Anda di halaman 1dari 16

PRESENTASI KASUS

PNEUMONIA

Oleh
dr. Ricky Tjahjadi
Pembimbing
dr. Bryan S.
dr. Sri Numiyati
RSUD Yowari
Sentani, Papua
2014

BAB I
ILUSTRASI KASUS
1.1

Identitas

Nama
Usia
Jenis kelamin
Agama
Alamat

1.2

: By. MI
: 2 bulan
: Perempuan
: Islam
: Nimbokrang

Anamnesis

Keluhan Utama
Sesak sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien batuk sejak 2 hari sebelum masuk rumah sakit, batuk berlendir, batuk tidak memiliki
pola tertentu, tidak ada bunyi mengi, disertai demam. Batuk semakin hebat hingga menjadi
sesak sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit. Demam semakin tinggi, tidak memiliki pola
naik turun. Minum susu sedikit, tidak muntah atau tersedak. Belum berobat sebelum datang
ke RS, belum minum obat penurun panas atau obat-obatan warung lainnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit serupa sebelumnya (-), alergi obat atau makanan (-), riwayat asma (-)
Riwayat Penyakit Keluarga
Riwayat asma (-), riwayat TB (-), alergi obat atau makanan (-)
Riwayat Persalinan
Lahir spontan di RSUD Yowari,usia kehamilan cukup bulan, BL 2800 gram, langsung
menangis, tidak dirawat pascakelahiran.
Riwayat Nutrisi dan Imunisasi
Pasien baru mendapatkan imunisasi H0 saat kelahiran di RSUD Yowari. Sampai saat sakit
pasien masih menyusui ASI eksklusif.

1.3

Pemeriksaan Fisis

Keadaan umum
adekuat
Kesadaran
Keadaan gizi
Berat badan
Nadi
Pernapasan
Sat O2
Suhu

: Tampak sakit berat, tampak sesak, gelisah, sianosis (-), kontak


: Compos mentis
: Kesan gizi cukup
: 4 kg
: 130 x/menit
: 60 x/menit
: 88%
: 38.6 oC

Status Generalis
Kulit
: Lembab, tidak sianosis
Kepala
: UUK tidak cekung
Wajah
: Kelopak mata tidak cekung, warna bibir tidak sianosis
Rambut
: Tidak mudah rontok, ketebalan rambut cukup
Mata
: Konjungtiva tidak pucat, sclera tidak ikterik
Telinga: Bentuk normal, simetris, tidak ada sekret, liang telinga bersih, reflex +/+
Hidung
: Sekret -, tidak ada deformitas atau deviasi septum, napas cuping hidung +
Mulut
: Oral hygiene baik
Tenggorokan : Faring tidak hiperemis
Leher
: KGB tidak teraba membesar, tidak ada retraksi suprasternal
Jantung
: Ictus cordis tidak tampak, pada perabaan tidak terasa thrill/tapping, bunyi
jantung I dan II normal, tidak ada bising maupun bunyi tambahan
Paru
: Dada tampak simetris dalam keadaan statis dan dinamis, retraksi sela iga -,
sonor/sonor, bunyi napas vesikuler, rhonki basah kasar pada kedua lapang
paru, wheezing -/Abdomen
: Datar, retraksi epigastrium +, supel, bising usus normal
Ekstremitas : Akral hangat, tidak ada sianosis perifer, tidak ada edema, CRT < 2s
Genitalia
: Tidak ditemukan kelainan

1.4

Pemeriksan Penunjang
Hb
: 9.9 g/dL
Ht
: 26.7%
MCV
: 85.3 fL
MCH
: 31.5 pg
MCHC
: 37.0 g/dL
Leu
: 13,400 /uL
Trombosit
: 304,000 / uL
DDR
: (-)
Pemeriksaan darah tepi: eritrosit tampak anisositosis, normositik normokrom,
ditemukan sel krenasi, polikromatik, ditemukan normoblas, tidak ditemukan badan
3

inklusi; leukosit kesan jumlah cukup, PMN > MN, sel myelosit ditemukan satu-satu,
tidak ada blast; trombosit kesan jumlah cukup dengan penyebaran merata

1.5

Diagnosis
Pneumonia berat
Anemia

1.6

Tatalaksana

1.7

Oksigen per NK 0,5 l/menit SatO2 92-94%


PCT suppository per rectal 1 x 80 mg
Nebulisasi berotec/bisolvon setiap 6 jam
IVFD D1/4NS 16 tpm mikro
PCT drip 4 x 60 mg i.v.
Ceftriaxone 2 x 160 mg i.v.
Dexamethasone 1 x 1.5 mg i.v lalu 3 x 0.5 mg i.v.
Konsul Sp.A
Tambah amikacin 2 x 30 mg i.v.
Dexamethasone ganti methylprednisolone 4 x 4 mg i.v.
Pasang NGT, gizi : diet cair per NGT
Pro ICU

Prognosis
Quo ad vitam
Quo ad functionam
Quo ad sanationam

: dubia ad bonam
: dubia ad bonam
: dubia ad bonam

BAB 2
LANDASAN TEORI
2.1.

