Anda di halaman 1dari 12

• Definisi Riset Media

• Fungsi Riset Media


• Kegunaan Riset Media
• Contoh – contoh Riset Media
• Definisi Riset Media
Adalah Ilmu yang berusaha atau meneliti atas suatu masalah yang ada dan dapat
dilihat dari media.
Sumber : Catatan Pa.Kunto
Sedangkan Kata media berasal dari bahasa latin Medius yang secara harafiah berarti
tengah, perantara, atau pengantar. namun penegertian media dalam proses
pemebelajaran cenderung diartikan sebagai alat-alat grafis, fotografis atau
elektronis untuk menagkap, memproses, dan menyusun kembali informasi visual atau
verbal.
A. Riset Eksploratoris
Riset eksploratoris adalah riset yang memiliki tujuan untuk mendapatkan
keterangan, wawasan, pengetahuan, ide, gagasan, pemahaman, dan lain sebagainya
sebagai upaya untuk merumuskan dan mendefinisikan masalah, menyusun hipotesis,
serta dapat dilanjutkan dengan riset lanjutan yang lebih advance.
Sifat-sifat riset exploratory :
- hasil riset bersifat tentatif
- bertujuan untuk lebih memahami akar permasalahan
- dapat dilanjutkan dengan riset lanjutan yang lebih serius
- proses riset tidak terstruktur rapi
- analisa data primer dengan sampel yang kecil
- Informasi dasar berdifat fleksibel
Contoh riset eksploratoris :
- Interview atau wawancara secara mendalam
- FGD / focus group discussion / diskusi berkelompok
- studi kasus yang pernah terjadi
- Analisa data sekunder
- Survey ke para ahli
B. Riset Konklusif
Riset konklusif adalah jenis riset di mana tujuan utama menguji suatu hipotesis
atau hubungan tertentu.
Sifat-sifat riset exploratory :
- hasil riset bersifat konklusif
- bertujuan untuk menguji suatu hubungan atau hipotesis
- Hasil riset biasanya digunakan untuk pengambilan keputusan
- proses riset formal serta terstruktur rapi
- analisa data kuantitatif dengan sampel yang besar
- Informasi dasar yang dibutuhkan telah siap
Conclusive Research dapat dibagi menjadi dua macam, yakni :
1. Riset Deskriptif
Riset deskriptif adalah riset yang bertujuan untuk menggambarkan atau
mendeskripsikan suatu karakter / karakteristik atau fungsi dari sesuatu hal. Dalam
riset ini diperlukan informasi lengkap 6W yaitu why, when, who, what, where dan
way. Contoh riset deskriptif adalah seperti bagaimana persepsi konsumen terhadap
pelayanan telepon seluler fren mobile-8.
2. Riset Kausal
Riset kausal adalah riset yang bertujuan untuk menentukan hubungan dari suatu
sebab akibat / causal dari suatu hal. Contohnya seperti bagaimana hubungan antara
harga bbm / bahan bakar minyak terhadap jumlah pengguna sepeda motor.
Pengertian Penelitian:
Penelitian adalah istilah Indonesia yang merupakan terjemahan dari kosakata
research (bhs Inggris), yang diindonesiakan dengan riset. Re bermakna kembali,
sedangkan search bermakna mencari. Research secara literal berarti mencari
kembali.
Menurut kamus Webster`s New International:
Penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan
prinsip-prinsip suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu.
Menurut Hillway (1956):
Penelitian adalah suatu metode studi yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan
yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah, sehingga diperoleh pemecahan
yang tepat terhadap masalah tersebut; “a method of study by wich through the
careful and exhaustive investigation of all acertainable evidence bearing upon a
definable problem, we reach a solution to that problem”.
Whitney (1960) mengutip beberapa definisi:
* Penelitian adalah pencarian atas sesuatu (inquiry) secara sistematis dengan
penekanan bahwa pencarian ini dilakukan terhadap masalah-masalah yang dipecahkan
(Parsons, 1946).
* Penelitian adalah transformasi yang terkendalikan atau terarah dari situasi yang
dikenal dalam kenyataan-kenyataan yang ada padanya dan hubungannya (Dewey 1936).
* Penelitian merupakan sebuah metode untuk menemukan kebenaran yang juga merupakan
sebuah pemikiran kritis (critical thinking). Penelitian meliputi pemberian
definisi dan redefinisi terhadap masalah, memformulasikan hipotesa atau jawaban
sementara, membuat kesimpulan dan sekurang-kurangnya mengadakan pengujian yang
hati-hati atas semua kesimpulan untuk menemukan apakah ia cocok dengan hipotesis
(Woody, 1927)
Lalu Whitney menyimpulkan:
Disamping untuk memperoleh kebenaran, kerja menyelidik harus pula dilakukan secara
sungguh-sungguh dalam waktu yang lama. Dengan demikian, penelitian merupakan suatu
metode untuk menemukan kebenaran, sehingga penelitian juga merupakan metode
berpikir secara kritis.
Ciri-ciri penelitian menurut Gee (1957):
1. adanya suatu pencarian, penelidikan atau investigasi terhadap pengetahuan baru,
atau sekurang-kurangnya sebuah pengaturan baru atau interpretasi (tafsiran) baru
dari pengetahuan yang timbul.
2. pandangan harus kritis dan prosedur harus sempurna
3. aktifits lebih banyak tertuju pada pencarian (search) daripada suatu pencarian
kembali
Kesimpulan Mohammad. Nazir:
Penelitian adalah sebagai pencarian pengetahuan dan pemberiartian yang terus-
menerus terhadap sesuatu.
Menurut Winarno Surakhmat:
Penelitian adalah kegiatan ilmiah mengumpulkan pengetahuan baru dari sumber-sumber
primer, dengan tekanan tujuan pada penemuan prinsip-prinsip umum, serta mengadakan
ramalan generalisasi di luar sampel yang diselidiki.
• ]Fungsi Riset Media
? Planning
? Evaluasi
? Segmentasi
Sumber : Catatan Pa.Kunto
Riset Media Online
Internet sudah lama dikenal di negeri kita. Tapi percaya atau tidak, belum pernah
ada satu lembaga independen yang mulai mendata beragam hal yang berhubungan dengan
dunia online. Riset yang paling mendasar mungkin bisa didapat dari APJII. Dari
sini kita setidaknya bisa mengetahui jumlah penggunainternet di Indonesia. Namun
itu pun, hanya bersifat estimasi yang dilakukan pada tahun 2005.
Terkait dengan semakin banyaknya brand yang berkampanye online, seharusnya ada
hal-hal yang bisa dipelajari lebih lanjut dari setiap kampanye tersebut.
Sayangnya, belum ada lembaga independen yang memulai riset tentang hal ini. AC
NielsenIndonesia pun belum pernah melakukannya. Fokus mereka saat ini masih pada
media cetak dan elektronik.
Apa yang dilakukan banyak produsen dan agency di Indonesia dengan beragam kampanye
online-nya umumnya dilakukan sebatas trial and error. Dalam setiap aktivitas
kampanye online-nya, yang jadi patokan adalah pengalaman dari sebelumnya. Kalau
dulu program kampanyenya seperti ini, maka hasilnya seperti ini. Kalau misalnya
dilakukan dengan cara yang berbeda, hasilnya pun jadi seperti ini. Tidak ada tolak
ukur yang sama dalam setiap pengukurannya.
Setiap produsen dan agency menjaga kerahasiaan datanya masing-masing. Hal ini pula
yang menyulitkan standarisasi pengukuran. Di sinilah sebenarnya lembaga riset
independen dibutuhkan. Seharusnya lembaga seperti AC Nielsen sudah memiliki metode
pengukurannya, karena AC Nielsen di US pernah melakukan riset seperti ini
sebelumnya. Mereka tinggal mengadaptasinya dengan kebutuhan lokal diIndonesia.
Kemajuan aktivitas online di Indonesia tidak akan lepas dari riset dan data
pendukung. Sebagai contoh, secara gamblang mungkin kita bisa menebak aktivitas
yang paling sering dilakukan penggunainternet di Indonesia. Namun, karena tidak
didukung dengan data yang valid, agak susah bagi kita untuk meyakinkan para calon-
calon produsen dan investor betapa pentingnya mereka berinvestasi dalam aktivitas
di dunia maya.
Terlepas dari belum adanya lembaga independen yang memulai riset di dunia online,
siapa tahu ada rekan-rekan mahasiswa yang baru saja melakukan penelitian tugas
akhir seputar dunia online? Apapun itu risetnya, ada baiknya kalau bisa kita
pelajari bersama. Jadi, jika ada rekan-rekan yang pernah melakukan riset online
dalam bentuk apapun, sekiranya berbaik hati untuk mengirimkannya ke Media Ide.
Nanti akan dibuatkan PDF-nya, dan akan ditaruh di halaman download.
Studi Riset Media elektronik terbagi dalam dua kategori utama:
• Riset rating dan
• Riset nonrating.

