Anda di halaman 1dari 14

1.

Pengertian Nyeri Persalinan


Nyeri didefinisikan sebagai pengalaman yang tidak menyenangkan baik sensori
maupun emosional yang berhubungan dengan aktualnya kerusakan jaringan tubuh
(Tournaire dan Theau, 2007). Nyeri juga didefinisikan sebagai suatu sensasi tunggal
yang disebabkan oleh stimulus spesifik bersifat subyektif dan berbeda antara masingmasing individu karena dipengaruhi faktor psikososial dan kultur dan endhorphin
seseorang, sehingga orang tersebut lebih merasakan nyeri (Potter dan Perry, 2005).
Cunningham, dkk.(2004) mendeskripsikan nyeri persalinan sebagai kontraksi
miometrium. Nyeri persalinan merupakan proses fisiologis dengan intensitas yang
berbeda pada masing-masing individu. Rasa nyeri yang dialami selama persalinan
bersifat unik pada setiap ibu dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor-faktor
yang mempengaruhi antara lain budaya, takut, dan cemas, pengalaman melahirkan
sebelumnya, persiapan persalinan dan dukungan (Lowdermiilk, Perry dan Bobak,
2004).
Nyeri persalinan adalah bagian integral dan persalinan dan melahirkan. Tidak
seperti yang diyakini sebelumnya yaitu suatu hasil langsung dan pengaruh sosial,
kultural dan emosional saja dalam masyarakat yang beradab tetapi lebih pada
kulminasi faktor tsio1ogis dan psikologis (Mander, 2004).
2. Fisiologi nyeri persalinan
Menurut Nicholas dan Humenick (2000) dan Pilliteri (2003) rasa nyeri yang
dialami selama persalinan memiliki dua jenis menurut sumbernya, yaitu nyeri viseral
dan nyeri somatik selama persalinan.

a. Nyeri viseral
Nyeri viseral merupakan rasa nyeri yang dialami ibu karena perubahan serviks
dan iskemia uterus pada persalinan kala I. Selama kala I persalinan kontraksi
uterus menyebabkan dilatasi serviks, pendataran dan iskemia uterus (penurunan
aliran darah oksigen lokal) akibat dari kontraksi arteri ke miometrium, dimana
impuls nyeri ditransmisikan melalui segmen saraf spinal dan saraf simpatis
lumbar bagian atas yangg berawal di dalam uterus dan serviks. Impuls saraf nyeri
yang berasal dari serviks dan korpus uteri ditransmisikan melalui serabut saraf
aferen yang berjalan melalui saraf otonom menuju medula spinalis melalui saraf
spinal.
Selama kala I persalinan fase laten, lebih banyak terjadi penipisan di serviks
sedangkan pembukaan serviks dan penurunan bagian terendah janin terjadi pada
fase aktif dan transisi (Winkjosastro, 2005). Ibu akan merasakan nyeri yang
berasal dari bagian bawah abdomen dan menyebar ke daerah lumbar punggung
dan menurun ke paha. Ibu biasanya mengalami nyeri hanya selama kontraksi dan
bebas rasa nyeri pada interval antar kontraksi (Cunningham, dkk, 2005;
Lowdermik, Perry dan Bobak, Lowdermik dan Jensen, 2004).
b. Nyeri somatik
Nyeri somatik merupakan rasa nyeri yang dialami ibu pada akhir kala I dan kala II
persalinan. Ibu mengalami nyeri yang diakibatkan peregangan perineum, vulva
dan tekanan uteri servikal saat kontraksi. Selain itu, terjadi penekanan oleh bagian
terendah janin secara progresif pada fleksus lumbosakral, penekanan pada