Definisi dan Klasifikasi Pneumonia

Pneumonia adalah inflamasi saluran napas bagian bawah yang melibatkan saluran napas dan
parenkim, yaitu konsolidasi rongga alveolus. Istilah infeksi saluran napas bawah sering
digunakan untuk menjelaskan bronchitis, bronkiolitis, atau pneumonia atau kombinasi dari
ketiga jenis penyakit tersebut.1Meskipun sebagian besar kasus pneumonia disebabkan oleh
mikroorganisme, penyebab noninfeksius seperti aspirasi makanan atau asam lambung, benda
asing, hidrokarbon, reaksi hipersensitivitas, dan pneumonitis yang diinduksi obat atau radiasi,
juga bisa menimbulkan gejala serupa pneumonia. Pneumonitis adalah istilah peradangan paru
yang mungkin berhubungan dengan konsolidasi.2 Pneumonia lobaris menggambarkan
pneumonia tipikal yang terlokalisasi di satu atau lebih lobus paru di mana lobus yang
berhubungan sepenuhnya terkonsolidasi. Pneumonia atipikal menjelaskan pola selain
pneumonia lobaris. Bronkopneumonia berarti peradangan paru yang terpusat di daerah
bronkiolus dan berakibat pada produksi eksudat mukopurulen yang mengobstruksi saluran
napas kecil serta menghasilkan konsolidasi tersebar di lobules sekitarnya. Pneumonitis
interstisial berarti adanya peradangan di interstisial, yang tersusun atas dinding alveolus,
sakus dan duktus alveolus, serta bronkiolus. Pneumonitis interstisial adalah karakteristik dari
infeksi viral akut, tetapi juga bisa terjadi pada proses kronik.1
Adanya gangguan pada sistem pertahanan akan meningkatkan risiko menderita pneumonia.
Saluran napas bagian bawah dan sekresinya seharusnya steril karena kerja sistem bersihan
mukus yang mengikat kontaminan dan didorong oleh silia ke saluran napas sentral untuk
kemudian ditelan atau dibuang. Sel netrofil polimorfonuklear (PMN) dari darah dan
makrofag dari jaringan bertugas memfagositosis dan membunuh mikroorganisme. IgA
disekresikan ke cairan saluran napas bagian atas untuk melindungi dari infeksi invasif dan
memfasilitasi netralisasi virus.1
Agen infeksi yang menyebabkan pneumonia dari komunitas bervariasi tergantung usia.
Penyebab paling sering pada bayi adalah RSV, virus-virus pernapasan pada balita seperti
RSV, parainfluenza virus, influenza virus, dan adenovirus. Pada anak lebih dari 5 tahun,
biasanya disebabkan oleh M. pneumonia dan S. pneumonia. Pada beberapa keadaan tertentu,
pneumonia pada neonatus dapat disebabkan oleh bakteri Chlamydia, Mycoplasma, dan
Ureaplasma, terutama jika ibu yang melahirkan sedang terinfeksi bakteri-bakteri tersebut.
Individu dalam keadaan sistem imun yang dilemahkan dapat terinfeksi oleh bakteri enteric
gram negatif seperti mycobacteria, jamur seperti aspergilus dan histoplasma, virus CMV, dan
Pneumocystis carinii.1
2.2.

Epidemiologi

Pneumonia berperan besar dalam angka morbiditas dan mortalitas di periode anak-anak,
terutama bagi anak berusia di bawah 5 tahun. Diperkirakan angka insidensi pneumonia
sekitar 150 juta kasus baru setiap tahun di negara-negara berkembang dengan angka kematian
hingga 4 juta jiwa setiap tahunnya.2

Imunisasi memiliki pengaruh besar terhadap insidensi pneumonia yang disebabkan oleh
pertussis, difteri, campak, Hib, dan S. pneumonia. Saat digunakan dengan benar, vaksin
Bacille Calmette-Guerin (BCG) juga memiliki pengaruh signifikan dalam menekan angka
infeksi dan kematian oleh Mycobacterium tuberculosis.1 Penurunan angka kematian akibat
pneumonia juga dipengaruhi oleh perkembangan antibiotik dan ketersediaan pelayanan
kesehatan berasuransi di negara-negara maju.2 Faktor risiko terjadinya infeksi saluran napas
bawah antara lain terjadinya refluk gastroesofageal, gangguan neurologis, aspirasi, keadaan
immunocompromised, anomali anatomis, tempat tinggal yang kumuh, dan perawatan di
rumah sakit yang lama.1
2.3.

