Anda di halaman 1dari 16

PENANGANAN DAN UPAYA PENGEMBANGAN

PROFESI PENDIDIK AUD

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6
Nama

1. Suraya Atika
(06141281419062)
2. Ismy Nanda Juwita (06141281419024)
3. Arta Trinanda Putri (06141281419025)
4. Mawar Vinka Putri (06141281419028)
5. Sindi Anjali Putri (06141281419066)
6. Dwi Putri Yanti
(06141281419067)
: Dra.Yetty Rahelly M.Pd

Dosen

PENDIDIKAN ANAK USIA DINI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa Atas Berkat
dan rahmatnya kami bisa menyelesaikan tugas Makalah ini dengan Tepat

waktu.Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas akademik Kompetensi Profesional


Pendidik AUD. Adapun topik yang dibahas didalam makalah ini adalah Penanganan
dan Upaya Pengembangan Profesi Pendidik AUD.
Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Ibu Yetty Rahelly sebagai dosen
pembimbing yang telah membimbing kami didalam menyusun makalah ini. Kami
juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi untuk
tersajinya makalah ini.
Kami menyadari bahwa Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, hal itu
dikarenakan keterbatasan yang ada. Sehingga kami sangat mengharapkan saran dan
kritik yang membangun dari pembaca.
Kiranya makalah ini memberikan banyak manfaat bagi kehidupan kita
semua.Sehingga

permasalahan

landasan

pengembangan

kurikulum

dapat

terselesaikan. Atas perhatiannya, kami ucapkan terima kasih.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL.............................................................................................1
KATA PENGANTAR............................................................................................2

DAFTAR ISI..........................................................................................................3
PENDAHULUAN.................................................................................................4
A. LatarBelakang Masalah...................................................................................4
B. Rumusan Masalah...........................................................................................5
C. Tujuan Makalah..............................................................................................5
PEMBAHASAN....................................................................................................6
A. Upaya Mengatasi Permasalahan Profesi Pendidik PAUD.............................6
B. Upaya Mengembangkan Profesi Pendidik AUD...........................................7
C. Peran HIMPAUDI dalam mengembangkan PAUD.......................................10
PENUTUP.............................................................................................................15
A. Kesimpulan....................................................................................................15
B. Saran..............................................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................16

PENDAHULUAN
1.

Latar Belakang Masalah


Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah usah sadar dalam memfasilitasi
pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak sejak lahir sampai dengan usia
enam tahun yang dilakukan melalui penyediaan pengalaman dan stimulasi yang kaya dan
3

bersifat mengembangkan secara terpadu dan menyeluruh agar anak dapat bertumbuh
kembang secara sehat dan optimal sesuai dengan nilai, norma, dan harapan masyarakat.
Dari hasil seminar tentang Pengembangan PAUD di Indonesia sepakati bahwa dalam
batasan ini ada beberapa ungkapan pokok yang perlu dijelaskan. Pertama, PAUD
sebagai usaha sadar dalam memfasilitasi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan
rohani anak. Ungkapan ini mengandung arti bahwa PAUD merupakan suatu aktivitas
yang dilakukan secara sengaja dalam rangka mendukung dan memperlancar
pertumbuhan dan perkembangan. Kedua, anak yang dimaksud secara kronologis dibatasi
pada anak sejak lahir hingga usia enam tahun.Ketiga, pendidikan itu dilakukan melalui
upaya

penyediaan

pengalaman

dan

perangsangan

yang

kaya

dan

bersifat

mengembangkan sehingga tecipta suatu lingkungan belajar dan perkembangan kondusif


bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.
Keempat, upaya pendidikan tersebut dilakukan secara terpadu dan menyeluruh
sekurang-kurangnya mengandung dua pengertian. Secara mikro dilihat dari sisi interaksi
pendidikan dengan anak, ungkapan terpadu dan menyeluruh ini mengandung arti bahwa
layanan pendidikan yang diberikan kepada anak harus mendukung segenap aspek
perkembangan anak dan dilakukan dalam suatu kesatuan program yang utuh dan
proposional. Dan secara makro dilihat dari sisi penyelenggaraan program PAUD,
ungkapan tersebut mengandung arti bahwa program-program PAUD perlu dilakukan
secara terkoordinasi dan melibatkan berbagai pihak terkait.Terakhir, tujuan PAUD adalah
tercapainya perkembangan anak yang sehat dan optimal serta dimilikinya kesiapan dan
berbagai perangkat keterampilan hidup yang diperlukan untuk proses perkembangan dan
pendidikan anak selanjutnya. Karena anak merupakan bagian dan sekaligus generasi
penerus masyarakat, maka pertumbuhan dan perkembangan yang diraih oleh anak
tentunya harus sejalan dengan nilai-nilai, norma-norma, dan harapan masyarakat.

