Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sejak tahun 1967 kebutaan telah dideklarasikan sebagai masalah nasional,
dimana kebutaan dapat berdampak pada masalah sosial, ekonomi dan psikologi
bukan hanya bagi penderita melainkan juga bagi masyarakat dan negara.
Prevalensi kebutaan di Indonesia masih sangat tinggi dengan penyebab utamanya
yaitu katarak (0,78%), glaukoma (0,2%), kelainan refraksi (0,14%) dan beberpa
penyakit yang berhubungan dengan lanjut usia (0,38%).
Berdasarkan perkiraan WHO, tahun 2000 ada sebanyak 45 juta orang
didunia yang mengalami kebutaan. Sepertiga dari jumlah itu berada di Asia
Tenggara. Untuk kawasan Asia Tenggara. Untuk Kawasan Asia Tenggara,
berdasarkan Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran tahun 19931996 menunjukkan angka kebutaan di Indonesia sekitar 1,5 % dari
jumlah penduduk atau setara dengan 3 juta orang. Jumlah ini jauh lebih tinggi
dibanding Bangladesh (1%), India (0,7%), dan Thailand (0,3%). Jumlah
penderita kebutaan di Indonesia meningkat, disebabkan oleh meningkatnya
jumlah penduduk, meningkatnya usia harapan hidup, kurangnya pelayanan
kesehatan mata dan kondisi geografis yang tidak menguntungkan.
Berdasarkan survei WHO pada tahun 2000, dari sekitar 45 juta penderita
kebutaan 16% diantaranya disebabkan karena glaukoma, dan sekitar 0,2 %
kebutaan di Indonesia disebabkan oleh penyakit ini. Sedangkan survei
Departemen

Kesehatan

RI

1982-1996

melaporkan

bahwa

glaukoma

menyumbang 0,45 atau sekitar 840.000 orang dari 210 juta penduduk penyebab
kebutaan. Kondisi ini semakin diperparah dengan pengetahuan dan kesadaran
masyarakat yang rendah akan bahaya penyakit ini.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) telah melakukan analisa kepustakaan
mengenai prevalensi, insiden dan derajat dari berbagai jenis glaukoma. Dengan
menggunakan data tahun1980-1990, WHO melaporkan jumlah populasi di dunia
dengan tekanan bola mata yang tinggi (>21 mmHg) sekitar 104,5 juta orang.
Insiden dari glaukoma primer sudut terbuka berkisar 2,4 juta orang pertahun.
Prevalensi kebutaan untuk semua jenis glaukoma diperkirakan mencapai 5,2 juta
orang, dengan 3 juta orang disebabkan oleh glaukoma primer sudut terbuka.
Galukoma bertanggung jawab atas 15 % penyebab kebutaan, dan menempatkan

glaukoma sebagai penyebab ketiga kebutaan di dunia setelah katarak dan


trakhoma
Prevalensi glaukoma primer sudut terbuka menunjukkan keterkaitan ras.
Pada orang kulit putih dengan usia diatas 40 tahun prevalensi glaukoma sekitar
1,1 5 dan 2,1% dan prevalensi pada orang kulit hitam enam kali besar. Prevalensi
galukoma primer sudut terbuka meningkat seiring pertambahan usia, data
menunjukkan populasi dengan usia dekade ke-7 lebih beresiko tujuh sampai
delapan kali di anding usia dekade ke-4.
Dengan pertambahan penduduk, meningkatnya usia harapan hidup,
kurangnya pelayanan kesehatan mata, di samping itu galukoma merupakan
penyakit yang bertanggung jawab atas 15 % penyebab kebutaan, dan
menempatkan glaukoma sebagai penyebab kebutaan kedua di indonesia serta
ketiga di dunia setelah katarak dan trakhoma.
1.2 Rumusan Masalah
a) Apa yang dimaksud dengan glaukoma?
b) Bagaimana klasifikasi dari glaukoma?
c) Bagaimana etiologi dari glaukoma?
d) Bagaimana manifestasi klinis dari glaukoma?
e) Bagaimana patofisiologi dari glaukoma?
f) Bagaimana penatalaksanaan medis untuk glaukoma?
g) Bagimana asuhan keperawatan pada pasien glaukoma?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk memperoleh informasi mengenai penyakit glaukoma.
1.3.2 Tujuan Khusus
a) Mengetahui definisi glaukoma
b) Mengetahui klasifikasi dari glaukoma
c) Mengetahui etiologi dari glaukoma
d) Mengetahui manifestasi klinis dari glaukoma
e) Mengetahui patofisiologi dari glaukoma
f) Mengetahui bagaimana penatalaksanaan untuk pasien glaukoma
g) Mengetahui asuhan keperawatan pada pasien glaukoma
1.4 Manfaat Penulisan

