Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat
mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama.
Wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami mua, muntah, nafsu makan
berkurang dan kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi
klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS.
Sejak ditemukannya infeksi human immunodeficiency virus (HIV) pada tahun 1982,
penelitian semakin banyak dilakukan dan ternyata hasilnya sangat mengejutkan dunia. Terdapat
sekitar lima jenis HIV dengan bentuk infeksi terakhir disebut AIDS (acquired immunodeficiency
syndrome), yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh sehingga member kesempatan
berkembangnya berbegai bentuk infeksi dan keganasan, kemunduran kemampuan intelektual,
dan penyakit lainnya. Dengan hilangnya semua kekebalan tubuh manusia pada AIDS, tubuh
seolah-olah menjadi tempat pembenihan bakteri, protozoa, jamur serta terjadi degenerasi ganas.
Penelitian telah dilakukan sejak HIV pertama kali ditemukan, tetapi sampai saat ini
obatnya belum ditemukan sehingga bila terinfeksi virus HIV berarti sudah menuju kematian.
Obat yang tersedia sekedar untuk mempertahankan atau memperpanjang usia, bukan untuk
membunuh virus HIV.
Orang-orang yang terinfeksi positif HIV yang mengetahui status mereka mungkin dapat
memberikan manfaat. Namun, seks tanpa perlindungan antara orang yang yang berisiko
membawa HIV sero-positif sebagai super infeksi, penularan infeksi seksual, dan kehamilan yang
tidak direncanakan dapat membuat penurunan kesehatan seksual dan reproduksi. Hal ini jelas
bahwa banyak pasangan yang harus didorong untuk melakukan tes HIV untuk memastikan status
mereka dengan asumsi bahwa mereka mungkin terinfeksi karena pernah memiliki hubungan
seksual denga seseorang yang telah diuji dan ditemukan sero-positif HIV.
Komunikasi seksualitas antara orangtua dan anak telah diidentifikasi sebagai factor
pelindung untuk seksual emaja dan kesehatan reproduksi, termasuk infeksi HIV. Meningkatkan
kesehatan seksual dan reproduksi remaja merupakan prioritas dunia. Intervensi yang bertujuan
untuk menunda perilaku seksual, mengurangi jumlah pasangan seksual dan meningkatkan
penggunaan kondom. Dari penelitian yang dilakukan di negara berkembang

menunjukkan

bahwa pendidikan seksualitas memiliki potensi untuk memberikan dampak positif pada
pengetahuan, sikap, norma dan niat, meskipun mengubah perilaku seksual sangat terbatas.
Evolusi infeksi HIV menjadi penyakit kronis memiliki implikasi di semua pengaturan
perawat klinis. Setiap perawat harus memiliki perawatan klinis. Setiap perawat harus memiliki
pengetahuan tantang pencegahan, pemeriksaan, pengobatan, dan kronisitas dari penyakit dalam
rangka untuk memberikan perawatan yang berkualitas tinggi kepada orang-orang dengan atau
berisiko untuk HIV.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Konsep HIV/IADS pada ibu hamil/perempuan
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Apa yang dimaksud HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?


Apa penyebab HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?
Sebutkan menifestasi klinis HIV/AID pada perempuan/ibu hamil?
Bagaimana patofisiologi HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?
Bagaimana cara penularan HIV/AIDS?
Apa faktor risiko HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?
Sebutkan pemeriksaan penunjang HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?
Sebutkan penatalaksanaan HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?
Bagaimana pencegahan HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?
Bagaimana sikap dan pertolongan persalinan pada perempuan/ibu hamil?

2. Konsep asuhan keperawatan pada klien HIV/AIDS pada ibu hamil/perempuan


a.

Bagaimana asuhan keperawatan HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil?

k. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan umum
Untuk mengetahui penyakit HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil dan untuk mengetahui
Asuhan Keperawatan HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil.
2. Tujuan khusus
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.

Untuk mengetahui pengertian HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil


Untuk mengetahui penyebab/etiologi HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil
Untuk mengetahui menifestasi klinis HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil
Untuk mengetahui patofisiologi HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil
Untuk mengetahui cara penularan HIV/AIDS
Untuk mengetahui factor risiko HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil
Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil
Untuk mengetahui penatalaksaan HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil
Untuk mengetahui pencegahan HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil
Untuk mengetahui sikap dan pertolongan persalinan

k. Untuk mengetahui Asuhan keperawatan HIV/AIDS pada perempuan/ibu hamil

BAB II
PEMBAHASAN
I. KONSEP HIV AIDS PADA IBU HAMIL/PEREMPUAN
A. Pengertian
Human immunodeficiency virus (HIV) adalah retrovirus yang menginfeksi sel-sel sistem
kekebalan tubuh, menghancurkan atau merusak fungsinya. Selama infeksi berlangsung, sistem
kekebalan tubuh menjadi lemah, dan orang menjadi lebih rentan terhadap infeksi. Tahap yang
lebih lanjut dari infeksi HIV adalah acquired immunodeficiency syndrome (AIDS). Hal ini dapat
memakan waktu 10-15tahun untuk orang yang terinfeksi HIV hingga berkembang menjadi
AIDS, obat antiretroviral dapat memperlambat proses lebih jauh. HIV ditularkan melalui
hubungan seksual (anal atau vaginal), transfusi darah yang terkontaminasi, berbagi jarum yang
terkontaminasi, dan antara ibu dan bayinya selama kehamilan, melahirkan dan menyusui.
AIDS diartikan sebagai bentuk paling erat dari keadaan sakit terus menerus yang
berkaitan dengan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). (Suzane C. Smetzler dan
Brenda G.Bare).
AIDS (acquired immunodeficiency syndrome) adalah suatu penyakit retrovirus epidemik
menular, yang disebabkan oleh infeksi HIV, yang pada kasus berat bermanifestasi sebagai
depresi berat imunitas seluler, dan mengenai kelompok risiko tertentu, termasuk pria
homoseksual atau biseksual, penyalahgunaan obat intravena, penderita hemofilia, dan penerima

