Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA ANORGANIK

PERCOBAAN VIII
SINTESIS GAS HIDROGEN

NAMA
KELOMPOK/REGU
HARI/TANGGAL PERC.
ASISTEN

: SALMAWATI B.
(H311 12 009)
NINI ASTUTI ALWI
(H311 12 019)
SULTAN
(H311 12 268)
: IV (EMPAT)/VIII (DELAPAN)
: SELASA/1 APRIL 2014
: SARWINA HAFID

LABORATORIUM KIMIA ANORGANIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hidrogen adalah unsur paling melimpah dengan persentase kira-kira
75 % dari total massa unsur alam semesta. Senyawa hidrogen relatif langka dan
jarang dijumpai secara alami di bumi, dan biasanya dihasilkan secara industri dari
berbagai senyawa hidrokarbon seperti metana.
Ketika hidrogen dicampur dengan oksigen dalam berbagai perbandingan,
hidrogen meledak seketika disulut dengan api dan akan meledak sendiri pada
temperatur 560 C. Lidah api hasil pembakaran hidrogen dan oksigen murni
memancarkan gelombang ultraviolet dan hampir tidak terlihat dengan mata telanjang.
Oleh karena itu, sangatlah sulit mendeteksi terjadinya kebocoran hidrogen secara
visual. Karakteristik lainnya dari api hidrogen adalah nyala api cenderung
menghilang dengan cepat di udara, sehingga kerusakan akibat ledakan hidrogen lebih
ringan dari ledakan hidrokarbon.
Pada uji nyala, gas hidrogen menghasilkan api akan meletup, sesuai sifat
yang dimiliki gas hidrogen. Namun, jika api tidak meletup, gas hidrogen telah
bereaksi dengan oksigen yang membentuk uap air, sehingga yang membarakan bara
api bukan gas hidrogen melainkan uap air.
Beberapa cara dapat dilakukan untuk membuat gas hidrogen diantaranya
dengan menggunakan HCl untuk membentuk gas hidrogen dan melarutkan logam Zn
menjadi larutan Zn2+ dalam bentuk ZnCl2.
Berdasarkan teori di atas maka dilakukan percobaan untuk mengetahui
sintesis gas hidrogen dan cara identifikasinya.
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dilakukannya percobaan ini adalah untuk mengetahui dan


mempelajari cara membuat dan mengidentifikasi gas hidrogen.
1.2.2

Tujuan Percobaan
Tujuan dilakukannya percobaan ini adalah:

1.
2.

Membuat gas hidrogen dari reaksi logam dengan asam encer.


Mengidentifikasi gas hidrogen dengan uji nyala.

1.3 Prinsip Percobaan


Prinsip dilakukannya percobaan ini adalah mereaksikan serbuk Zn dengan
asam klorida 4 N untuk menghasilkan gas, gas yang terbentuk kemudian
diidentifikasi dengan uji nyala.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Hidrogen adalah zat yang menakjubkan. Hidrogen merupakan unsure yang


paling ringan dari semua gas. Hidrogen tidak memiliki rasa, bau atau warna. Atom
hidrogen adalah atom yang sederhana dan kecil dari semua atom. Namun, gas
hidrogen adalah unsur atau substansi yang paling sederhana di alam semesta
(Fandom, 2000).
Hampir semua materi di alam semesta adalah hidrogen. Hidrogen adalah
elemen pertama yang muncul, setelah alam semesta dimulai dengan "Big Bang" yaitu
pembentukan permukaan bumi pada alam semesta setelah terjadinya ledakan besar
pada alam semesta. Hidrogen adalah elemen yang sangat melimpah yaitu 90 % dari
semua atom di alam semesta. Sebagian besar 10 % sisanya dari semua atom adalah
atom helium (Fandom, 2000).
Hidrogen bukanlah unsur yang dominan di bumi hanya karena planet kita
begitu kecil dan hidrogen sangat ringan. Sebagian besar hidrogen di bumi telah
melayang ke luar angkasa. Meskipun demikian, hidrogen adalah unsur paling
melimpah kesembilan di kerak bumi (Fandom, 2000).
Hidrogen adalah unsur pertama dalam tabel periodik dengan nomor atom
satu. Ini berarti bahwa dalam inti, di pusat setiap atom hidrogen terdapat partikel
kecil tunggal yang disebut proton dan elektron yang mengelilingi inti dalam kulit
elektron (Fandom, 2000).
Hidrogen adalah unsur gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak
berasa. Hidrogen memiliki lambang H, nomor atom 1, bobot atom 1,0080, gas
ringan (1 liter pada 0 oC dan tekanan 760 mmHg beratnya 0,08988 gram),
titik cair -259 oC, titik didih -252,7 oC, dan susunan isotop yaitu 1 (99,984 %),
2 (0,0156 %). Hidrogen mudah meledak jika dicampur dengan udara atau
oksigen, terbakar dengan nyala biru yang panas. Hidrogen sedikit sekali larut dalam

