Anda di halaman 1dari 8

Gonadrofin hipofisis, follicle- stimulating hormone ( FSH ) danluteinizing

hormone ( LH ) dihasilkan di bawah pengawasan releasing factor yang


dikeluarkan oleh hipotalamus. FSH merangsang pertumbuhan folikel ovarium dan
pembentukan estrogen. LH mempermudah pembentukan korpus luteum melalui
diferensiasi sel sel granulosa yang tetap ada dalam folikel setelah mengeluarkan
oosit. LH juga mempermudah ovulasi dan pematangan oosit.Estrogen
menghambat sekresi FSH dan merangsang sekresi LH. Progesteron menghambat
pembentukan LH. ( Junqueira, 1992 ).
Hormon hormon reproduksi betina :
- FSH, merangsang perkembangan folikel
- Estrogen, merangsang endometrium untuk menebal, merangsang perkembangan
cirri seks sekunder wanita, menekan pengeluaran FSH dan merangsang
pengeluaran LH dari pituitary depan.
- LH adalah hormone yang bertanggungjawab terhadap pemasakan folikel dapat
berkembang secara sempurna. Di bawah pengaruh LH, sisa folikel dalam
ovarium diubah menjadi badan kuning atau korpus luteum yang setelah
beberapa hari akan menghasilkan progesterone
- Progesteron, mempertahankan ketebalan endometrium dan perkembangan
kelenjar susu.
Kerja umpan balik diantara gonadhotropin dan hormon-hormon steroid
ovarium sangat diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan hormon yang
essensial untuk reproduksi yang normal (Bearden, 1984)
Inhibin suatu hormon protein yang diproduksi oleh sel-sel granulosa dalam
volikel ovarium secara selektif menghambat pelepasan FSH, namun bukan LH, dari
hypofisis anterior membantu dalam mengatur FSH. Kerja inhibin ini mungkin
bertanggung jawab atas pola pelepasan FSH dan LH yang tampaknya tidak konsisten
dengan GnRH (Bearden, 1984)
Relaxin adalah suatu hormon polipeptid yang diproduksi oleh corpus luteum.
Sedikit diketahui tentang mekanisme yang mengontrol produksinya, tetapi
konsentrasi yang tinggi terlihat selama kebuntingan. Relaxin menyebabkan relaksasi
ligamentum pelvis dan memperlunak jaringan ikat otot-otot uterus untuk
menyediakan perluasan yang diperlukan untuk menampung fetus yang sedang
tumbuh. Bekerja sama dengan estrogen, relaxin menyebabkan relaksasi pelvis dan