Etiologi

Penyebab pneumonia pada seorang individu sering sulit ditentukan karena kultur jaringan
paru bersifat invasif dan jarang dilakukan. Kultur yang didapat dari sputum sering tidak
memberikan hasil yang akurat, walaupun dengan uji diagnostik paling canggih yang tersedia
saat ini, 40-80% penyebab viral atau bakteri pada pneumonia yang didapat dari komunitas
mampu diidentifikasi. Patogen bakteri yang paling umum ditemukan adalah Streptococcus
pneumonia (pneumococcus), diikuti oleh Chlamydia pneumonia dan Mycoplasma
pneumonia. Di samping pneumococcus, penyebab bakteri lain pada anak yang sebelumnya
sehat mencakup streptococcus grup A dan Staphylococcus aureus.
Streptococcus pneumonia, Haemophilus influenza, dan Staphylococcus aureus adalah
penyebab umum kasus rawat inap dan penyebab kematian akibat pneumonia pada anak-anak
di negara berkembang, meskipun pada anak dengan infeksi HIV dan dalam keadaan
imunodepresi, Mycobacterium tuberculosis, Eschericia coli, Salmonella, mycobacterium
atipikal, dan Pneumocystis jirovecii harus dipertimbangkan.
Patogen viral juga merupakan penyebab signifikan kasus infeksi saluran napas bawah pada
balita. Berbeda dengan kasus bronkiolitis yang puncak insidensinya terjadi dalam setahun
pertama kehidupan, frekuensi pneumonia viral memuncak di antara usia 2-3 tahun. Dari
semua virus respiratorik, penyebab paling sering adalah virus influenza dan respiratory
syncytial virus (RSV).2
2.4.

Patogenesis

Dalam keadaan normal, saluran napas bawah selalu steril melalui mekanisme pertahanan
fisiologis, antara lain bersihan mukosilier, sekresi normal IgA di saluran napas, dan bersihan
saluran napas melalui batuk. Mekanisme pertahanan imunologis yang menghambat invasi
organisme patogenik antara lain adanya makrofag alveolar dan di bronkiolus, IgA sekretorik,
dan immunoglobulin lain.
Pneumonia viral biasanya terjadi melalui persebaran infeksi di sepanjang saluran napas yang
disertai kerusakan langsung pada epitel respiratorik, sehingga terjadi obstruksi saluran napas,
sekresi abnormal, dan debris selular. Kecilnya diameter jalur napas pada anak membuat
mereka rentan mengalami infeksi berat. Terjadinya atelectasis, edema interstisial, dan
ventilation-perfusion mismatchakan menyebabkan hipoksemia berat. Selain itu, infeksi viral
pada saluran napas dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya infeksi bakterial sekunder
dengan mengganggu mekanisme pertahanan normal, mengubah sekresi, dan mengganggu
keseimbangan flora normal.
6

Infeksi bakterial di parenkim paru memiliki proses patologis berbeda tergantung pada
organisme yang menginvasi. M. pneumonia melekat pada epitel pernapasan, menghambat
fungsi silia, dan mengakibatkan kerusakan selular dan respon inflamasi di submukosa. Proses
ini kemudian meningkatkan debris selular, menumpuknya sel inflamatorik, dan mukus
sehingga terjadi obstruksi saluran napas. S. pneumoniaakan menimbulkan edema local yang
mempercepat proliferasi organisme dan persebarannya ke lobus paru lain. Streptococcus grup
A menimbulkan infeksi difus, nekrosis di mukosa trakeobronkial, pembentukan eksudat,
edema, dan perdarahan lokal yang masif. S. aureus bermanifestasi sebagai bronkopneumonia,
seringkali unilateral, dan ditandai dengan adanya nekrosis hemoragik ekstensif dengan
kavitasi irregular di parenkim paru.
Seorang anak yang mengalami pneumonia 2 kali atau lebih dalam setahun atau lebih dari 3
kali semasa hidupnya disertai perbaikan secara radiografik setiap kalinya, didiagnosis dengan
pneumonia rekuren. Pada keadaan seperti ini, harus dipertimbangkan adanya kondisi lain
yang mendasari kasus pneumonia, seperti adanya trauma, aspirasi, dan anesthesia.2
2.5.

