Anda di halaman 1dari 10

TUGAS KIMIA PEMISAHAN DAN KROMATOGRAFI

GAS KROMATOGRAFI

Oleh :
Siti Khotijah
M0312069

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2014
KROMATOGRAFI GAS
1. Pengertian

Gambar 1. Alat Kromatografi Gas


Kromatografi gas adalah proses pemisahan campuran menjadi
komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak
yang melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang diam. Fase gerak
adalah gas dan zat terlarut terpisah sebagai uap. Pemisahan tercapai
dengan partisi sampel antara fase gas bergerak. Fase diam berupa cairan
dengan titik didih tinggi (tidak mudah menguap) yang terikat pada zat
padat penunjangnya. Kromatografi gas memisahkan suatu campuran
berdasarkan kecepatan migrasinya di dalam fase diam yang dibawa oleh
fase gerak. Sedangkan perbedaan migrasi ini disebabkan oleh adanya
perbedaan interaksi diantara senyawa-senyawa kimia tersebut (di dalam
campuran) dengan fase diam dan fase geraknya. Interaksi ini adalah
adsorbsi, partisi, penukar ion dan jel permiasi.
2. Prinsip kerja kromatografi gas
Kromatografi gas mempunyai prinsip yang sama dengan
kromatografi lainnya, tapi memiliki beberapa perbedaan misalnya proses
pemisahan campuran dilakukan antara stasionary fase cair dan gas fase
gerak dan pada oven temperur gas dapat dikontrol sedangkan pada
kromatografi kolom hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak
dimiliki. Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang mana solutsolut yang mudah menguap (dan stabil terhadap panas) bermigrasi melalui
kolom yang mengandung fase diam dengan suatu kecepatan yang
tergantung pada rasio distribusinya. Pemisahan pada kromatografi gas

didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan semua


interaksi yang mungkin terjadi antara solute dengan fase diam.
Prinsip utama pemisahan dalam kromatografi gas adalah
berdasarkan perbedaan laju migrasi masing-masing komponen dalam
melalui kolom. Secara sederhana prinsip kromatografi gas adalah udara
dilewatkan melalui nyala hydrogen (hydrogen flame) selanjutnya uap
organik tersebut akan terionisasi dan menginduksi terjadinya aliran listrik
pada detektor, kuantitas aliran listrik sebanding dengan ion.
3. Bagian bagian kromatografi gas

Gambar 2. Skema alat kromatografi gas


Sistem peralatan dari kromatografi gas terdiri dari 7 bagian utama
diantaranya :
1. Gas Pembawa
Gas pembawa ditempatkan dalam tabung bertekanan tinggi.
Biasanya tekanan dari silinder sebesar 150 atm. Aliran gas akan
mengelusi komponen-komponen dengan waktu yang karaterisitik
terhadap komponen tersebut (waktu retensi). Karena kecepatan gas
tetap maka komponen juga mempunyai volume yang karateristik untuk
gas pembawa (volume retensi).
Adapun persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh gas
pembawa adalah :
1. Inert, agar tidak terjadi interaksi dengan pelarut.
2. Murni, mudah didapat dan murah harganya.
3. Dapat mengurangi difusi dari gas.
4. Cocok untuk detektor yang digunakan.
Gas-gas yang sering dipakai adalah : helium, argon, nitrogen,
karbon dioksida dan hidrogen.Gas helium dan argon sangat baik, tidak
mudah terbakar, tetapi sangat mahal. H2 mudah terbakar, sehingga

