Anda di halaman 1dari 5

TUGAS ILMU SOSIAL DAN BUDAYA

Oleh :
Frederika Angeli Elvita
Angelina Serlin

(1309005072)
(1309005144)

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR 2015
Poststrukturalisme

Berdasarkan namanya, post-strukturalisme dibangun diatas gagasan


strukturalisme, namun bergerak keluar dan menciptakan mode berpikirnya
sendiri. pos-strukturalisme tidak melihat adanya kestabilan dan universalitas
makna dalam Bahasa. Sebagaimana istilahnya post-sturkturalisme adalah bentuk
perlawanan pada Strukturalisme. Beberapa berpendapat bahwa istilah "poststrukturalisme" muncul di Anglo-Amerika sebagai alat pengelompokan bersama
filsuf yang menolak metode dan asumsi - asumsi filsafat analitis. Meskipun ide ide tersebut umumnya hanya berhubungan dengan metafisik (misalnya,
metanarasi kemajuan sejarah, seperti orang - orang dari materialisme dialektik),
banyak komentator mengkritik gerakan ini sebagai relativis dan nihilis.
Post-strukturalisme dalam kesusasteraan Strukturalisme dibangun atas
prinsip saussure, bahwa bahasa sebagai sebuah sistem tanda harus dilihat ke
dalam tahapan tunggal sementara (single temporal plane). Aspek diakronis
bahasa, yakni bagaimana bahasa berkembang dan berubah dari masa ke masa,
dilihat sebagai bagian yang kurang penting. Dalam pemikiran post strukturalis,
berpikir sementara menjadi hal yang utama. Post-strukturalis berpendapat bahwa
konsep "diri" sebagai entitas yang terpisah, tunggal, dan koheren membangun
fiksi. Sebaliknya, individu terdiri dari ketegangan antara klaim-klaim pengetahuan
yang saling bertentangan (misalnya jenis kelamin, ras, kelas, profesi, dll).
Post-strukturalisme adalah sebutan kepada sekian banyak kaum intelektual
Perancis yang terkenal sekitar tahun 1960-an sampai dengan 1970-an, yang
menkritisi analisa struturalis yang mendominasi Perancis pada saat itu. Tokoh tokohnya antara lain Jacques Derrida, Michel Foucault, Gilles Deleuze, Judith
Butler dan Julia Kristeva.
Postfeminisme
Secara sederhana istilah postfeminisme bisa dipahami sebagai suatu
perjumpaan kritis dengan patriarki (Brooks, 2009). Artinya postfeminisme
menempati posisi kritis dalam memandang kerangka feminisme sebelumnya.
Postfeminisme menantang asumsi-asumsi hegemonik yang dipegang oleh
epistemologi feminisme sebelumnya yang menyatakan bahwa penindasan

patriarki dan imperialis adalah pengalaman penindasan yang universal (Brooks,


2009). Di dalam prosesnya, postfeminisme memfasilitasi konsepsi pluralistik,
memusatkan perhatiannya pada tuntutan dari budaya yang dimarjinalkan, diaspora
dan yang terkoloni bagi suatu feminisme nonhegemonik yang mampu
memberikan suaranya pada feminisme lokal, pribumi dan poskolonial (Brooks,
2009).
Seperti telah dijelaskan sebelumnya, postfeminisme merupakan suatu
pemikiran dan gerakan yang berada pada posisi kritis terhadap gerakan feminis
sebelumnya.

Postfeminisme

menganggap

kerangka

teoretis

dan

praktik

perjuangan gerakan feminis sebelumnya sebagai tidak tepat dan problematik.


Banyak

asumsi-asumsi

feminisme

yang

coba

ditentang

dan

dikritik.

