Anda di halaman 1dari 90

MODUL II

DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA


PERANGKAT DAERAH (DPA-SKD) & ANGGARAN KAS
TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM
Setelah mempelajari modul ini, peserta pelatihan secara umum dapat memahami dan
menjelaskan teknis penyusunan rancangan DPA-SKPD dan rancangan Anggaran
Kas.

TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mempelajari modul ini, peserta pelatihan secara khusus :
1. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip penyusunan rancangan DPA-SKPD dengan
benar.
2. Trampil menyusun rancangan DPA-SKPD yang disahkan sebagai dasar
pelaksanaan anggaran.
3. Mampu menjelaskan prinsip-prinsip penyusunan Anggaran Kas.
4. Trampil menyusun rancangan Anggaran Kas untuk mengatur ketersediaan dana
yang cukup mendanai pengeluaran-pengeluaran yang tercantum dalam DPASKPD yang telah disahkan.

WAKTU PEMBELAJARAN
Jangka waktu yang diperlukan untuk memberikan materi ini adalah 120 menit.

METODE PEMBELAJARAN
1.
2.
3.

Paparan
Diskusi
Latihan Bersama (diskusi kelompok dan kelas)

ALAT BANTU PEMBELAJARAN


1. LCD/Overhead Projector
2. White Board dan Spidol
3. Bahan Latihan Kasus
REFERENSI
1.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4286);
1

2.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

3.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4389);

4. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan


Tanggung Jawab Keuangan Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4400);
5.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4421);

6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437) sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang
Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan
Daerah menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2005 Nomor 108, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor
4548);
7.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara


Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik
Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4438);

8. Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi


Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503);
9. Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan
Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 140,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4578);
10. Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan dan
Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2006
Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4614);
11. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 Tahun 2006 tentang Pedoman
Pengelolaan Keuangan Daerah.

MODUL II
DOKUMEN PELAKSANAAN ANGGARAN SATUAN KERJA
PERANGKAT DAERAH (DPA-SKD) & ANGGARAN KAS
A. PENDAHULUAN

Dalam rangka penyusunan rancangan peraturan daerah tentang


APBD, Pejabat Pengelola Keuangan Daerah menghimpun RKA-SKPD
yang telah disusun oleh Kepala SKPD. RKA-SKPD yang dihimpun
tersebut harus memperhatikan bahwa dokumennya telah ditelaah oleh
Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD). Dalam proses penetapannya
lebih lanjut, Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan
Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD harus
dievaluasi terlebih dahulu.

Evaluasi yang dilakukan untuk menilai

kesesuaian dan keserasian antara kebijakan Pusat dan Daerah dan


meneliti sejauhaman APBD

tidak bertentangan dengan peraturan

perundang-undangan yang lebih tinggi, kepentingan umum dan


peraturan daerah lainnya.
Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan Rancangan
Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD yang telah
dievaluasi

dan

ditetapkan

oleh Kepala

Daerah

sesuai

dengan

mekanisme peraturan perundang-undangan, dijadikan sebagai dasar


penyusunan Dokumen Pelaksanaan Anggaran Satuan Kerja Perangkat
Daerah (DPA-SKPD).
Lingkup materi modul Penyusunan DPA-SKPD dan Anggaran
Kas mencakup :
1. Mekanisme dan proses penyusunan rancangan DPA-SKPD.
2. Teknis Penyusunan rancangan DPA-SKPD.
3. Teknis Penyusunan Rancangan Anggaran Kas.

B.

TEKNIS PENYUSUNAN RANCANGAN DPA-SKPD


B.1. Pengertian.
Penyusunan rancangan DPA-SKPD pada dasarnya bertujuan
untuk memberikan tuntunan dan panduan tentang tata cara yang
harus diperhatikan dalam menyusun dokumen sebagai dasar
pelaksanaan anggaran.
Rancangan DPA-SKPD yang disusun pada prinsipnya harus
dapat menggambarkan informasi yang memuat sasaran yang
hendak dicapai dari program/kegiatan dan anggaran yang
disediakan serta rencana penarikan dana untuk pengeluaranpengeluaran yang dibutuhkan tiap-tiap SKPD serta pendapatan
yang telah diperkirakan.
B.2. Mekanisme penyusunan rancangan DPA-SKPD.
Penyusunan RKA-SKPD dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut :
a.

PPKD paling lama 3 hari kerja setelah Peraturan Daerah


tentang APBD ditetapkan, memberitahukan kepada semua Kepala
SKPD agar menyusun rancangan DPA-SKPD.
disampaikan melalui

Pemberitahuan

surat edaran secara resmi untuk segera

ditindaklanjuti.
b.

Kepala SKPD menyiapkan dokumen rancangan DPASKPD dan disampaikan kepada PPKD paling lama 6 hari kerja
terhitung sejak tanggal surat edaran yang disampaikan oleh PPKD.
Dokumen yang disampaikan terdiri dari :
1. DPA-SKPD (Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja dan
Pembiayaan Satuan Kerja Perangkat Daerah)
2. DPA-SKPD 1 (Rincian Anggaran Pendapatan Satuan Kerja
Perangkat Daerah)
3. DPA-SKPD 2.1 (Rincian Anggaran Belanja Tidak Langsung

Satuan Kerja Perangkat Daerah)


4. DPA-SKPD

2.2

(Rekapitulasi

Rincian

Anggaran

Belanja

Langsung menurut Program dan Kegiatan Satuan Kerja


Perangkat Daerah)
5. DPA-SKPD 2.2.1 (Rincian Anggaran Belanja Langsung menurut
Program dan Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah)
6. DPA-SKPD 3.1 (Rincian Penerimaan Pembiayaan Daerah)
7. RKA-SKPD 3.2 (Rincian Pengeluaran Pembiayaan Daerah)
B.2. Teknis Penyusunan DPA-SKPD.
Teknis penyusunan DPA-SKPD dilakukan dengan urutan
pengerjaan sebagai berikut :

Cara Pengisian Formulir DPA SKPD Ringkasan Dokumen Pelaksanaan AnggaranSatuan Kerja Perangkat
Daerah:
Sumber data formulir DPA SKPD diperoleh dari peringkasan jumlah pendapatan menurut kelompok dan
jenis pendapatan yang diisi dalam formulir DPA SKPD 1, jumlah belanja tidak langsung menurut kelompok
dan jenis belanja yang diisi dalam formulir DPA SKPD 2.1, dan penggabungan dari seluruh jumlah
kelompok dan jenis belanja langsung yang diisi dalam setiap formulir DPA SKPD 2.2.1.
Khusus Satuan Kerja Pengelola Keuangan Daerah pada formulir DPA SKPD setelah surplus dan defisit
anggaran diuraikan kembali ringkasan penerimaan dan pengeluaran pembiayaan sebagaimana tercantum
dalam formulir DPA SKPD 6.
1.

Provinsi/Kabupaten/Kota diisi dengan nama Provinsi/Kabupaten/Kota.

2.

Tahun anggaran diisi dengan tahun anggaran yang direncanakan.

3. Urusan Pemerintahan diisi dengan nomor kode urusan pemerintahan daerah dan nama

urusan

pemerintahan daerah yang dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD.
4.

Organisasi diisi dengan nomor kode perangkat daerah dan nama satuan kerja perangkat daerah

5.

Kolom 1 (kode rekening), diisi dengan nomor kode rekening pendapatan/nomor kode rekening
belanja/nomor kode rekening pembiayaan.
Pengisian kode rekening dimaksud secara berurutan dimulai dari kode rekening anggaran
pendapatan/belanja/pembiayaan, diikuti dengan masing-masing kode rekening kelompok
pendapatan/belanja/pembiayaan
dan
diakhiri
dengan
kode
rekening
jenis
pendapatan/belanja/pembiayaan.

6.

Kolom 2 (uraian), diisi dengan uraian pendapatan/belanja/pembiayaan.

a.

Pencantuman pendapatan diawali dengan uraian pendapatan, selanjutnya diikuti dengan uraian

kelompok dan setiap uraian kelompok diikuti dengan uraian jenis pendapatan yang dipungut atau
diterima oleh satuan kerja perangkat daerah.
b.

Untuk belanja diawali dengan pencantuman uraian belanja, selanjutnya uraian belanja dikelompokkan
ke dalam belanja tidak langsung dan belanja langsung.

Dalam kelompok belanja tidak langsung diuraikan jenis-jenis belanja sesuai dengan yang tercantum dalam
formulir DPA SKPD 2.1.
Dalam kelompok belanja langsung diuraikan jenis-jenis belanja sesuai dengan yang tercantum dalam
formulir DPA SKPD 2.2.1.
c.

Untuk pembiayaan diawali dengan pencantuman uraian pembiayaan, selanjutnya uraian pembiayaan
dikelompokkan ke dalam penerimaan dan pengeluaran pembiayaan.

Dalam kelompok penerimaan pembiayaan diuraikan jenis-jenis penerimaan sesuai dengan yang tercantum
dalam formulir DPA SKPD 3.1.
Dalam kelompok pengeluaran pembiayaan diuraikan jenis-jenis pengeluaran sesuai dengan yang tercantum
dalam formulir DPA SKPD 3.2.
7.

Kolom 3 (jumlah) diisi dengan jumlah menurut kelompok, menurut jenis pendapatan dan belanja.

8.

Surplus diisi apabila jumlah anggaran pendapatan diperkirakan lebih besar dari jumlah anggaran
belanja.

9.

Defisit diisi apabila jumlah anggaran pendapatan diperkirakan lebih kecil dari jumlah anggaran
belanja, dan ditulis dalam tanda kurung.

10.

Khusus satuan kerja pengelola keuangan daerah pada formulir DPA SKPD, setelah surplus/defisit
anggaran diuraikan mengenai pembiayaan.

11.

Kode rekening, uraian dan jumlah penerimaan atau pengeluaran pembiayaan sebagaimana dimaksud
pada angka 10 diisi menurut kelompok, jenis penerimaan dan pengeluaran pembiayaan.

12.

Selanjutnya pada baris uraian pembiayaan neto menerangkan selisih antara jumlah penerimaan
pembiayaan dengan jumlah pengeluaran pembiayaan yang tercantum dalam kolom 3.

13.

Rencana pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah per triwulan diisi sebagai berikut :

a.

Baris pendapatan diisi dengan jumlah pendapatan yang dapat dipungut atau diterima setiap triwulan
selama satu tahun anggaran yang direncanakan.

b.

Baris belanja tidak langsung diisi dengan jumlah belanja tidak langsung yang dibutuhkan setiap
triwulan selama satu tahun anggaran yang direncanakan.

c.

Baris belanja langsung diisi dengan jumlah belanja langsung yang dibutuhkan untuk mendanai
program dan kegiatan setiap triwulan dalam tahun anggaran yang direncanakan.

d.

Baris penerimaan pembiayaan diisi dengan jumlah pembiayaan yang direncanakan dapat diterima
setiap triwulan selama satu tahun anggaran.

e.

Baris pengeluaran pembiayaan diisi dengan jumlah pembiayaan yang akan dikeluarkan setiap triwulan
selama satu tahun anggaran.
Kolom 7 (jumlah) diisi dengan penjumlahan dari jumlah pada kolom 3, kolom 4, kolom 5 dan kolom 6.
Pengisian setiap kolom triwulan I sampai dengan triwulan IV harus disesuaikan dengan rencana
kegiatan berdasarkan jadwal pelaksanaan kegiatan. Oleh karena itu tidak dibenarkan pengisian jumlah
setiap triwulan dengan cara membagi 4 dari jumlah yang direncanakan dalam satu tahun anggaran.
Keakurasian data pelaksanaan anggaran pertriwulan sangat dibutuhkan untuk penyusunan anggaran
kas dan mengendalikan likuiditas Kas Umum Daerah serta penerbitan SPD.
Formulir DPA - SKPD ditandatangani oleh sekretaris daerah dengan mencantumkan nama lengkap
dan nomor induk pegawai.

14.

Formulir DPA - SKPD dapat diperbanyak sesuai dengan kebutuhan.

15.

Apabila formulir DPA - SKPD lebih dari satu halaman setiap halaman diberi nomor urut halaman.

Cara Pengisian Formulir DPA - SKPD 1 Rincian Dokumen Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Satuan Kerja
Perangkat Daerah :
1.

Nomor DPA SKPD diisi dengan nomor kode urusan pemerintahan, nomor kode organisasi SKPD,
nomor kode program diisi dengan kode 00 dan nomor kode kegiatan diisi dengan kode 00 serta
nomor kode anggaran pendapatan diisi dengan kode 1

2.

Provinsi/kabupaten/kota diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.

3.

Tahun anggaran diisi dengan tahun anggaran yang direncanakan.

4.

Urusan Pemerintahan diisi dengan nomor kode urusan pemerintahan daerah dan nama urusan
pemerintahan daerah yang dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD.

5.

Organisasi diisi dengan nomor kode perangkat daerah dan nama satuan kerja perangkat daerah

6.

Kolom 1 kode rekening diisi dengan kode rekening kelompok, jenis, objek, rincian objek pendapatan
satuan kerja perangkat daerah.

7.

Kolom 2 (uraian) diisi dengan uraian nama kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek Pendapatan.

8.

Kolom 3 (volume) diisi dengan jumlah target dari rincian obyek pendapatan yang direncanakan,
seperti jumlah kendaraan bermotor, jumlah liter bahan bakar kendaraan bermotor, jumlah tingkat
hunian hotel, jumlah pengunjung restoran, jumlah kepala keluarga, jumlah pasien, jumlah
pengunjung, jumlah kendaraan yang memanfaatkan lahan parkir, jumlah bibit
perikanan/pertanian/peternakan/ kehutanan/perkebunan, jumlah limbah yang diuji, jumlah
kios/los/kakilima, jumlah pemakaian/penggunaan sarana olahraga/gedung/gudang/lahan milik
pemda, jumlah unit barang bekas milik pemerintah daerah yang dijual, jumlah uang yang
ditempatkan pada bank tertentu dalam bentuk tabungan atau giro, jumlah modal yang disertakan

atau diinvestasikan.
9.

Kolom 4 (satuan) diisi dengan satuan hitung dari target rincian obyek yang direncananakan seperti
unit, waktu/jam/hari/bulan/tahun, ukuran berat, ukuran luas, ukuran isi dan sebagainya.

10.

Kolom 5 (tarif/harga) diisi dengan tarif pajak/retribusi atau harga/nilai satuan lainnya dapat berupa
besarnya tingkat suku bunga, persentase bagian laba, atau harga atas penjualan barang milik daerah
yang tidak dipisahkan.

11.

Kolom 6 (jumlah) diisi dengan jumlah pendapatan yang direncanakan menurut kelompok, jenis,
objek, rincian objek pendapatan. Jumlah pendapatan dari setiap rincian obyek yang dianggarkan
merupakan hasil perkalian kolom 3 dengan kolom 5.

6.

Rencana Pendapatan per triwulan diisi dengan jumlah pendapatan yang dapat dipungut atau
diterima setiap triwulan selama tahun anggaran yang direncanakan.
Pengisian setiap triwulan harus disesuaikan dengan rencana yang dapat dipungut atau diterima.
Oleh karena itu tidak dibenarkan pengisian jumlah setiap triwulan dengan cara membagi 4 dari
jumlah yang direncanakan dalam satu tahun anggaran. Keakurasian data pelaksanaan anggaran
pertriwulan sangat dibutuhkan untuk penyusunan anggaran kas dan mengendalikan likuiditas Kas
Umum Daerah serta penerbitan SPD.

12.

Formulir DPA SKPD 1 merupakan input data untuk menyusun formulir DPA SKPD.

13.

Nama ibukota, bulan, tahun diisi berdasarkan pembuatan formulir DPA SKPD 1, dengan
mencantumkan nama jabatan kepala satuan kerja pengelola keuangan daerah.

14.

Formulir DPA SKPD 1 ditandatangani oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah dengan
mencantumkan nama lengkap dan nomor induk pegawai.

15.

Formulir DPA SKPD 1 dapat diperbanyak sesuai dengan kebutuhan.

16.

Apabila formulir DPA SKPD 1 lebih dari satu halaman setiap halaman diberi nomor urut halaman.

Cara Pengisian Formulir DPA - SKPD


Langsung Satuan Kerja Perangkat Daerah

2.1 Rincian Dokumen Pelaksanaan Anggaran Belanja Tidak

1.

Nomor DPA SKPD diisi dengan nomor kode urusan pemerintahan, nomor kode organisasi SKPD,
nomor kode program diisi dengan kode 00 dan nomor kode kegiatan diisi dengan kode 00, nomor
kode anggaran belanja diisi dengan kode 5 serta nomor kode kelompok belanja tidak langsung diisi
dengan kode 1.

2.

Provinsi/kabupaten/kota diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.

3.

Tahun anggaran diisi dengan tahun anggaran yang direncanakan.

4.

Urusan Pemerintahan diisi dengan nomor kode urusan pemerintahan daerah dan nama urusan
pemerintahan daerah yang dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD.

5.

Organisasi diisi dengan nomor kode SKPD dan nama satuan kerja perangkat daerah

6.

Kolom 1 (kode rekening) diisi dengan dengan nomor kode rekening kelompok/jenis/ objek/rincian
objek belanja tidak langsung .

7.

Kolom 2 (uraian) diisi dengan nama kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja tidak langsung.

8.

Kolom 3 (volume) diisi dengan jumlah dapat berupa jumlah orang/pegawai dan barang

9.

Kolom 4 (satuan) diisi dengan satuan hitung dari target rincian obyek yang direncananakan seperti
unit, waktu/jam/hari/bulan/tahun, ukuran berat, ukuran luas, ukuran isi dan sebagainya.

10. Kolom 5 (harga satuan) diisi dengan harga satuan dapat berupa tarif, harga, tingkat suku bunga, nilai
kurs.
11. Kolom 6 (ket. jumlah/volume) diisi dengan keterangan jumlah/volume seperti orang per hari (org/hr),
orang per bulan (org/bln), orang per tahun (org/th), buah per hari (bh/hr), unit per tahun (unit/th)
dan sebagainya.
12. Kolom 7 (jumlah) diisi dengan jumlah perkalian antara volume dengan harga satuan. Setiap jumlah
uraian rincian obyek dijumlahkan menjadi jumlah rincian obyek belanja. Setiap jumlah rincian obyek
pada masing-masing obyek belanja selanjutnya dijumlahkan menjadi obyek belanja berkenaan. Setiap
obyek belanja pada masing-masing jenis belanja kemudian dijumlahkan menjadi jumlah jenis belanja.
13. Baris Jumlah diisi dengan penjumlahan dari seluruh jenis belanja kolom 7 yang merupakan jumlah
kelompok belanja tidak langsung yang dituangkan dalam formulir RKA - SKPD 2.1
7.

