Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS

TONSILITIS KRONIK

Disusun Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Stase Komprehensif


Di Rumah Sakit Islam PKU Muhammadiyah Pekajangan

Disusun oleh :
Erni Hastirini

H2A009018

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
2015

HALAMAN PENGESAHAN
LAPORAN KASUS STASE KOMPREHENSIF
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG
Disusun Untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Stase Komprehensif
Di RSI Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Oleh:
Erni Hastirini

H2A009018

Pembimbing :

dr. H. Budi S, SpTHT

STATUS PASIEN

A. Identitas Pasien
Nama

: An. MM

Umur

: 14 tahun

Jenis kelamin : Perempuan


Agama

: Islam

Alamat

: Ambokembang 3

Pekerjaan

: Pelajar

Tanggal masuk: 20 Januari 2015


B. Anamnesis
Autoanamnesa dan alloanamnesa dilakukan di poliklinik THT RSI
Muhammadiyah Pekajangan pada hari Selasa, 20 Januari 2015 pukul 11.00 WIB.

Keluhan Utama : nyeri telan

Riwayat Penyakit Sekarang


Pasien datang ke poliklinik THT RSI Muhammadiyah Pekajangan dengan

keluhan nyeri menelan yang muncul sejak 3 hari yang lalu. Nyeri dirasakan
timbul setelah pasien mengkonsumsi makanan berminyak. Pasien mengeluh
seperti ada yang mengganjal di tenggorokan sehingga pasien menjadi susah
menelan dan terasa sakit. Keluhan ini pertama kali dirasakan oleh pasien sejak 1
tahun yang lalu, dan setelah itu keluhan sering hilang timbul. Dalam 1 tahun
terakhir ini pasien mengaku setiap bulan mengalami keluhan nyeri menelan yang
biasanya diikuti batuk, pilek, dan demam. Riwayat menelan benda asing (-),
riwayat tertusuk duri ikan (-), suara serak (-), mual (-), muntah (-), mendengkur
saat tidur (-).. Pasien juga mengeluhkan mulut agak berbau, nyeri kepala (+) dan
nafsu makan menurun. BAB dan BAK tidak ada keluhan.
Pasien menyangkal adanya batuk atau pilek saat datang memeriksakan diri.
Keluhan demam, nyeri pada telinga, telinga terasa mendengung, sakit gigi, dan
telinga terasa penuh

disangkal oleh pasien. Pasien mengaku sering

mengkonsumsi minuman dingin, makanan berminyak, serta jajanan dan makanan


yang pedas.

Riwayat Penyakit Dahulu


Pasien mengeluhkan penyakit serupa sejak 1 tahun lalu yang dirasakan hilang

timbul. Riwayat rhinitis (+), sinusitis (-), otitis (-), asma (-), riwayat trauma pada
tenggorokan (-).

Riwayat Penyakit Keluarga


Di keluarga tidak ada yang memiliki keluhan yang sama seperti pasien.

Riwayat Alergi
Pasien mengaku tidak memiliki riwayat alergi makanan, obat-obatan, riwayat

meler dan bersin-bersin saat terkena debu atau dingin (+).

Riwayat Pengobatan
Pasien mengaku mengkonsumsi amoksisilin, obat batuk, dan obat demam

pada saat serangan-serangan sebelumnya. Obat tersebut diperoleh dari dokter.


C. Pemeriksaan Fisik
1. Status Generalisata
-

Keadaan Umum : baik


Kesadaran

: compos mentis

Vital Sign
TD

: 110/70 mmHg

Nadi

: 88 kali/mnt

RR

: 20 kali/mnt

Suhu

: 36,4 0C

Kepala

Rambut

Mata

: rambut hitam, hematom (-), jejas (-)


: sklera ikterik -/-, konjungtiva anemis -/- , pupil
isokor, reflek cahaya (+/+)

Hidung

Mulut

Telinga

Leher

: sekret (-), epistaksis (-)


: sianosis (-), perdarahan gusi (-)
: discharge (-), luka (-)
: simetris, pembesaran tiroid atau kelenjar getah
bening (-), deviasi trakea (-)

Thoraks
Pulmo:

I : normochest, dinding dada simetris


P : taktil fremitus kanan = kiri, ekspansi dada simetris
P : sonor di kedua lapang paru
A : suara dasar vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

