Anda di halaman 1dari 28

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Ilmu Forensik
2.1.1 Definisi Ilmu Forensik
Ilmu Forensik dikatagorikan ke dalam ilmu pengetahuan alam dan dibangun
berdasarkan metode ilmu alam. Dalam padangan ilmu alam sesuatu sesuatu dianggap ilmiah
hanya dan hanya jika didasarkan pada fakta atau pengalaman (empirisme), kebenaran ilmiah
harus dapat dibuktikan oleh setiap orang melalui indranya (positivesme), analisis dan
hasilnya mampu dituangkan secara masuk akal, baik deduktif maupun induktif dalam struktur
bahasa tertentu yang mempunyai makna (logika) dan hasilnya dapat dikomunikasikan ke
masyarakat luas dengan tidak mudah atau tanpa tergoyahkan (kritik ilmu) (Purwadianto
2000).
Dewasa ini dalam penyidikan suatu tindak kriminal merupakan suatu keharusan
menerapkan pembuktian dan pemeriksaan bukti fisik secara ilmiah. Sehingga diharapkan
tujuan dari hukum acara pidana, yang menjadi landasan proses peradilan Keputusan Menteri
Kehakiman No.M.01.PW.07.03 tahun 1983 yaitu: untuk mencari dan mendapatkan atau
setidak-tidaknya mendekati kebanaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya
dari sutau perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur
dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan
suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan dari
pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan
dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan.
Adanya pembuktian ilmiah diharapkan polisi, jaksa, dan hakim tidaklah
mengandalkan pengakuan dari tersangka atau saksi hidup dalam penyidikan dan
menyelesaikan suatu perkara. Karena saksi hidup dapat berbohong atau disuruh berbohong,
maka dengan hanya berdasarkan keterangan saksi dimaksud, tidak dapat dijamin tercapainya
tujuan penegakan kebenaran dalam proses perkara pidana dimaksud. Dalam pembuktian dan
pemeriksaan secara ilmiah, kita mengenal istilah ilmu forensik dan kriminologi. Secara
umum ilmu forensik dapat diartikan sebagai aplikasi atau pemanfaatan ilmu pengetahuan
tertentu untuk kepentingan penegakan hukum dan keadilan.

2.1.2 Ruang Lingkup Ilmu Forensik


Cabang-cabang ilmu forensik lainnya adalah: kedokteran forensik, toksikologi forensik,
odontologi forensik, psikiatri forensik, entomologi forensik, antrofologi forensik, balistik
forensik, fotografi forensik, dan serologi / biologi molekuler forensik. Biologi molekuler
forensik lebih dikenal dengan DNA-forensic.
Kriminalistik merupakan penerapan atau pemanfaatan ilmu-ilmu alam pada pengenalan,
pengumpulan / pengambilan, identifikasi, individualisasi, dan evaluasi dari bukti fisik,
dengan menggunakan metode / teknik ilmu alam di dalam atau untuk kepentingan hukum
atau peradilan (Sampurna 2000). Pakar kriminalistik adalah tentunya seorang ilmuwan
forensik yang bertanggung jawab terhadap pengujian (analisis) berbagai jenis bukti fisik, dia
melakukan indentifikasi kuantifikasi dan dokumentasi dari bukti-bukti fisik. Dari hasil
analisisnya kemudian dievaluasi, diinterpretasi dan dibuat sebagai laporan (keterangan ahli)
dalam atau untuk kepentingan hukum atau peradilan (Eckert 1980). Sebelum melakukan
tugasnya, seorang kriminalistik harus mendapatkan pelatihan atau pendidikan dalam
penyidikan tempat kejadian perkara yang dibekali dengan kemampuan dalam pengenalan dan
pengumpulan bukti-bukti fisik secara cepat. Di dalam perkara pidana, kriminalistik
sebagaimana dengan ilmu forensik lainnya, juga berkontribusi dalam upaya pembuktian
melalui prinsip dan cara ilmiah. Kriminalistik memiliki berbagai spesilisasi, seperti analisis
(pengujian) senjata api dan bahan peledak, pengujian perkakas (toolmark examination),
pemeriksaan dokumen, pemeriksaan biologis (termasuk analisis serologi atau DNA), analisis
fisika, analisis kimia, analisis tanah, pemeriksaan sidik jari laten, analisis suara, analisis bukti
impresi dan identifikasi.
Kedokteran Forensik adalah penerapan atau pemanfaatan ilmu kedokteran untuk
kepentingan penegakan hukum dan pengadilan. Kedokteran forensik mempelajari hal ikhwal
manusia atau organ manusia dengan kaitannya peristiwa kejahatan.
Toksikologi Forensik, Toksikologi adalah ilmu yang menelaah tentang kerja dan efek
berbahaya zat kimia (racun) terhadap mekanisme biologi. Racun adalah senyawa yang
berpotensial memberikan efek berbahaya terhadap organisme. Sifat racun dari suatu senyawa
ditentukan oleh: dosis, konsentrasi racun di reseptor, sifat zat tersebut, kondisi bioorganisme
atau sistem bioorganisme, paparan terhadap organisme dan bentuk efek yang ditimbulkan.
Lebih khusus, toksikologi mempelajari sifat fisiko kimia dari racun, efek psikologi yang
ditimbulkannya pada organisme, metode analisis racun baik kualitativ maupun kuantitativ
dari materi biologik atau non biologik, serta mempelajari tindakan-tidankan pencegahan
bahaya keracunan.

Odontologi Forensik, bidang ilmu ini berkembang berdasarkan pada kenyataannya bahwa:
gigi, perbaikan gigi (dental restoration), dental protese (penggantian gigi yang rusak),
struktur rongga rahang atas sinus maxillaris, rahang, struktur tulang palatal (langit-langit
keras di atas lidah), pola dari tulang trabekula, pola penumpukan krak gigi, tengkuk, keriput
pada bibir, bentuk anatomi dari keseluruhan mulut dan penampilan morfologi muka adalah
stabil atau konstan pada setiap individu. Berdasarkan kharkteristik dari hal tersebut diatas
dapat dijadikan sebagai acuan dalam penelusuran identitas seseorang (mayat tak dikenal).
Sehingga bukit peta gigi dari korban, tanda / bekas gigitan, atau sidik bibir dapat dijadikan
sebagai bukti dalam penyidikan tindak kejahatan.
Psikiatri forensik, seorang spikiater berperan sangat besar dalam bebagai pemecahan
masalah tindak kriminal. Psikogram dapat digunakan untuk mendiagnose prilaku,
kepribadian, dan masalah psikis sehingga dapat memberi gambaran sikap (profile) dari
pelaku dan dapat menjadi petunjuk bagi penyidik. Pada kasus pembunuhan mungkin juga
diperlukan otopsi spikologi yang dilakukan oleh spikiater, spikolog, dan patholog forensik,
dengan tujuan penelaahan ulang tingkah laku, kejadian seseorang sebelum melakukan tindak
kriminal atau sebelum melakukan bunuh diri. Masalah spikologi (jiwa) dapat memberi
berpengaruh atau dorongan bagi seseorang untuk melakukan tindak kejahatan, atau perbuatan
bunuh diri.
Entomologi forensik, Entomologi adalah ilmu tentang serangga. Ilmu ini memperlajari jenisjenis serangga yang hidup dalam fase waktu tertentu pada suatu jenasah di tempat terbuka.
Berdasarkan jenis-jenis serangga yang ada sekitar mayat tersebut, seorang entomolog
forensik dapat menduga sejak kapan mayat tersebut telah berada di tempat kejadian perkara
(TKP).
Antrofologi forensik, adalah ahli dalam meng-identifikasi sisa-sisa tulang, tengkorak, dan
mumi. Dari penyidikannya dapat memberikan informasi tentang jenis kelamin, ras, perkiraan
umur, dan waktu kematian. Antrofologi forensik mungkin juga dapat mendukung dalam
penyidikan kasus orang hidup, seperti indentifiksi bentuk tengkorak bayi pada kasus
tertukarnya anak di rumah bersalin.
Balistik forensik, bidang ilmu ini sangat berperan dalam melakukan penyidikan kasus tindak
kriminal dengan senjata api dan bahan peledak. Seorang balistik forensik meneliti senjata apa
yang telah digunakan dalam kejahatan tersebut, berapa jarak dan dari arah mana penembakan
tersebut dilakukan, meneliti apakah senjata yang telah digunakan dalam tindak kejahatan
masih dapat beroperasi dengan baik, dan meneliti senjata mana yang telah digunakan dalam

