Anda di halaman 1dari 46

Buku Saku

MUHARRIK MASJID
Pedoman bagi Penggerak Masjid

Tim Penyusun:
LTM NU dan PP Lakpesdam NU
2013

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Buku Saku

MUHARRIK MASJID
Pedoman bagi Penggerak Masjid

Tim Penyusun:
LTM NU dan PP Lakpesdam NU
2013

Pedoman bagi Penggerak Masjid

DAFTAR ISI

BAB I Faham Aswaja dan Gerakan NU


A. Apa itu Aswaja | 4
B. Aswaja ala NU | 6
C. NU: Kebangkitan Ulama Menentang Wahabi | 7
D. Karakter Gerakan Aswaja | 9
E. Aswaja dalam Tataran Praktis | 12
BAB II Revitalisasi Masjid dan Posisi Muharrik
A. Revitalisasi Masjid ala LTM NU | 15
B. Siapa itu Muharrik Masjid | 19
C. Posisi Muharrik di Hadapan Allah SWT | 20
D. Peran dan Tugas Utama | 21
BAB III Organisasi dan Administrasi Keuangan
A. Karakteristik Masjid NU | 23
B. Struktur Organisasi Masjid NU | 24
C. Sumber Keuangan Masjid | 30
D. Dana Keluar untuk Apa Saja? | 32
E. Laporan Keuangan Masjid | 33
BAB IV Aksi Memakmurkan Masjid
A. Masjid sebagai Tempat Ibadah | 36
B. Masjid sebagai Tempat Pendidikan | 37
C. Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi |
38
D. Masjid sebagai Tempat Pelayanan Sosial | 39

Pedoman bagi Penggerak Masjid

BAB V Memperkuat Kelembagaan dan Jaringan


A. Sertifikasi dan Nazhir NU | 40
B. Membuat Database Jamaah | 41
C. Jaringan Kerjasama antar Masjid | 43
DAFTAR PUSTAKA | 45

Pedoman bagi Penggerak Masjid

BAB I
Faham Aswaja dan Nahdlatul Ulama

A. Apa itu Aswaja?


Kata Aswaja adalah kepanjangan dari Ahlus Sunnah Wal
Jamaah. Ahlus Sunnah artinya orang-orang yang menganut
atau mengikuti sunnah Rasulullah Muhammad saw.
Sedangkan, Wal Jamaah berarti mayoritas umat atau
mayoritas sahabat Rasulullah Muhammad saw. Jadi, definisi
Ahlus Sunnah Wal Jamaah yaitu orang-orang yang mengikuti
sunnah Nabi Muhammad SAW dan mayoritas sahabat (ma
ana alaihi wa ashhabi), baik di dalam syariat (hukum Islam)
maupun akidah dan tasawuf.
Istilah Aswaja ini muncul ketika Rasulullah menjelaskan di
hadapan para Sahabat tentang adanya berbagai model
firqah (kelompok) dalam Islam. Nabi Muhammad
menjelaskan, umat Islam akan terpecah menjadi 73
golongan. Semua tidak ada yang selamat dari api neraka,
kecuali satu kelompok, yaitu Ahlus Sunnah Wal Jamaah
(Aswaja). Sabda Rasulullah ini setidaknya dilansir dalam 6
riwayat hadits. Semuanya dapat dijadikan dalil yang kuat,
karena tidak ada yang tergolong hadis dloif (lemah). Dari
keenam hadits tersebut, ada yang hadits shohih, ada pula
hadits hasan.

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Dari beberapa riwayat itu, ada yang secara tegas


menyebutkan istilah Ahlus Sunnah Wal Jamaah atau
Jamaah. Ada pula yang menyebutkan: maa ana alaihi wa
ashhabi. Sebutan yang terakhir inilah yang paling banyak
riwayatnya. Di antara kutipan Sabda Rasulullah tersebut
adalah:
:

,
,
) . :
.( .
Artinya: Dari Abillah Bin Amr berkata, Rasulullah SAW
bersabda: Akan datang kepada umatku sebagaimana yang
terjadi kepada Bani Israil. Mereka meniru perilakuan
seseorang dengan sepadannya, walaupun diantara mereka
ada yang menggauli ibunya terang-terangan niscaya akan
ada diantara umatku yang melakukan seperti mereka.
Sesungguhnya bani Israil berkelompok menjadi 72 golongan.
Dan umatku akan berkelompok menjadi 73 golongan, semua
di neraka kecuali satu. Sahabat bertanya; siapa mereka itu
Rasulullah? Rasulullah menjawab: Apa yang ada padaku
dan sahabat-sahabatku (HR. At-Tirmidzi, Al-Ajiri, Al-lalkai.
Hadits hasan)
: :
,

Pedoman bagi Penggerak Masjid

) ,
.( .
Artinya: Dari Anas bin Malik berkata, rasulullah SAW
bersabda; Sesungguhnya bani Israil akan berkelompok
menjadi 71 golongan dan sesungguhnya umatku akan
berkelompok menjadi 72 golongan, semua di neraka kecuali
satu yaitu al-jamaah. (HR. Ibn Majah, Ahmad, al-Lakai dan
lainnya. Hadits dengan sanad baik).
B. Aswaja ala NU
KH. Hasyim Asyari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama
memberikan gambaran tentang Aswaja sebagaimana
ditegaskan dalam Qanun Asasi. Aswaja versi NU yaitu
golongan orang-orang yang mengikuti mazhab berikut ini:
1. Bidang fikih atau hukum Islam, mengikuti salah satu
dari empat mazhab: Hanafi, Maliki, Syafii, dan
Hambali.
2. Bidang teologi, mengikuti pendapat Abu Hasan alasyari atau Abu Manshur al-Maturidi.
3. Bidang tasawuf, mengikuti pendapat Imam alGhazali atau Imam Junaid al-Baghdadi.
Penjelasan KH. Hasyim Asyari tentang Aswaja versi NU ini
dapat dipahami dalam dua kerangka makna. Pertama,
penjelasan Aswaja ala KH Hasyim Asyari ini tidak dilihat dari
pandangan definitif (tarif), tapi lebih menekankan pada
penjelasan makna Aswaja dengan cara yang lebih mudah