a) Memberikan informasi pada mahasiswa tentang glaukoma serta


berbagai hal lain yang berhubungan dengan penyakit ini.
b) Menambah pengetahuan penulis tentang penyakit glaukoma.
c) Sebagai sumber informasi bagi pihak lain yang ingin melakukan
penelitian atau hal lain yang ada kaitannya dengan penyakit glaukoma.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Definisi
Glaukoma adalah suatu penyakit yang memberikan gambaran klinik berupa
peninggian tekanan bola mata, penggaungan pupil saraf optik dengan defek
lapang pandangan mata.(Sidarta Ilyas, 2000).
Glaukoma adalah sekelompok kelainan mata yang ditandai dengan
peningkatan tekanan intraokuler.( Long Barbara, 1996).
Glaukoma adalah adanya kesamaan kenaikan tekanan intra oculer yang
berakhir dengan kebutaan (Fritz Hollwich,1993)
Glaukoma berasal dari kata yunani glaukos yang berarti hijau kebiruan
,yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita galukoma.kelainan
mata glaukoma ditandai dengan meningkatnya tekanan bola mata ,atropi saraf
optikus, dan menciutnya lapang pandang. Glaukoma adalah suatu penyakit
dimana tekanan bola mata meningkat,sehingga terjadi kerusakan pada saraf
optikus

dan

menyebabkan

penurunan

fungsi

penglihatan(Mayenru

Dwindra,2009)
Glaukoma merupakan suatu keadaan dimana tekanan mata seseorang
demikian tinggi atau tidak normal. Sehingga mengakibatkan kerusakan pada
saraf optik dan mengakibatkan gangguan pada sebagian atau seluruh lapang
pandang atau buta.Tekanan mata yang normal dinyatakan dengan tekanan air
raksa yaitu antara 15-20 mmHg.
Didalam mata terdapat cairan mata yang terdiri dari 99,9% air murni (akuos
humor) bening yang mengalir terus. Pengaliran cairan ini didalam bola mata
seperti air yang berada di dalam kolam tertutup yang bertukar dan mengalir
terus. Bila terjadi gangguan pengeluaran cairan maka air akan terbendung di
dalam kolam. Demikian pula jika cairan mata tidak dapat keluar maka tekanan di
dalam bola mata akan naik dan merusak saraf penglihatan. Di dalam bola mata
sebelah depan terdapat apa yang disebut dengan bilik mata depan. Bilik mata
depan merupakan ruangan di dalam mata yang dibatasi kornea, iris, pupil, dan
lensa yang diisi oleh cairan mata (akuos humor). Cairan mata (akuos humor)
mengatur oksigen dan makanan seperti : gula dan nutrient/zat gizi penting

lainnya untuk kornea dan lensa. Cairan mata (akuos humor) mempunyai
kapasitas isi tertentu untuk mempertahankan bola mata agar menjadi bulat.
Cairan mata (akuos humor) dihasilkan oleh jonjot badan siliar yang terletak di
belakang iris. Melalui celah iris dan lensa, cairan mata (akuos humor) keluar
melalui pupil dan terus ke bilik mata depan. Setelah itu, melalui jaring
trabekulum cairan mata (akuos humor) masuk ke dalam saluran yang disebut
kanal Schlemm menuju ke pembuluh darah. Normalnya antara produksi cairan
mata (akuos humor) dan aliran keluarnya adalah seimbang. Jika aliran keluarnya
terhambat atau produksinya berlebihan, makatekanan bola mata akan meninggi
(cairan akuos humor tidak sama dengan air mata).
2.2 Klasifikasi
Klasifikasi dari glaukoma dalah sebagai berikut ( Sidarta Ilyas, 2003) :
1. Glaukoma Primer
Glaukoma yang tidak diketahui penyebabnya. Pada glaukoma akut yaitu
timbul pada mata yang memiliki bakat bawaan berupa sudut bilik depan
yang sempit pada kedua mata. Pada glukoma kronik yaitu karena keturunan
dalam keluarga, DM Arteri osklerosis, pemakaian kartikosteroid jangka
panjang, miopia tinggi dan progresif dan lain-lain dan berdasarkan anatomis
dibagi menjadi 2 yaitu :
a) Glaukoma sudut terbuka / simplek (kronis)
Glaukoma sudut terbuka Merupakan sebagian besar dari glaukoma ( 9095% ) , yang meliputi kedua mata. Timbulnya kejadian dan kelainan
berkembang Disebut sudut terbuka karena humor aqueous mempunyai pintu
terbuka ke jaringan trabekular. Pengaliran dihambat oleh perubahan
degeneratif jaringan trabekular, saluran schleem, dan saluran yg berdekatan.
Perubahan saraf optik juga dapat terjadi. Gejalaawal biasanya tidak ada,
kelainan diagnose dengan peningkatan TIO dan sudut ruang anterior normal.
Peningkatan tekanan dapat dihubungkan dengan nyeri mata yang timbul
b) Glaukoma sudut tertutup / sudut semut (akut)
Glaukoma sudut tertutup (sudut sempit), disebut sudut tertutup karena ruang
anterior secara otomatis menyempit sehingga iris terdorong ke depan,
menempel ke jaringan trabekuler dan menghambat humor aqueos mengalir
ke saluran schlemm. Pargerakan iris ke depan dapat karena peningkatan
tekanan vitreus, penambahan cairan diruang posterior atau lensa yang

