Anda di halaman 1dari 16

KEPERAWATAN KOMPLEMENTER

Terapi Musik

Oleh : SGD 7
Ida Ayu Shri Adhnya Shwari

(1202105011)

Ni Putu Rina Puspitasari

(1202105015)

Ni Komang Gek Erniasih

(1202105035)

I Made Yudi Indra Wibawa

(1202105051)

Eva Roseana Putri

(1202105060)

I Wayan Wahyu Pratama

(1202105065)

Kadek Elda Widnyana

(1202105071)

Ni Putu Intan Mertaningsih

(1202105080)

Kadek Dwi Wulandari


Ni Luh Dwiari Maharthini

(1202105088)
(1202105090)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2015
BAB 1

KONSEP
1.1 Definisi
Terapi musik adalah materi yang mampu mempengaruhi kondisi seseorang baik
fisik maupun mental. Musik memberi rangsangan pertumbuhan fungsi-fungsi otak seperti
fungsi ingatan, belajar, mendengar, berbicara, serta analisis intelek dan fungsi kesadaran
(Satiadarma, 2004).
Terapi musik merupakan suatu disiplin ilmu yang rasional yang memberi nilai
tambah pada musik sebagai dimensi baru secara bersama dapat mempersatukan seni, ilmu
pengetahuan dan emosi (Widodo, 2000).
Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan
rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang
diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik
dan mental (Djohan, 2006).
Jadi, terapi musik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua orang
karena kita tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasi alunan
musik. Terapi musik sangat mudah diterima organ pendengaran kita dan kemudian
melalui saraf pendengaran disalurkan ke bagian otak yang memproses emosi (sistem
limbik).
1.2 Manfaat
Terapi musik memiliki banyak manfaat yang didapatkan, antara lain :
Relaksasi, Mengistirahatkan Tubuh dan Pikiran
Manfaat yang pasti dirasakan setelah melakukan terapi musik adalah perasaan rileks,
tubuh lebih bertenaga dan pikiran lebih fresh. Terapi musik memberikan kesempatan
bagi tubuh dan pikiran untuk mengalami relaksasi yang sempurna. Dalam kondisi
relaksasi (istirahat) yang sempurna itu, seluruh sel dalam tubuh akan mengalami reproduksi, penyembuhan alami berlangsung, produksi hormon tubuh diseimbangkan
dan pikiran mengalami penyegaran.
Meningkatkan Kecerdasan
Sebuah efek terapi musik yang bisa meningkatkan intelegensia seseorang disebut Efek
Mozart. Hal ini telah diteliti secara ilmiah oleh Frances Rauscher et al dari Universitas
California. Penelitian lain juga membuktikan bahwa masa dalam kandungan dan bayi
adalah waktu yang paling tepat untuk menstimulasi otak anak agar menjadi cerdas.
Hal ini karena otak anak sedang dalam masa pembentukan, sehingga sangat baik
apabila mendapatkan rangsangan yang positif. Ketika seorang ibu yang sedang hamil
sering mendengarkan terapi musik, janin di dalam kandungannya juga ikut