2. Rumusan Masalah
1. Bagaimana penanganan profesi pendidik anak usia dini?
2. Bagaimana upaya pengembangan profesi pendidik anak usia dini?
3. Tujuan Makalah
1. Dapat memahami dan mengimplementasikan penanganan permasalahan profesi
pendidik anak usia dini.
2. Dapat memahami dan mengimplementasikan pengembangan profesi pendidik anak
usia dini.

PEMBAHASAN
PENANGANAN DAN UPAYA PENGEMBANGAN
PROFESI PENDIDIK AUD

A. Upaya Mengatasi Permasalahan Profesi Pendidik AUD


Permasalahan profesi pendidik pendidikan anak usia dini non formal terutama berkaitan
dengan kuantitas (jumlah), kualitas (mutu), relevansi (kesesuaian antara keahlian dengan
kebutuhan lapangan), penyelenggaraan pendidikan prajabatan, dan penyelenggaraan

pendidikan dalam jabatan, serta masalah organisasi profesi PAUD. Adapun upaya-upaya yang
dapat dilakukan untuk mengatasi beberapa permasalahan tersebut adalah:
1. Memberdayakan sumber daya manusia yang potensial yang ada di daerah setempat.
Latar belakang pendidikan calon pendidik juga harus menjadi pertimbangan, karena
penanganan anak usia dini yang berkualitas tidak dapat dilakukan oleh sembarang
orang. Yang berlatar belakang pendidikan sarjana mungkin masih sangat langka,
karena itu warga masyarakat yang berpendidikan SLTA dapat menjadi prioritas, yang
penting mereka punya keinginan dan motivasi untuk memajukan pendidikan anak usia
dini di daerahnya. Sebelum terjun mejadi pendidik, mereka perlu mendapatkan
pelatihan yang intensif sehingga mereka memiliki bekal untuk bekerja di bidang
tersebut.
2. Untuk meningkatkan wawasan dan keterampilan pendidik yang saat ini sudah
menekuni bidang pendidikan anak usia dini, perlu ada penyenggaraan pendidikan dan
latihan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendidikan dan latihan tersebut
sebaiknya dilaksanakan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK)
yang memiliki program studi yang relevan.
3. Berkaitan dengan masih rendahnya penghargaan masyarakat terhadap pendidik PAUD
non formal, hendaknya pemerintah memfasilitasi dan memberikan kesempatan seluasluasnya kepada para tenaga pendidik tersebut untuk dapat meningkatkan
kualifikasinya melalui jenjang pendidikan S1 dalam program studi yang relevan.
Dengan adanya peningkatan kualifikasi pendidikan ini, maka tenaga pendidik PAUD
non formal memiliki posisi yang sejajar dengan tenaga pendidik PAUD formal yang
pada gilirannya akan meningkatkan pengakuan dan penghargaan masyarakat terhadap
mereka. Peningkatan kualifikasi pendidikan tersebut tentu harus dibarengi dengan
peningkatan kesejahteraan yang lebih layak.
4. Dalam kaitannya dengan masih terbatasnya jumlah perguruan tinggi yang memiliki
jurusan khusus pendidikan anak usia dini, pemerintah hendaknya memberikan
peluang yang lebih besar dan mempermudah perizinan pembukaan program studi
pendidikan anak usia dini. Dengan dibukanya peluang ini maka akses warga
masyarakat khususnya lulusan SLTA untuk memasuki program studi pendidikan anak
usia dini akan semakin mudah.
5. Pendidikan dan pelatihan berjenjang merupakan salah satu alternative yang dapat
dilakukan untuk meningkatkan kualifikasi pendidikan tenaga pendidik PAUD. Namun
tentu saja penyelenggaraan pendidikan jenis ini harus setara dengan penyelenggaraan
jenjang S1 reguler baik dari substansi programnya maupun dari bobot atau jam

pelatihannya sehingga keikutsertaan mereka dalam pendidikan dan pelatihan ini dapat
dipertanggungjawabkan jika mereka akan mengikuti studi lanjut dalam jalur
6.

pendidikan formal.
Perlu ada sosialisasi yang lebih luas dan intensif tentang organisasi profesi PAUD
kepada para pendidik PAUD non formal, sehingga keberadaan organisasi ini dapat
memberdayakan mereka secara optimal.

