Anda di halaman 1dari 14

A.

Konsep Dasar ASI Eksklusif


1. Pengertian
ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktida dan garam organik
yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi
bayi (Kristiyansari, 2009).
ASI Eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI saja, tanpa tambahan cairan lain,
seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih dan tanpa tambahan makanan
padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur nasi tim. pemberian ASI
secara eksklusif ini dianjurkan untuk jangka waktu selama 6 bulan, setelah bayi
berumur 6 bulan, ia harus memulai diperkenalkan dengan makanan padat, sedangkan
ASI dapat diberikan sampai bayi berusia 2 tahun atau lebih dari 2 tahun (Roesli,
2005).
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif (Danuatmadja, 2003)
a. Tingkat pendidikan
Tingkat pendidikan seseorang sangat berpengaruh terhadap pengetahuan.
Seseorang berpendidikan tinggi akan berbeda pengetahuannya dengan orang
berpendidikan rendah. Pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan
kepribadian dan kemampuan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup.
Pendidikan mempengaruhi proses belajar, menurut Ida Bagus Mantra, makin tinggi
pendidikan, maka makin mudah seseorang untuk menerima informasi (Notoatmodjo,
2007).
b. Rasa cemas tidak menghasilkan ASI
1 dalam jumlah yang cukup untuk bayinya sangat
berpengaruh terhadap keberhasilan menyusui
Alasan ini merupakan alasan utama para ibu untuk tida memberikan ASI secara
eksklusif. Walaupun banyak ibu ibu yang merasa ASInya kurang, tetapi hanya

sedikit sekali (2-5%) yang secara biologis memang kurang produksi ASInya.
Selebihnya 9598% ibu dapat menghasilkan ASI yang cukup untuk bayinya (Roesli,
2008).
c. Motivasi diri dan dukungan suami atau keluarga untuk menyusui bayinya
Breasfeeding

father

berarti

ayah

selalu

memberi

dukungan

setiap

ibu

memeberikan ASI pada bayi. Dengan adanya dukungan ayah akan membuat
hati ibu

senang

sehingga

pikirannya

pun

tenang, tidak

stres. Kondisi

ini

membuat reflek ositoksin meningkat, sehingga pengeluaran ASI pun lancar. Jadi,
seharusnya suami menciptakan suasana tenang, aman dan nyaman bagi istrinya
demi keberhasilan penberian ASI eksklusif pada bayi (Kuniarsih, 2005 ).
d. Adanya pembengkakan payudara karena bendungan ASI
Kelenjar air susu manusia memiliki 15 20 saluran ASI. Satu atau dua lebih
saluran bisa tersumbat karena tekanan jari ibu saat menyusui, posisi menyusui, BH
yang terlalu ketat, sehingga sebagian saluran ASI tidak mengalirkan ASI (Wulandari,
2008).

e. Pengosongan ASI yang tidak teratur


Setelah lahir, biarkan bayi menyusu secepat mungkin dalam masa setengah
jam ( 30 menit ) pertama. Penghisapan dini agar memebantu produksi ASI dapat
segera berlangsung dan mengembangkan hubungan psikologis antara ibu dan
bayi baru lahir (Arifin, 2004 ). Selanjutnya, ibu memberikan ASI-nya setiap nayi
meminta dan berdasarkan jam, yang disebut menyusui atas permintaan atau on
demand (Kuniarsih, 2005).
f.

Kondisi status gizi ibu yang buruk dapat mempengaruhi kualitas dan kuantitas ASI

Apabila makanan ibu secara teratur dan cukup mengandung gizi yang diperlukan
akan mempengaruhi produksi ASI, karena dengan makanan yang cukup dan bergizi
maka produksi ASI akan menjadi lancar. Untuk pembentukan produksi ASI yang baik,
makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori, protein, lemak, dan vitamin serta mineral
yang cukup selain itu ibu dianjurkan minum lebih banyak kurang lebih 8-12 gelas/hari
(Rahmawati, 2010: 88). Ibu post partum yang melakukan diet atau pantangan makan
akan mengakibatkan asupan gizi berkurang. Hal ini dapat menyebabkan kualitas dan
kuantitas produksi ASI menjadi berkurang (Proverawati, 2009).
g. Ibu yang lelah, istirahat, stres atau sakit
Seringkali dengan alasan sakit, penyusuan dihentikan. Penyusuan hanya
dibenarkan jika ibu sakit sangat berat, seperti gagal ginjal, jantung atau kanker.