pelunakan jaringat ikat servic lebih lanjut agar fetus dapat dikeluarkan pada waktu
kelahiran (Bearden, 1984)
HORMON PADA HIPOTHALAMUS
Gonadotropin Releasing Hormon( GnRH)
Gonadotropin releasing hormon( GnRH) ini bertanggung jawab untuk pelepasan FSH dan LH
dari hipofisa anterior. GnRH dipertimbangkan sebagai neurohormon yaitu hormon yang
menghasilkan sel neuron spesifik dan dilepaskan pada terminal neuronnya. Daeran utama
produksi GnRH adalah pada preoptik area hipothamus, yaitu berisi kebanyakan neuron yang
mensekresikan GnRH. GnRH disekresikan pada pembuluh portal hipofisal pada median
eminence. Pembuluh darah yang membawa GnRH mengaktifkan reseptornya sendiri yakni
gonadotropin releasing hormone receptor (GnRHR) yang berlokasi dalam membran sel.
Terdapat sekresi berbeda GnRH pada hewan jantan dan betina. Pada jantan, GnRH
disekresikan dalam pulsa dengan frekuensi konstan, tetapi pada hewan betina frekuensi
pulsa bervariasi selama siklus estrus dan terdapat GnRH surge sesaat sebelum ovulasi.
GnRH berfungsi menstimulasi sintesis dan sekresi folikel stimulating hormon (FSH) dan
luteulizing hormon (LH). Proses tersebut dikontol oleh ukuran dan frekuensi GnRH. Sekresi
GnRH penting untuk mengatur siklus reproduksi. Oleh karena itu , hormon tunggal GnRH
mengontrol proses kompleks seperti pertumbuhan folikel, ovulasi dan pemeliharaan kurpus
luteum pada hewan betina dan spermatogenesis pada hewan jantan. Pada hewan domestik,
terdapat 3000- 4000 neuron GnRH. Regulasi reproduksi diatur terjadi melalui sekresi
gonadotropin pituitari yang melibatkan hormon LH dan FSH. Sekresi hormon ini diatur oleh
feedbeck positif dan feedback negatif tergantung pada fase siklus steroid gonad dan
stimulasi pelepasan GnRH.
GnRH ( gonadotropin releasing hormone) juga dikenal sebagai luteulizing hormone
release ( LHRH) berfungsi sebagai menstimulasi sekresi LH dan FSH.
HORMON HIPOFISA
Glandula hipofisa berlokasi pada dasar otak. Glandula hipofisa ini terbagi atas 3 lobus yaitu :
1. Lobus anterior
2. Lobus intermedia
3. Lobus posterior
LOBUS ANTERIOR
Lobus ini mensekresi hormon yaitu hormon:
FOLIKEL STIMULATING HORMONE ( FSH )
Folikel stimulating hormone ( FSH ) adalah hormon yang disintesis dan disekresikan oleh
gonadotrop dalam glandula hipofisa anterior. Didalam ovarium, FSH menstimulasi
perkembangan folikel de graaf immatur menjadi matur. Ketika folikel bertumbuh, folikel
melepaskan inhibin, yang berfungsi menekan produksi FSH. Pada hewan jantan, FSH
berfungsi meningkatkan protein androgen binding oleh sel sertoli testes dan perlu untuk
spermatogenesis.
FSH adalah suatu glikoprotein yang terdiri dari rantai alpha dan rantai beta. Rantai alpha

yang sama ditemukan pada LH dan rantai beta yang terdiri 115 asam amino. masing
masing glikoprotein terdiri dari unit monomer adalah suatu molekul protein dan gula yang
melekat padanya.
Pada hewan jantan dan betina, FSH menstimulasi pematangan sel germinal. Pada hewan
betina, FSH mengisiasi pertumbuhan folikel, ddan berperan juga dalam proses ovulasi.
Ketika inhibin meningkat, level FSH kemudian menjadi turun. Hal ini perlu untuk seleksi foikel
yang akan ovulasi. Sintesis dan pelepasan FSH dipacu oleh GnRH dari hipothalamus.
Pemberian FSH pada hewan akan menginduksi superovulasi atau perkembangan jumlah
folikel lebih dari normal, dan akibatnya meningkatkan jumlah gamet matur.

LUTEINIZING HORMONE ( LH )
Leteinizing hormone (LH) adala hormon yang disintesis dan disekresikan oleh gonadotrop
dalam glandula hipofisa anterior. Hormon ini merupakan salah satu hormon untuk fungsi
seksual. Selain hormon FSH, hormon LH juga disintesis dalam sel hipofisa yang sama
seperti FSH dan distimulasi oleh GnRH.
Struktur hormon LH ialah glikoprotein, dengan satu protein dimer, masing masing monomer
berhubungan dengan gula. Strukturnya mirip dengan FSH, hCG, TSH. Protein dimer terdiri
dari 2 unit polipeptida yakni sub unit alpha dan sub unit beta. Sub unit alpha LH, FSH, TSH
dan hCG adalah identik, berisi 92 asam amino. Asam unit sub beta bervariasi. Hormon LH
mempunyai sub unit beta dengan 121 asam amino yang memberikan aksisi biologis spesifik
dan bertanggung jawab untuk interaksi dengan reseptor LH. Bagian gula hormon initerdiri
dari fruktosa, galaktosa, mannosa, galaktosamine, dan asam sialat. Asam sialat penting
untuk half life biologisnya yang hanya sekitar 20 menit.
Fungsi dari LH adalah
Pada hewan betina, Lh surge sekitar pada saat estrus akan memicu awal rupturnya folikel de
Graaf dan ovulasi. Hormon LH juga menginduksi sisa sel granulosa dan sel theca interna
untuk menjadi korpus luteum. LH surge ini juga menyebabkan oosit primer komplit
mengalami miosis I dan memasuki miosis II melalui aksi maturation promoting factor ( MPF
). Hal ini akan memicu aksi kolagenase yang menghancurkan jaringan kolagen sekitar folikel.
Selanjutnya, terjadi peningkatan level prostaglandin yang menginduksi kontraksi otot lokal
didalam diding ovarium. Sel sel theca interna pada hewan betina respon terhadap LH
melalui produksi androgen dan estrogen.
Pada hewan jantan, pada hewan jantan LH juga dikenal sebagai iterstitial cell stimulating
hormone( ICSH ). LH menstimulasi produksi seks steroid dari gonad. Respon LH terhadap
Sel sel leydig pada testes hewan jantan akan mensekresikan hormon testosteron.
PROLAKTIN ( PRL)
Struktur prolaktin adalah suatu protein dengan 198 asam amino. Hormon ini berperan dalam
membantu persiapan glandula mammae pada saat kebu tingan untuk menghasilkan susu.
Setelah lahir prolaktin membantu sintesis susu. Produksi prolaktin distimulasi oleh TRH dan
ditekan oleh estrogen dan dopamine. Selain itu bersama progesteron berperan dalam
pembentukan korpus luteum.