Manifestasi Klinis

Usia menentukan manifestasi klinis pneumonia. Neonatus mungkin menunjukkan gejala


demam ringan tanpa tanda dan gejala jelas dari pneumonia. Pola klinis tipikal pneumonia
viral dan bacterial biasanya berbeda antara pasien neonatus dan balita. Gejala-gejala yang
umum ditemukan antara lain demam, menggigil, pernapasan yang cepat, batuk, kelemahan,
nyeri pleuritik, dan retraksi. Pneumonia viral biasanya lebih berhubungan dengan demam,
napas mengi, stridor, dengan demam yang lebih ringan jika dibandingkan dengan pneumonia
bakterial.1Manifestasi paling konsisten dari semua kasus pneumonia pada umumnya adalah
takipnea dan adanya tanda-tanda peningkatan usaha bernapas, seperti retraksi intercostal,
subcostal, dan suprasternal, pernapasan cuping hidung, dan penggunaan otot napas aksesoris.
Pada infeksi berat, dapat ditemukan sianosis dan tanda kelelahan bernapas. Pemeriksaan
auskultasi dapat memberikan ronki dan mengi, meskipun sulit untuk dilokalisasi pada anak
kecil dengan dada yang hiperresonans.2
Tabel 1. Frekuensi Pernapasan Normal pada Anak3
Umur
< 2 bulan
2 11 bulan
1 5 tahun
>5 tahun

Frekuensi
< 60 kali/menit
< 50 kali/menit
< 40 kali/menit
< 30 kali/menit

Pemeriksaan fisis dapat memberikan hasil berbeda pada fase pneumonia yang berbeda. Pada
awalnya, suara napas yang melemah disertai ronki yang luas adalah tanda yang umum
ditemui, tetapi pada fase selanjutnya, konsolidasi atau komplikasi pneumonia seperti efusi,
empyema, atau pyopneumotroaks akan menimbulkan suara pekak pada perkusi dan
mengubah intensitas bunyi napas. Anak yang mengalami sesak kelamaan akan menelan udara
dan berakibat distensi abdominal.2
Pemeriksaan radiografi toraks pada pneumonia viral biasanya menunjukkan infiltrat bergarisgaris dan difus seperti bronkopneumonia, dengan angka leukosit normal atau sedikit lebih
7

tinggi dan didominasi oleh limfosit. Sedangkan pneumonia bacterial memiliki gejala demam
yang lebih tinggi, sesak napas, dan tanda-tanda konsolidasi paru pada pemeriksaan fisis.
Pemeriksaan radiografi sering menunjukkan konsolidasi lobus dan efusi pleura, dengan angka
leukosit meningkat dan didominasi oleh neutrofil.1
2.6.

Pemeriksaan Laboratorium dan Radiologi

Diagnosis infeksi saluran napas bagian bawah pada anak-anak sulit ditegakkan jika
mengandalkan pengambilan sampel untuk kultur. Flora bakteri di saluran napas atas tidak
menggambarkan infeksi di saluran bawah secara akurat, dan sulit untuk mendapatkan sampel
sputum yang baik dari anak-anak. Pada anak yang sehat dan tidak dalam keadaan mengancam
nyawa, tindakan invasif tidak diindikasikan. Pemeriksaan serologis juga tidak berperan
penting pada kebanyakan pneumonia bakterial.
Jumlah leukosit pada pneumonia viral seringkali normal atau hanya sedikit meningkat dengan
dominasi limfosit, sedangkan pada pneumonia bakterial biasanya meningkat hingga lebih dari
20.000/mm3 dan didominasi neutrofil. Eosinofilia ringan adalah karakteristik dari pneumonia
bayi yang disebabkan oleh C. trachomatis. Kultus darah seharusnya dilakukan dalam
mencoba mendiagnosis bakteri penyebab pneumonia. Kultur sekret dapat digunakan untuk
mendiagnosis penyebab pneumonia berupa mycoplasma dan virus. Jika sulit mendapatkan
sampel, bilasan lambung pada pagi hari dapat memberikan sampel yang cukup karena
merepresentasikan sekret saluran napas yang ditelan oleh anak selama tidur.
Menegakkan diagnosis etiologis pneumonia penting pada pasien yang sakit hingga perlu
dirawat inap, pasien dengan keadaan imun yang lemah, pasien dengan pneumonia rekuren,
atau yang tidak merespon terapi empiris. Pasien demikian memiliki indikasi untuk menjalani
prosedur invasif dalam mengambil sampel. Jika ada efusi atau empyema, torakosentesis dapat
dilakukan untuk mendapatkan cairan pleura sebagai upaya diagnostic dan terapeutik.
Pemeriksaan Gram dan kultur sampel dapat memberikan diagnosis mikroorganisme penyebab
penyakit, dan jika cairannya sangat purulent, pengeluaran cairan akan mengurangi toksisitas,
ketidaknyamanan pasien, dan mempercepat proses penyembuhan. Dalam jumlah besar, cairan
pleura akan menghambat proses pertukaran gas darah dan pengembangan paru, sehingga
akan sangat bermanfaat jika dievakuasi.
Radiografi frontal dan lateral dibutuhkan untuk melokalisasi segmen paru yang terinfeksi dan
untuk memvisualisasikan infiltrat yang terletak di belakang jantung atau di daerah diafragma.
Terdapat beberapa tampilan radiografi yang khas untuk pneumonia meskipun tidak ideal
untuk menegakkan diagnosis definitive melalui radiografi saja. Pneumonia bakterialis
cenderung menunjukkan konsolidasi lobaris atau pneumonia berbentuk bulat dengan efusi
pada 10 % - 30 % kasus. Pneumonia viral cenderung memberikan gambaran infiltrat difus
dengan bercak-bercak menyerupai bronkopneumonia. Pneumonia atipikal seperti yang
disebabkan oleh M. pneumonia danC. pneumonia memberikan gambaran bronkopneumonia
yang tebal. Radiografi dapat memberikan hasil normal pada pneumonia fase awal, dan
infiltrat biasanya baru didapatkan saat diterapi karena cairan edema semakin banyak.
Limfadenopati hilus jarang ditemukan pada pneumonia bakterial, tapi cenderung menandai
infeksi tuberculosis, histoplasma, atau adanya neoplasma ganas. Pneumonia berulang atau
etiologi yang tidak umum biasanya perlu pertimbangan khusus dalam manajemennya. Jika
ditemukan abses paru, pneumatokel, atau empyema, maka perlu dilakukan tatalaksana
khusus. Sudut foto decubitus atau penggunaan ultrasonografi dibutuhkan untuk menilai
8