mendengarkan. Otak janin pun akan terstimulasi untuk belajar sejak dalam
kandungan. Hal ini dimaksudkan agar kelak si bayi akan memiliki tingkat intelegensia
yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang dibesarkan tanpa diperkenalkan
pada musik.
Meningkatkan Motivasi
Motivasi adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan perasaan dan mood tertentu.
Apabila ada motivasi, semangat pun akan muncul dan segala kegiatan bisa dilakukan.
Begitu juga sebaliknya, jika motivasi terbelenggu, maka semangat pun menjadi luruh,
lemas, tak ada tenaga untuk beraktivitas. Dari hasil penelitian, ternyata jenis musik
tertentu bisa meningkatkan motivasi, semangat dan meningkatkan level energi
seseorang.
Pengembangan Diri
Musik ternyata sangat berpengaruh terhadap pengembangan diri seseorang. Musik
yang didengarkan seseorang juga bisa menentukan kualitas pribadi seseorang. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa orang yang punya masalah perasaan, biasanya
cenderung mendengarkan musik yang sesuai dengan perasaannya. Misalnya orang
yang putus cinta, mendengarkan musik atau lagu bertema putus cinta atau sakit hati.
Dan hasilnya adalah masalahnya menjadi semakin parah. Dengan mengubah jenis
musik yang didengarkan menjadi musik yang memotivasi, dalam beberapa hari
masalah perasaan bisa hilang dengan sendirinya atau berkurang sangat banyak.
Seseorang bisa mempunyai kepribadian yang diinginkan dengan cara mendengarkan
jenis musik yang tepat.
Meningkatkan Kemampuan Mengingat
Terapi musik bisa meningkatkan daya ingat dan mencegah kepikunan. Hal ini bisa
terjadi karena bagian otak yang memproses musik terletak berdekatan dengan
memori. Sehingga ketika seseorang melatih otak dengan terapi musik, maka secara
otomatis memorinya juga ikut terlatih. Atas dasar inilah terapi musik banyak
digunakan di sekolah-sekolah modern di Amerika dan Eropa untuk meningkatkan
prestasi akademik siswa. Sedangkan di pusat rehabilitasi, terapi musik banyak
digunakan untuk menangani masalah kepikunan dan kehilangan ingatan.
Kesehatan Jiwa
Seorang ilmuwan Arab, Abu Nasr al-Farabi (873-950M) dalam bukunya ''Great Book
About Musik'', mengatakan bahwa musik membuat rasa tenang, sebagai pendidikan
moral, mengendalikan emosi, pengembangan spiritual, menyembuhkan gangguan
psikologis. Pernyataannya itu tentu saja berdasarkan pengalamannya dalam
menggunakan musik sebagai terapi. Sekarang di zaman modern, terapi musik banyak

digunakan oleh psikolog maupun psikiater untuk mengatasi berbagai macam


gangguan kejiwaan, gangguan mental atau gangguan psikologis.
Mengurangi Rasa Sakit
Musik bekerja pada sistem saraf otonom yaitu bagian sistem saraf yang bertanggung
jawab mengontrol tekanan darah, denyut jantung dan fungsi otak, yang mengontrol
perasaan dan emosi. Menurut penelitian, kedua sistem tersebut bereaksi sensitif
terhadap musik. Ketika kita merasa sakit, kita menjadi takut, frustasi dan marah yang
membuat kita menegangkan otot-otot tubuh, hasilnya rasa sakit menjadi semakin
parah. Mendengarkan musik secara teratur membantu tubuh relaks secara fisik dan
mental, sehingga membantu menyembuhkan dan mencegah rasa sakit. Dalam proses
persalinan, terapi musik berfungsi mengatasi kecemasan dan mengurangi rasa sakit.
Sedangkan bagi para penderita nyeri kronis akibat suatu penyakit, terapi musik
terbukti membantu mengatasi rasa sakit.
Menyeimbangkan Tubuh
Menurut penelitian para ahli, stimulasi musik membantu menyeimbangkan organ
keseimbangan yang terdapat di telinga dan otak. Jika organ keseimbangan sehat, maka
kerja organ tubuh lainnya juga menjadi lebih seimbang dan lebih sehat.
Meningkatkan Kekebalan Tubuh
Dr John Diamond dan Dr David Nobel, telah melakukan riset mengenai efek dari
musik terhadap tubuh manusia dimana mereka menyimpulkan bahwa: Apabila jenis
musik yang kita dengar sesuai dan dapat diterima oleh tubuh manusia, maka tubuh
akan bereaksi dengan mengeluarkan sejenis hormon (serotonin ) yang dapat
menimbulkan rasa nikmat dan senang sehingga tubuh akan menjadi lebih kuat
(dengan meningkatnya sistem kekebalan tubuh) dan membuat kita menjadi lebih
sehat.
Meningkatkan Kualitas Olahraga