h. Ibu yang bekerja


Bagi ibu yang bekerja menyusui tidak perlu di hentikan.Ibu bekerja tetap harus
memberi ASI kepada bayinya karena banyak keunntungannya.Jika memungkinkan
bayi dapat di bawa ketempat ibu bekerja.Namun hal ini akan sulit di laksannakan
apabila di tempat bekerja atau di sekitar tempat bekerja sarana penitipan bayi atau
pojok laktasi.Bila tempat bekerja dekat dengan rumah,ibu dapat pulang untuk
menyusui bayinya pada waktu istirahat atau minta bantuan seseorang untuk
membawa bayinya ke tempat bekerja.
Walaupun ibu bekerja dan tempat bekerja jauh dari rumah,ibu tetap dapat
memberikan ASI kepada bayinya.Berikan ASI secara Eksklusif dan sesering mungkin
selama ibu cuti melahirkan. Jangan memberikan makanan lain sebelum bayi benarbenar sudah membutuhkannya. Jangan memberi ASI melalui botol, berikan melalui
cangkir atau sendok di latih 1 minggu sebelum bekerja (Wulandari, 2010).
3. Komposisi ASI

Komposisi ASI tersusun oleh zat zat yang memiliki konsentrasi yang sesuai
dengan kondisi pencernaan bayi, sehingga berbeda dengan kandungan susu formula
yang memerlukan pengenceran dengan konsentrasi atau kadar tertentu (sesuai dengan
daya serap saluran cerna bayi). Jika pencernaannya terlalu cair, dapat menyebabkan
bayi

kekurangan

gizi,

sehingga

pertumbuhannya

terhambat,

sebaliknya,

jika

pengencerannya terlalu pekat dapat memicu terjadinya obesitas (kegemukan) pada bayi
(Sunardi, 2008).

a.

Protein
Protein ASI merupakan bahan baku pertumbuhan dan perkembangan bayi.
Protein ASI sangat cocok karena unsur protein didalamnya hampir seluruhnya
terserap oleh sistem pencernaan bayi. Hal ini disebabkan oleh protein ASI
merupakan kelompok protein whey (protein yang bentuknya lebih halus). Kelompok
whey merupakan protein yang sangat halul, lembut, dan mudah dicerna. (Roesli,
2005)
Berbagai unsur protein (gugus asam amino) yang ada dalam ASI merupakan
behan baku yang tidak dapat diganti oleh susu sapi. Unsur protein ini secara
fisiologis telah dibentuk baik jenis maupun jumlah sesuai dengan kebutuhan bayi,
misalnya protein dalam ASI bayi prematur berbeda dengan protein pada ASI bayi
matur (cukup bulan) (Purwanti, 2004)

b.

Lemak
Kadar lemak dalam ASI pada mulanya rendah kemudian meningkat jumlahnya.
Lemak ASI berubah kadarnya setiap kali dihisap oleh bayi yang terjadi secara
otomatis. Komposisi lemak pada lima menit pertama isapan akan berbeda pada 10
menit kemudian. Kadar lemak pada hari pertama berbeda dengan hari kedua dan

akan berubah menurut perkembangan bayi dan kebutuhan energi yang dibutuhkan
bayi (Wulandari, 2008).
Selain jumlahnya yang mencukupi, jenis lemak yang ada dalam ASI
mengandung lemak rantai panjang yang merupakan lemak kebutuhan sel jaringan
otak dan sangat mudah di cerna serta mempunyai jumlah yang cukup tinggi. Dalam
bentuk omega3, omega6, DHA (Decosa Hexsaconic Acid) dan Acachidonid acid
(Wulandari, 2008).
Lemak selain diperlukan dalam jumlah sedikit sebagai energi, juga digunakan
oleh otak untuk membuat mielin sedangkan mielin merupakan zat yang mengelilingi
sel saraf otak agar tampak mudah rusak bila terkena rangsanga. Seluruh asam
lemak dapat dibuat oleh tubuh dari protein dan karbohidrat, kecuali satu yaitu asam
linoleat, tanpa asam linileat otak tidak dapat memperbaiki mielin dan dapat
mengakibatkan hilangnya koordinasi, daya ingat, gemetar dan halusinasi
(Wulandari, 2008).
c.

