Anda di halaman 1dari 9

DEMAM TYPHOID

Pendahuluan
Demam tifoid (severe enteric fever) merupakan infeksi demam sistemik akut yang
disebabkan oleh bakteri patogen enterik Salmonellae typhi dan harus dibedakan dengan
enteric fever oleh Salmonelosis lain (demam paratifoid, mild enteric fever), infeksi lokal
Salmonella typhii, occult bakteremiam infeksi salmonela asimtomatik, dan infeksi kronik..
Demam tifoid banyak ditemukan di negara-negara berkembang. Sumber infeksi S. typhi
umumnya manusia, baik orang sakit maupun orang sehat yang dapat menjadi pembawa
kuman. Infeksi umumnya disebarkan melalui jalur fekal-oral dan berhubungan dengan
higienis dan sanitasi yang buruk yaitu melalui makanan yang terkontaminasi kuman
yang berasal dari tinja, kemih atau pus yang positif. Penyebaran umumnya terjadi
melalui air atau kontak langsung. Penyebab yang terdekat kemungkinan adalah air (jalur
yang paling sering) atau makanan yang terkontaminasi oleh karier manusia.
Epidemiologi
Demam tifoid masih merupakan penyakit yang terdapat , baik secara endemik
maupun epidemik di berbagai negara. Besarnya angka pasti kasus demam tifoid di dunia
ini sangat sukar ditentukan, sebab penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan
spektrum klinisnya sangat luas.
Demam tifoid merupakan penyakit infeksi yang dijumpai secara meluas di daerah
tropis dan subtropis terutama di daerah dengan kualitas sumber air yang tidak memadai
dengan standard hygiene dan sanitasi yang rendah. Beberapa hal yang mempercepat
terjadinya penyebaran demam tifoid di negara sedang berkembang adalah urbanisasi,
kepadatan penduduk, sumber air minum dan standar hygiene industri pengolahan
makanan yang masih rendah.
Diperkirakan angka kejadian dari 150/100,000/tahun di Amerika Selatan dan
900/100,000/tahun di Asia. Umur penderita yang terkena di Indonesia (daerah endemis)
dilaporkan antara 3-19 tahun mencapai 91% kasus. Angka yang kurang lebih sama juga
dilaporkan dari Amerika Selatan.
World Health Organization (WHO) telah menganggarkan sebanyak 12.5 juta kasus
demeam tifoid terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia.
Etiologi
Demam tifoid adalah disebabkan oleh kuman Salmonella typhii yang merupakan
bagian dari genus Enterobacteriaceae. Salmonella merupakan organisme berbentuk
batang, gram negatif, yang motil, tidak berkapsul, dan tidak menghasilkan spora.
Sebagian

besar

strain

memfermentasi

glukosa,

mannosa,

dan

manitol

untuk

menghasilkan asam dan gas, namun mereka tidak memfermentasi laktosa dan sukrosa.
Salmonella tumbuh secara aerobik namun dapat pula tumbuh secara fakultatif anaerob.

Salmonella dapat tahan terhadap berbagai kondisi fisik, namun dapat mati dengan cara
memanaskan pada suhu 54C selama 1 jam atau pada suhu 60 selama 15 menit.
Mereka dapat tetap hidup pada lingkungan dengan suhu yang tidak terlalu tinggi untuk
beberapa hari dan dapat bertahan untuk beberapa minggu pada sistem pembuangan air,
makanan yang dikeringkan, dan feses manusia. Salmonella memiliki antigen somatik O
dan antigen H pada flagel. Antigen O merupakan komponen lipopolisakarida tahan panas
yang

terdapat

pada

membran

bagian

luar

sedangkan

antigen

merupakan

lipopolisakarida yang tidak tahan panas yang bisa ditemukan pada fase 1 maupun 2.