derajat efusi pleura atau untuk memastikan cairan tersebut benar-benar cairan bebas. CT Scan
dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan yang serius seperti abses pleura, bronkiektasis,
dan efusi berat.1
2.7.

Terapi

Terapi pneumonia mencakup tatalaksana suportif dan spesifik. Rencana tatalaksana yang
tepat bergantung pada derajat penyakit, adanya komplikasi, dan kemampuan menentukan
agen infeksi etiologis atau kemampuan mendeduksi agen yang mungkin menyebabkan
pneumonia. Usia, derajat penyakit, komplikasi yang ditemukan pada pemeriksaan radiografi,
derajat kesulitan bernapas, dan kemampuan keluarga untuk merawat anak serta pemantauan
perkembangan semua gejala harus dipertimbangkan dalam memberikan tatalaksana rawat
inap. Sebagian besar pneumonia pada anak yang sehat dapat dilakukan secara rawat jalan.1
Meskipun virus adalah penyebab sebagian besar pneumonia yang didapatkan dari komunitas
pada anak-anak, pada beberapa kondisi direkomendasikan untuk memberikan terapi empiris
untuk penyebab yang paling mungkin yang dapat ditangani. Rekomendasi terapi didasarkan
pada usia anak, derajat beratnya pneumonia, dan aktivitas agen antimikroba yang paling
efektif pada pathogen yang diharapkan. Terapi antibiotic empiris cukup dalam manajemen
pneumonia anak kecuali responnya kurang, tampilan anak sangat berat hingga toksik,
pneumonia nosocomial, dan anak dengan sistem imun yang lemah, dimana dibutuhkan
evaluasi lanjut untuk mengetahui agen etiologis secara spesifik. Bayi berusia 4 hingga 18
minggu dengan pneumonia afebrile paling sering terinfeksi C. trachomatis, dan
direkomendasikan pemberian eritromisin sebagai terapinya.2
Tabel 2. Agen Etiologi dan Terapi Antimikrobial Empiris untuk
Riwayat Terapi Antibiotik Sebelumnya1
Rawat Jalan
Rawat Inap
Kelompok Patogen yang
(durasi terapi 7- (durasi terapi 10Usia
Paling Sering
10 hari)
14 hari)
Neonatus Group B
Tidak
Ampicillin +
(<1 bulan) streptococcus,
direkomendasikan cefotaxime atau
Escherichia
aminoglycoside +
coli,Streptococcus
antistaphylococcal
pneumoniae,
agent jika dicurigai
Haemophilus
influenzae (type b,
nontypable)
1-3 bulan
Pneumonia Respiratory
Rawat jalan tidak Cefuroxime atau
dengan
syncytial virus,
direkomendasikan cefotaxime atau
demam
other respiratory
pada awal terapi ceftriaxone +
viruses
nafcillin atau
(parainfluenza
oxacillin
viruses, influenza
viruses,
adenoviruses), S.
pneumoniae, H.
influenzae (type b,
nontypable)

Pneumonia tanpa
Perawatan
Intensif (durasi
terapi 10-14 hari)
Ampicillin +
cefotaxime atau
aminoglycoside +
antistaphylococcal
agent jika dicurigai

