Anda di halaman 1dari 44

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMASI

KAPSUL CABE JAWA

Disusun oleh :
KELOMPOK B-2
Pratama Putra
Ani Mubayyinah
MelyNovyyandani
Liza Fairuz
Awalia Annisafira
Fatimah A. Maulidiyah
Arif Rahman
Defitri Trimardani
Zahrotul Hikmah
Yuni Winarni
Dewi Citra

(112210101045)
(112210101047)
(112210101049)
(112210101055)
(112210101065)
(112210101067)
(112210101073)
(112210101075)
(112210101081)
(112210101083)
(112210101089)

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI


BAGIAN BIOLOGI FARMASI
UNIVERSITAS JEMBER
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Kapsul adalah sediaan padat yang terdiri dari obat dalam cangkang keras atau lunak
yang dapat larut. Cangkang umumnya terbuat dari gelatin ; tetapi dapat juga terbuat dari pati
atau bahan lain yang sesuai. Mothes dan Dublanc, dua orang Perancis, biasa dihubungkan
dengan penemuan kapsul gelatin yang terdiri dari satu bagian, berbentuk lonjong, ditutup
dengan setetes larutan pekat gelatin panas sesudah diisi. Kapsul yang terdiri dari dua bagian

ditemukan oleh James Murdock dari London. Gelatin larut dalam air panas dan dalam cairan
lambung yang hangat, kapsul gelatin melepaskan isinya dengan cepat. Gelatin sebagai protein
dicerna dan diabsorbsi (Anief, 2000).
Gelatin bersifat stabil diudara bila dalam keadaan kering, akan tetapi mudah
mengalami peruraian oleh mikroba bila menjadi lembab dan bila disimpan dalam larutan
berair. Oleh karena itu, kapsul gelatin yang lunak mengandung lebih banyak uap air daripada
kasul keras, pada pembuatannya ditambahkan bahan pengawet untuk mencegah timbulnya
jamur dalam cangkang kapsul. Biasanya kapsul keras gelatin mengandung uap air antara 912%. Bilamana disimpan dalam lingkungan dengan kelembapan yang tinggi, penambahan
uap air akan diabsorbsi oleh kapsul dan kapsul keras ini akan rusak dari bentuk kekerasannya.
Sebaliknya dalam lingkungan udara yang sangat kering, sebagian uap air yang terdapat dalam
kaspsul gelatin mungkin akan hilang, dan kapsul ini menjadi rapuh bahkan akan remuk bila
dipegang (Howard, 1985).
Kapsul keras biasanya terbuat dari gelatin yang terdiri dari cangkang kapsul bagian badan
dan bagian tutup kapsul. Kedua bagian tutup kapsul ini akan saling menutupi bila
dipertemukan dan bagian tutupnya akan menyelubungi bagian badan kapsul. Gelatin
mempunyai beberapa kekurangan, seperti mudah mengalami peruraian oleh mikroba bila
dalam keadaan lembab atau bila disimpan dalam larutan berair . Sebagai contoh yang lain,
cangkang kapsul gelatin menjadi rapuh jika disimpan pada kondisi kelembaban relatif yang
rendah. Selanjutnya, Kapsul gelatin tidak dapat menghindari efek samping obat yang
mengiritasi lambung, seperti Indometasin. Hal ini dikarenakan kapsul gelatin segera pecah
setelah sampai di lambung (Anonim, 1979).
Kapsul dapat diberi bermacam-macam warna. Bila dalam resep diinginkan serbuk
dalam bentuk kapsul, maka ukuran dan warna kapsul yang dipakai harus dicantumkan dalam
resep supaya pada pengulangan obat pasien mendapatkan obat dengan ukuran serta warna
kapsul yang sama. Ukuran kapsul bermacam-macam baik panjang atau pendek, dengan
bentuk bervariasi, misalnya bulat, oval, panjang, dan silinder. Ukuran kapsul juga dibedakan
oleh panjang dan diameter dari kapsul yang dinyatakan dalam angka-angka. Kapasitas
muatnya tergantung dari jenis zat yang dimasukkan. Biasanya dalam voluminous,
kapasitasnya lebih kecil (Voigt, 1995).
Ada beberapa macam penggolongan kapsul, yakni kapsul keras, kapsul lunak, kapsul
tepung, dan kapsul salut enterik. Kapsul keras biasanya digunakan untuk obat berbentuk
padat atau cair yang tidak mudah rusak. Cangkang kapsul ini umumnya berbentuk tabung
silinder berujung bulat, terdiri dari wadah tertutup dan terbuat dari gelatin dan air. Kapsul

kenyal dapat disi dengan zat padat, setengah padat, atau cairan. Seperti halnya dengan kapsul
keras, kapsul kenyal terbuat dari gelatin dan air, untuk kekenyalannya ditambah gliserol atau
sorbitol. Kapsul lunak bentuknya bagus dan lebih mudah ditelan oleh pasien. Kapsul tepung
disebut juga ouwel yang dibuat dari amilum atau tepung ditambah dengan air dan zat
pengawet. Bantuk kapsul ini umumnya bulat atau silinder. Kapsul salut enterik adlah kapsul
yang disalut sedemikian rupa sehingga tidak larut dalam lambung tetapi larut dalam usus
(Chaerunnisa, 2009).
Cabe jawa merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak terdapat di Jawa, Madura
dan Sumatera Selatan. Tumbuh di tempat-tempat yang tanahnya tidak lembap dan berpasir
seperti di dekat pantai, daerah datar sampai 600 meter di atas permukaan laut (dpl). Tanaman
ini dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik di semua jenis lahan kering atau semua jenis
tanah di pulau Jawa (Nuraini A, 2003)
Cabe jawa merupakan tumbuhan tropis asli
Asia Tenggara yang juga dikenal sebagai lada
panjang dengan klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae,
Subkingdom : Viridaeplantae,
Filum : Magnoliophyta,
Subfilum : Spermatophyta,
Infrafilum : Angiospermae,
Kelas : Magnoliopsida,
Subkelas : Magnoliidae,

Gambar 1. Tanaman cabe jawa20

Superorder : Piperanae,
Ordo : Piperales,
Family : Piperaceae,
Genus : Piper,
Spesifik epitet : retrofractum,
Spesies : Piper retrofractum Vahl. (Bisby, at al., 2007)
Cabe jawa memiliki beberapa nama daerah, yaitu: di Sumatera disebut lada panjang,
cabai jawa, cabai panjang. Di jawa, namanya cabean, cabe alas, cabe areuy, cabe jawa, cabe
sula. Di Madura dinamai cabhi jhamo, cabhi ongghu, cabhi solah, sedangkan di Makassar
dikenal dengan nama cabai (Depkes RI. 1985; Nuraini A, 2003)
Tanaman cabe jawa berupa tumbuhan menahun, batang dengan percabangan liar,
tumbuh memanjat, melilit dengan akar lekatnya, panjang mencapai 10 meter. Percabangan