kandung kemih, usus dan struktur sensitif panggul yang lain (Bobak, Lowdermilk
dan Jensen, 2004).
Nyeri yang dirasakan berawal dari punggung bawah samapi paha, dan dirasakan
berupa nyeri lokal yang disertai kram, dan sensasi robekan akibat laserasi serviks
dan vagina atau jaringan perineum, dapat pula disertai sensasi seperti terbakar saat
terjadi peregangan dan beralih dirasakan pula pada punggung, pinggang dan paha
(Bobak, Lowdermik dan Jensen, 2004). Rasa nyeri yang dialami ibu dapat bersifat
sedang hingga hebat , ibu kadang mengalami sensasi kram pada anggota tubuh
bagian bawah, nyeri pada punggung bagian belakang juga dapat dirasakan
diantara kontraksi.
Pada Kala I persalinan, nyeri tambahan disebabkan oleh regangan dan robekan
jaringan. Misalnya pada nyeri perineum dan tekanan otot skelet perineum. Disini,
nyeri diakibatkan oleh rangsangan struktur somatik superfisial dan digambarkan
sebagai nyeri yang tajam dan terlokalisasi, terutama pada daerah yang disuplai
oleh saraf pudendus. Beberapa wanita dapat mengalami nyeri pada paha dan
tungkai mereka, digambarkan sebagai nyeri tumpul yang lama, terbakar/ kram.
Hal ini dapat diakibatkan oleh rangsangan struktur pada pelvis yang sensitif dan
yang menyebabkan nyeri ringan yang dialihkan pada segmen lumbalis dan
sakralis bagian bawah (Mander, 2004).
3. Faktor- faktor yang mempemgaruhi respon terhadap nyeri persalinan
(Lowdermilk, Perry dan Bobak, 2000; Bobak, Lowdermik dan Jensen, 2004)
a. Budaya

Persepsi dan ekspresi terhadap nyeri persalinan dipengaruhi oleh budaya individu.
Budaya mempengaruhi sikap ibu pada saat bersalin (Lowdermilk, Perry dan
Bobak, 2000; Pillliteri, 2003). Penelitian Mulyati (2002) menjelaskan bahwa
budaya mempengaruhi ekspresi nyeri intranatal pada ibu primipara. Penting bagi
bidan atau tenaga kesehatan untuk mengetahui kepercayaan seorang ibu dalam
mempersepsikan dan mengekspresikan nyeri persalinan.
b. Emosi (cemas dan takut)
Rasa nyeri yang dialami oleh ibu yang akan melahirkan dapat menyebabkan
ketegangan emosi semakin memperberat persepsi nyeri selama melahirkan. Nyeri
atau kemungkinan nyeri akan menginduksi kecemasan yang dapat berakhir pada
kepanikan (Bobak, Lowdermilk dan Jensen, 2004). Hasil penelitian tentang
pengaruh kecemasan terhadap proses persalinan yang dialkukan oleh Wardah
(2002) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang posistif anatara kecemasan
dan lamanya proses persalinan dengan nilai r=0,70, semakin tinggi tingkat
kecemasan, maka semakin lama persalinan. penelitian yang dilakukan oleh
Agehagen (2006) tentang ketakutan sebelum, selama dan setelah persalinan pada
47 ibu nullipara menyebutkan bahwa ada hubungan antara rasa ketakutan akan
persalinan selama kehamilan dengan pengalaman nyeri selama fase aktif
persalinan.
c. Pengalaman melahirkan sebelumnya
Menurut Lowdermilk, Perry dan Bobak (2000) pengalaman melahirkan
sebelumnya juga dapat mempengaruhi respon ibu terhadap nyeri. Bagi ibu yang
mempunyai pengalaman yang menyakitkan dan sulit pada persalinan sebelumnya,

perasaan cemas dan takut pada pengalaman lalu akan mempengaruhi sensifitasnya
rasa nyeri (Kozier, 2000). Hasil penelitian oleh Megapurwara (2001) menyatakan
bahwa ada pengaruh antara persalinan yang sulit dan lama terhadap motivasi ibu
untuk hamil kembali.
Sebaliknya jika ibu mengalami persalinan yang lalu dimana mekanisme koping
yang baik digunakan dalam mengatasi persaan cemas dan takut saat persalinan,
kemungkinan besar ibu akan mampu mengembangkan kemampuannya dalam
mengatasi nyeri persalinan. ibu primipara beresiko mengalami ketidakmampuan
menggunakan mekanisme koping yang baik digunakan dalam mengatasi perasaan
cemas dan takut saat persalinan, kemungkinan besar ibu akan mengembangkan
kemampuannya dalam mengatasi nyeri persalinan. ibu primipara beresiko
mengalami

ketidakmampuan

menggunakan

mekanisme

koping

dalam

menghadapi nyeri persalinan karena belum mempunyai pengalamn sebelumnya.


d. Support system
Dukungan dari pasangan dan keluarga berperan penting selama persalinan.
dukungan suami, keluarga selama proses persalinan dapat membantu memenuhi
kebutuhan ibu bersalin, juga membantu mengatasi rasa nyeri persalinan
(Martin,2002). Menurut Leahy-Warren (2007) suami/pasangan dan orangtua
perempuan (ibu) adalah orang-orang yang paling sering memeberikan support
pada ibu primipara.
e. Persiapan persalinan

Persiapan persalinan tidak menjamin persalinan akan berlangsung tanpa nyeri.