air. Hidrogen dapat dicairkan pada suhu kritik -239,9

C. Zat kimia aktif

pada suhu tinggi, mempunyai daya gabung yang besar terhadap oksigen, karena
itu merupakan alat pereduksikan. Hidrogen membentuk banyak senyawa penting
(Ikapi, 1973).
Hidrogen ditemukan (1932) oleh H. C. Urey dan G. M. Muphey. Deterium
(deuterium) ialah isotop hidrogen dengan nomor massa atom 2. Isotop hidrogen
terdapat dalam kategori ringan (biasa disebut hidrogen ringan) dan berat (biasa
disebut hidrogen berat) yang ditunjukkan oleh sifat kimiawi, massa serta titik
didihnya. Senyawa yang mengandung isotop tersebut bergantung pada derajat
kepekatan masing-masing isotop. Air yang molekulnya terdiri dari dua atom deterium
dan satu atom oksigen, dinamakan air berat. Inti hidrogen berat disebut deteron
(deuteron). Isotop hidrogen yang lain yang lebih berat dengan nomor
massa 3 dan radio aktif sehingga disebut tririum. Penting sekali untuk peledakan bom
hidrogen (Ikapi, 1973).
Hidrogenasi atau penghidron ialah reaksi antara hidrogen (H 2) dengan zat
lain. Proses hidrogenasi dilakukan secara luas sekali dalam bidang industri, misalnya
pembuatan amoniak, proses Fischee-Tropsch, pembuatan metanol, pengerasan lemak
dan lain-lain. Hidrogenasi biasanya dilakukan dengan memakai katalis, misalnya
untuk sintesa amoniak dipakai katalis oksida besi, untuk pengerasan lemak, nikel dan
seterusnya. Hidrogenasi terjadi dalam reaksi eksoterm. Hidrogenasi dibuat dengan
cara elektrosa air, dari air gas, dari reaksi gas bumi dengan uap air dan lain-lain
(Ikapi, 1973).
Hidrogen merupakan unsur paling melimpah di alam semesta dan nomor
tiga terbanyak di permukaan bumi. Tetapi gas hidrogen murni hampir tidak ada di
permukaan bumi, karena gas hidrogen bereaksi dengan unsur lain membentuk

persenyawaan yang lebih stabil. Kelimpahan persenyawaan hidrogen dalam bentuk


air dan bahan bakar fosil, relatif tidak terbatas jumlahnya. Karena hidrogen murni
hampir tidak ada, maka hidrogen tidak bisa disebut sebagai sumber energi, tetapi
sebagai energy carrier seperti halnya dengan listrik. Energy carrier merupakan
media yang praktis untuk menyimpan, mentransfer, maupun menggunakan energi.
Sebagai energy carrier, hidrogen harus mudah disimpan, mudah digunakan dan
mudah dikonversi menjadi berbagai bentuk energi (Samily dan Finahari, 2008).
Hidrogen alam tidak terdapat di permukaan bumi, sehingga hidrogen harus
dibuat. Pada prinsipnya, hidrogen bisa diperoleh dengan memecah senyawa yang
paling banyak mengandung unsur hidrogen (Samily dan Finahari, 2008).
Hidrogen diperkirakan akan menjadi pemasok energi utama untuk
pembangkit listrik sebagai sel bahan bakar, sebagai bahan bakar mesin kendaraan dan
untuk penggunaan-penggunaan lainnya di abad ke-21 karena ramah lingkungan dan
kemudahannya dikonversi menjadi energi. Hidrogen adalah salah satu energi
alternatif yang ramah lingkungan untuk menggantikan bahan bakar fosil tetapi
produksi hidrogen dewasa ini masih menggunakan bahan bakar tersebut sebagai
bahan baku dan sumber energi pemrosesan. Sebagai pengganti bahan bakar fosil
digunakan air sebagai bahan baku utama dalam produksi hidrogen. Pembuatan
hidrogen dapat dilakukan melalui proses elektrolisis ataupun termokimia. Produksi
hidrogen