Cor: Gallop (-/-), murmur (-/-)


-

Abdomen
Inspeksi : perut rata, warna kulit seperti sekitar
Auskultasi

: bising usus (+) normal

Palpasi

: supel, turgor kulit baik, hepar dan lien tidak teraba


membesar, nyeri ketok CVA (-/-)

Perkusi
-

: timpani

Ekstremitas

Akral dingin
Oedem
Sianosis
Gerak
Refleks fisiologis
Refleks patologis

Superior
aktif
t.d.l
t.d.l

Inferior
aktif
t.d.l
t.d.l

2. Status Lokalis
Pemeriksaan telinga
No.
1.
2.

Pemeriksaan Telinga
Tragus
Daun telinga

Telinga kanan
Nyeri tekan (-), edema (-)
Bentuk dan ukuran dalam

Telinga kiri
Nyeri tekan (-), edema (-)
Bentuk dan ukuran dalam batas

batas normal, hematoma (-),

normal, hematoma (-), nyeri

nyeri tarik aurikula (-)

tarik aurikula (-)

3.

Liang telinga

Serumen (-), hiperemis (-)

Serumen

membran

furunkel (-), edema (-), otorhea

timpani

intak,

furunkel (-), edema (-),

4.

Membran timpani

Retraksi
hiperemi

(-),
(-),

(-),

hiperemis

(-)

bulging

(-),

Retraksi

(-),

bulging

(-),

edema

(-),

hiperemi

(-),

edema

(-),

perforasi (-), cone of light (+)

perforasi (-), cone of light (+)

Pemeriksaan hidung

Pemeriksaan Hidung
Hidung luar

Hidung kanan
Bentuk (normal), hiperemi (-),

Hidung kiri
Bentuk (normal), hiperemi (-),

nyeri tekan (-), deformitas (-)

nyeri tekan (-), deformitas (-)

Rinoskopi anterior
Vestibulum nasi
Cavum nasi

Normal, ulkus (-)


Bentuk (normal), mukosa pucat

Normal, ulkus (-)


Bentuk (normal), mukosa pucat

Meatus nasi media

(-), hiperemia (-)


Mukosa normal, sekret (-), massa

(-), hiperemia (-)


Mukosa normal, sekret (-),

berwara putih mengkilat (-).

massa berwara putih mengkilat

Edema (-), mukosa hiperemi (-)


Deviasi (-), perdarahan (-), ulkus

(-).
Edema (-), mukosa hiperemi (-)
Deviasi (-), perdarahan (-),

(-)

ulkus (-)

Konka nasi inferior


Septum nasi

Pemeriksaan Tenggorokan

(-),

Tonsil Dekstra: Detritus (+), hiperemis (-),


kripte melebar (+) T4
Tonsil sinistra: detritus (+), hiperemis (-),
kripte melebar (+) T3

Bibir
Mulut
Geligi
Lidah
Uvula
Palatum mole
Faring

Mukosa bibir basah, berwarna merah muda (N)


Mukosa mulut basah berwarna merah muda
Normal
Tidak ada ulkus, pseudomembrane (-)
Bentuk normal, hiperemi (-), edema (-), pseudomembran (-)
Ulkus (-), hiperemi (+)
Mukosa hiperemi (-), reflex muntah (+), membrane (-),

Tonsila palatine
Fossa Tonsillaris

sekret (-), edema (-), granul (-), ulkus (-)


Kanan
Kiri
T4
T3
hiperemi (-)
hiperemi (-)

dan Arkus Faringeus

D. Pemeriksaan Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 20 Januari 2015
Pemeriksaan
Hematologi (darah rutin)
Hemoglobin
Lekosit
Hematokrit
Trombosit
LED 1 Jam
LED 2 Jam
Eosinofil
Basofil
Netrofil Batang
Netrofil Segmen
Limfosit
Monosit
CT/BT
Clooting Time

Hasil

Nilai Rujukan

12,9
10.300
37
407.000
6
10
0
0
0
66
29
5

12-16
4.800-10.800
37 - 47
150.000 450.000
0-20
0-20
2-4
0-1
2-6
50-70
25-40
2-8

400

1-6

Blooding Time
GDS

230
108

1-3
70-115

Serologi
HbsAg

Negatif

Negatif

Usulan pemeriksaan penunjang : kultur dan uji sensitifitas dari swab tonsil
E. Assessment