Mendengarkan musik selama olahraga dapat memberikan olahraga yang lebih baik
dalam beberapa cara, di antaranya meningkatkan daya tahan, meningkatkan mood dan
mengalihkan seseorang dari setiap pengalaman yang tidak nyaman selama olahraga.
1.3 Jenis-jenis Terapi Musik
Terapi Musik yang efektif menggunakan musik dengan komposisi yang tepat
antara beat, ritme dan harmony yang disesuaikan dengan tujuan dilakukannya terapi
musik. Jadi memang terapi musik yang efektif tidak bisa menggunakan sembarang
musik. Ada dua macam metode terapi musik, yaitu :
1) Terapi Musik Aktif.
Dalam terapi musik aktif pasien diajak bernyanyi, belajar main menggunakan alat
musik, menirukan nada-nada, bahkan membuat lagu singkat. Dengan kata lain

pasien berinteraksi aktif dengan dunia musik. Untuk melakukan Terapi Musik
aktif tentu saja dibutuhkan bimbingan seorang pakar terapi musik yang kompeten.
2) Terapi Musik Pasif.
Ini adalah terapi musik yang murah, mudah dan efektif. Pasien tinggal
mendengarkan dan menghayati suatu alunan musik tertentu yang disesuaikan
dengan masalahnya. Hal terpenting dalam terapi musik pasif adalah pemilihan
jenis musik harus tepat dengan kebutuhan pasien. Oleh karena itu, ada banyak
sekali jenis CD terapi musik yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasien.
1.4 Indikasi
Indikasi dari pelaksanaan terapi musik adalah orang-orang yang sedang
mengalami stress, baik fisik seperti hipertensi maupun psikologis, orang-orang atau
anak-anak dengan keterbelakangan mental, seperti autisme, dan orang-orang yang
membutuhkan relaksasi.
1.5 Kontraindikasi
Pelaksanaan terapi musik sangat berkaitan dengan indra pendengaran, yaitu
telinga karena stimulus atau gelombang suara dari musik akan masuk ke otak melalui
telinga, sehingga orang dengan gangguan pendengaran menjadi kontra indikasi dari
pelaksanaan terapi musik ini.
1.6 Prosedur pelaksanaan terapi
1. Persiapan
- Cek catatan keperawatan atau catatan medis klien (jika ada)
- Siapkan alat-alat (Tape musik / radio, CD musik, headset, alat-alat musik yang
sesuai)
- Identifikasi faktor atau kondisi yang dapat menyebabkan kontra indikasi
- Cuci tangan
2. Tahap orientasi
- Beri salam dan panggil klien dengan namanya
- Jelaskan tujuan, prosedur, dan lamanya tindakan pada klien/keluarga
3. Tahap kerja
- Berikan kesempatan klien bertanya sebelum kegiatan dilakukan
- Menanyakan keluhan utama klien
- Jaga privasi klien. Memulai kegiatan dengan cara yang baik
- Menetapkan perubahan pada perilaku dan/atau fisiologi yang diinginkan
-

seperti relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.


Menetapkan ketertarikan klien terhadap musik.
Identifikasi pilihan musik klien.
Berdiskusi dengan klien dengan tujuan berbagi pengalaman dalam musik.
Pilih pilihan musik yang mewakili pilihan musik klien
Bantu klien untuk memilih posisi yang nyaman.

Batasi stimulasi eksternal seperti cahaya, suara, pengunjung, panggilan

telepon selama mendengarkan musik.


Dekatkan tape musik/CD dan perlengkapan dengan klien.
Pastikan tape musik/CD dan perlengkapan dalam kondisi baik.
Dukung dengan headphone jika diperlukan.
Nyalakan musik dan lakukan terapi musik.
Pastikan volume musik sesuai dan tidak terlalu keras.
Hindari menghidupkan musik dan meninggalkannya dalam waktu yang lama.
Fasilitasi jika klien ingin berpartisipasi aktif seperti memainkan alat musik

atau bernyanyi jikan diinginkan dan memungkinkan saat itu.


Hindari stimulasi musik setelah nyeri/luka kepala akut.
Menetapkan perubahan pada perilaku dan/atau fisiologi yang diinginkan

seperti relaksasi, stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.