transfusi darah lainnya, hubungan seksual dari individu yang terinfeksi virus tersebut. (Kamus
kedokteran Dorlan, 2002).
AIDS merupakan bentuk paling hebat dari infeksi HIV, mulai dari kelainan ringan dalam
respon imun tanpa tanda dan gejala yang nyata hingga keadaan imunosupresi dan berkaitan
dengan berbagai infeksi yang dapat membawa kematian dan dengan kelainan malignitas yang
jarang terjadi. (Menurut Center for Disease Control and Prevention).
Wanita hamil lebih berisiko tertular Human Immunodeficien Virus (HIV) dibandingkan
dengan wanita yang tidak hamil. Jika HIV positif, wanita hamil lebih sering dapat menularkan
HIV kepada mereka yang tidak terinfeksi daripada wanita yang tidak hamil.
Menurut laporan CDR (Center for Disease Control) Amerika mengemukakan bahwa
jumlah wanita penderita AIDS di dunia terus bertambah, khususnya pada usia reproduksi. Sekitar
80% penderita AIDS anak-anak mengalami infeksi prenatal dari ibunya. Seroprevalensi HIV
pada ibu prenatal adalah 0,0-1,7%, saat persalinan 0,4-0,3% dan 9,4-29,6% pada ibu hamil yang
biasa menggunakan narkotika intravena.
Wanita usia produktif merupakan usia yang berisiko tertular infeksi HIV. Dilihat dari
profil umur, ada kecendrungan bahwa infeksi HIV pada wanita mengarah ke umur yang lebih
muda, dalam arti bahwa usia muda lebih banyak terdapat wanita yang terinfeksi, sedangkan pada
usia di atas 45 tahun infeksi pada wanita lebih sedikit. Dilain pihak menurut para ahli kebidanan
bahwa usia reproduktif merupakan usia wanita yang lebih tepat untuk hamil dan melahirkan.
Hasil survey di Uganda pada tahun 2003 mengemukakan bahwa prevalensi HIV di klinik
bersalin adalah 6,2%, dan satu dari sepuluh orang Uganda usia antara 30-39 tahun positif HIVAIDS perlu diwaspadai karena cenderung terjadi pada usia reproduksi.
B. Etiologi
Penyebab AIDS adalah sejenis virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human
Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan kawankawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy Associated Virus (LAV),
sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984 mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas
kesepakatan internasional pada tahun 1986 nama firus dirubah menjadi HIV.
Muman Immunodeficiency Virus adalah sejenis Retrovirus RNA. Dalam bentuknya yang
asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai sampai ia masuk ke sel
target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia mempunyai reseptor untuk virus

HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T, virus dapat berkembang dan seperti retrovirus
yang lain, dapat tetap hidup lama dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus
dalam tubuh pengidap HIV selalu dianggap infeksius yang setiap saat dapat aktif dan dapat
ditularkan selama hidup penderita tersebut..
Secara mortologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan bagian
selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian RNA (Ribonucleic
Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis prosein. Bagian selubung terdiri atas lipid
dan glikoprotein. Karena bagian luar virus (lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV
termasuk virus sensitif terhadap pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan
mudah dimatikan dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan
sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet.
Virus HIV hidup dalam darah, saliva, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV
dapat juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak.
1.
2.
3.
4.

Penularan virus HIV/AIDS terjadi karena beberapa hal, di antaranya ;


Penularan melalui darah, penularan melalui hubungan seks (pelecehan seksual).
Hubungan seksual yang berganti-ganti pasangan.
Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
Individu yang terpajan ke semen atau cairan vagina sewaktu berhubungan kelamin dengan orang

yang terinfeksi HIV.


5. Orang yang melakukuan transfusi darah dengan orang yang terinfeksi HIV, berarti setiap orang
yang terpajan darah yang tercemar melalui transfusi atau jarum suntik yang terkontaminasi.
C. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis yang tampak dibagi menjadi 2, yaitu:
1. Manifestasi Klinis Mayor
a. Demam berkepanjangan lebih dari 3 bulan.
b. Diare kronis lebih dari satu bulan berulang maupun terus-menerus.
c. Kehilangan napsu makan.
d. Penurunan berat badan lebih dari 10% dalam 3 tiga bulan.
e. Berkeringat.
2. Manifestasi Klinis Minor
a. Batuk kronis
b. Infeksi pada mulut dan jamur disebabkan karena jamur Candida Albicans
c. Pembengkakan kelenjar getah bening yang menetap di seluruh tubuh
d. Munculnya Herpes zoster berulang dan bercak-bercak gatal di seluruh tubuh

