Anda di halaman 1dari 4

Zeno of Elea adalah kepala sekolah ketiga di sekolah Eleatic.

Dia disebutkan namanya


oleh Plato dalam Parmenides menemani gurunya ke Athens. Plato menyebutkan usia
Parmenides adalah sekitar 65 tahun, sedangkan Zeno usianya mendekati 40. Dalam
politik, Zeno menentang penguasa tyrant saat itu dan berencana menggulingkan
kekuasaan tyrant tersebut.
Ada bukti menarik dalam komentar Parmenides oleh Proclus. Proclus familiar dengan
pekerjaan dengan nama Zeno yang berisi 40 argumen. Komentar Proclus tentang Zeno
adalah penyusunan kembali dari apa yang sudah ada sebelumnya, namun komentar
menunjukan bahwa Proclus mempunyai relasi dengan keturunan Zeno. Aristoteles
mengatakan

masyarakat

mengerjakan

kembali

argumen

Zeno

setelah

Zeno

mengemukakannya.
Simplicius mengutip argumen Zeno yang mengatakan bahwa jika ada banyak benda,
maka benda2 tersebut terbatas dan tak terbatas.
If there are many things, it is necessary that they be just so many as they are and
neither greater than themselves nor fewer. But if they are just as many as they are, they
will be limited. If there are many things, the things that are are unlimited; for there are
always others between these entities, and again others between those. And thus the
things that are are unlimited (Zeno fr. 3 DK, i.e. Simp. in Ph. 140.2933 Diels)
Argumen ini dapat di rekonstruksikan sebagai berikut :
Jika ada banyak benda, maka banyaknya benda2 tsb adalah terbatas dan jika ada
banyak benda, maka banyaknya benda2 tsb adalah tak terbatas.
Asumsi bahwa ada banyak benda mengarah pada kontradiksi, bahwa benda2 tsb
terbatas dan tak terbatas.Faktanya, argumen ini bergantung kepada postulat penentuan
kondisi yang memungkinkan oleh 2 benda yang berbeda, daripada berada pada
divisi per se, argumen ini dapat direkonstruki menjadi :
Jika ada banyak benda, benda2 tersebut pasti berbeda2 dan terpisah satu sama lain.

Postulat : Dua benda akan berbeda dan terpisah jika ada benda lain diantara keduanya.
Benda x1 dan x2 akan berbeda jika ada benda lain (x3) diantara x1 dan x2. x1 pun akan
berbeda dengan x3 jika ada x4 diantaranya.
Postulat ini dapat diulang sebanyak tak terhingga. Maka, jika ada banyak benda,
jumlahnya adalah tak terbatas.
Sekarang, kita langsung saja ke paradoks Zeno yang paling dikenal. Paradoks ini
dikemukakan Zeno untuk menunjukan bahwa gerak itu ilusi. Paradoks ini berawal dari
sebuah cerita. Pada suatu hari seseorang bernama Achilles akan berlomba lari dengan
seekor kura-kura. Achilles dikenal dapat berlari dengan sangat cepat.
Achilles meremehkan si kura-kura dengan mempersilahkannya untuk berlari lebih dulu
sampai 1 meter di depan garis start. Setelah si kura-kura mencapai jarak tersebut,
barulah Achilles akan mulai berlari. Akhirnya si kura-kurapun sampai pada jarak 1
meter di depan garis start dan Achillespun berlari untuk mengejar kura-kura. Apakah
Achilles dapat menyusul kura-kura dan memenangkan perlombaan? Zeno meragukan
bahwa Achilles dapat memenangkan perlombaan bahkan dapat menyusul kura-kura
saja ia ragu.
Zeno mengeluarkan argumen yang menunjukan bahwa secara rasional, Achilles tidak
akan bisa menyusul si kura-kura. Jarak antara Achilles yang masih di garis start dan
kura-kura

adalah 1 meter. Agar Achilles dapat menyusul kura-kura, ia harus

menempuh jarak 1 meter tersebut. Untuk dapat mencapai jarak 1 meter tersebut,
Achilles terlebih dahulu harus menempuh setengah jarak dari 1 meter tersebut, Ketika
sudah sampai pada jarak meter, maka jarak Achilles ke kura-kura adalah meter.
Lalu, untuk menempuh jarak meter untuk sampai pada kura-kura, Achilles harus
terlebih dahulu menempuh setengah jarak dari meter tersebut. Ketika sudah sampai
pada jarak meter, maka Achilles kembali harus menempuh setengah jarak dari
meter tersebut terlebih dahulu. Rantai tersebut terus berlanjut tanpa diketahui
ujungnya. Dengan demikian maka Achilles tidak akan pernah dapat menyusul kurakura.