B. Upaya Pengembangan Profesi Pendidikan PAUD


Pengembangan profesi tenaga pendidik PAUD non formal secara garis besar dapat
dilakukan melalui dua macam jalur, yaitu jalur individual, dan jalur kelembagaan.
Jalur individual adalah usaha pengembangan profesi yang dilakukan oleh setiap orang
baik secara langsung maupun tidak langsung melaksanakan pekerjaan dan tugas
sebagai pendidik (guru, tutor, atau sebutan lainnya). Sedangkan jalur kelembagaan
adalah upaya pengembangan profesi pendidik PAUD yang diselenggarakan melalui
lembaga pendidikan formal, non formal, dan organisasi profesi.
1. Pengembangan melalui jalur individual
Upaya-upaya individual yang dapat dilakukan pendidik

PAUD

dalam

mengembangkan kemampuan profesional, antara lain dengan jalan:


a. Belajar mencintai pekerjaan sebagai pendidik (guru, tutor). Ini berarti bahwa
guru belajar mencari hal-hal yang positif dari pekerjaannya sebagai pendidik,
kemudian mensyukuri pekerjaan tersebut. Mencintai pekerjaan dapat terjadi
bila kita merasa dekat dan akrab dengan pekerjaan itu, lalu menghayati makna
pekerjaan itu bagi diri sendiri, bagi anak didik, bagi masyarakat dan bagi
agama.
b. Membaca majalah, jurnal, artikel, dan surat kabar yang relevan dengan
pendidikan anak usia dini. Kehidupan mengalami perkembangan yang sangat
pesat dalam segala bidang termasuk bidang pendidikan. Karena itu agar para
pendidik tidak tertinggal oleh perkembangan dunia pendidikan anak usia dini,
maka pendidik perlu mengikuti perkembangan tersebut secara kritis dengan
jalan membaca sumber-sumber bacaan yang tepat.
c. Belajar melalui bekerja ( learning by doing). Ini adalah cara yang sangat
efektif untuk mengembangkan kemampuan profesional. Melalui bekerja para
pendidik memperoleh pengalaman yang berharga. Darinya para pendidik juga
dapat mengkaji apakah yang kita lakukan itu sudah tepat atau belum.
Pengalaman-pengalaman tersebut dapat dijadikan dasar bagi para pendidik
untuk memperbaiki kekeliruan dan kesalahan misalnya dalam merencanakan

pembelajaran, menyajikan materi pembelajaran,

menerapkan metode

pembelajaran, memilih dan menggunakan media pembelajaran, serta


mengevaluasi perkembangan anak. Demikian ketepatan dalam bekerja dapat
dijadikan dasar untuk memperkuat dan memantapkan pekerjaan tersebut.
d. Menonton film-film yang relevan dengan bidang pendidikan anak usia dini.
Dewasa ini sangat banyak film-film yang dikemas dalam Video Compact Disk
(VCD) atau sejenisnya yang disajikan demikian menarik. Media seperti itu
dapat menambah wawasan para pendidik untuk meningkatkan kemampuan
profesionalnya.
e. Belajar bersama kawan atau teman sejawat. Melalui pertemuan yang dapat
dilakukan secara rutin dan berkala, para pendidik dapat membahas
permasalahan yang ditemui di tempat kerja masing-masing. Dengan belajar
bersama teman sejawat, kita juga dapat berbagi pengalaman yang berharga
tentang masalah menghadapi anak, mengelola pembelajaran, menyusun
program pembelajaran, dan sebagainya.
f. Belajar melalui penataran, seminar, lokakarya, dan pelatihan bidang
pendidikan anak usia dini. Melalui kegiatan-kegiatan seperti ini, para pendidik
dapat menambah pengetahuan, wawasan, dan keterampilan yang sangat
penting bagi peningkatan kualitas pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran
anak usia dini. Hasil-hasil pelatihan-pelatihan tersebut hendaknya dicoba
diterapkan sesuai dengan kondisi lembaga PAUD masing-masing, atau
disosialisasikan kembali kepada teman-teman yang tidak berkesempatan
mengikutinya sehingga akan memantapkan wawasan dan keterampilan kita.
Di samping itu juga memberikan manfaat kepada orang lain.
g. Masuk sebagai anggota organisasi profesi, misalnya HIMPAUDI atau forum
PAUD dan sebagainya. Melalui cara ini, para pendidik akan semakin lebih
memantapkan profesinya sebagai pendidik.
2. Pengembangan Melalui Jalur Kelembagaan
Upaya-upaya pengembangan profesi pendidik PAUD non formal yang dapat
dilakukan melalui jalur kelembagaan antara lain:
a. Dibukanya kesempatan yang lebih terbuka dan lebih luas bagi Lembaga
Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk menyelenggarakan Program
Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak usia Dini (PG-PAUD).
b. Lembaga Pendidikan Tenaga kependidikan (LPTK) yang