tindak kriminal tersebut. Pengujian anak peluru yang ditemukan di TKP dapat digunakan
untuk merunut lebih spesifik jenis senjata api yang telah digunakan dalam kejahatan tersebut.
Pada bidang ini memerlukan peralatan khusus termasuk miskroskop yang digunakan
untuk membandingkan dua anak peluru dari tubuh korban dan dari senjata api yang diduga
digunakan dalam kejahatan tersebut, untuk mengidentifikasi apakah memang senjata tersebut
memang benar telah digunakan dalam kejahatan tersebut. Dalam hal ini diperlukan juga
mengidentifikasi jenis selongsong peluru yang tertinggal.
Dalam penyidikan ini analisis kimia dan fisika diperlukan untuk menyidikan dari
senjata api tersebut, barang bukti yang tertinggal. Misal analisis ditribusi logam-logam seperti
Antimon (Sb) atau timbal (Pb) pada tangan pelaku atau terduga, untuk mencari pelaku dari
tindak kriminal tersebut. Atau analisis ditribusi asap (jelaga) pada pakaian, untuk
mengidentifikasi jarak tembak.
Serologi dan Biologi molekuler forensik, Seiring dengan pesatnya perkembangan bidang
ilmu biologi molekuler (imunologi dan genetik) belakangan ini, pemanfaatan bidang ilmu ini
dalam proses peradilan meningkat dengan sangat pesat.
Farmasi Forensik, Bidang farmasi berada dalam lingkup dunia kesehatan yang berkaitan erat
dengan produk dan pelayanan produk untuk kesehatan. Farmasi adalah seni dan ilmu meracik
dan menyediaan obat-obatan, serta penyedian informasi yang berhubungan dengan obat
kepada masyarakat. Seperti disebutkan sebelumnya, forensik dapat dimengerti dengan
penerapan/aplikasi itu pada issu-issu legal, (berkaitan dengan hukum). Penggabungan kedua
pengertian tersebut, maka Forensik Farmasi dapat diartikan sebagai penerapan ilmu farmasi
pada issu-issu legal (hukum) (Anderson, 2000). Farmasis forensik adalah seorang farmasis
yang profesinya berhubungan dengan proses peradilan, proses regulasi, atau pada lembaga
penegakan hukum (criminal justice system) (Anderson, 2000). Domain dari forensik farmasi
adalah meliputi, farmasi klinik, aspek asministrativ dari farmasi, dan ilmu farmaseutika dasar.
2.1.3 Peran Ilmu Forensik dalam Penyelesaian Kasus Kejahatan
Perdanakusuma (1984) mengelompokkan ilmu forensik berdasarkan peranannya dalam
menyelesaikan kasus-kasus kriminal ke dalam tiga kelompok, yaitu:
1. Ilmu-ilmu forensik yang menangani tindak kriminal sebagai masalah hukum.
Dalam kelompok ini termasuk hukum pidana dan hukum acara pidana. Kejahatan
sebagai masalah hukum adalah aspek pertama dari tindak kriminal itu sendiri,
karena kejahatan merupakan perbuatan-perbuatan yang melanggar hukum.
2. Ilmu-Ilmu forensik yang menangani tindak kriminal sebagai masalah teknis.

Kejahatan dipandang sebagai masalah teknis, karena kejahatan dari segi wujud
perbuatannya maupun alat yang digunakannya memerlukan penganan secara teknis
dengan menggunakan bantuan diluar ilmu hukum pidana maupun acara pidana.
Dalam kelompok ini termasuk ilmu kriminalistik, kedokteran forensik, kimia
forensik, fisika forensik, toksikologi forensik, serologi/biologi molekuler forensik,
odontologi forensik, dan entomogoli forensik.
3. Ilmu-ilmu forensik yang menangani tindak kriminal sebagai masalah manusia.
Dalam

kelompok

ini

termasuk

kriminologi,

psikologi

forensik,

dan

psikiatri/neurologi forensik. Kejahatan sebagai masalah manusia, karena pelaku


dan objek penghukuman dari tindak kriminal tersebut adalah manusia. Dalam
melakukan perbuatannya, manusia tidak terlepas dari unsur jasmani (raga) dan
jiwa. Disamping itu, kodrat manusia sebagai mahluk sosial, yang hidup di tengahtengah masyarakat. Oleh karena itu perbuatan yang dilakukan juga dipengaruhi
oleh faktor internal (dorongan dari dalam dirinya sendiri) dan faktor eksternal
(dipengaruhi oleh lingkungannya).
Berdasarkan klasifikasi diatas peran ilmu forensik dalam menyelesaikan masalah /
kasus-kasus kriminal lebih banyak pada penanganan kejahatan dari masalah teknis dan
manusia. Sehingga pada umumnya laboratorium forensik dimanfaatkan untuk kepentingan
peradilan, khususnya perkara pidana.
2.2 Laboratorium Forensik MABES POLRI
2.2.1 Deskripsi Umum Laboratorium Forensik Polri Cabang Surabaya
Laboratorium forensik merupakan salah satu laboratorium penelitian tindak pidana
yang ada di Indonesia. Manfaat laboratorium forensik secara umum adalah untuk
menganalisis berbagai macam barang bukti untuk membantu menyidik berbagai kasus
kriminal. Adapun didirikannya laboratorium forensik memuat beberapa tujuan, yaitu :
1. pembuktian proses tindak pidana dengan dasar ilmu forensik;
2. pembuktian secara ilmiah setiap kasus melalui pemeriksaan tingkat laboratorium yang
dilakukan oleh POLRI;
3. meningkatkan kinerja dan keahlian para ahli untuk menggali dan menerapkan ilmu
forensik terhadap berbagai kasus kriminalitas secara empiris untuk membantu
kepentingan menegakkan hukum.

Laboratorium forensik (Labfor) pertama yang ada di Indonesia ada di Jakarta yang
berdiri pada tanggal 15 Januari 1954 dengan dikeluarkan surat Kepala Kepolisian Negara
Nomor : 1/VIII/1954, dibentuklah Seksi Interpol dan Seksi Laboratorium, di bawah Dinas
Reserse Kriminil. Akan tetapi pada tahun 1960, dengan peraturan Menteri Muda Kepolisian
Nomor : 1/PRT/MMK/1960 tanggal 20 Januari 1960, Seksi Laboratorium dipisahkan dari
Dinas Reserse Kriminil Markas Besar Polisi Negara dan ditempatkan langsung di bawah
Komando dan Pengawasan Menteri Muda Kepolisian dengan nama Laboratorium
Departemen Kepolisian.
Perkembangan selanjutnya terjadi pada tahun 1963, dengan Instruksi Menteri/Kepala
Staf Angkatan Kepolisian No. Pol : 4/Instruksi/1963 tanggal 25 Januari 1963, dilakukan
penggabungan Laboratorium Departemen Kepolisian dengan Direktorat identifikasi menjadi
Lembaga Laboratorium dan Identifikasi Departemen Kepolisian. Perubahan kembali terjadi
pada tahun 1964, dilakukan pemisahan kembali Direktorat Identifikasi dengan Laboratorium
Kriminal dengan Surat Keputusan Menteri/Panglima Angkatan Kepolisian No. Pol :
11/SK/MK/1964 tanggal 14 Pebruari 1964.
Pada tahun 1970, Laboratorium Kriminal yang berada langsung dibawah Kepala
Kepolisian Negara dikembalikan di bawah Komando Utama Pusat Reserse dengan nama
Laboratorium

Kriminil

Koserse

dengan

Surat

Keputusan

Menteri

Pertahanan

Keamanan/Panglima Angkatan Bersenjata Nomor: Skep/A/385/VIII/1970. Pada tahun 1992


terjadi perubahan nama dari Laboratorium Kriminal menjadi Laboratorium Forensik
berdasarkan Surat Keputusan Pangab No. Kep/11/X/1992, tanggal 5 Oktober 1992.
Dengan Surat Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/53/X/2002 terjadi perubahan nama
dari Korserse menjadi Bareskrim maka sampai sekarang Puslabfor berkedudukan di bawah
Bareskrim Polri atau menjadi Puslabfor Bareskrim Polri, dan sampai saat ini Puslabfor telah
mempunyai 6 Laboratorium Forensik Cabang (Labforcab) yang tersebar di seluruh Indonesia.
Berdasarkan Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: SKEP/1176/X/1999, yang tersebar dalam
beberapa wilayah hukum sebagai berikut:
1. Labfor Cabang Medan meliputi Polda NAD, Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Riau
2. Labfor Cabang Palembang meliputi Polda Jambi, Sumatra Selatan, Lampung, dan
Bengkulu.
3. Labfor Pusat meliputi Polda Metro Jaya, Jawa Barat, dan Kalimantan Barat.
4. Labfor Cabang Semarang meliputi Polda Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta.
5. Labfor Cabang Surabaya meliputi Polda Jawa Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan
Tengah dan Kalimantan Timur.
6. Labfor Cabang Denpasar meliputi Polda Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara
Timur.

