Anda di halaman 1dari 21

Ekonomi Bahan Galian

Mineral dan Peradaban Manusia :


Penggunaan mineral berkaitan dengan usaha peningkatan tingkat kehidupan
manusia.
Penggenuaan mineral meningkat dari tahun ke tahun
Distribusi mineral tidak merata.
Konstribusi mineral di masa mendatang :
Di dunia ini hampir semua negara menghandalkan tingkat kemakmurannya pada
pasokan mineral untuk industri manukfakturingnya.
Bagi negara industri di perlukan untuk mempertahankan standar hidupnya.
Bagi negara berkembang mineral digunakan untuk mempercepat perkembangan
kondisi sosial dan ekonomi negaranya.
Endapan mineral atau bahan galian yang terdapat dalam wilayah suatu negara
mencerminkan potensi kekayaan negara tersebut.
Beberapa komodity Mineral dan Kegunaanya :
Komodity
Baja
Aluminium
Timah
Minyak bumi
Gas alam
Batubara
Garam
Belerang
Pasir dan Gravel

Penggunaanya
Penganguktan
Peralatan dapur, bangunan
Kaleng
Pemanas, industri
Generator listrik, produksi baja
Industri kimia
Pupuk
Jalan, bangunan

RUANG LINGKUP EKONOMI BAHAN GALIAN


Ekonomi Bahan Galian :
Ilmu yang mempelajari tentang penerapan prinsip prinsip ekonomi dalam
permasalahan mineral.
Adalah suatu ilmu yang memadukan antara teori dan praktek dari ilmu geologi,
teknik mineral, ilmu ekonomi, hukum, dan politik dalam perkembangan dan
manajemen terencana dari sumber daya manusia.
Ekonomi membahas tentang kondisi kondisi pasar mineral, dalam hubungan antara
pasokan (supply), permintaan (demand), dan faktor harga (price), atau lebih spesifik lagi
adalah tentang keekonomian dari proses pasokan mineral.
Pasokan mineral terjadi apabila :
-

Ada kebutuhan komoditi mineral

Endapan mineral

Ciri ciri khusus industri mineral :


1. Keterdapatan mineral
2. Mineral adalah sumber daya tak terbarukan
3. Padat modal
4. Struktur biaya
5. Periode pro produksi lama
6. Produk dapat di daur ulang
7. sangat beresiko tinggi
8. Fenomena tambang bawah tanah

Permintaan Dan Pemasokan Modal

Komodity Mineral :
- Logam
- Non Logam
- Energi

Komodity Mineral :
- Logam
- Non Logam
- Energi

Tambang (primer),
Daur ulang (sekunder)

Permintaan Mineral
Sifat sifat mineral :
-

Kekuatan

Barang

Ketahan terhadap korosi batuan

Barang

konsumen
Produser
Faktor faktor dominan terhadap permintaan mineral :
-

Cuaca dingin

Perubahan politik

Rencana suatu negara memperkuat armada laut

Pembangkit listrik

Beberapa faktor yang sering dipertimbangkan :


-

Pendapatan

Harga mineral

Harga mineral pengganti

Perubahan teknologi

Preferensi konsumen

Aktivitas pemerintah

Fungsi permintaan :
Qdt = f (Yt, Pot, Pst)

Qdt = Kuantitas permintaan pada tahun t


f

= Notasi fungsi

Yt = Pendapatan konsumen pada tahun t


Pot = Harga mineral pada tahun t
Pst = Harga mineral lain (pengganti)pada tahun t

Beberapa bahan galian yang terdapat di Indonesia :


Molidenun (Mo),Melibdenit (NaS2), wulfenit (PbMo4)
Biasanya terjadi pada pembekuaan magma terbesar dalam batuan logam ini, dijumpai
dalam / berasosiasi dalam tembaga porpiri.
Kegunaanya :
-

Untuk campuran baja

Untuk bahan indikator

Sebagai bahan campuran minyak pelumas keramik

Untuk fikmen

Untuk bahan bahan kimia

Tembaga (Cu)
Terdapat dalam mineral mineral bijih manifcover, kalkofirit, Borit,korollite, proses
hidrotermal larutan sisa magma yang kaya akan mineral bijih.
Proses ini akan menghasilkan tembaga porfiri, kandungan Cu 6 %, Cu ini akan di
manfaatkan :
-

Bahan bahan untuk lemari es

Amunisi

Bahan bahan untuk membuat pesawat terbang, perunggu

Industri kimia

Cu dapat di jual dalam bentuk bijih dan konsentrat


Produksi tembaga konsentrat tahun 1997 2001

97
529,115

98
647,412

99
643,284

2000
962,069

2001
728,676

Timah Hitam dan Seng


- Timah hitam (Pb) mineral bijihnya galena (Pbs), Cirusit (PbCo2), Alesit (PbS4) bijih
ini terjadi dari proses hidrotermal / kontak metamorfisme dan sedimentasi. Pb ini
digunakan untuk batu aki / baterai, bahan mesiu, keramik, kabel kabel dan industri
kimia.
- Seng (Zn) mineral bijihnya spalerit yang terbentuk dari proses hidrotermal.