Cefotaxime atau
ceftriaxone +
nafcillin atau
oxacillin

Pneumonia Chlamydia
afebril
trachomatis,
Mycoplasma
hominis,
Ureaplasma
urealyticum,
cytomegalovirus
3-12 bulan Respiratory
syncytial virus,
other respiratory
viruses
(parainfluenza
viruses, influenza
viruses,
adenoviruses), S.
pneumoniae, H.
influenzae (type b,
nontypable), C.
trachomatis,
Mycoplasma
pneumoniae, group
A streptococcus
2-5 tahun Respiratory viruses
(parainfluenza
viruses, influenza
viruses,
adenoviruses), S.
pneumoniae, H.
influenzae (type b,
nontypable), M.
pneumoniae,
Chlamydophila
pneumoniae, S.
aureus, group A
streptococcus
5-18 tahun M. pneumoniae, S.
pneumoniae, C.
pneumoniae, H.
influenzae (type b,
nontypable),
influenza viruses,
adenoviruses, other
respiratory viruses
18 tahun M. pneumoniae, S.
pneumoniae, C.
pneumoniae, H.
influenzae (type b,
nontypable),
influenza viruses,

Erythromycin,
Erythromycin,
azithromycin, atau azithromycin, atau
clarithromycin
clarithromycin
dengan follow-up
dekat

Amoxicillin,
Ampicillin atau
erythromycin,
cefuroxime
azithromycin, atau
clarithromycin

Erythromycin,
azithromycin, atau
clarithromycin
+cefotaxime atau
ceftriaxone +
nafcillin atau
oxacillin
Cefuroxime atau
ceftriaxone +
erythromycin atau
clarithromycin

Amoxicillin,
Ampicillin atau
erythromycin,
cefuroxime
azithromycin, atau
clarithromycin

Cefuroxime atau
ceftriaxone +
erythromycin,
azithromycin, atau
clarithromycin

Erythromycin,
Erythromycin,
azithromycin, atau azithromycin, atau
clarithromycin
clarithromycin
dengan atau tanpa
cefuroxime atau
ampicillin

Cefuroxime atau
ceftriaxone +
erythromycin atau
clarithromycin

Erythromycin,
azithromycin atau
clarithromycin,
doxycycline,
moxifloxacin,
gatifloxacin,

Cefotaxime,
ceftriaxone, atau
ampicillinsulbactam +
azithromycin atau
clarithromycin

Moxifloxacin,
gatifloxacin,
levofloxacin, atau
gemifloxacin atau
azithromycin atau
clarithromycin

10

adenoviruses,
Legionella
pneumophila

levofloxacin, atau +cefotaxime,


gemifloxacin
ceftriaxone, atau
ampicillinsulbactam

ataumoxifloxacin,
gatifloxacin,
levofloxacin, atau
gemifloxacin

Pilihan klinisi dalam menentukan terapi seorang anak dengan pneumonia, baik rawat jalan
maupun rawat inap, dapat dibantu dengan mengklasifikasikan kasus pneumonia tersebut
termasuk ke dalam kategori pneumonia ringan atau berat.3
Tabel 3. Klasifikasi Ringan Berat Pneumonia3
Diagnosis
Manifestasi
Pneumonia ringan Hanya terdapat napas cepat
- anak usia 2 bulan 11 bulan: > 50 kali per menit
- anak usia 1 tahun 5 tahun: > 40 kali per menit
Pneumonia berat
Batuk dan atau kesulitan bernapas ditambah setidaknya satu dari gejala
berikut:
- kepala terangguk-anngguk
- pernapasan cuping hidung
- retraksi dinding dadat
- foto menunjukkan gambaran pneumonia
- frekuensi pernapasan melebihi yang tertera dalam Tabel 1 di atas
- suara merintih
- tidak dapat menyusu atau makan, atau memuntahkan semua kembali
- kejang
- sianosis

11

2.8.

Diagnosis Banding Pneumonia1

Beberapa jenis penyakit dapat dipertimbangkan menjadi diagnosis banding pneumonia,


terutama yang bersifat rekuren.
Penyakit herediter: fibrosis sistik, penyakit sel sabit
Gangguan imunitas: AIDS, defisiensi subkelas IgG selektif, sindrom imunodefisiensi
Gangguan leukosit: defek adhesi leukosit, penyakit granulomatosa kronik, sindrom
hiperimunoglobulin E
Gangguan silia: sindrom silia imotil, sindrom Kartagener
Gangguan anatomi: sekuestrasi, emfisema lobaris, refluks esophageal, benda asing, fistula
trakeoesofageal, refluks gastroesofageal, bronkiektasis, aspirasi
2.9.

