Anda di halaman 1dari 21

PROPOSAL

MAGANG KERJA

MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM


BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

Disusun oleh :

HADI SUSILO
115040213111030

MINAT HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN


PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
MALANG
2014

PROPOSAL
MAGANG KERJA
MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM
BULOG SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

Disusun oleh :

HADI SUSILO
115040213111030

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS PERTANIAN
JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
MALANG
2014

ii

LEMBAR PENGESAHAN
PROPOSAL
MAGANG KERJA

MANAJEMEN STOK BERAS DI GUDANG PERUSAHAAN UMUM BULOG


SUB DIVISI REGIONAL TULUNGAGUNG

Disetujui oleh:

Pembimbing Lapang,

Pembimbing Utama,

Irlia Dwi Putri, SP. M.M.


NOREG. 8206086

Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, M.S.


NIP. 19551018 198601 2 001

iii

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang dengan rahmat dan
hidayah-Nya telah menuntun penulis sehingga dapat menyelesaikan proposal magang
kerja yang berjudul Manajemen Stok Beras di Gudang Perusahaan Umum BULOG Sub
Divisi Regional Tulungagung.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,
kepada Dr. Ir. Ludji Pantja Astuti, M.S., selaku dosen pembimbing utama atas segala
kesabaran, nasihat, arahan dan bimbingannya kepada penulis.
Penghargaan yang tulus penulis berikan kepada kedua orang tua atas doa, cinta
kasih sayang, pengertian dan dukungan yang diberikan kepada penulis. Juga pada rekanrekan Agroekoteknologi 2011 serta seluruh pihak atas bantuan, dukungan dan
kebersamaan selama ini.
Penulis berharap semoga hasil dari penulisan proposal magang ini dapat
bermanfaat bagi banyak pihak, dan memberikan sumbangan pemikiran bagi ilmu
pengetahuan.
Malang, Juni 2014

Penulis

iv

DAFTAR ISI

COVER PROPOSAL ..................................................................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN MAGANG KERJA .......................................................................... ii
KATA PENGANTAR ................................................................................................................. iii
DAFTAR ISI .................................................................................................................................iv
PENDAHULUAN ................................................................................................................. 1

I.

1.1

Latar Belakang .............................................................................................................. 1

1.2

Tujuan ........................................................................................................................... 3

1.3

Manfaat ......................................................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................................... 4

II.

2.1 Beras . .................................................................................................................................. 4


2.2 Gudang ................................................................................................................................ 5
2.3 Pengelolaan Komoditas Simpanan ...................................................................................... 6
2.4 Hama Gudang...................................................................................................................... 8
III.

METODE PELAKSANAAN .......................................................................................... 10

3.1

Tempat dan Waktu ...................................................................................................... 10

3.2

Metode Pelaksanaan .................................................................................................... 10

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................. 13

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Beberapa Spesies Serangga yang Menyerang Bahan Simpan (Rees, 2004). ................... 9

vi

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Peta Lokasi Tempat Magang Kerja di Gudang Semi Permanen Garum, Jalan Raya
Bence No. 1, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar.................................................................... 12