dengan

proses

termokimia

menggunakan

siklus

iodium-sulfur,

menghasilkan efisiensi gas hidrogen lebih besar dibandingkan dengan proses


elektrolisis (Siswanti, 2009).
Gas hidrogen tidak dapat ditambang melainkan harus diproduksi. Alternatif
tersebut dapat dilakukan dengan melakukan proses elektrolisis menggunakan air
khususnya air laut. Produksi gas hidrogen dari NaCl merupakan cara yang

dapat dilakukan untuk mendapatkan gas hidrogen. Gas hidrogen yang tinggi
memberikan tingkat emisi yang mendekati zero emission (Andewi dan Hadi, 2009).
Sintesis hidrogen dari hidrokarbon cair menarik untuk dikembangkan karena
dapat menjadi alternatif yang praktis untuk memasok hidrogen pada sel bahan bakar.
Sintesis hidrogen dari metanol dapat dilakukan melalui reaksi

reformasi kukus

metanol yang merupakan reaksi terkatalisis antara metanol dan

air

dalam fasa gas (Marsih dkk., 2006).


Zink adalah logam yang putih kebiruan. Logam ini cukup mudah
ditempa dan liat pada 110-150 oC. Zink melebur pada pada suhu 410 oC dan
mendidih pada 906 oC. Logamnya yang murni, melarut lambat sekali dalam
asam dan dalam alkali. Adanya zat-zat pencemar atau kontak dengan platinum
atau tembaga, yang dihasilkan oleh penambahan beberapa tetes larutan garam
dari logam-logam ini, mempercepat reaksi. Ini menjelaskan larutnya zink-zink
komersial. Yang terakhir ini dengan mudah larut dalam asam klorida encer dan
asam sulfat encer dengan mengeluarkan hidrogen (Svehla, 1985).
Zn + 2H+
Zink

dapat

juga

Zn2+ + H2

larut

dalam

hidroksida

alkali,

terbentuk

tetrahidroksozinkat(II) (Svehla, 1985):


Zn + 2OH- + 2H2O
Karakterisasi dilakukan

terhadap

[Zn(OH)4]2- + H2
katalis ZnO dengan bahan dasar

penyusun adalah ZnO (zink oksida). Katalis ini digunakan dalam reaksi steam
reforming metanol menghasilkan gas hidrogen (H2) (Husin dan Syamsuddin, 2010).
BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan


Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah asam klorida 4 N,
serbuk logam Zn, korek api, sabun cair dan tissue roll.
3.2 Alat percobaan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet
tetes, neraca analitik, sendok tanduk, gelas kimia 100 mL, balon, label, karet gelang
dan sikat tabung.
3.3 Prosedur Percobaan
Serbuk logam Zn ditimbang sebanyak 0,5 gram dan dimasukkan dalam
tabung reaksi kemudian ditambahkan dengan 3 mL HCl 4 N. Serbuk Zn dan asam
klorida dapat bereaksi menghasilkan gas hidrogen. Tabung reaksi segera ditutup
dengan balon. Setelah volume gas terkumpul, dilakukan uji nyala pada gas hidrogen.
Sumber api didekatkan dengan mulut balon dan gas dikeluarkan dari balon secara
perlahan-lahan, nyala dari api semakin membesar.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan


Tabel 1. Pengamatan Sintesis Gas Hidrogen
No
1.