Timah putih (Sn)


Berasal dari mineral calsetrit, terjadinya mineral bijih calsetrit berasal dari intruksi
magma yang bersifat asam, misalnya granit, oleh proses pelapukan maka terjadi
konsentrasi mekanis yang terbentuk endapan timah eluvial (tidak terlalu jauh dari
sumbernya) dan aluvial (dekat darisumbernya).

Pasirbesi
Pasirbesi digunakan dalam industri semen sebagai bahan imbuhan dalam proses produksi
semen, Dimana dalam pasirbesi banyak mengansung mineral-mineral limonit, pirit (lebih
dari 50 % mengandung mineral besi, / yang paling dominan). Sehingga potensi,
pemanfaatan,dan nilai ekonomis sumberdaya pasirbesi sangat baik dalam

proses

prosuksi semen, apabila dicampur dengan bahan dasar pembuatan semen.


Jumlah pasirbesi yang dibutukan dalam industri semen mencapai 1,5 % dari jumlah
produksi. Pada tahun 1994 tambang pasirbesi mencapai luas sebesar 830,200 hektar.

Perak
Perak merupakan logam yang terbentuk dan selalu bersama-sama dengan logam emas,
yang mempunyai warna putih.
Mineral-mineral yang terpenting yang mengandung perak adalah Perak alam (Ag),
Argentite (Ag2S), Cerrargyrite (AgCl), Polybasite (Ag16 Sb2 S11), Proustite (Ag2 As
S3) dan Pyrargyrite (Ag3 Sb S3). Kebanyakan perak di dunia berasal dari cebakan
hydrothermal yang mengisi rongga-rongga.
Kegunaannya adalah untuk perhiasan, cindera mata, logam campuran, dll.
Potensinya selalu berasosiasi dengan logam lainnya seperti emas dan tembaga
Emas merupakan logam yang bersifat lunak dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar
antara 2,5 3 (skala Mohs), serta berat jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan
logam lain yang berpadu dengannya. Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi
dengan mineral ikutan (gangue minerals). Mineral ikutan tersebut umumnya kuarsa,
karbonat, turmalin, flourpar, dan sejumlah kecil mineral non logam. Mineral pembawa
emas juga berasosiasi dengan endapan sulfida yang telah teroksidasi. Mineral pembawa
emas terdiri dari emas nativ, elektrum, emas telurida, sejumlah paduan dan senyawa
emas dengan unsur-unsur belerang, antimon, dan selenium. Elektrum sebenarnya jenis
lain dari emas nativ, hanya kandungan perak di dalamnya >20%.
Emas
Emas terbentuk dari proses magmatisme atau pengkonsentrasian di permukaan. Beberapa
endapan terbentuk karena proses metasomatisme kontak dan larutan hidrotermal,
sedangkan pengkonsentrasian secara mekanis menghasilkan endapan letakan (placer).

Genesa emas dikatagorikan menjadi dua yaitu endapan primer dan endapan plaser
Emas banyak digunakan sebagai barang perhiasan, cadangan devisa, dll.
Potensi endapan emas terdapat di hampir setiap daerah di Indonesia, seperti di Pulau
Sumatera, Kepulauan Riau, Pulau Kalimantan, Pulau Jawa, Pulau Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku, dan Papua.

Nikel
Nikel digunakan sebagai bahan paduan logam yang banyak digunakan diberbagai
industri logam.
Nikel biasanya terbentuk bersama-sama dengan kromit dan platina dalam batuan
ultrabasa seperti peridotit, baik termetamorfkan ataupun tidak. Terdapat dua jenis
endapan nikel yang bersifat komersil, yaitu: sebagai hasil konsentrasi residual silika dan
pada proses pelapukan batuan beku ultrabasa serta sebagai endapan nikel-tembaga
sulfida, yang biasanya berasosiasi dengan pirit, pirotit, dan kalkopirit.
Potensi nikel terdapat di Pulau Sulawesi, Kalimantan bagian tenggara, Maluku, dan
Papua.