mengeras karena usia tua. Gejalah yang timbul dari penutupan yang tibatiba dan meningkatnya TIO, dapat nyeri mata yang berat, penglihatan kabur.
Penempelan iris memyebabkan dilatasi pupil, tidak segera ditangni akan
terjadi kebutaan dan nyeri yang hebat.
2. Glaukoma Sekunder
Adalah glaukoma yang diakibatkan oleh penyakit mata lain atau trauma
didalam bola mata, yang menyebabkan penyempitan sudut /peningkatan
volume cairan dari dalam mata . Misalnya glaukoma sekunder oleh karena
hifema, laksasi / sub laksasi lensa, katarak instrumen, oklusio pupil, pasca
bedah intra okuler.
3. Glaukoma Kongenital
Adalah perkembangan abnormal dari sudut filtrasi dapat terjadi sekunder
terhadap kelainan mata sistemik jarang ( 0,05 %) manifestasi klinik
biasanya adanya pembesaran mata (bulfamos), lakrimasi.
4. Glaukoma Absolute
Merupakan stadium akhir glaukoma ( sempit/ terbuka) dimana sudah terjadi
kebutaan total akibat tekanan bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut.
Pada glaukoma absolut kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, papil atrofi
dengan eksvasi glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa
sakit.sering mata dengan buta ini mengakibatkan penyumbatan pembuluh
darah sehingga menimbulkan penyulit berupa neovaskulisasi pada iris,
keadaan ini memberikan rasa sakit sekali akibat timbulnya glaukoma
hemoragik.
Pengobatan glaukoma absolut dapat dengan memberikan sinar beta pada
badan siliar, alkohol retrobulber atau melakukan pengangkatan bola mata
karena mata telah tidak berfungsi dan memberikan rasa sakit.
Berdasarkan lamanya glaukoma dibedakan menjadi:
a. Glaukoma akut
Penyakit mata yang disebabkan oleh tekanan intra okuler yang
meningkat mendadak sangat tinggi.
b. Glaukoma kronik
Penyakit mata dengan gejalah peningkatan tekanan bola mata sehingga
terjadi kerusakan anatomi dan fungsi mata yang permanen.
2.3 Etiologi

1. Glaukoma primer terdiri dari :


a. Akut: dapat disebabkan karena trauma.
b. Kronik : dapat disebabkan karena keturunan dalam keluarga seperti: diabetes
mellitus, arterisklerosis, pemakaian kortikosteroid jangka panjang, myopia tiggi
dan progresif.
2. Sekunder
Disebabkan penyakit mata lain, seperti: katarak, perubahan lensa kelainan
uvea pembedahan.
2.4 Manifestasi Klinis
1. Glaukoma primer
a. Glaukoma sudut terbuka
Kerusakan visus yang serius
Lapang pandang mengecil dengan maca-macam skottoma yang khas
Perjalanan penyakit progresif lambat
b. Glaukoma sudut tertutup
Nyeri hebat didalam dan sekitar mata
Timbulnya halo/pelangi disekitar cahaya
Pandangan kabur
Sakit kepala
Mual, muntah
Kedinginan
Demam bahkan perasaan takut mati mirip serangan angina, yang sangat
sedemikian kuatnya keluhan mata ( gangguan penglihatan, fotofobia dan
lakrimasi) tidak begitu dirasakan oleh klien.
2. Glaukoma sekunder
Pembesaran bola mata
Gangguan lapang pandang
Nyeri didalam mata
3. Glaukoma kongential
Gangguan penglihatan