Paradoks Zeno tersebut adalah untuk menunjukan bahwa gerak itu ilusi. Masih ada
paradox lain, seperti dikotomi, panah dan stadium yang digolongkan sebagai paradoks
gerak dari Zeno. Paradoks lain yang tidak kalah terkenalnya adalah paradoks gandum.
Paradoks ini menunjukan bahwa pengalaman inderawi itu tidak bisa dipercaya.

Paradoks gandum berawal dari fakta bahwa kita dapat mendengar suara bruukk
ketika sekarung gandum dijatuhkan ke tanah. Suara ini dihasilkan oleh setiap gandum
dalam karung. Maka dapat disimpulkan setiap gandum menghasilkan suara ketika ia
jatuh ke tanah. Namun ternyata fakta berbicara lain. Ketika satu gandum dijatuhkan ke
tanah, kita tidak mendengar suaranya. Melalui paradoksnya ini, Zeno menyimpulkan
bahwa pengalaman inderawi itu hanya menipu saja.

Paradoks
Salah satu murid Parmenides bernama Zeno dari Elea sedang berdiskusi dikelas yang
dinamakan syzitisi . Zeno sebagai pembicara memulai diskusinya dengan membuat
sebuah paradoks tentang kisah Akilles dan Si Kura-kura. Dari sini mungkin pendengar
sudah pernah mendengar selentingan tentang kisah yang bersifat helenistik itu dengan
berbagai macam versinya. Tapi, dengarkanlah terlebih dahulu cerita ini
Alkisah Akiles dan Si Kura-kura memutuskan untuk berlomba lari, dari desa satu ke
desa yang lain. Kecepatan lari Akilles dua kali kecepatan Si Kura-kura karena itu,
Akilles dengan sombongnya mempersilahkan Si Kura-kura untuk berlari lebih dulu.
Naah, pada saat Akilles menyusul dan sampai di titik Si Kura-kura tadi berangkat, Si
Kura-kura sudah bergerak maju separuh jarak yang barusan ditempuhnya. Ketika Akiles
kemudian juga mencapai titik itu, Si Kura-kura telah melaju separo dari jarak itu, begitu
seterusnya ad infinitium (tidak terbatas). Akiles semakin mendekati tetapi tidak pernah
berhasil mengejar si kura-kura.
Sebagian versi mungkin merampungkan kisah ini sampai akhir, tapi mari kita berhenti di
sini saja
Tak masuk akal, kekonyolan macam apa itu terdengar suara protes dari salah satu
peserta diskusi kelas syzitisi dan diikuti peserta lain seperti biasanya.

Akiles pasti akan berhasil mengejar kura-kura itu kata mereka kemudian.
Zeno akhirnya menimpali hal itu
Tentu saja kita tahu bahwa Akilles cepat atau lambat pasti akan mengejar si kura-kura
itu, semua orang yang berfikir juga tahu tentang hal itu. Akan tetapi, coba kita berfikir
sejenak, cerita paradoks ini memang tidak bertujuan meyakinkan orang untuk percaya
bahwa Akilles tidak mampu menyusul si kura-kura. Intinya adalah bahwa ada suatu
argumen yang logis namun mengantarkan orang pada kesimpulan yang salah.
Terdengar bisikan-bisikan dari separuh kelas. Jika mungkin lanjutnya, Jika mungkin
bahwa kita berangkat dari argumen-argumen yang tak terbantahkan, lalu melangkah
maju secara logis dan konsisten, tetapi sampai pada kesimpulan yang tidak benar,
maka alangkah celakanya kita.
Jadi apapun argumen kita mengenai sesuatu atau mengambil pelajaran dari seseorang
bahkan cerita sekali pun, jangan sampai tiba pada penghakiman cepat dan prespektif
yang keliru. Karena hal itu akan menghasilkan kesimpulan yang keliru juga, walaupun
dengan premis-premis yang terkuat sekalipun. Apakah ini yang diharapkan pada diskusi
kali ini? Kesimpulan yang begitu cepat? Penghakiman yang terlalu dini?
Kelas akhirnya diakhiri dengan diam dan penambahan pemahaman pada hakekat
kehidupan.
FIN