telah

menyelenggarakan program studi PG-PAUD hendaknya lebih mengintensifkan


pelaksanaan proses pendidikan guru. Hal ini dapat dilakukan antara lain

dengan lebih memantapkan kurikulumnya sehingga secara konsepsional atau


teoritis sesuai dengan tingkat dan jenis kompetensi yang dibutuhkan oleh
pihak lapangan.
c. Lebih mengintensifkan

kerja

sama

antar

lembaga

pendidikan

prajabatan/persiapan, lembaga pelatihan/penataran dan lembaga PAUD sebagai


medan kerja pendidik PAUD.
d. Mengaitkan penyelenggaraan

pelatihan/penataran

dengan

peningkatan

kualifikasi pendidikan. Hasil pelatihan/penataran hendaknya dihargai seperti


pendidikan persiapan, sehingga dapat dipergunakan untuk menentukan
kewenangan akademis.
e. Lebih banyak melakukan penelitian yang berkaitan dengan profesi pendidik
PAUD, sehingga hasil temuannya dijadikan dasar untuk lebih mengembangkan
profesi pendidik PAUD tersebut.
3. Pengembangan Melalui Jalur Organisasi Profesi
Upaya-upaya yang dapat dilakukan melalui jalur organisasi profesi antara lain:
a. Secara bertahap menguatkan keanggotaan organisasi profesi pendidik PAUD
non formal. Secara bijaksana dan berangsur-angsur keanggotaan organisasi
profesi pendidik PAUD non formal ditingkatkan sehingga mempunyai
kualifikasi pendidikan formal jenjang S1 serta kemampuan nyata yang
bertingkat perguruan tinggi.
b. Secara berangsur-angsur dan bijaksana, diusahakan agar kode etik guru mampu
menjiwai kehidupan profesional guru.
c. Organisasi profesi hendaknya lebih intensif untuk meningkatkan usaha
memperkaya kegiatan forum-forum ilmiah yang membahas masalah- masalah
profesional pendidikan anak usia dini dan upaya pemecahannya.
C. Peran HIMPAUDI Dalam Pengembangan PAUD
1. Pengertian, Tugas, dan Fungsi HIMPAUDI
Pengertian HIMPAUDI. HIMPAUDI adalah suatu organisasi independen yang
menghimpun unsur pendidik dan tenaga kependidikan anak usia dini. Pendidik anak
usia dini adalah tenaga yang berperan menjadi panutan, pembimbing, pengasuh dan
fasilitator bagi anak usia dini. Pendidik bagi anak usia dini disebut pendidik (guru).
Sedangkan tenaga kependidikan adalah pengelola, pemerhati, pakar, praktisi dan
masyarakat umum lainnya yang melaksanakan program PAUD (http://www.scribd.
com/doc/9628183/HIMPAUDI-ADARTpdf).
Tugas Pokok dan Fungsi (Tupoksi) HIMPAUDI. Ada empat tugas pokok
HIMPAUDI yaitu: (i) Mensosialisaikan pentingnya pendidikan anak usia dini yang