7. Labfor Cabang Ujung Pandang meliputi Polda Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara,
Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku dan Irian Jaya.

Gambar 1. Wilayah Pelayanan Puslabfor di Indonesia


http://www.labfor.polri.go.id

2.2.2 Sejarah Laboratorium Forensik Polri Cabang Surabaya


Sejarah berdirinya laboratorium forensik polri cabang Surabaya berasal dari order
kepala kepolisian negara NO. : 1/ VII / 1954 tanggal 15 Januari 1954, tentang pembentukan
seksi laboratorium pada dinas reserse kriminal / DKN. Laboratorium forensik polri cabang
Surabaya resmi berdiri dengan skep kepala kepolisian negara NO. : 26 / LAB / 1957 tanggal
16 April 1957, dengan initial LABORATORIUM KRIMINIL CABANG SURABAYA.
Tahun 1998 initial LABORATORIUM KRIMINIL CABANG SURABAYA diganti
menjadi LABORATORIUM FORENSIK POLRI CABANG SURABAYA.
Tugas pokok dan fungsi laboratorium forensik polri cabang Surabaya diantaranya,
a. Melaksanakan pemeriksaan teknis kriminalistik TKP & Laboratoris Kriminalistik Barang
Bukti
b. Melaksaan pembinaan dan pengembangan sumber daya Labfor meliputi SDM, Sismet,
Matfasjas dan instrument dalam rangka menjamin mutu pemeriksaan
c. Menyelenggarakan pembinaan teknis fungsi labfor kepada polri dan pelayanan umum
fungsi labfor kepada masyarakat.
2.2.3 Struktur Organisasi Laboratorium Forensik Polri Cabang Surabaya
KALABFOR CAB

WAKALABFOR CAB

KASUBBAG RENMIN

PAUR KEU

SUBBID
SUBBID
SUBBID
SUBBID
2.2.4 Visi dam Misi
Laboratorium Forensik
Polri Cabang Surabaya
DOKUPALFOR
FISKOMFOR
NARKOBAFOR
BALMETFOR

SUBBID
KIMBIOFOR

A. Visi :
Sanyata Karya Dharma
Labfor Cabang Surabaya sebagai fungsi forensik yang mendukung pelaksanaan
penegakkan hukum dengan berbasis sains dan teknologi melalui sinergi komunitas
forensik untuk memberikan kepastian hukum serta mewujudkan aparat penegak
hukum dan masyarakat yang berwawasan forensik.
B. Misi
Berdasarkan pernyataan visi yang dicita-citakan tersebut diatas, selanjutnya diuraikan
dalam misi Labfor Cabang Surabaya yang mencerminkan koridor tugas sebagai
berikut:
1) Melaksanakan pembangunan kekuatan Labfor Cabang Surabaya baik sistem dan
metode personel, materiil, fasilitas, jasa dan kesejahteraan.
2) Memelihara dan meningkatkan profesionalisme personel, meningkatkan upaya
pemeliharaan dan operasional peralatan, serta mengupayakan tercapainya sistem
dan metode pemeriksaan ilmiah yang standart sehingga mampu memberikan hasil
pemerikasaan yang valid (akurat, teliti, dan reproducible).
3) Melaksanakan penggunaan kekuatan Labfor Cabang Surabaya dalam upaya
pembuktian secara ilmiah sehingga tercipta kepastian hukum bagi masyarakat.
4) Melaksanakan pemeriksaan laboratoris barang bukti dan pemeriksaan teknis di
TKP dalam memberikan dukungan penyelidikan dan penyidikan kepada jajaran
polri serta instansi lain yang terkait.

5) Menyelenggarakan pembinaan teknis fungsi laboratorium forensik kepada aparat


penegak hukum melalui sosialisasi dan bimbingan teknis berdasarkan petunjuk
petunjuk bidang laboratorium forensik.
6) Menyelenggarakan sosialisasi fungsi forensik kepada instantsi di luar Polri
maupun masyarakat, sehingga terwujud masyarakat yang berwawasan forensik.
7) Menyelenggarakan kerjasama dengan instansi terkait berupa MoU dalam rangka
pemeriksaan barang bukti dan Olah TKP guna mencapai Grand Strategi Polri
pada tahap Partnership Building di tahun 2012.
2.2.5 Bidang-bidang Pemerikasaan pada Labfor Cabang Surabaya
a. Sub Bidang Narkoba Forensik (Subbid Narkobafor)
Subbid Narkobiofor menangani pemeriksaan narkotika, psikotropika, dan obat
berbahaya lainnya.
b. Sub Bidang Kimia Biologi Forensik (Subbid Kimbiofor)
Menangani pemeriksaan berupa bahan kimia (pemalsuan hasil/produk industri);
biologi atau serelogi (darah, sperma, urin, air liur); DNA dan toksikologi
(keracunan / peracunan, pencemaran limbah industri)
c. Sub Bidang Dokumen Palsu Forensik (Subbid Dokupalfor)
Menangani pemeriksaan teknis TKP dan analisis laboratorium barang bukti berupa
dokumen palsu, produk cetak, tanda tangan dan tulisan tangan, sampel, ijasah, kartu
kredit, keping CD, dan fotografi untuk membantu proses penyelidikan tindak pidana.
d. Sub Bidang Balistik Metalurgi Forensik (Subbid Balmetfor)
Menangani pemeriksaan balistik metalurgi forensik berupa senjata api, peluru,
logam palsu, nomor mesin, nomor rangka kendaraan bermotor dan nomor mesin
kendaraan, serta bahan peledak.
e. Sub Bidang Fisika Komputer Forensik (Subbid Fiskomfor)
Menangani pemeriksaan berupa tool mark, kendaraan dan pembakaran, laka lantas
dan laka kerja, kebohongan (lie detector), serta komputer forensik.
Pemeriksaan terhadap Barang Bukti harus didahului adanya pengajuan
permintaan

Barang

Bukti. Adapun

yang

pemeriksaan barang bukti yaitu:


1. Penyidik POLRI
2. Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS)

berwenang

mengajukan

permintaan

3. Polisi Militer (TNI)


4. Kejaksaan / Jaksa
5. Pengadilan Negeri / Hakim
Adapun syarat yang harus dipenuhi untuk pemeriksaan barang bukti adalah:
a. Surat permintaan yang jelas
b. Lampiran surat-surat formal / yuridis / otentik:
a) Laporan Kejadian/ Laporan Polisi / Berita Acara Pemeriksaan TKP
b)
c)
d)
e)

