Anda di halaman 1dari 14

BAB 1

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Masalah Keperawatan merupakan suatu bentuk layanan kesehatan
professional yang merupakan bagian integral dari layanan kesehatan yang
berdasarkan pada ilmu dan etika keperawatan. Keperawatan sebagai bagian
integral dari pelayanan kesehatan, ikut menentukan mutu dari pelayanan
kesehatan. Tenaga keperawatan secara keseluruhan jumlahnya mendominasi
tenaga kesehatan yang ada, dimana keperawatan memberikan kontribusi yang
unik terhadap bentuk pelayanan kesehatan sebagai satu kesatuan yang relative,
berkelanjutan, koordinatif dan advokatif. Keperawatan sebagai suatu profesi
menekankan kepada bentuk pelayanan professional yang sesuai dengan standar
dengan memperhatikan kaidah etik dan moral sehingga pelayanan yang diberikan
dapat diterima oleh masyarakat dengan baik dan berkelanjutan.
Perawatan sudah dilaksanakan sejak adanya manusia dan yang jadi
sasarannya adalah manusia dari sejak lahir sampai dengan datangnya kematian. Di
Indonesia pekerjaan perawat dikerjakan berdasarkan naluri perasaan keibuan
untuk

merawat

anak-anaknya

(Mother

Instinct).

Sejarah

perkembangan

keperawatan di Indonesia telah banyak di pengaruhi oleh penjajah diantaranya


Jepang, Belanda, dan Inggris.
B. Tujuan Masalah
1. Mahasiswa mampu mengetahui sejarah keperawatan komunitas
2. Mahasiswa mampu mengetahui tantangan keperawatan komunitas

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Sejarah Keperawatan Komunitas

1 | Page

Pada masa penjajahan Belanda perawat terbentuk pada dinas kesehatan


tentara dan rakyat. Saat ini perawatan tidak berkembang. Pada masa penjajahan
Inggris keperawatan mulai dibenahi khususnya untuk kesehatan tawanan. Masa
setelah kemerdekaan, thn 1952 didirikan sekolah perawat, thn 1962 dibuka D3
keperawatan, thn 1985 ada S1 keperawatan, thn 1992 telah dibuka S2
keperawatan, thn 2008 dibuka S3 keperawatan.
Di lihat dari sejarah perkembangan pendidikan maka cukup jelas perbedaan
antara masa lalu dan masa sekarang dimana setiap saat ada perkembangan ilmu
pengetahuan.
Berdasarkan sejarah evolusi riset keperawatan bahwa masa lalu beorientasi
kelanjutan pada pendidikan (1940 - 1950), tahun 1960-1970 mulai muncul konsep
tentang keperawatan seperti konsep kerangka kerja, teori dan kontekstual sekitar
komunikasi.
Pada masa sekarang ada kecenderungan ke penelitian klinis (thn 1980 an),
thn 1993 mulai berkembang pada informatika keperawatan, promosi dan
teknologi. Thn 1995 - 1999 muncul model keperawatan berbasis komunitas. Dari
sejarah tentang evolusi riset keperawatan bahwa keperawatan komunitas baru
muncul pada masa sekarang.
Pada masa lalu paradigma yang digunakan adalah paradigma sakit, yaitu
tindakan yang berperan adalah upaya kuratif. Dulu bermunculan banyaknya
"dokter kecil" dan "mantri keliling" yang melaksanakan upaya kuratif,
dikarenakan sedikitnya tenaga medis yang bisa menjangkau masyarakat. Saat
sekarang tenaga perawat sangatlah banyak, hampir separuh tenaga perawat adalah
perawat komunitas. Paradigma sakit telah bergeser pada paradigma sehat dimana
upaya promotif dan preventif lebih ditekankan dari pada upaya kuratif. Tujuannya
tidak lain untuk menumbuhkan kemandirian kepada masyarakat.
Sekiranya pada masa sekarang masih ada perawat komunitas yang masih
menekankan pada upaya kuratif. Upaya perawatan komunitas baik dulu maupun
sekarang haruslah sesuai dengan standar keilmuan pada masa masing-masing dan
dapat memuaskan penerima upaya perawatan jika ingin dikatakan bermutu dan
berkualitas. Dapat disimpulkan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan,

