut atau dari nilai barang tersebut apabila orang yang berutang
tidak mampu rnelunasinya.
Ulamafzqh berbeda pendapat dalam mendefinisikan rahn (gadai):
1. Menurut ulama Syafi'iyah
"Menjadikan suatu benda sebagai jaminan utang yang dapat dijadikan
pembayar ketika berhalangan dalam membayar utang".
2. Menurut ulama Hanabilah:
"Harta yang dijadikan jaminan utang sebagai pembayar harga (nilai)
utang ketika yang berutang berhalangan (tak mampu) rnenibayar utangnya kepada pemberi pinjaman".
Berdasarkan definisi-definisi di atas, terdapat kesatnaa~iyaiti~sebagai jaminan utang. Ada penekanan bahwa tidak dapat berbentuk manfaat
karena suatu manfaat bisa hilang dan sukar memberi nilai yang pasti
sehingga tidak dapat dijadikan jaminan utang. Hal ini tentu sedikit berbeda
dengan apa yang digagas oleh Malikiyah yang memperkenalkan agunan
dengan manfaat atau prestasi.
Tinjauan Umum Gadai Sywiah

23

2. Sifat Gadai Syarib


Secara umum rahn (gadai) dikategorikan sebagai akad yang bersi'fat derma
sebab apa yang diberikan penggadai (rahin) kepada penerima gadai
(murtahin) tidak ditukar dengan sesuatu. Yang diberikan murtahin kepada
rahin adalah utang, bukan penukar atas barang yang digadaikan.
Rahn juga termasuk akad ainiyah, yaitu dikatakan sempurna sesudah
menyerahkan benda yang d ijadikan akad, seperti hibah, pinjam-meminjam,
titipan dan qirad. Semua termasuk akad tabarru (derma) yang dikatakan
sempurna setelah memegang (al-qabdu), sesuai kaidah (tidak sempurna
tabarru, kecuali setelah pemegangan).
3. Rukun Gadai Syariah

Kesepakatan tentang perjanjian penggadaian suatu barang sangat terkait


dengan akad sebelumnya, yakni akad utang piutang (al-Dain), karena tidak
akan terjadi gadai dan tidak akan mungkin seseorang menggadaikan benda
atau barangnya kalau tidak ada utang yang dimilikinya.
Utang piutang itu sendiri adalah hukumnya mubah bagi yang berutang dan sunnah bagi yang mengutangi karena sifatnya menolong sesama.
Hukum ini bisa menjadi wajib rnanakala orang yang berutang benar-benar
sangat m e m b ~ t u h k a n n ~ a . ~ ~
Meskipun hukumnya adalah mubah, namun persoalan ini sangaf
rentan dengan perselisihan, karena seringkali seseorang yang telah meminjam suatu benda atau uang tidak mengembalikan tepat waktu atau bahkan
meninggalkan kesepakatan pengembalian dengan sembunyi atau pergi jauh
menghilang entah kemana sehingga si pemberi utang pun merasa ditipu dan
dirugikan.
Karena pertimbangan di atas, ataupun pertimbangan lain yang belum
dapat diketahui oleh umat manusia, maka sangat relevan sekali jika Allah
melalui wahyu-Nya rnenganjurkan agar akad utang piutang tersebut ditulis,
dengan menyebutkan nama keduanya, tanggal, serta perjanjian pengembalian yang menyertainya, penulisan tersebut dianjurkan lagi untuk
dipersaksikan kepada orang lain, agar apabila terjadi kesalahan di kemudian
hari ada saksi yang meluruskan, dan tentunya saksi tersebut harus adil.
Dalam penerapannya saaf ini, penulisan tersebut biasanya dikuatkan pula
dengan materai agar mempunyai kekuatan hukum, atau bahkan disahkan
melalui seorang notaris.

*
24

Zainuddin dan Muhammad Jamhari, op.cit..,hd. 18

HukmGadai Syoriah

Selain itu pula, Allah juga menganjurkan (sunnah) untuk memberikan barang yang bernilai untuk dijadikan sebagai jaminan (gadai) bagi si
pemberi pinjaman. Kemudian dituliskan segala kesepakatan yang diambil
sebelum melakukan pinjam meminjam dengan gadai. Barang yang dijadikan
sebagai gadai (iaminan) tersebut hams senilai dengan pinjaman atau bahkan
nilainya lebih dari nilai besarnya pinjaman, barang tersebut dipegang oleh
yang berpiutang. Ayat tersebut sebagaimana yang telah dikutip sebelumnya,
yakni:

Terjemahnya:
"Jika kamu dalam perjalanan ( d m bermu'amalah tidak' secara tunai)
sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka hendaklah ada
barang tanggungan yang dipegang (olih yang berpiutang). Akan tetapijika
sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain, maka hendaklah yang
dipercayai itu menunaikan amanatnya (utangnya) don hendaklah ia
bertakwa kepada Allah Tuhannya; dan janganlah kamu @ara sahi)
menyembunyikan persahian. Dan barangsiapa yang menyembunyikannya.
maka sesung&nya ia adalah orang yang berdosa hatinya; dan Allah Maha
Mengetahui apa yang kamu keijakan".45
. Menurut tinjauan Islam berdasarkan ayat tersebut bahwa dasar
hukum gadai adalahjaiz (boleh) menurut al-kitab, as-sunnah dan ijma.46

Kata
pada ayat tersebut di atas secara lughat berarti perjalanan,
namun secara maknawi berarti perjalanan yang di dalamnya terjadi
muamalah tidak secara tunai.

Adapun kata
ireL
-e
secara lughat hendaklah ada
barang tanggungan yang dipegang. Barang tanggungan yang dimaksud
adalah gadai yang harus dipegang oleh orang yang berpiutang. Kemudian
jika kamu tidak percaya, artinya jika kamu satu sarna lain tidak percaya
mempercayai sedang kamu berada dalam safar dan tidak ada penulis, maka
1s

'

Departernen Agarna RI, 1oc.ci1.


Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnuh I2 (Cet. I; Bandung: PT. Al-Ma'arif. 1987), hal. 150

Tinjouon Umwn Godoi Syorioh

25

'

hendaklah yang berutang mqmberikan barang (gadai) sebagai jaminan, maka


hendaklah yang berutang memberikan barang sebagai jaminan, bahwa dia
benar-benar berutang dan akan membayar utangnya.
Ayat ini tidak mensahkan hukum yang menyuruh membuat surat
utang di waktu tidak saling mempercayai, karena membuat s~lratketerangan
utang diwajibkan agama kecuali di kala safar tidak ada penulis, maka
hendaklah yang berutang memberikan barang sebagai jaminan.
Dan kata i ~ ~ d l l 4 5 >J
j Y ~I l & S 4j $i
berarti
didasarkan dosa kepada hati (jiwa) adalah karena menyembunyikan
kesaksian adalah perbuatan hati, dan perbuatan hati itu sekali-kali tidak
tersembunyi bagi ~ l l a h . ~ ~
Dalil dari as-sunnah, salah satu hadis Rasul saw. disebutkan:
Artinya:
"Dari Aisyah r.a berkata: Bahwa Rasul saw pernah membeli bahan
makanan dari seorang Yahudi secara mengutang kemudian beliau meninggalkan (menggadaikan) baju besi belim sebagai jaminan utangnya".48
Para ulama telah sepakat bahwagadai itu boleh, mereka tidak pernah
rnempertentangkan kebilehannya. Demikian pula landasan hukurnnya.
~ u m h u rherpendapqt bahwa gadai.itu disyafigtkan pada waktu tidak bepergian dan waktu beypergian. Hal ini berorientasi terhadap perbuatan Rasul
saw. yang dilakukan terhadap orang Yahudi di Madinah.
Mujahid, Adh Dqhhak dan semya penganutnyalpengikutnya Mazhab
Az-Zahiri berpendapat, bahwa rahnun itu tidak diisyaratkan kecuali pada
saat bqpergian. Ini juga berdali! kepada landasan hukum dalam al-Qur'an
h 283, sebagaimana telah disebutkan sebelumpada surah a l - ~ a ~ a r aayat
49
nya.
Keteykaitan antara utang piutang dengan gadai, adalah ketika di
antara perninjam dan yang memberikan pinjaman tidak terjadi saling
perGaya, atau kepercayaan tersebut disertai dengan syarat, atau untuk
menguatkan kepercayaan diantara keduanya, maka di situlah fungsi dari
gadai. Jadi, selama keduanya masih saling percaya, maka gadai tersebut
tidak merupakan dianjurkan, dalam artian akad pinjam meminjam tersebut
tetap sah, meskipun tanpa disertai dengan barang gadai.

"

Hashi AshShiddieqy. IbBir a/-Bayan.(Jakarta: Bulan Bintang. 1984). hal. 278


' V a y y i d Sabiq. op. cit.. hal. 140.
/bid., ha!. I41

''

26

HukwnGodai Syariah

Berdasarkan keterangan ayat dan penjelasan di atas, maka penulis


menyimpulkan bahwa hukum gadai adalah sunnah yang sangat dianjurkan
(sunnah muakkadah), karena keberadaannya sangat besar pengaruh terliadap
kepercayaan antara kedua belah pihak, menghindari adanya penipuan dan
adanya pihak yang dirugikan.
Dalam menjalankan pegadaian syariah, pegadaian harus memenuhi
rukun gadai syariah. Rukun gadai tersebut antara lain5':
1 . Ar-Rahin (yang menggadaikan)
Orang yang telah dewasa, berakal, bisa dipercaya, dan memiliki barang
yang digadaikan.
2. Al-Murtahin (yang menerima gadai)
Orang, bank, atau lembaga yang dipercaya oleh rahin untuk mendapatkan
modal dengan jaminan barang (gadai).
3. Al-Marhdrahn (barang yang d igadaikan)
Barang yang digunakan rahin untuk dijadikan jaminan dalam mendapatkan utang.
4 . A/-Marhun bih (Utang)
Sejumlah dana yang diberikan murtahin kepada rahin atas dasar besarnya
tafsiran marhun.
5 . Shighat, Ijab dan Q a b d
Kesepakatan antara rahin dan murtahin dalam melakukan transaksi
gadai. Padg dasarnya pegadaian syariah berjalan di atas dua akad transaksi
yaitu:
1. Akad Rahn. Yang dimaksud adalah menahan harta milik si peminjam
sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang menahan
memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau sebagian
piutangnya. Dalam akad gadai syariah disebutkan bila jarlgka waktu akad
tidak diperpa~jang maka penggadai menyetujui agunan (tvurhun)
miliknya dijual oleh murtahin.
Jadi Akad Rahn. Rahn yang dimaksud adalah menahan harta milik si
peminjam sebagai jaminan atas pinjaman yang diterimanya, pihak yang
menahan memperoleh jaminan untuk mengambil kembali seluruh atau

"

Heri Sudanono. Bank dun Lembaga Kercungan Syariah Deskripsi dun Ilrrsrrrsi. Ekonisi;~.
Yogyakatta 2003, hal. 160

Tijoun Qmm Godai Sydoh

27

sebagian piutangnya. Dengan akad ini Pegadaian rnenahan barang


bergerak sebagai jarninan atas utang nasabah.
2. Akad Ijarah rnerupakan akad pemindahan hak guna atas barang dan atau
jasa melalui pernbayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan
kepemilikan atas barangnya sendiri. Melalui akad ini dirnungkinkan bagi
pegadaian untuk menarik sewa atas penyirnpanan barang bergerak milik
nasabah yang telah melakukan akad.
Akad Ijarah. Yaitu akad pernindahan hak guna atas barang dan atau jasa
melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan
kepernilikan atas barangnya sendiri.
Menurut Sayyid Sabiq, bahwa gadai itu baru dianggap sah apabila
memenuhi empat syarat yaitu:
1. orangnya sudah dewasa
2. berfikiran sehat
3. barang yang digadaikan sudah ada saat terjadi aqad gadai
4. barang gadaian dapat diserahkan atau dipegang oleh penggadai barang
atau benda yang dijadikan jarninan itu dapat berupa emas, berlian dan
benda bergerak lainnya dan dapat pula berupa surat-surat berharga (surat
tanah, rumah)
Jika semua ketentuan tadi terpenuhi, sesuai dengan ketentuan
syariah, dan dilakukan ol'eh orang yang layak rnelakukan tasharruf, rnaka
akad ar-rahn tersebut-sah.
Harta yang diagunkan disebut al-marhtin (yang diagunkan). Harta
agunan itu hams diserahterimakan oleh ar-rdhin kepada a!-murtahin pada
saat dilangsungkan akad rahn tersebut. Dengan serah terima itu, agunan
akan berada di bawah kekuasaan al-murtahin. Jika harta agunan itu terrnasuk
harta yang bisa dipindah-pindah seperti TV dan barang elektronik, perhiasan,
dan sernisalnya, maka serah terimanya adalah dengan rnelepaskan barang
agunan tersebut kepada penerima agunan (al-murtahin). Bisa juga yang
diserahterimakan adalah sesuatu dari harta itu, yang rnenandakan berpindahnya kekuasaan atas harta itu ke tangan al-murtahin, jika harta tersebut
merupakan barang tak bergerak, seperti rurnah, tanah dan lain-lain.
Harta agunan itu haruslah harta yang secara syar'i boleh dan sah
dijual. Karenanya tidak boleh mengagunkan khamr, patung, babi, dan
sebagainya. Harta hasil curian dan gasab juga tidak boleh dijadikan agunan.
Begitu pula harta yang bukan atau belum rnenjadi rnilik ar-rdhin karena

28

Hukum Godoi Syorioh

Rasul saw. telah melarang untuk menjual sesuatu yang bukan atau belum
menjadi milik kits.''
Dalam akad jual-beli kredit, barang yang dibeli dengan kredit
tersebut tidak boleh dijadikan agunan. Tetapi, yang harus dijadikan agunan
adalah barang lain, selain bar ang yang dibeli (al-mabi? tadi.
Akad ar-rahn (agunan) merupakan tawtsiq bi ad-dbn, yaitu agar almurtahin percaya untuk memberikan utang (pinjaman) atau bermuamalah
secara tidak tunai dengin ar-rdhin. Tentu saja itu dilakukan pada saat akad
utang (pinjaman) atau muamalah kredit. Jika utang sudah diberikan dan
muamalah kredit sudah dilakukan, baru dilakukan ar-rahn, maka tidak lagi
memenuhi makna tawtsiq itu. Dengan demikian, ar-rahn dalam kondisi ini
secara syar'i tidak ada maknanya lagi.
Pada masa Jahiliah, jika ar-rdhin tidak bisa membayar utang
(pinjaman) atau harga barang yang dikredit pada waktunya, maka barang
agunan langsung menjadi milik al-murtahin. Lalu praktik Jahiliah itu
dibatalkan oleh Islam. Rasul saw. bersabda:
((c&,
a '&>&-y\*L S G J I '& y))
Artinya:
"Agunan itu tidak boleh dihalangi dari pemiliknya yang telah
mengagunkannya. la berhak atas kelebihan (manfaat)-nya dan wajib
menanggung kerugian @enyusutan)-nya ". (HR as-Syafi i, al-Baihaq i, alHakim, Ibn Hibban dan ad-Daraquthni)
Karena itu, syariat Islam menetapkan, al-murtahi4 boleh menjual
barang agunan dan mengambil haknya (utang atau harga kredit yang belum
dibayar oleh ar-rdhin) dari hasil penjualan tersebut. Lalu kelebihannya harus
dikem bali kan kepada pem i l iknya, yakni ar-rdhin. Sebali knya, j ika masih
kurang, kekurangan itu menjadi kewajiban ar-rdhin. Hanya saja, Imam alGhazali, menegaskan bahwa hak al-murtahin untuk menjual tersebut harus
dikembalikan kepada hakim, atau izin ar-rbhin, tidak serta-merta boleh
langsung menjualnya, begitu ar-rcihin gagal membayar utang pada saat jatuh
temponya.'*
Atas dasar ini, muamalah kredit motor, mobil. rumah, barang
elelctronik, dan sebagainya saat ini, yang jika pembeli (debitor) tidak bisa
melunasinya, lalu motor, mobil, rumah atau barang itu diambil begitu saja

'

Reul bersabda "Ld tabi'ma laysa .indaka (Jangan engkau jual apa yang bukan milikmu) (HR Ahu
Dawud, an-Nasai, Ibn Majah, at-Tirmidzi. Ahmad dan at-Baihaqi).
Abu H m i d al-Ghazali, al-Wasith, 1111520, Dar as-balm, Kairo. 1417 H.

'

oleh pemberi kredit (biasanya perusahaan pembiayaan, bank atau yang lain),
jelas menyalahi syariah.-~uamalahyang.demikian adalall batil, karenanya
tidak boleh dilakukan.

4. Hakikat dan Fungsi Gadai Syariah


Islam membawa pemahaman yang membentuk pandangan hidup tertenti~
dan garis hukum yang global. Karenanya, guna menjawab setiap nasala ah
yang timbul, peran hukum Islam dalam konteks kekinian diperlukan.
Kompleksitas masalah umat seiring dengan berkembangnya zaman membuat
hukum Islam harus menampakkan sifat elastisitas dan fleksibelitasnya guna
memberi manfaat terbaik, dan dapat memberikan kemaslahatan kepada umat
Islam khususnya dan ~nanusiaumumnya tanpa meninggalkan prinsip yang
ditetapkan syariat slam.^^
Mendasarkan kemaslahatan itu, Islam mengajarkan kepada umatnya
untuk hidup membantu, yang kaya membantu yang miskin. Bentuk saling
membantu ini, dapat berupa pemberian tanpa ada penge~nbalian(berfungsi
sosial), seperti zakat, infaq, dan shadaqah (ZIS) ataupun berupa pinjaman,
yang harus dikembalikan kepada pemberi pinjaman, minimal mengembalikan pokok pinjamannya.
Berbicara mengenai pinjam-meminjam ini, Islam membolehkan baik
melalui individu maupun lembaga keuangan. Salah satu lembaga itu, berupa
lembaga keuangan syariah (LKS), Pegadaian Syariah. Salah satu produk
LKS adalah 'pembiayaan', dalam hukum Isla'm kepentingan kreditur itu
sangat diperhatikan, jangan sampai dirugi kan. Karenanya, d ibolehkan
meminta 'barang' dari debitur sebagai jaminan utangnya. Dalam dunia
finansial, barang jaminan ini biasa dikenal dengan objek koleteral atau
barang gadai dalam Gadai Syariah.
Gadai sebagai salah satu kategori dari perjan-jian utang-piutang,
untuk suatu kepercayaan dari kreditur, maka debitur menggadaikan barangnya sebagai jaminan terhadap utangnya itu. Barang jaminan tetap ~nilik
penggadai, namun dikuasai penerima gadai. Praktik seperti ini telah ada
sejak zaman Rasulullah Saw, dan pernah melakukannya pula. Seperti
sabdanya "Nabi Saw pernah menggadaikan baju besinya kepada orang
Yahudi untuk ditukar dengan gandum. Lalu orang Yahudi itu berhtu:
"Sungguh Muhammad ingin membawa lari hartaku", Rasulullah Suw.
kemudian menjawab: "Bohong!Sesungguhnya Aku. orang yang jujur di atus

''
30

Muhammad dan Sholikhul Hadi. Pegadaian Syariah: S1tahr Altrrnoi~/'Kon.~/nrksi


.Yis/etn Pegudaiun
Nusionul. Edisi 1, Salemba Diniyah. Jakarta: 2003, hal. 2.

Hukum Gadai Syoriah

bumi ini dun di langit. Jika kamu berikan amanut kepadaku, pasti Aku
tunaikan. Pergilah kalian dengan bnju besiku rner~emuin~c~."~~
Mengenai teknis Gadai Syariah, maka secara teknis mekanisme
operasional dapat dilakukan lembaga tersendiri, seperti Pegadaian Syariah,
baik sebagai lembaga gadai swasta maupun pemerintah. Hadirnya Pegadaian
Syariah ini sebagai sebuah lembaga keuangan formal berbentuk unit dari
Perum Pegadaian, bertugas menyalurkan pembiayaan dalam bentuk pemberian pinjaman kepada masyarakat membutuhkan berdasarkan hukum gadai
syariah perlu mendapatkan sambutan positif. Dalam gadai syariah yang
terpenting dapat memberikan kemaslahatan sesuai dengan harapan
masyarakat dan menjauhkan diri dari praktik riba', qimar (spekulasi),
maupun gharar (ketidaktransfaranan) yang berakibat adanya ketidakadilan
dan kedzaliman pada masyarakat dan nasabah.
Saat ini, Pegadaian Syariah sudah beroperasi selama dari 2 tahun.
BMI berbentuk aliansi dan kerjasama (musyarakah) pembiayaan dengan
Perum Pegadaian, di mana BMI sebagai penyandang dana, sedangkan Perurn
Pegadaian sebagai pelaksana ~~erasionaln~a.'~
Kondisi demikian dikarenakan belum adanya regulasi yang membolehkan, selain Perum Pegadaian
membuka kantor gadai syariah. Secara jaringan, jumlah kantor Pegadaian
syariah saat ini terdapat di 9 kantor wilayah dan 22 PULS, terutama di kota
besar di ~ndonesia,'~dan 15 oficer gadai syariah. Ke-22 PULS itu,
berbentuk aliansi sinergi antara BMI dan Perum Pegadaian, dan direncanakan akan dibuka lagi jaringan kantor 40 PULS, yang mengkonversi cabang
konvensional ke'gadai syariah di Indonesia. Artinya jumlah tersebut baru 2,9
% s ja, apabila dibandingkan dengan total jaringan kantor Perum Pegadaian
yang berjumlah 739 cabang, yang tersebar di seluruh Indonesia. Berdasarkan
22 PULS yang telah beroperasi setahun ini, laba kotor yang dihasilkan
selama tahun 2003 sebesar Rp 3.5 miliar dan dana yang telah disalurkan
untu k pembiayaan (omzet) sebesar Rp 40 mi liar."

Dalam operasionalnya, sebenarnya LKS gadai syariah dapat


digunakan sebagai fungsi sosial (bersifat konsumtif), yang sifatnya mendesak, di samping fungsi komersil (bersifat produktif).58Namun, implel-nen-

''
''
Y'

''
''

Sabiq, Sayyid, FiqhStnnah. Jilid 12, Al Ma'arif. Bandung: 1996, hal. 139.
Sasli Rais. Membangunkan Gadai Syariah yang Berpihak Ekonomi Lemah. Artikci, beluln
dipublikasikan, Jakarta: Nopember 2003.
Berdasarkan data yangdiperoleh darii Bagian Divisi Syariah Perum Pegadaian Pusat Jakarta.
Republika, Kamis. 08 Januari 2004.
~uharnmadAkram Khan. Economic Teaching ofpropher Muhammad: A Select A n r h o l o ~qt'H~~dith
Li1eramrc;on Economics. diterjernahkan Team Bank Muamalat Jakarta: IWh. hal. 179-1 84.

Tinjauan h u m Gadai Syariah

31

tasinya, ads indjkasj gadai syariah masih didominasi sifatnya fiingsi


komersil-produktif, meskipun apabila mengkaji latarbelakang skim gadai ini,
baik secara implisit maupun eksplisit berpihak dan tertuju kepentingan
fungsi sosial (kebutuhan sehari-hari).
Karena dasarnya Islam memandang bahwa manusia itu sebagai
individu memiliki kebutuhan hidup asasifprimer, berupa pangan, sandang,
dan papan yang membutuhkan pemenuhan yang tidak dapat ditunda ~ a g i . ' ~
Sebagaimana dijelaskan dalam hadits diriwayatkan Bukhari, Ahmad Nasa'i
dan Ibnu Majah "Dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah Saw. rnembeli makanun
dari seorang Yahudi dun 'menjaminkan' kepadanya baju besi "
~ e m i k i a npula halnya dengan hadits yang diriwayatkan Bukhari,
Ahmad Nasa'i dan lbnu Majah, bahwasannya "Dari Anus r.a. berkata:
'Rasulullah 'menggadaikan' baju besinya kepaQa seorang Yahudi di
Madinah dun mengambil darinya gandum untuk keluarga beliau ".
Berdasarkan hadits di atas, maka fungsi sosial-konsumtif itu jelas
tersirat dan tersurat, artinya gadai syariah dasarnya untuk kepentingan yang
sifatnya mendesak, seperti keperluan hidup sehari-hari (konsumsi, pendidikan, dan kesehatan) yang sangat dibutuhkan masyarakat strata sosial
ekonominya dalam golongan berpendapatan menengah-bawah dan bersifat
mendesak, bukan yang sifatnya untuk usaha yang sifatnya komersilproduktif, yang notabene ha1 itu relatif untuk orang yang masuk golongan
berpendapatan menengah ke atas.
Dalam mekanisme operasionalnya gadai syariah juga masih relatif
ada kecenderungan berpihak kepentingan golongan berpendapatan menengah ke atas tersebut. Pegadaian Syariah sendiri masih mau menerima gadai,
apabila barang jaminannya berupa emas dan sejenisnya, yang kemungkinan
masyarakat golongan ekonomi bawah mampu memilikinya.
Padahal dalam konsep ekonomi Islam, semua barang, baik itu
bergerak maupun tidak bergerak yang memiliki 'nilai ekonomis' dapat
dijadikan barang jaminan, ketika melakukan akad rahn.
Tidak seperti bank syariah, BPRS maupiln BM'T, maka keberadaaii
Pegadaian Syariah masih terbatas, sehingga apabila gadai syariah dalain
operasionalnya masih melaksanakan dengan model seperti itu, maka sebenarnya gadai syariah seakan melenceng dari tujuan didirikannya Pegadaiaii
sendiri yang berusaha mengeliminir keberadaan rentenir, pengijon, dan gadai

" ' A b d u m h m a n Maliki. As-Siyasalu ul-lqlishadiyulri a/-Mutsla. diterjemahkan Ibnu Sholah. C'etakan
Pertarna. Al-lzzah. Bangil: 2001. ha]. vi.

32

Hukum Gadoi Syorioh

illegal, dimana kemampuan ~nereka membaca kebutuhan masyarakat


ekonomi lelnah untuk lnendapatkan dana cepat dan tanpa janiinan, nieskipun
dikenakan biaya bunga terkadang di luar nalar pe~nikiran jernili, yang
kemungkinan kesulitan pengembaliannya akan berjalan lancar, semua it11
jauh dari prinsip syariah.
Oleh karena itu, mungkin kita tidak dapat menyalahkan masyarakat,
apabila mereka kembali kepada rentenir, pengijon dan gadai ilegal tersebut.
Apabila gadai syariah maiz belum mampu meng-cover kepentingan
masyarakat golongan sosial ekonomi yang berpendapatan rendah tersebut,
dan tetap memberikan ketentuan hanya 'emas dan sejenisnya' yang masih
diperbolehkan dijadikan barang gadai.
Padahal Perum Pegadaian sendiri, mengapa ~nasihbelum berkeinginan mengubah statusnya dari Perum menjadi Persero, karena
komitmennya yang masih tinggi terhadap kepentingan golongan ekonolni
lemah tersebut, sebagai pangsa sasaran dari awal didirikan, dan tetap
memperhatikan sebab mengapa suatu 'Pegadaian' didirikan, yang masih
memberikan pinjaman kepada nasabahnya dalam jumlah Rp20.000 dan
menerima barang gadai lain di luar 'emas'.60
~ e s k i p u nPerum Pegadaian masih tetap menerapkan kebijakan
seperti itu, namun masih memiliki risiko kredit macet atau non performing
loan (NPL) kecil, hanya 1%. Kecilnya kerugian di Pegadaian tersebut,
dikarenakan dalam operasionalnya, Pegadaian memperoleh pendapat dari
biaya administrasi dan jasa-jasa lain, seperti jasa taksiran barang (tidak
hanya berupa ems), jasa penyimpanan barang, dan lainnya, serta pelelangan
barang gadai, sehingga adanya barang jaminan ini sangat membantu
mendapatkan kembali pinjaman tersebut.
Dalam perekonomian Indonesia, dikenal lembaga pembiayaan yalig
dapat digunakan alternatif sumber dana, yaitu gadai syariah. Gadai syariah
sebagai lembaga pinjaman langsung di bawah P e r ~ ~ m
Pegadaian, dengan
pengawasan Depkeu dan DSN-MUI, menyalurkan dananya atas dasar
hukum gadai syariah, meneriina jaminan barang bergerak. Persyaratan
ringan, prosedur sederhana, dan pelayanan cepat sebagai cirinya gadai
syariah.
Sesuai tujuan awal Pegadaian memberantas lintah darat, renteiiir,
praktik gadai gelap, yang memberatkan masyarakat kecil, sehingga pengguna jasa gadai syariah sebagian besar masyarakat yang ~nemilikisosial
-

'*

--

Kompas, I l Oktober 2003.

Tinjauan Umum Gadai Syariah

33

ekonomi kecil, biasanya digunakan sifatnya sosial-konsumtif. Namun,


realitanya masih banyak dimanfaatkan masyarakat golongan menengall ke
atas, yang bersifat komersil-produktif. Hal ini dilihat dari besarnya markun
berupa emas dan berlian yang hanya diterima gadai syariah, meskipun Islam
memandang semua barang bergerak dan tidak bergerak yang memiliki nilai
ekonomis dapat sebagai barang jaminan, dan Perum Pegadaian sendiri
menetapkan barang yang boleh digadaikan banyak macamnya, seperti elektronik, alat rumahtangga, kendaraan, dan sebagainya.
Akad yang digunakan gadai syariah, masih menggunakan akad
qardhul hasan dan ijarah untuk sebagian besar transaksi gadai, apakah
kepentingan sosial-konsunitif maupun komersil, produktif. Meski sebenarnya akad bagi hasil, baik akad rahn, mudharabah maupun ba 'i muqayyadah
dapat digunakan alternatif transaksi gadai syariah, terutama apabila
pemanfaatan digunakan sesuatu yang sifatnya produktif. Berdasarkan latar
belakang itu, maka rumusan permasalahan penelitian ini adalah bagaimana
praktik syariah di Pegadaian Syariah.
Dalarn sehari-hari, uang selalu dibutuhkan membayar berbagai
keperluan. Masalahnya, terkadang kebutuhan yang ingin dibeli tidak dapat
dicukupi dengan uang dimilikinya. Namun, keperluan sangat penting, maka
harus dipenuhi dengan berbagai cara, seperti meminjam dari berbagai
sumber dana yang ada.
Apabila jumlah kebutuhan dana itu cukup besar, maka dalam jangka
pendek sulit di penuhi, apalagi harus dipenuhi lewat bank. Namun, j ika dana
yang dibutuhkan relatif kecil, relatif tidak jadi masalah, karena banyak
tersedia sumber dana murah dan cepat, mulai dari pinjam tetangga, tukang
ijon, dan sebagainya.
Memang Allah Swt. menciptakan manusia kondisi seimbang dalam
memberikan rizki-Nya, ada kecukupan (kaya) dan ada kekurangan (miskin).
Penciptaan kdndisi itu, diharapkan agar manusia memfungsikan dirinya
sebagai makhluk sosial. Islam mengajarkan hidup saling menolong, jaminmenjamin dan tanggung-menanggung dalam bermasyarakat, ditegakkan
nilai-nilai keadilan dan dihindarkan praktik penindasan dan pemerasan
(berlaku dzalim).
Contoh ajaran Islam, hak milik berfungsi sosial. Hak milik individu
tidak mutlak, tetapi terkait kewajiban bermasyarakat. Pernilik tidak bebas
perlakukan harta miliknya. Dalarn usaha rnengembangkan harta, Islam
melarang cara mengandung unsur penindasan, pernerasan orang lain.
termasuk memberi pinjaman orang lain yang butuh, tetapi dibebani
34

HukumGadai Syariah

kewajiban tambahan dalam membayar kembali sebagai imbangan valz~t!of


time, akan beratkan peminjam. Karena itu, bagi pemil ik barang berharga,
kesulitan dana segera dipenuhi dengan cara menjual barang berharga itu,
hingga jumlah uang yang diingini terpenuhi. Risikonya, barang yang dijual
akan hilang dan sulit kembali. Agar kebutuhan dana dapat dipenuhi tanpa
kehilangan barang berharga itu, peminjam menaruh barangnya sebagai
jaminan sampai waktu tertentu dapat ditebus kembali setelah dilunasi
pinjamannya, ha1 ini dinamakan 'lembaga gadai'. Adanya gadai ini,
masyarakat tidak periu takut kehilangan barang berharganya dan jumlah
uang diinginkan dapat disesuaikan dengan harga barang yang dijaminkan.
Pegadaian adalah lembaga yang unik, di satu pihak Pegadaian dapat
memberikan pinjamanlpembiayaan pada siapapun yang butuh, sedang di
pihak lain, Pegadaian tidak diperkenankan menghimpun dana masyarakat,
seperti tabungan, giro, deposito, seperti bank. Demikian juga halnya
operasional Pegadaian Syariah. Masyarakat yang biasa berhu bungan
dengan Pegadaian disebut nasabah. Nasabah itu memiliki kondisi sosial
ekonomi dengan karakteristik yang berbeda, yang berpengaruh terhadap
kelancaran pembayaran pinjaman. Sebagaimana kesimpulan penelitian
Kities . tentarrg Profil Nasabah Pegadaian, bahwa nasabah yang memanfaatkan pinjaman untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga (44%), yang
berarti fungsi sosial gadai terpenuhi sangat dominan. xiv Kesimpulan
penelitian Mardiani di Perum Pegadaian Jawa Tengah tahun 1988-1992
bahwa barang jaminan memiliki jenis lebih banyak, barangnya bergerak dan
memiliki nilai ekonomis, serta kesimpulan penelitian Woeriyanto bahwa
pengguna dana gadai banyak digunakan golongan sosial ekonomi menengah
kebawah dan Pegadaian memiliki kredit macet yang kecil (NPL), hanya
1%.6'
Guna mempelajari praktik syariah di Pegadaian Syariah, berdasar
latar belakang gadai syariah lebih bersifat fungsi sosial. Dengan
perkembangan ekonomi saat ini, furigsi sosial itu tidak harus diganti jadi
fungsi komersil. Karena kedua fungsi itu, dapat berjalan beriringan dalam
operasionalnya, terpenting dapat memilah akad apa yang tepat digunakan
untuk kedua fungsi tersebut.

"'

Wcxriyanto. Financial Ana!vsis and irs Relarionship b the Performance qj'Perum Peguduiun. '1'11csis
Institute of Management. IElJ. Jakarta: 1993. dalam lin Endang Mardiani. Analisis E'aktor I'enrntu
Perkembangan Pegadaian di Jawa Tengah. Tesis Program Pascasarjana Universitas Indo~lesia.
Jakarta:1994. hal. 46.

Timjauan bun Godai Syoriah

35

Karena gadai syariah itu pinjaman atau pembiayaan, ~nakayang


sesuai dengan konsep utang piutang ini adalah akad qardhul hasan (bersifat
adaministrasi) dan ijarah (biaya jasa simpanan) yang sifatnya sosialkonsumtif dan akad bagi hasil (PLS), akad rahn, mudharabah (musyarakah)
dan ba'i mugclyyadah yang sifatnya komersil produktif maupun konsumtif.
Perninjam di gadai syariah biasanya untuk fungsi sosial-konsumtif
ini bagi rnasyarakat ekonomi bawah, wajib dilunasi waktu jatuh tempo tanpa
ada tambahan apapun yang disyaratkan (kembali pokok pinjaman). Peminjam hanya menanggung biaya nyata terjadi, seperti biaya administrasi
(materai, akte notaris, dan lain-lain), biaya penyimpanan, dan sebagainya,
serta dibayarkan dalam bentuk uang, ' bukan prosentase seperti akad
mudharabah (musyarakah). Namun, peminjam waktu jatuh tempo tanpa
ikatan syarat apapun boleh ~nenambahkan secara sukarela pengembalian
utangnya. Sedangkan penggunaan akad bagi hasil, akad rahn, mudharabah
(musymakah) dan akad ba'i magayyadah apabila digunakan untuk sifatnya
produktif (rnembuka atau meningkatkan usaha nasabah).
Narnun, bila perninjam mernilih perjanjian bagi hasil, terlebih
dahulu disepakati porsi bagi hasil, dirnana posisi peminjam dana sebagai
mudharib (pengelola pinjaman), hingga secara tidak langsung Pegadaian
sebagai penyandang dana (shahibul maul) membantu kegiatan ekonomi dan
usaha urnat.
Dalarn al-Qur'an surat al-Baqarah ayat 283 dijelaskan bahwa gadai
pada hakikatnya merupakan saiah satu bentuk dari konsep rnuumaluh,
dirnana sikap menolong dan sikap amanah sangat ditonjolkan. Begitu juga
dalam hadits Rasulullah Saw. dari Ummul Mu'minin 'Aisyah ra. yang
diriwayatkan Abu Hurairah, di sana nampak sikap menolong antara
Rasulullah Saw. dengan orang Yahudi saat Rasulullah Saw menggadaikan
baju besinya kepada orang Yahudi tersebut.
Maka pada dasarnya, hakikat dan fungsi Pegadaian dalam Isla~n
adalah semata-mata untuk memberikan pertolongan kepada orang yang
membutuhkan dengan bentuk marhun sebagai jaminan, dan bukan i~ntuk
kepentingan komersil dengan mengambil keuntungan yang sebesar-besarnya
tanpa menghiraukan kemampuan orang lain.62
Produk rahn disediakan untuk membantu nasabah dalam pembiayaan kegiatan multiguna. Rahn sebagai produk pinjaman, berarti Pegadaian
syariah hanya memperoleh imbalan atas biaya administrasi, penyimpanan.
-

"

36

Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit. hal. 63.

Hukum Gadoi Syoriah

pemeliharaan, dan asuransi marhun, maka produk rahn ini biasanya hanyn
digunakan bagi keperluan fungsi sosial-konsumtif, seperti kebutuhan hidup,
pendidikan dan k e ~ e h a t a n .Sedangkan
~~
rahn sebagai produk pembiayaan,
berarti Pegadaian syariah memperoleh bagi hasil dari usaha rahin yang
dibiayainya.
5. .Syarat Sah Gadai Syariah
Sebelum dilakuan rahn, terlebih dahulu dilakukan akad. Akad lnenilri~t
Mustafa a z - ~ a r ~ adalah
a ' ~ ~ ikatan secara hukum yang dilakukan oleh 2
pihak atau beberapa pihak yang berkeinginan untuk mengikatkan diri.
Kehendak pihak y,mg mengikatkan diri itu sifatnya tersembunyi dala~nhati.
Karena itu, untuk menyatakan keinginan masing-masing diungkapkan dalam
suatu akad.
Lllama fiqh berbeda pendapat dalam menetapkan n ~ k u n rahn.
Menurut jumhur ulama, rukun rahn itu ada 4 (empat), yaitu:
1. Shigat (lafadz ijab dan qabul);
2. Orang yang berakad (rahin dan murtahin);
3. Harta yang d ijad ikan marhzm; dan
4. Utang (marhum bih).
Ulama Hanafiyah berpendapat, rukun rahn itu hanya ijah
(pernyataan menyerahkan barang sebagai jaminan pemilik barang) dan qubul
(pernyataan kesediaan memberi utang dan menerima barang jaminan itu).
Menurut Ulama Hanafiyah, agar lebih sempurna dan mengikat akad rahn,
maka diperlukan qabdh (penguasaan barang) oleh pemberi utang. Adapun
rahin, murtahin, marhun, dan marhun bih itu termasuk syarat-syarat rahn,
bukan r u k i ~ n n ~ a . ~ ~
a. ~ a h i n d a nMurtahin
Pihak-pihak yang melakukan perjanjian rahn, yakni ruhin dan murtuhin
harus mengikuti syarat-syarat berikut kemampuan, yaitu berakal sehai
Kemam puan j uga berarti kelayakan seseorang untuk melakukan transaksi
I
pemilikan.
Syarat yang terkait dengan orang yang berakad, adalah cakap
bertindak hukum (baligh dan berakal). Ulama Hanafiyah hanya mensyarat-

""adi

Janwari dan H.A. Iljajuli. 1.elnbaga-Lembaga Perekonomian IJnlst: Sehual~Pengcnalan. Etlisi


I . Cetakan I . PT. Rajatiratindo Persada. Jakarta: 2002. hal. 80.
#,I
Mustafa az-Zarqa' dalam M. Ali Hasan. Berbagai Macam 'ltansaksi dalam Islan~.Cetilka~~
I'rrtiln~i~.
PI'.Rajafiratindo Persada. Jakarta: 2003, hal. 102-103.
Nasrun Flaroen. Fiqh M~mniuluh.Cetakan Pertama. Ciaya Media Pratama. Jakarla: 2000. Ilal.. 254.

"'

Tinjauan Umm Gadai Syariah

37

kan cukup berakal saja. Karenanya, anak kecil yang mumayyiz (dapat
membedakan antara yang baik baik dan buruk) boleh melakukan akad rahn,
dengan syarat mendapatkan persetujuan dari walinya. Menurut Hendi
Suhendi, syarat bagi yang berakad adalah ahli tasharuJ; artiriya rnampu
membelanjakan harta dan dalam ha1 ini memahami persoalan yang berkaitan
dengan rahnPG6

b. Syarat Sight (Lafadz)


Ulama Hanafiyah mengatakan dalam akad itu tidak boleli dikaitkan dengan
syarat tertentu atau dengan masa yang akan datang, karena akad rahn itu
sama dengan akad jual-beli. Apabila akad itu dibarengi dengan, maka syaratnya batal, sedangkan akadnya sah. Misalnya, rahin mensyaratkan apabila
tenggang waktu marhun bih telah habis dan marhun bzh belum terbayar,
maka rahn itu diperpanjang 1 bulan, mensyaratkan marhun itu boleh
murtahin manfaatkan. Ulama Malikiyah, Syafi'iyah, dan Hanabilah mengatakan apabila syarat itu adalah syarat yang mendukung kelancaran akad itu,
maka syarat itu dibolehkan, namun apabila syarat itu bertentangan dengan
tabiat akad rahn, maka syaratnya batal. Kedua syarat datam contoh tersebut,
termasuk syarat yang tidak sesuai dengan tabiat rahn, karenanya syarat itu
dinyatakan batal. Syarat yang dibolehkan itu, misalnya, untuk sahnya rahn
itu, pihak murtahin minta agar akad itu disaksikan oleh 2 orang saksi,
sedangkan syarat yang batal, misalnya, disyaratkan bahwa marhun itu tidak
boleh dijual ketika rahn itu jatuh tempo, dan rahin tidak mampu
membayarnya.67
Sedangkan Hendi Suhendi menambahkan, dalam.akad dapat dilakukan dengan lafadz. seperti penggadai rahin berkata; 'Aku gadaikan mejaku
ini dengan harga Rp 20.000' dan murtahin menjawab; 'Aku terima gadai
mejamu seharga Rp 20.000'. Namun, dapat pula dilakukan sepertkdengan
surat, isyarat atau lainnya yang tidak bertentangan dengan akad r ~ h n . ~ ~
Sighat tidak boleh terikat dengan syarat tertentu dan juga dengan
suatu waktu di masa depan. Selain itu, Rahn mempunyai sisi pelepasan
barang dan pemberian utang seperti halnya akad jual beli. Maka tidak boleh
diikat dengan syarat tertentu atau dengan suatu waktu di masa depan.

"
"'
'*
38

Hendi Suhendi. Fiqh Muamalalt: Membahas Ekonomi Islam. Cetakan Pertama. PT. Rajaikatindo
Persada. Jakarta: 2002. hat.. 107.
Nasrun Haroen. Op. cit. hal.. 255.
[bid. ha!. 107.

Hukum Godai Syorioh

c. Mnrhun Bilz (Utang)


Dalam ha1 ini ~ ~ n t uadanya
k
marhun bih h a r ~ ~memenuhi
s
syarat
sebagai syarat sahnya Gadai Syariah, yakni:
I . Harus merupakan hak wajib yang diberikanldiserahkan kepada pemiliknya (murtahin).
2. Marhun bih itu boleh dilunasi dengan marhull itu;
3. Marhun bih itu jelasltetap dan tertentu. 69
4. Memungkinkan pemanfaatan. Bila sesuatu me~ijadi utang tidak bisa
dimanfaatkan, maka tidak sah.
5. Harus dikuantifikasi atau dapat dihitung jumlalinya. Bila tidak dapat
diukur atau tidak dikualifikasi rahn ini tidak sah.
d. Mnrh un (Benda Jaminan Gadai)
Hanafiyah mensyaratkan marhun sebagai berikut: dapat diperjualbelikan,
bermanfaat, jelas, milik rahin, bisa diserahkan, tidak bersatu dengan harts
marhun seperti persyaratan barang dala~njual beli. Sedangkan ulama lain
berpendapat bahwa marhun harus dipegang (dikuasai) oleh ralzin, harta yang
tetap atau dapat dipindahkan. Ulama Syafi'iyali dan Hanabilah berpendapat
bahwa sela~namarhun berada di tangan murtahin, jika ada kerusakan ~naka
murtahin tidak menanggung risiko apapun.
Ulama Hanafiyah berpendapat bahwa murtahin menanggung risiko
sebesar harga barang yang minimum, dihitung mulai waktu diserahkannya
sa~npaihari rusak atau h i ~ a n ~ . ~ '
Secara umum barang gadai harus memenuhi beberapa syarat, anlard lain:

I . Harus bisa diperjualbelikan, Murhun itu boleh di-jual dan nilainya


seimbang dengan marhun bih;
2. Harus berupa harta yang bernilai.
3. Marhun harus bisa di~nanfaatkansecara syari'ah.
4. Harus diketahui keadaan fisiknya, maka piutang tidak sah ~untukdigadaikan harus berupa barang yang diterima secara langsung.
5. Harus dimiliki oleh rahin (peminjam atau penggadai) setidaknya harus
seizin pemiliknya.
6 . Mnrhun itu tidak terkait dengan hak orang lain:
7. Mwhun itu merupakan harta yang utuh, tidak bertebaran dalam bebcrapa
tempat; dan
8. M u r h n itu boleh diserahkan, baik materinya maupun r n a n f a a t ~ i ~ a . ~ '
""

'"

Ntarun Haroen. Op. cit. hal. 255.


Kacllmat Syati'i, Fiqih Muu~nalat,Pustaka Setia 2001. hal. 164

Tinjauan Umum Gadai Syariah

39

Pada dasarnya, murhun tidak boleh diambil manfaatnya, baik oleh


rahin maupun murtahin, kecuali apabila mendapat izin masing-masing pihak
yang bersangkutan. Hak murtahin terhadap marhun hanya sebatas rnenahan
dan tidak berhak menggunakan atau mengambil hasilnya, dan seiama
marhun ada di tangan murtahin sebagai jaminan marhun bih, rahin tidak
berhak menggunakan marhun, terkecuali apabila kedua rahin dan murtahin
ada k e ~ e ~ a k a t a n . ~ ~
Adapun mengenai boleh atau tidaknya marhun diambii manfaatnya,
beberapa ulama berbeda pendapat. Namun menurut Syafi'i (1997), dari
beberapa perbedaan pendapat ulama yang tergabung-dalam 4 madzhab tersebut, yaitu Malikiyyah, Syafi'iyyah, Hambaliyyah, dan Hanafiyyah,
sebenarnya ada titik temu. Inti dari kesamaan pendapat 4 madzhab tersebut,
terletak pada pemanfaatan marhun pada dasarnya tidak diperbolehkan oleh
syara ', namun apabila pemanfaatan marhun tersebut sudah mendapatkan
izin dari, baik rahin maupun murtahin, maka pemanfaatan marhun itu
diperbolehkan.
Penjelasan pendapat 4 madzhab itu, tentang pemanfaatan marhun
adalah sebagai b e r i k ~ t ~ ~ :
1. Imam ~y'afa'i mengatakan bahwa manfaat dari marhun adalah rahin,
tidak ada sesuatu pun dari marhun bagi rn~rtahin?~
Menurut ulama
Syafi'iyyah bahwa rahin lah, yang mempunyai hak atas manfaat marhun,
meskipun marhun itu ada di bawah kekuasaan murtahin. Kekuasaan
murtahin atas marhun tidak hilang, kecuali ketika mengambil manfaat
atas marhun tersebut?'
Berdasarkan ketentuan tersebut, bahwa yang berhak mengambil
manfaat dari marhun adalah rahin tersebut, bukan murtahin, walaupun
marhun berada di bawah kekuasaan murtahin.
Alasan yang digunakan ulama as-Syafi'iyyah adalah sebagai berikut:
Pertama, Hadits Nabi Saw. yang artinya "Dari Abu Hurairah dari
Nabi Saw, Dia bersabda: 'Gadaian itu tidak menutup a h yang
punya dari manfaat barang itu, faedahnya kepunyaan dia, dun diu
wajib mempertanggungjawabkun segala nya (kerusakun dun biuyu) ".

"
7z

'
''
40

Nasrun Haroen. Op. cif hal. 255.


A.A. Basyir, Op. cit. hal. 56.
Rahmad Syati'i dalam Chuzaimah d m Hatiz 1997
Chuzaimah T. Yanggo d m Hatiz Anshari, Op. cit. hal. 155.
Ibid. hal. 333.