harus berhati-hati dalam pemakaiannya. Kadang-kadang digunakan


juga CO2.
2. Tempat Injeksi
Tempat injeksi dari alat GC selalu dipanaskan. Dalam kebanyakan
alat, suhu dari tempat injeksi dapat diatur. Aturan pertama untuk
pengaturan suhu ini adalah bahwa suhu tempat injeksi sekitar 50C
lebih tinggi dari titik didih campuran dari cuplikan yang mempunyai
titik didih yang paling tinggi. Cuplikan dimasukkan ke dalam kolom
dengan cara menginjeksikan melalui tempat injeksi.Hal ini dapat
dilakukan dengan pertolongan jarum injeksi yang sering disebut "a gas
tight syringe".
Cuplikan yang diinjeksikan tidak boleh terlalu banyak, karena GC
sangat sensitif. Biasanya jumlah cuplikan yang diinjeksikan pada
waktu kita mengadakan analisa 0,5 -50 ml gas dan 0,2 - 20 ml untuk
cairan. Ketepatan volum injeksi menjadi sangat penting untuk analisa
kuantitatif di mana jumlah analit yang diukur oleh detektor tergantung
pada konsentrasi analit dalam cuplikan. Apabila prosedur dikehendaki
hanya untuk identifikasi (analisis kualitatif), maka ketepatan volum
injeksi menjadi kurang penting.
3. Kolom
Kolom merupakan jantung dari kromatografi gas. Bentuk dari
kolom dapat lurus, bengkok, misal berbentuk V atau W, dan
kumparan/spiral. Biasanya bentuk dari kolom adalah kumparan.
Panjang kolom dapat dari 1 m sampai 3 m. Diameter kolom
mempunyai berbagai ukuran, biasanya pengukuran berdasarkan
diameter dalam dari kolom gelas yaitu antara 0,3 mm hingga 5 min.
Instrumen GC didisain supaya kolom dapat diganti secara
mudah dengan melepaskan fitting di dalam oven. Ide penggantian
kolom yang lebih panjang adalah memberikan kesempatan kontak
lebih lama antara campuran komponen dengan fasa diam yang pada
gilirannya memperbaiki pemisahan. Interaksi campuran komponen
dengan cairan fasa diam memainkan peran kunci dalam proses
pemisahan sehingga sifat-sifat fasa diam menjadi penting.

Ada 2 jenis kolom yang digunakan dalam kromatografi gas


secara umum, yaitu kolom jejal (packed columns) dan kolom tubuler
terbuka (open tubular columns). Kolom jejal (packed columns) adalah
kolom metal atau gelas yang diisi bahan pengepak terdiri dari
penunjang padatan yang dilapisi fase cair yang tidak menguap (untuk
kromatografi gas-padatan). Kolom tubuler terbuka sangat berbeda
dengan kolom jejal, yaitu gas yang mengalir sepanjang kolom tidak
mengalami hambatan, karena kolomnya merupakan tabung tanpa
bahan pengisi.

Gambar 3. Kolom dalam Kromatografi Gas


4. Detektor
Detektor berfungsi sebagai pendeteksi komponen-komponen
yang telah dipisahkan dari kolom secara terus-menerus, cepat, akurat,
dan dapat melakukan pada suhu yang lebih tinggi. Detektor harus
dapat dipercaya dan mudah digunakan. Fungsi umumnya mengubah
sifat-sifat molekul dari senyawa organik menjadi arus listrik kemudian
arus listrik tersebut diteruskan ke rekorder untuk menghasilkan
kromatogram. Detektor yang umum digunakan:
1. Detektor hantaran panas (Thermal Conductivity Detector/ TCD)
Prinsip kerja TCD didasarkan pada perbedaan daya hantar
panas, relatif terhadap gas pembawa. Filament dipanaskan, dimana
suhu filament tergantung pada konduktivitas panas gas di

sekelilingnya. Konduktivitas panas efluen kolom lebih rendah


(karena adanya sampel). Adanya sampel melewati kolom
menyebabkan jembatan Wheatstone tak seimbang sehingga terjadi
signal.TCD berdasar atas prinsip, suatu benda yang panas akan
kehilangan panasnya pada suatu kecepatan yang tergantung kepada
komposisi gas di sekitarnya. Jadi, kecepatan hilangnya panas itu
dapat digunakan sebagai ukuran tentang komposisi gas. Gas
pembawa yang mengandung sample atau analit masuk ke dalam
kolom, maka konduktivitas gas akan turun dan suhu filamen akan
meningkat serta resistansi. Lewatnya sampel melalui kolom
menyebabkan Jembatan Wheatstone yang tak seimbang sehingga
terjadi signal yang terbaca pada detektor.
2. Detektor ionisasi nyala (Flame Ionization Detector/ FID)

Gambar 4. Detektor ionisasi nyala


Prinsip kerja detector FID didasarkan pada senyawa yang
terbawa fasa gerak diionisasi dengan nyala (H2 + O2 / udara).
Perubahan arus akibat ionisasi diukur sebagai respon analit. Tidak
senstif terhadap karbon yang teroksidasi penuh. FID merupakan
detektor yang paling luas penggunaannya, bahkan dianggap
sebagai detektor yang universal untuk analisis obat dalam cairan
biologis menggunakan GC. Pada detector ini, komponenkomponen sampel yang keluar dari kolom dibakar dalam nyala
(campuran gas hidrogen dan udara atau oksigen). Sejumlah besar
ion yang terbentuk dalam nyala masuk ke dalam celah elektrode
dan menurunkan tegangan listrik dari celah elektrode mula-mula.