2.5 Patofisiologi
Rongga anterior mata berada didepan dan sedikit kesamping dari lensa,
terdapat/ bermuara aqueous humor, merupakan caira bening yang menunjukan
lympha. Aqueous humor diproduksi secara terus-menerus dalam badan silianis
yang terdapat dibagian posterior irisdan mengalir melewatipupil kedalam
cameraokuli anterior. Aqueous humordisalurkan melalui canal Schlemm
disekitar mata dan berada pada bagian sudut camera okuli anterior dimana

terjadi pertemuan iris perifer dan kornea dalam keadaan normal terjadi
keseimbangan

antara

produksi

dan

penyerapanaqueous

humor,

akan

menyebabkan atau menjadikan tekanan intra okuli relative konstan. TIO berkisar
10-20mmHg dan rata-rata 16mmHg. Tekanan intra okuler beavariasi dan naik
sampai 5mmHg. Glaukoma terjadi dimana adanya peningkatan TIO yang dapat
menimbulkan kerusakan dari saraf-saraf optic. Peningkatan tekanan disebabkan
abstruksi/sumbatan dari penyerapan aqueous humor.

PATHWAY GLAUKOMA
Usia > 40 th
DM
Kortikosteroid jangka panjang
Miopia
Trauma mata

Obstruksi jaringan
Trabekuler

peningkatan tekanan
Vitreus

Hambatan pengaliran
Cairan humor aqueous

Nyeri

TIO meningkat

pergerakan iris kedepan

Glaukoma

Gangguan saraf optik

Gangguan
persepsi
sensori
penglihatan

Perubahan penglihatan
Perifer

TIO Meningkat

tindakan operasi

Anxietas

Kurang
pengetahu
an

Kebutaan

2.6 Pemeriksaan Penunjang


1. Glaukoma Akut
Pengukuran dengan tonometrischiotz menunjukkan peningkatan tekanan,
parimetri genioskopi dan tonografi dilakukan setelah edema kornea menghilang.
2. Glaukoma Kronik
Pemeriksaan tekanan bola mata dengan palpasi dan tonomebri menunjukkan
peningkatan, nilai dianggap mencurigakan bila berkisar antara 21 25 mmHg dan
dianggap patologik bila berada diatas 25 mmHg.

Pada funduskopi ditemukan cekungan papil menjadi lebih lebar dan dalam,
dinding cekungan bergaung, warna memucat dan terdapat perdarahan pada pupil.
3. Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan lapang pandang menyempit,
depresi bagian nasal, tangga rone, atau stroma busur. Uji provokasi minum air, uji
variasi diurnal dan ujian provokasi steroid dilakukan pada kasus-kasus yang
meragukan.
4. Pengukuran tekanan intraocular (dengan tonometer), pemeriksaan keadaan
sudut bola mata dengan genioskopi. Sedangkan pemeriksaan lapang pandangan
mata dengan alat perimetri.
5. Pengecekan terhadap kondisi syaraf mata digunakan alat Heidelberg Retinal
Tomography (HRT) atau Optical Coherence Tomography (OCT).
Pemberian obat tetes mata yang dilanjutkan pemberian obat tablet. Fungsi obatobatan tersebut untuk menurunkan produksi atau meningkatkan keluarnya cairan
akuos humor. Cara ini diharapkan dapat menurunkan tekanan bagi bola mata
sehingga dicapai tekanan yang diinginkan. Agar efektif pemberian
obat dilakukan secara terus menerus dan teratur.
6. Pemasangan keran Ahmed Valve
Untuk mengatasi glaukoma yang kondisinya relatif parah, dokter akan memasang
keran buatan yang populer disebut ahmed valve. Nama ini berasal dari nama
penemunya, yakni Ahmed, warga Amerika Serikat (AS) asal Timur Tengah yang
pertama kali menciptakan klep tersebut sekitar 10 tahun silam. Alat ini terbuat
dari bahan polymethyl methacrylate (PMMA), yakni bahan dasar lensa tanam.
Ahmed valve ditanamkan pada bola mata dengan cara operasi. Bila tekanan bola
mata berada pada 18 mmHg maka klep tersebut akan terbuka sehingga cairan
yang tersumbat bisa keluar, sehingga tekanan bola mata otomatis akan turun.
Sebaliknya, klep akan tertutup kembali bila tekanan sudah berada di bawah 18
mmHg.
2.7 Penatalaksanaan Medis
1.
a.

b.

c.