PRINSIP-PRINSIP EKONOMI MINERAL

Ekonomi tidak terlepas dari biaya-biaya yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan, baik itu
biaya langsung maupun biaya tidak langsung. Biaya yang dikeluarkan untuk
menghasilkan suatu barang atau jasa merupakan salah satu unsur terpenting dalam
pengelolaan perusahaan, sebab besar kecilnya biaya akan menentukan besar kecilnya
keuntungan yang akan diperoleh. Oleh sebab itu biaya mempunyai pengertian semua
pengeluaran yang dapat diukur dengan uang, baik yang telah, sedang maupun yang akan
dikeluarkan untuk menghasilkan suatu produk.
1. Komponen Biaya
Untuk memudahkan analisa, secara umum biaya dikelompokkan berdasarkan kriteria
tertentu, antara lain :
A. Menurut keterlibatan biaya dalam pembuatan produk :
1. biaya langsung yaitu adalah biaya-biaya yang timbul akibat kegiatan yang
berhubungan langsung dengan proses produksi.
2. biaya tak langsung yaitu biaya pengeluaran uang yang disebabkan oleh kegiatankegiatan yang tidak berhubungan langsung dengan proses produksi.
3. biaya komersial yaitu biaya tak langsung yang digunakan untuk mendukung kegiatan
produksi, dibagi atas :
a. Biaya penjualan: pengeluaran yang dilakukan dalam rangka kegiatan penjualan suatu
produk.
b. Biaya administrasi: pengeluaran yang dilakukan untuk keperluan administrasi guna

mendukung kelancaran proses produksi.

Dalam industri pertambangan lebih dikenal pengelompokan biaya menjadi :


1. biaya kapital (biaya investasi)
2. biaya operasi.

1.2. Biaya Capital


Biaya capital atau biaya investasi pada umumnya diartikan sebagai jumlah biaya yang
dibutuhkan untuk membuat suatu endapan bahan galian yang berada di dalam bumi
menjadi produk tambang yang dapat dijual. Biaya kapital terdiri dari dua komponen
penting, yaitu :
a. biaya kapital tetap
b. modal kerja.

Jika tambang yang akan dikerjakan merupakan tambang baru, maka biaya tetap biasanya
terdiri dari komponen-komponen berikut :
1. Land Acquisition (pembebasan lahan), biayanya tergantung kepada luas dan lokasi
lahan.
2. Konstruksi pra-penambangan (pengupasan tanah penutup, dan sebagainya).
3. Pembangunan tambang/masa konstruksi
4. Analisa Dampak Lingkungan.
5. Peralatan tambang, bangunan, sarana lain.
6. Peralatan pabrik, bangunan, sarana lain.

7. Sarana penunjang (jalan, listrik, perumahan, sarana olahraga, instalasi air, dan
sebagainya).
8. Jasa perancangan dan konsultasi.
9. Contingency.

Sedangkan modal kerja adalah biaya yang digunakan untuk memulai produksi sebelum
perusahaan mendapat kan uang dan hasil penjualan produknya. Besarnya modal kerja
umumnya adalah 25% dari biaya operasi atau mencukupi kebutuhan operasi selama 3-6
bulan. Secara umum, besarnya modal kerja dapat dihitung dengan rumus dibawah ini :

biaya operasi

prod. tambang
x

=
MK

Y bulan
x

-------------------------------------------------------------ton

-------------------------------tahun

12 bulan

Harga Y tergantung pada jalur pemasaran produk tambangnya (lamanya produk sampai
dipasar dan lamanya pembayaran atas produk tersebut). Modal kerja umumnya terdiri
dari komponen-komponen biaya sebagai berikut :

1. Persediaan
- Bahan baku, berupa dimana cadangan endapan mineral/bijih yang ekonomis yang
belum dilaksanakan proses penambangan.
- Suku cadang, yang berguna apabila terjadi ker usakan pada alat-alat penambangan

- Supplies, merupakan stock dari suatu perusahan tambang yang berupa perlengkapan
habis sekali pakai seperti perlengkapan kantor, bahan bakar, bahan pelumas, dll.
- Bahan dalam proses (materials-in- process), berupa endapan mineral/bijih yang sedang
atau dalam proses penambangan atau dalam proses pengolahan (mineral dressing).
- Bahan jadi/produk tambang, merupakan bahan galian/bijih yang telah melalui proses
pengolahan yang siap dijual

2. Piutang dagang (A/R)


Piutang dagang merupakan suatu modal kerja yang dapat ditarik sewaktu-waktu dari
pihak ke-2 sesuai dengan perjanjian dagang (seperti pembayaran diakhir transaksi
penjualan komoditas dagang).