Penurunan tegangan ini yang kemudian dicatat sebagai sinyal oleh


rekorder. Intensitas sinyal ini berbanding lurus dengan konsentrasi
solute dalam gas pembawa.
3. Detektor penangkap elektron (Electron Capture Detector/ ECD)
Prinsip kerja detector ECD didasarkan pada mekanisme
deteksi melibatkan emisi partikel radioaktif () dari 63Ni. Partikel
menghasilkan elektron termal dari gas pembawa. Berdasarkan
penangkapan elektron termal oleh molekul sampel. Pada ECD
terdapat pemancar radioaktif , seperti 3H atau 63Ni yang akan
mengionisasi gas pembawa. Aliran elektron sebagai hasil ionisasi
gas

pembawa

(nitrogen

atau

argon/methan)

dalam

ECD

memberikan sinyal yang berupa baseline suatu kromatogram. Bila


kemudian suatu senyawa masuk ke dalam detektor, sebagian dari
elektron tersebut akan ditangkap oleh senyawa sebelum mereka
mencapai plat detektor. Ini mengakibatkan aliran arus listrik dalam
detektor berkurang, yang oleh rekorder akan dicatat sebagai suatu
peak.
4. Detektor fotometrik nyala (Falame Photomertic Detector/ FPD)
5. Detektor nyala alkali
6. Detektor spektroskopi massa
Detektor yang peka terhadap senyawa organik yang
mengandung fosfor adalah FID, ECD, dan FPD. Detektor
penangkap elektron (Electron Capture Detector ECD). Pada
penetapan ini, digunakan detektor penangkap elektron. Detektor ini
merupakan modifikasi dari FID yaitu pada bagian tabung ionisasi.
Dasar dari ECD ialah terjadinya absorbsi e- oleh senyawa yang
mempunyai

afinitas

terhadap

e-

bebas

(senyawa-senyawa

elektronegatif). Dalam detektor gas terionisasi oleh partikel yang


dihasilkan dari 3H atau 63Ni. Detektor ini mengukur kehilangan
sinyal ketika analit terelusi dari kolom kromatografi. Detektor ini
peka terhadap senyawa halogen, karbonil terkoyugasi, nitril, nitro,
dan organo logam, namun tidak peka terhadap hidrokarbon, ketone,
dan alkohol.

5. Recorder (pencatat)
Recorder berfungsi sebagai pengubah sinyal dari detektor yang
diperkuat melalui elektrometer menjadi bentuk kromatogram. Sinyal
analitik yang dihasilkan detektor dikuatkan oleh rangkaian elektronik
agar bisa diolah oleh rekorder atau sistem data. Sebuah rekorder
bekerja dengan menggerakkan kertas dengan kecepatan tertentu. di
atas kertas tersebut dipasangkan pena yang digerakkan oleh sinyal
keluaran detektor sehingga posisinya akan berubah-ubah sesuai dengan
dinamika keluaran penguat sinyal detektor. Hasil rekorder adalah
sebuah kromatogram berbentuk pik-pik dengan pola yang sesuai
dengan kondisi sampel dan jenis detektor yang digunakan.
Rekorder biasanya dihubungkan dengan sebuah elektrometer
yang dihubungkan dengan sirkuit pengintregrasi yang bekerja dengan
menghitung jumlah muatan atau jumlah energi listrik yang dihasilkan
oleh detektor. Elektrometer akan melengkapi pik-pik kromatogram
dengan data luas pik atau tinggi pik lengkap dengan biasnya.
Sistem data merupakan pengembangan lebih lanjut dari
rekorder dan elektrometer dengan melanjutkan sinyal dari rekorder dan
elektrometer ke sebuah unit pengolah pusat (CPU,Central Procesing
Unit).
4. Metode Analisis kromatografi gas
Bila volum atau konsentrasi dari masing-masing komponen yang
terpisah sudah tertentu, hal itu disebut penentuan volumetrik (volumetric
determination). GC didasarkan pada prinsip bahwa komponen target yang
terdeteksi adalah murni karena sudah dipisahkan dari komponenkomponen lain dalam cuplikan. Bila pemisahan ini betul-betul sempurna,
volumnya (konsentrasinya) dapat ditentukan dengan tingkat keakuratan
yang sangat tinggi.
Berikut 4 pokok metoda analisis (penentuan volumetrik) yang
digunakan dalam GC:
1. Metoda persentase luas permukaan (surface area percentage method)
2. Metoda pengaturan persentase luas permukaan (adjusted surface area
percentage method)
3. Metoda kurva kalibrasi absolut (absolute calibration curve method)
4. Metoda internal standard (internal standard method)

