Anda di halaman 1dari 14

CASE REPORT

Benign Prostate Hyperplasia

DISUSUN OLEH:
dr. Hastomo Prabowo

PROGRAM DOKTER INTERNSHIP


RSUD YOWARI, SENTANI, JAYAPURA
PAPUA
2013-2014

DATA PASIEN
IDENTITAS
Nama

: Tn. S

Usia

: 70 tahun

Alamat

: BTN Purwodadi, Sentani

Agama

: Islam

Pendidikan

: SD

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Status

: Menikah

ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Sulit buang air kecil

Anamnesis

Sejak 2 bulan SMRS

pasien mengeluhkan sulit BAK. Pasien juga

mengeluhkan adanya nyeri saat BAK, BAK menjadi lebih sering, terbangun 3
kali saat tidur pada malam hari untuk BAK, kadang-kadang harus mengejan
dalam BAK, tidak dapat menahan keinginan untuk BAK dan merasakan pancaran
urin lemah. Penderita juga tidak merasakan lampias dan pancaran air kencing
terputus-putus saat BAK. Riwayat BAK batu (-), pasir (-), merah (-), keruh (+).
Riwayat infeksi salur kemih berulang tidak ada. Riwayat trauma pada
saluran kemih tidak ada. Pasien tidak mengalami penurunan berat badan. Riwayat
memilik hipertensi dan DM tidak jelas. Riwayat operasi saluran kemih
sebelumnya tidak ada. Riwayat keluhan serupa maupun keganasan tidak dialami
keluarga pasien.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalis
Keadaan umum

: penderita tampak sakit sedang

Kesadaran

: compos mentis

Tanda vital

Tekanan darah

: 130/70mmHg

Nadi

: 76x/menit

Respirasi

: 22x/menit

Suhu

: 36,30C

Kepala

:
Mata

: konjungtiva tidak anemis

Sklera

: tidak ikterik

Leher

:
Pembesaran KGB (-)
JVP tidak meningkat

Thorax

:
Bentuk gerak simetris
VBS kiri=kanan
BJ murni regular

Abdomen

Datar lembut
Hepar dan lien tidak teraba
BU (+) normal
Status Urologis
Regio CVA (Costo Vertebrae Angle):
inspeksi

: jejas (-), Hematom (-)

palpasi

: ballottement (-/-), nyeri tekan (-/-) tidak teraba massa

perkusi

: nyeri ketuk (-/-)

Regio suprapubis:
inspeksi

: terlihat buli buli menonjol, jejas (-)

palpasi

: nyeri tekan (+), bulging (+), batas tegas, teraba kenyal

perkusi

: pekak, nyeri ketuk (+)

Regio genitalia externa


Penis
Inspeksi

: Dalam batas Normal

Palpasi

: Dalam batas Normal

Skrotum
Palpasi:
Testis

: teraba

Batas atas

: teraba

Ukuran

: dalam batas normal

Konsistensi

: kenyal/keras

Permukaan

: licin/benjol-benjol

Rectal Touche

Inspeksi:
Anus
Warna dbn, Benjolan(-), Skin Tag(-), Darah(-)
Palpasi:
Tonus Sphincter Ani (TSA) mencekap, Ampulla Recti tidak kolaps, Mucosa Recti
tidak teraba benjolan, rugae teraba, Nyeri Tekan (+), handscoen: darah (-),
faeces(-).
Prostat:
-

Pool atas tidak teraba

Latero-lateral membesar, kurang lebih 4-5 cm

Sulkus Medianus mendatar

Konsistensi kenyal, permukaan rata tidak berbebjol - benjol

Fluktuasi (-), floating (-), Nyeri Tekan (-)

DIAGNOSIS
Diagnosis Banding
Retensi Urine e.c Benign Prostate Hyperplasia
Retensi Urine e.c Prostate Carcinoma
Diagnosis Kerja
Retensi Urine e.c Benign Prostate Hyperplasia derajat III
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium : darah rutin, urinalysis, serum ureum kreatinin,
Imaging

: USG abdomen dan Ginjal

PENATALAKSANAAN
Pemasangan Foley Catheter
Medikamentosa
Konsul dokter spesialis bedah
PROGNOSIS
Quo ad vitam

: ad bonam

Quo ad functionam

: ad bonam

PEMBAHASAN
Anatomi Prostat
Prostat adalah organ genital yang hanya di temukan pada pria karena
merupakan penghasil cairan semen yang hanya dihasilkan oleh pria. Prostat
berbentuk piramid, tersusun atas jaringan fibromuskular yang mengandung
kelenjar. Prostat pada umumnya memiliki ukuran dengan panjang 1,25 inci atau
kira kira 3 cm, mengelilingi uretra pria.

