Anda di halaman 1dari 10

Sistem budi daya surjan (atau sistem surjan saja) adalah salah satu sistem pertanaman

campuran yang dicirikan oleh perbedaan tinggi permukaan bidang tanam pada suatu luasan
lahan. Perbedaan ketinggian ini minimal 50 cm. Dalam bahasa Inggris, sistem ini disamakan
dengan alternating bed system. Bidang tanam ini dibuat memanjang sehingga dari atas akan
tampak seperti garis-garis (strip) berselang-seling, karena masing-masing bidang tanam yang
berbeda tingginya ditanami oleh komoditi tanam yang berbeda. Dari bentuk garis-garis inilah
nama "surjan" dipakai, karena mirip dengan pola strip pada pakaian tradisional
berbahan lurik dari Yogya, surjan.
Dalam sistem surjan, bidang yang rendah disebut "lembah" dan yang tinggi disebut "bukit".
Lembah biasanya ditanami padi pada musim hujan. Pada musim kemarau, lembah
ditanami palawija untuk memanfaatkan sisa kelembaban air yang tersisa. Bagian bukit dapat
ditanami bermacam-macam komoditi, biasanya palawija atau rumput pakan ternak. Di beberapa
tempat di Jawa yang memiliki lahan sawah, bagian bukit ditanami pohon buah-buahan,
seperti mangga atau jeruk. Pada tempat-tempat yang sering mengalami surplus air pada musim
penghujan, bagian lembah digunakan sebagai pengontrol kelebihan air, menjadi penampung
kelebihan air. Tanaman yang tumbuh di bagian bukit akan selamat dari genangan air yang tinggi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_budi_daya_surjan

2.3

Pengertian Sistem Surjan

Sistem budidaya surjan adalah salah satu sistem pertanaman campuran yang
dicirikan oleh perbedaan tinggi permukaan bidang tanam pada suatu luasan
lahan (....). Perbedaan ketinggian ini minimal 50 cm.
Dalam bahasa Inggris, sistem ini disamakan dengan alternating bed system.
Bidang tanam ini dibuat memanjang sehingga dari atas akan tampak seperti
garis berselang-seling, karena masing-masing bidang tanam yang berbeda
tingginya ditanami oleh komoditi tanam yang berbeda. Dari bentuk garis-garis
inilah nama surjan dipakai. Hal ini dikarenakan mirip dengan pola strip pada
pakaian tradisional berbahan lurik dari Yogya.
Dalam sistem surjan, bidang yang rendah disebut lembah dan yang tinggi
disebut bukit. Lembah biasanya ditanami padi pada musim hujan. Pada musim
kemarau, lembah ditanami palawija. Hal ini brtujuan untuk memanfaatkan sisa
kelembaban air yang tersisa. Bagian bukit dapat ditanami bermacam-macam
komoditi, biasanya palawija atau rumput pakan ternak.
Di beberapa tempat di Jawa yang memiliki lahan sawah, bagian bukit ditanami
pohon buah-buahan, seperti mangga atau jeruk. Pada tempat-tempat yang
sering mengalami surplus air pada musim penghujan, bagian lembah digunakan
sebagai pengontrol kelebihan air, menjadi penampung kelebihan air. Tanaman
yang tumbuh di bagian bukit akan selamat dari genangan air yang tinggi.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Sistem Surjan


2.5 Penerapan Multiple Cropping pada Sistem Surjan

BAB 3. PEMBAHASAN

Penataan lahan perlu dilakukan untuk membuat lahan tersebut sesuai dengan
kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan. Dalam melakukan penataan
lahan perlu diperhatikan hubungan antara tipologi lahan, tipe luapan, dan pola
pemanfaatannya. Penataan lahan erat hubungannya dengan sistem petanian
yang akan digunakan. Hal itu dikarekan apabila sistem pertaniannya sesuai
dengan keadaan lingkungan, maka akan memberikan dampak yang posistif,
terutama pada tingkat produktivitas dan jumlah produksi.
Sistem pertanian yang telah diterapkan masyarakat cukup banyak dan telah
disesuaikan dengan keadaan lingkungan masing-masing daerah. Salah satunya
ialah sistem pertanian surjan. Sistem surjan adalah salah satu contoh usaha
penataan lahan untuk melakukan diversifikasi tanaman di dataran rendah seperti
lahan rawa. Berdasarkan sistem pembuatan, surjan dapat dibagi menjadi dua
cara pembuatan yaitu :
1.

Yang dibuat sekaligus

2.

Yang dibuat secara bertahap (tukungan).

