Anda di halaman 1dari 13

KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

&
KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL



Mata Kuliah :
Dosen
:
Fakultas
:
Kelompok :

Leadership
Bpk. Ejasa Simbiring
Kedokteran
Daisy Wijaya (07120090036)
Virza Ch, Latuconsina (07120090054)
Mutiara Insan Sangaji (07120090082)
Sandra Lisa (07120090083)






UNIVERSITAS PELITA HARAPAN


2012

Kepemimpinan Transformasional
Leadership
Transformasional

Transaksional

Idealized In8luence
Inspirational Motivation
Inetelectual Stimulation
Individualized Consideration

Contingent Reward
(constuctive transaction)

Management by-Exception
Aktif & Pasif
(Corrective Transaction)

Non-Leadership
Laissez-Faire
Non Transactional

Kepemimpinan Transformasional memiliki pengertian kepemimpinan


yang bertujuan untuk perubahan. Perubahan yang diasumsikan sebagai
perubahan menuju ke arah yang lebih baik dan aktif. Kepemimpinan
Tranformasional memiliki empat faktor yaitu :
1. Karisma dan Idealisme (Idealized Influence) ; yang dimiliki pemimpin
2. Motivasi Inspirasional (Inspirational Motivation); dari pemimpin kepada
pengikut

3. Stimulasi Intelektual (Intelectual Motivation); oleh pemimpin kepada


pengikut
4. Perhatian pada Individu (Individualized Consideration); dari pemimpin
agar pengikutnya bertumbuh
Kepemimpinan

Transformasional

memiliki

ciri

memperhatikan

perkembangan dan perubahan prestasi para pengikutnya. Tujuan yang


hendak dicapai antara pemimpin dan pengikut harus berjalan dengan sinkron.
Dalam Kepemimpinan Transformasional memiliki beberapa unsur yaitu:

Unsur Pemimpin
o Pemimpin harus memiliki karisma di mata pengikut
o Pemimpin memiliki visi atau idealism yang sesuai dengan
harapan pengikut
o Pemimpin mampu memberikan pengaruh kepada pengikut

Unsur Pengikut
o Pengikut memiliki inspirasi dari dirinya dan memandang
pemimpin mampu membawanya untuk mewujudkan inspirasi
tersebut
o Pengikut memiliki motivasi dan pemimpin menangkap motivasi
tersebut untuk diarahkan menjadi tujuan bersama

Unsur Kerja Sama


o Didalam

melaksanakan

pekerjaannya,

pemimpin

mampu

merangsanga atau memicu kreatifitas intelektual dari para


pengikut

Unsur Keputusan
o Pengikut bebas mengambil keputusan dan bukan karena ada
tekanan

Didalam Kepemimpinan Transformasional, pemimpin dianggap memiliki


kemampuan yang lebih baik dalam mengetahui gambaran besar organisasi
melebihi pengikutnya sehingga para pengikut dapat menggantungkan
kepercayaan kepada pemimpinnya. Keberhasilan dalam tipe kepemimpinan
ini ditentukan dari kemampuan pemimpin untuk menrasfer kemampuannya

kepada para pengikutnya sehingga para pengikut memiliki kemampuan yang


lebih baik.
Kepemimpinan Transformasional memiliki 4 faktor, yaitu:
a. Karisma dan Idealisme ( Idealized Influence )
Komponen penting di dalam Kepemimpinan Transformational adalah
adanya karisma dalam diri pemimpin di mata para pengikutnya. Pemimpin
disini berperilaku sebagai stong role model untuk pengikutnya. Pemimpin
memiliki nilai-nilai yang jelas, seperti visi, misi, berwibawa, bertanggung
jawab, dan bermoral. Apabila diartikan secara langsung, pemimpin yang
berkarisma adalah pemimpin yang dianggap memiliki anugerah dari Tuhan.
Kepemimpinan transformasional memiliki akar yang sama dengan
Kepemimpinan Karismatis. Berikut beberapa definisi dari pemimpin atau
Kepemimpinan Karismatis :

Kepemimpinan oleh seseorang yang memiliki sifat yang baik atay bijak
melebihi orang-orang kebanyakan. Dalam bahasa Jawa, kita mengenal
istilah orang yang memiliki aji linuwih yang dapat diartikan sebagai
seseorang yang memiliki bakat dan kelebihan.

