Anda di halaman 1dari 123

UPAYA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA KELAS X TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN (TPHP) 1 SMK NEGERI 1 PANDAK PADA KOMPETENSI DASAR MENERAPKAN PROSES PENGECILAN UKURAN MELALUI METODE DISCOVERY

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

UPAYA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR SISWA KELAS X TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN (TPHP) 1 SMK NEGERI 1

Disusun Oleh :

Fenny Anggraini

08511245001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BOGA JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK BOGA DAN BUSANA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2011

PERSETUJUAN

Skripsi yang berjudul “UPAYA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN

BELAJAR SISWA KELAS X TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL

PERTANIAN (TPHP) 1 SMK NEGERI 1 PANDAK PADA KOMPETENSI

DASAR MENERAPKAN PROSES PENGECILAN UKURAN MELALUI

METODE DISCOVERY ” telah disetujui pembimbing untuk diujikan.

Disetujui pada tanggal

8 April 2011

Menyetujui

Pembimbing

Prihastuti Ekawatiningsih, M.Pd NIP : 197504281999032002

ii

PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar

Siswa Kelas X Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) 1 SMK Negeri

1 Pandak Pada Kompetensi Dasar Menerapkan Proses Pengecilan Ukuran

Melalui Metode Discovery” telah dipertahankan di depan Dewan Penguji

Skripsi Fakultas Teknik UNY pada tanggal 8 April 2011 dan dinyatakan

LULUS.

DEWAN PENGUJI

Nama

Jabatan

Tanda Tangan

Tanggal

Prihastuti Ekawatiningsih, M.Pd NIP. 197504281999032002

Ketua Penguji

..........................

....................

Sutriyati Purwanti, M.Si NIP. 196112161988032001

Sekretaris Penguji

..........................

....................

Dr. Endang Mulyatiningsih NIP. 196301111988122001

Penguji Utama

..........................

....................

Yogyakarta, Mei 2011 Dekan

Wardan Suyanto, Ed.D

NIP.195408101978031001

iii

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS

Saya yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama

:

Fenny Anggraini

NIM

:

08511245001

Program Studi

:

Pendidikan Teknik Boga

Jurusan

:

Pendidikan Teknik Boga

Fakultas

:

Teknik

Judul Skripsi

:

Upaya Meningkatkan Kemandirian Belajar Siswa Kelas X

Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian (TPHP) 1 SMK Negeri 1

Pandak Pada Kompetensi Dasar Menerapkan Proses Pengecilan

Ukuran Melalui Metode Discovery

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini merupakan hasil pekerjaan saya

sendiri dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang

ditulis atau diterbitkan orang lain kecuali sebagai acuan atau kutipan dengan

mengikuti tata cara penulisan karya ilmiah yang lazim.

Yogyakarta, Yang menyatakan

Fenny Anggraini NIM. 08511245001

iv

MOTTO “Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain. Dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu berharap.” (Q.S Al-Insyirah : 6-8)

PERSEMBAHAN Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji dan syukur kepada Allah SWT yang selalu memberikan karunia dan kebaikan untukku, sehingga skripsi ini selesai disusun. Aku persembahkan karya kecil ini kepada Papa tersayang “Papa Abusamah”, Mama tercinta “Mama Fatimah”, Abangku “Bang Arif, Aruf, Rinal dan Fitriyani”. Terimakasih atas segala cinta, kasih sayang, perhatian, motivasi, dukungan, pengorbanan dan untaian do’a yang tiada henti untuk kebaikanku. Semoga karya kecil ini akan menjadi salah satu wujud bakti ku untuk membalas kebaikan kalian, keluargaku tercinta. Selain itu, saya ingin mengucapkan terimakasih kepada :

  • Some one tersayang Aa”Rocker (LopU). Terimakasih untuk limpahan cinta, kasih sayang, kesabaran, pengorbanan, perhatian, dukungan dan doa yang telah kau berikan.

  • Crew UKMF Mapala Carabiner . Makasih untuk indah persahabatan dan persaudaraan yang telah kalian berikan. Makasih untuk segala kebersamaan kita. Semangat kalian adalah semangatku.

  • Sahabat-sahabat baikku, Septiana Soraya, Menthel, Bety, Rifa. Makasih untuk persahabatan kita selama ini. Kapan ngumpul ...

  • Seluruh keluarga besar Pendidikan Teknik Boga PKS NR 08. Terimakasih untuk semua pengalaman yang telah aku lalui bersama kalian semua.

v

UPAYA MENINGKATKAN KEMANDIRIAN BELAJAR

SISWA KELAS X TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN (TPHP) 1 SMK NEGERI 1 PANDAK PADA KOMPETENSI DASAR MENERAPKAN PROSES PENGECILAN UKURAN MELALUI METODE

DISCOVERY

Oleh

Fenny Anggraini

08511245001

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk 1) Mendeskripsikan proses pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran dengan menggunakan metode Discovery. 2) Meningkatkan kemandirian belajar menerapkan proses pengecilan ukuran siswa kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak Bantul melalui metode Discovery. Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Pandak pada bulan Januari 2011. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilaksanakan secara kolaboratif antara peneliti dan guru mata pelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran kelas X TPHP 1 serta dibantu oleh observer pada setiap pertemuan. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak yang berjumlah 32 siswa. Penelitian ini dilaksanakan dalam 2 siklus. Masing-masing siklus terdiri dari 2 pertemuan, dengan alokasi waktu untuk satu kali pertemuan adalah selama 3 x 45 menit. Instrumen dalam penelitian ini adalah pedoman observasi, pedoman wawancara, lembar angket kemandirian belajar, tes, catatan lapangan dan dokumentasi. Uji coba instrumen dilakukan kepada 30 orang siswa dari populasi yang sama dan tidak terpilih sebagai sampel. Validitas instrumen ditentukan dengan pendekatan corrected item-total correlation menggunakan rumus Product Moment dari Pearson dan Experts Judgment, sedangkan reliabilitasnya ditentukan dengan formula Alpha Cronbach. Teknik analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan model teknik analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu reduksi data, beberan (display) data dan menarik kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian diperolah kesimpulan bahwa pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran menggunakan metode discovery dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa kelas X TPHP 1 SMK N 1 Pandak. Peningkatan kemandirian belajar siswa ditandai dengan peningkatan persentase aspek-aspek kemandirian yang diamati pada angket, yaitu 1). motivasi siswa meningkat dari 69,17%, menjadi 76,11%, 2). aspek inisiatif siswa dari 77,64% meningkat menjadi 78,34%, 3). aspek percaya diri siswa dari 65,14% meningkat menjadi 76,67%, 4). aspek disiplin siswa dari 65,08% meningkat menjadi 75,10% dan 5). aspek tanggung jawab siswa dari 69,45% meningkat menjadi 75,52%. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara, siswa menjadi lebih aktif di dalam proses pembelajaran, siswa mampu memahami suatu materi melalui kegiatan penemuan mereka sendiri tanpa bergantung pada penjelasan guru, siswa juga lebih berani mengungkapkan pendapat atau idenya.

vi

EFFORTS TO ENHANCE LEARNING AUTONOMY X CLASS OF AGRICULTURAL PROCESSING TECHNOLOGY (TPHP) 1 SMK NEGERI 1 PANDAK COMPETENCE IN THE PROCESS OF IMPLEMENTING METHOD OF DISCOVERY THROUGH

Size Reduction By Fenny Anggraini

08511245001

ABSTRACT

This study aims to 1) Describe the process of learning to apply the process of size reduction using the method of Discovery. 2) Increase the independence of learning to apply the process of size reduction TPHP a class X student of SMK Negeri 1 Bantul Pandak through Discovery methods. This research was conducted at SMK Negeri 1 Pandak in January 2011. This was an action research Classes (PTK) carried out collaboratively between the researcher and subject teachers implement class size reduction process X TPHP 1 and assisted by the observer at each meeting. Subjects in this study were students of class X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak, amounting to 32 students. This research was conducted in 2 cycles. Each cycle consists of 2 meeting, with the allocation of time for one session is for 3 x 45 minutes. Instruments in this study is the observation guidelines, interview, questionnaire sheets of self study, test, field notes and documentation. The test instrument was made to 30 people were students from the same population and not selected as a sample. The validity of the instrument approach is determined by corrected item-total correlation using the formula of pearson product moment and experts judgement, while the reliability is determine by cronbach alpha formula. Analysis using qualitative descriptive analysis techniques with an interactive model analysis techniques developed by Miles and Huberman which consists of three interrelated components of each other ie data reduction, explanation (display) data and draw conclusions Based on the results obtained the conclusion that learning to apply the process of size reduction using discovery methods to improve student learning independence of class X TPHP 1 SMK N 1 Pandak. Improving student learning independence was marked by an increase in the percentage of those aspects of independence which was observed in the questionnaire, namely 1). motivation of students increased from 69.17% to 76.11%, 2). aspects of student initiative of 77.64% increased to 78.34%, 3). aspects of students' self confidence increased from 65.14% to 76.67%, 4). aspects of student discipline from 65.08% increased to 75.10%, and 5). aspects of the responsibility of students from 69.45% increased to 75.52%. Based on observation and interview, students become more active in the learning process, students are able to understand the material through their own discovery activities without relying on the explanation of teachers, students are also more willing to express opinions or ideas

KATA PENGANTAR

Puji syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas

limpahan rahmat dan hidayahNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan

penyusunan tugas akhir skripsi ini untuk memenuhi sebagian persyaratan guna

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Teknik di Fakultas Teknik Universitas

Negeri Yogyakarta.

Penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan arahan

dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis ingin

menyampaikan terima kasih kepada:

  • 1. Wardan Suyanto, Ed.D Dekan Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.

  • 2. Dr. Sri Wening, Ketua Jurusan Pendidikan Teknik Boga dan Busana Universitas Negeri Yogyakarta.

  • 3. Sutriyati Purwanti ,M.SI Ketua Program Studi Pendidikan Teknik Boga Universitas Negeri Yogyakarta.

  • 4. Prihastuti Ekawatiningsih, M.Pd selaku pembimbing yang telah berkenan meluangkan waktu untuk membimbing penulis dengan sabar mulai dari penyusunan proposal hingga selesainya skripsi ini.

  • 5. Ir. Retno Yuniar Dwi Aryani selaku Kepala SMK Negeri 1 Pandak yang telah memberikan ijin untuk mengadakan penelitian ini.

  • 6. Ir. Nurani Yuni Hastiwi selaku guru mata pelajaran Menerapkan Proses Pengecilan Ukuran kelas, X TPHP SMK Negeri 1 Pandak yang telah bersedia meluangkan waktu guna memberikan bimbingan, petunjuk, dan arahan yang

vii

sangat membangun, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan

lancar.

7. Siswa-siswi kelas X TPHP SMK Negeri 1 Pandak atas kerjasama yang

menyenangkan selama penelitian.

Penulis sangat menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih

banyak kekurangan. Namun penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi

penulis pribadi dan para pembaca terutama dalam kaitannya dengan penerapan

metode discovery sebagai upaya untuk meningkatkan kemandirian belajar

Menerapkan Proses Pengecilan Ukuran.

Yogyakarta,

Penulis

viii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………

..

i

HALAMAN PERSETUJUAN ..........................................................................

ii

HALAMAN PERNYATAAN ...........................................................................

iii

HALAMAN PENGESAHAN ...........................................................................

iv

HALAMAN MOTTO ........................................................................................

v

HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................

v

ABSTRAK …………………………………………………………………

.....

 

vi

KATA PENGANTAR .......................................................................................

vii

DAFTAR ISI…………………………………………………………………

..

ix

DAFTAR TABEL……………………………………………………………

..

xii

DAFTAR LAMPIRAN……………………………………………………

......

xv

BAB I

PENDAHULUAN…………………………………………………

..

1

A.

Latar Belakang Masalah…………………………………………

......

1

B.

Identifikasi Masalah………………………………………………

.....

5

C.

Pembatasan Masalah………………………………………………… 5

D.

Rumusan Masalah…………………………………………………

....

6

E.

Tujuan Penelitian…………………………………………………

.....

6

F.

Manfaat Penelitian…………………………………………………

....

6

BAB II

KAJIAN TEORI…………………………………………

..............

8

A.

Deskripsi Teori …………………………………………………

.......

8

  • 1. Pembelajaran Menerapkan Teknik Konversi Bahan Dalam 8

ix

Pengolahan ...................................................................................

 
  • a. Pembelajaran

...............................................................................

8

  • b. Analisis Kebutuhan Materi

...........................................................

10

  • c. Menerapkan Proses Pengecilan Ukuran

.......................................