2 | Page

perbedaan pendidikan, waktu serta pergeseran paradigma dari sakit menjadi sehat
mempengaruhi terhadap perbedan keperawatan komunitas saat dulu dan sekarang.
a. Zaman / Era Keperawatan Komunitas
1) Empirical Health Era ( Sebelum tahun 1850)
Pendekatan lebih kearah penjelasan gejala yang dikeluhkan pasien yang
berorientasi pada gejala penyakit yang ditimbulkan.
2) Basic Science Era ( Tahun 1850 1900)
Orientasi ilmu kesehatan yang meliputi :
a. Pendidikan kesehatan
b. Pelayanan kesehatan
c. Penelitian kesehatan
Mulai berkembang kearah penyebab terjadinya penyakit yang dibuktikan
secara laboratories.
3) Clinical Science Era (1900-1950)
Dalam perkembangan selanjutnya dari :
a. Pendidikan kesehatan
b. Pelayanan kesehatan
c. Penelitian kesehatan
Agar mengetahui bagaimana cara :
Mendiagnosis individu
Mengobati individu
Memulihkan individu
Berorientasi kepada yang menderita sakit (patient oriented)
4) Public Health Science Era (1950 sekarang)
Mulai dikembangkan kesehatan masyarakat dalam pelayanan kesehatan
yang tidak hanya ditujukan pada orang sakit saja tetapi juga kepada
bagaimana:
a) Mencegah penyakit (kuratif)
b) Meningkatkan status kesehatan dari orang yang masih sehat
5) Political Health Science Era (sekarang masa yang akan datang)
Merupakan perkembangan terakhir dari ilmu kesehatan masyarakat.
Menggunakan konsep pendekatan terhadap semua penduduk (individu,
keluarga, komunitas masyarakat). Masalah luas yang dihadapi berupa
masalah :
a) Lingkungan
b) Pelayanan kesehatan
c) Perilaku
d) Keturunan
Juga melibatkan sektor lain (lintas sektoral)
3 | Page

Perkembangan keperawatan kesehatan komunitas di Indonesia :


1) Pasca perang kemerdekaan

: pelayanan preventif mulai dilakukan guna

melengkapi upaya (pelayanan) kuratif serta lahirnya konsep Bandung Plan


sebagai embrio lahirnya Puskesmas.
2) Tahun 1960 : Terbitnya UU Pokok Kesehatan No.9 Tahun 1960 tentang
Pokok Pokok Kesehatan Tiap- tiap warga Negara berhak mencapai
derajat kesehatan yang setinggi tingginya dan wajib diikutsertakan
dalam kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah
3) Pelita I
: Dimulai pelayanan kesehatan melalui puskesmas
4) Pelita II
: Mulai timbulnya kesadaran untuk keterlibatan partisipasi
masyarakat dalam bidang kesehatan
5) Pelita III
: Menekankan kepada pendekatan kesistem, pendekatan
masyarakat, kerjasama lintas program dan lintas sektoral, peran serta
masyarakat, menekankan pada pendekatan promotif dan preventif
6) Pelita IV
: Prioritas menurunkan tingkat kematian bayi, anak dan ibu
serta menekan tingkat kelahiran, dan menyelenggarakan posyandu di
setiap desa.
7) Pelita V

: Upaya peningkatan mutu posyandu (Panca Krida

Posyandu serta Sapta Krida Posyandu)


8) Menjelang tahun 2000
: Pergeseran visi di Indonesia yang
pada awalnya paradigm sakit menjadi paradigma sehat.
Sejarah perkembangan keperawatan kesehatan komunitas tidak dapat di
pisahkan dari perkembangan ilmu kesehatan dan perkembangan keperawatan
secara umum. Sejarah perkembangan keperawatan kesehatan komunitas di
Indonesia memang tidak banyak catatan tentang itu, dan juga tidak dapat di
pisahkan dari perkembangan kesehatan secara umum.
B. Tantangan Keperawatan Komunitas Di Masa Mendatang
Kesehatan masyarakat (public health) adalah ilmu dan seni mencegah
penyakit, memperpanjang hidup, meningkatkan kesehatan fisik dan mental, dan
efisiensi melalui usaha masyarakat yang terorganisir untuk meningkatkan sanitasi
lingkungan, kontrol infeksi di masyarakat, pendidikan individu tentang kebersihan
perorangan, pengorganisasian pelayanan medis dan perawatan, untuk diagnosa
dini, pencegahan penyakit dan pengembangan aspek sosial, yang akan mendukung

4 | Page

agar setiap orang di masyarakat mempunyai standar kehidupan yang adekuat


untuk menjaga kesehatannya.
Prinsip Dasar Kesehatan Masyarakat :
1.
2.
3.
4.
5.

