Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

DENGUE HAEMORRHAGIC FEVER (DHF)

Disusun Oleh :
RAHMI HIDAYATI
NPM. 11210 AS1

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


BANJARMASIN PROGRAM STUDI S.1 KEPERAWATAN
BANJARMASIN, 2015

A. Pengertian
Demam berdarah dengue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh arbovirus
(Arthropadborn Virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aides (Aides
albopictus dan Aedes Aegepty) (Ngastiyah, 2005).
Demam berdarah dengue adalah penyakit demam akut dengan ciri-ciri demam
manifestasi perdarahan dan bertendensi mengakibatkan renjatan yang dapat
menyebabkan kematian (Arief Mansjoer, 2000).
Dengue hemoragic fever (DHF) adalah penyakit yang terdapat pada anak dan
dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang disertai leukopenia,
dengan / tanpa ruam (rash) dan limfadenopati. Thrombocytopenia ringan dan bintikbintik perdarahan (Noer Syaifullah, 2000).
Jadi demam berdarah dengue adalah suatu penyakit infeksi yang disebabkan
oleh virus dengue dengan menifestasi klinis demam disertai gejala perdarahan dan
bila timbul renjatan dapat menyebabkan kematian.
Klasifikasi Dengue Hemoragic Fever (DHF)
Mengingat derajat beratnya penyakit bervariasi dan sangat erat kaitanya
dengan pengelolaan dan prognosis, WHO (1975) membagi DBD dalam 4 derajat
setelah kriteria laboratorik terpenuhi yaitu :
1. Derajat I
Demam mendadak 2-7 hari disertai gejala tidak khas, dan satu-satunya manifestasi
perdarahan adalah tes toniquet positif
2. Derajat II
Derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau perdarahan lain.
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi ringan yaitu nadi cepat dan lemah tekanan darah
rendah, gelisah, sianosis mulut, hidung dan ujung jari.
4. Derajat IV
Syok hebat dengan tekanan darah atau nadi tidak terdeteksi.

B. Etiologi
Penyebab penyakit Dengue Hemorragic Fever (DHF) atau demam berdarah
adalah Virus Dengue, di indonesia virus tersebut sampai saat ini telah di isolsi
menjadi 4 serotipe virus Dengue yang termasuk dalam grup B dalam Arthropedi bone
viruses (arbu viruses), yaitu DEN-1,DEN -2,DEN-3, dan DEN-4.Ternyata DEN-2
dan DEN-3 merupakan serotipe yang menjadi penyebab terbanyak.Di Thailand, di
laporka bahwa serotipe DEN-2 adalah dominan.sementara di Indnesia, yang terutama
domian adalah DEN-3, tetapi akhhir-akhir ini ada kecenderungan doinansi DEN-2.
Infeksi oleh salah satu serotipe meninbulkan anti badi seumur hidup terhadap serotipe
bersangkutan, tetapi tidak ada perlindungan terhadap serotipe lain.Virus dengue
terutama di tularkan melalui vektor nyamuk aedes aegypti.nyamuk aedes albopictus,
aedes poly nesiensis, dan beberapa spesies lain kurang berperan. Jenis nyamuk ini
terdapat hampir di seluruh indonesia kecuali di ketinggian lebi dari 1000 m di atas
permukaan laut.
Mekanisme sebenarnya mengenai patofisiologi,hemodinamika,dan biokimia
DHF hingga kini belum di ketahi secara pasti. Sebagian besar sarjana masih
menganut The Secondary Heterologous Infection Hyphotesis ata The Sequential
Infection Hyphotesis dari Halsteel yang menyatakan bahwa DHF dapat terjadi bila
seorang seteleh terinfeksi degue untuk pertamakalinya mendapat infeksi berulang
dengan tipe virus dengue yang berbeda (Nursalam, 2005).
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang timbul bervariasi berdasarkan derajat DHF, dengan
masa inkubasi antara 13-15 hari menurut WHO (1975) sebagai berikut
1. Demam tinggi mendadak dan terus menerus 2-7 hari
2. Manifestasi

perdarahan,

paling

tidak

terdapat

uji

tourniquet

positif,

seperti perdarahan pada kulit (petekie, ekimosis. Epistaksis, Hematemesis,Hematuri,


dan melena)