Transmisi
Salmonella typhi hanya dapat hidup di dalam tubuh manusia (manusia sebagai
natural resevoir). Manusia yang terinfeksi Salmonella typhi dapat mengeksresikannya
melalui sekret saluran nafas, urin dan tinja dalam jangka waktu yang sangat bervariasi.
Salmonella typhi yang berada diluar tubuh manusia dapat hidup untuk beberapa minggu
apabila berada di dalam air, es, debu atau kotoran yang kering maupun pada pakaian.
Akan tetapi S. typhi hanya dapat hidup kurang dari 1 minggu pada raw sewage, dan
mudah dimatikan dengan klorinasi dan pasteurisasi (suhu 63C).
Terjadi penularan S. typhi sebagian besar melalui minuman/makanan yang
tercemar oleh kuman yang berasal dari penderita/pembawa kuman, biasanya keluar
bersama-sama dengan tinja (melalui rute oral fekal = jalur oro-fekal). Karena manusia
merupakan satu-satunya natural resevoir S. typhi, diperlukan kontak secar direk maupun
indirek dengan penderita (sakit atau pembawa kronis) untuk terinfeksi.
Dapat juga terjadi transmisi secara transplasental dari seorang ibu hamil yang
berada dalam bakteremia kepada bayinya. Pernah dilaporkan juga terjadinya transmisi
oro-fekal dari seorang ibu pembawa kuman pada saat proses kelahirannya kepada
bayinya dan sumbernya berasal dari laborotarium penelitian.
Patogenesis & Patofisiologi

Perkembangan penyakit setelah terinfeksi oleh Salmonella bergantung pada jumlah


organisme yang menginfeksi, tingkat virulensi, dan pertahanan tubuh dari penjamu.
Salmonella yang masuk ke dalam tubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar
(105 109) dari mulut kemudian masuk ke dalam lambung. Di dalam lambung, asam
lambung merupakan perlindungan yang pertama. Tingkat keasaman dalam lambung
mencegah multiplikasi dari salmonella, dimana hampir sebagian besar bakteri dapat mati
pada pH <2.0. Pada kondisi achlorhydria, obat-obatan yang menetralkan asam lambng,
pengosongan

lambung

yang

terlalu

cepat

seperti

pada

gastrectomy

atau

gastroenterostomy, juga jumlah bakteri yang terlalu besar memungkinkan mereka untuk
mencapai usus halus. Pada neonatus dan anak yang usianya lebih kecil biasanya masih
pada

kondisi

hypochlorhydria

dan

pengosongan

lambung

yang

cepat,sehingga

meningkatkan risiko munculnya penyakit. Karena waktu transit minuman lebih singkat
dibanding makanan, pada penyebaran penyakit lewat air dengan jumlah bakteri yang
lebih sedikit sudah dapat menimbulkan penyakit. Setelah dari lambung kemudian bakteri
akan masuk ke dalam usus halus dan usus besar. Setelah bermultiplikasi di dalam lumen,
bakteri akan masuk melalui Peyer Patches yang terletak di bagian distal dari ileum dan
proximal dari colon (ileocecal junction). Proses masuknya bakteri tersebut meliputi
penempelan pada M cell kemudian dilanjutkan dengan proses endositosis, translokasi
sitoplasmik dari endosome yang terinfeksi ke membran basalis, dan pelepasan ke lamina
propria. Kemudian bakteri akan bermultiplikasi di dalam intestinal lymph nodes dan
selanjutnya dibawa ke mesenteric lymph node. Setelah itu bakteri akan menyebar ke
aliran darah melalui thoracic duct dan menyebabkan bakteremia yang pertama.
Organisme yang bersirkulasi dalam darah akhirnya mencapai sistem retikuloendothelial
di hati, spleen, sumsum tulang, dan ke organ lainnya. Kandung empedu merupakan salah
satu

organ

yang

dapat

terinfeksi,

multiplikasi

pada

dinding

kandung

empedu

memproduksi banyak bakteri yang masuk kembali ke dalam usus melalui empedu.
Setelah proliferasi di sistem retikuloendothelial kemudian akan masuk kembali ke aliran
adarah dan menimbulkan bakteremia ke dua.
Penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid adalah
disebabkan oleh endotoksin Salmonella typhi yang berperan pada patogenesis demam
tifoid karena Salmonella typhi membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan
tempat Salmonella typhi berkembang biak dan endotoksin Salmonella typhi merangsang
sintesis dan pelepasan zat pirogen oleh leukosit pada jaringan yang meradang.

