Anda di halaman 1dari 6

PUISI KONTEMPORER

DISUSUN OLEH:
Saktyawan Dwiki P
Shofi Ameliah S
Yasinta Surya M
SMA NEGERI 3 SIDOARJO
Fairuz Nadhifah
JL. Dr. WAHIDIN No. 130
XII IPATAHUN
7
PELAJARAN 2013-2014

PUISI KONTEMPORER
A. PUISI SIMBOL
TAPI
Sutardji Calzoum Bachri,
1981
aku bawakan bunga padamu
tapi kau
aku bawakan resah padamu
tapi kau
aku bawakan darahku padamu
tapi kau
aku bawakan mimpiku padamu
tapi kau
aku bawakan dukaku padamu
tapi kau
aku bawakan mayatku padmu
tapi kau
aku bawakan arwahku padamu
tapi kau
tanpa apa aku datang padamu
wah!

bilang masih
bilang hanya
bilang cuma
bilang meski
bilang tapi
bilang hampir
bilang kalau

a. Tema :

Kedudukan seorang Hamba yang tidak akan pernah sejajar


dengan Tuhan-Nya.

b. Makna :

Kata bilang pada puisi merupakan makna konotasi dari


firman karena Tuhan biasanya menggunakan kata firman.
Kau dalam puisi ini bukan merupakan gambaran manusia
tetapi makna sebagai Tuhan.
Mayat adalah bentuk jasad dari manusia yang telah
meninggal dunia. Dalam puisi ini si aku adalah manusia jadi
mayat
ini
tentu
mayat
dari
manusia.
Sedangkan Arwah adalah roh atau barupa benda abstrak
yang lebih kita kenal sebagai jiwa dari sebuah mahluk yang
salah satunya dimiliki oleh makhluk hidup berupa manusia.
Kesakitan
yang
terdapat
dalam
puisi
ini
adalah resah dan duka. Kata resah adalah berupa sebuah
perasaan galau atau gelisah yang mendera hati manusia.
Kata resah bisa kita golongkan dalam gambaran kesakitan
karena resah itu membuat orang yang mengalaminya
susah melakukan sesuatu karena terbebani. Duka adalah
perasaan kepedihan dan kesengsaraan yang dialami
manusia seperti saat kehilangan.

Si aku datang dengan segala apa pun, namun belum cukup


karena manusia tidak memiliki apa-apa, segala yang ada
milik Tuhan.

c. Amanat

Hanya pada Tuhanlah manusia menumpahkan atau membawa


semua yang ada dalam dirinya baik jasad yang berupa darah,
mayat maupun arwah, juga segala rasa seperti resah dan duka.
Nilai atau kedudukan manusia tidak akan pernah bisa menyamai
Tuhannya. Intinya janganlah merasa lebih besar atau hebat dari
pada Tuhan .

B. PUISI MENOLAK KATA

a. Tema
: Siklus
Kehidupan
b. Makna
:

Gambar tersebut diibaratkan sebuah roda, yakni


lingkaran sebagai roda dan garis horisontal sebagai jari jari.
Roda ini, diibaratkan seperti siklus kehidupan. Roda selalu
stabil dalam berputar karena berpegangan pada porosnya
dengan perantaraan jari jari. Poros roda dalam kehidupan
diartikan seperti keyakinan, itu lah yang mmebuat hidup kita
stabil. Kita yakin bahwa hidup ini sudah diatur oleh Allah,
maka hati kita selalu tenang dalam menjalani hidup. Meskipun
kita sedang berada di posisi atas atau bawah, yang kita alami
hanyalah ujian. Betapa banyak orang yang menjadi sukses
setelah ia terjatuh, atau ada di posisi bawah. Tidak semua
orang dapat bertahan di posisi atas, jika ia tidak dapat
bersyukur atas nikmat yang diberikan, ia akan terjatuh ke
bawah.
Sedangkan arti jari jari dalam kehidupan diibaratkan
sebagai rasa syukur kita kepada Allah. Dalam kondisi yang
bagaimanapun, baik itu susah maupun senang bersyukurlah
kepada Allah, karena Dialah yang Maha Tahu yang terbaik
untuk kita, hidup ini hanyalah cobaan, sebagaimana yang
Allah Firmankan.

c. Amanat:
Jangan lah kau menyombongkan dirimu ketika kau
sedang berada diatas dan janganlah kau menyalahkan Tuhan
ketika kau sedang berada dibawah. Syukurilah apa yang telah
diberikan Tuhan kepadamu, sesungguhnya hidup ini selalu
berputar seperti roda.

C. PUISI KONTEMPORER
Senja di Pelabuhan Kecil

Chairil Anwar,
1946
Ini kali tidakada yang mencari cinta
di anatar gudang, rumah tua pada cerita
tiang serta temali. Kepal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang


menyinggung muram, desir hati lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan


menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

a. Tema

b. Makna

: Kesedihan akan cinta

Dalam puisi yang berjudul Senja di Pelabuhan Kecil


diatas tersirat bahwa penyair sedang dicengkeram perasaan
sedih yang dalam. Namun, dalam kesedihan tesebut, penyair
tetap tegar. Demikian pula pada isi puisinya, di dalamnya tak
satu pun kata sedih yang diucapkan, tetapi ia mampu
mengungkapkan
kesedihan
yang
dirasakannya.
Penyair

membawa imajinasi pembaca untuk turut serta melihat tepi laut


dengan gudang-gudang dan rumah-rumah yang telah tua. Kapal
dan perahu yang terdapat disana. Hari menjelang malam disertai
gerimis. Kelepak burung elang terdengar jauh. Gambaran
tentang pantai ini bercerita tentang suatu yang suram, di sana
seseorang berjalan seorang diri tanpa harapan, tanpa cinta,
berjalan menyusur semenanjung.
Pada puisi diatas, penyair berhasil menghidupkan
suasana dengan gambaran yang hidup, ini disebabkan bahasa
yang dipakai mengandung suatu kekuatan, tenaga, sehingga
memancarkan rasa haru yang dalam. Judul puisi tersebut, telah
membawa kita pada suatu situasi yang khusus. Kata senja
berkonotasi pada suasana yang remang pada pergantian petang
dan malam, tanpa hiruk pikuk orang bekerja.
Pada kalimat gerimis mempercepat kelam. Kata kelam
sengaja dipilihnya karena terasa lebih indah dan dalam daripada
kata gelap walaupun sama artinya. Selain itu, ada juga kelepak
elang menyinggung muram, yang berbicara tentang kemuraman
sang penyair saat itu. Untuk mengungkapkan bahwa hari-hari
telah berlalu dan berganti dengan masa mendatang, penyair
mengungkapkan dengan kata-kata: desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Penggambaran malam yang
semakin gelap dan air laut yang tenang, disajikan dengan katakata yang sarat makna, yakni: dan kini tanah dan air hilang
ombak.

c. Amanat

Kesedihan yang berlarut itu tidak akan membawa kebaikan


kepada diri sendiri, justru akan membuat diri kita semakin
teringat ketika kesedihan itu membuatnya terpuruk dan menjadi
retak akan harapan. Yang harus dilakukan adalah ikhlas