Pedoman bagi Penggerak Masjid

dapat dipahami dan diamalkan oleh masyarakat pada


umumnya. Ini dilakukan, karena memang secara definitif
redaksional, para ulama berbeda pendapat dalam memaknai
Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Tetapi, muaranya adalah sama
yaitu: ma ana alaihi wa ashabii.
Kedua, pemaknaan Aswaja ini merupakan bagian dari
perlawanan terhadap gerakan Wahabiyah yang digelorakan
oleh kerajaan Arab Saudi. Gerakan Wahabi ini
mengumandangkan konsep kembali kepada al-Quran dan
hadis. Dengan begitu, konsekwensinya adalah beragama
dengan tanpa mazhab dan anti taqlid. Aswaja ala NU yang
menganjurkan umat Islam untuk bermazhab itu menjadi
antitesa dari Wahabi. Penjelasan aswaja versi NU dapat
dipahami, bahwa untuk memahami al-Quran dan hadis
perlu penafsiran para Ulama yang memang ahlinya. Karena
itu, penting bagi umat Islam untuk bermazhab atau bertaqlid
pada pendapat ulama.
C. NU: Kebangkitan Ulama Menentang Wahabi
Sejak dari lahir, NU bersikap tegas menolak Wahabi. Saat itu,
Raja Ibnu Saud hendak menerapkan asas tunggal, yakni
Wahabi di Mekah. Bahkan, berdasarkan ajaran Wahabi, raja
mengeluarkan kebijakan hendak menghancurkan semua
peninggalan sejarah Islam maupun pra-Islam, yang selama
ini banyak diziarahi, karena dianggap bidah. Bahkan, makam
Rasulullah Muhammad juga termasuk kawasan yang harus
dihancurkan.

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Gagasan kaum Wahabi tersebut mendapat sambutan hangat


dari kaum modernis di Indonesia, baik kalangan
Muhammadiyah di bawah pimpinan Ahmad Dahlan, maupun
PSII di bahwah pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto. Sebaliknya,
kalangan pesantren yang selama ini membela keberagaman,
menolak pembatasan bermadzhab (Wahabi) dan
penghancuran warisan peradaban Islam di tanah suci, hanya
gara-gara dianggap bidah.
Akibat sikap yang berbeda ini, kalangan pesantren
dikeluarkan dari anggota Kongres al-Islam di Yogyakarta
1925. Karena itu, kalangan pesantren juga secara otomatis
tidak dilibatkan sebagai delegasi dalam Mutamar Alam
Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekah yang akan
mengesahkan rencana keputusan Raja Ibnu Saud tersebut.
Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan
kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian
warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa
membuat delegasi sendiri yang dinamai dengan Komite
Hijaz. Komite ini dipimpin oleh KH. Wahab Hasbullah (Ketua).
Atas desakan kalangan pesantren yang terhimpun dalam
Komite Hijaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam
di dunia, Raja Ibnu Saud akhirnya mengurungkan niatnya.
Hasilnya, hingga saat ini di Mekah bebas dilaksanakan
ibadah sesuai dengan madzhab mereka masing-masing.
Itulah peran pertama kalangan pesantren di kancah

Pedoman bagi Penggerak Masjid

internasional. Kalangan pesantren berhasil memperjuangkan


kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan
peninggalan sejarah serta warisan peradaban Islam yang
sangat berharga.
Berangkat dari komite dan berbagai organisasi yang bersifat
embrional dan ad hoc (sementara), maka setelah itu dirasa
perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan
lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan
zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kiai,
akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi
yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada
16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin
oleh KH. Hasyim Asy'ari sebagai Rais Akbar.
D. Karakter Gerakan Aswaja
Ada tiga ciri utama ajaran Ahlussunnah wal Jamaah atau kita
sebut dengan Aswaja yang selalu diajarkan oleh Rasulullah
SAW dan para sahabatnya:
Pertama, at-tawassuth atau sikap tengah-tengah, sedangsedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan. Ini
disarikan dari firman Allah SWT:


Dan demikianlah kami jadikan kamu sekalian (umat Islam)
umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi

Pedoman bagi Penggerak Masjid

(ukuran penilaian) atas (sikap dan perbuatan) manusia


umumnya dan supaya Allah SWT menjadi saksi (ukuran
penilaian) atas (sikap dan perbuatan) kamu sekalian. (QS alBaqarah: 143).
Kedua, at-tawazun atau seimbang dalam segala hal,
terrnasuk dalam penggunaan dalil 'aqli (dalil yang bersumber
dari akal pikiran rasional) dan dalil naqli (bersumber dari AlQuran dan Hadits). Firman Allah SWT:

Sunguh kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan
membawa bukti kebenaran yang nyata dan telah kami
turunkan bersama mereka al-kitab dan neraca (penimbang
keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.
(QS al-Hadid: 25)
Ketiga, al-i'tidal atau tegak lurus. Dalam Al-Qur'an Allah SWT
berfirman:



Wahai orang-orang yang beriman hendaklah kamu sekalian
menjadi orang-orang yang tegak membela (kebenaran)
karena Allah menjadi saksi (pengukur kebenaran) yang adil.
Dan janganlah kebencian kamu pada suatu kaum
menjadikan kamu berlaku tidak adil. Berbuat adillah karena

10

Pedoman bagi Penggerak Masjid

keadilan itu lebih mendekatkan pada taqwa. Dan


bertaqwalah kepada Allah, karena sesungguhnya Allah Maha
Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS al-Maidah: 8)
Selain ketiga prinsip ini, golongan Aswaja juga mengamalkan
sikap tasamuh atau toleransi. Yakni menghargai perbedaan
serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang
tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau
membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam
meneguhkan apa yang diyakini. Firman Allah SWT:

Maka berbicaralah kamu berdua (Nabi Musa AS dan Nabi
Harun AS) kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah
lembut dan mudah-mudahan ia ingat dan takut. (QS. Thaha:
44)
Ayat ini berbicara tentang perintah Allah SWT kepada Nabi
Musa AS dan Nabi Harun AS agar berkata dan bersikap baik
kepada Fir'aun. Al-Hafizh Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373
M) ketika menjabarkan ayat ini mengatakan, "Sesungguhnya
dakwah Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS kepada Fir'aun
adalah menggunakan perkataan yang penuh belas kasih,
lembut, mudah dan ramah. Hal itu dilakukan supaya lebih
menyentuh hati, lebih dapat diterima dan lebih berfaedah".
(Tafsir al-Qur'anil 'Azhim, juz III hal 206).