Mengutamakan promotif dan preventif.


Efisien.
Dari, untuk dan oleh masyarakat.
Selalu melibatkan masyarakat sebagai pelaku.
Harus diangkat dari masalah yang ada di masyarakat.
Definisi ini mengandung aspek keperawatan pencegahan yang menyangkut

praktek Perawat yang berkaitan dengan individu/perorangan, dan petugas


kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan sekelompok individu atau
masyarakat.
Maka dari saat ini cara pandang masyarakat harus mulai dirubah terhadap
pelayanan dan penanganan masalan kesehatan yang sebelumnya berfokus kepada
pelayanan pengobatan menjadi pencegahan bagaimana masalah kesehatan dapat
dicegah supaya tidak terjadi. Usaha tersebut sekarang harus lebih banyak
menekankan tindakan promotive dan preventive, namun saat ini masyarakat
belum merasa membutuhkan usaha tersebut sehingga ini merupakan tantangan
berat bagi Pewatan Komunitas pada kususnya.
Tantangan perubahan paradigma ini Perawat Komunitas harus berusaha
lebih keras agar keberadaan Asuhan Keperawatan Komunitas tidak hanya Nampak
pada tataran akademik tetapi harus ada realisasi kegiatan yang dapat dirasakan
langsung kegiatannya dalam masyarakat pada umumnya. Kinilah saatnya perawat
komunitas menampakkan jati dirinya di masyarakat. Mencegah terjadinya
penyakit lebih baik daripada mengobati.
Tantangan profesi perawat di Indonesia di abad 21 ini semakin meningkat.
Seiring tuntutan menjadikan profesi perawat yang di hargai profesi lain. Profesi
keperawatan dihadapkan pada banyak tantangan. Tantangan ini tidak hanya dari
eksternal tapi juga dari internal profesi ini sendiri. Pembenahan internal yang
meliputi empat dimensi dominan yaitu; keperawatan, pelayanan keperawatan,
asuhan keperawatan dan praktik keperawatan. Belum lagi tantangan eksternal
berupa tuntutan akan adanya registrasi, lisensi, sertifikasi, kompetensi dan

5 | Page

perubahan pola penyakit, peningkatan kesadaran masyarakat akan hak dan


kewajiban, perubahan system pendidikan nasional, serta perubahan-perubahan
pada supra system dan pranata lain yang terkait.
Untuk menjawab tantangan-tantangan itu dibutuhkan komitmen dari semua
pihak yang terkait dengan profesi ini, organisasi profesi, lembaga pendidikan
keperawatan juga tidak kalah pentingnya peran serta pemerintah. Organisasi
profesi dalam menentukan standarisasi kompetensi dan melakukan pembinaan,
lembaga pendidikan dalam melahirkan perawat-perawat yang memiliki kualitas
yang diharapkan serta pemerintah sebagai fasilitator dan memiliki peran-peran
strategis lainnya dalam mewujudkan perubahan ini. Profesi memiliki beberapa
karakteristik utama sebagai berikut;
1. Suatu profesi memerlukan pendidikan lanjut dari anggotanya, demikian
juga landasan dasarnya.
2. Suatu profesi memiliki kerangka pengetahuan teoritis yang mengarah pada
keterampilan, kemampuan, pada orma-norma tertentu.
3. Suatu profesi memberikan pelayanan tertentu.
4. Anggota dari suatu profesi memiliki otonomi untuk membuat keputusan
dan melakukan tindakan.
5. Profesi sebagai satu kesatuan memiliki kode etik untuk melakukan praktik
keperawatan.
Tantangan profesi keperawatan adalah profesi yang sudah mendapatkan
pengakuan dari profesi lain, dituntut untuk mengembangkan dirinya untuk
berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan agar keberadaannya
mendapat pengakuan dari masyarakat. Untuk mewujudkan pengakuan tersebut,
maka perawat masih harus memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme
sesuai dengan keadaan dan lingkungan sosial.
Tantangan internal profesi keperawatan adalah meningkatkan kualitas
Sumber Daya Manusia (SDM) tenaga keperawatan sejalan dengan telah
disepakatinya keperawatan sebagai suatu profesi pada lokakarya nasional
keperawatan tahun 1983, sehingga keperawatan dituntut untuk memberikan
pelayanan yang bersifat professional.