Rencana penarikan dana belanja tidak langsung setiap triwulan selama tahun anggaran yang
direncanakan, diisi dengan jumlah yang disesuaikan dengan rencana kebutuhan. Oleh karena itu tidak
dibenarkan pengisian jumlah setiap triwulan dengan cara membagi 4 dari jumlah yang direncanakan
dalam satu tahun anggaran. Keakurasian data pelaksanaan anggaran pertriwulan sangat dibutuhkan
untuk penyusunan anggaran kas dan mengendalikan likuiditas Kas Umum Daerah serta penerbitan
SPD.

14. Formulir DPA - SKPD 2.1 merupakan input data untuk menyusun Formulir DPA SKPD.
15. Formulir DPA - SKPD 2.1 dapat diperbanyak sesuai dengan kebutuhan.
16. Apabila Formulir DPA - SKPD 2.1 lebih dari satu halaman setiap halaman diberi nomor urut halaman.
17. Tanggal, bulan, tahun diisi berdasarkan pembuatan DPA - SKPD 2.1.
18. Formulir DPA - SKPD 2.1 ditandatangani oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah dengan
mencantumkan nama lengkap dan NIP yang bersangkutan.

10

Cara Pengisian Formulir DPA SKPD 2.2 Rekapitulasi Belanja Langsung menurut Program dan Kegiatan
Satuan Kerja Perangkat Daerah
1.

Provinsi/kabupaten/kota diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.

2.

Tahun anggaran diisi dengan tahun anggaran yang direncanakan.

3.

Urusan Pemerintahan diisi dengan nomor kode urusan pemerintahan daerah dan nama urusan
pemerintahan daerah yang dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD.

4.

Organisasi SKPD diisi dengan nomor kode SKPD dan nama satuan kerja perangkat daerah

5.

Kolom 1 (kode program/kegiatan) diisi dengan nomor kode program.

6.

Kolom 2 (kode program/kegiatan) diisi dengan nomor kode kegiatan.

11

7.

Kolom 3 (uraian) diisi dengan nama program yang diikuti selanjutnya dengan nama masing-masing
kegiatan untuk mendukung terlaksananya program dimaksud.

8.

Kolom 4 (lokasi kegiatan) diisi dengan nama tempat atau lokasi dari setiap kegiatan yang akan
dilaksanakan. Tempat atau lokasi dimaksud dapat berupa nama desa/kelurahan atau kecamatan.

9.

Kolom 5 (target kinerja) diisi dengan target kinerja program dan kegiatan yang akan dilaksanakan

10. Kolom 6 (sumber dana) diisi dengan jenis sumber dana (PAD, bagi hasil, DAU, DAK, lain-lain
pendapatan yang sah) untuk mendanai pelaksanaan program dan kegiatan yang direncanakan.
Catatan untuk kolom ini diisi oleh tim anggaran pemerintah daerah, kecuali apabila pendanaan untuk
program kegiatan tersebut sumber dananya sudah pasti, seperti DAK, pinjaman daerah, dana darurat,
bantuan khusus yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
11. Jumlah per triwulan diisi sebagai berikut :
a.

Kolom 7 diisi dengan jumlah belanja langsung yang dibutuhkan untuk mendanai program dan
kegiatan triwulan I dalam tahun anggaran yang direncanakan.

b.

Kolom 8 diisi dengan jumlah belanja langsung yang dibutuhkan untuk mendanai program dan
kegiatan triwulan II dalam tahun anggaran yang direncanakan.

c.

Kolom 9 diisi dengan jumlah belanja langsung yang dibutuhkan untuk mendanai program dan
kegiatan triwulan III dalam tahun anggaran yang direncanakan.

d.

Kolom 10 diisi dengan jumlah belanja langsung yang dibutuhkan untuk mendanai program dan
kegiatan triwulan IV dalam tahun anggaran yang direncanakan.

12. Pengisian setiap kolom triwulan I sampai dengan triwulan IV harus disesuaikan dengan rencana
kegiatan yang senyatanya berdasarkan jadwal pelaksanaan kegiatan. Oleh karena itu tidak dibenarkan
pengisian kolom triwulan dengan cara membagi 4 dari setiap jumlah yang direncanakan dalam satu
tahun anggaran. Hal tersebut mengingat keakurasian data pelaksanaan anggaran pertriwulan sangat
dibutuhkan untuk penyusunan anggaran kas sebagai dasar pengendalian likuiditas Kas Umum Daerah
dan penerbitan SPD.
13. Kolom 11 (jumlah) diisi dengan hasil penjumlahan kolom 7, kolom 8, kolom 9 dan kolom 10.
14. Formulir DPA - SKPD 2.2. ditandatangani oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah dengan
mencantumkan nama lengkap dan NIP yang bersangkutan.
15. Formulir DPA - SKPD 2.2. dapat diperbanyak sesuai dengan kebutuhan.
16. Apabila Formulir DPA - SKPD 2.2. lebih dari satu halaman setiap halaman diberi nomor urut
halaman.

12

Cara Pengisian Formulir DPA - SKPD 2.2.1 Rincian Dokumen Pelaksanaan Anggaran Belanja Langsung
Program dan Per Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah
1.

Nomor DPA - SKPD diisi dengan nomor kode Urusan Pemerintahan, nomor kode Organisasi, nomor
kode program diisi dengan kode program dan nomor kode kegiatan diisi dengan kode kegiatan,
nomor kode anggaran belanja diisi dengan kode 5 serta nomor kode kelompok belanja langsung diisi
dengan kode 2.

2.

Provinsi/kabupaten/kota diisi dengan nama provinsi/kabupaten/kota.

3.

Tahun anggaran diisi dengan tahun anggaran yang direncanakan.

4.

Urusan Pemerintahan diisi dengan nomor kode urusan pemerintahan daerah dan nama urusan
pemerintahan daerah yang dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi SKPD.

5.

Organisasi diisi dengan nomor kode SKPD dan nama satuan kerja perangkat daerah

6.

Baris kolom program diisi dengan kode program dan nama program dari kegiatan yang berkenaan.
Program merupakan instrumen kebijakan yang berisi satu atau lebih kegiatan yang dilaksanakan atau
kegiatan masyarakat yang dikoordinasikan oleh satuan kerja perangkat daerah untuk mencapai sasaran
dan tujuan kegiatan yang ditetapkan untuk memperoleh alokasi anggaran.

7.

Baris kolom kegiatan diisi dengan kode kegiatan dan nama kegiatan yang akan dilaksanakan.

8.

Baris kolom waktu pelaksanaan diisi dengan tanggal bulan


dilaksanakan.

9.

Baris kolom lokasi kegiatan diisi dengan nama lokasi atau tempat dari setiap kegiatan yang akan
dilaksanakan. Lokasi atau tempat dimaksud dapat berupa nama desa/kelurahan atau kecamatan.

dan tahun kegiatan yang akan

10. Baris kolom sumber dana diisi dengan jenis sumber dana (PAD, bagi hasil, DAU, DAK, lain-lain

13

pendapatan yang sah) untuk mendanai pelaksanaan program dan kegiatan yang direncanakan.
Catatan untuk baris kolom ini diisi oleh tim anggaran pemerintah daerah, kecuali apabila pendanaan
untuk program kegiatan tersebut sumber dananya sudah pasti, seperti DAK, pinjaman daerah, dana
darurat, bantuan khusus yang telah ditetapkan berdasarkan ketentuan peraturan perundangundangan dapat diisi langsung oleh satuan kerja perangkat daerah.
11. Kolom tolok ukur kinerja diisi dengan tolok ukur kinerja dari setiap masukan dapat berupa jumlah
dana, jumlah SDM, jumlah jam kerja, jumlah peralatan/teknologi yang dibutuhkan untuk
menghasilkan keluaran dalam tahun anggaran yang direncanakan. Tolok ukur kinerja dari setiap
keluaran diisi dengan jumlah keluaran yang akan dihasilkan dalam tahun anggaran yang
direncanakan. Tolok ukur kinerja hasil diisi dengan manfaat yang akan diterima pada masa yang akan
datang.
12. Kolom target kinerja diisi dengan tingkat prestasi kerja yang dapat diukur pencapaiannya atas capaian
program, masukan, keluaran dan hasil yang ditetapkan dalam kolom tolok ukur kinerja.
13. Kolom 1 (kode rekening) diisi dengan nomor kode rekening kelompok, jenis, objek, rincian objek
belanja langsung .
14. Kolom 2 (uraian) diisi dengan uraian nama kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek belanja
langsung.
15. Kolom 3 (volume) diisi dengan jumlah dapat berupa jumlah orang/pegawai dan barang
16. Kolom 4 (satuan) diisi dengan satuan hitung dari target rincian obyek yang direncananakan seperti
unit, waktu/jam/hari/bulan/tahun, ukuran berat, ukuran luas, ukuran isi dan sebagainya.
17. Kolom 5 (harga satuan) diisi dengan harga satuan dapat berupa tarif, harga, tingkat suku bunga, nilai
kurs.
18. Kolom 6 (ket. jumlah/volume) diisi dengan keterangan jumlah/volume seperti orang per hari (org/hr),
orang per bulan (org/bln), orang per tahun (org/th), buah per hari (bh/hr), unit per tahun (unit/th)
dan sebagainya.
19. Kolom 7 (jumlah) diisi dengan jumlah perkalian antara jumlah volume dan harga satuan. Setiap
jumlah uraian rincian obyek dijumlahkan menjadi jumlah rincian obyek belanja. Setiap jumlah rincian
obyek pada masing-masing obyek belanja selanjutnya dijumlahkan menjadi obyek belanja berkenaan.
Setiap obyek belanja pada masing-masing jenis belanja kemudian dijumlahkan menjadi jumlah jenis
belanja. Penjumlahan dari seluruh jenis belanja merupakan jumlah kelompok belanja langsung yang
dituangkan dalam formulir DPA - SKPD 2.2.1.
20. Rencana penarikan dana belanja langsung setiap triwulan selama tahun anggaran yang direncanakan,
diisi dengan jumlah yang disesuaikan dengan rencana kebutuhan mendanai pelaksanaan kegiatan.
Oleh karena itu tidak dibenarkan pengisian jumlah setiap triwulan dengan cara membagi 4 dari
jumlah yang direncanakan dalam satu tahun anggaran. Keakurasian data pelaksanaan anggaran
pertriwulan sangat dibutuhkan untuk penyusunan anggaran kas dan mengendalikan likuiditas Kas
Umum Daerah serta penerbitan SPD.
21. Formulir DPA - SKPD 2.2.1 merupakan input data untuk menyusun formulir DPA SKPD dan formulir
DPA - SKPD 2.2.
22. Formulir DPA - SKPD 2.2.1 dapat diperbanyak sesuai dengan kebutuhan.
23. Apabila Formulir DPA - SKPD 2.2.1 lebih dari satu halaman setiap halaman diberi nomor urut
halaman.
24. Tanggal, bulan, tahun diisi berdasarkan pembuatan DPA - SKPD 2.2.1.
25. Formulir DPA - SKPD 2.2.1 ditandatangani oleh Pejabat Pengelola Keuangan Daerah dengan
mencantumkan nama lengkap dan nomor induk pegawai yang bersangkutan.

Lit . Lampiran B.I

a) DPA-SKPD (Ringkasan Anggaran Pendapatan, Belanja


dan Pembiayaan Satuan Kerja Perangkat Daerah)
b) DPA-SKPD 1 (Rincian Anggaran Pendapatan Satuan
Kerja Perangkat Daerah)
c) DPA-SKPD 2.1 (Rincian Anggaran Belanja Tidak
14

Langsung Satuan Kerja Perangkat Daerah)


d) DPA-SKPD

2.2

(Rekapitulasi

Rincian

Anggaran

Belanja Langsung menurut Program dan Kegiatan


Satuan Kerja Perangkat Daerah)
e) DPA-SKPD 2.2.1 (Rincian Anggaran Belanja Langsung
menurut Program dan Per Kegiatan Satuan Kerja
Perangkat Daerah)
f) DPA-SKPD 3.1 (Rincian Penerimaan Pembiayaan
Daerah)
g) RKA-SKPD 3.2 (Rincian Pengeluaran Pembiayaan
Daerah)
1. Dokumen RKA-SKPD disusun oleh masing-masing SKPD
berpedoman pada Surat Edaran Kepala Daerah perihal
Pedoman Penyusunan RKA-SKPD.
2. Dokumen RKA-SKPD yang disusun sesuai dengan urutan
pengerjaan dalam Modul III.
a.

Penyampaian seluruh dokumen RKA-SKPD kepada PPKD


dalam rangka penyusunan Rancangan Peraturan Daerah
tentang APBD dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah
tentang APBD. Langkah-langkah yang dilakukan :
1. Form RKA-SKPD yang telah disusun oleh masing-masing
SKPD ditandatangani oleh Kepala SKPD dan selanjutnya
disampaikan kepada PPKD.
2. Dokumen RKA-SKPD yang telah diterima oleh PPKD
disampaikan kepada TAPD untuk dibahas lebih lanjut.
3. Pembahasan seluruh dokumen RKA-SKPD. Pembahasan
yang dilakukan oleh TAPD adalah untuk menelaah
kesesuaian

antara

RKA-SKPD

dengan

KUA,

PPA,

prakiraan maju yang telah disetujui tahun anggaran


sebelumnya, dan dokumen perencanaan lainnya, serta
capaian kinerja,

indikator kinerja, standar analisis


15

belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan


minimal.
4. Penyempurnaan

RAK-SKPD.

Dalam

hal

hasil

pembahasan RKA-SKPD yang telah dilakukan oleh TPAD


terdapat ketidaksesuaian, maka RKA-SKPD dikembalikan
kepada

Kepala

SKPD

yang

bersangkutan,

untuk

penyempurnaan.
5. Kepala SKPD setelah melakukan penyempurnaan RKASKPD, menyampaikan kepada TAPD.
6. TPAD menyerahkan seluruh dokumen RKA-SKPD dan
RKA-SKPD

hasil

penyempurnaan

kepada

PPKD.

Seluruh dokumen RKA-SKPD yang akan disampaikan


kepada PPKD tersebut sudah ditandatangani oleh Kepala
SKPD dan mendapatkan paraf/pengesahan dari TAPD
dalam form RKA-SKPD yang tersedia.
b. Penyusunan

Lampiran-lampiran

Rancangan

Peraturan

Daerah tentang APBD.


1. Penyusunan Lampiran I (Ringkasan APBD)
a) Ringkasan APBD diperoleh dengan mengkompilasi
seluruh dokumen ringkasan (form RKA-SKPD) yang
selanjutnya dituangkan di dalam Lampiran I.
b) Teknis

pengkompilasian

dokumen

ringkasan

dilakukan dengan cara sebagai berikut :


1) Ringkasan pendapatan daerah.
Ringkasan

pendapatan,

diperoleh

dengan

merekapitulasi seluruh pendapatan dalam form


RKA-SKPD yaitu kelompok pendapatan dan jenis
pendapatan yang ada dianggarkan di SKPD
berkenaan.
2)

Ringkasan belanja daerah.


Ringkasan

belanja

daerah,

diperoleh

dengan
16

merekapitulasi seluruh belanja daerah dalam form


RKA-SKPD yaitu: kelompok belanja dan jenis
belanja yang ada dianggarkan di SKPD berkenaan.
3)

Surplus/Defisit.
Surplus diisi apabila jumlah anggaran pendapatan
diperkirakan lebih besar dari jumlah anggaran
belanja. Defisit diisi apabila jumlah anggaran
pendapatan diperkirakan lebih kecil dari jumlah
anggaran belanja, dan ditulis dalam tanda kurung.

4)

Ringkasan pembiayaan.
Ringkasan

pembiayaan,

diperoleh

dengan

merekapitulasi pembiayaan dalam form RKASKPD yaitu: kelompok pembiayaan dan jenis
pembiayaan yang ada dianggarkan di SKPKD.
5)

Pembiayaan Netto.
Pembiayaan netto diisi dari selisih antara jumlah
penerimaan

pembiayaan

dengan

jumlah

pengeluaran pembiayaan.
6)

SILPA Tahun Berkenaan.


SILPA Tahun Berkenaan diisi dari selisih antara
jumlah

Pembiayaan

Netto

dengan

jumlah

Surplus/Defisit.
Hasil

penyusunan

Lampiran

digambarkan

sebagai berikut:

17

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ..
RINGKASAN APBD
TAHUN ANGGARAN
Nomor
Urut
1

Uraian

Jumlah

1.

PENDAPATAN DAERAH

1.1
1.1.1
1.1.2
1.1.3
1.1.4

Pendapatan asli daerah


Pajak Daerah
Retribusi Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah

1.2
1.2.1
1.2.2
1.2.3

Dana perimbangan
Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus

1.3
1.3.1
1.3.2

Lain-lain pendapatan daerah yang sah


Hibah
Dana Darurat
Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah
lainnya
Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah
lainnya

1.3.3
1.3.4
1.3.5

Jumlah Pendapatan
2.

BELANJA DAERAH

2.1
2.1.1
2.1.2
2.1.3
2.1.4
2.1.5

2.1.8

Belanja Tidak Langsung


Belanja pegawai
Belanja bunga
Belanja subsidi
Belanja hibah
Belanja bantuan sosial
Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan
Pemerintahan Desa
Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota
Dan Pemerintahan Desa
Belanja Tidak Terduga

2.2
2.2.1
2.2.2
2.2.3

Belanja Langsung
Belanja pegawai
Belanja barang dan jasa
Belanja modal

2.1.6
2.1.7

Jumlah Belanja
Surplus/(Defisit)
3.

PEMBIAYAAN DAERAH

3.1
3.1.1

Penerimaan pembiayaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya

18

Nomor
Urut
1
3.1.2
3.1.3
3.1.4
3.1.5
3.1.6

Uraian

Jumlah

(SiLPA)
Pencairan dana cadangan
Hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan
Penerimaan pinjaman daerah
Penerimaan kembali pemberian pinjaman
Penerimaan piutang daerah
Jumlah penerimaan pembiayaan

3.2
3.2.1
3.2.2
3.2.3
3.2.4

Pengeluaran pembiayaan
Pembentukan dana cadangan
Penyertaan modal (Investasi) pemerintah daerah
Pembayaran pokok utang
Pemberian pinjaman daerah
Jumlah pengeluaran pembiayaan
Pembiayaan neto

3.3

Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan


(SILPA)

c) Pengisian nomor urut dan jumlah anggaran pada


kelompok pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam
ringkasan tetap dicantumkan.

Namun pada jenis

pendapatan, belanja dan pembiayaan yang tidak ada


anggarannya tidak perlu dicantumkan.
d) Pada akhir lampiran ini dicantumkan nama ibukota
provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

pengesahan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.