Riset Rating:
Ketika radio mulai populer pada 1920-an, dan para pengiklan mulai melihat
potensinya untuk menarik pelanggan, mereka menghadapi problem untuk mengukur
jumlah audience. Berbeda dengan media cetak, yang memiliki angka sirkulasi yang
jelas, media elektronik tak punya data penonton yang memadai, kecuali angka
perkiraan. Surat sukarela dari pendengar radio adalah sumber data pertama, namun
sukarelawan jelas tidak mewakili audience umum.
Dari sinilah, mulai dikenal studi rating dengan pengambilan sample dari audience.
Studi rating ini untuk waktu-waktu mendatang masih akan terus digunakan, namun ada
beberapa hal mendasar yang perlu diketahui tentang sistem rating:
Rating hanyalah pendekatan atau perkiraan dari ukuran jumlah audience. Rating ini
tidak mengukur kualitas program atau pendapat tentang program.
Rating tidak bisa dijadikan bahan pegangan secara sama. Perusahaan pengukur rating
yang berbeda bisa menghasilkan angka rating yang berbeda, untuk pasar yang sama
pada periode waktu yang sama.
Riset Non-Rating:
Meskipun audience rating adalah data riset yang paling mencolok digunakan oleh
media siaran, stasiun siaran, rumah produksi, pengiklan dan konsultan siaran
menggunakan juga berbagai metodologi lain.
Riset Non-Rating memberikan informasi tentang apa yang disukai dan tidak disukai
oleh audience, menganalisis berbagai jenis pemrograman, serta info demografi dan
gaya hidup audience, dan banyak lagi.
Semua informasi ini dimaksudkan untuk membekali para pengambil keputusan di
industri media dengan informasi, yang dapat menghapus “pendekatan kira-kira.”
Riset non-rating memang tidak bisa memecahkan semua persoalan yang dihadapi pihak
penyiaran, namun bisa digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.
Program Testing:
Salah satu cara Riset Non-Rating adalah Pengujian Program (program testing). Riset
saat ini telah menjadi bagian yang diterima dalam pengembangan dan produksi
program serta iklan komersial. Sudah menjadi praktik umum untuk menguji produksi
ini di setiap tahapan berikut.
Karena program yang besar dan komersial biasanya sangat mahal, maka producer dan
sutradara berminat untuk mengumpulkan reaksi awal terhadap proyek yang
direncanakan. Adalah konyol, untuk menghabiskan banyak uang bagi proyek-proyek
yang hanya akan menarik sedikit audience.
Satu cara untuk mengumpulkan data awal adalah membuat pernyataan pendek yang
merangkum penjelasan tentang program atau iklan komersial tertentu, dan
menunjukkannya pada subjek. Subjek dimintai opininya tentang gagasan program itu,
serta apakah mereka berminat menontonnya atau mau membeli produk berdasarkan
informasi singkat tersebut. Hasilnya bisa menjadi indikasi, apakah program atau
komersial itu akan sukses atau tidak.
Jika di tingkat gagasan ini diterima atau dianggap baik, dibuatlah suatu model
atau simulasi. Perangkat keras media ini sering disebut sebagai rough cuts,
storyboards, photomatics, animatics, atau executions. Rough cut adalah produksi
yang sangat sederhana (simplistik), biasanya menggunakan aktor amatir, dengan
sedikit atau tanpa editing sama sekali, dan perangkat set seadanya. Model lain
adalah foto, gambar atau scene yang dirancang untuk memberikan gagasan dasar dari
program atau komersial tersebut bagi siapa saja yang ingin melihatnya.
Rough cut itu diuji, dengan biaya produksi yang tidak mahal. Pengujian ini memberi
informasi tentang naskah (script), karakterisasi, hubungan karakter, setting,
pendekatan sinematik, dan daya tarik keseluruhan. Tahapan ini umumnya tidak
langsung bisa memberitahu apanya yang salah, jika ternyata daya tariknya kurang,
tapi paling tidak bisa memberi indikasi jika ada sesuatu yang salah.
Tahapan berikut, ketika produk akhir sudah jadi, riset pasca produksi (post-
production research) bisa dilakukan. Produk yang sudah selesai ini dites di teater
mini, atau di pusat perbelanjaan, di tempat tinggal subjek, atau lewat telepon
(dalam hal iklan radio).
Riset ini, misalnya, bisa menyimpulkan bahwa ending suatu program tak bisa
diterima audience, dan harus diedit ulang atau pengambilan gambar ulang. Banyak
problem yang tadinya tidak terlihat selama proses produksi mungkin bisa diketahui
pada riset pasca produksi. Data ini biasanya memberikan data reaksi awal audience
kepada producer, untuk menyelesaikan tuntas atau menyelesaikan sebagian dari
produk itu.
Sumber – sumber :
• Dirangkum dari berbagai sumber oleh: Satrio Arismunandar
• Catatan Pa.Kunto
• Internet tentang riset media
• Wikipedia
• Kamus besar Bahasa Indonesia