3. Pembesaran hati (sudah dapat diraba sejak permulaan sakit)


4. Syok yang ditandai dengan nadi lemah, cepat disertai tekanan darah menurun
(tekanan sistolik menjadi 80 mmHg atau kurang dan diastolik 20 mmHg atau kurang)
disertai kulit yang teraba dingin dan lembab terutama pada ujung hidung, jari dan
kaki, penderita gelisah timbul sianosis disekitar mulut.
Selain timbul demam, perdarahan yang merupakan ciri khas DHF gambaran
klinis lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF adalah:
1. Keluhan pada saluran pernafasan seperti batuk, pilek, sakit waktu menelan.
2. Keluhan pada saluran pencernaan: mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi
3. Keluhan sistem tubuh yang lain: nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot, tulang
dan sendi, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati, pegal-pegal pada saluran tubuh dll.
4. Temuan-temuan laboratorium yang mendukung adalah thrombocytopenia (kurang
atau sama dengan 100.000 mm3) dan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit lebih
atau sama dengan 20 %)

D. Patofisiologi
Virus Dengue masuk ke dalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk terjadi
viremia, yang ditandai dengan demam mendadak tanpa penyebab yang jelas disertai
gejala lain seperti sakit kepala, mual, muntah, nyeri otot, pegal di seluruh tubuh,
nafsu makan berkurang dan sakit perut, bintik-bintik merah pada kulit. Selain itu
kelainan dapat terjadi pada sistem retikulo endotel atau seperti pembesaran kelenjarkelenjar getah bening, hati dan limpa. Pelepasan zat anafilaktoksin, histamin dan
serotonin

serta

aktivitas

dari

sistem

kalikrein

menyebabkan

peningkatan

permeabilitas dinding kapiler/vaskuler sehingga cairan dari intravaskuler keluar ke


ekstravaskuler atau terjadinya perembesaran plasma akibatnya terjadi pengurangan
volume plasma yang terjadi hipovolemia, penurunan tekanan darah, hemokonsentrasi,
hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Selain itu sistem reikulo endotel bisa terganggu
sehingga menyebabkan reaksi antigen anti body yang akhirnya bisa menyebabkan

Anaphylaxia. Akibat lain dari virus dengue dalam peredaran darah akan
menyebabkan depresi sumsum tulang sehingga akan terjadi trombositopenia yang
berlanjut akan menyebabkan perdarahan karena gangguan trombosit dan kelainan
koagulasi dan akhirnya sampai pada perdarahan kelenjar adrenalin. Plasma merembas
sejak permulaan demam dan mencapai puncaknya saat renjatan. Pada pasien dengan
renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai 30% atau lebih. Bila renjatan
hipovolemik yang terjadi akibat kehilangan plasma yang tidak dengan segera diatasi
maka akan terjadi anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian. Terjadinya
renjatan ini biasanya pada hari ke-3 dan ke-7.
Reaksi lainnya yaitu terjadi perdarahan yang diakibatkan adanya gangguan
pada hemostasis yang mencakup perubahan vaskuler, trombositopenia (trombosit <
100.000/mm3), menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya faktor koagulasi
(protrombin, faktor V, IX, X dan fibrinogen). Pembekuan yang meluas pada
intravaskuler (DIC) juga bisa terjadi saat renjatan. Perdarahan yang terjadi seperti
petekie, ekimosis, purpura, epistaksis, perdarahan gusi, sampai perdarahan hebat pada
traktus gastrointestinal (Rampengan, 1997).

E. Manifestasi Klinik
Kasus DHF di tandai oleh manifestasi klinis, yaitu : demam tinggi dan
mendadak yang dapat mencapa 40 C atau lebih dan terkadang di sertai dengan
kejang demam, sakit

kepala, anoreksia,

muntah-muntah (vomiting), epigastric,

discomfort, nyeri perut kana atas atau seluruh bagian perut; dan perdarahan,
terutama perdarahan kulit,walaupun hanya berupa uji tuorniquet poistif. Selain itu,
perdarahan kulit dapat terwujud memar atau dapat juga dapat berupa perdarahan
spontan mulai dari ptechiae (muncul pada hari-hari pertama demam dan berlangsung
selama 3-6 hari) pada extremitas, tubuh, dan muka, sampai epistaksis dan perdarahan
gusi. Sementara perdarahan gastrointestinal masif lebih jarang terjadi dan biasanya
hanya terjadi pada kasus dengan syok yang berkepanjangan atau setelah syok yang

tidak dapat teratasi. Perdarahan lain seperti perdarahan sub konjungtiva terkadang
juga di temukan. Pada masa konvalisen sering kali di temukan eritema pada telapak
tangan dan kaki dan hepatomegali. Hepatomegali pada umumnya dapat diraba pada
permulaan penyakit dan pembesaran hati ini tidak sejajar dengan beratanya penyakit.
Nyeri tekan seringkali di temukan tanpa ikterus maupun kegagalan peredaran darah
(circulatory failure) (Nursalam, 2005).