dimulai dari pangkalnya yang menyerupai kayu. Daun tunggal, berbentuk bulat telur sampai
lonjong, pangkal membulat, ujung meruncing, tepi rata, pertulangan menyirip, permukaan
atas licin, permukaan bawah berbintik-bintik, panjang 8,530 sentimeter, lebar 3-13
sentimeter dan berwarna hijau. Bunga berkelamin tunggal, tersusun dalam bulir yang tumbuh
tegak atau sedikit merunduk, bulir jantan lebih panjang dari betina. Buah majemuk berupa
bulir, bentuk bulat panjang sampai silindris, bagian ujung agak mengecil, permukaan tidak
rata, bertonjolan teratur, panjang 2-7 cm, garis tengah 4-8 mm, bertangkai panjang, masih
muda berwarna hijau, keras dan pedas, kemudian warna menjadi kuning gading dan akhirnya
menjadi merah, lunak dan manis. Bagian tanaman yang digunakan adalah buahnya, tetapi
kadang-kadang ada yang menggunakan daun dan akarnya (Depkes RI. 1985; Nuraini A,
2003)
Buah, daun dan akar tanaman cabe jawa dapat digunakan untuk pengobatan. Buah yang
sudah tua dapat digunakan untuk pengobatan perut kembung, mulas, muntah-muntah,
diaforetik, karminatif, merangsang nafsu makan, demam, influenza, migren, peluruh keringat,
encok, infeksi pada hati, tekanan darah rendah, urat saraf lemah, sukar bersalin, dan sebagai
afrodisiaka. Akar dapat digunakan untuk sakit gigi, luka, dan kejang, sedangkan daunnya
untuk obat kumur. Di India, Afrika Utara, Afrika Timur, dan Asia Tenggara, cabe jawa juga
digunakan untuk bumbu masak (Taryono RA, 2004; Nuraini A, 2003).
Senyawa kimia yang terkandung dalam cabe jawa antara lain asam amino bebas, damar,
minyak atsiri, beberapa jenis alkaloid seperti piperine, piperidin, piperatin, piperlonguminine,
-sitosterol, sylvatine, guineensine, piperlongumine, filfiline, sitosterol, methyl piperate,
minyak atsiri (terpenoid), n-oktanol, linalool, terpinil asetat, sitronelil asetat, sitral, alkaloid,
saponin, polifenol, dan resin (kavisin) (Depkes RI. 1985; Nuraini A, 2003). Alkaloid utama
yang terdapat di dalam buah cabe jawa adalah piperin (Isnawati A, 2002).
Cabe jawa merupakan salah satu tanaman yang diketahui memiliki efek stimulan
terhadap sel-sel syaraf sehingga mampu meningkatkan stamina tubuh. Efek hormonal dari
tanaman ini dikenal sebagai afrodisiaka. Berdasarkan penelitian secara ilmiah, cabe jawa
digunakan sebagai afrodisiaka karena mempunyai efek androgenik, untuk anabolik, dan
sebagai antivirus. Dari suatu tinjauan pustaka dikatakan bahwa secara umum kandungan
kimia atau senyawa kimia yang berperan sebagai afrodisiaka adalah turunan steroid, saponin,
alkaloid, tannin dan senyawa lain yang dapat melancarkan peredaran darah. Bagian yang
dimanfaatkan sebagai afrodisiaka adalah buahnya dan diduga senyawa aktif yang berkhasiat
afrodisiaka di dalam buahnya adalah senyawa piperine (Nuraini A, 2003).

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.)

Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyldone
Ordo : Piperales

Famili : Piperaceae
Genus : Piper
Spesies : Piper retrofractum Vahl.

2.2 Kandungan Kimia dan Bioaktivitas Cabe Jawa (Piper retrofractum Vahl.)
Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan simplisia yang banyak digunakan
dalam ramuan jamu dan obat tradisional. Bagian yang bermanfaat adalah buahnya yang
mengandung minyak atsiri, piperina, piperidina, asam palmitat, asam tetrahidropiperat,
undecylenyl 3-4 methylenedioxy benzene, N isobutyldeca-trans-2-trans-4-dienamide, dan
sesamin. Minyak atsiri cabe jawa mengandung terpenoid: n-oktanol, linanool, terpinil asetat,
sitronelil asetat, piperin, alkaloid, saponin, polifenol, dan resin (kavisin). Minyak atsiri cabe
jawa diduga dapat menurunkan kolesterol dengan memberikan umpan balik negatif yang juga
dapat menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase.Cabe jawa juga mengandung vitamin C
yang berfungsi sebagai antioksidan yang mampu melindungi lemak dalam darah dari
kerusakan akibat radikal bebas. Dari penelitian sebelumnya dinyatakan bahwa kecepatan
oksidasi kolesterol dan trigliserida akibat radikal bebas pada kelompok yang diberi diet
mengandung cabe jawa lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang diberi diet tanpa
mengandung cabe jawa.
2.3 Metode Ekstraksi
Ekstrak merupakan kumpulan senyawa-senyawa dari berbagai golongan yang terlarut
didalam pelarut yang sesuai, termasuk didalamnya senyawa-senyawa aktif atau yang tidak
aktif . Pengolahan ekstraksi bahan tumbuhan obat dengan pelarut yang sesuai (air, alkohol
dan pelarut organik lain) menjadi ekstrak cair atau ekstrak keringbanyak dilakukan untuk
tujuan standarisasi sediaan obat herba sekaligus memberi keuntungan dari segi formulasi
sediaannya. Pemilihan pelarut sangat penting dalam proses ekstraksi sehingga bahan
berkhasiat

yang

akan

ditarik

dapat

tersari

sempurna.

Departemen

Kesehata

merekomendasikan air, alkohol dan air dengan alkohol untuk cairan penyari ekstrak untuk
keperluan bahan baku obat tradisional. (Suhirman et al., 2006)
Dari penelitian yang dilakukan oleh Djumidi dan Hutapea, pembuatan ekstraksi
dengan cara perkolasi menggunakan cairan penyari masing-masing dengan dengan etanol
( 50 % ), kloroform, metanol, etanol ( 95 % ), eter, dan seduhan air panas. Dari semua cairan
penyari yang digunakan untuk membuat ekstrak buah cabe jawa, ternyata cairan penyari
etanol ( 50%) memberikan rendemen yang paling tinggi, yaitu: 6,73%, kemudian secara

berurutan adalah kloroform, metanol, etanol (95%), eter, dan seduhan air panas, seperti
terlihat dalam Tabel 1 berikut:

(Djumidi and Hutapea, 1992)


2.4 Metode KLT
Ekstrak kental yang diperoleh dari penyarian dengan etanol (50%,

kloroform,

metanol, etanol (95%), dan eter, masing-masing setelah diuji dengan KLT diperoleh bercak (7
bercak), warna dan Rf yang sama. Sedang ekstrak yang diperoleh dari seduhan air panas
hanya menunjukkan 1 bercak dengan Rf = 0,07.

Dari percobaan KLT untuk mengetahui kemungkinan adanya perbedaan jumlah


komponen kimia dari ekstrak yang diperoleh, hanya dari ke 5 cairan penyari yang digunakan
diperoleh hasil yang sama, yaitu 7 bercak, maka dapat diduga bahwa kandungan kimia pada

buah cabe jawa mempunyai sifat polaritas yang sama terhadap cairan penyari yang
digunakan.(Djumidi and Hutapea, 1992)
2.5 Kapsul
Kapsul adalah bentuk sediaan obat yang terbungkus dalam cangkang kapsul, keras
atau lunak. Cangkang kapsul dibuat dari gelatin atau tanpa zat ambahan lain (FI IV). Pada FI
III diterangkan bahwa ada beberapa syarat kapsul yang harus dipenuhi yaitu dari
keseragaman bobot kapsul, waktu hancur, dan cara penyimpanan.
Kapsul dapat didefinisikan sebagai bentuk sediaan padat, dimana satu macam bahan
obat atau lebih dan atau bahan inert lainnya yang dimasukkan ke dalam cangkang atau wadah
kecil yang umumnya dibuat dari gelatin yang sesuai. Tergantung pada formulasinya, kapsul
dari gelatin biasa lunak dan bisa juga keras.
Cangkang kapsul gelatin keras dibuat dari campuran gelatin, gula dan air, jernih tidak
berwarna dan pada dasarnya tidak mempunyai rasa. Kapsul gelatin mudah mengalami
peruraian oleh mikroba bila menjadi lembab atau bila disimpan dalam larutan berair. Kapsul
gelatin tidak tepat untuk diisi cairan berair, karena air akan melunakkan gelatin dan
menimbulkan kerusakan kapsul. Tetapi beberapa cairan tertentu atua minyak atsiri yang tidak
mengganggu stabilitas cangkang gelatin, mungkin dapat dimasukkan dalam cangkang kapsul
gelatin, lalu disegel untuk menjamin penyimpanan cairan tersebut.
Umumnya kapsul gelatin keras dipakai untuk menampung isi antara sekitar 65 mg 1
gram bahan serbuk, termasuk bahan obat dan bahan pengencer lain yang diperlukan. Bila
bahan obat yang diberikan dalam suatu kapsul cukup besar untuk memenuhi kapsul, bahan
pengisi tidak diperlukan. Tapi bila bahan obat yang dimasukkan belum cukup untuk
memenuhi isi kapsul, maka diperlukan bahan pengisi. Laktosa dan amilum biasanya dipakai
sebagai bahan pengisi dalam pengisian kapsul.
Macam-macam sediaan kapsul secara garis besar dibagi menjadi 3 bagian utama,
yaitu berdasarkan konsistensi, cara pemakaian, dan tujuan pemakaian.
a. Berdasarkan konsistensi :
Kapsul lunak dan kapsul keras
b. Berdasarkan cara pemakaian :
Per oral, per rektal, per vaginal, dan topikal
c. Berdasarkan tujuan pemakaian :
Untuk manusia dan untuk hewan
Bahan penyusun kapsul keras yaitu bahan dasar seperti gelatin, gula,dan dan air, dan
bahan tambahan seperti pewarna, flavouring agent, pemburam, dan pengawet.