Diagnosa Kerja
Diagnosa Banding

: Tonsilitis kronik
: Tonsilitis difteri
Angina Plaut Vincent

F. Penatalaksanaan
Farmakologi
-

Infus RL 20 tpm
Paracetamol tab 3x500 mg

Non Farmakologi
-

Diit lunak
Obat kumur betadine tiap 4 jam selama 30 detik
Tonsilektomi

G. Prognosis
Dubia ad bonam
H. Edukasi

Edukasi pasien dan keluarga untuk menghindari makanan yang berminyak,


minuman atau makanan dingin, manis atau yang mengiritasi tenggorokan .

Menjaga higiene mulut agar tidak terjadi tonsilitis berulang.

Anjurkan keluarga untuk menjaga kesehatan pasien dan mempersiapkan


pasien untuk melakukan operasi pengangkatan amandel jelaskan indikasi,
dan komplikasinya.

I. Follow Up
21 Januari 2015

: nyeri telan dan terasa benjolan di tenggorokan (+), demam (-)

: Keadaan Umum
Kesadaran

: baik
: compos mentis

TD = 120/80 mmHg

RR = 20 kali/menit

HR = 86 kali/menit

Suhu = 36,3oC

: tonsilitis kronik

: terapi lanjut
pro tonsilektomi

22 Januari 2015
S

: pusing (+)

: Keadaan Umum
Kesadaran

: baik
: compos mentis

TD = 110/60 mmHg

RR = 20 kali/menit

HR = 80 kali/menit

Suhu = 36,5oC

: post tonsilektomi H1

: amoxicillin 3x500 mg pulv


paracetamol 3x500 mg pulv
(boleh pulang)

Edukasi : tidak banyak berbicara atau meludah, diet cair/lunak, bedrest 2-3 hari,
minum obat secara teratur, hindari makan makanan yang dapat mengiritasi seperti
makanan yang digoreng atau berbumbu tajam.

TINJAUAN PUSTAKA
A. Pendahuluan
Tonsilitis kronis merupakan keradangan kronik pada tonsil yang biasanya
merupakan kelanjutan dari infeksi akut berulang atau infeksi subklinis dari tonsil.
Kelainan ini merupakan penyakit yang paling sering terjadi dari seluruh penyakit
tenggorok berulang dan merupakan kelainan tersering pada anak di bidang THT.
Berdasarkan data epidemiologi penyakit THT di 7 provinsi (Indonesia) pada tahun
1994-1996, prevalensi Tonsilitis Kronis 4,6% tertinggi setelah Nasofaringitis Akut
(3,8%). Sedangkan penelitian di RSUP Dr. Hasan Sadikin pada periode April 1997
sampai dengan Maret 1998 ditemukan 1024 pasien Tonsilitis kronik atau 6,75% dari
seluruh jumlah kunjungan. Data morbiditas pada anak menurut Survey Kesehatan
Rumah Tangga (SKRT) 1995 pola penyakit anak laki-laki dan perempuan umur 5-14
tahun yang paling sering terjadi, Tonsilitis Kronis menempati urutan kelima (10,5
persen pada laki-laki, 13,7 persen pada perempuan).1,2
Secara umum, penatalaksanaan tonsilitis kronis dibagi dua, yaitu konservatif
dan operatif. Terapi konservatif dilakukan untuk mengeliminasi kausa, yaitu infeksi,
dan mengatasi keluhan yang mengganggu. Bila tonsil membesar dan menyebabkan
sumbatan jalan napas, disfagia berat, gangguan tidur, terbentuk abses, atau tidak
berhasil dengan pengobatan konvensional, maka operasi tonsilektomi perlu
dilakukan. 2
Mengingat angka kejadian yang tinggi dan dampak yang ditimbulkan dapat
mempengaruhi kualitas hidup anak, maka pengetahuan yang memadai mengenai
tonsilitis kronis diperlukan guna penegakan diagnosis dan terapi yang tepat dan
rasional.