11

  • 2. Metode Discovery ...........................................................................

13

 
  • a. Metode ........................................................................................

13

  • b. Metode Discovery .......................................................................

14

  • c. Aplikasi Metode Discovery dalam Pembelajaran Menerapkan

19

Proses Pengecilan

Ukuran ........................................................

 
  • 3. Lembar Kerja Siswa (LKS)

...........................................................

 

21

  • 4. Kemandirian Belajar ……………

.................................................

23

 
  • a. Kemandirian ..............................................................................

23

  • b. Kemandirian Belajar ................................................................

 

24

  • c. Aspek-aspek Kemandirian Belajar ..........................................

25

  • B. Penelitian Yang Relevan .....................................................................

31

  • C. Kerangka Berpikir …………………………………………………

...

32

  • D. Hipotesis Tindakan ..............................................................................

35

BAB III

METODE PENELITIAN………………………………………

.....

36

  • A. Jenis Penelitian …………………………………………………

......

36

  • B. Subjek dan Objek Penelitian……

.....................

……

.........................

36

  • C. Tempat dan Waktu Penelitian ...........................................................

 

37

  • D. Setting Penelitian ………………………

.............................................

37

  • E. Desain Penelitian ................................

……………………… .............

37

x

F.

Teknik Pengumpulan Data

....................................................................

40

G.

Instrumen Penelitian …………

.....

…………………………

..............

42

H.

Validitas dan Reliabilitas Instrumen

.................................................

45

I.

Hasil Uji Coba Instrumen

..................................................................

48

J.

Teknik Analisis Data ..........................................................................

50

K.

Indikator Keberhasilan .....................................................................

52

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN………………….

55

A.

Deskripsi Hasil Penelitian ……………

...............................................

55

Siklus 1

  • 1. ............................................................................................

56

Siklus 2

  • 2. ...........................................................................................

79

B.

Hasil Penelitian Tindakan Kelas .......................................................

91

C.

Pembahasan ………………………………………

..........................

95

D.

Keterbatasan Penelitian ………………………………………

.......

100

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN……………………………………

..

101

A.

Kesimpulan…………………………………………………………

..

101

B.

Saran………………………………………………………………

....

104

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………….

 

106

xi

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Kompetensi Kejuruan di SMK N 1 Pandak ..............................................

11

Tabel 2. Pedoman Observasi Kegiatan Pembelajaran Dengan Metode Discovery ...

43

Tabel 3. Pedoman Pemberian Interpretasi Terhadap Koefisien Korelasi ..................

47

Tabel 4. Rangkuman Hasil Perhitungan Validitas Instrumen…………………… ..

49

Tabel 5. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Instrumen……………… ......

50

Tabel 6. Kualifikasi Hasil Persentase Skor Angket ...............................................

52

Tabel 7. Jadwal Pelaksanaan Pembelajaran Menerapkan Teknik Konversi Bahan

55

Dalam Pengolahan di Kelas X TPHP 1 ……………………………… ... Tabel 8. Hasil Angket Kemandirian Belajar ………………………………… ......

91

Tabel 9. Daftar Nilai Tes Siklus Siswa ………………………………………… ...

92

xii

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A

109

  • A. RPP Pertemuan ke-1-2 Siklus I

1

110

  • A. RPP Pertemuan ke-3-4 Siklus I

2

118

LAMPIRAN B

126

  • B. Lembar Kerja Siswa (LKS) 1

1

127

  • B. Lembar Kerja Siswa (LKS) 2

2

134

  • B. Lembar Kerja Siswa (LKS) 3

3

141

  • B. Lembar Kerja Siswa (LKS) 4

4

148

LAMPIRAN C

153

  • C. 1

Soal Tes Siklus I

154

  • C. 2

Soal Tes Siklus II

155

  • C. 3

Hasil Tes Siklus I

156

  • C. Hasil Tes Siklus II

4

157

LAMPIRAN D

158

  • D. Pedoman Observasi Kegiatan Pembelajaran

1

159

  • D. Lembar Observasi Kegiatan Pembelajaran

2

160

  • D. Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-1 Siklus I

3

163

  • D. Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-2 Siklus I

4

166

  • D. Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-1 Siklus II

5

169

  • D. Hasil Observasi Kegiatan Pembelajaran Pertemuan ke-2 Siklus II

6

172

  • D. Kisi-kisi Lembar Observasi Aktivitas Siswa

7

175

  • D. Lembar Observasi Aktivitas Siswa

8

176

  • D. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pertemuan ke-1 Siklus I

9

177

  • D. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pertemuan ke-2 Siklus I

10

178

  • D. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pertemuan ke-1 Siklus II

11

179

  • D. Hasil Observasi Aktivitas Siswa Pertemuan ke-2 Siklus II

12

180

xiii

LAMPIRAN E

  • E. Kisi-kisi Angket Kemandirian Belajar Siswa

1

  • E. Lembar Angket Kemandirian Belajar Siswa

2

  • E. Analisis Hasil Angket Kemandirian Belajar Siswa Siklus I

3

  • E. 4 Analisis Hasil Angket Kemandirian Belajar Siswa Siklus II

LAMPIRAN F

  • F. Pedoman Wawancara Guru

1

  • F. Pedoman Wawancara Siswa

2

  • F. Hasil Wawancara Guru

3

  • F. Hasil Wawancara Siswa

3

LAMPIRAN G

  • G. Catatan Lapangan siklus I

1

  • G. Catatan Lapangan siklus II

2

  • G. Dokumentasi Foto-foto Penelitian

3

LAMPIRAN H

  • H. Surat Permohonan Izin Penelitian

1

  • H. Surat Permohonan Validasi

2

  • H. Surat Keterangan Validasi

3

  • H. 4 Uji Reliability

  • H. Surat Keterangan Penelitian

4

181

182

183

186

188

190

191

192

193

194

195

196

200

204

206

207

208

209

210

212

xiv

1

A. Latar Belakang

BAB I

PENDAHULUAN

SMK N 1 Pandak terletak di daerah Kadekrowo, Gilangharjo, Pandak,

Bantul. SMK N 1 Pandak memiliki Luas area Sekolah SMK N 1 Pandak yakni

12 hektar yang terdiri dari : 4 hektar untuk gedung dan 8 hektar untuk fasilitas

yang lain terdiri dari 6 kelas jurusan TPHP (Teknologi Pengolahan Hasil

Pertanian), 4 kelas jurusan peternakan, 4 kelas jurusan pertanian, dan 6 kelas

jurusan busana. SMK N 1 Pandak menggunakan kurikulum spektrum sebagai

acuan dalam proses belajar mengajar.

Adapun visi SMK Negeri 1 Pandak yaitu terwujudnya lembaga diklat

yang menghasilkan lulusan yang bertaqwa kepada Tuhan YME, profesional,

mandiri dan berkompetensi di dunia kerja nasional atau internasional.

Misi SMK Negeri 1 Pandak :

  • 1. Meningkatkan kualitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan.

  • 2. Mengoptimalkan kegiatan diklat berkompetensi wirausaha yang berstandar nasional dan internasional.

  • 3. Menjadikan sekolah sebagai sumber infoemasi dan memberikan pelayanan prima kepada masyarakat.

  • 4. Memantapkan kegiatan unit produksi yang berbasis keunggulan lokal.

2

Salah satu jurusan yang terdapat di SMK Negeri 1 Pandak adalah

jurusan Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian yang sering disebut juga

jurusan TPHP. Jurusan TPHP pada kelas X (sepuluh) terdapat dua kelas yakni

kelas X TPHP 1 dan kelas X TPHP 2, jurusan TPHP memiliki beberapa

kompetensi dasar yang wajib ditempuh oleh siswanya diantaranya adalah

kompetensi dasar menerapkan proses pengecilan ukuran.

Berdasarkan observasi yang dilakukan oleh peneliti di kelas X

Teknologi Pengolahan Hasil pertanian (TPHP) 1 SMK N 1 Pandak diperoleh

bahwa pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran di SMK Negeri 1

Pandak kelas X TPHP 1 masih menggunakan metode konvensional atau

ceramah. Partisipasi siswa dalam kegiatan belajar masih kurang. Selain itu,

jika guru tidak meminta siswa untuk membuka dan membaca sumber belajar

seperti buku dan LKS, siswa tidak memiliki inisiatif untuk membaca atau

mempelajarinya. Ketika guru menyuruh siswa untuk mempersiapkan materi

dan peralatan yang berkaitan dengan materi yang akan datang, terdapat

beberapa siswa yang tidak mempersiapkannya sama sekali, sehingga tampak

bahwa disiplin dan tanggung jawab siswa masih kurang. Apabila guru

menanyakan materi ataupun soal yang belum jelas, siswa terkesan malu-malu

dan takut untuk bertanya padahal guru telah memberikan kesempatan

bertanya. Siswa tidak memiliki inisiatif maju ke depan tanpa ditunjuk

sebelumnya oleh guru. Ketika ada salah satu siswa yang kurang tepat dalam

mengerjakan soal di depan kelas, siswa lain tidak berani menyampaikan

3

tanggapan atau ide yang berbeda dan hanya menunggu guru menjelaskan

jawaban yang lebih tepat.

Kenyataan tersebut menunjukkan bahwa kemandirian belajar

menerapkan proses pengecilan ukuran siswa kelas X TPHP 1 SMK N 1

Pandak, belum berkembang secara optimal. Model pembelajaran yang

diimplementasikan guru selama ini kurang dapat mendukung peningkatan

kemandirian belajar siswa. Dengan adanya berbagai kecenderungan situasi

yang muncul seperti di atas, perlu adanya penerapan metode pembelajaran

yang diharapkan dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa yakni

meningkatkan motivasi belajar, membangun kemampuan berinisiatif,

meningkatkan kedisiplinan, menumbuhkan rasa percaya diri dan tanggung

jawab siswa dalam belajar menerapkan proses pengecilan ukuran.

Salah satu metode pembelajaran yang dimungkinkan dapat

meningkatkan kemandirian belajar siswa adalah metode Discovery. Metode

pembelajaran Discovery disebut juga metode belajar menemukan, dimana

siswa akan belajar secara mandiri untuk membahas suatu masalah tertentu

yang diberikan oleh guru.

Proses pembelajaran harus dipandang sebagai suatu stimulus atau

rangsangan yang dapat menantang siswa untuk merasa terlibat atau

berpartisipasi dalam aktivitas pembelajaran. Peranan guru hanyalah sebagai

fasilitator dan pembimbing atau pemimpin pengajaran yang demokratis,

sehingga diharapkan siswa lebih banyak melakukan kegiatan sendiri atau

dalam bentuk kelompok memecahkan masalah atas bimbingan guru. Pada

4

metode discovery, diharapkan situasi belajar mengajar berpindah dari situasi

teacher dominated learning menjadi situasi student dominated learning.

Dengan pembelajaran menggunakan metode discovery, maka cara mengajar

melibatkan siswa dalam proses kegiatan mental melalui tukar pendapat dengan

diskusi, membaca sendiri dan mencoba sendiri, agar siswa dapat belajar

mandiri.

Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran menerapkan proses pengecilan

ukuran memerlukan adanya motivasi, insiatif, rasa percaya diri, disiplin dan

tanggung jawab belajar dalam rangka meningkatkan kemandirian belajar

siswa pada pelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran. Metode belajar

yang digunakan juga harus dapat mendukung proses pembelajaran,

Diharapkan dengan menggunakan metode Discovery dalam proses

pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran akan menarik minat

siswa mengikuti kegiatan belajar sehingga akan meningkatkan kemandirian

belajar siswa.

5

  • B. Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian tentang latar belakang di atas dapat diidentifikasi adanya permasalahan sebagai berikut:

    • 1. Kurangnya partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran

    • 2. Siswa kurang memiliki motivasi belajar menerapkan proses pengecilan ukuran

    • 3. Siswa kurang memiliki inisiatif untuk maju ke depan mengerjakan soal

    • 4. Siswa kurang percaya diri untuk bertanya dan menyampaikan pendapat

    • 5. Siswa kurang disiplin dalam mengikuti pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran

    • 6. Kurangnya tanggung jawab siswa dalam belajar menerapkan proses pengecilan ukuran.

    • 7. Masih melekatnya pembelajaran dengan metode ceramah, sehingga kemandirian siswa kurang

    • 8. Diperlukan metode pembelajaran yang lebih mengaktifkan siswa.

  • C. Pembatasan Masalah Dari identifikasi masalah yang telah diutarakan di atas, permasalahan dalam penelitian ini dibatasi pada penerapan metode Discovery sebagai upaya peningkatan kemandirian belajar pada sub kompetensi menerapkan proses pengecilan ukuran siswa kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak.