6 | Page

Tantangan eksternal profesi keperawatan adalah kesiapan profesi lain untuk


menerima paradigma baru yang kita bawa. Professional keperawatan adalah
proses dinamis dimana profesi keperawatan yang telah terbentuk (1984)
mengalami perubahan dan perkembangan karakteristik sesuai dengan tuntutan
profesi dan kebutuhan masyarakat.
Adapun klasifikasi dari tantangan profesi keperawatan meliputi :
1. Terjadi pergeseran pola masyarakat Indonesia
2. Perkembangan IPTEK
3. Globalisasi dalam pelayanan keperawatan
4. Tuntutan tekanan profesi
a. Tantangan Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
Perkembangan IPTEK menuntut kemampuan spesifikasi dan penelitian
bukan saja dapat memanfaatkan IPTEK, tetapi juga untuk menapis dan
memastikan IPTEK sesuai dengan kebutuhan dan social budaya masyarakat
Indonesia yang akan diadopsi. IPTEK juga berdampak pada biaya kesehatan yang
makin tinggi dan pilihan tindakan penanggulangan masalah kesehatan yang makin
banyak dan kompleks selain itu dapat menurunkan jumlah hari rawat (Hamid,
1997; Jerningan,1998). Penurunan jumlah hari rawat mempengaruhi kebutuhan
pelayanan kesehatan yang lebih berfokus kepada kualitas bukan hanya kuantitas,
serta meningkatkankebutuhan untuk pelayanan / asuhan keperawatan di rumah
dengan mengikutsetakan klien dan keluarganya. Perkembangan IPTEK harus
diikuti dengan upaya perlindungan terhadap untuk mendapatkan pelayanan
kesehatan yang aman, hak untuk diberitahu, hak untuk memilih tindakan yang
dilakukan dan hak untuk didengarkan pendapatnya. Oleh karena itu, pengguna
jasa pelayanan kesehatan perlu memberikan persetujuan secara tertulis sebelum
dilakukan tindakan (informed consent).
b. Tantangan Sosial
Professional sesuai dengan keadaan dan lingkungan social di Indonesia.
Proses ini merupakan tantangan bagi perawat Indonesia perlu dipersiapkan dengan
baik, berencana, berkelanjutan dan tentunya memerlukan waktu yang lama.

7 | Page

Indonesia telah memasuki era baru, yaitu era reformasi yang ditandai
dengan perubahan-perubahan yang cepat disegala bidang, menuju kepada keadaan
yang lebih baik. Di bidang kesehatan tuntutan reformasi total muncul karena
masih adanya ketimpangan hasil pembangunan kesehatan antar daerah dan antar
golongan, kurangnya kemandirian dalam pembangunan bangsa dan derajat
kesehatan masyarakat yang masih tertinggal di bandingkan dengan negara
tetangga. Reformasi bidang kesehatan juga diperlukan karena adanya lima
fenomena utama yang mempunyai pengaruh besar terhadap keberhasilan
pembangunan kesehatan yaitu perubahan pada dinamika kependudukan, temuan
substansial IPTEK kesehatan/kedokteran, tantangan global, perubahan lingkungan
dan demokrasi disegala bidang.
Berdasarkan

pemahaman

terhadap

situasi

dan

adanya

perubahan

pemahaman terhadap konsep sehat sakit, serta makin kayanya khasanah ilmu
pengetahuan dan informasi tentang determinan kesehatan bersifat multifaktoral,
telah mendorong pembangunan kesehatan nasional kearah paradigma baru, yaitu
paradigma sehat.
Paradigma sehat yang diartikan disini adalah pemikiran dasar sehat,
berorientasi pada peningkatan dan perlindungan penduduk sehat dan bukan hanya
penyembuhan pada orang sakit, sehingga kebijakan akan lebih ditekankan pada
upaya promotif dan preventif dengan maksud melindungi dan meningkatkan
orang sehat menjadi lebih sehat dan produktif serta tidak jatuh sakit. Disisi lain,
dipandang dari segi ekonomi, melakukan investasi dan intervensi pada orang sehat
atau pada orang yang tidak sakit akan lebih

effective dari pada intervensi

terhadap orang sakit. Pada masa mendatang, perlu diupayakan agar semua pihak
terutama pemerintah selalu berwawasan kesehatan, motto-nya akan menjadi
"Pembangunan Berwawasan Kesehatan".
Pergeseran pola masyarakat agikultural ke masyarakat industri dan dari
masyarakat tradisonal berkembang menjadi masyarakat maju., menimbulkan
dampak dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia termasuk aspek
kesehatan. Kendatipun masih ada masyarakat yang menderita penyakit terkait
dengan kemiskinan seperti infeksi, penyakit yang disebabkan oleh kurang gizi dan