11

Pedoman bagi Penggerak Masjid

E. Aswaja dalam Tataran Praktis


Dalam tataran praktis, sebagaimana dijelaskan KH Ahmad
Shiddiq bahwa prinsip-prinsip ini dapat terwujudkan dalam
beberapa hal sebagai berikut: (Lihat Khitthah Nahdliyah, hal
40-44).
1. Akidah.
a. Keseimbangan dalam penggunaan dalil 'aqli dan dalil
naqli.
b. Memurnikan akidah dari pengaruh luar Islam.
c. Tidak gampang menilai salah atau menjatuhkan
vonis syirik, bid'ah apalagi kafir.
2. Syari'ah
a. Berpegang teguh pada Al-Qur'an dan Hadits dengan
menggunanakan
metode
yang
dapat
dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
b. Akal baru dapat digunakan pada masalah yang yang
tidak ada nash yang je1as (sharih/qotht'i).
c. Dapat menerima perbedaan pendapat dalam menilai
masalah yang memiliki dalil yang multi-interpretatif
(zhanni).
3. Tashawwuf/ Akhlak
a. Tidak mencegah, bahkan menganjurkan usaha
memperdalam penghayatan ajaran Islam, selama

12

Pedoman bagi Penggerak Masjid

menggunakan cara-cara yang tidak bertentangan


dengan prinsip-prinsip hukum Islam.
b. Mencegah sikap berlebihan (ghuluw) dalam menilai
sesuatu.
c. Berpedoman kepada Akhlak yang luhur. Misalnya
sikap syajaah atau berani (antara penakut dan
ngawur atau sembrono), sikap tawadhu' (antara
sombong dan rendah diri) dan sikap dermawan
(antara kikir dan boros).
4. Pergaulan antar golongan
a. Mengakui watak manusia yang senang berkumpul
dan berkelompok berdasarkan unsur pengikatnya
masing-masing.
b. Mengembangkan toleransi kepada kelompok yang
berbeda.
c. Pergaulan antar golongan harus atas dasar saling
menghormati dan menghargai.
d. Bersikap tegas kepada pihak yang nyata-nyata
memusuhi agama Islam.
5. Kehidupan bernegara
a. NKRI (Negara Kesatuan Republik Indanesia) harus
tetap
dipertahankan
karena
merupakan
kesepakatan seluruh komponen bangsa.
b. Selalu taat dan patuh kepada pemerintah dengan
semua aturan yang dibuat, selama tidak
bertentangan dengan ajaran agama.

13

Pedoman bagi Penggerak Masjid

c. Tidak melakukan pemberontakan atau kudeta


kepada pemerintah yang sah.
d. Kalau terjadi penyimpangan dalam pemerintahan,
maka mengingatkannya dengan cara yang baik.
6. Kebudayaan
a. Kebudayaan harus ditempatkan pada kedudukan
yang wajar. Dinilai dan diukur dengan norma dan
hukum agama.
b. Kebudayaan yang baik dan ridak bertentangan
dengan agama dapat diterima, dari manapun
datangnya. Sedangkan yang tidak baik harus
ditinggal.
c. Dapat menerima budaya baru yang baik dan
melestarikan budaya lama yang masih relevan (almuhafazhatu 'alal qadimis shalih wal akhdu bil
jadidil ashlah).
7. Dakwah
a. Berdakwah bukan untuk menghukum atau
memberikan vonis bersalah, tetapi mengajak
masyarakat menuju jalan yang diridhai Allah SWT.
b. Berdakwah dilakukan dengan tujuan dan sasaran
yang jelas.
c. Dakwah dilakukan dengan petunjuk yang baik dan
keterangan yang jelas, disesuaikan dengan kondisi
dan keadaan sasaran dakwah.

14

Pedoman bagi Penggerak Masjid

BAB II
REVITALISASI MASJID DAN POSISI MUHARRIK

A. Revitalisasi Masjid ala LTM NU


Keberadaan masjid begitu penting di mata umat Islam
sehingga jumlah masjid begitu banyak. Di negeri yang dihuni
mayoritas umat Islam ini, jumlah masjid dan musola
mencapai 1.070.000 (Kementerian Agama RI, 2009). Bahkan,
berdasarkan data Lazuardi Biru tahun 2010, kurang lebih 80
persennya adalah menggunakan amaliyah ala NU dalam hal
beribadah. Misalnya, qunut saat sholat subuh, wirid setelah
imam salam, adzan Jumat dilakukan dua kali, dan
sebagainya.
Masjid dan mushola dalam kehidupan sehari-hari, tak
ubahnya dimaknai hanya sebagai bangunan tempat shalat,
tak lebih dari itu. Sayang sekali, padahal peran dan fungsi
masjid sangat strategis, baik secara vertikal (habl min Allah)
maupun horizontal (habl min al-nas). Ini ditunjukkan
Rasulullah SAW saat berhijarah ke Madinah. Langkah
pertama yang dia tempuh adalah membangun Masjid
Nabawi, yang berlantaikan tanah dengan atap pelepah
kurma. Mulai dari situ, Nabi Muhammad mengajarkan
kepada para sahabat tentang aqidah Islam.
Ternyata tidak berhenti di situ, Rasulullah Muhammad juga
menjadikan masjid sebagai sentrum kegiatan, mulai dari
dakwah,
pendidikan,
pemberdayaan
masyarakat,
pengembangan ekonomi, serta pelayanan sosial. Tak heran

15

Pedoman bagi Penggerak Masjid

bila di kemudian hari, Masjid Nabawi mengangkat kota


Madinah sebagai pusat peradaban. Begitu besar pengaruh
masjid dalam kehidupan masyarakat. Inilah yang alpa dari
keberadaan masjid dewasa ini. Fungsi dan peran masjid yang
begitu besar, hanya dikerdilkan sebagai tempat shalat. Ini
bisa terjadi karena adanya beberapa masalah yang
melingkupinya.
Pertama, pengelola masjid yang tidak kompeten.
Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang sibuk
dengan pekerjaannya masing-masing. Ada yang bertani,
berdagang, PNS, guru dan sebagainya. Mereka tidak fokus
dalam mengurus dan mengelola masjid. Bahkan, mereka
tidak mempunyai kemampuan dalam manajerial dan
keuangan. Akibatnya, masjid dibiarkan begitu saja, hanya
digunakan tempat shalat belaka. Padahal, banyak potensi
yang perlu digali dan dikembangkan lebih lanjut.
Kedua, penelantaran masjid. Karena tidak dikelola dengan
optimal, masjid menjadi terlantar. Tidak ada riuh aktifitas,
selain sholat. Keprihatinan ini mengundang orang luar
yang punya kepedulian. Mereka membantu takmir masjid
dalam mengelola masjid dan memakmurkannya dengan
berbagai aktifitas dan even. Namun, ternyata belakangan ini
mereka diketahui memiliki agenda lain selain memakmurkan
masjid, yaitu memasukkan faham dan ideologi mereka
kepada para jamaah. Bahkan, mereka perlahan tapi pasti,
merubah amaliyah ubudiyah yang selama ini sudah
dipraktikkan di masjid tersebut. Kebanyakan korbannya
adalah masjid-masjid yang amaliyahnya ala NU, mereka
ubah dengan alasan klise, bidah.