  • 6

    • D. Rumusan Masalah

      • 1. Bagaimanakah pembelajaran dengan menggunakan metode Discovery pada sub kompetensi menerapkan proses pengecilan ukuran di kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak?

      • 2. Apakah ada peningkatan kemandirian belajar pada sub kompetensi menerapkan proses pengecilan ukuran melalui metode Discovery ?

    • E. Tujuan Penelitian

      • 1. Mendeskripsikan kegiatan pembelajaran dengan metode Discovery untuk meningkatkan kemandirian belajar pada sub kompetensi menerapkan proses pengecilan ukuran di kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak.

      • 2. Untuk mengetahui sejauh mana peningkatan kemandirian belajar pada sub kompetensi menerapkan proses pengecilan ukuran melalui metode Discovery.

    • F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:

      • 1. Sekolah Memberdayakan sekolah dalam meningkatkan inovasi metode pembelajaran, salah satunya menggunakan metode Discovery, dan dapat memberdayakan guru pada sub kompetensi menerapkan proses pengecilan ukuran SMK Negeri 1 Pandak dalam menggunakan metode Discovery yang dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa.

    7

    • 2. Siswa Penerapan metode Discovery diharapkan dapat memberdayakan siswa dalam menumbuhkan kemandirian siswa dalam belajar menerapkan proses pengecilan ukuran, serta pada akhirnya dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.

    • 3. Peneliti Dapat menambah pengalaman peneliti untuk terjun ke bidang pendidikan dan menambah pengetahuan dan pengalaman dalam kegiatan pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran dengan menggunakan metode Discovery yang dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa.

    8

    • A. Deskripsi Teori

    BAB II

    KAJIAN TEORI

    • 1. Pembelajaran Menerapkan Proses Pengecilan Ukuran a. Pembelajaran

    Menurut Witherington (Nana Syaodih, 2004: 155), belajar merupakan

    perubahan dalam kepribadian, yang dimanifestasikan sebagai pola-pola

    respons yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan

    dan kecakapan. Slameto (2003: 2) berpendapat bahwa belajar ialah suatu

    proses yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan

    tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya

    sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, perubahan-perubahan

    tersebut akan nyata dalam seluruh aspek tingkah laku.

    Menurut Morgan dkk yang dikutip oleh Rizky (http://kuliah

    psikologi.dekrizky.com/pengertian-belajar) memberikan definisi

    mengenai belajar “Learning can be defined as any relatively permanent

    change in behavior which accurs as a result of practice or experience.”

    Yaitu bahwa perubahan perilaku itu sebagai akibat belajar karena latihan

    (practice) atau karena pengalaman (experience). Definisi yang tidak jauh

    berbeda dikemukakan oleh James O. Witaker yang mendefinisikan belajar

    adalah proses di mana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui

    latihan atau pengalaman (Wasty Sumanto, 2003: 104). Sedangakan

    9

    Guilford menyatakan belajar adalah perubahan tingkah laku yang

    dihasilkan dari rangsangan (Mustaqim, 2001: 34).

    Berdasarkan pendapat-pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

    belajar adalah perubahan tingkah laku dalam diri individu berkat adanya

    interaksi antar individu-individu maupun dengan lingkungannya.

    Perbuatan belajar ditunjukkan melalui aktivitas, praktek dan pengalaman.

    Perubahan dari belajar didapatkan kemampuan baru berupa pengetahuan

    (aspek kognitif), sikap (aspek afektif), dan ketrampilan (psikomotorik).

    Menurut Oemar Hamalik, pembelajaran adalah suatu kombinasi yang

    tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan,

    dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.

    Manusia terlibat dalam sistem pengajaran terdiri dari siswa, guru dan

    tenaga lainnya. Material, meliputi buku-buku, papan tulis dan kapur,

    fotografi, slide dan film, audio dan video tape. Fasilitas dan perlengkapan,

    terdiri dari ruang kelas, perlengakapan audio visual dan komputer.

    Prosedur meliputi, jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik,

    belajar, ujian dan lain sebagainya (2005: 57).

    Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik

    dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran

    merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses

    pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat,

    serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata

    lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat

    10

    belajar dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang

    manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun (Wikipedia : 2007).

    Mulyasa berpendapat (2007: 14) bahwa pembelajaran merupakan

    proses yang sengaja direncanakan dan dirancang sedemikian rupa dalam

    rangka memberikan bantuan bagi terjadinya proses belajar. Guru berperan

    sebagai perencana, pelaksana, dan penilai pembelajaran. Menurut konsep

    komunikasi, pembelajaran adalah proses komunikasi fungsional antara

    siswa dengan guru, dan siswa dengan siswa, dalam rangka perubahan

    sikap dan pola pikir yang akan menjadi kebiasaan bagi siswa yang

    bersangkutan (Erman Suherman dkk, 2001: 9).

    Dari berbagai macam pengertian di atas maka dapat disimpulkan

    pembelajaran merupakan proses interaksi antara peserta didik, pendidik,

    sumber belajar dan lingkungan belajar dalam rangka perubahan sikap dan

    pola pikir.

    • b. Analisis Kebutuhan Materi

    SMK Negeri 1 Pandak Bantul salah satu Sekolah Menengah

    Kejuruan yang memiliki 6 program studi yaitu Busana Butik, Agribisnis

    Tanaman Pangan dan Holtikultura, Agribisnis Pembibitan dan Kultur

    Jaringan, Agribisnis Produksi Ternak Ruminansia, Agribisnis Produksi

    Ternak Unggas, dan Agribisnis Hasil Pertanian. Program studi keahlian

    Agribisnis Hasil Pertanian memiliki 2 kompetensi keahlian yaitu

    Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian dan Pengawasan Mutu Hasil

    Pertanian. Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian adalah kompetensi yang

    11

    baru 3 tahun berjalan di SMK Negeri 1 Pandak Bantul. Kompetensi

    keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian memiliki 6 standar

    kompetensi yang harus ditempuh oleh peserta didik salah satunya adalah

    menerapkan teknik konversi bahan dalam pengolahan. menerapkan teknik

    konversi bahan dalam pengolahan terdapat dalam mata pelajaran teknologi

    pengolahan hasil pertanian yang merupakan mata pelajaran produktif pada

    kurikulum spektrum yang sudah berjalan kurang lebih 3 tahun.

    Standar kompetensi menerapkan teknik konversi bahan dalam

    pengolahan memiliki 7 kompetensi dasar yang harus dicapai salah satu

    kompetensi dasar tersebut adalah menerapkan proses pengecilan ukuran

    dan bentuk produk/forming. Untuk lebih jelasnya mengenai kompetensi

    kejuruan yang harus dicapai dapat dilihat pada tabel 1.

    Tabel 1. Kompetensi Kejuruan di SMK Negeri 1 Pandak Bantul

    STANDAR KOMPETENSI

    KOMPETENSI DASAR

    Menerapkan teknik konversi

    Menerapkan

    • 1.1 proses

    pengecilan

    bahan dalam pengolahan

    ukuran

    • 1.2 Menerapkan proses pencampuran

    • 1.3 Menerapkan proses emulsifikasi

    • 1.4 Menerapkan proses filtrasi

    • 1.5 Menerapkan proses kristalisasi

    • 1.6 Menerapkan proses ekstraksi

    • 1.7 Menerapkan proses destilasi

    (Kurikulum SMK Negeri 1 Pandak)

    • c. Menerapkan Proses Pengecilan Ukuran

    Pengecilan ukuran adalah proses penghancuran atau pemotongan

    suatu bentuk padatan menjadi bagian-bagian yang lebih kecil oleh gaya

    12

    mekanik. Bahan padat (solid) bisa dihancurkan dengan delapan atau

    sembilan cara, tetapi hanya empat cara yang umum diterapkan pada mesin-

    mesin pengecilan ukuran. Keempat cara itu adalah kompresi, pukulan,

    atrisi (attrition ), dan pemotongan (cutting). Pada umumnya, kompresi

    digunakan pada pengecilan ukuran padatan yang keras, pukulan digunakan

    untuk bahan padatan yang kasar, setengah kasar, dan halus. Atrisi

    digunakan untuk memperoleh produk-produk yang sangat halus,

    sedangkan pemotongan untuk menghasilkan produk dengan bentuk dan

    ukuran tertentu, halus atau kasar

    Tujuan pengecilan ukuran adalah mengupayakan suatu bahan

    memenuhi spesifikasi tertentu, agar sesuai dengan bentuk pengecilan

    ukuran bisa merupakan operasi utama pada pengolahan pangan atau

    operasi tambahan. Pada pengecilan ukuran, bisa dibedakan antara

    pengecilan ukuran yang “ekstrim” (penggilingan) dengan pengecilan

    ukuran yang produknya relatif berdimensi besar (pemotongan), ada

    beberapa tujuan dilakukannya pengecilan ukuran, yaitu :

    a). Membantu proses ekstraksi, misalnya cairan gula dari tebu, dan

    sebagainya.

    b). Mengecilkan bahan sampai ukuran tertentu untuk maksud tertentu.

    c). Memperluas permukaan bahan, untuk membantu proses pengeringan,

    proses ekstraksi, proses bleaching , dan sebagainya.

    d). Membantu proses pencampuran (mixing atau blending ).

    13

    • 2. Metode Discovery a. Metode

    Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau

    jalan yang ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode

    menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang

    menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. Fungsi metode berarti

    sebagaialat untuk mencapai tujuan ( http://ktiptk.blogspirit.com/2010/04)

    Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan

    yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode

    diperlukan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai tujuan yang

    ingin dicapai setelah pembelajaran berakhir. Seorang guru tidak akan

    dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satupun metode

    pembelajaran yang telah dirumuskan para ahli psikologi dan pendidikan

    (Syaiful Bahri Djamarah, 1997: 72). Menurut Winamo Surakhmad,

    metode adalah cara, yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk

    mencapai suatu tujuan. Hal ini berlaku baik bagi guru maupun bagi siswa.

    (http://www.banjar-jabar.go.id/index.php? Pilih =news&mod=yes&aksi=li

    hat&id=487).

    Jadi, dapat disimpulkan bahwa metode merupakan suatu cara agar

    tujuan pengajaran tercapai sesuai dengan yang telah dirumuskan oleh

    pendidik. Oleh karena itu pendidik perlu mengetahui, mempelajari

    beberapa metode mengajar, serta dipraktekkan pada saat mengajar.

    14

    • b. Metode Discovery Discovery

    Learning

    merupakan

    metode

    yang dikembangkan oleh

    Jerome Bruner. Menurut Bruner (M arkaban, 2006: 9), penemuan adalah

    suatu proses, jalan, atau cara dalam mendekati permasalahan. Proses

    penemuan dapat menjadi kemampuan umum melalui latihan pemecahan

    masalah dan praktek membentuk dan menguji hipotesis. Di dalam

    pandangan Bruner, belajar dengan penemuan adalah belajar untuk

    menemukan, dimana seorang siswa dihadapkan dengan suatu masalah atau

    situasi yang tampaknya ganjil sehingga siswa dapat mencari jalan

    pemecahan.

    Menurut Ruseffendi (2008: 8), metode penemuan adalah metode

    mengajar yang mengatur pengajaran sedemikian rupa sehingga anak

    memperoleh pengetahuan yang sebelumnya belum diketahuinya itu, tidak

    melalui pemberitahuan tetapi sebagian atau ditemukan sendiri. Dengan

    demikian, dalam pembelajaran dengan penemuan, siswa dapat

    memperoleh pengetahuan dari pengalamannya menyelesaikan masalah

    bukan melalui transmisi dari guru.

    Metode Discovery menurut Sund adalah metode mengajar

    mempergunakan teknik penemuan. Metode discovery adalah proses mental

    dimana siswa mengasimilasi sesuatu konsep atau sesuatu prinsip. Proses

    mental tersebut misalnya mengamati, menggolongkan, membuat dugaan,

    menjelaskan, mengukur, membuat kesimpulan, dan sebagainya. Dalam

    teknik ini siswa dibiarkan menemukan sendiri atau mengalami proses

    15

    mental itu sendiri, guru hanya membimbing dan memberikan instruksi

    (Roestiyah, 2001: 20).

    Sedangkan menurut Nafilah (2008: 3), metode penemuan adalah cara

    penyajian pelajaran yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk

    menemukan informasi dengan aktif. Metode penemuan melibatkan peserta

    didik dalam proses-proses mental dalam rangka pengembangannya.

    Metode ini memungkinkan para peserta didik menentukan sendiri

    informasi-informasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan belajarnya.