berkualitas kepada semua lapisan masyarakat; (ii) Melakukan pembinaan dan


pengembangan organisasi secara berjenjang; (iii) Menampung, memperjuangkan dan
mewujudkan aspirasi para pendidik dan tenaga kependidikan anak usia dini; (iv)
Memfasilitasi pengembangan profesi pendidik dan tenaga kependidikan anak usia
dini. Fungsi HIMPAUDI yaitu: (i) Mempersatu-kan para pendidik dan tenaga
kependidikan anak usia dini di Indonesia; dan (ii) Meningkatkan kualitas pendidikan
anak usia dini sesuai dengan konsep dasar pembinaan tumbuh kembang anak secara
holistik.
Dalam AD pasal 17 diungkapkan tentang struktur organisasi HIMPAUDI
berjenjang dari tingkat pusat, tingkat wilayah, tingkat daerah, dan tingkat cabang.
Struktur organisasi tersebut dijabarkan dalam ART pasal 8 yaitu struktur pengurus
Pusat untuk tingkat Nasional, struktur pengurus Wilayah untuk tingkat Provinsi,
struktur pengurus Daerah untuk tingkat Kabupaten/Kota, dan struktur pengurus
Cabang untuk tingkat Kecamatan. Pada pasal 21 AD diungkapkan tentang
pengangkatan, pengesahan, dan pelantikan. Pengurus Pusat HIMPAUDI disahkan
oleh Musyawarah Nasional (Munas) dan pelaksanaannya diatur dalam ART. Pengurus
wilayah, daerah, dan cabang HIMPAUDI diangkat, disahkan, dan dilantik oleh
pengurus setingkat lebih tinggi dan pelaksanaanya diatur dalam ART.

2. Aktifitas HIMPAUDI
HIMPAUDI mempunyai aktifitas/kegiatan yang telah ditetapkan dalam Tata
Kerja

HIMPAUDI

(http://

www.scribd.com/doc/9628179/Himpaudi-Tata-Kerja).

Sehingga setiap HIMPAUDI di daerah harus mengikuti langkah kegiatan yang telah
ditetapkan dalam Tata Kerja tersebut. Adapun program kegiatan tersebut disusun
melalui tahapan sebagai berikut:
a. Perencanaan: Setelah HIMPAUDI terbentuk serta disahkan maka untuk selanjutnya
pengurus serta anggota organisasi bersama-sama membuat perencanaan program kerja
dan sosialisasi sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah;
b. Pelak-sanaan: Perencanaan yang sudah dibuat kemudian diimplementasikan atau
dilaksanakan melalui berbagai kegiatan yang menganut prinsip-prinsip prioritas,
efektifitas dan efisiensi;
c. Monitoring dan Evaluasi: Pelaksanaan kegiatan yang sedang berjalan harus dimonitor
untuk melihat apakah sesuai dengan perencanaan yang dibuat. Setelah kegiatan
selesai harus dievaluasi untuk mengukur keberhasilan kegiatan. Hasil evaluasi dapat
dijadikan masukan bagi peren-canaan program berikutnya; dan
d. Pelaporan: Untuk mempertanggungjawabkan kegiatan yang telah dilaksanakan harus
membuat laporan. Laporan dibuat sebagai bentuk transparansi kepada berbagai pihak

