Anda di halaman 1dari 1

SINOPSIS LAMPAHAN KUMBAKARNA GUGUR

OLEH : GILANG TOMASKUMORO


Ksatria Panglebur Gangsa yang bernama Raden Kumbakarna sedang hanyut dalam suasana
duka setelah meninggalnya kedua putra tercintanya yang bernama Kumba Kumba dan Aswani
Kumba dalam peperangan. Di tengah kegalauannya, tiba tiba munculah sosok Prabu Dasamuka
dalam bayang bayang Sang Kumbakarna. Prabu Dasamuka menghina Raden Kumbakarna
karena dia tidak sudi menjadi senapati utusan Prabu Dasamuka untuk menghadapi prajurit kera
pimpinan Prabu Ramawijaya. Seolah terpukul oleh perkataan Prabu Dasamuka, Raden
Kumbakarna mengamuk dan bertekad untuk maju dalam peperangan seorang diri. Setelah
berpamitan dengan istri tercintanya yaitu Dewi Keswani, Raden Kumbakarna maju ke medan
pertempuran dengan mengenakan pakaian yang serba putih selaras dengan kesucian hatinya yang
bertekad untuk membela tanah air Ngalengkadiraja.
Pertempuran yang sengit antara bala tentara kera dan raksasa pun tak bisa dihindarkan.
Banyak korban yang berjatuhan di medan pertempuran. Raden Kumbakarna yang berwujud
raksasa sakti mandraguna mengamuk dalam peperangan dan tidak ada satupun prajurit kera yang
mampu menghentikannya. Raden Lesmana yang mengetahui peristiwa tersebut segera turun
tangan dengan pusaka panah sakti yang bernama Panca Wisaya. Setelah meredam kegundahan
hati Raden Wibisana adik Kumbakarna yang mengkhawatirkan keadaan kakaknya, Raden
Lesmana segera melepaskan lima buah anak panah kepada Raden Kumbakarna. Empat
diantaranya mengenai tangan dan kaki Raden Kumbakarna hingga terputus dari badan. Melihat
keadaan kakaknya yang sangat mengenaskan, Raden Wibisana segera memohon kepada Raden
Lesmana untuk menyempurnakan kematian kakaknya. Akhirnya dilepaskanlah panah yang
terakhir tepat pada jantung Sang Kumbakarna. Raden Kumbakarna gugur dalam peperangan
dengan kondisi mayat yang sudah tidak utuh. Dewi Keswani istri Kumbakarna yang mengetahui
keadaan tersebut segera menghampiri mayat Kumbakarna sembari menangisi keadaan suaminya.
Tak kuat menahan penderitaannya, Dewi Keswani nekat melakukan bela pati dengan menusuk
dadanya sendiri menggunakan keris. Kiswani mati dalam keadaan bersimpuh di atas mayat
Kumbakarna. Wibisana yang mengetahui keadaan tersebut tak kuasa menahan rasa sedihnya
sembari menghampiri mayat kedua kakaknya.