Dalam pembuatan sitem pertanian surjan diperlukan tenaga kerja yang banyak,
sehingga juga memerlukan biaya yang besar. Oleh karena itu, petani tradisional
banyak memilih cara bertahap dengan membuat tukungan atau gundukan.
Dengan dimensi awal lebar bawah 2-3 m, tinggi 0,5-0,6 m dan setiap musim
panen dilebarkan dan ditinggikan. Apabila tanaman yang dibudidayakan cukup
besar, maka tukungan ini dihubungkan atau tersambung memanjang satu sama
lain membentuk surjan.

Pembuatan sistem pertanian surjan juga disesuaikan dengan jenis tanah yang
ada. Untuk tanah sulfat masam, potensial pengolahan tanah dan pembuatan
surjan sebaiknya dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Guludan dibuat secara
bertahap dan tanahnya diambil dari lapisan atas yang dimaksudkan untuk
menghindari oksidasi pirit. Untuk tanah gambut, tekstur lapisan tanah
dibawahnya sangat menentukan dalam pola pemanfaatan lahannya. Arah surjan
disarankan memanjang timur-barat agar tanaman (padi) pada bagian tabukan
mendapat penyinaran matahari yang cukup. Untuk mempertahankan bentuk dan
produktivitasnya, surjan setiap musim atau setiap tahun dilibur atau disiram
lumpur yang diambil dari sekitarnya.
Penerapan sistem surjan umumnya dilakukan di lahan rawa. Dalam upaya untuk
meningkatkan daya guna lahan rawa, dapat dikembangkan dengan tanaman
padi dan non padi (multiple croping). Tanaman padi yang dimaksid ialah padi
sawah yang di tumpang sari dengan tanaman jagung. Tanaman padi dapat
ditanam di areal sawah, sedangkan tanaman jagung dapat ditanam di lahan
keringnya. Prinsip pengelolaan seperti ini disebut dengan pengelolaan multiple
cropping pada sistem pertanian surjan di lahan rawa.
Menurut Anwarhan (1986), tujuan dari penerapan multiple cropping antara
tanaman padi dan jagung dengan sistem surjan di lahan rawa adalah sebagai
berikut :
1.

Untuk diversifikasi tanaman

2.

Menjaga agar tanah tidak menjadi asam

3.

Mengurangi bahaya kekeringan

4.

Mengurangi keracunan akibat genangan

5.

Mengurangi resiko kegagalan dalam budidaya

6. Meningkatkan pendapatan petani melalui penanaman secara multiple


cropping

A.

Pengelolaan Lahan Rawa dengan Sistem Surjan

Sistem pertanian surjan merupakan suatu cara pengelolaan tanah dan air yang
disesuaikan dengan kondisi alam setempat. Namun, yang perlu diperhatikan
dalam sistem tersebut adalah penerapan pola tanam tumpang sari (multi
croping) yang berkelanjutan dan produktif dalam waktu lama, sehingga mampu
memenuhi kebutuhan generasi masa depan. Dengan penerapan sistem surjan,
maka lahan akan menjadi lebih produktif dengan menghasilkan produk yang
beragam. Hal tersebut dikarenakan pada lahan surjan akan tersedia dua tatanan
lahan, yaitu : (1) lahan tabukan yang tergenang untuk menanam padi, (2) lahan
guludan sebagai lahan kering untuk tanaman jagung.

Penerapan sistem surjan di daerah dataran rendah berupa rawa, dalam


pengelolaannya perlu dilakukan dengan cermat sesuai dengan prinsip
pengelolaan yang tepat. Hal tersebut dikarenakan tiap kondisi lahan yang
memiliki berbagai kendala agrofisik. Genangan air di lahan dataran rendah dapat
dibedakan yang dipengaruhi oleh air pasang dan yang hanya dipengaruhi oleh
curah hujan. Sehingga, karena pengaruhnya berbeda, maka akan sedikit berbeda
pula dalam penerapannya.
Surjan merupakan sistem berbentuk lajur-lajur yang terdiri atas tanah tinggi
sebagai bedengan atau guludan, yang berselang-seling dengan tanah rendah
sebagai tabukan atau parit saluran. Penampang melintang berbentuk trapesium
atau empat pesegi panjang yang tergantung macam tanah yang membentuknya
dan dinyatakan dalam kemiringan. Ada dua macam cara untuk menentukan
jarak antar parit surjan. Cara pertama, surjan dipandang sebagai lahan dengan
irigasi parit (furrow irrigation) dan cara kedua guludan surjan sebagai lahan budi
daya tanaman, dikelola secara intensif dengan dukungan kecukupan air
sepanjang hari.
Dalam penerapan sistem pertanian surjan, surjan bagian bawah atau tabukan
mempunyai ukuran lebih lebar dari parit surjan sempit. Ukuran bagian bawah
antara lain 5-15 m, 12-14 m atau 10-20 m dan lajur ini dialokasikan untuk
ditanami padi sawah. Sedangkan bagian atas dengan ukuran dari 3-6 m dan
tinggi guludan yakni 0,6 m. Lajur ini ditanami tanaman jagung atau tanaman
lain, khususnya hortikultura guna menerapkan sistem multiple croping di lahan
rawa. Oleh karena itu, selain memanfaatkan lahan rawa yang dinilai marjinal,
tumpang sari dengan sistem surjan juga mampu memperbaiki ketahanan pangan
ke arah keberlanjutan.