    Menurut John W. Santrock (2008: 490) Metode penemuan (discovery

    learning ) adalah pembelajaran dimana murid menyusun pemahaman

    sendiri. Pembelajaran penemuan berbeda dengan pendekatan instruksi

    langsung, dimana guru menjelaskan secara langsung informasi kepada

    murid. Dalam pembelajaran penemuan, murid harus mencari tahu sendiri.

    Menurut Herman Hudojo metode discovery merupakan suatu cara

    penyampaian topik-topik matematika sedemikian hingga proses belajar

    memungkinkan siswa menemukan sendiri pola-pola atau struktur-struktur

    matematika melalui serentetan pengalaman-pengalaman belajar yang

    lampau (2005: 95). Bahan ajaran pada metode ini, bahan ajaran tidak

    disajikan dalam bentuk jadi, tetapi setengah atau bahkan seperempat jadi.

    Bahan ajaran disajikan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan yang harus

    dijawab atau masalah-masalah yang harus dipecahkan (Nana Syaodih

    Sukmadinata, 2005: 184).

    16

    Metode Discovery merupakan komponen dari praktek pendidikan

    yang meliputi metode mengajar yang memajukan cara belajar aktif,

    berorientasi pada proses, mengarahkan sendiri, mencari sendiri dan

    reflektif. Menurut Encyclopedia of Educational Research , penemuan

    merupakan suatu strategi yang unik dapat diberi bentuk oleh guru dalam

    berbagai cara, termasuk mengajarkan keterampilan menyelidiki dan

    memecahkan masalah sebagai alat bagi siswa untuk mencapai tujuan

    pendidikannya. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode

    discovery adalah suatu metode dimana dalam proses belajar mengajar guru

    memperkenankan siswa-siswanya menemukan sendiri informasi yang

    secara tradisional biasa diberitahukan atau diceramahkan saja

    (http://martiningsih.Blogspot.com/2010/12/macam-ma cam-metode-

    pembelajaran.html).

    Menurut

    Suchman,

    penggunaan

    penemuan

    bertujuan

    untuk

    membantu kemandirian siswa dalam mengadakan penyelidikan melalui

    disiplin berfikir yang benar. Penemuan mendorong siswa untuk

    menemukan jawaban dari pertanyaan tentang

    mengapa sesuatu terjadi

    melalui pengumpulan data yang logis. Di samping itu, penemuan

    bertujuan untuk mengembangkan strategi berfikir siswa untuk

    menemukan jawaban dari pertanyaan mengapa sesuatu terjadi

    sebagaimana kejadiannya (http ://www. laboratorium-

    um.sch.id/files/BAB%20XII%20STRATEGI%20PEMBELA

    JARAN%20DENGAN%20METODE%20PENEMUAN.pdf).

    17

    Adapun kelemahan dan keunggulan metode discovery dalam proses

    pembelajaran menurut Roestiyah (2001: 20) adalah sebagai berikut:

    Keunggulan metode discovery 1) Teknik ini mampu membantu siswa untuk mengembangkan, memperbanyak kesiapan serta penguasaan keterampilan dalm proses kognitif/ pengenalan siswa. 2) Siswa memperoleh pengetahuan yang bersifat pribadi sehingga

    3)

    dapat kokoh/ mendalam tertinggal dalam jiwa siswa tersebut. Dapat membangkitkan kegairahan belajar para siswa.

    4) Teknik ini mampu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang dan maju sesuai dengan kemampuannya masing- masing. 5) Mampu mengarahkan cara siswa belajar, sehingga lebih memiliki motivasi yang kuat untuk belajar lebih giat. 6) Membantu siswa untuk memperkuat dan menambah kepercayaan pada diri sendiri dengan proses penemuan sendiri. 7) Strategi ini berpusat pada siswa tidak pada guru. Guru hanya sebagai teman belajar saja dan membantu jika diperlukan.

    Kelemahan metode discovery 1) Siswa harus ada kesiapan dan kematangan mental untuk cara belajar ini. Siswa harus berani dan berkeinginan untuk mengetahui keadaan sekitarnya dengan baik. 2) Bila kelas terlalu besar penggunaan teknik ini akan kurang berhasil. 3) Bagi guru dan siswa yang sudah terbiasa dengan perencanaan dan pengajaran tradisional mungkin akan sangat kecewa bila diganti dengan teknik penemuan. 4) Dengan teknik ini ada yang berpendapat bahwa proses mental ini terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan/ pembentukan sikap dan keterampilan bagi siswa.

    Menurut Markaban (2006: 12), langkah yang perlu ditempuh guru

    mata pelajaran Menerapkan Teknik Konversi Bahan Dalam Pengolahan

    dalam pembelajaran menggunakan discovery adalah sebagai berikut:

    • a. Merumuskan masalah yang akan diberikan kepada siswa dengan data secukupnya.

    • b. Dari data yang diberikan guru, siswa menyusun, memproses, mengorganisir, dan menganalisis data tersebut. Dalam hal ini,

    18

    bimbingan guru dapat diberikan sejauh yang diperlukan.

    • c. Siswa menyusun konjektur (prakiraan) dari hasil analisis yang dilakukannya.

    • d. Bila dipandang perlu, konjektur yang telah dibuat siswa diperiksa oleh guru. Hal ini penting dilakukan untuk meyakinkan kebenaran prakiraan siswa, untuk menuju arah yang hendak dicapai.

    • e. Apabila telah diperoleh kepastian tentang kebenaran konjektur tersebut, maka verbalisasi konjektur sebaiknya diserahkan juga kepada siswa untuk menyusunnya.

    • f. Sesudah siswa menemukan apa yang dicari, hendaknya guru menyediakan soal latihan. Menurut Erman Suherman, dkk (2001: 213-214), untuk

    merencanakan pengajaran dengan metode discovery hendaknya

    diperhatikan bahwa:

    1). Aktivitas siswa untuk belajar sendiri sangat berpengaruh.

    2). Hasil akhir harus ditemukan sendiri oleh siswa.

    3). Prasyarat-prasyarat yang diperlukan sudah dimiliki siswa.

    4). Guru hanya bertindak sebagai pengarah dan pembimbing saja.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa metode discovery adalah suatu

    metode belajar yang memungkinkan siswa menemukan sendiri sebagian

    atau seluruh informasi yang menjadi tujuan pembelajaran. Melalui metode

    Discovery, siswa didorong untuk belajar mandiri dan aktif karena siswa

    akan berfikir dan menggunakan kemampuannya sendiri untuk menemukan

    konsep, teorema, rumus, pola, aturan, dan sejenisnya. Guru bertindak

    sebagai pembimbing dan pendorong siswa untuk mendapatkan

    pengalaman dengan melakukan kegiatan yang memungkinkan mereka

    untuk mandiri.

    19

    c. Aplikasi Metode Discovery dalam Pembelajaran Menerapkan Proses

    Pengecilan Ukuran

    Menurut Erman Suherman (2003: 212), penemuan sebagai metode

    pembelajaran merupakan penemuan yang dilakukan siswa. Dalam

    pembelajaran ini siswa menemukan sendiri sesuatu hal yang baru bagi

    mereka. Hal yang ditemukan siswa itu bukan merupakan hal yang benar-

    benar baru sebab sudah diketahui sebelumnya oleh orang lain. Seorang

    siswa dalam pembelajarannya berhasil menemukan sendiri suatu bentuk

    potongan, ia pun telah menemukan sesuatu yang baru bagi dirinya saja

    walaupun hal itu telah dikenal orang.

    Pengajaran dengan metode penemuan berharap agar siswa benar-

    benar aktif belajar menemukan sendiri bahan yang dipelajarinya. Sebagai

    contoh untuk mempelajari potongan sayuran berbentuk potongan cube

    dilakukan langkah-langkah seperti di bawah ini.

    Membuat potongan cube :

    Alat : kentang, pisau, talenan, serbet, kom, dan air.

    1). Ambil satu buah kentang

    2). Cuci kentang hingga bersih

    3). Kupas kulit kentang setipis mungkin

    4). Siapkan kom yang berisi air, untuk merendam kentang yang telah

    dikupas agar tidak berwarna coklat

    5). letakkan kentang di atas telenan

    20

    Catatan:Potongan yang dihasilkan memiliki ukuran yang seragam.

    • a. Apakah semua hasil potongan kelompokmu bentuknya sama?

    • b. Jika pada pertanyaan a, jawaban kelompokmu “ya”, bentuk potongan apakah namanya?

    • c. Apakah semua potongan berukuran 1½ cm x 1½ cm x 3cm ?

    Hasil yang diperoleh kelompokmu dinamakan potongan cube.

    7). Gunakan mistar untuk mengukur sisi masing-masing potongan

    kentang.

    8). Sehingga diperoleh bentuk potongan cube

    Sebagai kesimpulan:

    • a. Perhatikan potongan kentang yang telah terbentuk.

    • b. Potongan kentang tersebut tersusun dari 6 sisi yang memiliki ukran

    1½ cm x 1½ cm x 3cm yang terdiri dari persegi depan, persegi

    belakang, persegi atas, persegi bawah, persegi samping kiri dan

    persegi samping kanan

    Kesimpulan:

    Bentuk potongan sayuran berbentu cube yaitu, potongan yang

    berbentuk persegi yang memiliki 6 buah sisi dengan ukuran 1½ cm x

    1½ cm x 3cm

    1½ cm x 3cm
     

    Untuk dapat menemukan, siswa harus melakukan terkaan, dugaan,

    coba-coba dan berbagai usaha lainnya. Pembelajaran menggunakan

    21

    metode discovery harus telah direncanakan sebelumnya karena sangat

    bergantung pada kemampuan siswa. Pelaksanaannya harus selalu

    disesuaikan dengan pengetahuan siswa yang telah diperoleh sebelumnya

    dan tidak semua bahan pelajaran dapat disajikan dengan metode discovery.

    • 3. Lembar Kerja Siswa (LKS)

    Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan salah satu jenis alat bantu

    pembelajaran, bahkan ada yang menggolongkan ke dalam jenis alat peraga

    pembelajaran. Secara umum, LKS merupakan perangkat pembelajaran

    sebagai pelengkap atau sarana pendukung pelaksanaan Rencana

    Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). LKS yang dikemukakan oleh Bulu

    (Sultan, 2008: 2) adalah lembar kerja yang berisi tentang informasi dan

    perintah atau instruksi dari guru kepada siswa untuk mengerjakan suatu

    kegiatan belajar dalam bentuk kerja, praktek, atau dalam bentuk penerapan

    hasil belajar untuk mencapai suatu tujuan. LKS ini sangat baik digunakan

    untuk menggalakkan keterlibatan peserta didik dalam belajar baik

    dipergunakan dalam penerapan metode terbimbing maupun untuk

    memberikan latihan pengembangan.

    Menurut Tobing (Budi Tjahjono, 2007: 24). Lembar Kerja Siswa

    (LKS) adalah suatu lembaran yang diberikan kepada siswa sebagai sarana

    dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di sekolah. LKS dapat

    digunakan sebagai sarana pengajaran individual mendidik siswa untuk

    mandiri, percaya diri, disiplin, bertanggungjawab, dan dapat mengambil

    22

    keputusan. LKS dalam kegiatan belajar mengajar dapat dimanfaatkan pada

    tahap pemahaman konsep karena LKS dirancang untuk membimbing

    siswa dalam mempelajari topik. Pemanfaatan LKS pada tahap pemahaman

    konsep berarti LKS dimanfaatkan untuk mempelajari suatu topik dengan

    maksud memperdalam pengetahuan tentang topik yang telah dipelajari.

    Menurut Marsigit (2008 : 3), manfaat pengembangan LKS adalah:

    • a. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerja secara mandiri

    • b. Memberi kesempatan kepada siswa untuk bekerjasama

    • c. Memberi kesempatan kepada guru untuk mengembangkan berbagai macam kegiatan

    • d. Menyediakan dokumen yang bermanfaat bagi siswa dan memberikan alternatif sumber materi pembelajaran

    • e. Memberi kesempatan kepada siswa melakukan kegiatan penemuan. Menurut Suyitno (Ahlis Widiyanto, 2007: 6), manfaat yang diperoleh

    dengan penggunaan LKS dalam proses pembelajaran adalah sebagai

    berikut :

    • 1. Mengaktifkan peserta didik dalam proses pembelajaran.

    • 2. Membantu peserta didik dalam mengembangkan konsep.

    • 3. Melatih peserta didik dalam menemukan dan mengembangkan keterampilan proses.

    • 4. Sebagai pedoman guru dan siswa dalam pelaksanaan pembelajaran.