/Laporan Kemajuan
Berita Acara Penyitaan Barang Bukti
Berita Acara Penyisihan Barang Bukti
Berita Acara Pembungkusan dan Penyegelan.
Bila hasil otopsi, sertakan visum et repertum, contoh bahan pengawet

dalam kasus yang menyangkut tubuh dan nyawa manusia


f) Berita acara / surat mengenai keaslian bahan pembanding dalam kasus
pemalsuan hasil industri, pemalsuan dokumen
g) Surat-surat lain yang dianggap perlu
h) Ketentuan ini berlaku untuk semua jenis barang bukti tetapi ketentuan
tersebut dikhususkan berdasarkan jenis barang buktinya.
2.3 Bahan Peledak
2.3.1 Pengertian Bahan Peledak
Bahan peledak dapat di defenisikan sebagai suatu bahan atau campuran bahan yang
dengan spontan dapat berubah secara kimia tanpa suplay oksigen dari luar dan melepaskan
energi dalam jumlah besar yang ditandai dengan pengembangan gas panas, atau dengan kata
lain adalah suatu bahan kimia berupa senyawa tunggal atau campuran yang berbentuk padat
atau cair yang apabila dikenai oleh suatu aksi panas, benturan, gesekan atau ledakan awal
akan berubah menjadi bahan-bahan yang lebih stabil yang sebagian atau seluruhnya dalam
berbentuk gas dan disertai dengan tekanan dan panas yang sangat tinggi.
Secara legal bahan peledak banyak digunakan dalam dunia industri yang digunakan
dalam pertambangan seperti pada pengeboran minyak, mmenghancurkan batu-batuan
dipegunungan dan kebutuhan pertambangan lainnya, demikian juga banyak digunakan untuk
kepentingan militer misalnya sebagai demolisi, roket, propellant dan kebutuhan militer yang
lain, dimana bahan peledak untuk kedua kegunaan tersebut diatas setelah diproduksi secara
berkala dianalisa untuk quality control. Akan

tetapi secara illegal bahan peledak juga

digunakan oleh kelompok terorist dan pelaku-pelaku kriminal untuk pembuatan bom rakitan

yaitu dengan rancangan sedemikian rupa dengan bahan- bahn lain secara tidak sah untuk
tujuan dapat menimbulkan ledakan ( Lentz, R. Robert 1976 ).
Pada prinsipnya suatu ledakan adalah merupakan reaksi kimia yang terjadi secara
spontan dimana pada umumnya kita mengenal reaksi kimia dapat terjadi secara
termodinamika dan

termokinetika.

Namun demikian pada reaksi kimia bahan peledak

terjadinya suatu reaksi juga sangat dipengaruhi oleh adanya suatu energi gelombang yang
dikenal dengan shock wave dimana jenis reaksi ini dikenal dengan sono chemistry karena
terjadinya reaksi kimia adalah disebabkan oleh energi gelombang dan reaksi ini umumnya
dikelompokkan

dalam reaksi detonasi yaitu merupakan reaksi kimia sangat cepat dan

biasanya berada dalam wilayah kecepatan subsonic yang diawali dengan panas, disertai
dengan shock compression dan membebaskan energi yang mempertahankan shock wave serta
berakhir dengan ekspansi hasil reaksi, tetapi apabila reaksi yang terjadi berada pada
kecepatan dibawah subsonic dikenal dengan deflagrasi (deflagration) yang umumnya
terjadinya reaksi disebabkan oleh adanya konduksi panas.
Bahan peledak secara umum dapat dikelompokkan menjadi bahan peledak organik
misalnya TNT, PETN, RDX, Nitrogliceryne dan lain-lain

yang dapat meledak berupa

senyawa tunggal tanpa membutuhkan penambahan reduktor karena pada reaksinya terjadi
autoredoks, sedangkan bahan peledak anorganik biasanya berfungsi sebagai bahan peledak
berupa campuran senyawa misalnya campuran kalium nitrat, belerang dan karbon black
powder, campuran kalium klorat dan aluminium powder ( flash powder) yang mana reaksinya
adalah berupa reaksi reduksi-oksidasi antara oksidator dan reduktor. Demikian juga sebagai
pemicu ledakan dari kedua jenis bahan peledak ini berbeda yaitu untuk senyawa organik
ledakan terjadi dengan adanya shock wave sedangkan untuk senyawa anorganik ledakan yang
terjadi pada umumnya dipicu oleh adanya konduksi panas (Murray S G, Mechanism of
Explosion in Encyclopedia of Forensic Science .Ed By Siegel J,A.,at al. 2000).
2.3.2 Penggolongan Bahan Peledak
Penggolongan bahan peledak bukan hanya ditentukan berdasarkan kedua jenis
tersebut diatas tetapi juga dapat dilakukan berdasarkan struktur kimia, kegunaannya,
penempatannya dalam rantai detonasi dan berdasarkan sifat-sifat ledakannya yang dapat
dijelaskan sebagai berikut :
a. Berdasarkan struktur kimianya
1) Bahan peledak nitro organik yang umumnya terdiri dari :
- Nitro Aromatis : asam pikrat, TNT, 2,4 DNT dan lain-lain.

- Nitrate ester : ethyleneglycol Dinitrate (EGDN), Glycerol Trinitrate (NG), Penta


Eryhrithol Tetra Nitrat (PETN) dan lain-lain.
- Nitramine : 1,3,5 trinito 1,3,5 triazacyclo hexane (RDX),1,3,5,7 tetra nitro- 1,3,5,7
tetraza cyclooctane (HMX).
2). Peroksida organik : TATP, HMTD dan lain-lain.
3). Garam organik : ammonium nitrat.
4). Campuran oksidator dan reduktor, black powder, propellant dan lain- lain.
b. Berdasarkan kegunaannya
1). Bahan peledak militer : TNT, PETN, RDX.
2). Bahan peledak industri dinamit, amonium nitrat, emulsion explosives.
3). Bahan peledak improvisasi pembuatan illegal : kalium klorat dan gula ; kalium klorat,
sulfur dan aluminium powder dan lain-lain.
c. Berdasarkan penempatan dalam rangkaian detonasi
1). Primary Explosive : mercury fulminate, lead azide, dan lain-lain.
2). Booster : PETN
3). Main charge : TNT, RDX, black powder, flash powder .
d. Berdasarkan sifat ledakannya
1). High explosive : TNT, RDX.
2). Low explosive : black powder, smokless powder.
2.3.3 Sifat-sifat Fisik Bahan Peledak
a. Density
Massa jenis bahan peledak merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan
efek ledakan. Makin tinggi massa jenis makin terpusat energi dalam bahan peledak tersebut
sehingga makin besar efek ledakannya. Untuk menunjukkan massa jenis kadang-kadang
ditemukan istilahh cartridge count, ialah angka yang menunjukkan jumlah cartridge bahan
peledak. Loading density (de) adalah berat peledak per satuan panjang muatan dan dalam
satuan British dinyatakan dalam lb/ft. Sedang diameter muatan (De) dinyatakan dalam inci.
Dengan sendirinya makin rendah massa jenis makin tinggi cartridge count.
a.

Sensitifity

Sensitifitas adalah sifat yang menunjukkan tingkat kemudahan inisiasi bahan peledak
atau kemudahan bagi suatu reaksi kimia bahan peledak yang terjadi dalam lubang tembak
untuk menjalar melalui seluruh muatan. Sifat sensitif bahan peledak bervariasi tergantung
pada komposisi kimia bahan peledak, diameter, dan temperatur.
b.

Water Resistance
Ketahanan bahan peledak terhadap air adalah ukuran kemampuan suatu bahan

peledak untuk melawan air disekitarnya tanpa kehilangan sensitifitas atau efisiensi. Contoh
bahan peledak yang mempunyai ketahan terhadap air yang buruk adalah ANFO, sedangkan
untuk bahan peledak jenis emulsi, watergel dan bagah peledak berbentuk cartridge sangat
baik daya tahannya terhadap air.
c.

Chemical Stability
Kestabilan kimia bahan peledak maksudnya adalah kemampuan untuk tidak berubah

secara kimia dan tetap mempertahankan sensitifitas selama dalam penyimpanan di dalam
gudang dengan kondisi tertentu. Faktor-faktor yang mempercepat ketidakstabilan kimiawi
antara lain panas, dingin, kelembaban, kualitas bahan baku, kontaminasi, pengepakan, dan
fasilitas gudang bahan peledak. Tanda-tanda kerusakan bahan peledak dapat berupa
kenampakan kristalisasi, penambahan viskositas, dan penambahan densitas.
d.

Characteristics of Fumes (Karakteristik Gas)


Detonasi bahan peledak akan menghasilkan fume, yaitu gas-gas, baik yang tidak

beracun (non-toxic) maupun yang mengandung racun (toxic). Gas-gas hasil peledakan yang
tidak beracun seperti uap air (H 2O), karbondioksida (CO2), dan nitrogen (N2), sedangkan
yang beracun adalah nitrogen monoksida (NO), nitrgen oksida (NO2), dan karbon monoksida
(CO) .
2.3.4 Deflagrasi dan Detonasi.
2.3.4.1 Deflagrasi
Suatu bahan peledak dapat mengalami dekomposisi pada kecepatan suara dalam
material tersebut tanpa membutuhkan oksigen dari udara, dan reaksi ini dikenal dengan
deflagrasi. Reaksi ini dapat berjalan karena pelepasan panas dari reaksi, dan produk yang
dihasilkan berbanding terbalik dengan proses dekomposisi bahan peledak tersebut.