Namun, persiapan persalinan diperlukan untuk mengurangi persaan cemas dan
takut akan nyeri persalinan. ibu dapat memilih berbagai tehnik atau metode
latihan agar ibu mampu mengatasi ketakutannya. Penelitian yang dilakukan oleh
Mulyata (2007) menyimpulkan bahwa ibu hamil khususnya primigravida yang
mempersiapkan persalinan dengan baik, dengan cara aktif mengikuti paket
penyuluhan dan senam persiapan persalinan, disamping pemeriksaan rutin tentang
kehamilannya berhubungan dengan berkurangnya kebutuhan terhadap analgetik
paska bedah dan mempengaruhi penyembuhan luka paska bedah.
4. Teknik Mengurangi Rasa Nyeri
Rasa nyeri saat melahirkan jelas normal, penyebabnya mencakup Faktor psikis
dan faktor fisik (Ismawarti, 2005).
Faktor psikis yang dimaksud adalah rasa cemas-cemas harap menjelang dan
saat melahirkan. Di lain sisi, bagi pasangan muda, ibu muda hamil, perasaan bahagia
itu juga diselimuti juga dengan yang namanya ketakutan dan kewaspadaan terhadap
kelahiran yang akan dijalaninya. Tentunya rasa mi merupakan hal yang wajar-wajar
saja. Namun, bila rasa cemasnya terlalu berlebihan maka hal mi biasanya menambah
parah rasa nyeri dan menghabiskan energi (Mander, 2004).
Adapun faktor fisik adalah kontraksi. Kontraksi adalah proses menjelang dan
saat melahirkan ketika rahim melakukan gerakan. peristaltik (meremas dan
mendorong bayi keluar). Pada saat itu kepala bayi menekan serviks dan
membukanya. Rasa nyeri yang ditimbulkannya akan terus meningkat dan makin

sering seiring dengan semakin kencangnya kontraksi dan tekanan kepala bayi pada
serviks itu, begitu rupa hingga serviks itu mengalami regangan dan pembukaan. Jadi,
kontraksi berikut rasa nyeri yang ditimbulkan merupakan bagian alami tubuh untuk
membuka jalan lahir (Mander, 2004).
Beberapa hal yang dapat dilakukan dalam mengatasi. rasa nyeri saat persalinan,
diantaranya (Sherly, 2007):
a. Terapi Non Farmakologis
Penatalaksanaan nonfarmakologis pada nyeri persalinan merupakan pendekatan
yang tidak menggunakan terapi medis seperti obat-obatan analgesik dan anestesia
untuk mengurangi nyeri. Penatalaksanaan nonfarmakologis pada persalinan tidak
hanya bertujuan untuk mengontrol rasa nyeri. Metode penatalaksanaan
nonfarmakologis menekankan pada harapan yang ingin dipenuhi ibu untuk
mengatasi rasa nyeri saat bersalin, bukan berfokus pada jumlah nyeri yang
dialami oleh ibu (Bobak Lowdermilk dan Jensen, 2004).
Metoda nonfarmakologik untuk mengurangi nyeri tidak beresiko menimbulkan
efek bahaya bagi ibu dan bayi. Beberapa manfaat tehnik nonfarmakologis selain
menurunkan nyeri persalinan juga mempunyai sifat non-invasif, sederhana,
efektif, dan tanpa efek yang membahayakan. Metode ini tidak tidak
mempengaruhi sistem pernafasan, jantung dan pembuluh darah, tidak
menghambat kemajuan persalinan, tidak mempengaruhi janin, tanpa efek
samping, kemungkinan berhasil sangat besar, murah dan mudah (Tournaire dan
Theau-Younneau, 2007).