LOBUS POSTERIOR
Disebut juga neurohipofisa yang merupakan lobus posterior glandula hipofisa dan bagian
dari sistem endokrin. Lobus posterior terutama projeksi neuron ( axon ) yang memanjang dari
supraoptik dan nukleus paraventriculus hipothalamus yang mensekresikan hormon peptida
ke dalam kapiler sirkulasi hipofisa.
Hipofisa posterior terdiri dari 3 komponen, yaitu:
1. Pars nervosa
2. Infundibular stalk
3. Median eminence
Hormon yang secara klinis sebagai hormon hipofisa posterior disintesis oleh hipothalamus.
Hormon tersebut disimpan dan disekresikan oleh hipofisa posterior ke dalam pembuluh
darah. Hormon hormon hopofisa posterior adalah
OKSITOSIN
Oksitosin adalah hormon golongan peptida dengan 9 asam amino. Oksitosin bekakerja pada
stimulasi kontraksi uterus pada saat kelahiran dan stimulasi pelepasan susu ketika foetus
mulai menyusui.
VASOPRESIN ( ANTIDIURETIC HORMON: ADH)
Hormon ini tidak berperan dalam proses reproduksi namun bekarja untuk stimulasi retensi air
atau peningkatan tekanan darah melalui kontraksi arteriole.
HORMON OVARIUM
Pada beberapa tahun lalu, telah dilakukan penelitian bahwa ovarium mensekresikan hormon
steroid yakni estradiol 17 dan pregesteron. Estradiol 17 pertama akli diekstraksi dari cairan
folikel babi. Selain itu ovarium juga mensintesis substansi non-steroid dengan aksi hormonal
seperti pengaruh fungsi sel sel lain. Struktur kimia beberapa hormon tersebut telah
diketahui seperti prostaglandin, relaksin dan oksitoksin. Kehadiran subtansi tersebut
diketahui dari aktivitas biologisnya seperti pada peran inhibin. Sebagian hormon hormon
ovarium disekresikan kedalam pembuluh darah melalui vena ovarium atau sistem limfatik,
sedangkan yang lain terutama beraksi secara lokal ke dalam ovarium.
HORMON INHIBIN
Inhibin adalah hormon glikoprotein yang diproduksi oleh sel sertoli dalam tubulus seminiferus
dari testis hewan jantan dan oleh sel granulosa dari folikel pada ovarium hewan betina.
Sekresi inhibin oleh kedua jenis kelamin hewan ini dapat menghambat pelepasan FSH dari
hipofisa anterior tanpa mempengaruhi pelepasan LH. Ditinjau dari stuktur kimianya inhibin
adalah termasuk hormon glikoprotein dengan BM 32kDa dan mempunyai dua ikatan peptida
yang disebut sebagai subunit alpha dan beta.
Sintesa inhibin terjadi dalam sel sertoli yang ada di dalam tubulus seminiferus pada testis
dan sel granulosa dari folikel ovarium yang diatur oleh hormon-hormon dari hypothalamus
dan hipofisa anterior. Gonadotrophin Releasing Hormon (GnRH) yang dihasilkan dari
hypothalamus bekerja pada sel basofil dari hipofisa anterior untuk mendorong sintesa dan
sekresi gonadotrophin. GnRH berikatan dengan reseptor yang ada di permukaan sel
membran dari sel basoplhil hipofisa anterior. Ikatan tersebut akan mengaktifkan enzim adenil
siklase, suatu enzim yang diperlukan untuk katalisa ATP menjadi cAMP. \ Selanjutnya cAMP
mengaktifkan protein kinase dan mempengaruhi proses fosforilase protein di dalam inti sel