D. Patofisiologi

Kehamilan merupakan usia yang rawan tertular HIV-AIDS. Penularan HIV-AIDS pada
wanita hamil terjadi melalui hubungan seksual dengan suaminya yang sudah terinfeksi HIV. Pada
negara berkembang istri tidak berani mengatur kehidupan seksual suaminya di luar rumah.
Kondisi ini dipengaruhi oleh sosial dan ekonomi wanita yang masih rendah, dan isteri sangat
percaya bahwa suaminya setia, dan lagi pula masalah seksual masih dianggap tabu untuk
dibicarakan.
Virus HIV tergolong retrovirus, yang merupakan standar RNA, tunggal terbungkus. Bila
memasuki tubuh, virus akan melekat pada reseptor CD4 sel terinfeksi. Kemudian virus
mempergunakan enzim reverse transcriptase, yang mampu membentuk DNA ganda. Standar
DNA ganda ini mampu masuk sirkulasi sel menuju intinya dan bersatu dengan DNA inti sel yang
asli. DNA virus dapat membentuk RNA yang terinfeksi dan RNA yang akan membawa tanda
(berita) sehingga dapat membentuk protein.
Pertumbuhan virus HIV terbatas pada limfosit, monosit, makrofag, dan sumber
pembentuk sum-sum tulang tertentu. Secara intraseluler, virus dapat memecah diri sehingga
setelah selnya hancur dapat dikeluarkan virus HIV baru yang akan menyerang sel lainnya.
Bentuk virus HIV selalu berubah-ubah, sesuai dengan sel yang diserangnya sehingga sulit untuk
membuat antibody atau antigen agar mampu membuat vaksinnya. Oleh karena itu, obatnya
masih sulit untuk dibuat sampai saat ini.
E. Penularan HIV dari Ibu kepada Bayinya
Cara penularan virus HIV-AIDS pada wanita hamil dapat melalui hubungan seksual.
Salah seorang peneliti mengemukakan bahwa penularan dari suami yang terinfeksi HIV ke
isterinya sejumlah 22% dan istri yang terinfeksi HIV ke suaminya sejumlah 8%. Namun
penelitian lain mendapatkan serokonversi (dari pemeriksaan laboratorium negatif menjadi
positif) dalam 1-3 tahun dimana didapatkan 42% dari suami dan 38% dari isteri ke suami
dianggap sama.
Penularan HIV dari ibu ke anak terjadi karena wanita yang menderita HIV/AIDS
sebagian besar masih berusia subur, sehingga terdapat resiko penularan infeksi yang terjadi pada
saat kehamilan (Richard, et al., 1997). Selain itu juga karena terinfeksi dari suami atau pasangan
yang sudah terinfeksi HIV/AIDS karena sering berganti-ganti pasangan dan gaya hidup.
Penularan ini dapat terjadi dalam 3 periode :
1. Periode kehamilan
Selama kehamilan, kemungkinan bayi tertular HIV sangat kecil. Hal ini disebabkan karena
terdapatnya plasenta yang tidak dapat ditembus oleh virus itu sendiri. Oksigen, makanan,

antibodi dan obat-obatan memang dapat menembus plasenta, tetapi tidak oleh HIV. Plasenta
justru melindungi janin dari infeksi HIV. Perlindungan menjadi tidak efektif apabila ibu:
a. Mengalami infeksi viral, bakterial, dan parasit (terutama malaria) pada plasenta selama
kehamilan.
b. Terinfeksi HIV selama kehamilan, membuat meningkatnya muatan virus pada saat itu.
c. Mempunyai daya tahan tubuh yang menurun.
d. Mengalami malnutrisi selama kehamilan yang secara tidak langsung berkontribusi untuk
terjadinya penularan dari ibu ke anak.
2. Periode persalinan
Pada periode ini, resiko terjadinya penularan HIV lebih besar jika dibandingkan periode
kehamilan. Penularan terjadi melalui transfusi fetomaternal atau kontak antara kulit atau
membrane mukosa bayi dengan darah atau sekresi maternal saat melahirkan. Semakin lama
proses persalinan, maka semakin besar pula resiko penularan terjadi. Oleh karena itu, lamanya
persalinan dapat dipersingkat dengan section caesaria. Faktor yang mempengaruhi tingginya
risiko penularan dari ibu ke anak selama proses persalinan adalah:Lama robeknya membran.
a. Chorioamnionitis akut (disebabkan tidak diterapinya IMS atau infeksi lainnya).
b. Teknik invasif saat melahirkan yang meningkatkan kontak bayi dengan darah ibu misalnya,
episiotomi.
c. Anak pertama dalam kelahiran kembar
3. Periode Post Partum
Cara penularan yang dimaksud disini yaitu penularan melalui ASI. Berdasarkan data
penelitian De Cock, dkk (2000), diketahui bahwa ibu yang menyusui bayinya mempunyai resiko
menularkan HIV sebesar 10- 15% dibandingkan ibu yang tidak menyusui bayinya. Risiko
penularan melalui ASI tergantung dari:
a. Pola pemberian ASI, bayi yang mendapatkan ASI secara eksklusif akan kurang berisiko
dibanding dengan pemberian campuran.
b. Patologi payudara: mastitis, robekan puting susu, perdarahan putting susu dan infeksi payudara
lainnya.
c. Lamanya pemberian ASI, makin lama makin besar kemungkinan infeksi.
d. Status gizi ibu yang buruk.
Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun hingga kini cara
penularan HIV yang diketahui adalah melalui:
1. Transmisi Seksual
Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual merupakan
penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi. Penularan ini berhubungan dengan semen dan
cairan vagina atau serik. Infeksi dapat ditularkan dari setiap pengidap infeksi HIV kepada
pasangan seksnya. Resiko penularan HIV tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah

pasangan seks dan jenis hubungan seks. Pada penelitian Darrow (1985) ditemukan resiko
seropositive untuk zat anti terhadap HIV cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan
pada pasangan tidak tetap. Orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti pasangan
merupakan kelompok manusia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.
a.

