Anda di halaman 1dari 7

QBD 3_Khansa_PB-1_1306375241 PB

QBD 3
QBD 3: Pengelolaan bencana
1.

Jelaskan pengelolaan bencana pada skala lokal, nasional, dan internasional


Jawab:
Area tanggung jawab dalam pengelolaan bencana skala nasional dan lokal adalah promosi,

pembentukan standar, pelatihan, dan koordinasi dengan lembaga dan sektor lainnya, seperti
diuraikan di bawah.
a. Promosi
Kesehatan dan aspek sosial dan manfaat manajemen bencana dengan sektor lain,

termasuk sektor swasta;


Pencantuman pengurangan bencana ke dalam kegiatan pengembangan program lain

dan divisi pelayanan kesehatan dan institusi sektor kesehatan lain; dan
Pendidikan publik melalui media massa dan pendidik kesehatan.

b. Pembentukan standar
Pembangunan dan pemeliharaan standar fasilitas kesehatan di daerah rawan bencana,

mempertimbangkan langkah-langkah mitigasi dan kesiapsiagaan pertimbangan;


Norma untuk perencanaan kontingensi, latihan simulasi, dan kesiapan lainnya

kegiatan di bidang kesehatan;


Daftar obat esensial dan persediaan untuk keadaan darurat; dan distandarisasi
protokol telekomunikasi.

c. Latihan
Dalam layanan pelatihan tenaga kesehatan (dari pencegahan bencana sampai respon);
Promosi pengelolaan bencana dalam kurikulum sarjana dan pascasarjana sekolah di
ilmu kesehatan (seperti fakultas kedokteran, keperawatan, dan lingkungan bidang

kesehatan); dan
Pencantuman topik kesehatan terkait dalam pelatihan manajemen bencana untuk

sektor lain (Misalnya, perencanaan dan hubungan luar negeri).


d. Kerjasama dengan institusi dan sektor lain
Badan penanggulangan bencana nasional atau lembaga lain dengan tanggung jawab
multisektoral;

QBD 3_Khansa_PB-1_1306375241 PB

Disaster focal point atau komisi di sektor lain (misalnya, lembaga manajemen
bencana nasional, legislatif, divisi hubungan luar negeri, departemen pekerjaan

umum, LSM);
Program bencana di sektor kesehatan di dalam dan luar negeri, khususnya di negara

atau wilayah tetangga; dan


Organisasi-organisasi bantuan di tingkat nasional atau internasional (bilateral dan
badan-badan PBB, LSM).

Saat bencana terjadi, pada akhirnya program ini akan bertujuan untuk:

Mobilisasi respon kesehatan; dan


Memberikan saran dan mengkoordinasikan operasi atas nama kepala sektor kesehatan
(menteri kesehatan), dan mendukung respon kesehatan dalam kasus berskala besar
keadaan darurat akibat bencana alam, teknologi, atau buatan manusia.

Konferensi Dunia tentang Upaya Pengurangan Risiko Bencana pada tahun 2005
menghasilkan Kerangka Aksi Hyogo 2005-2015, dengan tema Membangun Ketahanan
Negara dan Masyarakat terhadap Bencana menekankan bahwa berbagai upaya untuk
mengurangi risiko bencana seyogyanya terintegrasi secara sistematis dalam kebijksanaan,
perencanaan, dan program bagi pembangunan berkesinambungan dan pengurangan kemiskinan.
Konferensi tersebut mengadopsi 5 (lima) prioritas tindakan sebagai berikut:
a. Memastikan bahwa pengurangan risiko bencana di tempatkan sebagai prioritas nasional
dan lokal dengan dasar institusional yang kuat dalam pelaksanaannya
b. Mengidentifikasi, mengevaluasi, dan memonitor risiko-risiko bencana dan meninkatkan
pemanfaatan peringatan dini
c. Menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pendidikan untuk membangun suatu budaya
aman dan ketahanan pada semua tingkatan
d. Mengurangi faktor-faktor risiko dasar
e. Memperkuat kesiapsiagaan terhadap bencana dengan respon yang efektif
2. Jelaskan masalah yang dapat terjadi dalam pengelolaan bencana di skala lokal, nasional,
dan internasional
Jawab:
Permasalahan Pengelolaan Bencana Skala Lokal
a. Permasalahan Bidang Penanganan Pra-Bencana