Intestinal epithel
multiplication

Lamina propria

Plaque Peyeri

Primary
Bacteremia
Secondary
Bacteremia

Thoracic Duct
Target organ RES
(liver,
Other
organs
spleen,bone
(metastatic)
marrow)

Phagocytosis
Inflammation
response
Cytokin
(lokal,sistemik)

Manifestasi Klinis
Pada anak, periode inkubasi demam tifoid antara 3-30 dengan rata-rata antara 7-14
hari. Gejala klinis demam tifoid sangat bervariasi, dari gejala klinis ringan dan tidak
memerlukan perawatan khusus sampai dengan berat sehingga harus dirawat. Variasi
gejala ini disebabkan faktor galur Salmonella, status nutrisi dan imunologik pejamu,
jumlah inokulum, serta lama sakit. Gejala klinis juga bervariasi mengikut usia.
Semua pasien demam tifoid selalu menderita demam pada awal penyakit. Pada
era pemakaian antibiotik belum seperti pada saat ini, penampilan demam pada kasus
demam tifoid mempunyai istilah khusus yaitu step ladder temperature chart yang
ditandai dengan demam timbul insidius, kemudian naik secara bertahap setiap harinya
dan mencapai titik tertinggi pada akhir minggu pertama, setelah itu demam akan
bertahan tinggi pada minggu ke-4 demam turun perlahan secara lisis, kecuali apabila
terjadi fokus infeksi seperti kolesistitis, abses jaringan lunak maka demam akan
menetap. Banyak orang tua pasien demam tifoid melaporkan bahwa demam lebih tinggi
saat sore dan malam hari dibanding dengan pagi harinya. Pada saat demam sudah
tinggi, pada kasus demam tifoid dapat disertai gejala sistem saraf pusat; seperti
kesadaran berkabut atau delitium atau obtundasi, atau penurunan kesadaran mulai apati
sampai koma.
Gejala sistemik lain yang menyertai timbulnya demam adalah nyeri kepala,
malaise, anoreksia, mialgia, nyeri perut dan radang tenggorokan. Pada kasus yang
berpenampilan klinis berat, pada saat demam tinggi akan tampak toksik/sakit berat.
Bahkan dapat juga dijumpai penderita demem tifoid yang datang dengan syok
hipovolemik sebagai akibat jurang masukan cairan dan makanan.
Gejala gastrointestinal pada kasus demam tifoid sangat bervariasi. Pasien dapat
mengeluh obstipasi, obstipasi kemudian disusul dengan episide diare, pada sebagian
pasien lidah tampak kotor dengan putih di tengah sedang tepi dan ujungnya kemerahan.
Banyak dijumpai gejala meteorismus, berbeda dengan buku bacaan barat pada anak
Indonesia lebih banyak dijumpai hepatomegali dibandingkan splenomegali.

Rose spot suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 2-4
m sering kali dijumpai pada daerah abdomen, toraks extremitas dan punggung pada
orang kulit putih, tidak pernah dilaporkan ditemukan pada anak Indonesia.
Bronkitis banyak dijumpai pada demam tifoid sehingga buku ajar lama bahkan
menganggap sebagai bagian dari penyakit demem tifoid. Bradikardi relatif jarang
dijumpai pada anak.
Sindroma Klinis Demam Enterik Berdasarkan Usia
- Neonatal
Penyakit typhoid pada ibu bisa menyebebkan aborsi, berat badan lahir rendah dan
prematuritas. Jika demam tifoid terjadi pada usia gestasi lanjut, maka dapat ditularkan
ke janin. Gejala akan tampak dalam 3 hari setelah persalinan. Keluhan yang sering
ditemukan adalah muntah, diare dan distensi abdomen. Suhu tubuh bervariasi tetapi
bisa mencapai 40.5C. Kejang bisa ditemukan. Pembesaran hepar, lien, anoreksia,
ikterik dan penurunan berat badan dapat ditemukan
-

Bayi dan Balita


Kejadian demam enterik jarang didapatkan pada bayi dan anak < 5 tahun. Gejala
yang timbul biasanya ringan,sehingga mempersulit penegakkan diagnosis. Demam
ringan dan rasa lesu/lemah seringkali disalah artikan sebagai viral syndrome pada
bayi dengan kultur S.typhii yang positif. Gejala umum yang sering tampak adalah
diare dan gejala infeksi saluran nafas bagian bawah.

