Anda di halaman 1dari 12

Hukum internasional adalah bagian hukum yang mengatur

aktivitas entitas berskala internasional. Pada awalnya, Hukum


Internasional hanya diartikan sebagai perilaku dan hubungan
antarnegara namun dalam perkembangan pola hubungan
internasional yang semakin kompleks pengertian ini kemudian
meluas sehingga hukum internasional juga mengurusi struktur dan
perilaku organisasi internasional dan pada batas tertentu,
perusahaan multinasional dan individu.
Hukum internasional adalah hukum bangsa-bangsa, hukum
antarbangsa atau hukum antarnegara. Hukum bangsa-bangsa
dipergunakan untuk menunjukkan pada kebiasaan dan aturan
hukum yang berlaku dalam hubungan antara raja-raja zaman
dahulu. Hukum antarbangsa atau hukum antarnegara
menunjukkan pada kompleks kaedah dan asas yang mengatur
hubungan antara anggota masyarakat bangsa-bangsa atau
negara.
Hukum Internasional publik berbeda dengan Hukum Perdata
Internasional. Hukum Perdata Internasional ialah keseluruhan
kaedah dan asas hukum yang mengatur hubungan perdata yang
melintasi batas negara atau hukum yang mengatur hubungan
hukum perdata antara para pelaku hukum yang masing-masing
tunduk pada hukum perdata (nasional) yang berlainan. Sedangkan
Hukum Internasional adalah keseluruhan kaidah dan asas hukum
yang mengatur hubungan atau persoalan yang melintasi batas
negara (hubungan internasional) yang bukan bersifat perdata.
Persamaannya adalah bahwa keduanya mengatur hubungan atau
persoalan yang melintasi batas negara(internasional).
Perbedaannya adalah sifat hukum atau persoalan yang diaturnya
(obyeknya).

Sejarah dan Perkembangannya


Hukum Internaasional modern sebagai suatu sistem hukum yang
mengatur hubungan antara negara-negara, lahir dengan kelahiran
masyarakat Internasional yang didasarkan atas negara-negara
nasional. Sebagai titik saat lahirnya negara-negara nasional yang
modern biasanya diambil saat ditandatanganinya Perjanjian
Perdamaian Westphalia yang mengakhiri Perang Tiga Puluh
Tahun di Eropa.
Zaman dahulu kala sudah terdapat ketentuan yang mengatur,
hubungan antara raja-raja atau bangsa-bangsa:
Dalam lingkungan kebudayaan India Kuno telah terdapat kaedah
dan lembaga hukum yang mengatur hubungan antar kasta, sukusuku bangsa dan raja-raja yang diatur oleh adat kebiasaan.
Menurut Bannerjce, adat kebiasaan yang mengatur hubungan
antara raja-raja dinamakan Desa Dharma. Pujangga yang terkenal
pada saat itu Kautilya atau Chanakya penulis buku Artha Sastra
Gautamasutra salah satu karya abad VI SM di bidang hukum.
Hukum Internasional didasarkan atas pikiran adanya masyarakat
internasional yang terdiri atas sejumlah negara yang berdaulat dan
merdeka dalam arti masing-masing berdiri sendiri yang satu tidak
dibawah kekuasaan lain sehingga merupakan suatu tertib hukum
koordinasi antara anggota masyarakat internasional yang
sederajat.
Hukum Dunia berpangkal pada dasar pikiran lain. Dipengaruhi
analogi dengan Hukum Tata Negara (constitusional law), hukum
dunia merupakan semacam negara (federasi) dunia yang meliputi