Hukun Gadoi Syarioh

(HR. Asy-Syafi'i dan Daruquthny dan ia berkata bahwa sa~iadnya


Hasan dan bersambung).
Hadits tersebut, menjelaskan bahwa rahin berhak mengambil manfaat
dari marhun selama pihak rahin menanggung segalanya.
Kedua, Hadits Nabi Saw. yang artinya "Dari Abu Hurairah r.a iu
berkata, bersabda Rasulullah Saw. Yang artinya: 'Barangjaminan itu
dapat ditunggangi dan diperah".
Berdasarkan hadits di atas, bahwa pihak yang berhak menunggangi
dan memerah susu adalah rahin.
Ketiga, Hadits Nabi Saw. yang artinya "Dari Ibu Umar ia berkata,
bersabada Rasulullah Saw. yang artinia 'Hewan seseorang tiduk
boleh diperas tanpa seizinpemiliknya" (HR.Bukhari).
Hadits di atas menjelaskan bahwa murtahin tidak boleh memerah susu
tan pa seizin rahin.
Berdasarkan hadits tersebut, maka ulama Syafi'iyyah berpendapat bahwa
marhun itu tidak lain sebagai jaminan atau kepercayaan atas murtahin.
Kepernilikan marhun tetap ada pada rahin. karenanya, manfaat atau hasil
dari marhun itu milik rahin. Kemudiaan asy-Syafi' menjelaskan tasarruf
yang dapat mengurangi harga marhun adalah tidak sah, kecuali atas izin
murtahin. Oleh karena itu, tidak sah bagi rahin menyewakan marhun.
kecuali ada izin dari murtahin. Selanjutnya apabila murtahin mensyaratkan bahwa manfaat marhun itu baginya yang disebutkan dalaln akad.
maka akad itu rusakltidak sah. Sedangkan apabila mensyaratkannya
sebelum akad, maka ha1 itu dibo~ehkan.'~
2. Pendapat Ulama Malikiyyah
Ulama Malikiyyah berpendapat hasil dari marhun dan segala sesuatu
yang dihasilkan dari padanya, adalah termasuk hak rahin. Hasil gadaian
itu adalah bagi rahin, selama murtahin tidak mensyaratkan. Apabila
murtahin mensyaratkan bahwa hasil marhun itu untuknya, maka ha1 it11
dapat saja dengan beberapa syarat, yaitu:
Utang disebabkan karena jual beli, bukan karena mengutangkan. Hal
ini dapat terjadi, seperti orang menjual barang dengan harga tangguli
(tidak dibayar kontan), kemudian orang tersebut meminta gadai
dengan suatu barang sesuai dengan utangnya, maka ha1 ilii
dibolehkan;
"

Muhammad dan Sholikhul Hadi. Op. cit, hal. 66-69.

Ttjatmn Unun Gadoi Syorioh

41

Pihak murtuhin mensyaratkan bahwa manfaat dari marhun adalah


untuknya;
Jangka waktu mengambil manfaat yang telah disyaratkan harus
ditentukan, apabila tidak ditentukan dan tidak diketahui batas waktunya, maka menjadi batal atau tidak sah. Alasan lama Malikiyyah
sama dengan alasan ulama Syafi'iyyah, yaitu hadits Abu Hurairah dan
lbnu Umar. Mengenai hak rnz~rtahin lianya menahan rnnrhun yang
berfi~ngsisebagai barang jaminan. Sedangkan apabila membolehkan
mzrrtahin mengambil manfaat dari marhun, berarti membolehkan
mengambil manfaat dari barang yang bukan mil iknya, sedangkan ha1
itu dilarang oleh syarn'.
#
Selain itu, apabila murtahin mengambil manfaat dari nlarhun, sedangkan marhun itu sebagai jaminan utang, ~nakaha1 ini juga tidak
dibolehkan.
%

Adapun pendapat ulama Malikiyyah tersebut, menurut Syati'i ( 1 997),


adalah bahwa yang berhak mengambil manfaat dari marhun adalah
pihak rahin, namun, pihak nzurtahin pun dapat mengambil manfaat
dari nzarhun itu dengan syarat yang telah disebutkan di a t a ~ . ~ ~
3. ~ e h d a ~ a t ' u l a mHanabillah
a
Ulama Hanabillah lebih memperhatikan marhun itu sendiri, yaitu hewan
atau bukan hewan, sedangkan hewan pun dibedakan pula antara hewan
yang dapat diperah atau ditunggangi dan hewan yang tidak dapat diperah
atau ditunggangi.
Pendapat yang dikemukakan ulama Hambaliyyah adalah rrrurl7un
ada kalanya hewan yang dapat ditunggangi dan diperah, dan ada kalanya
bukan hewan, rnaka apabila marhun berupa hewan yang dapat ditunggangi, rnaka pihak murtahin dapat mengambil rnanfaat murhun tersebut
dengan menungganginya dan mernerah susunya tanpa seizin yang menggadaikan. Adapun menurut Rahmad Syafi'i, jika marhun itu tidak dapat
ditunggangi dan diperah susunya, maka dalam ha1 ini dibolehkan bagi
murtahin untuk mengarnbil manfaat marhun tersebut dengan seizin dari
rahin, dengan catatan marhun itu bukan disebabkan utang.''
Dalam kondisi sekarang. maka akan lebi h tepat apabi la nlurhulr
berupa hewan itu di-yiyus-kan dengan kendaraan. Illat-nya yang disamakan adalah hewan dan kendaraan sama-sarna memiliki fungsi yang dapa~

77

7n

42

Ibid. hal. 69-70.


~ h u z a i m a h'r. Yanggo dan Hatiz Anshari. Up. cit. hal. 71

HukumGodai Syariah

dinaiki. dan diperah susunya dapat di-illat-kan dengan digunakannya kendaraan it11 untuk ha1 yang 'menghasilkan', dengan syarat tidak melusak
kendaraan itu. Hal yang dapat dipersamakan illat-nya adalah 'hasilnya7,
yaitu apabila hewan hasilnya susu, maka kendaraan hasilnya uang.'"
Selanjutnya syarat bagi murtahin untuk mengainbil manfaat marhun yang
bukan berupa hewan adalah sebagai berikut:
a. Ada izin dari penggadai rahin;
b. Adanya gadai bukan sebab mengutangkan.
Sedangkan apabila marhun itu tidak dapat diperah dan tidak dapat ditunggangi, maka barang tersebut dibagi menjadi 2 bagian:
a. Apabila marhun berupa liewan, maka boleh menjadikannya sebagai
khadam;
b. Apabila marhun bukan hewan, seperti rumah, kebun, sawah dan
sebagainya, maka tidak boleh mengambil manfaatnya.
Adapun yang menjadi alasan bagi Imam Ahmad atas pendapatnya itu,
adalah sebagai berikut:
Pertama, kebolehan murtahin mengambil manfaat dari marhun yang
dapat ditunggangi dan diperah ialah Hadits Nabi Saw. yang artinya
"Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, bersabda Rasulullah Suw.:
barang gadai 'barang gadai (marhun ' dikendarai obh sebab najkuhnya, apabila ia digadaikan dun susunya diminum, dengan nafkahnyu
apubila digadaikan dun atas yang mengendarui dun men~inunr
susunya wajib nufkahnya (HR. Bukhari).
Hadits lain yang di-jadikan alasan murtuhin dapat mengambil 11ianl:dat
dari marhun adalah Hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Hammad
"Dari Hammad bin Salamah ia berkata, bersubdu Nahi Saw.:Alxrhiltr
seekor kambing digudaikan, maka yang nzenerimct gadai boleh mer~rinum susunya sesuai dengan kadar memberi makannyu, ~ip~rhil~r
meminum susu itu melebihi harga memberi nafkahnya, maka termu,suk
riba".
Hadits tersebut membolehkan murluhin untuk memanfaatk;ui
murlahin atas seizin dari piliak ruhin, dan nilai pemanfaatannya hal-us
disesuaikan dengall biaya yang telall dikeluarkannya untuli rntrrlrurr
tersebut.

''

Abdul Wahhah Khallaf. llmtr l~slrrrlFiqh. Alih Bahasa Noer lskandar d a ~ iM. 'folcliali Matiso~l..
Gema lnsani Press. Jakarta: 1994. lial. 80.

Tinjauan Umum Gadai Syariah

43

Kedua, tidak bolehnya murtahin mengambil manfaat tnarhun selain


dari barang yang dapat ditunggangi dan diperah susunya adalah sesuai
dengan hadits yang artinya "Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw. ia
bersabda: Gadaian itu tidak menutup akan yang punyanya dari
manfaat barang itu, faedahnya kepunyaannya dia dun dia wajib
mempertanggungjawabkan segala nya" (HR. Bu khari).
Dan hadits lain "Dari Ibnu Umar ia berkata, bersabda Rasulullah
Saw.:Hewan seseorang tidak boleh diperah tanpa seizin pemiliknya "
(HR. Bukhari).
Alasan ketidakbolehan mengambil manfaaf marhun oleh murtahin
dalam Hadits tersebut, adalah sama dengan alasan yang dikemukakan
Imam as-Syafi'i, Imam Maliki, dan ulama ~ a i n n ~ a . ~ '
4. Pendapat Ulama Hanafiyah
Menurut ulama Hanafiyah tidak ada bedanya antara pemanfaatan marhun
yang mengakibatkan kurangnya harga atau tidak, maka apabila rahin
memberi Izin, maka murtahin sah mengambil manfaat dari marhun oleh
rahin." Adapun alasan ularna Hanafiyyah bahwa yang berhak mengambil
manfaat.dari marhun adalah sebagai berikut;

Pertama, Hadits Rasulullah Saw.: "Dari Abu Shalih dari Abu


Hurairah, sesungguhnya Nabi Saw. Bersabda Barang jaminan utang
dapat ditunggangi dan diperah, serta atas dmar menunggangi dun
memerah susunya wajib menmh?' (HR. Bukhari). Nafkah murhun
itu adalah kewajiban murtahin. karena marhun tersebut berada di
kekuasaan murtahin. Oleh karena yang memberi natkah adalah
murtahin, maka para ulama Hanafiyyah berpendapat bahwa yang
berhak mengambil manfaat dari marhun tersebut adalah pihak
murtahin.
Kedua, menggunakan alasan dengan akal. Sesuai dengan fungsinya
marhun sebagai barang jaminan dan kepercayaan bagi murtahin, maka
marhun dikuasai murtahin. Dalam ha1 ini, ulama Hanafiyyah berpendapat, yaitu 'Apabila marhun dikuasai rahin, berarti keluar dari
tangannya dan marhun menjadi tidak ada artinya. Sedangkan apabila
marhun dibiarkan tidak dimanfaatkan murtahin, maka berarti menghilangkan manfaat dari barang tersebut, apabila barang tersebut
~nemerlukanbiaya untuk pemeliharaannya. Kemudian, jika setiap saat

"

''
44

Muhammad dan Solikhul Hadi. Op. cit. hal. 71-73.


Ibid, hal. 72.

Hukun Gadai Syariah

rahin harus datang kepada murtahin untuk memelihara dan mengambil manfaatnya. Hal ini akan mendatangkan madharat bagi kedua
belah pihak, terutama bagi pihak rahin.
Demikian pula, apabila setiap kali murtahin harus memelihara dan
menyerahkan manfaat barang gadaian kepada rahin, ini pun sama
madharat-nya, maka dengan demikian, murtahin yang berhak mengambil manfaat dari marhun tersebut, karena murfahin pulalah yang
memelihara dan menahan barang tersebut sebagai jaminan.82Pendapat
ulama Hanafiyyah tersebut, menunjukkan bahwa yang berhak
memanfaatkan marhun adalah pihak murtahin. Hal ini disebabkan
karena marhun tersebut yang telah dipelihara pihak murtahin dan ada
di bawah k e k u a ~ a a n n ~ a . ~ ~
Berdasarkan pemaparan pendapat ulama tentang pengambilan manfaat
marhun termasuk alasannya, maka menurut Rahmad Syafi' (1997),
pendapat-pendapat tersebut di atas dapat dianalisis sebagai berikut:
1. Analisis terhadap Pendapat Ulama as-Syafi 'iyyah dan Malikiyah
Kedua ulama tersebut sependapat bahwa pengambilan manfaat marhun
adalah rahin dan murtahin tidak dapat mengambil manfaat marhun.
kecuali atas izin dari rahin. Mereka beralasan dari hadits Abu Hurairah.
Hadits tersebut menegaskan bahwa rahin tetap tidak dapat tertutup dari
manfaat marhun, kerugian dan keuntungannya adalah di pihak rahin itu
sendiri. Hadits tersebut diriwayatkan juga oleh Halim, Baihaqi. dan lbnu
Hibban pada kitab sahihnya, Abu Dawud dan al-Bazzar telah menganggapnya pula sebagai hadits yang shahih. Karena hadits itu shuhih,
maka sah dijadikan dalil. Hadits tersebut diperkuat lagi dengan had its
riwayat Ibnu Umar yang mengatakan bahwa 'hewan seseorang tidak
dapat diperah tanpa seijin pemiliknya'. Hadits ini diriwayatkan oleh
Bukhari dan shahih derajatnya.
Berdasarkan hadits tersebut, maka yang berhak mengambil manfaat
marhun adalah rahin, karena sebagaimana sudah dijelaskan bahwa
marhun hanya merupakan kepercayaan bukan penyerahan hak mi li k.
Karenanya, rahin pemilik yang sah, maka rahin juga yang berhak
mengambil manfaatnya, sedang murtahin tidak boleh mengambi l man frat
dari murhun, kecuali dengan seizing rahin.

I1

Chuzaimah 'f. Yanggo den Hatiz Anshari, Op.cit, hal. 73.


Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit, hal. 73-75.

Tmjauan bun Gadai Syariah

45

2. Analisis terhadap Pendapat Lllama Hanabilali


Imam Ah~nad berpendapat bahwa murtahin tidak dapat mengambil
manfaat dari marhun kecuali hanya pada hewan yang dapat ditunggangi
dan diperah susunya dan sesuai dengan biaya yang dikeluarkannya
(Rahmad Syafi'i dalam Chuzaiman dan ~ a f i z ) . ' ~
Pendapat Imam Ahmad tersebut, didasarkan pada liadits yang maksudnya
"Punggung dikendarai oleh sebab naJkahnya apabilu digadaikan dan
susunya diminum dengan nafkahnya apabila digadaikan, dan utus orang
yang mengendarai dan meminum susunya wajib nafkah".
Hadits ini shahih, yang diriwayatkan Imam Bukhari dalam kitab
shuhihnya. Oleh karena itu, hadits ini kuat dan dapat dijadikan huijah
(alasan). Hadits itu menunjukkan, murtahin dapat mengambil manfaat
atas marhun seimbang dengan nafkah yang telali dikeluarkan, meski pun
tanpa ada izin dari rahin. Namun hadits it11 secara khusus lnensyaratkan
bagi binatang yang dapat ditunggangi dan diperah saja. Karenanya, imam
Ahmad hanya membolehkan mengambil manfaat niarhun pada liewan
yang dapat ditunggangi dan diperah susunya saja. Sedangkan bagi barang
lainnya, manfaatannya tetap rahin.
3. Analisis terhadap Pendapat Ulama Hanafiyah
lmam Abu Hanafi berpendapat manfaat marhun adalah hak murtuhin.
Pendapat ini-didasarkan hadits Abu Hurairah yang mengatakan mnrhun
dapat ditunggangi dan diperah susunya. Hadits tersebut diriwayatkali
Daruquthny-dan Hakim,sert. menganggapnya shahih.
Dalam menafsirkan hadits tersebut, lmam Bukhari memahami bahwa
yang berhak menunggangi dan memerah susu binatang itu adalali
murtahin. Hal ini ditunjang oleh alasan yang kedua (dengan akal), yaitu
karena marhun berada dalam kekuasaan murtahin. Karenanya, murluhii?
pula yang berhak mengambil manfaatnya.85
Selanjutnya Rahmad Syafi,.i mengatakan bahwa liadits tersebut lianya
dapat diterapkan bagi hewan yang ditunggangi dan diperah. susunya,
sedangkan bagi yang lainnya tidak dapat di-qiyus-kan. Demikian juga
dengan alasan kedua (dengan jalan akal) adalah menyalalii niaksud clan
tujuan gadai, yaitu bahwa marhun itu sebagai kepercayaal~buksln pemilikan, maka apabila membolehkan mengambil manfaat dari murhuti
tersebut kepada murtahin berarti membolehkan mengambil manfaat

''
46

Chuzaimah T. Yanggo dan Hatiz Anshari, Op.cit. hal. 75


/bid, ha1.76.

HukumGodoi Syorioh

marhun kepada yang bukan pemiliknya. Sedangkan yang demikian itu,


dilarang oleh syara '. Imam Abu Hanifah juga tidak inenyebutkan tentang
hadits yang dijadikan alasan Jumhur Lllama yang mengatakan segala
risiko keuntungan dari marhun adalah rahin. Mungkin hadits yang
dimaksud tidak sampai kepada Imam Abu Hanifah atau mungkin juga
sampai, namun perawi haditsnya kurang terpercaya, sehingga Hanifah
yang menggunakannya sebagai dasar hukum atau hujjah.
Berdasarkan penjelasan di atas, maka tidak dijumpai keterangan yang
secara langsung mengenai masalah menggadaikan tanah ataupun kebun,
baik dalam Al-Qur'an maupun al-Hadits, dan yang ada hanyalah
mengenai masalah binatang. Sedangkan gadai-menggadai tanah itu tidak
dapat di-qiyas-kan dengan binatang, karena binatang adalah hewan, dan
termasuk benda bergerak, sedangkan tanah dan kebun termasuk kepada
benda yang tidak bergerak.86
Jadi gadai syariah itu bukan termasuk akad pemindahan hak milik
(bukan jual-beli ataupun sewa-menyewa), namun hanya sekedar jaminan
untuk akad utang piutang. Berdasarkan dari pendapat ulama tersebut, maka
hak milik dan manfaat atas marhun berada pada pihak rahin. Pihak murtahin
tidak boleh mengambil manfaat murhun kecuali apabila diizinkan pihak
rahin.

''

e. Syarat Kesempurnaan Rahn


Syarat Kesempurnaan Rahn (memegang barang) antara lain atas seijin
rahin, baik secara jelas maupun petunjuk, rahin dan murtahin harus ahli
dalam akad, murtahin hams tetap memegang rahin.
6. Perlakuan Bunga dan Riba dalam Perjanjian Gadai
Aktivitas perjanjian gadai yang selama ini telah berlaku, yang pada dasarnya
adalah perjanjian utang piutang, dimungkinkan terjadi riba yang dilarang
oleh syara'. Riba terjadi apabila dalam perjanjian gadai ditemukan bahwa
hams memberikan tarnbahan sejumlah uang atau prosentase tertentu dari
pokok utang, pada waktu membayar utang atau pada waktu lain yang telah
ditentukaii oleh murtahin. Hal ini lebih sering disebut dengan bunga gadai
dan perbuatan yang dilarang syara'. Karena itu aktivitas perjanjian gadai
dalam islam tidak membenarkan adanya praktik pemungutan bunga karena
larangan syara', dan pihak yang terbebani, yaitu pihak penggadai akan

ffi

"

Chuzaimah T. Yanggo dan Hafiz Anshari. Op. cit, hat. 77.


Ibid, ha!. 78.

Tinjauan lRmm Gadai Syoriah

47

merasa dianiaya dan tertekan, karena selain harus mengembalikan utangnya,


dia juga masih berkewajiban untuk membayar bunganya."
Gadai pada prinsipnya merupakan kegiatan utang piutang yang
murni befingsi sosial. Namun, ha1 ini berlaku pada masa Rasulullah Saw.
masih hidup. Rahn pada saat itu belum berupa sebuah lembaga keuangan
formal seperti sekarang ini, sehingga aktivitas gadai hanya berlaku bagi
perorangan. Jadi pada saat itu masih mungkin jika aktivitas tersebut hanya
berfungsi sosial dan rahin tidak berkewajiban memberikan tambahan apapun
dalam pelunasan u t a ~ i ~ n ~ a . ~ ~
Kondisi saat ini, gadai sudah menjadi lembaga keuangan formal
yang telah diakui oleh pemerintah. Mengenai fungsi dari Pengadaian
tersebut tentu sudah bersifat komersil. Artinya Pegadaian harus memperoleh
pendapatan guna menggantikan biaya-biaya yang telah dikeluarkan,
sehingga Pegadaian mewajibkan menambahkan sejumlah uang tertentu
kepada nasabah sebagai imbalan jasa?' Minimal biaya itu dapat menutupi
biaya operasional gadai. Gadai yang ada saat ini, dalam praktiknya menunjukkan adanya beberapa ha1 yang dipandang memberatkan dan mengarahkan
kepada suatu persoalan riba', yang dilarang oleh syara' menurut A.A.
~ a s ~ i r RibaB
? ' terjadi apabila dalam akad gadai ditemukan bahwa peminjam
harus mernberi tambahan sejumlah uang atau persentase tertentu dari pokok
utang, pada waktu membayar utang atau pada waktu lain yang telah
ditentukan penerima gadai.
Hal ini lebih sering disebut juga dengan 'bunga gadai'. yang
pembayarannya dilakukan setiap 15 hari sekali. Sebab apabila pembayarannya terlambat sehari saja, maka nasabah harus membayar 2 kali lipat dari
kewajibannya, karena perhitungannya sehari sama dengan 15 hari. Hal ini
jelas merugikan pihak nasabah, karena ia harus menambahkan sejumlah
uang tertentu untuk melunasi utangnya. Padahal biasanya .orang yang
menggadaikan barang itu untuk kebutuhan konsumtif. Namun, apabila tidak
maka dilihat dari segi komersil, pihak Pegadaian dirugikan, misalnya karena
inflasi, atau pelunasan yang tidak tepat waktu, sementara barang jaminan
tidak laku dijual.g2 Karena itu aktivitas akad gadai dalam Islani, tidak
dibenarkan adanya praktik pemungutan bunga karena dilarang syuru', dan
pihak yang terbebani merasa dianiaya dan tertekan, karena selain liarus susah

*'
XY

"'

"'

Muhammad Sholikhul Hadi. Pegudaiun Syuriah, Salemba Diniyah.2003. hat. 3.


Muhammad dan Solikhul Hadi, Op, cit, hal. 61.
Muhammad dan Solikhul Hadi, Op, cit hal. 62.
A.A. Basyir, Op. cit, hal. 55.
A.A. Basyir. Op. cit. hal. 4.

payah mengembalikan utangnya, penggadai juga masih berkewajiban untuk


membayar 'bunga'nya.
Menurut Muhammad Akram Khan, bahwa pinjaman it11 sebagai
bagian dari faktor produksi dan memiliki potensi untuk berkembang dan
menciptakan nilai, serta juga menciptakan adanya kerugian. Oleh karena itu,
apabila menuntut adanya pengembalian yang pasti sebagai balasan uang
(sebagai modal), maka yang demikian itu dapat dianggap bunga dan itu sama
dengan riba
Mengenai riba' itu, para ulama telah berbeda pendapat. Walaupun
demikian, Afzalurrahman dalam Muhammad dan Solikhul Hadi, memberikan pedoman bahwa yang dikatakan riba' (bunga), di dalamnya terdapat 3
unsur berikut:
I . Kelebihan dari pokok pinjaman;
2. Kelebihan pembayaran itu sebagai imbalan tempo pembayaran; dan
3. Sejumlah tambahan itu disyaratkan dalam t r a n ~ a k s i . ~ ~
Sedangkan berdasarkan hasil kesimpulan penelitian Muhammad
Yusuf, tentang Pegadaian Konvensional dalam Perspektif Hukum lslam dan
Viyolina, dengan tentang Sistem Bunga dalam Gadai Ditinjau dari Hukum
Islam, memberikan kesimpulan sebagai berikut Pertama, Islam membenarkan adanya praktik gadai yang dilakukan dengan cara-cara dan tujuan yang
tidak merugikan orang lain. Gadai dibolehkan dengan syarat rukun yang
bebas dari unsur yang dilarang dan merusak perjanjian gadai. Praktik yang
terjadi di gadai kbnvensional, pada dasarnya masih terdapat beberapa ha1
yang dipandaog merusak dan menyalahi norma dan etika bisnis Islam, di
antaranya adalah masih terdapatnya unsur riba', yaitu yang berupa sewa
modal yang disamakm dengan bunga. Kedua, gadai yang berlaku saat ini
masih terdapat satu di antara banyak unsur yang dilarang syara', yaitu dalam
upaya meraih keuntungan, gadai tersebut memungut sewa modal atau bunga.
Ketiga, unsur riba' yang terdapat dalam aktivitas gadai saat ini sudah pada
tingkat yang nyata, yaitu pada transaksi penetapan dan penarikan bunga
dalam gadai yang sudah jelas tidak sesuai,dengan Al-Qur'an dan Al-Hadits.
Keempat, penetapan bunga gadai yang pada awalnya sebagai fasilitas untuk
memudahkan dalam menentukan besar kecilnya pil~.jaman, telah me~ijadi
kegiatan spekulatif dari kaum kapitalis dalam mengekploitasikan keuntuliga~i

''

Muhmmad Akram Khan, Op. cit. hal. 180.


Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit, hal. 64.

Tijouan lkrwm Gadai Slpriah

49

yang besar, yang memberikan kemadharatan, sehingga penetapan bunga


gadai adalah tidak sah dan haram.95
Sedangkan dalam gadai syariah tidak menganut sistem bunga,
namun lebih menggunakan biaya jasa, sebagai penerimaan dan labanya,
yang dengan pengenaan biaya jasa itu paling tidak dapat menutupi seluruh
biaya yang dikeluarkan dalam operasionalnya. Oleh karena itu, untuk menghindari adanya unsur riba' (bunga) dalam gadai syariah dalam usahanya
pembentukan laba, maka gadai syariah menggunakan mekanisme yang
sesuai dengan prinsip-prinsip syariah, seperti melalui akad qardhul hasan
dun akad ijarah, akad rahn, akad mudharabah, akad ba 'i muqayadah, dan
akad musyarakah.
Oleh karena itu, pendapat bahwa gadai ketika sebagai sebuah lembaga keuangan, maka fungsi sosialnya perlu dipertimbangkan lagi, apalagi
fungsi sosial gadai itu dihilangkan, tidak sepenuhnya benar. Karena paling
tidak ada 2 alasan bahwa dengan terlembaganya gadai, bukan berarti
menghilangkan fungsi sosial gadai itu, yang berdasarkan hadits-hadits yang
mendasarinya menunjukkan bahwa fungsi gadai itu memang untuk fungsi
sosial. Alasan itu adalah:
1. Dengan 'terlembaganya gadai, Pegadaian tetap dapat mendapatkan
penerimaan dari pihak rahin, berupa biaya administrasi dan biaya jasa
lainnya, seperti jasa penyimpanan dan pemeliharaan. Berarti Pegadaian
tidak dirugikan;
2. Fungsi sosial tersebut masih diperlukan guna membantu masyarakat yang
membutuhkan dana yang sifatnya mendesak, terutama untuk keperluan
hidup sehari-hari, seperti dalam kasus Rasulullah Saw. Yang
menggadaikan baju besinya demi untuk mendapatkan bahan makanan;
3. Pegadaian tidak akan merugi karena ada marhun, yang dapat dilelang
apabila rahin tidak mampu mambayar.
Hal itu diperkuat pendapat Muhammad Akram Khan, bahwa keberadaan gadai syariah tidak hanya digunakan untuk fungsi komersil (untuk
mendapatkan keuntungan) saja, tetapi juga digunakan untuk fungsi sosial
juga.27 Mungkin yang patut mendapatkan perhatian dari kita adalah imbalan
jasa yang masih digunakan oleh gadai yang dikenal dengan 'bunga gudui',
yang sangat memberatkan dan merugikan pihak penggadai.

"
50

Ibid. hal. 65.

HukumGodoi Syorioh

7. Ketentuan Gadai dalam Islam

a. Kedudukan Barang Gadai


Selama ada di tangan pemegang gadai, kedudukan barang gadai hanya
merupakan suatu amanat yang dipercayakan kepadanya oleh pihak penggadai.96Sebagai pemegang amanat, murtahin (penerima gadai) berkewaj iban
memelihara keselamatan barang gadai yang diterimanya, sesuai dengan
keadaan barang. Untuk menjaga keselamatan barang gadai tersebut dapat
diadakan persetujuan untuk menyimpannya pada pihak ketiga, dengan
ketentuan bahwa persetujuan itu baru diadakan setelah perjanjian gadai
terjadi. Namun akibatnya, ketika perjanjian gadai diadakan, barang gadai ada
di tangan pihak ketiga, maka perjanjian gadai itu dipandang tidak sah; sebab
di antara syarat sahnya perjanjian gadai ialah barang gadai diserahkan
seketika kepada murtahin.
b. Kategori Barang Gadai

Prinsip utama barang yang digunakan untuk menjamin adalah barang yang
dihasilkan dari sumber yang sesuai dengan syari'ah, atau keberadaan barang
tersebut di tangan nasabah bukan karena hasil praktik riba, gharar, dan
maysir. Jenis 'barang gadai yang dapat digadaikan sebagai jaminan dalam
kaidah Islam adalah semua jenis barang bergerak dan tidak bergerak yang
memenuhi syarat sebagai berikut:
I) Benda bernilai menurut syara'.
2) Benda berwujud pada waktu perjanjian terjadi.
3) Benda diserahkan seketika kepada murtahin.
Adapun menurut Syafi'iyah bahwa barang yang dapat digadaikan itu
berupa semua barang yang boleh dijual. Menurut pendapat ulama yang rujih
(unggul) barang-barang tersebut harus memiliki tiga syarat, yaitu:97
1) Berupa barang yang berwujud nyata di depan mata, karena barang nyata
itu dapat diserahterimakan secara langsung.
2) Barang tersebut' menjadi milik, karena sebelum tetap barang tersebut
tidak dapat digadaikan.
3) Barang yang digadaikan harus beirstatus sebagai piutang bagi pemberi
pinjaman.

"

Ibid. hal. 3
Ibid., hat. 157.

Tinjauan Umun Gadai SyPriah

51

c. Pemeliharaan Barang Gadai

Para ula~naSyafi'iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa biaya pemeliharaan barang gadai menjadi tanggungan penggadai dengan alasan bahwa
barang tersebut berasal dari penggadai dan tetap merupakan miliknya.
Sedangkan para ulama Hanafilah berpendapat lain; biaya yang diperlukan
untuk menyimpan dan memelihara keselamatan barang gadai menjadi tanggungan penerima gadai dalam kedudukannya sebagai orang yang memegang
amanat. Kepada penggadai hanya dibebankan perbelanjaan barang gadai
agar tidak berkurang potensinya.98
Berdasarkan kedua pendapat di atas, maka pada dasarnya biaya
pemeliharaan barang gadai adalah kewajiban bagi rahin da'lam kedudukannya sebagai pemilik yang sah. Namun apabila marhun (barang gadaian)
menjadi kekuasaan murtahin dan murtahin mengizinkan untuk memelil~ara
marhun, maka yang menanggung biaya pemeliharaan marhun adalah
murtahin. Sedangkan untuk mengganti biaya pemeliharaan tersebut, apabila
murtahin diizinkan rahin, maka murtahin dapat memungut hasil marhun
sesuai dengan biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan. Namun apabila
rahin tidakmengizinkan, maka biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan
oleh murtah'in menjadi utang rahin kepada m ~ r t a h i n . ~ ~
d. Pemanfwbn Barang Gadai
Pada dasarnya barang gadaian tidak boleh diambil manfaatnya, baik oleh
pemiliknya maupttn oleh penerima gadai. Hal ini disebabkan status barang
tersebut hanya sebagai jaminan utang dan sebagai amanat bagi penerimanya.
Namun apabila mendvat izin dari masing-rnasing pihak yang bersangkutan,
maka barang terseba b l e h dimanfaatkan. Namun haws diusahakan agar di
dalam perjatrjian gadai itu tercantum ketentuan: jika penggadai atau penerima gadai rneminta izin untuk memanfaatkan barang gadaian, maka hasilnya menjadi rnilik bersama. Ketentuan itu dirnaksudkan untuk rnenghindari
harta benda tidak berfungsi atau m u b a ~ i r . ' ~
e. Risfko atas Kerumkan Barang Gadai
Risiko atas hiliwg atau rusak barang gadai menurut para ulama Syafi'iyah
dan Hanabilah berpendapat bahwa murtahin (penerima gadai) tidak menanggung risiko apapun jika kerusakan atau hilangnya barang tersebut tanpa
disengaja. Sedangkan ulama mahzab Hanafi berpendapat lain, murtuhin

'' Ibid.,hal. 56.


'N

""

52

Ibid,hal. 82-83.
/bid..ha1 84

HukmGodai Syoriah

menanggung risiko sebesar harga barang minimum, dihiti~ngmi~laiwakti~


diserahkan barang gadai kepada murtahin sampai hari ri~sakatau hilang.
Sedangkan jika barang gadai rusak atau hilang disebabkan kelengahan murtahin, maka dalam ha1 ini tidak ada perbedaan pendapat. Semila
ulama sepakat bahwa murtahin menanggung risiko, memperbaiki kerusakan
atau mengganti yang hilang.I0'
f. Penaksiran Barang Gadai

Penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai yang sesi~aidengan


syari'ah Islam pada dasarnya sama dengan perum pegadaian yang sekarang
ini berlaku, yaitu mensyaratkan adanya penyerahan barang sebagai jaminan
utang. Namun khusus untuk pegadaian yang sesuai dengan prinsip syari'ah,
jenis barang jaminannya adalah meliputi semua jenis barang. Artinya, barang
yang dapat dijadikan jaminan utang dapat berupa barang-barang bergerak
maupun barang-barang yang tidak bergerak. Lain halnya dengall perum
pegadaian, lembaga ini hanya mengkhususkan pada barang-barang yang bergerak saja. Besar kecilnya jumlah pinjaman yang diberikan kepada nasabah.
tergantung dari nilai taksir barang setelah petugas penaksir menilai barar~g
tersebut. Adapun pedoman penaksiran barang gadaian dibagi melljadi dua
kategori, yaitu kategori barang bergerak dan barang tidak bergerak. Sedangkan lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1. Barang Bergerak
a. Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Pusat (HPP) yang
telah berlaku (standar harga yang berlaku) saat penaksiran barang.
b. Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Setempat (H PS) dari
barang. Harga pedoman untuk keperluan penaksiran ini selalu
d isesuaikan dengan perkembangan harga yang terjadi.
c. Murtahinlpetugas
penaksir
melakukan
pengujian
kualitas
marhunlbarang jaminan.
d. Murtuhinlpetugas penaksir menentukan nilai taksir barang jaminan.
2. Barang Tak Bergerak
a. Murtuhinlpetugas penaksir bisa meminta infor~nasiataupun sertilihal
tanahlpekarangan kepada rahin untuk mengetahui galnbaran umum
murhun.
b. Murtahinlpetugas penaksir dapat melihat langsung atau tidak langs:sung
kondisi marhun ke lapangan.

I"'

hid. , hal. 84.

Tinjauon Urmm Godai Sywioh

53

c. Murtahinlpetugas penaksir melakukan pengujian kualitas marhun


(barang j aminan).
d. Marhunlpetugas penaksir metentukan nilai taksir.
Dalam penaksiran nilai barang gadai, pegadaian syariah harus menghindari hasil penaksiran merugikan nasabah atau pegadaian syariah itu
sendiri. Oleh karena itu, pegadaian syariah dituntut memiliki petugas
penaksir yang memi liki kriteria:
1. Memiliki pengetahuan mengenai jenis barang gadai yang sesuai dengan
syariah ataupun barang gadai yang tidak sesuai dengan syariah.
2. Mampu memberikan penaksiran secara akurat atas nilai barang gadai
sehingga tidak merugikan satu di antara dua belah pihak.
3. Memiliki sarana dan prasarana penunjang dalam mernperoleh keakuratan
penilaian barang gadai, seperti alat untuk menggosok berlian atau emas
dan lain sebagainya.
g. Waktu dan Sahnya Serab Terima Rahrr
Sebagaimana dapat dipaharni dari teks ayat di atas dan juga dari tujuan akad
pegadaian, maka waktu pelaksanaan akad ini ialah setelah atau bersamaan
dengan akad utang-piutang berlangsung. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ketika beliau berutang
setakar gandum dari seorang Y&mK
Dari Abu Rafi' radhiyallahu 'anhu, ia mengisahkan, "Puda suutu
hari ada tamu yang datang ke rumah Rasulullah shallallahu 'alaihi wu
sallam, lalu beliau mengutusku untuk mencari mbi-anan sebagai hidangun.
Lalu, aku pun mendatangi seorang Yahdi, dm a h berkata kepadanyu,
'Nabi Muhammad berkata kepadamu bahwa sesungguhnya ada tamu yang
datang kepada kami, sedangkan beliau tidak memiliki apa pun yang dapat
dikidangkan untuk mereka. Oleh karenanya, jual atau berilah utang (herupu
gandum) kepadaku, dengan tempo (pembayaran hingga) bulan Rajub '.
Maka, orang Yahudi tersebut berkata, 'Tidak, sungguh demi Allah, uku tidak
u h mengutanginya dm tidak akan menjual kepadanya, melainkan dengun
gudaian. ' Maka, a h pun kembali menemui Rasulullah, lalu uku kaburkun
kepada beliau, lalu beliau pun bersabda. Sungguh demi Allah, nku uduluh
o r a F y w e r p e r c a y a di langit (dipercaya oleh Allah) dan terpercqyu di
bumi. Andaikata ia mengutangiku atau menjual kepaduku, pusti aku u h n
menunaikannya (melunasinya). "'(Hr. Abdur Razzaq, dengan sanad yang
mursallte~utus).
Pada kisah ini, proses pegadaian terjadi bersamaan dengan berlangsungnya akad jual-beli atau utang-piutang. Akan tetapi, bila ada orang yang
54

Hukum Gadai Syarioh

sebelurn berjual-beli atau berutang telah mernberikan jarninan barang


gadaian terlebih dahulu, maka rnenurut pendapat yang lebih kuat, ha1
tersebut juga diperbolehkan. Yang demikian itu dikarenakan beberapa alasan
berikut: Hukurn asal setiap transaksi adalah halal, selama tidak ada dalil
nyata dan shahih (benar) yang melarang transaksi tersebut. Selama kedua
belah pihak yang menjalankan akad rela dan telah menyepakati ha1 tersebut,
maka tidak ada alasan untuk melarangnya.
Para ularna berselisih pendapat dalarn masalah ar-rahn, dalam ha1
apakah menjadi keharusan untuk diserahkan langsung ketika transaksi ataukah setelah serah terirna barang gadainya. Terdapat dua pendapat dalam ha1
ini. Pendapat pertama, serah terima adalah syarat Iieharusan terjadinya arrahn. Ini pendapat Mazhab Hanafiyah, Syafi'iyah dan riwayat dalam
Mazhab Ahmad bin Harnbal, serta Mazhab Zahiriyah. Dasar pendapat ini
adalah firman Allah ''Sj
Dalarn ayat ini, Allah mensifatkannya
dengan "dipegang" (serah terirna), dan ar-rahn adalah transaksi penyerta
yang butuh kepada penerimaan, sehingga mernbutuhkan serah-terirna (alqabdh) seperti utang. Juga karena ha1 itu adalah rahn (gadai) yang belum
diserahterimakan, sehingga tidak diharuskan untuk rnenyerahkannya,
sebagaimana bila yang menggadaikannya rneninggal dunia.'02
Pendapat kedua, ar-rahn langsung terjadi setelah selesai transaksi.
Dengan dernikian, bila pihak yang rnenggadaikan rnenolak untuk menyerahkan barang gadainya, rnaka dia dipaksa untuk menyerahkannya. Ini pendapat
Mazhab Malikiyah dan riwayat dalarn Mazhab Hambaliyah. Dasar pendapat
ini adalah firman Allah " ~ k j ~ Dalarn
$ " .ayat ini, Allah menetapkannya
sebagai ar-rahn sebelum dipegang (serahterirnakan). Selain itu, ar-rahn juga
rnerupakan akad transaksi yang mengharuskan adanya serah-terima sehingga
juga menjadi wajib sebelurnnya seperti jual beli. Demikian juga menurut
Imam Malik, serah terima hanyalah menjadi penyempurna ar-rahn dan
bukan syarat sahnya.
Syekh Abdurrahrnan bin Hasan rnenyatakan, "Adapun firman Allah
&$' adalah sifat keumumannya, narnun kebutuhan menuntut
(keharusannya) tidak dengan serah-terima (aLqabdh).'03

'Sd

Prof. Dr. Abdullah ath-Thayyar menyatakan bahwa yang rujilr


adalah ar-rahn menjadi harus diserahterimakan melalui akad transaksi,
karena ha1 itu dapat rnerealisasikan faidah ar-rahn, berupa pelunasan utang
dengan barang gadai tersebut atau dengan nilainya ketika si perninjam tidak

Tijam Unun Gadai Syoriah

55

mampu melunasi utangnya. Ayat al-Quran pun hanya menjelaskan sifat


mayoritas dan kebutuhan dalam transaksi yang menuntut adanya jaminan
walaupun belum sempurna serah terimanya karena ada kemungkinan
mendapatkannya.'04
Adakalanya barang gadai itu berupa barang yang tidak dapat
dipindahkan, seperti rumah dan tanah, sehingga serah terimanya disepakati
dengan cara mengosongkannya untuk murtahin tanpa ada penghalangnya.
Ada kalanya pula, barang gadai itu berupa barang yang dapat
dipindahkan. Bila berupa barang yang ditakar maka disepakati bahwa serah
terimanya adalah dengan ditakar pada takaran. Adapun bila barang timbangan maka disepakati bahwa serah terimanya adalah dengan ditimbang,
dihitung bila barangnya dapat dihitung, serta diukur bila barangnya berupa
barang yang diukur.
Namun bila berupa tumpukan bahan makanan yang dijual secara
tumpukan, maka terjadi perselisihan pendapat tantang cara serah terimanya:
ada yang berpendapat bahwa serahterimanya adalah dengan cara memindahkannya dari tempat semula, dan ada yang menyatakan cukup dengan ditinggalkan pihak oleh yang menggadaikannya dan murtahin dapat
mengambi lnya.
Ada beberapa ketentuan dalam gadai setelah terjadinya serah-terima
yang berhubungan dengan pembiayaan (pemeliharaan), pertumbuhan barang
gadai, pemanfaatan, serta jaminan pertanggungjawaban bila barang gadai
rusak atau hilang, di antaranya, Pertarna, pemegang barang gadai.
Barang gadai tersebut berada ditangan murtahin selarna nlasa
perjanjian gadai tersebut, sebagaimana firman Allah,

Artinya:

"Jikakamu beruda dalam perjalanan (dun bermuumalah tidak secaru tunui)


sedangkun kumu tidak memperoleh seorung penulis, maka hendakluh udu
barang tanggungan yang dipegang (oleh yung berpiutung)." (Qs. AlBaqarah: 283)
Juga sabda Rasulullah shullallahu 'alaihi wu sullam yang artinya:
"Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan utm nujkahnyu
(makunannya) bila sedang digadaikan, dun susu binatang yang diperah

56

Hukum Gadai Syariah

boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikun.


Orang yang menunggangi dun meminum susu berkewajiban untuk memberikan makanan. " (Hr. TIrmidzi; hadits shahih).
Kedua, pembiayaan pemeliharaan dan pemanfaatan barang gadai.
Pada asalnya barang, biaya pemeliharaan dan manfaat barang 'yang
digadaikan adalah milik orang yang menggadaikan (rahin), dan murtahin
tidak boleh mengambil manfaat barang gadaian tersebut kecuali bila barang
tersebut- berupa kendaraan atau hewan yang diambil air susunya,' maka
murtahin boleh menggunakan dan mengambil air susunya apabila ia memberikan nafkah (dalam pemeliharaan barang tersebut). Tentunya, pemanfaatannya sesuai dengan besarnya nafkah yang dikeluarkan dan memperhatikan keadilan. Hal ini didasarkan pada sabda Rasulul lah shallallahu
'alaihi wa sallam,
Artinya:
"Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas nafkahnya
(makanannya) bila sedang digadaikan, a h susu binatang yang diperah
boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikun.
Orang yang menunggangi dun meminum susu berkewajiban untuk
memberikan makanan. "(Hr. Tlrmidzi; hadits shahih)
Syekh al-Basam menyatakan, "Menurut kesepakatan ulama, biaya
pemeliharaan barang gadai dibebankan kepada pemiliknya."
Demikian juga, pertumbuhan dan keuntungan barang tersebut juga
miliknya, kecuali dua pengecualian ini (yaitu kendaraan dan hewan yang
memiliki air susu yang diperas, pen).'05
Penulis kitab al-Fiqh al-Muyassar menyatakan, "Manfaat dan
pertumbuhan barang gadai adalah hak pihak penggadai, karena itu adalah
miliknya. Orang lain tidak boleh mengambilnya tanpa seizinnya. Bila ia
mengizinkan murtahin (pemberi utang) untuk mengambil manfaat barang
gadainya tanpa imbalan dan utang gadainya dihasilkan dari peminjaman.
maka yang demikian itu tidak boleh dilakukan, karena itu adalah peminjaman utang yang menghasilkan manfaat.
Adapun bila barang gadainya berupa kendaraan atau hewan yang
memiliki susu perah, maka murtahin diperbolehkan untuk mengendarainya
dan memeras susunya sesuai besarnya nafiah yang dia berikan kepada
barang gadai tersebut, tanpa izin dari penggadai, karena Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
""

Lihat pembahasannya dalam Taudhihal-Ahkom: 41462-477.

Timjauan Umm Cadai Syariah

57

Artinya:
"Binatang tunggangan boleh ditunggangi sebagai imbalan atas najkahnya
(makanannya) bila sedang digadaikan, dan susu binatang yang diperah
boleh diminum sebagai imbalan atas makanannya bila sedang digadaikan.
Orang yang menunggangi dun meminum susu berkewajiban untuk
memberikan makanan. " (Hr. Al-Bukhari, no. 25 12).
Adapun mayoritas ulama fikih dari Mazhab Hanafiyah, Malikiyah,
dan Syafi'iyah berpandangan tentang tidak bolehnya murtahin mengambil
manfaat barang gadai, dan pemanfaatan hanyalah hak penggadai, dengan
dalil sabda Rasulullahshallallahu 'alaihi wa sallam,
Artinya:
"Dia yang berhak rnemanfaatkannya dan wajib baginyp menanggung biaya
pemeliharaannya. " (Hr. Ad-Daruquthn i dan al-Haki m)
Tidak ada ulama yang mengamalkan hadits pemanfaatan kendaraan
dan hewan perah sesuai nafkahnya kecuali Ahmad, dan inilah pendapat yang
rajih -insya Allah- karena dalil hadits shahih tersebut.Io6
Ibnul Qayyim memberikan komentar atas hadits pemanfaatan kendaraan gadai dengan pernyataan, "Hadits ini serta kaidah dan ushul syariat
menunjukkan bahwa hewan gadai dihormati karena hak Allah. Pemi l i knya
memiliki hak kepemilikan dan murtahin (yang meGberikan utang) memiliki
hak jaminan padanya.
Bila barang gadai tersebut berada di tangan murtahin lalu dia tidak
ditunggangi dan tidak diperas susunya, maka tentu akan hilanglah kemanfaatannya secara sia-sia. Sehingga, berdasarkan tuntutan keadilan, analogi
(qbm), serta untuk kemaslahatan penggadai, pemegang barang gadai
(murtahin), dan hewan tekebut, maka murtahin mengambil manfaat, yaitu
mengendarai dan memeras susunya, serta dan menggantikan semua manfaat
itu dengan cara menafkahi (hewan tersebut).
Bila murtahin menyempurnakan pemanfaatannya dan menggantinya
dengan nafkah, maka dalarn ha1 ini ada kompromi dua kemaslahatan dan dua
hak.".lo7
Ketiga, pertumbuhan barang gadai. Pertumbuhan atau pertambahan
barang gadai setelah dia digadaikan, adakalanya bergabung dan adakalanya
terpisah. Bila tergabung, seperti (bertambah) gemuk, maka ia termasuk

"" ACFqh al-Mupssar, him. 117.


'I"

58

Dinukil dari Tmrdhih a/-Ahkam: 41462.