Postfeminisme menekankan pergeseran asumsi dasar gerakan feminis dari


persamaan ke dalam perbedaan. Posfeminisme menentang asumsi dasar
feminisme yang menyatakan bahwa penindasan perempuan bersifat universal
yang berarti setiap perempuan akan mengalami suatu kondisi penindasan yang
serupa di semua tempat diakibatkan oleh diskriminasi gender.
Postfeminisme menyatakan bahwa identitas ras dan kelas menciptakan
perbedaan dalam kualitas hidup, status sosial dan gaya hidup yang harus
diutamakan di atas pengalaman bersama perempuan pada umumnya (Hooks
dalam Brooks, 2009). Artinya perempuan kulit hitam akan mengalami situs
penindasan yang berbeda dibandingkan dengan perempuan kulit putih.
Perempuan kulit hitam selain mengalami penindasan disebabkan oleh
diskriminasi gender juga ia mengalami penindasan akibat diskriminasi ras. Inilah
yang diabaikan oleh feminisme.
Postdevelopmentalisme
Postdevelopmentalisme merupakan teori yang berbeda dari teori
pembangunan, karena memandang pembangunan itu bukan harus membuat
kehidupan ini menjadi lebih baik, tetapi perubahan secara horizontal pun dianggap
sebagai pembangunan seperti yang telah dicontohkan tersebut.Bagi negara - negara
berkembang postdevelopmentalisme cukup memberi angin segar, karena selama ini

sebagai negara berkembang tentunya lebih banyak dirugikan oleh negara-negara


maju, terutama ketika dibentuknya indikator seperti apa yang harus dicapai oleh
negara berkembang untuk menjadi maju, kemudian aliran ini juga menolak adanya
rekayasa sosial, yang merupakan sebuah metode dari negara-negara kapitalis untuk
menguasai

negara-negara

yang

sedang

berkembang. Sehingga

ada

sedikit

kemungkinan untuk mengaplikasikan teori ini pada negara berkembang, namun tidak
harus melupakan bagaimana peran internasional juga penting.
Pada negara berkembang tidak cukup banyak diperhatikan, karena pada
kenyataannya negara-negara berkembang pada saat ini pada umumnya akan
memilih salah satu metode yang diajukan oleh teori pembangunan yang dibawa
oleh negara-negara maju, sehingga dapat disimpulkan negara-negara berkembang
masih sangat besar ketergantungannya pada negara maju, baik dengan alasan
tergantung karena terpaksa atau memang atas dasar keinginan sendiri.
Postmodernisme
Postmodernisme adalah salah satu teori dalam studi hubungan
internasional yang merupakan sebuah teori yang memberikan penolakan terhadap
gagasan-gagasan besar yang ada dalam teori hubungan internasional, dimana
postmodernisme justru menjadi sebuah wadah atau trash can dari gagasangagasan non-mainstream yang ada. menurut pengertiannya postmodernisme
merupakan cara memahami kepercayaan menuju kebenaran yang bersifat relatif,
dimana menurut pemetaan filosofisnya postmodernisme berada diluar dari
asumsi-asumsi paradigma strukturalis ilmu pengetahuan. Menurut Jackson &
Sorensen (1999) postmodernisme adalah suatu paham yang menolak anggapan
tentang realita, kebenaran, dan pemikiran bahwa ada pengetahuan yang terus
meluas tentang dunia manusia. Adanya teori postmodernisme dalam studi
hubungan internasional dipelajari sebagai sebuah perlawanan atau pendobrak dari
pendekatan-pendekatan tradisional yang ada.

Sumber :

George Ritzer Douglas J. Goodman. Teori Sosiologi Modern. Kencana 2004.


George Ritzer. Modern Sociological Theory. Mc Graw Hill. 2008
Bryan S Turner. Teori-teori Sosiologi Modernitas-Posmodernitas. Yogyakarta.
Pustaka Pelajar 2000.
Chris Barker. Cultural Studies . Kreasi Wacana 2004.
.Bagong Suyanto dan M Khusna Amal (ed) Aditya Media 2010. Teori
Strukturalisme. Dalam Anatomi dan Perkembangan Ilmu Sosial.

http://socioloversui.blogspot.com/2012/06/post-strukturalisme.html

http://syaebani.blogspot.com/2009/08/posfeminisme.html
https://arifcintaselvia.wordpress.com/2011/06/14/rangkuman-dari-teori
pembangunan.html

http://adhitya.note.fisip.uns.ac.id/?p=15