Pemimpin yang disegani karena dapat dijadikan panutan atas


kebaikkannya,

kesucian

hidupnya,

kepahlawanannya,

dan

idealismenya.

Pemimpin yang mendapat ilham atau semacam wahyu supranatural.

Kepemimpinan yang membawa perubahan besar dalam kehidupan


atau mempengaruhi kehidupan para pengikutnya.

Kemampuan pemimpin yang memberikan pertimbangan-pertimbangan


yang bijak, inspiratif, dan memberikan rangsangan intelektual bagi para
pengikutnya.

Kepemimpinan yang mampu menarik perhatian orang banyak karena


dirasakan kemampuannya.

Robert J. House mendefinisikan Kepemimpinan Karismatis sebagai


kepemimpinan yang membawa pada perubahan besar dan hasilnya terbukti

luar biasa. Terjadi kesetiaan yang luar biasa serta duplikasi sikap dan sifat
dari para pengikutnya. Ada Sembilan akibat yang mengikuti kepemimpinan
karismatis, yaitu :
1. Pengikut percaya kepada pembaruan yang diyakini oleh pemimpin.
2. Pengikut memiliki keyakinan yang sama dengan apa yang diyakini oleh
pemimpinnya.
3. Tidak mempertanyakan pemimpin dan menerima pemimpin apa
adanya.
4. Sangat memuja dan mengasihi pemimpin.
5. Pengikut meniru tingkah laku pemimpin.
6. Pengikut patuh pada pemimpin.
7. Keterikatan emosional pengikut terhadap misi dari sang pemimpin.
8. Tujuan yang sangat tinggi dari pengikutnya.
9. Pengikut memiliki perasaan bahwa dirinya adalah bagian dari
kelompok, dan yakin dapat memberikan kontribusi terhadap misi
kelompok.
Kepemimpinan Karismatis memiliki kelemahan-kelemahan yang sekaligus
menjadi kekuatannya, yaitu :

Kepemimpinan Transformasional sangat tergantung kepada karisma


pemimpinnya, sehingga pemimpin harus menjaga konsistensi dari
idealismenya.

Apabila pemimpin meninggal dunia, penggantinya memiliki tugas yang


sangat berat untuk mendapat penerimaan dari para pengikutnya.

Maju atau tidaknya organisasi ditentukan dari kepandaian sang


pemimpin.

Organisasi maju atau jatuh bersama-sama sang pemimpin.

Perbedaan

prinsip

antara

Kepemimpinan

Transformasional

dan

Kepemimpinan Karismatis adalah pada kekentalan hubungan antara


pemimpin dan pengikutnya. Pada Kepemimpinan Karismatis, hubungan atas
pemimpin dan pengikut terjadi atas keseganan yang mengarah kepada
pemujaan para pengikutnya kepada pemimpinnya. Ada rasa takut pada hal