Kapsul jarang hanya mengandung bahan berkhasiat saja, umumnya formulasi kapsul
memerlukan bahan pengisi, pelincir maupun penyerap (untuk sediaan berbahan dasar
ekstrak). Bahan pengisi pelincir dan penyerap yang digunakan antara lain:
a. Cab-O-Sil (Aerosil)
Sinonim : Aerosil; Cab-O-Sil; Cab-O-Sil M-5P; colloidal silica; fumed silica; fumed silicon
dioxide; hochdisperses silicum dioxid; SAS; silica colloidalis anhydrica; silica sol;
silicic anhydride; silicon dioxide colloidal; silicon dioxide fumed; synthetic
amorphous silica; Wacker HDK.
Struktur formula : SiO2 (BM = 60.08)
Sifat fisika-kimia Cab-O-Sil:
pH

: 3,5-4,0 (4 % w/v aqueous dispersion)

Densitas

: 0.029-0.042 g/cm3

Distribusi ukuran partikel : 7-16 nm


Indeks refraktif

: 1.46

Kelarutan

: praktis tidak larut dalam pelarut organik, air, dan larutan asam,
kecuali hydrofluoric acid. Larut dalam larutan alkali hidroksida
panas. Membentuk dispersi koloidal dalam air.

Luas area spesifik

: 100-400 m2/g

Fungsi : Adsorbent; anticaking agent; emulsion stabilizer; glidant; suspending agent; tablet
disintegrant; thermal stabilizer; viscosity-increasing agent.
Cab-O-Sil digunakan secara luas dalam farmasi, kosmetik dan produk makanan. CabO-Sil memiliki ukuran partikel kecil dan luas area permukaan spesifiknya besar sehingga
memberikan karakter aliran yang diinginkan yang dieskplorasi untuk memperbaiki aliran
serbuk kering pada proses pembuatan tablet.
Penggunaan Cab-O-Sil sebagai :

Aerosol

= 0,5 2,0 %

Emulsion stabilizer

= 1,0 5,0 %

Glidant

Suspending dan thickening agent

= 0,1 1,0 %
= 2,0 10,0 %

Cab-O-Sil adalah sebuah fumed silica submicroscopic dengan ukuran partikel 15 nm.
Cab-O-Sil berwarna putih kebiru-biruan, terang, tidak berbau, tidak berasa, serbuk amorf
tidak berpasir.
Stabilitas dan Kondisi Penyimpanan:

10

Cab-O-Sil higroskopis tetapi mengadsorbsi sejumlah besar air tanpa mencair. Ketika
digunakan dalam sistem aqueous pada pH 0-7.5, Cab-O-Sil dapat meningkatkan viskositas
dari sistem. Tapi pada pH lebih dari 7.5 peningkatan viskositas Cab-O-Sil akan berkurang dan
pada pH lebih dari 10.7 kemampuan Cab-O-Sil menghilang karena Cab-O-Sil terlarut
membentuk silikat.
Keamanan:
Cab-O-Sil biasanya digunakan dalam produk farmasi oral dan topikal dan umumnya
tidak toksik dan merupakan non irritant excipient.
LD50 (tikus, iv)

: 0.015 g/kg

LD50 (tikus, oral)

: 3.16 g/kg.

b. Avicel
Sinonim : Avicel PH; Cellets; Celex; cellulose gel; hellulosum microcristallinum; Celphere;
Ceolus KG; crystalline cellulose; E460; Emcocel; Ethispheres; Fibrocel; MCC
Sanaq; Pharmacel; Tabulose; Vivapur.
Rumus empiris: (C6H10O5)220 ( BM 36.000 )

Struktur formula

Gambar 1. Struktur kimia avicel (Rowe et al, 2009).


Fungsi

: Adsorbent; suspending agent; tablet dan capsule diluent; tablet

disintegrant.
Microcrystalline cellulose digunakan secara luas dalam farmasi, umumnya sebagai
binder/diluent pada tablet oral dan formula kapsul dimana ini digunakan baik dalam granulasi
basah dan proses kempa langsung. Pada penambahannya sebagai binder/diluent,
microcrystalline cellulose juga memiliki fungsi sebagai lubrikan dan disintegran yang
berguna dalam tabletasi.
Sifat kimia fisika Avicel:

11

pH

: 5,0-7,5

Kerapatan

: 1,512-1,668 g/cm3

Titik lebur

: 260-270oC

Distribusi partikel : 20-200 m


Kelarutan

: mudah larut dalam 5% w/v larutan NaOH, praktis tidak larut dalam air,
asam terlarut, dan sebagian besar pelarut organik.

Inkompatibilitas

: avicel inkompatibel dengan agen oksidator kuat.

Sediaan yang dibuat pada praktikum ini adalah kapsul. Adapun alasan dipilihnya
sediaan kapsul antara lain :
Dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat (ekstrak). Sebagian besar
ekstrak tumbuhan memiliki rasa yang pahit atau getir sehingga dengan pemilihan
sediaan kapsul dapat menutupi rasa yang tidak enak.
Dapat meningkatkan keberterimaan (akseptabilitas) pasien terhadap sediaan yang
telah diformulasi. Kapsul dapat menutupi bau yang tidak enak dari ekstrak karena
bahan baku yang digunakan adalah ekstrak daun Jambu biji yang memiliki bau khas
dan jarang disukai.
Dapat melindungi bahan obat dari cahaya matahari langsung maupun kontak dengan
udara sekitar. Beberapa ekstrak dari tumbuhan memiliki sensitivitas yang tinggi
terhadap cahaya matahari langsung dan udara, oleh sebab itu penggunaan cangkang
kapsul keras yang buram (TiO2) dapat mengantisipasi kontak bahan obat dengan
cahaya maupun udara.
Mudah dalam penggunaannya
Pembuatan relatif mudah, dapat dilakukan secara konvensional.
Harga relatif terjangkau (murah)
Kapsul yang digunakan untuk dikonsumsi harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:
Keseragaman kandungan (dosis) dan bobot terjamin
Tidak toksik
Tidak cacat secara fisik
c. Pati beras

12

Amylum oryzae ( pati beras) adalah amylum yang diperoleh dari biji Oryza sativa L
yang berupa serbuk sangat halus dan putih.
Klasifikasi Tanaman
Nama Simplisia
: Amylum Oryzae
Tanaman Asal
: Oryza sativa
Divisi
: Magnoliophyta
Sub Divisi
: Spermatophyta
Kelas
: Liliopsida
Ordo
: Poales
Famili
: Poaceae
Genus
: Oryzae
Spesies
: Oryza Sativa L
Kandungan
: Amilosa dan amilosa perkati, air, abu
Khasiat
: Bahan penolong untuk sediaan obat dan zat tambahan
Makroskopis
: Berupa serbuk berwarna putih dan sangat halus
Mikroskopis
: Terlihat butiran persegi banyak, tunggal atau majemuk,
hilus tidak terlihat jelas dan tidak ada lamella konsentrasi.
Pati beras tersusun dari dua polimer karbohidrat, yaitu amilosa dan
amilopektin. Amilosa adalah pati dengan struktur tidak bercabang dan merupakan fraksi
larut air, sedangkan amilopektin adalah pati dengan struktur bercabang, tidak larut air,
dan cenderung bersifat lengket. (Haryadi, 2008)
Perbandingan komposisi kedua golongan pati ini sangat menentukan warna
(transparan atau tidak) dan tekstur nasi (lengket, lunak, keras, atau pera). Ketan hampir
sepenuhnya didominasi oleh amilopektin sehingga sangat lekat, sementara beras pera
memiliki kandungan amilosa melebihi 20% yang membuat butiran nasinya terpencarpencar (tidak berlekatan) dan keras.
2.6 Refrance Product Kapsul Cabe Jawa

13

(Padmadisastra 2009)
2.7 Formulasi Kapsul Cabe Jawa
R/

EKSTRAK CABE JAWA


AMIYLUM ORYZAE
AVICEL
MF DA IN CAPS 30
S TDD

2.8 Evaluasi Sediaan Kapsul


a) Keseragaman bobot kapsul
Cara untuk kapsul yang berisi obat kering
Timbang 20 kapsul. Timbang lagi kapsul satu persatu. Keluarkan isi semua kapsul,
timbang seluruh bagian cangkang kapsul. Hitung bobot isi kapsul terhadap bobot rata-rata
tiap isi kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi
kapsul tidak boleh lebih dari yang ditetapkan kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak boleh
lebih dari yang ditetapkan kolom B.