QBD 3_Khansa_PB-1_1306375241 PB
1. Kondisi geografis yang rawan akan bencana alam (Gunung berapi, gempa bumi,
tanah longsor, pohon tumbang, banjir, kekeringan, kebakaran dll)
2. Kondisi bangunan rumah penduduk dan sarana Pemerintahan banyak yang rusak
dan tidak memadai. Hal ini sangat membahayakan bila terjadi bencana;
3. Pertambahan penduduk yang tinggi akan menyulitkan penanganan penanggulangan
bencana;
4. Belum sepenuhnya penyelenggaraan penanganan bencana di Kabupaten Bangli
dilaksanakan sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2007 terutama untuk kewenangankewenangan yang sebelumnya sudah ada di SKPD selain BPBD;
5. Terbatasnya anggaran yang tersedia di masing-masing SKPD bagi kegiatan
penyelenggaraan

penanggulangan

bencana

di Kabupaten Bangli;

6. Adanya perubahan iklim global yang berpotensi meningkatkan intensitas bencana


alam di duni ;
7. Adanya keterbatasan sarana komunikasi di daerah sehingga menghambat kecepatan
penyebaran arus data ke pusat maupun daerah lain;
8. Luasnya cakupan wilayah penanganan penanggulangan kebencanaan dengan jenis
potensi bencana yang beragam; dan
9. Masih rendahnya pemahaman masyarakat dan aparat Pemerintahan dalam
menyikapi kondisi alam yang rawan bencana.
b. Permasalahan Bidang Pada Saat Terjadi Bencana
1. Belum memadainya prosedur dan regulasi sebagai pedoman penyelenggaraan
penanganan bencana di Indonesia termasuk belum terpenuhinya seluruh amanah
aturan dan regulasi yang dikehendaki Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007
tentang Penanggulangan Bencana;

QBD 3_Khansa_PB-1_1306375241 PB
2. Masih tersebar dan belum terbangun Sistem informasi dan komunikasi kebencanaan
secara terpadu dan terintegrasi dari tingkat bawah sampai kabupaten;
3. Kurang tersedianya anggaran yang memadai dalamrangka penanggulangan bencana;
4. Kurang terpadunya penyelenggaraan penanganan bencana dan masihberjalan
secara sektoral;
5. Belum optimalnya koordinasi pelaksanaan penanggulangan bencana; dan
6. Masih terbatasnya sarana dan prasarana dalam penyelenggaraan penanggulangan
7. Belum memiliki SOP (Standar Operational Prosedur) penanggulangan Bencana
yang optimal.
c. Permasalahan Bidang Penangan Pasca-Bencana
1. Basis data yang tidak termutakhirkan dan teradministrasi secara reguler;
2. Penilaian kerusakan dan kerugian setelah terjadi bencana yang tidak akurat;
3. Keterbatasan peta wilayah yang meyebabkan terhambatnya elaksanaan analisa
kerusakan spasial;
4. Koordinasi pinalainkerusakan dan kerugianserta perencanaan rehabilitasi dan
rekontruksi yang terpusat;
5. Keterbatasan alokasi pendanaan bagi rehabilitasi dan rekontruksi yang berasal dari
anggaran daerah.
Permasalahan Pengelolaan Bencana Skala Nasional
a. Pertama permasalahan kebijakan, terkait dengan implementasi Undang-Undang Nomor
24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana terdapat sejumlah peraturan
perundangan baik di tingkat pusat maupun daerah yang tidak berjalan karena kurangnya
kesadaran dan kapasitas para penegak hukum
b. Kedua permasalahan hukum dan kebijakan, terdapat tumpang tindih/tidak harmonis
peraturan terkait. Disamping Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang

QBD 3_Khansa_PB-1_1306375241 PB
Penanggulangan Bencana di atas, terdapat juga Undang-Undang yang terkait dengan
upaya penanggulangan bencana antara lain antara lain Undang-Undang nomor 26 Tahun
2007 tentang Penataan Ruang, Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang
Pengeloaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dan Lingkungan Hidup, dan lain
sebagainya
c. Ketiga permasalahan pelaksanaan dan pengorganisasian, masalah perencanaan dan
pelaksanaan atas Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana dalam kenyataannya merupakan pekerjaan yang dilakukan oleh berbagai sektor.
Sehingga BNPB mengalami kesulitan dalam menjalankan fungsi koordinasi guna
mencegah terjadinya tumpang tindihnya kebijakan, program dan anggaran baik di tingkat
nasional maupun di tingkat daerah yang berimplikasi pada masalah koordinasi.
Berkenaan dengan hal tersebut maka perlu menegaskan peran para pihak lain, K/L dan
SKPB di dalam penanggulangan bencana
d. Permasalahan tentang pendanaan, hal-hal yang terkait dengan sumber-sumber pendanaan
dam penggunaannya. Anggaran yang berasal dari DIPA (APBN/APBD), sementara dana
untuk keperluan tanggap darurat berasal dari on call atau dana siap pakai, selain itu
terdapat pula dana-dana yang berasal dari masyarakat. Masalah yang terkait dengan
penganggaran meliputi masalah akuntabilitas dan tranparansi dan masalah yang terkait
penggunaan anggaran untuk mendorong upaya-upaya penanggulangan bencana sebagai
insentif bagi K/L dan SKPD.