Mineral
ASI mengandung mineral yang lengkap, walaupun kadarnya relatif rendah,
tetapi cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan. Zat besi dan kalsium di dalam ASI
merupakan mineral yang sangat stabil dan jumlahnya tidak diperbaharui oleh diet
Ibu. Kadar mineral yang tidak diserap akan memperberat kerja usus bayi untuk
mengeluarkan, mengganggu keseimbangan (ekologi) dalam usus bayi, dan
meningkatkan pertumbuhan bakteri, merugikan yang akan mengakibatkan kontraksi
usus bayi tidak normal sehingga bayi kembung, gelisah karena obstipasi atau
gangguan metabolisme (Wulandari, 2008).

d.

Hidrat Arang
Zat hidrat arang dalam ASI dalam bentuk laktosa yang jumlahnya akan
berubah berubah setiap hari menurut laktosa tumbuh kembang bayi. Laktosa

(gula susu) merupakan satu satunya karbohidrat yang terdapat dalam air susu
murni. Sebagai tambahan dari fungsinya sebagai sumber energi didalam usus
sebagai laktosa atau diubah menjadi asam laktosa. Didalam usus asam laktat ini
membantu penyerapan kalsium serta meneral meneral lain (Wulandari, 2008).
e.

Vitamin
ASI memberi vitamin yang cukup bagi bayi, sehingga tidak perlu ditambah
kecuali vitamin K, karena bayi baru lahir ususnya belum mampu membentuk
vitamin K, oleh karena itu, perlu tambahan vitamin K pada hari ke 1, 3 dan 7

4. Stadium ASI (Wulandari, 2008)


a.

Kolostrum

Adalah merupakan cairan yang pertama disektor oleh kelenjar payudara atas, hari ke1 sampai ke-4, Setelah persalinan, komposisi kolostrum ASI mengalami perubahan
kolostrum berwarna kuning keemasan didebabkan oleh tingginya komposisi lemak
dan sel sel hidup. Kolostrum merupakan pencahar (pembersih usus bayi) yang
membersihkan mekanium, sehingga mukosa usus bayi yang baru lahir segera bersih
dan siap menerima ASI. Kandungan tertinggi dalam kolostrum adalah antibodi yang
siap melindungi bayi ketika kondisi bayi masih sangat lemah.
b.

ASI transisi atau peralihan

ASI ini diproduksi pada hari ke-4 sampai hari ke-10. Komposisi protein makin rendah,
sedangkan lemak dan hidrat arang makin tinggi dan jumlah valume ASI semakin
meningkat. Hal ini merupakan pemenuhan terhadap aktivitas bayi yang mulai aktif
karena bayi sudah beradaptasi terhadap lingkungan. Pada masa ini, peneluaran ASI
mulai stabil begitu juga kondisi fisik ibu.
c.

ASI mature / matang

ASI yang disekresi dari hari ke-10 sampai seterusnya, ASI mature merupakan nutrisi
bayi yang terus berubah desesuaikan dengan perkembangan bayi sampai berumur 6
bulan.
5. Pemberian ASI
Segera susui biaya maksimal setegah jam pertama setelah persalinan. Hal ini
merupakan titik awal yang penting apakah bayi nanti cukup mendapatkan ASI atau tidak.
Ini didasari oleh peran hormon pembuat ASI, antara lain hormon prolaktin dalam
peredaran darah ibu akan menurun setelah satu jam persalinan yang disebabkan oleh
lepasnya plasenta (Wulandari, 2008).
Sebagai upaya untuk tetap mempetahankan prolaktin, isapan bayi akan
memberikan rangsangan pada hipofisis untuk mengeluarkan hormon oksitosin. Hormon
oksitaksin bekerja merangsang atas polos untuk memeras ASI yang dikeluarkan melalui
puting susu. Apabila bayi tidak menghisap puting susu pada setengah jam setelah
persalinan, hormon prolaktin akan turun dan sulit merangsang prolaktin sehingga ASI
baru akan kelar pada hari ketiga atau lebih (Wulandari, 2008).
Menyusui bayi tidak perlu dijadwalkan, karena bayi akan menentukan sendiri
kebutuhannya, ibu harus mnyusui bayinya bila bayi menangis bukan karena sebab lain
(kencing, dll), atau ibu sudah merasa perlu menyusui bayinya. Bayi yang sehat dapat
mengosongkan satu payudara sekitar 5 7 menit dan ASI dalam lambung bayi akan
kosong dalam waktu 2 jam (Wulandari, 2008).
Susukan

bayi

sesuai

kebutuhannya

dan

tidak

dijadwalkan

sehingga

kebutuhannya terpenuhi. Lakukan proses menyusui pada kedua payudara, yaitu bagian
kiri dan kanan secara bergantian. Masing masing minimum 15 menit, mulailah selalu
dari payudara yang terasa lebih padat atau payudara terakhir yang di susukan
sebelumnya. Berikan ASI sampai payudara terasa kosong (Danuatmadja, 2003).