kebenaran yang dimiliki oleh pemimpin, dan seorang pengikut yang melawan
atau memiliki pandangan yang berbeda dengan pemikiran-pemikiran
pemimpin dianggap tidak selayaknya.
Pada Kepemimpinan Transformasional, keseganan itu tercipta karena
azas dan pola piker sang pemimpin yang dianggap benar dan rasional. Pada
pola Kepemimpinan Transformasional, pergantian pemimpin lebih mudah
diterima oleh para pengikut apabila pemimpin baru juga memiliki cara berpikir
serta ciri memimpin yang sama dengan pemimpin lama. Kepemimpinan
Transformasional lebih banyak digunakan pada manajemen moderan.
Sedangkan Kepemimpinan Karismatis pada era moderen masih banyak
ditemukan pada organisasi-organisasi keagamaan, managemen tradisional,
lembaga kemasyarakatan, pemerintahan, dan managemen pada perusahaan
keluarga.
Contohnya, Seorang dokter gigi membuka praktik di sebuah ruko. Ia mulai
mendapatkan banyak langganan karena pelayanan kesehatan yang baik
yang ia berikan pada para pasiennya. Beberapa orang dokter gigi junior yang
baru lulus dari fakultas kedokteran gigi tentunya belum memiliki langganan
tetap. Mereka bergabung di bawah naungan praktik dokter gigi tersebut,
untuk memberikan pelayanan kesehatan gigi bagi masyarakat sehingga
pelayanan yang mereka berikan bisa bertahan lama dan panjang waktunya
(availability).
Opini dari kami, meskipun kerja sama yang dibangun antara dokter gigi
tersebut bukan bersifat atasan-bawahan, atau yang junior bekerja dan digaji
oleh yang senior, namum kerja sama tersebut bisa berjalan secara saling
menguntungkan. Keuntungan lain adalah bahwa masyarakat mendapat
pelayanan kesehatan dalam kurun waktu lebih panjang. Kerja sama tersebut
dapat tercipta dengan adanya perjanjuan kontraktual yang mengatur sistem
kerja sama tersebut. Namun, dalam hal ide dan visi, sang dokter gigi senior
memberikan contoh secara transformasional.

b. Motivasi Inspirational ( Inspirational Motivation )


Faktor ini dilakukan oleh pemimpinnya kepada pengikutnya. Disini
Pemimpin memberikan visi yang menginspirasi kepada pengikutnya. Pengikut
memiliki rasa yang kuat dari tujuan pemimpinnya apabila mereka ingin
termotivasi dalam bertindak. Pemimpin harus memiliki keterampialan dalam
komunikasi sehingga dianggap cakap dalam memberikan inspirasi. Pemimpin
yang terbaik adalah pemimpin yang dapat memotivasi dirinya sendiri dan
pengikutnya, yang dapat memberikan arah, bekerja sala dalam kolaborasi
menuju tujuan bersama, memetakan resiko, menghapus hambatan, dan
memberikan umpan balik untuk kemajuan diri sendri, pengikut, dan
organisasi.

c. Stimulasi Inspirasional (Intellectual Stimulation)


Faktor ini dilakukan oleh pemimpin kepada pengikutnya. Pemimpin
harus mampu menunjukkan perilaku yang dapat merangsang anggota untuk
memikirkan kembali gagasan/tindakannya yang selama ini tidak pernah
diragukannya, mendorong anggota untuk berpikir tentang masalah yang
dihadapi dengan menggunakan perspektif baru, mengilhami anggota dengan
cara-cara baru untuk melihat masalah yang dianggap membingungkan,
membuat anggota meningkat kesediaannya untuk mengerjakan lebih baik
daripad apa yang diharapkan atau diinginkannya, dan merangsang anggota
meningkatkan motivasinya untuk berhasil.
d. Perhatian Individual (Individualized Consideration)
Faktor ini dilakukan dari pemimpin agar pengikutnya bertumbuh. Jadi
pada factor ini, pemimpin memperlakukan pengikutnya secara individual.
Sehingga apa yang diharapkan pengikutnya dapat dicapikan. Selain itu juga
pemimpin dapat memberikan pujian jika anggotanya melakukan pekerjaan
dengan baik. Pemimpin juga harus dapat membuat agar anggotanya merasa
dapat mencapai tujuannya tanpa didampingi oleh sang pemimpin. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa pada faktor ini, pemimpin member dukungan penuh
kepada anggotanya.

KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL
Adalah

kepemimpinan

yang

bersifat

kontraktual

antara

pemimpin

dan

pengikutnya. Pemimpin membutuhkan pengikut dan menawarkan sesuatu sebagai


penukar loyalitas kepada pengikut. Pengikut akan mau bekerja sama dikarenakan ada
hal-hal yang ia kejar sebagai reward (hadiah). Sementara itu, yang dikerjakan mungkin
bukan tujuan pribadi pengikut tetapi pengikut hanya melakukan nya akibat tujuan dari
pemimpinnya.
Didalam kepemimpinan transaksional, terdapat dua unsur, yaitu :
1) Unsur kerja sama antara pengikut dan pemimpin yang sifatnya kontraktual.
2) Unsur prestasi yang terukur
3) Unsur reward atau upah yang dipertukarkan dengan loyalitas.
Pola kepemimpinan ini akan berjalan dengan baik apabila ketiga unsure diatas akan
terpenuhi, sekaligus akan memuaskan kedua belah pihak antara pemimpin dan
pengikut. Meskipun demikian, terkadang ditemukan kenyataan bahwa oengikut tidak
memiliki pilihan yang lebih baik daripada yang ditawarkan oleh pemimpin.
Kepemimpinan transaksional menjawab kelemahan-kelemahan yang terdapat pada
Kepemimpinan Karismatis dan Kepemimpinan Transformasional. Pada kepemimpinan
Transaksional, seorang pemimpin tidak memerlukan figure yang sempurna seperti pada
Kepemimpinan Karismatis. Pemimpin tersebut juga tidak perlu memiliki superioritas
dalam bidang tertentu, seperti hal nya Kepemimpinan Transformasional. Kepemimpinan
Transaksional juga tidak selalu berhubungan dengan uang didalam hubungan
kontraktualnya. Meskipun ada cirri-ciri reward didalamnya, namun reward yang
dimaksud tidaklah selalu berupa uang atau hal yang wujudnya komersial.
Sistem kepemimpinan transaksional juga mempermudah system manajemen modern,
dimana tidak harus anak dari pemiliki perusahaan yang melanjutkan kepemimpinan
perusahaan yang didirikan oleh orang tuanya.
Keuntungan dari system ini adalah bahwa sang anak bisa memilih untuk
meneruskan usaha ayahnya atau menyerahkan usaha tersebut untuk dikelola oleh

seseorang yang professional dan membuat bisnis yang lainnya tanpa harus kehilangan
haknya atas perusahaan sang ayah.
Contoh lain pada Kepemimpinan Transaksional adalah :
1) Seorang ayah yang menjanjikan kepada anaknya yang pandai, apabila nanti si
anak naik kelas dan mendapatkan ranking pertama dikelas, maka ia akan diajak
pergi berwisata alam dan mengarungi arung jeram bersama-sama.
Didalam contoh ini, si ayah mengerahui bahwa anaknya akan sanggup naik
kelas dan menjadi juara dengan atau tanpa adanya reward yang dijanjikan. Ayah
senang bila anaknya berhasil mencapai apa yang dijanjikan dan ayah juga tidak
akan merasa rugi. Ayah juga tidak mempertukarkan hal yang merugilan dirinya
dengan prestasi sang anak. Janji si ayah terhadap anaknya ini berbeda dengan
pertaruhan yang bersifat win-lose.
2) Sebuah film yang berjudul Meet Joe Black mengisahkan tentang seseorang
konglomerat dan memiliki bisnis yang sangat besar. Perusahaan yang
didirikannya berkembang menjadi besar, bahkan membawahi dewan direksi dan
banyak karyawan yang bekerja dengan sangat professional. Konglomerat ini
memiliki putrid bungsi dan ia adalah seorang dokter disebuah rumah sakit kecil
bahkan ia sangat menyukai pekerjaannya itu. Sebagai seorang putrid
konglomerat, ia tetap mendapatkan warisan berupa saham perusahaan tanpa
harus ikut berkecimpung diperusahaan ayahnya. Dan sebagai seorang manusia,
ia dapat bekerja sesuai dengan bidang yang ia sukai.
Kepemimpinan Transaksional memiliki dua faktor penting, yaitu :
1) Contingent Reward (Reward atau hadiah yang diberikan atau yang dijanjikan)
Merupakan suatu value atau nilai yang dijanjikan kepada pengikut. Hal itu bisa
berupa apa saja yang dapat dipertukarkan dengan apa yang bisa diberikan oleh
pengikut. Contingent Reward dapat berupa upah, gaji, kedudukan, ilmu atau
apapun yang dianggap berharga oleh pengikut, sebagai bayaran dari loyalitas
dan kepengikutannya.