16

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Ketiga, konflik antar pengelola. Konflik ini bisa terjadi antara


pengurus yayasan dengan takmir masjid. Ada juga antara
nazhir (masjid wakaf) dengan Dewan Kemakmuran Masjid
(DKM). Bisa juga konflik disulut oleh perbedaan pendapat
atau pendapatan antar pengurus masjid. Bahkan, dalam
beberapa kasus, konflik terjadi antara pengurus masjid
dengan jamaah. Ini semua berimbas pada eksistensi masjid,
yang seharusnya berfungsi dan berperan secara optimal,
menjadi tidak lagi bernilai strategis.
Sayang sekali jika permasalahan yang mengitari masjid ini
terus berlarut-larut. Harusnya segera dapat diatasi. Sebab,
belakangan ini masjid-masjid ini dijadikan tempat rebutan
oleh aliran-aliran baru bercokol di Indonesia, terutama yang
berhaluan Wahabi Salafi. Aliran ini menyadari bahwa masjid
merupakan tempat yang paling strategis bagi perjuangan
mereka. Aliran tersebut kerap mem-bidah kan, dan
mengkafirkan tradisi amaliyah keagamaan warga NU.
Kenyataan inilah yang menyulut keprihatinan Lembaga
Takmir Masjid (LTM) Nahdlatul Ulama (NU). Bagaimanapun,
NU punya andil besar dan tanggung jawab dalam
menyelesaikan masalah ini. Masjid dan musola yang
tersebar dari kota sampai ke pelosok desa ini tak lepas dari
keberadaan dan peran serta warga Nahdliyin, baik sebagai
pendiri, pengelola, ataupun jamaah biasa. Meski begitu,
kebanyakan masjid-masjid tersebut tidak menunjukkan
identitas secara tegas, misalnya dengan mamasang plang
atau papan nama yang menandakan, ini adalah masjid NU.
Maka, tidak heran, bila ada beberapa masjid yang dulunya
menggunakan amaliyah NU, belakangan berubah haluan.

17

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Untuk itu, dalam rangka mengoptimalkan fungsi dan


mempertigas identitas NU di masjid, LTM NU terpanggil dan
berkewajiban untuk melakukan beberapa langkah. Pertama,
membangkitkan kembali semangat militansi ke-NU-an di
setiap level: PWNU, PCNU, MWC dan Pengurus Ranting NU
di seluruh Indonesia. Kedua, masjid dan Musholla sebagai
tempat ibadah, dipandang strategis untuk dimakmurkan.
LTM-NU berkewajiban membangun kepemimpinan dan
perkhidmatan di wilayahnya masing-masing, karena
kepengurusan NU sudah berada di jabhatil marikah (medan
pertempuran dalam konteks perebutan masjid). Karena itu,
kepemimpinan NU khususnya Pengurus LTM-NU harus
menjadi qoidul ummah wa khodimuhu (pemimpin dan
pelayan umat).
Ketiga, Sebagai pemimpin umat di jajaran kepengurusan NU,
maka kepada Pengurus LTM NU sudah saatnya bermental
sebagai muharrik (sang penggerak) yang mampu
menggerakkan jamaahnya dan membangun generasi
penerus NU di masjid-masjid dan musholla-musholla sebagai
basis gerakannya. Muharrik ini harus mampu menjalankan 7
agenda revitalisasi masjid yang telah didesain oleh LTM NU,
yaitu:
1. Masjid sebagai pusat gerakan pemeliharaan aqidah
2. Masjid sebagai pusat pelayanan dan kesehatan umat
3. Masjid sebagai pusat keilmuan, pemikiran, dan
pendidikan
4. Masjid sebagai pusat Pemberdayaan ekonomi
5. Masjid sebagai pusat dakwah islam rahmatan lil alamin

18

Pedoman bagi Penggerak Masjid

6. Masjid sebagai pusat gerakan kepedulian sosial


7. Masjid sebagai tempat berdoa dan mendoakan orang
wafat.
B. Siapa itu Muharrik Masjid?
Untuk dapat menjalankan tujuh agenda revitalisasi masjid
itu, maka dibutuhkan sosok yang disebut sebagai muharrik
masjid. Siapa itu? Muharrik itu berasal dari ha ra ka yang
artinya gerak atau bergerak. Jadi, muharik ialah penggerak,
atau orang yang menggerakkan. Kalau begitu, muharrik
masjid adalah penggerak masjid, yaitu orang yang kerjanya
mengatur dan menggerakkan para takmir masjid dengan
memanfaatkan segala sumber daya dan dana yang dimiliki
oleh masjid.
Apa bedanya dengan Takmir Masjid? Muharrik bukan
pengurus masjid, melainkan seorang yang ditunjuk atau
diangkat oleh LTM-PBNU untuk menjalankan tugasnya
dengan cara mendampingi para Takmir Masjid dalam rangka
implementasi memakmurkan masjid, yang dituangkan dalam
tujuh agenda revitalisasi masjid.
Kata kuncinya adalah seorang muharrik membantu pengurus
takmir masjid untuk memahami, menghadapi kesulitan dan
tantangan yang dihadapinya. Jadi, seorang muharrik tidak
hanya memberi rekomendasi dan melakukan presentasi,
akan tetapi dituntut selalu tampil dalam proses
implementasi. Ia berperan sebagai pendamping takmir

19

Pedoman bagi Penggerak Masjid

masjid dalam mengimplementasikan


revitalisasi masjid.

tujuh

agenda

C. Posisi Muharrik di Hadapan Allah SWT


Posisi Muharrik di hadapan Allah SWT adalah sebagai hamba
(abdun) dan sekaligus khalifah. Sebagai hamba (abdun),
seorang muharrik harus senantiasa menaati perintah Allah
SWT. Sedangkan posisi sebagai Khalifah, yaitu posisi yang
bisa merancang masa depan masjid dengan manajemen
yang baik, memakmurkan bumi-Nya, dan memakmurkan
rumah-Nya
Sebagai khalifah, seorang muharrik bertanggung jawab atas
mati atau makmurnya rumah Allah. Sebab beban itu ada
dipundak seorang khalifah. Usaha muharrik ini seiring
dengan apa yang telah Allah SWT firmankan: Sesungguhnya
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum, kecuali kaum
itu sendiri yang berusaha merubahnya.(QS. Ar-Ra'du: 11).