Menentukan Target Audience

Masing-masing suatu perencanaan Media Iklan perlu ketepatan. Semakin tepat


penentuan targetnya semakin efektif pesannya dan penempatan medianya.
Kecenderungan pemasaran sekarang , justru banyak menganjurkan untuk memilih pasar
dan menghasilkan produk yang sangat khusus untuk segment pasar yang khusus pula.
Dengan kata lain kecenderungan sekarang adalah niche marketing (pemasaran yang
diarahkan kepada yang spesifik).

Sistem perumusan target audience yang umum dilaksanakan di Advertising Agency:


- Demografi/ Sosio Ekonomi
+ Semua orang dewasa
+ Laki-laki/ wanita
+ Ibu rumah tangga
+ Anak-anak
+ kelompok umur
+ Menggunakan kelompok umur
- Tingkatan Sosial
+ A
+ B
+ C1
+ C2
+ D
+ E
- Wilayah
+ Menurut wilayah TV
+ Propinsi
+ Wilayah menurut organisasi riset pemasaran
+ Negara
- Pendapatan Rumah tangga
- Tahapan menurut kehidupan
- Tahapan menurut tahap kehidupan social
+ Hidup bergantung
+ Mandiri tetapi belum berkeluarga
+ hidup berkeluarga
+ Usia Senja
- Pengelompokkan menurut Geodemografis
+ Penghuni daerah pertanian
+ Keluarga modern dengan pendapatan tinggi
+ Penghuni rumah kuno, status menengah
+ Penghuni wilayah kelas tinggi tanpa keluarga
+ Penghuni wilayah pinggiran kota yang kaya
+ dan lain-lain
- Pengelompokkan menurut gaya hidup (contoh psikografis atau geodemografis)
+ Para pensiunan yang kaya
+ Keluarga-keluarga di tangsi
+ Penduduk desa
+ Para penghuni di apartemen atau flat
+ dan lain-lain.

Intensitas dan Pembobotan

Efek Pareto: Tidak semua konsumen sejenis dan sama, dengan kata lain kategori
produk dan TA memiliki :
- bukan pengguna
- pengguna ringan
- pengguna menengah
- pengguna berat

Sub Market
Kadang-kadang pasar justru bukan pasar yang semula diduga melainkan terdiri dari
berbagai pasar kedua.
Contoh : Penjualan mobil
Dapat terurai sebagai berikut ,
- pembeli pribadi
- perusahaan yang membutuhkan armada
- persewaan mobil
- pengemudi taksi
- polisi
- dll.