Homoseksual
Didunia barat, Amerika Serikat dan Eropa tingkat promiskuitas homoseksual menderita AIDS,
berumur antara 20-40 tahun dari semua golongan rusial. Cara hubungan seksual anogenetal
merupakan perilaku seksual dengan resiko tinggi bagi penularan HIV, khususnya bagi mitra
seksual yang pasif menerima ejakulasi semen dari seseorang pengidap HIV. Hal ini sehubungan
dengan mukosa rektum yang sangat tipis dan mudah sekali mengalami pertukaran pada saat
berhubungan secara anogenital.

b. Heteroseksual
Di Afrika dan Asia Tenggara cara penularan utama melalui hubungan heteroseksual pada
promiskuitas dan penderita terbanyak adalah kelompok umur seksual aktif baik pria maupun
wanita yang mempunyai banyak pasangan dan berganti-ganti.

2. Transmisi Non Seksual


a.

Transmisi Parenral
Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang telah
terkontaminasi, misalnya pada penyalah gunaan narkotik suntik yang menggunakan jarum suntik
yang tercemar secara bersama-sama. Disamping dapat juga terjadi melaui jarum suntik yang
dipakai oleh petugas kesehatan tanpa disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi
parental ini kurang dari 1%.

1) Darah/Produk Darah
Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara-negara barat sebelum tahun 1985.
Sesudah tahun 1985 transmisi melalui jalur ini di negara barat sangat jarang, karena darah donor
telah diperiksa sebelum ditransfusikan. Resiko tertular infeksi/HIV lewat trasfusi darah adalah
lebih dari 90%.
b. Transmisi Transplasental

Penularan dari ibu yang mengandung HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%.
Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan sewaktu menyusui. Penularan melalui air
susu ibu termasuk penularan dengan resiko rendah.
F. Faktor Resiko
Semula diperkirakan factor risiko infeksi HIV hanya homoseksual, dan pengguna
narkoba yang menggunakan suntikan terinfeksi, tetapi jumlahnya semakin besar. Infeksi HIV
terutama menyerang sel T limfosit dan system saraf pusat. Cara masuknya ke dalam sel mulai
dengan ikatan reseptornya pada sel lomfosit dan diikuti rusaknya inti kemudian memecahkan
dirinya menjadi beberapa virus HIV. Secara berabtai, virus HIV kembali akan menyerang sel
lomfosit CD4 sehingga akhirnya terjadi penurunan daya tahan tubuh secara menyeluruh dan

1.
2.
3.
4.

disebut acquired immunodefeciency syndrome (AIDS).


Kelompok orang yang berisiko tinggi terinfeksi Virus HIV sebagai berikut :
Janin dengan ibu yang terjangkit HIV
Perempuan yang menggunakan obat bius injeksi dan bergantian memakai alat suntik.
Pekerja seks komersial
Pasangan yang heteroseks dengan adanya penyakit kelamin

G. Pemeriksaan Penunjang
Tes-tes saat ini tidak membedakan antara antibody ibu/bayi, dan bayi dapat menunjukkan
tes negatif pada usia 9 sampai 15 bulan. Penelitian mencoba mengembangkan prosedur siap
pakai yang tidak mahal untuk membedakan respons antibody bayi dan ibu.
1. Pemeriksaan histologis, sitologis urin , hitung darah lengkap, feces, cairan spina, luka, sputum,
dan sekresi.
2. Tes neurologis: EEG, MRI, CT Scan otak, EMG.
3. Tes lainnya: sinar X dada menyatakan perkembangan filtrasi interstisial dari PCV tahap lanjut
atau adanya komplikasi lain; tes fungsi pulmonal untuk deteksi awal pneumonia interstisial; Scan
gallium; biopsy; branskokopi.
4. Tes Antibodi
a.

Tes ELISA (enzyme-linked immunosorbent assay), untuk menunjukkan bahwa seseorang


terinfeksi atau pernah terinfeksi HIV.

b.

Western blot asay/ Indirect Fluorescent Antibody (IFA), untuk mengenali antibodi HIV dan
memastikan seropositifitas HIV.

c.

Indirect immunoflouresence, sebagai pengganti pemerikasaan western blot untuk memastikan


seropositifitas.

d. Radio immuno precipitation assay, mendeteksi protein pada antibodi.


e.