3. Jelaskan kesiapan (mitigasi dan kesiapsiagaan) menghadapi bencana pada skala lokal,
nasional, dan internasional
Jawab:
Mitigasi
Upaya atau kegiatan dalam rangka pencegahan dan mitigasi yang dilakukan,
bertujuan untuk menghindari terjadinya bencana serta mengurangi risiko yang
ditimbulkan oleh bencana. Tindakan mitigasi dilihat dari sifatnya dapat digolongkan
menjadi 2 (dua) bagian, yaitu mitigasi pasif dan mitigasi aktif. Tindakan pencegahan
yang tergolong dalam mitigasi pasif antara lain adalah:

QBD 3_Khansa_PB-1_1306375241 PB
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Penyusunan peraturan perundang-undangan


Pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah.
Pembuatan pedoman/standar/prosedur
Pembuatan brosur/leaflet/poster
Penelitian / pengkajian karakteristik bencana
Pengkajian / analisis risiko bencana
Internalisasi PB dalam muatan lokal pendidikan
Pembentukan organisasi atau satuan gugus tugas bencana
Perkuatan unit-unit sosial dalam masyarakat, seperti forum
Pengarus-utamaan PB dalam perencanaan pembangunan

Sedangkan tindakan pencegahan yang tergolong dalam mitigasi aktif antara lain:
a. Pembuatan dan penempatan tanda-tanda peringatan, bahaya, larangan memasuki
daerah rawan bencana dsb.
b. Pengawasan terhadap pelaksanaan berbagai peraturan tentang penataan ruang, ijin
mendirikan bangunan (IMB), dan peraturan lain yang berkaitan dengan pencegahan
bencana.
c. Pelatihan dasar kebencanaan bagi aparat dan masyarakat.
d. Pemindahan penduduk dari daerah yang rawan bencana ke daerah yang lebih aman.
e. Penyuluhan dan peningkatan kewaspadaan masyarakat. Pedoman Penyusunan
Rencana Penanggulangan Bencana 17
f. Perencanaan daerah penampungan sementara dan jalur-jalur evakuasi jika terjadi
bencana.
g. Pembuatan bangunan struktur yang berfungsi untuk mencegah, mengamankan dan
mengurangi dampak yang ditimbulkan oleh bencana, seperti: tanggul, dam, penahan
erosi pantai, bangunan tahan gempa dan sejenisnya. Adakalanya kegiatan mitigasi ini
digolongkan menjadi mitigasi yang bersifat non-struktural (berupa peraturan,
penyuluhan, pendidikan) dan yang bersifat struktural (berupa bangunan dan
prasarana).
Kesiapsiagaan
Kesiapsiagaan dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda dan
berubahnya tata kehidupan masyarakat. Upaya kesiapsiagaan dilakukan pada saat
bencana mulai teridentifikasi akan terjadi, kegiatan yang dilakukan antara lain:
a.

Pengaktifan pos-pos siaga bencana dengan segenap unsur pendukungnya.

QBD 3_Khansa_PB-1_1306375241 PB
b. Pelatihan siaga / simulasi / gladi / teknis bagi setiap sektor
Penanggulangan bencana (SAR, sosial, kesehatan, prasarana dan
pekerjaan umum).
c. Inventarisasi sumber daya pendukung kedaruratan
d. Penyiapan dukungan dan mobilisasi sumberdaya/logistik.
e. Penyiapan sistem informasi dan komunikasi yang cepat dan terpadu guna
f.

mendukung tugas kebencanaan.


Penyiapan dan pemasangan instrumen sistem peringatan dini (early

warning)
g. Penyusunan rencana kontinjensi (contingency plan)
h. Mobilisasi sumber daya (personil dan prasarana/sarana peralatan)

Referensi:
[1] Ahrens, J., and P. M. Rudolph. 2006. The Importance of Governance in Risk Reduction and
Disaster Management. Journal of Contingencies and Crisis Management 14 (4): 207220.
[2] UNISDR. 2005. Hyogo Framework for Action 20052015: Building the Resilience of
Nations and Communities to Disasters. Geneva: UNISDR.
[3] UNISDR. 2007. Guidelines: National Platforms for Disaster Risk Reduction. Geneva:
UNISDR.
[4] Pan American Health Organizations. 2000. Natural disasters: Protecting the publics Health.
Washington, D.C.: PAHO, xi, 119 p (Scientific Publication, 575)