sehingga terjadi transkripsi DNA dan menghasilkan mRNA berjajar di permukaan membentuk
polisom. Transkripsi RNA yang membawa asam amino bergerak menuju ribosom. Asam
amino- asam amino yang dibawa tRNA akan diterjemahkan oleh mRNA melalui proses
transkripsi dan translasi untuk dibentuk protein khusus sesuai dengan kodon-kodon dari
mRNA. Protein yang terbentuk dalam retikulum endoplasmic akan bergerak menuju golgi
aparatus untuk dipadatkan membentuk granula sekretoris. Granula sekretoris bergerak ke
tepi menuju dinding sel membran untuk dikeluarkan isinya menuju peredaran darah.
Pada Hewan Jantan
Pada hewan jantan inhibin dihasilkan oleh sel sertoli pada testes. Inhibinmelalui umpan balik
negatif akan menghambat sekresi FSH dari hipofisa anterior. Sedangkan testosteron yang
dihasilkan oleh sel leydig dibawah pengaruh hormon LH mempunyai mekanisme umpan balik
negatif terhadap hypothalamus dan hipofisa sehingga menghambat sekresi gonadotrophin
oleh hipofisa anterior.
Pada Hewan Betina
Pada hewan betina inhibin dihasilkan oleh sel-sel granulosa dari folikel Ovarium. Inhibin
berfungsi menghambat sekresi FSH melalui mekanisme umpan balik negatif terhadap
hipofisa anterior sedangkan estradiol bekerja sebagai umpan balik positif pada hipothalamus.
Pada permulaan siklus menstruasi pada wanita, sel gonadotrophin hypofisa anterior
merelease FSH. FSH ini kemudian menuju ke ovarium dan berikatan dengan oocyt immature
untuk mengawali maturasinya. Begitu oocyt mature atau folikel memproduksi estrogen, akan
timbul feedback negatif untuk menghambat release FSH, selanjutnya setelah kira-kira 14
hari, satu oocyt akan mature dan merelease lonjakan estrogen terakhir yang menyebabkan
hipofisa gonadotropin memproduksi LH (lutinizing hormon. Lonjakan (spike) LH
menyebabkan folikel ruptur, sehingga menyebabkan produksi estrogen menurun. Sel-sel di
dalam ovarium yang ikut berperan pada awal maturasi folikel dan tetap bertahan sampai
terjadinya ovulasi akan berkembang menjadi struktur yang disebut corpus luteum.
Corpus luteum menghasilkan progesteron yang bekerja sebagai umpan balik negative
terhadap hipothalamus dan hipofisa anterior sehingga FSH dan LH tidak diproduksi oleh
hipofisa anterior dan berakibat pertumbuhan folikel dan proses ovulasi tidak terjadi sampai
pada saat corpus luteum mengalami regresi. Meskipun estrogen merupakan stimulus utama
bagi LH spike, inhibin dipercaya menghambat release sejumlah FSH pada waktu ini,
sehiungga responya menjadi bagus. Selama fase luteal atau periode post ovulasi, level
inhibin meningkat untuk membantu menekan hipofisa merelease FSH. Kemudian ketika level
inhibin menurun pada siklus menstruasi.
Pada tikus inhibin-A rendah pada hari-hari dalam fase metestrus dan meningkat menuju
kadar maksimum pada akhir siklus proestrus. Konsentrasi inhibin akan menurun secara
tajam pada permulaan siklus estrus. Perubahan konsentrasi ini dicerminkan dari observasi
dalam konsentrasi estradiol plasma. Konsentrasi inhibin-A berlawanan dengan inhibin-B yang
mempunyai konsentrasi tinggi pada waktu metestrus, menurun sedikit pada waktu proestrus
dan menurun sedikit pada awal estrus. Penurunan pada kedua jenis inhibin pada awal estrus
bersamaan dengan kadar puncak FSH, konsisten dengan hubungan feedback negatif antara
FSH dan inhibin.
Dalam cairan folikel manusia, konsentrasi inhibin-A sedikit berhubungan dengan diameter