    • 5. Membantu peserta didik memperoleh catatan tentang materi yang dipelajari melalui kegiatan belajar.

    • 6. Membantu peserta didik untuk menambah informasi tentang konsep yang dipelajari melalui kegiatan belajar secara sistematis. Berdasarkan uraian di atas, LKS yang digunakan dalam penelitian ini

    adalah lembar kerja yang berisi tentang informasi dan instruksi dari guru

    kepada siswa untuk mengerjakan suatu kegiatan belajar dalam bentuk

    kerja, praktek, atau dalam bentuk penerapan hasil belajar untuk mencapai

    suatu tujuan. Dalam proses pembelajaran menerapkan teknik konversi

    23

    bahan dalam pengolahan, LKS bertujuan untuk menemukan konsep atau

    prinsip dan aplikasi konsep atau prinsip.

    • 4. Kemandirian Belajar a. Kemandirian

    Menurut Jacob Utomo (1990: 108), kemandirian adalah suatu

    kecenderungan menggunakan kemampuan sendiri untuk menyelesaikan

    masalah secara bebas, progresif dan penuh inisiatif. Kemandirian atau

    kematangan pribadi juga dapat didefinisikan sebagai keadaan

    kesempurnaan dan keutuhan unsur budi dan badan dalam kesatuan pribadi

    (Drost, 1998: 39).

    Bhatia yang dikutip oleh Pergola Irianti (http://lib.ugm.ac.id/data/pub

    data/pusta/pirianti2.pdf) mengatakan bahwa kemandirian adalah suatu

    keadaan dimana individu mempunyai perilaku yang terarah pada dirinya

    sendiri. Kemandirian, menurut Sutari Imam Barnadib, meliputi perilaku

    mampu berinisiatif, mampu mengatasi hambatan/masalah, mempunyai

    rasa percaya diri dan dapat melakukan sesuatu sendiri tanpa bantuan orang

    lain. Pendapat tersebut juga diperkuat oleh Kartini dan Dali yang

    mengatakan bahwa kemandirian adalah hasrat untuk mengerjakan segala

    sesuatu bagi diri sendiri (http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp ).

    Kemandirian merupakan salah satu unsur kepribadian yang penting,

    karena diperlukan oleh manusia agar dapat menyesuaikan diri secara aktif

    dalam lingkungan. Sumanto menyampaikan bahwa pengertian

    24

    kemandirian memiliki beberapa aspek kemampuan, antara lain

    mengarahkan perilaku sendiri, mengambil keputusan, bertanggung jawab,

    kepercayaan pada diri sendiri, bertindak bebas dan sifat keaslian dalam

    perilaku (Rosnida (2007: 20).

    Dari berbagai macam pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa

    kemandirian adalah suatu keadaan yang dapat berdiri sendiri. Kemandirian

    merupakan inisiatif seseorang untuk menyelesaikan masalah dengan

    kemampuannya sendiri tanpa harus bergantung pada orang lain.

    Kemandirian merupakan hal yang sangat penting agar dapat mengarahkan

    dirinya ke arah tujuan dalam kehidupannya.

    • b. Kemandirian Belajar Stephen Brookfield (2000: 130-133) mengemukakan bahwa

    kemandirian belajar merupakan kesadaran diri, digerakkan oleh diri

    sendiri, kemampuan pebelajar untuk mencapai tujuannya.

    Hiemstra (Desi Susilawati, 2009: 7-8) mendiskripsikan kemandirian

    belajar sebagai berikut:

    • a. Siswa berusaha untuk meningkatkan tanggung jawab dalam mengambil berbagai keputusan dalam usaha belajarnya .

    • b. Kemandirian dipandang sebagai suatu sifat yang sudah ada pada setiap orang dan situasi pembelajaran.

    • c. Kemandirian bukan berarti memisahkan diri dari orang lain.

    • d. Pembelajaran mandiri dapat menstransfer hasil belajarnya yang berupa pengetahuan dan keterampilan dalam berbagai situasi.

    • e. Siswa yang belajar mandiri dapat melibatkan berbagai sumber daya dan aktivitas seperti membaca sendiri, belajar kelompok, latihan dan kegiatan korespondensi.

    25

    • f. Peran efektif guru dalam belajar mandiri masih dimungkinkan, seperti berdialog dengan siswa, mencari sumber, mengevaluasi hasil dan mengembangkan berfikir kritis.

    • g. Beberapa institusi pendidikan menemukan cara untuk mengembangkan belajar mandiri melalui program pembelajaran terbuka. Utari Sumarmo (Farida Fauziah, 2008: 21) memberikan tiga

    karakteristik kemandirian belajar, yaitu bahwa individu:

    1)

    Merancang belajar sendiri sesuai dengan tujuannya

    2)

    Memilih srategi kemudian melaksanakan rancangan belajarnya

    3) Memantau kemajuan belajarnya, mengevaluasi hasilnya dan

    dibandingkan dengan standar tertentu

    Jadi dapat disimpulkan bahwa kemandirian belajar adalah

    kecenderungan atau keadaan yang berasal dari dalam diri siswa untuk

    melakukan kegiatan belajar guna menguasai kompetensi tertentu, dimana

    siswa mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mencapai tujuan

    pembelajaran baik dalam penggunaan strategi belajar, sumber belajar,

    perencanaan, pelaksanaan, maupun evaluasi pembelajaran, tanpa terlalu

    tergantung pada guru atau pendidik.

    • c. Aspek-aspek Kemandirian Belajar a. Motivasi

    Motivasi adalah ‘pendorongan’ yaitu suatu usaha yang

    disadari untuk mempengaruhi tingkah laku seseorang agar ia

    tergerak hatinya untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga

    mencapai suatu hasil atau tujuan tertentu (Ngalim Purwanto,

    26

    2006: 71). Motivasi menurut Goleman adalah hasrat yang paling

    dalam untuk menggerakkan dan menuntut kita menuju sasaran,

    membantu kita mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif,

    serta untuk bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi (Hamzah

    B. Uno, 2007: 85).

    Menurut Oemar Hamalik (2003: 158) motivasi adalah

    perubahan energi dalam diri (pribadi) seseorang yang ditandai

    dengan timbulnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan.

    Sedangkan Winkel (1996: 92) menyatakan bahwa motivasi adalah

    keseluruhan daya penggerak psikis di dalam diri siswa yang

    menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan kegiatan

    belajar, dan memberikan arah kegiatan belajar itu demi mencapai

    satu tujuan.

    Jadi dapat disimpulkan bahwa motivasi tampak dalam tingkat

    kesungguhan seseorang dalam mengerjakan sesuatu. Motivasi

    mendorong seseorang untuk bergerak kearah pencapaian tujuan

    tertentu dan ketekuan dalam mengerjakannya. Dalam hal belajar

    matematika, motivasi siswa tampak dalam rasa keingintahuan,

    kemampuan memperhatikan, mempelajari dan mempraktikan

    keterampilan matematika yang diperoleh, tekun dan mencari

    alternatif pemecahan ketika siswa menghadapi kesulitan dalam

    belajar menerapkan proses pengecilan ukuran

    .

    27

    b.

    Inisiatif

    Ubaydillah (http://www.e-psikologi.com/epsi/search.asp )

    menyatakan bahwa inisiatif adalah kemampuan seseorang dalam

    melakukan sesuatu tanpa menunggu perintah lebih dahulu. Ini

    semua dilakukan dengan tujuan untuk memperbaiki atau

    meningkatkan hasil pekerjaan, untuk menciptakan peluang baru

    atau untuk menghindari timbulnya masalah yang mungkin akan

    muncul.

    Inisiatif menurut Imadea adalah kemampuan seseorang untuk

    mengendalikan hidupnya, dan mengarahkan pertentangan tujuan

    dan ambisinya menuju orientasi yang ia inginkan

    (http://imadea.multiply.com/journal/item/107/MenjadiMuslimah

    inisiatif).

    Ciri-ciri orang yang mempunyai inisiatif bagus:

    1). gigih dalam memperjuangkan sesuatu

    2). mengkalkulasi peluang

    3). berusaha melebihi dari yang ditugaskan

    4). antisipasi terhadap masalah atau persiapan menyambut

    peluang

    Dalam hal pembelajaran, Sri Rumini dkk (1993: 11)

    menjelaskan bahwa belajar akan menjadi bermakna bila dilakukan

    atas inisiatif sendiri dan melibatkan perasaan maupun pikiran.

    Inisiatif merupakan kemampuan untuk menemukan ide atau

    28

    pikiran yang dapat dikemukakan kepada orang lain. Agar siswa

    memiliki inisiatif maka perlu diberi dorongan untuk dapat

    mengembangkan potensi dirinya.

    Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa inisiatif dalam

    pembelajaran matematika adalah kemampuan siswa yang terlihat

    ketika siswa mengemukakan ide atau pendapat dalam kegiatan

    pembelajaran dalam wujud bertanya atau menjawab tanpa

    menunggu ditunjuk oleh guru.

    • c. Percaya Diri

    Menurut Jacinta F. Rini (http://www.e-psikologi.com/epsi

    /search.asp ) , kepercayaan diri adalah sikap positif seorang

    individu yang memampukan dirinya untuk mengembangkan

    penilaian positif baik terhadap diri sendiri maupun terhadap

    lingkungan/situasi yang dihadapinya. Percaya diri berarti yakin

    akan kemampuannya untuk menyelesaikan suatu pekerjaan dan

    masalah. Menurut Anita Lie (2003: 4) ciri-ciri perilaku yang

    percaya diri adalah:

    1). yakin kepada diri sendiri

    2). tidak bergantung kepada orang lain

    3). tidak ragu-ragu

    4). merasa diri berharga

    5). tidak menyombongkan diri

    6). memiliki keberanian untuk bertindak

    29

    Dalam kegiatan pembelajaran matematika, sikap percaya

    diri siswa dapat dilihat dari keyakinan atas kemampuannya dalam

    tugas belajar matematika, keberanian menentukan ide, gagasan,

    atau pendapat dan berani menerima atau menghadapi penolakan

    atas pendapatnya tersebut, tidak yang baik, mudah menyerah,

    memiliki pengendalian diri dan memiliki penilaian positif

    terhadap diri sendiri. Percaya diri dalam kegiatan pembelajaran

    juga dapat ditunjukkan oleh siswa dengan berani untuk tampil ke

    depan atau presentasi serta mengerjakan kuis dan ulangan harian

    tanpa melihat pekerjaan orang lain.

    d.

    Disiplin

    Menurut Suharsimi Arikunto (1993: 114), disiplin merupakan

    sesuatu yang berkenaan dengan pengendalian diri seseorang

    terhadap bentuk-bentuk aturan, kepatuhan seseorang dalam

    mengikuti peraturan didorong oleh kesadaran pribadinya, dan

    bukan kepatuhan yang terjadi karena adanya rasa takut kepada

    orang lain atau didesak oleh orang lain.

    Sedangkan menurut Radno Harsanto (2007: 28) perilaku

    murid yang tidak disiplin, yang dinilai mengganggu proses

    pembelajaran adalah sebagai berikut:

    1)

    berbicara dengan teman sebangku

    2)

    bersendau gurau

    30

    4)

    tidak mau melaksanakan tugas kelas

    5) bermalas-malasan

    6)

    menunda-nunda pelaksanaan tugas kelas

    Disiplin adalah sikap individu yang terbentuk dari

    serangkaian perilaku yang menunjukkan ketaatan dan keteraturan

    terhadap aturan yang berlaku. Sikap disiplin yang dapat diamati

    dalam kegiatan pembelajaran menerapkan teknik konversi bahan

    dalam pengolahan yaitu siswa hadir tepat waktu pada saat

    mengikuti pelajaran matematika dan siswa tepat waktu dalam

    mengumpulkan tugas atau PR menerapkan teknik konversi bahan

    dalam pengolahan.

    • e. Tanggung Jawab

    Darius (http://id.shvoong.com/books/1773765-tanggung-

    jawab/ ) menyatakan bahwa tanggung jawab adalah sesuatu yang

    harus dilakukan agar menerima sesuatu yang dinamakan hak.

    Tanggung jawab merupakan segala resiko dari hasil keputusan

    yang telah diambilnya. Tanggung jawab siswa akan muncul

    apabila siswa dapat diberi kesempatan untuk menentukan

    targetnya sendiri dalam belajar.

    Karakteristik siswa yang memiliki tanggung jawab dalam

    belajar antara lain adalah memiliki kesadaran diri untuk belajar

    dan melaksanakannya, ulet atau pantang menyerah, selalu

    mengusahakan yang terbaik, mampu mengendalikan diri, disiplin,

    31

    dan memiliki pertimbangan mengenai akibat dari setiap keputusan

    yang diambil.