Pendeteksian HIV.
Dilakukan dengan pemeriksaan P24 antigen capture assay dengan kadar yang sangat
rendah. Bisa juga dengan pemerikasaan kultur HIV atau kultur plasma kuantitatif untuk
mengevaluasi efek anti virus, dan pemeriksaan viremia plasma untuk mengukur beban virus
(viral burden).
Antibody yang ditimbulkan oleh infeksi HIV terjadi sejak infeksi berusia 2-3 bulan.
Antibody ini akan masuk melalui plasenta menuju janin.Infeksi langsung pada janin mulai sejak
usia 13 minggu dengan mekanisme yang tidak diketahui. Infeksi ini disebut sebagai infeksi
vertical karena berlangsung semasih intrauterin. Cara infeksi lainnya pada bayi adalah saat
pertolongan persalinan karena melalui jalan lahir dengan cairannya yang penuh dengan virus
HIV.

H. Penatalaksanaan
Pengalaman program yang signifikan dan bukti riset tentang HIV dan pemberian
makanan untuk bayi telah dikumpulkan sejak rekomendasi WHO untuk pemberian makanan
bayi dalam konteks HIV terakhir kali direvisi pada tahun 2006. Secara khusus, telah dilaporkan
bahwa antiretroviral (ARV) intervensi baik ibu yang terinfeksi HIV atau janin yang terpapar
HIVsecara signifikan dapat

mengurangi risiko penularan HIV pasca kelahiran melalui

menyusui. Bukti ini memiliki implikasi besar untuk bagaimana perempuan yang hidup dengan
HIV mungkin dapat memberi makan bayi mereka, dan bagaimana para pekerja kesehatan harus
nasihati ibu-ibu ini. Bersama-sama, intervensi ASI dan ARV memiliki potensi secara signifikan
untuk meningkatkan peluang bayi bertahan hidup sambil tetap tidak terinfeksi HIV.
Dimana otoritas nasional mempromosikan pemberian ASI dan ARV, ibu yang diketahui
terinfeksi HIV sekarang direkomendasikan untuk menyusui bayi mereka setidaknya sampai usia
12 bulan. Rekomendasi bahwa makanan pengganti tidak boleh digunakan kecuali jika dapat
diterima, layak, terjangkau, berkelanjutan dan aman (AFASS).
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load rendah sehingga jumlah virus yang ada
dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Obat yang bisa dipilih untuk
negara berkembang adalah Nevirapine, pada saat ibu saat persalinan diberikan 200mg dosis
tunggal, sedangka bayi bisa diberikan 2mg/kgBB/72 jam pertama setelah lahir dosis tunggal.

Obat lain yang bisa dipilih adalah AZT yang diberikan mulai kehamilan 36 minggu
2x300mg/hari dan 300mg setiap jam selama persalinan berlangsung.
Belum ada penyembuhan untuk AIDS jadi yang dilakukan adalah pencegahan seperti
yang telah dijelaskan sebelumnya. Tapi, apabila terinfeksi Human Immunodeficiency Virus
1.

(HIV) maka terapinya yaitu :


Pengendalian infeksi oportunistik. Bertujuan menghilangkan, mengendalikan dan pemulihan
infeksi opurtuniti, nosokomial atau sepsis, tindakan ini harus di pertahankan bagi pasien di

lingkungan perawatan yang kritis.


2. Terapi AZT (Azidotimidin). Obat ini menghambat replikasi antiviral HIV dengan menghambat
enzim pembalik transcriptase.
3. Terapi antiviral baru. Untuk meningkatkan aktivitas system imun dengan menghambat replikasi
virus atau memutuskan rantai reproduksi virus pada proses nya. Obat- obat ini adalah :
didanosina, ribavirin, diedoxycytidine, recombinant CD4 dapat larut.
4. Vaksin dan rekonstruksi virus, vaksin yang digunakan adalah interveron.
5. Menghindari infeksi lain, karena infeksi dapat mengaktifkan sel T dan mempercepat replikasi
HIV.
6. Rehabilitas. Bertujuan untuk memberi dukungan mental-psikologis, membantu mengubah
perilaku risiko tinggi menjadi perilaku kurang berisiko atau tidak berisiko, mengingatkan cara
hidup sehat dan mempertahankan kondisi tubuh sehat.
7. Pendidikan. Untuk menghindari alkohol dan obat terlarang, makan makanan yang sehat, hindari
stres, gizi yang kurang, obat-obatan yang mengganggu fungsi imun. Edukasi ini juga bertujuan
untuk mendidik keluarga pasien bagaimana menghadapi kenyataan ketika anak mengidap AIDS
dan kemungkinan isolasi dari masyarakat.
I.

Pencegahan
Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi dapat dicegah melalui tiga cara, dan bisa
dilakukan mulai saat masa kehamilan, saat persalinan, dan setelah persalinan. Cara tersebut
yaitu:

1.