8 | Page

pemukiman tidak sehat. Angka kamatian bayi dan angka kematian ibu sehingga
indicator derajat kesehatan masih tinggi. Peningkatan umur harapan hidup juga
mengakibatkan masalah kesehatan yang terkait dengan masyarakat lanjut usia
seperti penyakit generatif.
Begitupun masalah kesehatan yang berhubugan dengan urbanisasi,
pencemaran kesehatan lingkungan dan kecelakaan kerja cenderung meningkat
sejalan dengan pembangunan industri. Selain masalah kesehatan yang makin
kompleks pergeseran nilai-nilai, keluarga pun turut terpengaruh dimana
berkembang kecenderungan keluarga terhadap anggotanya menjadi berkurang.
Keadaan ini sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan kesejahteraan kelompok
lanjut usia yang cenderung meningkat jumlahnya dan sangat memerlukan
dukungan keluarga. Selain daripada itu, kesempatan mendapatkan pendidikan
yang lebih tinggi dan penghasilan yang lebih besar membuat masyarakat
Indonesia lebih kritis dan mampu membayar pelayanan kesehatan yang bermutu
dan dapat dipertanggungjawabkan.
c. Tantangan Dalam Praktek
Perawat mempunyai tantangan yang sangat banyak salah satunya yaitu
menjalakan tanggung jawab dan tanggung gugat yang besar. Tantangan dalam
profesi keperawatan salah satunya yaitu mempunyai tanggung jawab yang tinggi,
tanggung jawab tersebut tidak hanya kepada kliennya saja tetapi tanggung jawab
yang diutamakan yaitu tanggung jawab terhadap Tuhannya (Responsibility to
God), tanggung jawab tehadap klien dan masyarakat (Responsibility to Client and
Society), dan tanggung jawab terhadap rekan sejawat dan atasan (Responsibility
to Colleague and Supervisor).
Tanggung jawab secara umum, yaitu;
1) Menghargai martabat setiap pasien dan keluargannya.
2) Menghargai hak pasien untuk menolak pengobatan, prosedur atau obatobatan tertentu dan melaporkan penolakan tersebut kepada dokter dan
orang-orang yang tepat di tempat tersebut.
3) Menghargai setiap hak pasien dan keluarganya dalam hal kerahasiaan
informasi.

9 | Page

4) Apabila didelegasikan oleh dokter menjawab pertanyaan-pertanyaan


pasien dan memberi informasi yang biasanya diberikan oleh dokter.
5) Mendengarkan pasien secara seksama dan melaporkan hal-hal penting
kepada orang yang tepat.
Dan tanggung gugat yang menjadi salah satu tantangan dalam profesi
keperawatan didasarkan peraturan perundang-undangan yang ada. Tanggung
gugat bertujuan untuk :
1) Mengevaluasi praktisi-praktisi professional baru dan mengkaji ulang
praktisi-praktisi yang sudah ada,
2) Mempertahankan standart perawatan kesehatan,
3) Memberikan fasilitas refleksi professional,