F. Penatalaksaaan
1. Medis
Pada dasarnya pengobatan pasien DHF bersifat simtomatis dan suportif.
a. DHF tanpa renjatan
Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien dehidrasi
dan haus. Pada pasien ini perlu diberi banyak minum, yaitu 1,5 sampai 2 liter dalam
24 jam. Dapat diberikan teh manis, sirup, susu, dan bila mau lebih baik oralit. Cara
memberikan minum sedikit demi sedikit dan orang tua yang menunggu dilibatkan
dalam kegiatan ini. Jika anak tidak mau minum sesuai ang dianjurkan tidak
dibenarkan pemasangan sonde karena merangsang resiko terjadi perdarahan.
Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat anti piretik dan kompres dingin.
Jika terjadi kejang diberi luminal atau anti konfulsan lainnya. Luminal diberikan
dengan dosis : anak umur kurang 1 tahun 50 mg IM, anak lebih 1 tahun 75 mg. Jika
15 menit kejang belum berhenti lminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/kg BB.
Anak diatas 1 tahun diveri 50 mg, dan dibawah 1 tahun 30 mg, dengan
memperhatikan adanya depresi fungsi vital.
Infus diberikan pada pasien DHF tanpa renjatan apabila :
1) Pasien terus-menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengancam
terjadinya dehidrasi.
2) Hematokrit yang cenderung meningkat.Hematokrit mencerminkan kebocoran
plasma dan biasanya mendahului mnculnya secara klinik perubahan fungsi vital

(hipotensi, penurunan tekanan nadi), sedangkan turunya nilai trombosit biasanya


mendahului naiknya hematokrit. Oleh karena itu, pada pasien yang diduga menderita
DHF harus diperiksa Hb, Ht dan trombosit setiap hari mlai hari ke-3 sakit sampai
demam telah turun 1-2 hari. Nilai hematokrit itlah yang menentukan apabila pasien
perlu dipasang infus atau tidak.
b. DHF disertai renjatan (DSS)
Pasien yang mengalami renjatan (syok) harus segera sipasang infus sebagai
penganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma. Caiaran yang diberikan bisanya
Ringer Laktat. Jika pemberian cairan tidak ada respon diberikan plasma atau plasma
ekspander, banyaknya 20-30 ml/kgBB. Pada pasien dengan renjatan berat diberikan
infs harus diguyur dengan cara membuka klem infus. Apabila renjatan telah teratasi,
nadi sudah jelas teraba, amplitudo nadi besar, tekanan sistolik 80 mmHg /lebih,
kecepatan tetesan dikurangi 10 l/kgBB/jam. Mengingat kebocoran plasma 24-48 jam,
maka pemberian infus dipertahankan sampai 1-2 hari lagi walaupn tanda-tanda vital
telah baik.
Pada pasien renjatan berat atau renjaan berulang perlu dipasang CVP (Central
Venous Pressure) untuk mengukur tekanan vena sentral melalui vena magna atau
vena jugularis, dan biasanya pasien dirawat di ICU.Trafusi darah diberikan pada
pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang berat. Kadang-kadang perdarahan
gastrointestinal berat dapat diduga apabila nilai hemoglobin dan hematokrit menutun
sedangkan perdarahanna sedikit tidak kelihatan. Dengan memperhatikan evaluasi
klinik yang telah disebut, maka engan keadaan ini dianjurka pemberian darah.
2. Keperawatan
Masalah pasien yang perlu diperhatikan ialah bahaya kegagalan sirkulasi
darah, resiko terjadi pendarahan, gangguan suhu tubuh, akibat infeksi virus dengue,
gangguan rasa aman dan nyaman, kurangnya pengetahuan orang tua mengenai
penyakit.
a. Kegagalan sirkulasi darah