Menyusui yang dijadwalkan akan berakibat kurang baik karena isapan sangat
berpengaruh plada rangsangan produksi ASI selanjutnya. Dengan menyusui tidak
dijadwalkan sesuai kebutuhan bayi, akan mencegah banyak masalah yang mungkin
timbul.
6. Manfaat Pemberian ASI eksklusif
Manfaat pemberian ASI eksklusif menurut Wulandari (2008) adalah sebagai berikut:
a.
Bagi bayi
1) Dapat memulai kehidupannya dengan baik
bayi yang mendapat asi mempunyai kenaikan berat badan yang baik setelah
lahir, penumbuhan setelah periode perimatas baik, dan mengurangi kemunginan
obesitas.
2) Mengandung antibodi
Mekanisme pembentukan antibodi pada bayi adalah apabila ibu mendapatkan
infeksi maka tubuh akan membentuk antibodi dan akan disalurkan dengan
bantuan jaringan limposit.
3) ASI mengandung komposisi yang cepat
Yaitu dari berbagai bahan mekanan yang baik untuk bayi yaitu terdiri dari
proporsi yang seimbang dan cukup kuantitas semua zat besi yang diperlukan
untuk kehidupan 6 bulan pertama.
4) Mengurangi kejadian karies dentis
Insiden karies dentis pada bayi yang mendapat susu formula jauh baik tinggi
dibanding yang mendapat ASI, karena kebiasaan mnyusui dengan botol dan dot
terutama pada waktu akan tidur menyebabkan gigi lebih lama kontak degan susu
formula dan menyebabkan asam yang terbentuk akan merusak gigi.
5) Memberi rasa nyaman dan aman pada bayi dan adanya ikatan antara ibu dan
bayi
6) Terhindar dari alergi

Pada bayi baru lahir sistem IgE belum sempurna. Pemberian susu formula akan
merangsang aktivitas sistem ini dan dapat menimbulakan alergi
7) ASI meningkatkan kecerdasan bagi bayi
Lemak pada ASI adalah lemak tak jenuh yang mengandung omega3 untuk
pematangan sel sel otak sehingga jaringan otak bayi yang terdapat ASI
Eksklusif akan tumbuh optimal dan terbebas dari rangsangan kejang
8) Membantu perkambangan rahang dan merangsang pertumbuhan gigi karena
gerakan menghisap mulut bayi pada payudara
b.

Bagi ibu
Aspek kontrasepsi

1)

Hisapan mulut bayi pada puting susu merangsang ujung syaraf. Sen sorik
sehingga post anterior hipofise mengeluarkan prolaktin. Proloktin masuk ke
indung, menekan produksi estrogen akibanya tidak ada ovulasi
2)

Aspek kesehatan ibu


Isapan bayi pada payudara hipofisis membantu involusi uterus dan mencegah
terjadinya perdarahan pasca parsalinan

3)

Aspek penurunan berat badan


ibu yang menyusui eksklusif ternyata lebih mudah dan lebih cepat kembali ke
berat badan semula, seperti sebelum hamil

4)

Aspek psikologis
ibu akan merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh semua
menusia (Wulandari, 2008).

c.
1)

Bagi keluarga
Aspek Ekonomi
ASI tidak perlu dibeli, sehingga dana yang seharusnya digunakan untuk membeli
susu formula dapat digunakan untuk keperluan lain.

2)

Aspek Psikologi
Kebahagiaan keluarga bertambah, karena kelahiran lebih jarang, sehingga
suasana kejiwaan ibu baik dan dapat mendekatkan hubungan bayi dengan
keluarga.

3)

Aspek Kemudahan
Menyusui sangat praktis, karena dapat deberikan dimana saja dan kapan saja
(Wulandari, 2008).