Glaukoma Sudut Terbuka / Simplek / Kronik


Obat-obat miotik
Golongan kolinergik (pilokarpin 1 4 % 5 kali / hari), karbakol (0,753 %)
Golongan anti kolineoterase (demekarium bromid, hurmosal 0,25 %)
Obat-obat penghambat sekresi aquor humor (Adrenergik)
Timolol (tetes 0,25 dan 0,5 % 2x / hari)
Epinerprin 0,5 2 % 1 2 x / hari
Carbonucan hidrase intibitor
Asetazolamid (diamol 125 250 mg 4 x / hari)
Diklorfenamid (metazolamid)

d. Laser trabeculoplasty dimana suatu laser zat organ disorotkan langsung


kejaringan trabekuler untuk merubah susunan jaringan dan membuka aliran dari
humor Aguos dan iridektomi.
e. Tindakan bedah trabeculectomy.

2.8 Komplikasi
Komplikasi glaukoma pada umumya adalah kebutaan total akibat tekanan
bola mata memberikan gangguan fungsi lanjut. Kondisi mata pada kebutan yaitu
kornea terlihat keruh, bilik mata dangkal, pupil atropi dengan ekskavasi
(penggaungan) glaukomatosa, mata keras seperti batu dan dengan rasa sakit.
Mata dengan kebutaan mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah sehingga
menimbulkan

penyulit

berupa

neovaskularisasi

pada

iris

yang

dapat

menyebabkan rasa sakit yang hebat. Pengobatan kebutaan ini dapat dilakukan
dengan memberikan sinar beta pada badan siliar untuk menekan fungsi badan
siliar, alcohol retrobulbar atau melakukan pengangkatan bola mata karena mata
sudah tidak bisa berfungsi dan memberikan rasa sakit.

BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1

Pengkajian
1.
Identifikasi Klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, alamat, pendidikan, pekerjaan, tgl MRS,
diagnosa medis, suku bangsa, status perkawinan.
2.
Keluhan Utama
Terjadi tekanan intra okuler yang meningkat mendadak sangat tinggi, nyeri
hebat di kepala, mual muntah, penglihatan menurun, mata merah dan bengkak.
3.
Riwayat Kesehatan
a.
Riwayat Penyakit Sekarang
Hal ini meliputi keluhan utama mulai sebelum ada keluhan sampai terjadi nyeri
hebat di kepala, mual muntah, penglihatan menurun, mata merah dan bengkak.
b.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pernah mengalami penyakit glaukoma sebelumnya atau tidak dan apakah
terdapat hubungan dengan penyakit yang diderita sebelumnya.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Dalam keluarga ditemukan beberapa anggota keluarga dalam garis vertikal atau
horisontal memiliki penyakit yang serupa.
4.
Pola pola Fungsi Kesehatan
a.
Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Persepsi klien dalam menilai / melihat dari pengetahuan klien tentang penyakit
yang diderita serta kemampuan klien dalam merawat diri dan juga adanya
perubahan dalam pemeliharaan kesehatan.
b.
Pola nutrisi dan metabolik
Pada umumnya klien dengan glaukoma tidak mengalami perubahan. Pada pola
nutrisi dan metabolismenya. Walaupun begitu perlu dikaji pola makan dan
komposisi, berapa banyak / dalam porsi, jenis minum dan berapa banyak
jumlahnya.
c.
Pola eliminasi
Pada kasus ini pola eliminasinya tidak mengalami gangguan, akan tetapi tetap
dikaji konsestansi, banyaknya warna dan baunya.
d.
Pola tidur dan istirahat
Pola tidur dan istirahat akan menurun, klien akan gelisah / sulit tidur karena
nyeri / sakit hebat menjalar sampai kepala.
e. Pola aktivitas
Dalam aktivitas klien jelas akan terganggu karena fungsi penglihatan klien
mengalami penurunan.
f. Pola persepsi konsep diri

Meliputi : Body image, self sistem, kekacauan identitas, rasa cemas terhadap
penyakitnya, dampak psikologis klien terjadi perubahan konsep diri.
g. Pola sensori dan kognitif
Pada klien ini akan menjadi / mengalami gangguan pada fungsi penglihatan
dan pada kongnitif tidak mengalami gangguan.
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar,
kehilangan
Perubahan
Tanda

penglihatan

perifer,

kacamata/pengobatan
Papil

menyempit

dan

tidak

fotofobia(glaukoma
memperbaiki

merah/mata

keras

akut).

penglihatan.

dengan

kornea

berawan.Peningkatan air mata.


