Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Gliserida, (bahasa Inggris: glyceride, acylglycerol, glycerolipid) adalah

ester yang terbentuk dari gliserol dan asam lemak. Gliserol memiliki tiga gugus
hidroksil (-OH) yang dapat ter-ester-ifikasi oleh satu, dua atau asam lemak dan
membentuk monogliserida, digliserida dan trigliserida. Trigliserida adalah
kandungan tertinggi dalam minyak nabati dan lemak hewan, namun sering terurai
oleh enzim alami lipase menjadi monogliserida, digliserida dan asam lemak.
Sabun dibuat dengan reaksi antara gliserida dan natrium hidroksida. Asam lemak
pada sabun akan mengemulsi minyak yang terdapat pada kotoran sehingga dapat
dibilas dengan air.
Hidrolisa gliserida dengan larutan KOH atau NaOH akan menyebabkan
terbentuknya gliserol serta garam Na atau K dari asam lemak yang bersangkutan.
Garam ini dikenal dengan nama sabun dan reaksi hidrolisis ini disebut dengan
reaksi penyabunan (safonifikasi). Menurut Julius Caesar, suku bangsa Jerman
pada waktu itu membuat sabun dengan menggunakan lemak babi atau sapi dan
abu kayu yang banyak mengandung garam alkali.
Sekarang ini, sabun dibuat dengan cara praktis dengan teknik yang
sederhana. Lelehan lemak sapi atau lemak lain dipanaskan dengan NaOH atau
KOH. Sabun adalah garam logam alkali (biasanya garam natrium) dari asam-asam
lemak. Dimana asam lemak adalah asam karboksilat yang diperoleh dari hidrolisis
suatu lemak atau minyak, yang umumnya mempunyai rantai hidrokarbon panjang
dan tak bercabang. Sabun mengandung garam, terutama garam C 16 dan C18,
namun dapat juga mengandung beberapa karboksilat dengan bobot atom lebih
rendah.
Pada pembuatan sabun digunakan bahan-bahan antara lain minyak sayur,
garam, pewarna dan NaOH. Minyak termasuk ke dalam kelas lemak biasa,
dimana lemak dan minyak adalah trigliserida. Perbedaan antara lemak dan minyak
antara lain adalah lemak pada suhu kamar berbentuk padat, sedangkan minyak
1

berwujud cair. Lemak umumnya bersumber dari hewan, sedangkan minyak dari
tumbuh-tumbuhan. Beberapa contoh lemak dan minyak adalah lemak sapi,
minyak kelapa, minyak jagung dan minyak ikan. Sedangkan pada percobaan kali
ini, dicoba untuk membuat sabun dengan menggunakan minyak kelapa.
1.2.

Manfaat
Manfaat yang dapat diambil dari percobaan ini adalah kita dapat

mengetahui proses pembuatan sabun dari minyak kelapa dengan teknik yang
mudah.
1.3.
Tujuan
1) Mengetahui prinsip dan proses Safonifikasi
2) Mengetahui cara menghitung konversi dan yield safonifikasi
3) Mengetahui cara menghitung neraca massa dan neraca panas safonifikasi
1.4.
Permasalahan
Permasalahan yang ingin diketahui pada percobaan ini adalah apakah
massa sebelum reaksi dan massa setelah reaksi sama dengan menghitung persen
yield dari pembuatan sabun

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat yang digunakan, yaitu :
1) Beaker glass 1000 ml

2 buah

2) Beaker glass 100 ml

1 buah

3) Termometer

1 buah

4) Gelas ukur 100 ml

1 buah

5) Pengaduk Kayu
6) Pemanas (water bath)
7) Neraca Analitis
8) Mortar
3.1.2. Bahan yang digunakan, yaitu :
1)

Garam

15 gram

2)

Aquadest

50 gram

3)

Minyak sayur

4)

NaOH

75 Gram

5)

Pewarna

secukupnya

225 gram

3.2.
Prosedur Percobaan
1) Haluskan garam.
2) Panaskan air di waterbath, kemudian larutkan garam di dalamnya.
3) Campur minyak dan NaOH dan dipanaskan dalam water bath pada
temperature 800C sampai mendidih sambil diaduk terus.
4) Tambahkan larutan garam (dalam keadaan panas) dan pewarna ke dalam
campuran minyak dan NaOH sambil diaduk terus sampai kental dan timbul
minyak.
5) Pisahkan minyak dari campuran bahan dan timbang berat minyak tersebut.
6) Campuran yang telah dipisahkan dimasukan kedalam wadah plastik (yang
ditimbang terlebih dahulu) dan timbang berat campuran dengan wadah
plastik.
7) Tunggu sampai 2 hari, kemudian timbang.