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Lembaga pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk
keterampilan dan kecakapan seseorang untuk memasuki dunia kerja. Pendidikan yang
dilakukan di perguruan tinggi masih terbatas pada pemberian teori dan praktek dalam
skala kecil dengan intensitas yang terbatas. Agar dapat memahami dan memecahkan
setiap permasalahan yang muncul di dunia kerja, maka mahasiswa perlu melakukan
kegiatan pelatihan kerja secara langsung di instansi atau lembaga yang relevan dengan
program pendidikan yang diikuti. Sehingga setelah lepas dari ikatan akademik di
perguruan tinggi yang bersangkutan, mahasiswa bisa memanfaatkan ilmu dan
pengalaman yang telah diperoleh selama masa pendidikan dan masa pelatihan kerja untuk
melanjutkan kiprahnya di dunia kerja yang sebenarnya. Sebab, untuk dapat terjun
langsung di masyarakat, tidak hanya dibutuhkan pendidikan formal yang tinggi dengan
perolehan nilai yang memuaskan, namun diperlukan juga ketrampilan (skill) dan
pengalaman pendukung untuk lebih mengenali bidang pekerjaan sesuai dengan keahlian
yang dimiliki. Salah satu program yang dapat ditempuh adalah dengan melaksanakan
magang.
Magang adalah kegiatan akademik (intrakulikuler) yang dilakukan oleh
mahasiswa dengan melakukan praktek kerja secara langsung pada lembaga atau instansi
yang relevan dengan pendidikan yang diambil mahasiswa dalam perkuliahan. Bentuk
kegiatan yang dilakukan adalah kerja praktek dengan mengikuti semua aktifitas di lokasi
magang. Kegiatan ini sesuai dengan kurikulum program Strata Satu (S1), Fakultas
Pertanian, Universitas Brawijaya (UB) Malang, bahwa pada semester tujuh, setiap
mahasiswa diwajibkan melaksanakan kegiatan magang yang mempunyai bobot 4 sks.
Magang digunakan sebagai bahan penulisan laporan Tugas Akhir (TA) sebagai salah satu
syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1). Sesuai dengan tuntutan dari
kurikulum pendidikan Strata Satu, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan, Program Studi
Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya Malang, maka untuk
kegiatan magang mahasiswa ini dilaksanakan di Perusahaan atau instansi yang bergerak
di bidang pertanian. Salah satu yang bergerak dalam bidang tersebut adalah Perum Bulog.

Perusahaan ini merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pengganti Badan Urusan
Logistik (BULOG) yang dulu merupakan Lembaga Pemerintah Non Departemen
(LPND). Kehadirannya didasarkan Peraturan Pemerintah (PP) No. 7 tahun 2003 tentang
Pendirian Perum Bulog. (Amrullah, 2004)
Dalam pelaksanaan magang di Perum Bulog mempunyai tugas antara lain
mendukung tugas pemerintah dalam rangka pengamanan stok pangan nasional, berperan
secara srategis dalam pengamanan harga pembelian gabah dan beras yang dapat
memberikan insentif bagi petani agar dapat mempertahankan kesinambungan usaha
taninya, menjamin ketersediaan stok pangan (khususnya beras) bagi masyarakat miskin,
menjalankan manajemen logistik untuk meningkatkan pelayanan kepada petani produsen
maupun konsumen dalam lingkup waktu, jumlah, kualitas dan tempat, meningkatkan
efisiensi dan efektivitas pelayanan serta menyelenggarakan kegiatan ekonomi dibidang
pangan secara berkelanjutan serta memberikan manfaat bagi perekonomian nasional.
(Amrullah, 2004)
Beras merupakan bahan pangan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia
yang memberikan energi dan zat gizi yang tinggi. Beras sebagai komoditas pangan pokok
dikonsumsi oleh sebagian besar masyarakat. Bahkan preferensi masyarakat terhadap
beras semakin besar. Berdasarkan data Susenas 1990-1999, tingkat partisipasi konsumsi
beras di setiap provinsi maupun tingkatan pendapatan mencapai sekitar 97-100 %. Ini
artinya hanya sekitar 3 % rumah tangga yang tidak mengkonsumsi beras sebagai pangan
pokok terutama pangan pokok tunggal. Tingkat partisipasi konsumsi beras yang lebih
kecil 90 % hanya ditemukan di pedesaan Papua. Sebagai gambaran, tingkat konsumsi
beras rata-rata di kota tahun 1999 adalah 96,0 kg per kapita /tahun dan didesa adalah
111,8 kg per kapita/tahun (Suharno, 2005).
Akan tetapi, penyimpanan beras di gudang BULOG sangat rentan terhadap
serangan hama-hama gudang, khususnya serangga hama gudang. Adapun beberapa faktor
yang mempengaruhi kemunculan serangga hama gudang, yaitu beberapa faktor fisik
penyimpanan beras yang terdiri dari iklim mikro, bahan simpan, dan kondisi fisik gudang
sebagai tempat penyimpanan (Pitaloka, dkk, 2012).
Iklim mikro yang berpengaruh yaitu suhu gudang penyimpanan, kelembaban
dalam gudang, cahaya dan aerasi gudang. Selain itu, faktor fisik dari bahan simpan itu