    Adapun bentuk-bentuk tanggung jawab yang dimiliki siswa

    berdasar uraian di atas pada saat kegiatan pembelajaran

    matematika berlangsung adalah siswa bersungguh-sungguh dalam

    mengerjakan tugas-tugas tersebut dan berusaha cepat

    menyelesaikan dengan tuntas sesuai waktu yang ditentukan.

    • B. Penelitian yang Relevan

    Penelitian oleh Dian Agung Wibowo (2009) dengan judul “Tingkat

    Kemandirian Belajar Siswa Kelas VIII Dalam Pembelajaran Pendidikan

    Jasmani Di SMP Negeri 4 Depok” yang merupakan penelitian deskriptif

    dengan metode survey dan teknik pengambilan datanya menggunakan angket

    yang diujikan terhadap 30 siswa dengan hasil bahwa dalam mata pelajaran

    pendidikan jasmani siswa cukup mandiri.

    Berdasarkan hasil penelitian eksperimen Dwi Darmadi (2007: 56) yang

    berjudul “Keefektifan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Metode

    Penemuan Berbantuan Lembar Kerja Siswa (LKS) pada Pembelajaran

    Matematika Sub Materi Pokok Trigonometri Kelas X SMA Negeri 8

    Semarang Semester 2 Tahun Pelajaran 2006/2007”, diperoleh bahwa model

    pembelajaran kooperatif dengan metode penemuan berbantuan LKS lebih

    baik daripada pembelajaran konvensional dengan metode ekspositori. Hal ini

    terlihat dari rata-rata prestasi belajar kelompok eksperimen = 65,35 lebih

    32

    tinggi dibandingkan dengan rata-rata prestasi belajar kelompok kontrol =

    58,58.

    C. Kerangka Berpikir

    Salah satu masalah yang dihadapi guru menerapkan proses pengecilan

    ukuran SMK Negeri 1 Pandak adalah kurangnya kemandirian siswa dalam

    pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran. Oleh sebab itu,

    diperlukan suatu alternatif metode pembelajaran yang dapat meningkatkan

    kemandirian belajar menerapkan proses pengecilan ukuran siswa. Salah satu

    alternatif itu adalah dengan menerapkan metode Discovery.

    Metode Discovery adalah salah satu metode pembelajaran yang

    memberikan kesempatan kepada siswa untuk berfikir, menganalisis,

    mempelajari serta menyimpulkan atas pokok-pokok materi yang telah

    disiapkan oleh guru. Dalam metode discovery, guru membimbing siswa jika

    diperlukan dan siswa didorong untuk berpikir mandiri, sehingga siswa dapat

    menemukan cara penyelesaian dan pembuatan kesimpulan berdasarkan bahan

    ajar yang disiapkan oleh guru.

    Dalam pelaksanaannya siswa akan diberikan kesempatan untuk berfikir,

    menganalisis, serta menyimpulkan atas pokok-pokok materi berdasarkan

    langkah-langkah yang disediakan oleh guru yang tertuang dalam Lembar

    Kegiatan Siswa. Setelah siswa menyimpulkan suatu pokok materi, kemudian

    siswa diberi kesempatan untuk menyelesaikan soal sesuai kemampuan

    mereka sebagai bentuk pengaplikasian konsep yang mereka temukan ke

    33

    dalam suatu masalah/soal. Dalam pengerjaannya, siswa dituntut untuk

    mandiri sehingga dapat melibatkan aktivitas fisik dan mental untuk

    memperoleh pengalaman belajar mereka.

    Pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran menggunakan

    metode Discovery, kompetensi yang dipilih yaitu menerapkan proses

    pengecilan ukuran dan bentuk produk / forming pada pengolahan sayuran dan

    ikan, siswa dimungkinkan dapat termotivasi, memiliki inisiatif, mempunyai

    rasa percaya diri dan mempunyai tanggung jawab dalam pembelajaran

    menerapkan proses pengecilan ukuran sehingga terbentuk kemandirian

    belajar menerapkan proses pengecilan ukuran. Untuk lebih jelas kerangka

    berpikir dapat dilihat pada gambar 1 dibawah ini :

    34

    Kompetensi Keahlian Teknologi Pengolahan Hasil Pertanian Standar Kompetensi : Menerapkan Teknik Konversi Bahan Dalam Pen olahan
    Kompetensi Keahlian Teknologi
    Pengolahan Hasil Pertanian
    Standar Kompetensi : Menerapkan
    Teknik Konversi Bahan Dalam
    Pen olahan
    Kompetensi Dasar : Menerapkan proses
    pengecilan ukuran dan bentuk produk
    Perencanaan : Perangkat
    pembelajaran (RPP, LKS)
    Refleksi
    Siklus I
    Pelaksanaan :
    Metode Discovery
    Pengamatan :
    Kemandirian belajar
    Perencanaan : Perangkat
    pembelajaran (RPP, LKS)
    Refleksi
    Siklus II
    Pelaksanaan :
    Metode Discovery
    Pengamatan :
    Kemandirian belajar
    Selesai

    Gambar 1. Diagram Alir Proses Penelitian

    35

    D. Hipotesis Tindakan

    Pembelajaran pada pokok bahasan pengecilan ukuran dengan

    menerapkan metode discovery, dapat meningkatkan kemandirian belajar siswa

    kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak.

    36

    BAB III

    METODE PENELITIAN

    • A. Jenis Penelitian

    Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

    yang dilakukan secara kolaboratif dan partisipatif. Kolaboratif artinya peneliti

    bekerjasama dengan guru kelas, sedangkan partisipatif artinya peneliti dibantu

    teman sejawat (observer).

    Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan informasi bagaimana cara

    untuk meningkatkan kemandirian belajar menerapkan proses pengecilan

    ukuran siswa menggunakan metode discovery. Oleh sebab itu, penelitian ini

    difokuskan pada tindakan-tindakan sebagai usaha untuk meningkatkan

    kemandirian belajar dalam proses belajar menerapkan proses pengecilan

    ukuran menggunakan metode discovery.

    • B. Subjek dan Objek Penelitian

    Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1

    Pandak yang berjumlah 32 siswa. Pengambilan kelas X TPHP 1 sebagai

    subjek, dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan guru Pengolahan hasil

    pertanian yang mengampu. Sedangkan objek dalam penelitian ini adalah

    keseluruhan proses pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran

    dengan metode discovery.

    37

    • C. Waktu dan Tempat Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1 Pandak

    pada bulan Januari-Februari 2011 dengan menyesuaikan jadwal pelajaran

    menerapkan proses pengecilan ukuran di kelas tersebut.

    • D. Setting Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Pandak dimana kelas X

    TPHP terdiri dari dua kelas. Setting yang digunakan dalam penelitian ini

    adalah setting kelas dalam kegiatan pembelajaran menerapkan proses

    pengecilan ukuran di kelas X TPHP 1 SMK N 1 Pandak Bantul. Pemilihan

    kelas X TPHP 1 sesuai dengan kesepakatan peneliti dan guru menerapkan

    proses pengecilan ukuran yang mengajar di kelas tersebut.

    • E. Desain Penelitian

    Dalam penelitian tindakan kelas ini peneliti menggunakan model

    Kemmis dan Mc. Taggart. Pelaksanaan penelitian tindakan meliputi empat

    langkah yaitu perencanaan (planning), tindakan (action ), pengamatan

    (observation), dan refleksi (reflection ). Setiap langkah pelaksanaan termuat

    dalam suatu siklus. Siklus dihentikan jika peneliti dan guru sepakat bahwa

    penelitian yang dilakukan sesuai dengan rencana dan kemandirian belajar

    Menerapkan Teknik Konversi Bahan Dalam Pengolahan siswa mengalami

    peningkatan. Penelitian ini direncanakan terdiri dari dua siklus. Adapun

    rincian langkah-langkah dalam setiap siklus dijabarkan sebagai berikut:

    38

    Siklus I

    1.

    Perencanaan

    Pada langkah perencanaan, peneliti membuat rencana tindakan yang

    akan dilakukan dalam penelitian, yaitu menyusun Rencana Pelaksanaan

    Pembelajaran (RPP) sesuai materi yang diajarkan dengan metode

    Discovery, menyusun Lembar Kerja Siswa (LKS), menyiapkan soal tes

    tiap akhir siklus, menyiapkan lembar observasi kegiatan pembelajaran

    dengan metode Discovery, membuat pedoman wawancara siswa dan

    guru, dan membuat angket kemandirian belajar menerapkan proses

    pengecilan ukuran siswa. Instrumen tersebut disusun dan dikonsultasikan

    sebelumnya dengan dosen pembimbing dan guru mata pelajaran

    menerapkan proses pengecilan ukuran.

    • 2. Pelaksanaan Tindakan

    Setelah dilakukan perencanaan, selanjutnya dilaksanakan tindakan

    dengan menerapkan metode pembelajaran Discovery. Pembelajaran terdiri

    dari 3 kegiatan, yaitu:

    1)

    Kegiatan Awal

    • a. Guru mengkomunikasikan kompetensi dan tujuan yang akan

    dicapai.

    • b. Guru melakukan apersepsi yang berkaitan dengan materi

    pembelajaran.

    2)

    Kegiatan Inti

    • a. Siswa dikelompokkan menjadi beberapa kelompok.

    39

    • b. Guru memberikan permasalahan kepada masing-masing kelompok dengan data secukupnya dalam LKS sesuai dengan metode Discovery.

    • c. Guru meminta siswa untuk berdiskusi dalam mengerjakan LKS.

    • d. Siswa mempresentasikan hasil diskusi dan melakukan pengecekan

    jawaban.

    3) Kegiatan Akhir

    Kegiatan akhir pembelajaran meliputi kegiatan guru dan siswa

    dalam membuat kesimpulan dan refleksi materi yang telah dipelajari.

    • 3. Pengamatan (Observasi)

    Selama proses pembelajaran berlangsung, peneliti dibantu observer

    melakukan observasi. Kegiatan ini dilakukan selama proses pembelajaran

    berlangsung dengan menggunakan lembar observasi sebagai upaya untuk

    mengetahui jalannya pembelajaran dan bagaimana aktivitas siswa.

    Sedangkan kejadian yang tidak terdapat pada lembar observasi merupakan

    catatan lapangan.

    • 4. Refleksi

    Refleksi dilakukan dengan cara mengumpulkan semua catatan dan

    data yang diperoleh selama proses pembelajaran. Kemudian semua catatan

    dan data tersebut dianalisis. Hasil analisis didiskusikan dengan guru untuk

    mengetahui kebenaran data tersebut dan untuk mengetahui kekurangan-

    kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran. Hasil refleksi

    digunakan oleh peneliti dan guru untuk menentukan perlu tidaknya

    40

    dilakukan tindakan ulang atau siklus lanjutan dan menentukan perbaikan

    tindakan pada siklus selanjutnya.

    Rancangan Penelitian Siklus II

    Kegiatan yang dilaksanakan pada siklus II dimaksudkan sebagai

    perbaikan dari siklus I. Tahapan pada siklus II sama dengan siklus I, yaitu

    diawali dengan perencanaan (planning), dilanjutkan dengan pelaksanaan

    tindakan (action ), observasi (observation), dan refleksi (reflection ). Jika

    dievaluasi pada akhir siklus tidak terjadi peningkatan, dilaksanakan siklus III,

    siklus IV, dan seterusnya yang tahap-tahapnya seperti pada siklus I dan II.

    Siklus berhenti jika tujuan penelitian sudah tercapai yaitu jika kemandirian

    belajar menerapkan proses pengecilan ukuran siswa SMK N 1 Pandak

    menggunakan metode discovery telah meningkat.

    • F. Teknik Pengumpulan Data 1. Observasi

    Observasi dilakukan dengan cara melakukan pengamatan dan

    pencatatan mengenai proses kegiatan pembelajaran dan kegiatan siswa

    selama proses kegiatan belajar mengajar dengan metode Discovery.

    Pengamat observasi terdiri dari dua orang untuk menjaga keobjektifan

    data. Observer adalah tim teaching yang terdiri dari dua orang guru, tim

    observer pertama adalah ibu Ir. Mujiasih, dan observer kedua ibu Sri

    Mardiatik S.TP

    41

    • 2. Wawancara

    Wawancara dilakukan pada siswa untuk mengetahui hal-hal yang

    kurang dapat diamati pada saat observasi dan untuk melengkapi data

    respons siswa. Pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan disusun dengan

    menggunakan pedoman wawancara mengacu pada kemandirian belajar

    siswa dalam pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran.