2. Penyusunan Lampiran II (Ringkasan APBD menurut


urusan pemerintahan daerah dan organisasi)
a) Ringkasan

Lampiran

II

ini

diperoleh

dengan

mengkompilasi seluruh dokumen ringkasan (form


RKA-SKPD) yang selanjutnya dituangkan di dalam
Lampiran II, yang menguraikan pendapatan, belanja
tidak langsung, belanja langsung dan penerimaan
serta

pengeluaran

pembiayaan

menurut

urusan

pemerintahan daerah dan organisasi.


b) Hasil penyusunan Lampiran II digambarkan sebagai

19

berikut :

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
RINGKASAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN
ORGANISASI
TAHUN ANGGARAN
Kode

Urusan Pemerintahan Daerah

Pendap
atan

Belanja
Tidak
Langsung
4

Langsung
5

Jumlah
Belanja
6

URUSAN WAJIB

1
1
1
1

01
01
01
01

01
02
03

Pendidikan
Dinas Pendidikan
Kantor Perpustakaan Daerah
Dst

1
1
1
1

02
02
02
04

01
02
03

Kesehatan
Dinas Kesehatan
Rumah Sakit Umum Daerah
Dst

x
x

xx
xx

xx

Dst .....
Dst
Jumlah
SURPLUS/(DEFISIT)
PEMBIAYAAN

Kode

Urusan Pemerintahan Daerah

PENERI
MAAN

PENGELU
ARAN

PEMBIAYA
AN NETTO

SILPA
TAB
6

URUSAN WAJIB

20

20

Pemerintahan Umum
xx

BPKD

c) Pengisian nomor kode, uraian urusan pemerintahan


daerah dan organisasi dicantumkan sesuai dengan
kondisi dan kebutuhan daerah, dengan menyesuaikan
terhadap kode yang baku (Lampiran I Permendagri
13/2006)
d) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota
provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

penetapan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


20

lengkap.
3. Penyusunan Lampiran III (Rincian APBD menurut
urusan

pemerintahan

daerah,

organisasi

SKPD,

pendapatan, belanja dan pembiayaan.


a) Penyusunan Lampiran III dikompilasi dari :
1) Seluruh

RKA-SKPD

(Rincian

anggaran

pendapatan SKPD).
2) Seluruh RKA-SKPD 2.1 (Rincian anggaran belanja
tidak langsung SKPD).
3) Seluruh RKA-SKPD 2.2 (Rincian anggaran belanja
langsung SKPD menurut program/kegiatan).
4) RKA-SKPD 3.1 (penerimaan pembiayaan).
5) RKA-SKPD 3.2 (pengeluaran pembiayaan).

b) Mencatumkan judul lampiran III Peraturan Daerah


yaitu: Rincian APBD menurut Urusan Pemerintahan
Daerah,

Organisasi,

Pendapatan,

Belanja

dan

Pembiayaan.
c) Urusan Pemerintahan diisi dengan nomor kode
urusan pemerintahan dan nama urusan pemerintahan
daerah yang dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok
dan fungsi
d) Organisasi diisi dengan nomor kode perangkat daerah
dan nama satuan kerja perangkat daerah.
e) Mengisi daftar lampiran III yang memuat kode
rekening, uraian (rincian pendapatan, belanja dan
pembiayaan yang d, jumlah anggaran dan dasar
hukum yang mendasarinya.
f) Pencantuman nomor kode rekening dan uraian
anggaran pendapatan, belanja dan pembiayaan yang
21

dirinci sampai dengan jenis pendapatan, belanja dan


pembiayaan hanya untuk yang dianggarkan dimasingmasing SKPD berkenaan (Apabila tidak dianggarkan
di masing-masing SKPD jenis

pendapatan, belanja

dan pembiayaan tidak perlu dicantumkan dalam


lampiran).
g) Pencantuman kode rekening dan susunan pendapatan,
belanja dan pembiayaan daerah yang dianggarkan di
masing-masing SKPD disesuaikan dengan kode yang
baku (Lampiran A.I sampai dengan A .IX Permendagri
13/2006)
h) Pada kolom 4 (Dasar Hukum ) dicantumkan dasar
hukum penganggaran pendapatan, belanja daerah dan
pembiayaan daerah baik berupa peraturan daerah dan
peraturan perundang-undangan lainnya yang dapat
dijadikan sebagai payung hukumnya.
i) Hasil penyusunan Lampiran III digambarkan sebagai
berikut:

22

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA .
RINCIAN APBD MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN
DAERAH, ORGANISASI, PENDAPATAN, BELANJA DAN
PEMBIAYAAN
TAHUN ANGGARAN
URUSAN PEMERINTAHAN
ORGANISASI

: x.xx.
..
: x. xx. xx. ..

KODE REKENING

URAIAN

JUMLAH

DASAR
HUKUM

x.xx

xx

00

00

PENDAPATAN DAERAH

x.xx
x.xx
x.xx

xx
xx
xx

00
00
00

00
00
00

4
4
4

1
1
1

x.xx

xx

00

00

x.xx

xx

00

00

x.xx

xx

00

00

x.xx

xx

00

00

x.xx
x.xx

xx
xx

00
00

00
00

4
4

2
2

2
3

x.xx
x.xx
x.xx
x.xx

xx
xx
xx
xx

00
00
00
00

00
00
00
00

4
4
4
4

3
3
3
3

1
2
3

x.xx

xx

00

00

x.xx

xx

00

00

x.xx

xx

00

00

1
2

Pendapatan asli daerah


Hasil Pajak Daerah
Hasil Retribusi Daerah
Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah Yang
Dipisahkan
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah Yang Sah
Dana perimbangan
Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan
Pajak
Dana Alokasi Umum
Dana Alokasi Khusus
Lain-lain pendapatan daerah yang sah
Dana Penyeimbang dari Pemerintah
Dana darurat
Pendapatan Hibah
Bagi hasil pajak dari provinsi/kabupaten/kota
*)

Bantuan keuangan dari


provinsi/kabupaten/kota *)
Bantuan Keuangan dari pemerintah daerah
lainnya
Jumlah Pendapatan

x.xx

xx

00

00

BELANJA DAERAH
Belanja Tidak Langsung

x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx

xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx

00
00
00
00
00
00
00
00

00
00
00
00
00
00
00
00

5
5
5
5
5
5
5
5

1
1
1
1
1
1
1
1

1
2
3
4
5
6
7
8

Belanja Pegawai
Belanja Bunga
Belanja Subsidi
Belanja Hibah
Belanja Bantuan Sosial
Belanja Belanja Bagi Hasil
Belanja Bantuan Keuangan
Belanja Tidak Terduga
Belanja Langsung

x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx

xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx

xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx

xx
xx
xx
xx
xx
xx
xx

x.xx
x.xx
x.xx
x.xx
x.xx

xx
xx
xx
xx
xx

xx
xx
xx
xx
xx

xx
xx
xx
xx

x.xx

xx

xx

xx

5
5
5

2
2
2

1
2
3

5
5

2
2

1
2

Program ..
Kegiatan ..
Belanja pegawai
Belanja barang dan jasa
Belanja modal
Kegiatan ..
Belanja pegawai
Belanja barang dan jasa

1
2
3

Program ..
Kegiatan ..
Belanja pegawai
Belanja barang dan jasa
Belanja modal

5
5
5

2
2
2

Kegiatan ..

23

j) Pada akhir lampiran ini dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

penetapan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
4. Penyusunan Lampiran IV (Rekapitulasi belanja menurut
urusan pemerintahan daerah, organisasi SKPD, program,
dan kegiatan).
a) Penyusunan

Lampiran

IV

dilakukan

dengan

merekapitulasi seluruh Form RKA-SKPD 2.2 (Rincian


Anggaran Belanja Langsung menurut Program dan
Kegiatan Satuan Kerja Perangkat Daerah).
b) Pencantuman kode dan susunan Uraian Urusan,
Organisasi,

Program

dan

Kegiatan

berdasarkan

kebutuhan dan kondisi daerah serta disesuaikan


dengan kode yang baku (Lampiran A.I dan A .VII
Permendagri 13/2006).
c) Hasil penyusunan Lampiran IV digambarkan sebagai
berikut:

24

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ..
REKAPITULASI BELANJA MENURUT URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH, ORGANISASI
PROGRAM DAN KEGIATAN TAHUN ANGGARAN
Jenis Belanja
Kode

Uraian Urusan, Organisasi,


Program dan Kegiatan

Pegawai

Barang
dan Jasa

Modal

Jumlah

6 = 3+4+5

URUSAN WAJIB

01

01

01

Pendidikan

01

01

xx

01

01

xx

01

02

01

02

xx

01

02

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

xx

Dinas Pendidikan
Program
Xx

Kegiatan ..
Kantor Perpustakaan Daerah
Program

Xx

Kegiatan ..
Dst
Dst ......
Dst .......
Program

Xx

Kegiatan ..
Dst
Jumlah

d) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

penetapan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
5. Penyusunan Lampiran V (Rekapitulasi belanja daerah
untuk keselarasan dan keterpaduan urusan pemerintahan
daerah dan fungsi dalam kerangka pengelolaan keuangan
negara).
a) Penyusunan

Lampiran

dilakukan

dengan

menselaraskan urusan daerah dalam form Lampiran


IV dengan fungsi Pengelolaan Keuangan Negara.
b) Cara untuk melakukan penyelarasan dan keterpaduan
antara belanja menurut urusan daerah dengan fungsi,
dengan teknik konversi sebagaimana ditunjukkan
dalam skhema berikut ini :

25

Pendidikan

URUSAN PEMERINTAHAN
Kesehatan
DAERAH
Pekerjaan
URUSANUmum
WAJIB

FUNGSI KEUANGAN NEGARA

Perumahan Rakyat
Penataan Ruang
Perencanaan Pembangunan
Perhubungan
Lingkungan Hidup
Pertanahan
Kependudukan dan Catatan Sipil
Pemberdayaan Perempuan
Keluarga Berencana dan Keluarga
Sejahtera
Sosial
Tenaga Kerja dan Transmigrasi
Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah
Penanaman Modal
Kebudayaan dan Pariwisata
Pemuda dan Olah Raga
Kesatuan Bangsa dan Politik
Dalam Negeri
Pemerintahan Umum
Kepegawaian
Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa
Statistik
Kearsipan
Komunikasi dan Informatika
URUSAN PILIHAN
Pertanian
Kehutanan
Energi dan Sumberdaya Mineral
Kelautan dan Perikanan
Perdagangan
Perindustrian

Pelayanan umum
Pertahanan *)
Ketertiban dan ketentraman
Ekonomi
Lingkungan hidup
Perumahan dan fasilitas
umum
Kesehatan
Pariwisata dan budaya
Agama *)
Pendidikan
Perlindungan sosial

c) Kode dan klasifikasi Belanja Daerah yang digunakan


dalam

rangka

keselarasan

dan

keterpaduan

pengelolaan Keuangan Negara dimulai berdasarkan


urutan fungsi Keuangan Negara yang terdiri dari 11
fungsi. Untuk fungsi pertahanan dan fungsi agama
berhubung bukan merupakan kewenangan daerah
tidak perlu diselaraskan.
d) Rekapitulasi anggaran belanja yang dicantumkan
untuk keselarasan dan keterpaduan pengelolaan
keuangan negara mencakup: belanja tidak langsung
dan belanja langsung. Belanja Tidak langsung terdiri
dari belanja pegawai dan belanja non pegawai (bunga,
subsidi, hibah, bantuan sosial, bagi hasil dan bantuan
keuangan dan belanja tidak terduga). Belanja non
pegawai

hanya

dianggarkan

dalam

urusan

pemerintahan umum sehingga diklasifikasikan dalam


fungsi pelayanan umum.
e) Hasil penyusunan Lampiran V digambarkan sebagai
berikut :

26

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ..
REKAPITULASI BELANJA DAERAH UNTUK KESELARASAN DAN
KETERPADUAN URUSAN PEMERINTAHAN DAERAH DAN FUNGSI
DALAM KERANGKA PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA
TAHUN ANGGARAN

KODE

BELANJA TIDAK
LANGSUNG
NON
PEGAWAI
PEGAWAI

URAIAN

01

JUMLAH

PEGAWAI

BARANG
DAN JASA

MODAL

8=3+4+5
+6+7

Pelayanan umum

01

06

Perencanaan Pembangunan

01

20

Pemerintahan Umum

01

21

Kepegawaian

01

23

Statistik

01

24

Kearsipan

01

25

Komunikasi dan Informatika

02

Pertahanan

03
03

BELANJA LANGSUNG

Ketertiban dan keamanan


Kesatuan Bangsa dan Politik
Dalam Negeri

19

04

07

Perhubungan

04

14

04

15

04

16

04

22

04

01

Tenaga Kerja dan Transmigrasi


Koperasi
dan
Usaha
Kecil
Menengah
Penanaman Modal
Pemberdayaan Masyarakat dan
Desa
Pertanian

04

02

Kehutanan

04

03

Energi dan Sumberdaya Mineral

04

05

Kelautan dan Perikanan

04

06

Perdagangan

04

07

Perindustrian

04

08

Transmigrasi

05

05

Penataan Ruang

05

08

Lingkungan Hidup

05

09

Pertanahan

06

03

Perumahan dan
umum
Pekerjaan Umum

06

04

Perumahan

07

02

Kesehatan

07

12

Keluarga Berencana

08

17

Kebudayaan

08

04

Pariwisata

04

Ekonomi

05

Lingkungan hidup

06

07

fasilitas

Kesehatan

08

Pariwisata dan budaya

09

Agama

10

Pendidikan

10

01

Pendidikan

10

18

Pemuda dan Olah Raga

11

10

Kependudukan dan Catatan Sipil

11

11

Pemberdayaan Perempuan

10

12

Keluarga Sejahtera

10

13

Sosial

11

Perlindungan sosial

27

f) Pencantuman kode dan susunan uraian urusan


pemerintahan

daerah

dan

fungsi

berdasarkan

kebutuhan dan kondisi daerah serta disesuaikan


dengan kode yang baku (Lampiran A.VI Permendagri
13/2006)
g) Pada akhir lampiran dicantumkan nama ibukota
provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

pengesahan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
6. Penyusunan Lampiran VI (Daftar jumlah pegawai per
golongan dan per jabatan).
a) Penyusunan dan pengisian daftar jumlah pegawai per
golongan dan per jabatan (eselon dan non eselon)
diperoleh

dari

data

masing-masing

SKPD

dan

diverifikasi oleh biro/badan/bagian kepegawaian.


Hasil penyusunan lampiran VI digambarkan sebagai
berikut:

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA
DAFTAR JUMLAH PEGAWAI PER GOLONGAN DAN PER JABATAN
TAHUN ANGGARAN .

ESELON

NON ESELON

GOLONGAN/RUANG

JUMLAH
I

II

III

IV

TENAGA
FUNGSIONAL

STAF

Golongan IV/e
Golongan IV/d
Golongan IV/c
Golongan IV/b
Golongan IV/a
JUMLAH GOLONGAN IV
Golongan III/d
Golongan III/c
Golongan III/b
Golongan III/a
JUMLAH GOLONGAN III
Golongan II/d
Golongan II/c
Golongan II/b
Golongan II/a
JUMLAH GOLONGAN II
Golongan I/d
Golongan I/c
Golongan I/b

28

Golongan I/a
JUMLAH GOLONGAN I
TOTAL

b) Pada akhir lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

pengesahan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
7. Penyusunan Lampiran VII (Daftar piutang daerah).
a) Daftar piutang daerah adalah daftar tentang jumlah
uang yang wajib dibayar kepada pemerintah daerah
dan/atau hak pemerintah daerah yang dapat dinilai
dengan uang sebagai akibat perjanjian atau akibat
lainnya berdasarkan peraturan perundang-undangan
atau akibat lainnya yang sah.
b) Daftar piutang daerah berisi uraian rincian piutang,
tahun pengakuan piutang, jumlah piutang sampai
dengan tahun n-2, perkiraan penambahan tahun n-1
(diisi apabila terjadi penambahan piutang), perkiraan
pengurangan

tahun

n-1

(diisi

apabila

terjadi

pengurangan piutang) dan perkiraan saldo akhir


tahun n-1.
Hasil penyusunan lampiran VII digambarkan sebagai
berikut :
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)
DAFTAR PIUTANG DAERAH
TAHUN ANGGARAN.
No.

Uraian rincian
piutang

Tahun
pengakuan
piutang

Jumlah piutang
sampai dengan
tahun n-2

Perkiraan
penambahan
tahun n-1

Perkiraan
pengurangan
tahun n-1

Perkiraan
saldo
akhir tahun
tahun n-1

7 = 4+5-6

Jumlah

c) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota


29

provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

pengesahan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
8. Penyusunan Lampiran VIII (daftar penyertaan modal
(investasi) daerah)).
a) Memberikan informasi mengenai penggunaan aset
guna memperoleh manfaat ekonomis seperti bunga,
dividen, royalti, manfaat sosial dan/atau manfaat
lainnya sehingga dapat meningkatkan kemampuan
pemerintah

dalam

rangka

pelayanan

kepada

masyarakat dalam satu tahun anggaran.


b) Daftar penyertaan modal memuat tahun penyertaan
modal, nama Badan/Lembaga/Pihak Ketiga, dasar
hukum penyertaan modal (investasi) daerah, bentuk
penyertaan

modal

(investasi)

daerah,

jumlah

penyertaan modal (investasi) daerah, jumlah modal


yang telah disertakan sampai tahun anggaran lalu,
Penyertaan modal tahun ini, Jumlah modal yang telah
disertakan sampai dengan tahun ini, sisa modal yang
belum disertakan, jumlah modal (investasi) yang akan
diterima kembali tahun ini, jumlah sisa modal
(investasi) yang disertakan sampai dengan tahun ini.
Hasil penyusunan Lampiran VIII digambarkan sebagai
berikut :

30

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)
DAFTAR PENYERTAAN MODAL (INVESTASI) DAERAH
TAHUN ANGGARAN.

No.