HukumGadai Sywioh

dalam barang gadai, dengan kesepakatan ulama. Adapun bila dia terpisah,
maka terjadi perbedaan pendapat ulama dalam ha1 ini.
Abu hanifah dan Imam Ahmad, serta yang menyepakatinya, berpandangan bahwa pertambahan atau pertumbuhan barang gadai yang terjadi
setelah barang gadai berada di tangan murtahin akan diikutsertakan kepada
barang gadai tersebut.
Sedangkan Imam Syafi'i dan Ibnu Hazm, serta yang menyepakatinya, berpandangan bahwa ha1 pertambahan atau pertumbuhan barang gadai
tidak ikut serta bersama barang gadai, namun menjadi milik orang yang
menggadaikannya. Hanya saja, Ibnu hazm berbeda pendapat dengan Syafi'i
dalam ha1 kendaraan dan hewan menyusui, karena Ibnu Hazm berpendapat
bahwa dalam kendaraan dan hewan yang menyusui, (pertambahan dan
pertumbuhannya) menjadi milik orang yang menafkahinya.'08
Keempat, perpindahan kepemilikan dan pelunasan utang dengan
barang gadai. Barang gadai tidak berpindah kepemilikannya kepada
murtahin apabila telah selesai masa perjanjiannya, kecuali dengan izin orang
yang menggadaikannya (rahin) dan dia tidak mampu melunasi utangnya.
Pada, zaman jahil iyah dahulu, apabila pembayaran utang telah jatuh
tempo, sedangkan orang yang menggadaikan belum melunasi utangnya,
maka pihak yang mernberi pinjaman uang akan menyita barang gadai
tersebut secara langsung tanpa izin orang yang menggadaikannya (si
peminjam uang).
Kemudian, Islam membatalkan cam yang zalim ini dan menjelaskan
bahwa barang gadai tersebut adalah amanat pemiliknya yang berada di
tangan pihak yang memberi pinjaman. Karenanya, pihak pemberi pinjaman
tidak boleh memaksa orang yang menggadaikan barang tersebut untuk
menjualnya, kecuali si peminjam tidak marnpu melunasi utangnya tersebut.
Bila dia tidak rnarnpu melunasi utangnya saat jatuh tempo, maka
barang gadai tersebut dijual untuk membayar pelunas& utang tersebut.
Apabila ternyata hasil penjualan tersebut masih ada sisanya, maka sisa
penjualan tersebut menjadi milik pemilik barang gadai (orang yang
menggadaikan barang tersebut). Bila hasil penjualan barang gadai tersebut
belum dapat rnelunasi utangnya, maka orang yang menggadaikannya
tersebut masih menanggung sisa ~ t a n ~ n ~ a . ' ~

IU"
I"

Abhats Hai'a! Kibar Ulama 61134-135


Taudhiha/-AhRam:41467.

Demikianlah, barang gadai adalah milik orang yang menggadaikannya. Namun bila pembayaran utang telah jatuh tempo, maka penggadai
meminta kepada murtahin (pemilik piutang) untuk menyelesaikan permasalahan utangnya, karena itu adalah utang yang sudah jatuh tempo maka harus
dilunasi seperti utang tanpa gadai.
Bila ia dapat melunasi seluruhnya tanpa (menjual atau memindahkan
kepemilikian) barang gadainya, maka murtahin melepas barang tersebut.
Bila ia tidak mampu melunasi seluruhnya atau sebagiannya, maka wajib bagi
orang yang menggadaikan (rahin) untuk menjual sendiri barang gadainya
atau melalui wakilnya dengan izin dari murtahin, dan murtahin didahulukan
atas pemilik piutang lainnya dalam pembayaran utang tersebut.
Apabila penggadai tersebut enggan melunasi utangnya dan menjual
barang gadainya, maka pemerintah boleh menghukumnya dengan penjara
agar ia menjual barang gadainya tersebut.
Apabila dia tidak juga menjualnya, maka pemerintah menjual barang
gadai tersebut dan melunasi utang tersebut dari nilai hasil jualnya. Inilah
pendapat Mazhab Syafi'iyah dan Hambaliyah.
Malikiyah berpandangan bahwa pemerintah boleh menjual barang
gadainya tanpa memenjarakannya, serta boleh melunasi utang tersebut
dengan hasil penjualannya. Sedangkan Hanafiyah berpandangan bahwa
murtahin boleh menagih pelunasan utang kepada penggadai, serta meminta
pemerintah untuk memenjarakannya bila dia tampak tidak mau melunasinya.
Pemerintah (pengadilan) tidak boleh menjual barang gadainya. Pemerintah
hanya boleh memenjarakannya saja, sampai ia menjual barang gadainya,
dalam rangka meniadakan keza~iman."~
Yang rajih, pemerintah menjual barang gadainya dan melunasi
utangnya dengan hasil penjualan tersebut tanpa memenjarakan si penggadai,
karena tujuannya adalah membayar utang dan itu telah terealisasikan dengan
penjualan barang gadai. Selain itu, juga akan timbul darnpak sosial yang
negatif di masyarakat jika si penggadai (yang merupakan pihak peminjan~
uang) dipenjarakan.
Apabila barang gadai tersebut dapat menutupi seluruh utangnya
maka selesailah utang tersebut, dan bila tidak dapat menutupinya maka
penggadai tersebut tetap memiliki utang, yang merupakan selisih antara nilai
barang gadainya yang telah dijual dan nilai utangnya. Dia wajib melunasi
sisa utang tersebut.
""

60

Al-Fiqh al-Muyarsar. him. 119.

HukmGadai Syariah

Perlu jug diketahui dalam ha1 serah terima gadai syariah (rahn),
bahwa setelah serah terima, agunan berada di bawah kekuasaan al-murrahin.
Namun, itu bukan berarti al-murtahin boleh memanfaatkan harta agunan itu.
Sebab, agunan hanyalah tawrsiq, sedangkan manfaatnya, sesuai dengan hadis
di atas, tetap menjadi hak pemiliknya, yakni ar-rshin. Karena itu, ar-rbhin
berhak memanfaatkan tanah yang dia agunkan; ia juga berhak menyewakan
barang agunan, misal menyewakan rumah atau kendaraan yang dia agunkan,
baik kepada orang lain atau kepada al-murtahin, tentu dengan catatan tidak
mengurangi manfaat barang yang diagunkan (al-marhun). Ia juga boleh
menghibahkan manfaat barang itu, atau mengizinkan orang lain untuk
memanfaatkannya, baik orang tersebut adalah al-murtahin (yang
mendapatkan agunan) maupun bukan.
Hanya saja, pemanfaatan barang oleh al-murtahin tersebut hukumnya berbeda dengan orang lain. Jika akad ar-rahn itu untuk utang dalam
bentuk al-qardh, yaitu utang yang harus dibayar dengan jenis dan sifat yang
sama, bukan nilainya. Misalnya, pinjaman uang sebesar 50 juta rupiah, atau
beras I ton (dengan jenis tertentu), atau kain 3 meter (dengan jenis tertentu).
Pengembaliannya harus sama, yaitu 50 juta rupiah, atau I ton beras dan 3
meter kain dengan jenis yang sama. Dalam kasus utang jenis qardh ini, ulmurtahin tidak boleh mamanfaatkan barang agunan sedikitpun, karena itu
merupakan tambahan manfaat atas qardh. Tambahan itu termasuk riba dan
hukumnya haram."'
Jika ar-rahn itu untuk akad utang dalam bentuk dayn, yaitu utang
barang yang tidak mempunyai padanan dan tidak bisa dicarikan padanannya,
seperti hewan, kayu bakar, properti dan barang sejenis yang hanya bisa dihitung berdasarkan nilainya,"' maka al-murtahin boleh memanfaatkan baralig
agunan itu dengan izin dari ar-rrihin. Sebab, manfaat barang agunan itu tetap
menjadi milik ar-rdhin. Tidak terdapat nash yang melarang ha1 itu karena
tidak ada nash yang mengecualikan al-murtahin dari kebolehan itu.
Ketentuan di atas berlaku, jika pemanfaatan barang agunali itu tidak
disertai dengan kompensasi. Namun, jika disertai kompensasi. seperti urrdhin menyewakan agunan itu kepada al-murtahin, maka al-murtahin boleh
memanfaatkannya baik dalam akad al-qardh maupun dayn. Karena dia
memanfaatkannya bukan karena statusnya sebagai agunan al-qardhu tetapi
I"

'I2

Rasul bersahda: "kullu qardhin ,jarra manfa'atan ./ahma majhun min wvjtihi ar-riha (Sctiap
pinjaman yang menarik suatu mantaat maka itu termasuk salah satu bentuk riba.) [HR al-Baihaqi]
Lihat. ibid, hal. 304. Secara umum. sehenarnya d q n lebih umum daripada qardh. Dengan kata lain.
dayn j u g meliputi qardh, namun konteks doyn yang dimaksud dalam pembahasan ini dispesitikkan
untuk kasus utang di luar qardh, yang telah dijelaskan di atas.

Tinjauan Unun Gadai Syariah

61

karena dia menyewanya dari ar-rahin. Dengan ketentuan, sewanya tersebut


tidak dihadiahkan oleh ar-rdhin kepada al-murtahin. Namun, j ika sewanya
tersebut dihadiahkan, maka statusnya sama dengan pemanfaatan tanpa
disertai kompensasi, sehingga tetap tidak boleh dalam kasus al-qardh, dan
sebaliknya boleh dalam kasus dayn.
h. PembayaranJPelunasan Utang Gadai
Apabila sampai pada waktu yang telah ditentukan, rahin belum juga
membayar kembali utangnya, maka rahin dapat dipaksa oleh marhun untuk
menjual barang gadaianya dan kemudian digunakan untuk melunasi utangnya. Selanjutnya, apabila setelah diperintahkan hakim, rahin tidak mau
membayar utangnya dan tidak pula mau menjual barang gadaiannya, maka
hakim dapat memutuskan untuk menjual barang tersebut guna melunasi
utang-utangnya.

8. Hak dan Kewajiban Para Pihak Gadai Syariah


Menurut Abdul Aziz ~ a h l a n , " ~bahwa pihak rahin dan murtahin,
mempunyai hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Sedangkan hak dan
kewajibannya adalah sebagai berikut:
a. Hak dan Kewajiban Murtahin
I) Hak Pemegang Gadai
Pemegang gadai berhak menjual marhun, apabila rian pada saat
jatuh tempo tidak dapat memenuhi kewajibannya sebagai orang
yang berutang. Sedangkan hasil penjualan marhun tersebut diambil
sebagian untuk melunasi marhun bih dan sisanya dikembalikan
kepada rahin;
Pemegang gadai berhak mendapatkan penggantian biaya yang
telah dikeluarkan untuk menjaga keselarnatan marhun;
Selama marhun bih belum dilunasi, rnaka murtahin berhak untuk
menahan marhun yang diserahkan oleh pemberi gadai (hak
retentie).
.

2) Kewajiban Pemegang Gadai


Pemegang gadai berkewajiban bertanggung jawab atas hilangnya
atau rnerosotnya harga marhun, apabila ha1 itu atas kelalai nnya;
Pemegang gadai tidak dibolehkan rnenggunakan marhun untuk
kepentingan sendiri; dan

""bdul
Aziz Dahlan, Ensiklopedia Hukum Islam. Cetakan Keempat. PT. lchtiar Baru Van Hoevc,
Jakarta: 2000, hal. 383.

62

Hukurn Gadoi Syorioh

Pemegang gadai berkewajiban untuk memberi tahu lepada rahin


sebelum diadakan pelelangan marhun.
b. Hak dan Kewajiban Pemberi Gadai Syariah
1) Hak Pemberi Gadai
Pemberi gadai berhak untuk mendapatkan kembali marhun, setelah
pemberi gadai melunasi marhun bih;
Pemberi gadai berhak menuntut ganti kerugian dari kerusakan dan
hilangnya marhzm, apabila ha1 itu disebabkan oleh kelalaian
. murtahin;
Pemberi gadai berhak untuk mendapatkan sisa dari penjualan
marhun setelah dikurangi biaya pelunasan marhun bih, dan biaya
lainnya;
Pemberi gadai berhak meminta kembali marhun apabila murtahin
telah jelas menyalahgunakan marhun.
2) Kewaj iban Pem beri Gadai
Pemberi gadai berkewajiban untuk melunasi marhun bih yang telah
diterimannya dari murtahin dalam tenggang waktu yang telah
ditentukan, termasuk biaya lain yang telah ditentukan murtahin;
Pemberi gadai berkewajiban merelakan penjualan atas marhun
miliknya, apabila dalam jangka waktu yang telah ditentukan rahin
tidak dapat melunasi marhun bih kepada murtahin.

D. Prospek Gadai Syariah


Prospek suatu perusahaan sbcara relatif dapat dilihat dari suatu analisa yang
disebut SWOT atau dengan meneliti kekuatan (Strength), kelemahannya
(Weakness), peluangnya (Opportunity), dan ancamannya (Threut), sebagai
beri kut:
1 . Kekuatan (Strength) dari sistem gadai syariah.
a. Dukungan umat lslam yang merupakan mayoritas penduduk.
Perusahaan gadai syariah telah lama menjadi dambaan umat Isla111 di
Indonesia, bahkan sejak masa Kebangkitan Nasional yang pertanla.
Hal ini menunjukkan besarnya harapan dan dukungan umat lslani
terhadap adanya pegadaian syariah.
b. Dukungan dari lembaga keuangan lslam di seluruh dunia
Adanya pegadaian syariah yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariall
Islam adalah sangat penting untuk menghindarkan umat lslam dari
Tinjauan Umurn Gadoi Syariah

63

kemungkinan terjerumus kepada yang haram. Oleh karena itu pada


konferensi ke 2 Menteri-menteri Luar Negeri negara muslim di
seluruh dunia bulan Desember 1'970 di Karachi, Pakistan telah sepakat
untuk pada tahap pertama mendirikan Islamic Development Bank
(IDB) yang dioperasikan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah Islam.
IDB kemudian secara resmi dkIirika3 pada bulan Agustus 1974
dimana Indonesia menjadi salah satw negara anggota pendiri. IDB
pada Articles ofAgreement psal 2 ayat XI akan membantu berdirinya
bank dan lembaga keuangan yang akan beroperasi sesuat deligan
prinsip-prinsip syariah lslam di negara-negara anggotanya'I4.
Beberapa bank Islam yang berskala internasional telah datang ke
Indonesia untuk menjajagi kemungkinan membuka lembaga keilangan
syariah secara patungan. Hal ini menunjukkan besarnya harapan dan
dukungan lembaga keuangan internasional terhadap adanya lembaga
keuangan syariah di Indonesia.
c. Pemberian pinjaman lunak al-qardhul hassan dan pinjaman
mudharabah dengan sistem bagi hasil pada pegadaian syariah sangat
sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
1 ) Penyediaan pinjaman murah bebas bunga disebut ul-qurdhul
hassan adalah jenis pinjaman lunak yang diperlukan masyarakat
saat ini mengingat semakin tingginya tingkat bunga.
2) Penyediaan pinjaman mudharabah mendorong terjalinnya kebersamaan antara pegadaian dan nasabahnya dalam menghadapi risiko
usaha dan membagi keuntungan 1 kerugian secara adi I.
3) Pada pinjaman mudharabah, pegadaian syariah dengan sendirinya
tidak akan membebani nasabahnya dengan biaya-biaya tetap yang
berada diluar jangkauannya. Nasabah hanya diwajibkan mernbagi
hasil usahanya sesuai dengan perjanjian yang telah ditetapkan
sebelumnya. Bagi hasil kecil kalau keuntungan usahanya kecil dan
bagi hasil besar kalau hasil usahanya besar.
4) lnvestasi yang dilakukan nasabah pinjaman mudhuruhuh tidak
tergantung kepada tinggi rendahnya tingkat bunga karena tidak ada
biaya uang (biaya bunga pinjaman) yang harus diperhitungkan.
5) Pegadaian syariah bersifat mandiri dan tidak terpengaruh secara
langsung oleh gejolak rnoneter baik dalam negeri niaupun

'I4

64

Agreement Establishing the Islamic Development Bank. Dar Alasfahani Printing Press. .leddah, 12
Agustus 1994, hal. 6.

Hukurn Godai Sywioh

internasional karena kegiatan operasional bank ini tidak menggunakan perangkat bunga.
Dengan mengenali kekuatan dari pegadaia~isyariah, maka kewajiban
kita semua untuk terus mengembangkan kekuatan yang dimiliki
perusahaan gadai dengan sistem ini.
2. Kelemahan (weakness)dari sistem mudharabah.
a. Berprasangka baik kepada semua nasabahnya dan berasumsi bahwa
semua orang yang terlibat dalam perjanjian bagi hasil adalah jujur
dapat menjadi bumerang karena pegadaian syariah akan menjadi
sasaran empuk bagi mereka yang beritikad tidak baik. Contoh:
Pinjaman mudharabah yang diberikan dengan sistem bagi hasil akan
sangat bergantung kepada kejujuran dan itikad baik nasabahnya. Bisa
saja terjadi nasabah melaporkan keadaan usaha yang tidak sesuai
dengan keadaan yang sebenamya. Misalnya suatu usaha yang untulig
dilaporkan rugi sehingga pegadaian tidak memperoleh bagian laba.
b. Memerlukan perhitungan-perhitungan yang rumit terutama dalam
menghitung biaya yang dibolehkan dan bagian laba nasabah yang
kecil-kecil. Dengan demikian kemungkinan salah hitung setiap saat
bisa terjadi sehingga diperlukan kecermatan yang lebih besar.
c. Karena membawa misi bagi hasil yang adil, maka pegadaian syariah
lebih banyak memerlukan tenaga-tenaga profesional yang andal.
Kekeliruan dalam menilai kelayakan proyek yang akan dibiayai
dengan sistem bagi hasil mungkin akan membawa akibat yang lebih
berat daripada yang dihadapi dengan cara konvensional yang hasil
pendapatannya sudah tetap dari bunga.
d. Karena pegadaian syariah belum dioperasikan d i Indonesia, maka
kemungkinan disana-sini masih diperlukan perangkat peraturali pelaksanaan untuk pembinaan dan pengawasannya. Masalah adaptasi
sistem pembukuan dan akuntansi pegadaian syariah terhadap sistem
pembukuan dan akuntansi yang telah baku, termasuk ha1 yang perlu
dibahas dan diperoleh kesepakatan bersama.
Dengan mengenali kelemahan-kelemahan ini maka adalah kewajiba~ikita
semua untuk memikirkan bagaimana me~igatasinya dali me~ieniukali
penangkalnya.

3. Peluang (Opportunity)dari Pegadaian Syariah


Bagaimana peluang dapat didirika~inyapegadaian syariah dan kenlungkinannya untuk tumbuh dan berkembang di Indonesia dapat d ililiat dari
pelbagai pertimbangan yang membentuk peluang-peluang d i bawali ini:
Tinjouan Umun Gadoi Syarioh

65

-8rlSrl P&bhng karena pertimbangan kepercayaan agama


1) Adalah merupakan ha1 yang nyata di dalam masyarakat Indonesia
rrfidii~vrsAkhbusnyayang beragama Islam, masih banyak yang menganggap
iilil imi b m
a menerima danlatau membayar bunga adalah termasuk
menghidupsuburkan riba. Karena riba dalam aganla Islam jelas jelas dilarang maka masih banyak masyarakat Islam yang tidak
mau memanfaatkan jasa pegadaian yang telah ada sekarang.
B'NIIB~ '2f Il 2E
pepingkatnya kesadaran beragama yang merupakan hasil pembaI I J ~ U ~1~ 1~ fi
nan di sektor agama memperbanyak jumlah perorangan,
ibsirrsrrr #
:yfyasan-yayasan,
pondok-pondok pesantnn, sekolah-sekolah
:rIoh103 .a ama, masjid-masjid, baitul-mal, dan sebagainya yang belum
--AB liz~r1
pemanfaatkan jasa pegadaian yang sudah ada.
3) Sistem pengenaan biaya uangl sewa modal dalam sistem pegadaian
yang berlaku sekarang dikhawatirkan mengandung unsur-unsur
yang tidak sejalan dengan syariah Islam, yaitu antara lain:
Biaya ditetapkan dimuka secara pasti fixed), dianggap mendahului takdir karep seolah-olah pem injam uang dipastikan akan
memperoleh keuntungan sehingga mampu membayar pokok
'pinjaman dan bunganya pada waktu yang telah ditetapkan
(periksa surat Luqman ayat 34).
Biaya ditetapkan dalam bentuk prosentase (%) sehingga apabila
dipadukan dengan unsur ketidakpastian yang dihadapi manusia,
secara .matematis dengan berjalannya waktu akan bisa
menjadikan utang berlipat ganda (periksa surat Al-lmron ayat
130).
Memperdagangkanl.menyewakan barang yang sama dan sejenis
(misalnya rupiah dengan rupiah yang masih berlaku, dll)
dengan memperoleh' keuntunganlkelebihan kualitas dan kuantitas, hukumnya adalah riba (periksa terjemah Hadits Shahih
Muslim oleh Ma'mur Daud, bab Riba no. 1551 sld 1567).
Membayar utang dengan lebih baik (yaitu diberikan tambahan)
seperti yang dicontohkan dalam Al-Hadits, harus ada dasar
!;fi ;I I
sukarela dan inisiatifnya harus datang dari yang punya utang
il~dlllii
pada waktu jatuh tempo, bukan karena d itetapkan d ilnuka dan
dalam jumlah yang pasti (fixed) (periksa terjemah Hadis Shahih
Muslim oleh Ma'mur Daud, bab Riba no. 1569 s/d 1572).

$1

Hukurn Gadoi Sgariah

Unsur-unsur yang dikhawatirkan tidak sejalan dengan syariat Islam


tersebut diataslah yang ingin dihindari dalam mengelola pegadaian
syariah.
b. Adanya peluang ekonomi dan berkembangnya pegadaian syariah
1) Selama Repelita VI diperlukan pembiayaan pembangunan yang
seluruhnya diperkirakan akan mencapai jumlah yang sangat besar.
Dari jumlah tersebut diharpkan sebagian besar dapat disediakan
dari tabungan' dalam negeri dan dari dana luar negeri sebagai
pelengkap saja. Dari tabungan dalam negeri diharapkan dapat
dibentuk melalui tabungan pemerintah yang kemampuannya semakin kecil dibandingkan melalui tabungan masyarakat yang melalui
sektor perbankan dan lembaga keuangan lainnya.
2) Mengingat demikian besarnya peranan yang diharapkan dari
tabungan masyarakat melalui sektor perbankan maka perlu dicarikan berbagai jalan dan peluang untuk mengerahkan dana dari
masyarakat. Pegadaian berfungsi mencairkan (dishoarding)
simpanan-simpanan berupa perhiasan dan barang tidak/!produktif
yang kemudian diinvestasikan melalui mekanisme pbjaman
mudharabah.
3) Adanya pegadaian syariah yang telah disesuaikan agar tidak
menyimpang dari ketentuan yang berlaku akan memperkaya
khasanah lembaga keuangan di Indonesia. Iklim baru ini akan
menarik penanaman modal di sektor lembaga keuangan khususnya
IDB dan pemodal dari negara-negara penghasil minyak di Tiniur
Tengah.
4) Konsep pegadaian syariah yang lebih mengutamakan kegiatan
produksi dan perdagangan serta kebersamaan dalam ha1 investasi,
menghadapi risiko usaha dan membagi hasil usaha, akan memberikan sumbangan yang besar kepada perekonomian Indonesia
khususnya dalam menggiatkan investasi, penyediaan kesempatan
kerja, dan pemerataan pendapatan.
Dari uraian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa mengingat
pegadaian syariah adalah sesuai dengan prinsip-prinsip syariat Islam,
maka perusahaan gadai dengan sistem ini akan mempunyai segmentasi dan pangsa pasar yang baik sekali di Indonesia. Dengan sedikit
modifikasi dan disesuaikan dengan ketentuan umum yang berlaku.
peluang untuk dapat dikembangkannya pegadaian syariah C L I ~ L I P
besar.
Tinjauan h u m Gadai Syariah

67

4. Ancaman (threar) dari pegadaian syariah


Ancaman yang paling berbahaya ialah apabila keinginan akan adanya
pegadaian syariah itu dianggap berkaitan dengan fanatisme agama. Akan
ada pihak-pihak yang akan menghalangi berkembangnya pegadaian
syariah ini semata-mata hanya karena tidak suka apabila umat lslam
bangkit dari keterbelakangan ekonominya. Mereka tidak mau tahu bahwa
pegadaian syariah itu jelas-jelas bermanfaat untuk semua orang tanpa
pandang suku, agama, ras, dan adat istiadat. Isu primordial, eksklusivisme atau Sara mungkin akan dilontarkan un@k mencegah berdirinya
pegadaian syariah. Ancaman berikutnya adalah dari mereka yang merasa
terusik kenikmatannya mengeruk kekayaan rakyat Indonesia yang sebagian terbesar beragama Islam melalaui sistem bunga yang sudah ada.
Munculnya pegadaian syariah yang menuntut pemerataan pendapatan
yang lebih adil akan dirasakan oleh mereka sebagai ancaman terhadap
status quo yang telah dinikmatinya selama puluhan tahun. Isu tentang
ketidakcocokan dengan sistem internasional berlaku di seluruh dunia
mungkin akan dilontarkan untuk mencegah berkembangnya di tengahtengah mereka pegadaian syariah.
Dengan mengenali ancaman-ancaman terhadap dikembangkannya
pegadaian syariah ini maka diharapkan para cendekiawan muslim dapat
berjaga-jaga dan mengupayakan penangkalnya.
Dari analisa SWOT tersebut diatas dap& disimpulkan bahwa pegadaian syariah mempunyai prospek yang cukup cerah, baik itu adalah Perum
Pegadaian yang telah mengoperasikan sistem syariah maupun pegadaian
syariah yang baru. Prospek ini akan lebih cerah lagi apabila kelemahan
(weakness) sistem mudharabah dapat dikurangi dan ancaman (threat) dapat
diatasi.
Dari uraian diatas dapat dikemukakan, pertama, pemikiran tentang
berdirinya pegadaian syariah adalah merupakan tanda syukur kita ke hadirat
Allah Swt. yang telah memberikan nikmat iman lslam dan telah diizinkannya oleh Pemerintah berdirinya lembaga-lembaga keuangan yang beroperasi
sesuai dengan prinsip syariat Islam.
Kedua, pegadaian syariah mempunyai landasan hukum syariat yalig
kuat dalam ajaran Islam. Hal-ha1 yang perlu mendapat perhatian adalah
unsur-unsur gadai. rukun dan sahnya akad, barang yang boleh digadaikan.
hak dan kewajiban masing-masing pihak, dan pemilikan barang gadai.
Ketiga, Barang gadaian syariah.adalah merupakan pelengkap belaka
dari konsep utang piutang antara individu atau perorangan. Konsep ~tta~ig
68

HukumGodoi Sgariah

piutang sesuai dengan syariat adalah merupakan salah satu konsep ekonomi
Islam dimana bentuknya yang lebih tepat adalah al-qardhul hassan.
Keempat, Utang piutang dalam bentuk al-qardhul hassan dengan
dukungan gadai (rahn), dapat dipergunakan unutk keperluan sosial maupun
komersial. Peminjam mempunyai dua pilihan, yaitu: dapat memilih qardhul
hassan atau menerima pemberi pinjaman atau penyandang dana (rabb almal) sebagai mitra usaha dalam perjanjian mudharubah.
Kelima, Untuk nasabah yang memilill pinjaman gadai dalam bentuk
mudharabah maka fungsi gadai disini adalah mencairkan atau mernproduktifkan (dishoarding) harta beku (hoarding) yang tidak produktif.
Keenam, Lembaga gadai syariah perusahaan bertindak sebagai
penyandang dana atau rabb almal sedang nasabahnya bisa bertindak sebagai
rahin atau bisa juga bertindak sebagai mudharib tergantung alternatif yang
dipilih.
Ketujuh, Lembaga gadai syariah untuk hubungan antar pribadi
sebenarnya sudah opemsional karena setiap orang bisa melakukan perjanjian
utang piutang dengan gadai syariah.
Kedelapan, Lembaga gadai syariah untuk hubungan antara pribadi
dengan perusahaan (bank syariah) khususnya gadai fidusia sebenarnya juga
sudah operasional. Contoh yang dapat dikemukakan disini adalah bank
syariah yang memberikan pinjaman dengan agunan sertifikat tanah, sertifikat
saham, sertifikat deposito. atau Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKH).
dan lain-lain.
Kesembi Ian, aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan ~ ~ n l u k
mendiri kan lembaga gadai perusahaan adalah aspek legalitas. aspek
pennodalan, aspek sumber daya manusia. aspek kelembagaan, aspek siste~n
dan prosedur, aspek pengaiasan, dan lain-lain.
Kesepuluh, mendirikan lembaga gadai syariah dalam b e n t ~ ~ k
perusahaan memerlukan izin Pewpintah. Namun sesuai dengan PP no. 10
tahun 1990 tentang pengalihap bentuk Perusahaan Jawatan Pegadaian
(PERJAN) menjadi Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian, pasal 3 ayat
(1)a menyebutkan bahwa Perum Pegadaian adalah badan usaha tunggal yang
diberi wewenang untuk menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum gadai.
Kesebelas, misi dari Perum Pegadaian dapat diperiksa antara lain
pada pasal5 ayat (2) huruf b yaitu pencegahan ijon, riba, dan pinjaman tidak
wajar lainnya.

Tmjauan Unun Gadai Syorioh

69

Dari rnisi Perurn Pegadaian tersebut rnaka urnat Islam rnernpunyai


dua pilihan yaitu:

1. Mernbantu Perurn Pegadaian rnenerapkan konsep operasional lernbaga


gadai yang sesuai dengan prinsip syariat Islam yang tidak rnenerapkan
sistern bunga atau yang serupa dengan itu baik dalarn rnencari modal
rnauplrn dalarn rnenyalurkan pinjarnan.
2. Mernbantu Perurn Pegadaian rnenghilangkan beban moral dengan
rnengusulkan perubahan Peraturan Pernerintah No. 10 Tahun 1990 yaitu
menghapus kata "riba" pada pasal 5 ayat (2) huruf b, dan kata-kata
"badan usaha tunggal" pada pasal3 ayat (1) huruf a.
Dengan analisa SWOT dapat disirnpulkan bahwa prospek pegadaian
syariah sangat cerah, baik itu untuk Perurn Pegadaian yang telah rnenerapkan
sistern syariah rnaupun untuk pegadaian syariah yang baru. Prospek ini akan
lebih cerah lagi apabila kelernahan (weakness) sistern mudhurabah dapat
dikurangi dan ancarnan (threat) dapat diatasi.
Dalarn rangka upaya untuk rnengernbangkan gadai syariah perlu
diketahui lebih dulu kekuatan dan kelernahan pegadaian syariah. d a ~ i
peluangnya.. Kekuatan pegadaian, Syari'ah terletak pada pertarna, dukungan
umat Islam yang rnerupakan rnayoritas penduduk; Kedua, dukungan lernbaga keuangan Islam d i seluruh dunia, Ketiga, pernberian pinjarnan lunak
Al-Qardul Hasan dan pinjarnan Mudharubah dengan sistern bagi hasil pada
pegadaian Syari'ah sangat sesuai dengan kebutuban pernbangunan.
Sedangkan kelernahan Pegadaian Syari'ah adalah sebagai berikut
terletak pada pertarna, berprasangka baik kepada sernua nasaballnya dan
berasurnsi bahwa semua orang yang terlibat dalarn perjanjian bagi hasil
adalah jujur. Namun ha1 ini dapat rnenjadi burnerang. Kedua. rnemerlukan
metode penghitungan yang rumit terutama dalarn rnenghitung biaya yang
dibolehkan dan pernbagian nasabah untuk nasabah-nasabah yang kecil.
Ketiga, karena rnenggunakan konsep bagi hasil, pegadaian Syari'ah lebill
banyak mernerlukan tenaga-tenaga profesional yang handal. Keernpat, perlu
adanya perangkat peraturan pelaksanaan untuk pernbinaan dan
pengawasannya.
Sehubungan dengan kelemahan pegadaian syariah tersebut, sebenarnya masih ada peluang pegadaian Syari'ah, yakni pertarna. rnunculnya
berbagai lernbaga bisnis Syari'ah (lernbaga keuangan Syari'ah), Kedua.
adanya peluang ekonorni bagi berkembangnya Pegadaian Syari'ah.

. 70

Hukum Godoi Syoriah

Dalam realisasi terbentuknya pegadaian syariah dan praktik yang


telah dijalankan bank yang menggunakan gadai syariah ternyata menghadapi
kendala-kendala sebagai berikut:
a. Pegadaian syariah relatif baru sebagai suatu sistem keuangan.
b. Masyarakat kurang familiar dengan produk rahn di lembaga keuangan
syariah.
c. Kebijakan Pemerintah tentang gadai syariah belum akomodatif terliadap
keberadaan pegadaian syariah.
d. Pegaglaian kurang popular.
Adapun usaha-usaha yang perlu dilakukan untuk mengembangkan
pegadaian sya~;ahantara lain pertama, banyak mensosialisasikan kepada
masyarakat. Kedua, pemerintah perlu mengakomodir keberadaan pegadaian
syariah dengan membuat peraturan pemerintah atau undang-undang pegadaian syariah.

E. ManfaatiKeuntungan Gadai Syairah


Seiring dengan kemajuan zaman dan makin merebaknya berbagai produk,
yang ada dalam masyarakat sehingga menuntut peri~bahan sosial secara
merata karena masyarakat cenderung bersifat konsumtif. Apalagi didorong
dengan berbagai iklan-iklan yang ditawarkan kepada masyarakat. Ketika ha1
yang demikian terjadi dengan tanpa diimbangi dengan tingkat penghasilan
yang ada dalam masyarakat maka yang tejadi adalah semakin sengsaranya
kehidupan yang mereka jalani. Bahkan sampai ada yang menjual rumah atau
tanahnya hanya demi memenuhi kebutuhan keluarga yang terkena virus pola
hidup konsumtif. Jalan lain apabila tidak ingin menjual barangnya adalah
dengan cara menggadaikannya.
Menurut Akram ~ h a n , "bahwa
~
gadai syariah sebagai konsep utang
piutang yang sesuai dengan syariah, karenanya bentuk yang lebil~tepat
adalah skim qurdhul h a m , disebabkan kegunaannya untuk keperluan yang
sifatnya sosial. Pinjaman tersebut diberikan gadai syariah untuk ti!ii~an
kesejahteraan. seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan darurat lainnya,
terutama diberikan untuk membantu meringankan beban ekonomi para orang
yang berhak menerima zakat (mustuhiq)."%alam bentuk qardhul hmun ini.
utang yang terjadi wajib dilunasi pada waktu jatuh tempo talipa ada
tambahan apapun yang disyaratkan (kembali pokok). Pemi~?jam hanya
'Is
'I"

Muhanlmad Akram Khan, Op, cit. hal. 181-183.


[)ahIan Siamat, Op. cit. hal. 202.

Tinjouan Umum Gadoi Syoriah

71

'

menanggung biaya yang secara nyata terjadi, seperti, biaya administrasi,


biaya penyimpanan dan dibayarkan dalam bentuk uang, bukan prosentase.
Peminjam pada waktu jatuh tempo tanpa ikatan syarat apapun boleh menambahkan secara sukarela pengembal ian utangnya.' l7
Namun, menurut Rahmad Syafe7i dalam Chuzaimah (1997)'18, nilai
sosial yang tinggi dari gadai tersebut, oleh masyarakat konsep tersebut dinilai tidak adil, dikarenakan adanya pihak-pihak yang merasa dirugikan.
Dilihat dari segi komersil, yang meminjamkan uang merasa dirugikan, misalnya karena inflasi, pelunasan yang berlarut-larut, slmentara
barang jaminan tidak laku. Di lain pihak, barang jaminan memiliki hasil atau
manfaat yang kemungkinan dapat diambil manfaatnya. Oleh karena itu,
berikutnya akan dipaparkan beberapa alternatif yang diberikan oleh Jiyh,
agar pihak penggadai rahin dan murtahin tidak merasa saling diperlakukan
tidak adil dan tidak merasa saling din~gikan.
Dengan asumsi bahwa pemerintah mengizinkan berdirinya perusahaan gadai syariah maka yang dikehendaki adalah perusahaan yang cukup
besar yaitu yang mempunyai persyaratan dua kali modal disetor setara
dengan,perusahaan a ~ u r a n s i "(minimum
~
dua kali lima belas milyar rupiah
atau sama dengan tiga puluh milyar rupiah), maka untuk mendirikan perusahaan seperti ini perlu pengkajian kelayakan usaha yang hati-hati dan aman.
Selain it11 meminjam uang, baik itu di Pegadaian syariah prosedurnya yang relatif mudah dan cepat. Hal ini berbeda apabila rneminjam di bank
atau lembaga keuangan syariah lainnya, yang membutuhkan prosedur yang
rumit dan waktu yang relatif lebih lama. Persyaratan administrasi juga sulit
untuk dipenuhi, seperti dokumen yang harus lengkap dan jaminan yang
diberikan harus berupa barang-barang tertentu, karena tidak semua barang
dapat dijadikan jaminan di bank. Dalam gadai syariah begitu mudah dilakukan perninjaman, masyarakat (nasabah) cukup datang ke kantor Pegadaian
syariali terdekat dengan membawa jaminan barang tertentu, maka uanp
pinjaman pun dalam waktu singkat dapat terpenuhi, dcngan barang jaminan
yang cukup sederhana, seperti jaminan dengan jam tangan, serta biaya yang
dibebankan juga lebih ringan apabila dibandingkan dengan para pelepas
uang atau tukang ijon maupun pegadaian konvensional.

"' Muhammad, Op. cit, ha1 5.


111

I I'J

72

Chuzaimah T. Yanggo dan Hafiz Anshari. Op. cit. hat 60.


Penyetaraannya dengan perusahaan asuransi karena pada usaha gadai tidak diperkenankan
menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan (giro. tabungan, dcposito). Selain daripada itu
perusahaan asuransi juga mmeberikan pinjaman kepada pemegang polis dcngan aglnan polis.

HukumGadoiSyarioh

Jadi keuntungan perusahaan pegadaian syariah apabi la di band ingkan


dengan lembaga keuangan bank syairah atau lembaga keuangan syariah
lainnya, adalah:
1 . Waktu yang relatif singkat untuk memperoleh uang pinjaman, yaitu pada
hari itu juga, ha1 ini disebabkan prosedurnya yang sederhana;
2. Persyaratan yang sangat sederhana, sehingga memudahkan masyarakat
(nasabah) untuk memenuhinya;
3. Pada pegadaian konvensioanal tidak mempermasalahkan uang pinjaman
tersebut digunakan .untuk apa, jadi sesuai dengan kehendak masyarakat
atau nasabahnya.I2O Namun, bagi gadai syariah, penggunaan dana oleh
nasabah lebih baik diketahai ole11 pihak murtahin. Hal ini unti~kmenentukan akad yang lebih tepat.
Sebagai lembaga keuangan non perbankan, maka penghimpunan
dana W d i n g product) secara langsung dari masyarakat dalam bentuk
simpanan dalam gadai syariah tidak diperkenankan, misalnya: tabungan
mudharabah, giro wadi'ah, maupun deposit0 mudharabah. Karenanya,
untuk memenuhi kebutuhan dananya, maka gadai syariah memiliki sumber
penghimpunan dana, yaitu sebagai berikut:
1 . ~ o d a sendiri;
l
2. Penerbitan obligasi syariah;
3. Mengadakan kerjasama atau irkah ah,'^' dengan lembaga kei~anganlainnya, baik perbankan maupun non perbankan dengan menggunakan akad
sistem bagi hasil atau profit loss sharing (PLS).
Prospek suatu perusahaan secara relatif dapat diBhat dari suatil
analisa yang disebut SWOT atau dengan meneliti kekuatan (Sfrength), kelemahannya (Weakness), peluangnya (Opportunity), dan ancamannya (Threut).
Dukungan umat lslam yang merupakan mayoritas penduduk. Perusahaan
gadai syariah telah lama menjadi dambaan umat lslam di Indonesia, bahkan
sejak masa Kebangkitan Nasional yang pertama. Hal ini menunjukkan besarnya harapan dan dukungan umat lslam terhadap adanya pegadaian syariah.
Dan dukungan dari lembaga keuangan lslam di seluruh dunia.
Adanya pegadaian syariah yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah -Islam
1211

"'

Chuzaimah T. Yanggo dan Hatiz Anshari. Op. cit. hal. 249.


Musyarakah adalah bentuk pendanaan patungan dalam kegiatan produktif bisnis yang didasarkan
dengan projt loss sharing. Rasio distribusi keuntungan atau kerugiannya berdasarkan prqporsi
kepernilikan modal dalam usaha tersebut. Boleh saia rasionya berheda dengan porsi kepemilikan
dengan pertirnbangan bahwa pihak tertentu terlibat dalam rnanajernen usaha, sementora pihak lainnys
hanya turut modal saja. lggi H. Achsien. lnvestasi Syariah di Pasar Modal. Menggagas Konsep dan
Praktik Manajernen Portofolio Syariah, PT.Gramedia Pustaka Utama, Jakarta: 2003. hal. 58.

Tinjouon h u m Godoi Syarioh

73

adalah sangat penting untuk menghindarkan umat lslam dari kemungkinan


terjerumus kepada yang haram. Oleh karena itu pada konferensi ke-2
Menteri-menteri Luar Negeri negara Muslim di seluruh dunia bulan
Desember 1970 di Karachi, Pakistan telah sepakat untuk pada tahap pertama
mendirikan Islamic Development Bank (IDB) yang dioperasikan sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah Islam.
IDB kemudian secara resmi didirikan pada bulan Agustus 1974
dimana Indonesia menjadi salah satu negara anggota pendiri. IDB pada
Articles of Agreement-nya pasal 2 ayat XI akan membantu berdirinya bank
dan lembaga keuangan yang akan beroperasi sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah lslam di negara-negara anggotanya.
Dari analisa SWOT tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa pegadaian syariah mempunyai prospek yang cukup cerah, baik itu adalah Perum
Pegadaian yang telah mengoperasikan sistem syariah maupun pegadaian
syariah yang baru. Prospek ini akan lebih cerah lagi apabila kelemahan
(weakness) sistem mudharabah dapat dikurangi dan ancaman (threat) dapat
diatasi.
Perkembangan dan Pertumbuhan Pegadaian Syariah di Indonesia
Berdirinya pegadaian syariah, berawal pada tahun 1 998 ketika beberapa
General Manager melakukan studi banding ke Malaysia. Setelah melakukan
studi banding, mulai dilakukan penggodokan rencana pendirian pegadaian
syariah. Tapi ketika itu ada sedikit masalah internal sehingga hasil studi
banding itu pun hanya ditumpuk.
Pada tahun 2000 konsep bank syariah mulai marak. Saat itu, Bank
Muamalat Indonesia (BMI) menawarkan kejasama dan membantu segi pelnbiayaan dan pengembangan. Tahun 2002 mulai diterapkan sistem pegadaian
syariah dan pada tahun 2003 'pegadaian syariah resmi dioperasikan da~i .
pegadaian cabang Dewi Sartika menjadi kantor cabang pegadaian pertalila
yang menerapkan sistem pegadaian syariah.
Prospek pegadaian syariah di masa depan sangat luar biasa. Respon
masyarakat terhadap pegadaian syariah ternyata jauh lebih baik dari yang
diperkirakan. Menurut survei BMI, dari target operasional tahun 2003
sebesar 135 milyar rupiah pegadaian syariah cabang Dewi Sartika mampu
mencapai target 5 milyar rupiah.
Pegadaian syariah tidak menekankan pada pemberian bunga dari
barang yang digadaikan. Meski tanpa bunga, pegadaian syariah tetap memperoleh keuntungan seperti yang sudah diatur oleh Dewan Syariah Nasional,
yaitu memberlakukan biaya pemeliharaan dari barang yang digadaikan.
74

H'uiurnGadai Syariah

Biaya itu dihitung dari nilai barang, bukan dari jumlah pinjaman. Sedangkan
pada pegadaian konvensional, biaya yang harus dibayar sejumlah dari yang
dipinjamkan.
Program Syariah Perum Pegadaian mendapat sambutan positif dari
masyarakat. Dari target omzet tahun 2006 sebesar Rp 323 miliar, hingga
September 2006 ini sudah tercapai Rp 420 miliar dan pada akhir tahun 2006
ini diprediksi omzet bisa mencapai Rp 450 miliar. Bahkan Perum Pegadaian
Pusat menurut rencana akan menerbitkan produk baru, gadai saham di Bursa
Efek Jakarta (BEJ), paling lambat Maret 2007. Manajemen Pegadaian
melihat adanya prospek pasar yang cukup bagus saat ini untuk gadai saham.
Bisnis pegadaian syariah tahun 2007 ini cukup cerah, karena minta
masyarakat yang memanfaatkan jasa pegadaian ini cukup besar. Itu terbu kti
penyaluran kredit tahun 2006 melampaui target.
Pegadaian cabang Majapahit Semarang misalnya, tahun 2006
mencapai 18,2 miliar. Lebih besar dari target yang ditetapkan sebanyak 1 1,5
miliar. Jumlah nasabah yang dihimpun sekitar 6 ribu orang dan barang
jaminannya sebanyak 16.855 potong. Penyaluran kredit pegadaian syariah
Semarang in! berdiri tahun 2003, setiap tahunnya meningkat cukup
signifikan dari Rp 525 juta tahun 2004 meningkat menjadi Rp 5,l miliar dan .
tahun 2006 mencapai Rp 18,4 miliar. Mengenai permodalan hingga saat ini
tidak ada masalah. Berapapun permintaan nasabah asal ada barang jaminan
akan dipenuhi saat itu pula bisa dicairkan sesuai taksiran barang jaminan
tersebut. Demikian prospek pegadaian syariah ke depan, cukup cerah.
Perlu juga dikemukakan bahwa gadai diadakan dengan persetiijuan
jika hak itu hilang dan gadai itu lepas dari kekuasaan si pemiutang. Si
pemegang gadai berhak menguasai benda yang digadaikan kepadanya
selama utang si berutang belum lunas. tetapi ia tidak berhak mempergunakan
benda itu. Selanjutnya ia berhak menjual gadai itu, jika siberutang tidak mau
membayar utangnya jika hasil gadai itu lebih besar daripada utang yalig
harus dibayar, maka kelebihan itu harus dikembalikan kepada si pegadai.
Tetapi jika hasil itu tidak mencukupi pembayaran utang, rnaka si
pemiutang tetap berhak menagih piutangnya yang belum dilunasi itu.
Penjualan barang gadaian harus dilakukan di depan umum dan sebelum
penjualan dilakukan biasanya ha1 itu harus diberitahukan lebih dahulu
kepada si penggadai tentang pelunasan utang, pemegang gadai selalu
didahulukan dari pada pemiutang lainnya.
Pemilik masih tetap berhak mengambil manfaatnya dari barangnya
yang dijaminkan, bahkan manfaatnya tetap kepunyaan pemilik dan keruTinjouon Uinun Gadai Syarioh

75

sakan menjadi tanggungan pemilik. Tetapi usaha pe~nilikuntuk menghilangkan miliknya dari abrang itu (jaminan), mengurangi harga menjual atau
mempersewakannya tidak sah tanpa izin yang menerima jaminan (borg).I2'
Menjaminkan barang-barang yang tidak mengandung risiko biaya
perawatan dan yang tidak menimbulkan manfaat seperti menjadikan bukti
pemilikan, bukan barangnya, sebagaimana yang berkembang sekarang i11i
agaknya lebih baik untuk menghindarkan perselisihan antara kedua belah
pihak sehubungan dengan risiko dan manfaat barang gadai. Lebih dari itu,
masing-masing pihak dituntut bersikap amanah, pihak yang berutang menjaga amanah atas pelunasan utang. Sedangkan'pihak pemegang gadai
bersikap amanah atas barang yang dipercayakan sebagai jaminan.""
Penulis dapat menyimpulkan bahwa pemanfaatan barang gadaian
dapat menimbulkan suatu manfaat terhadap masyarakat yang telah melaksanakan gadai menggoda dalam transaksi ekonomi.
Dalam hukum Islam hikmah gadai sangat besar, karena orang yang
menerima gadai membantu menghilangkan kesediaan orang yang menggadaikan, yaitu kesedihan yang membuat pikiran dan hati kacau. Di antara
manusia ada yang membutuhkan harta berupa uang untuk mencukupi
kebutuhannjla.
Kebutuhan manusia itu banyak. Mungkin ia meminta bahwa kepada
seseorang dengan cara berutang, tetapi orang itu menolak untuk memberikan
harta kecuali dengan ada barang jaminan yang nyata sampai diken~balikannya sejumlah jaminan itu. Dengan adanya kenyataan seperti Allah Maha
Bijaksana mensyariatkan dan membolehkannya sistem gadai agar orang
yang menerima gadai merasa tenang atas hartanya.
Alangkah baiknya kalau mereka mengikuti syari'at dalam penggadaian, karena kalau mereka mengikuti syari'at tidak ada yang ~nenjadi
korban keserakahan orang-orang kaya yang bisa menutupi pintu-pintu yang
tidak terbuka dan melarat orang yang didahuluinya maka dengan kemewahan dan kebahagiaan.

'

Hikmah yang bisa diambil dari sistem gadai ini ialah timbulnya rasa
saling cinta mencintai dan sayang menyayangi antara manusia, belum lagi
pahala yang diterima oleh orang yang menerima gadai dari Allah Swt. I l i
suatu hari yang tiada guna lagi harta dan anak, kecuali orang yang lapang.