Daftar Periksa Penentuan Target

- Siapa Pelanggan
- Dimana mereka berada
- Bagaimana basis pelanggan (ukuran frek. Penggunaan, pembelian)
- Siapa sesungguhnya pengguna barang
- Siapa sebenarnya pembeli produk
- Siapa yang memutuskan pembelian
- Bagaimana proses pembelian
- Bagaimana proses pengambilan keputusan pembelian
- Seperti apa jenis pelanggan dan perbedaannya.
- Deskripsi pelanggan
- Berapa jenis pelanggan
- Bagaimana unsur pasar berkembang

One of behavioral marketing's biggest challenges is properly identifying specific


members of a given target audience. Yet this is fundamental to the way
behaviorally targeted online advertising works. Observe behavior. Identify a
profile. Match the ad to a profile.
You don't have to a mind like Linnaeus to run behaviorally targeted advertising.
All you need are some ideas about what makes your audience's behavior special to
them.
"In today's marketplace, the opportunities for marketers to buy valuable audiences
-- like in-market auto buyers, SMB owners, and technology enthusiasts -- have
become more scarce than ever," says Ross Sandler of (Revenue Science.
"Fortunately, today's behavioral marketing solutions allow marketers to precisely
identify these users and expand reach against them utilizing a number of
techniques."
An instructive example comes via recent discussions I've had with agency media
planners, media owners, and behavioral targeting service providers about different
ways to target SMB (define) executives.
Three approaches to identifying and targeting SMB behavior:
• A media owner can set up several purpose-specific pages of SMB content. For
example, pages could feature entrepreneurs or high-growth companies. Ads can then
be matched to users fitting a profile such as "two-plus visits to two different
SMB articles."
• An advertiser can supply a list of keywords that would identify interesting
content for SMBs, such as "grow business" or "cost savings." Users who read
articles with these words over a period of, say, three months can be identified.
Ads can then be matched to those users. If the campaign includes paid search, the
keyword list probably exists already.
• The publisher or behavioral targeting service provider could infer visitor
information from IP addresses and look to include (or not) based on this
information. For example, the publisher screens for "business users and not
Fortune 500."
None of the above ideas requires media owners to regularly publish content for
SMBs. All imply a good deal of collaboration between the advertiser/agency, online
publisher, and behavioral targeting service provider.
For the purpose of this discussion, I've set aside the problems everyone in the
marketplace faces when defining SMBs: should they be defined by annual revenue,
number of employees, or something else? They're somewhat irrelevant at this level.
Your takeaway is this: there are good ways to target an audience that aren't
limited to placing ads in or around relevant content.
Certainly, content targeting continues to work well for advertisers. In cases when
regularly published and directly relevant content isn't available, behavioral
targeting can offer a variety of helpful workarounds.

Teknik di dalam mencari berita secara antara lain sebagai berikut :


1. Observasi
Secara sederhana observasi merupakan pengamatan terhadap realitas social. Ada
pengamatan langsung, ada juga pengamatan tak langsung. Seseorang disebut melakukan
pengamatan langsung bila ia menyaksikan sebuah peristiwa dengan mata kepalanya
sendiri. Pengamatan ini bisa dilakukan dalam waktu yang pendek dan panjang. Pendek
artinya, setelah melihat sebuah peristiwa dan mencatat seperlunya, seseorang
meninggalkan tempat kejadian untu menulis laporan. Misalnya: peristiwa kecelakaan
lalu lintas. Sedangkan panjang berarti seseorang berada di tempat kejadian dalam
waktu yang lama. Bahkan ia menulis laporan dari tempat kejadian. Contoh:peristiwa
bencana alam.

Seseorang disebut melakukan pengamatan tidak langsung bila ia tidak menyaksikan


peristiwa yang terjadi, melainkan mendapat keterangan dari orang lain yang
menyaksikan peristiwa itu. Misalnya: peristiwa penemuan mayat suami-istri di
sebuah rumah. Si Bujang mendapat informasi bahwa di jalan Melati No. 24 ditemukan
mayat sepasang suami-istri. Ia bergegas ke daerah itu. Sesampai di sana, ia masih
melihat epasang mayat tersebut. Kalau ia kemudian mendapatkan data tentang siapa
yang meninggal dunia, kapan dan kenapa meninggal dunia, data itu merupakan hasil
pengamatan tidak langsung.Pengamatan di sini tidak sama persis dengan pengamatan
seorang peneliti. Seseorang peneliti melakukan pengamatan berdasarkan konsep dan
hipotesis. Hasilnya, biasanya dilaporkan dengan disertai pemecahan masalah ala
mereka. Sedangkan seorang pekerja pers melakukan pengamatan untuk melaporkan
kejadian sebuah peristiwa apa adanya.
2. Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab antara seorang wartawan dengan narasumber untuk
mendapatkan data tentang sebuah fenomena (Itule dan Anderson 1987:184). Dalam hal
ini, yang perlu diperhatikan adalah:

a. Posisi narasumber dalam wawancara


Posisi narasumber dalam sebuah wawancara adalah ibarat posisi pembeli dalam sebuah
transaksi dagang, yaitu sebagai ?raja?. Semua keinginan narasumber harus dipenuhi
oleh wartawan. Karena itu, sebelum melakukan wawancara, wartawan harus menanyakan
keinginan
narasumber. Sebelum itu, wartawan harus memperkenalkan secara langsung jati
dirinya dan untuk siapa ia bekerja kepada narasumber. Tahap-tahap ini, menurut
prinsip etika jurnalistik yang umum, harus ditempuh oleh setiap wartawan sebelum
melakukan wawancara dengan narasumber, terlepas dari narasumber mengetahui cara
kerja jurnalisme atau tidak.

Terdapat beberapa hal mendasar yang perlu ditanyakan kepada


narasumber, misalnya:

• Apakah narasumber tidak keberatan bila kalimatnya dikutip secara langsung?