semua negara di dunia ini. Negara dunia secara hirarki berdiri di


atas negara-negara nasional. Tertib hukum dunia menurut konsep
ini merupakan suatu tertib hukum subordinasi. Dalam hukum kuno
mereka antara lain Kitab Perjanjian Lama, mengenal ketentuan
mengenai perjanjian, diperlakukan terhadap orang asing dan cara
melakukan perang.Dalam hukum perang masih dibedakan (dalam
hukum perang Yahudi ini) perlakuan terhadap mereka yang
dianggap musuh bebuyutan, sehingga diperbolehkan diadakan
penyimpangan ketentuan perang.
Lingkungan kebudayaan Yunani. Hidup dalam negara-negara kita.
Menurut hukum negara kota penduduk digolongkan dalam 2
golongan yaitu orang Yunani dan orang luar yang dianggap
sebagai orang biadab (barbar). Masyarakat Yunani sudah
mengenal ketentuan mengenai perwasitan (arbitration) dan
diplomasi yang tinggi tingkat perkembangannya.
Sumbangan yang berharga untuk Hukum Internasional waktu itu
ialah konsep hukum alam yaitu hukum yang berlaku secara mutlak
dimanapun juga dan yang berasal dari rasion atau akal manusia.
Hukum Internasional sebagai hukum yang mengatur hubungan
antara kerajaan-kerajaan tidak mengalami perkembangan yang
pesat pada zaman Romawi. Karena masyarakat dunia merupakan
satu imperium yaitu imperium roma yang menguasai seluruh
wilayah dalam lingkungan kebudayaan Romawi. Sehingga tidak
ada tempat bagi kerajaan-kerajaan yang terpisah dan dengan
sendirinya tidak ada pula tempat bagi hukum bangsa-bangsa yang
mengatur hubungan antara kerajaan-kerajaan. Hukum Romawi
telah menyumbangkan banyak sekali asas atau konsep yang
kemudian diterima dalam hukum Internasional ialah konsep seperti
occupatio servitut dan bona fides. Juga asas pacta sunt
servanda merupakan warisan kebudayaan Romawi yang
berharga.

Abad pertengahan
Selama abad pertengahan dunia Barat dikuasai oleh satu sistem

feodal yang berpuncak pada kaisar sedangkan kehidupan gereja


berpuncak pada Paus sebagai Kepala Gereja Katolik Roma.
Masyarakat Eropa waktu itu merupakan satu masyarakat Kristen
yang terdiri dari beberapa negara yang berdaulat dan Tahta Suci,
kemudian sebagai pewaris kebudayaan Romawi dan Yunani.
Di samping masyarakat Eropa Barat, pada waktu itu terdapat 2
masyarakat besar lain yang termasuk lingkungan kebudayaan
yang berlaianan yaitu Kekaisaran Byzantium dan Dunia Islam.
Kekaisaran Byzantium sedang menurun mempraktikan diplomasi
untuk mempertahankan supremasinya. Oleh karenanya praktik
Diplomasi sebagai sumbangan yang terpenting dalam
perkembangan Hukum Internasional dan Dunia Islam terletak di
bidang Hukum Perang.
Perjanjian Westphalia[sunting | sunting sumber]
Perjanjian Damai Westphalia terdiri dari dua perjanjian yang
ditandatangani di dua kota di wilayah Westphalia, yaitu di
Osnabrck (15 Mei 1648) dan di Mnster (24 Oktober 1648).
Kedua perjanjian ini mengakhiri Perang 30 Tahun (1618-1648)
yang berlangsung di Kekaisaran Romawi Suci dan Perang 80
Tahun (1568-1648) antara Spanyol dan Belanda.
Perdamaian Westphalia dianggap sebagai peristiwa penting dalam
sejarah Hukum Internasional modern, bahkan dianggap sebagai
suatu peristiwa Hukum Internasional modern yang didasarkan atas
negara-negara nasional. Sebabnya adalah :
1.

Selain mengakhiri perang 30 tahun, Perjanjian Westphalia


telah meneguhkan perubahan dalam peta bumi politik yang
telah terjadi karena perang itu di Eropa .

2.

Perjanjian perdamaian mengakhiri untuk selama-lamanya


usaha Kaisar Romawi yang suci.

3.

Hubungan antara negara-negara dilepaskan dari persoalan


hubungan kegerejaan dan didasarkan atas kepentingan
nasional negara itu masing-masing.
Kemerdekaan negara Belanda, Swiss dan negara-negara

4.

kecil di Jerman diakui dalam Perjanjian Westphalia.