"'
76

H. lbrahim Lubis, BC'. HK. Dpl. Ec, Ekonomi Iskum Sualu Pengunlur 2 (.eel. I ; Jakarta: kalani
Mulia, 1995). hal. 405
Ghufron A. M. As'adi. op.cil., hal. 179

Hukum Gadai Syariah

rela dan tulus ikhlas untuk memperoleh ridha dari AIla11.I~~


Dengan hikmah
tersebut, maka timbul rasa saling cinta mencintai untuk menolong orang lain
dari kesusahan.
Ar-ruhnun pada hakikatnya adalah untuk memberikan jaminan
kepada berpiutang. Dengan demikian, maka pada hakikatnya tiuuan gadai itu
adalah untuk memudahkan bagi yang mendapat kesulitan terhadap sesuatu
dan juga tidak merugikan kepada orang lain. Islam melnberikan tuntutan
agar kita sebagai manusia untuk selalu tolong m e n o ~ o n ~ . ' ~ ~
Jadi di sini agama lslam memberikan jalan keluar bagi yang kena
sesuatu kesulitan, sedang ia mempunyai sesuatu barang yang juga berharga
dan itulah yang dijadikan borg ~jarninan).'~~
Pada hakikatnya yaitu memberikan jaminan kepada orang berpiutang sebagai usaha untuk memudahkan bag/ yang mendapat kesulitan
terhadap sesuatu, sementara orang yang berpiutang mempunyai barang yang
berharga (barang yang dapat digadaikan). Jadi, pada prinsipnya adalah untuk
tolong menolong dalam batas-batas pemberian jaminan.
*

F. Perbedaap dan Persamaan Gadai Konvensional dan Gadai Syariah


Pengertian gadai yang ada dalam syari'at lslam agak berbeda dengan
pengertian gadai dalam hukum positif Indonesia, sebab pengertian gadai
dalam hukum positif cenderung kepada pengertian yang ada dalaln KUH.
Perdata pasal 1 150 yaitu "Gadai adalah suatu hak yang diperoleh-seorang
berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya ole11
seseorang yang berutang atau oleh orang lain atas namanya dan yang
memberikan kekuasaan kepada si berpiutang itu untuk mengambil pelunasan
dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang yang
berpiutang lainnya, dengan kekecualian biaya untuk melelang barang
tersebut dan biaya yang dikeluarkan untuk menyelamatkan setelah barang itu
digadaikan, biaya-biaya mana harus didah~lukan"."~
Selain berbeda dengan KUH Perdata. . pengertian gadai lneliurut
syariat lslam juga berbeda dengan pengertian gadai menurut ketentuan

"'Syekh Al Ahmad Juriani. Hikntuh ,41-7b.vyri M~~il.su/iif~ihii.


1)iterjernilhkan oleh I-ladi Mulyo (('el. I:
Semaranp: Asy Syifa. 102). hal. 394.

'''Lihaf Hamzah Ya'kub. Kode Efik Dugang menunif lslam. (Cet. 11: Bandung: Diponegoro. 1992). hal.
'I"
Iz7

14.
H. Hamzah Ya'qub. loc. cif.
Chairuman Pasaribu, Suhrawardi K L.ubis, Hiikiim Perjunjian dubm Islum. Sinar Ciratika cet II. 19%.
ha]. 140.

Tinjauan Umum Gadai Syariah

.*

77

'

hukum adat. Adapun pengertian gadai menurut hukum adat yaitu menyerahkan tanah untuk menerima pembayaran uang secara tunai, dengan
ketentuan: si penjual (penggadai) tetap berhak atas pengembalia~itanalinya
dengan jalan menebusnya k e m b a ~ i . ' ~ ~
Dari kedua pengertian tersebut, maka dapat dikemukakan bahwa
gadai menurut ketentuan syari'at Islam merupakan kombinasi pengertian
gadai yang terdapat dalam KUH. Perdata dan Hukum Adat, terutama
menyangkut obyek perjanjian gadai. Menurut syari'at Islam, gadai meliputi
semua barang yang mempunyai nilai harta dan tidak dipersoalkan apakah
termasuk benda bergerak atau tidak bergerak.I2'
Menurut KUH Perdata pasal 1150 Adalah suatu hak yang diperoleh
seseorang yang mempunyai piutang atas suatu barang bergerak, yang
diserahkan kepadanya oleh seorang yang berutang atau oleh seorang lain
atas dirinya, dan yang memberikan kekuasaan kepada orang yarig berpiutang
itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan
daripada orang yang berpiutang lainnya, dengan pengecualian biaya yang
telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan,
biaya-biaya mana harus didahulukan.
Gadai dalam Fiqh Gadai (rahn) adalah perjanjian suatu barang
sebagai tanggungan utang, atau menjadikan suatu benda bernilai menurut
pandangan syara sebagai tanggungan pinjaman (marhun bih), sehingga
dengan adanya tanggungan utang ini seluruh atau sebagian utang dapat
diterima.
Persamaan Gadai (Hukum Perdata) dengan Rahn (hukurn Islam)
adalah sebagai berikut:

1.
2.
3.
4.

Hak gadai berlaku atas pinjaman uang.


Adanya agunan (barangjaminan) sebagaijam inan utang.
Tidak boleh mengambil manfaat barang yang digadaikan.
Biaya barang yang digadaikan ditanggung pemberi gadai.
5. Apabila batas waktu pinjaman uang telah habis, barang yang digadaikan
boleh dijual atau dilelang.

It'
IZy

78

Ibid. ,hal. 139.


Ibid. ha1 140

Hukum Gadai Syariah

Perbedaan Gadai (Hukum Perdata) dengan Rahn (hukum Islam)


adalah sebagai berikut:
1. Rahn dilakukan secara suka rela tanpa mencari keuntungan, gadai dilakukan dengan prinsip tolong menolong tetapi juga menari keuntungan
dengan menarik bunga
2. Hak rahn berlaku pada seluruh harta (benda bergerak dan benda tidak
bergerak).
3. Rahn menurut hukum Islam dilaksanakan tanpa melalui suatu lembaga,
sedangkan gadai menurut hukum perdata dilaksanakan melelui suatu
lembaga (Perum Pegadaian)
Pelaku Praktik Gadai:
1. Masyarakat (perorangan)
2. Perum Pegadaian
3. Perbankan

Adapun mengenai Rukun Gadai Syariah adalah sebagai berikut:


1. Ar-rahn (yang menggadaikan) dan Al-Murtahin (penerima gadail yang
memberikan pinjaman) adalah orang yang telah dewasa, berakal, bisa
d i percaya
2. Al-mahrunlRahn (barang yang digadaikan) harus ada pada saat perjan-jian
gadai dan barang tersebut merupakan milik sepenuhnya dari pemberi
gadai
3. Al-Mahruun Bih (Utang) adalah sejumlah dana yang diberikan murtuhin
kepada rahin atas dasar besarnya tafsiran marhun
4. Sighat, Ijab dan Qabul adalah kesepakatan antara rahin dan murtahin
dalam melakukan transaksi gadai.
Permasalahan Syar'i pada Gadai Konvensional adalah adanya riba.
Peminjam harus memberi tambahan sejumlah uang atau prosentase tertentu
dari pokok utang atau padawaktu lain yang telah ditentukan penerima gadai
atau disebut juga bunga gadailsewoa modal.

Tinjauon h u m Godoi Syariah

79

BAB 2
PERAN LEMBAGA PEGADAIAN
SYARIAH

A. Sejarah Pegadaian
Pegadaian atau Pawn Shop merupakan lembaga perkreditan dengan sistem
gadai. Lembaga semacam ini pada awalnya berkembang di ltalia yang kemudian dipraktikkan di wilayah-wilayah Eropa lainnya, misalnya lnggris dan
Belanda. Sistem gadai tersebut memasuki Indonesia dibawa dan dikembangkan oleh orang Belanda(VOC), yaitu sekitar abad ke-19.
Sejarah pegadaian dimulai pada abad XVll ketika Vareenigde 00s
Compagine (VOC) suatu maskapai perdagangan dari Belanda, datang ke
lndonesia dengan tujuan berdagang. Dalam rangka memperlancar kegiatan
~erekonomiann~a
VOC mendirikan Bank dan Leening yaitu Lembaga
Kredit yang memberikan Kredit dengan sistem gadai. Bank Van Leening
didirikan pertama di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746 berdasarkan
keputusan Gubemur Jendral Van Imhoff. Bank Van Leening yaitu lembaga
keuangan yang memberikan kredit dengan sistem gadai, lembaga ini pertama
kali didirikan di Batavia pada tanggal 20 Agustus 1746.
Pada tahun 1800 setelah VOC dibubarkan, lndonesia berada di
bawah kekuasaan pemerintah Belanda. Pemerintah Belanda di bawah
Gubernur Jendral Daendels mengeluarkan peraturan yang merinci jenis
barang yang dapat menggadaikan seperti emas, perak, kain dan sebagian
perabot rumah tangga, yang dapat disimpan dalam waktu yang sangat relatif
singkat.
Ketika lnggris mengambil alih kekuasaan lndonesia dari tangan
Belanda (181 1-1816) Bank Van Leening milik pemerintah Belanda.
Gubernur Jendral Thomas Stamford ~ & e s (181 1) memutuskan ~ ~ n t u k
membubarkan Bank Van Leening dan mengeluarkan peraturan yang
menyatakan bahwa setiap orang boleh mendirikan Usaha Pegadaian dengaii
ijin (licenci) dari pernerintah daerah setem pat. Dari penjualan lisensi ini
pemerintah memperoleh tambahan pendapatan. Bentuk usaha pegadaian di
lndonesia berawal dari Bank Van Lening pada masa VOC yang mempunyai

tugas memberikan pinjaman uang kepada masyarakat dengan jaminan gadai.


Sejak itu bentuk usaha pegadaian telah mengalami beberapa kali perubahan
sejalan dengan !perubahan peraturan-peraturan yang mengaturnya.
Sebagai akibat pembubaran Bank Van Leening, masyarakat diberi
keleluasaan untuk mendirikan usaha pegadaian asal mendapat lisensi dari
Pemerintah Daerah setempat (liecentie stelsel). Namun metode tersebut
berdampak buruk pemegang lisensi menjalankan praktik rentenir atau lintah
darat yang dirasakan kurang menguntungkan pemerintah berkuasa (Inggris).
Oleh karena itu metode Iiecentie stelsel diganti menjadi pacth stelsel yaitu
pendirian pegadaian diberikan kepada umum yang mampu membayarkan
pajak yang tinggi kepada pemerintah.
Pada saat Belanda berkuasa kembali di Indonesia (1816) pola atau
metode pacth stelsel tetap dipertahankan dan menimbulkan dampak yang
sama dimana pemegang hak ternyata banyak melakukan penyelewengan
dalam menjalankan bisliisnya, mengeruk keuntungan untuk diri sendiri
dengan menetapkan bunga pinjaman sewenang-wenang. Selanjutnya
pemerintah Hindia Belanda menerapkan apa yang disebut dengan 'cultuur
stelsel' dimana dalam kajian tentang pegadaian saran yang dikemukakan
adalah sebaikinya kegiatan pgadaian ditangani sendiri oleh pemerintah agar
dapat memberikan perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi
masyarakat.
Berdasarkan penelitian oleh lembaga penelitian yang dipimpin De
Wilf Van Westerrode pada tahun 1900 disarankan agar sebaiknya kegiatan
pegadaian ditangani sendiri oleh pemerintah sehingga dapat memberikan
perlindungan dan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat peminjam.
Berdasarkan hasil penelitian tersebut pemerintah Hindia Belanda mengeluarkan Staatsblad (Stbl) 1901 No. 131 tanggal 12 Maret 1901.
Dengan dikeluarkannya peraturan tersebut, maka pelaksanaan gadai
dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda sebagaimana diatur dala~n
staatblad tahun 1901 Nomor 13 1 tersebut sebagai berikut " kedua sejak saat
itu di bagian Sukabumi kepada siapapun tidak akan diperkenankan untuk
memberi gadai atau dalam bentuk jual beli dengan hak membeli kembali,
meminjam uang tidak melebihi seratus Gulden, dengan hukuman tergantung
kepada kebangsaan para pelanggar yang diancam dalam pasal 337 KUHP
bagi orang-orang Eropa dan pasal 339 KUHP bagi orang-orang
Bumiputera". Ini berarti Staatblad 1901 No. 131 tersebut menunjukkan
bahwa usaha Pegadaian merupakan monopoli Pemerintah dan tanggal 1
April 1901 didirikan Pegadaian Negara-pertama di Sukabumi (Jawa Barat).
Peran Lembopa Pegadoian Syoriah

81

Selanjutnya setiap tanggal 1 April diperingati sebagai hari ulang tahun


Pegadaian. Staatsblad No. 131 tanggal 12 Maret 1901 yang pada prinsipnya
mengatur bahwa pendirian pegadaian merupakan monopoli dan karena itu
hanya bisa dijalankan oleh pemerintah.
Sesuai dengan Staatsblad tersebut, maka didirikan Pegadaian Negara
pertama di kota Sukabumi (Jawa Barat) pada tanggal 1 April 1901. Selanjutnya pada tahun 1902 didirikan kembali Pegadaian di Cianjur, serta pada
tahun 1903 di buka di beberapa kota lainnya, yaitu di Punvorejo, Bogor.
Tasikmalaya, Cikakak di Bandung. Selanjutnya, dengan staatblad 1930 No.
226 Rumah Gadai tersebut mendapat status Dinas Pegadaian sebagai
Perusahaan Negara dalam arti Undang - Undang perusahaan Hindia Belanda
(Lembaran Negara Hindia Belanda 1927 No. 4 19).
Kemudian pada tahun 1951 didirikan kembali Pegadaian di
Indramayu, yang hingga kini terus bertambah di seluruh Indonesia. Monopoli Pemerintah terhadap Pegadaian di Jawa dan Madura pada tahun 197 1
telah berada di tangan pemerintah, yang selanjutnya memonopoli untuk
seluruh Wilayah Indonesia, diatur melalui Staatsblad Nomor 28 dan Nomor
420 Tahun 1921.
Pada waktu bangsa Jepang menduduki Indonesia, yaitu mulai tanggal 8 Maret 1942, Pemerintah Jepang melalui bala tentara Dai Nippon,
memutuskan agar barang-barang jaminan perhiasan emas, permata, tidak
dilelangkan dan diambil oleh Jepang. Pada tahun 1942 Gedung Kantor Pusat
Jawatan Pegadaian di Jakarta di Jalan Kramat Raya 162 dijadikan tempat
tawanan perang bagian Urusan Umum di Kantor Pusat diperluas tugasnya
untuk mengumpulkan barang-barang jaminan guna memenuhi kebutuhan
perang bagi tentara Jepang. Tidak banyak perubahan yang terjadi pada masa
pemerintahan Jepang baik dari sisi kebijakan maupun struktur organisasi
Jawatan Pegadaian. Jawatan pegadaian dalam bahasa Jepang disebut 'Sitji
Eigeikyuku', Pimpinan Jawatan Pegadaian dipegang oleh orang Jepang yang
bemama Ohno-San dengan wakilnya orang pribumi yang bernama M.
Sau bari.
Pada masa awal pemerintahan Republik Indonesia kantor Jawatan
Pegadaian sempat pindah ke Karanganyar (Kebumen) karena situasi perang
yang kian terus memanas. Agresi militer Belanda yang kedua memaksa
kantor Jawatan Pegadaian dipindah lagi ke Magelang.
Selanjutnya pasca perang kemerdekaan kantor Jawatan Pegadaian
kembali lagi ke Jakarta dan Pegadaian kembali dikelola oleh Pemerintal~
Republik Indonesia. Pada masa selanjutnya, pegadaian milik pemerintah
82

Hukwn Gadai Syarioh

tetap diberi fasi litas monopoli atas kegiatan pegadaian di Indonesia. Dinas
pegadaian mengalami beberapa kali perubahan bentuk badan hukum.
Dalamtnasa ini Pegadaian sudah beberapa kali berubah status, yaitu
sebagai Perusahaan Negara (PN) sejak I Januari 1961 kemud ian berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1969 menjadi Perusahaan Jawatan
(PERJAN). Pada waktu pegadaian masih berbentuk Perusahaan Jawatan,
misi sosial dari pegadaian merupakan satu-satunya acuan yang digunakan
oleh manajernya dalam mengelola pegadaian. Pengelolaan pegadaian bisa
dilaksanakan meskipun perusahaan tersebut mengalami kerugian.
Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun
1990 (yang diperbaharui dengan Peraturan Pemerintah Nomor 103 Tahun
2000) berubah lagi menjadi Perusahaan Umum (PERUM) h ingga sekarang.
Sejak statusnya diubah menjadi Perusahaan Umum, keadaan tersebut tidak
sepenuhnya dapat dipertahankan lagi. Disamping berusaha memberikan
pelayanan umum berupa penyediaan dana atas dasar hu kum gadai, manajemen perum pegadaian juga berusaha agar berusaha agar pengelolaan usaha
ini sedapat mungkin tidak mengalami kerugian. Perum pegadaian diharapkan
akan dapat mengalami keuntungan atau setidaknya penerimaan yang didapat
mamplt menutup seluruh biaya dan pengeluarannya sendiri. Kantor pusat
Perum berkedudukan di Jakarta dan dibantu oleh kantor daerah, kantor
perwakilan daerah dan kantor cabang. Saat ini jaringan. usaha P e r ~ ~ m
Pegadaian telah meliputi lebi h dari 500 cabang yang tersebar di seluruh.
Kini usia Pegadaian telah lebih dari seratus tahun, manfaat semakin
dirasakan oleh masyarakat, meskipun perusahaan membawa misi publik
service obligation, ternyata perusahaan masih mampu memberikan
kontribusi yang signifikan dalam bentuk pajak dan bagi keuntungan kepada
Pemerintah, di saat mayoritas lembaga keuangan lainnya berada dalam
situasi yang tidak menguntungkan. Pegadaian pada tahun 2010 diharapkan
menjadi perusahaan yang modern, dinamis dan inovatif dengan usaha utama
gadai dengan misi ikut membantu program pemerintah dalam upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah
melalui kegiatan utama berupa penyaluran kredit gadai dan melakukan usaha
lain yang menguntungkan.
Sejak Proklamasi Kemerdekaan sampai tahun 1961, Pegadaian berstatus sebagai Jawatan, yaitu sampai terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor
1 78 tahun 1 96 1, yang merubah status Jawatan Pegadaian menjadi
Perusahaan Negara dan pada tahun 1965 diintegrasikan ke dalam urusan
Bank Sentral. Selanjutnya berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun
Peran Lembqga Pegadaian Syarioh

83

1969 status Perusahaan Negara Pegadaian, yang usaha dan kegiatannya


diatur dalam pasal 2 Indische Burgelijk Wet boek (IBW) 1927. Jawatan
Pegadaian pada waktu itu berada di lingkungan Departemen Keuangan, yang
pengelolaanya dilakukan oleh Direktorat Jendral Keuangan, yaitu berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor 39/MK.6/2/197 1 .
Pada tahun 1971 sampai tahun 1990 Pegadaian berstatus sebagai
Perusahaan Jawatan (PERJAN) pegadaian, yang selanjutnya berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 10 tahun 1990, Perjan Pegadaian berubah
kembali statusnya menjadi Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian hingga
sekarang, dan yang terakhir diatur dengan Peraturan Pemerintah No~nor103
tahun 2000.
Pegadaian sebagai Lembaga Keuangan Non Bank tidak diperkenankan rnenghimpun dana secara langsung dari masyarakat dalam bentuk
simpanan, misalnya: giro, deposito, dan tabungan sebagaimana halnya
dengan sumber dana konvensional perbankan. Untuk memenuhi kebutuhan
dananya, Perum Pegadaian memiliki sumber-sumber dana sebagai berikut:
a.
b.
c.
d.
e.

Modal sendiri.
Penyertaan modal Pemerintah.
Pinjaman jangka pendek dari pemerintah.
Pinjaman jangka panjang yang berasal dari KLBI.
Dari masyarakat melalui obligasi.'

B. Sejdrah Berdirinya Pegadaian Syariah


Perkembangan lembaga-lembaga ekonomi lslam semakin marak pada akhir
dasawarsa abad 20 ini. Hal ini ditandai dengan dikeluarkannya Undang
Undang No 7 tahun 1992 tentang pokok-pokok perbankan beserta selnua
ketentuan pelaksanaannya baik berupa Peraturan Pemerintah, Keputusan
Menteri Keuangan, maupun Surat Edaran Bank Indonesia.
Pemerintah telah memberi peluang berdirinya lembaga keuangan
syariah yang beroperasi berdasarkan sistem bagi hasil. Kondisi ini telah
dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh umat Islam dengan berdirinya perbankan
lslam yang diberi nama Bank Muamalat Indonesia (BMI) pada bulan Mei
1992 dan menjamurnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Syariah, kemudian
disusul dengan asuransi yang berdasarkan syariat lslam atau takaful.

'
84

Dahlan siamat."Manajemen Lembaga Keuangan",FE. UI, 2002, Jakarta, hal. SU4

Hukum Gadai Syariah

1. Dasar Hukum Berdirinya Pegadaian Syariah


Dikeluarkannnya UU No. 7 tahun 1992 dan penyempurnaannya menjadi UU
No. 10 tahun 1998 tentang Pokok-Pokok Perbankan yang di dalamnya
mengatur tentang Perbankan Syariah memberi peluang berdirinya lembaga
keuangan syariah yang berdasarkan sistem bagi l~asil.Kondisi ini dimanfaatkan sebesar-besarnya oleh umat lslam dengan mendirikan perbankan
Islami seperti Bank Muamalat Indonesia (BMI), Baitul Maal Wa Tamwil
(BMT), Asuransi Takaful serta Reksadana Syariah.
Namun demikian meskipun lembaga keuangan Islam sudah ci~kup
lengkap, kebanyakan lembaga-lembaga tersebut dimanfaatkan oleh umat
lslam yang mempunyai ekonomi yang cukup baik, sedangkan mayoritas
umat Islam yang ekonominya lemah belum bisa merasakan manfaat nyata
dari keberadaan lembaga tersebut.
Berkembangnya perbankan dan lembaga keuangan syariah, merupakan peluang pasar baru bagi pegadaian yang masih menggunakan sistem
konvensional, yaitu sistem bunga. Perum pegadaian yang merupakan
lembaga keuangan non bank sekitar tahun 2000 mengadakan studi banding
ke negeri Malaysia, untuk mempelajari kemungkinan berdirinya lembaga
gadai syariah di Indonesia, di MaIaysia nama lembaga tersebut adalah A r
Rahnu, beroperasi sudah lama dan milik pemerintah.
Pegadaian syariah merupakan salah satu unit layanan syariah yang
dilaksanakan oleh Perum Pegadaian. Berdirinya unit layanan syariah ini
didasarkan atas perjanjian musyarakah dengan sistem bagi hasil antara
Perum Pegadaian dengan Bank Muamalat lndonesia (BMI) untuk tujuan
melayani nasabah Bank Muamalat lndonesia (BMI) maupun nasabah Perum
Pegadaian yang ingin memanfaatkan jasa dengan menggunakan prinsip
syariah. Dalam perjanjian musyarakah ini, BMI yang memberikan modal
bagi berdirinya pegadaian syariah, karena untuk mend irikan Ieln baga
keuangan syariah modalnya juga harus diperoleh dengan prinsip syariah
pula. Sedangkan Perum Pegadaian yang menjalankan operasionalnya dan
penyedia sumber daya manusianya dengan pertimbangan pengalaman Perum
Pegadaian dalam pelayanan jasa gadai.
Ketentuan nisbah yang disepakati yaitu 45.5 untuk Bank Muamalat
Indonesia dan 553 untuk Perum Pegadaian. Perjanjian kerjasama alitara
Perum Pegadaian dan Bank Muamalat lndonesia tentang Gadai Syariah
disepakati pada tanggal 20 Desember 2002, dengan nomor
446/SP300.233/2002 dan 015/BMI/PKS/XI1/2002.

Peron Lembogo Pegodoion Syorioh

85

Bank syariah selain mem-back-up dana juga memfasilitasi ke


Dewan Syariah yang mengawasi operasional apakah sesuai dengan prinsip
syariah atau tidak. Gadai Syariah atau Unit Layanan Gadai Syariah untt~k
pertama, kalinya didirikan di Jakarta tanggal 1 ~anuari2003, kemudian di
kota Jogjakarta, Semarang, Solo, Mala"g, Bandung, Padang, Denpasar,
Balikpapan, Medan dan kota-kota besar lainnya. Khusus di wilayah
Yogyakarta mulai beroperasi pada tanggal 15 September 2003
dengan alamat di Jalan Kusumanegaara No. 184 Yogyakarta. Dengan melalui berbagai pertimbangan dan survey di lapangan maka pada tanggal 25
Mei 2004 Perum Pegadaian Kanwil Jogjakarta mendirikan Pegadaian
Syar'iah Cabang Mlati yang terletak di Jalan Magelang KM 7,2 Yogyakarta
dengan tujuan untuk menampung nasabah yang anti terhadap riba atau
masyarakat Muslim yang selama ini takut ke pegadaian karena takut riba dan
juga untuk menampung nasabah di sekitar wilayah Kecamatan Mlati.
Gadai syariah masuk dalam Devisi Usaha Lain, karena diharapkan
terjadi bisnis sehingga menjadi organisasi yang tidak tergantung hanya pada
satu produk saja. Namun untuk kedepan diharapkan gadai syariah menjadi
entitas bisnis yang mandiri dan menjadi PT sendiri.
2. Aspek Legal Pendirian Gadai Syariah
Adanya keinginan masyarakat untuk berdirinya lembaga gadai syariah dalam
bentuk perusahaan rnungkin karena umat Islam menghendaki adanya lembaga gadai pemsahaan yang benar-benar menerapkan prinsip syariat Islam.
Untuk mengakomodir keinginan ini perlu dikaji berbagai aspek penting,
antara lain: aspek legalitas, aspek permodalan, aspek sumber daya manusia,
aspek kelembagaan, aspek sistem dan prosedur, aspek pengawasan, dan lainlain.
Dalam mewujudkan sebuah penggadaian yang ideal dibutuhkan
beberapa aspek pendirian. Adapun aspek-aspek pendirian pegadaian syari'ah
tersebut antara lain2:
a. Aspek Legalitas
Mendirikan lembaga gadai syariah dalam bentuk perusahaan memerlukan
izin Pemerintah. Namun sesuai dengan Peraturan Pemerintah No. 10
Tahun 1990 tentang pengalihan bentuk Perusahaan Jawatan Pegadaian
(PERJAN) menjadi Perusahaan Umum (PERUM) pegadaian3, pasal 3

'

Heri Soedarsono. Bank R Lembagu Kezcangun Sycrriah Deskripsi don Ilustrosi. Ekonisia, 2004. hal.
165-166.
"rospektus
Perurn Pegadaian, Jakarta. 16 Juni 1993: hal. 96-97.

86

Hukum Gadai Sywiah

ayat (])a menyebutkan bahwa Perum Pegadaian adalah badan usaha


tunggal yang diberi wewenang untuk menyalurkan uang pinjaman atas
dasar hukum gadai. Kemudian misi dari Perum Pegadaian dapat diperiksa
antara lain pada pasal 5 ayat (2)b, yaitu pencegahan praktik iljon, riba4,
dan pinjaman tidak wajar lainnya.
Dari misi Perum Pegadaian tersebut, umat lslam mempunyai dua pilihan,
yaitu:
a) Membantu Perum Pegadaian menerapkan konsep operasional lembaga
gadai yang sesuai dengan prinsip syariat Islam yang tidak menerapkan
sistem bunga atau yang serupa dengan itu baik dalam mencari modal
maupun dalam menyalurkan pinjaman. Apabila sumbangan pemikiran
umat lslam ini sulit dilaksanakan, umat Islam mempunyai pilihan
kedua;
b) Membantu Perum Pegadaian menghilangkan beban moral dengan
mengusulkan perubahan PP No. 10 Tahun 1990 yaitu menghapus kata
"riba" pada pasal 5 ayat (2)b, dan kata-kata "badan usaha tunggal"
pada pasal 3 ayat (])a. Dengan usul yang kedua ini maka umat lslam
mempunyai peluang untuk berdirinya suatu lembaga gadai dalam
bentuk' perusahaan yang dioperasikan sesuai dengan prinsip-prinsip
syariat Islam.
Sebenarnya akan lebih baik apabila Perum Pegadaian dapat menerima
pilihan pertama, karena akan lebih mudah bagi umat lslam untuk mewujudkan keinginannya. Penyesuaian untuk betul-betul menjadikan Perum
Pegadaian perusahaan gadai yang sesuai dengan misinya sebenarnya
tidak terlalu sulit. Kebutuhan tambahan modal untuk operasional barangkali bisa dipasok dari bank syariah yang sudah ada baik dalam dan luar
negeri. Pinjaman obligasi dari masyarakat mungkin juga bisa dibuatkan
model yang sesuai dengan prinsip syariat Islam.
Namun andaikata Pemerintah dapat melepaskan status monopoli
Perum Pegadaian karena telah berubah misinya, maka perusahaan gadai
syariah yang diharapkan dapat diberi izin berdiri tentunya adalah perusahaan yang persyaratan modalnya cukup besar.
Kantor pusatnya hanya boleh didirikan di ibu kota Propinsi dan baru
boleh membuka cabang apabila telah mendapat penilaian sehat dari
instansi yang berwenang. Masyarakat tentunya tidak menghendaki terlalu

'

Pengertian riba pada makalah ini menganut pengertian yang sama dengan pengertian yang menjadi
latar belakang berdirinya bank-bank lslam di seluruh dunia. Termasuk bunga bank dan bunga
obligasi dalam pengertian ini adalah riba.

banyaknya perusahaan gadai kecil-kecil milik keluarga seperti buka


warung, karena perusahaan gadai menyangkut kepentingan rakyat banyak
yang perlu mendapat 'perlindungan dan pembinaan pemerintah. Karena
dalam ketentuan syariah tidak dilarang mencari keuntungan melalui
sistem bagi hasil mudharabah, bentuk yang .paling cocok untuk suatu
perusahaan gadai syariah adalah Perseroan Terbatas.
Peraturan Pemerintah No. 10 Tahun 1990 tentang berdirinya lembaga gadai yang berubah dari bentuk perusahaan jawatan Pegadaian
menjadi Perusahaan Umum pegadaian adalah badan usaha tunggal yang
diberi wewenang untuk menyalurkan uang pinjaman atas dasar hukum
gadai. ~ e m u d i a nmisi dari FERUM Pegadaian disebutkan ,pada pasal 5
ayat' 2b, yaitu pencegahan praktik ijon, riba, pinjaman tidak wajar
lainnya. Pasal-pasal tersebut dapat dijalankan legitimasi bagi berdirinya
pegadaian syari'ah.
b. Aspek Permodalan
Apabila umat Islam memilih mendirikan suatu lembaga gadai dalam
bentuk perusahaan yang dioperasikan sesuai dengan prinsip-prinsip
syariat Islam, aspek penting lainnya yang perlu dipikirkan adalah
permodalan. Modal untuk menjalankan perusahaan gadai cukup besar
karena selain diperlukan dana untuk dipinjanikan kepada nasabah juga
diperlukan investasi untuk tempat penyimpanan barang gadaian.
Dengan asumsi bentuk perusahaan gadai syariah yang dikehendaki
adalah perseroan terbatas, maka perlu diupayakan saham yang dijual
kepada masyarakat dalam pecahan yang terjangkau lapisan masyarakat
sehingga saham dapat dimiliki secara luas. Ada kemungkinan pemegang
saham perusahian gadai syariah melebihi jumlah minimum sehingga
perlu didaftarkan kepada BAPEPAM sebagai perusahaan publik
Modal untuk menjalankan perusahaan gadai adalah cukup besar,
karena selain diperlukan untuk dipinjamkan kepada nasabah. juga
diperlukan investasi untuk penyimpanan barang gadai. Permodalan gadai
syari'ah bisa diperoleh dengan sistem bagi hasil, seperti mengumpulkan
dana dari beberapa orang (musyarak~h)atau dengan mencari sumber
dana (shahibul mal), seperti baik atau perorangan untuk mengelola
perusahaan gadai syari'ah (mudharabah).
c. Aspek Sumber Daya Manusia
Keberlangsungan pegadaian syari'ah sangat ditentukan oleh kemampuan
sumber daya manusia (SDM)-nya. SDM pegadaian syari'ah harus meme88

HukumGadaiSyariah

nuhi filosofi gadai dan sistem operasionalisasi gadai syari'ah. SDM selain
mampu menangani masalah taksiran barang gadai, penentuan instrumen
pembagian rugi laba atau jual beli, menangani masalah-masalah yang
dihadapi nasabah yang berhubungan dengan penggunaan uang gadai, juga
berperan aktif dalam syi'ar Islam dimana penggadaian itu berada.
Suatu perusahaan gadai hanya akan mampu bertahan dan berjalan
dengan mantap apabila nilai barang yang dijadikan agunan cukup untuk
menutup utang yang diminta oleh pemilik barang. Untuk menilai suatu
barang gadaian apakah dapat menutup jumlah pinjaman tidaklah mudah.
Apalagi jenis barang yang mungkin dijadikan agunan gadai sangat beraneka ragam. Belum lagi dengan kemajuan teknologi yang sangat cepat
menjadikan suatu barang lebih cepat ketinggalan jaman. Untuk dapat
sedikit meyakini nilai suatu barang gadaian diperlukan pengetahuan,
pengalaman, dan naluri yang kuat.
Dengan kualitas sumber daya manusia yang menangani penaksiran
barang gadaian sangat menentukan keberhasilan suatu perusahaan gadai.
Penaksir gadaian adalah ujung tombak operasional perusahaan
gadai, oleh karena itu mereka perlu di didik, dilatih, dan digembleng
pengetahuan dan keterampilannya.
Diperlukan waktu yang cukup untuk melatih mereka. Selain penaksir barang, pada perusahaan gadai syariah diperlukan juga analis kelayakan usaha yang andal untuk menilai usaha yang diajukan pada perjanjian utang piutang gadai dalam bentuk mudharabah. Analis kelayakan
usaha yang andal adalah tumpuan harapan bagi perusahaan gadai syariah
untuk memperoleh bagi hasil yang memadai. Untuk juru taksir, pada
tahap awal barangkali perlu dipekerjakan kembali para pensiunan penaksir Perum Pegadaian Kemudian untuk para analis kelayakan usaha diperlukan tenaga-tenaga sarjana yang berpengalaman minimal 2 taun. Caloncalon rnanajer pun perlu dipersiapkan untuk pimpinan pusat maupun
cabang.
d. Aspek Kelernbagaan
Sifat kelembagaan mempengaruhi keefektifan sebuah perusahaan gadai
dapat bertahan. Sebagai lembaga yang relatif belum banyak dikenal
masyarakat, pegadaian syari'ah perlu mensosialisasikan posisinya sebagai
lembaga yang berbeda dengan gadai konvensional. Hal ini guna memperteguh keberadaannya sebagai lembaga yang berdiri untuk memberikan
kemaslahatan bagi masyarakat.
Peran Lembaga Pegadaian Syariah

89

Perusahaan gadai syariah membawa misi syiar Islam, oleh karena itu
harus dapat diyakini bahwa seluruh proses operasional dilakukan tidak
menyimpang dari prinsip syariat Islam. Proses operasional mulai dari
mobilisasi dana untuk modal dasar sampai kepada penyalurannya kepada
masyarakat tidak boleh mengandung unsur-unsur riba.
Usaha-usaha yang akan dibiayai dari pinjaman gadai syariah adalah
usaha-usaha yang tidak dilarang dalam agama Islam. Untuk ~neyakini
tidak adanya penyimpangan terhadap ketentuan syariah diperlukan
adanya suatu dewan pengawas yang lazimnya disebut Dewan Pengawas
Syariah yang selalu memonitor kegiatan perusahaan. Oleh karena itu
organisasi perusahaan gadai syariah sangat unik karena harus melibatkan
unsur ulama yang cukup dikenal oleh masyarakat setempat.
e. Aspek Sistem dan Prosedur
Sistem dan prosedur gadai syariah harus sesuai dengan prinsip-prinsip
syariah, di mana keberadaannya menekankan akan pentingnya gadai
syariah. Oleh karena itu, gadai syariah merupakan representasi dari suatu
masyarakat di mana-gadai itu berada maka sistem dan prosedural gadai
syariah berlaku fleksibel asal sesuai dengan prinsip gadai syariah.
Menyandang nama syariah pada kegiatan utang piutang gadai
membawa konsekuensi harus efektif dan efisiensinya kegiatan operasional perusahaan gadai syariah. Oleh karena itu, sistem dan prosedur harus
dibuat sedemikian rupa sehingga tidak menyulitkan calm nasabah yang
akan meminjamkan uang baik datam perjanjian utang piutang gadai
dalam bentu k al-qardhul hmsan maupun utang-piutang gadai dalam
bentuk almudharabah.
Loket-loket dipisahkan antara yang ingin meniasuki perjanjian utang
piutang gada-i dalam bentu k a!-qardhul hassan dan yang ingin memasuki
perjanjian utang piutang gadai dalam bentuk al-mudharabah, namun
harus dibuat fleksibel sedemikian rupa sehingga terhindar adanya antrian
panjang. Biasanya mereka yang ingin memasuki perjanjian utang piutang
gadai dalam bentuk al-mudharubah-adalah peminjam dalam ju~nlah
besar.

f. Aspek Pengawasan
Aspek-pengawasan dari suatu perusahaau gadai syariah adalah sangat
penting karena dalam pengertian pengawasan itu termasuk di dalamnya
pengawasan oleh Yang Maha Kuasa melalui malaikat-Nya. Oleh karena
.-

90

Hukum Gadai Syarioh

itu, organ pengawasan internal perusahaan yang disebut Satuan


Pengawasan Intern (SPI) adalah merupakan pelaksanaan amanah.
Tanggung jawab organ pengawasan termasuk para pimpinan unit
tidak hanya kepada Dewan Komisaris dan Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS) tetapi juga harus dapat mempertanggungjawabkannya di
hadapan Allah Swt. di hari akhir kelak. Termasuk dalam organ
pengawasan adalah Dewan Pengawasan Syariah yang terdiri dari para
ulama yang cukup dikenal masyarakat.
Untuk menjaga jangan sampai gadai syariah menyalahi prinsip
syariah maka gadai syariah hams diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah.
Dewan' Pengawas Syariah bertugas mengawasi operasionalisasi gadai
syariah supaya sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

3. Tujuan Pendiriaa Pegadaian Syariah


Sebagai lembaga ke~iangannon bank milik pemerintah yang berhak memberikan pinjaman kredit kepada masyarakat atas dasar hukum gadai yang
bertujuan agar masyarakat tidak dirugikan oleh lembaga keuangan non
formal yang cenderung memanfaatkan kebutuhan dan mendesak dari masyarakat, maka pada dasarnya lembaga pegadaian tersebut mempunyai fungsi
yaitu:
1. Mengelola penyaluran uang pinjaman atas dasar hukum gadai dengan
cara mudah, cepat, aman dan hemat.
2. Menciptakan dan mengembangkan usaha-usaha lain yang menguntungkan bagi pegadaian maupun rnasyarakat.
3. Mengelola keuangan, perlengkapan, kepegawaian, pendidikan dan
pelatihan.
4. Mengelola organisasi, tata kerja dan tata laksana pegadaian.
5. Melakukan penelitian dan pengembangan serta mengawasi pengelolaan
pegadaian.
Pegadaian syariah sebagai lembaga keuangan syariah non bank yang
berdiri di tengah-tengah masyarakat diharapkan mampu menyelesaika~i
segala jenis masalah yang muncul dalam masyarakat tersebut terutama
masalah ekonomi. Adapun tujuan berdirinya pegadaian syariah adalah:
a. Turut meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama golongan menengah ke bawah melalui penyediaan dana atas dasar hukum gadai, d a ~jasa
i
d i bidang ekonomi laipnya berdasarkan ketentuan perundang-undangan
lainnya.

Peran Lembaga Pegadaian Syariah

91

b. Menghindarkan masyarakat dari gadai gelap, ijon, praktik riba, dan pinjaman tidak wajar lainnya. Pegadaian syariah juga memegang nilai-nilai
prinsip dasar dalam pengelolaan usaha, yaitu kejijuran, keadilan, dan
kesesuaian dengan syariah.
4. Tugas Pokok Pegadaian Syariah

Unit Layanan Gadai Syariah dibentuk sebagai unit bisnis yang mandiri
dengan maksud untuk menjawab tantangan kebutuhan masyarakat yang
mengharapkan adanya pelayanan pinjam meminjam yang bebas dari unsur
riba yang dilarang menurut syari7atIslam. Dalam kenyataannya di lapangan,
sudah ada institusi lain yang menjawab tantangar! ini dengan mengeluarkan
produk gadai berprinsip syariah (rahn).
Dengan demikian tidak ada pilihan lain bagi pegadaian, apabila
ingin tetap eksis di mata masyarakat luas terutama terhadap penduduk
muslim, maka harus mampu menjawab tuntutan kebutuhan pasar ini.
Menyingkap perkembangan keadaan tersebut, maka dibentuklah Unit
Layanan Gadai Syariah sebagai cikal bakal anak perusahaan yang di
kemudian hari diharapkan menjadi institusi Layanan Syari7ah mandiri yang
terpisah dari pegadaian. Oleh karena itu, dibentuknya Unit Layanan Gadai
Syariah ini adalah untuk mengemban tugas pokok melayani kegiatan pemberian kredit kepada masyarakat luas atas penerapan prinsip-prinsip gadai
yang dibenarkan secara Syariah Islam.
5. Fungsi Pegadaian Syariah

Untuk dapat menjalankan tugas pokok tersebut, maka Unit Layanan Gadai
Syari'ah mempunyai fungsi sebagai unit organisasi Perum Pegadaian yang
bertanggung jawab mengelola usaha kredit gadai secara syariah agar mampu
berkembang menjadi institusi yang mandiri dan menjadi pilihan utama
masyarakat yang membutuhkan pelayanan gadai secara syari 'ah. U ntuk
dapat mewujudkan tercapainya tugas pokok dan fungsi tersebut, maka
dibentuk struktur kepemimpinan dari pusat hingga ke Cabang Layanan
Syariah.
6. Struktur Organisasi Pegadaian Syariah
Berdasarkan peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 03 tahun
2000, tentang Perusahaan Umum (PERUM) Pegadaian, bahwa "Perum
Pegadaian dipimpin oleh seorang Direktur, yaitu Direktur Operasi dan
Pengembangan, Direktur Keuangan. serta Direktur Umum yang seluruhnya
berfungsi sebagai Staf Direktur Utama.
92

Hukum Gadai Syariah

Selanjutnya dalam melaksanakan tugas teknis operasional penyaluran uang pinjaman kepada masyarakat, dilakukan hubungan strukti~ral
teknis operasional dengan para Pimpinan Wilayah, serta Pimpinan Wilayah
melakukan hubungan struktural teknis operasional dengan para Manajer
Kantor Cabang.
Sesuai dengan struktural organisasi tersebut, bentuk organisasi
Perum Pegadaian adalah bentuk Line dan Staff dengan tata kerja sebagai
berikut:
a. Setiap Manajer Kantor Cabang dalam melaksanakan tugas operasionalnya bertanggung jawab langsung kepada Pimpinan Wilayah.
b. Setiap Pimpinan Wilayah dalam melaksanakan tugasnya bertanggung
jawab langsung kepada Direktur Utama.
c. Dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari Direktur Utama dibantu oleh
para Direktur yang berfungsi sebagai Staf Direktur Utama.
d. Setiap Pimpinan Wilayah dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari
dibantu oleh para Manajer serta lnspektur Wilayah yang seluruhnya
berfungsi sebagai Staf Pimpinan Wilayah.
e. Setiap Manajer Kantor Cabang dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari
dibamtu oieh para Asisten Manajernya.
Unit layanan Gadai Syariah merupakan suatu unit cabang dari
Perum Pegadaian yang berada di bawah binaan Divisi Usaha Lain. Unit ini
merupakan unit bisnis mandiri yang secara struktural terpisah pengelolaannya dari usaha gadai secara konvensional. Dengan adanya pemisallan
ini, maka konsekuensinya perlu dibentuk Kantor Cabang yang terpisah dan
mandiri dari usaha gadai secara konvensional, namun masih dalam binaan
Pimpinan Wilayah Pegadaian sesuai dengan tempat kedudukan Kantor
Cabang tersebut.
Dewan Pengawas Syariah (DPS) yaitu badan independen yang
ditempatkan oleh Dewan Syariah Nasional, yang terdiri dari ahli di bidang
fiqih muamalah dan memiliki pengetahuan dalam bidang perbankan.
Adapun persyaratan anggota ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional. dan
dalam pelaksanaan tugas sehari-hari, DPS wajib mengikuti t'atwa Dewan
Syariah Nasional yang merupakan otoritas tertinggi dalam mengeluarkan
fatwa produk dan jasa.
Fungsi Dewan Pengawas Syariah Nasional antara lain adalah
sebagai berikut:

Peran Lernbaga Pegadaian Syariah

93

1. Sebagai penasihat dan pemberi saran kepada Direksi Unit Usaha Syariah
dan Pimpinan Kantor Cabang Syariah mengenai hal-ha1 yang berkaitan
dengan syariah.
2. Sebagai mediator antara bank dan Dewan Syariah Nasional dalam
mengkomunikasikan usul dan saran untuk pengembangan unit usaha
syariah yang diawasinya.
3. Sebagai perwakilan Dewan Syariah Nasional yang ditempatkan pada unit
usaha syariah dan wajib rnelaporkan kegiatan usaha Bagian Gudang
Penaksiran Kasir Keamanan serta perkembangan unit usaha syariah yang
diawasinya ke Dewan Syariah Nasional-MUI.
Sedangkan Fungsi Direksi antara lain adalah sebagai berikut:
1 . Sebagai penanggung jawab keberhasilan seluruh unit usaha bisnis perusahaan, baik usaha inti maupun usaha non inti.
2. Sebagai penentu kebutuhan strategis sekaligus mengendalikan kegiatan
bisnis agar tercapai tujuan yang telah ditetapkan.
Fungsi General Manager usaha lain dalam pernbinaan Unit layanan
Gadai Syariah adalah sebagai pengatur kebijakan umum operasional gadai
syariah dan' mengintegrasikan kegiatan Unit layanan Gadai Syariah dengan
unit bisnis lain sehingga rnembentuk sinergi menguntungkan perusahaan.
Fungsi Pimpinan Wilayah dalam pernbinaan Unit Layanan Gadai
Syariah adalah bertanggung jawab dari rnulai merintis pernbukaan Kantor
Cabang Unit layanan Gadai Syariah, pembinaan operasional sehari-hari
maupun penanganan administrasi keuangan seluruh Kantor Cabang Gadai
Syariah di wilayah masing-masing.
Fungsi Manajer Unit Layanan Gadai Syariah Pusat adalah:
1. Sebagai koordinator teknis pengoperasian Unit Layanan Gadai Syariah
hingga sampai pembuatan laporan keuangan Unit Layanan Gadai Syariah
konsolidasi se Indonesia.
2. Bertanggung jawab terhadap seluruh operasional Unit Layanan Gadai
Syariah agar tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan dalam rencana kerja dan anggaran perusahaan maupun
rencana jangka panjang.
3. Membuat kebijaksanaan serta petunjuk operasional yang wajib ditaati
oleh Pimpinan Cabang Unit Layanan Gadai Syariah.

94

Hukum.GadaiSywiah

Fungsi Manajer Kantor Cabang Unit Layanan Gadai Syariah adalah sebagai
beri kut:
1. Sebagai pimpinan pelaksanaan teknis dari perusahaan yang berhubungan
langsung dengan masyarakat. Secara organisatoris Manajer Kantor
Cabang Unit Layanan Gadai Syariah bertanggung jawab langsung kepada
pimpinan wilayah, selanjutnya Pimpinan Wilayah akan melaporkan hasil
kegiatan binaannya kepada Direksi. Sedangkan Direksi akan lnembuat
kebijakan pengelolaan Unit Layanan Gadai Syariah dan memberikan
respon atau tindak lanjut atas laporan Pimpinan Wilayah dengan dibantu
oleh Jendral Manajer Usaha Lain dan Manajer Unit layanan Gadai
.Syariah Pusat. Dalam melaksanakan fungsi tersebut di atas Manajer
Kantor Cabang mengkoordinasi kegiatan pelayanan peminjaman uang
menggunakan prinsip atau akad rahn (gadai syariah), ijaroh (sewa
tempat) untuk penyimpanan barang jaminan (agunan).
2. Membantu kelancaran pelaksanaan tugas di Kantor Cabang Unit Layanan
Gadai Syariah Pimpinan Cabang dibantu sejumlah pegawai dengan
masing-masing bagian sebagai berikut:
..
a. Penaksir; bertugas menaksir barang jaminan untuk menentulgan mutu
dan nilai barang sesuai dengan ketentuan yang berlaku dalam,%fingka
mewujudkan penetapan taksiran dan uang pinjaman yang wajanwrta
citra baik perusahaan.
b. Kasir bertugas melakukan tugas penerimaan, penyimpanan dan pembayaran serta pembelian sesuai dengan ketentuan yang berlaku untuk
kelancaran pelaksanaan operasional Kantor Cabang unit Layanan
Gadai Syariah.
c. Bagian Gudang bertugas melakukan pemeriksaan, ' penyimpanan,
pemeliharaan dan pengeluaran serta pembukuan m a r h n selain barang
kantor sesuai dengan peraturan yang berlaku dalam rangka ketetapan
dan keamanan serta keutuhan marhun.