Contoh reaksi deflagrasi adalah pembakaran suatu serbuk (powder) atau suatu bahan
rocket. Jenis reaksi suatu bahan peledak apakah termasuk deflagrasi atau detonasi adalah
sangat ditentukan oleh sejauh mana perlakuan terhadap bahan peledak dimaksud.
Titik deflagrasi ( deflagration point ) dapat didefenisikan sebagai satu tempratur
dimana dengan sedikit sampel bahan peledak yang ditempatkan dalam test tube dan dengan
pemanasan dari luar terbakar menghasilkan nyala dan segera terdekomposisi.
Misalnya : 0,5 gram sampel ( bahan peledak) dimasukkan kedalam test tube dan
diimersikan kedalam suatu larutan logam (lebih disukai Wood, s metall ) bath pada suhu
1000C (2120 F), dan kenaikan temprature diatur 200C per menit sampai terjadi deflagrasi
atau mengalami dekomposisi.
Metode ini mempunyai kesamaan dengan metode resmi laid down dalam RID .
Nitroselulosa dan nitroselulosa serbuk ditest dalam satu stirer parrafin bath dan dipanaskan
dengan kenaikan suhu 50 C per menit. Proses deflagrasi disebut juga burning explosive yang
dapat dijelaskan berdasarkan pelepasan energi dan gas melalui suatu reaksi yang terjadi di
permukaan suatu bahan peledak. Pembakaran yang terjadi di permukaan suatu bahan peledak
dapat terjadi karena tersedianya bahan bakar (fuel) didalam bahan itu sendiri dan dioksidasi
oleh oksigen yang yang ada dalam bahan peledak itu sendiri.
Jadi energi yang dikandung dalam sistim melibatkan suatu reaksi kimia yang
kompleks dan menghasilkan pembakaran dengan panas yang lebih tinggi berupa lapisanlapisan di permukaan.
Dengan terjadinya pembakaran dipermukaan maka ini merupakan sumber panas dan
sebagian besar panas tersebut akan terkonduksi ke bahan peledak dan segera menambah atau
memperbesar pembakaran di permukaan sehingga menghasilkan suhu yang lebih tinggi.
Untuk lebih memudahkan memahami uraian diatas dapat dilihat pada Gambar : 2.3 berikut
ini.

Gambar 2. Proses pembakaran bahan peledak


Kecepatan pergerakan flame front dikenal dengan kecepatan pembakaran linier (r),
kecepatan pembakaran massa tidak dapat diprediksi, misalnya berapa massa bahan peledak
yang diubah menjadi panas dan gas. Pada peristiwa pembakaran dipermukaan ini terdapat
hubungan antara luas permukaan bahan peledak, dan kecepatan pembakaran linier yang
mempengaruhi mass burning rate yaitu :

2.3.4.2 Detonasi
Pada suatu proses pembakaran biasanya terjadi diakibatkan oleh adanya konduksi
panas terhadap suatu bahan peledak , sedangkan pada proses detonasi umumnya reaksi
terjadi diakibatkan adanya aliran shock wave

yang melewati bahan peledak tersebut

sehingga dapat diartiakan bahwa mekanisme suatu pembakaran pada prinsipnya berbeda
dengan mekanisme detonasi.
Pergerakan shock wave dalam bahan peledak tersebut mempunyai kecepatan setidaktidaknya sama dengan kecepatan suara di dalam bahan peledak itu sendiri dimana kecepatan
suara dalam suatu bahan peledak disekitar 1800 m/det adalah ditentukan sebagai batas
kecepatan minimum terjadinya suatu proses detonasi, namun demikian pada literatur lain ada
juga yang menetapkan batas minimum suatu proses detonasi adalah 1500 m/det.
Pada suatu proses detonasi maupun energi yang dilepaskan dalam suatu detonasi
dapat dijelaskan dengan Gambar : 2.4 berikut ini.
Shockwave diudara dari gelombang detonasi pada ledakan

Gambar 3. Proses detonasi suatu bahan peledak


Mekanisme yang terpenting pada proses detonasi antara lain adalah adanya suatu
kondisi compress adiabatic diantara rongga mikroskopis serta effek batas kristal untuk
menghasilkan keadaan hot spot yang bertumbuh sebagai suatu tekanan intensive dari shock
wave yang melewati suatu bahan peledak dimana energi yang dilepaskan dan gas yang
dihasilkan dalam zona reaksi selanjutnya segera didetonasi pada shock front.
Zona reaksi yang mempertahankan tekanan dalam shock front menghasilkan suatu
keadaan kecepatan steady-state

yang dikenal dengan kecepatan detonasi atau disebut

velocity of detonation (VOD).


Berikut ini diberikan beberapa nilai parameter yang berkaitan dengan kecepatan
detonasi untuk bahan peledak senyawa tunggal seperti yang terlihat pada Tabel : 2.1 berikut
ini.
Tabel 1. Parameter Detonasi dari beberapa bahan peledak

Ketebalan zona reaksi antara lain tergantung pada bahan peledak tersebut seperti tipe
ledakannya yang berhubungan dengan secepat apa secara kimia dapat terjadi dan juga pada
ukuran muatannya yang secara umum hanya beberapa milimeter. Bentuk atau model shock
wave front tergantung pada garis pemisah muatan, dan secara teoritis ukuran muatan dan titik
inisiasi tidak dapat ditentukan karena shock front segera menyebar keluar secara radial

(Murray S G, Mechanism of Explosion in Encyclopedia of Forensic Science .Ed By Siegel


J,A.,at al. 2000).
2.3.3.3 Kecepatan Detonasi dan Metode Dautriche
Kecepatan detonasi adalah kecepatan penyebaran detonasi dalam suatu peledakan.
Jika density dari suatu bahan peledak berada pada nilai maksimum , dan apabila bahan
peledak yang diisikan kedalam kolom yang mana jumlah dan lebarnya sesuai diameter
kritisnya, maka kecepatan detonasi adalah karakteristik dari masing-masing bahan peledak
tersebut dan tidak dipengaruhi oleh faktor faktor eksternal. Kecepatan detonasi akan
berkurang dengan berkurangnya density dari bahan peledak yang dimasukkan kedalam
kolom. Kecepatan detonasi bahan peledak nitrogliserin dan nitroglikol dalam keadaan
confined dan unconfined sangat berbeda nyata dan nilai ini dikenal dengan detonasi atas
( upper detonation ) dan detonasi bawah ( lower detonation ).
Metode penentuan kecepatan detonasi dengan Dautriche Method dilakukan dengan
memasukkan sampel (bahan peledak) yang akan ditentukan kedalam suatu kolom tertutup
yang biasanya terbuat dari pipa besi. Kemudian dengan ukuran panjang tertentu dari kolom
detonasi dilobangi (membuat loop ) dengan diameter masing-masing sesuai ukuran blasting
caps. Kedua loop tersebut dipasang blasting caps dan dihubungkan dengan detonating cord
yang dilewatkan melalui lembaran atau plat timah (Pb) dimana salah satu ujung plat
merupakan pusat (center) atau pertengahan dari panjang detonating cord.
Salah satu ujung pipa ( kolom detonasi ) dipasang detonator atau juga dapat di tambah
dengan suatu booster, maka apabila diledakkan pertama sekali terjadi ledakan detonator dan
booster kemudian meledakkan main charge dan mencapai blasting caps pertama dan kedua
sehingga kedua blasting caps akan terignisi dan terjadi ledakan detonating cord yang
menimbulkan notch pada plat Pb yang dapat diukur yaitu sebanding dengan kecepatan
gelombang detonasi dari bahan peledak utama ( main charge ) yang terdapat pada kolom
detonasi.
Adapun peralatan untuk menentukan kecepatan detonasi suatu bahan peledak dengan
Dautriche Method merupakan suatu metode yang sangat sederhana dan mudah dikerjakan
dengan hasil yang cukup akurat. Peralatan ini dapat digambarkan seperti Gambar 2.5 berikut
ini :