3. Hutang dagang (A/P)


Merupakan modal kerja yang diperoleh dari or ang lain dalam bentuk pinjaman yang
bernilai ekonomis, yang harus dibayar oleh kita apabila telah jatuh tempo sesuai dengan
perjanjian dagang kedua belah pihak

4. Kas, dan lain-lain


Merupakan cadangan uang yang disimpan yang berguna untuk membiayai kehidupan
tambang sehari-hari, dengan periode waktu yang relatif singkat

1.3 Biaya Operasi


Biaya operasi didefinisikan sebagai segala macam biaya yang harus dikeluarkan agar

proyek penambangan dapat beroperasi/berjalan dengan normal. Dalam suatu operasi


penambangan, keseluruhan biaya penambangan akan terdiri dari banyak komponen
biaya yang merupakan akibat dari masing-masing tahap kegiatan. Besar kecilnya biaya
penambangan akan tergantung pada perancangan teknis sistem penambangan, jenis dan
jumlah alat yang digunakan. Diagram berikut ini memperlih atkan tahapan analisis yang
harus dilakukan untuk mendapatkan biaya penambangan.

Untuk mencapai biaya penambangan yang sekecil mungkin, maka dalam merancang
sistem penambangan perlu diperhatikan pemilihan alat yang dapat memberikan biaya
produksi per ton yang paling murah. Pemilihan alat (jenis dan merk) sebaiknya tidak
dilakukan semata-mata karena besar-kecilnya produksi atau kapasitas alat tersebut.

Dari diagram diatas te rlihat bahwa pada dasarnya aspek teknis da n aspek ekonomis
tidak dapat berjalan sendiri-sendiri, keduanya akan selalu saling mempengaruhi.
Perkiraan biaya investasi alat akan tergantung pada jumlah alat yang dipergunakan dan
kapasitas alat yang dipilih. Demikian pula biaya produksi merupakan fungsi dari
kapasitas alat yang dipakai. Jadi jelaslah dari diagram tersebut di atas bah wa biaya
penambangan yang rendah akan dapat dicapai ji ka rancangan teknis dapat dioptimasi
dengan me mperhatikan pemilihan dan jumlah alat yang akan digunakan.

Secara umum biaya operasi dibagi menjadi tiga komponen biaya, yaitu :
a. biaya operasi langsung
b. biaya operasi tak langsung
c. biaya overhead

1.3.1 Biaya Operasi Langsung


Biaya operasi langsung merupakan biaya utama dan berkaitan langsung dengan produk
yang dihasilkan. Walaupun komponen biaya operasi langsung dari satu tambang ke
tambang yang lain bervariasi, akan tetapi pada umumnya terdiri dari :

1. Pekerja (pekerja lapangan, pengawas lapangan, dan sebagainya)


2. Bahan bakar (bahan bakar, oli, dan sebagainya)
3. Royalties
4. Persiapan daerah produksi/permukaan kerja

1.3.1 Biaya Operasi Tak Langsung


Biaya operasi tak langsung adalah pengeluaran-pengeluaran yang tak terpengaruh oleh
produksi yang dihasilkan. Umumnya, terdiri dari :
1. Pekerja (administrasi, keamanan, teknisi, jurubayar, petugas kantor, bengkel dan
sebagainya.
2. Asuransi.
3. Penyusutan alat.
4. Pajak.
5. Reklamasi daerah bekas tambang.
6. Perjalanan bisnis, rapat, sumbangan-sumbangan.
7. Keperluan kantor.
8. Humas, dan sebagainya.

1.3.1 Biaya Overhead


Biaya overhead dapat/tidak dapat dimasukkan sebagai ko mponen biaya operasi tetapi
biaya-biaya ini berpengaruh terhadap total biaya produksi walaupun umumnya
mencerminkan biaya-biaya diluar tambang/biaya-biaya perusahaan. Overhead biasanya
dikelompokkan menjadi :

1. Penjualan.
2. Administrasi kantor pusat.

2. COST BENEFIT ANALISIS


Yang dimaksud dengan analisis benefit cost adalah : Suatu penilaian secara sistematis
terhadap semua ongkos dan semua manfaat dari suatu kebijakan suatu proyek. Cost
benefit meliputi :
- Explicit costs & benefit: Upah, gaji, bahan
- Implicit costs & benefit : nilai kesempatan (opportunity cost), penyusutan, dana
internal
- External cost & benefit : ongkos lingkungan
- Ongkos dan manfaat murni : consumer surplus