folikel (dan kemudian berkembang), dimana peningkatan konsentrasi inhibin-B menandai


perkembangan folikel. Pada ruminansia, konsentrasi inhibin-A kebanyakan berhubungan
dengan kesehatan folikel. Pada folikel yang regresi atau atresi mengandung lebih banyak
inhibin daripada folikel sehat. Selama siklus menstruasi yang pertama konsentrasi inhibin-A
rendah selama fase folikuler, kemudian bertambah setelah ovulasi dan meningkat mencapai
maksimum selama fase pertengahan luteal. Hal ini sesuai dan konsisten dengan
berkurangnya korelasi antara inhibin-A dengan perkembangan folikel dan diperkirakan
bahwa inhibin- A utama terdapat pada fase luteal yang sebenarnya. Hal ini berlawanan
dengan konsentrasi inhibin-B yang tinggi dalam fase folikuler dan menurun secara progresif
sampai terjadinya ovulasi. Hal ini berlawanan dengan perubahan sekresi estradiol, namun
penurunan yang terjadi dapat dilihat dalam sekresi FSH. Sebuah studi baru-baru ini
melaporkan inhibin dalam darah domba terlihat ada perubahan kecil selama fase folikuler
dan segera menurun diikuti oleh terjadinya ovulasi.
Pada ternak inhibin-A dimeric hanya dapat dihitung dalam plasma pada hewan yang
disuperovulasi. Belum jelas diketahui bagaimana hubungan antara konsentrasi inhibin
dengan bioaktivitasnya karena perbedaan molekuler dari spesies dan juga ada tidaknya
inhibin binding protein dalam plasma. Terdapat dua inhibin binding protein yang utama yaitu
folistatin dan alpha 2-macroglobulin. Alpha 2-macroglobulin mempunyai high capacity
(kapasitas tinggi) namun afinitas binding proteinnya rendah. Sedangkan follistatin
mempunyai afinitas yang tinggi namun kapasitas bindingnya rendah.

HORMON STEROID
Progesteron dan estradiol 17 merupakan hormon steroid utama yang disekresikan oleh
ovarium. Seluruh steroid disintesis dari kolesterol, yang dihasilkan dari asetat didalam sel,
atau ditransportasikan ke dalam plasma darah.
HORMON ESTROGEN
Hormon estrogen merupakan salah satu hormon steroid kelamin, karena mempunyai struktur
kimia berintikan steroid yang secara fisiologik sebagian besar diproduksi oleh kelenjar
endokrin sistem produksi hewan betina. Hewan jantan juga memproduksi estrogen tetapi
dalam jumlah jauh lebih sedikit, fungsi utamanya berhubungan erat dengan fungsi alat
kelamin primer dan sekunder hewan betina.
Hal yang spesifik bagi hormon ini pada hewan betina yang sudah pubertas ialah sekresinya
dari ovarium berlangsung secara siklik dan peranannya yang sangat penting dalam
mempersiapkan kehamilan.
Hormon ini juga berperan dalam proses perubahan habitus seorang hewan betina yang
belum pubertas menjadi hewan betinayang sudah dewasa kelamin, kemudian menjelang
akhir masa reproduksi produksinya mulai menurun dan sekresinya tidak lagi bersifat siklik.
Hormon steroid termasuk ikatan hormon hidrogen, yang mempunyai bermacam-macam
pengaruh yang khas, tergantung dari perbedaan dalam susunan gugus metal, ikatan
rangkap, hidroksi atau kelompok keton. Hormon ini termasuk zat lipofil yang sedikit larut
dalam air.
Pada tahun 1926 Loewe dan Frank pertama kali melaporkan adanya aktifitas estrogen dalam
darah manusia, sedangkan Frank dan Goldberger pada tahun yang sama berhasil