7. Berbagai Masalah Menyusui Pada Ibu


Masalah masalah yang dijumpai pada ibu menyusui menurut Danuatmaja (2009)
adalah :
a. Kurang Informasi
Akibat kurang informasi, banyak ibu menganggap susu formula sama baiknya,
bahkan lebih baik dari ASI. Hal ini menyebabkan ibu lebih cepat memberikan susu
formula jika merasa ASI-nya kurang atau terbentur kendala menyusui.
b. Puting Susu Pendek
Ada beberapa bentuk puting susu, panjang, pendek dan datar atau terbenam.
Dengan kehamilan, biasanya puting menjadi lentur. Namun, kerap terjadi sampai
sesudah bersalin, puting belum juga menonjol keluar. Banyak ibu langsung
menganggap hilang peluangnya untuk menyusui.
c. Payudara Bengkak
Kondisi ini terjadi akibat adanya bendungan pada pembuluh darah di payudara
sebagai tanda ASI mulai banyak diproduksi.
d. Puting Susu Nyeri/ Lecet
Masalah yang paling banyak dialami ibu menyusui. Puting susu nyeri atau lecet
terjadi akibat beberapa faktor. Yang dominan adalah kesalahan posisi menyusui saat

bayi hanya menghisap pada puting. Padahal, seharusnya sebagian besar aerola
masuk ke dalam mulut bayi.
e. Saluran ASI tersumbat
Kelenjar air susu manusia memiliki 15 20 saluran ASI. Satu atau dua lebih saluran
bisa tersumbat karena tekanan jari ibu saat menyusui, posisi menyusui, BH yang
terlalu ketat, sehingga sebagian saluran ASI tidak mengalirkan ASI.
f.

Radang Payudara
Jika puting lecet, saluran payudara tersumbat, atau pembengkakan payudara tidak
ditangani dengan baik, bisa berlanjut menjadi radang payudara.

g. Abses Payudara
Jika sampai terjadi abses payudara, perawatan yang dilakukan sama dengan jika
terjadi radang payudara.
h. ASI Kurang
Masih banyak ibu merasa ASI nya kurang, mungkin karena setelah beberapa hari
payudaranya tidak terasa tegang lagi, sementara bayi sering minta disusukan.
i.

Menyususi dengan Bedah Caesar


Jika ibu dan bayi dalam keadaan baik, sebenarnya ibu dapat segera menyusui bayi
di ruang pemulihan setelah pembedahan selesai.

j.

Ibu dengan Penyakit


Seringkali dengan alasan sakit, penyusuan dihentikan. Penyusuan hanya dibenarkan
jika ibu sakit sangat berat, seperti gagal ginjal, jantung atau kanker.

k. Ibu yang Memerlukan Pengobatan


Seringkali ibu berhenti menyusi karena takut obat obatan yang dikonsumsinya
mengganggu bayi.
8. Berbagai Mitos Menyusui

Berkembangnya informasi yang tidak benar dan kurang tepat di masyarakat,


ditambah lagi adanya mitos menyusui, dapat membuat ibu kurang percaya diri serta
menurun semangatnya untuk menyusui. Yang sangat menyedihkan, mitos mitos ini
diajarkan secara turun temurun sehingga menjadi semacam budaya / adat istiadat.
Berikut ini mitos mitos di seputar masyarakat menyusui (Suherni dkk, 2008).
a.
Menyusui mengubah bentuk payudara wanita
Menyusui tidak mengubah bentuk payudara wanita secara permanen. Yang
mengubah

bentuk

payudara

adalah

kehamilan.

Kehamilan

menyebabkan

dikeluarkannya hormon hormon dan menyebabkan terbentuknya air susu yang


mengisi payudara. Payudara yang sudah penuh terisi air susu tentu akan berbeda
bentuknya dengan payudara yang belum pernah terisi air susu.
b.
Menyusui menyebabkan kesukaran menurunkan berat badan
Data membuktikan menyusui dapat membantu ibu menurunkan berat badan lebih
cepat daripada yang tidak memberikan ASI eksklusif.
c.ASI belum keluar pada hari-hari pertama sehingga perlu ditambah susu formula
Pada hari pertama sebenarnya ibu belum memerlukan cairan atau makanan
sehingga belum diperlukan pemberian susu formula, cairan lain, atau cairan prelactal
feeding. Bayi pada usia 30 menit harus disusukan pada ibunya, bukan untuk
pemberian nutrisi (non nutritive sucking), tetapi untuk belajar menyusu atau
membiasakan mengisap putting susu, dan guna mempersiapkan ibu mulai
memproduksi ASI. Gerakan reflex mengisap pada bayi baru lahir mencapai puncaknya
20 30 menit setelah bayi lahir sehingga apabila terlambat menyusui, reflex ini akan
berkurang.
d.
Ibu bekerja tidak dapat memberikan ASI eksklusif 4 6 bulan
Mitos tersebut juga tidak benar banyak ibu bekerja berhasil memberikan ASI
eksklusif pada bayinya selama 4 6 bulan, tanpa cuti tambahan. Kuncinya adalah
dengan memberikan ASI perah pada bayi selama ibu bekerja.
e.
Payudara saya kecil, tidak menghasilkan cukup ASI
Mitos tersebut tidak benar. Besar kecilnya payudara tidak menentukan banyaksedikitnya produksi ASI karena payudara yang besar hanya mengandung lebih banyak
jaringan lemak dibandingkan yang kecil.