B. Pengeloaan Irigasi dan Drainase pada Sistem Surjan


Prinsip pengelolaan sistem surjan dilahan rawa terutama harus mampu
mengelola sistem irigasi dan drainasenya. Hal ini dikarenakan lahan rawa
merupakan daerah dataran rendah yang memilki kelebihan air dalam jumlah
yang banyak , sehingga dibutuhkan saluran drainase guna mengoptimalkan
kebutuhan air tanaman. Di samping itu, persiapan pembuatan irigasi
dimaksudkan agar pemberian air ke petak lahan dapat dilaksanakan dengan
baik, terutama bagi guludan atau bagian atas. Sehingga, sistem irigasi dan
drainase sangat penting di lahan pertanian surjan, namun yang paling penting
ialah sistem drainasenya karena lahan rawa memiliki kelebihan air yang cukup
banyak.
Beberapa yang perlu diperhatikan dalam persiapan pembuatan irigasi dengan
sistem surjan dilahan rawa :
a. Jaringan yang terdiri dari bangunan dan saluran dipastikan berfungsi dengan
baik dengan pemeliharaan dan perbaikan seperlunya.

b. Untuk musim penghujan khususnya, saluran pembuangan atau drainase


harus benar-benar berfungsi dengan baik, dengan pemeliharaan dan perbaikan,
serta kelebihan air hujan dapat dibuang.
c. Kesiapan kegiatan operasi dan pemeliharaan yang dilkelola oleh organisasi
P3A, sesuai dengan kebutuhan dan pola tanam.
Rencana pemberian air di petak surjan dan tahapan pemeliharaan yang sesuai
dengan tingkatan teknis pembagian dan pemberian air, dibedakan atas tiga
macam, yakni :
a. Jaringan sederhana atau belum teknis. Jenis ini belum ada bangunan tersier,
saluran pembawa dan pembuang belum terpisah. Setiap sawah dapat
mengambil air langsung dari saluran tersier. Air dapat dialirkan ke petak, dan
kelebihan air dapat dibuang.
b. Jaringan semiteknis. Jenis ini telah memiliki bangunan tersier, saluran
pembawa dan pembuang sudah terpisah. Sekelompok sawah mempunyai satu
tempat pengambilan di saluran tersier, air dapat diatur namun belum dapat
diukur.
c. Jaringan teknis. Jenis ini bangunan tersier sudah ada, saluran pembawa dan
pembuang sudah terpisah, dapat untuk rotasi baik antar sub tersier atau antar
petak kuarter, air dapat diatur dan diukur.

C. Pengaturan Pola Tanam pada Sistem Surjan


Dalam melakukan budidaya, perlu adanya penyusunan pola pertanaman pada
satu petak lahan dalam siklus satu tahun dan pelaksanaan masa tanam musim
penghujan atau kemarau. Hal ini ditetapkan dengan jadwal tanam sesuai dengan
program jaringan utama. Sistem surjan berkembang di daerah irigasi di tempattempat tertentu sesuai dengan kondisi setempat yang mendukung, misalnya
penanaman jagung dengan irigasi sederhana, semiteknis maupun teknis.
Tanaman jagung ini dibudidayakan di musim kemarau dengan sistem surjan
sempit, sedangkan penanaman padi dilaksanakan di musim penghujan.

D. Penanaman dengan Multiple Cropping pada Sistem Surjan


Rencana diversifikasi tanaman pada surjan lebar dilakukan dengan sistem
multiple cropping dengan cara tumpang sari di areal lahan. Pada areal tabukan
yang tergenang digunakan untuk penanaman tanaman padi. Hal ini dikarenakan
tanaman padi memerlukan banyak air. Sedangkan pada areal guludan yang
kering ditanam tanaman jagung. Ini dikarenakan tanaman jagung tidak
memerlukan banyak air. Pada surjan sempit dengan program tanam palawija
atau sayuran di guludan dapat ditanam dengan intensitas tanam sesuai dengan
kebiasaan dan kondisi setempat. Pada guludan dapat pula ditanam tanaman
industri seperti kopi, jahe yang ditumpang sarikan dengan palawija atau sayuran.