h. Pola hubungan dan peran
Bagimana peran klien dalam keluarga dimana meliputi hubungan klien dengan
keluarga dan orang lain, apakah mengalami perubahan karena penyakit yang
dideritanya.
i.
Pola reproduksi
Pada pola reproduksi tidak ada gangguan.
j.
Pola penanggulangan stress
Biasanya klien akan merasa cemas terhadap keadaan dirinya dan fungsi
penglihatannya serta koping mekanis yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
Biasanya klien tidak mengalami gangguan.
5.
Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Didapatkan pada klien saat pengkajian, keadaan, kesadarannya, serta
pemeriksaan TTV.
b. Pemeriksaan Kepala dan Leher
Meliputi kebersihan mulut, rambut, klien menyeringai nyeri hebat pada kepala,
mata merah, edema kornea, mata terasa kabur.
c. Pemeriksaan Integumen
Meliputi warna kulit, turgor kulit.
d. Pemeriksaan Sistem Respirasi
Meliputi frekwensi pernafasan bentuk dada, pergerakan dada.
e. Pemeriksaan Kardiovaskular
Meliputi irama dan suara jantung.
f. Pemeriksaan Sistem Gastrointestinal
Pada klien dengan glaukoma ditandai dengan mual muntah.
g. Pemeriksaan Sistem Muskuluskeletal
Meliputi pergerakan ekstermitas.
h. Pemeriksaan Sistem Endokrin
Tidak ada yang mempengaruhi terjadinya glaukoma dalam sistem endokrin.
i.
Pemeriksaan Genitouria
Tidak ada disuria, retesi urin, inkontinesia urine.
j.
Pemeriksaan Sistem Pernafasan

Pada umumnya motorik dan sensori terjadi gangguan karena terbatasnya


lapang pandang.
6.
Pemeriksaan Diagnostik
a. Kartu mata Snellen/mesin Telebinokular (tes ketajaman penglihatan dan
sentral penglihatan) : Mungkin terganggu dengan kerusakan kornea, lensa,
aquous atau vitreus humor, kesalahan refraksi, atau penyakit syaraf atau
penglihatan ke retina atau jalan optik.
b. Lapang penglihatan : Penurunan mungkin disebabkan CSV, massa tumor
pada hipofisis/otak, karotis atau patologis arteri serebral atau glaukoma.
c. Pengukuran tonografi : Mengkaji intraokuler (TIO) (normal 12-25 mmHg)
d. Pengukuran gonioskopi :Membantu membedakan sudut terbuka dari sudut
tertutup glaukoma.
e. Tes Provokatif :digunakan dalam menentukan tipe glaukoma jika TIO
normal atau hanya meningkat ringan.
f.
Pemeriksaan oftalmoskopi:Mengkaji struktur internal okuler, mencatat
atrofi lempeng optik, papiledema, perdarahan retina, dan mikroaneurisma.
g. Darah lengkap, LED :Menunjukkan anemia sistemik/infeksi.
h. EKG, kolesterol serum, dan pemeriksaan lipid: Memastikan aterosklerosis.
i.
Tes Toleransi Glukosa :menentukan adanya DM.
3.2 Diagnosa Keperawatan
Pre operasi
1.Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan peningkatan TIO
2. Penurunan persepsi sensori visual / penglihatan berhubungan dengan serabut
saraf oleh karena peningkatan TIO.
3.Cemas berhubungan dengan :
a. Penurunan ketajaman penglihatan
b. Kurang pengetahuan tentang prosedur pembedahan
Post operasi
1. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan post tuberkulectomi
iriodektomi.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan luka insisi operasi.
3.3 Analisa Data
No Data Fokus

Penyebab/ Etiologi

Obtruksi

Ds :
Mengatakan

mata trabekuler

tegang. Nyeri hebat,


lebih
melihat.

sakit

untuk Hambatan
aqueus humor

Masalah

keperawatan
jaringan Gangguan
nyaman

rasa
nyeri

berhubungan dengan
pengaliran meningkatan TIO


Do :
TIO meningkat
Meringis, menangis

menahan nyeri.
Nyeri
Sering memegangi
mata.

Ds:
Menyatakan
penglihatan

kabur,

tidak jelas, penurunan


area penglihatan.

TIO meningkat

Penurunan persepsi

sensori

Gangguan saraf optik

visual/penglihatan

berhubungan dengan

Perubahan

penglihatan serabut saraf oleh

perifer

karena peningkatan

Do:

TIO
Pemeriksaan lapang
Gangguan
persepsi
pandang menurun.

Penurunan sensori penglihatan


kemampuan
identifikasi lingkungan
(benda, orang, tempat
3

Ds:
TIO meningkat

Mengatakan takut

dioperasi
Gangguan saraf optik
Sering menanyakan

tentang operasi
Perubahan penglihatan
perifer

Cemas

Do:

Perubahan

tanda

vital peningkatan nadi,


tekanan

darah,

frekuensi pernapasan

Tampak gelisah,
wajah murung, sering

Cemas berhubungan
dengan

penurunan

penglihatan/ kurang
pengetahuan tentang
prosedur
pembedahan

melamun
4

Ds:
Mengatakan

Peningkatan

nyeri/tegang.
Do:

Gelisah,

kecenderungan
memegang

tekanan Gangguan

rasa

vitreus

nyaman

(nyeri)

berhubungan dengan

Pergerakan iris kedepan

post tuberkulectomi

iriodektomi.