10

terkait. Sehingga akuntabilitas dan kredibilitas himpunan dapat dijaga dengan baik.
Pelaporan berisi antara lain: laporan kegiatan dan pertangungjawaban keuangan.
3. Mensosialisasikan pentingnya PAUD yang berkualitas
Berbagai upaya untuk mensosialisasikan PAUD telah dilakukan oleh
HIMPAUDI baik di tingkat Pusat, propinsi, kabupaten/kota maupun kecamatan.
Dalam sosialisasi PAUD tersebut dilakukan berbagai kegiatan, yang seringkali
berkaitan dengan Hari Anak Nasional atau Hari Pendidikan Nasional atau Jambore
PAUD. Presiden RI telah mencanangkan pelaksanaan PAUD se-Indonesia, bersama
dengan puncak Hari Anak Nasional. Tentu sudah saatnya masyarakat bahu-membahu
mengembangkan PAUD, agar terwujud pendidikan berkualitas. Sebagai contoh: (i)
HIMPAUDI Wonosobo dengan kegiatan senam pinguin 1000 anak PAUD; (ii)
HIMPAUDI kota Malang dengan kegiatan menyanyi bersama, membaca syair,
menari, dan fashion show; (iii) HIMPAUDI kabupaten Kutai Kertanegara dengan
pertandingan futsal; (iv) HIMPAUDI Kota Pangkal Pinang dengan kegiatan baca
puisi, senam ceria dan tari kreasi baru yang merupakan ciptakan para guru; (v)
HIMPAUDI kota Bekasi dengan kegiatan pembuatan kreasi kupu-kupu dari
playdough; dan (vi) HIMPAUDI kabupaten Lampung Barat. Tujuan utama dari
kegiatan ini adalah dapat meningkatkan kesadaran orang tua, masyarakat dan
lembaga/organisasi terhadap pentingnya pembinaan pendidikan anak usia dini. Selain
itu juga untuk meningkatkan dukungan, partisipasi dan peran serta masyarakat
terhadap pengem-bangan penyelenggaraan dan pembinaan sebagai program PAUD
dan akses dan mutu layanan PAUD serta pencitraan publik terhadap PAUD. Bagi anak
sendiri kegiatan yang dilakukan HIMPAUDI ini berguna: (i) Untuk menguji
kemampuan anak dalam mengembangkan talenta, anak dapat terus melatih aspek
kemampuannya, baik motorik maupun psikologis, melatih anak menuju kemandirian
dan kedewasaan; (ii) Pemberian stimulus pengayaan pengetahuan anak, dan
pengembangan potensi serta daya kreativitas anak; (iii) Anak jadi lebih berani dan
tidak takut, dalam menghadapi berbagai persoalan, serta lebih kreatif dalam
menyikapi berbagai permasalahan; (iv) Pembentukan sikap mental dan kepribadian
anak yang berlandaskan pada nilai-nilai ajaran agama yang akan menjadi pondasi bagi
perkembangan watak dan kepribadian anak sampai mereka dewasa.
Peran HIMPAUDI dalam rencana Pemerintah akan menerapkan kebijakan
PAUD secara holistic integratif pada tahun 2009 sehingga seluruh penyelenggaraan
PAUD di Tanah Air dapat berpedoman pada suatu acuan yang sama. Dalam PAUD
holistik nantinya terdiri dari berbagai tenaga ahli, baik bidang pendidikan, kesehatan,
psikolog, ilmu gizi dan sebagainya. Pemerintah Daerah akan menjadi pelaksana utama

11

penyelenggaraan PAUD holistik bekerja-sama dengan HIMPAUDI dan organisasi


wanita seperti PKK dan sebagainya. Peran HIMPAUDI dengan Pemerintah tersebut
dilakukan pada saat acara dialog interaktif dalam rangka HUT ke-3 HIMPAUDI tahun
2008.
HIMPAUDI telah menumbuhkan lembaga-lembaga PAUD hampir di tiap
desa. Sebagai contoh kota Pekalongan, Jawa Tengah yang hanya terdiri atas empat
kecamatan, kini sudah berdiri 96 lembaga PAUD (kurang lebih 90% dari wilayah
Kota Pekalongan sudah ada PAUD). Begitupula yang terjadi di kota Serang
mengalami peningkatan yang cukup pesat dari tahun sebelumnya (tahun 2009), yakni
dari sekitar 60 lembaga meningkat menjadi 185 lembaga.
Peran HIMPAUDI dalam pengelolaan, pendampingan dan pembinaan
pendidik PAUD dikemukakan dalam temuan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Pusat Penelitian Kebijakan (Penelitian tentang Kontribusi Pemerintah Daerah dalam
Perintisan dan Penguatan PAUD, tahun 2010). 1) Peran HIMPAUDI dalam
pengelolaan lembaga PAUD, khususnya dalam pengadaan pelatihan, workshop,
seminar yang bertujuan untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi
pengelola dan pendidik PAUD. Dalam pengelolaan lembaga PAUD, HIMPAUDI
melakukan kerjasama dengan pihak lain seperti pihak PKK setempat, forum PAUD,