Tahun
Nama
Penyertaan Badan/Lembaga/
Modal
Pihak Ketiga

Dasar hukum
penyertaan
modal
(investasi)
daerah

Bentuk
penyertaan
modal
(investasi)
daerah

Jumlah
penyertaan
modal
(investasi)
daerah

Jumlah modal
yang telah
disertakan
sampai tahun
anggaran lalu

Penyertaan
modal tahun
ini

Jumlah modal
yang telah
disertakan
sampai dengan
tahun ini

Sisa modal yang


belum
disertakan

Hasil penyertaan
modal
(investasi)
daerah tahun ini

Jumlah modal
(investasi)
yang akan
diterima
kembali tahun
ini

Jumlah Sisa
Modal
(Investasi) yang
disertakan
sampai dengan
tahun ini

9=7+8

10=6-9

11

12

13=9-12

1.
2.
3.
4.
5.
6.
Dst
JUMLAH

31

c) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

penetapan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
9. Penyusunan Lampiran IX (Daftar perkiraan penambahan
dan pengurangan aset tetap daerah).
a) Daftar ini digunakan untuk menjelaskan perkiraan
penambahan dan pengurangan aset tetap daerah.
b) Judul

diisi

dengan

daftar

daftar

perkiraan

penambahan dan pengurangan aset tetap daerah


tahun anggaran yang direncanakan
c) Menguraikan jenis aset tetap daerah, saldo aset tetap
daerah 2 tahun sebelum tahun anggaran yang
direncanakan,

perkiraan

aset

tetap

yang

akan

bertambah sampai dengan 1 tahun sebelum tahun


anggaran yang direncanakan, perkiraan aset tetap
yang akan berkurang sampai dengan 1 tahun sebelu
tahun anggaran yang direncanakan dan perkiraan
saldo aset tetap pada akhir tahun sebelum tahun
anggaran yang direncanakan.
d) Mengisi jumlah seluruh saldo aset tetap sampai
dengan 2 tahun terakhir, perkiraan seluruh jumlah
aset tetap yang akan bertambah samapai dengan 1
tahun sebelum tahun anggaran yang direncanakan,
perkiraan seluruh pengurangan jumlah aset tetap
samapai dengan satu tahun sebelum tahun anggaran
yang direncanakan dan perkiraan jumlah saldo aset
tetap sampai dengan 1 tahun sebelum tahun anggaran
yang direncanakan.
e) Lampiran IX digambarkan sebagai berikut:

32

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)
DAFTAR PERKIRAAN PENAMBAHAN DAN PENGURANGAN ASET TETAP
DAERAH
TAHUN ANGGARAN.

No.

1
1
2
3
4
dst

Jenis aset
tetap
daerah

Saldo
pada akhir
tahun n-2

Perkiraan
penambah
an
tahun n-1

Perkiraan
pengurang
an
tahun n-1

Perkiraan
saldo
pada akhir
tahun n-1

6 = 3+4-5

Jumlah

f) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

pengesahan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
10. Penyusunan Lampiran X (Daftar perkiraan penambahan
dan pengurangan aset lain-lain).
a) Menyusun daftar mengenai perkiraan penambahan
dan pengurangan aset lain-lain.
b) Judul

diisi

dengan

daftar

daftar

perkiraan

penambahan dan pengurangan aset lain-lain tahun


anggaran yang direncanakan.
c) Menguraikan jenis aset lain-lain, saldo aset lain-lain 2
tahun sebelum tahun anggaran yang direncanakan,
perkiraan aset lain-lain yang akan bertambah sampai
dengan 1 tahun sebelum tahun anggaran yang
direncanakan, perkiraan aset lain-lain yang akan
berkurang sampai dengan 1 tahun sebelum tahun
anggaran yang direncanakan dan perkiraan saldo aset
lain-lain pada akhir tahun sebelum tahun anggaran
yang direncanakan.
d) Mengisi jumlah seluruh saldo aset lain-lain sampai
dengan 2 tahun terakhir, perkiraan seluruh jumlah
33

aset lain-lain yang akan bertambah samapai dengan 1


tahun sebelum tahun anggaran yang direncanakan,
perkiraan seluruh pengurangan jumlah aset lain-lain
sampai dengan satu tahun sebelum tahun anggaran
yang direncanakan dan perkiraan jumlah saldo aset
lain-lain sampai dengan 1 tahun sebelum tahun
anggaran yang direncanakan.
e) Hasil Lampiran X digambarkan sebagai berikut:

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)
DAFTAR PERKIRAAN PENAMBAHAN DAN PENGURANGAN ASET LAIN-LAIN
TAHUN ANGGARAN.

No.

Jenis Aset
Lainnya

Saldo
pada akhir
tahun n-2

Perkiraan
penambahan
tahun n-1

Perkiraan
pengurangan
tahun n-1

Perkiraan
saldo
pada akhir
tahun n-1

6 = 3+4-5

1.
2.
3.
4.
dst
JUMLAH

f) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

pengesahan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
11. Penyusunan Lampiran XI (Daftar kegiatan-kegiatan
tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan dan
dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini).
a) Penyusunan daftar untuk menginformasikan kegiatankegiatan tahun anggaran sebelumnya yaitu: tahun
anggaran n-1 dan tahun anggaran n-2, yang belum
diselesaikan dan dianggarkan kembali dalam tahun
anggaran ini.
b) Hasil Lampiran XI digambarkan sebagai berikut:
34

35

TAHUN PERTAMA
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)
DAFTAR KEGIATAN-KEGIATAN TAHUN SEBELUMNYA YANG BELUM DISELESAIKAN DAN
DIANGGARKAN KEMBALI DALAM TAHUN ANGGARAN INI
(TAHUN ANGGARAN n)

No.

Kode

Jumlah Anggaran
TAHUN n-1

Judul kegiatan

APBD
TA n-1

PERUBAHAN
APBD
TA n-1

Jumlah Realisasi s.d


akhir TA n-1

Jumlah sisa anggaran yang dianggarkan


dalam tahun ini
(Rp)
TA n

APBD

PERUBAHAN APBD

1.
2.
3.
dst.
Jumlah

TAHUN KEDUA
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)

DAFTAR KEGIATAN-KEGIATAN TAHUN SEBELUMNYA YANG BELUM DISELESAIKAN DAN


DIANGGARKAN KEMBALI DALAM TAHUN ANGGARAN INI
(TAHUN ANGGARAN n)

No.

Kode
Kegiatan

Judul
kegiatan

Jumlah Tahun Awal


Penganggaran
(Rp)
APBD INDUK
TA n-2

PERUBAHAN
APBD
TA n-2
5

Jumlah Realisasi
sampai dengan akhir
TA n-2
(Rp)

Jumlah Anggaran
TAHUN n-1
APBD INDUK
TA n-1

PERUBAHAN
APBD
TA n-1
8

Jumlah Realisasi
sampai dengan
akhir TA n-1
(Rp)

Jumlah sisa anggaran yang


dianggarkan dalam tahun
ini
(Rp)
TA n
INDUK

PERUBAHAN

10

11

1.
2.
3.
dst.
Jumlah

36

c) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

pengesahan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
12. Penyusunan Lampiran XII

(Daftar dana cadangan

daerah).
a) Memberikan informasi mengenai dana yang disisihkan
guna menampung kebutuhan yang memerlukan dana
relatif besar yang tidak dapat dipenuhi dalam satu
tahun anggaran.
b) Daftar dana cadangan memuat: tujuan pembentukan
dana cadangan, dasar hukum pembentukan (dengan
peraturan daerah), jumlah dana cadangan yang
direncanakan, Saldo awal, Jumlah transfer dari kas
daerah, jumlah transfer ke kas daerah, saldo akhir.
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)
DAFTAR DANA CADANGAN
TAHUN ANGGARAN.

No.

Tujuan
pembentukan
dana cadangan

Dasar
hukum
pembentuk
an dana
cadangan

Jumlah
dana
cadangan
yang
direncanak
an
(Rp)

Saldo Awal
(Rp)

Transfer
dari kas
daerah
(Rp)

Transfer
ke kas
daerah
(Rp)

Saldo
akhir
(Rp)

Sisa dana
yang belum
dicadangka
n
(Rp)

1
2
3
4
dst
Jumlah

c) Pada akhir Lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

penetapan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.

37

13. Penyusunan Lampiran XIII (Daftar pinjaman daerah).


a) Menyajikan informasi pinjaman yang mengakibatkan
daerah menerima sejumlah uang atau menerima
manfaat yang bernilai uang dari pihak lain, sehingga
daerah dibebani kewajiban untuk membayar kembali.
b) Daftar pinjaman daerah memuat informasi sumber
pinjaman daerah, dasar hukum pinjaman atau obligasi
daerah, tanggal/tahun perjanjian/obligasi, jumlah
besaran pinjaman daerahyang dicantumkan dalam
surat perjanjian pinjaman, jangka waktu pinjaman,
persentase

bunga

yang

dikenakan

atas

pokok

pinjaman, tunjuan penggunaan pinjaman, jumlah


besaran cicilan pokok, bunga dan denda dsb.

38

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)...
DAFTAR PINJAMAN DAERAH
TAHUN ANGGARAN .

No

Sumber
pinjaman
daerah

Dasar Hukum
Pinjaman/
Obligasi

Tangggal/ Tahun
Perjanjian
Pinjaman/ Obligasi

Jumlah
Pinjaman/Nilai
Nominal Obligasi
(Rp)

Jangka waktu
pinjaman (tahun)

Persentase
bunga
pinjaman
%

Tujuan
penggunaan
pinjaman

Jumlah pembayaran tahun ini


(Rp)

Jumlah
sisa pembayaran
(Rp)

Pokok
Pinjaman
Daerah

Bunga

Pokok
Pinjaman
Daerah

Bunga

10

11

12

1
2
3
4
dst
Jumlah

39

c) Pada akhir lampiran dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,
tanggal
penetapan,
tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama
lengkap.
3.

Penyusunan batang tubuh rancangan peraturan daerah tentang


APBD.
Rancangan

peraturan

daerah

tentang

APBD

yang

disusun

didasarkan atas prakarsa dari Kepala Daerah, yang selaras dengan


prinsip dan pedoman yang ditetapkan sesuai dengan peraturan
perundang-undangan. Substansi rancangan dimaksud memuat :
c. Judul. Judul diisi dengan Rancangan Peraturan Daerah, nomor,
tahun pengundangan atau penetapan, dan menuliskan tentang
nama

peraturan

daerah

(dalam

hal

ini

APBD

Provinsi/Kabupaten/Kota) yang ditulis dengan huruf kapital


yangdiletakkan di tengah margin tanpa diakhiri tanda baca.
d. Mencantumkan frase dengan rahmat Tuhan Yang Maha Esa
yang ditulis seluruhnya denga huruf kapital yang diletakkan di
tengah margin.
e. Mencantumkan jabatan pembentuk peraturan daerah, yang
ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan tengah
marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma.
f. Konsideran. Konsiteran diawali dengan kata menimbang, yaitu
menyebutkan
melatarbelakangi

uraian
dan

pokok-pokok
alasan

pikiran

pertimbangan

yang
perlunya

melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa pasal peraturan


perundang-undangan

yang

memerintahkan

pembentukan

Peraturan Daerah tentang APBD.


g. Dasar hukum. Dasar hukum diawali dengan kata mengingat,
yaitu: dengan mencantumkan dasar hukum yang melandasi
pembentukan Peraturan Daerah.
h. Memutuskan dicantumkan kata frase Dengan Persetujuan
Bersama antara DPRD dan Kepala Daerah diikuti dengan nama
40

daerah, yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapitan dan


diletakkan di tengah marjin.
i. Menetapkan, yaitu dengan menetapkan Peraturan Daerah
tentang APBD diikuti dengan nama daerah. Kata menetapkan
dicantumkan sudah kata memutuskan yang disejajarkan ke
bawah dengan kata menimbang dan mengingat, yang ditulis
dengan huruf awal kapital diakhiri dengan tanda baca titik dua.
Nama

yang

tercantum

dalam

judul

Peraturan

dicantumkan lagi setelah kata menetapkan

Daerah

serta ditulis

seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan tanda baca


titik.

j. Batang tubuh. Batang tubuh peraturan daerah dirumuskan


dalam Pasal dan Ayat yang menetapkan tentang hal-hal yang
diatur dalam rancangan peraturan daerah, antara lain :

1)

Penetapan jumlah anggaran pendapatan daerah,


belanja daerah dan pembiayaan daerah.

2)

Uraian lebih lanjut atas anggaran pendapatan


yang dirinci sampai dengan jenis pendapatan.

3)

Uraian lebih lanjut atas anggaran belanja daerah


yang dirinci sampai dengan jenis belanja daerah.

4)

Uraian lebih lanjut atas anggaran pembiayaan


daerah yang dirinci sampai dengan jenis pembiayaan daerah.

5)

Pencantuman daftar lampiran yang merupakan


bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah.

6)

Menegaskan bahwa Peraturan Daerah tentang


APBD perlu dijabarkan lebih lanjut dengan penjabaran APBD
sebagai landasan operasional pelaksanaan APBD dengan
Peraturan Kepala Daerah.

7)

Masa pemberlakuan Peraturan Daerah tentang


41

APBD.
k.

Penetapan Peraturan Daerah, dengan membubuhkan


tanda tangan Kepala Daerah/Pejabat yang berwenang.

l.

Diundangkan dalam lembaran daerah, dengan mengisi


tanggal, bulan dan tahun pengundangan dan membubuhkan
tanda tangan Sekretaris Daerah.

m.

Penempatan dalam lembaran daerah, dengan mengisi


nomor dan tahun dalam Lembaran Daerah.

n.

Contoh Format Rancangan Peraturan Daerah tentang


APBD, sebagai berikut :
RANCANGAN PERATURAN DAERAH
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA *)...................
NOMOR .. TAHUN .................
TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
TAHUN ANGGARAN ......................

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA


GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA *).....,
Menimbang

Mengingat

a.

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 181 ayat (1) Undang-Undang


Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005
Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang, Kepala daerah
mengajukan Rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah (APBD) kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) untuk memperoleh persetujuan bersama;

b.

bahwa Rancangan Peraturan Daerah tentang Anggaran Pendapatan dan


Belanja Daerah (APBD) yang diajukan sebagaimana dimaksud dalam huruf
a, merupakan perwujudan dari Rencana Kerja Pemerintah Daerah
Tahun .... yang dijabarkan kedalam kebijakan umum APBD serta prioritas
dan plafon anggaran yang telah disepakati bersama antara pemerintah
daerah dengan DPRD pada tanggal ........ bulan ...... tahun ......;

c.

bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a


dan huruf b, perlu menetapkan Rancangan Peraturan Daerah tentang
Anggaran
Pendapatan
dan
Belanja
Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota ................. Tahun Anggaran ...............;

1.

Undang-Undang Nomor .......... Tahun ........... tentang Pembentukan


Daerah ................ (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .........
Nomor ........., Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor .......);

2.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3569);

42

3.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan


Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

4.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas


Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3688);

5.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara


yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

6.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

7.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

8.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4389);

9.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksanaan


Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4400);

10.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421);

11.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4548);

12.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan


Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);

13.

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan


Pengawasan atas Penyelenggaran Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4090);

14.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4138);

15.

Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);

16.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan


Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4416) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan
Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4540);

17.

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia

43

Nomor 4502);
18.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi


Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503);

19.

Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574);

20.

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);

21.

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi


Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4576);

22.

Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4577);

23.

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4578);

24.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman


Penyusunan dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4585);

25.

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan


dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4614);

26.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor Tahun ... tentang Pedoman


Pengelolaan Keuangan Daerah;

27.

Peraturan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota .................. Nomor ..


Tahun ...... tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;

Dengan Persetujuan Bersama


DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH ..........
dan
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*) .....................
MEMUTUSKAN:
Menetapkan

: PERATURAN DAERAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA ........ (nama


daerah) TENTANG ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
TAHUN ANGGARAN ................

Pasal 1
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran............. sebagai berikut:

1.

Pendapatan Daerah

Rp.........

2.

Belanja Daerah

Rp.........

(-)

Surplus/(Defisit)

3.

Rp.

Pembiayaan Daerah:
a.

Penerimaan

Rp.........

b.

Pengeluaran

Rp.........
Pembiayaan Netto

(-)

Rp.

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran tahun Berkenaan: Rp.


Pasal 2

44

(1)

Pendapatan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari :


a. Pendapatan Asli Daerah sejumlah Rp
b. Dana perimbangan sejumlah Rp
c. Lain-lain pendapatan daerah yang sah sejumlah Rp

(2)

Pendapatan Asli Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis pendapatan:
a. Pajak daerah sejumlah Rp
b. Retribusi daerah sejumlah Rp
c.
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sejumlah Rp
d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sejumlah Rp

(3)

Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis pendapatan:
a. Dana bagi hasil sejumlah Rp
b. Dana alokasi umum sejumlah Rp
c.
Dana alokasi khusus sejumlah Rp

(4)

Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari jenis
pendapatan:
a. Hibah sejumlah Rp
b. Dana darurat sejumlah Rp
c.
Dana Bagi Hasil Pajak sejumlah Rp
d. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus sejumlah Rp
e.
Bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya sejumlah Rp
Pasal 3

(1)

Belanja Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari :


a. Belanja Tidak Langsung sejumlah Rp
b. Belanja Langsung sejumlah Rp

(2)

Belanja Tidak Langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis belanja:
a. Belanja pegawai sejumlah Rp
b. Belanja bunga sejumlah Rp
c. Belanja subsidi sejumlah Rp
d. Belanja hibah sejumlah Rp
e. Belanja bantuan sosial sejumlah Rp
f. Belanja bagi hasil sejumlah Rp
g. Belanja bantuan keuangan sejumlah Rp
h. Belanja tidak terduga sejumlah Rp

(3)

Belanja Langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis belanja:
a. Belanja pegawai sejumlah Rp
b. Belanja belanja barang dan jasa sejumlah Rp
c. Belanja modal sejumlah Rp

(1)

Pasal 4
Pembiayaan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari :
a. Penerimaan sejumlah Rp
b. Pengeluaran sejumlah Rp

(2)

Penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis pembiayaan :
a. Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya (SiLPA) sejumlah Rp
b. Pencairan dana cadangan sejumlah Rp
c. Hasil penjualan kekayaan Daerah yang dipisahkan sejumlah Rp
d. Penerimaan pinjaman daerah sejumlah Rp
e. Penerimaan kembali pemberian pinjaman sejumlah Rp
f.
Penerimaan piutang daerah sejumlah Rp

(3)

Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis pembiayaan:
a. pembentukan dana cadangan sejumlah Rp
b. penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah sejumlah Rp
c. Pembayaran pokok utang sejumlah Rp
d. Pemberian pinjaman daerah sejumlah Rp
Pasal 5

Uraian lebih lanjut Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1,
tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini,
terdiri dari:
1.

Lampiran I

Ringkasan APBD;

2.

Lampiran II

Ringkasan APBD menurut Urusan Pemerintahan Daerah dan Organisasi;

3.

Lampiran III

Rincian APBD menurut Urusan Pemerintahan Daerah, Organisasi, Pendapatan,


Belanja dan Pembiayaan;

4.

Lampiran IV

Rekapitulasi Belanja menurut Urusan Pemerintahan Daerah, Organisasi, Program

45

dan Kegiatan;
5.

Lampiran V

Rekapitulasi Belanja Daerah Untuk Keselarasan dan Keterpaduan Urusan


Pemerintahan Daerah dan Fungsi dalam Kerangka Pengelolaan Keuangan
Negara;

6.

Lampiran VI

Daftar Jumlah Pegawai Per Golongan dan Per Jabatan;

7.