Bidan memiliki peran penting untuk mengupayakan metode nonfarmakologis


sesuai dengan kewenangannya untuk membantu ibu beradaptasi terhadap nyeri
dalam persalinan. metode nonfarmakologis dapat diberikan oleh bidan kepada ibu
dan pasangannya dalam kelas-kelas persiapan persalinan untuk mengatasi rasa
nyeri persalinan. bidandapat mengajarkan berbagai bentuk metode meringankan
nyeri persalinan di dalam kelas persiapan melahirkan, tanpa mempertimbangkan
apakah ibu dan pasangan pernah mengikuti persiapan, pernah membaca buku atau
majalah tentang tehnik tersebut (Bobak, Lowdermilk dan Jensen, 2004).
Metode nonfarmakologis untuk menurunkan nyeri persalinan yang dapat
dilakukan oleh bidanantara lain dengan relaksasi, tehnik pernafasan, fokus
perhatian, latihan fisik, musik, dukungan dan informasi, stimulasi cutaneus,
massage, accupressure, acupunctur dan TENS (transcutaneous elektrical nerve
stimulation) (Yerbi, 2000). Beberapa metode lain yang bisa dilakukan antara lain
metode Dick- read, metode Lamaze, metode Bradley, effleurage dan tekanan
sakrum, hidroterapi jet, kompres hangat atau dingin, hipnosis, yoga, feedback,
imagery, visualisasi, dan aromaterapi (Bobak, Lowdermilk dan Jensen, 2004).
Metode Dick-Read, Lamaze dan Bradley merupakan beberapa metode yang
biasanya diajarkan dalam kelas persiapan (Bobak, Lowdermilk dan Jensen, 2004).
Metode Dick- Read mengajarkan tehnik mengganti rasa takut tentang hal yang
tidak diketahui melalui pemahaman dan keyakinan dengan pemberian informasi
tentang persalinan, di samping nutrisi, higiene dan latihan fisik. Latihan-latihan
dalam metode Dick-Read mengajarkan tiga tehnik yaitu latihan fisik persiapan
persalinan, latihan relaksasi dan latihan pola nafas.

Metode Lamaze yang dikenal dengan metode profilaksis mengajarkan ibu yang
bersalin untuk berespon terhadap kontraksi rahim buatan dengan mengendalikan
relaksasi otot dan pernafasan sebagai ganti berteriak dan kehilangan kendali.
Metode ini juga mengajarkan ibu memusatkan perhatian pada titik tertentu agar
persepsi saraf terisi oleh stimulus lain. Metode Bradley menekankan pada faktor
lingkungan yang nyaman saat ibu bersalin. Ibu bersalin juga diajarkan tehnik
kontrol pernafasan,

pernafasan perut dan relaksasi seluruh tubuh di dalam

ruangan yang gelap, sendiri dan suasana tenang.


Terapi yang digunakan yakni dengan tanpa menggunakan obat-obatan, tetapi
dengan memberikan berbagai teknik yang setidaknya dapat sedikit mengurangi
rasa nyeri saat persalinan tiba. Beberapa hal yang dapat dilakukan ialah:
1) Napas Panjang
Saat nyeri timbul, tarik napas panjang melalui hidung. Boleh dihitung hingga
hitungan ke-10 lalu keluarkan/tiupkan udara secara perlahan-lahan lewat
mulut. Lakukan ini tiap kali nyeri timbul.
Prosedur pelaksanaan :
a) Ibu dalam keadaan sipa menerima latihan nafas panjang
b) Bidan menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan
c)

Posisi ibu dipilih senyaman mungkin dengan posisi setengah duduk di


tempat tidur, atau di kursi atau dengan lying position (posisi berbaring) di
tempat tidur dengan satu bantal

d) Meminta ibu meletakkan satu tangan di dada dan satu tangan di abdomen

e) Melatih ibu melakukan pernafasan perut dengan cara menarik nafas dalam
melalui hidung hingga 3 hitungan, jaga mulut tetap tertutup
f) Meminta ibu merasakan mengembangnya abdomen (cegah lengkung pada
punggung)
g) Meminta ibu menahan nafas hingga 3 hitungan
h) Meminta ibu menghembuskan nafas perlahan dalam 3 hitungan melalui
bibir seperti meniup
i) Meminta ibu merasakan mengempisnya abdomen dan kontraksi otot.
Hitung sampai 7 selama ekspirasi
j) Jelaskan kepada ibu untuk melakukan latihan nafas panjang bila
merasakan nyeri
2) Usapan Pada Perut
Pada posisi berbaring kepala ditinggikan dengan 1-2 bantal santai, usapusaplah perut dengan kedua tangan sejajar pinggang secara lembut.
3) Masage Pada Punggung (pengurutan)
Pada posisi tidur miring, lakukan pengurutan pada daerah punggung pada saat
rasa nyeri semakin meningkat. Pijatan atau sentuhan pada area tertentu
ternyata dapat mengurangi rasa nyeri.
4) Mengosongkan Kandung Kemih
Jangan menahan berkemih, segera buang air kecil setiap anda terasa ingin
sehingga akan dapat mengurangi timbulnya rasa nyeri yang semakin
meningkat.