sendiri juga akan berpengaruh terhadap kemunculan hama gudang. Faktor fisik bahan
simpan tersebut meliputi kadar air dan kondisi butiran bahan simpan. Kondisi fisik
gudang (komponen yang ada dalam gudang, misalnya atap, ventilasi dan saluran drainase,
dan fasilitas-fasilitas penunjang lainnya) juga dapat berpengaruh terhadap kemunculan
hama gudang. Jenis hama gudang yang muncul yaitu serangga, tungau dan tikus.
Dari beberapa jenis hama gudang tersebut, serangga hama merupakan jenis hama
gudang yang paling sering menginfestasi di tempat penyimpanan. Hal ini disebabkan
karena serangga merupakan binatang yang paling banyak jumlahnya dan mayoritas jenis
serangga berperan sebagai hama. Salah satu sifat serangga adalah suhu tubuhnya mampu
menyesuaikan dengan suhu lingkungannya. Sehingga serangga dapat dengan mudah
menyesuaikan diri dengan lingkungan tempat hidupnya, terutama jika keadaan
lingkungannya tidak mengalami perubahan secara ekstrim. Oleh karena itu untuk
mengatasi hal-hal tersebut maka perlu dilaksanakan sebuah manajemen stok beras di
gudang penyimpanan khususnya di gudang BULOG.

1.2 Tujuan
Tujuan magang kerja ini dibagi menjadi dua tujuan yaitu tujuan umum dan tujuan
khusus antara lain sebagai berikut :
a. Tujuan Umum
Untuk memberi kesempatan mahasiswa agar mendapatkan pengalaman
kerja di sektor pertanian yang relevan dengan profesi yang akan diembannya
dimasyarakat.
b. Tujuan Khusus
Untuk mempelajari serta memahami manajemen stok beras yang
diterapkan di Perum BULOG Sub Divre Tulungagung.

1.3 Manfaat
Manfaat dari magang kerja ini adalah :
1. Memperoleh pemahaman tentang hubungan antara teori di kampus dengan
aplikasi praktis di lapangan.
2. Mengenal dan belajar dengan tenaga-tenaga professional di bidang pertanian.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Beras .
Beras merupakan bahan pangan pokok yang dikonsumsi oleh sebagian besar
penduduk Indonesia. Beras adalah bagian bulir padi (gabah) yang telah dipisahkan dari
sekam. Penggilingan beras berfungsi untuk menghilangkan sekam dari bijinya dan
lapisan aleuron, baik sebagian maupun seluruhnya agar menghasilkan beras yang putih
serta beras pecah sekecil mungkin. Gabah pada mulanya digiling untuk membuang
kulitnya, sehingga dihasilkan beras pecah kulit. Setelah itu akan dilakukan penyosohan
beras untuk membuang lapisan aleuron yang menempel pada beras, sehingga dihasilkan
beras sosoh. Menir merupakan kelanjutan dari beras patah menjadi bentuk yang lebih
kecil daripada beras patah (Damardjati, 1988).
Ukuran butir beras hasil penggilingan dibedakan atas beras kepala, beras patah,
dan menir. Berdasarkan persyaratan yang dikeluarkan oleh Bulog, beras kepala
merupakan beras yang memiliki ukuran lebih besar dari 6/10 bagian beras utuh. Beras
patah memiliki ukuran butiran 2/10 bagian sampai 6/10 bagian beras utuh. Menir
memiliki ukuran lebih kecil dari 2/10 bagian beras utuh atau melewati lubang ayakan 2.0
mm (Waries, 2006).
Dalam standarisasi mutu, dikenal empat tipe ukuran beras, yaitu sangat panjang
(lebih dari 7 mm), panjang (6-7 mm), sedang (5.0-5.9 mm), dan pendek (kurang dari 5
mm). Sedangkan berdasarkan bentuknya (perbandingan antara panjang dan lebar), beras
dapat dibagi menjadi empat tipe, yaitu : lonjong (lebih dari 3), sedang (s.4-3.0), agak bulat
(2.0-2.39) dan bulat (kurang dari 2). Tinggi rendahnya mutu beras tergantung kepada
beberapa factor, yaitu spesies dan varietas, kondisi lingkungan, waktu pertumbuhan,
waktu dan cara pemanenan, metode pengeringan, dan cara penyimpanan (Siddik dan
Halid, 1983).
Standarisasi pengolahan dan mutu beras dengan penerapan standar dari pasca
panen komoditi beras hingga distribusi adalah sebagai berikut : (1) Perlakuan secara baik
agar tidak kotor, berjamur, dan berbau busuk, (2) Pemilihan dan penyortiran hasil panen
dari serangan OPT, (3) Produk bebas hama dan penyakit, (4) bebas dari bau busuk, asam
atau bau yang lainnya, (5) Bebas dari bahan kimia baik dari sisa pupuk, insektisida dan