Anak Usia Sekolah dan Remaja


Gejala klinis terjadi secara perlahan. Gejala-gejala awal biasanya ditemukan demam,
malaise, anoreksia, mialgia, nyeri abdomen dan sakit kepala yang muncul pada 2-3
hari pertama. Meskipun pada awal perjalanan penyakit biasanya ditemukan diare
yang menyerupai pea-soup namun pada perjalanan selanjutnya konstipasi merupakan
gejala yang sering ditemukan. Batuk dan epistaksis juga dapat terjadi. Pada anakanak tertentu, letargi ditemukan. Pada awal perjalanan penyakit akan muncul demam
remiten yang semakin lama semakin tinggi (gambaran seperti anak tangga) namun
akan menetap menjadi unremitting fever pada minggu kedua dan menurun setelah
minggu ketiga.
Pada minggu kedua, akan terjadi demam tinggi yang menetap, lemas, anoreksi dan
rasa tidak nyaman pada perut menjadi semakin parah. Pasien akan tampak sakit berat
dan dapat timbul gangguan status mental berupa disorientasi, letargi, delirium, dan
stupor.
Pada pemeriksaan fisik ditemukan bradikatdi relative, hepatomegali, pembesaran lien
dan distensi abdominal dengan rasa nyeri yang sulit ditentukan. Rose spot ditemukan
pada 50% pasien dan mungkin sukar di observasi pada pasien berkulit gelap, muncul
pada hari ke-7 hingga 10. Lesinya berbentuk diskret, erythematous, dengan diameter
1-5 mm dan menjadi pucat apabila ditekan. Ruam ini menghilang setelah 2-3 hari dan
meninggalkan warna kecoklatan pada kulit. Sering ditemukan didaerah antara toraks

dan abdomen.
-

Bila terjadi komplikasi maka manifestasi klinis yang terjadi tergantung dari bentuk
komplikasinya. Bila tidak terjadi komplikasi, gejala tersebut akan membaik dalam 2-4
minggu, tetapi rasa lemah/lesu dan letargi menetap selama 1-2 bulan.

Diagnosa Banding
Pada stadium dini demam tifoid, beberapa penyakit kadang-kadang secara klinis
dapat dipertimbangkan sebagai diagnosis banding yaitu influenza, gastroenteritis,
bronkitis

dan

bronkopneumonia.

Beberapa

penyakit

yang

disebabkan

oleh

mikroorganisme intraselular seperti tuberkulosis, infeksi jamur sistemik, bruselosis,


tularemia, shigelosis dan malaria juga perlu difikirkan.
Pada demam tifoid yang berat, sepsis, leukemia, limfoma, penyakit Hodgkin,
Sysemic Lupus Erythematosus dan Juvenile Rheumatid Arthritis dapat difikirkan sebagai
diagnosis banding.
Diagnosa
Untuk menegakkan diagnosis demam tifoid harus terdapat 2 komponen yang
terpenuhi, yaitu ditemukannya sindrom klinis demam enterik dan ditemukan bukti kuat
adanya S.typhii baik dari pemeriksaan kultur (baku emas standar) maupun pemeriksaan
serologis. Namun, WHO mendefinisikan demam tifoid klinis (clinical typhoid fever) pada
penderita dengan sindrom klinis enteric fever namun laboratorium menunjukkan hasil
negatif.
Pemeriksaan Penunjang
1. Darah Rutin
Sering ditemukan anemia normokrom-normositer akibat supresi sumsum tulang,
leukopenia tapi jarang < 2500/mm3 disertai limfositosis relatif. Dapat disertai
trombositopenia yang cukup berat pada akhir minggu pertama.
2. Kimia Darah
Pada penderita dengan penyulit hepatitis tifosa dapat ditemukan peningkatan
transaminase hepar dan bilirubin serum. Pada penderita gizi buruk dapat
ditemukan hiponaterima dan hipokalemia.
3. Biakan Salmonella
Pada darah umumnya biakan positif pada minggu pertama dan awal minggu
kedua (60-80%), dari rose spot (60%), sumsum tulang (80-90%). Pada urin dan
feses dapat ditemukan sesudah bakteremia sekunder yaitu pada minggu ke-2-3.
4. Serologi
Pemeriksaan serologis baik widal maupun pemeriksaan kadar IgM anti S-typhii
memberi hasil yang tepat bila dilakukan pada hari ke-5 atau lebih, sehingga bila
pemeriksaan dilakukan pada hari pertama sampai dengan hari ke-4 maka hasil
negatif sangat mungkin adalah negatif palsu.
Tes widal
o Terdapat tiga jenis antibodi yang dapat diperiksa :

Antibodi O muncul lebih awal namun hanya untuk waktu yang singkat

(4-6 bulan)
Antibodi H muncul lebih belakangan dan bertahan lebih lama (9 bulan

2 tahun)
Antibodi Vi muncul pada karier
Hasil pemeriksaan uji widal positif tidak boleh ditentukan hanya dengan
satu kali pemeriksaan apalagi dengan nilai serologis 1/80-1/160. Hasil
positif yang digunakan adalah bila dalam dua kali pemeriksaan berturutturut yang dilakukan berselang minimal 5-7 hari menunjukkan peningkatan

nilai seologis sebesar 4 kali.