Komplikasi

Pneumonia bakterial sering menyebabkan cairan inflamatorik berkumpul di rongga pleura


sekitar lobus terinfeksi, menyebabkan efusi parapneumonik, atau jika cairan tersebut
purulent, suatu empyema. Efusi dalam jumlah kecil mungkin tidak membutuhkan terapi
khusus, tetapi efusi besar merestriksi pernapasan dan perlu didrainase. Diseksi udara dalam
jaringan paru dapat berakibat terbentuknya pneumatokel, suatu rongga udara dalam parenkim
paru. Jaringan parut yang terbentuk di saluran napas dan parenkim dapat melebarkan bronki,
berakibat terjadinya bronkiektasis dan peningkatan risiko infeksi rekuren.2
Pneumonia yang menyebabkan nekrosis jaringan paru dapat berkembang menjadi suatu abses
paru. Abses paru adalah masalah yang jarang ditemui pada anak-anak dan biasanya
disebabkan oleh aspirasi atau infeksi di belakang bronkus yang tersumbat. Abses paling
sering terbentuk di segmen posterior lobus atas dan segmen superior lobus bawah, di mana
materi aspirasi terdrainase saat anak dalam posisi berbaring. Abses biasanya dipenuhi oleh
bakteri anaerob bersama jenis streptococcus. Radiografi toraks atau CTscan biasa
memberikan gambaran lesi kavitasi dengan air-fluid level, dikeliling oleh parenkim
terinflamasi. Jika kavitasi berhubungan dengan bronkus, organisme dapat diisolasi melalui
sputum. Bronkoskopi diagnostic bisa menjadi indikasi untuk mengeksklusi adanya benda
asing dan untuk mendapatkan spesimen mikrobiologis.1,2
2.10.

Prognosis

Sebagian besar anak sembuh dari pneumonia secara cepat dan sempurna. Kelainan yang
didapatkan melalui radiografi membutuhkan waktu 6-8 minggu agar dapat kembali normal.
Pada beberapa anak, pneumonia dapat bertahan lebih dari 1 bulan atau bersifat rekuren. Pada
kasus demikian, kemungkinan adanya kelainan yang mendasari pneumonia harus
diinvestigasi. Pneumonia adenovirus berat dapat menyebabkan terjadinya bronkiolitis
obliterans, proses peradangan subakut yang mengubah saluran napas kecil dengan jaringan
parut, sehingga volume paru dan elastisitas paru berkurang.1
12

2.11.

Pencegahan

Imunisasi berpengaruh besar dalam mengurangi insidens penyebab pneumonia yang dapat
dihindari dengan imunisasi. Mengurangi lamanya penggunaan ventilasi mekanik dan
penggunaan antibiotic hanya jika dibutuhkan dapat mengurangi angka kejadian pneumonia
akibat penggunaan ventilator. Sisi kepala tempat tidur sebaiknya dielevasi 30-45 derajat
untuk mencegah aspirasi. Alat suction dan saline sebaiknya selalu steril sebelum digunakan
untuk mencegah infeksi nosocomial. Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan
kontak pada setiap pasien dan penggunaan sarung tangan sebelum melakukan prosedur
invasif dapat mencegah transmisi nosocomial. Staf kesehatan dengan gangguan pernapasan
atau mereka yang membawa organisme tertentu, seperti MRSA, sebaiknya menggunakan
masker atau dipindahtugaskan sementara di bagian yang tidak berhubungan langsung dengan
pasien.1