- Menetapkan ketertarikan klien terhadap musik.
- Identifikasi pilihan musik klien.
4. Terminasi
- Evaluasi hasil kegiatan (kenyamanan klien)
- Simpulkan hasil kegiatan
- Berikan umpan balik positif
- Kontrak pertemuan selanjutnya
- Akhiri kegiatan dengan cara yang baik
- Bereskan alat-alat
- Cuci tangan
5. Dokumentasi
- Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan
- Nama Px, Umur, Jenis kelamin, dll
- Keluhan utama
- Tindakan yang dilakukan (terapi musik)
- Lama tindakan
- Jenis terapi musik yang diberikan
- Reaksi selama, setelah terapi pemberian terapi musik
- Respon pasien.
- Nama perawat
- Tanggal pemeriksaan
1.7 Penelitian pendukung :
PENGARUH MUSIK KLASIK TERHADAP PENURUNAN TEKANAN
DARAH PADA PASIEN PRA-HEMODIALISIS DI RUANG DAHLIA BLU
RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO (Christiane Sarayar, Mulyadi,
Henry Palandeng)
Hipertensi adalah tekanan darah tinggi yang bersifat abnormal dan diukur pada
tiga kesempatan yang berbeda. Hipertensi merupakan salah satu pemicu gagal ginjal
dan sebaliknya hipertensi dapat disebabkan oleh gagal ginjal. Hemodialisis
merupakan terapi untuk gagal ginjal.

Musik adalah sebuah rangsangan pendengaran yang terorganisir, terdiri atas


melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk
mengetahui pengaruh musik klasik terhadap penurunan tekanan darah pada pasien
prahemodialisis di ruang Dahlia BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.
Penelitian ini menggunakan desain penelitian quasi eksperiment dengan rancangan
Non-equivalent Control Group. Sampel yang digunakan, 15 subjek untuk kelompok
eksperimen dan 15 subjek untuk kelompok kontrol yang diambil dengan
menggunakan teknik Purposive Sampling. Teknik analisa data menggunakan uji
wilcoxon dengan nilai kemaknaan =0,5. Hasil penelitian nilai p value = 0,00 (< =
0,5) untuk kelompok eksperimen dengan intervensi musik klasik sedangkan untuk
kelompok kontrol didapatkan nilai p value = 1,00 (> = 0,5).
Pada desain penelitian ini dilakukan observasi pertama (pretes) pada
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, kemudian kelompok eksperimen
diberikan perlakuan dan diikuti dengan pengukuran kedua (posttes), dan hasil
pengukuran ini akan dibandingkan dengan hasil pengukuran pada kelompok
pembanding (kontrol) yang tidak menerima perlakuan (Riyanto, 2011).
Populasi dalam penelitian ini ialah seluruh pasien pra-hemodialisis di ruang
Dahlia BLU RSPU Prof. Dr. R. D. Kandou Manado pada bulan Juni 2013 yang
berjumlah 130 orang. Sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah 15 subjek
untuk setiap kelompok sebagai sampel minimum untuk riset eksperimental (Dempsey,
2002). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik
Purposive Sampling yang merupakan cara pengambilan sampel berdasarkan
pertimbangan tertentu yang telah dibuat oleh peneliti (Riyanto, 2011) yang meliputi
subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Kriteria Inklusi ialah Bersedia
menjadi responden, Bersedia mendengarkan musik klasik (untuk kelompok
eksperimen), Merupakan pasien pra-hemodialisis di ruang Dahlia BLU RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado, Pada saat penelitian, pasien memiliki tekanan darah 140
mmHg. Dengan Kriteria Eksklusi Memiliki gangguan pendengaran, Mengalami
penurunan kesadaran. Penelitian ini dilaksanakan di ruang Dahlia BLU RSUP Prof.
Dr. R. D. Kandou Manado, pada tanggal 14-21 juni 2013. Data primer, didapat
langsung dari pasien dengan wawancara dan mengukur tekanan darah pada pasien
prahemodialisis di ruang Dahlia BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.Data
sekunder, didapat dari dokumentasi atau rekam medik pasien pra-hemodialisis di
ruang Dahlia BLU RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.

Kesimpulan penelitian ini yaitu ada pengaruh musik klasik terhadap


penurunan tekanan darah pada pasien pra-hemodialisis di Ruang Dahlia BLU RSUP
Prof. Dr. R. D. Kandou Manado.
Hasil penelitian ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Pujiyanto,
Nugroho, Listyarini yang menyatakan ada pengaruh musik klasik terhadap penurunan
tekanan darah di Desa Gunung Wungkal pada tahun 2011. Menurut penelitian yang
dilaporkan pada pertemuan American Society of Hypertension di New Orleans,
mendengarkan musik klasik setengah jam setiap hari secara signifikan dapat
menurunkan tekanan darah (Reuters Health, 2008).
Hal ini membuktikan bahwa intervensi dengan mendengarkan musik klasik
dapat mengubah secara efektif ambang otak yang dalam keadaan stress menjadi lebih
relaks, karena musik secara mudah dapat diterima oleh organ pendengaran dan
melalui saraf pendengaran diterima dan diartikan di otak tanpa batasan intelektual
melainkan dapat mengaktivasi sistem limbik yang mengatur emosi seseorang menjadi
lebih relaks, dalam keadaan relaks inilah pembuluh darah berdilatasi sehingga dapat
menurunkan tekanan darah (Nurrahmani, 2012).
Oleh sebab itu hasil penelitian dapat menjadi bahan masukan bagi perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien pra-hemodialisis yang memiliki
tekanan darah yang tinggi.