C. Penggunaan Dana Gadai Syariah


Dana yang telah berhasil dihimpun, kemudian digunakan mendanai usaha
gadai syariah. Dana tersebut antara lain digunakan untuk hal-ha1 berikut:
I. Uang Kas dan Dana Likuid Lain
Lembaga gadai syariah rnemerlukan dana likuid - yang siap digunakan
untuk berbagai macam kebuiuhan, seperti kewajiban yang telah jatuh
tempo, penyaluran dana untuk pembiayaan syariah, biaya operasional
yang harus segera dikeluarkan, pembayaran pajak, dan lain-lain,
Perm Lembaga Pegadaian Symiah -

95

2. Pembelian dan pengadaan berbagai macam bentuk aktiva tetap dan inventaris kantor gadai syariah. Aktiva tetap berupa tanah dan bangunan, serta
inventaris ini tidak secara langsung dapat menghasilkan peneri~naanbagi
lembaga gadai syariah, namun sangat penting agar usahanya dapat
dijalankan dengan baik. Aktiva tetap dan peralatan ini, berupa tanah,
kantorlbangunan, komputer, kendaraan, meubel, brankas, dan lain-lain.
3. Pendanaan Kegiatan Operasional
Kegiatan operasional gadai syariah memerlukan dana yang tidak kecil.
Dana ini digunakan gaji pegawai, honor, perawatan, peralatan, dan lainlain;
4. Penyaluran Dana
Penggunaan dana yang utama disalurkan untuk pembiayaan atas dasar
hukum gadai syariah. Lebih dari 50 % dana yang telah dihimpun gadai
syariah, tertanam dalam bentuk ini, karena memang ini kegiatan utamanya.
Penyaluran dana ini diharapkan akan dapat menghasilkan penerimaan
dari biaya jasa yang dibayarkan nasabah. Usaha ini merupakan penerimaan utama bagi gadai syariah dalam menghasilkan keuntungan,
meskipun tetap dimungkinkan mendapatkan penerimaan dari sumber lain,
seperti investasi surat berharga syariah dan pelelangan marhun, dan lainlain.
5. lnvestasi lain
Kelebihan dana atau idleafind, yang belum diperlukan untuk niendanai
kegiatan operasional maupun belum dapat disalurkan kepada masyarakat.
dan menengah. lnvestasi ini dapat menghasilkan penerimaan bagi lenibaga gadai syariah, namun penerimaan ini bukan merupakan peneri~naan
utama yang diharapkan gadai syariah. Sebagai contoh, gadai syariah
dapat memanfaatkan dananya untuk investasi di bidang properti, seperti:
kantor dan toko. Pelaksanaan investasi ini biasanya bekerja sama dengan
pihak ketiga, seperti: developer, kontraktor, dan lain-lain.5

'
96

Susilo, Y. Sri; Sigit 'rriandaru; dan A. Totok Budi Sanlosc). Op. cit. hJ. 182.

Hukum GodoiSyorioh

D. Beberapa Masalah Operasional Pegadaian Syariah


Pegadaian syariah telah satu tahun berjalan (beroperasi). Berbagai keberhasilan, kekurangan, dan kelemahannya seharusnya selalu terus kita perhatikan perkembangannya, agar tidak 'kembali ke asal' seperti pegadaian
'konvensional' dalam operasionalnya.
Salah satu keberhasilan yang telah ditunjukkan oleh lembaga gadai
syariah dalam setahun beroperasinya adalah telah mampu membuka 1 1
(sebelas) jaringan kantor Pegadaian Unit Layanan Syariah (PULS) dan itu
terdapat di kota-kota besar di Indonesia, seperti Kanwil Utama Jakarta di
PULS Dewi Sartika Jaktim, Kanwil Padang di PULS Batam Center-Batam,
Kanwil Makasar di PULS Pasar Sentral Makasar, Kanwil Yogyakarta di
PULS Kusumanegara Yogyakarta, Kanwil Syrabaya di PULS Joko Tole
Pamekasan-Madura, Kanwil Surakarta di PULS Solo Baru-Sukoharjo,
Kanwil Medan di PULS Aceh, Lhoksumawe, Langsa, Kudasimpang, dan
Kanwil Semarang di PULS Majapahit Semarang.
Meskipun jumlah kantor jaringan yang demikian itu, sebenarnya
masih belum signifikan apabila dibandingkan dengan jumlah kantor jaringan
pegadaian konvensional 'Perum Pegadaian' yang hampir berjumlah 739
cabang, yang tersebar di seluruh Indonesia. Sedangkan di Jakarta sendiri,
dari 60 kantor cabang gadai konvensional direncanakan dikonversi ke gadai
syariah 5 kantor cabang. Berdasarkan I I kantor gadai syariah yang telah
beroperasi tersebut, laba kotor yang dihasilkan selama tahun 2003 sebesar
Rp 3.5 miliar dan dana yang telah disalurkan untuk pembiayaan (unzrr)
sebesar Rp 40 miliar.
Namun, sebenarnya yang hams menjadi perhatian kita adalah bukan
berapa jumlah jaringan yang ada ataupun berapa jumlah nasabah ataupun
berapa jumlah asset dan keuntungan yang diperoleh PULS. meskipun ha1 itu
tidak dapat diabaikan begitu saja. Karena yang harus mendapatkan perhatian
dari kita adalah apakah PULS yang telah beroperasi itu sesuai dengan
syariah atau tidak. Apabila yang menjadi perhatian hanya label 'gadai
syariah', maka ha1 demikian tidak jauh berbeda dengan gadai konvensional
yang telah ada. Jadi bukan gadai syariah sebagai satu solusi men.jaga
likuiditas seperti yang dikatakan BS Sayuto (Republika, Senin, 12 April
2004)- yang harus menjadi perhatian karena masalah likuiditas itu bukan lagi
sebagai persoalan yang esensial bagi gadai syariah. Karena ha1 itu telah
dapat dilakukan dengan baik oleh gadai konvensional, mestinya demikian
juga dengan gadai syariah. Justru yang menjadi sebagai nilai tambah dari
lembaga gadai syariah, itu adalah 'nilai syariahY-nyaitu sendiri.

Sehingga apabila kita lihat dari perkembangan dan beroperasinya


lembaga gadai syariah yang telah ada sekarang, maka ada beberapa kekurangan dan kelemahan yang harus menjadi perhatian kita semua, terutama
kalangan pemerhati "Ekonomi dan Keuangan Syariah", yaitu Pertama,
marhun atau barang jaminan yang diterima, masih berupa 'emas dan
sejenisnya', bukan komputer (barang elektronik), mobil seperti yang dikatakan BS. Sayuto, bahkan sertifikat tanah yang sebenarnya harganya relatif
lebih mahal sekalipun. Meskipun dalam brosur-brosur PULS sendiri, barangbarang tersebut sebenarnya dibolehkan digunakan sebagai marhun, sehingga
secara langsung terjadi unsur gharar di dalamnya. Sedangkan dalam sistem
gadai syariah sendiri, semua barang yang memiliki nilai ekonomis dapat
dijadikan barang jaminan (m-arhun). Namun, PULS lebih berpikiran sederhana saja. PULS ingin cepat mendapatkan dana yang lebih likuid (dengan
marhun berupa emas dan sejenisnya) apabila nasabah nantinya mendapatkan
halangan untuk membayar dana pinjaman atau pembiayaan dibandingkan
dengan komputer, mobil dan sebagainya, sehingga memungkinkan lebih
cepat untuk dijual dalam pelelangan barang jaminan (marhun).
Kedua, dalam ha1 pelelangan barang jaminan apabila penggadai
(rahin) tidak mampu lagi membayar atau mengembalikan pinjamannya,
maka lembaga gadai syariah atau PULS (inurtahin) tidak melakukannya
Secara terbuka, tetapi hanya memilih beberapa orang yang memang khusus
dipilih untuk mengikuti pelelangan. Hal demikian dilakukan karena kuatir
terjadinya 'kesepakatan bersama' beberapa orang untuk menurunkan harga
jual marhun apabila dilakukan pelelangin secara terbuka. Padahal tidak
demikian jika mengikuti mekanisme pelelangan gadai syariah, yang harus
dilakukan secara terbuka kepada semua masyarakat yang berkeinginan untuk
ikut mekanisme pelelangan barang-barang jaminan gadai syariah.
Ketiga, penggunaan akad qardhul hasan dan ijarah dalam semua ha1
pemanfaatan dana pinjaman oleh peminjam atau penggadai (rahin). Padahal
sebagai salah satu lembaga pembiayaan, mestinya lembaga gadai syariah
tidak lagi bertumpu tanpa ada perubahan seperti mekanisme operasional di
gadai konvensiona~,yang hanya menerapkan model seperti skim qardhul
hasan dan ijarah saja (hanya dibedakan pakai bunga atau tidak pakai bunga).
Hal demikian dikarenakan salah satu ciri 'khusus' dalam lembaga pembiayaan syariah adalah-skim 'bagi hasil' atau proJt 1o.w shuring, karenanya
gadai syariah mestinya harus betul-betul dapat memilah-memilah pemanfaatan dana pinjaman itu oleh pihak penggadai (rahin). Sebagaimana menurut
Muhammad (2003: 46) bahwa dalam akad qardhul hasun dan akad yurah
dilakukan untuk nasabah yang menginginkan menggadaikan barangnya
98

HukumGodoi Syorioh

untuk keperluan konsumtif, termasuk kebutuhan hidup sehari-hari, biaya


pendidikan dan biaya kesehatan. Dengan demikian, rahin akan memberikan
biaya administrasi dan biaya upah atau fee kepada murtahin, karena
murtahin telah menjaga atau merawat marhun (barang yang digadaikan).
Sedangkan apabila nasabah menginginkan menggadaikan barang jaminannya (marhun) itu untuk menambah modal usaha (pembiayaan investasi atau
modal kerja, maka akad yang lebih tepat digunakan adalah akad bagi hasil
(mudharabah) dengan profzt loss sharing. Hal demikian tidak saja akan
menghidupkan lembaga pembiayaan sistem ekonomi syariah dengan 'bagi
hasil', namun akan juga mendidik umat Islam khususnya untuk memiliki
tanggung jawab dalam ha1 kesuksesan usahanya dan menjadi pengusahapengusaha yang handal dan ulet, tetapi juga jujur dan bertanggung jawab.
Keempat, belum adanya Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang langsung berada dalam lembaga gadai syariah. DPS gadai syariah masih
'nimbrung' dalam DPS Bank Muamalat Indonesia (BMI) sebagai partner
(syirkah) lembaga gadai syariah. Meskipun ha1 demikian tidak ada larangan,
tetapi keoptimalan dalam melakukan tugas pengawasan pelaksanaan gadai
syariah akan mengalami ketidakoptimalan. Karena DPS harus berbagi peran
dan kerjanya dengan BMI yang menjadi tugas utamanya. Hal den~ikiantentu
saja akan memberikan dampak terhadap kelancaran berjalannya operasional
gadai syariah. Di satu sisi mungkin akan memberikan keuntungan terhadap
lembaga gadai syariah, dikarenakan tidak memerlukan biaya dan waktu
untuk mencari orang-orang yangduduk di DPS. Namun, di sisi lainnya akan
memberikan sesuatu yang negatif juga, dikarenakan kelancaran-menyangkut
waktu pengambilan keputusan-apabila di perlukan adanya pengambi Ian
keputusan yang relatif cepat oleh gadai syariah, karena bagaimanapun
lembaga gadai syariah hams melalui pertimbangan terlebih dahulu kepada
BMI., sehingga keputusan itu akan sedikit terhambat didapatkan hasilnya.
Hal demikian akan berbeda apabila DPS itu langsung berada dalam lembaga
gadai syariah sendiri.
Dan kelima, belum aha aturan perundang-undangan yang khusus
diperuntukkan untuk lembaga gadai syariah. Sampai saat ini regulasinya
masih mengikuti regulasi UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perbankan dan
operasionalnya mengikuti Perum Pegadaian. Adanya perundangan yang
khusus tentang lembaga gadai syariah dimungkinkan untuk diusulkan agar
dibolehkan selain Perum Pegadaian (pihak swasta) untuk membuka juga
lembaga gadai syariah, sehingga pelaku-pelaku gadai syariah, baik milik
pemerintah maupun milik swasta dapat melakukan kompetisi yang sehat da11

Peran Lernboga Pegodoion Syariah

99

profesional serta menjadi lembaga pembiayaan yang diperhitungkan oleh


umat, termasuk umat agama lain.
Dari uraian diatas, kiranya lembaga gadai syariah yang telah
beroperasi ini, tidak hanya berpikiran praktis dan realistis, namun juga harus
tetap memegang rambu-rambu 'ekonomi syariah' (gadai syariah) dalam
menjalankan operasionalnya.

BAB 3
PELAKSANAAN GADAI SYARTAH
OLEH LEMBAGA PEGADAIAN

A. Produk Unit Layanan pada Pegadaian Syariah


1. KCA (Kredit Cepat Aman)
KCA atau Kredit Cepat Aman adalah pinjaman berdasarkan hukum gadai
dengan prosedur pelayanan yang mudah, aman, cepat. Barang jaminan yang
menjadi agunan meliputi perhiasan emas/permata, kendaraan bermotor
(mobil, sepeda motor), elektronik, kain, dan alat rumah tangga.

2. Jasa Talcsiran
Jasa Taksiraq adalah pemberian pelayanan kepada masyarakat yang ingin
mengetahui seberapa besar nilai sesungguhnya dari barang yang dimiliki
seperti emas, berlian, batu permata dan lain-lain.
3. Jasa Titipan
Jasa Titipan adalah pemberian pelayanan kepada masyarakat yang ingin
menitipkan barang-barang atau surat berharga yang dimiliki terutama bagi
orang-orang yang akan pergi meninggalkan rumah dalam waktu lama, misalnya menunaikan ibadah haji, pergi keluar kota atau mahasiswa yang sedang
berlibur.

4. Kreasi
Kreasi atau Kredit Angsuran Fidusia merupakan pemberian pinjaman kepada
para pengusaha mikro-kecil (dalam rangka pengembangan usaha) dengan
kontruksi pinjaman secara fidusia dan pengembalian pinjamannya dilakukan
melalui angsuran. Kredit Kreasi merupakan modifikasi dari produk lama
yang sebelumnya dikenal dengan nama Kredit Kelayakan Usaha Pegadaian.

5. Krasida
Krasida atau Kredit Angsuran Sistem Gadai merypakan pemberian pinjaman
kepada para penguasa mikro-kecil (dalam rangka pengembangan usaha) atas
dasar gadai yanglpengambilanpinjamannya dilakukan melalui angsuran.
Peloksanoon Godai @onah oleh Lemboga Pegadoion

101

6. Kresna
Kresna atau Kredit Serba Guna merupakan pemberian pinjaman kepada
pegawai/karyawan dalam rangka kegiatan produkif/konsumtif dengan
pengembalian secara angsuran. Kredit Kresna merupakan modifikasi dari
produk lama yaitu kredit untuk pegawai (Golongan E).
7. Jasa Lelang
Perum Pegadaian memiliki satu anak perusahaan PT. Balai Lelang Artha
Gasia dengan komposisi kepemilikan saham 99,99% (Perum Pegadaian) dan
0,01% (Deddy Kusdedi). PT. Balai Lelang Artha Gasia bergerak di bidang
jasa lelang dengan maksud menyelenggarakan penjualan dimuka umum
secara lelang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

B. Barang Jaminan Gadai Syariah


Pegadaian di Indonesia telah memiliki sejarah yang panjang, misi Pegadaian
sebagai suatu lembaga yang ikut meningkatkan perekonomian masyarakat
dengan cara memberikan uang pinjaman berdasarkan hukum gadai kepada
masyarakat .kecil, agar terhindar dari praktik pinjaman uang dengan bunga
yang tidak wajar ditegaskan dalarn keputusan Menteri Keuangan No. Kep39/MW6/1/1971 tanggal 20 Januari 1970 dengan tugas pokok sebagai
berikut:
1. Membina perekonomian rakyat kecil dengan menyalurkan kredit atas
dasar hukum gadai kepada:
Para petani, nelayan, pedagang kecil, industri kecil, yang bersifat
produkti f;
Kaum buruhlpegawai negeri yang ekonomi lemah dan bersifat
konsumtif

2. Ikut serta mencegah adanya pemberian pinjaman yang tidak wajar, ijon.
pegadaian gelap, dan praktik riba lainnya.
3. Disamping menyalurkan kredit, daupun usaha-usaha lainnya yang
bermanfaat terutama bagi pemerintah dan masyarakat.
4. Membina pola perkreditan supaya benar-benar terarah dan bermanfaat
dan bila perlu memperluas daerah operasinya.
Dengan seiring perubahan status perusahaan dari Perjan menjadi
Perum pernyataan misi perusahaan dirumuskan kembali dengan pertimbangan jangan sampai misi perusahaan itu justru membatasi ruang gerak
perusahaan dan sasaran pasar tidak hanya masyarakat kecil dan golongan
lo2

HukmGadai Syariah

..

menengah saja maka terciptalah misi perusahaan Perum Pegadaian yaitu


"ikut membantu program pemerintah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat golongan menengah ke bawah melalui kegiatan utama
berupa penyaluran kredit gadai dan melakukan usaha lain yang menguntungkan". Bertolak dari misi Pegadaian tersebut dapat dikatakan bahwa sebenarnya Pegadaian adalah sebuah lembaga di bidang keuangan yang mempunyai
visi dan misi bagaimana masyarakat mendapat perlakuan dan kesempatan
yang adil dalam perekonomian.
Kebutuhan akan dana untuk berbagai kepentingan dalam lalu lintas
perekonomian masyarakat merupakan ha1 yang biasa kita temukan dalam
kehidupan sehari-hari, masyarakat senantiasa berkembang dan bergerak
dengan dinamis dan tidak bisa terlepas dari aspek perekonomian. Dalam
konteks ini keberadaan lembaga pembiayaan atau perbankan menjadi sangat
signifikan. Perum Pegadaian merupakan suatu Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) dengan bentuk Perusahaan Umum, yang bergerak dalam bidang
usaha peminjaman uang kepada masyarakat dengan memakai lembaga
jaminan gadai. Pegadaian dan Gadai merupakan lembaga dan perbuatan
hukum yang sudah tidak asing lagi dalam praktik perekonomian di
Indonesia. Masyarakat sudah sangat familiar dengan ha1 tersebut di atas.
Pegadaian sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam pemenuhan kebutuhan
dana untuk berbagai keperluan, khususnya dalam pengamatan penulis untuk
memenuhi kebutuhan pengguna jasa pegadaian dalam skala menengah dan
mikro.
Pelaksanaan gadai yang berlangsung selama ini di Perum Pegadaian
merupakan gadai sebagaimana dimaksud dalam KUH Perdata, yang merupakan lembaga jaminan dimana obyek jaminan berada dalam penguasaan
kreditor. Dan atas peminjaman dana dengan sistem gadai ini kreditor mendapatkan keuntungan dalam bentuk bunga. Namun dalam perkembangannya
Perum Pegadaian telah meluncurkan produk yang disebut dengan Gadai
Syariah. Penggunaan kata Syariah di sini telah dapat dipahami bahwa siste~n
gadai yang dimaksud tersebut merupakan suatu sistem yang berdasarkan
Syariah Islam atau Hukum Islam.
Penggunaan sistem gadai syariah nampaknya merupakan salah satu
upaya untuk mengembangkan berbagai konsep perekonomian berbasiskan
Islam. Fenomena ini merupakan suatu ha1 yang wajar mengingat Indonesia
merupakan negara yang penduduknya mayoritas beragama Islam. Dan untuk
memberikan alternatif produk lembaga keuangan yang lebih Islami tersebut

Pelaksanaan Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaian

103

telah kita kenal dalam kegiatan perekonomian hadirnya Bank-bank Syariah


dan kemudian disusul dengan Gadai Syariah.
Bisnis gadai syariah yang dijalankan Perum Pegadaian dapat dikatakan terus berkembang pesat. Hal ini dapat dilihat dari target keuntungan
sebesar Rp70 miliar yang dipatok sepanjang tahun 2007. Hingga semester 1
2007, laba bersih yang sudah dicatatkan jenis usaha itu telah mencapai Rp 45
miliar. Perkembangan kinerja gadai syariah itu disampaikan Direktur Utama
Perum Pegadaian Deddy Kusdedi. Laba bersih Gadai Syariah telah mencapai
Rp 45 miliar dari target sepanjang tahun yang sudah ditetapkan sebesar Rp70
miliar.
Selama semester I ini, Gadai Syariah berhasil membukukan pembiayaan sebesar Rp 300 miliar yang didapat dari 45 cabang syariah. Sementara
target pembiayaan sepanjang 2007 ditetapkan sebesar Rp 500 miliar. Dengan
perkembangan positif yang signifikan itu, diprediksikan pembiayaan di akhir
tahunnya bisa tembus Rp 600 miliar. Oleh karena itu, manajemen berniat
menambah cabang syariahnya. hingga akhir tahun nanti ditargetkan total
cabang syariah di seluruh Indonesia itu bisa bertambah menjadi 50 kantor
cabang. Pembukaan kantor cabang itu untuk mendukung target pertumbuhan
20 persen yahg sudah dipatok manajemen di awal tahun lalu.'
Gadai Syariah (Rahn) adalah produk jasa gadai yang berlandaskan
pada prinsip-prinsip Syariah, dimana nasabah hanya akan dibebani biaya
administrasi dan biaya jasa simpan dan pemeliharaan barang jaminan
(ijarah).
Pegadaian Syariah dalam perspektif Perum Pegadaian hadir untuk
menjawab kebutuhan transaksi gadai sesuai Syariah, untuk solusi pendanaan
yang cepat, praktis, dan menentramkan. Oleh karena hanya dalam waktu I5
menit kebutuhan masyarakat yang memerlukan dana akan terpenuhi, tanpa
memerlukan membuka rekening ataupun prosedur lain yang memberatkan.
Customer Perum Pegadaian cukup membawa barang-barang berharga
miliknya, dan saat itu juga akan mendapatkan dana yang dibutuhkan dengan
jangka waktu hingga 120 hari dan dapat dilunasi sewaktu-waktu. Jika masa
jatuh tempo tiba dan nasabah masih memerlukan dana pinjaman tersebut.
maka pinjaman tersebut dapat diperpanjang hanya dengan membayar sewa
simpan dan pemeliharaan serta biaya administrasi.
Pemberian gadai syariah dapat menentramkan dalam pengertian
sumber dana Perum Pegadaian berasal dari sumber yang sesuai dengan

'

Sumber Perum Pegadaian

104

Hukum Gadai Syariah

Syariah, proses gadai berlandaskan prinsip Syariah, serta didukung ole11


petugaspetugas ndan outlet dengan nuansa lslarni sehingga lebih syar7i dan
menentramkan. Menentramkan karena sumber dana yang dimiliki oleh pegadaian syariah didapat dari sumber dana yang halal dan sesuai dengan prinsip
syariah. Produk dan layanan pencairan kredit pada kantor pegadaian syariah
pada umurnnya hanya menggunakan produk layanan rahn dan ijarah saja.
Padahal, sebuah lernbaga pegadaian idealnya tidak hanya melayani dua
model jasa.
Praktik Pegadaian Syariah, dalarn ha1 marhun seperti 'pads
'marktingpaper' adalah barang bergerak, berupa (a) Emas danaberlian; (b)
Mobil dan motor; (c) Barang elektronik dan alat rumah tangga. Namun,
realisasinya hanya berupa marhun emas dan berlian saja yang dapat diterima
seseorang jadi nasabah.
Sedangkan dalarn Pegadaian konvensional, menurut ~ a r z u k pada
i~
dasarnya semua barang bergerak dapat dijadikan barang jaminan. Namun
ada beberap* barang bergerak yang tidak dapat dijadikan barang jarninan
dikarenakan:
I. Keterbatasan ternpat penyimpanan;
2. SDM ~e'gadsian;
3. Perlunya rneminimalkan risiko atau peluang; dan
4. Mernperhatikan UU yang berlaku.
Pendapat Marzuki itu sama dengan Dahlan, prinsipnya hanya barang
bergerak saja dapat digunakan barang jamir~an.~
Sedang rnenurut Kasmir
lebih urnum, dengan menyebut barang berharga tertentu4 Artinya dapat
barang bergerak maupun barang tidak bergerak.
Penentuan jaminan barang dernikian, menurut Bahsan dikarenakan:

I . Berdasarkan kebijakan tertulis dari direksi, sehingga pemohon gadai

2.
3.
4.
5.

'

'

hanya dapat mengajukan jenis-jenis jaminan tertentu saja;


Dikhawatirkan menimbulkan adanya kesulitan dikernudian hari;
Kesulitan dalarn penilaian, pengawasan, dan ketidakstabilan harganya
pada saat dieksekusi (dilelang);
Memerlukan perawatan dan perneliharaan yang khusus dan mahal;
Kemungkinan penurunan kualitas dan kuantitas secara rnudah: dan

Marzuki, Manajemen Lemhaga Keuangan. CV. Intermedia. Jakarta: 1995. hat. 360.
Dahlan Siamat, Manajemen kmhaga Keuangun. Edisi 2. Cetakan 2. Lembaga Fakultas Ekotlotn~
Universitas Indonesia, Jakarta: 2001, hal. 503.
Kasmir, Bunk dun Lemhaga Keuangan Lmnnya. Edisi 6. Cetakan 6. PT. RajaGratindo Persada.
Jakarta: 2002, hal. 250.

Pekksanaan Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaian

105

6. Prospek pelelangannya tidak baik, antara lain karena pembelinya


terbata~.~
Sedang dalam teori gadai syariah, menurut ulama Syafi'iyyah,
barang yang dapat dijadikan marhun, semua barang yang dapat dijualbelikan; dengan syarat:
1. Barang yang mau dijadikan barang jaminan itu, berupa barang berwujud
di depan mata, karena barang nyata itu dapat diserahterimakan secara
langsung;
2. Barang yang mau dijadikan barang jaminan tersebut menjadi milik,
karena sebelum tetap barang tersebut tidak dapat digadaikan; dan
3. Barang yang mau dijadikan marhun itu, hams berstatus piutang bagi
murtahin.
Sedangkan Basyir menyebutkan semua jenis barang bergerak dan
tidak bergerak dapat dijadikan sebagai barang jaminan, dengan syarat
sebagai berikut;
1. Benda yang dijadikan marhun memil iki nilai ekonomis menurut syara ';
2. Benda yang dijadikan marhun itu berwujud pada waktu perjanjian terjadi;
dan
3. Benda ya"g dijadikan marhun itu diserahkan seketika kepada murtahin.'

Sedangkan menurut para pakar fiqh, marhun hams memenuhi syarat


sebagai berikut:
1. Barang jaminan itu boleh dijual dan nilainya seimbang dengan utangnya;
2. Barang jaminan itu bernilai harta dan boleh dimanfaatkan (halal);
3. Barang jaminan itu jelas dan tertentu;
4. Barang jaminan itu milik sah orang yang berutang;
5. Barang jaminan itu tidak terkait dengan hak orang lain;
6. Barang jaminan itu harta yang utuh, tidak bertebaran dalam beberapa
tempat;
7. Barang jaminan itu boleh diserahkan, baik materinya maupun
manfaatnya.'
Sebenarnya Pegadaian mempunyai kebebasan menetapkan barang
apa saja yang boleh dan tidak boleh dijadikan m a h n , seperti Pegadaian

M. Bahsan, Penilaian Jaminan Kredit Perhankan Indonesia. Rejeki Agung. Jakarta: 2002. hal. 15-

"

16.
Imam Taqiyyudin. Kafayatul Akhyr.fii Halli ghayati al-lkhtisar. Alih Bahasa Achmad Zaidun dan
A. Ma'ruf Asmri. Jilid 2. PT.Bina Ilmu, Surabaya: 1997, hal. 59.
A. A. Basyir, Hukum Islam Tentang Riha, Utang-Piutang Gadai. Al-Ma'arif Bandung: 1983. ha1 52.
Nasrun Haroen. Fiqh Mumalah, Cetakan I , PT.Gaya Media Pratama Jakarta: 2000. hal. 255.

106

HukunGadai Syariah

konvensional maupun teori Pegadaian Syariah. Namun, kondisi saat ini


(praktik), teridentifikasi tidak adanya kejujuran atau keterbukaan dari pihak
Pegadaian Syariah dalam barang yang diterimanya. Hal ini dapat dilihat dari
'paper marketing atau brosur' yang ada sudah jelas ditentukan barang apa
saja yang diterima, yaitu Emas, berlian; Mobil, sepeda motor; dan Barang
elekktronik dan alat rumah tangga.
Hal itu terlihat, ketika ada calon nasabah membawa selain barang
jaminan berupa 'emas dan berlian', Pegadaian menolaknya. Padahal dari
penelitian, penulis dapatkan ada calon nasabah membawa marhun selain
'emas dan berlian' tersebut, seperti elektronik, motor, dan sertifikat. Melihat
kondisi itu, dalam jangka panjang dikuatirkan Pegadaian Syariah dapat
image negatif masyarakat, terutama masyarakat Islam sendiri. Padahal
menurut Ahmad, Islam perintahkan semua transaksi bisnis dilakukan dengan
jujur dan terus terang, tidak akan beri koridor dan ruang penipuan, bohong
dan eksploitasi dalam segalg bentuknya.'
Apabila kondisi image negatif masyarakat itu berlanjut, tidak saja
akan berpengaruh negatif Pegadaian Syariah sendiri, namun LKS lainnya,
sehingga dimungkinkan LKS secara keseluruhan tidak lagi mendapatkan
kepercayaan masyarakat, utamanya masyarakat Islam. Karena itu, alangkah
lebih baik apabila 'paper marketing' yang sudah ada itu diadakan perubahan
guna meminimalisir adanya multiplier dan konsekuensi negatif masyarakat
atau pemberian informasi yang transfaran tentang barang jaminan yang dapat
diterima untuk saat ini. Karena itu, Pegadaian Syariah perlu memikirkan
upaya menerima marhun, baik barang bergerak maupun tidak bergerak,
terpenting marhun itu memiliki persyaratan seperti yang dipaparkan Basyir.
ulama Syafi'iyyah, dan parafikaha:
1. Barang jaminan itu berwujud dan utuh atau pun bagian dari harta itu
sendiri, seperti sertifikat tanah, mobil, toko dan lainnya pada saat digadaikan dan menjadi milik sendiri penuh;
2. Barang jaminan itu diserahterimakan langsung saat transaksi gadai
terjadi;
3. Barang jaminan itu bernilai ekonomis dan dapat diperjualbelikan untuk
dijadikan pem bayaran marhun bih;

Mustaq Ahmad. Op. cit. hlm. 103. Namun saat ini. Pegadaian Syarirh sudah memherikan 'Inhel.
tamhahan sebagai infonnasi buat calon nasabah bahwa untuk sementam hanya harrng jaminan
b p a emas dan herlian aja yang dapat diterima oleh Lembaga Pegadaian Syarirh. Sedangkan
ditempat lain Pegadaian Syariah belum penulis dapatkan informasinya.

Peloksanoan'hdai Syoriah oleh Lembago Pegadman

107

4. Barang jaminan itu tidak terkait dengan hak milik orang lain, seperti juga
apabila marhun itu milik pemerintah;
5. Barang jaminan itu seimbang dengan marhun bih;
6. Barang jaminan itu sebagai piutang bagi. yang memberi murtahin;
7. Barang jaminan itu dapat dimanfaatkan murtahin dengan kesepakatan

rahin.
C. Pemanfaatan Dana ,Pinjaman
Pemanfaatan marhun bih oleh nasabah ~egadaianSyariah pada dasarnya
diadakan identifikasi saat calon nasabah mengajukan pinjaman (diberi
selembar kertas agar diisi, digunakan apa pinjamannya), berupa keperluan
perdagangan, pendidikan, pertanian, perumahan, kesehatan, dan industri,
namun ha1 itu hanya sebatas identifikasi saja (untuk dilaporkan di Departemen Keuangan), dan tidak berpengaruh pada diterima atau tidaknya calon
nasabah itu atau pun menentbkan akad apa yang digunakan (qardhul hasan,
*ah atau skim bagi hasil). Jadi tidak sampai dikondisikan dengan realitas
penggunaan marhun bih oleh nasabah jdi lapangan, sehingga hakikatnya
~ e ~ a d a i aSyariah
n
tidak memperdulikan untuk apa nantinya dana marhun
'
bih itu digunakan oleh rahin.
Demikian juga Pegadaian konvensional yang tidak mementingkan
untuk apa uang pinjhman digunakan. terpenting setiap peminjaman harus
dengan jaminan barang tertentu dan dapat mengembalikan pinjamannya,'O
hingga hakikatnya antara praktik Pegadaian -Syariah dengan Pegadaian
konvensional memiliki kesamaan, terutama dimanfaatkan untuk perdagangan (usaha modal), biaya pendidikan, kesehatan (biaya pengobatan), dan
kebutuhan konsumsi sehari-hari.
Sedang dalam teori gadai syariah sendiri, tidak jelas dan ketal
penggunaan marhun bih itu harus digunakan untuk apa, hanya saja
mensyaratkan:
1. Dana pinjaman itu wajib dikembalikan kepada orang/lembaga yang meniberikan dana pinjaman sebagai tempat berutang;
2. Dana pinjaman itu boleh dilunasi dengan marhun itu setelah dilakukan
penjualan/pelelangan;
3. Dana marhun bih itu jelas dan tertentu."

"'
"

Kasmir, Op. cit. hal. 252.


Nasrun Harwn, Op. cit, hal. 255.

108

Hukum Gadai Syoriah

Dengan perkembangan lembaga keuangan, baik konvensional maupun LKS, maka Pegadaian Syariah sudah saatnya melakukan seleksi yang
ketat untuk apa dana marhun bih itu dimanfaatkan nasabah (seperti yang ada
dalam kertas isian pada saat calon nasabah datang ke Pegadaian Syariah),
yaitu berisi keperluan perdagangan, pendidikan, pertanian, perumahan,
kesehatan, dan industri. Dalam ha1 ini, Pegadaian Syariah dapat memilah
terhadap pemanfaatan dana marhun bih oleh nasabah. Apakah digunakan
untuk yang sifatnya konsumtif, seperti biaya kesehatan, biaya makan seharihari, biaya sekolahlkuliah yang sifatnya mendesak dan bersifat penting atau
kebutuhan yang sifatnya. primer. Ataukah dipergynakan yang sifatnya
produktif, seperti membuka ataupun menambah modal usaha. Hal ini
menurut Syaltut dalam Z.A. Alawy dalam rangka membina ekonomi ummat,
sehingga ekonomi muslim dapat terus hidup dan berkehbang.l2
Di samping itu, adanya seleksi ketat, maka akan dapat diele~ninir
adanya pemanfaatan dana tidak sesuai usulan pengajuannya, apalagi
digunakan hal-ha1 yang dilarang syariah, seperti buat berjudi, beli minuman
keras, narkoba, maupun usaha yang dilarang, seperti berjualan minuman
keras.
D. Akad yang Digunakan
1. Akad Qardhul Hasan
Praktik syariah di Pegadaian Syariah menggunakan akad yang hampir salna
dengan akad Pegadaian konvensional yaitu akad qardhul hasun (bea
administrasi, biaya surat hilang, biaya penjualan) dan akad ijarah (simpanan)
untuk semua pemanfaatan dana pinjaman (marhun bih) nasabah, baik keperluan sif$nya sosial (kebutuhan hidup sehari-hari, pendidikan, dan kesehatan)
maupun sifatnya produktiflpenambahan modal (perdagangan wiraswasta).
Demi kemaslahatan, menurut az-zarqa,I3 akad dalam Islam akan
memberi ikatan secara hukum apabila akad itu telah penuhi syarat, sesuai
ketentuan syara'. Berdasar adanya akad yang akan mengikat secara hukum
itu, menurut Muhammad, Pegadaian Syariah dapat gunakan akad yang sifatnya sosial, terutama yang digunakan dana marhun hih untuk sifatnya
konsumtif yang mendesak dan relatif kecil keperluannya (akad qurdhul
hasan dan ijarah) dan akad yang sifatnya produktif guna membuka usaha

I2

"

Zainal Abidin Alawy, Op. cit. hal. 21 I .


Mustafa Ahmd az-Zarqa dalam Nasrun Haroen. Fiqh Mumalah, Cetakan I. Pf. Ciaya Media
Pratama, Jakarta: 2000, hal. 98.

Peloksonoon Godoi Syorioh oleh Lembogo Pegadoion

109

atau mengembangkan usahanya, yang dari usaha ini nasabah dapat menghasilkan keuntungan dan dapat pula menghasilkan kerugian (akad
rnudharabah, musyarakah, ba 'i rnuqayyadh, dan rahn).
Demikian juga ~ h a n , gadai
' ~ syariah sebagai konsep utang piutang
yang sesuai dengan syariah, karenanya bentuk yang lebih tepat adalah skim
qardhul hasan, disebabkan kegunaannya keperluan sifatnya sosial. Dana
pinjaman itu diberikan gadai syariah untuk tujuan kesejahteraan, seperti
pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan darurat lainnya, utama diberikan
membantu meringankan beban ekonomi para kaum dhuafa atau orang yang
berhak menerima zakat (rn~tahiq).'~
Dalam bentuk akad qardhul hasan ini, utang yhng terjadi wajib
dilunasi pada waktu pinjamannya jatuh tempo tanpa ada tambahan apapun
yang disyaratkan (kembali pokok). Peminjam hanya menanggung biaya yang
secara nyata terjadi, seperti biaya administrasi, biaya peny impanan dan
dibayarkan dalam bentuk uang, bukan prosentase. Peminjam pada waktu
pinjamannya jatuh tempo tanpa ikatan syarat apapun .boleh menambahkan
secara sukarela pengembalian utangnya.I6
Di samping itu, rnurtahin juga dibolehkan mengenakan biaya
administrasi kepada rahin.I7 Murtahin/shahibul maul harus berupaya
memproduktiflcan modalnya, dan bagi yang tidak mampu menjalankan usaha
atau untuk tujuan sifatnya produktif, Islam menyediakan bisnis alternatif
dengan sistem bagi hasil."
Pemanfaatan rnarhun bih akan berpengaruh terhadap akad yang
digunakan, terutama apabila nasabah itu sebagai kelompok masyarakat yang
tingkat sosial ekonominya berada dalam kelompok bawah, yang selama ini
sebagai nasabah dominan Pegadaian Syariah, tetap terlayani dengan cara
sebagai berikut:
1. Memanfaatkan dana yang berasal dari sumber dana Pegadaian Syariah
sendiri;
2. Memanfaatkan dana yang berasal dari sisa penjualan rnarhun di
Pegadaian Syariah yang tidak diambil nasabah; dan
3. Memanfaatkan dana sosial yang diperoleh Pegadaian Syariah, baik
melalui perorangan maupun lembaga, baik yang berasal dari L,KS
"
I'

'"

"

'*
.

Muhammad Akram Khan. Op.cit, hal. 181-1 83.


Dahlan Siarnat, Op.cit. hal. 202.
Muhammad, Op. cit. ha1 5.
Markum Sumitro. Asas-Asas Perlianhn Islam dan Lemhagu-Lemhagu lerkuit: R M I dun Ibkalicl Ji
Indonesia. Edisi 1. Cetakan 3, PI'. RajaGrafindo Persada Jakarta: 2002. hal. 39.
Rustmm Efendi. Op. cit, hal. 64.

110

Hukum Godai Syarioh

maupun lembaga konvensional, yang berasal dari bentuk ZIS, atau dari
pendapatan non halal.
Sedang menghidupkan skim bagi hmil dapat diterapkan pada
nasabah yang manfaatkan dana marhun bih untuk kepentingan sifatnya
produktif atau usaha mendapatkan return. Sumber dana skim bagi hasil ini,
dapat dari dana intern Pegadaian maupun mengadakan sinergi dengan LKS
lainnya, baik itu lembaga bank ataupun non bank syariah yang sepakat
menerima skim bagi hasil sesuai dengan syariat Islam. Sedangkan bagi
Pegadaian Syariah, dapat memanfaatkan patnernya, yaitu BM1 dengan cara
apabila skim yang ditawarkan adalah bagi hasil, ~nakapendanaannya BMI,
seperti sistem bagi hasil yang 'diterapkan di BMl sendiri, sedangkan
penanggungjawab opersionalnya adalah Pegadaian Syariah.
2. Akad Rahn

Akad rahn, apabila marhun dapat dimanfaatkan murtahin, .seperti sebuah


ruko yang digadaikan dapat disewakan atau buat tempat usaha murtahin
yang hasilnya nanti dapat dibagihasilkan dengan yang punya barang jaminan
itu. Demikian juga 'dengan marhun lainnya seperti mobil, rumah dan
sebagainya, yangtentu saja diperhitungan juga risiko yang mungkin akan
ditanggung;
:,
Dalam teknis pelaksanaannya nasabah (rahin) tidak perlu mengadakan akad dua kali. Sebab, 1 (satu) lembar SBR yang ditandatangani oleh
nasabah (rahin) sudah mencakup kedua akad dimaksud.
Pada Akad Rahn, nasabah (rahin) menyepakati untuk menyimpan
barangnya (marhun) kepada murtahin di Kantor Pegadaian Syariah sehingga
nasabah (rahin) akan membayar sejumlah ongkos kepada murtahin atas
biaya perawatan d m penjagaan terhadap marhun.
Pelaksanaan Akad Rahn ini dapat dijeMkansebagai berikut:

1. Nasabah (rahin) mendatangi murtahin (kantor pegadaian) untuk meminta


fasil itas pembiayaan dengan membawa marhun yang akan diserahkan
kepada murtahin;
2. Murtahin melakukan pemeriksaan termasuk menaksir harga marhun yang
diberikan oleh nasabah (rahin) sebagai jaminan utangnya:
3. Setelah semua persyaratan terpenuhi, maka murtahin dan nasabah (ruhin) *
akan melakukan akad;
4. Setelah akad dilakukan, rnaka murtahin akan memberikan sejumlah
marhun bih (pinjaman) yang dinginkan oleh nasabah (rahin) dimana

Pelaksanoan Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadoion

111

jumlahnya disesuaikan dengan nilai taksir barang (di bawah nilai


jaminan);
5. Sebagai pengganti biaya administrasi dan biaya perawatan, maka pada
saat melunasi marhun bih (pinjaman), maka nasabah (rahin) akan
memberikan sejumlah ongkos kepada murtahin.
Apabila menggunakan Akad Rahn, maka nasabah (rahin) hanya
berkewajiban untuk mengembalikan modal pinjaman dan menggunakan
transaksi berdasarkan prinsip biaya administrasi. Untuk menghindari praktik
riba, maka pengenaan biaya administrasi pada pinjaman dengan cara sebagai
berikut:
1 . Harus dinyatakan dalam nominal, bukan persentase;
2. Sifatnya harus nyata, jelas, pasti, serta terbatas pada hal-ha1 yang mutlak
diperlukan untuk terjadinya kontrak.
Kategori marhun dalam akad ini adalah barang-barang yang tidak
dapat dimanfaatkadd ikelola, kecuali dengan cara menjualnya. Karena itu,
termasuk berupa barang bergerak saja, seperti emas, barang elektronik, dan
sebagainya. Selain itu, tidak ada bagi hasil yang harus dibagikan, sebab akad
ini hanya akad yang berfungsi sosial. Namun dalam akad ini mengharuskan
sejumlah ongkos yang harus dibayarkan oleh pihak nasabah (rahin) kepada
mutarhin sebagai pengganti biaya administrasi yang dikeluarkan oleh
mutarhin.
Ulama Syafi'iyyah berpendapat bahwa rahn dianggap sah apabila
telah memenuhi 3 (tiga) syarat, yaitu:
1. Bempa barang, karena utang tidak dapat digadaikan;
2. Penetapan kepemilikan penggadaian atas marhun tidak terhalang, seperti
mush$ Namun lmam Malik membolehkan menggadaikan mushaj; tetapi
murtahin dilarang membacanya; dan
3. Baranggadai dapat dijual manakala sudah tiba masa pelunasan utang.
lmam Malik berpendapat bahwa menggadaikan apa yang tidak boleh
dijual pada waktu pegadaian dibolehkan, seperti buah-buahan yang belum
nampak kebaikannya.I9
Oleh karena dalam gadai syariah dalam menjalankan operasinya
minimal harus dapat menutupi seluruh biaya operasionalnya. Namun Islam
rnengajarkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemaslahatan agar terhindar dari riba', dengan demikian maka manusia akan terhindar dari

"

Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cif ha!. 85.

112

Hukwn Godoi Syorioh

ketidakadilan dan kedhaliman. Karenanya, dalam akad gadai, Islam menganjurkan supaya kedua pihak rahin dan murtahin tidak ada yang merasa
dirugikan.
Oleh karena itu, Pegadaian syariah hendaknya melakukan bisnisnya
pada usaha yang menguntungkan, untuk itu memerlukan 3 elemen dasar,
yaitu:
1. Mengetahui investasi yang paling baik, terutama dalam rangka mencari
ridha Allah Swt. (QS. At-Taubah: 72);
2. Membuat keputusan yang logis, bijaksana, dan hati-hati; dan
3. Mengikuti perilaku yang baik (shidiq, amanah,fathanah, dan t ~ b l i ~ h ) . ~ '
Dalam akad rahn ini, selama rahin memberikan izin, maka murtahin
dapat memanfaatkan marhun.yang diserahkan rahin untuk memperoleh pendapatan (laba) dari usahanya. Namun, bukan berarti murtahin boleh
mengambil seluruh hasil dari marhun tersebut. Karena marhun tersebut
bukan miliknya secara sempurna. Oleh karena itu, murtahin harus membagi
laba kepada rahin sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh rahin
dan murtahin. Begitu juga dengan rahin, apabila rahin telah mendapatkan
izin dari murtahin untuk mengambil manfaat marhun, maka rahin juga boleh
mengambil manfaat dari marhun tersebut, dan hams dibagi pendapatnnya
dengan murtahin. Karena marhun berada di bawah kekuasaannya.
Ketentuan ini hanya dapat dijalankan pada semua marhun yang
dapat dimanfaatkan dan ada labanya. Sedangkan berkenaan dengan siapa
yang berhak marhun adalah disesuaikan kesepakatan pada saat akad terjadi.
Dalam ha1 ini, antara rahin dan murtahin diberikan kebebasan untuk
menentukan mengenai siapa yang sebaiknya mengelola marhun tersebut.
Mengenai porsi bagi hasil yang akan diberikan tergantung pada akad pula,
namun sebaiknya bagi yang mengelola marhun tersebut harus mendapatkan
porsi yang lebih besar, karena dia telah bertanggung jawab dalam pengelolaan marhun tersebut. Dengan demikian, kedua belah pihak tidak ada yang
merasa dirugikan nantinya.
Adapun tentang dibolehkannya murtahin mengambil manfaat adalah
mengikuti pendapat Rahmad Syafi'i dalam Yanggo dan Anshary.
Mekanisme Pelaksanaan Akad Rahn.

"

"'

'

Mustaq Ahmad, Business Ethics in Islam. Alih Bahasa Samson Rahman. Cetakan Kedua, Pustaka AlKautsar, Jakarta: 2003hlm. 38-43. Adiwarman A. Karim, Dasar-Dasar Ekonomi Islam, Jurnul
Dirosah Islarnjrrh, Volume I, Nomor 2 tahun 2003, hal. 9.
Muhammad, Kebijakan Moneter dm Fiskal dalam Ekonomi Islam, Edisi Pertama. Salemba Empat,
Jakarta: 2002, hal. 117.

Pelaksanaan Gadai Syorii oleh Lembaga Pegadoian

113

Kategori marhun adalah semua jenis marhun yang dapat dimanfaatkan, baik itu barang bergerak muapun tidak bergerak. Barang bergerak,
misalnya kendaraan, barang elektronik dan sebagainya. Sedangkan barang
tidak bergerak, seperti tanah dan pekarangan.
Bagi hasil yang dibagikan dalam akad ini adalah dari laba bersih
pihak yang diamanati untuk marhun. Artinya, bahwa laba tersebut setelah
dikurangi biaya pengelolaan. Sedangkan mengenai ketentuan nisbah adalah
sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Apabila marhun dikelola
rahin, maka nisbah yang dibagikan, misalnya 75% untuk rahin dan 25%
untuk murtahin.
Hal ini ditempuh karena pihak rahin adalah pemilik marhun yang
sah. Sedangkan murtahin, jumlah persentasenya dapat digunakan untuk
menjaga terjadinya inflasi atau kerugian lain atas uang yang dipinjamkannya. Adapun apabila yang mengelola menilai marhun adalah murtahin,
maka persentase yang dibagikan, misalnya 35 % untuk murtahin dan 65 %
rahin. Bagi hasil yang diterima murtahin sebagai upah dari pengelolaan dan
pengganti biaya administrasi, serta cadangan adanya risiko kerugian.
Adapun bagi rahin adalah pemilik marhun yang sah.
~ a l ha1
k Prosedur Penaksiran Marhun, penyaluran marhun bih
atas dasar hukum gadai syariah mensyaratkan adanya penyerahan barang
sebagai jaminan utang. Khusus akad rahn, marhzm-nya adalah melipitti
semua jenis barang bergerak dan tidak bergerak. Besar kecilnya jumlah
pinjaman yang diberikan kepada rahin, tergantung nilai taksir barang setelah
petugas penaksir menilai marhun tersebut. Petugas penaksir sebaiknya orang
yang sudah memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam melakukan
penaksiran ntarhn.
Adapun pedoman penaksiran marhun yang dibagi menjadi 2
kategori, yaitu barang bergerak dan barang tidak bergerak.Sedangkan lebih
jelasnya adalah sebagai berikut:
I) Barang Bergerak
r, f, :;.

:t'

I;

Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Pusat yang telah


berlaku (standar harga yang berlaku);
Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Setempat dari barang.
Harga pedoman untuk keperluan penaksiran ini selalu d isesuaikan
dengan perkembangan harga yang terjadi;
Murtahinlpetugas penaksir melakukan pengujian kualitas murhun;
Murtahinlpetugas penaksir menentukan nilai taksir.