Cara untuk kapsul yang berisi bahan obat cair atau pasta
Timbang 10 kapsul. Timbang lagi kapsul satu persatu. Keluarkan isi semua kapsul,
cuci cangkang kapsul dengan eter P. Buang cairan cucian, biarkan hingga tidak berbau eter,
timbang seluruh bagian cangkang kapsul. Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi
kapsul. Perbedaan dalam persen bobot isi tiap kapsul terhadap bobot rat-rata tiap isi kapsul
tidak lebih dari 7,5%.

14

b) Kelarutan
Kelarutan normal untuk kapsul, baik kosong atau berisi, tidak ditentukan oleh USP
XX. Tetapi General Servuce Administration, di Federal Specification #U-C-115b (2/10/58),
menentukan batas kelarutan untuk kapsul kosong sebagai berikut :
i. ketahanan air tidak larut dalam air pada 20 sampai 30 0 C dalam 15 menit.
ii. Kelarutan dalam asam larut kurang dari 5 menit dalam larutan HCl 0,5% (b/b) pada 36
sampai 38 0 C.
c) Waktu Hancur
Kapsul tidak tahan asam lambung
Alat : Tabung gelas panang 80 mm sampai 100 mm, diameter dalam lebih kurang 28 mm,
diameter luar 30 mm hingga 31 mm, ujung bawah dilengkapi kasa kawat tahan
karat, lubang sesuai dengan pengayak nomor 4, berbentuk keranjang.
Keranjang disisipkan searah di tengah-tengah tabung kaca, diameter 45 mm,
dicelupkan ke dalam air bersuhu antara 36 dan 38C sebanyak lebih kurang 1000 mL, sedalam
tidak kurang dari 15 cm sehingga dapat dinaikturunkan dengan teratur. Kedudukan kawat
kasa pada posisi tertinggi tepat di atas permukaan air dan kedudukan terendah mulut
keranjang tepat di permukaan air.
Masukkan 5 kapsul ke dalam keranjang, turun-naikkan keranjang secara teratur 30
kali tiap menit. kapsul dinyatakan hancur jika tidak ada bagian kapsul yang tertinggal di atas
kasa, kecuali fragmen yang berasal dari zat penyalut. Kecuali dinyatakan lain, waktu yang
diperlukan untuk menghancurkan kelima kapsul tidak boleh lebih dari 15 menit.
Kapsul tahan asam lambung
Lakukan pengujian waktu hancur menggunakan alat dan menurut cara pengujian
waktu hancur terhadap kapsul tidak tahan asam lambung. Air diganti dengan lebih kurang
250 mL asam klorida 0,06 N. Pengerjaan dilakukan selama 3 jam, kapsul tidak larut kecuali
zat penyalut. Angkat keranjang, cuci segera kapsul dengan air. Ganti larutan asam dengan
larutan dapar pH 6,8. Atur suhu antara 36dan 38C. Celupkan keranjang ke dalam larutan
tersebut. Lanjutkan pengujian selama 60 menit. Pada akhir pengujian tidak terdapat bagian
kapsul di atas kasa kecuali fragmen zat penyalut.
d) Uji Variasi Berat

15

Uji variasi berat yang ditentukan oleh USP XX merupakan uji yang berurutan, di
mana 20 kapsul masing-masing ditimbang dan ditentukan berat rata-ratanya. Persyaratan uji
dipenuhi jika tidak satu pun dari berat masing-masing kapsul yang kurang dari 90% atau
lebih dari 110% dari berat rata-rata. Jika ke-20 kapsul tidak memenuhi criteria tersebut , berat
netto masing-masing ditentukan; diambil rata-ratanya, dan perbedaan ditentukan antara
masing-masing isi netto dengan rata-rata. Persyaratan dipenuhi (1) jika tidak lebih dari dua
perbedaan yang lebih dari 10% terhadap rata-rata, atau (2) jika tidak satupun yang
mempunyai perbedaan lebih besar dari 25%.
Jika lebih dari 2 tetapi kurang dari 6 berat yang ditentukan dengan uji tersebut
berbeda lebih dari 10% tetapi kurang dari 25%, isi neto ditentukan untuk 40 kapsul tambahan,
dan rata-rata diambil dari 60 kapsul. Terhitung ada 60 penyimpangan dari berat rata-rata yang
baru . Persyaratab dipenuhi (1) jika perbedaan tidak melebihi 10% dari rata-rata dalam lebih
dari 6 dari 60 kapsul, dan (2) jika tidak ada perbedaan yang lebih dari 25%.
d) Uji Keseragaman Isi
Uji kedua dalam USP XX yang dapat diterapkan pada kapsul adalah keseragaman isi
yang dilakukan bila ada spesifikasi oleh masing-masing monografi. Dalam hal ini dipilih 30
kapsul, 10 diantaranya diperiksa dengan prosedur khusus. Persyaratan dipenuhi jika 9 dari 10
kapsul mempunyai kisaran potensi spesifik dari 85 sampai 115%, dan yang kesepuluh tidak
di luar 75 sampai 125%.
Jika lebih dari 1 tetapi kurang dari 3, dari 10 kapsul yang pertama berada di luar batas
85 sampai 115%, ke-20 sisa diperiksa. Persyaratan dipenuhi jika ke-30 kapsul berada dalam
kisaran spesifik 75 sampai 125% dan tidak kurang 27 dari 30 kapsul berada dalam kisaran 85
samapai 115%.

16

BAB 3
METODE
3.1 Alat dan Bahan
Alat:

Beaker glass

Vial

Spatula

Mikropipet

Mortir

Pelat KLT

Stamper

Seperangkat alat KLT-Densitometri

Cangkang kapsul kosong

Timbangan analitik

Seperangkat alat refluks

Batang pengaduk
Perkolator
Erlenmeyer
Rotavapour

Labu ukur

Bahan:

Standard piperin

Ekstrak daun cabe jawa

Cab-o-sil

Avicel

Etanol 96%

Kapas

Kertas saring

3.2 Cara Kerja

3.2.1 Pembuatan ekstrak (Maserasi)


Timbang 500 gram serbuk kering simplisia cabe jawa

Masukkan ke dalam maserator

Tambahkan etanol 96% sebanyak 5 x bobot serbuk (2500 ml)

Aduk

Tutup maserator dan biarkan terendam selama 6 jam, aduk

Biarkan selama 18 jam

Maserat disaring lalu dipekatkan dengan routavapor

3.2.2 Pengeringan ekstrak

Aduk rata ekstrak kental 3-5 menit

Timbang ekstrak kental (75% rendemen)

Timbang aerosil sebanyak 1-2% bobot ekstrak

Ekstrak ditambahkan aerosil sedikit-sedikit dalam mortir ad rata dan kering

3.2.3 Penetapan kadar senyawa aktif ekstrak

1. Pembuatan larutan pembanding piperin

ng standar piperin 25 mg, larutkan etanol, saring, masukkan labu ukur 25 ml, tambahkan etanol ad

Buat larutan baku kerja 100, 200, 400, 800 ppm


1000 ppm

Pipet 1 ml

Pipet 2 ml

Pipet 4 ml

Pipet 8 ml

Masukkan labu ukur 10 ml, tambahkan etanol ad tanda

100 ppm

200 ppm

2. Pembuatan larutan uji

400 ppm

800 ppm

Menimbang 250 mg ekstrak

Mengaduk rata dalam 15 ml etanol di tabung reaksi dengan vortex mixer

Saring ke dalam labu ukur 25 ml

Bilas kertas saring dengan etanol secukupnya ad tanda

3. Penetapan kadar piperin menggunakan KLT densitometri

Larutan standar 2 l

Sampel 10 l

Totolkan pada lempeng KLT rep. 3x

Eluasi dan analisis dengan densitometri pada max.