B. Anatomi Tonsil
Tonsil merupakan suatu akumulasi dari limfonoduli permanen yang letaknya di
bawah epitel yang telah terorganisir sebagai suatu organ. Berdasarkan lokasinya,
tonsil dibagi menjadi; Tonsilla lingualis yang terletak pada radix linguae, Tonsilla
palatina (tonsil) yang terletak pada isthmus faucium antara arcus glossopalatinus dan
arcus glossopharingicus, Tonsilla pharingica (adenoid) yang terletak pada dinding
dorsal dari nasofaring, Tonsilla tubaria yang terletak pada bagian lateral nasofaring di
sekitar ostium tuba auditiva dan Plaques dari peyer (tonsil perut), terletak pada
ileum.2
Dari kelima macam tonsil tersebut, Tonsilla lingualis, Tonsilla palatina, Tonsilla
pharingica, dan Tonsilla tubaria membentuk cincin jaringan limfe pada pintu masuk
saluran nafas dan saluran pencernaan. Cincin ini dikenal dengan nama cincin
waldeyer. Kumpulan jaringan ini melindungi anak terhadap infeksi melalui udara dan
makanan. Jaringan limfe pada cincin waldeyer menjadi hipertrofi fisiologis pada
masa kanak-kanak, adenoid pada umur 3 tahun dan tonsil pada umur 5 tahun dan
kemudian menjadi atrofi pada masa pubertas. 2
Jaringan limfoid pada cincin waldeyer berperan penting pada awal kehidupan,
yaitu sebagai daya pertahanan local yang setiap saat berhubungan dengan agen dari
luar (makan, minum, bernafas) dan sebagai surveilens imun. Fungsi ini didukung
secara anatomis dimana didaerah faring terjadi tikungan jalannya material yang
melewatinya disamping itu bentuknya tidak datar, sehingga terjadi turbulensi
khususnya udara pernafasan. Dengan demikian kesempatan kontak berbagai agen
yang ikut dalam proses fisiologis tersebut pada permukaan penyusun cincin waldeyer
itu semakin besar.2,3

Gambar 1. Anatomi tonsil


Tonsil palatina dan adenoid (tonsil faringeal) merupakan bagian terpenting
dari cincin waldeyer. Tonsil palatina adalah masa jaringan limfoid yang terletak di
dalam fossa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh pilar anterior (otot
palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Palatoglosus mempunyai
origo seperti kipas dipermukaan oral palatum mole dan berakhir pada sisi lateral
lidah. Palatofaringeus merupakan otot yang tersusun vertical dan di atas melekat pada
palatum mole, tuba eustachius dan dasar tengkorak. Otot ini meluas ke bawah sampai
ke dinding atas esophagus. Otot ini lebih penting daripada palatoglosus dan harus
diperhatikan pada operasi tonsil agar tidak melukai otot ini. Kedua pilar bertemu
diatas untuk bergabung dengan palatum mole. Di inferior akan berpisah dan
memasuki jaringan pada dasar lidah dan leteral dinding faring. 2
Adapun struktur yang terdapat disekitar tonsila palatina adalah:2

