Anda di halaman 1dari 5

HUKUM LAJU

Salah satu cara untuk mengkaji pengaruh konsentrasi reaktan terhadap laju reaksi adalah
dengan menentukan bagaimana laju awal bergantung pada konsentrasi awal. Pada umumnya,
yang lebih sering terjai adalah mengukur laju awal karena sewaktu reaksi berlagsung,
konsentrasi reaktan menurun dan akan menjadi sulit untuk mengukur perubahannya secara
akurat. Selain itu, mungkin saja terjadi reaksi balik seperti:
Produk reaktan
yang akan menimbukan galat (error) dalam pengukuran laju. Kedua kerumitan ini hamper tidak
terjadi dalam tahap awal reaksi.
Tabel 1 menunjukkan tiga pengukuran laju untuk reaksi F2(g) + 2ClO2(g) 2FClO2(g)
No
[F2] (M)
[ClO2] (M)
Laju Awal (M/s)
1
0,10
0,010
1,2 x 10-3
2
0,10
0,040
4,8 x 10-3
3
0,20
0,010
2,4 x 10-3
Dengan melihat nomor 1 dan 3 dalam tabel, kita dapat mengetahui bahwa jika kita melipat
gandakan [F2] sementara [ClO2] dijaga tetap, maka laju menjadi dua kali lipat. Jadi laju
berbanding lurus dengan [F2]. Demikian pula sebaliknya, data pada nomor 1 dan 2 menunjukkan
bahwa bila kita melipatempatkan [ClO2] pada [F2] yang dijaga tetap, maka laju meningkat
sebanyak empat kali lipat, sehingga laju juga berbanding lurus dengan [ClO 2]. Kita dapat
meringkas persamaan ini dengan menuliskan
Laju

= [F2] [ClO2]
= k [F2] [ClO2]

Suku k merupakan konstanta laju (rate constant), yaitu konstanta kesebandingan


(proporsionalitas) antara laju dengan konsentrasi reaktan. Persamaan tersebut juga disebut
hukum laju (rate law) yaitu persamaan yang menghubungkan laju reaksi dengan konstanta laju
dengan konsentrasi reaktan. Dari konsentrasi reaktan dan laju awal, kita juga dapat menghitung
konstanta laju. Dengan menggunakan nomor pertama dari data pada tabel 1, kita dapat
menuliskan:
k

laju
F2 ClO2

1,2 10 3 M / s
0,10M 0,010M

k 1,2 M 1 s 1

Untuk reaksi umum dengan jenis:


aA + bB cC + dD

hukum lajunya berbentuk:


laju = k[A]a[B]b
Jika kita mengetahui nilai k, a, dan b, serta konsentrasi A dan B, kita dapat menggunakan hukum
laju untuk menghitung laju reaksi. Seperti halnya dengan k, a, dan b juga harus ditentukan
melalui percobaan. Jumlah dari pangkat-pangkat setiap konsentrasi reaktan yang ada dalam
hukum laju itu disebut orde reaksi (reaction order) keseluruhan. Dalam persamaan hukum laju
yang ditunjukkan diatas, orde raksi keseluruhannya adalah a + b. untuk reaksi yang melibatkan
F2 dan ClO2, orde keseluruhannya adalah 1 + 1 = 2. Kita dapat katakan bahwa reaksi ini
merupakan orde pertama dalam F2 dan orde pertama dalam ClO2 atau orde kedua secara
keseluruhan. Perhatikan bahwa orde reaksi selalu ditentukan oleh konsentrasi reaktan.
Orde reaksi memungkin kita untuk lebih memahami ketergantungan laju terhadap
konsentrasi reaktan. Contohnya, bahwa untuk reaksi tertentu, a = 1 dan b = 2. Hukum laju untuk
reaksi ini adalah
Laju = k[A][B]2
Reaksi orde pertama A, orde kedua dalam B, dan orde ketiga secara keseluruhan (1+2=3).
Asumsikan bahwa [A] awal = 1,0 M dan [B] = 1,0 M. Hukum laju unmenyatakan bahwa jika
melipatgandakan konsentrasi A dari 1,0 M menjadi 2,0 M pada konsentrasi B yang tetap, kita
juga akan melupatgandakan laju reaksi:
Untuk [A] = 1,0 M

laju1 = k[1,0M][1,0M]2
= k [1,0 M3]

Untuk [A] = 2,0 M

laju2 = k[2,0M][1,0M]2
= k [2,0 M3]
Jadi, laju2 = 2(laju1)

Di sisi lain, jika kita melipatgandakan konsentrasi B dari 1,0 M menjadi 2,0 M pada konsentrasi
A tetap, laju reaksi akan meningkat sebesar 4 kali karena pangkat 2 dalam eksponennya.
Untuk [B] = 1,0 M

laju1 = k[1,0M][1,0M]2
= k [1,0 M3]

Untuk [B] = 2,0 M

laju2 = k[1,0M][2,0M]2
= k [4,0 M3]
Jadi, laju2 = 4(laju1)

Jika untuk satu reaksi tertentu, a = 0 dan b = 1, maka hukum lajunya adalah

Laju

= k[A]0[B]
= k[B]