12

dinas pendidikan setempat, LSM (misal PLAN Indonesia), puskesmas, Pos


Yandu, SKB, IDI dan penilik PLS. Dampak kontribusi HIMPAUDI dalam
pengelolaan lembaga PAUD terlihat positif, khususnya guna meningkatkan sumber
daya manausia (pengelola dan pendidik) lembaga PAUD yang bersangkutan maupun
dalam manajemen lembaga PAUD tersebut. Oleh karena HIMPAUDI telah menjadi
wadah bagi pendidik dan pengelola PAUD, sehingga kepentingan pendidik dan
pengelola tidak terabaikan. Bahkan HIMPAUDI juga mengadakan sosialisasi
pengenalan akan pentingnya PAUD kepada para orangtua, masyarakat, mengadakan
kegiatan lomba bagi AUD, melakukan pendataan lembaga PAUD. 2) Pada peran
sebagai pendamping pendidik dan lembaga PAUD, belum seluruh HIMPAUDI
melakukan pendampingan tersebut karena keterbatasan dana dalam pendampingan.
Bagi HIMPAUDI yang pernah melakukan pendampingan, biasanya melakukan
pendampingan lembaga PAUD pada masa penguatan lembaga tersebut. Adapun
pihak/unsur lain yang terlibat dalam pendampingan, seperti forum PAUD, dinas
pendidikan, PKK, UPT dinas kecamatan (UPTD), Penilik PLS. 3) Sebagian besar
HIMPAUDI telah melakukan pembinaan pendidik dan tenaga pengelola PAUD. Jika
ada HIMPAUDI yang belum melakukannya, maka hal ini dikarenakan HIMPAUDI
tersebut baru terbentuk di daerah sampel. Pihak/ unsur lain yang terlibat dalam
pembinaan, seperti PKK, SKB,LSM (seperti PLAN Indonesia), penilik PLS, dinas
pendidikan dan kesehatan, di mana pada umumnya pembinaan dilakukan minimal 3
kali setahun. Adapun bentuk pembinaan yang dilakukan berupa pelatihan, seminar,
pelatihan dan workshop. Kegiatan ini diadakan melalui kerjasama dengan pihak dinas
pendidikan setempat (disdik kabupaten/ kota), HIMPAUDI tingkat provinsi.
Peran HIMPAUDI Dalam Pengembangan PAUD. PAUD telah dilakukan
dengan berbagai cara dan umumnya dikemas dalam bentuk kegiatan bagi anak usia
dini seperti senam, menyanyi bersama, membaca syair/puisi, menari, pembuatan
kreasi kupu-kupu dari plaudough sampai dengan pertandingan futsal. Kegiatan ini
merupakan sarana bagi pengembangan talenta AUD termasuk pengembangan potensi
dan daya kreativitas anak, pengayaan pengetahuan anak, serta melatih kemampuan
motorik dan psiskologis . Dengan atraksi yang ditunjukkan oleh anak-anak tersebut,
menyadarkan bagi orangtua dan masyarakat terhadap pentingnya pembinaan dan
dukungan terhadap penyelenggaraan PAUD. Sedangkan bagi pendidik AUD kegiatan
tersebut merupakan kesempatan untuk meningkatkan kemampuannya dalam
menciptakan kreasi tarian, nyanyian, syair dan sebagainya. Selain kegiatan bagi anak,
HIMPAUDI juga melakukan sosialisasi program PAUD melalui seminar peningkatan
kualitas lembaga PAUD, dan memberikan pengarahan akan persyaratan pendirian
yang harus dipenuhi oleh lembaga PAUD.

13

Dalam pembinaan dan pengembangan organisasi, HIMPAUDI telah


melakukan pem-bentukan pengurus HIMPAUDI dari tingkat provinsi, kabupaten/kota
sampai tingkat kecamatan. Dengan terbentuknya HIMPAUDI ini berdampak pada
semakin bertambahnya jumlah tenaga pendidik PAUD yang telah bergabung. Untuk
meningkatkan kinerja bagi HIMPAUDI, telah dilakukan lomba secara berjenjang
untuk berkompetensi dalam perencanaan program, kegiatan HIMPAUDI, eksistensi
lembaga PAUD di daerahnya, tenaga pendidik dan siswa yang dimiliki di daerahnya.
Lomba ini memberi semangat bagi pendidik agar potensi-potensi dirinya berkembang
dan bermanfaat bagi anak usia dini, serta berbagi ilmu dan pengalaman bagi sesama
pendidik AUD. Selain lomba, berbagai usaha telah dilakukan HIMPAUDI antara lain
penerbitan majalah bagi pendidik, tenaga kependidikan serta orangtua dan diharapkan
memberi semangat bagi pendidik untuk mengembangkan buah pikir melalui karya
tulis.
Dalam menjalankan tugasnya untuk memper-juangkan dan mewujudkan
aspirasi para pendidik, HIMPAUDI telah memperjuangkan para pendidik untuk
memperoleh insentif, walau jumlah insentif yang diterima dari pemerintah masih
kurang dari yang diharapkan. Oleh karenanya berbagai usaha telah dilakukan
HIMPAUDI antara lain dengan pendirian kewirausaha dalam bentuk koperasi untuk
mendanai operasional HIMPAUDI dan memberi ketenangan dalam berusaha (walau
belum dapat mensejahterahkan pendidik).
Peran HIMPAUDI dalam pengembangan profesi pendidik dan tenaga
kependidikan AUD telah diwujudkan dengan berbagai upaya yaitu (i) Telah
dibukanya program S1 di perguruan tinggi yang merupakan bentuk wacana yang telah
dicetuskan dalam Workshop HIMPAUDI tahun 2007; (ii) Pelatihan dasar bagi
pendidik AUD, pelatihan konsep PAUD dan pendekatan pembelajaran AUD; (iii)
Pelatihan pengelolaan data online bagi pengurus HIMPAUDI; (iv) Seminar pola
pembelajaran tematik pada PAUD. Semua bentuk kegiatan tersebut dilakukan
HIMPAUDI dengan kerjasama dengan pihak lain seperti pihak PKK setempat, forum
PAUD, dinas pendidikan setempat, LSM (misal PLAN Indonesia), puskesmas, Pos
Yandu, SKB, IDI dan penilik PLS. Melalui pelatihan dan seminar tersebut,
kepentingan pendidik dan pengelola tidak terabaikan dalam meningkatkan mutu
PAUD.