fungisida, (6) Pembersihan hasil panen harus hati-hati supaya produk tidak cacat, (7)
Produk hasil panen dikemas mengikuti ketentuan grading, (8) Kemasan harus dapat
melindungi produk dari kerusakan dalam pengangkutan dan penyimpanan, (9) Bahan
kemasan tidak mengandung OPT, (10) Kemasan diberi label berupa tulisan yang dapat
menjelaskan produk yang dikemas ( Reza, 2004 ).

2.2 Gudang
Salah satu cara untuk mempertahankan agar beras tetap dalam keadaan baik
sebelum dijual yaitu dengan penyimpanan. Yang perlu dipertimbangkan dalam perawatan
beras yaitu kualitas beras, alat pengemas, dan faktor lingkungan. Kesalahan dalam
melakukan penyimpanan beras dapat mengakibatkan terjadinya respirasi, tumbuhnya
jamur, dan serangan serangga, binatang mengerat dan bahkan yang sering kita alami yaitu
timbulnya serangan kutu beras. Tentunya itu semua akan dapat menurunkan mutu beras
(Saripudin, 2010).
Gudang merupakan sarana pendukung kegiatan produksi dan operasi industri
yang berfungsi untuk menyimpan bahan baku dan bahan kemas yang belum
didistribusikan. Selain untuk penyimpanan, gudang juga berfungsi untuk melindungi
bahan (baku dan pengemas) dari pengaruh luar dan binatang pengerat, serangga, serta
melindunginya dari kerusakan. Agar dapat menjalankan fungsi tersebut, maka harus
dilakukan pengelolaan pergudangan secara benar atau yang sering disebut dengan
manajemen pergudangan (Priyambodo, 2007).
Pasca panen padi mencakup pemanenan hasil dan pemrosesan gabah hingga siap
digunakan oleh konsumen. Penyimpanan merupakan merupakan salah satu tahap penting
karena pada proses tersebut padi mengalami proses penurunan kualitas dan kuantitas.
Setelah dipanen padi disimpan dalam bentuk gabah atau beras. Penyimpanan diperlukan
karena padi dpanen secara musiman, sementara beras dibutuhkan setiap hari salah satu
masalah selama penyimpanan beras adalah serangan hama gudang. Hama gudang
menimbulkan kerusakan pada gabah maupun beras sehingga menjadi kotor, timbul bau,
berjamur. Kondisi tersebut mengundang hama sekunder untuk merusak beras atau gabah
sehingga menambah parah tingkat kerusakan ( Anggara dan Sudarmaji, 2009 ).

Menurut (Anonim, 2009) dalam peaturan pergudangan BULOG terdapat


prosedur penyimpanan meliputi :
1. Lokasi gudang
Lokasi gudang harus strategis guna kelancaran distribusi baik dari segi
transportasi lalu lintas, bebas dari banjir atau tidak ada air yang tergenang.
2. Kondisi gudang
Untuk pengeolaan barang maka kondisi bangunan harus kokoh, rangka
gudang, dinding dibuat yang kuta supaya menjamin keamanan barang
simpanan, lantai terbuat dari beton dan pintu harus dilengkapi kunci,
mempunyai peredaran udara atau ventilasi.
3. Perlengkapan gudang
Perum BULOG mempunyai perlengkapan seperti alat timbang, alas
(flonder), alat pemadam kebakaran, alat pengambil sampel beras, penjahit
kemasan, pengayak, tangga untuk naik ke tumpukan , pagar yang kokoh,
alat penerangan listrik yang cukup.
4. Penumpukan barang
Dalam melaksanakan penyimpanan barang maka perlu dilakukan
penumpukan barang yang baik dan benar agar tumpukan barang tidak
mudah roboh dan dapat dihitung dengan mudah. Untuk ukuran timpukan
harus disesuaikan dengan kondisi barang. Dalam tumpukan barang dibuat
lorong yang berfungsi sebagai mempermudah perawatan barang,
mengatur kebersihan.