13

BAB 3
PEMBAHASAN
Anamnesis
Anamnesis didapatkan melalui alloanamnesis kepada ibu pasien. Pasien saat ini berusia 2
bulan dengan keluhan utama tampak sesak sejak 1 hari sebelum masuk rumah sakit.
Sebelumnya pasien batuk-batuk berdahak disertai demam, tapi tidak ada bunyi mengi. Batuk
semakin hebat sehingga tampak sesak sejak 1 hari, kemudian pasien menjadi malas minum
ASI. Gejala - gejala yang dikeluhkan oleh ibu pasien sesuai dengan beberapa manifestasi
klinis umum pada infeksi saluran pernapasan akut, yaitu batuk, demam, dan peningkatan
frekuensi bernapas yang dikeluhkan sebagai penampilan sesak oleh ibu. Pada pasien juga
dipikirkan adanya obstruksi saluran napas karena berkurangnya keinginan untuk minum
akibat kesulitan mengisap ASI.
Berdasarkan riwayat penyakit, pasien sebelumnya belum pernah mengalami sakit serupa,
tidak memiliki riwayat asma maupun alergi terhadap obat atau bahan makanan. Keluarga juga
tidak memiliki riwayat penyakit asma atau penyakit infeksius seperti TB. Oleh karena itu,
dipikirkan keluhan pasien saat ini adalah manifestasi infeksi yang didapat dari komunitas.
Riwayat persalinan pasien yang dibantu oleh bidan di rumah sakit, dengan berat lahir cukup
(2800 gram) dan tidak adanya riwayat perawatan di rumah sakit pascakelahiran dapat
mengeksklusi pneumonia di masa neonatal atau adanya faktor predisposisi pada fungsi
fisiologis pernapasan pasien yang umumnya ditemui pada bayi prematur atau berat lahir
rendah.
Pasien sudah menerima imunisasi yang sesuai usianya, yaitu H0 setelah kelahiran. Ibu pasien
mengaku belum sempat membawa pasien ke posyandu untuk mendapatkan imunisasi BCG
karena belum genap 2 bulan sebelum sakit. Selama ini pasien mendapatkan ASI eksklusif
dengan peningkatan berat badan hingga saat sakit.
Pemeriksaan Fisis
Pada pemeriksaan, didapatkan pasien tampak sesak, rewel, dengan kontak cukup, kesan gizi
cukup. Pernapasan yang lebih dari 60 kali per menit, dibantu oleh otot napas tambahan, napas
cuping hidung, retraksi, disertai dengan demam dan berkurangnya saturasi oksigen menjadi
tanda adanya kesulitan bernapas pada pasien.
Dada pasien tampak simetris, sonor pada perkusi, tetapi ditemukan rhonki basah kasar pada
kedua lapang paru yang menandai adanya sekret di saluran napas bawah. Pemeriksaanpemeriksaan yang sudah dilakukan mendukung diagnosis ke arah pneumonia.
Pemeriksaan Penunjang
Jumlah leukosit pasien yang mencapai 13.400 /uL, dengan morfologi lebih banyak PMN
dibandingkan MN, berarti penyebab infeksi kemungkinan besar adalah bakterial dan bersifat
akut. Angka Hb sebesar 9.9 g/dL berarti pasien mengalami anemia, dengan morfologi eritrosit
anisositosis, normositik normokrom, dan ditemukan normoblas. Hasil pemeriksaan tersebut

14

dapat diinterpretasi bahwa pasien mengalami anemia akibat defisiensi besi fase awal dimana
cadangan besi masih cukup untuk mempertahankan bentuk eritrosit yang normal.
Tatalaksana
Oksigen per NK 0,5 l/menit --> oksigen diberikan kepada anak dengan saturasi di bawah
90% dengan target di atas 90%, oksigenasi bertujuan untuk memperbaiki perfusi jaringan
dengan pemberian dimulai dari 0,5 l/menit. Saturasi oksigen pasien membaik hingga ke kadar
92-94% dengan pemberian 0,5 l/menit.
PCT suppository per rectal 1 x 80 mg --> pemberian paracetamol digunakan untuk
menurunkan demam pada pasien yang mencapai 38,6 oC, pemberian per rectal adalah usaha
cepat sebelum terpasang akses intravena, pertimbangan lainnya adalah saat datang pasien
dalam keadaan sesak sehingga pemberian per oral diminimalkan. Setelah pemasangan kanul
intravena, selanjutnya antipiretik diberikan secara intravena dengan dosis 4 x 60 mg
Nebulisasi berotec/bisolvon setiap 6 jam --> pengasapan dengan berotec (bronkodilator) dan
bisolvon (mukolitik) digunakan untuk melancarkan jalan napas dan mempermudah usaha
pernapasan pasien.
IVFD D51/4NS 16 tpm mikro --> cairan ini digunakan sebagai cairan maintenance di
samping pemberian ASI ibu serta digunakan untuk mempertahankan patensi akses intravena.
Ceftriaxone 2 x 160 mg --> pemilihan ceftriaxone sebagai terapi empiris adalah karena
spektrumnya yang luas dan karena tidak adanya fasilitas untuk mengetahui secara definitif
patogen etiologis pada pasien.
Dexamethasone 3 x 0.5 mg dan Methylprednisolone 4 x 4 mg --> kortikosteroid digunakan
untuk mengontrol proses inflamasi pada pasien sehingga menghambat kerusakan saluran
napas lebih lanjut akibat proses infeksi.
Amikacin 2 x 30 mg --> antibiotik jenis aminoglikosida ditambahkan untuk menambah
cakupan terapi empiris pada pasien yang mengalami pneumonia berat.

15

DAFTAR PUSTAKA

1. Kliegman RM, Marcdante KJ, Jenson HB, Behrman RE. [Editors] Nelson essentials
of pediatrics. 5th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2007.
2. Kliegman RM, Jenson HB, Behrman RE, Stanton BF. [Editors] Nelson textbook of
pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Elsevier Saunders; 2007.
3. Roespandi H, Nurhamzh W. [Editors] Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah
sakit. 1st ed. Jakarta: Tim Penerbit WHO; 2009.

16