Anterior

: arcus palatoglossus

Posterior

: arcus palatopharyngeus

Superior

: palatum mole

Inferior

: 1/3 posterior lidah

Medial

: ruang orofaring

Lateral

: kapsul dipisahkan oleh m. constrictor pharyngis superior oleh

jaringan areolar longgar. A. carotis interna terletak 2,5 cm di belakang dan


lateral tonsila.
Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm, masing-masing tonsil
mempunyai 10-30 kriptus yang meluas kedalam jaringan tonsil. Di dalam kriptus
biasanya ditemukan leukosit, limfosit, epitel yang terlepas, bakteri dan sisa makanan.2
Tonsil tidak mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong di atasnya
dikenal sebagai fossa supratonsilaris. Bagian luar tonsil terikat longgar pada
muskulus konstriktor faring superior, sehingga tertekan setiap kali makan. Permukaan
lateral tonsil melekat pada fasia faring yang sering juga disebut kapsul tonsil,
sehingga mudah dilakukan diseksi pada tonsilektomi. 2
Walaupun tonsil terletak di orofaring karena perkembangan yang berlebih
tonsil dapat meluas ke arah nasofaring sehingga dapat menimbulkan insufisiensi
velofaring atau obstruksi hidung walau jarang ditemukan. Arah perkembangan tonsil
tersering adalah ke arah hipofaring, sehingga sering menyebabkan terjaganya anak
saat tidur karena gangguan pada jalan nafas. Secara mikroskopik mengandung 3
unsur utama yaitu :
1) Jaringan ikat/trabekula sebagai rangka penunjang pembuluh darah, saraf
dan limfa.
2) Folikel germinativum dan sebagai pusat pembentukan sel limfoid muda.
3) Jaringan interfolikuler yang terdiri dari jaringan limfoid dalam berbagai
stadium.
Tonsil mendapat darah dari a. palatine minor, a. palatine asendens, cabang
tonsil a. maksila eksterna, a. faring asendens dan a. lingualis dorsal. Tonsil lingual
terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum glosoepiglotika. Di
garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum apeks, yaitu sudut
yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata. Tempat ini kadang-kadang menunjukkan
penjalaran duktus tiroglosus dan secara klinik merupakan tempat bila ada massa
tiroid lingual (lingual thyroid) atau Krista duktus tiroglosus.2
Arteri karotis interna berada pada kira-kira 2 cm posterolateral dari aspek
dalam tonsil; dengan demikian diperlukan ketelitian agar tetap berada pada bidang

pembedahan/pemotongan yang tepat untuk menghindari luka pada lokasi pembuluh


darah. Aliran utama limfa dari tonsil menuju superior deep cervical and jugular
lymph nodes; Penyakit peradangan pada tonsil merupakan faktor signifikan dalam
perkembangan adenitis atau abses servikal pada anak. Inervasi sensoris tonsil berasal
dari n. glosofaringeal dan beberapa cabang-cabang n. palatina melalui ganglion
sphenopalatina.4
Inervasi tonsil bagian atas berasal dari serabut saraf v melalui ganglion
sphenopalatina dan bagian bawah dari saraf glossofaringeus (N. IX). Pemotongan
pada n. IX menyebabkan anastesia pada semua bagian tonsil.5
Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit, 0,1-0,2 %
dari keseluruhan limfosit tubuh pada orang dewasa. Proporsi limfosit B dan T pada
tonsil adalah 50%:50%, sedangkan di darah 55-57%:15-30%. Pada tonsil terdapat
system imun kompleks yang terdiri atas sel M (sel membrane), makrofag, sel dendrite
dan APCs (antigen presenting cells) yang berperan dalam proses transportasi antigen
ke sel limfosit sehingga terjadi sintesis immunoglobulin spesifik. Juga terdapat sel
limfosit B, limfosit T, sel plasma dan sel pembawa IgG. 1
Tonsil mempunyai dua fungsi utama yaitu menangkap dan mengumpulkan
bahan asing dengan efektif dan sebagai organ produksi antibodi dan sensitisasi sel
limfosit T dengan antigen spesifik. Jika tonsil tidak mampu melindungi tubuh, maka
akan timbul inflamasi dan akhirnya terjadi infeksi yaitu tonsilitis (tonsillolith).
Aktivitas imunologi terbesar tonsil ditemukan pada usia 3 10 tahun. 6
C. Tonsilitis Kronis
Tonsillitis adalah peradangan tonsila palatina yang merupakan bagian dari cincin
Waldeyer. Sedangkan Tonsilitis kronis merupakan radang pada tonsila palatina yang
sifatnya menahun. Penyebaran infeksinya melalui udara (air borne droplets), tangan
dan ciuman. Dapat terjadi pada semua umur, terutama pada anak.2
Adapun yang dimaksud kronik adalah apabila terjadi perubahan histologik pada
tonsil, yaitu didapatkannya mikroabses yang diselimuti oleh dinding jaringan fibrotik
dan dikelilingi oleh zona sel sel radang. Mikroabses pada tonsilitis kronis maka