Perjanjian Westphalia meletakkan dasar bagi susunan masyarakat
Internasional yang baru, baik mengenai bentuknya yaitu
didasarkan atas negara-negara nasional (tidak lagi didasarkan
atas kerajaan-kerajaan) maupun mengenai hakekat negara itu dan
pemerintahannya yakni pemisahan kekuasaan negara dan
pemerintahan dari pengaruh gereja.
Dasar-dasar yang diletakkan dalam Perjanjian Westphalia
diperteguh dalam Perjanjian Utrech yang penting artinya dilihat
dari sudut politik Internasional, karena menerima asas
keseimbangan kekuatan sebagai asas politik internasional.
Ciri-ciri masyarakat Internasional[
1.
Negara merupakan satuan teritorial yang berdaulat.
2.

Hubungan nasional yang satu dengan yang lainnya


didasarkan atas kemerdekaan dan persamaan derajat.

3.

Masyarakat negara-negara tidak mengakui kekuasaan di


atas mereka seperti seorang kaisar pada zaman abad
pertengahan dan Paus sebagai Kepala Gereja.
Hubungan antara negara-negara berdasarkan atas hukum
yang banyak mengambil alih pengertian lembaga Hukum
Perdata, Hukum Romawi.

4.

5.

6.

Negara mengakui adanya Hukum Internasional sebagai


hukum yang mengatur hubungan antar negara tetapi
menekankan peranan yang besar yang dimainkan negara
dalam kepatuhan terhadap hukum ini.

Tidak adanya Mahkamah (Internasional) dan kekuatan polisi


internasional untuk memaksakan ditaatinya ketentuan hukum
Internasional.
Anggapan terhadap perang yang dengan lunturnya segi-segi
keagamaan beralih dari anggapan mengenai doktrin bellum justum
(ajaran perang suci) kearah ajaran yang menganggap perang
sebagai salah satu cara penggunaan kekerasan.

International law is the set of rules generally regarded and


accepted as binding in relations between states and between

nations. It serves as a framework for the practice of stable and


organized international relations. International law differs from
state-based legal systems in that it is primarily applicable to
countries rather than to private citizens. National law may become
international law when treaties delegate national jurisdiction to
supranational tribunals such as the European Court of Human
Rights or the International Criminal Court. Treaties such as the
Geneva Conventions may require national law to conform to
respective parts signed and ratified.
Much of international law is consent-based governance. This
means that a state member of the international community is not
obliged to abide by this type of international law, unless it has
expressly consented to a particular course of conduct. This is an
issue of state sovereignty. However, other aspects of international
law are not consent-based but still are obligatory upon state and
non-state actors such as customary international law and
peremptory norms (jus cogens).
The term "international law" can refer to three distinct legal
disciplines:
5.

Public international law, which governs the relationship


between states and international entities. It includes these
legal fields: treaty law, law of sea, international criminal law,
the laws of war or international humanitarian law and
international human rights law.

6.

Private international law, or conflict of laws, which addresses


the questions of (1) which jurisdiction may hear a case, and
(2) the law concerning which jurisdiction applies to the issues
in the case.

7.

Supranational law or the law of supranational organizations,


which concerns regional agreements where the laws of
nation states may be held inapplicable when conflicting with
a supranational legal system when that nation has a treaty
obligation to a supranational collective.

The two traditional branches of the field are:


7.

jus gentium law of nations

jus inter gentes agreements between nations


History
International law has existed since the mid-19th century. However,
its philosophical origins are found in 16th century thinkers such as
Francisco de Vitoria, Francisco Surez, Alberico Gentili, and Hugo
Grotius, with Vitoria sometimes considered the "father of
international law."Two sophisticated legal systems developed in the
Western World: the codified systems of continental European
states (American Civil Law) and English common law, upon which
the judge-made law of the United States is primarily based. In the
20th century, the two World Wars and the formation of the League
of Nations (and other international organizations such as the
International Labor Organization) all contributed to accelerate this
process and established much of the foundations of modern public
international law. After the failure of the Treaty of Versailles and
World War II, the League of Nations was replaced by the United
Nations, founded under the UN Charter. The UN has also been the
locus for the development of new advisory (non-binding)
standards, such as the Universal Declaration of Human Rights.
Other international norms and laws have been established through
international agreements, including the Geneva Conventions on
the conduct of war or armed conflict, as well as by agreements
implemented by other international organizations such as the
International Labor Organization, the World Health Organization,
the World Intellectual Property Organization, the International
Telecommunication Union, UNESCO, the World Trade
Organization, and the International Monetary Fund. The
development and consolidation of such conventions and
agreements has proven to be of great importance in international
relations.