Penggunaan obat Antiretroviral selama kehamilan, saat persalinan dan untuk bayi yang baru
dilahirkan.
Pemberian antiretroviral bertujuan agar viral load menjadi lebih rendah sehingga jumlah virus
yang ada dalam darah dan cairan tubuh kurang efektif untuk menularkan HIV. Satu tablet
nevirapine pada waktu mulai sakit melahirkan, kemudian satu tablet lagi diberi pada bayi 23

hari setelah lahir. Menggabungkan nevirapine dan AZT selama persalinan mengurangi penularan
menjadi hanya 2 persen.
2. Penanganan obstetrik selama persalinan
Persalinan sebaiknya dipilih dengan menggunakan metode Sectio caesaria karena metode ini
terbukti mengurangi resiko penularan HIV dari ibu ke bayi sampai 80%. Apabila pembedahan ini
disertai dengan penggunaan terapi antiretroviral, maka resiko dapat diturunkan sampai 87%.
Walaupun demikian, pembedahan ini juga mempunyai resiko karena kondisi imunitas ibu yang
rendah yang bisa memperlambat penyembuhan luka. Oleh karena itu, persalinan per vagina atau
sectio caesaria harus dipertimbangkan sesuai kondisi gizi, keuangan, dan faktor lain.
3. Penatalaksanaan selama menyusui
Pemberian susu formula sebagai pengganti ASI sangat dianjurkan untuk bayi dengan ibu yang
positif HIV. Karena sesuai dengan hasil penelitian, didapatkan bahwa 14 % bayi terinfeksi HIV
melalui ASI yang terinfeksi.

II.
A.
1.
a.
b.
1)
2)
c.
d.
e.
f.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN HIV/AIDS PADA IBU HAMIL


Pengkajian
Data yang dapat dikumpulkan pada klien yaitu data sebelum dan selama kehamilan
Identitas pasien
Riwayat Kesehatan
Masa lalu
Sekarang
Menstruasi
Reproduksi
Keluhan Utama
Data Psikologi
Kondisi ibu hamil dengan HIV / AIDS takut akan penularan pada bayi yang dikandungnya. Bagi

keluarga pasien cenderung untuk menjauh sehingga akan menambah tekanan psikologis pasien.
2. Pemeriksaan fisik
a.
Breating
Kaji pernafasan ibu hamil, apabila ibu telah terinfeksi sistem pernafasan maka sepanjang jalr
pernafasan akan mengalami gangguan. Misal RR meningkat, kebersihan jalan nafas.
b.

Blood
Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan virus HIV/AIDS. Penurunan sel T limfosit; jumlah sel
T4 helper; jumlah sel T8 dengan perbandingan 2:1 dengan sel T4; peningkatan nilai kuantitatif
P24 (protein pembungkus HIV); peningkatan kadar IgG, Ig M dan Ig A; reaksi rantai polymerase
untuk mendeteksi DNA virus dalam jumlah sedikit pada infeksi sel perifer monoseluler; serta tes
PHS (pembungkus hepatitis B dan antibodi,sifilis, CMV mungkin positif).

c.

Brain
Tingkat kesadaran ibu hamil dengan HIV/AIDS terkadang mengalami penurunan karena proses
penyakit. Hal itu dapat disebabkan oleh gangguan imunitas pada ibu hamil.

d.

Bowel
Keadaan sisitem pencernaan pada ibu hamil akan mengalami gangguan. Kebanyakan gangguan
tersebut adalah diare yang lama. Hal itu disebabkan oleh penurunan sistem imun yang berada di

tubuh sehingga bakteri yang ada di saluran pencernaan akan mengalami gangguan. Hal itu dapat
menyebabkan infeksi saluran pencernaan.
e.

Bladder
Kaji tingkat urin klien apakah ada kondisi patologis seperti perubahan warna urin, jumlah dan
bau. Hal itu dapan mengidentifikasikan bahwa ada gangguan pada sistem perkemihan. Biasanya
saat imunitas menurun resiko infeksi pada uretra klien.

f.

Bone
Kaji respon klien, apakah mengalami kesulitan bergerak,reflek pergerakan. pada ibu hamil
kebutuhan akan kalsium meningkat,periksa apabila ada resiko osteoporosis. Hal itu dapat
memburuk dengan bumil HIV/AIDS.

B. Dignosa Keperawatan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan

imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang

beresiko.
2. Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pengeluaran yang
berlebihan ( muntah dan diare berat ).
3. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan inflamasi, kejang abdomen dan infeksi.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan HIV dan AIDS (perjalanan, penyebaran penyakit,
efek jangka panjang pada wanita dan janin.
C. Perencanaan
1. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan imunosupresi, malnutrisi dan pola hidup yang

beresiko.
Tujuan : Infeksi tidak terjadi
iteria hasil : Mengidentifikasi/ikut serta dalam perilaku yang mengurangi resiko infeksi, tidak demam dan bebas
dari pengeluaran/sekresi purulen dan tanda-tanda lain dari kondisi infeksi.
INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri
1.

pasien dan orang terdekat sebelum dan


sesudah

2.

dilakukan.
Berikan

seluruh

kontak

lingkungan

berventilasi.
3. Pantau TTV, terutama suhu.

Mengurangi resiko kontaminasi silang.

perawatan
bersih

dan Mengurangi patogen pada system imun.


Peningkatan suhu secara berulang-ulang
dari

demam

yang

terjadi

untuk

menunjukkan bahwa tubuh bereaksi pada


proses infeksi.
4. Selidiki keluhan sakit kepala, kaku leher, Ketidak normalan neurologis umum dan
perubahan penglihatan.

mungkin

di

hubungkan

dengan

ataupun infeksi sekunder.


5. Bersihkan kuku setiap hari. Dikikir lebih Mengurangi resiko tranmisi
baik daripada dipotong

HIV
bakteri

dan hindari pathogen melalui kulit.

memotong kutikula.
6. Periksa adanya luka/lokasi alat invasif, Identifikasi/perawatan awal dari infeksi
perhatikan tanda-tanda inflamasi/infeksi sekunder dapat mencegah terjadinya sepsis.
local.
7.