Interpretasi dari widal bergantung pada
- Stadium penyakit
- Metode laboratorium
- Endemisitas penyakit
- Riwayat imunisasi
- Riwayat pengobatan
Tubex-TF
Typhidot
o

Komplikasi
Komplikasi Intestinal
1. Perdarahan Intestinal
Pada nodus Peyer, usus yang terinfeksi dapat terbentuk tukak atau luka berbentuk
lonjong dan memanjang terhadap sumbu usus. Bila luka mengenai pembuluh darah
maka terjadi perdarahan. Selanjutnya, bila tukak menembus dinding usus, maka
perforasi dapat terjadi. Perdarahan juga dapat terjadi karena gangguan koagulasi
darah atau gabungan kedua faktor. Perdarahan hebat dapat terjadi sehingga
penderita mengalami syok.
2. Perforasi Usus
Terjadi pada 3% penderita yang dirawat. Biasanya timbul pada minggu ketiga. Selain
gejala umum demam tifoid, penderita mengeluh nyeri perut hebat terutama di
daerah kuadran kanan bawah yang kemudian menyebar ke seluruh perut dan disertai
tanda-tanda ileus, mual, dan muntah. Bising usus melemah pada 50% penderita dan
pekak hati terkadang tidak ditemukan karena adanya udara bebas di abdomen.
Selain itu terdapat peningkatan tahanan muskular. Pada pemeriksaan radiologis
abdomen ditemukan gas bebas di abdomen atau gas pada daerah diafragma bawah.
Komplikasi Ekstraintestinal
1. Komplikasi Hematologis: Anemia Hemolitik, Trombositopenia, KID
Trombositopenia sering dijumpai. Hal ini mungkin terjadi karena menurunnya
produksi trombosit di sumsum tulang selama proses infeksi dan meningkatnya
destruksi trombosit di sistem retikuloendotelial.
2. Komplikasi Hepatobilier: Hepatitis, Kolesistitis
Pada hepatitis yang disebabkan demam tifoid, kenaikan enzim transaminase tidak
relevan dengan kenaikan serum bilirubin. Hepatitis tifosa dapat terjadi pada
penderita malnutrisi dan sistem imun yang kurang. Demam pada hepatitis tifosa
dapat terjadi bersamaan dengan ikterus yang ringan.

3. Komplikasi Kardiovaskular: Miokarditis, Tromboflebitis, Cardiomyopathy dilatasi


Penderita dengan miokarditis biasanya tanpa gejala kardiovaskular atau dapat berupa
keluhan sakit dada, gagal jantung kongestif, aritmia, atau syok kardiogenik.
Perubahan elektrokardiografi yang menetap disertai aritmia mempunyai prognosis
yang buruk.
4. Komplikasi Neuropsikiatrik/Tifoid Toksik
Manifestasi neuropsikiatrik dapat berupa delirium dengan/atau tanpa kejang,
semikoma atau koma, parkinson rigidity/transient parkinsonism, meningismus,
skizofrenia sitotoksik, mania akut, hipomania, ensefalomielitis, meningitis, polineuritis
perifer, sindrom Guillain-Barre, dan psikosis. Terkadang gejala demam tifoid diikuti
suatu sindrom klinis berupa gangguan atau penurunan kesadaran akut (kesadaran
berkabut, apatis, delirium, somnolen, sopor, atau koma) dengan/atau tanpa disertai
kelainan neurologis lainnya dan dalam pemeriksaan cairan serebrospinal masih
dalam batas normal. Sindrom ini disebut tifoid toksik, demam tifoid ensefalopati,
demam tifoid dengan toksemia, atau demam tifoid berat.
5. Komplikasi Paru: Bronkhitis,Pneumonia, Empiema, Pleuritis
6. Komplikasi Ginjal: Glomerulonefritis, Pielonefritis, Perinefritis
7. Komplikasi Tulang: Osteomielitis, Periostitis, Spondilitis, Artritis

Komplikasi Demam Typhoid


Komplikasi intraintestinal
Perforasi usus
Perdarahan intra abdomen
Paralisis segmental
Peritonitis
Komplikasi ekstraintestinal
Pneumonia