BAB 2
ANALISA
2.1 Strength
Indonesia
1. Hampir semua orang pasti menyukai musik meskipun jenis dan aliran yang berbedabeda
2. Di zaman seperti sekarang, setiap orang sangat mudah untuk mendengarkan musik
melalui radio, smartphone, laptop, dll.
3. Dari beberapa literature, terapi musik sudah terbukti efektif, sangat aman, dan tanpa
efek samping selama digunakan sesuai petunjuk
4. Terapi musik bisa didengarkan melalui loudspeaker ataupun headphone. Tidak
dibutuhkan spesifikasi khusus atau peralatan yang mahal. Semua speaker dan
headphone stereo bisa digunakan
Bali
1. Masyarakat Bali sangat menyukai musik, hal ini terlihat dari berbagai jenis musik

yang berkembang di Bali mulai dari musik modern sampai musik tradisional yang
sampai saat ini masih terjaga eksistensinya.
2.2 Weakness
Indonesia
1. Kesalahan pemilihan jenis musik yang digunakan dapat mengurangi manfaat yang
didapat dari terapi musik, karena pemilihan jenis musik sangat penting dalam
pengiriman gelombang suara sesuai ritme, beat, dan harmoni dari setiap jenis musik
Bali
1. Walaupun sebagian besar masyarakat menyukai musik, belum tentu semua musik

dapat digunakan sebagai terapi musik termasuk musik bali yang berkembang sat ini
karena belum ada penelitian valid yang menyatakan bahwa musik Bali yang
mayoritas berkembang dapat dijadikan sebagai bahan terapi musik.
2.3 Opportunity
Indonesia

1. Belum banyak yang mengembangkan terapi musik sebagi lapangan pekerjaan. Hal ini
dapat meningkatkan sektor ekonomi masyarakat apabila dijadikan sebuah bisnis,
apalagi bila diterapkan di kota-kota besar yang tingkat stressornya sangat tinggi
seperti di Kota Jakarta. Contohnya saja, karyawan yang pekerjaannya menumpuk dan
dikejar deadline ditambah dengan kondisi lingkungan yang kurang kondusif karena
macet atapun bencana banjir membuat semua pekerjaan terhambat dan akhirnya
membuat stress.
2. Belum adanya sekolah khusus untuk mempelajari terapi musik
Bali
1. Banyak masyarakat Bali yang belum mengetahui terapi musik, sehingga sangat
penting untung mempelajari dan mengaplikasikannya dan akan banyak yang berminat
melakukan
2. Belum ada pusat terapi musik di Bali yang dapat dijadikan sebagai peluang bisnis
2.4 Threath
Di Bali dan di Indonesia
1. Terapi mudah ditiru sehingga akan banyak saingan saat nanti terapi sudah mulai
berjalan
2. Kebanyakan orang sudah memiliki alat untuk melalukan terapi sendiri di rumah
sehingga akan jarang yang akan dating ke klinik
3. Terapi memerlukan suasana yang tenang sehingga tidak bisa dilakukan di tempat
umum atau perkotaan
4. Promosi mungkin akan sulit dilakukan karena akan susah memberikan penjelasan ke
masyarakat tentang terapi ini
5. Kurangnya motivasi dan partisipasi masyarakat dalam menerapkan terapi musik,

karena faktor ekonomi, ketidakpedulian, acuh tak acuh, dan lain sebagainya yang
dialami masyarakat

