Anda di halaman 1dari 5

Prarancangan Pabrik Amonium Sulfat dari Amonium

Karbonat dan Gypsum


Kegunaan Produk
Pada umumnya, amonium sulfat banyak digunakan sebagai
pupuk untuk memberikan unsur hara nitrogen dan sulfur pada
tanaman pertanian dan perkebunan. Amonium sulfat merupaka
n pupuk yang baik bagi tanaman padi, tanaman jeruk,
tumbuhan-tumbuhan yang merambat, dan terutama dapat
digunakan untuk tanah yang mempunyai pH yang tinggi.
Adapun fungsi dari unsur hara nitrogen dan hara sulfur bagi
tanaman yaitu sebagai berikut :
a. unsur hara nitrogen
membuat tanaman menjadi lebih hijau, segar, dan banyak
mengandung butir hijau daun yang penting dalam
fotosintetis.
mempercepat pertumbuhan tanaman (tinggi, jumlah
anakan, cabang, dan sebagainya).
menambahkan kandungan protein hasil panen.
b. unsur hara sulfur
membuat pembentukan butir hijau daun (chlorophyl),
sehingga daun menjadi lebih hijau.
menambahkan kandungan protein dan vitamin hasil panen.
berperan sebagai sintesa minyak yang berguna bagi proses
pembuahan zat gula.
Di samping digunakan sebagai pupuk, amonium sulfat juga
digunakan sebagai nutrisi penambah kadar nitrog en dalam
proses fermentasi, sebagai campuran cairan pemadam
kebakaran, penyamakan, makanan ternak, termasuk proses
pembuatan makanan (Hal. 726-728, Kirk-Othmer, 1994).
Jenis Proses

Proses produksi amonium sulfat terdir i dari berbagai proses


yaitu, proses netralisasi langsung, proses karbonasi batubara,
proses gypsum (merseburg process), dan proses absorbsi sulfur.
1. Proses Netralisasi Langsung
Proses produksi amonium sulfat dari reaksi amonia dan asam
sulfat disebut dengan proses netralisasi langsung. Panas dari
reak si mampu menguapkan seluruh air jika konsentrasi asam
sulfat 70% atau lebih. Amonium sulfat dibuat dalam suatu unit
netralizer dengan mereaksikan gas amonia dengan asam sulfat
dibawah tekanan vakum yaitu sekitar 5558 mmHg dengan suhu
105C dengan
reaksi sebagai berikut :
2 NH3 (g) + H2 SO4 (aq) > (NH4)2 SO4 (s)
H = -274 kJ/mol (-65,5 kcal/mol)
1994)

(Hal. 726-728, Kirk-Othmer,

2. Proses Karbonasi Batubara


Pada tahun 1920-an, proses karbonas i batubara ini sangatlah
populer di kalangan industri. Namun pada perkemba ngannnya,
proses ini semakin berkurang seiring dengan meningkatnya
instalasi oil-gas proccess dan penggunaan minyak serta gas alam
untuk pemanasan. Di lain pihak, batu bara yang dikarbonasi
tetap digunakan untuk memproduksi amonium sulfat.
Amonium sulfat dapat diproduksi dari batubara dengan 3 cara
yaitu proses
langsung, proses tak langsung, dan proses semi langsung.
a. proses langsung
Dalam proses ini, semua gas yang terbentuk didinginka n
terlebih dahulu untuk menghilangkan sejumlah tar. Kem udian
terjadi reaksi phenosolvan untuk menghilangkan phenol. Amonia
akan dipisahkan dari kondensat dalam CLL (Chemie Linz-Lurgi).
Selanjutnya melewati saturato r bubble (type spray), dimana
reaksi amonia dengan asam sulfat terjad i. Kristal amonium
sulfat yang terbentuk dalam cairan akan turun, kemudian