Bersihkan percikan cairan tubuh/darah Mengontrol


dengan larutan pemutih.
Kolaborasi

8.
9.

mikroorganisme

pada

permukaan kertas.

Patau studi laboratorium. Mis. Periksa

Dilakukan untuk mengidentifikasi demam.

darah, urin, sputum dan lain-lain.


Berikan antibiotik, antijamur dan anti Mengahambat proses infeksi.
mikroba.

Seperti

pentamidin

atau

AZT/retrovir.
2.

Perubahan nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan pengeluaran yang

berlebihan ( muntah dan diare berat ).


Tujuan : Mempertahankan massa otot yang adekuat dan mempertahankan berat antara 0,9-1,35 kg dari
berat sebelum sakit.

riteria hasil : Mempertahankan berat badan atau memperlihatkan peningkatan berat badan dan
mendemonstrasikan keseimbangan nitrogen positif, bebas dari malnutrisi dan menunjukkan
perbaikan tingkat energy.
INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri
1.

Kaji

kemampuan

mengunyah, lesi mulut, tenggorokan, dan esophagus

merasakan, dan menelan.

dapat menyebabkan disfagia (penurunan


kemampuan

mengolah

makanan

mengurangi keinginan untuk makan).

dan

2. Aukultasi bising usus.

Hipermotilitas

saluran

intestinal

umum

terjadi dan di hubungkan dengan muntah dan


3. Timbanng berat badan sesuai kebutuhan.
4.

diare, yang mempengaruhi pilihan diet.


Indicator kebutuhan nutrisi/pemasukan yang

adekuat.
Berikan perawatan mulut yang terus Mengurangi

ketidaknyamanan

yang

menerus, awasi tindakan pencegahan berhubungan dengan mual/mual, lesi oral,


sekresi.

Hindari

obat

kumur

yang penegeringan mukosa, dan halitosis. Mulut

mengandung alcohol.
5.

yang bersih akan meningkatkan napsu

makan.
Kaji obat-obatan tehadap efek samping profilaktik
nutrisi.

6.

Dorong

dan

obat-obatan

terapeutik

mungkin memiliki efeksamping, misalnya


aktivitas

fisik

AZT (pengubah rasa, mual/muntah).


sebanyak Dapat meningkatkan napsu makan dan rasa

mungkin.
7. Dorong pasien duduk pada saat makan.

sehat.
Mempermudah

proses

menelan

dan

mengurangi resiko aspirasi.


Kolaborasi
8.

Tinjau ulang pemeriksaan laboratorium. Mengindikasikan status nutrisi dan fungsi


Misalnya glukosa, protein dan albumin.

9.

organ,

dan

mengidentifikasi

kebutuhan

pengganti.
Pasang/pertahankan selang NGT sesuai Mungkin diperlukan unntuk mengurangi
petunjuk.

mual/muntah atau untuk pemberian makan

per selang.
10. Konsultasikan dengan tim pendukung Menyediakan diet berdasarkan kebutuhan
ahli diet/gizi.
individu dengan rute yang tepat.
11. Berikan obat-obatan sesuai petujuk,
misal:
Suplemen makanan.
Antiemetik (metoklopramid)

Kekurangan

vitamin

terjadi

akibat

penurunan pemasukan makanan.


Menguraningi

insiden

meningkatkan fungi gaster.


3. Nyeri akut/kronis berhubungan dengan inflamasi, kejang abdomen dan infeksi.
Tujuan : Nyeri dapat diatasi dan hilang.

muntah,

Kriteria hasil : Hilangnya/terkontrolnya rasa sakit, menunjukkan posisi/ekspresi wajah rileks.


INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri
1.

Kaji keluhan nyeri, perhatikan lokasi,


intensitas nyeri (skala 0-10), frekuensi dan

Mengindikasikan

kebutuhan

intervensi

juga

dan

untuk

tanda-tanda

perkembangan komplikasi.
waktu.
2.
Berikan aktivitas hiburan, misalnya Memfokuskan kembali perhatian, mungkin
membaca, menonton TV dan berkunjung.
3.

dapat

meingkatkan

mennanggulangi.
Lakukan tindakan paliatif, misalnya Meningkatkan

kemampuan

untuk

relaksasi/menurunkan

pengubahan posisi, masase, rentang gerak tegangan otot.


pada sendi yang sakit.
4. Berikan kompres hangat/lembab pada sisi injeksi ini diketahui sebagai penyebab rasa
injeksi pentamidin IV selama 20 menit sakit dan abses steril.
setelah pemberian.
5.
Instruksikan melakukan

relaksasi Meningkatkan relaksasi dan perasaan sehat.

progresif dan teknik napas dalam.

Dapat menurunkan kebutuhan narkotik


analgesic.
Ulserasi/lesi

6. Berikan perawatan oral.

mungkin

menyebabkan

ketidaknyamanan yang sangat.


Kolaborasi
7.

Berikan analgesic/antipiretik narkotik.


Gunakan

ADP

untuk

memberikan

Memberikan penurunan nyeri/tidak nyaman


dan mengurangi demam.

analgasik 24 jam.
4.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan HIV dan AIDS (perjalanan, penyebaran penyakit,

efek jangka panjang pada wanita dan janin.