5) Imaging Guide
Teknik mi dengan mengarahkan sang ibu membayangkan sesuatu yang dapat
membuatnya nyaman. Misalnya, ajak dia membayangkan sesuatu tempat yang
memberikan dirinya tenang.
6) Terapi Musik
Hal mi ditujukan bagi anda yang memang suka dengan yang namanya
mendengarkan alunan lagu.
b. Terapi Non Farmakologis
Terapi mi dokter yang bertindak untuk mengatasinya. Berbagai obat disuntikkan
ke ibu, baik itu anestesi umum yang disuntikkan epidural, spinal, maupun sekedar
regional.
5. Teknik Masage Punggung
a. Letakkan tangan anda pada punggung, dengan jari-jari mengarah ke tulang
belakang
b. Gunakan ibu jari untuk menekan atau memijat titik-titik tekanan dalam pola
melingkar kecil
c. Lakukan masage dengan menggunakan telapak tangan dan ujung-ujung jari ke
atas dan ke bawah secara teratur
d. Pada saat kontraksi bertambah sering, lakukan penekanan dengan menggunakan
telapak tangan atau ujung-ujung jari ke atas dan ke bawah dan lakukan gerakan
memutar pada sacrum atau bisa berpindah pada tempat yang dirasakan sakit
(Sumarni, 2007).

6. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Nyeri Persalinan


a. Faktor fisiologis
1) Keadaan Umum
Kondisi fisik yang menurun seperti kelelahan dan malnutrisi dapat
meningkatkan rasa nyeri yang dirasakan. Dengan demikian dapat dikatakan di
dalam persalinan diperlukan kekuatan/ energi yang cukup besar karena jika
kelelahan dalam persalinan tidak akan cukup toleran dalam menghadapi rasa
nyeri yang timbul sehingga intensitas nyeri yang dirasakan semakin tinggi.
2) Usia
Ibu yang melahirkan pertama kali pada usia tua pada umumnya akan
mengalami persalinan yang lebih lama dan merasakan lebih nyeri
dibandingkan ibu yang masih muda. Sehingga dapat dikatakan pada primipara
dengan usia tua akan merasakan intensitas nyeri lebih tinggi.
3) Ukuran Janin
Dikatakan bahwa persalinan dengan ukuran janin yang lebih besar akan
menimbulkan rasa nyeri yang lebih kuat dan persalinan dengan ukuran janin
normal. Dapat disimpulkan bahwa semakin besar janin semakin lebar
diperlukan peregangan jalan lahir sehingga nyeri yang dirasakan semakin
kuat.
b. Faktor Psikologis
1) Takut dan Cemas

Cemas dapat mengakibatkan perubahan fisiologis seperti spasme otot dan


meningkatkan pengeluaran substansi penyebab nyeri, sehingga cemas dapat
meningkatkan intensitas nyeri yang dirasakan. Sementara rasa takut dalam
menghadapi persalinan akan menyebabkan timbulnya ketegangan dalam otot
polos dan pembuluh darah seperti kekuan leher rahim dan hipoksia rahim.
Dapat disimpulkan bahwa cemas dan takut selama persalinan dapat lebih
meningkatkan intensitas nyeri yang dirasakan.
2) Arti Nyeri Bagi Individu
Adalah persalinan seseorang terhadap nyeri yang dirasakan. Hal mi seperti
berbeda antara satu orang dengan yang lainnya karena nyeri merupakan
pengalaman yang sangat individual dan bersifat subyektif.
3) Kemampuan Kontrol Din
Diartikan sebagai suatu kepercayaan bahwa seseorang mempunyai sistem
control terhadap suatu permasalahan sehingga dapat mengendalikan din dan
dapat mengambil tindakan guna menghadapi masalah yang muncul
4) Percaya Din
Adalah keyakinan pada din seseorang bahwa ia akan mampu menghadapi
suatu permasalahan dengan suatu tindakan/ perilaku yang akan dilakukan. Jika
ibu percaya din, ia dapat melakukan sesuatu untuk mengontrol persalinan
maka ia akan memerlukan upaya minimal untuk mengurangi nyeri yang
dirasakan. Percaya din yang tinggi dapat menghadapi rasa nyeri yang timbul

selama persalinan dan mampu mengurangi intensitas nyeri yang dirasakan


(Vina dan Vani, 2008).