Keuntungan dan kekurangan masing-masing metoda di atas dan


pemilihan metodanya menjadi penting dalam mempertimbangkan analisis
yang ingin dihasilkan.
5. Aplikasi kromatografi gas
Kromatografi gas telah digunakan pada sejumlah besar senyawasenyawa dalam berbagai bidang. Dalam senyawa organic dan anorganik,
senyawa logam, karena persyaratan yang digunakan adalah tekanan uap
yang cocok pada suhu saat analisa dilakukan. Berikut beberapa kegunaan
kromatografi gas pada bidang-bidangmya adalah :
1. Polusi udara
Kromatografi gas merupakan alat yang penting karena daya
pemisahan yang digabungkan dengan daya sensitivitas dan pemilihan
detector GLC menjadi alat yang ideal untuk menentukan banyak
senyawa yang terdapat dalam udara yang kotor, KGCdipakai untuk
menetukan Alkil-Alkil Timbal, Hidrokarbon, aldehid, dan beberapa
oksida dari nitrogen dll.
2. Klinik
Diklinik kromatografi gas menjadi alat untuk menangani
senyawa-senyawa

dalam

klinik

seperti

asam-asam

amino,

karbohidrat, CO, dan O dalam darah, asam-asam lemak dan


turunannya, trigliserida-trigliserida, plasma steroid, barbiturate, dan
vitamin.
3. Bahan-bahan pelapis
Digunakan untuk

menganalisa

polimer-polimer

setelah

dipirolisa, karet dan resin-resin sintesis.


4. Minyak atsiri
Digunakan untuk pengujian kulaitas terhadap minyak permen,
jeruk sitrat, dll.
5. Bahan makanan
Digunakan dengan TLC dan kolom-kolom, untuk mempelajari
pemalsuanatau pencampuran, kontaminasi dan pembungkusan dengan
plastic pada bahan makanan, juga dapat dipakai unutk menguji jus,
aspirin, kopi dll.
6. Sisa-sisa peptisida
GC dengan detector yang sensitive dapat menentukan atau
pengontrolan sisa-sisa peptisida yang diantaranya senyawa yang
mengandung halogen, belerang, nitrogen, dan fosfor.

7. Perminyakan
Kromatografi gas dapat digunakan unutk memisahkan dan
mengidentifikasi hasil-hasildari gas-gas hidrokarbon yang ringan.
8. Bidang farmasi dan obat-obatan
Kromatografi gas digunakan dalam pengontrolan kualitas,
analisa hasil-hasilbaru dalam pengamatan metabolisme dalam zat-zat
alir biologi.
9. Bidang kimia/ penelitian
Digunakan untuk menentukan lama reaksi pada pengujian
kemurnian hasil.
6. Kelebihan dan kekurangan kromatografi gas

a. Kelebihan
1. Waktu analisis yang singkat dan ketajaman pemisahan yang tinggi.
2. Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk menghasilkan
efisiensi pemisahan yang tinggi.
3. Gas mempunyai vikositas yang rendah.

4. Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan berlangsung cepat


sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi.
5. Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih dari sejumlah
fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir
segala macam campuran.
b. Kekurangan
1.

Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang mudah

2.

menguap.
Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk memisahkan

3.

campuran dalam jumlah besar.


Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair tidak bersifat
reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.