Z1 = B C ; p = inflasi ; r = tingkat bunga nominal

3. Penentuan ROR, BESR, BEP


3.1 Pengertian
ROR = Rate of Return : Tingkat penge mbalian / tingkat bunga yang diterima investor
atas investasi yang tidak diamortisasikan
ROR

= Rate of Reinvestment : Tingkat bunga yang harus diperoleh melalui

reinvestasi pendapatan (Income) setiap periode agar nilai akhir dari income setiap periode
tersebut sama dengan biaya yang harus dikeluarkan pada saat itu.

Perbedaannya :
- Bila cost dikeluarkan pada akhir umur proyek setelah memperoleh income tahunan,
maka tingkat bunga yang didapat merupakan RORe investment
- Bila cost dikeluarkan pada awal umur proyek lalu diikuti income tahunan, maka yang
didapat ROReturn

BESR = Break Even Stripping Ratio :


Jumlah perbandingan antara biaya penambangan bawah tanah setelah dikurangi biaya
penambangan terbuka dengan biaya pengupasan overbourden
BEP = Break Even Point :
Volume / jumlah penjualan dan atau volume produksi, dimana suatu perusahaan yang
menghasilkan suatu produk tertentu tidak mengalami kerugian dan juga tidak
memperoleh laba. Dengan kalimat lain, merupakan level produksi dari suatu operasi

dimana pendapatan (income) yang diperoleh tepat sama dengan biaya total (total cost)
yang dikeluarkan.

4. SENSITIVITY ANALYSIS
Dalam teknologi yang maju, seorang manajer yang sukses harus membuat suatu
keputusan yang mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan tambang dengan
menggambarkan secara sistematis pengetahuan khususnya, ketersediaan informasi, dan
kecakapan dari para pegawainya, karena dalam evaluasi proyek dan penentuan
keputusan tidak selamanya seorang manager mengeluarkan suatu kepusan yang tepat.
Pada analisa sebelumnya yang melibatkan nilai uang ternyata ada suatu faktor yang
mempengaruhi analisa pengambilan keputusan yaitu analisis sensibilitas, seperti nilai
escalasi dollar terhadap rupiah, inflasi mata uang, pengaruh nilai jual komoditi, dll.
Pengaruh perkiraan ketidakpastian masa depan terhadap keputusan. Suatu teknik untuk
menganalisis pengaruh suatu variabel atau parameter terhadap suatu kesimpulan /
keputusan semula.

Tujuan daripada sensitivity analysis dalam evaluasi ekonomi adalah :


a. Menganalisis / mengevaluasi pengaruh dari ketidakpastian pada suatu investasi dengan
cara menentukan sejauh mana parameter- parameter profitabilitas suatu alternative
investasi mempengaruhi hasil evaluasi ekonomi
b. Mengidentifikasikan apakah perubahan variabelvariabel kritis dapat mempengaruhi
tingkat keuntungan.

Kepekaan ini dapat juga dianalisis dengan metoda, diantaranya :


a. Initial Investment Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas terhadap investasi
langsung)
b. Project Life Sensitivity Analysis (Analisa sensitivitas tehadap umur proyek)
c. Annual Profit Analysis (Analisis keuntungan tahunan)
d. Salvage Value Analysis (Analisis Nilai Sisa)

5. Analisis biaya volume laba :


Analisis kepekaan pengaruh perubahan volume terhadap pendapatan bersih

a. Pengaruh biaya berubah


Contoh :
Biaya produksi batu naik Rp. 5.000,- menjadi Rp. 7.000,-/ton
Harga jual Rp. 9.000,-/ton, B. Tetap Rp. 200.000,-

X ---> 9.000 X = 7.000 X + 200.000 ---> Rp. 200.000,---> X = 100

X ---> 50 ---> 100t

Contoh :
1 + J = BB + BT + n

9.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0

4.000 X = 200.000 X 50 t (BEP)

b. Pengaruh biaya tetap


Contoh :

* 200.000,- ---> 400.000,-

4000.000 x 400.000 ---> 100 (dari 50)

c. Pengaruh harga jual


Contoh :

* 9.000/t ---> 10.000 Rp/t

10.000 X = 5.000 X + 200.000 + 0


5.000 X = 200.000
X = 40 t