Anda di halaman 1dari 5

PENGKAJIAN DAN INTERVENSI PEMENUHAN KEBUTUHAN MOBILISASI:

KOMPRES PANAS DAN DINGIN


Oleh: Rahma Fadillah Sopha, 1006672876, KG3 A
Kompres panas dan dingin bertujuan untuk meningkatkan perbaikan dan pemulihan
jaringan serta menghasilkan perubahan fisiologis suatu jaringan, ukuran pembuluh darah,
tekanan darah kapiler, area permukaan kapiler untuk pertukaran cairan dan elektrolit, dan
metabolisme jaringan. Masing-masing kompres memberikan efek fisiologis yang berbeda
pada tubuh manusia, seperti yang tertulis pada tabel di bawah. Sebelum memberikan kompres
kepada klien, perawat harus memahami beberapa hal, yaitu:
1. Respons adaptif reseptor termal
Reseptor
termal
beradaptasi
terhadap
perubahan suhu. Ketika reseptor dingin terpajan
suhu yang tiba-tiba rendah atau ketika reseptor
hangat terpajan suhu yang tiba-tiba tinggi, reseptor
akan terstimulasi dengan kuat dan menurun
dengan cepat selama beberapa detik pertama,
kemudian menjadi lebih lambat setengah jam
berikutnya. Meningkatkan suhu panas setelah
adaptasi dapat menyebabkan luka bakar yang
serius. Menurunkan suhu kompres dingin dapat
menyebabkan nyeri dan gangguan sirkulasi.
2. Fenomena rebound
Fenomena rebound terjadi saat efek terapeutik
maksimal dari kompres panas atau dingin telah
tercapai dan kemudian efek yang berlawanan terjadi. Contoh, panas menyebabkan
vasodilatasi maksimum dalam 20-30 menit, melanjutkan kompres melebihi 30-45 menit akan
mengakibatkan kongesti jaringan dan vasokonstriksi pembuluh darah. Apabila terus
dilanjutkan, klien berisiko mengalami luka bakar.
3. Efek sistemik
4. Toleransi terhadap panas dan dingin
Tabel 1. Suhu yang direkomendasikan untuk kompres panas dan dingin

A. Indikasi
Tabel 1. Indikasi kompres panas dan dingin

B. Kontra indikasi
a. Kompres panas:
1. 24 jam pertama setelah cedera traumatik. Panas akan meningkatkan perdarahan dan
pembengkakan.
2. Perdarahan aktif. Panas meyebabkan vasodilatasi dan meningkatkan perdarahan.
3. Edema noninflamasi. Panas meningkatkan permeabilitas kapiler dan edema.
4. Tumor ganas terlokalisasi. Panas mempercepat metabolisme sel, pertumbuhan sel,
dan meningkatkan sirkulasi.
5. Gangguan kulit yang menyebabkan kemerahan atau lepuh.
b. Kompres dingin:
1. Luka terbuka. Dingin dapat meningkatkan kerusakan jaringan karena mengurangi
aliran darah ke luka terbuka.
2. Gangguan sirkulasi. Dingin dapat mengganggu nutrisi jaringan lebih lanjut dan
menyebabkan kerusakan jaringan.
3. Alergi atau hipersensitivitas terhadap dingin.
c. Kewaspadaan khusus:
1. Kerusakan neurosensori. Klien tidak mampu merasakan bahwa panas tersebut
merusak jaringan dan berisiko mengalami luka bakar, atau mereka tidak mampu
merasakan ketidaknyamanan akibat dingin dan tidak mampu mencegah terjadinya
cedera jaringan.
2. Gangguan status mental.
3. Gangguan sirkulasi. Klien memiliki penyakit pembuluh darah perifer, diabetes,
atau gagal jantung kongestif berisiko mengalami kerusakan jaringan akibat
kompres panas dan dikontraindikasikan untuk diberikan kompres dingin.
4. Luka terbuka.
C. Alat dan bahan