Buat persamaan regresi linier anatara konsentrasi vs area

Hitung kadar piperin (mg piperin/g ekstrak) dan koefisien variasi (KV)

Profil Kromatogram KLT:


Fase diam
Fase gerak
Detektor
Panjang gelombang

: Silica gel 60 F254


: Diklorometana : Etil asetat (30 :10)
: UV-Vis
: 254 nm

Warna noda
Rf piperin

: Gelap (meredam sinar UV)


: 0,70

3.2.4 Formulasi kapsul

Membuat formulasi kapsul yang mengandung 5 mg piperin dengan menggunakan


avicel dan pati beras sebagai pelincir dan pengisi

Memilih cangkang kapsul dengan kapasitas mendekati bahan obat

Memasukkan bahan obat ke dalam kapsul

Memasukkan kapsul ke dalam wadah dan beri etiket

3.3 Evaluasi Sediaan

1. Keseragaman bobot

Menimbang 20 kapsul
Menimbang lagi satu persatu
Mengeluarkan semua isi kapsul
Menimbang seluruh bagian cangkang kapsul
Hitung bobot isi kapsul dan bobot rata-rata tiap isi kapsul
Perbedaan dalam persen bobot isi kapsul terhadap bobot rata-rata isi kapsul tidak
boleh lebih dari yang ditetapkan kolom A dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih dari
yang ditetapkan kolom B

Bobot rata-rata isi

kapsul
< 120 mg
> 120 mg

Perbedaan bobot isi kapsul dalam %

A
10 %
7,5 %

B
20 %
15 %

2. Uji sifat alir

Campuran ekstrak kering diuji sifat alirnya menggunakan alat corong sebagai

berikut:

Rangkaikan alat uji (corong, alas dan statif), atur jarak dasar corong dengan alas 10

cm
Timbang 100 g campuran ekstrak kering
Tutup dasar corong dan letakkan campuran ekstrak kering pada corong
Buka penutup dasar corong dan jalankan pencatat waktu
Hentikan pencatat waktu pada saat semua campuran ekstrak kering telah melewati

corong
Ukur tinggi kerucut (h) dan jari-jari (r) campuran ekstrak kering yang berada di

bawah corong
Hitung tangent dari sudut diam dengan cara membagi h dan r
Sudut diam ditentukan dari tabel standar tangent seperti dalam tabel

Variabel
Berat campuran ekstrak kering (g)
Waktu alir (detik)
Kecepatan alir(g/s)
Tinggi kerucut (cm)
Jari-jari kerucut (cm)
Tangen sudut diam
Sudut diam

Data

3. Uji penetapan kadar senyawa aktif kapsul


a. Pembuatan larutan uji

Ambil sebuah kapsul secara acak, keluarkan dan timbang isinya


Aduk rata isi kapsul dalam 15 ml etanol di tabung reaksi
Larutan disaring ke dalam labu 25 ml, bilas kertas saring dengan etanol

secukupnya ad tanda
Ulangi prosedur untuk 2 kapsul yang lain (replikasi 3x)

b. Penetapan kadar piperin dalam kapsul

Gunakan larutan pembanding piperin


Lakukan penetapan kadar piperin dalam kapsul seperti pada penetapan kadar

piperin dalam ekstrak kering


Tentukan nilai koevisien variasi (KV) kadar piperin dari 3 kapsul

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil dan perhitungan

3.1.1 Penetapan kadar piperin

Persamaaan

>>

y = 1234 + 5477x

32140,77 = 1234 + 5477x

x = 5643,01 ng
5643,01 ng
x

x=

60000 ng
250 mg
23,513 mg dalam 250 mg

Kadar piperin :
23,513
250

x 100% = 9,405 %

Jumlah ekstrak kering yang ditimbang :

Ekstrak kental = 86 gram

Ekstrak kering = 82,150 gram


250 mg
86000mg

82150mg
86000mg

x=

23,513 mg
x
8088,47 mg piperin dalam ektrak kental 86 gram
x
8088,47 mg

x=

7726,37 mg piperin dalam ekstrak kering 82,150 gram

Jika yang dibutuhkan 5 mg piperin :


82150mg
x

7726,37 mg
5 mg

x=

53,162 mg ekstrak kering tiap kapsul

3.1.2 Formulasi

R/ Ekstrak + aerosil

Avicel

Pati beras

8,86 %
20 %
ad 100 %

Cangkang kapsul yang dipakai ukuran 0 (600 mg)

Penimbangan :

Bahan

Fungsi

Ekstrak +

Bahan

aerosil
AvBicel

aktif
Pelincir

%
8,86

%
20
%

kapsul
53,16

kapsul
1,595

mg

120 mg

30

gram
3,600
gram

Pati beras

Pengisi

71,1
4%

426,84
mg

12,805
gram

3.1.3 Evaluasi

a. Organoleptis
Warna : Putih kekuningan

Rasa

: Pahit

Bau

: Jamu

b. Keseragaman bobot

10

11

Bobot

Bobot cangkang +

Cangkang (g)

isi (g)

Bobot isi (g)

0,13

0,60

0,47

0,14

0,60

0,46

0,10

0,60

0,50

0,11

0,58

0,47

0,10

0,56

0,46

0,10

0,55

0,45

0,11

0,54

0,43

0,12

0,57

0,45

0,11

0,55

0,44

0,10

0,55

0,45

0,10

0,55

0,45

0,10

0,55

0,45

12

13

14

15

16

17

18

19

20

0,10

0,55

0,45

0,10

0,54

0,44

0,10

0,54

0,44

0,11

0,56

0,45

0,10

0,55

0,45

0,10

0,52

0,42

0,11

0,60

0,49

0,11

0,54

0,43

0,1075

0,56

0,45

Peryaratan:
7,5
100

x 0,45 gram = 0,034 gram

15
100

x 0,45 gram = 0,067 gram

Bobot rata-rata isi

Tabel A

Tabel B

kapsul
450 mg

0,450 gram

0,450 gram

0,034

0,067

0,416 - 0,484

0,383 - 0,517

c. Sifat alir

Parameter
Jumlah serbuk
Waktu alir (detik)

Hasil
100 gram
-

Kecepatan alir (g/s)


Tinggi kerucut serbuk
Jari-jari kerucut
Tangen sudut diam
Sudut diam
# Sifat alir sangat buruk sehingga tidak dapat diperoleh data sifat alir

d. Keseragaman kandungan
Persamaaan
Area

: R1

>>

y = 1302 + 3,379x

= 5533,73

R2

= 5406,11

R3

= 5909,58

Replikasi 1

>>

y = 1302 + 3,379x

5533,73 = 1302 +

3,379x

x= 1252,36 ng dalam 2l

Replikasi 2

1,25236 g
x

x=

>>

y = 1302 + 3,379x

0,002ml
10 ml

6,2618 mg @kapsul

5406,11= 1302 +

3,379x

x= 1214.59 ng dalam 2l

Replikasi 3

1,21459 g
x

x=

>>

y = 1302 + 3,379x

0,002ml
10 ml

6,073 mg @kapsul

5909,58 = 1302 +

3,379x

x= 1363,59 ng dalam 2l

Rata-rata

1,36359 g
x
x=

0,002ml
10 ml

6,818 mg @kapsul

6,2618 mg+6,073 mg+6,818 mg


3
= 6,384 gram piperin @kapsul

3.2 Pembahasan

Penggunaan tanaman obat sebagai alternatif dalam pengobatan untuk

masyarakat semakin meningkat, sehingga diperlukan penelitian untuk membuktikan khasiat


tanaman obat tersebut. Salah satu tanaman yang banyak digunakan untuk pengobatan suatu
penyakit adalah cabe jawa. Cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.) merupakan simplisia yang
banyak digunakan dalam ramuan jamu dan obat tradisional. Bagian yang bermanfaat adalah
buahnya yang mengandung minyak atsiri, piperina, piperidina, asam palmitat, asam
tetrahidropiperat, undecylenyl 3-4 methylenedioxy benzene, N isobutyldeca-trans-2-trans-4-

dienamide, dan sesamin. Minyak atsiri cabe jawa mengandung terpenoid: n-oktanol, linanool,
terpinil asetat, sitronelil asetat, piperin, alkaloid, saponin, polifenol, dan resin (kavisin).
Minyak atsiri cabe jawa diduga dapat menurunkan kolesterol dengan memberikan umpan
balik negatif yang juga dapat menghambat kerja enzim HMG-KoA reduktase.Cabe jawa juga
mengandung vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan yang mampu melindungi lemak
dalam darah dari kerusakan akibat radikal bebas. Dari penelitian sebelumnya dinyatakan
bahwa kecepatan oksidasi kolesterol dan trigliserida akibat radikal bebas pada kelompok
yang diberi diet mengandung cabe jawa lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang
diberi diet tanpa mengandung cabe jawa.