Bronchitis

Miokarditis

Endokarditis

Meningitis

TTIK

Trombosis serebral

Khorea
Afasia
Ketulian
Neuritis optik dan
perifer
Hepatitis
Pankreatitis
Kolesistitis
Pielonefritis

Sindrom nefrotik
Nekrosis sumsum
tulang
Osteomyelitis
Artritis septik
Parotitis
Orkhitis
Limfadenitis
supuratif

Terapi
1. Suportif
Tirah baring
Cairan dan kalori
Penuhi kebutuhan volume cairan intravaskular dan jaringan dengan pemberian

oral/parenteral, perhatikan keseimbangan cairan dan elektrolit


Antipiretik
Diet
Makanan tidak berserat dan mudah dicerna, setelah demam reda dapat segera
diberikan makanan yang lebih padat dengan kalori cukup.

2. Medikamentosa
Obat antibiotik untuk eradikasi kuman S. typhii
Kloramfenikol
50-75mg/kgbb/hari PO atau 75 mg/kgbb/hari IV, setiap 6 jam, selama 2
minggu;dosis maks 3gr/hari
Ampisilin
200mg/kgbb/hari IV, setiap 6 jam, selama 2 minggu; dosis maks
Amoksisilin
8gr/hari
TMP-SMX
100mg/kgbb/hari PO, setiap 4-6 jam, selama 2 minggu
TMP 10mg/kgbb/hari + SMX 50mg/kgbb/hari PO, setiap 12 jam, selama
Ceftriaxone
2 minggu; dosis maks TMP 160 mg/12 jam + SMX 800mg/12 jam
50 mg/kgbb/hari IV selama 5 hari
Untuk keadaan resisten 100 mg/kgbb/hari IV atau IM, dosis tunggal
Cefotaxime
atau setiap 12 jam, selama 2 minggu;dosis maks 4 gr/hari
Cefixime
150mg/kgbb/hari IV, setiap 12 jam, selama 2 minggu; dosis maks 12
gr/hari
20mg/kgbb/hari PO, setiap 12 jam, selama 8 hari

Tanpa penyulit

Terapi alternatif
tanpa penyulit

Oral
Kloramfenikol 50-75 mg/kgBB/hr selama
14-21 hr
Amoxicillin 75-100 mg/kgBB/hr selama
14 hr
TNP-SMX 8/40 mg/kgBB/hr selama 14 hr
Cefixime 15-20 mg/kgBB/hr selama 7-14
hr (multi-drug resistance0
Azithromycine (quinolone resistance) 810mg/kgBB/hr selama 7 hr

Dengan
penyulit

Parenteral
Kloramfenikol 75
mg/kgBB/hr selama 14-2 hr
Ampisillin 75100mg/kgBB/hr selama 14
hr

Kloramfenikol 100
mg/kgBB/hr selama 14-21
hr
Ampisilin 100 mg/kgbb/hr
selama 14 hr
Ceftriaxone 75 mg/kgBB/hr
Cefotaxime 80 mg/kgBB/hr
selama 10-14 hr

Selain antibiotik, kortikosteroid juga diberikan pada kasus berat dengan gangguan
kesadaran, delirium, koma, gangguan sirkulasi, syok dan gejala yang berpanjangan.
Kortikosteroid disamping antibiotik dapat menurukan angka kematian. Di antara
kortokosteroid yang diberikan adalah:
a. Deksametason 3mg/kgBB/hari inisial, 1 mg/kgBB/6 jam untuk selama 48 jam.
b. Prednison 1-2 mg/kgBB/hari peroral dibahagi 3 dosis.
Demam tifoid dengan penyulit pendarahan usus kadang-kadang memerlukan
transfusi darah. Sedangkan apabila diduga terjadi perforasi, adanya cairan pada
peritoneum dan udara bebas pada foto abdomen dapat membantu menegakkan
diagnosis. Laparatomi segera harus dilakukan pada perfusi usus disertai penambahan
antibiotik metronidazole dapat memperbaiki prognosis.
INDIKASI PULANG
Pasien demam tifoid ringan-sedang yang dirawat dapat dipulangkan setelah 2-3
hari bebas panas, sedangkan pasien demam tifoid berat sebaiknya dirawat hingga
komplikasi dapat diatasi atau setidaknya sampai 5 hari bebas demam