I,/,

$114

Hukum Godoi Syarioh

2) Barang Tak Bergerak


Mzlrtahinlpetugas penaksir dapat meminta sertifikat tanahlpekarangan
kepada nasabah untuk mengetahui gambaran umum marhun;
Murtahinlpetugas penaksir dapat melihat langsung atau tidak langsung
kondisi marhun ke lapangan;
Murtahinlpetugas penaksir dapat melakukan pengujian kualitas
menilai marhun;
Murtahinlpetugas penaksir dapat menentukan nilai taksir.
3) Sedangkan lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
Murtahinlpetugas penaksir melihat I4arga Pasar Pusat yang telah
berlaku (standar harga yang berlaku);
Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Setempat dari barang.
Harga pedoman untuk penaksiran ini selalu disesuaikan dengan
perkem bangan h'arga yang terjad i; .
Murtahin penaksir melakukan pengujian kualitas marhun;
Murtahinlpetugas penaksir menentukan nilai taksir.
Prosedur untuk memperoleh dana pinjaman marhun bib bagi masyarakat yang membutuhkan akan sangat sederhana dan cepit 'di ~gkadaian
*
Syariah, tidak sesulit memperoleh dana pinjaman di bank.
I.
Mengenai Prosedur mendapatkan dana marhun adalah sebagai
berikut:
Calon rahin datang ke murtahin dan menyerahkan murhuh dengan
menunjukkan surat bukti diri, seperti KTP atau surat kuasa apabila
pemilik barang tidak dapat datang sendiri;
Marhun diteliti kualitasnya untuk menaksir dan menetapkan harganya.
j"

Berdasarkan hasil taksiran, maka ditetapkan marhun bih yang dapat


diterima rahin. Besarnya nilai marhun bih yang diberikan lebih kecil
daripada nilai pasar.
Hal ini ditempuh guna mencegah adanya kerugian;
Setelah rahin mendapatkan murhun bih, maka untuk mengarahkan ruhin
berhasil dalam usahanya, maka murtahin akan memantau, baik secara
langsung maupun tidak langsung usaha yang dilakukan nasabah:
Pembayaran uang pinjaman kepada murtuhin tanpa ada potongan biaya
apapun.
Mengenai Prosedur Pelunasan Marhun Bih dapat dikemukakan
sebagai berikut. Dalam akad ruhn, rahin juga mempunyai kewajiban 11nti1k
melakukan pelunasan marhun bih yang telah diterima. Rahin dapat melunasi
Pelaksanaan
.
.
Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaion

115

kewajibannya sebelum pada waktu yang telah ditentukan (jatuh tempo).


Pelunasan marhun bih nasabah prosedurnya adalah sebagai berikut.:
1. Nasabah membayarkan kepada murtahin disertai dengan bu kti surat
gadai;
2. Barang gadai akan dike luarkan murtahin;
3. Marhun dikembalikan murtahin kepada rahin.
Mengenai Prosedur Pelelangan Marhun dapat dikemukakan sebagai
berikut. Apabila rahin tidak dapat melunasi marhun bih-nya kepada
murtahin, maka murtahin berhak untuk melelanghpenjual marhun pada saat
jatuh tempo. Ini dibolehkan dengan ketentuan, sebagai berikut:
1. Penerima gadai harus terlebih dahulu mencari tahu keadaan rahin (penyebab belum lunasnya utang);
2. Dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran;
3. Apabila murtahin butuh uang dan rahin belum melunasi utangnya, maka
murtahin boleh memindahkan barang gadai kepada rnurtahin lain dengan
seizin rahin;
4. Apabila tidak terpenuhi, murtahin boleh menjual marhun dan kelebihan
uangnya dikembalikan kepada r ~ h i n . ~ ~
5. Pelelangkn marhun harus dilakukan di depan umum dan sebelum
penjualan dilakukan biasanya hal'itu harus diberitahukan lebih dahulu
kepada r ~ h i n . ~ ~

3. Akad Ijarah
Akad Jarah rnerupakan penggunaan.manfaat atau jasa penggantian kompensasi, yaitu pemilik yang menyewakan manfaat disebut muutjir sedangkan
penyewa atau nasabah disebut dengan mustajir. Sesuatu yang diambil
manfaatnya (tempat penitipan) disebut majur dengan kompensasi atau balas
jasa yang disebut dengan ajran atau ujrah. Karena itu, nasabah (ruhin) akan
memberikan biaya kepada muajjir karena telah menitipkan barangnya untuk
dijaga dan dirawat oleh mutarhin. Untuk menghindari riba, pengenaan biaya
jasa pada barang simpanan rahin mempunyai ketentuan, yaitu:
1. Harus dinyatakan dalam nominal, bukan persentase;
2. Sifatnya harus nyata, jelas, pasti, serta terbatas pada hal-ha1 yang mutlak
diperlukan untuk terjadinya kontrak;
3. Tidak terdapat tambahan biaya yang tidak disebutkan dalam akad awal.

"

"

Muhammad dan Sholikhul Hadi, Op. cit, hal. 114-1 19.


M: AIi Hasan, Op. cit. ha). 254.

116

HukmGadai Syariah

Menurut Hanafiyah bahwa +ah adalah akad untuk membolehkan


pemilikan manfaat yang diketahui dan disengaja dari suatu zat yang disewa
dengan imbalan. Syaikh Syihab al-Din dan Syaikkh Umairah mendefinisikan
*ah
sebagai akad atas manfaat yang diketahui dan disengaja untuk
memberi dan membolehkan dengan imbalan yang diketahui ketika it^^^, dan
Hashbi Ash-Shddiqie memberikan arti ijarah sebagai akad yang obyeknya
adalah penukaran manfaat untuk masa tertentu, yaitu pemilikan manfaat
dengan imbalan, sama dengan menjual manfaat.83 Berdasarkan definisi di
atas, bahwa ycirah adalah akad menukar sesuatu dengan ada i mbalannya,
yang diketahui dan disengaja untuk masa tertentu.
Dalam gadai syariah, murtahin misalnya dapat menyewakan tempat
penyimpanan barang (defosit box) kepada nasabahnya. Barang titipan dapat
berupa barang yang menghasilkan (dimanfaatkan) maupun barang yang
tidak menghasilkan (tidak dapat dimanfaatkan).
Kontrak ijarah merupakan penggunaan manfaat atau jasa dengan
ganti kompensasi. Pemilik menyewakan manfaat di sebut muajiir, sementara
penyewa (nasabah) disebut mustajir, serta sesuatu yang diambil manfaatnya
(tempat penitipan) disebut majur dengan kompensasi atau balas jasa yang
disebut ajran'atau ujrah. Dengan demikian nasabah akan memberikan biaya
jasa atau fee kepada murtahin, karena nasabah telah menitipkan barangnya
kepada murtahin untuk menjaga atau merawat marhun.
Oleh karena itu, melalui penggunaan akad ijarah ini, berarti nasabah
hanya akan memberikan fee kepada murtahin, apabila masa akad ijarah telah
berakhir dan murtahin mengembalikan marhun kepada rakin, karenanya
Pegadaian syariah ini media yang tepat untuk dimanfaatkan dan difungsikannya, karena dengan gadai syariah ini, Pegadaian syariah sebagai media
pengaman barang nasabah.
Untuk menghindari dari riba', maka pengenaan biaya jasa pada
barang simpanan nasabah dengan cara sebagai berikut:
1. Harus dinyatakan dalam nominal, bukan persentase;
2. Sifanya harus nyata, jelas dan pasti, serta terbatas pada hal-ha1 yang
mutlak diperlukan untuk terjadinya kontrak; dan
3. Tidak terdapat tambahan biaya, yang tidak disebutkan dalam akad awal.

Dalam Hendi Suhendi. Fiqh Muamalah: Membahas Ekonomi Islam. Cetakar~ Pertanla. P'I'
RajaGrafindo Persada, Jakarta: 2002. hal. 114.

Pelaksonoan Gadai Syarioh oleh Lembaga Pegadaion

117

'

Dalam akad ini, marhun dapat di kategori menjadi berupa barang


yang tidak dapat dimanfaatkan mupun yang dapat dimanfaatkan, berupa
barang bergerak saja, misalnya emas, barang elektronik dan sebagainya.
Mengenai bagi hasil marhun dapat dikemukakan sebagai berikut.
Pada akad ini, tidak ada bagi hasil yang harus dibagikan. Namun, ada
sejumlah fee yang biasanya diberikan pihak rahin sebagai pengganti biaya
jaminan simpanan yang telah dikeluarkan oleh murtahin. Ketentuan besarnya fee yang diberikan rahin kepada murtahin dapat ditentukan saat akad
berlangsung.
Mengenai Prosedur Penaksiran Marhun dapat dikemukakan sebagai
berikut. Jenis akad ijarah, marhun hanya meliputi semua jenis barang bergerak. Besar kecilnya jumlah fee yang diberikan kepada murtahin,
tergantung nilai taksir barang setelah petugas penaksir menilai marhun
tersebut. Petugas penaksir sebaiknya orang yang sudah memiliki keahlian
dan pengalaman khusus dalam melakukan penaksiran n-whun. Sedangkan
lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1. Murtahinlpetugas penaksir meli hat Harga Pasar Pusat yang telah berlaku
(standar harga yang berlaku);
2. ~ u r t a h i n j ~ e t u ~penaksir
as
melihat Harga Pasar Setempat dari barang.
Harga pedoman untuk keperluan penaksiran ini selalu disesuaikan dengan
perkembangan'harga yang terjadi;
3. Murtahinlpetugas penaksir melakukan pengujian kualitas marhun;
4. Murtahinlpetugas penaksir menentukan nilai taksir.
Mengenai Prosedur Simpan Marhun dapat dikemukakan sebagai
berikut. Untuk memperoleh defosit box bagi masyarakat di Pegadaian
syariah sangat sederhana dan cepat, tidak sesulit di bank Sedangkan prosedur
mendapatkan kesepakatan akad ijarah dari gadai syariah adalah sebagai
berikut:
1. Calon nasabah datang langsung ke murtahin dan menyerahkan murhun
dengan menunjukkan surat bukti diri, seperti KTP atau surat kuasa
apabila pemilik barang tidak dapat datang send iri;
2. Marhun diteliti kualitasnya untuk menaksir dan menetapkan harganya.
Berdasarkan taksiran yang dibuat murtahin, maka ditetapkan besarnya
biaya jasa yang harus dibayarkan oleh rahin. Hal ini ditempuh guna mencegah adanya kerugian;
3. Setelah nasabah mendapatkan fasilitas, maka murtuhin. mengarahkan
agar rahin memberikan tanggungjawab dan tenang;
4. Selanjutnya, pembayaran uang jasa dilakukan rahin.
118

HukumGadai Syariah

Dalam akad ijarah, nasabah berkewajiban melakukan pelunasan


biaya simpanan. Dalam akad ini, rahin dapat melunasi kewajibannya sebelum pada waktu yang telah ditentukan (jatuh tempo). Pelunasan biaya
simpanan rahin prosedurnya adalah sebagai berikut.:
1. Rahin membayarkan uang biaya simpanan kepada murtahin disertai
dengan bukti surat gadai;
2. Barang akan di keluarkan oleh murtahin;
3. Marhun dikembalikan oleh penerima gadai kepada nasabah.
Mengenai Prosedur Pelunasan dapat dikemukakan sebagai berikut.
Dalam akad ijarah, nasabah berkewajiban melakukan pelunasan biaya simpanan. Dalam akad ini, rahin dapat melunasi kewajibannya sebelum pada
waktu yang telah ditentukan (jatuh tempo). Pelunasan biaya simpanan rahin
prosedurnya adalah sebagai berikut:
1. Rahin membayarkan uang biaya simpanan kepada murtahin disertai
dengan bukti surat gadai;
2. Barang akan dikeluarkan oleh murtahin;
3. Marhun dikembalikan oleh penerima gadai kepada nasabah. .
4. Akad Qardhul Hasan

Berdasarkan pemanfaatan marhun bih' untuk yang sifatnya. konsumtif,


Pegadaian syariah tidak dapat memungut tambahan biaya atau diluar biaya
yang jelas terjadi. Dalam ha1 ini, Maulana Maududi dalam Mustaq Ah'mad,
menolak keras adanya anggapan bahwa motif mendapat keuntungan adalah
sesuatu yang esensial untuk adanya sebuah pinjaman, yang sama sekali tidak
memiliki relasi dengan pengalaman praktik.25,Karenanya,gadai yang bersifat
fungsi sosial ini, akad yang tepat adalah akad qardhul hasan69 d m akad
i j ~ r a Akad
h ~ ~ Qardhul Hasan diterapkan untuk nasabah yang menginginkan
untuk keperluan konsumtif. Barang jaminannya hanya dapat berupa barang
yang tidak menghasilkan (tidak dimanfaatkan). Dengan demikian rahin akan
memberikan biaya upah atau fee kepada murtahin (sebagai bagian dari
pendapatan Pegadaian syariah), karena murtahin telah menjaga atau merawat
m~rhun.~'
Di samping itu, Pegadaian syariah juga dibolehkan mengenakan
biaya administrasi kepada orang yang menggadaikan.28

"
I"

Mustaq Ahmad, Loc. cit, hal. 80.


Anonim. Tentang Pegadaian Syariah. Warta Pegadaian. No. 107 Tahun XV 2003. hal. 7.
Muhammad dan Sholikhul Hadi. Op. cit, hal. 1 13.
Markum Sumitro,, Asas-Asas Perbankan Islam dan Lembaga-Lembaga Terkait: BMI dan Takahl di
Indonesia Edisi I, Cetakan 3, PT.RajaGrafindo Persada Jakarta: 2002, hal. 39.

Pelaksanoon Godai SIprhh oleh Lembago Pegodaian

119

Menurut Muhammad Akram Khan, bahwa pengeluaran akad


qardhul hasan itu dalam rangka memenuhi kewajiban moral dan tidak ada
balasan untuk itu. Menolong orang miskin dan membutuhkan (mustahiq)
menjadi sebuah nilai keutamaan dalam semua masyarakat beradab di seluruh
.~~
bagi keluarga yang kekurangan dana, baik
sejarah k e m a n ~ s i a a nUtamanya
dikarenakan munculnya kebutuhan untuk pendidikan, kesehatan, kebutuhan
darurat yang mendadak dan tidak diperhitungkan, seperti sakit atau kewajiban bayar ganti rugi yang timbul mendadak, akibat lonjakan harga
kebutuhan primer yang tidak dapat diimbangi dengan tambahan pendapatan,
maupun nasabah fMdng yang memerlukan dana cepat, sedangkan ia tidak
dapat menarik dananya secara cepat, seperti deposito, gaji bulanan, dan lainlain:'
sehingga untuk menanggulangi kekslrangan dana itu, salah satunya
melalui utang kepada lembaga yang memberikan kemudahan aturan dan
terbebas dari bunga," seperti Pegadaian syariah.
Oleh karena itu, melalui penggunaan akad qardhul hasan ini, rahin
hanya mengembalikan modal pinjaman dan menggunakan transaksi berdasarkan prinsip biaya administrasi (biaya materai, notaris, peninjauan
feasibility proyek, biaya pegawai bank dan lain-lain)?*
Dalam sebuah konteks menyelurubapalagi gadai syariah-apabila
anggota masyarakat tidak mampu untuk memberikan qardhul hasan kepada
anggota masyarakat yang memerlukan, maka negara memiliki tanggung
jawab untuk mengambil alih untuk memberikan fasilitas tersebut, sehingga
tidak ada orang membutuhkan yang dieksploitasi oleh yang lain, karena
tidak tersedianya qardhul hasan ini. Dan Pegadaian syariah ini media yang
tepat untuk dimanfaatkan dan difungsikannya, karena dengan gadai syariah
ini, rahin masih menimbulkan kehormatan dirinya-karena rahin memberikan marhun sebagai alat penjamin, apabila suatu saat apabila marhun bih
jatuh tempo dan rahin tak sanggup mengkembalikannya, maka bagi
murtahin ha1 itu sebagai pengaman marhun bik?' dan meninggalkan

*'
"

'

"

Muhammad Akram Khan, Op. cif hat. 182-183.


Dahlan Siamat, Op. cit. hal. 198.
Husein Syahatah, Iqiishadil Baiill Muslim ji Dau'isy Syari'aiil-lslrrmryrJ1. Darut-Thaba'ah
wannasyru al-lslamiyah, Ditejemahkan Dudung Rahmat Hidayat dan ldhoh Anas. Cetakan I , (iema
lnsani Press. Jakarta: 1998, hlm. 107-1 12. Islam menganjurkan umamya saling meminjam dengan
cam yang baik, karena ha1 ini akan dapat mewujudkan rasa saling menyayangi, mengasihi. dan
menghonnati di antara sesama kaum muslimin. Berarti harus jauh dari sistem riba' ( 0 s . AI-Baqarah
ayat 276), karena dengan riba'dapat menimbulkan dampak negatif. di antaranya biologis, psikologis.
sosiologis, dan ekonomis.
Muhammad, Sistem dan Prosedur Operasional Bank Syariah, Cetakan 2. U11 Press, Yogyakarta:
2001, hal. 41.
M. Bahsan, Op. cit hal. 2.

120

HukunGadai Syariah

dorongan dalam dirinya untuk menghidupkan perjuangan dan usaha kembali,


apabila dibandingkan dengan infaq yang memang tidak diharapkan lagi uang
yang dipinjam akan kembali.
~ k qardhul
a
hasan dapat berasal dari bagian modal Pegadaian
syariah, laba yang disisihkan atau lembaga lain atau individu yang
mempercayakan penyaluran infak-nya (ZIS) ke Pegadaian ~ ~ a r i a h ? ~
Untuk menghindari riba ', maka pengenaan biaya administrasi pada
pinjaman dengan cara sebagai berikut:
1. Harus dinyatakan dalam nominal, bukan prosentase;
2. Sifanya hams nyata, jelas dan pasti, serta terbatas pada hal-ha1 yang
mutlak diperlukan untuk terjadinya kontrak?'
Kategori marhun dalarh akad ini adalah hanya berupa barang yang
tidak dapat dimanfaatkan/dikelola, kecuali dengan jangan menjualnya dan
berupa barang bergerak saja, misalnya emas, barang elektronik dan sebagainya.
Pada akad ini, tidak ada bagi hasil yang harus dibagikan, karena
akad ini hanya merupakan akad yang berfungsi sosial. Namun, dalam akad
ini ada sejumlahfee yang biasanya diberikan pihak rahin sebagai pengganti
biaya adhinistrasi yang telah dikeluarkan murtahin. Ketentuan besarnyafee
yang dibenkan rahin kepada
murtahin tidak ditentukan, artinya rahin diberi kebeb,asan untuk
menentukan besarnya fee yang hams diberikan. Pemberian fee rahin kepada
murtahin juga tidak ada unsur paksaan.
Mengenai Prosedur Penaksiran h r h u n dapat dikemukakan sebagai
berikut. Penyaluran marhun bih atas dasar hukum gadai syariah mensyaratkan adanya penyerahan marhun. Namun, khusus untuk gadai syariah, jenis
akad qardhul hasan, barang jaminannya marhun hanya meliputi jenis barang
bergerak. Besar kecilnya jumlah marhun bih yang diberikan kepada rahin,
tergantung nilai taksir barang. Petugas penaksir sebaiknya orang-orang yang
sudah memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam melakukan penaksiran marhun. Sedangkan lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1. Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Pusat yang telah berlaku
(standar harga yang berlaku);

"
'

HB. Tamam Ali. et.al. Ekonomi Syariah dalam Sorotan. Kerjasarna Yayasan Amanah, MES. dan
PNM,Yay&an Amanah, Jakarta: 2003, hal. 172.
Markurn Sumitro, Op. cit, him. 40; Muhammad, Op. cit, hal. 43.

Pelaksanaan Gadai Syorbh oleh Lembaga Pegadoion

121

2. Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Setempat dari barang.


Harga pedoman untuk keperluan penaksiran ini selalu disesuaikan dengan
perkembangan harga yang terjadi;
3. Murtahinlpetugas penaksir melakukan pengujian kualitas marhun;
4. Murtahinlpetugas penaksir menentukan nilai taksir.
Prosedur untuk memperoleh marhun bih tidak sesulit memperoleh
dana pinjarnan di bank, dan untuk memperoleh marhun bih bagi masyarakat
yang membutuhkan akan sangat sederhana dan cepat. Sedangkan prosedur
mendapatkan marhun bih dari gadai syariah adalah sebagai berikut:
1. Calon nasabah datang langsung ke murtahin dan menyerahkan marhun
yang akan dijadikan jaminan dengan menunjukkan surat bukti diri,
seperti KTP atau surat kuasa apabila pemilik marhun tidak dapat datang
sendiri;
2. Barang jaminan tersebut diteliti kualitasnya untuk menaksir dan menetapkan harganya. Berdasarkan taksiran yang dibuat murtahin, maka ditetapkan besarnya marhun bih yang dapat diterima nasabah. Besarnya nilai
marhun bih yang diberikan biasanya lebih kecil daripada nilai pasar dari
marhun. Hal ini ditempuh guna mencegah adanya kerugian;
3. setelah riasabah mendapatkan fasilitas pinjaman, maka untuk mengarahkan agar rahin berhasil dalam usahanya, murtahin akan memantau, baik
secara langsung maupun tidak langsung kepada usaha yang dilakukan
oleh rahin;
4. Selanjutnya, pembayaran marhun bih dilakukan murtahin tanpa ada
potongan biaya apapun.
Mengenai Prosedur Pelunasan Marhun Bih dapat dikemukakan sebagai berikut. Dalam akad qardhul hasan, nasabah berkewajiban melakukan
pelunasan marhun bih yang telah diterima. Dalam akad ini, rian dapat
melunasi kewajibannya sebelum pada waktu yang telah ditentukan (jatuh
tempo). Pelunasan marhun bih nasabah prosedurnya adalah sbb.:
1. Rahin membayarkan marhun bih kepada murtahin disertai dengan bukti
surat gadai;
2. Barangakan dikeluarkan oleh murtahin;
3. Marhun dikembalikan murtahin kepada nasabah.
Mengenai Prosedur Pelelangan Marhun, apabila nasabah tidak dapat
melunasi utangnya kepada murtahin, maka murtahin berhak untuk
melelangl menjual marhun pada saat jatuh tempo. Ini dibolehkan dengan
ketentuan, sebagai berikut:

122

Hukwn Godoi Syorioh

a. Murtahin harus terlebih dahulu mencari tahu keadaan nasabah,


penyebab belum lunasnya utang;
b. Dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran;
c. Apabila murtahin benar-benar butuh uang dan rahin belum melunasi
utangnya, maka murtahin boleh memindahkan marhun kepada
murtahin lain dengan seizin rahin;
d. Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka murtahin boleh
menjual marhun dan kelebjhan uangnya dikembalikan kepada kepada
r~hin-3~
e. Pelelanganlpenjualan marhin harus dilakukan di depan umum dan
sebelum penjualan dilakukan biasanya ha1 itu harus diberitahukan
lebih dahulu kepada rahim3'

5. Akad Mudharabah
Apabila nasabah mengguaakan dana marhun bih untuk modal usaha, misal
membuka 'counter pulsa', setelah dilakukan perhitungan matang, pihak
murtahin dapat memberikan pinjaman kepada nasabgh. . Keqntungan
,. . ...dari
.
hasil counter pulsa itu, setelah dilakukan perhitungan, pendapptan dan
dikurangi bi&a yang nyita, makit di lakukan bagi hasil menudkeiepakatan
a i d . &baliknya . iiabila menderita kerugian, akah ditanggung'beiiipia.
Karena'itu, pihak ~ e g d a i a nSyariah seharusnya mefakukqn studi kelaiakan
usaha secia detail dan teliti, sehingga kemungkinan risiko kerug& dap&
dieliminir dan tetap menganut prudential, termasuk mencari .nasabah
jujur
.
. .
.
dan am&h.
,. .
Bebas dari adanya moral hazard. Karena kunci keberhgilan d a d
mudharbbah denganbagi
. .
hasil ini sangat ter&tung pada
.. karakter nasabah.
Dalam akad mudharabah ini, Pegadaian syariah sebagai shohibul
maul (penyandang dana) dan rahin sebagai mudharib (pengelola dana).
Akad mudharabah hanya dapat diterapkan pada rahin yang menginginkan
gadai barang untuk keperluan produktif, artinya dengan menggadaikan
barangnya, rahin tersebut mengharapkan adanya modal kerja. Marhun yang
dijaminkan adalah barang yang dapat dimanfaatkan atau tid+ dapat
dimanfaatkan (dikelola) oleh rahin dan murtahin. Rahin akan memberikan
bagi hasil (profit loss sharing) berdasarkan keuntungan usaha yang
'

>

"' Muhammad dan Sholikhul Hadi, Op. ci& hal. 1 14-1 19.
"
M. Ali Hasan, Op. cit. hal. 254.

Peloksanaon Gadd Syarioh oleh Lemboga Pegodaian

123

diperolehnya kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan sampai modal


yang dipinjam ter~unasi.~'
Selanjutnya,jika marhun dapat dimanfaatkan, maka dapat diadakan
kesepakatan baru (akad lain) mengenai pemanfaatan marhun, dan jenis
akadnya disesuaikan dengan jenis barangnya. Jika rahin tidak berkehendak
memanfaatkan marhun dan diserahkan sepenuhnya kepada murtahin, maka
murtahin berhak mengelola marhun dan memungut hasilnya. Sedangkan dari
sebagian hasilnya harus diberikan kepada rahin, karena rahin merupakan
pemilik marhun. Begitu juga sebaliknya, apabila murtahin tidak mau diberi
amanat untuk mengelola marhun, maka rahin-lah yang harus mengelola
mwhun, dan akan memberikan bagi hasil kepada murtahin sesuai dengan
kesepakatan.
Kernudian Kategori m a r h dalam akad ini adalah semua jenis
barang yang dapat dimanfaatkan, baik itu berupa barang bergerak maupun
tidak bergerak. Sedangkan barang bergerak, misalnya kendaraan, barang
elektronik dan sebagainya. Adapun jenis barang yang tidak bergerak adalah
tanah dan pekarangan.
Dalam akad ini, dari keuntungan bersih pihak yang diarnanati untuk
mengelola usaha rahin yang sesuai dengan permohonannya. Artinya, keuntungan tersebut setelah dikurangi biaya pengelolaan. Mengenai ketentuan
persentase bagi hasil dari hasil usaha adalah sesuai dengan kesepakatan
kedua belah pihak.
Apabila yang mengelola pihak rahin, maka adalah 70% untuk rahin
dan nisbah 30% untuk murtahin. Hal ini ditempuh oleh karena pihak ruhin
adalah pihak pengelola usaha. Sedangkan bagi murtahin adalah pihak
penyandang dana. SeJain bagi hasil dari usaha nasabah yang telah didanai
oleh murtahin, kedua belah pihak tersebut juga masih akan mendapatkan
bagi hasil dari pernanfaatan/pengelolaan marhun. Mengenai siapa yang
berhak mengelola marhun tergantung dari kesepakatan kedua belah pihak.
Adapun apabila yang mengelola marhun tersebut adalah murtahin, maka
nisbah yang dibagikan, misalnya 30% untuk murtahin dan 70% untuk rahin.
Bagi hasil yang diterima murtahin merupakan upah dari pengelolaan dan
pengganti biaya administrasi, serta cadangan adanya kerugian. Sedangkan
bagi rahin adalah pemilik barang yang sah. Sedangkan apabila yang rnengelola barang jaminan tersebut adalah nasabah, maka bagi hasilnya 85% untuk
nasabah dan 15% murtahin. Oleh karena itu, seiain murtahin mendapatkan

''

Muhammad dan Solikhkul Hadi, Loc.cit, hat. 104.

124

HukumGadai Syariah

bagi hasil dari pemanfaatan barang, murtahin juga masih mendapatkan bagi
hasil dari usaha yang nasabah biayainya. Ketentuan bagi hasil tersebut, tidak
mutlak dan bergantung kesepakatan kedua belah pihak.
Penyaluran uang pinjaman atas dasar bukum gadai syariah mensyaratkan adanya penyerahan barang. Namun, khusus akad ini, jenis marhun
meliputi semua jenis barang, baik bergerak maupun tidak bergerak. Besar
kecilnya jumlah pinjaman yang diberikan kepada rahin, tergantung nilai
taksir m a r k setelah petugas penaksir menilai marhn. Petugas penaksir
sebaiknya orang yang sudah memiliki keahlian dan pengalaman khusus
dalam melakukan penaksiran mwhun. Adapun pedoman penaksiran marhun
dibagi menjadi 2 kategori, yaitu barang bergerak dan barang tidak bergerak.
Sedangkan lebih jelasnya adalah sebagai berikut:
1. Barang Bergerak
Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Pusat yang telah
berlaku (standar harga yang berlaku);
Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Setempat dari barang.
Harga peddman untuk keperluan penaksiran ini selalu disesuaikan
dengan perkembangan harga yang terjadi;
~urtah'in/~enaksir
melakukan uji kualitas marhun;
Murtahinlpetugas penaksir menentukan nilai taksir.
2. Barang Tak Bergerak
Murtahinl penaksir dapat minta sertifikat tanah pada nasabah untuk
mengetahui gambaran umum marhun;
Murtahinlpetugas penaksir dapat melihat langsung atau tidak langsung
kondisi marhun ke lapangan;
Murtahinlpenaksir melakukan uji kualitas marhun;
Murtahinlpenaksir dapat menentukan nilai taksir.
Prosedur untuk memperoleh dana marhun bih bagi masyarakat yang
membutuhkan akan sangat sederhana dan cepat di Pegadaian syariah, tidak
sesulit memperoleh dana pinjaman di bank. Prosedur mendapatkan marhun
bih dari gadai syariah adalah sebagai berikut:
I . Calon rahin datang ke rnurtahin dan menyerahkan marhun dengan
menunjukkan surat bukti diri, seperti KTP atau surat kuasa apabila
pemilik barang tidak dapat datang sendiri;
2. Marhun diteliti kualitasnya untuk menaksir dan menetapkan harganya.
Berdasarkan hasil taksiran, maka ditetapkan besamya marhun bih yang
diterima nasabah. Besarnya nilai marhun bih yang diberikan lebih kecil
daripada nilai pasar marhun. Hal ini ditempuh guna mencegah kerugian;
Pelaksanwn Gadai SyaFioh oleh Lewhgo Pegadaian

125

3. Setelah nasabah mendapatkan fasilitas marhun bih, maka untuk


mengarahkan agar nasabah berhasil dalam usahanya, murtahin akan
memantau, baik secara langsung maupun tidak langsung kepada usaha
yang dilakukan oleh rahin;
4. Selanjutnya, pembayaran marhun bih dilakukan murtahin tanpa ada
potongan biaya apapun. Prosedur pemberian pembiayaan dalam akad ini
dapat dilihat pada gambar
, Dalam akad mudharubah, nasabah berkewajiban melakukan pelunasan marhun bih yang telah diterima. Dalam akad ini, nasabah dapat melunasi kewajibannya sebelum pada waktu yang telah ditentukan atau harus
menunggu saat jatvh tempo pelunasan. Pelunasan marhun bih oleh nasabah
prosedurnya adalah sbb.:
1. Rahin membayarkan marhun bih kepada murtahin disertai dengan bukti
surat gadai;
2. Barang akan dikeluarkan oleh murtahin;
3. Marhun dikembalikan oleh murtahin kepada nasabah.
Apabila marhun tidak dapat melunasi utangnya kepada murtahin.
maka murtahin berhak untuk melelang/minjual pada saat jatuh tempo. Ini
dibolehkan dengan ketentuan, sebagai berikut:
1. Penerima gadai harus terlebih dahulu mencari tahu keadaan nasabah
(penyebab belum lunasnya utang);
2. Dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran;
3. Apabila murtahin benar butuh uang dan rahin belum melunasi marhun
bih, maka murtahin bole h memindahkan marhun kepada murtahin lain
dengan seizin rahin;
4. Apabila tidak terpenuhi, maka murtahin boleh menjual murhun dan
kelebihan uangnya dikembalikan pada rahin.j9

6. Akad Ba'i Muqayyadah

Apabila nasabah menggunakan dana marhun bih untuk menambah modal


usaha, misal membeli 'komputer' guna membuka rental internet'dan pengetikan, maka rahin akan memberikan fee (pendapatan) kepada murtahin
melalui ma+ up harga barang modal komputer tersebut dari harga dasar
belinya. Akad ba 'i muqayyadah ini hampir mirip dengan akad murabahah,
yang biasa dilakukan bank. Hanya saja pada akad ba'i muqayyadah di gadai
syariah, marhun apabila dapat dimanfaatkan murtahin dan rahin memberi-

''

Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit, hal. 104-1 12.

126

HukmGadai Syariah

kan izin bagi murtahin untuk mengelolanya, ha1 ini dapat dijadikan sebagai
media pendapatan Pegadaian Syariah. Karena itu, pihak murtahin seharusnya melakukan studi kelayakan usaha secara detail dan teliti, sehingga
kemungkinan risiko kerugian itu dapat dieliminir dan tetap menganut
prudential, termasuk mencari nasabah jujur dan amanah. Karena kunci
keberhasilan akad ba'i muqayyadah ini tergantung pada karakter nasabah.
Akad ba 'i muqayyadah diterapkan pada nasabah yang mengingin kan
rahn untuk keperluan produktif, artinya dalam menggadaikan marhun,
nasabah tersebut menginginkan modal kerja berupa pembelian barang.
Marhun yang dapat dijaminkan untuk akad ini adalah barang yang dapat
dimanfaatkan atau tidak dapat dimanfaatkan. Dengan demikian, murtahin
akan membelikan barang yang sesuai dengan keinginan nasabah, dan pihak
rahin akan memberikan mark up kepada murtahin sesuai dengan kesepakatan pada saat akad berlangsung dan sampai batas waktu yang telah
ditentukan .40
Selanjutnya, jika marhun dapat dimanfaatkan, maka dapat diadakan
kesepakatan baru (akad lain) mengenai pemanfaatan marhun, dan jenis akadnya disesuaikan dengan jenis barangnya. Apabila nasabah tidak ingin
memanfaatkaii marhun dan diserahkan sepenuhnya kepada murtahin, maka
murtahin berhak mengelola marhun dan memungut hasilnya. Sedangkan
sebagian hasilnya harus diberikan kepada nasabah, karena nasabah merupakan pemilik marhun yang sebenamya. Sebaliknya, apabila murtahin tidak
ingin diberi amanat untuk mengelola marhun, maka nasabah-lah yang harus
mengelola, dan akan memberikan bagi hasil kepada murtahin sesuai dengan
kesepakatan.
Kategori marhun dalam akad ini adalah semua jenis barang yalig
dapat dimanfaatkan ataupun tidak dapat dimanfaatkan, baik itu berupa
barang bergerak maupun tidak bergerak. Barang bergerak, misalnya kendaraan, barang elektronik dan sebagainya. Adapun jenis barang yang tidak
bergerak adalah tanah dan pekarangan.
Dalam akad ini adalah dari keuntungan bersih pihak yang diamanati
untuk mengelola marhun yang sesuai dengan kesepakatan. Artinya, keuntungan tersebut setelah dikurangi biaya pengelolaan. Ketentuan persentase
bagi hasil dari pengelolaan usaha adalah sesuai dengan kesepakatan kedua
belah pihak.

"'

Ibid, hal. 46.

Pelaksanaan Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaian

127

Apabila yang mengelola pihak rahin, maka adalah 80% untuk rahin
dan nisbah 20% untuk murtahin. Hal ini ditempuh oleh karena pihak rahin
adalah pihak pemilik barang gadai yang sah. Sedangkan bagi murtuhin,
jumlah persentasenya dapat digunakan untuk menjaga terjadinya inflasi atau
kerugian lain atakuang yang dipinjamkan. Selain itu, murtahin juga telah
mendapatkan mark up dari hasil pembelian barang yang diinginkan oleh
rahin.
Adapun apabila yang mengelola marhun tersebut adalah murtahin,
maka nisbah yang dibagikan, misalnya 30% untuk murtahin dan 70% untuk
rahin. Bagi hasil yang diterima murtahin sebagai upah dari pengelolaan dan
pengganti biaya administrasi, serta cadangan adanya kerugian. Ketentuan
bagi hasil tersebut, tidak mutlak dan bergantung pada kesepakatan kedua
belah pihak.
Penyaluran marhun bih mensyaratkan adanya penyerahan barang.
Namun, khusus akad jenis ba'i muqayyadah, maka marhun meliputi semua
jenis barang, baik bergerak maupun tidak bergerak. Besar kecilnya jumlah
marhun bih yang diberikan kepada rahin, tergantung nilai taksir barang
setelah petugas penaksir menilai marhun. Penaksir sebaiknya orang yang
sudah memiliki keahlian dan pengalaman khusus dalam melakukan
penaksiran marhun. Adapun pedoman penaksiran marhun dibagi menjadi
dua kategori, yaitu barang bergerak dan barang tidak bergerak. Sedangkan
lebih jelasnya adalah sbb.:
Barang Bergerak,
Murtahinlpetugas penaksir melihat Harga Pasar Pusat yang telah
berlaku (standar harga yang berlaku);
3. Murtahin/penaksir melihat Harga Pasar Setempat dari barang. Harga
pedoman untuk keperluan penaksiran ini selalu disesuaikan perkembangan harga yang terjadi;
4. Murtahinl penaksir melakukan uji kualitas marhun;
5. Murtahinlpetugas penaksir menentukan nilai taksir;
6. Barang Tak Bergerak;
7. Murtahinlpenaksir meminta sertifikat tanah kepada rahin untuk mengetahui gambaran umum marhun;
8. Murtahinlpenaksir dapat melihat langsung atau tidak langsung kondisi
marhun ke lapangan;
9. Murtahinlpenaksir melakukan uji kualitas murhun;
10. Murtahinlpenaksir dapat menentukan nilai taksir.

128

HukunGadoi Syorioh

Prosedur untuk memperoleh marhun bih bagi masyarakat yang


membutuhkan sangat sederhana dan cepat di Pegadaian syariah, tidak sesulit
memperoleh dana pinjaman di bank. Prosedur mendapatkan marhun bih
dengan menggunakan akad ba 'i muqayyadah adalah sebagai berikut:
1. Rahin datang ke murtahin dan menyerahkan marhun dengan menunjukkan surat bukti diri, seperti KTP atau surat kuasa apabila pemilik barang
tidak dapat datang sendiri;
2. Marhun diteliti kualitasnya untuk menaksir dan menetapkan harganya.
Berdasarkan hasil taksiran, maka ditetapkan besarnya marhun bih yang
dapat diterima rahin. Besarnya nilai marhun bih yang diberikan lebih
kecil daripada nilai pasar. Hal ini ditempuh guna mencegah adanya
kerugian;
3. Setelah rahin mendapatkan marhun bih, maka untuk mengarahkan agar
rahin berhasil dalam usahanya, murtahin akan memantau, baik secara
langsung maupun tidak langsung kepada usaha yang dilakukan oleh
rahin; dan
4. Pembayaran marhun bih dilakukan murtahin tanpa ada potongan biaya
apapun. Prosedur pemberian marhun bih
Dalam akad mudharubah, nasabah berkewajiban melakukan pelunasan marhun bih yang telah diterima. Rahin dapat melunasi marhun bih
sebelum pada waktu yang telah ditentukan (jatuh tempo). Pelunasan marhun
bih oleh rahin prosedurnya sebagai berikut:
1. Rahin membayarkan marhun bih kepada murtahin disertai dengan bukti
surat gadai;
2. Barang akan dikeluarkan oleh murtahin;
3. Marhun dikembalikan oleh murtahin kepada rahin.
4. Apabila rahin tidak dapat melunasi utangnya kepada murtahin, maka
murtahin berhak untuk melelang/menjual marhun pada saat jatuh tempo.
Ini dibolehkan dengan ketentuan, sebagai beriikut:
5. Murtahin harus terlebih dahulu mencari tahu keadaan rahin (penyebab
belum lunasnya utang);
6. Dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran;
7. Apabila murtahin butuh uang dan rahin belum melunasi utangnya, maka
murtahin boleh memindahkan marhun kepada murtahin lain dengan
seizin rahin;

Pelaksanaan Gadai Sgariah oleh Lembaga Pegadaian

129

8. Apabila tidak terpenuhi, maka murtahin boleh menji~al marhun dan


kelebihan uangnya dikembalikan pada r ~ h i n . ~ '

7. Akad Musyarakah
Seperti kerjasama antara Pegadaian dengan BMI, dimana Pegadaian sebagai
operasionalnya (mudharib), sedang BMI sebagai penyandang dana. Keuntungan dibagi bersama antara Pegadaian dengan BMI dengan bagi hasil
50%: 509'0, cara pembayarannya dapat bulanan, triwulan, semester, tahunan,
atau sampai &ad berakhir.
Akad musyarakah dapat dilanjutkan dengan pembaharuan lagi akad
musyarahh-nya, mungkin nisbah dapat berubch, intinya sesuai dengan
kesepakatan Pegadaian dan BMI. Apabila ha1 ini dilaksanakan, tidak hanya
akan memberikan keuntungan Pegadaian Syariah, namun akan lebih
menguatkan LKS yang ada di Indonesia secara umumnya.
8. Akad Musyarakah Amwal Al-'Inan

Seperti kerjasama antara Pegadaian dengan BMI, dimana Pegadaian sebagai


operasionalnya (mudharib), sedang BMI sebagai penyandang dana.
Keuntungan dibagi bersama antara Pegadaian dengan BMI dengan bag; hasil
50% : 50%, cara pembayarannya dapat bulanan, triwulan, semester, tahunan,
atau sampai akad berakhir.
Pola musyarakah adalah perkongsian antara 2 pihak atau lebih untuk
berbagi hasil atau pro@ loss sharing (PLS), berbagi kontribusi, berbagi
kepemilikan dan berbagi risiko dalam sebuah usaha (karena manusia tidak
mengetahui apakah usahanya nanti mendapatkan laba atau rugi, lihat Q.S.
Luqman: 34). Dalam pola musyarakah ini banyak sekali potensi kecurangan
yang dapat dihindari jika pelaku utamanya adalah orang shaleh penjaga
amanah (al-Qur'an Surat Shaad: 24) dan al-Hadits yang diriwayatkan oleh
Abu Daud dan ~ a k i m . ~ ~
"Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yung bersyarikat itu
sebagian mereka berbuat zhalim, kecuali orang-orang yang herimun dun
mengerjakan amal shaleh".

''
"

Muhammad dan Sholikhul Hadi, Op. c i t hd. 95-104.


Muhammad Gunawan Yasni, Musyarakah Pendorong lnvestasi Bersarna. Paper Kuliah Teori
Ekonomi Islam, Program Pascasarjana Program Studi Kajian Timur Tengah dan Islam (PSKTTI)
Kekhususan Ekonomi dan Keuangan Syariah, Universitas Indonesia.

130

HukmGodoi Syorioh

"Dari Abu Hurairah, Rasulullah Muhammad Saw..berkata; Sesungguhnya


Allah Azza wa Jalla ber$rr?lan: 'Aku adalah pihak ketiga dari dua orang
yang bersyarikat selama salah satunya tidak mengkhianati lainnya".
Pola musyarakah ini akan mendorong terjadinya investasi bersama
antara pihak yang mempunyai modal minimum, namun kemampuan berusaha cukup optimalb dengan pihak yang mempunyai modal besar yang
cenderung dianggurkan (masih belum dioptimalkan). Dikarenakan Islam
sangat mendorong umatnya untuk berinvestasi dan selalu produktif, sehingga
kapital yang ada tidak boleh dianggurkan atau tidak dimanfaatkanl
dioptimalkan.
Pegadaian syaiiah juga -memperoleh laba dari usahanya dalam
penghimpunan dana Vunding product), yaitu mela lui penerapan akad
musyarakah (partnership, project financing participation), yang berarti
Pegadaian syariah dapat mengadakan bentuk akad kerjasama dengan LKS
lain (dua pihak atau lebih) untuk suatu modal, usaha, dan k e ~ n t u n ~ a n ~ ~
tertentu, dimana setiap pihak memberikan kontribusi modal atau expertise
dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan ditanggung bersama
sesuai dengan kesepakatan.@
Modal yang disetor, dapat berupa uang, property, equipment ataupun
intangible asset (seperti hak paten dan goodwill) dan barang lainnya yang
dapat dinilai dengan uang. Semua modal dicampur untuk dijadikan modal
musyarakah dan dikelola bersama. Setiap pemilik modal berhak untuk turut
serta dalam menentukan kebijakan usaha yang dijalankan oleh pelaksana
musyarakah.
Pemilik modal yang dipercaya untuk menjalankan musyarakuh tidak
boleh melakukan tindakan, seperti:
1. Menggabungkan dana musyarakuh dengan harta pribadi;
2. Musyarakuh dengan pihak lain tanpa izin dari pemilik modal lainnya;
3. Memberikan pinjaman kepada pihak lain.
Oleh karena itu, untuk meminimalisir adanya potensi kecurangan
itu, maka diperlukan kejelasan dalam perjanjian yang dibuat dan mekanisme
jalanya pola usaha musyarakuh ini, yaitu sebagai berikut:

'
"

Abdullah Al-Muslih dan Ash-Shawi. Ma La Yasa'ul Tqjim Jahluhu. Dar Al-Muslim. Riyadh KSA.
Diterjemahkan Abu Umar Basyir, Cetakan 1, Darul Haq, Jakarta: 2004, hal. 148.
Muhammad Syafi'i Antonio, Op. cit. hal. 90.

Pelaksanaan Godai Syorioh oleh Lernbaga Pegadaian

131

1. Diperjanjikan dengan jelas nisbah hasil usaha, kontribusi usaha, bagian


setoran kepemilikan dan bagian risiko dalam suatu akte perjanjian di
bawah hukum yang tidak bertentangan dengan ketentuan syarizih;
2. Diperjanjikan dengan jelas jenis usahanya;
3. Ada perwakilan yang jelas antara berkongsi kepada siapa diberikan
mandat melakukan transaksi dengan pihak lain di luar perusahaan;
4. Para pemilik modal dan perwakilannya hams mengerti hukum; dan
5. Modalnya harus tunai bersamaan pada saat pola musyarakah di~e~akati.4'
Pemilik modal dapat mengalihkan penyertaan atau digantikan pihak
lain. Setiap pemilik modal dianggap mengakhiri kerjasama apabila menarik
diri dari kesepakatan atau membatalkan kapan saja dia kehendaki maupun
modalnya telah selesai diputar atau musyarakah telah berakhir,46 yaitu
setelah modal tersebut diputar dan kembali menjadi uang kontan agar dapat
mencegah bahaya terhadap pihak lain atas terjadinya keputusan mendadak
setelah usaha baru dimulai!'
Akad musyarakah ini yang tepat untuk kondisi Pegadaian syariah
adalah berupa akad musyarakah jenis keuangan amwal-al'inan, y a i t k
kontrak antara 2 orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari
keselumha; dana d m berpartisipasi dalam kerja. Kedua pihak berbagi dalam
keuntungan dan kerugian yang disepakati di antara mereka. Namun, porsi
kedua pihak, baik dalam dana maupun kerja atau bagi hasil, tidak harus sama
dan identik sesuai dengan kesepakatan mereka, meskipun terdapat akad yang
hampir mirip atau serupa, yaitu akad musyarakah al-mufawadhah, yaitu
kontrak kerjasama antara 2 orang atau lebih, di mana setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja. Setiap
pihak membagi keuntungan dan kerugian secara sama. Dengan demikian,
syarat utama dari jenis musyarakah ini adalah kesarnaan dana yang diberikan, kerja, tangunggjawab, dan beban utang dibagi oleh masing-masing
pihak.48 Namun, menurut Adiwarman, akad musyarakah amwal ul-'inun
lebih tepat untuk yang ha1 yang sifatnya penyertaan
Seperti yang
saat ini diterapkan antara gadai syariah dengan patnership-nya, Bank
Muamalat Indonesia, yang menerapkan musyarakah al- 'inan.

"

"

"
"
'9

Muhammad Gunawan Yasni. Op. cit.


Muhammad Syafi'i Antonio, Loc. cit hal. 196.
Abdullah AI-Muslih dan Ash-Shawi, Op. Cit. ha1 154.
~ u h m m a dSyafi'i Antonio, Loc.Cit. hal. 92.
Adiwarmari A. Karim. Ekonomi Islam: Suatu Kajian Kontemporer, Cetakan Pertama, Gerna. lnsani
Press, Jakarta: 2001, hal. 81.