dipisahkan dan dicuci dalam centrifuge lalu dikeringkan. Kristal


kering yang dihasilkan dikirim lewat conveyor untuk disimpan.
Berikut dapat dilihat blok diagram pembuatan amonium sulfat
dengan proses langsung :

b. proses tak langsung


Pada proses ini, gas panas dari ov en didinginkan dengan
resirkulasi cairan pencuci dan air scrubbing . Campuran cairan
kemudian dipanaskan dengan steam dalam kolom stripper tipe
bubble untuk melepaskan amonia bebas dalam senyawa garam
seperti amonium karbonat dan amonium sulfit. Sebagian cairan
dalam kolom stripper kemudian ditambahkan dengan larutan
kapur untuk menguraikankomponen garam seperti amonium
klorida. Steam lewat melalui kolom kedua distripping dengan
amonia dan cairan kemudian dicampur dengan uap
dan diperoleh amonia mentah yang selanjutnya diubah menjadi
amonium sulfat dalamsaturator kristaliser.
Berikut dapat dilihat blok diagram pembuatan amonium sulfat
dengan
proses tak langsung :

3. Proses Merseburg
Proses produksi amonium sulfat dengan proses Merseburg
pertama sekali dilakukan di Inggris pada tahun 1951 da n di
India pada tahun 1967. Proses ini merupakan reaksi antara
amonium ka rbonat dengan gypsum. Proses ini masih digunakan
di berbagai negara dimana suplay gypsum tersedia dalam jumlah
besar seperti Inggris, Prancis, Jerman dan India.
Reaksi yang terjadi ad alah sebagai berikut :
2NH3 + CO2 + H2O <-> (NH4)2CO3
(NH4)2CO3 + CaSO4.2H2O > (NH4)2 SO4 + CaCO3 +
2H2O
Larutan amonium karbonat jenuh digunakan dalam proses yang
dibuat dengan cara melarutkan karbondioksida dala m larutan
amonium hidroksida. Karbondioksida tersedia sebagai hasil
samping pembakaran hidrokarbon. Konversi pada reaksi kirakira 95% sesudah lima jam, jika gypsum bereaksi sempurna dan
suhu reaksi dijaga pada 70 oC. Campuran reaksi difilter untuk

memisahkan kalsium karbonat yang terbent uk dari larutan


amonium sulfat (Hal. 726-728, Kirk-Othmer, 1994).
4. Proses Absorbsi Sulfur
Amonium sulfat dapat dibuat dengan me ngabsorbsi gas sulfur
pada pelarut organik dan menghasilkan sulfit atau kaya liquor
dengan udara untuk memproduksi sulfat. Kemudian ditambahkan
amonia untuk menghasilkan amonium sulfat. Setelah itu
dipisahkan dari solventnya, di centrifugasi dan dikeringkan
kemudian di bagging. Solvent yang digunakan biasanya adalah
xylidine atau monomethyanilin.
Banyak cara diperkenalkan selama beberapa tahun untuk proses
pembuangan gas sulfur ke udara untuk dimanfaatkan dalam
pembuatan amonium sulfat. Proses ini akan menjadi lebih
ekonomis di masa depan karena akan membantu mengurangi
tingkat emisi polusi. Pada proses ini ditemukan teknik
engurangan kadar sulfur dengan biaya yang rendah untuk unit
yang kecil. Proses ini meliputi reaksi larutan amonia dengan
sulfur dioxide dalam reaktor kristalizer untuk membentuk kristal
amonium sulfit. Gas yang tidak bereaksi dibuang keudara.
Tahapan reaksinya adalah sebagai berikut :
2NH3 + SO2 + H O > (NH4)2SO3
(NH4)2O3 + O >2(NH4)2SO4
Reaksi yang terjadi berada pada tekanan 0,15 atm dan suhu
200450 0C menggunakan katalis V2O5. Amonium Sulfit kristal
dicentrifuge dari kristaliser dan dioksidasi menjadi amonium
sulfat dalam rotary dryer (Hal. 726-728, Kirk-Othmer, 1994).