f. ASI yang keluar pertama kali harus dibuang karena kotor


ASI yang keluar pada hari ke-1 hingga hari ke-5 atau ke-7 dinamakan kolostrum
atau susu jolong. Cairan jernih kekuningan ini mengandung zat putih telur dan protein
dalam kadar tinggi, zat antiinfeksi, atau zat daya tahan tubuh (immunoglobulin) dalam
kadar yang lebih tinggi daripada susu mature.
g.
ASI ibu kurang gizi, kualitasnya tidak baik
Bayi dan ASI sebenarnya bersifat parasit. Sampai batas tertentu, kualitas dan
kuantitas ASI akan tetap dipertahankan walaupun harus mengorbankan gizi ibu.
Kualitas ASI baru berkurang apabila ibu menderita kekurangan gizi tingkat ke-3.
h.
ASI saya tidak cukup, ASI saya kering, bayi tidak cukup mendapat ASI karena
rakus/minumnya banyak
Dari 100 ibu yang mengatakan produksi ASI-nya kurang, berdasarkan penelitian
ternyata hanya dua ibu yang benar-benar kurang. Yang lainnya mempunyai cukup ASI,
tetapi kurang mendapat informasi menajemen laktasi yang benar, posisi menyusui
sehingga produksi ASI terhambat.
i. Jika ASI mengandung residu pestisida (Dioxin, DDT, PCBs) dan bahan beracun
Banyak ibu gelisah dengan adanya laporan menakutkan tentang tercemarnya susu
sapi juga ASI oleh zat beracun, seperti dioxin atau logam berat berbahaya yang akan
membahayakan bayi. Sebenarnya, tidak ditemukan bukti-bukti secara kedokteran
adanya bayi yang sakit karena ASI yang mengandung zat-zat beracun ini.
9. Cara Menyimpan ASI
Menurut Suherni (2008) cara menyimpan ASI adalah sebagai berikut:
a. ASI yang disimpan di udara kamar / luar kamar akan tahan 6-8 jam pada suhu 260 C
atau lebih rendah.
b. ASI yang disimpan di dalam termos berisi es batu tahan 24 jam.
c. ASI yang disimpan di lemari es di tempat buah bagian paling dalam

di mana

tempat yang terdingin tahan 2-3 x 24 jam (40C atau lebih rendah).
d. ASI yang tersiman dalam freezer yakni lemari es dengan satu pintu, tahan 2 minggu.
e. ASI yang disimpan di freezer yang mempunyai pintu terpisah sendiri, tahan 3 bulan.
f.

ASI yang disimpan di deep freezer (-180C atau lebih rendah) akan tahan selama 6-

12 bulan.
10. Penerapan ASI Eksklusif Pada Ibu Bekerja
Bagi ibu yang bekerja menyusui tidak perlu di hentikan.Ibu bekerja tetap harus
memberi ASI kepada bayinya karena banyak keunntungannya.Jika memungkinkan bayi
dapat di bawa ketempat ibu bekerja. Namun hal ini akan sulit di laksannakan apabila di
tempat bekerja atau

di sekitar tempat bekerja sarana penitipan bayi atau pojok

laktasi.Bila tempat bekerja dekat dengan rumah,ibu dapat pulang untuk menyusui
bayinya pada waktu istirahat atau minta bantuan seseorang untuk membawa bayinya ke
tempat bekerja.
Walaupun ibu bekerja dan tempat bekerja jauh dari rumah,ibu tetap dapat
memberikan ASI kepada bayinya. Berikan ASI secara Eksklusif dan sesering mungkin
selama ibu cuti melahirkan. Jangan memberikan makanan lain sebelum bayi benarbenar sudah membutuhkannya. Jangan memberi ASI melalui botol, berikan melalui
cangkir atau sendok di latih 1 minggu sebelum bekerja (Wulandari, 2008).