132

Hukum Godai Syorioh

Akad ini dapat diterapkan pada patner yang menginginkan kerja


sama dalam gadai syariah untuk keperluan produktif, artinya dalam akad
patner tersebut menginginkan kerjasama dengan Pegadaian syariah untuk
berbagi keuntungan dan kerugian bersama-sama. Sedangkan yang diakadkan
adalah dana dan kerja' yang dapat dikelola sesuai dengan kesepakatan pada
saat akad berlangsung dan sampai batas waktu yang telah ditentukanl
disepakati.
Kategori modal yang digunakan dalam akad ini adalah semua jenis
modal, baik berupa uang maupun barang yang dapat dikelola Idimanfaatkan,
baik itu berupa barang bergerak maupun tidak bergerak.
Dalam akad ini, keuntungan bersih pihak yang diamanati untuk
mengelola usaha (Pegadaian syariah) yang sesuai dengan permohonannya.
Artinya, keuntungan tersebut setelah dikurangi biaya pengelolaan. Ketentuan
persentase bagi hasil dari pengelolaan usaha adalah sesuai dengan kesepakatan kedua belah pihak. Jadi ketentuan bagi hasil tersebut, tidak mutlak dan
bergantung pada kesepakatan kedua belah pihak.
Prosedur untuk memperoleh modal gadai syariah menggunakan akad
musyarakah amwd al'inan adalah sebagai berikut:
I. Pegadaian gwriah dapat datang langsung maupun tak langsung ke
pemodal (patner), melalui bank syariah, lembaga non perbankan syariah,
menerbitkan obligasi syarih,dan lain-lain.;
2. Kemudian dilakukan akad musyarakuh dengan pengaturannya sekaligus,
meliputi bagi risiko kerugian maupun bagi keuntungan atau bagi hasil;
3. Setelah terjadi kesepakatan antara pegadai& syariah dengan patner-nya,
maka untuk mengarahkan agar murtahin berhasil dalam usahanya, pihak
pafner berhak memantau, baik secara langsung maupun tidak langsung
kepada usaha yang dilakukan oleh murtahin;
Dalam akad musyarakah amwal al- 'inan ini, maka pihak Pegadaian
Syariah dapat memberikan bagi hasilnya sesuai dengan kesepakatan,
misalnya bulanan, triwulan, semesteran, tahunan ataupun menanti akhir dari
kesepakatan antara pihak Pegadaian Syariah dengan patner-nya. Penyerahan
bagi hasil kepada pihak patner-nya melalui prosedurnya adalah sbb.:
1. Murtahin membayarkan uang bagi hasil kepada pafner disertai dengan
buktinya;
2. Apabila bagi hasil itu tidak diberikan sekaligus (bulanan, tahunan), maka
diberikan hanya uang bagi hasilnya saja;
3. Apabila bagi hasil itu diberikan sekaligus sampai habis kontraknya, maka
yang diberikan adalah uang modal awal ditambah total bagi hasi lnya:
Peloksanaan Gadoi Syorioh oleh Lembqgo Pegodman

133

4. Dan dilakukan akad ulang, apabila modal itu diserahkan oleh patner dan
dikelola kembali oleh Pegadaian Syariah.
Demikian juga, Pegadaian Syariah sebagai alternatif pembiayaan
dapat dibuktikan untuk dimanfaatkan masyarakat umum, terutama masyarakat yang memiliki usaha-usaha kecil yang berprospek baik. Di samping
itu, sebagai 'skim yarzg khasJ yang dimiliki LKS, skim bagi hasil akan
merupakan skim yang sangat diminati masyarakat usaha kecil nantinya,
apabila skim bagi hasil ini sudah memasyarakat dan LKS sendiri sudah
sangat dipercaya oleh masyarakat, sehingga motto Pegadaian Syariah:
"Mengatasi Mmalah Sesuai Syariah" memang dapat dibuktikan, bukan
hanya slogan semata-mata.
Perlu mendapatkan perhatian Pegadaian Syariah bahwa adanya
pemasyarakatan skim bagi hasil ini, Pegadaian dapat memanfaatkan ha1 itu
sebagai media pembinaan nasabahnya, melalui customer empowerman
program, yang mungkin menjadi kendala dalam program ini adalah adanya
kekurangan SDM yang dimiliki Pegadaian Syariah. Karena itu, mengantisipasinya, salah satunya memanfaatkan mahasiswa/masyarakat. yang memiliki
antusias terhadap program ini untuk diajak bersama melakukannya. Dengan
adanya kerjasama ini, terdapat kemanfaatan ganda, bagi Pegadaian Syariah
dapat menutupi SDM yang diperlukan dan bagi mahasiswdmpsyarakat, ha1
ini dapat dijadika~i media pembelajaran sebelum nantinya terjun di
masyarakat. Sedangkan masalah fee yang harus diterimanya, dapat dilakukan
musyarawah saling menguntungkan antara pihak Pegadaian. Syariah,
nasabah, dan mahasiswdmasyarakat sendiri.

E. Batas Waktu Pinjaman dan Tarif Simpanan


,

Masing-masing pihak yang berakad, pihak penggadai dan pemberi gadai


punya kebebasan tentukan syarat, seperti penentuan batas waktu pembayaran
pinjaman dan tarif simpanan yang dalam akad rahn ini hanya mengikat salah
satu pihak yang berakad;' yaitu pihak nasabah. Demikian menurut jumhur
ulama fiqh, termasuk ulama Hanabilah dan Malikiyah, selama tidak ada
larangan al-Qur'an dan al-Hadist, sedang ulama Hanafiyah dan Syafi'iyyah
menambah syarat itu 'tidak bertentangan dengan hakikat akud itu sendiri'."
Praktik gadai yang ada di Pegadaian Syariah dalam tetapkan batas
waktu pembayaran pinjaman selama 4 bulan dan dapat diperpanjang lagi
"
"

Nasroen Harun, Op. cit, hal. 106.


Ibid, hat, 105.

134

HukumGadai Syoriah

selama mampu dan mau bayar jasa biaya administrasi dan simpanan, atau
perbaharui akad gadai. Sedang penerapan biaya tarif simpanan yang dilaksanakan gadai syariah seperti yang saat ini, dengan penetapan waktu per I0
hari, sehingga apabila nasabah mampu dalam waktu kurang 10 hari (misal 2
hari), maka tetap dihitung 10 hari (2 hari = 10 hari), dengan tarif Rp
90lRp 10.000 dari ni lai taksiran barang jaminan.
Dalam gadai konvensional, menurut , Susilo, dkk.,S2 Pegadaian
menggunakan jasa titipan barang sebagai produk tersendiri, karena tarif
biaya dalam Pegadaian konvensional bentuknya berupa sewa modal1
pinjaman, berupa 'bunga'. Nasabah hams membayarnya per 15 hari sekali,
apabila lebih dari itu, maka dihitung 15 hari lagi (kelebiban 1 hari = 15 hari),
yang berarti b'unganya akan mengalami peningkatan, begitu seterusnya
apabila nasabah mengalami keterlambatan.
- Dalam teori gadai syariah, dalam penentuan tarif simpanan, sebenarnya Belem ditemukan seberapa besar tarif yang tepat. Namun, menurut
Yusuf, minimal bebas dari 'ha1 yang merusak dun menyalahi norma dan
etika bisnis m slam'?^ Viyolina, rnenjauhkan dari unsur yang mendatangkan
ha1 yang bersifat negatif (kemadharatan).54 Muhammad, agar terh indar dari
kedhaliman dan praktik ketidakadilan (tidak ada yang merasa dirugikan)?'
Menurut az-Zu hail i, mensyaratkan tidak termasuk kategori riba ',
termasuk kelebihan uang dengan menggunakan tenggang waktu. Sedang
menurut Ridha, mensyaratkan yang tidak diharamkan karena merugikan
salah seorang tanpa sebab, dikarenakan kecuali 'keterpaksuan'. Sedang
Afialurrahman (1996) dalam Muhammad dan Solikhul Hadi, memberikan
pedoman agar terhindar dari riba', (1) Kelebihan dari pokok pinjaman; (2)
Kelebihan pembayaran sebagai imbalan tempo pembayaran; (3) Sejumlah
tambahan yang disyaratkan dalam transaksi.
Adanya pembatasan tarif simpanan, baik Pegadaian Syariah, teori
Pegadaian konvensional, maupun teori gadai syariah tidak ada yang mempermasalahkan selama ha1 itu disepakati kedua belah pihak, yaitu nasabah
dan Pegadaian Syariah. Demikian juga dengan besarnya tarif ijarah,
meskipun antara gadai syariah dengan teori gadai konvensional 'adu

52

Susilo, Triandaru. dan Santoso. Bank don Lembaga Keuungun Lain. Cetakan Pertama. Salemba
Empat, Jakarta: 2000, hal. 181.
Muhammad Yusuf, Pegadoian Konvensionaldolam PerspektifHukum Islam, Skripsi, Sekolah Tinggi
llmu Syari'ah (STIS). Yogyakarta: 2000, hal. 64.
si
Viyolina, Sistem Bunga dalam Gadoi, Ditinjau dari Hukum Islam. Skripsi. Sekolah Tinggi llmu
Syari'ah (STIS), Yogyakarta: 2000, hal. 65.
"
Muhammad dan Sholikhul Hadi, Op. cit, hal. 86.

''

Peloksonoon Godoi Syorioh oleh Lembogo Pegodoion

135

perbedaan' dalam penentuan besarnya tarif simpanan tersebut, sedangkan


teori gadai syaiiah tidak menentukan besarnya tarif tersebut, yang penting
sesuai dengan kewajaran dan biaya itu benar-benar terjadi.
1. Perbedaan penentuan tarif gadai konvensional berdasar bunga menurut
besar 'pinjaman', sedang gadai syariah berdasar biaya ijarah nilai
'marhun' ;
2. Persaqaannya, batas waktu pembayaran, apabila Pegadaian konvensional
samakan waktu I hari=15 hari, Pegadaian Syairah samakan 1 hari= I0
hari.
Karenanya menurut ulama Mazhab Syafi'i memberi syarat amat
ketat, yaitu apabila orang menyewakan tempat untuk simpan barang selama
4 bulan dengan tarif Rp 9 0 R p 10.000110 hari, maka akad ini batal dikarenakan dalam akad yang semacam ini diperlukan pengulangan akad baru setiap
per 10 harinya dengan sewa baru juga. Menurut ulama Mazhab Syafi'i ini,
akad yang demikian itu menjadikan tenggang waktu menjadi tidak jelas,
apakah waktunya 5, 10, 15 hari atau 4 bulan. Meskipun Jumhur Ulama
mengatakan, bahwa akad yang demikian tetap sah dan bersifat mengikat,
yang penting pihak yang berakad saling rela membayar biaya ijarah dan
menerima Rp 901 RplO.OOO per 10 hari, karena kerelaan ini dianggap
kesepakatan bersama sebagaimana bay' al-mu'athah, yaitu jual beli tanpa
ijab dan qabul, tetap cukup dengan membayar uang dan mengambil barang
yang dibeli.
Namun, yang hams mendapatkan perhatian dalam Pegadaian
Syariah adalah mempersamakan antara waktu yang berbeda, misalnya waktu
1 hari sama dengan waktu 10 hari. Maka apabila dilihat dari pendapat di
atas, secara tersirat adanya unsur riba' (tambahan yang didapat secara
za1im)xlviii di dalamnya, yaitu perbedaan waktu 10 hari.
Menurut Abu Saud, dalam Didin Hafiduddin meskipun dalam Islam
mengakui profit motive danpeedom of enterprise, namun dalam situasi dan
kondisi demikian adalah mengandung adanya ketidakadilan dan merugikan
salah satu pihak (nasabah) karena menerima ha1 itu secara terpaksa. Karena
itu, untuk menjaga ke-maslahatan-nya, mungkin lebih baik pihak Pegadaian
Syariah mengkaji lagi penentuan dan kebijakan penentuan tarif simpanan
dan batas waktunya tersebut, melalui opsi berikut:
I. Batas waktu biaya simpanan tetap 4 bulan (misal biaya simpanan yang
harus dibayar Rp.400.000), namun apabila sebelum 4 bulan, misalnya 3
bulan sudah mampu mengembalikan, maka Pegadaian Syariah dapat
mengambil suatu kebijakan menjadikan sisa pembayaran 1 bulan
136

Hukum Godai Syorioh

RplOO.OOO sebagai bonus bagi nasabah. Jadi yang dibayarkan nasabah


Rp300.000 saja;
2. Batas waktu biaya simpanan tetap 4 bulan (misal biaya simpanan yang
hams dibayar Rp 400.000), namun perhitungan pembayarannya adalah
'har ian', maka apabila perhitungannya 'harian', berarti 1 hari biaya
pembayarannya Rp3.333, maka apabila sebelum 4 bulan, misalnya 3
bulan sudah mampu mengembalikan marhun bih-nya, maka nasabah
hanya membayar Rp 3.333 dikalikan 3 bulan (90 hari) saja atau
Rp300.000 saja. Apalagi saat ini era teknologi, dimana dengan komputerisasi akuntansi keuangan, maka perhitungan batas waktu pengembalian
dan besarnya tarif simpanan ini apabila digunakan dalam hitungan
'harian', bukan merupakan ha1 yang sulit, sehingga dengan keberadaan
gadai syariah sebagai bagian dari 'media' terlaksananya maqashid
syariah dapat terwujudkan.

F. Pelelangan Barang Jaminan Gadai Syariah


1. Pengertian Lelang
Berdasarkan Kep. Menteri Keuangan R1 No. 337KMK. 0112000 Bab. 1, Ps.
1. yang dimaksud dengan lelang adalah penjualan barang yang dilakukan di
muka umum termasuk melalui media elektronik dengan cara penawaran
lisan dengan harga yang semakin meningka't atau harga yang semakin
menurun dan atau dengan penawaran harga secara tertulis yang didahului
dengan usaha mengumpulkan para peminat.s6
Pengertian di muka umum menyangkut masyarakat luas maka
umumnya pemerintah ikut campur dalam urusan lelang dan memungut pajak
atau bea lelang. Aturan lelang harus dilaksanakan di muka juru lelang yang
telah ditunjuk baik melalui pemerintah maupun badan-badan tertentu. Lebih
jelasnya lelang menurut pengertian di atas adalah suatu bentuk penjualan
barang di depan umum kepada penawar tertinggi. Lelang dapat berupa penawaran barang tertentu kepada penawar yang pada mulanya membuka lelang
dengan harga rendah, kemudian semakin naik sampai akhirnya diberikan
kepada calon pembeli dengan harga tertinggi, sebagaimana lelang ala
Belanda (Dutch Auction) dan disebut (lelang naik) yang biasa di lakukan di
pegadaian konvensional. Lelang juga dapat berupa penawaran barang, yang
pada mulanya membuka lelang dengan harga tinggi, kemudian semakin
turun sampai akhimya diberikan kepada calon pembeli dengan tawaran

"

Sibarani, Jumal Hukum Nasional No.Z,III, 2001

Pelaksanaon Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaian

137

tertinggi yang disepakati penjual, dan biasanya ditandai dengan ketukan


(disebut lelang turun) yang selanjutnya dijadikan pola lelang di pegadaian
syariah. Harga penawaran pertama (harga tinggi) disebut sebagai Harga
Penawaran Lelang (HPL): : bisa berupa Harga Pasar Pusat (HPP), Harga
Pasar Daerah (HPD) dan Harga Pasar Setempat dengan memperhitungkan
kualitas/kondisi barang, daya tarik (model dan kekhasan serta animo pembeli
pada marhun lelang tersebut pada saat lelang.
Penjualan marhun adalah upaya pengembalian uang pinjaman
(Marhun Bih) beserta jasa simpan, yang tidak dilunasi sampai batas waktu
yang ditent~kan.'~Usaha ini dilakukan dengan menjual marhun tersebut
kepada umum dengan harga yang dianggap wajar oleh ULGS.
2. Dasar Hukum Lelang

Di dalam Al-Qur'an tidak ada aturan pasti yang mengatur tentang lelang,
begitu juga dengan hadits. Berdasarkan definisi lelang, dapat disamakan
(diqiyaskan) dengan jual beli di mana ada pihak penjual dan pembeli. Di
mana pegadaian dalam ha1 ini sebagai pihak penjual dan masyarakat yang
hadir dalam pelelangan tersebut sebagai pihak pembeli. Jual beli termaktub
dalam Q.S Al Baqarah 275 dan 282.'8
Q.S Al Baqarah 275 Allah berfirman yang artinya "Orung-orang
yang memakan (mengambil) riba itu tidak dapat berdiri betul melainkan
seperti berdirinya orang yang dirasuk Syaitan dengan terhuyung-hayang
kerana sentuhan (Syaitan) itu. Yang demikian disebabkan mereka mengatakan: "Bahwa sesungguhnya berniaga itu sama sahaja seperti riba". Padahal
Allah telah menghalalk& berjuaI-beli (berniaga) dun mengharamkan riba.
Oleh itu sesiapa yang telah sampai kepadanya peringatan (larangan) dari
Tuhannya lalu ia berhenti (dari mengambil riba), maka apa yang telah
diambilnya dahulu (sebeium pengharaman itu) adalah menjadi haknyai dun
perkaranya terserahlah kepada Allah. Dan sesiapa yang mengulangi lagi
(perbuatan mengambil riba itu) maka itulah ahli neraka, mereka kekal di
dalamnya". ( QS. A1 baqarah: 275).
Q.S A1 Baqarah 282 Allah berfirman yang artinya " Wahui orangorang yang beriman! Apabila kamu menjalankan sesuatu urusan dengun
utang piutang yang diberi tempo hingga ke suatu masa yung tertentu muka
hendaklah kamu menulis (utang dun masa bayarannya) itu dun henduklah

''

Sistem dan Prosedur Akuntansi Pegadaian Syariah


'"Departemen Agama Republik Indonesia. A1 Qur'an dan Terjemuhannya.CV 'Toha Putra , Semarang.
1989, hal. 69-70

138

HukumGodoi Syariah

seorang penulis di antara kamu menulisnya dengan adil (benar) dun


janganlah seseorang penulis enggan menulis sebagaimana Allah telah
mengajarkannya. Oleh itu, hendaklah ia menulis dun hendaklah orang yang
berutang itu merencanakan (isi surat utang itu dengan jelas). Dan
hendaklah ia bertaqwa kepada Allah Tuhannya, dun janganlah ia mengurangkan sesuatu pun dari utang itu.
Kemudian jika orang yang berutang itu bodoh atau lemah atau ia
sendiri tidak dapat hendak merencanakan (isi itu), maka hendaklah direncanakan oleh walinya dengan adil benar); dun hendaklah kamu
mengadakan dua orang saksi lelaki dari kalangan kamu Kemudian kalau
tidak ada saksi dua orang lelaki, maka bolehlah, seorang lelaki dun dua
orang perempuan dari orang-orang yang kamu setujui menjadi saksi,
supaya jika yang seorang lupa dari saksi-saksi perempuan yang berdua itu
maka dapat diingatkan oleh yang seorang lagi. Dan jangan saksi-saksi itu
enggan apabila mereka dipanggil menjadi saksi Dan janganlah kamu jemu
menulis perkara utang yang bertempo mmanya itu, sama ada kecil atau
besar jumlahnya. Yang demikian itu, lebih adiI di sisi Allah dan Iebih
membetulkan (menguatkan) keterangan saksi, dunjuga lebih hampir kepada
tidak menimbulkan keraguan kamu. Kecuali perkara itu mengenai perniagaan tunai yang kamu edarkan sesama sendiri, maka tiadalah saluh j i b
kamu tidak menulisnya. Dan adakanlah saksi apabila kamu berjual-heli.
Dan janganlah mana-mana juru tulis dun saksi itu disusahkan. Dan kalau
kamu melakukan (apa yang dilarang itu), maka sesungguhnya yang
demikian adalah perbuatan fmik (derhaka) yang ada pada kamu. Oleh itu
hendaklah kamu bertaqwa kepada Allah; dun (ingatlah), Allah (dengan
keterangan ini) mengajar kamu; dun Allah sentima Mengetahui akan tiaptiap sesuatu. (QS. A1 baqarah: 282).
Di dalam jual beli harus ada rukun dan syarat agar akad yang
dilakukan sah. Rukunnya meliputiS9:
a. Ba 'i (penjual)
b. Mustari (pembel i)
c. Shigat (ijab dan qabul)
d. Ma 'qud alaih (benda atau barang)
Suatu jual beli yang dilakukan oleh pihak penjual dan pembeli sah,
haruslah dipenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

"'

Rachmat Syafi'i, Fiqih Muamala~,Pustaka Setia, 2001, ha1 76.

Peloksonaan Godoi Syorioh oleh Lembogo Pegadoion

139

a. Tentang subyeknya
Kedua belah pihak yang melakukan perjanjian jual beli tersebut haruslah:
1) Berakal, agar dia tidak terkecoh. Orang yang gila atau bodoh tidak sah
jual belinya.
2) Dengan kehendaknya sendiri (bukan paksaan).
3) Keduanya tidak mubazir.
4) Baligh.
b. Tentang obyeknya
Yang dimaksud dengan obyek jual beli di sini adalah benda yang menjadi
sebab terjadinya jual beli. Benda yang dijadikan obyek jual beli ini
haruslah memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:
1) Bersih barangnya
Maksudnya bahwa barang yang diperjualbelikan bukanlah benda yang
dikualifikasikan sebagai benda najis, atau golongan sebagai benda
yang diharamkan.
h
2) Dapat dimanfaatkan
Pengertian barang yang dapat dimanfaatkan tentunya sangat relatif,
sebab pada hakikatnya seluruh barang dapat dimanfaatkan, seperti
untuk dikonsumsi, dinikmati keindahannya dan lain sebagainya.
Dalam ha1 ini yang dimaksud dengan barang yang bermanfaat adalah
bahwa kemanfaatan barang tersebut sesuai dengan ketentuan Syariat
Islam.
3) Milik orang yang melakukan akad
Orang yang melakukan perjanjian jual beli atas suatu barang adalah
pemilik sah barang tersebut atau telah mendapat izin dari pemilik sah
barahg tersebut.
4) Marnpu menyerahkannya
Pihak penjual dapat menyerahkan barang yang dijadikan obyek jual
beli sesuai dengan bentuk dan jumlah yang diperjanjikan pada waktu
penyerahan barang kepada pihak pembeli.
5) Mengetahui
Mengetahui di sini dapat diartikan secara lebih luas, yaitu melihat
sendiri keadaan barang baik hitungan, takaran, timbangan, atau kualitasnya, sedangkan menyangkut pembayaran, kedua belah pihak harus
mengetahui tentang jumlah pembayaran maupun jangka waktu
pembayaran.
140

HukmGadai Syariah

6) Barang yang diakadkan ada di tangan (dikuasai)


Mengenai perjanjian jual beli atas sesuatu yang belum ada di tangan
(tidak berada dalam penguasaan penjual) adalah dilarang, sebab bisa
jadi barang sudah rusak atau tidak dapat diserahkan sebagaimana telah
di perjanji kan.
c. Tentang lafaz
Lafaz harus sesuai dengan ijab dan qabul serta berhubungannya antara
ijab dan qabul tersebut. Dalam ha1 ini tempat akad harus bersatu atau
berhubungan antara ijab dan qabul. Menurut ketentuan syariat, bahwa
jika masa yang telah diperjanjikan untuk pembayaran utang telah terlewati, maka si berutang tidak mampu untuk mengembalikan pinjamannya,
hendaklah ia memberikan keizinan pada pemegang gadai untuk menjual
barang gadaian, dan seandainya izin ini tidak diberikan oleh si pemberi
gadai, maka si penerima gadai dapat meminta pertolongan hakim untuk
memaksa si pemberi gadai untuk melunasi utangnya atau memberikan
izin kepada si penerima gadai untuk menjual barang gadaian ter~ebut.~'
Jadi jika ditarik kesimpulan syarat sahnya gadai syariah adalah
Mengenai rukun dan sahnya akad gadai dijelaskan oleh Pasaribu dan ~ u b i s ~ '
sebagai berikut:
I. Adanya lafaz, yaitu pernyataan adanya perjanjian gadai.
Lafaz dapat saja dilakukan secara tertulis maupun lisan, yang penting di
dalamnya terkandung maksud adanya perjanjian gadai diantara para
pihak.
2. Adanya pemberi dan penerima gadai.
Pemberi dan penerima gadai haruslah orang yang berakal dan balig
sehingga dapat dianggap cakap untuk melakukan suatu perbuatan hukum
sesuai dengan ketentuan syari'at Islam.
3. Adanya barang yang digadaikan.
Barang yang digadaikan hams ada pada saat dilakukanperjanjian gadai
dan barang itu adalah milik si pemberi gadai, barang gadaian itu kemudian berada di bawah pengawasan penerima gadai.

"'
61

H. Chairurnan Pasaribu, Suhrawardi K. Lubis. Hukum Perjmjian Dalam Islam. Jakarta: Sinar
Grafika. 1994. hal. 1 15-1 16.
Ibid. H. Chaeruddin Pasaribu, Dm.. dan Suhrawardi K. Lubis. 1994. hat. 115-1 16

Pelaksanaan Gadoi W a h aleh Lembaga Pegodaian

141

'

4. Adanya utangl utang.


Utang yang terjadi haruslah bersifat tetap, tidak berubah dengan tambahan bunga atau mengandung unsur riba.
Mengenai barang (marhum) apa saja yang boleh digadaikan, dijelaskan dalam Kifayatul . ~ k h ~ a bahwa
r ~ * semua barang yang boleh dijualbelikan menurut syariah, boleh digadaikan sebagai tanggungan utang.
Aspek lainnya yang perlu mendapat perhatian dalam kaitan dengan
perjanjian gadai adalah yang menyangkut masalah hak dan kewajiban
masing-masing pihak dalam situasi dan kondisi yang normal maupun yang
tidak normal. Situasi dan Kondisi yang tidak normal bisa terjadi karena adanya peristiwa force mayor seperti perampokan, bencana alam, dan
sebagainya.
Pegadaian syariah sendiri, pada praktiknya tidak melakukan tinggitinggian harga pada mekanisme lelangnya. Hal ini didasarkan pada hadits
yang berbunyi Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dia berkata:
Rasulullah Saw.. melarang orang kota menjual sesuatu atas nama orazg
pedalaman (dalam rangka penipuan). Rasulullah Saw.. juga melarang
seseorang perra-pura menawar barang dengan harga tinggi untuk memikat
orang lain agar turut menawar, seseorang tidak boleh memperjualbelikan
sesuatu yang tnasih sedang dalam penawaran orang lain, seseorang tidak
boleh melamar perempuan yang s e d q dalam pinangan orang lain, dun
seseorang tidak boleh berupaya agar seorang laki-laki menceraikun istrinya
karena dia ingin menggantih istri yang diceraikan itueh3

3. Objek Lelang
Prinsip utama barang yang dapat dijadikan sebagai objek lelang adalah
barang tersebut harus halal dan bermanfaat. Dan yang menjadi objek lelang
di sini adalah barang yang dijadikan jaminan gadai (marhun) yang tidak bisa
ditebus oleh pemilik barang jaminan gadai (rahin).

4. Prosedur Pelelangan Barang Gadai


Jumhur fukaha berpendapat bahwa orang yang menggadaikan tidak boleh
menjual atau menghibahkan barang gadai. Sedangkan bagi penerima gadai

"'

H. Abdul Malik Idris. Drs.. dan H. Ahu Ahmadi. Drs.. Kifayatul Akhyar. 'I'eriemahan Kingkas Fiyil~
Islam Lengkap, Jakarta: Rineka Cipta 1990, hal. 143.
Imam Az- Zabidi. Ringkasan Hadits Shahih A1 Bukhari, Pustaka Amani, Jakarta. 2002 hadits nn.
2140

142

Hukum Godoi Syorioh

dibolehkan untuk menjual barang tersebut dengan syarat pada saat jatuh
tempo pihak penggadai tidak dapat melunasi k e ~ a j i b a n n ~ a . ~ ~
Jika terdapat persyaratan; menjual barang gadai pada saat jatuh
tempo, ha1 ini dibolehkan dengan ketentuan:
a. Murtahin harus terlebih dahulu mencari tahu keadaan rahin (mencari tahu
penyebab belum melunasi utang).
b. Dapat memperpanjang tenggang waktu pembayaran.
c. Kalau murtahin benar-benar butuh uang dan rahin belum melunasi
utangnya, maka murtahin boleh memindahkan barang gadai kepada
murtahin lain dengan seizin rahin.
d. Apabila ketentuan di atas tidak terpenuhi, maka murtahin boleh menjual
barang gadai dan kelebihan uangnya dikembalikan kepada rahin.
Sebelum penjualan marhun dilakukan, maka sebelumnya dilakukan
pemberitahuan kepada rahin. Pemberitahuan ini dilakukan paling lambat 5
hari sebelum tanggal penjualan melalui: surat pemberitahuan ke masingmasing alamat, dihubungi melalui telepon, papan pengumuman yang ada di
kantor cabang, informasi di kantor kelurahanlkecamatan (untuk cabang di
daerah).
Untuk mencegah adanya penyimpangan syariah dan pelanggaran
hak, norma dan etika dalam praktik lelang, Syariat Islam memberikan
panduan dan kriteria umum sebagai pedoman pokok yaitu di antaranya:
a. Tmnsaksi dilakukan oleh pihak yang cakap atas dasar saling sukarela
('antharadhin).
b. Objek lelang harus halal dan bermanfaat.
c. Kepemilikanl kuasa penuh pada barang yang dijual.
d. Kejelasan dan transparansi barang yang dilelang tanpa adanya manipulasi
e. Kesanggupan penyerahan barang dari penjual.
f. Kejelasan dan kepastian harga yang disepakati tanpa berpotensi menimbulkan perselisihan.
g. Tidak menggunakan cara yang menjurus kepada kolusi dan suap untuk
memenangkan tawaran.
Segala bentuk rekayasa curang untuk mengeruk keuntungan tidak
sah dalam praktik lelang dikategorikan para ulama dalam praktik nujuLW'v
(komplotanltrik kotor lelang), yang diharamkan Nabi Saw. (HR, Bukhari dan
Muslim), atau juga dapat dimasukkan dalam kategori Risywah (sogok) bila
penjual atau pembeli menggunakan uang, fasilhtas ataupun servis untuk
6.1

Ibid.. hal. 59.

P e l a k s ~ w nGadai Syuriah oleh Lembaga Pegadoion

143

memenangkan lelang yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria yang


dikehendaki.
5. Pelelangan Marhun
Ketentuan Umum Fatwa DSN yang memuat tentang lelanglpe~~jualan
marhun yakni Fatwa DSN No: 25lDSN-MU112002 bagian kedua butir 5
yaitu:
I. Apabila telah jatuh tempo, Murtahin (Pegadaian Syariah) harus memperingatkan Rahin (nasabah) untuk segera melunasi utangnya.
2. Apabila Rahin tetap tidak dapat melunasi utangnya, maka Marhun dijual
paksd dieksekusi melalui lelang sesuai syariah.
3. Hasil penjualan Marhun digunakan untuk melunasi utang, biaya pemeliharaan dan penyimpanan (Jasa simpan-pen.) yang belum dibayar serta
biaya penjualan (Bea Lelang Pembeli, Bea Lelang Penjual dan Dana
Sosial-pen.).
4. Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya
rnenjadi kewaj iban ahi in.^^
Dalam Pegadaian Syariah apabila rahin tidak mampu membayar
setelah dipGpanjang masa pembayaran marhun bih-nya dan tidak melakukan perpanjangan gadai lagi, atau pun saat jatuh tempo 4 bulan pertama
rahin menyatakan tidak sanggup memperpanjang pembayaran marhun bih
dan berkeinginan dilelang saja, maka marhun bih akan dilelang. Sebelum
melaksanakan penjualanlpelelangan itu, pihak Pegadaian Syariah akan
memberitahukan terlebih dahulu kepada nasabah, baik melalui kontak
langsung (lewat telepon1HP) maupun tidak langsung (melalui surat).
Pelelangan secara tertutup dengan~hargatertinggi, yang sebelumnya
diberitahukan dulu harga dasarnya. Hal ini dilakukan mengurangi adanya
unsur kerugian dengan ditetapkan minimal harga emas saat pelelangan,
dengan margin 2% untuk pembeli. Apabila pelelangan tertutup, harga
minimal yang ditetapkan Pegadaian Syariah tetap tidak laku dijual, pihak
Pegadaian sendiri yang membeli agar hasilnya dapat digunakan menutupi
utang dan biaya lain dari nasabah.
Menurut ~ a h l a n , 6penjualan
~
barang jaminan itu hak pemegang
gadai, yaitu apabila nasabah pada waktu yang ditentukan tidak memenuhi
kewajibannya sebagai yang berutang. Sedangkan hasil penjualan barang

"

Tim Penulis DSN-MUI. Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional . PT. 1ntermasa.ed. 2. Jakarta.
2003, ha1 155-1 59
Abdul Aziz Dahlan, Op. cit, 2000, ha1 383.

144

Hukum Gadai Syariah

jaminan itu diambil sebagian melunasi utang, dalam ha1 ini digunakan
'penjualan'. Namun, Pegadaian berkewajiban beri tahu nasabah sebelum
adakan jual barang gadai.
Sedangkan Susilo, Triandaru, dan an to so^^ mengatakan hasil pelelangan itu digunakan melunasi seluruh kewajiban nasabah yang terdiri dari:
pokok pinjaman, bunga, dan biaya lainnya dan sisanya dikembalikan
kepadanya, dalam ha1 ini istilah digunakan 'pelelangan'. Di samping itu,
harus dilakukan hal-hal:
(1) Pemilihan waktu yang tepat, agar tidak mengurangi hak nasabah, karena
setelah nasabah tidak melunasi utangnya pada saat jatuh tempo dan
tidak melakukan perpanjangan;
(2) Waktunya diumumkan 3 hari sebelum pelaksanaan pelelangan; dan
(3) Pengambilan keputusan lelang adalah bagi mereka yang menawar
paling tinggi (pelelangan secara terbuka).
Menurut Kasmir, bagi nasabah yang tidak dapat membayar pinjamannya, maka barang jaminannya akan dilelang secara resmi ke masyarakat luas, di mana hasil penjualan/pelelangan tersebut diberitahukan kepada
nasabah dan seandainya uang hasil penjualanlpelelangan setelah dikurangi
pinjaman d& biaya-biaya lainnya masih lebih, maka akan dikembalikan
kepada na~abah.~'
Dalam teori gadai syariah, menurut Jumhur Fukaha bahwa murtahin
dibolehkan 'menjual' marhun tersebut, dengan syarat saat jatuh tempo pihak
rahin tidak dapat atau tidak mampu melunasi kewajibannya. Sedang Al~ u s a i n i berpendapat
~~,
'penjualan' barang jaminan itu hak pemberi gadai
saat ia menuntut haknya, dikarenakan rahin tidak mampu mengembalikan
marhun bih-nya.
Basyir membolehkan ha1 itu, dengan 'menjual' barang jaminan pada
saat jatuh tempo, namun dengan syarat sebagai berikut:

1. Pemberi gadai harus mencari tahu keadaan nasabah atau mencari tahu
penyebab nasabah belum melunasi utangnya;
2. Nasabah diberikan kesempatan dapat memperpanjang tenggang waktu
pembayarannya; dan

"

''

Abdul Aziz Dahlan. Op. cit, 2000. ha1 383.


Susiolo, Triandaru. dan Santoso, Op. cit. hal. 18 1.
Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit. hal. 51.

Peloksonoon Godoi Syoriah oleh Lembogo Pegadoion

145

3. Apabila pemberi gadai benar-benar membutuhkan dana dan nasabah


belum melunasi pinjamannya, maka pemberi gadai dibolehkan menjual
barang gadai dan kelebihan uangnya dikembalikan kepada nasabah.
Sedangkan Suhendi, apabila pada waktu pembayaran yang ditentukan kepada nasabah belum melunasi marhun bih, maka hak murtahin
'menjual/melelang' marhun, pembelinya boleh pemberi gadai atau yang lain,
namun dengan harga umum berlaku waktu itu dari penjualan marhun
tersebut. Hak murtahin hanya sebesar piutangnya, dengan akibat apabila
harga jual barang jaminan lebih dari jumlah utang, maka sisanya hams
dikembalikan pada nasabah (rahin), dan apabila harga penjualan barang
jaminan kurang dari jumlah utang, maka penggadai (rahin) masih menanggung pembayaran kekurangannya.''
Dalam akad rahn, pihak pemberi pinjaman (murtahin) berhak
menguasai barang jaminan (marhun) sebagai jaminan utang (marhun bih)
dan penggadai (rahin) berkewajiban melunasi utangnya. Dalam ha1 melunasi
utangGa ini, maka pihak murtahin dapat melakukan pelelangan apabila ada
persyaratan:
I . Apabila pihak rahin tidak dapat melunasi marhun bih-nyq ataupun
2. Apabila pihak rahin~merasatidak mampu mengembalikan marhun bih
dan meminta pihak Pegadaian Syariah (murtahin) melelang/menjualkan;
ataupun
3. Apabila pihak rahin tidak berkeinginan memperpanjang gadainya;
Maka berdasarkan pendapat fukaha-jdaha itu, maka sebenarnya
tidak ada larangan 'menjualkad melelangkan' barang jaminan. Jadi di sini
istilah 'jual atau lelang' memiliki makna dan fungsi yang sama, karena yang
terpenting adalah:
I . Hasil pelelangan itu akan dijadikan menutup marhun bih, biaya
pelelangan, maupun biaya lainnya yang benar dikeluarkan dalam proses
pelelangan;
2. Apabila ada kelebihan, pihak Pegadaian Syariah harus mengembalikannya kepada nasabah; dan
3. Apabila ada kekurangan, pihak nasabah hams memberikan tambahannya
kepada Pegadaian Syariah.
Namun dalam proses pelelangan ini, pihak manajemen Pegadaian
Syariah mengambil kebijakan melakukannya terbatas hanya pada 3-4 orang

'

Hendi Suhendi, Fiqh Muamalah: Membahas Ekonomi Islam. Cexakan I , PT. RaiaGratindo Persada
Jakarta: 2002, hal. 110.

146

Hukum GodoiSyorioh

yang telah dipilih. Menurut manajemen karena pembeli-pembeli itu dianggap pembeli yang baik, sehingga dipilih turut serta dalam melakukan pelelangan yang dilakukan manajemen. Kebijakan manajemen seperti itu, karena
manajemen memahami bahwa yang terpenting dengan 'penjualan marhun'
itu, maka pinjaman nasabah dapat dilunasi melalui hasil penjualan itu, meski
dengan cara penjualan terbatas.
Kebijakan demikian, meski secara syariah tidak dilarang, namun
sebenarnya secara maslahah mursalah akan kurang menguntungkan pihak
manajemen Pegadaian Syariah sendiri. Hal ini karena memungkinkan 'harga
beli kurang optimal' oleh pembeli barang gadai yang dijual itu, karena
keterbatasan pembeli. Menirrut Hasan, I ha1 ini akan berbeda apabila pelelangan itu dilakukan melalui pelelangan 'terbuka', sehingga dengan
banyaknya pembeli akan terjadi 'hukum permintaan dan penmaran' yang
wajar, memungkinkan manajemen mendapatkan 'penawaran atau
pembelian' di atas harga pasar, apabila dibandingkan dengan proses
pelelangan dilakukan secara 'tertutup'. Apalagi dalam ha1 ini, manajemen
telah memiliki batas minimal 'mengeluarkan' barang gadai itu kepada pihak
pembeli, dan jika pembeli menawar dengan harga 'minimal atau harga dasar
jual' yang telah ditetapkan manajemen, apabila tidak ada kesepakatan
pembeli itu dengan harga yang telah ditentukan, manajemen sendiri yang
akan membeli agar rnarhun bih da;i nasabah dapat terbayarkan.
Pendapatan Pegadaian Syariah masih didominasi skim Garah dan
skim qardhul hasan (feelilbiaya yang sifatnya administratif). Pendapatan
lain, seperti jasa taksiran, galeri 24, dan jasa simpanan di luar ijarah secara
langsung belum diusahakan. Hal ini karena pihak manajemen belum siap
SDM-nya yang menangani kegiatan itu, di samping juga tidak adanya tempat
kegiatan itu.
Sedangkan skim bagi hasil sampai saat ini belum dapat terlaksana.
Kondisi itu karena berdasarkan hasil penelitian dengan pihak manajemen,
baik itu di tingkat cabang, di tingkat wilayah, maupun pusat Perum
Pegadaian (divisi syariah), dikarenakan adanya keterbatasan-keterbatasan
antara lain:
I. SDM Pegadaian masih kurang mengerti gadai sekaligus mengerti syariah;
2. Belum ada fatwa dari Dewan Syariah Nasional (DSN), sehingga pihak
manajemen belum berani melakukan inovasi baru untuk memasarkan
produk dengan skim baru, seperti skim bagi hasil ini;
3. Kurangnya gudangltempat tidak adafkecil yang dimiliki Pegadaian
Syariah, hingga masih terbatas menerima marhun yang tidak butuh
Pelaksanaan Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaian

147

'lokasiltempat' luas, yang ini biasanya dalam bentuk perhiasan (marhun


kantong), seperti yang selama ini sudah dioperasikan, emas, berlian, intan
maupun perak;
4. Adanya pemberian otonorni diberikan kantor Pusat "divisi syariah" pada
cabang Pegadaian Syariah sebagai kebijakan per lokal dalam mengarnbil
kebijakan termasuk membuat produk baru sebagai bagian dari
pendapatannya.
Namun jangka panjang, skim bagi hasil baik (pro@ loss sharing) itu
seharusnya mendapatkan perhatian manajemen Pegadaian Syariah, karena
bagaimana pun skim bagi hasil ini, baik akad mudharabah, musyarakah,
ba'i muqayyadah, maupun rahn sebagai ciri khas skim pembiayaan LKS,
sehingga apabila ha1 ini tidak ada dalam LKS, maka ruh dari LKS itu sendiri
akan hilang, yang berarti seperti Pegadaian konvensional lainnya.
Dari uraian di atas dapat dikemukakan bahwa .masih ada indikasi
praktik syariah dalam ha1 perhitungan waktu batas pembayaran pinjaman
dan tarif simpanan yang belum sesuai syariah. Sedang praktik gadai syariah
lain, seperti marhun terbatas pada emas; penggunaan marhun bih yang tidak
diteliti, apakah keperluan konsumtif atau produktif atau kegiatan lain di luar
syariah; akad yang digunakan terbatas pada akad qardhul hasan (biaya
administrasi) dan ijarah (jasa simpanan); dan proses pelelangan marhun
yang terbatas; agar diperhatikan kembali guna kemaslahatan nasabah dan
Pegadaian Syariah sendiri.
Oleh karena itulah, Pegadaian Syariah perlu mengambil konsurnen
tertentu dalam pemberian pembiayaan agar dapat bersaing dengan LKS yang
sudah dulu berkembang, seperti bank syariah yang memang berkompeten
dalam pembiayaan. Dengan memiliki pasar khusus, diharapkan Pegadaian
Syariah dapat mengelola usahanya secara profesional dan tidak bertentangan
dengan prinsip syariah.
Dalam upayanya terus berkembang dan eksis, serta mendapatkan
revenue lebih tinggi, maka Pegadaian Syariah hams tetap memperhatikan
rambu syariah. Karenanya, keberadaan Dewan Pengawas Syariah sangat
diperlukan secara langsung berada di Pegadaian syariah ini sehingga tidak
saja akan memberikan warning, guide line tentang produk yang mau dikeluarkan Pegadaian Syariah. Namun juga akan memberikan keefektifan dan
keefisienan dalam mekanisme operasionalisasi Pegadaian Syariah sendiri.
Hasil Pegadaian Syariah, saat ini masih didominasi skim ijarah dan
skim qardhul hasan. Hal ini tidak berbeda dengan yang didapatkan
Pegadaian konvensional, bahkan masih lebih baik, karena Pegadaian
148

a-

HukurnGodoi Syarioh

konvensional sudah mengembangkan produknya, seperti galeri 24; produk


tersendiri ijarah, seperti penitipan mobil, perhiasan, surat berharga; dan jasa
taksiran. Namun, karena Pegadaian konvensional masih memposisikan
sebagai pihak pasif dalam ha1 ini, karena tidak terlibat dengan aktivitas
bisnis nasabah.
Karenanya, mestinya Pegadaian Syariah memanfaatkan peluang
yang dimiliki yang selama ini belum dimiliki Pegadaian konvensional, yaitu
sistem bagi hasil (ciri khas LKS), baik skim mudharabah, ba 'i muqayyadah,
rahn, maupun musyarakah dengan tidak meninggalkan skim yang sudah ada,
yaitu skim ijarah dan qardhul hasan. Artinya dengan skim bagi hasil ini,
maka mengharuskan Pegadaian Syariah terlibat dalam menelaah usaha
produktif yang ditekuni nasabah, juga digunakan sebagai media pembinaan
usaha dan pembinaan mental (etika berbisnis secara Islam). Hal ini terutama
untuk pengusaha kecil, seperti pemilik warung, perajin, konveksi di kioskios pasar yang memiliki prospek.
Karena berbisnis dalam Islam tidak hanya bersifat 'keuntungan
materi', namun juga harus diniati bagian dari ibadah 'keuntungan non
materi'. Dengan alternatif cara pembiayaannya:
1. Skim ba$ hasil, sumber dananya dapat berasal dari Pegadaian Syariah
sendiri, namun dapat juga adakan sinergi dengan LKS lainnya, sepel-ti
bank dan asuransi. Dimana dalam sinergi ini, apabila Pegadaian Syariah
tidak sanggup biayainya, maka bank syariah dapat menjadi shahibul maul
(penyadang dana), sedang operasionalnya Pegadaian Syariah (terutama
SDM yang berkompeten dengan skim bagi hasil ini), apabila perlu dapat
belajar dari bank syariah yang berpengalaman dalam skim pem biayaan
bagi hasil ini. Guna menjamin keamanan dan kelancaran dana yang
dikeluarkan, maka Pegadaian Syariah dapat meminta asuransi syariah
tertentu menjadi penjaminnya.
2. Skim qardhul hasan dan ijarah tetap dipertahankan dengan sumber
dananya berasal dari return Pegadaian Syariah yang disisihkan, sisa hasil
jual marhun yang tidak diambil dan dana yang diberikan perorangant
lembaga dalam bentuk ZIS, teri~tamadari ZIS perusahaan dan karyawan
Pegadaian sendiri.
Adanya ketidakjelasan dan masih belum mempunyai manajemen
Pegadaian Syariah dalam melakukan mekanisme operasionalnya sesuai
syariah secara optimal, salah satunya betum adanya 'fatwa khusus' tentang
gadai syariah, dimana saat ini masih mengikuti peraturan perbankan syariah.
Karenanya, dimungkinkan dengan adanya fatwa ini diharapkan manajemen
Pelaksanaan Gadoi Syariah oleh Lembaga Pegadaian

149

Pegadaian Syariah tidak perlu ragu lagi dalam mengambil suatu kebijakan di
masa yang akan datang, sehingga antara Pegadaian Syariah dan nasabah
saling menguntungkan dan terhindar dari hal-ha1 yang dilarang syariah.
Kekurangan SDM dalam melakukan operasionalnya menyebabkan
ha! ini jadi salah satu penghambat akad bagi hasil sebagai 'ciri khas' sistem
LKS. Karenanya, pihak Pegadaian Syariah dapat melaksanakannya dengan
menjalin kerjasama dengan mahasiswa maupun organisasi yang berkompeten dengan pemberdayaan pengusaha kecil. Hal ini akan memberikan
manfaat ganda. Pertama, bagi mahasiswa akan dijadikan media
'pembelajaran' sebelum nantinya terjun dalarn dunia kerja nantinya. Kedua,
bagi organisasi sosial-ekonomi akan dapat dijadikan media implementasi
program kerja dan bidang yang memang ditekuninya untuk membantu
negara dalam meningkatkan dan memberdayakan kegiatan ekonomi kecil
(empowerman). Ketiga, bagi Pegadaian Syariah sebagai media
'pembelajaran' untuk membantu memberdayakan nasabahnya pada saatnya
nanti, ketika mahasiswa maupun organisasi sosial-ekonomi itu sudah lepas
dari kerjasama, disamping mengatasi kelangkaan SDM untuk jangka pendek
dan menengah. Semua itu untuk membangun masyarakat madani diridhoi
Allah SWT:
G. Mekanisme dan Prosedur Pengoperasionalan Gadai Syariah
Mekanisme operasional gadai syariah sangat penting untuk diperhatikan,
karena jangan sampai operasional gadai syariah tidak efektif dan efisien.
Mekanisme operasional gadai syariah haruslah tidak menyulitkan calon
nasabah yang akan meminjam uang atau akan melakukan akad utangpiutang.
Akad yang dijalankan, termasuk jasa dan produk yang dijual juga
hams selalu berlandaskan syariah (al-Qur'an, al-Hadist, dan ljma Ulama),
dengan tidak melakukan kegiatan usaha yang mengandung unsur ribu',
maisir, dan gharar. Oleh karena itu, pengawasannya harus melekat, baik
internal terutama keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) sebagai
penanggung jawab yang berhubungan dengan aturan syariahnya dan eksternal maupun eksternal Pegadaian syariah, yaitu masyarakat Muslim utamanya, serta yang tidak kalah pentingnya adanya perasaan selalu mendapatkan
pengawasan dari yang membuht aturan syariah itu sendiri, yaitu Allah Swt.