BAB 3
SOP TERAPI MUSIK
Mata Kuliah
NO
Kompetensi

: Keperawatan Komplementer
PROSEDUR
: Pemberian Terapi Musik

Pengertian
: Pemanfaatan kemampuan musik dan elemen musik oleh terapis
Pre interaksi
1 Cek catatan keperawatan
atau catatan medis klien (jika ada)
kepada klien
Tujuan
: Memperbaiki kondisi fisik, emosional, dan kesehatan spiritual pasien.
2 Siapkan alat-alat
3 Identifikasi
faktor
atau kondisi
Persiapan
alat
: 1. Tape
music / yang
Radiodapat menyebabkan kontra indikasi
4 Cuci tangan
dan bahan
2. CD Musik
Tahap
orientasi
5 Beri salam dan panggil
klien dengan namanya
3. Headset
6 Jelaskan tujuan, prosedur, dan lamanya tindakan pada klien/keluarga
4. Alat-alat musik yang sesuai
Tahap kerja
Prosedur
:
7 Berikan kesempatan klien bertanya sebelum kegiatan dilakukan
8 Menanyakan keluhan utama klien
9 Jaga privasi klien. Memulai kegiatan dengan cara yang baik
10 Menetapkan perubahan pada perilaku dan/atau fisiologi yang diinginkan seperti relaksasi,
11
12
13
14
15
16

stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.


Menetapkan ketertarikan klien terhadap musik.
Identifikasi pilihan musik klien.
Berdiskusi dengan klien dengan tujuan berbagi pengalaman dalam musik.
Pilih pilihan musik yang mewakili pilihan musik klien
Bantu klien untuk memilih posisi yang nyaman.
Batasi stimulasi eksternal seperti cahaya, suara, pengunjung, panggilan telepon selama

17
18
19
20
21
22
23

mendengarkan musik.
Dekatkan tape musik/CD dan perlengkapan dengan klien.
Pastikan tape musik/CD dan perlengkapan dalam kondisi baik.
Dukung dengan headphone jika diperlukan.
Nyalakan music dan lakukan terapi music.
Pastikan volume musik sesuai dan tidak terlalu keras.
Hindari menghidupkan musik dan meninggalkannya dalam waktu yang lama.
Fasilitasi jika klien ingin berpartisipasi aktif seperti memainkan alat musik atau bernyanyi

24
25

jikan diinginkan dan memungkinkan saat itu.


Hindari stimulasi musik setelah nyeri/luka kepala akut.
Menetapkan perubahan pada perilaku dan/atau fisiologi yang diinginkan seperti relaksasi,

stimulasi, konsentrasi, dan mengurangi rasa sakit.


Terminasi
26 Evaluasi hasil kegiatan (kenyamanan klien)
27 Simpulkan hasil kegiatan
28 Berikan umpan balik positif
29 Kontrak pertemuan selanjutnya

30 Akhiri kegiatan dengan cara yang baik


31 Bereskan alat-alat
32 Cuci tangan
Dokumentasi
33 Catat hasil kegiatan di dalam catatan keperawatan
-

Nama Px, Umur, Jenis kelamin, dll


Keluhan utama
Tindakan yang dilakukan (terapi musik)
Lama tindakan
Jenis terapi music yang diberikan
Reaksi selama, setelah terapi pemberian terapi musik
Respon pasien.
Nama perawat
Tanggal pemeriksaan
BAB 4
SKENARIO

I A Shri Adhnya Shwari

: Terapis 1

I Made Yudi Indra Wibawa

: Terapis 2

Rina Puspitari

: Mahasiswa

Gek Erniasih

: Mahasiswa

Eva Roseana Putri

: Mahasiswa

Wahyu Pratama

: Mahasiswa

Elda Widnyana

: Mahasiswa

Dewi Wulandari

: Mahasiswa

Intan Mertaningsih

: Mahasiswa

Dwiari Maharthini

: Mahasiswa

Suatu hari di sebuah caf ada 8 orang mahasiswa semester akhir yang sedang melanjutkan
tugas akhir (skripsi) mereka.
Elda

: We gimana skripsi kalian?

Wahyu

: Duh jangan ngomongin skripsi deh, ayam krispi aja bisa aku baca ayam
skripsi

Gek Erni

: Hahaha, kalian itu kapan majunya sih, aku dong uda sampe buat cover

Eva

: Kamu sih omdo (omong doang)

Dewi

: Kok kamu diem aja, gimana skripsimu? (ngomong ke dwi)

Dwi

: Skripsi ku penuh dengan revisi nih

Rina

: Udah revisi itu biasa, yg penting kita sarjana bareng- bareng ya..