20

Pedoman bagi Penggerak Masjid

D. Peran dan Tugas Utama


Peran muharrik masjid adalah membantu pengurus masjid
untuk memakmurkan kegiatan-kegiatan masjid berdasarkan
potensi yang dimiliki dan tantangan yang dihadapinya.
Sedangkan tugas muharrik masjid adalah:
1. Melakukan pemetaan problem dan potensi yang dimiliki
masjid.
2. Mendampingi pengurus masjid dalam menyusun
program-program pengembangan masjid.
3. Mendampingi
pengurus
masjid
dalam
mengimplementasian program-program pengembangan
masjid.
4. Membantu pengurus masjid dalam mengevaluasi
kegiatan masjid secara komprehensif.
Dalam rangka menjalankan peran dan tugas tersebut,
ruang lingkup kerja seorang muharriik masjid adalah
sebagai berikut:
1. Melakukan analisis SWOT.
2. Menyusun langkah strategis setelah menemukan
kekurangan dan kelebihan yang dimiliki oleh masjid tsb.
3. Menyusun target dan capaian masjid ke depan
4. Membantu
mengimplementasikan
kegiatan
pengembangan masjid.
5. Memantau/mengawasi, apakah inplementasi yang telah
diterapkan sesuai dengan tujuan dan capain yang
diharapkan.
6. Evaluasi, jika hasilnya tidak sesuai dengan apa yang
ditargtkan sebelumnya, maka ada evaluasi. Kenapa bisa
seperti itu? Dan di mana letak kesalahannya?

21

Pedoman bagi Penggerak Masjid

7. Menarik kesimpulan, jika semuanya sudah selesai, maka


aka ada kesimpulan yang didapatkan untuk perbaikan ke
depan.

22

Pedoman bagi Penggerak Masjid

BAB III
Organisasi dan Administrasi Keuangan
A. Karakteristik Masjid NU
Masjid NU atau masjid nahdliyin adalah rumah Allah yang
didirikan oleh seorang atau sekelompok orang yang
menganut keyakinan dan tradisi kesislaman ala nahdliyin.
Karena itu, bentuk syiar peribadatan dalam masjid tersebut
juga mencerminkan amaliyah yang dianut oleh nahdliyin.
Itulah yang menjadi karakteristik masjid NU. Seperti apa saja
bentuk-bentuk syiarnya?
1. Secara simbolik, syiar masjid nahdliyin, antara lain
berupa bedug atau logo NU (gambar jagad) di dinding
atau dalam lembaran jadwal waktu shalat.
2. Sesudah kumandang azan, ada puji-pujian kepada Allah
SWT, sholawat untuk Rasulullah Muhammad SAW, atau
nasihat-nasihat kebajikan.
3. Sesudah imam salam, imam memimpin makmum
membaca wirid dan doa, dihangatkan dengan salamsalaman dan bacaan sholawat.
4. Secara berkala diadakan doa bersama, seperti
manaqiban,
istighotsah,
ratiban,
salawatan/barzanji/dibai, dan tahlilan.
5. Membaca ushalli ketika takbiratul ihram.
6. Membaca basmalah sebelum membaca surat al-Fatihah
dan surat lain.

23

Pedoman bagi Penggerak Masjid

7. Membaca qunut dalam shalat subuh.


8. Adzan 2 kali sebelum khutbah Jumat, dan khatib
memegang tongkat ketika berkhutbah.
9. Tarawih dilaksanakan 20 rakaat,
10. Mengadakan beberapa peringatan hari besar Islam:
seperti mauludan, isra miraj, nuzulul Quran, dsb.
B. Struktur Organisasi Masjid NU
Strukutr organisasi masjid adalah susunan unit-unit kerja
yang menunjukkan hubungan antar unit, adanya pembagian
kerja
sekaligus
keterpaduan
fungsi-fungsi
atau
kegiatankegiatan yang berbeda.-beda. Struktur organisasi
dari masing-masing masjid dapat disederhanakan atau bisa
juga dibuat lengkap sesuai kebutuhan. Tapi dalam sebuah
organisasi masjid yang penting atau minimal memiliki 3 (tiga)
unsur sebagai berikut:
1. Pengurus/Tamir Masjid (Ketua, Sekretaris, Bendahara)
2. Imam Masjid
3. Tenaga Operasional (Peribadatan, Pengajian, dan Sarana
- Prasarana)
Untuk memperjelas strukur organisasi masjid pada
umumnya dapat digambarkan dalam suatu sketsa yang
disebut dengan bagan organisasi. Bagan organisasi adalah
suatu gambar struktur organisasi yang di dalamnya memuat
garis-garis yang menghubungkan kotak-kotak yang disusun
menurut kedudukan atau fungsi tertentu sebagai garis
penegasan wewenang atau hierarki.

24

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Struktur Organisasi Masjid Model-1


Pelindung/Nadzir NU

Dewan Syuriyah

Ketua

Dewan Pembina

Bendahara

Seksi
Ibadah & Muamalah

Sekretaris

Seksi
Pengajian/Pendidikan

25

Seksi
Sarana & Prasarana

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Struktur Organisasi Masjid Model-2


Pelindung/Nadzir NU

Dewan Pembina

Dewan Syuriyah

Ketua Umum

Bendahara
Wakil Bendahara

Sekretaris
Wakil Sekretaris

Ketua Bidang
Peribadatan & Dakwah

Seksi
Pembinaan
Jamaah

Seksi
Pendidikan &
Pelatihan

Ketua Bidang
Dana & Pengembangan

26

Seksi
Kesejahteraan
Umat

Seksi
Sarana &
Prasarana

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Struktur Organisasi Masjid Model-3


Pelindung/Nadzir NU

Dewan Pembina

Dewan Syuriyah

Ketua Umum

Bendahara
Wakil Bendahara

Sekretaris
Wakil Sekretaris
Klinik

Perpustakaan

Kabid.
Pdt & PJ

Seksi
Ubd

Kabid.
Diklat

Seksi
MTM

Seksi
Kdr

Kabid.
Kesra Umat

Seksi
BM

Seksi
PdU

27

Seksi
SoS

Kabid.
Dana & Peng

Seksi
UZIS

Seksi
SP

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Keterangan:
: Garis Intruksi/Komando
: Garis Koordinasi
Kabid
Pdt
PJ
Diklat
Kesra
Ush
Ubud
MT
Kdr
PdU
UZIS
Sos
BM
SP

: Ketua Bidang
: Peribadatan
: Pembinaan Jamaah
: Pendidikan & Pelatihan
: Kesejahteraan Umat
: Usaha
: Ubudiyah
: Majelis Taklim Muslimat
: Kaderisasi
: Pemberdayaan Umat
: Usaha dan Layanan Zakat, Infaq &Sodaqah
: Sosial dan Santunan
: Bina Muallaf
: Sarana dan Prasarana

28

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Adapun bentuk komposisi susunan Pengurus Tamir


Masjidnya adalah sebagai berikut:
PELINDUNG/NADZIR
PENASEHAT
(Dewan Syuriyah Masjid)
(Sedikitnya di isi 3 orang yang terdiri dari Ketua,
Sekretaris, dan anggota)