150

HukmGadai Syoriah

1. Pedoman Pengoprasionalan Gadai Sysriah

Mekanisme operasional gadai syariah sangat penting untuk diperhatikan,


karena jangan sampai operasional gadai syariah tidak efektif dan efisien.
Mekanisme operasional gadai syariah haruslah tidak menyulitkan calon
nasabah yang akan meminjam uang atau akan melakukan akad utangpiutang.
Akad yang dijalankan, termasuk jasa dan produk yang dijual juga
harus selalu berlandaskan syariah (al-Qur'an, al-Hadist, dan Ijma Ulama),
dengan tidak melakukan kegiatan usaha yang mengandung unsur riba',
maisir, dan gharar. Oleh karena itu, pengawasanya harus melekat, baik
internal terutama keberadaan Dewan Pengawas Syariah (DPS) sebagai
penanggung jawab yang berhubungan dengan aturan syariahnya dan eksternal maupun eksternal Pegadaian syariah, yaitu masyarakat Muslim utamanya, serta yang tidak kalah pentingnya adanya perasaan selalu mendapatkan
pengawasan dari yang membuat aturan syariah itu sendiri, yaitu Allah Swt.
Implementasi operasi pegadaian syariah hampir bermiripan dengan
pegadaian konvensional. Perbedaan mendasar antara pegadaian konvensional dengan pegadaian syariah terletak pada pengenaan biaya. Pada pegadaian
konvensional, biaya adalah bunga yang bersifat akumulatif dan berlipat
ganda. Namun, pada pegadaian syariah, biaya ditetapkan sekali dan dibayarkan di muka yang ditujukan untuk penitipan, pemeliharaan, penjagaan, dan
penaksiran.7' Seperti halnya pegadaian konvensional, pegadaian syariah juga
menyalurkan uang pinjaman dengan jaminan benda bergerak. Prosedur
untuk memperoleh kredit gadai syariah sangat sederhana, masyarakat hanya
menunjukkan bukti identitas diri dan barang bergerak sebagai jaminan, uang
pinjaman dapat diperoleh dalam waktu yang relatif tidak lama. Begitupun
untuk melunasi pinjaman, nasabah cukup dengan menyerahkan sejumlah
uang dan surat bukti rahn saja dengan waktu proses yang sangat singkat.
Pegadaian dalam memberikan pinjaman harus ada benda jaminan
(bur@ dari debitur. Apabila debitur tidak dapat melunasi pinjamannya, maka
kreditur dalam ha1 ini pegadaian syariah berhak melelang benda jaminan
(burg) dari debitur. Pada kenyataannya, tidak semua benda jaminan ditebus
oleh debitur.
Benda yang tidak ditebus oleh debitur kemudian dilelang oleh pegadaian. Pengelolaannyapun tidak terlepas dengan adanya perrnasalahan
seperti kesulitan mencari nasabah yang mempunyai barang jaminan yang

Pelaksnnoan Gadai Syarioh oleh Lembogo Pegodoian

151

akan dilelang, barang yang tidak laku karena penawaran lebih rendah dari
pinjaman maupun barang dengan taksiran terlalu tinggi.
Adanya unsur keadilan dan tidak menzhalimi sangat diperlukan
dalam proses penggadaian sampai pelelangan. Pelelangan merupakan pola
penyelesaian eksekusi marhun (barang jaminan gadai) yang telah jatuh
tempo dan akhirnya tidak ditebus oleh rahin. Pelelangan sendiri menjadi
minat tersendiri bagi masyarakat karena harga yang ditawarkan sesuai
dengan taksiran barang second yang ada di pasar dan mungkin ada barang
yang sulit dicari di pasar kemudian barang tersebut ada dan dilelang di
pegadaian tersebut. Pelelangan benda jaminan gadai (marhun) di pegadaian
syariah dilakukan dengan cam marhun dijual kepada nasabah, dan nantinya
marhun diberikan kepada nasabah yang melakukan kesepakatan harga
pertama kali.
Hal ini tentunya sangat berbeda dengan sistem pelelangan yang
dilakukan pada pegadaian konvensional, di mana marhun diberikan kepada
nasabah yang berani menawar dengan harga yang paling tinggi. Perbedaan
sistem pelelangan di pegadaian syariah inilah yang mendorong peneliti untuk
melakukan penelitian di pegadaian syariah. Dalam penelitian ini, peneliti
mengambil ' Pegadaian Syariah Mlati Sleman, Jogjakarta sebagai objek
penelitian, karena pegadaian ini merupakan salah satu pegadaian syariah di
Jogjakarta yang menerapkan pelelangan dengan sistem penjualan marhun.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti tertarik untuk menganalisis
pelelangan benda jaminan gadai pada Pegadaian Syariah Cabang Mlati.
Sleman. Jogjakarta serta kesesuaian implementasinya dengan. Fatwa DSN
No: 25lDSN-MUI/III/2002 bagian kedua butir 5b yang mengatur tentang
penjualan marhun.
Pedoman Operasional Gadai Syariah (POGS) Perum Pegadaian,
pada dasarnya dapat melayani produk dan jasa sebagai berikut:
1. Pemberian pinjaman atau pembiayaan atas dasar hukum gadai syariah
(rahn), yaitu pegadaian syariah mensyaratkan penyerahan barang gadai
oleh nasabah (rahin) untuk mendapatkan uang pinjaman, yang besarnya
sangat ditentukan oleh nilai barang yang digadaikan. Konsekuensinya
bahwa jumlah pinjaman yang diberikan kepada masing-masing peminjam
sangat dipengaruhi oleh nilai barang bergerak dan tidak bergerak yalig
akan digadaikan.
Barang yang akan ditaksir pada dasarnya, meliputi semua barang bergerak dan tidak bergerak yang dapat digadaikan. Jasa taksiran diberikan
kepada mereka yang ingin mengetahui kualitas, terutama perhiasan,
152

HukumGadai Syariah

seperti: emas, perak, dan b e r ~ i a n Masyarakat


.~~
yang memerlukan jasa ini,
biasanya dengan ingin mengetahui nilai jual wajar atas barang berharganya yang akan dijual. Atas jasa penaksiran yang diberikan, gadai syariah
memperoleh penerimaan dari pemilik barang berupa ongkos penaksiran
2. Penaksimn nilai barang, yaitu pegadaian syariah memberikan jasa penaksiran atas nilai suatu barang yang dilakukan oleh calon nasabah (rahin).
Demikan juga orang yang bermaksud menguji kualitas barang yang
dimilikinya saja dan tidak hendak menggadaikan barangnya. Jasa itu
diberikan karena pegadaian syariah mempunyai alat penaksir yang
keakuratannya dapat diandalkan, serta sumber daya manusia yang
berpengalaman dalam menaksir. Untuk jasa penaksiran ini hanya
memungut biaya penaksiran.
Barang yang akan ditaksir pada dasarnya, meliputi semua barang bergerak dan tidak bergerak yang dapat digadaikan. Jasa taksiran diberikan
kepada mereka yang ingin mengetahui kualitas, terutama perhiasan,
Masyarakat yang memerlukan jasa ini,
seperti: emas, perak, dan ber~ian.~'
biasanya dengan ingin mengetahui nilai jual wajar atas barang berharganya yang akan dijual. Atas jasa penaksiran yang diberikan, gadai syariah
memperoleh penerimaan dari pemilik barang berupa ongkos penaksiran
3. Penitipan barang (ijarah), yaitu menyelenggarakan penitipan barang
(ijurah) orang-orang yang mau menitipkan barang ke kantor pegadaian
syariah berdasarkan pertimbangan keamanan dan alasan-alasan tertentu
lainnya. Usaha ini dapat dijalankan oleh karena pegadaian syariah memiliki tempat dan gudang penyimpanan barang yang memadai. Apalagi
mengingat tempat penyimpanan untuk barang gadai tidak selalu penuh,
sehingga ruang kosong dapat digunakan. Atas jasa penitipan dimaksud,
pegadaian syariah dapat memungut ongkos penyimpanan.
Gadai syariah dapat menyelenggarakan jasa penitipan barang (ijurah),
karena perusahaan ini mempunyai tempat penyimpanan barang bergerak,
yang cukup memadai. Gudang dan tempat penyimpanan barang bergerak
lain milik gadai syariah, terutama digunakan menyimpan barang yang
digadaikan. Mengingat gudang dan tempat penyimpanan lain ini tidak
selalu dimanfaatkan penuh, maka kapasitas menganggur tersebut dapat
dimanfaatkan untuk memberikan jasa lain, berupa penitipan barang. Jasa

71

Sony Hem Priyanto. Pegadaian Menuju Era Stick lo the Customer. Mqalah Usahman. No. 10
Tahun XXVl Oktober 1997: Jakarta, hal. 47.
Sony Hem Priyanto, Pegadaian Menuju Era Slick lo the Cus~omer.M+ah
Usohmvan. No. 10
Tahun XXVl Oktober 1997: Jakarta, hat. 47.
.

Peloksonaon Godai Syarioh oleh Lembago Pegadaian

153

titipan/penyimpanan, sebagai fasilitas pelayanan barang berharga dan


lain-lain agar lebih aman, seperti: baranglsurat berharga (sertifikat motor,
tanah, ijazah, dll.) yang dititipkan di Pegadaian syariah. Fasilitas ini
diberikan kepada pemilik barang yang akan bepergian jauh dalarn waktu
relatif lama atau karena penyimpanan di rumah dirasakan kurang aman.74
Atas jasa penitipan yang diberikan, gadai syariah memperoleh penerimaan dari pemilik barang berupa ongkos penitipan.75
4. Gold Counter (Gerai Emas), yaitu tempat penjualan emas yang menawarkan keunggulan kualitas dan keaslian. Gerai ini mirip dengan gerai emas
Galeri 24 yang ada di pegadaian konvensional. Emas yang dijual di gerai
ini dilengkapi dengan sertifikal jaminan, sehingga dapat memikat warga
masyarakat kalangan menengah ke atas.
Jasa ini menyediakan fasilitas tempat penjualan emas eksekutif yang terjamin sekali kualitas dan keasliannya. Gold counter ini semacam toko
dengan emas Galeri 24, setiap perhiasan masyarakat yang dibeli di toko
perhiasan milik pegadaian akan dilampiri sertifikat jaminan, untuk
mengubah image dengan mencoba menangkap pelanggan kelas
menengah ke atas. Dengan sertifikat itulah masyarakat akan merasa yakin
dan terjamin keaslian dan kualitasnya dan ~ a i n - l a i n . ~ ~
Namun, menurut Abdullah ~ a e e d : ~2 produk yang berbasis proJit
loss sharing (PLS), yaitu mudharabah dan musyarakah su 1it untuk d iterapkan, yang masih menduduki 0-30 % usaha bisnis pembiayaan. Hal ini berdasarkan penelitiannya terhadap yang beroperasi di Timur Tengah,
membuktikan bahwa LKS enggan menjalankan kedua produk skim PLS itu,
karena risiko yang mungkin diterimanya sangat tinggi, sehingga suatu risiko
yang bersama dengan berjalannya waktu, telah memaksa LKS untuk
'merenovasi' bentuk dan isi mudaharabah dan musyarakah dengan skim
murabahah (qardhul hasan dun ijarah), yang bisnis ini nyaris tan pa risi ko,
suatu model jual beli yang pihak pernbeli -karena satu dan lain hal- tidak
dapat membeli langsung barang yang diperlukannya dari pihak penjual,
sehingga ia memerlukan perantara untuk dapat membeli dan mendapatkannya. Dalam proses ini, si perantara biasanya menaikkan harga sekian persen

74
7%
76

77

Sony Priyanto, Op, cit, hat. 48.


Susilo, Y. Sri; Sigit Triandaru; dan A. Totok Budi Santoso. Op. cit, hal. 182-1 83.
Susilo, Y. Sri; Sigit Triandaru; dan A. Totok Budi Santoso, Op. cit. hat. 183.
Arif Mafiuhin. dalam Kata Pengantar, Abdullah Saeed: Islamic Banking and Interest: Sru& of Rihu
und Its Contemporary Interpretation, Arif Mafiuhin (Penterjemah), Cetakan 1. Paramadina Jakarta:
2004. hal. Ix.

154

HukumGadai Syariah

dari harga aslinya- sehingga berbeda jauh dengan apa yang dapat ditemukan
dalam j q h (representasi historis hukum Islam).
Ketentuan-ketentuan yang terkait dengan sistem dan prosedur
pemberian pinjaman, pelunasan pinjaman antara lain adalah:
1. Syarat-syarat Pemberian Pinjaman
Dalam memberikan pinjaman, pihak pegadaian memberikan syarat-syarat
tertentu yang harus dipenuhi oleh peminjam. Adapi~n syarat-syarat
tersebut adalah:
a. Marhun mil ik sendiri.
b. Fcto copy tanda pengenal.
c. Marhun memenuhi persyarat-anmenurut ketentuan.
d. Surat kuasa dari pemilik barang, jika dikuasakan dengan disertai
materai dan KTP asli pemilik barang. Jika pemilik tidak bisa hadir.
e. Mengisi dan menandatangani Formulir Permintaan Pinjaman (FPP).
f. Menandatangani akad rahn dan ijarah dalam Surat Bukti Rahn (SBR).
2. Kategori dan jenis marhun yang dapat diterima sehagai jaminan
a. Barang-barang perhiasan emas atau berlian.
b. Kendiraan bermotor, seperti mobil (sesuai dengan ketentuan yang
berlaku).
c. Barang-barang elektronik, seperti televisi, radio, tape, mesin cuci,
kulkas, dan lain-lain.
Pada dasarnya semua marhun, baik bergerak maupun tak bergerak,
dapat digadaikan sebagai jaminan dalam gadai syariah. Namun, menurut Basyir yang memenuhi syarat sebagai berikut: 78
1) Merupakan benda bernilai menurut hukum syara';
2) Sudah ada wujudnya ketika perjanjian terjadi;
3) Mungkin diserahkan seketika kepada murtahin.
Adapun menurut Syafi'iyah bahwa barang yang dapat digadaikan itu
berupa semua barang yang boleh dijual. Menurut pendapat ulama
yang rajih (unggul) bahwa barang-barang tersebut harus memiliki 3
(tiga) syarat, yaitu:79
I) Berupa barang yang benvujud nyata di depan mata, karena barang
nyata itu dapat diserahterimakan secara langsung;

'
''

A.A. Basyir, Hukum Islam Tentang Riba. Utang-Piutang Gadai. Al-Ma'arif. Bandung: 1983. hlm. 52.
dalam Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit. ha1 82.
Al-Imam Taqiyuddin Husain, Kafayrrhrl Akhpr, Alih Bahasa Achmad Zaidun dan A. Ma'ruf Asrori,
Jilid 2. PT. Bina Ilmu, Surabaya: 1997, dalam Ibid, ha1 83.

Pelaksanaan Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaian

155

2) Barang tersebut menjadi milik rahin, karena sebelum tetap barang


tersebut tidak dapat digadaikan;
3) Barang yang digadaikan harus berstatus sebagai piutang bagi
pemberi pinjaman.

Berdasarkan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa kategori marhun


dalarn sudut hukum Islam tidak hanya berlaku bagi barang bergerak
saja, namun juga meliputi barang yang tidak bergerak dengan catatan
barang tersebut dapat dijual.
Namun, mengingat keterbatasan tempat penyimpanan, keterbatasan SDM di Pegadaian syariah, perlunya meminimalkan risiko yang
ditanggung gadai syariah, serta mempeihatikan peraturan yang
berlaku, maka ada barang tertentu yang tidak dapat digadaikan.
Barang yang tidak dapat digadaikan itu, antara lain:
1) Surat utang, surat aksi, surat efek, dan surat-surat berharga lainnya;
2) Benda-benda yang untuk menguasai dan memindahkannya dari
satu tempat ke tempat lainnya memerlukan izin;
3) Benda yang hanya berharga sementara atau yang harganya naik
tuFn dengan cepat, sehingga sulit ditaksir oleh petugas gadai.80

3. Penggolongan Marhun
Pembagian golongan marhun didasarkan pada pembagian level tanggung
jawab penentuan taksiran:
a. Golongan A dilaksanakan oleh Penaksir Y unior
b. Golongan B dan C oleh Penaksir Madya
c. Golongan D dan E oleh penaksir SeniodManajer Cabang
4. Pemeliharaan Marhun
Menurut Basyir, ulama berbeda pendapat dalam ha1 ini. Lllama Syafi'iyah
dan Hanabilah berpendapat bahwa biaya pemeliharaan marhun menjadi
tanggungan rahin, dengan alasan bahwa barang tersebut berasal dari
rahin dan tetap menjadi miliknya. Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa biaya yang diperlukan untuk menyimpan dan memelihara
keselamatan marhun menjadi tanggungan murtahin dalam kedudukannya
sebagai orang yang menerima amanah. Kepada rahin hanya dibebankan
perbelanjaan marhun agar tidak berkurang potensinya.8'

"
''

Mariam Darus, 1987 hlm. 37, dalam Suhrawardi K. Lubis, Hukum Ekonomi Islam. Edisi I. Cetakan
2. Sinar Grafika. Jakarta: 2000. hal. 1 10.
A.A. Basyir. Op. cit. hlm. 58. dalam Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit. ha1 83.

156

Hukum Gadai Sywioh

Berdasarkan pendapat tersebut, maka pada dasarnya biaya pemeliharaan


marhun adalah hak bagi rahin dalam kedudukannya sebagai pemilik yang
sah.
Namun apabila marhun menjadi kekuasaan murtahin dan murtahin
diizinkan untuk memelihara marhun, maka yang menanggung biaya
pemeliharaan harhun adalah murtahin. Sedangkan untuk mengganti
biaya pemeliharaan tersebut, apabila diizinkan rahin, maka murtahin
dapat memungut hasil marhun sesuai dengan biaya pemeliharaan yang
telah dikeluarkannya. Namun apabila rahin tidak mengizinkannya, maka
biaya pemeliharaan yang telah dikeluarkan murtahin menjadi utang rahin
kepada m~rtahin.'~ -

5. Risiko atas Kerusakan Marhun


Risiko atas hilang atau rusaknya marhun, ulama Syafi'iyah dan
Hanabilah berpendapat bahwa murtahin tidak menanggung risiko apapun
apabila kerusakan atau hilangnya marhun tersebut tanpa disengaja.
Sedangkan ulama Hanafiyah berpendapat bahwa murtahin menanggung
risiko sebesar harga marhun minimum, dihitung mulai waktu diserahkannya marhw ke murtahin sampai hari rusak atau hilangnya.'hedangkan
menurut Basyir, apabila marhun rusak atau hilang disebabkan kelengahan
murtahin, maka dalam ha1 ini tidak ada perbedaan pendapat, bahwa
murtahin harus menanggung risiko, memperbaiki kerusakan atau
mengganti yang hilang.
6. Pemanfaatan Marhun
Pada dasarnya menurut Khalil Umam, marhun tidak boleh diambil
manfaatnya, baik oleh rahin maupun murtahin. Hal ini disebabkan status
marhun tersebut hanya sebagai jaminan utang dan sebagai amanah bagi
murtahin. Namun apabila mendapatkan izin dari kedua pihak yang
bersangkutan, yaitu rahin dan murtahin, maka marhun itu boleh diman*
faatkan. Namun harus diusahakan agar dalam akad gadai itu tercanturn
ketentuan bahwa apabila rahin atau murtahin meminta izin untuk
memanfaatkan marhun, maka hasilnya menjadi milik bersama. Ketentuan
itu dimaksudkan untuk menghindari harta benda tidak berfungsi atau
m~badzir.'~

82

''

Sayyid Sabiq, Op. c i t hlm. 144. dalam Ibid, ha1 83.


Ibid. cit, hal. 84.
Khalil Umam. Agama Menjawab tentang Berbagai Masalah Abad Modem. Ampel Suci. Surabaya:
1994, hlm. 19 dalam Muhammad dan Solikhul Hadi, Op. cit, ha1 84.

Pelaksonoon Godoi Syoriah oleh Lembago Pegadaian

157

Dalam keadaan normal hak dari rahin setelah melaksanakan kewajibannya adalah menerima ilang pinjarnan dalam jumlah yang sesuai dengan
yang disepakati dalam batas nilai jaminannya, sedang kewajiban rahin
adalah.. menyerahkan barang jaminan yang nilainya cukup untuk jumlah
utang yang dikehendaki. Sebaliknya hak dari murtahin adalah menerima
barang jaminan dengan nilai yang aman untuk uang yang akan dipinjamkannya., sedang kewajibannya adalah menyerahkan uang pinjaman sesuai
dengan yang disepakati bersama.
Setelah jatuh tempo, rahin berhak menerima barang yang menjadi
tanggungan utangnya dan berkewajiban membayar kembali utangnya dengan
sejumlah uang yang diterima pada awal perjanjian utang. Sebaliknya
murtahin berhak menerima pembayaran utang sejumlah uang yang diberikan
pada awal perjanjian utang, sedang kewajibannya adalah menyerahkan
barang yang menjadi tanggungan utang rahin secara utuh tanpa cacat.
Di atas hak dan kewajiban tersebut di atas, kewajiban murtahin
adalah memelihara barang jaminan yang dipercayakan kepadanya sebagai
barang amanah, sedang haknya adalah menerima biaya pemeliharaan dari
rahin. Sebaliknya rahin berkewaj iban membayar biaya pemel iharaan yang
dikeluarkan inurtahin, sedang haknya adalah menerima barang yang menjadi
tanggungan utang dalam keadaan utuh. Dasar hukum siapa yang menanggung biaya pemeliharaan dapat dirujuk dari pendapat yang didasarkan
kepada Hadits Nabi riwayat A1 - Syafi'l, A1 - Ataram, dan A1 - Darulquthni
dari Muswiyah bin Abdullah Bin Ja'far "la (pemilik barang gadai) berhak
menikmati hasilnya dan wajib memikul bebannya (beban pemeliharaannya)11,8'
Di tempat lain terdapat penjelasan bahwa apabila barang jaminan itu
diizinkan untuk diambil manfaatnya selama digadaikan, maka pihak yang
memanfaatkan itu berkewajiban membiayainya. Hal ini sesuai dengan Hadits
Rasullullah Saw. Dari Abu Hurairah, berkata, sabda Rasullulah Saw.
"Punggung (binatang) apabila digadaikan, boleh dinaiki asal dibiayai. Dan
susu yang deras apabila digadaikan, boleh juga diminum asal dibiayai. Dan
orang yang menaiki dan meminum itulah yang wajib membiayai." (HR. Al-.
~ukhari)~~.

"
%
I!

Masjfuk Zuhdi, Drs., Masail Fiqhiyah. Kapita Selekta Hukum Islam, CV. Haji Masagung. Jakarta.
1989, hal. 156.
Thahir Abdul Muhsin Sulaiman. Menanggulangi Krisis Ekonomi Secara Islam, terjemahan Anshori
Umar Sitanggal dari Haajul Musykilah Al-lqtisshaadiyah fil-Islam, Al-Ma'arif, Bandung, 1985, hal.
180.

158

HukmGadai Syariah

Dalam keadaan tidak normal dimana barang yang dijadikan jaminan


hilang, rusak sakit atau mati yang berada diluar kekuasaan murtahin tidak
menghapuskan kewajiban rahin melunasi utangnyas7. Namun dalam praktik
pihak murtahin telah mengambil Ipngkah-langkah pencegahan dengan
menutup asuransi kerugian sehingga dapat dilakukan penyelesaian yang adil.
Mengenai pemilikan barang gadai,an, berdasarkan berita dari Abu
Hurairah perjanjian gadai tidak meagubah pemilikan walaupun orang yang
berutang dan menyerahkan barang jaminan itu tidak mampu melunasi
utangnya
Berita dari Abu Hurairah, sabda Rasullulah Saw., "Barang jaminan
tidak bisa tertutup dari pemiliknya yang telah menggadaikannya. Dia tetap
menjadi pemiliknya dan dia tetap berutang".88
Pada waktu jatuh tempo apabila rahin tidak mampu membayar
utangnya dan tidak memgizinkan murtahin menjual barang gadaiannya, maka
hakimtpengadilan dapat memaksa pemilik barang membayar utang atau
menjual barangnya. Hasil penjualan apabila cukup dapat dipakai untuk
menutup utangnya, apabila lebih dikembalikan kepada pemilik barang tetapi
apabila kurang pemilik barang tetap harus menutup k e k ~ r a n ~ a n n ~ a . ' ~
Dalarn ha1 orang yang menggadaikan meninggal dan masih menanggung utang, maka penerima gadai boleh menjual barang gadai tersebut
dengan harga umum. Hasil penjualan apabila cukup dapat dipakai untuk
menutup utangnya, apabila lebih dikembalikan kepada ah1i war is tetapi
apabila kurang ahli waris tetap hams menutup kekurangannya atau barang
gadai dikembalikan kepada ahli waris setelah, melunasi utang almarhum
pemilik baranggO.
Dari ketentuan-ketentuan yang tersedia dapat disimpulkan bahwa
barang gadai sesuai syariah adalah merupakan pelengkap belaka dari konsep
utang piutang antara individu atau perorangan. Konsep utang piutang sesuai
dengan syariat menurut Muhammad Akram Khan adalah merupakan salah
satu konsep ekonomi Islam dimana bentuknya yang lebih tepat adalah alqardhul hassan. Utang piutang dalam bentuk alqardhul hassan dengan

"
"
"
'

H. Abdul Malik Idris. Drs.. dan H. Abu Ahmadi, Drs.. Kifayatul Akhyar. 'rerjemahan R~ngkasFiqih
Islam Lengkap, Rineka Cipta Jakarta, 1990, hal. 143
Thahir Abdul Muhsin Sulaiman, Menanggulangi Krisis Ekonomi Secara Islam, terjemahan Anshori
Umar Silanggal dari Haajul Musykilah Al-lqtisshaadiyah fit-Islam. Al-Ma'arif. Bandung. 1085. hat
180.
MMasjk Zuhdi. Dm.. Masail Fiqhiyah, Kapita Selekta Hukum Islam. CV. Haji Masagung. Jakarta.
1989. hal. 156
H. Abdul Malik Idris, Drs.. dan H.Abu Ahmadi, Dm.. Yifayatul Akhyar. 'Terjemahan Ringkas FlQlH
ISLAM LENGKAP, Rineka Cipta, Jakarta, 1990, hal. 144

Peloksonaan Gadai Syariah oleh Lernbaga Pegadaian

159

dukungan gadai (rahn), dapat dipergunakan untuk keperluan sosial maupun


komersial. Peminjam mempunyai dua pilihan, yaitu: dapat memilih qardhul
hassan atau menerima pemberi pinjaman atau penyandang dana (rabb alma0 sebagai mitra usaha dalam perjanjian mudharabahg'.
Di dalam bentuk al-qardhul hassan ini utang yang terjadi wajib
dilunasi pada waktu jatuh tempo tanpa ada tarnbahan apapun yang disyaratkan (kembali pokok). Peminjam menanggung biaya yang secara nyata terjadi
seperti biaya penyimpanan dll., dan dibayarkan dalam bentuk uang (bukan
prosentase). Peminjam pada waktu jatuh tempo tanpa ikatan syarat apapun
boleh menambahkan secara sukarela pengembalian utangnya. Apabila
peminjam memilih qardhul hassan, rabb al-mal tentu saja akan mempertimbangkannya apabila peminjam adalah pengusaha pemula dan apabila
peminjam memilih perjanjian mudharabah maka terlebih dahulu harus
disepakati porsi bagi hasil masing-masing pihak dimana posisi peminjam
dana adalah sebagai mudharib.
Dalam kaitannya dengan keperluan komersial, tentunya peminjam
bukanlah orang miskin karena dia mempunyai simpanan dalam bentuk harta
tidak produktif (hoarding) yang dapat digadaikan. Dengan demikian fungsi
dari gadai di sini adalah mencairkan atau memproduktifkan (dishoarding)
harta yang beku.
Dari uraian tersebut di atas, tidak tersurat sedikitpun uraian tentang
lembaga gadai syariah sebagai perusahaan, mungkin karena pada waktu
peristiwa itu tejadi belum ada lembaga gadai sebagai suatu perusahaan. Hal
serupa juga terjadi pada lembaga utang piutang syariah yang pada mulanya
hanya menyangkut hubungan antar pribadi kemudian berkembang menjadi
hubungan antara pribadi dengan bank.
Pengembangan hubungan antar pribadi menjadi hubungan antara
pribadi dengan suatu bentuk perusahaan tentu membawa konsekuensi yang
luas dan menyangkut berbagai aspek. Namun hendaknya tetap dipahami
bahwa lembaga gadai adalah pelengkap dari lembaga utang piutang. Hal ini
juga mengandung arti bahwa hukum gadai dalam keadaan normal tidak
mengubah status kepemilikan. Baru apabila terjadi keadaan yang tidak
normal, misalnya rahin pada saat jatuh tempo tidak mampu melunasi
utangnya maka bisa terjadi peristiwa penyitaan dan lelang oleh pejabat yang
berwenang.

91

Muhammad Akram Kahan, Ajaran Nabi Muhammad SAW tentang Ekonomi (Kumpulan Haditshadits Pilihan tentang Ekonomi), PT.Bank Muamalat Indonesia, Jakarta. 1996. hal. 179- 184.

160

HukunGadai Syariah

Keadaan tidak normal ini bisa rnengubah status kepernilikan


sehingga berkembang rnenjadi jual beli tunai (tijari), jual beli tangguh bayar
(murabaha), dan jual beli dengan pembayaran angsuran (baiu bithaman ajiil).
Bagaimana konsepsi lembaga gadai syariah dalam suatu perusahaan
tentunya tidak berbeda dengw lembaga gadai syariah dalam hubungan antar
pribadi. Alternatif yang tersedip untuk lembaga gadai syariah juga ada dua,
yaitu hubungan dalam rangka perjanjian utang piutang dengan gadai dalam
bentuk al-qardhu~hasscm, dan ' h u b u n h dalam rangka perjanjian utang
piutang dengan gadai dalam bentuk mudharabah.
Lembaga gadai syariah perusahaan bertindak sebagai penyandang
dana atau rabb almal sedang nasabahnya bisa bertinda~sebagai rahin atau
bisa juga bertindak sebagai mudharib, tergantung alternatif yang d i pi lih.
Aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan pada lembaga gadai perusahaan adalah aspek legalitas, aspek permodalan, aspek sumber daya manusia,
aspek kelembagaan, aspek sistem dan prosedur, aspek pengawasan, dan lainlain.
Dengan memahami konsep leqbaga gadai syariah rnaka sebenarnya
lembaga gadai syariah untuk hubungan antar pribadi sudah operasional.
Setiap orang'bisa melakukan perjanjian utang piutang dengan gadai secara
syariah. Pada dasarnya konsep utang piutang secara syariah dilakukan dala~n
bentuk a!-qardhul hassan, dimana pada bentuk ini tujuan utamanya adalah
memenuhi kewajiban moral sebagai jaminan sosial. Gadai yang rnelengkapi
perjanjian utang piutang itu adalah sekedar memenuhi anjuran sebagairnana
disebutkan dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 283. Tidak ada tambahan
biaya apapun di atas pokok pinjaman bagi si peminjam kecuali yang dipakainya sendiri untuk sahnya suatu perjanjian utang.
Dalam ha1 ini biaya-biaya seperti materai dan akte notaris menjadi
beban peminjam. Bunga uang yang kita kenal walaupun dengan narna
apapun tidak sesuai dengan prinsip syariah, oleh karena itu tidak boleh
dikenakan dalam perjanjian utang piutang secara syariah. Perjanjian utang
piutang dalam bentuk alqardhul hassan sangat dianjurkan dalarn Islam lebili
utama daripada rnemberikan infaq.
Hal ini menurut Khan karena infaq rnenimbulkan rnasalah kehormatan diri pada peminjam dan mengurangi dorongan dirinya untuk berjuang
dan berusaha. Infaq katanya diperlukan dalam kasus-kasus dirnana pengembalian utang tidak mungkin dilakukan. Dengan demikian al-qardhul hassan

Pelaksanaan Gadai Syariah oleh Lembaga Pegadaian

161

adalah lembaga bersaudara dengan i n f ~ ~Tanggung


~ ~ . jawab ini beralih
kepada satuan keluarga, RTIRW, Kelurahan, bahkan sampai kepada negara.
2. Persyaratan Gadai Syariah

Persyaratan yang harus dipenuhi oleh anggota masyarakat yang ingin


melakukan gadai syariah adalah sebagai berikut:
1. Membawa fotocopy KTP atau identitas lainnya yang masih berlaku (SIM,
Paspor, Dan lain-lain);
2. Mengisi formulir permintaan Rahn;
3. Menyerahkan barang jam i nan (marhun) yang memenuh i syarat barang
bergerak, seperti:
Perhiasan emas, berlian dan benda berharga lainnya;
Barang-barang elektronik;
Kendaraan Bermotor;
Atau alat-alat rumah tangga lainnya.
4. Kepemilikan barang merupakan milik pribadi;
5. Surat Kuasa bermeterai cukup dan dilampiri KTP asli pemilik barang jika
di kuasakan;
6. ~ e n a n d a t a nakad
~ i rahn dan akad *ah dalam Surat Bukti Rahn (SBR).
3. Pemberian Pinjaman

Prosedur untuk mendapatkan dana pinjaman dari pegadaian syariah sangatlah mudah yakni nasabah datang langsung ke murtahin (pegadaian syariah)
dan menyerahkan barang yang akan dijadikan jaminan dengan menunjukkan
surat bukti diri seperti KTP atau surat kuasa apabila pemilik barang tidak
bisa datang sendiri. Nasabah akan mendapatkan Formulir Permintaan Pinjaman. Barang jaminan tersebut diteliti kualitasnya untuk ditaksir dan
ditetapkan harganya. Berdasarkan taksiran yang dibuat murtahin, ditetapkan
besarnya uang pinjaman yang dapat diterima oleh rahin. Besarnya nilai uang
pinjarnan yang diberikan lebih kecil daripada nilai pasar dari barang yang
digadaikan. Hal ini ditempuh guna mencegah munculnya kerugian. Selanjutnya murtahin menyerahkan uang pinjaman tanpa ada potongan apapun
disertai SBR.
Prosedur pemberian pinjaman (marhun bih) dalam gadai syariah di
Perum Pegadaian dapat dijelaskan sebagai berikut:
'

Muhammad Akram Kahan, Ajarun Nabi Muhammad SAW /enlung Ekonomi (Kumpulan Hadilshadirs Pilihun /enlung Ekonomi), PT. Bank Muamalat Indonesia, Jakarta. 1996. halaman 179-184,
hal. 182-183

162

HukmGodai Syarioh

1 . Nasabah mengisi formulir permintaan Rahn;


2. Nasabah menyerahkan formulir permintaan Rahn yang dilampiri dengan
foto copy identitas serta barang jaminan ke loket;
3. Petugas Pegadaian menaksir (marhun) agunan yang diserahkan;
4. Besarnya pinjamanlmarhun bih adalah sebesar 90% dari taksiran m a r h n
5. Apabila disepakati besarnya pinjaman, nasabah menandatangani akad dan
menerima uang pinjaman.
Penggolongan Pinjaman dan Biaya Administrasi

4. Penentuan Uang Pinjaman

Besarnya marhun bih dihitung berdasarkan nilai taksiran. Nilai taksiran


ditetapkan dari harga pasar barang. Penetapan nilai taksiran berpedoman
pada ketentuan dalam buku pedoman menaksir dan surat edaran yang berlaku pada sistem konvensional, sedangkan besarnya nilai pinjaman dihitung
dari prosentase nilai taksiran juga digunakan sebagai dasar perhitungan
penetapan besarnya jasa simpan, untuk memudahkan dalam penetapan tarif,
maka besarnya tarif dihitung atas dasar kelipatan nilai taksiran per
Rp 10.000.
Con toh:
Apabila penaksir barang menentukan angka hasil hitungan Rp7.845.000
kemudian dalam surat edaran ditetapkan bahwa besarnya murhun bih adalah
90% dari nilai taksiran, maka besarnya nilai murhun bih = 90% x
Rp7.845.000 = Rp7.060.500.
Peloksonoan Godoi Syarioh oleh Lembogo Pegadoion

163

5. Biaya Administrasi

Perusahaan menjamin keutuhan dan keamanan marhun yang dijadikan


jaminan di Unit Layanan Gadai Syariah. Di samping itu proses transaksi
pinjam-meminjam pada sistem gadai syariah membutuhkan perlengkapan
kerja seperti alat tulis kantor, perlengkapan, dan biaya tenaga kerja serta
rahin dijaminkan pada perusahaan asuransi. Oleh karena itu rahin dibebankan biaya administrasi yang besarnya sesuai dengan besar pinjaman dan
berdasarkan surat edaran tersendiri. Biaya administrasi diberikan pada saat
pinjaman dicairkan.
6. Jasa SimpadTarif Ijaroh
Dalam akad rahn, rahin berkewajiban untuk membayar pokok pinjaman
sesuai dengan jumlah pinjaman yang tercantum dalam akad. Bersamaan
dengan dilunasinya pinjaman, marhun diserahkan kepada rahin. Atas
penyimpanan marhun, muajir (yang menyewakan tempat untuk Unit
Layanan Gadai Syariah) memungut biaya sewa tempat yang disebut jasa
simpan. Jasa simpan dipungut sebagai biaya sewa tempat, pengamanan dan
pemeliharaan marhun selama digadaikan dan merupakan pendapatan bagi
Unit ~ayananGadai Syariah. Tarif jasa simpan tidak dikaitkan dengan
besarnya uang pinjaman tetapi ditentukan berdasarkan nilai taksiran marhun
dan lama barang gadai disimpan atau lama peminjaman yang disesuaikan
dengan surat edaran tersendiri. Perhitungan tarif jasa simpan menggunakan
kelipatan 10 hari dan jangka waktu peminjaman 120 hari. Untuk setiap
kelipatan nilai taksiran marhun emas Rp 10.000, tarif ditetapkan sebesar
Rp45.
1) Rumus Perhitungan Tarif Jasa Simpan

Tarif Jasa Simpan = N x T x W

Keterangan:
N
= Hasil perhitungan taksiran barang
T
= Angka tarif yang ditentukan bagi konstanta yang merupakan
kelipatan angka tertentu yang dijadikan dasar dalam penentuan
perhitungan tarif.
=
Lama waktu pinjaman dibulatkan ke kelipatan 10 terdekat dibagi
W
10 (angka lima merupakan satuan waktu pinjaman terkecil)

164

Hukum Godoi Sywioh

~ a r i Ijarah
f
dihitung dari nilai taksiran barang jaminanlrnarhun dan
Tarif Ijarah dihitung dengan kelipatan 10 hari, 1 hari dihitung 10 hari.
Simulasi Perhitungan Ijarah:
Nasabah memiliki barang jaminan berupa emas dengan nilai taksiran Rp
10.000.000.
Marhun Bih maksimum yang dapat diperoleh nasabah tersebut adalah Rp
9.000.000 (90% x taksiran)
Maka, besarnya Ijarah yang menjadi kewajiban nasabah per 10 hari
adalah:

Ijaroh

10.000.000
10
x Rp 85 x - Rp85.000
10.000
10

Jika nasabah menggunakan Marhun Bih selama 25 hari, berhubung


Ijarah ditetapkan dengan kelipatan per 10 hari, maka besar Ijarah adalah
Rp255.000 dari Rp 85.000.- x 3 dibayarkan pada saat nasabah melunasi atau
memperpanjang Mmhun Bih. Selain ha1 tersebut di atas berdasarkan penelitian di lapangan dapat diketahui bahwa produk lain dari Gadai Syariah
Perum ~egadaianadalah Jasa Titipan. Sering kali dalam kondisi tertentu kita
terpaksa meninggalkan rumah dalam jangka waktu yang relatif cukup lama,
seperti Hari Raya Idul Fitri, libumn, pulang karnpung, ibadah haji dan
lainnya.
Tarif Ijamh
7*

No

1
2
3

Jenis Marhun
Emas, Berlian
Elektronik
Kendaraan
Bermotor

Perhitungan Tarif
Taksiran / Rp 10.000 x Rp 85 x Jangka waktu / I0
Taksiran / Rp 10.000 x Rp 90 x Jangka waktu / 10
Taksiran / Rp 10.000 x Rp 95 x Jangka waktu / 10

7. Pemberian Diskon
Diskon ini diberikan kepada rahin karena apabila terdapat ruhin yang tidak
mengambil penuh marhun bih berdasarkan taksiran barang. Diskon ini
diberikan dengan pertimbangan bahwa resiko marhun bih tidak dikembalikan oleh rahin menjad i berkurang. Semakin kecil permintaan murhun
'

Peloksonoan Gadai Syoriah oleh Lembago Pegodmon

165

bih maka semakin kecil pula resiko bahwa marhun bih tersebut tidak kembali ke perusahaan, maka diskon yang diberikan akan makin besar.
Pemberian diskon merupakan kebijakan internal perusahaan sebagai
"balas jasa" kepada rahin atas berkurangnya resiko yang dihadapi perusahaan. Karena bersifat balas jasa, maka tidak diperjanjikan dalam akad.
a) Besaran Diskon Jasa Simpan
Tabel Besaran Diskon Jasa Simpan

10 % 19 % x taks

70

27

29

30

4 0 % x taks

80

18

19

20

b) Rumus Jasa Simpan Setelah Diskon


Besaran tarif setelah diskon disesuaikan pada rumus perhitungan sebagai
berikut:
Taksiran 110.000 x Tarif setelah diskon x waktull0

Contoh untuk tarif marhun kantong dengan MB 65% x taksiran,


rumusnya adalah
Taksiran 1 10.000 x Rp 72 x waktu 110

Dalam kondisi ini setiap orang senantiasa menginginkan harta


bendanya dalam keadaan aman. Perum Pegadaian melalui Kantor Cjadai
Syariahnya memberikan solusi dengan jasa penitipan sebagai salah satu
166

Hukum Gadoi Syariah

produk dari gadai syariah. Jasa penitipan adalah suatu bentuk layanan
penyimpanan barang sementara di Cabang Pegadaian, yang menerima penitipan barang bergerak dan surat-surat berharga atau surat penting lainnya,
dengan proses cepat dan biaya terjangkau. Jangka waktu penitipan bervariasi, sesuai kebutuhan pelanggan, mulai dari 2 minggu hingga maksimun 12
bulan. Dan untuk kemudian dapat diperpanjang untuk jangka waktu yang
sama. Setiap barang disimpan di tempat yang bersih, rapi, dan kokoh dan
diasuransikan.
Prosedur layanan jasa penitipan tersebut, dapat diuraikan sebagai
berikut ini:
1. Pemohon mengisi formulir permintaan jasa penitipan, dan melengkapinya
dengan foto copy KTP atau identitas lain yang masih berlaku;
2. Petugas menerima, memeriksa, dan menghitung nilai barang yang akan
dititipkan;
3. Pemohon mernbayar biaya adrninistrasi;
4. Petugas menyirnpan barang dengan baik, dan menyerahkan surat bukti
penyimpanan barang.
8. Akad Rahn

Perjanjian utang piutang juga diperlukan bagi keperluan komersil. Dalam ha1
perjanjian utang piutang ini untuk keperluan komersil, maka biasanya
kelengkapan gadai yang cukup menjadi persyaratan yang tidak dapat ditinggalkan. Ini membuktikan bahwa sebenarnya pihak perninjam bukan lah orang
yang miskin tetapi orang yang mernpunyai sejumlah harta yang dapat
digadaikan. Pilihan yang terbuka untuk kepentingan ini adalah melakukan
perjanjian utang piutang dengan gadai dalam bentuk al-qardhul hassan atau
rnelakukan perjanjian utang piutang dengan gadai dalarn bentuk
mudharabah.
a. Perjanjian utang piutang dengan gadai dalarn bentuk al-qardhul hassan.
Apabila pilihan seorang peminjarn adalah pinjarnan gadai dalarn bentuk
qardhul hassan, rnaka biasanya perninjam adalah pengusaha pemula yang
baru rnencoba rnernbuka usaha. Pengusaha larnapun bisa mernilih pinjarnan gadai dalarn bentuk qardhul hassan apabi la usahanya sedang lesu
dan ingin dibangkitkan lagi.
Perjanjian utang piutang dengan gadai dalam bentuk ul-qardhul hassan
adalah perjanjian yang terhorrnat, oleh karena itu para pihak yang terlibat
harus rnernperlakukan satu sarna lain secara terhormat pula. Pada saat
jatuh tempo sernua hak dan kewajiban diselesaikan dan apabila terjadi
Pelaksanoan Godoi Syarioh oleh Lembaga Pegodoion

167

peminjam tidak mampu melunasi utangnya perjanjian yang lama dapat


diperbaharui tanpa hams mengembalikan seluruh barang gadaiannya.
Apabila terjadi perbedaan pendapat, maka p3erbedaan pendapat itu dapat
diselesaikan melalui arbitrasi atau pengadilan.
Biaya yang harus ditanggung peminjam meliputi biaya-biaya yang
nyata-nyata diperlukan untuk sahnya perjanjian utang piutang, seperti:
bea materai, dan biaya akte notaris. Selain itu untuk keutuhan dan pengamanan barang gadai mungkin ada biaya pemeliharaan dan sewa tempat
penyimpanan harta (save deposit box) di bank atau di tempat lainnya.
Biaya bunga uang apapun namanya dilarang dikenakan".

i
I

b. Perjanjian utang piutang dengan gadai dalam bentuk al-mudharabah.

Seorang peminjam dan pemberi pinjaman dapat memilih pinjaman gadai


dalam bentuk mudharabah, apabila kedua belah pihak telah menghitung
bahwa usaha yang akan dijalankan layak dan secara ekonomis akan
menguntungkan. Perjanjian utang piutang dengan gadai dalam bentuk
mudharabah adalah perjanjian yang mempertemukan antara pengusaha
yang ahli dalam bidangnya tetapi hanya mempunyai harta tidak lancar
dengan pihak lain yang mempunyai cukup dana tetapi tidak mempunyai
bidang usaha. Kedua pihak kemudian sepakat untuk pihak peminjam
menjalankan usaha sedang pihak pemberi pinjaman hanya memberikan
dana yang diperlukan tanpa campur tangan dalam usaha itu dengan
agunan barang gadai. Keduanya juga sepakat pada suatu porsi bagi hasil
tertentu dari usaha yang dijalankan pada saat jatuh tempo semua hak dan
kewajiban diselesaikan dan apabila terjadi peminjam tidak mampu melunasi utangnya perjanjian yang lama dapat diperbaharui tanpa harus
mengembalikan seluruh barang gadaiannya. Apabila terjadi perbedaan
pendapat, maka perbedaan pendapat itu dapat diselesaikan melalui
arbitrasi atau pengadilan.
Biaya yang harus ditanggung peminjam selain meliputi biaya-biaya
yang nyata-nyata diperlukan untuk sahnya perjanjian utang piutang, seperti:
bea materai, dan biaya akte notaris, juga biaya-biaya usaha yalig layak selain
itu untuk keutuhan dan pengamanan barang gadai mungkin ada biaya
pemeliharaan dan sewa tempat penyimpanan harta (sui7e deposit box) di

Mengambil keuntungan pada jual beli uang yang herlaku sebagai alat tukar yang sah atau
mengenakan sewa atas modal uang yang berlaku sebagai alat tukar yang sah sering dipergunakan
untuk menutupi kata bunga

168

HukmGadai Syariah

I
I

bank atau di tempat lainnya. Biaya bunga uang apapun namanya juga
dilarang d ikenal~an~~.
Lembaga gadai syariah untuk hubungan antara pribadi dengan
perusahaan (bank syariah) khususnya gadai fidusia sebenarnya juga sudah
operasional. Contoh yang dapat dikemukakan di sini ialah bank syariah yang
memberikan pinjaman dengan agunan sertifikat tanah, sertifikat saham,
sertifikat deposito, atau Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB), dan
lain-lain.
Sebagaimana halnya dengan lembaga gadai syariah pada hubungan
antar pribadi, lembaga syariah untuk hubungan antara pribadi dengan bank
syariah juga mempunyai dua bentuk, yaitu perjanjian utang piutang dengan
gadai dalam bentuk al-mudharabah.
Operasionalisasi kedua bentuk tersebut sama dengan operasionalisasi lembaga gadai syariah pada hubungan antar pribadi tersebut di atas.
Dari uraian tersebut di atas dapat dipahami bahwa lembaga gadai
syariah pada perbankan syariah adalah ha1 yang lazim ada. Karena adanya
hambatan hukum positif yang kita warisi dari pemerintahan kolonial, menyebabkan bank sekarang ini tidak diperkenankan menerima agunan dan
.menyimpan gadai barang bergerak. Narnun menurut berita dalam praktik
banyak bank-bank terutarna yang berkantor di wilayah kecamatan yang
melakukan praktik menerima gadai barang bergerak terutama dalam bentuk
perhiasan.
Pemisahan jenis barang gadai inilah yang menyebabkan adanya
jawatan yang khusus didirikan untuk melayani kebutuhan masyarakat akan
pinjaman gadai barang bergerak. Tujuan semula dari jawatan ini adalah
semata-mata untuk membantu masyarakat yang membutuhkan kredit kecil.
Modal jawatan untuk operasional dan pengembangan semula dipasok dari
anggaran negara sehingga misi utamanya adalah sosial. Tujuan mencari
untung tidak ditonjolkan dan jawatan dinilai cukup baik apabila hasil
usahanya dapat menutup biaya (breakeven). Dengan misi sosial yang sesuai
dengan misi al-qardhul hmsan pada gadai syariah, maka perlu dicari da11
dipertahankan bentuk badan usaha yang cocok. Sesuai dengan panduan
syariah perusahaan dapat saja mendapatkan keuntungan yang besar tetapi
hanya mungkin apabila dana yang tersedia disalurkan dalam perjanjian utang
piutang dengan gadai dalam bentuk al-mudharabah. Karena gadai dalam

"

Muhammad Akram Kahan, Ajaran Nabi Muhammad SAW tentang Ekonomi (Kumpulan Hadirshadirs Pilihan tentang Ekonomi), PT. Bank Muamalat Indonesia, Jakarta. 1996, halaman 179- 1 84.
hal. 182-183

Peloksonoon Godoi Syoriah oleh L q o g o Pegadoion

169