Tujuan : Pasien mengetahui pengertian, penyebab, akibat dan penatalaksanaan penyakit HIV dan AIDS.
teria hasil : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi/proses penyakit dan tindakan, melakukan perubahan
gaya hidup yang sesuai dan berpartisipasi dalam aturan perawatan.
INTERVENSI

RASIONAL

Mandiri
1.

Berikan
system/respon

informasi
imun

mengenai
normal

dan

bagaimana efek dari HIV, penyebaran

Pasien perlu waspada terhadap resiko bagi


dirinya sendiri sama seperti resiko bagi
bayi dan orang lain disekitarnya.

virus,

factor

yang

diyakini

dapat

meningkatkan kemungkinan progresifitas


2.

penyakit.
Berikan informasi yang realistis optimis Perlu untuk memberikan harapan yang
selama kontak dengan pasien.

3.

realistis, untuk mengurangi resiko bunuh

diri.
Tinjau tanda-tanda/gejala yang mungkin Pasien mungkin mengalami penyakit akut

menjadi konsekuensi dari infeksi HIV.


2-6 minggu selama terinfeksi.
4. Tekankan perlunya memperhatikan seks Membatasi penyebaran virus. Mengerangi
yang lebih aman dan juga perlunya pemajanan

pada

agen

infeksi/sters

menghindari penggunaan obat-obatan IV tamabahan pada system imun.


5.

terlarang.
Berikan informasi mengenai perubahan Bukti menunjukkan bahwa diet yang
gaya hidup yang sesuai dengan factor khusus dan factor gaya hidup dapat
yang

6.

membantu

kesehatan.
Diskusikan

strategi

mempertahankan berpengaruh pada perkembangan infeksi


HIV sampai AIDS.
penatalaksanaan Keterlibatan pasien

dalam

perawatan

terhadap gejala-gejala dan tanda-tanda meningkatkan kerja sama dan kepuasan


7.

yang terus menerus.


dalam perawatan.
Dorong kontak dengan orang terdekat, Banyak yang merasa takut mengungkapkan
keluarga, dan teman.

pada orang terdekat, keluarga dan teman


karena takut ditolak.

D. Evaluasi
Evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan keperawatan.
Keberhasilan proses dapat di lihat dengan jalan membandingkan antara proses dengan
pedoman/rencana proses tersebut. Sedangkan keberhasilan tindakan dapat di lihat dengan
membandingkan antara tingkat kemandirian pasien dalam kehidupan sehari-hari dan tingkat
kemajuan kesehatan pasien dengan tujuan yang telah di rumuskan sebelumnya.
Setelah dilakukann tindakan keperawatan di harapakan pasien :
1. Dx 1 : Mengidentifikasi/ikut serta dalam perilaku yang mengurangi resiko infeksi, tidak demam
dan bebas dari pengeluaran/sekresi purulen dan tanda-tanda lain dari kondisi infeksi.
2. Dx 2 : Mempertahankan berat badan atau memperlihatkan peningkatan berat badan dan
mendemonstrasikan keseimbangan nitrogen positif, bebas dari malnutrisi dan menunjukkan
perbaikan tingkat energi.

3. Dx 3 : Hilangnya/terkontrolnya rasa sakit, menunjukkan posisi/ekspresi wajah rileks.


4. Dx 4 : Mengungkapkan pemahaman tentang kondisi/proses penyakit dan tindakan, melakukan
perubahan gaya hidup yang sesuai dan berpartisipasi dalam aturan perawatan.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kehamilan merupakan peristiwa alami yang terjadi pada wanita, namun kehamilan dapat
mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan janin terutama pada kehamilan trimester pertama.
Wanita hamil trimester pertama pada umumnya mengalami mua, muntah, nafsu makan
berkurang dan kelelahan. Menurunnya kondisi wanita hamil cenderung memperberat kondisi
klinis wanita dengan penyakit infeksi antara lain infeksi HIV-AIDS.
HIV/AIDS adalah topic yang sangat sensitive dan lebih banyak sehingga banyak
penelitian melibatka anak-anak yang rentan untuk terjangkit HIV. Setiap usaha dilakukan untuk
memastikan bahwa keluarga akan merasa baik.
AIDS (acquired immunodeficiency syndrome), yaitu kondisi hilangnya kekebalan tubuh
sehingga member kesempatan berkembangnya berbegai bentuk infeksi dan keganasan,
kemunduran kemampuan intelektual, dan penyakit lainnya. Dengan hilangnya semua kekebalan
tubuh manusia pada AIDS, tubuh seolah-olah menjadi tempat pembenihan bakteri, protozoa,
jamur serta terjadi degenerasi ganas.
B. SARAN
Semoga Makalah ini dapat berguna bagi penyusun dan pembaca. Kritik dan saran sangat
diharapkan untuk pengerjaan makalah berikutnya yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3. Jakarta. EGC.
Manuaba, Ida Ayu Chandranita, dkk. 2008. Patologi Obstetri. Jakarta : EGC

Nursalam dan dwi, Ninuk. 2008. Asuhan keperawatan pada pasien terinfeksi HIV/AIDS. Jakarta:
Salemba medika.
Susanti NN. 2000. Psikologi Kehamilan. Jakarta: EGC.