2.3 Pengelolaan Komoditas Simpanan


Menurut Anonim (2009) upaya perawatan kualitas dan kuantitas pada produk
simpanan khususnya beras sangatlah perlu untuk diperhatikan guna tercapainya
efektivitas penyimpanan. Dengan demikian pengelolaan merupakan suatu hal yang sangat
penting untuk dilaksanakan. Maka dari itu hal-hal yang perlu untuk dilaksanakan dalam
pengelolaan komoditas simpanan antara lain sebagai berikut :

1. Pemeriksaan dan Monitoring


Pemerikasaan terhadap kondisi umum gudang seperti ventilasi,
kebocoran, lubang bekas keratan tikus, pemeriksaan terhadap tumpukan
barang, pemeriksaan terhadap peralatan pergudangan, pemeriksaan
lingkungan (drainase,vegetasi,kebersihan dan cuaca), pemeriksaan tingkat
serangan hama guna pelaksanaan fumigasi.
2. Pelaksanaan Sanitasi
Pelaksanaan sanitasi meliputi kebersihan gudang dari kotoran insektisida.
Pelaksanaan tersebut perlu dilakukan karena dapat membahayakan produk
simpanan, kebersihan gudang harus diperhatikan guna menekan populasi
hama seperti tungau hama lainnya. Kebersihan komoditas yang disimpan
dengam memisahkan barang yang rusak dengan barang yang baik,
kebersihan disekitar gudang untuk menekan kelembaban relatif yang
merupakan sarang hama, pengaturan vegetasi tanaman tidak boleh semaksemak karena dapat menjadi sarang tikus dan sebagainya.
3. Pengendalian Hama
Pengendalian hama dilakukan untuk mengurangi tingkat serangan hama
pada produk simpanan. Pengendalian ini menggunakan spraying, fogging,
fumigasi dan menggunakan gas karbondioksida.
4. Perawatan dengan CO2
Perawatan komoditas menggunakan gas karbondioksida merupakan
sistem penyimpanan dengan cara menyungkup komditas dengan plastik
kedap udara. Tujuan dari perlakuan ini adalah menghambat pertumbuhan
dan mencegah reinfestasi serangga hama, jamur dan mikroorganisme lain.
5. Perbaikan Kualitas dan Pengolahan Beras Turun Mutu
Kegiatan pengolahan untuk mempebaiki kualitas beras dari kenampakan
fisiknya supaya komoditasnya tetap pada standar mutu. Apabila barang
mengalami kerusakan maka terdapat alternatif penyelesaian seperti
pengolahan kembali, pemusnahan barang, dan penjualan beras turun mutu
yang diatur pada peraturan yang berlaku.