menemukan kondisi double peak selama siklus birahi normal dengan menggunakan teknik
bioassay. Pada tahun 1935 Mac. Corquodale pertama kali mendapatkan kristal estradiol dari
cairan folikuler ovarium dan juga estron ditemukan dalam cairan folikel tetapi dalam jumlah
yang kecil.
Estrogen telah digunakan secara luas pada sapi dan domba sebagai subtansi penyebab
abortus, karena mempunyai aksi leutolitik yang mungkin disebabkan oleh Prostaglandin.
Pada babi, estrogen mempunyai efek luteotropik dan oleh sebab itu digunakan dalam
singkronisasi estrus. Mekanismenya melalui pemeliharaan fase luteal sampai perlakuan
estrogen dihilangkan dan diikuti oleh injeksi prostaglandin yang menyebabkan regresi CL.
Estogen alamiah yang terpenting adalah estradiol (E2), estron (E1), dan estriol (E3). Secara
biologis, estradiol adalah yang paling aktif.
PROGESTERON
Progesteron disekresikan oleh sel sel luteal korpus luteum. Hormon ini juga disekresikan
oleh plasenta dan glandula adrenal. Progesteron ditrasportasikan kedalam darah melalui
ikatan pada globulin seperti androgen dan estrogen. Regulasi sekresi progesteron terutama
distimulasi oleh LH pada hewan domestik.
Progesteron berfungsi menjaga kehamilan dengan cara mempersiapkan uterus untuk
implantasi melalui peningkatan glandula sekretori didalam endometrium dan menghambat
motilitas miometrium. Progesteron beraksi secara sinergik dengan estrogen untuk
menginduksi tingkah laku estrus pada domba dan sapi. Agar progesteron mempunyai efek
terhadap suatu jaringan maka jaringan tersebut pertama kali harus dipengaruhi dan diekspos
terhadap estrogen. Bersama sama dengan estrogen, progesteron menginduksi
perkembangan sistem lobulo alveolar mammae, dan hipertrofi endometrium uterus. Level
tinggi progesteron akan menghambat estrus dan LH surge ovulatori. Oleh karen itu, hormon
progesteron penting dalam regulasi siklus estrus.
Pemberian progesteran dapat mencegah terjadinya abortus pada saat kebuntungan karena
progesteron yang cukup dalam tubuh. Hal ini disebabkan hormon progesteron akan menjaga
kebuntingan. Preparat progesteron juga dapat digunakan dalam penyentakan birahi pada
sekelompok hewan.
HORMON TESTIS
TESTOSTERON
Testosteron adalah hormon steroid dari kelompok androgen. Penghasil utamanya adalah
testis pada jantan dan folikel pada ovarium betina. Baik bagi jantan atau betina, Testosteron
memiliki peranan penting pada kesehatan. Fungsinya adalah meningkatkan libido,fungsi
imun,energi,dan perlindungan dari osteoporosis.
Namun pengaruh testosteron lebih besar bagi hewan jantan. Bagi hewan jantan,testosteron
merupakan hormon seks yang punya peran pentng dalam fungsi seksual,produksi
sperma,pembentukan otot. Rendahnya kadar hormon ini menyebabkan seseorang
mengalami kelelahan kronis,gangguan mortalitas.
Riset membuktikan bahwa hormon testosteron dalam jumlah yang normal sangat penting
untuk mengurangi resiko diabetes dan penyakit kardiovaskular/peredaran darah pada hewan
carnivora.
Kadar testosteron yang normal adalah berada di kisaran 12 nmol/1 sampai 40 nmol/1. Jika

kurang dari itu,maka mengidap sindrom kekurangan testeron

ANDOGEN
Andogen adalah hormon steroid yng berperan dalam merangsang dan pengendalian
pembangunan serta pemeliharaan karakteristik sifat kejantanan dengan meningkatkan
reseptor androgen. Androgen merupakan dasar dari anabolik steroid. Juga menjadi pelopor
dari semua estrogen.