Gambar 4. Alat Dautriche methode


Akibat meledaknya detonating cord yang menghubungkan kedua blasting caps, maka
gelombang detonasi akan bertemu pada suatu titik dan menimbulkan notch yang dapat diukur
dari pusat detonating cord yang panjangnya ditentukan oleh kecepatan detonasi main charge
dalam kolom detonasi.
Kecepatan detonasi bahan peledak tersebut dapat dihitung jika dibandingkan dengan
kecepatan detonasi detonating cord yang telah diketahui dan dapat dihitung dengan rumus
berikut ini :

dimana Dx = Kecepatan detonasi sampel


D = Kecepatan detonasi detonating cord
m = Jarak loop pada kolom detonasi
a

= Jarak notch dengan pusat detonating cord

2.4 Analisa Kualitatif


2.4.1 Berdasarkan sifat fisik bahan
Sebelum kita melakukan penentuan sifat fisis berupa penentuan titik leleh dan bentuk
kristal untuk sampel padat dan penentuan titik didih dan indeks bias untuk sampel cair,
lakukanlah terlebih dahulu analisis pendahuluan. Untuk sampel padat analisis pendahuluan
meliputi: warna, bau, bentuk, kelarutan, pemanasasan dalam tabung uji serta tes nyala.
Sedangkan untuk sampel cair analisis penaduluan meliputi: warna, bau, kelarutan serta
keasaman.
2.4.2 Identifikasi Kation

Dalam analisis kualitatif sistematis, kation-kation diklasifikasikan dalam lima


golongan, berdasarkan sifat-sifat kation itu terdapat beberapa reagensia. Reagensia yang
umum dipakai diantaranya : asam klorida, Hidrogen sulfide, Amonium sulfide, dan Amonium
karbonat. Klasifikasi kation berdasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagensia,
reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak boleh dikatakan bahwa klasifikasi kation
yang paling umum didasarkan atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfide, dan karbonat
dari kation tersebut.
Reagensia yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah:

HCl

H2S

(NH4)2S

(NH4)2CO3
Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi dengan reagen-reagen sia ini

dengan membentuk endapan atau tidak. Klasifikasi katipon yang paling umum didasarkan
atas perbedaan kelarutan dari klorida, sulfat dan karbonat dari kation tersebut
Kelima golongan kation dan ciri-ciri khas golongan-golongan ini adalah sebagai berikut:
GOLONGAN I
Kation golongan I : Timbel(II), Merekurium(I), dan Perak(I)
Pereaksi golongan : Asam klorida encer (2M)
Reaksi golongan : endapan putih timbal klorida (PbCl 2), Merkurium(I) klorida (Hg2Cl2), dan
perak klorida (AgCl)
Kation golongan I membentuk klorida-klorida yang tak larut, namun timbale klorida
sedikit larut dalam air, dan karena itu timbal tak pernah mengendap dengan sempurna bila
ditambahkan asam klorida encer kepada suatu cuplikan ion timbal yang tersisa itu diendapkan
secara kuantitatif dengan H2S dalam suasana asam bersama-sama kation golongan II.
Nitrat dari kation-kation golongan I sangat mudah larut diantara sulfat-sulfat, timbal
praktis tidak larut, sedang perak sulfat jauh lebih banyak. Kelarutan merkurium(I) sulfat
terletak diantara kedua zat diatas. Bromide dan iodide juga tidak larut. Sedangkan
pengendapan timbal halida tidak sempurna dan endapan itu mudah sekali larut dalam air
panas.sulfida tidak larut asetat-asetat lebih mudah larut, meskipun perak asetat bisa

mengendap dari larutan yangagak pekat. Hidroksida dan karbonat akan diendapkan dengan
reagensia yang jumlahnya ekuivalen.tetapi pada reagensia berlebih, ia dapat bergerak dengan
bermacam-macam cara dimana ada perbedaan dalam sifat-sifat zat ini terhadap ammonia.
GOLONGAN II
Kation golongan II : Merkurium(II), timbal(II), bismuth(III), tembaga(II), cadmium(II),
arsenic(III) dan(V), stibium(III), dan timah(II)
Reagensia golongan : hydrogen sulfide(gas atau larutan-air jenuh)
Reaksi golongan : endapan-endapan dengan berbagai warna HgS (hitam), PbS (hitam), Bi2S3
(coklat), As2S3 (kuning), Sb2S3 (jingga), SnS2 (coklat) dan SnS2 (kuning)
Kation-kation golongan II dibagi menjadi 2 sub golongan, yaitu sub. Golongan
tembaga dan sub. Golongan arsenic. Dasar pembagian ini adalah kelarutan endapan sulfide
dalam ammonium polisulfida sub. Golongan tembaga tidak larut dalam reagensia ini. Sulfide
dari sub. Golongan arsenic melarut dengan membentuk garam tio.
GOLONGAN III
Kation golongan III : Fe 2+ , Fe 3+ , Al 3+ , Cr 3+ , Cr 6+ , Ni 2+ , Cu 2+ , Mn 2+ , dan Mn
7+ , Zn 2+
Reagensia golongan : H2S(gas/larutan air jenuh) dengan adanya ammonia dan ammonium
klorida atau larutan ammonium sulfide
Reaksi golongan : endapan dengan berbagai warna FeS (hitam), Al(OH)3 (putih), Cr(OH)3
(hijau), NiS (Hitam), CoS (hitam), MnS (merah jambu), dan Zink sulfat (putih)
Logam golongan ini tidak diendapkan oleh reagensia golongan untuk golongan I dan II tetapi
semua diendapkan dengan adanya ammonium klorida oleh H2S dari larutan yang telah
dijadikan basa dengan larutan ammonia. Logam-logam ini diendapkan sebagai sulfide,
kecuali Al3+ dan chromium yang diendapkan sebagai hidroksida, karena hidroksida yang
sempurna dari sulfide dalam larutan air, besi, aluminium, dan kromium(sering disertai sedikit
mangan) juga diendapkan sebagai hidroksida oleh larutan amonia dengan adanya ammonium
klorida, sedangkan logam-logam lain dari golongan ini tetap berada dalam larutan dan dapat

diendapkan sebagai sulfide oleh H2S. maka golongan ini bisa dibagi menjadi golongan
besi(besi, aluminium, mangan dan zink) atau golongan IIIB.
GOLONGAN IV
Kation golongan IV : Barium, Stronsium, dan Kalsium
Reagensia golongan : terbentuk endapan putih
Reaksi golongan : terbentuk endapan putih
Reagensia mempunyai sifat:
- tidak berwarna dan memperlihatkan reaksi basa
- terurai oleh asam-asam(terbentuk gas CO2)
- harus dipakai pada suasana netral/ sedikit basa
Kation-kation golongan IV tidak bereaksi dengan reagen HCl H2S, ataupun ammonium
sulfide, sedang dengan ammonium karbonat (jika ada ammonia atau ion ammonium dalam
jumlah yang sedang) akan terbentuk endapan putih (BaCO3, SrCO3, CaCO3).
GOLONGAN V
Kation golongan V : Magnesium, Natrium, Kalium dan Amonium
Reagensia golongan : tidak ada reagen yang umum untuk ketiga golongan V ini
Reaksi golongan : Tidak bereaksi dengan HCl, H2S, (NH4)2S, atau (NH4)2CO3
Reaksi-reaksi khusus dan uji nyala dapat dipakai untuk mengidentifikasi ion-ion dan kation
golongan ini. Mg memperlihatkan reaksi-reaksi yang serupa dengan reaksi-reaksi dari
golongan keempat. Magnesium karbonat dengan adanya garam ammonium dapat larut.
Reaksi magnesium tak akan mengendap bersama kation golongan IV. Reaksi ion ammonium
sangat serupa dengan reaksi-reaksi ion kalium, karena jari-jari ion dari kedua ion ini hamper
identik
Sumber : Vogel. 1990
2.4.3 Identifikasi Anion
Analisis anion diawali dengan uji pendahuluan untuk memperoleh gambaran ada
tidaknya anion tertentu atau kelompok anion yang memiliki sifat- sifat yang sama.
Selanjutnya diikuti dengan proses analisis yang merupakan uji spesifik dari anion tertentu.
Pemisahan secara fisik dari anion umumnya tidak penting, karena uji spesifik anion hanya
peka terhadap anion tertentu dan tidak peka untuk anion lainnya. Hanya bila terjadi
interferensi atau gangguan dalam suatu analisis anion oleh anion lain maka diperlukan