pemikiran

etis

dan

pertumbuhan pribadi sebagai bagian dari professional perawatan


kesehatan,
4) Memberi dasar untuk membuat keputusan etis.
d. Tantangan Dalam Pendidikan
Pengakuan body of knowledge keperawatan di Indonesia dimulai sejak
tahun 1985, yakni ketika program studi ilmu keperawatan untuk pertama kali
dibuka di Fakultas Kedokteran UI. Dengan telah diakuinya body of knowledge
tersebut maka pada saat ini pekerjaan profesi keperawatan tidak lagi dianggap
sebagai suatu okupasi, melainkan suatu profesi yang kedudukannya sejajar dengan
profesi lain di Indonesia. Tahun 1984 dikembangkan kurikulum untuk
mempersiapkan perawat menjadi pekerja profesional, pengajar, manajer, dan
peneliti. Kurikulum ini diimplementasikan tahun 1985 sebagai Program Studi
Ilmu Keperawatan di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Tahun 1995
program studi itu mandiri sebagai Fakultas Ilmu Keperawatan, lulusannya disebut
ners atau perawat profesional. Program Pascasarjana Keperawatan dimulai tahun
1999. Kini sudah ada Program Magister Keperawatan dan Program Spesialis
Keperawatan Medikal Bedah, Komunitas, Maternitas, Anak Dan Jiwa.
Sejak tahun 2000 terjadi euphoria Pendirian Institusi Keperawatan baik
itu tingkat Diploma III (akademi keperawatan) maupun Strata I. Pertumbuhan
institusi keperawatan di Indonesia menjadi tidak terkendali. Seperti jamur di
musim kemarau. Artinya di masa sulitnya lapangan kerja, proses produksi tenaga
perawat justru meningkat pesat. Parahnya lagi, fakta dilapangan menunjukkan
10 | P a g e

penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan berasal dari pelaku bisnis murni


dan dari profesi non keperawatan, sehingga pemahaman tentang hakikat profesi
keperawatan dan arah pengembangan perguruan tinggi keperawatan kurang
dipahami. Belum lagi sarana prasarana cenderung untuk dipaksakan, kalaupun ada
sangat terbatas (Yusuf, 2006). Saat ini di Indonesia berdiri 32 buah Politeknik
kesehatan dan 598 Akademi Perawat yang berstatus milik daerah,ABRI dan
swasta (DAS) yang telah menghasilkan lulusan sekitar 20.000 23.000 lulusan
tenaga keperawatan setiap tahunnya. Apabila dibandingkan dengan jumlah
kebutuhan untuk menunjang Indonesia sehat 2010 sebanyak 6.130 orang setiap
tahun, maka akan terjadi surplus tenaga perawat sekitar 16.670 setiap tahunnya.
(Sugiharto, 2005).
Salah satu tantangan terberat adalah peningkatan kualitas Sumber Daya
Manusia (SDM) tenaga keperawatan yang walaupun secara kuantitas merupakan
jumlah tenaga kesehatan terbanyak dan terlama kontak dengan pasien, namun
secara kualitas masih jauh dari harapan masyarakat. Indikator makronya adalah
rata-rata tingkat pendidikan formal perawat yang bekerja di unit pelayanan
kesehatan

(rumah

sakit/puskesmas)

hanyalah

tamatan

SPK

(sederajat

SMA/SMU). Berangkat dari kondisi tersebut, maka dalam kurun waktu 19902000 dengan bantuan dana dari World Bank, melalui program health project
(HP V) dibukalah kelas khusus D III keperawatan hampir di setiap kabupaten.
Selain itu bank dunia juga memberikan bantuan untu peningkatan kualitas guru
dan dosen melalui program GUDOSEN. Program tersebut merupakan suatu
percepatan untuk meng-upgrade tingkat pendidikan perawat dari rata-rata hanya
berlatar belakang pendidikan SPK menjadi Diploma III (Institusi keperawatan).
Tujuan lain dari program ini diharapkan bisa memperkecil gap antara perawat dan
dokter sehingga perawat tidak lagi menjadi perpanjangan tangan dokter
(Prolonged physicians arms) tapi sudah bisa menjadi mitra kerja dalam pemberian
pelayanan kesehatan(Yusuf, 2006).
Kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan sisitem pendidikan
keperawatan di Indonesia adalah UU no. 2 tahun 1989 tentang pendidikan
nasional, Peraturan pemerintah no. 60 tahun 1999 tentang pendidikan tinggi dan