Berikut adalah bahan-bahan yang digunakan dalam formulasi kapsul cabe

R/

Ekstrak Cabe Jawa + Aerosil

8,86 %

Avicel

20 %

Amylum Oryzae

Ad 100%

Mf Da In Caps 100

S Tdd

Sediaan yang dibuat adalah kapsul piperin. Adapun alasan dipilihnya sediaan

jawa :

kapsul antara lain :


Dapat menutupi rasa pahit dan tidak enak dari bahan obat (ekstrak). Sebagian besar
ekstrak tumbuhan memiliki rasa yang pahit atau getir sehingga dengan pemilihan
sediaan kapsul dapat menutupi rasa yang tidak enak.
Dapat meningkatkan keberterimaan (akseptabilitas) pasien terhadap sediaan yang
telah diformulasi. Kapsul dapat menutupi bau yang tidak enak dari ekstrak karena
bahan baku yang digunakan adalah ekstrak cabe jawa yang memiliki bau khas dan
jarang disukai.
Dapat melindungi bahan obat dari cahaya matahari langsung maupun kontak dengan
udara sekitar. Beberapa ekstrak dari tumbuhan memiliki sensitivitas yang tinggi
terhadap cahaya matahari langsung dan udara, oleh sebab itu penggunaan cangkang
kapsul keras yang buram (TiO2) dapat mengantisipasi kontak bahan obat dengan
cahaya maupun udara.
Mudah dalam penggunaannya
Pembuatan relatif mudah, dapat dilakukan secara konvensional.
Harga relatif terjangkau (murah)

Dalam pembuatan kapsul ekstrak Piper retrofractum (ekstrak cabe jawa),

digunakan bahan pelincir avicel agar campuran serbuk kering ekstrak dan bahan pengisi
mudah mengalir dalam proses pengisian serbuk ke dalam kapsul sehingga akan diperoleh
kapsul dengan bobot yang seragam.

Avicel yang digunakan merupakan avicel yang tidak terdispersi di dalam air,

dapat digunakan sebagai pengikat, pengisi, penghancur, dan pelincir pada sediaan tablet.
Persyaratan avicel sebagai bahan pelincir adalah 5-20% dalam formula. Kelompok kami
menggunakan avicel 20% agar campuran serbuk yang dihasilkan mudah mengalir dalam
pengisian ke dalam kapsul. Avicel PH 102 berbentuk granul dengan sifat alir yang baik.
Selain itu avicel memiliki kadar lembab tinggi, sehingga dapat membuat ikatan yang cukup
kuat antara molekul obat dan eksipien.

Pada praktikum ini, digunakan aerosil untuk mengeringkan ekstrak kental agar

menjadi serbuk kering. Aerosil memiliki ukuran partikel kecil dan luas area permukaan
spesifiknya besar sehingga memberikan karakter aliran yang diinginkan yang dieskplorasi
untuk memperbaiki aliran serbuk kering pada proses pembuatan tablet. Aerosil higroskopis
tetapi mengadsorbsi sejumlah besar air tanpa mencair

Dalam praktikum ini jumlah kapsul yang dibuat adalah 30 kapsul dimana 20

kapsul digunakan untuk keseragaman bobot dan 3 kapsul untuk uji penetapan kadar, sisanya
7 kapsul untuk dikemas menjadi produk jadi. Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam
formulasi sediaan kapsul adalah pertama-tama pembuatan ekstrak dengan cara maserasi.
Ekstrak etanol cabe jawa ini didapatkan melalui maserasi yang merupakan metode
penyarian yang cocok untuk senyawa yang tidak tahan pemanasan dengan suhu tinggi dan
sering dipakai untuk mengekstraksi bahan obat yang berupa serbuk simplisia yang halus.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari. Cairan
akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat
aktif akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel
dengan yang diluar sel, maka larutan zat aktif akan terdesak keluar. Peristiwa tersebut
berulang sehingga terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan yang berada di luar dan di
dalam sel. Kelemahan penyarian dengan metode maserasi ini pengerjaannya membutuhkan
waktu yang cukup lama dan penyariannya kurang sempurna. Digunakan cairan penyari etanol
dalam proses maserasi ini. Pelarut etanol dapat digunakan untuk menyari zat yang kepolaran
relatif tinggi sampai relative rendah, karena etanol merupakan pelarut universal, etanol tidak
meyebabkan pembengkakan membrane sel, dapat memperbaiki stabilitas bahan obat yang

terlarut dan juga efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal. Adapun
tahapan maserasi yang dilakukan pada praktikum kali ini yaitu ditimbang 500 gram serbuk
kering simplisia cabe jawa lalu dimasukkan ke dalam maserator ,ditambahkan etanol 96%
sebanyak 5 x bobot serbuk (2500 ml) ,diaduk ,ditutup maserator dan biarkan terendam
selama 6 jam, diaduk ,dibiarkan selama 18 jam ,lalu maserat disaring lalu dipekatkan
dengan routavapor .

Tahap selanjutnya dilakukan pengeringan ekstrak. Caranya adalah ekstrak

kental yang diperoleh sebanyak 43 gram dimasukkan ke dalam mortar kemudian diaduk rata
sekitar 3-5 menit. Kemudian ditimbang aerosil sebanyak 5% dari bobot ekstrak kental ,
yaitu sebesar 2,15 gram aerosil. Kemudian ekstrak ditambahkan aerosil sedikit demi sedikit
sambil diaduk rata ad kering. Setelah diperoleh ekstrak kering, kemudian ditimbang dan
diperoleh bobot ekstrak setelah ditambahkan aerosil sebesar 46 gram.

Selanjutnya dilakukan penetapan kadar senyawa aktif ekstrak. Caranya adalah

pertama-tama dilakukan pembuatan larutan pembanding piperin dengan cara ditimbang


standar piperin 25 mg, dilarutkan etanol, disaring, dimasukkan labu ukur 25 ml, ditambahkan
etanol ad tanda maka diperoleh larutan baku induk 1000 ppm. Selanjutnya dibuat larutan
baku kerja 100,200,400, dan 800 ppm dengan cara pengenceran dari larutan baku induk 1000
ppm. Kemudian dilakukan pembuatan larutan baku uji dengan cara menimbang 250 mg
ekstrak,lalu mengaduk rata dalam 15 ml etanol di tabung reaksi dengan vortex mixer, lalu
disaring ke dalam labu ukur 25 ml. Lalu dibilas kertas saring dengan etanol secukupnya ad
tanda.

Selanjutnya

dilakukan

penetapan

kadar

piperin

menggunakan

KLT

densitometry. Caranya adalah masing-masing larutan standar dan larutan sampel ditotolkan
sebanyak 6 mikroliter pada lempeng KLT (replikasi 3x). Kemudian lempeng dimasukkan ke
dalam chamber yang sebelumnya telah dijenuhkan menggunakan eluen . Lalu dilakukan
eluasi lempeng selama beberapa menit. Kemudian lempeng dikeluarkan dari chamber dan
diangin-anginkan, lalu noda atau bercak dianalisis menggunakan densitometer pada panjang
gelombang maksimum. Selanjutnya dibuat persamaan regresi linier anatara konsentrasi vs
area. Dihitung kadar piperin (mg piperin/g ekstrak) dan koefisien variasi (KV). Adapun
kondisi analisis menggunakan KLT densitometry ini adalah :

Fase diam
Fase gerak
Panjang gelombang
Warna noda

: Silica gel 60 F254


: Diklorometana : Etil asetat (30 :10)
: 254 nm
: Gelap (meredam sinar UV)

Rf piperin

: 0,70

Hasil KLT selanjutnya di scan dengan densitometri untuk melihat pola

kromatogram. Scanning dilakukan dari awal penotolan sampai akhir eluasi pada panjang
gelombang 254 nm. Scanning dilakukan pada panjang gelombang 254nm karena pada
panjang gelombang tersebut pola kromatogram dari piperin dapat teramati secara maksimal.
Panjang gelombang tersebut merupakan panjang gelombang maksimum untuk mengamati
luas area baku dan sampel.Dimana dengan digunakan panjang gelombang maksimum maka
kepekaan yang dihasilkan juga akan maksimum.