2.4 Hama Gudang


Hama gudang pada umumnya serangga yang menyerang produk ditempat
penyimpanan (gudang). Hama gudang berpotensi menyebabkan kehilangan hasil selama
produk dalam penyimpanan. Kehilangan hasil yang disebabkan oleh hama gudang dapat
mencapai 10 15% dari isi gudang. Serangga hama gudang adalah serangga yang telah
beradaptasi pada lingkungan penyimpanan dengan baik (Syarif, 2012). Serangga hama
gudang menyerang bahan-bahan pangan tertentu yang sesuai dengan kebutuhanya. Selain
komoditi yang berbeda, serangga hama gudang juga mempunyai siklus hidup yang
berbeda. Salah satu ciri spesifik dari serangga hama gudang adalah mengalami
metamorfosis yang sempurna, yaitu dari telur,larva, pupa, dan imago.
Berdasarkan hasil penggolongan taksonom, hama gudang yang penting terbatas
pada serangga, burung dan mamalia. Menurut Winarno (2006) beberapa serangga hama
penting yang sering merusak produk/bahan pangan yaitu:
Ordo Coleoptera (kumbang), dengan ciri khasnya yaitu imago mempunyai sayap
depan yang mengalami pengerasan (elytra) dan mengalami metamorphosis sempurna dari
telur, larva, pupa, kemudian imago.
Ordo Lepidoptera (ngengat) dengan ciri khasnya yaitu imago memiliki dua
pasang sayap, sehingga aktif terbang dan mengalami metamorphosis sempurna, yaitu
telur, larva, pupa, dan imago.
Ordo Psocoptera (psocids) dengan ciri khasnya yaitu imago tidak bersayap,
antena panjang dengan ruas yang banyak, sangat kecil dan mengalami metamorphosis
tidak sempurna.
Ordo Coleoptera adalah kelompok serangga yang paling banyak anggotanya dan
hampir semua relung ekologis dalam penyimpanan dapat dimamfaatkan olehnya. Famili
Bruchidae, Bostrichidae dan Curculionidae berperan sebagai hama primer, sedangkan
hama sekunder banyak yang merupakan anggota famili Cucujidae, Silvanidae dan
Tenebrionidae. Beberapa famili misalnya Cleridae dan Dermestidae menyerang bahan
simpan hewani. Famili Cryptophagidae, Mycetophagidae dan Ptinidae adalah pemakan
cendawan atau scavenger, sedangkan famili Staphylinidae, Carabidae dan Histeridae
menjadi predator di penyimpanan. Ada juga yang menyerang bangunan penyimpanan
yang terbuat dari kayu, yaitu famili Bostrichidae, Lyctidae dan Scolytidae. Famili

Trogossitidae dan Dermestidae berpupa pada tempat-tempat yang tersembunyi (Munro,


1966).
Tabel 1 Beberapa Spesies Serangga yang Menyerang Bahan Simpan (Rees, 2004).
Nama Umum
Flat grain beetle
Rice weevil
Red flour beetle
Confused flour beetle
Trogoderma complex
Cadelle
Foreign grain beetle
Rice moth
Angoumois grain moth
Maize weevil
Lesser grain borer

Nama Ilmiah
Cryptolestes pusillus (Schonh)
Sitophilus oryzae (L.)
Tribolium castaneum (Hum.)
Tribolium cofusum duVal
Trogoderma spp.
Tenebroides mauritanicus (L.)
Ahasverus advena (Waltl)
Corcyra cephalonica Staint
Sitotroga cerealella (Olive.)
Sitophilus zeamais Mots.
Rhyzopertha dominica (F.)

Family
Cucujidae
Curculionidae
Tenebrionidae
Tenebrionidae
Dermestidae
Ostomidae
Cucujidae
Pyralidae
Gelechiidae
Curculionidae
Bostrichidae

10

III. METODE PELAKSANAAN

3.1 Tempat dan Waktu


Tempat pelaksanaan magang kerja di Gudang Perum BULOG Sub Divisi
Regional Tulungagung. Lokasi gudang yaitu di Gudang Semi Permanen Garum,
Jalan Raya Bence No. 1, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar. Waktu
pelaksanaan magang kerja ini dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan pada bulan Juli
2014 sampai bulan Oktober 2014.
3.2 Metode Pelaksanaan
Kegiatan magang dilaksanakan dengan beberapa metode, yaitu:
1. Praktek magang kerja langsung sesuai kegiatan sehari-hari yang dilakukan di
Gudang Gadang Perum BULOG Sub-Divisi Regional Tulungagung.
2. Pengambilan data primer yang berhubungan secara langsung dengan hama
gudang. Pengambilan data primer sebagai berikut:
a. Pemasangan Yellow Sticky Trap, yang digantung diantara tumpukan beras.
Perangkap ini efektif untuk menangkap serangga yang aktif terbang.
b. Pemasangan Pitfall trap yang terbuat dari gelas plastik yang berperekat,
diletakkan sejajar dengan permukaan tumpukan karung. Perangkap ini
digunakan untuk menjebak serangga yang berjalan diatas karung.
c. Pemasangan Bait Trap yang terbuat dari campuran biji-bijian seperti
gabah, beras giling, biji kacang tanah dan kedelai yang dicampur dengan
minyak zaitun.
3. Pengumpulan data sekunder yang digunakan sebagai pelengkap data primer untuk
menyusun laporan hasil magang kerja. Metode yang digunakan yaitu dengan
mencatat dan mencari data yang diperoleh dari Perum Bulog Sub Divisi Regional
Tulungagung. Pencarian data dapat dilakukan melalui studi literatur. Selain itu
dapat diperoleh melalui laporan, referensi, brosur yang telah ada sebelumnya
untuk melengkapi data primer, sehingga memudahkan pengambilan contoh
selama berada di tempat magang.