E.

Pelaksanaan Sistem Surjan di Lahan Rawa/lebak

Lahan rawa semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan


swasembada beras dan mencapai swasembada bahan pangan lainnya. Hal ini
mengingat semakin berkurangnya lahan subur untuk area pertanian di Pulau
Jawa akibat alih fungsi lahan ke perumahan dan keperluan non pertanian lainnya.
Potensi lahan rawa di Indonesia mencapai 14 juta hektar, terdiri dari rawa
dangkal seluas 4.166.000 ha, rawa tengahan seluas 6.076.000 ha, dan rawa
dalam seluas 3.039.000 ha (Adhi, et al., dalam Rafieq, 2004). Sebagian lahan
rawa ini belum dimanfaatkan untuk usaha pertanian sehingga potensi
pengembangannya masih sangat besar.
Rawa adalah wilayah daratan yang mempunyai genangan hampir sepanjang
tahun, minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50 cm. Rawa
yang dimanfaatkan atau dibudidayakan untuk pengembangan pertanian,
termasuk perikanan dan peternakan disebut lahan rawa lebak. Rawa yang
sepanjang tahun tergenang atau dibiarkan alamiah disebut rawa monoton,
sedangkan jika kedudukannya menjorok masuk jauh dari muara laut/sungai
besar disebut rawa pedalaman. Atau dapat juga diartikan dengan sawah
rendahan yang tergenang secara periodik sekurang-kurangnya tiga sampai enam
bulan secara kumulatif dalam setahun, dan dapat kering atau lembab tiga bulan
secara komulatif dalam setahun.
Rawa secara khusus diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk wilayah
berupa cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua
tanggul sungai (levee) atau antara dataran tinggi dengan tanggul sungai.
Bentang lahan rawa menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam
dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi sungai atau tanggul
semakin rendah genangannya. Pada musim hujan genangan air dapat mencapai
tinggiantara 4-7 meter, tetapi pada musim kemarau lahan dalam keadaan
kering, kecuali dasar atau wilayah paling bawah. Pada musim kemarau muka air
tanah di lahan rawa lebak dangkal dapatmencapai > 1 meter sehingga lebih
menyerupai lahan kering (upland).
Lahan rawa dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan antara
2.000-3.000mm per tahun dengan 6-7 bulan basah (bulan basah = bulan yang
mempunyai curah hujan bulanan> 200 mm) atau antara 3-4 bulan kering (bulan
kering = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan.
Potensi pertanian di lahan rawa cukup luas dan beragam. Watak dan ekologi
masing-masing lokasi dan tipologi lahan rawa merupakan faktor penentu dalam
penyusunan pola tanamdan jenis komoditas yang dibudidayakan. Pola tanam
dan jenis komoditas yang dikembangkan dilahan rawa dapat didasarkan pada
tipologi lahan.
Lahan rawa sebagian besar dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya padi
yang dapat dipilah dalam pola (1) padi sawah timur (sawah rintak) dan (2) padi

sawah barat (sawah surung). Sawah timur pada musim hujan tergenang
sehingga hanya ditanami pada musim kemarau. Sawah timur ini umumnya
ditanami padi rintak, yaitu padi sawah irigasi yang berumur pendek (high
yielding variety) seperti varietas IR 42, IR 64, IR 66, cisokan, ciherang,
cisanggarung, mekongga, kapuas, lematang, margasari (tiga varietas terakhir
merupakan padi spesifik rawa pasang surut) dengan hasil rata-rata 4-5 ton per
hektar.
Lahan rawa mempunyai peran penting dalam upaya mempertahankan
swasembada beras dan mencapai swasembada pangan lainnya mengingat
semakin berkurangnya lahan subur untuk area pertanian. Kata lebak diambil dari
bahasa jawa yang berarti lembah atau tanah rendah. Rawa lebak secara khusus
diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk wilayah berupa cekungan dan
merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua tanggul sungai atau antara
dataran tinggi dengan tanggul sungai.
Pada musim hujan genangan air dapat mencapai tinggi antara 4-7 meter, tetapi
pada musim kemarau lahan dalam keadaan kering, kecuali dasar atau wilayah
paling bawah. Pada musim kemarau, muka air tanah di lahan rawa lebak dangkal
dapat mencapai kurang dari satu meter sehingga menyerupai lahan kering.
Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan
antara 2.000-3.000 mm per tahun denga 6-7 bulan basah (bulan basah adalah
bulanyang mempunyai curah hujan bulanan lebih dari 200 mm) atau antara 3-4
bulan kering (bulan kering adalah bulan yang mempunyai curah hujan bulanan
kurang dari 200 mm).