PENGURUS HARIAN:
Ketua Umum
Ketua Bid. Peribadatan dan Pembinaan Jamaah
Ketua Bid. Pendidikan & Pelatihan
Ketua Bid. Kesejahteraan Umat & Humas
Ketua Bid. Dana & Pengembangan

Sekretaris
Wakil Sekretaris I
Wakil Sekretaris II

Bendahara
Wakil Bendahara I
Wakil Bendhara II

29

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Seksi-Seksi:
1. Ubudiyah
2. Majelis Taklim Muslimat
3. Kaderisasi
4. Bina Muallaf
5. Pemberdayaan Umat
6. Sosial & Santunan
7. Usaha & Layanan ZIS
8. Sarana & Prasarana

C. Sumber Keuangan Masjid


Masjid memerlukan biaya yang tidak sedikit jumlahnya
setiap bulan. Biaya itu dikeluarkan untuk mendanai kegiatan
rutin, mengurus masjid, dan merawatnya. Kegiatan masjid
tentu terlaksana dengan baik jika tersedia dana dalam
jumlah yang mencukupi. Tanpa ketersedian dana, semua
gagasan memakmurkan masjid tidak dapat dilaksanakan.
Merupakan tugas dan tanggungjawab pengurus masjidlah
memikirkan, mencari dan mengadakan dana yang sesuai
dengan kemampuannya.
Secara tradisional, aliran dana ke masjid di dapatkan dari
hasil tromol Jumat atau dari sedekah jamaah. Namun,
mengandalkan income hanya dari kedua pos niscaya jauh
dari memadai. Jumlah yang dihasilkan relatif sedikit,
sedangakan anggaran pengeluaran masjid cukup besar.

30

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Berapa contoh masjid telah mengembangkan potensinya


melalui usaha yang produktif, tidak hanya mengantungkan
diri dari pemasukan rutin yang diberikan jamaah. Misalnya,
Masjid Nabawi. Masjid ini telah mengembangkan usaha
produktif dengan cara memproduktifkan lahan-lahan wakaf.
Antara lain digunakan untuk hotel, apartemen, pusat ruko
dan perbelanjaan. Keuntungan dari penyewaan tersebut
diputar untuk operasional rutin masjid dan kegiatan sosial
lainnya.
Ada beberapa sumber dana yang dapat dimanfaatkan oleh
pengurus masjid, antara lain:
1. Zakat, infak, dan shodaqah dari para jamaah
2. Memproduktifkan Harta Benda Wakaf
3. Infak donatur, instansi, atau perusahaan
4. Infak dari jasa parkir dan penitipan barang
5. Usaha atau bisnis halal. Seperti:
a. Mengadakan pasar/bazar
b. Hasil produktif dari sewa aula masjid
c. Infak dari operasional lembaga pendidikan di
masjid (seperti TPA/ TKA, Madrasah Diniyah dll.)
d. Infak dari hasil penjualan Buletin
e. Menjual kelender
f. Lelang bahan bangunan masjid
g. Rumah sakit (klinik)
h. Pembinaan Usaha Kecil (Mudharabah)
i. Konsultasi Keagamaan

31

Pedoman bagi Penggerak Masjid

D. Dana Keluar untuk Apa Saja?


Uang masjid adalah uang amanat. Karena itu, pengurus
hendaknya
berhati-hati
dalam
mengeluarkannya.
Pengeluaran harus didasarkan pada rencana yang sungguhsungguh dan atas dasar kepentingan yang nyata untk
keperluan masjid. Pengeluaran rutin tiap bulan harus
disesuaikan dengan tujuan pelaksanaan program masjid, di
antaranya:
1. Masjid tetap terawat dengan baik dan selalu bersih
2. Roda organisasi dan administrasi masjid berjalan
lancar
3. Peribadatan terlaksana semestinya.
4. Program pendidikan dan sosial berhasil sebagaimana
direncanakan.
Pos pengeluaran hendaknya disusun tiap awal tahun
anggaran, yang disebut Anggaran Pendapatan Dan Belanja
Masjid (APBM). APBM yaitu suatu program yang
menyangkut program pemasukan dan pengeluaran uang.
Anggaran belanja masjid ditentukan oleh adanya program
masjid. Artinya apa saja yang akan dikerjakan masjid dalam
setahun yang akan datang.

32

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Di antara pos-pos pengeluaran kas masjid yang perlu adalah:


1. Pemeliharaan dan pembanguan fisik
2. Pembayaran honoraium atau upah pengajar dan
pemeliharaan kebersihan.
3. Pembelian barang-barang untuk perbaikan, seperti
mengganti pagar rusak, beli cat, beli kapur dan beli
sapu dll.
4. Program pembangunan seperti membuat atau
membesarkan WC, tempat wudlu, memindahkan
ruang kantor, membangun ruang sekolah dan
poliklinik.
5. Pembinaan peribadatan, seperti membayar uang
transpor khatib dan membayar insentif imam tetap
6. Pembinaan
pendidikan,
seperti
membayar
honorarium tenaga pengajar, dan membeli alat
peraga pendidikan.
7. Pembinaan social, seperti bantuan fakir miskin, dan
bantuan meringankan musibah jamaah.
8. Pembinaan organisasi dan administrasi, seperti
membayar honoraium tenaga staf, penyediaan uang
transpor kegiatan, dan pembelian alat administrasi.

E. Laporan Keuangan Masjid


Pengurus masjid harus dapat
mengelola dan
memberdayakan dana terutama dana yang pasif diupayakan
aktif dan produktif. Ada beberapa hal yang harus dilakukan

33

Pedoman bagi Penggerak Masjid

pengurus ketika mengelola dan memberdayakan dana


masjid yaitu:
1. Transparan, membuat buku laporan, mencatat uang
keluar masuk setiap bulannya dan sebaiknya setiap
jumat dilaporkan saat pelaksanaan shalat Jumat.
2. Pembukuannya harus siap diperiksa setiap saat.
3. Dana hanya digunakan untuk hal-hal yang dianggap
penting dan efisien.
4. Tidak melakukan pemborosan dalam menggunakan
uang.
5. Tidak melakukan mark up.
6. Dana masjid dikeluarkan untuk kepentingan masjid
tidak untuk kepentingan pribadi, kecali hal-hal yang
sudah disepakati misalnya untuk membantu
pengobatan imam/ khatib yang sakit.
7. Menggunakan dana masjid untuk hal-hal yang sudah
disepakati oleh musyawarah pengurus, kecuali
untuk hal-hal yang dipandang mendesak dan cukup
penting misalnya perbaikan atap/genteng yang
bocor yang harus disegerakan terutama pada saat
musim hujan, dll.
8. Memproduktifkan dana masjid yang di miliki pada
hal-hal yang diyakini menguntungkan dan tidak
membiarkan vakum.
9. Pembukuan diaudit baik oleh akuntan yang
dipercaya atau lebih pengurus yang dipercaya sesuai
dengan keputusan musyawarah pengurus.
10. Hasil audit tahunan diumumkan pada jamaah di
samping hasil setiap pekan dan bulanan.