Selanjutnya setelah dianalisis dengan densitometer, diperoleh data luas area

dan konsentrasi. Karena konsentrasi sampel yang dihasilkan berupa rentang (lebih dari dan
kurang dari ) maka untuk menentukan konsentrasi masing-masing sampel secara kuantitatif,
dilakukan dengan cara memasukkan luas area ke dalam persamaan kurva baku sehingga akan
diperoleh konsentrasi masing-masing sampel . Berdasarkan table hasil pengamatan dan
perhitungan , diperoleh kosentrasi sampel piperin sebesar 23,513 mg dalam 250 mg sehingga
kadar piperin dalam ekstrak kental 86 gram adalah sebesar 9,405 %. KLT densitometry dapat
digunakan untuk identifikasi senyawa yaitu dengan cara membandingkan nilai Rf antara
sampel dengan standart. Adapun nilai Rf antara standart dengan sampel pada praktikum ini
adalah :

Rf standart 1=0,19

Sampel replikasi 1=0,31

Rf standart 2=0,22

Sampel replikasi 2=0,33

Rf standart 3=0,25

Rf standart 4=0,28

Nilai Rf sangat karakteristik untuk senyawa tertentu pada eluen tertentu. Hal

tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi campuran senyawa dalam sampel. Dari
hasil data tersebut di atas,terdapat perbedaan Rf yang jauh antara standart dengan sampel.
Hal ini dapat disebabkan karena terdapat beberapa piperin yang terdegradasi akibat proses
manufacturing seperti pemanasan, pencampuran dengan bahan lain yang dapat menyebabkan
piperin terdegradasi, sehingga menghasilkan nilai Rf sampel yang jauh dari standart.

Selanjutnya dilakukan formulasi kapsul dengan cara menimbang 1,595 gram

serbuk ekstrak kering, 3,600 g avicel, dan 12,805 gram pati beras. Selanjutnya bahan-bahan
tersebut dimasukkan ke dalam mortar dan diaduk ad homogen. Lalu dipilih cangkang kapsul
dengan kapasitas yang mendekati bahan obat. Kelompok kami memilih cangkang kapsul 0.
Kemudian campuran serbuk dimasukkan kedalam cangkang kapsul yang telah dibersihkan

sebelumnya hingga terpadatkan dengan baik dan seragam. Lalu memasukkan kapsul ke
dalam wadah dan diberi etiket. Sejumlah 7 kapsul dimasukkan kedalam wadah sebagai
sediaan yang dikumpulkan, 20 kapsul untuk uji keseragaman bobot dan sisa 3 kapsul untuk
uji penetapan kadar. Setelah jadi kapsul ekstrakcabe jawa, langkah selanjutnya yaitu evaluasi
sediaan.

Evaluasi sediaan

Formulasi dan evaluasi menjadi bagian yang penting dalam sediaan

fitofarmasi karena melalui kedua tahap ini suatu sediaan fitofarmasi dapat digunakan secara
langsung untuk keperluan terapi serta untuk menjamin bahwa sediaan yang dibuat telah
memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan. Kegiatan evaluasi menentukan mutu dan
kualitas dari sediaan fitofarmasi yang dibuat (diformulasi).

Untuk sediaan kapsul, evaluasi yang

kami lakukan adalah uji organoleptis, uji

keseragaman bobot, uji sifat alir, uji keseragaman kandungan.


1. Uji organoleptis

Pada uji organoleptis, kami melakukan pengamatan berdasarkan warna, rasa

dan bau dari kapsul yang kami buat. Hasilnya meliputi :

Warna
: Putih kekuningan
Rasa
: Pahit
Bau : Jamu

Hasil tersebut sudah memenuhi karakteristik kapsul yang kami inginkan.


2. Uji keseragaman bobot

Untuk uji keseragaman bobot, ditentukan dengan menimbang sebanyak 20

kapsul (sekaligus). Ditimbang lagi satu per satu. Dikeluarkan isi kapsul dan ditimbang
seluruh bagian cangkang kapsul. Kemudian bobot rata-rata isi kapsul ditimbang.
Perbedaan dalam persen (%) bobot isi kapsul terhadap bobot rata-rata tiap isi kapsul tidak
boleh lebih dari yang ditetapkan kolom A, dan untuk setiap 2 kapsul tidak lebih dari yang
ditetapkan kolom B.

Bobot rata-rata isi

Perbedaan bobot isi kapsul dalam %

B
kapsul
< 120 mg

10 %

20 %
> 120 mg

7,5 %

15 %
Setelah dilakukan pengujian keseragaman bobot diperoleh data penyimpangan

sebagai berikut :

2 kapsul tidak masuk rentang kolom A (+7,5%)


Tidak ada kapsul yang tidak masuk rentang kolom B (+15%)

Dari hasil tersebut dapat dikatakan bahwa kapsul untuk uji keseragaman bobot

yang kami lakukan sudah cukup memenuhi persyaratan. Namun pada persyaratan kolom
A, terdapat 2 kapsul yang menyimpang dari rentang (0,416 - 0,484) yaitu 0,50 dan 0,49.
Sedangkan pada persyratan kolom B tidak ada satupun kapsul yang menyimpang dari
rentang (0,383 - 0,517). Terjadinya penyimpangan pada kolom A tersebut dimungkinkan
terjadi karena pembagian serbuk yang dilakukan secara visual kurang tepat, sehingga
menyebabkan jumlah serbuk dalam kapsul tidak seragam.
3. Uji sifat alir

Metode yang digunakan untuk mendeteksi sifat aliran adalah memperhatikan

kecepatan aliran. Prinsip pengukurannya adalah waktu yang diperlukan oleh sejumlah
tertentu zat untuk mengalir melalui lubang lubang corong.Yang diukur adalah jumlah zat
yang mengalir dalam suatu waktu tertentu. Untuk menentukan faktor mengalir atau
meluncur setiap kali digunakan. Dimana dalam pengujiannya menggunakan corong yang
dipasang pada statif yang diletakkan dengan ketinggian tertentu. Awalnya serbuk
ditimbang (100 g).Lalu serbuk tersebut dialirkan melalui corong dan ditampung pada
bagian bawahnya.Waktu yang diperlukan serbuk untuk melewati corong dicatat sebagai t.

Fluiditas / sifat alirini merupakan faktor kritik dalam produksi obat sediaan

padat. Hal ini karena sifat alir serbuk berpengaruh pada peningkatan reprodusibilitas
pengisian ruang kompresi pada pembuatan tablet dan kapsul , sehingga menyebabkan
keseragaman bobot sediaan lebih baik, demikian pula efek farmakologinya. Dan pada
umumnya dilakukan pada granul, karena salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat
alir adalah bentuk partikel dan tekstur, untuk partikel yang ekidimensional (teratur= bulat,
kubus) semakin besar diameter maka sifat alir semakin baik sedangkan untuk partikel
yang anisomerik maka hasilnya dapat berbeda. Sifat alir terbaik terjadi pada diameter
optimum partikel (200-500 m). Partikel berukuran kurang dari 100 m akan lebih
cohesive. Semakin kecil gaya gesek friksi / gaya gesek antar partikel sehingga semakin
mudah mengalir. Sebaliknya, semakin kasar permukaan partikel maka semakin besar friksi
antar partikel sehingga menyebabkan semakin sulit mengalir. Dan bahan yang kami uji
sifat alirnya merupakan serbuk yang ukuran partikelnya sangat kecil. Hal ini menyebabkan
serbuk tersebut tidak dapat mengalir saat pengujian atau dapat dikatakan bahwa serbuk
kami mempunyai sifat alir yang sangat buruk. Sehingga kelompok tidak mendapatkan data
hasil uji sifat alir.

4. Penetapan kadar piperin pada kapsul

Pada evaluasi penetapan kadar praktikan terlebih dulu membuat larutan

standar piperin dengan konsentrasi 300,600,800,dan 1600 ppm. Selanjutnya keempat


larutan standar ini ditotolkan sebanyak 2 l pada lempeng KLT dengan tata cara sebagai
berikut :

Penotolan 300 ppm

: ditotol 2 l

penotolan 600 ppm

: ditotol 2 l

penotolan 900 ppm

: ditotol 2 l

penotolan 1200 ppm : ditotol 2 l

Preparasi sampel pada praktikum kali ini praktikan lakukan dengan memilih

tiga (3) buah kapsul secara acak. Kemudian ketiga kapsul tersebut masing-masing
dilarutkan dalam etanol, disaring dan ditambahkan etanol ad tanda pada labu (10 ml).
Hasil penetapan kadar piperin dapat dilihat pada hasil pengamatan.