    • 3. Angket

    Angket digunakan untuk memperkuat data yang telah diperoleh

    berdasarkan lembar observasi mengenai kemandirian belajar siswa

    terhadap pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran

    menggunakan metode discovery. Angket diberikan setiap akhir siklus.

    Angket ini berisi pernyataan-pernyataan yang berkaitan dengan

    kemandirian siswa dalam belajar. Angket ini meliputi aspek-aspek

    motivasi, inisiatif, percaya diri, disiplin, dan tanggung jawab.

    • 4. Tes

    Tes diberikan kepada siswa secara tertulis untuk mengetahui sejauh

    mana pemahaman siswa terhadap materi yang telah dipelajari. Tes ini

    dikerjakan secara individual oleh siswa.

    • 5. Catatan lapangan

    Catatan lapangan dalam penelitian ini digunakan untuk melengkapi

    data dalam proses pembelajaran yang tidak terdapat dalam pedoman

    observasi.

    42

    • 6. Dokumentasi

    Dokumentasi berupa foto digunakan untuk memberikan gambaran

    secara konkret mengenai kegiatan siswa dan kemandirian belajar siswa

    selam proses pembelajaran berlangsung. Selain itu terdapat dokumentasi

    berupa hasil jawaban tes siswa.

    G. Instrumen Penelitian

    Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah:

    • 1. Pedoman Observasi

    Pedoman observasi digunakan untuk melakukan pengamatan dan

    pencatatan secara logis, sistematis, dan rasional terhadap pembelajaran.

    Pedoman observasi digunakan selama proses pelaksanaan tindakan

    berlangsung dengan mencatat kegiatan siswa selama pembelajaran

    menggunakan metode discovery. Untuk lebih jelas aspek-aspek yang

    diamati pada pedoman observasi dapat dilihat pada tabel 2 di bawah ini :

    43

    Tabel 2 Pedoman Observasi Kegiatan Pembelajaran dengan Metode Discovery

    No.

    Aspek yang Diamati

    No Butir

    1.

    Pendahuluan

     
    • a. Mempersiapkan hal-hal yang dibutuhkan dalam kegiatan belajar mengajar sesuai dengan metode pembelajaran yang akan digunakan

    1.a, 1.b

     
    • b. Mengkomunikasikan kompetensi dan tujuan pembelajaran yang akan dicapai melalui metode pembelajaran yang akan digunakan

    1.c

     
    • c. Melakukan apersepsi terhadap materi yang akan ditemukan siswa

    1.d

    2.

    Kegiatan Inti

     
    • a. Mengelompokkan siswa dan memberi LKS yang telah disusun sesuai dengan metode yang digunakan

    2.a

     
    • b. Memberi arahan tentang LKS yang akan dikerjakan siswa dalam proses pembelajaran dengan metode Discovery.

    2.b

     
    • c. Siswa berdiskusi mengumpulkan dan menganalisis data yang terdapat dalam LKS

    2.c

     
    • d. Siswa bertanya kepada teman sekelompok atau guru dalam mengerjakan LKS atau dalam menyelesaikan soal

    2.d

     
    • e. Siswa sekelompok saling membantu menjelaskan jika mengalami kesulitan

    2.e

     
    • f. Siswa menyusun kesimpulan dari hasil analisis

    2.f

     
    • g. siswa

    Membimbing

    dalam

    menyusun

    2.g

    kesimpulan

     
    • h. Presentasi hasil temuan kelompok

    2.h, 2.i

     
    • i. Siswa mengumpulkan hasil pekerjaan

    2.j

    3.

    Penutup

     
    • a. hasil

    Menyimpulkan ditemukan siswa

    yang

    telah

    3.a

     
    • b. Memberikan latihan soal yang berkenaan dengan hasil yang telah ditemukan siswa

    3.b

     
    • c. Mengingatkan siswa materi pertemuan berikutnya

    3.c

    44

    • 2. Pedoman Wawancara

    Pedoman wawancara disusun untuk mengetahui kendala-kendala

    yang dihadapi guru dan untuk mendapatkan informasi yang lengkap yang

    sulit ditemukan melalui observasi atau mengecek data yang didapat

    melalui observasi. Wawancara dilakukan dengan guru pelajaran

    menerapkan proses pengecilan ukuran di kelas X TPHP 1 dan beberapa

    siswa kelas X TPHP 1 SMK Negeri 1Pandak Bantul. Wawancara juga

    digunakan untuk mengkonfirmasi informasi dan data yang meragukan.

    Pedoman wawancara berisikan pertanyaan-pertanyaan yang mengacu pada

    kemandirian belajar siswa dalam pembelajaran menerapkan proses

    pengecilan ukuran.

    • 3. Angket Kemandirian Belajar Menerapkan Proses Pengecilan Ukuran

    Angket kemandirian belajar menerapkan proses pengecilan ukuran

    digunakan untuk mengumpulkan data mengenai kemandirian siswa

    terhadap pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran yang

    dilaksanakan. Angket tersebut berisi pernyataan-pernyataan yang berkaitan

    dengan aspek motivasi, inisiatif, percaya diri, disiplin dan tanggung jawab

    siswa terhadap pelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran.

    • 4. Tes Tertulis

    Tes tertulis yang dimaksud adalah tes evaluasi yang diberikan

    apabila sub bab telah selesai. Tes ini diberikan setiap akhir siklus. Tes

    evaluasi digunakan untuk mengukur penguasaan dan kemampuan para

    siswa setelah menerima proses pembelajaran dengan metode discovery.

    45

    Instrumen ini juga digunakan sebagai sumber tambahan dalam melihat

    perkembangan kemandirian belajar siswa yang dilihat dari aspek

    peningkatan nilai dan hasil belajar siswa setelah diberikan tindakan. Tes

    evaluasi digunakan untuk mengetahui ketercapaian prestasi belajar siswa.

    • 5. Catatan Lapangan

    Catatan lapangan merupakan sumber yang sangat penting dalam

    penelitian tindakan kelas ini. Hal-hal yang dicatat antara lain suasana

    kelas, pengelolaan kelas, interaksi guru dan siswa, interaksi siswa dengan

    siswa, dan segala sesuatu yang terjadi selama pembelajaran berlangsung.

    • 6. Dokumentasi

    Dokumentasi dilakukan untuk memperkuat data yang diperoleh dari

    observasi. Untuk memberikan gambaran saat kegiatan pembelajaran

    berlangsung, maka digunakan dokumentasi berupa foto.

    H. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

    • 1. Validitas Instrumen Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

    kevalidan atau kesahihan suatu instrumen Suharsimi Arikunto (2002:144).

    Selanjutnya Sutrisno Hadi (1997:18) menyatakan bahwa instrumen dikatakan

    valid apabila mempunyi unsur kejituan dan kejelian. Jitu artinya instrumen

    tersebut dapat memberi fungsi sebagaimana mestinya dan teliti apabila

    instrumen tersebut dapat memberikan hasil yang sesuai dengan besar kecilnya

    gejala atau bagaimana gejala itu diukur.

    46

    • a) Uji Validitas Materi Pengujian validitas materi digunakan untuk memperoleh kesahihan

    instrument penelitian sehingga dapat digunakan dalam proses belajar

    mengajar. Pengujian validitas materi untuk proses belajar mengajar

    dilakukan dengan metode validitas isi. Pengujian validitas isi dilakuka

    dengan cara menguatkan pendapat dari para ahli dalam bidang yang

    bersangkutan (experts judgment) sebanyak 2 orang yaitu dosen ahli media

    ibu Fitri Rahmawati M.P dan guru ahli materi menerapkan proses

    pengecilan ukuran ibu Ir. Nurani Yuni Hastiwi.

    • b) Uji Validitas Lembar Observasi, Pedoman Wawancara, dan Tes Tertulis Pengujian validitas lembar observasi Pedoman Wawancara, dan Tes

    Tertulis pada kegiatan pembelajaran dilakukan dengan menggunakan

    metode validitas isi. Validitas isi ditetapkan menurut rasio atau logika

    terhadap isi butir-butir instrument dengan penilaian berdasarkan

    pertimbangan subjektif individu (judgement) sebanyak 2 orang yaitu dosen

    ahli media ibu Fitri Rahmawati M.P dan guru ahli materi menerapkan

    proses pengecilan ukuran ibu Ir. Nurani Yuni Hastiwi.

    • c) Uji Validitas Angket

    Suatu instrumen dikatakan valid jika instrumen yang digunakan

    dapat mengukur apa yang hendak diukur (Gay,1983). Validitas suatu

    instrumen penelitian, tidak lain adalah derajat yang menunjukkan dimana

    47

    suatu tes mengukur apa yang hendak diukur, prinsip tes adalah valid,

    tidak universal. Pengujian validitas instrumen dengan menggunakan

    validitas kriteria (Criteria Validity) dan validitas isi (Content Validity).

    Validitas angket dilakukan dengan menggunakan rumus koefisien

    korelasi product moment pearson yaitu (Suharsimi Arikunto, 2006:170) :

     

    =

    N

    XY

    (

    X

    )(

    Y

    )

    r xy

    Keterangan :

    r xy Keterangan :  N  X 2   (  X ) 2

    

    N

    X

    2

    (

    X

    )

    2

    

    N

    Y

    2

    (

    Y

    )

    2

       

    =

    koefiesien korelasi antara variabel X dan Y

    r xy

    N

    = jumlah subyek

    ∑xy

    = jumlah perkalian x dan y

     

    X

    2

    = kuadrat dari X

    Y

    2

    = kuadrat dari Y

     

    Berdasarkan

    hasil

    perhitungan

    apabila

     

    nilai

     

    corrected

    item-total

    correlation

    tersebut 0,239 maka butir pernyataan dalam angket

    dinyatakan

    valid

     

    Dalam pengujian validitas instrumen, peneliti

    menggunakan bantuan komputer program SPSS 19. Oleh karena itu dalam

    mencari validitas butir

    langsung dapat mengetahui apakah butir gugur

    atau tidak.

    Tabel 3. Pedoman Pemberian Interprestasi terhadap Koefisien Korelasi

    Interval Koefisien

    Tingkat Hubungan

    0,00 – 0,99

    Sangat Rendah

    0,20 – 0,399

    Rendah

    0,40 – 0,599

    Sedang

    0,60 – 0,799

    Kuat

    0,80 – 1,000

    Sangat Kuat

    (Sugiyono, 2005:216)

    48

    • 2. Reliabilitas Instrumen Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis

    konsistensi butir-butir yang ada pada instrumen dengan teknik tertentu.

    Pengujian reliabilitas ini dianalisis dengan teknik Alfa Cronbach yang

    dikemukakan oleh Sugiyono (2005:282) berikut rumus koefisien reliabilitas

    Alfa Cronbach :

    k

     

    Si

    • 2  

    2

    Jki

    Jks

    ri

    k 1

    1

    St

    • 2  

    Si

    2

     

    n

    n

    St

    2

    xt

     

    2

    xt

    2

     

    n

    Keterangan :

    n

    • 2

    ri

    = reliabilitas internal seluruh instrumen

     

    k

    = mean kuadrat antar subyek

     

    ∑Si 2

     

    = mean kuadrat kesalahan

    St 2

    = varians total

     

    Jki

    = jumlah kuadrat seluruh skor item

     

    Jks

     

    = jumlah kuadrat subyek

     
    • I. Hasil Uji Coba Instrumen

      • a. Hasil perhitungan validitas instrumen

    1). Angket kemandirian belajar

    Berdasarkan hasil analisis validitas menunjukkan bahwa angket

    kemandirian belajar yang berjumlah 30 butir, dinyatakan gugur 4 butir

    49

    yaitu butir nomor 10, 12, 21, dan 23 karena 4 butir tersebut

    mempunyai nilai corrected item-total correlation kurang dari 0,239.

    dengan demikian butir pernyataan angket kemandirian belajar yang

    dinyatakan valid dan akan digunakan untuk proses pengambilan data

    selanjutnya berjumlah 26 butir. Untuk memperjelas hasil analisis

    validitas terhadap instrumen dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini :

    Tabel 4. Rangkuman Hasil Perhitungan Validitas Instrumen

       

    Butri

     

    Sebelum

    Butir

    Gugur

    Butir

    Valid

    No

    Aspek

    Diuji

     

    Setelah Diuji

    Setelah Diuji

    No.

     

    Jumlah

    No.

    Jmlh

    No.