langkah awal proses pemisahan. Beberapa uji pendahuluan dan uji identifikasi atau uji
spesifik dapat dilakukan dalam fasa padatan, tetapi untuk memperoleh validitas pengujian
yang tinggi biasanya dilakukan dalam keadaan larutan. Kelarutan bahan-bahan organik
terutama garam akan sangat membantu dalam menetapkan kombinasi antar anion dan kation.
Misalnya, jika larutan zat yang tidak diketahui ditemukan mengandung ion karbonat (CO 32-),
maka hanya dimungkinkan ada kation-kation tertentu seperti K+, Na+ , NH4+, sebab garam
karbonat dari kation lain tidak larut dalam air.
Jika zat yang tidak diketahui tidak larut dalam air, harus dilakukan perlakuan tertentu
dengan pereaksi kimia agar menjadi larut. Beberapa anion tidak stabil dalam larutan asam,
atau bereaksi satu sama lain dalam suasana asam. Bila terjadi keadaan tidak stabil suasan
asam, maka analisis anion harus dilakukan dalam suasana basa.
Penyelidikan sampel dari padatan yang tidak larut untuk analisis anion, dilakuakn
dengan mendidihkan padatan dalam larutan jenuh natrium karbonat. Perlakuan ini digunakan
untuk mengubah anion ke dalam bentuk garam natrium yang larut dan menyisakan kationnya
sebagai karbonat yang tidak larut atau produk dari hidrolisisnya. Perlakuan dengan natrium
karbonat juga dilakaukan untuk campuran yang mengandung logam berat tertentu, agar tidak
terjadi interferensi dalam uji anion. Analisis anion yang sering dilakukan meliputi 11 anion
yang paling umum, yaitu anion sulfida (S2-), sulfit (SO32-), karbonat (CO32-), nitrit (NO2-),
iodida (I-), bromida (Br-), klorida (Cl-), fosfat (PO43-), kromat (CrO42-), nitrat (NO3-), dan
sulfat (SO42-).
2.5 Analisa Bahan
2.5.1 Kalium Klorat
Secara kimia kalium klorat adalah suatu senyawa yang mengandung Kalium, Klorida dan
Oksigen dengan rumus molekul KClO 3, mempunyai berat molekul 122,6, titik leleh 370oC dan
berat jenis 2,34 g/cm,3 titik didih 400oC dan titik nyala 400oC. Dalam bentuk murni kalium klorat
berupa kristal monoklinik berwarna putih dan digolongkan dalam senyawa oksidator kuat.
Kalium klorat sedikit larut dalam air dingin dan segera larut dalam air panas, tetapi tidak larut
dalam alkohol ( Kohler and Meyer, 1993).

Kalium klorat sangat reaktif dan peka terhadap panas yang apabila diberi panas akan
terurai menjadi kalium klorida dan gas oksigen.
2 KClO3

2 KCl + 3 O2

Kalium klorat juga dapat bereaksi dengan beberapa logam tertentu dalam fase padat
(serbuk halus) sambil melepaskan energi, yaitu antara lain dengan logam aluminium,
magnesium dan logam-logam yang segolongan dengannya.
KClO3 + 2 Al

KCl + Al2O3

Reaksi lainnya dari kalium klorat yang berkaitan dengan sifat ledakannya adalah
reaksi dengan Sulfur melalui tahapan reaksi dengan oksigen dari udara yaitu melalui
pembentukan SO2 dimana akan memberikan implikasi sifat ignisi spontan pada reaksi
campuran antara klorat dan sulfur yang reaksinya dapat digambarkan sebagai berikut:
S + O2
2KClO3 + SO2
4S + 2ClO2

SO2
K 2SO4 + 2 ClO2
2SO2 + S2Cl

Reaksi tersebut diatas adalah merupakan salah satu kemungkinan mekanisme reaksi
pada ignisi spontan yang terjadi antara kalium klorat dengan sulfur yang mana dapat dilihat
bahwa 1 mol sulfur dapat menghasilkan 2 mol gas SO2 ( B.J.Kosanke at al, 2004).
Klorin dioksida (ClO2) mempunyai sifat reaktifitas sangat tinggi, mempunyai titik
didih 110C, bersifat paramagnetik. Klorin dioksida cair dapat meledak pada suhu diatas 400C, dan dalam bentuk gas pada tekanan partial > 55 mm Hg apabila bercampur dengan
reduktor akan segera terdetonasi dan terjadi ledakan yang kuat.
Klorin dioksida adalah molekul berelektron ganjil yang sangat reaktif dan cenderung
tetapi tidak memebentuk dimer seperti molekul-molekul berelektron ganjil lainnya, hal ini
disebabkan oleh karena dapat disetabilkan energi resonansinnya (J.D.Lee, 1994).
Secara komersil dalam industri dan di kehidupan sehari hari kalium klorat banyak
digunakan sebagai komponen utama pembuatan korek api, desinfektan, penghasil oksigen
dan juga untuk pembuatan petasan serta kembang api. Suatu campuran kalium klorat dengan
tepung (serbuk) logam (misalnya : aluminium, magnesium) dikenal dengan flash powder.
Campuran ini sangat peka terhadap panas maka dengan memberi sedikit panas akan terjadi
reaksi spontan atau mengalami deflagrasi. Jika reaksi terjadi dalam wadah tertutup akan
menimbulkan ledakan yang berkekuatan rendah atau bersifat low explosive.
Beberapa campuran kalium klorat yang sudah dikenal antara lain adalah dengan gula
pasir disebut sugar bomb, dan beberapa formulasi yang dimodifikasi yaitu menggunakan
antimoni sulfida sebagai pengganti sulfur, magnesiun atau suatu alloy aluminium
magnesium (magnalinium) sebagai pengganti alluminium. Juga ditemukan bahan peledak
flash powder yang diproduksi secara illegal yang dikenal dengan M-805 dan M-1005 (
Saferstein Richard, 2002) .

Komposisi bahan peledak kalium klorat lainnya yang telah dikenal adalah berupa
kalium klorat 9 bagian dicampur dengan 1 bagian vaseline atau petroleum jelly, kemudian
diberi shock wave maka campuran ini akan terdetonasi dan ledakannya lebih kuat dari
peledak black powder dan sifat ledakannya high explosive ( The Terrorist Handbook,
Gunzenboom 2002 ).
2.5.2 Aluminium
Aluminium dalam bentuk serbuk halus (tepung) biasanya ditambahkan kedalam
bahan peledak dan propellant untuk menambah atau menaikkan efisiensinya. Pada reaksinya
umumnya tidak terbentuk gas, tetapi dihasilkan aluminium oksidasi dalam bentuk padat,
tetapi panas pembentukan oksida tersebut sangat tinggi, yaitu 396 kca/mol = 1658 kJ/mol;
3883 kcal/kg = 1620 kJ/kg. Penambahan aluminium diperkirakan akan menaikkan panas
ledakan dan memberikan uap panas dengan suhu sangat tinggi dan dapat diyakini bahwa
dalam gelombang detonasi pertama aluminium tidak beraksi sempurna, tetapi reaksi
kemudian sempurna pada zone uap (post-heating).
Jika jumlah aluminium dalam campuran bahan peledak relatif tinggi akan dihasilkan
pengaruh suatu gas impact, selanjutnya bagian dari campuran yang tidak bereaksi dari uap
dengan oksigen di udara kemungkinan menghasilkan suatu penundaan ledakan kedua .
Aluminium sudah digunakan luas sebagai campuran bahan peledak antara lain pada
amatol, DBX, HBX-1, hexal, minex, minol, tarpex, trialenes, tritoral dan hexotonal. Pengaruh
yang tampak dihasilkan oleh serbuk aluminium sering digunakan dalam slurries dan juga
dalam composite propellants. Karakteristik yang sangat penting dari serbuk aluminium
adalah bentuk dan ukuran butiran kecil dan keras ( Kohler and Meyer 1992).
Ada beberapa reaksi aluminium yang erat kaitannya dengan proses pembakaran dan
ledakan sehingga reaksi ini dikelompokkan dalam reaksi yang mempunyai resiko berbahaya
dan secara umum digambarkan sebagai berikut:
Aluminium + X