11

4. Diskusi dan wawancara secara langsung dengan pembimbing lapang untuk


memperoleh informasi yang lebih jelas tentang hal yang berhubungan langsung
dengan kegiatan Magang Kerja.
5. Pengambilan foto yang berhubungan/ mendukung kegiatan Magang Kerja.

12

Gambar 1 Peta Lokasi Tempat Magang Kerja di Gudang Semi Permanen Garum, Jalan
Raya Bence No. 1, Kecamatan Garum, Kabupaten Blitar

Lokasi
Gudang

13

DAFTAR PUSTAKA
Amrullah. 2004. Pedoman Kearsipan Perum Bulog. Jakarta: Tim Perum Bulog 2011.
Anggara, A. dan Sudarmaji. 2009. Hama Pacsa Panen Padi dan Pengendaliannya. Balai
Besar Penelitian Tanaman Padi. http://www.litbang.deptan.go.id. (online).
Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.
Anonim, 2009. Peraturan Pergudangan di Lingkungan Perum Bulog . Divisi Persediaan
dan Perawatan Direktorat Pelayanan Publik. 133 hal.
Damardjati, D. S., 1988. Struktur Kandungan Gizi Beras. Bogor: Balitbang Pertanian
Munro, J.W., 1966. Pests of Storage Product. Hutchinsou of London. 234 pp.
Pitaloka, A. L., L. Santoso, dan R. Rahardian., 2012. Gambaran Beberapa Faktor Fisik
Penyimpanan Beras, Identifikasi Dan Upaya Pengendalian Serangga Hama
Gudang (Studi di Gudang BULOG 103 Demak Sub BULOG Wilayah 1
Semarang). Jurnal Kesehatan Masyarakat. http://ejournals1.undip.ac.id. (online).
Diunduh pada tanggal 10 Mei 2014.
Priyambodo, B., 2007. Manajemen Industri. Edisi Pertama. Cetakan Pertama.
Yogyakarta: Global Pustaka Utama. Halaman 350 hal.
Rees, D. 2004. Insect of Stored Products. Csiro Publishing. New York. p. 192.
Reza, H., 2004. Penerapan Standar Pada Pengolahan dan Mutu Beras. Prosiding.
Lokakarya Nasional. Institut Pertanian Bogor. Hal. 12-13.
Saripudin, E. 2010. Tata Cara Penyimpanan, Pengemasan Maupun Pelabelan Gabah Atau
Beras Secara Baik dan Benar. http://penatanian.blogspot.com /2010/09/tatacara-penyimpanan-pengemasan-maupun.html. Diunduh pada tanggal 10 Mei
2014.
Siddik, M. dan Halid, H., 1983. Sistem Penyimpanan dan Perawatan Kualitas Bahan
Pangan di Bidang Urusan Logistik. Risalah Seminar Nasional Pengawetan
Makanan Dengan Iradiasi 6-8 Juni 1983. Pusat Penelitian dan Pengembangan
Urusan Logistik BULOG, Jakarta
Suharno, 2005. Perlindungan Tanaman. Diktat STPP. UNS Press. Surakarta. 114 hal.
Syarif, R., 2012. Teknologi Penyimpanan Pangan. Arcan, Jakarta.
Waries, A., 2006. Teknologi Penggilingan Padi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

14

Winarno, F.G., 2006. Hama Gudang dan Teknik Pemberantasannya. Edisi Revisi. MBRIO PRESS, Bogor. 201 hal.