Masyarakat internasional dalam bentuknya sekarang merupakan


suatu tertib hukum koordinasi dari sejumlah negara yang masingmasing berdaulat. Dalam tata masyarakat internasional yang
demikian, tidak pula terdapat suatu badan legislative maupun
kekuasaan kehakiman dan polisional yang dapat memaksakan
berlakunya kehendak masyarakat internasional sebagaimana
tercermin dalam kaidah hukumnya. Semua kelemahan
kelembagaan (institusional) ini telah menyebabkan beberapa
pemikir mulai dari Hobbes dan Spinoza hingga Austin menyangkal
sifat mengikat hukum internasional. Bagi mereka hukum
internasional itu bukan hukum.
John Austin mengatakan bahwa Every law or rule (taken with the
largest signification which can be given to the term properly) is a
command. Menurut dia hukum internasional itu bukan hukum
dalam arti yang sebenarnya (properly so called). Ia
menempatkannya segolongan dengan the laws of honour dan the
laws set by fashion sebagai rules of positive morality).
Perkembangan ilmu hukum kemudian telah membuktikan tidak
benarnya anggapan Austin tersebut mengenai hukum. Kita cukup
mengingat tentang adanya hukum adat di Indonesia sebagai suatu

sistem hukum yangtersendiri untuk menginsafi kelirunya pikiran


Austin mengenai hakikat hukum.
Memang, adanya badan legislatif, badan kehakiman dan polisi
merupakan ciri yang jelas dari suatu sistem hukum positif yang
efektif, tetapi ini tidak berarti bahwa tanpa lembaga-lembaga ini
tidak terdapat dalam hukum.
Hukum Internasional itu mengikat karena hukum internasional itu
tidak lain daripada hukum alam yang diterapkan pada kehidupan
masyarakat bangsa-bangsa. Dengan kata lain perkataan negara
itu terikat atau tunduk pada hukum internasional dalam hubungan
antara mereka satu sama lain karena hukum internasional itu
merupakan bagian dari hukum yang lebih tinggi yaitu hukum alam.
Pikiran ini kemudian, dalam abad XVIII lebih disempurnakan lagi,
antara lain oleh seorang ahli hukum dan diplomat bangsa Swiss
Emmerich Vattel (1714-1767) dalam bukunya Droit des Gens, ia
antara lain mengatakan: We use the term necessary Law of
Nations for that law which results from applying the natural law to
nations. It is necessary, because nations are absolutely bound to
reserve it. It contains these precepts which the natural law dictates
to States, and it is no less binding upon them. It is upon
individuals.
Keberatan yang secara umum dapat dikemukakan terhadap teoriteori yang didasarkan atas hukum alam ini ialah bahwa apa yang
dimaksudkan dengan hukum alam itu sangat samar dan
bergantung kepada pendapat subjektif dari yang bersangkutan
mengenai keadilan, kepentingan masyarakat internasional, dan
lain-lain konsep yang serupa.
Khusus dalam hubungannya dengan hukum internasional,
keberataan terhadap kesamaran yang disebutkan tadi itu
bertambah. Pembedaan subjektif antara isi pengertian
hukum alam yang digunakan bertalian dengan kaidah
moral dan keadilan tidak seberapa besar apabila ada

keseragaman pandangan hidup atau filsafat dari orangorang yang mengemukakannya.