• Apakah narasumber tidak berniat namanya dirahasiakan dalam sebagian hasil


wawancara?

• Apakah narasumber memiliki keinginan lain yang berkaitan dengan hasil wawancara?

Bila wartawan sudah mengetahui jawaban ketiga pertanyaan ini ditambah dengan
keinginan narasumber lain, maka terpulang kepada wartawan bersangkutan untuk
segera memenuhinya atau bernegosiasi terlbih dahulu.

Bernegosiasi dengan narasumber bukanlah pekerjaan yang haram. Wartawan boleh


bernegosiasi tidak berlangsung di bawah tekanan pihak tertentu (ada dugaan
wartawan yang handal sering melakukan negosiasi dengan narasumber). Kesepakatan
yang dicapai berdasarkan negosiasi, biasanya, lebih memuaskan kedua belah pihak.
Terlepas dari cara pencapaian kesepakatan, kesepakatan ini perlu dicapai sebelum
melakukan wawancara (tidak ada salahnya wartawan juga merekan kesepakatan yang
sudah dicapai. Rekaman ini bisa dijadikan bukti bila kelak ada pihak yang protes
terhadap keberadaan wawancara tersebut). Berdasarkan kesepakatan inilah seharusnya
wawancara berlangsung.

Setelah wawancara selesai, wartawan perlu menanyakan kembali kepada narasumber,


apakah narasumber masih setuju dengan kesepakatan yang sudah dibuat? Wartawan juga
perlu meyakinkan narasumber bahwa tidak akan terjadi penyesalan di kemudian hari
atas segala akibat kesepakatan yang sudah dibuat.

Dalam pandangan sebagian kecil wartawan, pelaksanaan tahap-tahap wawancara


tersebut di atas menghambat kelancaran kerja mereka. Karena itu, mereka enggan
melakukannya. Tetapi, bagi mereka yang pernah ketanggor, pelaksanaan tahap-tahap
itu menjadi satu keharusan.

b. Posisi wartawan dalam wawancara


Sebagian besar individu akan merasa sangat senang bila diwawancarai wartawan.
Menurut mereka, bila hasil wawancara tersebut disiarkan kepada khalayak, nama
mereka juga akan dikenal khalayak. Semakin sering mereka diwawancarai wartawan,
semakin populerlah mereka. Individu-individu model begini akan selalu bersikap
manis kepada wartawan. Tidak heran bila wartawan berada ?di atas angin? ketika
berhadapan dengan mereka.

Lalu, dimana posisi wartawan yang sebenarnya? Kedudukan wartawan adalah penjaga
kepentingan umum. Para wartawan berhak mengorek informasi yang berkaitan dengan
kepentingan umum dari narasumber. Mereka bebas menanyakan apa saja kepada
narasumber untuk menjaga kepentingan umum. Posisi inilah yang menyebabkan mereka
mendapat tempat di hati khalayak. Kendati begitu, para wartawan, seperti
dinyatakan oleh Jeffrey Olen, harus menghormati keberadaan narasumber. Mereka
haurs mengakui bahwa narasumber adalah individu yang bisa berpikir, memiliki
alasan untuk berbuat dan mempunyai keinginan-keinginan (Olen 1988:59). Akibatnya,
para wartawan harus memperlakukan narasumber sebagai individu yang memiliki
otonomi dan bebas mengekspresikan segala keinginannya. Kalau pada satu saat
narasumber keberatan hasil wawancaraya disiarkan, maka wartawan harus menghormati
keinginan ini dan tidak menyiarkannya.

Menurut para ahli, terdapat tujuh jenis wawancara, yaitu man in the street
interview, casual interview, personal interview, news peg interview, telephone
interview, question interview dan group interview (Itule dan Andersin 1987:207-
213). Operasionalisasinya begini:

Man in the street interview


Wawancara yang dilakukan untuk mengumpulkan pendapat beberapa orang awam mengenai
sebuah peristiwa, bisa menyangkut satu keadaan dan bisa pula tentang sebuah
kebijaksanaan baru. Biasanya wawancara ini diperlukan setelah terjadinya sebuah
peristiwa yang sangat penting.

Casual interview
Sebuah wawancara mendadak. Dalam hal ini seorang wartawan minta kesediaan seorang
narasumber untuk diwawancarai. Si wartawan berbuat begitu karena ia bertemu dengan
narasumber yang dianggapnya punya informasi yang perlu dilaporkan kepada khalayak.

Personal interview
Merupakan wawancara untuk mengenal pribadi seseorang yang memiliki nilai berita
lebih dalam lagi. Hasilnya, biasanya berupa profil tentang orang bersangkutan.
News peg interview Wawancara yang berkaitan dengan sebuah laporan tentang sebuah
peristiwa yang sudah direncanakan. Wawancara inisering juga disebut information
interview.

Telephone interview
Wawancara yang dilakukan lewat telepon. Ini biasanya dilakukan wartawan kepada
narasumber yang sudah dikenalnya dengan baik dan untuk melengkapi sebuah berita
yang sedang ditulis. Dengan perkataan lain, seorang wartawan memilih jenis
wawancara memilih jenis wawancara ini karena ia dalam keadaan terdesak.

Question interview
Wawancara tertulis. Biasanya dilakukan seorang wartawan yang sudah mengalami jalan
buntu. Setelah ditelepon, didatangi ke rumah dan ke kantor, si wartawan tidak bisa
bertemu dengan anrasumber, maka ia memilih wawancara jenis ini.

Keuntungan wawancara ini adalah: Informasi yang diperoleh lebih jelas dan mudah
dimengerti.