TIO meningkat
daerah

mata.

Tindakan operasi

trabekulectomy

Nyeri

Ds:

Keinginan

TIO meningkat
untuk

memegang mata
Tindakan operasi

Menyatakan nyeri

sangat
trabekulectomy
Do:

Perilaku

tidak

terkontrol
Kecenderungan
memegang

Resiko

infeksi

berhubungan dengan
luka insisi operasi.

Resiko infeksi

darah

operasi

3.4 Intervensi
No Diagnosa
1

Tujuan Dan

Intervensi

Rasional

Keperawatan
Gangguan

Kriteria Hasil
Tujuan :

a. Kaji tingkat

a. Memudahkan

rasa nyaman

Nyeri hilang

nyeri

tingkat nyeri

(nyeri)

atau berkurang

berhubungan

dalam waktu

untuk intervensi
b. Pantau derajat

selanjutnya.
b. Untuk

dengan

1x24 jam.

nyeri mata setiap mengidentifikasi

peningkatan

Kriteria hasil:

30 mentit

kemajuan atau

TIO

Klien dapat

selama masa

penyimpanan

mengidentifikasi

akut.

dari hasil yang

penyebab nyeri.
Klien
menyebutkan
faktor-faktor
yang dapat

c. Siapkan
pasien untuk
pembedahan
sesuai peranan.

diharapkan
c. Setelah TIO
pada glaukoma
sudut terbuka,
pembedahan

meningkatkan

harus segera

nyeri.
Klien

dilakukan secara
permanent

mampu

menghilangkan

melakukan
tindakan untuk
mengurangi
nyeri.

d. Pertahankan
tirai baring ketat
pada posisi semi
fowler.
e. Berikan
lingkungan
gelap dan terang.

blok pupil.
d. Pada tekanan
mata sudut
ditingkatkan bila
sudut datar.
e. stress dan sinar
menimbulkan TIO
yang mencetuskan

f. Berikan

nyeri.
f. untuk mengontrol

analgesic yang

nyeri, nyeri berat

diresepkan

menentukan

peran dan

menuvervalasava,

evaluasi

menimbulkan TIO.

efektifitasnya
2

Penurunan

Tujuan:

a. Kaji dan

a. Menentukan

persepsi

Peningkatan

catat

kemampuan

sensori

persepsi sensori

ketajaman

visual.

visual /

dapat berkurang

penglihatan

dalam waktu 1 x

penglihatan
b. Kaji tingkat

berhubungan

24 jam

dengan

kriteria hasil :

deskripsi
fugnsional

b. Memberikan
keakuratan
terhadap

serabut saraf

oleh karena

terhadap

penglihatan dan

meneteskan obat

penglihatan

perawatan.

peningkatan

mata dengan

tekanan intra

benar

Kooperatif

dan perawatan
c. Sesuaikan

okuler.

klien dapat

dalam tindakan

Menyadari
hilangnya
pengelihatan
secara permanen
Tidak
terjadi penurunan
visus lebih lanjut

lingkungan
dengan
kemampuan

c. Meningkatka
n self care dan
mengurangi
ketergantungan.

penglihatan.
d. Kaji
jumlah dan
tipe
rangsangan
yang dapat
diterima
Klien.
e. Observasi
TTV.

d. Meningkatka
n rangsangan
pada waktu
kemampuan
penglihatabn
menurun.
e.Mengetahui
kondisi dan

f. Kolaborasi

perkembangan

dengan tim

klien secara dini.


f. Untuk

medis dalam
pemberian
terapi.
3

mempercepat
proses

Cemas

Tujuan :

a.Hati-hati

penyembuhan
a. Jika klien

berhubungan

Cemas klien

penyampaian

belum siap akan

dengan

dapat berkurang

hilangnya

menambah

penurunan

dlam waktu 1 x

penglihtan

kecemasan.

penglihatan,

24 jam

secara

kurang

Kriteria Hasil :

pengetahuan

permanen.
b. Berikan

tentang
pembedahan

Berkurangnya
perasaan gugup
Posisi
tubuh rileks

kesempatan
klien
mengekspresi
kan tentang
kondisinya.

b. Mengekspresi
kan perasaan
membantu Klien
mengidentifikasi
sumber cemas.