tonsil dapat menjadi fokal infeksi bagi organ organ lain, seperti sendi, ginjal,
jantung dan lain lain.6
Tonsilitis kronis umumnya terjadi akibat komplikasi tonsilitis akut yang tidak
mendapat terapi adekuat; mungkin serangan mereda tetapi kemudian dalam waktu
pendek kambuh kembali dan menjadi laten. Proses ini biasanya diikuti dengan
pengobatan dan serangan yang berulang setiap enam minggu hingga 3 4 bulan.
Seringnya serangan merupakan faktor prediposisi timbulnya tonsilitis kronis yang
merupakan infeksi fokal.7
Faktor predisposisi lain timbulnya tonsillitis kronis ialah rangsangan yang
menahun dari rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, pengaruh
cuaca, dan kelelahan fisik. Kuman penyebabnya sama dengan tonsillitis akut tetapi
kadang kuman berubah menjadi kumah golongan gram negatif. 2
D. Patologi
Karena proses peradangan yang berulang dapat menyebabkan epitel mukosa
jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti
dengan jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripte melebar.
Secara klinis kripte ini tampak di isi oleh detritus. Proses berjalan terus sehingga
menembus kapsul tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan di
sekitar fosa tonsilaris. Pada anak proses ini disertai dengan pembeasran kelenjar limfa
submandibula.2
E. Patogenesis dan patofisiologi
Terjadinya tonsilitis dimulai saat kuman masuk ke tonsil melalui kriptekriptenya, sampai disitu secara aerogen (melalui hidung, droplet yang mengandung
kuman terhisap oleh hidung kemudian nasofaring terus ke tonsil), maupun secara
foodvorn yaitu melalui mulut bersama makanan.6
Fungsi tonsil sebagai pertahanan terhadap masuknya kuman ke tubuh baik yang
melalui hidung maupun mulut. Kuman yang masuk kesitu dihancurkan oleh
makrofag, Sel-sel polimorfonuklear. Jika tonsil berulang kali terkena infeksi maka
pada suatu waktu tonsil tidak bisa membunuh kuman-kuman semuanya, akibatnya

kuman bersarang di tonsil. Pada keadaan inilah fungsi pertahanan tubuh dari tonsil
berubah menjadi sarang infeksi (tonsil sebagai fokal infeksi). Sewaktu waktu
kuman bisa menyebar ke seluruh tubuh misalnya pada keadaan umum yang
menurun.6
Fokal infeksi adalah sumber kuman di dalam tubuh dimana kuman dan produkproduknya dapat menyebar jauh ke tempat lain dalam tubuh itu dan dapat
menimbulkan penyakit. Kelainan ini hanya menimbulkan gejala ringan atau bahkan
tidak ada gejala sama sekali, tetapi akan menyebabkan reaksi atau gangguan fungsi
pada organ lain yang jauh dari sumber infeksi. Penyebaran kuman atau toksin dapat
melalui beberapa jalan. Penyebaran jarak dekat biasanya terjadi secara limfogen,
sedangkan penyebaran jarak jauh secara hematogen. Fokal infeksi secara periodik
menyebabkan bakterimia atau toksemia. Bakterimia adalah terdapatnya kuman dalam
darah. Kuman-kuman yang masuk ke dalam aliran darah dapat berasal dari berbagai
tempat pada tubuh. Darah merupakan jaringan yang mempunyai kemampuan dalam
batas-batas tertentu untuk membunuh kuman-kuman karena adanya imun respon.
Maka dalam tubuh sering terjadi bakterimia sementara. Bakterimia sementara
berlangsung selama 10 menit sampai beberapa jam setelah tindakan.6
F. Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Pasien mengeluh ada penghalang/mengganjal di tenggorokan, tenggorokan terasa
kering dan pernafasan berbau. Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan
permukaan yang tidak rata, kriptus membesar, dan kriptus berisi detritus.8
Gejala tonsillitis kronis dibagi menjadi : 1.) gejala lokal, yang bervariasi dari rasa
tidak enak di tenggorok, sakit tenggorok, sulit sampai sakit menelan, 2.) gejala
sistemik, rasa tidak enak badan atau malaise, nyeri kepala, demam subfebris, nyeri
otot dan persendian, 3.) gejala klinis tonsil dengan debris di kriptenya (tonsillitis
folikularis kronis), udema atau hipertrofi tonsil (tonsillitis parenkimatosa kronis),
tonsil fibrotic dan kecil (tonsillitis fibrotic kronis), plika tonsilaris anterior hiperemis
dan pembengkakan kelenjar limfe regional.8