Lampiran VII

Daftar piutang daerah;

8.

Lampiran VIII

Daftar penyertaan modal (investasi) daerah;

9.

Lampiran IX

Daftar Perkiraan Penambahan dan Pengurangan Aset Tetap Daerah;

10.

Lampiran X

Daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lainnya;

11.

Lampiran XI

Daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan


dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini;

12.

Lampiran XII

Daftar dana cadangan daerah ;dan

13.

Lampiran XIII

Daftar pinjaman daerah dan obligasi daerah.


Pasal 6

Gubernur/Bupati/Walikota menetapkan Peraturan tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan dan Belanja


Daerah sebagai landasan operasional pelaksanaan APBD.
Pasal 7
Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan
penempatannya dalam Lembaran Daerah.
Ditetapkan di ..
pada tanggal ..
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*)..
(tanda tangan)
(nama lengkap)
**)

Perda ini dinyatakan sah


pada tanggal

Diundangkan di .
pada tanggal ...........
SEKRETARIS DAERAH .... (Nama Provinsi/Kabupaten/Kota),
(tanda tangan)
(nama lengkap)
NIP .
LEMBARAN DAERAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA TAHUN NOMOR

C.

PEMBAHASAN

DAN

PERSETUJUAN

BERSAMA

RANCANGAN

PERATURAN DAERAH TENTANG APBD

C.1. Penyampaian
a.

Setelah rancangan peraturan daerah tentang APBD


beserta lampirannya disusun oleh Pejabat Pengelola Keuangan
46

Daerah, disampaikan kepada Kepala Daerah.


b.

Rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta


lampirannya disampaikan Kepala Daerah kepada DPRD paling
lambat pada minggu pertama bulan Oktober tahun anggaran
sebelumnya dari tahun yang direncanakan.

c.

Dalam hal kepala daerah dan/atau pimpinan DPRD


berhalangan tetap, maka pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh
pejabat yang berwenang selaku penjabat / pelaksana tugas kepala
daerah

dan/atau

selaku

pimpinan

sementara

DPRD

yang

menandatangani persetujuan bersama.

C.2. Sosialisasi (penyebarluasan)


a. Rancangan peraturan daerah tentang APBD tersebut sebelum
disampaikan

atau

diajukan

kepada

DPRD

terlebih

dahulu

disosialisasikan kepada masyarakat. Hal tersebut dilakukan adalah


dalam rangka memenuhi prinsip transparansi dalam penganggaran.
b. Sosialisasi mengenai rancangan peraturan daerah tersebut sifatnya
adalah

untuk

menyebarluaskan

dan

memberikan

informasi

mengenai hak dan kewajiban pemerintah daerah serta masyarakat


dalam pelaksanaan APBD tahun anggaran yang direncanakan.
c. Teknis pelaksanaan sosialisasi tersebut dapat disesuaikan dengan
kondisi daerah dan waktu yang tersedia.
d. Media yang dapat digunakan untuk sosialisasi mengenai rancangan
peraturan daerah tentang APBD tersebut antara lain melalui media
massa, siaran radio lokal, televisi dan media komunikasi lainnya.
e. Sosialisasi dilaksanakan oleh sekretaris daerah selaku koordinator
pengelolaan keuangan daerah.

C.3. Pembahasan
a. Rancangan peraturan daerah tentang APBD beserta lampirannya
yang disampaikan oleh Kepala Daerah kepada DPRD dibahas untuk

47

memperoleh persetujuan bersama.


b. Tata cara dan proses pembahasan rancangan peraturan daerah
tentang APBD tersebut disesuaikan dengan peraturan tata tertib
DPRD.
c. Proses pembahasan rancangan tersebut menitikberatkan pada
kesesuaian antara Kebijakan Umum APBD (KUA) serta Prioritas
dan Plafon Anggaran Sementara (PPAS) dengan Program/Kegiatan
yang disepakati bersama antara Pemerintah Daerah dengan DPRD
dalam Nota Kesepakatan Bersama.
d. Dalam pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD
tersebut, jika DPRD memerlukan tambahan penjelasan atau
informasi terkait dengan program dan kegiatan tertentu dapat
meminta RKA-SKPD berkenaan kepada Kepala Daerah.
C.4. Pengambilan Keputusan Bersama DPRD dan Kepala
Daerah
a.

Persetujuan bersama atau pengambilan keputusan bersama DPRD


dan kepala Daerah terhadap rancangan peraturan daerah tentang
APBD dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan sebelum tahun
anggaran yang bersangkutan dilaksanakan (awal bulan desember).

b. Hasil

persetujuan

atau

pengambilan

keputusan

tersebut

dituangkan dalam Surat/Berita Acara Persetujuan Bersama yang


ditandatangani oleh Kepala Daerah dan Pimpinan DPRD.
c. Dalam hal kepala daerah dan/atau pimpinan DPRD berhalangan
tetap, maka yang menandatangani persetujuan bersama adalah
pejabat yang ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang
selaku penjabat / pelaksana tugas kepala daerah dan/atau selaku
pimpinan sementara DPRD.
Format berita acara keputusan bersama Rancangan Peraturan Daerah
tentang APBD, sebagai berikut :

48

BERITA ACARA
Nomor: .
PERSETUJUAN BERSAMA KEPALA DAERAH DAN DPRD
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA *)
TENTANG
RANCANGAN PERATURAN DAERAH TENTANG APBD
TAHUN ANGGARAN

Pada hari .. tanggal . bulan . tahun , kami yang bertandatangan di bawah


ini:
1. (nama lengkap)

Gubernur/Bupati/Walikota*), dalam hal ini


bertindak untuk dan atas nama Pemerintah
Daerah
Provinsi/
Kabupaten/Kota*)
. yang beralamat di ,
selanjutnya
disebut
sebagai
PIHAK
PERTAMA.

2. (nama lengkap)

3. (nama lengkap)

4. (nama lengkap)

Ketua DPRD Provinsi/Kabupaten/ Kota*)


.
Wakil
Ketua
DPRD
Provinsi/
Kabupaten/Kota*).
Wakil
Ketua
DPRD
Provinsi/
Kabupaten/Kota*).
dalam hal ini bertindak untuk dan atas nama
Dewan
Perwakilan
Rakyat
Daerah
Provinsi/Kabupaten/Kota *).,
selanjutnya
disebut
sebagai
PIHAK
KEDUA

menyatakan bahwa:
1.

PIHAK KEDUA telah membahas dan menyetujui Rancangan Anggaran Pendapatan


Belanja Daerah (RAPBD) Tahun Anggaran. yang telah diajukan oleh PIHAK PERTAMA,
dengan penyesuaian dan perubahan sebagaimana tertuang pada catatan yang terlampir
Berita Acara ini.

2.

PIHAK PERTAMA dapat menerima dengan baik penyesuaian dan perubahan RAPBD
Tahun Anggaran sebagaimana tertuang pada catatan yang terlampir Berita Acara ini.

3.

Selanjutnya PIHAK PERTAMA akan menyelesaikan perubahan dan koreksi atas RAPBD
Tahun Anggaran . selaras dengan penyesuaian dan perubahan sebagaimana
tertuang pada catatan yang terlampir Berita Acara ini selambat-lambatnya sebelum 3 (tiga)
hari kerja setelah tanggal ditandatangani Berita Acara ini.

4.

PIHAK PERTAMA akan menyampaikan kepada Menteri Dalam Negeri/Gubernur*) untuk


mendapat pengesahan selambat-lambatnya 3 (tiga) hari kerja setelah ditandatangani
Berita Acara ini.

Demikianlah Berita Acara ini dibuat dan ditandatangani oleh kedua belah pihak dalam rangkap
2 (dua) untuk dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

.,.
GUBERNUR/ BUPATI/ WALIKOTA PEMERINTAH
DAERAH

KETUA DPRD
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*).......

49

PROVINSI/ KABUPATEN/ KOTA*)


(tanda tangan)

(tanda tangan)

(nama lengkap)

(nama lengkap)
WAKIL KETUA DPRD
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*).......
(tanda tangan)
(nama lengkap)
WAKIL KETUA DPRD
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*).......
(tanda tangan)
(nama lengkap)

D.

PENYUSUNAN

RANCANGAN

PERATURAN

KEPALA

DAERAH

TENTANG PENJABARAN APBD


Penyusunan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran
APBD dilakukan setelah diperoleh kesepakatan atau persetujuan
bersama terhadap peraturan daerah tentang APBD yang dituangkan
dalam surat/Berita Acara.
Teknis penyusunan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang
Penjabaran APBD beserta lampirannya dapat dilakukan dengan urutan
pengerjaan sebagai berikut :
a.

Penyusunan Lampiran-lampiran Rancangan Peraturan


Kepala Daerah tentang APBD.
1. Penyusunan Lampiran I (ringkasan penjabaran perubahan
anggaran pendapatan daerah, belanja daerah dan pembiayaan
daerah).
a) Ringkasan penjabaran perubahan anggaran pendapatan
daerah, belanja daerah dan pembiayaan daerah diperoleh
dengan mengkompilasi seluruh dokumen ringkasan (form
RKA-SKPD) yang selanjutnya dituangkan di dalam Lampiran
I.
b) Teknis pengkompilasian dokumen ringkasan dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
50

1) Ringkasan pendapatan daerah.


Ringkasan pendapatan, diperoleh dengan merekapitulasi
seluruh pendapatan dalam form RKA-SKPD yaitu
kelompok pendapatan dan jenis pendapatan yang ada
dianggarkan di SKPD berkenaan.
2) Ringkasan belanja daerah.
Ringkasan

belanja

daerah,

diperoleh

dengan

merekapitulasi seluruh belanja daerah dalam form RKASKPD yaitu: kelompok belanja dan jenis belanja yang ada
dianggarkan di SKPD berkenaan.
3) Surplus/Defisit.
Surplus diisi apabila jumlah anggaran pendapatan
diperkirakan lebih besar dari jumlah anggaran belanja.
Defisit

diisi apabila

jumlah

anggaran

pendapatan

diperkirakan lebih kecil dari jumlah anggaran belanja,


dan ditulis dalam tanda kurung.
4) Ringkasan pembiayaan.
Ringkasan pembiayaan, diperoleh dengan merekapitulasi
pembiayaan dalam form RKA-SKPD yaitu: kelompok
pembiayaan dan jenis pembiayaan yang ada dianggarkan
di SKPKD.
5) Pembiayaan Netto.
Pembiayaan netto diisi dari selisih antara jumlah
penerimaan pembiayaan dengan jumlah pengeluaran
pembiayaan.
6) SILPA Tahun Berkenaan.
SILPA Tahun Berkenaan diisi dari selisih antara jumlah
Pembiayaan Netto dengan jumlah Surplus/Defisit.

Hasil penyusunan Lampiran I digambarkan sebagai berikut:

51

PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)..
RINGKASAN PENJABARAN APBD
TAHUN ANGGARAN
Nomor
Urut
1

Uraian

Jumlah

1.

PENDAPATAN DAERAH

1.1

Pendapatan asli daerah

1.1.1

Pajak Daerah

1.1.2

Retribusi Daerah

1.1.3

Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang dipisahkan

1.1.4

Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang sah

1.2

Dana perimbangan

1.2.1

Dana Bagi Hasil Pajak/ Bagi Hasil Bukan Pajak

1.2.2

Dana Alokasi Umum

1.2.3

Dana Alokasi Khusus

1.3

Lain-lain pendapatan daerah yang sah

1.3.1

Hibah

1.3.2

Dana Darurat
Dana Bagi Hasil Pajak dari Provinsi dan Pemerintah Daerah
lainnya
Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus
Bantuan Keuangan dari Provinsi atau Pemerintah Daerah
lainnya

1.3.3
1.3.4
1.3.5

Jumlah Pendapatan
2.

BELANJA DAERAH

2.1

Belanja Tidak Langsung

2.1.1

Belanja pegawai

2.1.2

Belanja bunga

2.1.3

Belanja subsidi

2.1.4

Belanja hibah

2.1.5

2.1.8

Belanja bantuan sosial


Belanja Bagi Hasil Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota dan
Pemerintahan Desa
Belanja Bantuan Keuangan Kepada Provinsi/Kabupaten/Kota
Dan Pemerintahan Desa
Belanja Tidak Terduga

2.2

Belanja Langsung

2.2.1

Belanja pegawai

2.2.2

Belanja barang dan jasa

2.2.3

Belanja modal

2.1.6
2.1.7

Jumlah Belanja
Surplus/(Defisit)
3.

PEMBIAYAAN DAERAH

3.1

Penerimaan pembiayaan
Sisa Lebih Perhitungan Anggaran Tahun Anggaran sebelumnya
(SiLPA)
Pencairan dana cadangan

3.1.1
3.1.2

52

c) Pengisian nomor urut dan jumlah anggaran pada kelompok


pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam ringkasan tetap
dicantumkan. Namun pada jenis pendapatan, belanja dan
pembiayaan yang tidak ada anggarannya tidak perlu
dicantumkan.
d) Pada akhir lampiran ini dicantumkan nama ibukota
provinsi/kabupaten/kota, tanggal pengesahan, tandatangan
gubernur/bupati/walikota disertai nama lengkap.
2. Penyusunan Lampiran II (penjabaran perubahan APBD menurut
organisasi, program, kegiatan, kelompok, jenis, obyek, rincian
obyek pendapatan, belanja dan pembiayaan)
a) Penyusunan Lampiran III dikompilasi dari :
1) Seluruh RKA-SKPD 1 (Rincian anggaran pendapatan
SKPD).
2) Seluruh RKA-SKPD 2.1 (Rincian anggaran belanja tidak
langsung SKPD).
3) Seluruh RKA-SKPD 2.2 (Rincian anggaran belanja
langsung SKPD menurut program/kegiatan).
4) RKA-SKPD 3.1 (penerimaan pembiayaan).
5) RKA-SKPD 3.2 (pengeluaran pembiayaan).
b) Cara Pengisian Lampiran II Peraturan Kepala Daerah, format
penjabaran APBD:
1)

Provinsi/kabupaten/kota

diisi

dengan

nama

provinsi/kabupaten/kota.
2) Tahun anggaran diisi dengan tahun anggaran yang
direncanakan.
3) Urusan Pemerintahan diisi dengan nomor kode urusan
pemerintahan dan nama urusan pemerintahan daerah
yang dilaksanakan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi

53

4) Organisasi diisi dengan nomor kode perangkat daerah


dan nama satuan kerja perangkat daerah.
5) Pengisian kolom 1 (kode rekening) sebagai berikut :
(a) Untuk Penganggaran Pendapatan Daerah :
Kolom kesatu

diisi dengan nomor kode urusan

pemerintahan dan kolom kedua diisi dengan nomor kode


organisasi. Kolom ketiga dan keempat diisi dengan angka
00. Kolom kelima diisi dengan nomor 4 untuk kode akun
anggaran pendapatan daerah. Kolom keenam diisi
dengan nomor kode untuk kelompok pendapatan
daerah, kolom ketujuh diisi dengan nomor kode untuk
jenis pendapatan, kolom kedelapan diisi dengan nomor
kode

untuk

objek

pendapatan,

kesembilan/terakhir diisi dengan

dan

kolom

nomor kode untuk

rincian objek pendapatan.


(b) Untuk Penganggaran Belanja Daerah :
Kolom kesatu

diisi dengan nomor kode urusan

pemerintahan dan kolom kedua diisi dengan nomor kode


organisasi.
Untuk pengisian kolom-kolom selanjutnya sebagai
berikut:
Belanja Tidak Langsung :
Setelah kode organisasi, kolom ketiga dan keempat
masing-masing diisi dengan angka 00.
Kolom selanjutnya secara berturut-turut diisi sesuai
dengan nomor kode akun belanja,

kode kelompok

belanja tidak langsung, kode jenis belanja tidak


langsung, kode objek belanja tidak langsung, dan kode
rincian objek belanja tidak langsung yang berkenaan.
Belanja Langsung :
Setelah kode organisasi, kolom ketiga diisi dengan
nomor kode program, kolom keempat diisi dengan
nomor kode kegiatan.
54

Kolom selanjutnya secara berturut-turut diisi sesuai


dengan nomor kode akun belanja,

kode kelompok

belanja langsung, kode jenis belanja langsung, kode


objek belanja langsung, dan kode rincian objek belanja
langsung yang berkenaan untuk belanja dari setiap
kegiatan.
(c) Untuk penganggaran pembiayaan daerah :
Kolom kesatu

diisi dengan nomor kode urusan

pemerintahan dan kolom kedua diisi dengan nomor kode


organisasi.
Untuk pengisian kolom selanjutnya sebagai berikut:

Penerimaan pembiayaan daerah :


Setelah kode organisasi, kolom ketiga dan keempat
masing-masing diisi dengan angka 00.
Kolom selanjutnya secara berturut-turut diisi sesuai
dengan nomor kode akun pembiayaan, kode kelompok
penerimaan

pembiayaan,

kode

jenis

penerimaan

pembiayaan, kode objek penerimaan pembiayaan, dan


kode rincian objek penerimaan pembiayaan yang
berkenaan.
Pengeluaran pembiayaan daerah :
Setelah kode organisasi, kolom ketiga dan keempat
masing-masing diisi dengan angka 00.
Kolom selanjutnya secara berturut-turut diisi sesuai
dengan nomor kode akun pembiayaan, kode kelompok
pengeluaran

pembiayaan,

kode

jenis

pengeluaran

pembiayaan, kode objek pengeluaran pembiayaan, dan


kode rincian objek pengeluaran pembiayaan yang
berkenaan.
6) Pengisian Kolom 2 (uraian) sebagai berikut :
(a) Penganggaran Pendapatan Daerah :
Uraian pendapatan daerah dicantumkan pada
55

urutan pertama.
Setelah

mencantumkan

daerah,

selanjutnya

kelompok

uraian

dicantumkan

pendapatan

dipungut/diterima
daerah/dana

pendapatan

daerah

seperti

uraian

yang

akan

pendapatan

perimbangan

atau

asli

lain-lain

pendapatan daerah yang sah.


Untuk

setiap

kelompok

pendapatan

daerah

diuraikan jenis-jenis pendapatan berkenaan.


Jenis-jenis pendapatan daerah yang termasuk
dalam kelompok pendapatan asli daerah seperti
hasil pajak daerah/hasil retribusi daerah/hasil
pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan
dan

lain-lain

Sedangkan

pendapatan

dana

bagi

asli

hasil,

daerah.

DAU,

DAK

merupakan jenis pendapatan daerah yeng


termasuk dalam kelompok pendapatan daerah
yang

bersumber

perimbangan.
penguraian

dari

penerimaan

Demikian
kelompok,

halnya
dan

jenis

dana
dengan
dari

pendapatan daerah yang lain.