Dalam hubungannya dengan organ lain, batas atas prostat bersambung


dengan leher bladder atau kandung kemih. Di dalam prostat didapati uretra.
Sedangkan batas bawah prostat yakni ujung prostat bermuara ke eksternal spinkter
bladder yang terbentang diantara lapisan peritoneal. Pada bagian depannya
terdapat simfisis pubis yang dipisahkan oleh lapisan ekstraperitoneal. Lapisan
tersebut dinamakan cave of Retzius atau ruangan retropubik. Bagian belakangnya
dekat dengan rectum, dipisahkan oleh fascia Denonvilliers.
Prostat memiliki lapisan pembungkus yang di sebut dengan kapsul. Kapsul
ini terdiri dari 2 lapisan yaitu :
1. True capsule : lapisan fibrosa tipis pada bagian luar prostat

2. False capsule : lapisan ekstraperitoneal yang saling bersambung, menyelimuti


bladder atau kandung kemih. Sedangkan Fascia Denonvilliers berada pada bagian
belakang.
Histologi Prostat
Prostat merupakan suatu kumpulan kelanjar yang terdiri dari 30 - 50
kelenjar tubuloalveolar, dibentuk dari epitel bertingkat silindris atau kuboid yang
bercabang. Duktusnya bermuara ke dalam uretra pars prostatika, menembus
prostat. Secara histologi, prostat memiliki 3 zona yang berbeda yaitu:
1. Zona sentral
2. Zona perifer
3. Zona transisional

Benign Prostate Hyperplasia


Definisi
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau disebut tumor prostat jinak adalah
pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran prostat
jinak akibat sel-sel prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal, biasanya
dialami laki-laki berusia di atas 50 tahun.

Etiologi
BPH adalah tumor jinak pada pria yang paling sering ditemukan. Pria
berumur lebih dari 50 tahun, kemungkinannya memiliki BPH adalah 50%. Ketika
berusia 8085 tahun, kemungkinan itu meningkat menjadi 90%. Beberapa teori
telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan
usia, di antaranya:
1. Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-a
reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar
prostat.
2. Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk
merangsang pertumbuhan epitel.
3. Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying.
Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara
mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan
berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.
4. Teori growth factors. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di
bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth
factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya
penurunan

ekspresi

transforming

growth

factor-b

(TGF-b),

akan

menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan


menghasilkan pembesaran prostat.
Patologi
Perubahan paling awal pada BPH adalah di kelenjar periuretra sekitar
verumontanum. Perubahan hiperplasia pada stroma berupa nodul fibromuskuler,
nodul asinar atau nodul campuran fibroadenomatosa. Hiperplasia glandular terjadi
berupa nodul asinar atau campuran dengan hiperplasia stroma. Kelenjar-kelenjar
biasanya besar dan terdiri atas tall columnar cells. Inti sel-sel kelenjar tidak
menunjukkan proses keganasan.
Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan kolagen dan elastin di
antara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot. Hal ini

mengakibatkan terjadinya hipersensitivitas pasca fungsional, ketidakseimbangan


neurotransmiter, dan penurunan input sensorik, sehingga otot detrusor tidak stabil.
Patofisiologi
BPH adalah perbesaran kronis dari prostat pada usia lanjut yang berkorelasi
dengan pertambahan umur. Perubahan yang terjadi berjalan lambat dan perbesaran
ini bersifat lunak dan tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam
banyak hal dengan berbagai faktor pembesaran ini menekan uretra sedemikian
rupa

sehingga

dapat

terjadi

sumbatan

partial

ataupun

komplit.