    Jmlh

       

    Butir

    Butir

    Butir

    Butir

    Butir

    Butir

    1

    Motivasi

    1,

    2, 17,

         

    1,

    2,

     

    23,

    26,

    17, 26,

    27

    6

    • 23 1

    27

    5

    2

    Inisiatif

    6,

    12,

         

    6,

    13,

     

    13,

    14,

    6

    • 12 14, 22,

    1

     

    5

    22, 28,

    28,

    3

    Percaya Diri

    4

    ,7,

    9,

         

    4 ,7, 9,

     

    11,

    19,

    6

    -

    -

    11,

    19,

    6

    29

    29

    4

    Disiplin

    3

    ,8, 18,

         

    3

    ,8,

     

    20,

    21,

    7

    • 21 18, 20,

    1

     

    6

    25, 30

    25, 30

    5

    Tanggung Jawab

    5

    ,10,

         

    5

    ,10,

     

    15,16,

    5

    • 10 15,16,

    1

     

    4

    24

    24

    Jumlah

    30

     

    4

     

    26

    • b. Hasil perhitungan reliabilitas instrumen

    Setelah pengujian validitas, selanjutnya adalah dilakukan pengujian

    reliabilitas, dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan formula

    Alpha dari Cronbach, dan kriteria koefisien Alpha minimal yang dapat

    50

    diterima telah ditetapkan sebesar 0,70. Hasil reliabilitas instrumen dapat

    dilihat pada tabel 3 dibawah ini :

    Tabel 5. Rangkuman Hasil Perhitungan Reliabilitas Instrumen

    No

    Variabel

    Koefisien Alpha

    1.

    Kemandirian Belajar

    0,913

    Berdasarkan hasil perhitungan pada tabel di atas, dapat diketahui

    bahwa variabel mempunyai koefisien Alpha diatas 0,70. hal ini

    membuktikan bahwa instrumen penelitian yang berupa angket dan tes

    yang digunakan dalam penelitian ini, reliabel.

    • J. Teknik Analisis Data

    Teknik analisi data adalah suatu cara yang digunakan untuk mengolah

    data agar dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang tepat. Penelitian ini

    menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif dengan model teknik analisis

    interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang terdiri dari tiga

    komponen kegiatan yang saling terkait satu sama lain yaitu reduksi data,

    beberan (display) data dan menarik kesimpulan (Sumarsi Madya, 2007:75)

    • a. Data hasil pelaksanaan pembelajaran

    Untuk mengetahui proses pembelajaran dengan metode discovery,

    digunakan data yang diperoleh dari lembar observasi, catatan lapangan,

    dan hasil tes wawancara yang dianalisis secara deskriptif.

    51

    • b. Data angket siswa

    Pedoman penskoran untuk angket dengan pernyatan positif maka

    diambil ketentuan bahwa jika jawabannya ”selalu” diberi skor 4, ”sering”

    diberi skor 3, ”kadang-kadang” diberi skor 2, dan jika ”tidak pernah”

    diberi skor 1. sedangkan pedoman penskoran untuk angket dengan

    pernyatan negatif diambil ketentuan bahwa jika jawabannya ”selalu”

    diberi skor 1, ”sering” diberi skor 2, ”kadang-kadang” diberi skor 3, dan

    jika ”tidak pernah” diberi skor 4.

    Kemudian hasil angket tersebut dilakukan analisa sebagai berikut :

    1) Masing-masing butir pernyataan dikelompokkan sesuai dengan

    aspek yang diamati

    2) Berdasarkan pedoman penskoran yang telah dibuat, kemudian

    dihitung jumlah skor tiap-tiap butir pernyataan sesuai dengan

    aspek-espek yang diamati. Perhitungan persentase yang digunakan

    adalah sebagai berikut :

    Jumlah skor tiap aspek

    Persentase =

    x 100 %

    Jumlah skor maksimal tiap aspek

    3) Jumlah hasil skor yang diperoleh pada setiap aspek selanjutnya

    dipresentase dan dikategorikan sesuai dengan kualifikasi hasil

    angket (Sutrisno Hadi,1999:216)

    52

    Tabel 6. Kualifikasi Hasil Persentase Skor Angket

    Persentase

    skor

    yang

    Kategori

    diperoleh

     

    85

    % - 100 %

    Sangat Baik

    70

    % - 84 %

    Baik

    55

    % - 69 %

    Cukup Baik

    40

    % - 54 %

    Kurang Baik

    0 % - 39 %

     

    Sangat Kurang

    X = persentase skor hasil angket

    • c. Data hasil tes siswa

    Pada tiap akhir siklus siswa diberikan tes. Rata-rata dihitung

    menggunakan rumus berikut (Sutrisno Hadi, 2004:13) :

    ΣX

     

    X =

     

    N

    Ket :

    X

    = Nilai rata-rata

    ΣX

    = Jumlah seluruh skor

    N

    = Banyak subjek

    • d. Penyajian Kesimpulan

    Langkah selanjutnya yaitu membandingkan data hasil angket,

    hasil observasi, dan hasil tes guna mengecek keabsahan data. Untuk

    memperkuat data, digunakan pula dokumen yang berupa foto-foto

    selama proses pembelajaran berlangsung. Data-data yang telah

    dianalisis kemudian digunakan untuk menarik kesimpulan.

    53

    K. Indikator Keberhasilan

    Komponen-komponen yang menjadi indikator perubahan tiap siklus dalam

    penelitian ini adalah:

    • 1. Motivasi Siswa diharapkan menunjukkan sikap responsif, senang, semangat yang tinggi, lebih serius dan tidak mudah frustasi dalam mengikuti pembelajaran menerapkan proses pengecilan ukuran.

    • 2. Inisiatif Siswa berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, dapat dilihat dari keaktifan siswa dalam bertanya, dan menjawab dengan memberikan argumentasi tanpa ditunjuk oleh guru. Frekuensi siswa yang aktif dalam menjawab atau maju ke depan dengan inisiatif sendiri bertambah.

    • 3. Percaya Diri Siswa tidak lagi merasa takut, ragu-ragu dan malu-malu dalam bertanya, menjawab pertanyaan maupun menanggapi pendapat guru atau siswa lain. Siswa yang cenderung diam dan takut salah dalam bertanya dan menjawab pertanyaan menjadi mulai lebih berani. Siswa mulai lebih berani tampil ke depan tanpa ditunjuk terlebih dahulu oleh guru.

    • 4. Disiplin Saat kegiatan pembelajaran siswa tidak berbuat gaduh, bergurau dengan temannya, tidak melamun, tidak menunda-nunda dalam mengerjakan tugas dan patuh terhadap aturan atau perintah guru.

    54

    • 5. Tanggung Jawab Siswa lebih bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mengerjakan tugas yang diberikan, berani berbuat menanggung resiko, bila diberi tugas akan selesai pada waktunya.

    55

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    • A. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian Tindakan Kelas Tindakan penelitian ini dilaksanakan dari tanggal 13 Januari sampai 24

    Februari 2011. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus. Masing-masing

    siklus dilaksanakan tiga kali pertemuan, yaitu satu kali untuk materi, satu kali

    untuk praktik dengan alokasi waktu untuk satu kali pertemuan selama 3 x 45

    menit dan satu kali untuk tes dengan alokasi waktu 45 menit.

    Berikut ini adalah tabel yang menunjukkan jadwal pelaksanaan pembelajaran

    menerapkan teknik konversi bahan dalam pengolahan selama kegiatan penelitian

    di kelas X TPHP 1.

    Tabel 7 . Jadwal Pelaksanaan Pembelajaran Menerapkan Proses Pengecilan

    Ukuran di Kelas X TPHP 1

     

    Pertemuan

         

    Siklus

    ke-

    Hari / Tanggal

    Waktu

    Materi

           

    Tahapan

    proses

    persiapan

    Kamis / 13 Januari

    07.15

    WIB s.d.

    pengolahan

    1

    2011

    09.30

    WIB

    sayuran,

    dan

     

    mengenal

    jenis-

    jenis

    potongan

    sayuran

         

    Praktik proses

    I

    persiapan

    pengolahan

    sayuran, dan

    Kamis / 20 Januari

    07.15

    WIB s.d.

    Membuat

    2

    2011

    09.30

    WIB

    potongan sayuran

     

    Jardiniere,

    Juliene, nSlice,

    Macedoine,

    Paysanne,

    56

           

    Chopped

    • 3 2011

    Kamis / 27 Januari

    07.

    15 WIB s.d.

    Tes Siklus I

    08.

    00 WIB

           

    Proses persiapan

    pengolahan pada

    ikan,

    dan

    • 1 2011

    Kamis / 10 Februari

    08.45

    11.15

    WIB s.d.

    WIB

    langkah-langkah

    Proses filleting

     

    dan skinning

    pada flat fish

         

    Praktik tahapan

    proses persiapan

    II

    pengolahan pada

    ikan, proses

    • 2 2011

    Kamis / 17 Februari

    07.

    15 WIB s.d.

    filleting

    dan

    08.

    00 WIB

    skinning flat fish,

         

    dan membuat

    potongan fillet,

    delice, paupiette,

    goujon.

    • 3 2011

    Kamis / 24 Februari

    07.

    15 WIB s.d.

    Tes Siklus II

    08.

    00 WIB

    Berikut ini adalah penjabaran kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan pada

    masing-masing siklus.

    • 1. Siklus I

    Pada siklus I, dilaksanakan pertemuan sebanyak 2 kali pertemuan,

    dengan alokasi waktu masing-masing 3 x 45 menit. Materi yang dipelajari

    siswa adalah tahapan proses persiapan pengolahan sayuran, mengenal jenis-

    jenis potongan sayuran, praktik proses persiapan pengolahan sayuran dan

    membuat potongan sayuran Jardiniere, Juliene, Slice, Macedoine, Paysanne,

    dan Chopped. LKS seperti terlampir pada Lampiran B. 1 dan B. 2.

    57

    Tahap-tahap pada siklus I meliputi:

    a. Tahap Perencanaan

    Pada tahap perencanaan, penentuan materi kelas X semester II yang

    akan dijadikan objek penelitian dibahas bersama guru mata pelajaran

    menerapkan proses pengecilan ukuran yang bersangkutan. Sesuai dengan

    judul penelitian maka materi yang akan disampaikan dipilih yang cocok

    dengan metode discovery. Berdasarkan pada rencana semula, kelas yang

    digunakan untuk penelitian adalah kelas X TPHP 1. Selanjutnya peneliti

    melakukan:

    1)

    Penyusunan Perangkat Pembelajaran

    • a) Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

    RPP disusun oleh peneliti sesuai dengan metode pembelajaran

    Discovery. Materi yang diajarkan pada pertemuan I adalah tentang

    tahapan proses persiapan pengolahan sayuran, mengenal jenis-jenis

    potongan sayuran. RPP pada pertemuan 1 terlampir pada lampiran

    A. 1. Selanjutnya materi yang dipelajari siswa pada pertemuan 2

    adalah praktik proses persiapan pengolahan sayuran dan membuat

    potongan sayuran Jardiniere, Juliene, Slice, Macedoine, Paysanne,

    dan Chopped . RPP pertemuan kedua terlampir pada lampiran A.2.

    • b) Lembar Kerja Siswa (LKS)

    Untuk siklus I, peneliti menyusun 2 LKS. LKS 1 berisi tahapan

    proses persiapan pengolahan sayuran dan mengenal serta

    mendefenisikan jenis-jenis potongan sayuran (Lampiran B.1)

    58

    bertujuan agar siswa dapat menemukan tahapan proses persiapan

    pengolahan sayuran, siswa dapat menemukan jenis-jenis potongan

    sayuran, dan siswa dapat menyelesaikan soal yang berkaitan

    dengan materi persiapan pengolahan sayuran dan jenis-jenis

    potongan sayuran. Sedangkan LKS 2 berisi langkah-langkah

    pembuatan jenis potongan sayuran Jardiniere, Juliene, Slice,

    Macedoine, Paysanne, dan Chopped (Lampiran B.2) bertujuan

    agar siswa dapat siswa dapat mempraktikkan tahapan proses

    persiapan pengolahan sayuran dan membuat potongan sayuran

    Jardiniere, Juliene, Slice, Macedoine, Paysanne, dan Chopped.

    2)

    Penyusunan instrumen penelitian

    Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar

    observasi kegiatan pembelajaran dengan metode Discovery (Lampiran

    D.2), lembar observasi aktivitas siswa (Lampiran D.4), angket

    kemandirian belajar siswa (Lampiran E.2), soal tes siklus I menganai

    menerapkan proses pengecilan ukuran dan bentuk produk/forming

    sayuran (Lampiran C.1). Lembar observasi digunakan saat

    pembelajaran berlangsung, Tes dilakukan pada akhir siklus 1,

    sedangkan angket kemandirian belajar siswa digunakan pada akhir

    pembelajaran siklus 1.