Tonsilitis Akut

Tonsilitis Kronis

Tonsilitis Kronis

Hiperemis dan edema

Eksaserbasi akut
Hiperemis dan edema

Memebesar/ mengecil tapi

Kripte tak melebar


Detritus (+ / -)
Perlengketan (-)
Antibiotika, analgetika,

Kripte melebar
Detritus (+)
Perlengketan (+)
Sembuhkan radangnya, Jika perlu

tidak hiperemis
Kripte melebar
Detritus (+)
Perlengketan (+)
Bila mengganggu lakukan

obat kumur

lakukan tonsilektomi 2 6 minggu

Tonsilektomi

setelah peradangan tenang

Berdasarkan rasio perbandingan tonsil dengan orofaring, dengan mengukur


jarak antara kedua pilar anterior dibandingkan dengan jarak permukaan medial kedua
tonsil, maka gradasi pembesaran tonsil dapat dibagi menjadi: 2

TO : tonsil masuk di dalam fossa atau sudah diangkat

T1 : <25% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T2 : 25-50% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T3 : 50-75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

T4 : > 75% volume tonsil dibandingkan dengan volume orofaring

Pada anak, tonsil yang hipertrofi dapat terjadi obstruksi saluran nafas atas yang
dapat menyebabkan hipoventilasi alveoli yang selanjutnya dapat terjadi hiperkapnia
dan dapat menyebabkan kor polmunale. Obstruksi yang berat menyebabkan apnea

waktu tidur, gejala yang paling umum adalah mendengkur yang dapat diketahui
dalam anamnesis. 6
G. Penatalaksanaan
Pengobatan
pengangkatan

pasti
tonsil.

untuk

tonsillitis

Tindakan

ini

kronis

adalah

pembedahan

dengan

dilakukan

pada

kasus-kasus

dimana

penatalaksanaan medis atau yang konservatif gagal untuk meringankan gejala-gejala.


Penatalaksanaan medis termasuk pemberian penisilin yang lama, irigasi tenggorokan
sehari-hari dan usaha untuk membersihkan kripte tonsil dengan alat irigasi gigi (oral).
Ukuran jaringan tonsil tidak mempunyai hubungan dengan infeksi kronis maupun
berulang. 2,8
Terapi antibiotik pada tonsilitis kronis sering gagal dalam mengurangi dan
mencegah rekurensi infeksi, baik karena kegagalan penetrasi antibiotik ke dalam
parenkim tonsil ataupun ketidaktepatan antibiotik. Oleh sebab itu, penanganan yang
efektif bergantung pada identifikasi bakteri penyebab dalam parenkim tonsil.
Pemeriksaan apus permukaan tonsil tidak dapat menunjukkan bakteri pada parenkim
tonsil, walaupun sering digunakan sebagai acuan terapi, sedangkan pemeriksaan
aspirasi jarum halus (fine needle aspiration/FNA) merupakan tes diagnostik yang
menjanjikan.6
Indikasi tonsilektomi menurut American Academy of Otolaryngology Head and
Neck Surgery Clinical Indicators Compendium tahun 1995 menetapkan : Indikasi
tonsilektomi menurut The American Academy of Otolaryngology, Head and Neck
Surgery:2,9
a) Indikasi absolut:
i) Pembesaran tonsil yang menyebabkan sumbatan jalan nafas atas, disfagia
menetap, gangguan tidur atau komplokasi kardiopulmunar.
ii) Tonsil hipertrofi yang menimbulkan maloklusi gigi dan menyebabkan
gangguan pertumbuhan orofacial.
iii) Rhinitis dan sinusitis yang kronis, peritonsilitis, abses peritonsil yang
tidak hilang dengan pengobatan. Otitis media efusi atau otitis media
supuratif.

iv) Tonsilitis yang menimbulkan febris dan konvulsi.