Combustion/explosion

X = Bahan oksidator
Reaksi ini dapat melibatkan air, pembakaran spontan, material pyrotechnic sebagai
sumber ignisi dalam korek api.
Beberapa contoh jenis reaksi aluminium adalah :
a. Reaksi Thermite.
Reaksi ini jika di peragakan termasuk reaksi yang mengandung resiko berbahaya.
2 Al (s) + Fe2O3 (s)

2 Fe + Al2O3

panas reaksi = - 848 kJ.


b. Reaksi Pyrotechnic.
Reaksi ini umumnya melibatkan oksidator kuat.
6 NH4ClO4 + 10 Al

5Al2O3 + 6HCl + 3N2 + 9H2O

Campuran ini juga dapat dijadikan sebagai suatu sumber ignisi seperti pada pembuatan
korek api.
c. Aluminium khususnya dalam bentuk serbuk dapat bereaksi dengan air dan jika ada asam
atau basa kuat akan menghasilkan gas hidrogen.
2Al + 2NaOH + 6 H2O

2NaAl(OH)4 + 3H2
NaAlO2. 2H2O + 3H2

2Al + 6 H+

2Al+3 + 3H2

Beberapa contoh dari reaksi model ini adalah terdapat pada korek api, statik spark,
sinar cosmis dan lain-lain. Dalam reaksi ini tidak dapat digunakan counter ion oleh karena
reaksi oksidasi suatu logam umumnya menghasilkan gas H2 .
Aluminium foil dapat dilarutkan dalam asam atau basa kuat dalam ruang yang
confined (padat/sempit) dan dapat menghasilkan panas tinggi yang sangat cepat dalam
pembakaran dari hidrogen, hal ini juga dapat menjelaskan bahwa dengan adanya air dalam
bahan peledak maka sifat ledakan tersebut menjadi makin rendah.
Umumnya korek api yang digolongkan kedalam pyrotechnic adalah mengandung
bahan phospor dan sebagai ignisiasi adalah sulfur yang ditambah dengan zat oksidator kuat
untuk pembakarannya.
Aluminium pada kenyataannya adalah suatu logam yang sangat reaktif dan flamable,
sehingga umumnya dilindungi dengan suatu pelapis yang tidak reaktif (innert) dari
aluminium oksida. Selanjutnya dengan melarutkan oksida tersebut akan memperlihatkan
suatu permukaan aluminium yang cerah yang mana dapat bereaksi dengan air maupun
dengan udara.
2.5.3 Belerang
Belerang atau sulfur bersama dengan charcoal telah lama digunakan sebagai
komponen bahan bakar dalam black powder.
Sulfur mempunyai berat atom 32,07, berat jenis 2,079/cm 3, titik leleh 1130C
sedangkan titik didih 4450C.

Sulfur atau belerang banyak ditemui di alam dalam bentuk -sulfur yang mengandung
cincin S8 dan biasanya belerang berbentuk padat warna kuning muda, tidak berasa dan tidak
berbau.
Sulfur mempunyai beberapa bentuk struktur yang dikenal dengan allotropic yaitu
bentuk rombis, monoklinik, polimer dan bentuk lainnya akan tetapi struktur yang paling
sering ditemukan adalah bentuk belah ketupat. Setiap bentuk allotropic dari sulfur tersebut
memeberikan sifat-sifat yang berkata baik dalam kelrutan, bobot, kristal dan konstanta
fisiknya, namun berbagai allotrop juga bisa eksis bersama-sama dalam keseimbagan dalam
proporsi tertentu tergantung pada suhu dan tekanan.
Bentuk belah ketupat dari kristal monoklim sulfur terdiri dari delapan atom belerang
(sulfur) membentuk struktur cincin. Pada suhu kurang dari 95,400C dengan tekanan tertentu
kristal belah ketupat tersebut stabil tetapi pada suhu 118,90C kristal akan mencair sedangkan
pada suhu 1600C atau lebih , maka kedelapan anggota cincin molekul sulfur akan pecah dan
rantai cincin menjadi terbuka kemudian rantai molekul sulfur yang terbentuk akan bergabung
membentuk suatu struktur polimer bercabang melalui mekanisme radikal bebas.
Pada temperatur tinggi, kristalin yang dibentuk oleh polimer sebagai rantai panjang
sering berorientasi membentuk heliks melingkar kedalam membentuk sudut ikatan kepada
delapan anggota cincin.
Disamping dalam bentuk padat sulfur juga dapat ditemukan dalam bentuk gas yaitu
untuk S2 (disulfur), S3 (trisulfur), dan S4 (tetrasulfur). Demikian juga dalam bentuk padat
selain S-8 juga dikural siklo S-5 (penta sulfur), siklo S-6 (hexa sulfur) dan siklo S-7 (hepta
sulfur) sedangkan untuk S-8 dapat dibagi menjadi sulfur, sulfur, sulfur.
Siklo S-8 sulfur juga dikenal dengan orthoromic sulfur dan secara rumus lebih
stabil terhadap panas hingga 950C dan pada suhu 95,3 0C berubah menjadi sulfur adalah
kristal kuning dengan bentuk kristal monoclinic dan lebih sedikit dari sulfur dan hanya
stabil setelah 95,30C sebelumnya adalah dalam bentuk sulfur, titik didih dari sulfur adalah
berkisar pada 119,6 - 119,80C, sedangkan sulfur dikenal dengan nacrus sulfur mother of
pearl sulfur GerNezls sulfur ditemukan dalam bentuk padat bewarna kuning cerah
ditemukan dari alam sebagai mineral rosickyfe.

Gambar 5. Bentuk Struktur S8 Flat dan S8 3 Dimensi


2.6 Analisa Instrumen
2.6.1 FTIR (Cara Kerja, prinsip dasar, aplikasi)
Septroskopi FTIR adalah teknik pengukuran untuk mengumpulkan spektrum
inframerah. Energi yang diserap sampel pada berbagai frekuensi sinar infremerah direkam,
kemudian diteruskan ke interferometer. Sinar pengukuran sampel diubah menjadi
interferogram. Perhitungan secara matematika Fourier Transform untuk sinyal tersebut akan
menghasilkan spektrum yang identik pada spektroskopi inframerah.

Gambar 6. Prinsip Kerja FTIR


FTIR terdiri dari 5 bagian utama, yaitu (Griffiths, 1975):
a. Sumber sinar, yang terbuat dari filamen Nerst atau globar yang dipanaskan menggunakan
listrik hingga temperatur 1000-1800oC.
b. Beam splitter, berupa material transparan dengan indeks relatif, ehingga menghasilkan
50% radiasi akan diteruskan.

c. Interferometer, merupakan bagian utama dari FTIR yang berfungsi untuk membentuk
interferogram yang akan diteruskan menuju detektor.
d. Daerah cuplikan, dimana berkas acuan dan cuplikan masuk ke dalam daerah cuplikan
dan masing-masing menembus sel acuan dan cuplikan secara bersesuaian.
e. Detektor, merupakan piranti yang mengukur energi pancaran yang lewat akibat panas
yang dihasilkan. Detektor yang sering digunakan adalah termokopel dan balometer.
Mekanisme yang terjadi pada alat FTIR dapat dijelaskan sebagai berikut. Sinar yang
datang dari sumber sinar akan diteruskan, kemudian akan dipecah oleh pemecah sinar
menjadi dua bagian sinar yang saling tegak lurus. Sinar ini kemudian dipantulkan oleh dua
cemin yaitu cermin diam dan cermin bergerak. Sinar hasil pantulan kedua cermin akan
dipantulkan kembali menuju pemecah sinar untuk saling berinteraksi. Dari pemecah sinar,
sebagian sinar akan diarahkan menuju cuplikan dan sebagian menuju sumber. Gerakan
cermin yang maju mundur akan menyebabkan sinar yang sampai pada detektor akan
berfluktuasi. Sinar akan saling menguatkan ketika kedua cermin memiliki jarak yang sama
terhadap detektor, dan akan saling melemahkan jika kedua cermin memiliki jarak yang
berbeda. Fluktuasi sinar yang sampai pada detektor ini akan menghasilkan sinyal pada
detektor yang disebut interferogram. Interferogram ini akan diubah menjadi spektra IR
dengan bantuan komputer berdasarkan operasi matematika (Tahid, 1994).