Kelemahannya adalah: wartawan tidak bisa mengamati sukap-sikap pribadi narasumber


ketika manjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan.

Group interview
Wawancara yang dilakukan terhadap beberapa orang sekaligus untuk membahas satu
persoalan atau implikasi satu kebijaksanaan pemerintah. Setiap orang memiliki
kesempatan yang sama untuk berbicara. Contohnya adalah acara ?Pelaku dan
Peristiwa? TVRI.

Semua jenis wawancara tersebut di atas akan terlaksana dengan baik bila dipenuhi
teknik-teknik berikut:

• Menggunakan daftar pertanyaan yang tersusun baik, yang sudah disiapkan lebih
dulu;

• Memulai wawancara dengan pertanyaan-pertanyaan yang ringan;

• Mengajukan pertanyaan secara langsung dan tepat;

• Tidak malu bertanya bila ada jawaban yang tidak dimengerti; dan

• Mengajukan pertanyaan tambahan berdasarkan perkembangan wawancara.

3. Konferensi Pers
Pernyataan yang disampaikan seseorang yang mewakili sebuah lembaga mengenai
kegiatannya kepada para wartawan. Biasanya menyangkut citra lembaga, peristiwa
yang sangat penting dan bersifat insidental. Tetapi, tidak jarang bersifat
periodik, seperti konferensi pers Menteri Luar Negeri, yang berlangsung seminggu
sekali. Pada setiap konferensi pers, setiap wartawan memiliki hak yang sama untuk
mengajukan pertanyaan kepada orang yang memberikan konferensi pers. Umumnya, lalu
lintas informasi dalam konferensi pers dilakukan lewat dialog langsung. Tetapi,
ada juga konferensi pers yang menggunakan informasi tertulis yang dibagikan kepada
para wartawan. Untuk melengkapi informasi tersebut, para wartawan diberi
kesempatan untuk bertanya.