Setelah

setiap

dicantumkan,

jenis

pendapatan

selanjutnya

diuraikan

daerah
nama

obyek pendapatan daerah yang berkenaan,


misalnya pajak kendaraan bermotor, pajak
kendaraan

di

atas

air,

bea

balik

nama

kendaraan bermotor yang merupakan obyek


pendapatan daerah yang termasuk dalam jenis
hasil pajak daerah. Retribusi Jasa Umum,
Retribusi Jasa Usaha, Retribusi Perizinan
tertentu merupakan obyek pendapatan daerah
yang termasuk dalam jenis retribusi daerah,
dan seterusnya.
Untuk setiap obyek pendapatan daerah yang
56

dicantumkan selanjutnya diuraikan rincian


obyek pendapatan daerah yang berkenaan,
seperti

A-1

Sedan,

Jeep,

Station

Wagon

( Pribadi), A-2 Sedan, Jeep, Station Wagon


( Umum ), B-1 Bus, Micro Bus (Pribadi) yang
merupakan rincian obyek pendapatan daerah
yang termasuk dalam obyek pajak kendaraan
bermotor.

Retribusi

Pelayanan

Kesehatan,

Retribusi

Pengujian

Kendaraan

bermotor,

Retribusi

Penggantian

Retribusi

Pelayanan

Biaya

Cetak

Peta,

Tera/Tera

Ulang

merupakan rincian obyek pendapatan daerah


yang termasuk dalam obyek Retribusi Jasa
Umum dan seterusnya.
Pencantuman kelompok, jenis, obyek dan rincian
obyek dalam uraian rincian penjabaran APBD
disesuaikan

dengan

kewenangan

untuk

memungut atau menerima pendapatan daerah


sesuai dengan tugas pokok dan fungsi masingmasing

satuan

sebagaimana

kerja

perangkat

ditetapkan

dalam

daerah

ketentuan

perundang-undangan. Sehubungan dengan hal


tersebut untuk efektivitas penilaian pencapaian
prestasi kerja dibidang pengelolaan pendapatan
daerah,

tidak diperkenankan mencantumkan

rincian

obyek

pemungutan

pendapatan

atau

daerah

penerimaannya

yang
bukan

menjadi kewenangan satuan kerja perangkat


daerah yang bersangkutan.
(b) Penganggaran Belanja Daerah :
Uraian

pertama

yang

harus

menjabarkan belanja yakni

dicantumkan

untuk

uraian belanja daerah.

Selanjutnya untuk menguraikan lebih lanjut belanja


kedalam

kelompok

belanja,

yang

pertama

kali
57

dicantumkan adalah belanja tidak langsung, kemudian


diikuti dengan masing-masing jenis belanja tidak
langsung, obyek belanja tidak langsung dan rincian
obyek belanja
menguraikan

tidak langsung berkenaan. Setelah


belanja

tidak

langsung,

langkah

selanjutnya adalah menguraikan belanja langsung mulai


dari jenis belanja langsung, dengan masing-masing
obyek belanja langsung dan rincian obyek belanja
langsung berkenaan
Penjabaran lebih lanjut dari masing-masing kelompok
belanja agar memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
Penganggaran belanja tidak langsung :
Setelah mencantumkan uraian belanja tidak
langsung,

selanjutnya

diuraikan

jenis-jenis

belanja yang termasuk dalam kelompok belanja


tidak langsung dimaksud. Jenis-jenis belanja
tidak langsung seperti belanja pegawai, belanja
bunga, belanja subsidi, belanja hibah, belanja
bantuan sosial, belanja bagi hasil kepada
provinsi/kabupaten/kota
desa,

belanja

bantuan

provinsi/kabupaten/kota

dan

pemerintahan

keuangan
dan

kepada

pemerintahan

desa dan belanja tidak terduga.


Pencantuman setiap jenis belanja harus diikuti
dengan menguraikan obyek belanja berkenaan,
misalnya untuk belanja pegawai, uraian obyek
belanja yang termasuk dalam jenis belanja
pegawai tersebut seperti gaji dan tunjangan,
tambahan penghasilan PNS, biaya pemungutan
pajak daerah. Bunga utang pinjaman dan bunga
utang obligasi merupakan obyek dari jenis
belanja bunga dan seterusnya.
Setelah mencantumkan obyek belanja tidak
langsung yang diperlukan, selanjutnya diikuti
58

dengan menguraikan rincian obyek belanja


yang termasuk dalam obyek belanja berkenaan.
Gaji Pokok PNS/Uang Representasi, Tunjangan
Keluarga,

Tunjangan

Fungsional,

Jabatan,

Tunjangan

Tunjangan

Fungsional

Umum,

Tunjangan Beras, Tunjangan PPh/Tunjangan


Khusus, Pembulatan Gaji, Iuran Asuransi
Kesehatan, Uang Paket, Tunjangan Panitia
Musyawarah, Tunjangan Komisi, Tunjangan
Panitia

Anggaran,

Kehormatan,

Tunjangan

Tunjangan

Alat

Badan

Kelengkapan

Lainnya, Tunjangan Perumahan merupakan


rincian obyek dari obyek belanja gaji dan
tunjangan. Tambahan Penghasilan berdasarkan
beban

kerja,

Tambahan

berdasarkan

tempat

Penghasilan

berdasarkan

Tambahan

Penghasilan

bertugas,

Tambahan

kondisi

Penghasilan

kerja,

berdasarkan

kelangkaan profesi, Tambahan Penghasilan


berdasarkan prestasi kerja adalah merupakan
rincian

obyek

dari

obyek

Tambahan

Penghasilan PNS, dan seterusnya.


Penganggaran belanja langsung
Untuk penganggaran belanja langsung, terlebih
dahulu dimulai dengan mencantumkan uraian
belanja

langsung,

yang

kemudian

diikuti

dengan nama program yang akan didanai


melalui belanja langsung.
Setelah

mencantumkan

nama

program,

selanjutnya dicantumkan nama kegiatan yang


termasuk dalam bagian program berkenaan.
Setiap mencantumkan uraian nama kegiatan
langkah

selanjutnya

diikuti

dengan

mencantumkan jenis-jenis belanja langsung,


59

dan masing-masing obyek belanja langsung


serta rincian obyek belanja langsung yang
dibutuhkan

untuk

mendanai

kegiatan

berkenaan.
Jenis-jenis

belanja

yang

belanja

langsung

kelompok

termasuk
dapat

dalam
berupa

belanja pegawai, belanja barang dan jasa, atau


belanja modal.
Obyek belanja langsung yang termasuk dalam
jenis belanja pegawai seperti honorarium PNS,
honorarium

Non PNS, uang lembur. Obyek

belanja langsung yang termasuk dalam jenis


belanja barang dan jasa seperti belanja bahan
pakai habis, belanja bahan/material, belanja
jasa kantor, belanja premi asuransi, belanja
perawatan kendaraan bermotor, belanja jasa
pendidikan dan pelatihan PNS, Belanja Cetak
dan Penggandaan dan seterusnya. Belanja
Modal

Pengadaan

pengadaan

alat-alat

Tanah,

belanja

modal

berat,

belanja

modal

pengadaan alat-alat angkutan darat bermotor,


belanja modal pengadaan alat-alat angkutan
darat tidak bermotor, belanja modal pengadaan
alat-alat angkutan di air bermotor, belanja
modal pengadaan alat-alat angkutan di air tidak
bermotor, belanja modal pengadaan alat-alat
angkutan udara, belanja modal pengadaan alatalat bengkel, belanja modal pengadaan alat-alat
pengolahan pertanian dan peternakan, belanja
modal pengadaan peralatan kantor, belanja
modal pengadaan perlengkapan kantor, belanja
modal pengadaan komputer dan seterusnya
merupakan

obyek

belanja

langsung

yang

termasuk dalam jenis belanja modal.

60

Rincian obyek belanja langsung yang termasuk


dalam salah satu obyek belanja langsung
Honorarium

PNS

misalnya

honorarium

panitia/tim. Belanja alat tulis kantor, Belanja


alat listrik dan elektronik ( lampu pijar, battery
kering), Belanja perangko, materai dan benda
pos lainnya, Belanja peralatan kebersihan dan
bahan

pembersih,

Minyak/Gas,

Belanja

Belanja

Bahan

pengisian

Bakar
tabung

pemadam kebakaran, Belanja pengisian tabung


gas dan seterusnya merupakan rincian obyek
belanja langsung yang termasuk dalam obyek
belanja Belanja Bahan Pakai Habis. Belanja
modal pengadaan tanah kantor, Belanja modal
pengadaan tanah sarana kesehatan rumah
sakit, Belanja modal pengadaan tanah sarana
kesehatan

puskesmas,

Belanja

modal

pengadaan tanah sarana kesehatan poliklinik,


Belanja

modal

pengadaan

tanah

sarana

pendidikan taman kanak-kanak dan seterusnya


merupakan rincian obyek belanja langsung
yang termasuk dalam obyek Belanja Modal
Pengadaan Tanah, dan seterusnya.
(c) Penganggaran Pembiayaan Daerah :
Penerimaan pembiayaan
Uraian

pertama

menguraikan

yang
lebih

dicantumkan
lanjut

untuk

penerimaan

pembiayaan daerah yakni uraian penerimaan


pembiayaan.
Selanjutnya diuraikan jenis-jenis penerimaan
pembiayaan yang termasuk dalam kelompok
penerimaan pembiayaan berkenaan, seperti
sisa

lebih

anggaran

perhitungan
sebelumnya,

anggaran

tahun

pencairan

dana
61

cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah


yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah,
penerimaan

kembali

pemberian

pinjaman,

penerimaan piutang daerah merupakan jenis


penerimaan pembiayaan yang termasuk dalam
kelompok penerimaan pembiayaan.
Untuk

masing-masing

jenis

penerimaan

pembiayaan yang dicantumkan selanjutnya


diuraikan obyek penerimaan pembiayaan yang
termasuk dalam jenis penerimaan pembiayaan
berkenaan, seperti pelampauan penerimaan
PAD,

pelampauan

penerimaan

dana

perimbangan, pelampauan penerimaan lainlain

pendapatan

daerah

yang

sah,

sisa

penghematan belanja atau akibat lainnya yang


merupakan obyek penerimaan pembiayaan
yang

termasuk

dalam

jenis

sisa

lebih

perhitungan anggaran tahun lalu. Penerimaan


Pinjaman Daerah dari Pemerintah, Penerimaan
Pinjaman Daerah dari pemerintah daerah lain,
Penerimaan Pinjaman Daerah dari lembaga
keuangan bank, Penerimaan Pinjaman Daerah
dari

lembaga

keuangan

bukan

bank,

Penerimaan hasil penerbitan Obligasi daerah


merupakan obyek penerimaan pembiayaan
yang

termasuk

dalam

jenis

Penerimaan

Pinjaman Daerah, dan seterusnya.


Setelah mencantumkan setiap uraian obyek
penerimaan

pembiayaan,

selanjutnya

dicantumkan uraian rincian obyek penerimaan


pembiayaan

yang

termasuk

dalam

obyek

penerimaan pembiayaan berkenaan, seperti


pelampauan

penerimaan

pajak

daerah,

retribusi daerah, hasil pengelolaan kekayaan

62

daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah


merupakan
pembiayaan

rincian
yang

obyek

termasuk

penerimaan
dalam

obyek

dicantumkan

untuk

pelampauan penerimaan PAD.


Pengeluaran pembiayaan
Uraian

pertama

menguraikan

yang
lebih

lanjut

penerimaan

pembiayaan daerah yakni uraian pengeluaran


pembiayaan.
Selanjutnya diuraikan jenis-jenis pengeluaran
pembiayaan yang termasuk dalam kelompok
pengeluaran pembiayaan berkenaan, seperti
pembentukan
modal

dana

cadangan,

(investasi)

penyertaan

pemerintah

daerah,

pembayaran pokok utang, pemberian pinjaman


daerah yang merupakan jenis pengeluaran
pembiayaan yang termasuk dalam kelompok
pengeluaran pembiayaan.
Untuk

masing-masing

jenis

pengeluaran

pembiayaan yang dicantumkan selanjutnya


diuraikan obyek pengeluaran pembiayaan yang
termasuk dalam jenis pengeluaran pembiayaan
berkenaan, seperti pembayaran pokok utang
yang

jatuh

pembayaran

tempo

kepada

pemerintah,

pokok utang yang jatuh tempo

kepada pemerintah daerah lain, pembayaran


pokok utang yang jatuh tempo kepada lembaga
keuangan bank, pembayaran pokok utang yang
jatuh tempo kepada lembaga keuangan bukan
bank yang merupakan obyek pengeluaran
pembiayaan

yang

termasuk

dalam

jenis

pembayaran pokok utang.


Setelah mencantumkan setiap uraian obyek
pengeluaran

pembiayaan,

selanjutnya
63

dicantumkan uraian rincian obyek pengeluaran


pembiayaan

yang

termasuk

dalam

obyek

pengeluaran pembiayaan berkenaan.


7)

Pengisian kolom 3 (jumlah) sebagai berikut :


(a) Pendapatan Daerah:
Pengisian jumlah pendapatan daerah secara
horizontal

sesuai

dengan

jumlah

yang

direncanakan menurut kelompok, jenis, objek,


dan rincian objek pendapatan daerah yang
dicantumkan dalam kolom uraian.
Jumlah menurut kelompok pendapatan daerah
diisi dengan jumlah hasil penjumlahan dari
seluruh

jumlah

jenis

pendapatan

daerah

berkenaan.
Jumlah menurut jenis pendapatan daerah diisi
dengan jumlah hasil penjumlahan dari seluruh
jumlah obyek pendapatan daerah berkenaan.
Jumlah menurut obyek pendapatan daerah diisi
dengan jumlah hasil penjumlahan dari seluruh
jumlah

rincian

obyek

pendapatan

daerah

berkenaan.
Jumlah menurut rincian obyek pendapatan
daerah diisi dengan jumlah rincian obyek
pendapatan daerah berkenaan.
Jumlah seluruh pendapatan daerah sama dengan
penjumlahan dari seluruh jumlah kelompok
pendapatan daerah yang dianggarkan.
(b) Belanja Daerah :
Belanja tidak langsung
Jumlah

belanja

tidak

langsung

merupakan

penjumlahan dari seluruh jumlah jenis belanja


tidak langsung yang tercantum dalam kolom

64

uraian.
Jumlah jenis belanja tidak langsung diisi dengan
penjumlahan dari seluruh jumlah obyek belanja
pada jenis belanja tidak langsung berkenaan.
Jumlah obyek belanja tidak langsung diisi dengan
penjumlahan dari seluruh jumlah rincian obyek
belanja pada obyek belanja tidak langsung
berkenaan.
Jumlah menurut rincian obyek belanja tidak
langsung diisi dengan jumlah rincian obyek
belanja tidak langsung berkenaan.
Belanja Langsung
Jumlah

belanja

langsung

merupakan

penjumlahan dari seluruh jumlah program


belanja langsung yang tercantum dalam kolom
uraian.
Jumlah

menurut

program

diisi

dengan

penjumlahan dari seluruh jumlah belanja


kegiatan

yang

termasuk

dalam

program

berkenaan.
Jumlah menurut kegiatan diisi dengan jumlah
hasil penjumlahan dari seluruh jenis belanja
langsung

yang

termasuk

dalam

kegiatan

berkenaan.
Jumlah jenis belanja langsung diisi dengan
penjumlahan dari seluruh jumlah obyek belanja
pada jenis belanja langsung yang termasuk
dalam kegiatan berkenaan.
Jumlah obyek belanja langsung diisi dengan
penjumlahan dari seluruh jumlah rincian obyek
belanja pada obyek belanja langsung yang
termasuk dalam kegiatan berkenaan.
Jumlah menurut rincian obyek diisi dengan
65

jumlah

anggaran

rincian

obyek

belanja

langsung kegiatan berkenaan.


(c) Pembiayaan daerah :
Penerimaan Pembiayaan
Jumlah

penerimaan

pembiayaan

penjumlahan

dari

seluruh

penerimaan

pembiayaan

merupakan

jumlah

jenis

daerah

yang

pembiayaan

diisi

tercantum dalam kolom uraian.


Jumlah

jenis

penerimaan

dengan penjumlahan dari seluruh jumlah obyek


penerimaan pembiayaan pada jenis penerimaan
pembiayaan berkenaan.
Jumlah obyek penerimaan pembiayaan diisi
dengan penjumlahan dari seluruh jumlah
rincian obyek penerimaan pembiayaan pada
obyek penerimaan pembiayaan berkenaan.
Jumlah menurut rincian obyek penerimaan
pembiayaan diisi dengan jumlah rincian obyek
penerimaan pembiayaan berkenaan.
Pengeluaran Pembiayaan
Jumlah pengeluaran pembiayaan merupakan
penjumlahan

dari

seluruh

pengeluaran

pembiayaan

jumlah
daerah

jenis
yang

tercantum dalam kolom uraian.


Jumlah jenis pengeluaran pembiayaan

diisi

dengan penjumlahan dari seluruh jumlah obyek


pengeluaran

pembiayaan

pada

jenis

pengeluaran pembiayaan berkenaan.