v) Biopsi untuk menentukan jaringan yang patologis (dicurigai keganasan).
b) Indikasi relatif :
i) Penderita dengan infeksi tonsil yang kambuh 3 kali atau lebih dalam
setahun meskipun dengan terapi yang adekuat.
ii) Bau mulut atau bau nafas yang menetap yang menandakan tonsilitis kronis
tidak responsif terhadap terapi media.
iii) Tonsilitis kronis atau rekuren yang disebabkan kuman streptococus yang
resisten terhadap antibiotik betalaktamase.
iv) Pembesaran tonsil unilateral yang diperkirakan neoplasma.
c) Kontra indikasi :
i) Diskrasia darah kecuali di bawah pengawasan ahli hematologi
ii) Usia di bawah 2 tahun bila tim anestesi dan ahli bedah fasilitasnya tidak
mempunyai pengalaman khusus terhadap bayi
iii) Infeksi saluran nafas atas yang berulang
iv) Perdarahan atau penderita dengan penyakit sistemik yang tidak terkontrol.
v) Celah pada palatum
H. Komplikasi
Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa
rhinitis kronik, sinusitis atau otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh
terjadi secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, arthritis,
miositis, nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria, dan furunkolosis.2
I. Prognosis
Tonsilitis biasanya sembuh dalam beberapa hari dengan beristirahat dan
pengobatan suportif. Menangani gejala gejala yang timbul dapat membuat penderita
tonsilitis lebih nyaman. Bila antibiotik diberikan untuk mengatasi infeksi, antibiotika
tersebut harus dikonsumsi sesuai arahan demi penatalaksanaan yang lengkap, bahkan
bila penderita telah mengalami perbaikan dalam waktu yang singkat.6

Gejala gejala yang tetap ada dapat menjadi indikasi bahwa penderita
mengalami infeksi saluran nafas lainnya, infeksi yang paling sering terjadi yaitu
infeksi pada telinga dan sinus. Pada kasus kasus yang jarang, tonsilitis dapat
menjadi sumber dari infeksi serius seperti demam rematik atau pneumonia.6
J. Pencegahan
Bakteri dan virus penyebab tonsilitis dapat dengan mudah menyebar dari satu
penderita ke orang lain. Resiko penularan dapat diturunkan dengan mencegah
terpapar dari penderita tonsilitis atau yang memiliki keluhan sakit menelan. Gelas
minuman dan perkakas rumah tangga untuk makan tidak dipakai bersama dan
sebaiknya dicuci dengan menggunakan air panas yang bersabun sebelum digunakan
kembali. Sikat gigi yang telah lama sebaiknya diganti untuk mencegah infeksi
berulang. Orang orang yang merupakan karier tonsilitis semestinya sering mencuci
tangan mereka untuk mencegah penyebaran infeksi pada orang lain.6

DAFTAR PUSTAKA

1. Rubin MA, Gonzales R, Sande MA. 2005. Infections of the Upper Respiratory
Tract. Harrisons Principle of Internal Medicine. 16th ed. New York, NY:
McGraw Hill.
2. Rusmarjono, Soepardi EA.2001. Penyakit dan kelainan tonsil dan Faring. Buku
Ajar Ilmu THT. Jakarta : Balai Penerbit FKUI
3. Nave H, Gebert A, Pabst. 2001. Morphology and immunology of the human
palatine tonsil. Anatomy Embryology 2004: 367-373.
4. Byron J., 2001. Laringology. Head and Neck Surgery-Otolaryngology 3rd
Edition, New York : Lippincott Williams and Wilkins (CD-ROM).
5. Seeley, Stephens, Tate. 2004. The Special Senses. Anatomy and Physiology,
Ch.15, 6th Ed. The McGrawHill Companies, New York
6. Nurjanna Z, 2011. Karakteristik Penderita Tonsilitis Kronis di RSUP H. Adam
Malik Medan tahun 2007-2010. USU Institutonal Repository. [Accessed from:
http://repository.usu.ac.id/]
7. Amarudin, Tolkha et Anton Christanto. 2005. Kajian Manfaat Tonsilektomi,
Cermin Dunia Kedokteran. [Available from :
http://www.cerminduniakedoteran.com]
8. Dedya, et. Al. Tonsilitis Kronis Hipertrofi dan Obstructive Sleep Apnea (OSA)
Pada Anak. Bagian/Smf Ilmu Penyakit Tht Fk Unlam. 2009.
9. Derake A, Carr MM. Tonsillectomy. Dalam : Godsmith AJ, Talavera F, Allen Ed.
EMedicine.com.inc.2002 : 1 10