4. Press Release
Bisa diartikan sebagai siaran pers yang dikeluarkan oleh satu lembaga, satu
organisasi atau seorang individu secara tertulis untuk para wartawan. Ia mewakili
kepentingan lembaga, organisasi atau individu. Itulah sebabnya media massa cetak
yang besar, seperti ?Kompas? tidak mau memuat siaran pers ini. Tidak ada keharusan
bagi wartawan untuk memuat siaran pers ini. Juga tidak ada kesempatan bagi para
wartawan untuk bertanya kepada pihak yang mengeluarkan siaran pers tentang siaran
pers. Inilah yang membedakannya dengan konferensi pers. Tegasnya, pada press
release tidak ada tanya jawab dengan wartawan dan narasumber. Sedangkan pada
konferensi, ada.
Bagaimana mengantisipasi perubahan pola konsumen? Mungkin sudah saatnya perusahaan
harus meninjau ulang penampilan produk, atau mengatur kembali mata rantai
distribusi, atau mengubah kedua-duanya. Kunci pemasaran terletak pada tiga faktor
ini: pengamatan trend secara cermat, antisipasi terhadap setiap perubahan, dan
bertindak tepat waktu. (Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus
tentang manajemen pemasaran, silakan KLIK DISINI ).
Umumnya perusahaan kecil gagal mencapai target pasar oleh karena pemilik dan para
manajer tidak jeli atau bahkan tidak sadar akan kelemahan produk barang dan jasa
yang dihasilkannya. Taruhlah mereka sempat mengetahui itu, tapi biasanya tidak
mendeteksinya secara dini. Sebuah produk segera melemah apabila ia tidak lagi
memenuhi selera pasar, atau tidak sanggup mengimbangi preferensi konsumen atau
kemauan pelanggan yang berubah.
Pada hematnya, untuk mampu mempertahankan produk barang atau jasa supaya tetap
diminati konsumen terletak pada kepekaan menengok ke belakang untuk memandang ke
depan. Ujilah apa saja yang sudah dilakukan di waktu-waktu lalu hingga detik ini
untuk bisa mengetahui kelemahan dan kekuatan pemasaran. Lihatlah ke depan dan
rencanakan perubahan seperlunya untuk menanggulangi kelemahan-kelemahan tadi, dan
sebaliknya dari situ bisa lebih mempertajam keunggulan.
Daya jual produk harus selalu diuji setiap periode tertentu untuk mengetahui
seberapa besar ia masih menimbulkan kepuasan. Mulailah pengujian dengan
menggunakan grafik penjualan selama periode beberapa bulan terakhir sebagai
perangkat. Biaya-biaya penjualan harus pula ditelusuri. Walaupun tingkat penjualan
menanjak sepanjang tahun yang baru lewat, namun berbahaya bila berasumsi bahwa itu
merupakan indikasi tidak adanya unsur-unsur yang melemahkan.
Bila pun terjadi kecenderungan menurun, hati-hati, dan jangan menganggap itu hanya
penurunan rutin karena bulan-bulan penjualan sedang sepi. Mungkin saja masa
perputaran produk (product life cycle) memang sudah waktunya menukik. Jika
demikian perlu segera dipikirkan tindakan inovasi atau perombakan produk baik
kualitas, penampilan, harga, desain, ataupun cara-cara pelayanan.
Ujilah produk dengan mencari jawaban atas beberapa pertanyaan di bawah ini:
• Apakah terjadi “penurunan” persentase dalam kenaikan penjualan sekarang ini?
(Misalnya, kenaikan hanya 5% dibanding 10% tahun sebelumnya). Apa penyebabnya?
Andaikan levelnya sama dengan tahun kemarin, lihat pertumbuhan saingan sebagai
barometer. Bisa juga pembaca trend pertumbuhan ekonomi lingkungan; kalau
pertumbuhannya lebih besar dari rata-rata sales perusahaan, berarti ada sesuatu
yang salah.
• Apakah wilayah pemasaran sekarang sudah jenuh? Jika belum, kapan saatnya
menambah volume produk di pasar tadi sebelum mem-perluas ke wilayah pemasaran
baru? Apakah biaya pemasaran (termasuk iklan) meningkat? Mengapa? Mengapa pula
tingkat keuntungan merosot? Apakah penurunan penjualan disebabkan oleh produk-
produk baru yang dilontarkan kompetitor?
Kelemahan Distribusi
Carilah kelemahan di sepanjang mata rantai pemasaran. Periksa semua lapisan
penjualan: bila perusahaan menggunakan cara pemasaran langsung dengan menggunakan
organisasi penjualan sendiri atau melalui outlet, menggunakan agen, distributor,
retailer, atau kombinasi dari semuanya, temukan di mana titik paling kritis di
mata rantai itu.
Memang, dalam gejolak peru¬bahan tuntutan konsumen yang selalu bergeser, liku-liku
distribusi sewaktu-waktu dapat kehilangan efektivitas yang diakibatkan oleh
kebiasaan membeli (konsumen) yang berubah; atau pengembangan cara-cara baru dalam
bersaing; atau malah terjadi perubahan selera konsumen. Bila sudah begitu, bisa-
bisa mata rantai distribusi yang tadinya kita anggap paling jitu tiba-ti-ba
berbalik menjadi jelek. Betul, terkadang sangat sukar untuk mengetahui efektif-
tidaknya mata rantai distribusi. Tapi masalah abstrak itu bisa diraba melalui
pencaharian jawaban atas pertanyaan seperti ini:
• Siapa pembeli produk?
• Di mana mereka mendapat-kannya?
• Kebiasaan membeli dalam jumlah (per unit, lusinan, satu doz)?
• Siklus pembelian (mingguan, bulanan)?
• Apakah masyarakat pembeli puas dengan cara penjualan sekarang?
Jawaban atas rangkaian pertanyaan itu bisa diperoleh dari analisa fakta tentang
pemesanan-pemesanan ulang produk Anda. Bila menggunakan distributor, mereka juga
bisa dimintai informasi. Cara yang cukup efektif ialah penyebaran kartu angket
kepada konsumen, atau perlu dipikirkan untuk mengadakan survai lewat jasa
perusahaan riset.
Sumber informasi lain yang sering diabaikan ialah asosiasi, terbitan bisnis,
sensus ekonomi oleh instansi pemerintah (BPS, misalnya). Data-data yang perlu Anda
ketahui: jenjang populasi masyarakat konsumen (pengguna jasa), karakteristik
mereka, tingkat penghasilan, preferensi pelanggan, konsentrasi pemasaran selama
ini, dan seterusnya. Singkat kata, sebagai pemimpin dan manajer perusahaan, Anda
tidak boleh kehilangan mo¬mentum untuk mengikuti trend bisnis, pergeseran
penghasilan (daya beli) dan perubahan pola konsumsi. (Jika Anda ingin mendapatkan
slide presentasi yang bagus tentang manajemen pemasaran, silakan KLIK DISINI ).
Bahkan sebuah industri (produsen) besar harus bersikap dinamis dan senantiasa siap
melakukan penyesuaian dalam pola distribusi bila sudah diketahui bahwa konsumen
telah mengubah kebiasaan membeli. Belakangan ini pola keinginan konsumen makin
cenderung berubah. Lihat saja, di bidang pangan: permintaan sudah mengarah pada
makanan yang tersedia secara “convenience”, misalnya kentang yang siap digoreng,
saus tomat botol, sirup jeruk, instant mie.
Artinya, bahan mentah harus melewati food processor lebih dahulu sebelum dilempar
ke pasar. Pergeseran pola itu telah melebar ke berbagai jenis kebutuhan pakaian
jadi, perangkat perkantoran, mesin, mobil, dan banyak lagi. Perubahan pola
konsumsi ini jangan dianggap sepele. Perubahan pola berbelanja konsumen harus
dibarengi dengan perubahan tipe outlet yang digunakan. Contohnya, komoditi yang
dulunya hanya laku di pinggir jalan mungkin sudah saatnya untuk diangkat ke pasar
swalayan atau supermarket.