Dengan adanya kebocoran plasma dari pembuluh darah ke dalam jaringan


ekstrovaskular, yang puncaknya terjadi pada saat renjatan akan terlihat pada tubuh
pasien menjadi sembab (edema) dan darah menjadi kental.
Pengawasan tanda vital (nadi, TD, suhu dan pernafasan) perlu dilakukan
secara kontinyu, bila perlu setiap jam. Pemeriksaan Ht, Hb dan trombosit sesuai
permintaan dokter setiap 4 jam. Perhatikan apakah pasien ada kencing / tidak. Bila
dijumpai kelainan dan sebagainya segera hubungi dokter.
b. Resiko terjadi pendarahan
Adanya thrombocytopenia, menurunnya fungsi trombosit dan menurunnya
faktor koagulasi merupakan faktor penyebab terjadinya pendarahan utama pada
traktus gastrointestinal. Pendarahan grastointestinal didahului oleh adanya rasa sakit
perut yang hebat (Febie, 1966) atau daerah retrosternal (Lim, dkk.1966).
Bila pasien muntah bercampur darah atau semua darah perlu diukur. Karena
melihat seberapa banyak darah yang keluar perlu tindakan secepatnya. Makan dan
minum pasien perlu dihentikan. Bila pasien sebelumnya tidak dipasang infuse segera
dipasang. Formulir permintaan darah disediakan.
Perawatan selanjutnya seperti pasien yang menderita syok. Bila terjadi
pendarahan (melena, hematesis) harus dicatat banyaknya / warnanya serta waktu
terjadinya pendarahan. Pasien yang mengalami pendarahan gastro intestinal biasanya
dipasang NGT untuk membantu mengeluarkan darah dari lambung.
c. Gangguan suhu tubuh
Gangguan suhu tubuh biasanya terjadi pada permulaan sakit atau hari ke-2-ke7 dan tidak jarang terjadi hyperpyrexia yang dapat menyebabkan pasien kejang.
Peningkatan suhu tubuh akibat infeksi virus dengue maka pengobatannya dengan
pemberian antipiretika dan anti konvulsan. Untuk membantu penurunan suhu dan
mencegah agar tidak meningkat dapat diberikan kompres dingin, yang perlu
diperhatikan, bila terjadi penurunan suhu yang mendadak disertai berkeringat banyak
sehingga tubuh teraba dingin dan lembab, nadi lembut halus waspada karena gejala

renjatan. Kontrol TD dan nadi harus lebih sering dan dicatat secara baik dan
memberitahu dokter.

d. gangguan rasa aman dan nyaman


Gangguan rasa aman dan nyaman dirasakan pasien karena penyakitnya dan
akibat tindakan selama dirawat. Hanya pada pasien DHF menderita lebih karena
pemeriksaan darah Ht, trombosit, Hb secara periodic (stp 4 jam) dan mudah terjadi
hematom, serta ukurannya mencari vena jika sudah stadium II. Untuk megurangi
penderitaan diusahakan bekerja dengan tenang yakinkan dahulu vena baru ditusukan
jarumnya. Jika terjadi hematum segera oleskan trombophub gel / kompres dengan
alkohol. Bila pasien datang sudah kolaps sebaiknya dipasang venaseksi agar tidak
terjadi coba-coba mencari vena dan meninggalkan bekas hematom di beberapa
tempat. jika sudah musim banyak pasien DHF sebaiknya selalu tersedia set venaseksi
yang telah seteril.
G. Komplikasi
Dalam penyakit DHF atau demam berdarah jika tidak segera di tangani akan
menimbulkan kompikisi adalah sebagai berikut :
1. Perdarahan
Perdarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler, penurunan
jumlah

trombosit

(trombositopenia)

<100.000

/mm

dan

koagulopati,

trombositopenia, dihubungkan dengan meningkatnya megakoriosit muda dalam


sumsum tulang dan pendeknya masa hidup trombosit. Tendensi perdarahan terlihat
pada uji tourniquet positif, petechi, purpura, ekimosis, dan perdarahan saluran cerna,
hematemesis dan melena.
2. Kegagalan sirkulasi

DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 2 7,


disebabkan oleh peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi kebocoran
plasma, efusi cairan serosa ke rongga pleura dan peritoneum, hipoproteinemia,
hemokonsentrasi dan hipovolemi yang mengakibatkan berkurangnya aliran balik
vena (venous return), prelod, miokardium volume sekuncup dan curah jantung,
sehingga terjadi disfungsi atau kegagalan sirkulasi dan penurunan sirkulasi jaringan.
DSS juga disertai dengan kegagalan hemostasis mengakibatkan aktivity dan integritas
system kardiovaskur, perfusi miokard dan curah jantung menurun, sirkulasi darah
terganggu dan terjadi iskemia jaringan dan kerusakan fungsi sel secara progresif dan
irreversibel, terjadi kerusakan sel dan organ sehingga pasien akan meninggal dalam
12-24 jam.
3. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemakan yang berhubungan dengan
nekrosis karena perdarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan sel sel kapiler.
Terkadang tampak sel netrofil dan limposit yang lebih besar dan lebih banyak
dikarenakan adanya reaksi atau kompleks virus antibody.
4. Efusi pleura
Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan
ekstravasasi aliran intravaskuler sel hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya
cairan dalam rongga pleura bila terjadi efusi pleura akan terjadi dispnea, sesak napas.