Hasil yang didapat sangat bervariasi antara kapsul yang satu dengan kapsul

yang lain. Yaitu pada replikasi 1 dihasilkan

6,2618 mg , pada replikasi 2 dihasilkan

6,073 mg dan pada replikasi 3 dihasilkan 6,818 mg @kapsul. Sedangkan yang diharapkan
adalah 5 mg piperin tiap kapsul. Perbedaan itu kemungkinan dikarenakan:
1. Pada saat pencampuran bahan aktif dengan bahan tambahan kurang homogen
sehingga berpengaruh kepada kadar piperin yang terdapat pada masing-masing
kapsul
2. Ketelitian dalam penimbangan
3. Adanya bahan tambahan yang terbang sehingga mengurangi bobot bahan
tambahan
4. Sensitifitas alat
5. Pengisian kapsul yang kurang tepat

Berdasarkan hasil percobaan diatas dapat dikatakan bahwa kapsul Piperin

yang dibuat oleh praktikan tidak memiliki keseragaman kandungan piperin.

Berdasarkan analisis hasil KLT selanjutnya di scan dengan densitometri untuk

melihat pola kromatogram. Scanning dilakukan dari awal penotolan sampai akhir eluasi pada
panjang gelombang 254 nm. Scanning dilakukan pada panjang gelombang 254nm karena
pada panjang gelombang tersebut pola kromatogram dari piperin dapat teramati secara
maksimal. Panjang gelombang tersebut merupakan panjang gelombang maksimum untuk
mengamati luas area baku dan sampel. Dimana dengan digunakan panjang gelombang

maksimum maka kepekaan yang dihasilkan juga akan maksimum.

Salah satu hasil analisis dengan metode KLT-Densitometri yaitu kurva

linearitas. Sebagai parameter adanya hubungan linier atau tidaknya, digunakan koefisien
korelasi (r) dan persamaan regresi linier yatu y=bx+a. linearitas menunjukkan kemampuan
metode analisis untuk memporeleh hasil pengujian yang sesuai dengan konsentrasi analit
dalam kisaran konsentrasi tertentu. Nilai r pada percobaan baik yaitu 0,92. Hal ini dapat
dikatakan bahwa persamaan tersebut linier.

Ber
dasarkan table hasil diatas, setelah dilakukan perhitungan, diperoleh kosentrasi sampel
kapsul piperin (sampel kelompok kami no 8, 9, 10) sebesar masing-masing

6,2618 mg ,

6,073 mg dan 6,818 mg @kapsul.

KLT densitometry dapat digunakan untuk identifikasi senyawa yaitu dengan

cara membandingkan nilai Rf antara sampel dengan standart. Adapun nilai Rf antara standart
dengan sampel pada praktikum ini adalah :

Rf standart 1=0,90

Sampel replikasi 1=0,85

Rf standart 2=0,89

Sampel replikasi 2=0,85

Rf standart 3=0,88

Sampel replikasi =0,85

Rf standart 4=0,87

Nilai Rf sangat karakteristik untuk senyawa tertentu pada eluen tertentu. Hal

tersebut dapat digunakan untuk mengidentifikasi campuran senyawa dalam sampel. Dari
hasil data tersebut di atas,terdapat perbedaan Rf yang tidak jauh antara standart dengan
sampel. Hal ini menunjukkan bahwa sampel hamper identik dengan standar.

Titik kritis yang mempengaruhi hasil percobaan antara lain:


-

Ketepatan penimbangan
Homogenitas antar bahan
Metode pengisian kapsul ke dalam cangkang
Proses pengeringan ekstrak
Sensitifitas alat

BAB V

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil praktikum, dapat disimpulkan sebagai berikut:


1. Dalam formulasi kapsul cabe jawa, selain bahan aktif diperlukan bahan tambahan
berupa absorben, pelincir dan pengisi

2. Kadar piperin dalam ekstrak adalah 9, 405%

3. Evaluasi yang diperlukan dalam pembuatan kapsul adalah organoleptis, uji


keseragaman bobot, uji sifat alir dan uji penetapan kadar dalam kapsul

4. Titik kritis yang mempengaruhi hasil percobaan antara lain:


-

Ketepatan penimbangan
Homogenitas antar bahan
Metode pengisian kapsul ke dalam cangkang
Proses pengeringan ekstrak
Sensitifitas alat

DAFTAR PUSTAKA

Anief, Moh. 2000. Ilmu Meracik Obat Teori dan Praktik. Gajah Mada University
Press. Yogyakarta.

Ansel, Howard. 1989. Pengantar bentuk Sediaan Farmasi. Edisi ke empat. Universitas
Indonesia: Jakarta.

Anonim. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Departemen Keesehatan Republik


Indonesia

Bisby FA, Roskov YR, Ruggiero MA, Orrell TM, Paglinawan LE, et al. Editors.
species 2000 & ITIS catalogue of life: 2007 annual checklist. Species 2000: Reading,
United Kingdom; 2007.
Chaerunnisa, Anis Yohana. 2009. Farmasetika Dasar. Widya Padjajaran: Bandung.
Depkes RI. 1977. Materia Medika Indonesia Jilid I. Jakarta : Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Depkes RI, Inventaris Tanaman Obat Indonesia Jilid 1, Jakarta 1985.
Djauhariya, Endjo, and Rosihan Rosman. 2007. Status Teknologi Tanaman Cabe
Jamu (Piper Retrofractum Vahl.). Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah Dan
Obat 13: 7590.
Djumidi, D., Hutapea, J.R., 1992. PEMBUATAN EKSTRAK CABE JAWA
DENGAN BEBERAPA CAIRAN PENYARI DAN PENETAPAN EKSTRAK
SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS. War. Tumbuh. Obat Indones. 1.

Haryadi. 2008. Teknologi Pengolahan Beras. Yogyakarta: UGM Press.

Hidayat, A.,dkk. 2014. Petunjuk Praktikum Fitofarmasi. Jember: Farmasi Universitas


Jember

Hutapea JR, Widyastuti Y, Sugiarso S. Usaha Pengadaan Tanaman Piper retrofractum


Vahl di lahan BPTO pada ketinggian 1200 M DPL

InfoPOM, Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia 2003;IV(10):1-4.

Indrapraja, Oktoria. 2009. Efek Minyak Atsiri Bawang Putih (Allium Sativum) Dan
Cabe Jawa (Piper Retrofractum Vahl.) Terhadap Jumlah Eritrosit Pada Tikus Yang
Diberi Diet Kuning Telur. Medical faculty. http://eprints.undip.ac.id/7754/.
Isnawati A, Endreswari S, Pudjiastuti, Murhandini. Efek mutagen ekstrak etanol buah
cabe jawa (Piper retrofractum Vahl.). Jurnal Bahan Alam Indonesia 2002;1(2):63-67.
Nuraini A. Mengenal etnobotani beberapa tanaman yang berkhasiat sebagai
aprodisiaka.
Padmadisastra, Yudi. 2009. Formulasi Tablet Ekstrak Buah Cabe Jawa (piper
Retrofractum Vahl.) Dengan Metode Kempa Langsung.
http://pustaka.unpad.ac.id/archives/16627/.
Paramita, Uzumaki. 2012. Teknik Pemisahan-Kromatografi: Kromatografi Lapis
Tipis-Densitometri. Teknik Pemisahan-Kromatografi. http://paramitakromatografi.blogspot.com/2012/10/kromatografi-lapis-tipis-densitometri.html.
Rowe, Rayman C., et al , 2009 , Handbook of Pharmaceutical Excipients 6 th Edition ,
Pharmaceutical & American Pharmacist Association, London , UK
Suhirman, S., Manoi, F., Sembiring, B.S., Sukmasari, M., Gani, A., Fatimah, T.,
Kustiwa, D., 2006. Teknik pembuatan simplisia dan ekstraksi purwoceng.
Taryono RA. Cabe jawa. Penebar Swadaya. 2004:1-63.
Voigt, R., 1995. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Gajah Mada University Press :
Yogyakarta.
Wahjoedi, Bambang, Budi Nuratmi, and Yun Astuti. 2004. Efek Androgenik Ekstrak
Etanol Cabe Jawa (Piper Retrofractum Vahl.) Pada Anak Ayam. Jurnal Bahan Alam
Indonesia 3 (2). http://jbai.iregway.com/index.php/jurnal/article/view/51.

LAMPIRAN

LAPIRAN

PENETAPAN KADAR PIPERIN DALAM KAPSUL

Anda mungkin juga menyukai