Mengingat taraf integrasi yang rendah dari masyarakat
internasional dewasa ini dan adanya pola hidup
kebudayaan dan sistem nilai yang berbeda dari satu
bangsa ke bangsa lain, pengertian tentang nilai-nilai yang
biasa diasosialisasikan dengan hukum alam mungkin
sekali juga akan jauh berbeda, walaupun istilah yang
dipergunakan mungkin sama. Walaupun demikian, teori
hukum alam dan konsep hukum alam telah mempunyai
pengaruh besar dan baik terhadap perkembangan hukum
internasional. Ajaran ini karena idealisme yang tinggi telah
menimbulkan keseganan terhadap hukum internasional
dan telah meletakkan dasar moral dan etika yang
berharga bagi hukum internasional, juga bagi
perkembangan selanjutnya.
Kesamaran pengertian yang tadi disinggung sebagai suatu
kelemahan dilihat dari sudut lain justru dapat pula
dianggap sebagai sumber kekuatan teori ini.
Dikembalikannya konsep hidup bermasyarakat
internasional ini pada analisis terakhir pada keharusan
yang dititahkan oleh akal manusia adalah pikiran yang
pada hakikatnya tidak terlalu salah. Hanya dengan
demikian dapat diterangkan mengapa bangsa-bangsa
didunia yang beraneka ragam asal keturunan, pandangan
hidup serta nilai hidupnya dapat bahkan harus hidup
berdampingan dengan baik. Dengan perkataan lain, ia
dapat menerangkan adanya dasar bagi kemungkinan
adanya suatu masyarakat internasional disamping
kenyataan hidupnya bangsa-bangsa berdampingan
didunia ini secara fisik.
Aliran lain mendasarkan kekuatan mengikat hukum
internsional itu atas kehendak negara itu sendiri untuk
tunduk pada hukum internasional. Menurut mereka, pada
dasarnya negara yang merupakan sumber segala hukum,
dan hukum internasional itu mengikat karena negara itu
atas kemauan sendiri mau tunduk pada hukum
internasional. Aliran ini yang menyandarkan teori mereka
pada falsafah Hegel yang dahulu mempunyai pengaruh

yang luas di Jerman. Salah seorang yang paling terkemuka


dari aliran ini adalah George Jellineck yang terkenal
dengan Selbst-limitation-theorie-nya. Seorang pemuka lain
dari aliran ini ialah Zorn yang berpendapat bahwa hukum
internasional itu tidak lain daripada hukum tata negara
yang mengatur hubungan luar suatu negara. Hukum
internasional bukan sesuatu yang lebih tinggi yang
mempunyai kekuatan mengikat diluar kemauan negara.
Kelemahan teori-teori ini ialah bahwa mereka tidak dapat
menerangkan dengan memuaskan bagaimana caranya
hukum internasional yang bergantung kepada kehendak
negara dapat mengikat negara itu. Hukum internasional
lalu tidak lagi mengikat, Teori ini juga tidak dapat
menjawab pertanyaan mengapa suatu negara baru sejak
munculnya dalam masyarakat internasional sudah terikat
oleh hukum internasional lepas dari mau tidak maunya ia
tunduk padanya. Juga adanya hukum kebiasaan tidak
terjawab oleh teori-teori ini.
Berbagai keberatan tersebut dicoba diatasi oleh aliran lain
dari teori kehendak negara yang hendak menyandarkan
kekuatan mengikat hukum internasional pada kemauan
bersama. Menurut Triepel hukum internasional itu
mengikat karena kehendak masing-masing negara untuk
tunduk. Dinamakan Vereinbarung (Vereinbarungs-theorie)
yaitu kehendak terikat diberikan diam-diam (implied).
Teori yang mendasarkan berlakunya hukum internasional
itu pada kehendak negara merupakan pencerminan dari
teori kedaulatan dan aliran positivism yang menguasai
alam pikiran dunia ilmu hukum di benua Eropa pada
bagian kedua abad ke-19.
Teori-teori yang mengatakan kekuatan dasar mengikat
hukum berdasarkan kehendak sulit diterima karena
kehendak manusia saja tidak mungkin merupakan dasar
kekuatan hukum yang mengatur kehidupan sebab ia bisa
melepaskan diri dari kekuatan mengikat hukum dengan
menarik. Persetujuan negara untuk tunduk pada hukum
internasional adalah menghendaki adanya suatu hukum
atau norma sebagai sesuatu yang ada terlebih dahulu
dan lepas dari kehendak negara. Norma hukum menjadi
dasar terakhir kekuatan mengikat hukum internasional.
Dasar terakhir ini disebut mazhab wiena.