Gejala dan Tanda


Gejala Klinis
Gejala pembesaran prostat jinak dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama,
gejala iritatif, terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk
buang air kecil (urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali
(nocturia), dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence). Kedua, gejala
obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa
kosong (incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil
(hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil
terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang yang
akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow.
Tanda Klinis
Tanda klinis terpenting dalam BPH adalah ditemukannya pembesaran pada
pemeriksaan colok dubur/digital rectal examination (DRE). Pada BPH, prostat
teraba membesar dengan konsistensi kenyal.
Diagnosa
Diagnosa ditegakkan dari anamnesa yang meliputi keluhan dari gejala dan
tanda obstruksi dan iritasi. Kemudian dilakukan pemeriksaan colok dubur untuk
merasakan/meraba kelenjar prostat. Dengan pemeriksaan ini bisa diketahui adanya

pembesaran prostat, benjolan keras (menunjukkan kanker) dan nyeri tekan


(menunjukkan adanya infeksi).
Selain itu biasanya dilakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui fungsi
ginjal dan untuk penyaringan kanker prostat (mengukur kadar antigen spesifik
prostat atau PSA). Pada penderita BPH, kadar PSA meningkat sekitar 30-50%.
Jika terjadi peningkatan kadar PSA, maka perlu dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut untuk menentukan apakah penderita juga menderita kanker prostat.
Penatalaksanaan

Watchful Waiting
Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan.

Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan.

Terapi Medikamentosa
Terapi Bedah Konvensional
Open simple prostatectomy. Indikasi untuk melakukan tindakan ini

adalah bila ukuran prostat terlalu besar, di atas 100g, atau bila disertai
divertikulum atau batu buli-buli.

Terapi Invasif Minimal


1. Transurethral resection of the prostate (TUR-P). Menghilangkan bagian
adenomatosa

dari

prostat

yang

menimbulkan

obstruksi

dengan

menggunakan resektoskop dan elektrokauter.


2. Transurethral incision of the prostate (TUIP). Dilakukan terhadap
penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat

kecil.
Terapi laser
Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP)
yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual
laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.

Terapi alat

1. Microwave hyperthermia. Memanaskan jaringan adenoma melalui alat


yang dimasukkan melalui uretra atau rektum sampai suhu 42-45C
sehingga diharapkan terjadi koagulasi.
2. Trans urethral needle ablation (TUNA). Alat yang dimasukkan melalui
uretra yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang
dapat menusuk adenoma dan mengalirkan panas, sehingga terjadi
koagulasi sepanjang jarum yang menancap di jaringan prostat.
3. High intensity focused ultrasound (HIFU). Melalui probe yang
ditempatkan di rektum yang memancarkan energi ultrasound dengan
intensitas tinggi dan terfokus.
4. Intraurethral stent. Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di
fosa prostatika untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.
5. Transurethral baloon dilatation. Dilakukan dengan memasukkan kateter
yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih.
Prognosa
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap
individu walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak
segera ditindak memiliki prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi
kanker prostat. Menurut penelitian, kanker prostat merupakan kanker pembunuh
nomer 2 pada pria setelah kanker paru-paru. BPH yang telah diterapi juga
menunjukkan berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi penderita.
Pencegahan
Kini, sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi
pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan
utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan
sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat
kerja enzim 5-alpha reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan hormon
testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH)5. Hasilnya, kelenjar
prostat tidak bertambah besar.
Zat-zat gizi yang juga amat penting untuk menjaga kesehatan prostat di
antaranya adalah:

1. Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah


pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat
berkembang menjadi kanker prostat.
2. Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolisme
karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak
terlalu berat.
3. Copper (gluconate) dan Parsley Leaf, yang dapat membantu melancarkan
pengeluaran air seni dan mendukung fungsi ginjal.
4. L-Glysine, senyawa asam amino yang membantu sistem penghantaran
rangsangan ke susunan syaraf pusat.
5. Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas
sperma.
1. Mengapa pada pasien ini didiagnosis retensi urine ec. BPH?
Dari identitas didapatkan pasien laki-laki berusia 70 tahun.
Berdasarkan teori, BPH merupakan tumor jinak yang paling sering dialami oleh
laki-laki. Prevalensinya terjadi 50% terjadi pada laki-laki berusia 51-60 tahun dan
meningkat lebih dari 90% pada laki-laki berusia lebih dari 80 tahun. Pada usia 55
tahun, 25% laki-laki mengeluhkan gejala obstruktif berkemih.
Dari hasil anamnesis pula ditemukan bahwa pasien memiliki gejala susah
BAK serta BAK yang tidak lampias dan terputus-putus.
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa BPH memiliki gejala
obstruktif dan iritatif. Gejala obstruktif yaitu: resistensi, penurunan tekanan aliran
dan volume urin, sensasi pengosongan buli yang tidak komplit, post-void
dribbling, double voiding (berkemih kedua kalinya dalm waktu 2 jam setelah
berkemih sebelumnya), dan mengejan saat berkemih. Gejala iritatif yaitu: urgensi,
frekuensi, dan nokturia.
Dari hasil pemeriksaan fisik, pada pasien ini ditemukan bahwa hasil RT
teraba prostat membesar dengan ukuran kurang lebih 4-5 cm, simetris, kenyal,
nodul (-), nyeri tekan (-).

Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan tanda dari BPH yaitu terjadinya
perbesaran prostat dengan permukaan rata dan kenyal. Apabila terdapat indurasi
harus diwaspadai kemungkinan adanya karsinoma prostat, sehingga dibutuhkan
evaluasi lanjut seperti PSA, transrectal ultrasound, dan biopsy.
Berdasarkan

identitas,

anamnesis,

dan

pemeriksaan

fisik,

dapat

disimpulkan bahwa pasien ini mengalami retensi urin et causal benign prostate
hyperplasia.
2. Apa saja pemeriksaan penunjang yang dilakukan untuk mendukung
diagnosis tersebut?
Pada pasien ini dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan laboratorium
seperti urinalysis, serum kreatinin, serta imaging seperti USG
Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pemeriksaan urinalisis
dibutuhkan untuk memastikan penyebab dari retensi urin ini bukan disebabkan
oleh adanya infeksi. Serum kreatinin diperiksa untuk mengetahui fungsi ginjal.
Imaging, dalam hal ini renal ultrasound dilakukan untuk menilai apakah terdapat
gangguan pada traktus urinarius. Seharusnya juga dilakukan pemeriksaan serum
PSA, tetapi pemeriksaan tersebut tidak didapatkan di Sentani.
Pemeriksaan TRUS (transrectal ultrasonography) dianjurkan juga untuk
mengetahui besar atau volume kelenjar prostat, adanya kemungkinan pembesaran
prostat maligna sebagai petunjuk untuk melakukan biopsi aspirasi prostat,
menentukan residual urin, dan mencari kelainan pada buli-buli.

3. Apakah terapi yang diberikan untuk pasien ini?


Terapi yang disarankan untuk pasien ini adalah medikasi dan operasi. Terapi
medikasi, di antaranya adalah, seharusnya :
1. Adrenergic alpha blocker, untuk mengurangi resistensi otot polos prostat.
2. 5 alpha reductase inhibitor, untuk mengurangi volume prostat.

Tetapi 2 jenis obat tersebut ternyata susah didapatkan di satu kabupaten Jayapura.
Jadi pada pasien di atas hanya diberikan obat obatan simptomatik seperti
ketorolac untuk kurangi nyeri dan ceftriaxone sebagai antibiotic profilaksis pre
operatik.
Terapi operasi, di antaranya adalah :
1. Prostatektomi terbuka, dianjurkan untuk prostat yang sangat besar, lebih
dari 100 gram
2. Reseksi prostat transurethral (TURP), operasi ini lebih disenangi karena
tidak diperlukan insisi pada kulit perut dan memerlukan masa pemulihan
yang singkat. Komplikasi selama operasi adalah pendarahan, perforasi,
dan sindrom TURP yang ditandai dengan pasien yang mulai gelisah,
tekanan darah meningkat, dan bradikardi.
3. Insisi prostat transurethral (TIUP), dianjurkan untuk prostat berukuran
kurang 30 gram, tidak dijumpai pembesaran lobus medius dan tidak
ditemukan adanya kecurigaan keganasan.
4. Karena usia pasien yang sudah terlalu tua, pertimbangan operasi dapat
disingkirkan karena resiko operasi pada lansia yang terlalu besar. Jadi pada
pasien di atas hanya diberikan terapi pemasangan catheter dan
medikamentosa dengan edukasi harus rutin mengganti catheter maximal 2
minggu, dan menghindari makanan makanan yang dapat meningkatkan
retensi seperti alcohol dan kopi, juga obat obatan golongan dekongestan.
Dan harus kontrol ke polik setiap 3 - 6 bulan karna pasien dengan BPH
beresiko untuk berkembang menjadi Carcinoma Prostat.

DAFTAR PUSAKA
1. Arthur C. Guyton, dkk. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9.
Jakarta : EGC.
2. Sylvia A. Price, dkk. 2006. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit. Edisi 6. Volume 2. Jakarta : EGC.