F. Sistem Pertanaman Multiple Cropping Padi Sawah dan Jagung dengan Sistem
Surjan di Lahan Rawa
Multiple cropping atau tumpang sari adalah penanaman beberapa jenis tanaman
dalam satu areal lahan secara bersama ataupun berurutan. Umumnya
penanaman tumpang sari dilaksanakan di lahan-lahan subur karena dinilai lebih
menguntungkan. Akan tetapi, karena luasan lahan-lahan subur semakin sedikit
akibat alih fungsi lahan, sehingga diperlukan suatu inovasi tumpang sari
tanaman di lahan-lahan marjinal, misalnya lahan rawa. Penerapannya dengan
sistem pertanian surjan.
Dalam sistem pertanian surjan di lahan rawa, yang terpenting dilakukan ialah
pengaturan drainase dan irigasinya. Hal itu dikarenakan lahan rawa memiliki
kelebihan air yang cukup banyak, sehingga pembuangan air harus dilakukan
secara kontinyu agar jumlah air sesuai dengan kebutuhan tanaman. Jumlah air
yang paling banyak ialah di daerah bagian bawah atau tabukan yang merupakan
tempat penanaman padi sawah. Walaupun padi sawah membutuhkan air yang
cukup banyak, namun bila berlebih akan berakibat buruk pada tanaman.
Sedangkan di bagian atas atau guludan merupakan tempat penanaman jagung
dan bagian tersebut tidak digenangi air. Sehingga, irigasi diutamakan pada
bagian atas atau guludan agar tanaman tidak kekurangan air.

Penerapan sistem surjan di lahan rawa merupakan suatu pemanfaatan lahan


marjinal, sehingga lahan tersebut mampu memberikan produk yang beragam
karena ditanami beberapa jenis tanaman. Dampak penerapan sistem tumpang
sari di lahan surjan ialah mampu mengangkat nilai ekonomi masyarakat dan
mampu mengatasi masalah pangan serta memperbaiki ketahanan pangan
nasional.

BAB 4. PENUTUP

Lahan rawa mempunyai potensi yang besar dan berpeluang besar bagi
pengembangan usaha pertanian sekaligus untuk peningkatan pendapatan
petani. Potensi dan peluang tersebut dapat di aktualisasikan dengan cara
melakukan kegiatan penataan lahan dan komoditas, berdasar karakteristiknya
yaitu dengan menerapkan sistem pertanaman multiple cropping dengan
menggunakan sistem surjan. Penataan lahan sistem surjan dengan multiple
cropping ini telah berkembang cukup pesat di lahan rawa seperti di Kalimanatan

Selatan. Hal ini dikarenakan selain dapat mendukung usaha pertanian


diversifikasi juga dapat meningkatkan pendapatan petani. Di sejumlah daerah
lainnya yang mempunyai lahan rawa, pada umumnya belum mempunyai
informasi detail tentang teknologi penataan lahan sistem surjan, sehingga usaha
pertaniannya masih bersifat monokultur dengan pendapatan yang masih relatif
rendah.
Penataan lahan perlu dilakukan untuk membuat lahan tersebut sesuai dengan
kebutuhan tanaman yang akan dikembangkan. Dalam melakukan penataan
lahan perlu diperhatikan hubungan antara tipologi lahan, tipe luapan, dan pola
pemanfaatannya. Sistem surjan adalah salah satu contoh usaha penataan lahan
untuk melakukan diversifikasi tanaman di lahan rawa. Berdasarkan sistem
pembuatan, surjan dapat dibagi menjadi dua cara pembuatan yaitu (1) yang
dibuat sekaligus, dan (2) yang dibuat secara bertahap (tukungan).
Sistem surjan merupakan suatu cara pengelolaan tanah dan air yang disesuaikan
dengan kondisi alam setempat. Namun yang perlu diperhatikan dalam
menggunakan system ini adalah penerapan pola tanam tumpang sari ( multi
croping ) yang berkelanjutan dan produktif dalam waktu lama. Dengan
penerapan system surjan, maka lahan akan menjadi lebih produktif karena pada
lahan tersebut akan tersedia dua tatanan lahan, yaitu : (1) lahan tabukan yang
tergenang (digunakan untuk menanam padi adatu digabungkan dengan
budidaya ikan) (2) lahan guludukan sebagai lahan kering(digunakan untuk
budidaya palawija, buah-buahan, tanaman tahunan/perkebunan).