Perubahan Lokasi
Manusia memiliki sifat ingin berpindah tempat. Jika tidak karena kehendaknya
sendiri, perubahan lingkunganlah yang memaksa dia harus bergeser. Salah besar bila
perusahaan tidak mau ambil pusing di tengah ramainya pergeseran tempat itu. Sebuah
produsen perabot listrik rumah tangga yang tadinya secara tradisional cukup
membutuhkan distributor peralatan pertanian untuk penyebaran produknya ke desa-
desa, namun ketika banyak penduduk desa mulai pindah ke kota-kota besar, ia harus
mengangkat dealer-dealer baru di kota.
Tidak itu saja. Penduduk kota pun sering berpindah lokasi, karena dibangunnya
kompleks eksklusif di daerah satelit, flat untuk masyarakat menengah, perumahan
massal untuk lapisan bawah. Semua itu harus mempengaruhi pengambilan keputusan di
dalam manajemen pemasaran.
Strategi Bersaing
Amati pesaing-pesaing produk Anda. Barangkali mereka mulai mengubah atau membenahi
mata rantai distribusi, umpamanya dengan menambah outlet baru atau melakukan
inovasi produk sehingga penjual bersemangat memasarkannya. Produk yang atraktif
menimbulkan kebanggaan para penjual. Awasi pula kemungkinan kompetitor
meningkatkan pelayanan puma jual (membangun service centre, menawarkan bantuan
teknik langsung ke pembeli), menghadiahkan margin keuntungan lebih besar, atau
memperpanjang masa bayar (kredit) kepada distributor.
Perlu meninjau kembali kebijaksanaan distribusi apabila pesaing melakukan
perombakan cara pemasaran mereka. Tapi hati-hati, yang terbaik untuk mereka belum
tentu bagus untuk perusahaan Anda.
Betapa pentingnya jalur distribusi acapkali dilupakan perusahaan. Malah ada yang
beranggapan “Mereka hidup dari produk kita. Tanpa barang kita mereka tak jalan.”
Padahal yang terjadi justru sebaliknya. “Tanpa penjual, Anda mati.” Saran terbaik,
hindari perselisihan dengan para pemasar. Sudah banyak kali terbukti, semakin
akrab hubungan perusahaan pemasok dengan jalur distribusinya, kian terangkat
grafik penjualannya. Membantu outlet dengan perangkat penjualan seperti buku nota
penjualan atau rak peragaan, jangan dianggap suatu pemborosan. Rak-rak display
sekaligus berfungsi sebagai media promosi. Tempelkan slogan dan logo perusahaan.
Cari Terowongan Baru
Dalam situasi yang mendesak, cara yang paling tepat untuk menjaga produk Anda
tidak jatuh di pasaran ialah dengan mencari terobosan pemasaran baru. Ambil misal,
perusahaan penerbitan yang menambah produknya dengan buku-buku bersampul tipis
(berkala, kumpulan makalah, petunjuk praktis) sebaiknya jangan dicampur pada jalur
distribusi terbitan bersampul keras yang sudah mapan. Carikan jalur baru pada agen
majalah, drugstore, atau supermarket.
Tapi masalah bisa muncul begitu Anda mencari mata rantai pemasaran baru. Relasi
yang sudah berjalan lama mungkin saja merasa tersinggung. Sulit dihindari pula
benturan dengan produk pesaing setiap Anda membina relasi pemasaran baru. Kadang-
kadang perusahaan yang frustrasi karena tidak menemukan relasi yang cocok lalu
melakukan tindakan bypass dengan memba¬ngun organisasi pemasaran sendiri.
Ini terlalu mahal. Perusahaan sa-ngat besar pun harus hati-hati mempertimbangkan
cara itu. Bila penjualannya sedang “in”, memang tidak menjadi masalah. Problem
baru muncul di saat perdagangan mengalami masa lesu, di mana omzet penjualannya
paling-paling hanya bisa untuk menutupi biaya overhead divisi-divisi pemasarannya.
Selalu Siap
Dalam usaha mempertahankan agar grafik penjualan selalu sesuai target, gunakan
data yang lalu dan had ini untuk siap menantang masa depan. Setiap rencana
pengambilan keputusan yang melibatkan produk dan mata rantai distribusi, betul-
betul memerlukan perhitungan waktu yang tepat. Kapankah itu? Tergantung situasi.
Tapi yang perlu dicamkan para eksekutif dan manajer: cepatnya penemuan teknologi
baru dewasa ini telah menyebabkan harapan hidup (life expectancy) banyak produk
menjadi semakin singkat. Dibutuhkan ketrampilan tersendiri untuk berantisipasi
dengan perubahan-perubahan yang cepat terjadi di sekitar Anda.

Lebih Pada Seninya


An art or a science? Liku-liku pemasaran dan distribusi lebih banyak mengandung
unsur seninya ketimbang ilmu. Faktor kemujuran dan ketepatan waktu juga lebih
banyak berbicara. Taruhlah Anda seorang yang berbakat, lebih sukses dari manajer
terdahulu, menguasai seluk beluk pasar, jarang meleset dalam perkiraan, punya
visis tajam mengenai keinginan konsumen, tapi Anda tidak menemukan tenaga-tenaga
pelaksana yang bisa mendukung kehebatan Anda, semua itu percuma.
Jangan heran. Dunia distribusi adalah hutan belantara yang tidak indah. la
merupakan lahan tersendiri yang sama sekali berbeda dengan proses produksi.
Setelah produk keluar dari pintu perusahaan, Anda boleh dikatakan tidak lagi
berhubungan de¬ngan atasan atau bawahan di kantor, tetapi langsung dengan
masyarakat luar yang pluralistik. Namun bukannya tidak bisa ditelusuri.
Niike D’Amico — seorang pfofesor di bidang pemasaran memberi perangkat untuk
mengukur kekuatan distribusi pasar. Hafal faktor-faktor ini di luar kepala:
• Berapa jumlah pelanggan potensial.
• Kompleksitas produk.
• Anggaran distribusi.
• Pengalaman para penjual, dan tempat penyebaran pro¬duk.
• Dan, terpenting, apa kehendak dan harapan konsu¬men.
• Semakin mahal harga satuan, semakin “rewel” kon¬sumen mengkritik produk itu, dan
semakin ia ingin mengetahui sumber asal barang tersebut.
Lalu, bisakah Anda menanamkan kepercayaan pada agen dan distributor? Bahkan
penjual kelas satu pun tidak berani menjamin pekerjaan yang terbaik bagi produk
Anda. “Mereka akan menjual bila itu memberi keuntungan layak,” katanya. Tapi tidak
semata keuntungan. Tugas seorang manajer ialah senantiasa berusaha membangkitkan
antusias penjual. Di situ seninya.
(Jika Anda ingin mendapatkan slide presentasi yang bagus tentang manajemen