2) Management by Exception, terbagi menjadi dua, yaitu Management by


Exception Active dan Management by Exception passive)
a) Management by Exception Active
Didalam manajemen ini, seorang atasan atau pemimpin akan secara aktif
mencari atau menangkap kesalahan-kesalahan yang terjadi didalam
divisinya, untuk kemudian diperbaiki secara terus-meneus. Contohnya adalah
seorang supervisor yang secara aktif menilai kinerja anak buahnya. Secara
berkala, sang supervisor akan berkumpul dengan anak-anak buahnya untuk
membicarakan kesalahan-kesalahan serta kelemahan mereka. Tujuannya
adalah agar para pengikut tidak melakukan kesalahan dan kelemahan
tersebut dan bahkan mereka dapat memperbaiki kinerja mereka menjadi
lebih baik lagi.
b) Management by Exception Passive
Didalam manajemen ini, seorang atasan hanya akan memberikan standarstandar tertentu untuk diraih oleh pelaksana atau anak buahnya. Atasan itu
kemudian memberikan penilaian dengan atau tanpa mengkomunikasikannya
dengan si pengikut. Hasil penilaian tersbut yang akan digunakan sebagai
acuan untuk menentukan baik atau tidaknya kinerja dari si pengikut.
Hubungan antara Kepemimpinan Transformasional dan Kepemimpinan Transaksional
dapat digambarkan dalam bagan sebagai berikut :

Karisma
Idealisme

Motivasi

Inspirasional

Stimulasi
Intelektual

Perhatian
Individual

KEPEMIMPINAN TRANSAKSIONAL


Management by
Exception

HASIL YANG DIHARAPKAN

Contingent Reward

Dari bagan diatas, kita dapat melihat adanya pengaruh dari Kepemimpinan
Transformasional terhadap Kepemimpinan Transaksional. Outcome atau hasil
yang diharapkan terjadi seharusnya dibandingkan dengan hasil real yang
terjadi. Keduanya jelas mengalami deviasi yang tergantung pada pengaruh
transformasional yang terjadi didalam organisasi.
Dalam bahasa yang sederhana, sebaik apapun system yang
dibentuk didalam sebuah organisasi, selama system itu digunakan untuk
mengatur manusia, maka tetap diperlukan campur tangan manusia. Campur
tangan tersebut berguna untuk menimbulkan pengaruh terhadap hasil yang
diharapkan.

Laissez Faire
Kata Laissez faire berasal dari bahasa Prancis yang didalam
manajemen dapat diartikan sebagai tanpa kepemimpinan. Kondisi ini terjadi
pada saat didalam sebuah komunitas tidak terdapat struktur kepemimpinan.
Hal itu dapat terjadi pada kondisi dimana sang pemimpin menyerah
dan membiarkan segala sesuatu berjalan apa adanya seperti yang sudah-

HASIL
YANG
TERJADI

sudah. Kondisi Laissez faire juga dapat terjadi pada masa panantian
pergantian pemimpin, dimana pemimpin ad interim yang sementara
menggantikan pemimpin lama tidak mengambil keputusan yang bersifat
mengubah sesuatu sampai munculnya pemimpin pengganti yang sah.
Kondisi seperti ini jelas tidak baik apabila berjalan dalam waktu yang
lama, karena didalam sebuah kepemimpinan harus ada perubahan dan
pergerakan menuju arah yang lebih baik dari sebelumnya. Kondisi laissez
faire hanya dapat dibiarkan dalam waktu yang singkat dan memiliki tenggat
waktu yang pasti.