34

Pedoman bagi Penggerak Masjid

Adapun laporan keuangan masjid dapat berupa:


1. Daftar harta, utang dan modal yang disebut laporan
keuangan neraca, ini menggambarkan posisi
keuangan masjid dalam satu priode tertentu
2. Laporan sumber dan penggunaan dana atau laporan
surplus. Laporan dari mana sumber dana diperoleh
dibuat jelas dari mana sumber dana itu dan juga
bermanfaat untuk memotivasi jamaah untuk
berpartisipasi dalam berzakat, infak dan sedekah
untuk masjid.

(Mas Rizal, Pemberdayaan Masjid, Pekanbaru, Riau:


http://maszal.blogspot.com)

35

Pedoman bagi Penggerak Masjid

BAB IV
Aksi Memakmurkan Masjid

A. Masjid sebagai Tempat Ibadah


Tujuan utama masjid adalah sebagai tempat sujud, tempat
ibadah menyembah kepada Allah SWT. Jika dikaitkan dengan
agenda revitalisasi masjid yang digagas oleh LTM NU,
sebagai tempat ibadah, pengelolaan masjid ini dapat
berperan dalam pemeliharaan aqidah, dakwah, dan sarana
untuk berdoa. Karena itu, dalam mengelola masjid sebagai
tempat ibadah, aksi yang dapat dilakukan oleh pengurus
masjid adalah:
8. Sebagai tempat pemeliharaan aqidah. Bentuk aksi
yang dapat dilakukan, antara lain:
a. Menegakkan shalat berjamaah
b. Membangun
kebersamaan
dengan
melaksanakan program IMANU
c. Menanamkan pemahaman aqidah
aswaja
melalui pengajian dan khutbah jumat
d. Pelatihan imam dan khatib
e. Penulisan buku khutbah (NU online)
f. Melabeli masjid dengan logo NU, seperti :
Almamak, tulisan dzikir/doa dan papan nama
g. Mensertifikasi tanah wakaf masjd bernazdir NU
9. Sebagai tempat dakwah Islam rahmatan lil alamin.
Bentuk aksi yang dapat dilakukan, antara lain:

36

Pedoman bagi Penggerak Masjid

a.
b.
c.
d.
e.

Mengajak shalat berjamaah


Menyelenggarakan maulidan dan isro miraj
Gerakan itikaf, tadarus, pengajian kitab kuning
Pelatihan dai
Kursus dakwah

10. Sebagai tempat berdoa dan mendoakan orang


wafat. Bentuk aksi yang dapat dilakukan, antara lain:
a. Menyelanggarakan tahlilan
b. Istigosah, ratiban, marhabanan
c. Shalat jenazah
d. Lailatul ijtima

B. Masjid sebagai Tempat Pendidikan


Fungsi ini dapat dilihat dari masjid-masjid besar dan ternama
seperti masjid al-Azhar Kairo, Mesir. Masjid ini mempunyai
lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa kepada
pelajar dan mahasiswa muslim di seluruh dunia. Di
Indonesia, masjid-masjid yang mengembangkan lembaga
pendidikan juga sangat banyak sekali, terutama lembaga
pendidikan non formal, seperti TPQ, TPA, Madrasah Diniyah,
dan sebagainya. Ke depan, masjid-masjid ini juga harusnya
lebih produktif dalam menyelenggarakan pendidikan dan
halaqah-halaqah keilmuan.
Bentuk aksi yang dapat dilakukan dalam mengelola masjid
sebagai tempat pendidikan, antara lain:

37

Pedoman bagi Penggerak Masjid

a. Menyelenggarakan Taman Pendidikan al-Quran


(TPQ), Playgroup dan TK, pengajian al-Quran
dan keilmuan keagamaan.
b. Kursus bahasa Arab, bahasa Inggris dan
keilmuan umum.
c. Mendirikan lembaga pendidikan formal, mulai
dirintis dari tingkat dasar sampai dengan
perguruan tinggi.
C. Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan Ekonomi
Masjid tempo dulu adalah masjid yang dikelola dengan
mengandalkan kotak amal belaka. Masjid zaman sekarang
tentu harus mempunyai sumber dana yang beragam.
Dengan begitu, fungsi masjid sebagai tempat pemberdayaan
ekonomi dapat terwujud. Jamaah masjid terdiri dari orangorang yang beragam. Dari segi ekonomi, ada yang kaya
banyak pula yang miskin.
Keberadaan mereka perlu diorganisir dan diberdayakan.
Satu sama lain saling berkepentingan dan saling
menguntungkan. Karena itu, perlu dikelola dengan baik.
Selain itu, lahan masjid juga dapat dimanfaatkan untuk
kegiatan ekonomi yang produktif. Terkait dengan fungsi ini,
bentuk aksi yang dapat dilakukan antara lain:
a. Melaksanakan program GISMAS (Gerakan Infaq
Shodaqoh Memakmurkan Masjid) di setiap masjid dan
lingkungannya.
b. Membentuk UPZ Lazisnu di Masjid
c. Melaksanakan kegiatan pelatihan kewirausahaan

38

Pedoman bagi Penggerak Masjid

d. Membentuk Kumas (Kelompok Usaha Jamaah Masjid)


e. Menjadi agen penjualan atas produk tertentu.
D. Masjid sebagai Tempat Pelayanan Sosial
Agenda revitalisasi masjid LTM NU yang masuk dalam
kategori pelayanan sosial adalah pelayanan kesehatan umat
dan kepedulian sosial. Sebagai tempat pelayanan kesehatan
umat, bentuk aksi yang dapat dilakukan adalah:
a. Melaksanakan gerakan
kebersihan masjid dan
lingkungannya
b. Mengadakan kerjasama dengan Puskesmas dan Dinas
Kesehatan dalam rangka pelayanan: posyandu,
pengobatan dan donor darah
c. Kerjasama dengan Rumah Sakit
d. PCNU menyediakan dan mengoperasikan mobil cleaning
service yang dilengkapi dengan alat-alat kebersihan
Sedangkan sebagai bentuk dari kepedulian sosial, pengurus
masjid dapat melakukan aksi sebagai berikut:
a. Menjenguk orang sakit
b. Membantu yang jamaah terkena musibah
c. Membimbing orang yang menghadapi sakaratul maut
d. Menyediakan kain kafan dan tempat pemakaman
jenazah
e. Taziyah kepada yang terkena musibah/kematian
f. Pelatihan tajhizul jenazah
g. Memiliki ambulance
h. Donasi kepada korban bencana