11 | P a g e

keputusan Mendiknas no. 0686

tahun 1991 tentang Pedoman Pendirian

Pendidikan Tinggi (Munadi, 2006). Pengembangan sistem pendidikan tinggi


keperawatan yang bemutu merupakan cara untuk menghasilkan tenaga
keperawatan yang profesional dan memenuhi standar global. Hal-hal lain yang
dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu lulusan pendidikan keperawatan
menurut Yusuf (2006) dan Muhammad (2005) adalah :
1) Standarisasi jenjang, kualitas/mutu, kurikulum dari institusi pada
pendidikan.
2) Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan
menggunakan bahasa inggris. Semua Dosen dan staf pengajar di institusi
pendidikan keperawatan harus mampu berbahasa inggris secara aktif
3) Menutup institusi keperawatan yang tidak berkualitas
4) Institusi harus dipimpin oleh seorang dengan latar belakang pendidikan
keperawatan
5) Pengelola insttusi hendaknya memberikan warna tersendiri dalam institusi
dalam bentuk muatan lokal,misalnya emergency Nursing, pediatric
nursing, coronary nursing.
6) Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di
insitusi pendidikan keperawatan
7) Departemen Pendidikan, Departemen Kesehatan, dan Organisasi profesi
serta sector lain yang terlibat mulai dari proses perizinan juga memiliki
tanggung jawab moril untuk melakukan pembinaan.
Standart Kinerja Profesional
Menguraikan perang yang diharapkan dari semua perawat professional yang
sesuai pendidikan, komposisi, dan lingkugan praktik mereka.
1) Kualitas perawatan :perawat secara sistematis mengevaluasi kualitas dan
keefektifan praktik keperawatan
2) Penilaian kinerja : perawat mengevaluasi praktik keperawatan dirinya
sendiri dalam hubungannya dengan standart-standart praktik professional
dan dengan statute dan peraturan yang relevan
3) Pendidikan : perawat mendapatkan dan mempertahankan pengetahuan
sekarang dalam praktik keperawatan
4) Kesejawatan : perawat memberikan kontribusi pada perkembangan profesi
dari teman sejawat, kolega dan yang lainnya

12 | P a g e

5) Etik : keputusan dan tindakan perawat atas nama pasien ditentukan dengan
cara etis
6) Kolaborasi : perawat melakukan kolaborasi dengan pasien, kerabat lain,
dan pemberi perawatan kesehatan dalam memberikan perawatan pada
pasien
7) Riset : perawat menggunakan temuan riset dala praktik
8) Penggunaan sumber : perawat mempertimbangkan factor-faktor yang
berhubunngan

dengan

keamanan.

Keefektifan

dan

biaya

dalam

merencanakan dan memberikan perawatan pada pasien.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Keperawatan sebagai suatu profesi menekankan kepada bentuk pelayanan
professional yang sesuai dengan standar dengan memperhatikan kaidah etik dan
moral sehingga pelayanan yang diberikan dapat diterima oleh masyarakat dengan
baik dan berkelanjutan. Di lihat dari sejarah perkembangan pendidikan maka
cukup jelas perbedaan antara masa lalu dan masa sekarang dimana setiap saat ada
perkembangan ilmu pengetahuan. Pada masa lalu paradigma yang digunakan
adalah paradigma sakit, yaitu tindakan yang berperan adalah upaya kuratif. Saat
sekarang tenaga perawat sangatlah banyak, hampir separuh tenaga perawat adalah
perawat komunitas. Paradigma sakit telah bergeser pada paradigma sehat dimana
upaya promotif dan preventif lebih ditekankan dari pada upaya kuratif. Tujuannya
tidak lain untuk menumbuhkan kemandirian kepada masyarakat. Tantangan
perubahan paradigma ini Perawat Komunitas harus berusaha lebih keras agar
keberadaan Asuhan Keperawatan Komunitas tidak hanya Nampak pada tataran
akademik tetapi harus ada realisasi kegiatan yang dapat dirasakan langsung
kegiatannya dalam masyarakat pada umumnya. Kinilah saatnya perawat
komunitas menampakkan jati dirinya di masyarakat. Mencegah terjadinya
penyakit lebih baik daripada mengobati.

13 | P a g e

B. Saran
1. Semoga makalah ini dapat bermamfaat bagi yang pembaca, terutama
mahasiswa keperawatan.
2. Semoga dapat menjadi bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa
keperawatan khususnya dalam mata kuliah keperawatan komunitas.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kusnanto,S.Kp, M.Kes. Pengantar Profesi dan Praktik Keperawatan
Profesional. Jakarta : EGC. 2003
2. Nursalam.
Tantangan
Keperawatan
Indonesia
Dalam
Proses
Profesionalisme.
http://www.inna-ppni.or.id/index.php?
name=News&file=print&sid=78. Diakses tangggal 15 Maret 2015.
3. Priharjo, Robert. Konsep dan Perspektif Praktik Keperawatan Profesional.
Jakarta : EGC. 2008.

14 | P a g e