14

PENUTUP
A. KESIMPULAN

Permasalahan profesi pendidik pendidikan anak usia dini non formal terutama berkaitan
dengan kuantitas (jumlah), kualitas (mutu), relevansi (kesesuaian antara keahlian dengan
kebutuhan lapangan), penyelenggaraan pendidikan prajabatan, dan penyelenggaraan
pendidikan dalam jabatan, serta masalah organisasi profesi PAUD.
Pengembangan profesi tenaga pendidik PAUD non formal secara garis besar dapat
dilakukan melalui dua macam jalur, yaitu jalur individual, dan jalur kelembagaan. Jalur
individual adalah usaha pengembangan profesi yang dilakukan oleh setiap orang baik
secara langsung maupun tidak langsung melaksanakan pekerjaan dan tugas sebagai
pendidik (guru, tutor, atau sebutan lainnya). Sedangkan jalur kelembagaan adalah upaya
pengembangan profesi pendidik PAUD yang diselenggarakan melalui lembaga
pendidikan formal, non formal, dan organisasi profesi.
B. SARAN

Kompetensi seorang guru yaitu seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku


yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan
tugas keprofesionalan. Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat
pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional.Guru adalah pendidik, maka pendidik merupakan orang yang
bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pendidikan dengan sasarannya adalah anak
didik. Anak didik mengalami pendidikannya dalam tiga lingkungan, yaitu keluarga,
sekolah, dan masyarakat. Oleh karena itu pengembangkan potensi guru pendidik anak
usia dini sangat penting untuk menunjang terwujudnya tujuan pendidikan anak usia dini.

15

DAFTAR PUSTAKA

Bappenas. 2009. Strategi Nasional Pengembangan Anak Usia Dini Holistik-Integratif.


Jakarta: Kemneg Perencanaan Pembangunan Nasional.
Direktorat PAUD. 2002. Acuan Menu Pembelajaran pada Pendidikan Anak Dini Usia
(Menu Pembelajaran Generik). Jakarta: Depdiknas.
Direktorat PAUD. 2004. Bahan Pelatihan: Lebih Jauh tentang Sentra dan Saat Lingkaran.
Jakarta: Depdiknas.
Direktorat PAUD. 2006. Pedoman Penerapan Pendekatan Beyond Centers and Circle
Time (BCCT)/Pendekatan Sentra dan Lingkaran dalam Pendidikan Anak Usia
Dini. Jakarta: Depdiknas.
Direktorat PAUD. 2009. Pedoman Pemberian Bantuan Bagi Forum Pendidikan Anak
Usia Dini dan Himpaudi. Jakarta: Depdiknas
Direktorat PAUD. 2010. Pedoman Teknis Penyelenggaraan Pos PAUD. Jakarta:
Kemdiknas.
Supriadi, Dedi. (1998). Meningkatkan Citra dan Martabat Guru. Yogyakarta: Adicita
Karya Nusa
Tim Dosen Mata Kuliah Dasar-Dasar Kependidikan. (1987). Dasar-dasar Pengembangan
Guru dan Profesinya dalam Dasar-dasar Kependidikan. Bandung: IKIP Bandung

16