Jumlah obyek pengeluaran pembiayaan diisi
dengan penjumlahan dari seluruh jumlah
rincian obyek pengeluaran pembiayaan pada
obyek pengeluaran pembiayaan berkenaan.
Jumlah menurut rincian obyek pengeluaran
66

pembiayaan diisi dengan jumlah rincian obyek


pengeluaran pembiayaan berkenaan.
Pembiayaan neto
Jumlah pembiayaan neto diisi dengan jumlah selisih
antara jumlah penerimaan pembiayaan dikurangi
dengan jumlah pengeluaran pembiayaan
8) Pengisian kolom 4 (penjelasan) sebagai berikut :
Kolom penjelasan wajib diisi untuk memenuhi prinsip
transparansi dan akuntabilitas keuangan daerah/APBD.
Dalam kolom ini harus disajikan data dan informasi
yang

lengkap

guna

memudahkan

berbagai

pihak

memperoleh penjelasan mengenai dasar penganggaran


pendapatan, belanja dan pembiayaan dalam tahun
anggaran berkenaan.
(a) Untuk penjelasan penganggaran pendapatan daerah
diisi dengan:
Dasar hukum penganggaran untuk setiap obyek
pungutan/penerimaan dapat berupa UndangUndang,

Peraturan

Pemerintah,

Peraturan

Presiden, atau Peraturan Daerah yang disertai


dengan nomor, tahun dan tentang.
Dasar

penentuan

pendapatan/penerimaan

jumlah
yang

dianggarkan

pada kolom jumlah, seperti kwantitas unit,


orang,

rumah

tangga,

frekwensi

pemakaian/penggunaan, waktu, luas, bobot,


kepala keluarga, atau volume dan ukuran
lainnya yang digunakan yang disertai dengan
besarnya tarif pungutan atau harga/nilai satuan
lainnya.
(b) Untuk penjelasan belanja daerah sebagai berikut:
Belanja tidak langsung sebagai berikut:
Setiap jumlah rincian obyek belanja tidak langsung
67

yang dianggarkan dalam kolom jumlah supaya diberi


penjelasan mengenai:
Dasar

hukum

penganggaran

belanja

tidak

langsung
Sasaran peruntukan penyediaan belanja tidak
langsung, dengan cara menguraikan jumlah
rincian obyek belanja tidak langsung seperti
jumlah

orang,

kwantitas

waktu/jam/hari/bulan/tahun,

atau

satuan

ukuran lainnya yang digunakan disertai dengan


besarnya harga satuan sebagai tolok ukur
pengeluaran belanja tidak langsung seperti tarif
dan harga.
Contoh 1
Uang representasi sejumlah Rp1.499.400.000,00
Dalam kolom penjelasan diuraikan lebih lanjut sebagai berikut :
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005, disediakan
untuk :
1. Ketua = 1 org x 12 bln x Rp3.000.000,00

= Rp36.000.000,00

2. Wakil Ketua = 3 org x 12 bln x (80%xRp 3.000,000,00) = Rp86.400.000,00


3. Anggota = 51 org x 12 bln x (75% x Rp 3.000.000,00) = Rp1.377.000.000,00

Untuk penjelasan belanja langsung sebagai


berikut :
Untuk setiap kegiatan yang dicantumkan pada
kolom

uraian,

harus

disertai

dengan

penjelasan :
(1) Lokasi kegiatan, diisi dengan nama lokasi
atau tempat dari setiap kegiatan yang akan
dilaksanakan.
dimaksud

Lokasi
dapat

atau

tempat

berupa

nama

desa/kelurahan, kecamatan.
(2) sumber dana diisi dengan jenis sumber
dana (PAD, bagi hasil, DAU, DAK, lain68

lain hibah, dana darurat atau jenis lainlain pendapatan yang sah berkenaan, dana
cadangan dan pinjaman daerah) untuk
mendanai

pelaksanaan

program

dan

kegiatan yang direncanakan.


(3) keluaran

yang

akan

dihasilkan

dari

kegiatan yang dianggarkan dan manfaat


yang akan diterima pada masa yang akan
datang.
Untuk setiap jumlah rincian obyek belanja dari
setiap kegiatan yang dicantumkan dalam kolom
jumlah, pada kolom penjelasan supaya disertai
dengan keterangan selengkapnya mengenai
sasaran penggunaan dari rincian obyek belanja
langsung berkenaan.
(c) Pembiayaan Daerah :
Setiap jumlah obyek penerimaan dan pengeluaran
pembiayaan yang dianggarkan harus disertai dengan
penjelasan selengkapnya seperti :

Dasar

hukum

(Undang-Undang,

Peraturan

Pemerintah, Peraturan Presiden, Peraturan


Daerah yang dilengkapi dengan penjelasan
nomor, tahun dan tentang, perjanjian/berita
acara atau dokumen lain yang dijadikan dasar
penganggaran

dari

setiap

rincian

obyek

penerimaan pembiayaan daerah;


Penjelasan lain yang dapat mendukung aspek
legalitas

dari

setiap

penerimaan/pengeluaran

rincian

obyek

pembiayaan

yang

dianggarkan.
c) Hasil penyusunan Lampiran III digambarkan sebagai

69

berikut:
PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*)...
PENJABARAN APBD
TAHUN ANGGARAN ..

Urusan Pemerintahan
Organisasi

: x.xx
: x.xx xx

KODE REKENING

URAIAN

JUMLAH
(Rp)

PENJELASAN

d) Pada akhir lampiran ini dicantumkan nama ibukota


provinsi/kabupaten/kota,

tanggal

penetapan,

tandatangan gubernur/bupati/walikota disertai nama


lengkap.
b.

Penyusunan rancangan peraturan kepala daerah tentang


Penjabaran APBD.
Rancangan peraturan kepala daerah tentang Penjabaran APBD yang
disusun dijabarkan dari rancangan peraturan daerah tentang APBD
yang telah disetujui bersama antara DPRD dan kepala daerah.
Substansi rancangan dimaksud memuat :
a. Judul. Judul diisi dengan Rancangan Peraturan Kepala
Daerah, nomor, tahun pengundangan atau penetapan,
dan menuliskan tentang nama peraturan kepala daerah
(dalam

hal

ini

Penjabaran

APBD

Provinsi/Kabupaten/Kota) yang ditulis dengan huruf

70

kapital yang diletakkan di tengah margin tanpa diakhiri


tanda baca.
b. Mencantumkan jabatan pembentuk peraturan kepala
daerah, yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang
diletakkan tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca
koma.
c. Konsideran. Konsideran diawali dengan kata menimbang,
yaitu menyebutkan uraian pokok-pokok pikiran yang
melatarbelakangi dan alasan pertimbangan perlunya
melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa pasal
peraturan perundang-undangan yang memerintahkan
pembentukan

Peraturan

Kepala

Daerah

tentang

Penjabaran APBD.
d. Dasar hukum.

Dasar hukum diawali dengan kata

mengingat, yaitu: dengan mencantumkan dasar hukum


yang melandasi pembentukan Peraturan Kepala Daerah.
e. Menetapkan, yaitu dengan menetapkan Peraturan Kepala
Daerah tentang Penjabaran APBD diikuti dengan nama
daerah. Kata menetapkan dicantumkan sesudah kata
memutuskan yang disejajarkan ke bawah dengan kata
menimbang dan mengingat, yang ditulis dengan huruf
awal kapital diakhiri dengan tanda baca titik dua. Nama
yang tercantum dalam judul Peraturan Kepala Daerah
dicantumkan lagi setelah kata menetapkan serta ditulis
seluruhnya dengan huruf kapital dan diakhiri dengan
tanda baca titik.
f. Batang tubuh. Batang tubuh peraturan kepala daerah
dirumuskan dalam Pasal dan Ayat yang menetapkan
tentang hal-hal yang diatur dalam rancangan peraturan
kepala daerah, antara lain :
1)

Penetapan jumlah anggaran pendapatan daerah,


belanja daerah dan pembiayaan daerah.

71

2)

Uraian lebih lanjut atas anggaran pendapatan


yang dirinci sampai dengan jenis pendapatan.

3)

Uraian lebih lanjut atas anggaran belanja daerah


yang dirinci sampai dengan jenis belanja daerah.

4)

Uraian lebih lanjut atas anggaran pembiayaan


daerah yang dirinci sampai dengan jenis pembiayaan
daerah.

5)

Pencantuman daftar lampiran yang merupakan


bagian yang tidak terpisahkan dari peraturan kepala
daerah.

6)

Menegaskan

bahwa

pelaksanaan

penjabaran

APBD yang ditetapkan dengan peraturan kepala


daerah tentang Penjabaran APBD dituangkan lebih
lanjut dalam DPA-SKPD sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan.
7)

Masa pemberlakuan Peraturan Kepala Daerah


tentang Penjabaran APBD.

g. Penetapan Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran


APBD, dengan membubuhkan tanda tangan Kepala
Daerah/Pejabat yang berwenang.
h. Pengundangan Peraturan Kepala Daerah dalam Berita
Daerah.
i. Format batang tubuh Peraturan Kepala Daerah tentang
Penjabaran APBD, digambarkan sebagai berikut :
PERATURAN GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA *).......
NOMOR ........... TAHUN ..
TENTANG
PENJABARAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
TAHUN ANGGARAN
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA *)
Menimbang

bahwa memenuhi ketentuan Pasal .... Peraturan Daerah Nomor Tahun

72

tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun


Anggaran
..........,
perlu
ditetapkan
Peraturan
Gubernur/Bupati/Walikota*) ..... tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan
dan Belanja Daerah Tahun Anggaran .. sebagai landasan operasional
pelaksanaan APBD Tahun Anggaran ....;
Mengingat

1.

Undang-Undang Nomor .......... Tahun ........... tentang Pembentukan


Daerah ................ (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .........
Nomor ........., Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor .......);

28.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3569);

29.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan


Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

30.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas


Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3688);

31.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara


yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

32.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

33.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

34.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4389);

35.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksanaan


Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4400);

36.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421);

37.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4548);

38.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan


Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);

39.

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan


Pengawasan atas Penyelenggaran Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4090);

40.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah

73

(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan


Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4138);
41.

Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);

42.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan


Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4416) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan
Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4540);

43.

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4502);

44.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi


Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503);

45.

Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574);

46.

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);

47.

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi


Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4576);

48.

Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4577);

49.

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4578);

50.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman


Penyusunan dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4585);

51.

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan


dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4614);

52.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor Tahun ... tentang Pedoman


Pengelolaan Keuangan Daerah;

53.

Peraturan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota .................. Nomor ..


Tahun ...... tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah;
MEMUTUSKAN :

Menetapkan

PERATURAN GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*) TENTANG


PENJABARAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA
DAERAH TAHUN ANGGARAN .

Pasal 1
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran . terdiri atas :
3.

Pendapatan
a.
Pendapatan Asli Daerah
b.
Dana Perimbangan
c.
Lain-lain Pendapatan yang Sah
Jumlah Pendapatan

Rp. .......................
Rp. .......................
Rp. .......................

74

Rp........................
4.

Belanja
a.
Belanja Tidak Langsung
1)
Belanja pegawai
2)
Belanja bunga
3)
Belanja subsidi
4)
Belanja hibah
5)
Belanja bantuan sosial
6)
Belanja bagi hasil
7)
Belanja bantuan keuangan
8)
Belanja tidak terduga

b.

Rp. .......................
Rp. .......................
Rp. .......................
Rp. .......................
Rp. .......................
Rp. .......................
Rp. .......................
Rp. .......................

Rp........................
Belanja Langsung
1)
Belanja pegawai
2)
Belanja barang dan jasa

3)

Rp. .......................
Rp. .......................

Belanja modal

Rp. .......................

Rp........................

5.

Jumlah Belanja

Rp........................

Surplus/(Defisit)

Rp........................

Pembiayaan:
a.
Penerimaan
b.
Pengeluaran

Rp. .......................
Rp. .......................
Jumlah Pembiayaan Neto

Rp........................

Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan Rp........................


Pasal 2
Ringkasan Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 tercantum dalam Lampiran I Peraturan
Gubernur/Bupati/Walikota*) ini.
Pasal 3
Penjabaran APBD sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 dirinci lebih lanjut dalam Lampiran II Peraturan
Gubernur/Bupati/Walikota*) ini.
Pasal 4
Lampiran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 dan Pasal 3 merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota*) ini.
Pasal 5
Pelaksanaan penjabaran APBD yang ditetapkan dalam peraturan ini dituangkan lebih lanjut dalam
dokumen pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah sesuai dengan ketentuan perundangundangan.
Pasal 6
Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota*) ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan
Agar setiap oang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota *)
dalam Berita Daerah.
Ditetapkan di .
pada tanggal ....
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*) .
(tanda tangan)
(nama lengkap)

75

E. EVALUASI APBD
E.1. PENGERTIAN
Evaluasi APBD bertujuan untuk tercapainya keserasian antara
kebijakan

daerah

dan

kebijakan

nasional,

keserasian

antara

kepentingan publik dan kepentingan aparatur serta untuk meneliti


sejauh mana APBD tidak bertentangan dengan kepentingan umum,
peraturan yang lebih tinggi dan peraturan daerah lainnya yang berlaku
di daerah bersangkutan.
E.2 EVALUASI APBD PROVINSI
Evaluasi APBD Provinsi dilakukan dengan mekanisme sebagai berikut :
1. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan
Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD.
2. Rancangan peraturan daerah Provinsi tentang APBD yang telah
disetujui bersama DPRD dan rancangan peraturan gubernur tentang
penjabaran APBD disampaikan terlebih dahulu kepada Gubernur
untuk dievaluasi, paling lambat 3 (tiga) hari kerja terhitung sejak
tanggal penetapan persetujuan bersama.
3. Rancangan APBD Provinsi disampaikan kepada Gubernur melalui
Surat Bupati/Walikota yang dilampiri dengan :
a. persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD
terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD;
b. KUA dan PPA yang disepakati antara kepala daerah dan
pimpinan DPRD;
c. risalah

sidang jalannya

pembahasan

terhadap

rancangan

peraturan daerah tentang APBD; dan


d. nota keuangan dan pidato kepala daerah perihal penyampaian
pengantar nota keuangan pada sidang DPRD.

76

4. Evaluasi oleh Mendagri.


Evaluasi Mendagri terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang
APBD Provinsi dan Rancangan Peraturan Kepala Daerah tentang
Penjabaran APBD Provinsi dilakukan sebagai berikut :
a.

Menelaah APBD apakah sesuai dengan kriteria yang


ditetapkan.

b.

Dalam rangka efektivitas pelaksanaan evaluasi, Menteri


Dalam Negeri dapat mengundang pejabat pemerintah daerah
provinsi yang terkait. Tujuan mengundang pejabat pemerintah
provinsi lebih dititikberatkan dalam rangka membahas dan
mengklarifikasi beberapa hal yang terkait dengan hasil telaahan
sementara.

c.

Penetapan Keputusan Menteri Dalam Negeri tentang hasil


evaluasi dengan tepat waktu (paling lama 15 hari).

d.

Penyampaian Keputusan Menteri Dalam Negeri kepada


gubernur mengenai hasil evaluasi.

5. Penyempurnaan APBD oleh Gubernur.


a. Apabila hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang
APBD dan rancangan peraturan gubernur tentang penjabaran
APBD dinyatakan bertentangan dengan kepentingan umum dan
peraturan

perundang-undangan

yang

lebih

tinggi,

maka

gubernur bersama DPRD melakukan penyempurnaan.


b. Penyempurnaan APBD tersebut diberikan batasan waktu paling
lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil
evaluasi.
6. Pembatalan APBD Provinsi.
Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh gubernur dan
DPRD, dan Gubernur

tetap menetapkan rancangan peraturan

daerah tentang APBD dan rancangan peraturan Gubernur tentang


penjabaran APBD menjadi peraturan daerah dan peraturan
Gubernur, Mendagri membatalkan peraturan daerah dan peraturan
Gubernur dimaksud sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD
77

tahun sebelumnya.
Pembatalan peraturan daerah dan peraturan gubernur serta
pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya ditetapkan
dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri.
E.3 EVALUASI APBD KABUPATEN/KOTA
Evaluasi APBD Kabupaten/Kota dilakukan dengan mekanisme sebagai
berikut :
1. Penyampaian Rancangan Peraturan Daerah tentang APBD dan
Peraturan Kepala Daerah tentang Penjabaran APBD.
2. Rancangan peraturan daerah Kabupaten/Kota tentang APBD yang
telah

disetujui

bersama

DPRD

dan

rancangan

peraturan

Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD disampaikan terlebih


dahulu kepada Gubernur untuk dievaluasi, paling lambat 3 (tiga)
hari kerja terhitung sejak tanggal penetapan persetujuan bersama.
3. Rancangan APBD Kabupaten/Kota disampaikan kepada Gubernur
melalui Surat Bupati/Walikota yang dilampiri dengan :
a. persetujuan bersama antara pemerintah daerah dan DPRD
terhadap rancangan peraturan daerah tentang APBD;
b. KUA dan PPA yang disepakati antara kepala daerah dan
pimpinan DPRD;
c. risalah

sidang jalannya

pembahasan

terhadap

rancangan

peraturan daerah tentang APBD; dan


d. nota keuangan dan pidato kepala daerah perihal penyampaian
pengantar nota keuangan pada sidang DPRD.

4. Evaluasi oleh Gubernur.


Evaluasi Gubernur terhadap Rancangan Peraturan Daerah tentang
APBD kabupaten/Kota dan Rancangan Peraturan Bupati/Walikota
tentang Penjabaran APBD Kabupaten/Kota dilakukan sebagai
berikut :
a. Menelaah APBD apakah sesuai dengan kriteria yang ditetapkan.
b. Dalam rangka efektivitas pelaksanaan evaluasi, Gubernur dapat
mengundang pejabat pemerintah daerah Kabupaten/Kota yang

78

terkait. Tujuan mengundang pejabat pemerintah provinsi lebih


dititikberatkan dalam rangka membahas dan mengklarifikasi
beberapa hal yang terkait dengan hasil telaahan sementara.
c. Penetapan Keputusan Gubernur tentang hasil evaluasi dengan
tepat waktu (paling lama 15 hari).
d.

Penyampaian Keputusan Gubernur kepada Bupati/Walikota


mengenai hasil evaluasi.

5. Penyempurnaan APBD oleh Bupati/Walikota.


a. Apabila hasil evaluasi rancangan peraturan daerah tentang
APBD dan rancangan peraturan Bupati/Walikota tentang
penjabaran APBD dinyatakan bertentangan dengan kepentingan
umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi,
maka

Bupati/Walikota

bersama

DPRD

melakukan

penyempurnaan.
b. Penyempurnaan APBD tersebut diberikan batasan waktu paling
lama 7 (tujuh) hari kerja terhitung sejak diterimanya hasil
evaluasi.
6.

Pembatalan APBD Kabupaten/Kota

Apabila hasil evaluasi tidak ditindaklanjuti oleh Bupati/Walikota


dan DPRD, dan Bupati/Walikota tetap menetapkan rancangan
peraturan

daerah

tentang

APBD

dan

rancangan

peraturan

Bupati/Walikota tentang penjabaran APBD menjadi peraturan


daerah dan peraturan Bupati/Walikota, Gubernur membatalkan
peraturan

daerah

dan

peraturan

Bupati/Walikota

dimaksud

sekaligus menyatakan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya.