Eva

: Eh udah udah, gausah ngomongin skripsi, aku tadi nemu pamfet terus
isinya tentang terapi gitu, kebetulan lagi discount mau coba gak?

Elda

: Emang terapi apaan? Lagi stress skripsi disuruh terapi

Dewi

: Terapi itu perlu loh, daripada stress gak jelas yuk kita coba terapi ini yuk

Dwi

: Iya boleh emang tu terapi apa?

Eva

: Ini terapi music gitu, jadi ini kayak instansi kesehatan mau promosi tentang
terapi music bisa ngurangin stress salah satunya.

Wahyu

: Kok kayaknya bagus, cobak yuk kapan nih mau?

Rina

: Besok mau? Semua bisa ya, gaada yang bimbingan kan?

Eva

: Iya fix ya besok kita terapi music yang di alamat itu ya..

Dwi

: Oke besok kita kumpul disini ya..

Keesokan harinya, berkumpulah mereka di caf tempat kemarin mereka membicarakan


mengenai terapi music. Setelah semua berkumpul, mulailah mereka pergi bersama-sama ke
tempat terapi music tersebut.
Gek erni

: Guys, kayaknya ini deh tempat terapi nya.

Rina

: Yakin kamu ? gak salah kan.

Wahyu

: Iya ni Gek, kamu yakin ?

Gek erni

: Iya yakin lah, nih liat alamat di pamphlet nya sama kan ?

Elda

: Sudah-sudah, dari pada kita ribut disini mending kita Tanya aja langsung
kedalam, gimana ?

Dwi

: iya bener kata elda, yuk guys kita masuk.

Setelah mereka masuk ke dalam tempat terapi music disambutlah mereka oleh seorang
terapis.
Dayu (Terapis1): Selamat pagi, Selamat datang di Klinik kami, ada yang bisa saya bantu ?
Dewi

: Gini loh, kami baca dari pamphlet bahwa disini ada terapi music, benar
tidak ?

Dayu (Terapis1): Oh, iya betul sekali, di Klinik kamu memang melakukan terapi kepada
pasien nya menggunakan music.
Wahyu

: Sebenernya apa sih terapi music itu ?

Dayu (Terapis1): Terapi music adalah terapi yang meningkatkan kualitas fisik dan mental
dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre,
bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik
yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.

Dwi

: Sebenernya bisa gak terapi music itu mengurangi tingkat stress yang kami
rasakan ?

Dayu (Terapis1): Tentu bisa, Manfaat yang pasti dirasakan setelah melakukan terapi musik
adalah perasaan rileks, tubuh lebih bertenaga dan pikiran lebih fresh. Terapi
musik memberikan kesempatan bagi tubuh dan pikiran untuk mengalami
relaksasi yang sempurna. Dalam kondisi relaksasi (istirahat) yang sempurna
itu, seluruh sel dalam tubuh akan mengalami re-produksi, penyembuhan
alami berlangsung, produksi hormon tubuh diseimbangkan dan pikiran
mengalami penyegaran.
Apakah kalian berminat mencoba terapi music yang ada di klinik kami ?
Rina

: Iya kami berminat dan ingin mencobanya sekarang juga.

Dayu (Terapis1): Baiklah silakan ikut saya ke ruang untuk melakukan terapi music nya, nanti
akan dibantu di arahkan oleh rekan saya.
Selanjutnya mereka dibawa oleh terapis1 ke ruangan terapi, disana sudah menunggu terapis2
Dayu (Terapis1): sebelumnya,

saya

akan

memperkenalkan

rekan

saya

yang

akan

mengarahkan kalian selama terapi ini berlangsung, perkenalkan ini adalah


terapis2.
Yudi (Terapis2): perkenalkan, saya yudi (terapis2) yang akan mengarahkan kalian selama
mengikuti proses terapi music ini. Sebelumnya kalian dapat duduk di kursi
yang telah kami sediakan.
Terapi music akan segera berlangsung.
Yudi (Terapis2): sebelumnya bolehkah saya mengetahui nama dari kalian ?
Eva