Reaksi ini adalah reaksi orde nol dalam A, orde pertama dalam B, dan orde pertama secara
keseluruhan. Jadi laju reaksi ini tidak bergantung pada konsentrasi A
PENENTUAN HUKUM LAJU SECARA PERCOBAAN
Jika suatu reaksi hanya melibatkan satu reaktan, hukum laju dapat dengan mudah
ditentukan dengan mengukur laju awal sebagai fungsi konsentrasi reaktan. Contohnya, jika laju
menjadi dua kali lipat bila konsentrasi reaktan dilipatduakan, maka reaksinya adalah orde
pertama dalam reaktan tersebut. Jika laju menjadi empat kali lipat bla konsentrasi dilipatduakan,
maka orde reaksinya adalah orde kedua dalam reaktan.
Untuk reaksi yang melibatkan lebih dari satu reaktan, kita dapat menentukan hukum
lajunya dengan mengukur ketergantungan laju reaksi terhadap konsentrasi masing-masing
reaktan, satu per satu. Kita buat semua konsentrasi sama kecuali satu reaktan dan kita catat laju
reaksi sebagai fungsi dari konsentrasi reaktan tersebut. Setiap perubahan laju seharusnya
disebabkan oleh perubahan pada xat tersebut. Jadi, dari ketergantungan yang teramati ini kita
mengetahui orde dalam rekatan tersebut. Prosedur yang sama juga berlaku untuk reaktan
berikutnya, dan seterusna. Cara ini dikenal sebagai metode isolas.
Contoh:
Reaksi hydrogen dengan nitrat oksida dengan pada suhu 1280oC ialah
2H2(g) + 2NO(g) N2(g) + 2H2O(g)
Dari data yang dikumpulkan pada suhu tersebut, tentukan hukum laju, orde, dan hitunglah
konstanta lajunya.
Percobaan

[H2]

[NO]

Laju Awal (M/det)

0,10

0,10

1,3 x 10-3

0,20

0,10

5,0 x 10-3

0,10

0,27

10,0 x 10-3

Jawab :
Kali ini kita memiliki dua reaktan. Untuk melihat bagaimana konsentrasi mereka mempengaruhi
laju, kita harus bervariasi hanya satu konsentrasi pada suatu waktu. Oleh karena itu, kami
memilih dua eksperimen di mana konsentrasi reaktan satu tidak berubah dan memeriksa efek
dari perubahan konsentrasi reaktan lainnya. Kemudian, kita ulangi prosedur untukreaktan kedua.
Hukum lajunya adalah

Laju = k [H2]m [NO]n


Mari kita lihat dua percobaan pertama. Teramati bahwa konsentrasi NO tetap sama,
sehingga laju ini dipengaruhi oleh perubahan konsentrasi H2. Selanjutnya, kita perlu memilih dua
eksperimen di mana konsentrasi H2 tidak berubah. Hal ini teramati pada percobaan pertama dan
ketiga, [NO]1 = 0,10 M dan [NO]3 = 0,27 M. Laju awal untuk reaksi pertama adalah 1,23 10 -3
M/det dan laju ketiga reaksi itu adalah 8,97 10 -3 M/det. Ini bukanlah angka sederhana untuk
dikerjakan, jadi kita harus menggunakan perbandingan antara dua laju reaksi,

laju1 k H 2 1 NO 1

laju 3 k H 2 3m NO 3n
m

Pada kasus ini, kita bisa mengeliminasi k dan [H2],


laju1 NO 1

laju 3 NO 3n
n

NO 1
laju1

log
log
NO
laju 3
3

NO 1
laju1

n log
log
NO
laju 3
3

Sekarang kita dapat menggunakan data eksperimen untuk menemukan nilai untuk n
1,23 10 3
3
8,97 10

log

0,10

0,27

n log

log(0,137) n log(0,37)
0,863 n( 431)
n2

Selanjutnya untuk mencari nilai m juga dapat dilakukan dengan cara yang sama

laju1 k H 2 1 NO 1

laju 2 k H 2 m2 NO n2
m

Pada kasus ini, kita bisa mengeliminasi k dan [NO],

laju1 NO 1

laju 2 H 2 m2

H 2 1
laju1

log
log
H
laju
2

2 2

H 2 1
laju1

m log
log
H
laju3
2 2

Sekarang kita dapat menggunakan data eksperimen untuk menemukan nilai untuk m
1,23 10 3
0,10
log
log

3
0,20
2,46 10
0,630 m ( 0,6,30)
m 1

Jadi, hukum laju reaksinya adalah Laju = k [H2]1 [NO]2 yang menunjukkan bahwa orde
keseluruhannya adalah orde ketiga
Konstanta laju (k) dapat dihitung menggunakan data dari salah satu (yang mana saja)
percobaan. Oleh karena itu,
k

laju
H 2 1 NO 2

Maka dari percobaan pertama akan menghasilkan


k

1,23 10 3 M / det
0,10M 1 0,10M 2

k 0,0123 M 2 . det

Contoh diatas mengungkapkan hal penting mengenai hukum laju yaitu tidak ada
hubungannya antara pangkat m dan n dengan koefisien stoikiometri dalam persamaan yang
sudah setara. Kita lihat bahwa koefisien stiokiometri H 2 adalah 2 tetapi reaksinya adalah orde
pertama dalam H2