1. Kompres panas kering: botol air panas,


bantalan pemanas elektrik, bantalan
akuatermia, kemasan pemanas disposabel.
a. Botol (kantong) air panas
1. Botol air panas dengan tutupnya
2. Sarung botol
3. Air panas dan termometer
b. Bantalan pemanas elektrik
1. Bantalan elektrik dan pengontrolnya
2. Sarung yang kedap air.
3. Pengikat kasa
c. Bantalan akuatermia
1. Bantalan
2. Air suling
3. Unit pengontrol
4. Sarung
5. Pengikat kasa
d. Kemasan pemanas disposabel
1. Satu atau dua buah kemasan pemanas
disposabel yang telah dipersiapkan
secara komersial
2. Kompres dingin kering: kantong es, kolar
es, sarung tangan es, kemasan dingin disposabel
a. Kantong es, kolar es, sarung tangan es, atau kemasan dingin
b. Keping es
c. Sarung pelindung
d. Kasa gulung, handuk, dan plester
3. Kompres kasa
a. Sarung tangan steril (untuk luka terbuka) atau disposabel
b. Wadah untuk larutan
c. Larutan dengan kekuatan dan suhu yang ditetapkan
d. Termometer
e. Kasa segi empat
f. Sarung tangan, forcep, dan lidi kapas (jika kompres harus steril)
g. Jeli minyak
h. Handuk penyekat
i. Plastik
j. Tali
k. Botol air panas atau kantong es (pilihan)
4. Kemasan basah
a. Sarung tangan disposabel
b. Kain flanel atau kemasan handuk
c. Mesin pemanas atau baskom air dengan beberapa keping es (pilihan)
d. Termometer
e. Sarung tangan, forcep, dan lidi kapas (jika kompres harus steril)
f. Jeli minyak
g. Handuk penyekat
h. Plastik
i. Botol air panas atau kantong es (pilihan)

D. Proses keperawatan:
1. Kaji kemampuan klien untuk mengenali kapan rasa dapat menyebabkan cedera. Kaji
apakah klien menyadari rasa panas dan dingin serta dapat membedakan suhu yang
telalu panas atau terlalu dingin untuk jaringan buruk.
2. Kaji tingkat kesadaran dan kondisi fisik umum klien. Klien yang sangat muda, sangat
tua, tidak sadar, atau yang lemah tidak dapat menoleransi panas dengan baik/
3. Kaji area yang akan dikompres dengan memeriksa perubahan integritas kulit, status
sirkulasi, tingkat ketidaknyamanan dan rentang pergerakan sendi jika spasme otot atau
nyeri sedang diterapi.
4. Kaji denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah.
5. Tentukan apakah tipe kompres panas atau dingin yang akan digunakan, suhu, dan
durasi serta frekuensi kompres.
6. Jelaskan kepada klien apa yang akan dilakukan, mengapa hal tersebut diperlukan, dan
bagaimana klien dapat bekerja sama. Diskusikan bagaimana hasilnya akan digunakan
untuk merencanakan perawatan atau terapi selanjutnya.
7. Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi yang tepat.
8. Berikan privasi klien.
9. Siapkan klien
a. Bantu klien ke posisi yang nyaman
b. Pajankan area tubuh yang akan dikompres
c. Sangga bagian tubuh yang memerlukan kompres
10. Berikan kompres.
a. Kompres panas
1. Berikan klien instruksi untuk tidak memasukkan benda tajam, benda berujung
runcing ke dalam bantalan atau botol, meletakkan botol atau bantalan secara
langsung, dan mengatur panas yang lebih tinggi dari yang telah ditentukan.
2. Letakkan kemasan pemanas pada tempatnya hanya selama jangka waktu yang
telah ditentukan guna menghindari fenomena rebound. Untuk botol air panas
30-45 menit, untuk bantalan elektrik 10-15 menit.
b. Kompres dingin
1. Letakkan kompres tetap pada tempatnya hanya selama jangka waktu yang telah
ditentukan guna menghindari fenomena rebound dan efek yang membahayakan
dari kompres dingin yang berkepanjangan.
c. Kompres kasa/ kemasan basah
1. Letakkan kasa di dalam larutan, atau
2. Panaskan flanel atau handuk di dalam sebuah alat pemanas, atau dinginkan
flanel atau handuk di dalam baskom berisi air dan keping es
3. Lindungi kulit sekitar luka sesuai indikasi: Dengan lidi kapas, oleskan jeli
minyak ke kulit di sekeliling luka untuk melindungi kulit dari kemungkinan
luka bakar, maserasi, atau efek iritasi.
4. Tempelkan kompres kasa basa atau kemasan basah:
a. Peras kompres kasa sehingga larutan tidak menetes dari kompres kasa.
b. Tempelkan kasa secara lembut dan bertahap pada area yang dituju hingga
menutupi area yang dikompres dengan baik.
5. Segera sematkan dan fiksasi kompres.
11. Monitor klien selama kompres

12. Dokumentasikan pemberian kompres panas dan respons klien.


13. Lakukan pemeriksaan lanjutan pada klien untuk mengkaji efektivitas terapi dan
mengkaji adanya komplikasi
E. Sumber pustaka
Johnson, J.Y. (2005). Nurses guide to home health procedures. (Terj. Monica Ester). Jakarta:
EGC.
Kozier & Erb. (2009). Kozier and erbs techniques in clinical nursing. (Terj. Eny Meiliya).
Jakarta: EGC.