Logam
Serbuk Zn

Setelah penambahan HCl

Keterangan

Terbentuk gelembung gas

Bereaski

4.2 Reaksi
Zn (s) + 2HCl (l) ZnCl2 (aq) + H2 (g)
4.3 Pembahasan
Percobaan

sintesis

gas

hidrogen

dilakukan

pertama-tama

dengan

menimbang logam Zn sebanyak 0,50 gram, kemudian dimasukkan kedalam tabung


reaksi. Perlakuan selanjutnya yaitu dengan menambahkan larutan HCl 4 N sebanyak
3 mL, fungsi penambahan larutan HCl 4 N ini yaitu untuk melarutkan logam Zn dan
mengoksidasi logam Zn menjadi ion Zn2+ dan membentuk gas hidrogen.
Tabung reaksi yang berisi logam Zn dan HCl 4 N segera ditutup dengan balon
untuk menampung gas yang terbentuk dari hasil reaksi antara logam Zn dan HCl 4 N.
percobaan ini tidak melibatkan perlakuan pemanasan, jadi untuk mempercepat reaksi
maka dilakukan pengocokan tabung reaksi secara terus-menerus.
Proses pengocokan dapat dihentikan setelah gas yang terbentuk sudah
mengembangkan balon selanjutnya, balon dilepaskan dari tabung reaksi dengan
hati-hati tujuannya agar gas yang tertampung didalam balon tidak lepas ke udara.
Selanjutnya, dilakukan uji nyala pada gas yang tertampung dengan mendekatkan
sumber api ke mulut balon dan gas yang berada dalam balon dikeluar secara

hati-hati, pada saat gas dikeluarkan di dekat sumber api terdengar suara letupan, ini
menandakan bahwa gas yang terbentuk adalah gas hidrogen.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil percobaan, dapat di simpulkan bahwa:
1. Reaski logam (serbuk logam Zn) dengan asam encer (HCl) menghasilkan
hidrogen.
2. Uji nyala gas menghasilkan letupan atau api semakin membesar. Gas yang
terbentuk adalah hidrogen.
5.2 Saran
5.2.1 Saran untuk Percobaan
Bahan yang digunakan tidak dalam bentuk serbuk melainkan padatan
sehingga praktikan harus menghaluskan terlebih dahulu padatan tersebut sebelum
ditimbang.
5.2.2 Saran untuk Laboratorium
Alat yang digunakan pada paraktikum sebaiknya diperiksa terlebih dahulu
agar praktikum berjalan dengan lancar.

DAFTAR PUSTAKA

Andewi, N.M.Y.A. dan Hadi, W., 2009, Produksi Gas Hidrogen Melalui Proses
Elektrolisis Air Sebagai Sumber Energi, Jurnal Teknologi, 1(3): 1-16.
Fandom, J., 2000, The Elements Hydrogen, Marshall Cavendish Corporation,
New York.
Husin, H. dan Syamsuddin, Y., 2010, Pembuatan Katalis Cu/Zn/Al 2O3 untuk Proses
Steam Reforming Metanol menjadi Hidrogen sebagai Bahan Bakar
alternatif, Jurnal Rekayasa Kimia dan Lingkungan, 7(3): 9-104.
Ikapi, 1973, Ensiklipedia Umum, Kanisius, Yogyakarta.
Marsih, I.N., Firmansyah, D.A., Onggo, D., dan Markertiharta, I.G.B.N., 2006,
Sintesis Gas Hidrogen dari Metanol dengan Katalis Cu/Zn/Al2O3, Jurnal
Kimia Indonesia, 1(1): 13-16.
Samily, D.H. dan Finahari, I.N., 2008, Perbandingan Produksi Hidrogen dengan
Energi Nuklir Proses Elektrolisis dan Steam Reforming, Jurnal Teknologi,
1(1): 175-180.
Siswanti, H.W., 2009, Produksi Hidrogen Sebagai Bahan Bakar Alternatif dengan
Sistem Elektrolisis dan Termokimia: Review, Jurnal Kimia Industri,
2(4): 1-6.
Svehla, G., 1979, Vogel Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro
dan Semimikro, Edisi Kelima, diterjemahkan oleh Setiono, L. dan
Pudjaatmaja, A.H, 1985, Kalman Media Pustaka, Jakarta.

LEMBAR PENGESAHAN

Makassar, 24 April 2014


Asisten

SARWINA HAFID

Praktikan

SALMAWATI B.
Lampiran I

NINI ASTUTI ALWI

SULTAN

Bagan Kerja
Serbuk Zn

Dimasukkan ke dalam tabung reaksi sebanyak 0,5 gram


Di tambahkan 3 mL HCl 4 N setetes demi setetes
Tabung reaksi segera ditutup dengan balon untuk menampung gas yang
terbentuk
Balon yang berisi gas dilepaskan dari tabung reaksi

Diuji nyala
Gas Hidrogen
Apabila terjadi letupan atau api semakin membesar maka gas yang
terbentuk adalah gas hidrogen
Hasil

Lampiran II
Foto Pengamatan

Gambar 1. Serbuk logam Zn pada


Tabung reaski

Gambar 2. Serbuk logam Zn


setelah ditambahkan HCl

Gambar 3. Gas hidroge yang


ditampung dalam balon

Gambar 4. Uji nyala gas hidrogen