39

Pedoman bagi Penggerak Masjid

BAB V
Memperkuat Kelembagaan dan Jaringan

A. Sertifikasi dan Nazhir NU


Belakangan ini banyak masalah menimpa masjid. Misalnya,
dibongkar paksa, digusur, konflik kepemilikan, rebutan hak,
dan sebagainya. Salah satu pemicunya adalah pengurus
masjid tidak mempunyai sertifikat masjid. Untuk
mengamankan dari problem ini, maka sertifikat masjid harus
berupa sertifikat wakaf dan nazhirnya adalah NU.
Sertifikat wakaf dengan nadzir NU tidak hanya penting, juga
sangat diperlukan. Apabila masjid, musholla, madrasah tidak
bersertifikat, maka diibaratkan punya sepeda motor atau
mobil tapi tidak punya BPKB, bisa-bisa di tengah jalan
dirampas oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.
Kenapa perlu sertifikat wakaf dan nadzirnya NU?
Bila nazhirnya perorangan, maka suatu saat kelak nadzir
perorangan akan meninggal dunia. Ketika nadzirnya
meninggal dunia, akan terjadi kekosongan penerima amanah
wakaf, dan mau tidak mau nadzirnya diubah/diganti nazhir
baru sebagaimana diatur pasal 45 ayat (1) Undang-undang
No. 41 Tahun 2004. Lalu, dibuat sertifikat baru atas nama
nadzir penggantinya. Kondisi seperti inilah yang di kemudian
hari sering menimbulkan persoalan karena adanya konflik

40

Pedoman bagi Penggerak Masjid

kepentingan, di mana masing-masing pihak merasa paling


berhak menjadi nadzir pengganti.
Dengan nadzir NU selamanya akan aman, tidak akan ada
perubahan, bahkan tidak satu orang pun yang dapat
menguasainya. Karena NU merupakan lembaga legal
berbadan hukum, diakui sebagai organisasi keagamaan
terbesar di Indonesia yang notabena didirikan oleh para
ulama. Adalah sangat tepat bila masjid adan musholla
nahdliyin sertifikatnya harus wakaf dan nadzirnya atas nama
NU.

B. Membuat Database Jamaah


Para jamaah masjid hendaknya didaftar dalam buku
anggota jamaah masjid. Data jamaah memuat nama,
alamat, jenis pekerjaan, pendidikan, keahlian khusus dll guna
mengenal jamaah masjid lebih baik. Keanggotaan masjid
dapat dibagi menjadi 2 (dua) kategori, yaitu :
1. Anggota inti, yang terdiri dari para alim-ulama, kyai
kampung, para muballigh, ustadz-ustadzah, mualim,
tokoh masyarat, para pengusaha, dan para pejabat
birokrasi pemberintahan yang taat beragama yang
jumlahnya minimal 40 orang. Aggota inti ini merupakan
anggota organisasi masjid dan pendukung utama
terhadap setiap kegiatan masjid baik moril maupun
materiil.

41

Pedoman bagi Penggerak Masjid

2. Anggota biasa, yaitu semua orang Islam yang taat dan


taqwa bertempat tinggal dan menetap di daerah sekitar
masjid tersebut. Mereka merupakan penunjang/
pendukung dari usaha-usaha, dan kegiatan-kegiatan
masjid yang dilakukan oleh pengurus.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Contoh Formulir
Databased Jamaah Masjid
Nama Lengkap
:
Tempat & Tgl. :
Lahir
Pekerjaan
:
Status
: Kawin/Belum Kawin/
Janda/Duda
Alamat
:
Pendidikan
:
Keahlian Khusus
:
Keterangan Lain- :
lain

42

Pedoman bagi Penggerak Masjid

N
O

Contoh Rekap Databased Jamaah


TEM
PAT
PEKE
ALA
NA
STA
PENDI
&
RJAA
MA
MA
TUS
DIKAN
TGL.L
N
T
AHIR

KEAH
LIAN
KHU
SUS

1
2

C. Jaringan Kerjasama antar Masjid


Hal penting yang harus dilakukan oleh Pengurus Takmir
Masjid adalah menjalin kerjasama melalui jaringan
kerjasama masjid. Paling tidak ada 5 (lima) bidang
kemasjidan yang bisa dikerjasamakanmelalui jaringan
kersama masjid
1. Tukar menukar informasi
2. Kerjasama program, seperti: pelatihan manajemen
masjid, pelatihan pemulasaraan jenazah, pengelol
sendiri dan melihat kelebihan/keunggulan msajid lainaan
BMT, pengelolaan perpustakaan dll.
3. Bantuan dana yang bisa dilakukan dalam bentuk
bantuan barang-barang yang diperlukan masjid, seperti:
buku-buku untuk perpustakaan, komputer dll.
4. Studi banding untuk menemukan kekurangan masjid
sendiri, dan melihat kelebihan/ keunggulan masjid lain
agar bisa dikembangkan pada masjid masing-masing.

43

Pedoman bagi Penggerak Masjid

5. Pengembangan khatib dan muballigh melalui pelatihan,


magang, atu penugasan di berbagai masjid.
6. Pendayagunaan sumber daya manusia (SDM) yang
dimiliki masing-masing masjid.
Bila langkah-lagkah diatas dapat dilaksanakan dengan baik,
niscaya kemakmuran masjid dapat terwujud. Upaya ini harus
dilakukan secara optimal untuk menunjukkan tanggung
jawab yang besar terhadap masjid. Jangan hanya bersusah
payah membangun masjid, tetapi juga harus bersusah payah
dalam memakmurkannya.

44

Pedoman bagi Penggerak Masjid

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Agama RI, Pedoman Pembinaan Masjid, Proyek


Pembinaan Sarana Keagamaan Islam, tahun Anggaran
2000.
Gazalba, Sidi, Mesjid Pusat Ibadat dan Kebudayaan, Jakarta:
Pustaka Antara, 2001.
Hakim, Lukman, Hasibuan, Pemberdayaan Masjid di Masa
Depan, Pt. Bina Rena Pariwara, Jakarta, 2002.
Tim LTM NU, Hasil-Hasil Rapimnas LTM NU, Jakarta: LTM
NU, 2013.
Masudi, Masdar. F., Memakmurkan Masjid NU, Jakarta:
P3M, 2010.
Syahidin, Dr, M.Pd, Pemberdayaan Umat Berbasis Masjid,
Bandung: Alfabeta, 2003.
Syafri, Syofyan, Harahap, Drs, MSAc, Manajemen Masjid,
Yogyakarta: PT Dana Bakti Prima Yasa, 2003.

45