Mengungkapkan

c. Pertahank

c. Rileks dapat

pemahaman

an kondisi

menurunkan

tentang rencana

yang rileks.
d. Observasi

cemas.
d. Untuk

TTV.

mengetahui TTV

tindakan

dan pere.

Siapkan

bel ditempat
tidur dan
instruksi
Klien
memberikan
tanda bila

kembangannya.
e. Dengan
memberikan
perhatian akan
menambah
kepercayaan
klien.

mohon
bantuan
f. Kolaboras
i dengan tim
medis dalam
pemberian
terapi

Diharapkan

dapat
mempercepat
proses
penyembuhan

Gangguan

Nyeri berkurang,

a.

rasa nyaman

hilang, dan

derajat nyeri

nyeri terjadi

setiap har

dalam waktu

(nyeri)

terkontrol.
Kriteria hasil :
berhubungan
Klien
dengan post
mendemonstrasituberkulectom
kan teknik
i iriodektomi.
penurunan nyeri
Klien

Kaji

f.

a. Normalnya,

kurang dari 5
hari setelah
operasi dan
berangsur
menghilang.

melaporkan nyeri

Nyeri dapat

berkurang atau

meningkat sebab

hilang.

peningkatan TIO
2-3 hari pasca

operasi. Nyeri
mendadak
menunjukan
peningkatan TIO
b. Anjurkan
untuk
melaporkan
perkembanga
n nyeri setiap
hari atau
segera saat

masif.
b. Meningkatka
n kolaborasi ,
memberikan rasa
aman untuk
peningkatan
dukungan
psikologis.

terjadi
peningkatan
nyeri
mendadak.
c. Anjurkan

c.

pada klien

kegiatan klien

untuk tidak

dapat

melakukan

meningkatkan

gerakan tiba-

nyeri seperti

tiba yang

gerakan tiba-tiba,

dapat memicu

membungkuk,

nyeri.

mengucek mata,

Beberapa

batuk, dan
d. Ajarkan

mengejan.
d. Mengurangi

teknik

ketegangan,

distraksi dan

mengurangi

relaksasi.
e. Lakukan

nyeri.
e. Mengurangi

tindakan

nyeri dengan

kolaboratif

meningkatan

dalam

ambang nyeri.

pemberian

analgesik
topikal/
sistemik.
5

Resiko infeksi

Tujuan :

a. Diskusikan

a. Meningkatka

berhubungan

Tidak terjadi

tentang rasa

n kerjasama dan

dengan luka

cedera mata

sakit,

pembatasan yang

insisi operasi

pascaoperasi

pembatasan

diperlukan.

Kriteria Hasil :

aktifitas dan

Klien
menyebutkan
faktor yang
menyebabkan

cedera.

Klien tidak

pembalutan
mata.
b. Tempatkan
klien pada
tempat tidur
yang lebih

melakukan

rendah dan

aktivitas yang

anjurkan

meningkatkan

untuk

resiko cedera

membatasi

b.

Istirahat

mutlak diberikan
12-24 jam pasca
operasi.

pergerakan
mendadak/
tiba-tiba serta
menggerakka
n kepala
berlebih.
c. Bantu
aktifitas
selama fase
istirahat.
Ambulasi

c.

Mencegah/

menurunkan
risiko komplikasi
cedera.

dilakukan
dengan hatihati.
d. Ajarkan
klien untuk

d.

Tindakan

yang dapat
meningkatkan

menghindari

TIO dan

tindakan yang

menimbulkan

dapat

kerusakan

menyebabkan

struktur mata

cedera.

pasca operasi
antara lain:
Mengejan
( valsalva
maneuver)
Menggerakan
kepala mendadak
Membungkuk
terlalu lama
Batuk
e. Berbagai
kondisi seperti
luka menonjol,

e.

Amati

kondisi mata :
luka
menonjol,
bilik mata
depan
menonjol,
nyeri
mendadak,
nyeri yang
tidak
berkurang
dengan
pengobatan,
mual dan
muntah.
Dilakukan
setiap 6 jam
asca operasi

bilik mata depan


menonjol, nyeri
mendadak,
hiperemia, serta
hipopion
mungkin
menunjukan
cedera mata
pasca operasi.

atau
seperlunya.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.healthyenthusiast.com/glaukoma.html
https://id.scribd.com/
https://firmanpharos.files.wordpress.com/2010/04/pathway-glaukoma1.doc
http://ayanurse38.blogspot.com/2013/05/askep-glukoma.html
http://sehati11022012.blogspot.com/2013/11/makalah-askep-penyakitglaukoma_2987.html