: tentu saja boleh, saya eva, ini rina, lalu gek erni, lalu elda, lalu dwi, lalu
wahyu, itu dewi dan intan

Yudi (Terapis2): Baik, sebelum kita mulai terapinya, nanti ketika proses terapi dimulai
diharapkan untuk tidak bersuara (ribut) dan hp nya juga tolong di silent ya,
agar tidak menggangu saat terapi berlangsung. Baik, kita akan segera
memulai terapi nya, sebelum nya bolehkah saya tahu, masalah apa yang
menyebabkan masing-masing dari kalian mengalami tingkat stress ?
Dewi

: sebenarnya kami stress gara-gara tugas akhir kuliah kami (skripsi) belum
selesai, dan itu menjadi tekanan bagi kami, rata-rata dari kami mengalami
tekanan emosional yang cukup tinggi, baik dari dosen pembimbing,
maupun dari orang tua.

Dwi

: iya dan kami merasa stress yang kami rasakan mempengaruhi kinerja kami
dalam menyelesaikan skripsi kami.

Yudi (Terapis2): apakah yang lainnya mengalami hal yang sama ?


Eva, rina, gek erni, wahyu, elda: iya sama
Yudi (Terapis2): Baiklah saya akan memulai tahap dari terapi music nya. Saya akan
menjelaskan tahapan dari terapi music ini. Mohon didengarkan dengan
baik. Pertama saya akan memberikan pilihan music kepada kalian dan
silahkan kalian untuk memilihnya. Lalu yang kedua saya akan memutarkan
music tersebut selama kurang lebih 10 menit. Lalu saya minta kepada
kalian agar mendengarkan dengan tenang dan rileks.
Wahyu

: iya kami memilih jenis music Mozart.

Yudi (Terapis2): baik sebelum kita mulai terapi ini, ada yang ingin di tanyakan lagi ?
(terapi music dimulai)
.
( setelah beberapa menit kemudian, terapi music pun selesai dan music dimatikan)
Terapis2: baik terapi nya sudah selesai, bagaimana perasaan kalian setelah mendengarkan
musiknya?
Dewi

: ya, perasaan dan pikiran saya menjadi lebih nyaman dan fresh

Gek erni

: ya aku juga merasakan hal yang sama.

Yudi (Terapis2): oke, untuk selanjutnya kalian semua bisa menuju ke reception nanti disana
kalian akan dijelaskan mengenai terapi selanjutnya.
Dwi

: baik, terimakasih kalau begitu kami permisi dulu..

Yudi (Terapis2): ya terimakasih kembali, yaya silahkan..

(menuju ke receptionis dan bertemu dengan terapis 1)


Dayu (Terapis1): selamat siang semua, bagaimana perasaan nya setelah dilakukakan terapi ?
Rina

: siang, ya pikirin saya menjadi lebih tenang.. semoga dengan terapi ini bisa
membantu mengurangi tingkat stress kami dalam menyelesaikan tugas
akhir kami dan skripsi kami bisa cepat selasai..( astungkara)

Dayu (Terapis1): iya, jika kalian mengalami gejala yang sama, kalian bisa datang kembali
ke sini untuk di lakukan terapi selanjutnya.
Elda

: iya terimakasih, baik kalau begitu kami permisi dulu

Dayu (Terapis1): iya sama- sama , silahkan..

DAFTAR PUSTAKA
1. Djohan. (2006). Terapi Musik : Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Galangpress
2. Christiane Sarayar, Mulyadi, Henry Palandeng.
TERHADAP

PENURUNAN

TEKANAN

PENGARUH MUSIK KLASIK

DARAH

PADA

PASIEN

PRA-

HEMODIALISIS DI RUANG DAHLIA BLU RSUP. PROF. DR. R. D. KANDOU


MANADO
3. http://eprints.undip.ac.id/43252/2/14._BAB_II.pdf (diakses 13 Februari 2015)
4. STANDAR

OPERASIONAL

PROSEDUR

Terapi

Musik.

Available

http://www.scribd.com/doc/181262705/SOP-TERAPI-MUSIK-doc#download

at

(Diakses

tanggal 13 Februari 2015)


5. YPAC

Semarang.

(2008).

Terapi

Musik.

Available

at:

http://www.ypac-

semarang.org/index.php?pilih=hal&id=21\ Diakses tanggal 13 Februari 2015