Pembatalan peraturan daerah dan peraturan Bupati/Walikota serta
pernyataan berlakunya pagu APBD tahun sebelumnya ditetapkan
dengan Peraturan Gubernur.
E.4

PENETAPAN PERATURAN DAERAH TENTANG APBD


DAN

PERATURAN

KEPALA

DAERAH

TENTANG

PENJABARAN APBD
a. APBD merupakan sarana dalam rangka mewujudkan kesejahteraan
masyarakat untuk tercapainya tujuan pelaksanaan otonomi daerah.
79

Terlambatnya penetapan APBD akan dapat menghambat pemberian


pelayanan kepada masyarakat, penyelenggaraan pemerintahan dan
pembangunan daerah yang pada akhirnya dapat menyengsarakan
kehidupan masyarakat.
b. Sehubungan dengan hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal 20
ayat (4) Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan
Negara, pengambilan keputusan oleh DPRD mengenai rancangan
peraturan daerah tentang APBD dilakukan selambat-lambatnya 1
(satu) bulan sebelum tahun anggaran dilaksanakan.
c. Untuk tersedianya waktu yang cukup dalam membahas APBD dan
mempercepat persetujuan bersama antara kepala daerah dan
DPRD, kepala daerah agar menyampaikan rancangan peraturan
daerah tentang APBD kepada DPRD disertai penjelasan dan
dokumen pendukungnya paling lambat minggu pertama bulan
Oktober. Dokumen pendukung rancangan peraturan daerah tentang
APBD yakni terdiri atas nota keuangan dan rancangan APBD.
d. Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD ditetapkan oleh
kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD dan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD setelah terlebih
dahulu dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan oleh
gubernur bagi kabupaten/kota.
e. Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD yang telah
dievaluasi ditetapkan oleh kepala daerah menjadi peraturan daerah
tentang APBD dan peraturan kepala daerah tentang penjabaran
APBD.
f. Penetapan rancangan peraturan daerah tentang APBD dan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD dilakukan paling
lambat tanggal 31 Desember tahun anggaran sebelumnya.
g. Dalam hal kepala daerah berhalangan tetap, maka pejabat yang
ditunjuk dan ditetapkan oleh pejabat yang berwenang selaku

80

penjabat/pelaksana

tugas

kepala

daerah

yang

menetapkan

peraturan daerah tentang APBD dan peraturan kepala daerah


tentang penjabaran APBD.
h. Pembahasan rancangan peraturan daerah tentang APBD agar
dititikberatkan

pada

kesesuaian

antara

arah

kebijakan

umum/kebijakan umum APBD dalam upaya penajaman pencapaian


prioritas

sasaran

dari program yang telah

disepakati

dan

ditandatangani bersama antara kepala daerah dengan DPRD


sebagaimana dituangkan dalam nota kesepakatan arah kebijakan
umum/kebijakan umum APBD.
i. Rancangan peraturan daerah tentang APBD dan rancangan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD ditetapkan oleh
kepala daerah menjadi peraturan daerah tentang APBD dan
peraturan kepala daerah tentang penjabaran APBD setelah terlebih
dahulu dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan oleh
gubernur bagi kabupaten/kota.
j. Dalam hal DPRD sampai batas waktu yang ditetapkan tidak
mengambil keputusan, kepala daerah melaksanakan pengeluaran
setinggi-tingginya

sebesar

angka

APBD

Tahun

Anggaran

sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang disusun


dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.
k. Pengeluaran setinggi-tingginya untuk keperluan setiap bulan
tersebut diprioritaskan untuk:
1) belanja yang bersifat mengikat yaitu belanja yang dibutuhkan
secara terus menerus dan harus dialokasikan dalam jumlah yang
cukup untuk keperluan setiap bulan seperti belanja pegawai
serta belanja barang dan jasa;
2) belanja yang bersifat wajib yaitu belanja untuk terjaminnya
kelangsungan

pemenuhan

pendanaan

pelayanan

masyarakat antara lain pendidikan dan kesehatan

dasar

dan/atau

melaksanakan kewajiban kepada pihak ketiga.


81

l. Rancangan peraturan kepala daerah ditetapkan setelah memperoleh


pengesahan dari Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan Gubernur
bagi kabupaten/kota.
m. Jangka waktu pengesahan ditetapkan paling lama 15 hari terhitung
sejak tanggal disampaikannya kepada Menteri Dalam Negeri bagi
provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota. Jika sampai dengan
batas waktu tersebut belum disahkan oleh pejabat yang berwenang,
maka dianggap telah disahkan dan kepala daerah menetapkan
rancangan peraturan kepala daerah tersebut menjadi peraturan
kepala daerah.

82

Mekanisme

penyusunan

dan

penetapan

APBD

Provinsi

dapat

digambarkan dalam skema berikut ini :


RAPERDA
APBD
RAPERDA
APBD

Membuat
Membuat
RAPERGUB
RAPERGUB
Sebesar
Sebesar
Pagu
Pagu APBD
APBD
Tahun
Tahun Lalu
Lalu

Tidak
Tidak
Setuju
Setuju

(15
(15 hari)
hari)

DP
DP
RD
RD

Dibahas
bersama
Dibahas
DPRD
&
bersama
Pemda
DPRD &
Pemda
Setuju
Setuju

RAPERGUB
RAPERGUB
PENJABARAN
PENJABARAN
APBD
APBD

Penyampaian
Penyampaian
RAPERDA
RAPERDA APBD
APBD
&
&
RAPERGUB
RAPERGUB
APBD
APBD
(3
(3 hari)
hari)

Melewa
Melewa
ti
ti
Batas
Batas
WKT
WKT
Evaluas
Evaluas
ii

Tdk
Tdk
Sesua
Sesua
ii
Dgn
Dgn
UU
UU

Hasil
Hasil
Evalu
Evalu
asi
asi

MDN
MDN
(15
(15
hari)
hari)

Sesua
Sesua
ii
dgn
dgn
UU
UU

Pengesa
Pengesa
han
han
MDN
MDN
(30
(30 Hari)
Hari)

GUBERNUR
menetapkan
PER-GUB

Penyempur
Penyempur
naan
naan
(7
(7 Hari)
Hari)

GUBERNUR
menetapkan
PERDA &
PER-GUB

Tdk
Tdk
Disempurn
Disempurn
akan
akan
MDN
MDN
membatalk
membatalk
an
an
Berlaku
Berlaku
Pagu
Pagu APBD
APBD
Sebelumny
Sebelumny
a
a

Mekanisme penyusunan dan penetapan APBD Kabupaten/Kota dapat


digambarkan dalam skema berikut ini :
RAPERDA
APBD
RAPERDA
APBD

DPRD
DPRD

Tidak
Tidak
Setuju
Setuju

Dibahas
bersama
Dibahas
DPRD
&
bersama
Pemda
DPRD &
Pemda
Setuju
Setuju

RAPERBUP/WAL
RAPERBUP/WAL
PENJABARAN
PENJABARAN
APBD
APBD

Membuat
Membuat
RAPERBUP/
RAPERBUP/
WAL
WAL
Sebesar
Sebesar
Pagu
Pagu APBD
APBD
Tahun
Tahun Lalu
Lalu
(15
(15 hari)
hari)

Penyampaian
Penyampaian
RAPERDA
RAPERDA APBD
APBD
&
&
RAPERBUP/WAL
RAPERBUP/WAL
APBD
APBD
(3
(3 hari)
hari)

Melewati
Melewati
Batas
Batas
waktu
waktu
Evaluasi
Evaluasi

Tdk
Tdk
Sesua
Sesua
ii
Dgn
Dgn
UU
UU

GUBE
GUBE
RNUR
RNUR

Hasil
Hasil
Evalu
Evalu
asi
asi

(15
(15
hari)
hari)

Sesua
Sesua
ii
dgn
dgn
UU
UU

Bupati/Walik
ota
menetapkan
PERBUP/WAL

Pengesah
Pengesah
an
an
Gubernur
Gubernur
(30
(30 Hari)
Hari)

Penyempur
Penyempur
naan
naan
(7
(7 Hari)
Hari)

Bupati/Walik
ota
menetapkan
PERDA &
PERBUP/WAL

Tdk
Tdk
Disempurn
Disempurn
akan
akan
GUB
GUB
membatalk
membatalk
an
an
Berlaku
Berlaku
Pagu
Pagu APBD
APBD
Sebelumny
Sebelumny
a
a

Laporan
Laporan
kpd
kpd
MDN
MDN

83

E.5 PENYUSUNAN DAN PENETAPAN APBD BAGI DAERAH


YANG BELUM MEMILIKI DPRD
a. Penyusunan dan penetapan APBD dilakukan oleh Kepala Daerah
apabila belum memiliki DPRD yang mekanisme dan kriterianya
mengacu pada ketentuan perundang-undangan. Penyusunan dan
penetapan

APBD

ini

umumnya

dialami

oleh

daerah-daerah

pemekaran atau faktor lainnya yang menyebabkan alat kelengkapan


DPRDnya belum dibentuk.
b. Oleh karena itu, mekanisme penetapan APBD yang ditempuh oleh
kepala daerah tidak dilakukan atas dasar persetujuan bersama
dengan DPRD. Namun mekanismenya dapat ditempuh dengan
mengacu pada ketentuan PP Nomor 58 Tahun 2005 dan Pasal 117
Permendagri Nomor 13 Tahun 2006.
c. Mekanisme yang ditempuh oleh Kepala Daerah, pada prinsipnya
adalah dalam rangka sinkronisasi dan keterpaduan sasaran program
dan kegiatan dengan kebijakan pemerintah dibidang keuangan
negara dan menjaga kelangsungan penyelenggaraan pemerintahan,
pembangunan daerah, serta pelayanan masyarakat di daerah.
d. Langkah-langkah yang ditempuh oleh Kepala Daerah dalam rangka
penyusunan dan penetapan APBD adalah sebagai berikut :
1)

menyusun rancangan KUA dan rancangan PPAS.

2)

Rancangan KUA dan rancangan PPAS dikonsultasikan kepada


Menteri Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi
kabupaten/kota.

3)

KUA dan rancangan PPA yang telah dikonsultasikan dijadikan


pedoman penyusunan RKA-SKPD. Tata cara penyusunan dan
urutan pengerjaan RKA-SKPD sesuai dengan Modul III.

4)

RKA-SKPD yang telah disempurnakan oleh SKPD disampaikan


kepada pejabat pengelola keuangan daerah sebagai bahan
penyusunan rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD.

5)

Teknis penyusunan Rancangan peraturan kepala daerah


tentang APBD berlaku tata cara dan urutan pengerjaan
84

penyusunan Rancangan peraturan daerah tentang APBD yang


disesuaikan dengan uraian B.2 diatas.
6)

Rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD dapat


dilaksanakan setelah memperoleh pengesahan dari Menteri
Dalam Negeri bagi provinsi dan gubernur bagi kabupaten/kota.

e. Contoh Format rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD


bagi Daerah yang belum memiliki DPRD

85

RANCANGAN PERATURAN GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*)


PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*) ...................
NOMOR .. TAHUN .................
TENTANG
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
TAHUN ANGGARAN ......................
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*) .....,
Menimbang

Mengingat

a.

bahwa Pasal 187 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang
Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang
Nomor 8 Tahun 2005 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti
Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan UndangUndang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi
Undang-Undang, menyatakan apabila Dewan Perwakilan Rakyat Daerah
(DPRD) sampai batas waktu yang ditetapkan tidak mengambil keputusan
bersama dengan kepala daerah terhadap rancangan peraturan daerah
tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), kepala daerah
melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya sebesar angka APBD tahun
anggaran sebelumnya untuk membiayai keperluan setiap bulan yang
disusun dalam rancangan peraturan kepala daerah tentang APBD;

d.

bahwa berhubung sampai dengan tanggal 30 November Tahun .... DPRD


Provinsi/Kabupaten/Kota*) ..... belum memberi persetujuan terhadap
Rancangan
Peraturan
Daerah
tentang
APBD
yang
telah
dibahas/diajukan*), maka untuk memperoleh persetujuan Menteri Dalam
Negeri/Gubernur*).... guna melaksanakan pengeluaran setinggi-tingginya
sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Rancangan
Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota*) .... tentang APBD Tahun Anggaran
.....

1.

Undang-Undang Nomor .......... Tahun ........... tentang Pembentukan


Daerah ................ (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun .........
Nomor ........., Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor .......);

2.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1985 Nomor 68, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3312) sebagaimana telah
diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1994 (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 1994 Nomor 62, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 3569);

54.

Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan


Retribusi Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 41, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3685)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 246
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4048);

55.

Undang-Undang Nomor 21 Tahun 1997 tentang Bea Perolehan Hak Atas


Tanah dan Bangunan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1997
Nomor 44, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
3688);

56.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara


yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 75, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 3851);

57.

Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4286);

58.

Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 5, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4355);

59.

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan


Perundang-undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004
Nomor 53, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4389);

60.

Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksanaan


Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan Lembaran Negara

86

Republik Indonesia Nomor 4400);


61.

Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan


Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun
2004 Nomor 104, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4421);

62.

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4437)
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2005
tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2005 Tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 32
Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah menjadi Undang-Undang
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 108,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia nomor 4548);

63.

Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan


Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 126, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 4438);

64.

Peraturan Pemerintah Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pembinaan dan


Pengawasan atas Penyelenggaran Pemerintahan Daerah (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 41, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4090);

65.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2001 tentang Pajak Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 118, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4138);

66.

Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2001 tentang Retribusi Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2001 Nomor 119, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4139);

67.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan


Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota DPRD (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 90, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4416) sebagaimana telah diubah
dengan Peraturan Pemerintah Nomor 37 Tahun 2005 tentang Perubahan
Atas Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2004 tentang Kedudukan
Protokoler dan Keuangan Pimpinan dan Anggota Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
94, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4540);

68.

Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Badan Layanan Umum (Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2005 Nomor 48, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4502);

69.

Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi


Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor
49, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4503);

70.

Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2005 tentang Pinjaman Daerah


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 136,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4574);

71.

Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan


(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 137,
Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4575);

72.

Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2005 tentang Sistem Informasi


Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 138, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4576);

73.

Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2005 tentang Hibah (Lembaran


Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 139, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4577);

74.

Peraturan Pemerintah Nomor 58 Tahun 2005 tentang Pengelolaan


Keuangan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2005
Nomor 140, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor
4578);

75.

Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2005 tentang Pedoman


Penyusunan dan penerapan Standar Pelayanan Minimal (Lembaran
Negara Republik Indonesia Tahun 2005 Nomor 150, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 4585);

76.

Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2006 tentang Pelaporan Keuangan


dan Kinerja Instansi Pemerintah (Lembaran Negara Republik Indonesia

87

Tahun 2006 Nomor 25, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia


Nomor 4614);
77.

Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor Tahun ... tentang Pedoman


Pengelolaan Keuangan Daerah;

78.

Peraturan Daerah Provinsi/Kabupaten/Kota .................. Nomor ..


Tahun ...... tentang Pokok-pokok Pengelolaan Keuangan Daerah.

GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*) ............
MEMUTUSKAN :
Menetapkan

: PERATURAN GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*) ......... TENTANG


ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH TAHUN
ANGGARAN ................
Pasal 1

Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran............. sebagai berikut:

6.

Pendapatan Daerah

Rp.........

7.

Belanja Daerah

Rp.........

Surplus/(Defisit)
3.

(-)

Rp.

Pembiayaan Daerah:
a.

Penerimaan

Rp.........

b.

Pengeluaran

Rp.........
Pembiayaan Netto

(-)
Rp.

(-)

Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran tahun Berkenaan: Rp.


Pasal 2
(5)

Pendapatan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari :


d. Pendapatan Asli Daerah sejumlah Rp
e. Dana perimbangan sejumlah Rp
f. Lain-lain pendapatan daerah yang sah sejumlah Rp

(6)

Pendapatan Asli Daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis pendapatan:
a. Pajak daerah sejumlah Rp
b. Retribusi daerah sejumlah Rp
c.
Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan sejumlah Rp
d. Lain-lain pendapatan asli daerah yang sah sejumlah Rp

(7)

Dana perimbangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis pendapatan:
a. Dana bagi hasil sejumlah Rp
b. Dana alokasi umum sejumlah Rp
c.
Dana alokasi khusus sejumlah Rp

(8)

Lain-lain pendapatan daerah yang sah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c terdiri dari jenis
pendapatan:
a. Hibah sejumlah Rp
b. Dana Darurat sejumlah Rp
c.
Dana Bagi Hasil Pajak sejumlah Rp
d. Dana Penyesuaian dan Otonomi Khusus sejumlah Rp
e.
Bantuan keuangan dari provinsi atau dari pemerintah daerah lainnya sejumlah Rp
Pasal 3

(4)
(5)

Belanja Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari :


c. Belanja Tidak Langsung sejumlah Rp
d. Belanja Langsung sejumlah Rp
Belanja Tidak Langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis belanja:
i. Belanja pegawai sejumlah Rp
j. Belanja bunga sejumlah Rp
k. Belanja subsidi sejumlah Rp
l. Belanja hibah sejumlah Rp
m. Belanja bantuan sosial sejumlah Rp
n. Belanja bagi hasil sejumlah Rp
o. Belanja bantuan keuangan sejumlah Rp
p. Belanja tidak terduga sejumlah Rp

88

(6)

(4)

Belanja Langsung sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis belanja:
d. Belanja pegawai sejumlah Rp
e. Belanja belanja barang dan jasa sejumlah Rp
f. Belanja modal sejumlah Rp
Pasal 4
Pembiayaan Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 terdiri dari :
c. Penerimaan sejumlah Rp
d. Pengeluaran sejumlah Rp

(5)

Penerimaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri dari jenis pembiayaan :
g. SiLPA tahun anggaran sebelumnya sejumlah Rp
h. Pencairan dana cadangan sejumlah Rp
i. Hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan sejumlah Rp
j. Penerimaan pinjaman daerah sejumlah Rp
k. Penerimaan kembali pemberian pinjaman sejumlah Rp
l.
Penerimaan piutang daerah sejumlah Rp

(6)

Pengeluaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri dari jenis pembiayaan:
e. pembentukan dana cadangan sejumlah Rp
f. penyertaan modal (investasi) pemerintah daerah sejumlah Rp
g. pembayaran pokok utang sejumlah Rp
h. Pemberian pinjaman daerah sejumlah Rp
Pasal 5

Uraian lebih lanjut Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1,
tercantum

dalam

Lampiran

yang

merupakan

bagian

yang

tidak

terpisahkan

dari

Peraturan

Gubernur/Bupati/Walikota*) ini, terdiri dari:


14.

Lampiran I

Ringkasan APBD;

15.

Lampiran II

Ringkasan APBD menurut Urusan Pemerintahan Daerah dan Organisasi;

16.

Lampiran III

Penjabaran APBD menurut Urusan Pemerintahan Daerah, Organisasi,


Pendapatan, Belanja Program dan Kegiatan serta Pembiayaan yang dirinci
menurut kelompok, jenis, obyek dan rincian obyek;

17.

Lampiran IV

Rekapitulasi Belanja menurut Urusan Pemerintahan Daerah, Organisasi, Program


dan Kegiatan;

18.

Lampiran V

Rekapitulasi Belanja Daerah Untuk Keselarasan dan Keterpaduan Urusan


Pemerintahan Daerah dan Fungsi Dalam Kerangka Pengelolaan Keuangan
Negara;

19.

Lampiran VI

Daftar Jumlah Pegawai Per Golongan dan Per Jabatan;

20.

Lampiran VII

Daftar piutang daerah;

21.

Lampiran VIII

Daftar penyertaan modal (investasi) daerah;

22.

Lampiran IX

Daftar Perkiraan Penambahan dan Pengurangan Aset Tetap Daerah;

23.

Lampiran X

Daftar perkiraan penambahan dan pengurangan aset lainnya;

24.

Lampiran XI

Daftar kegiatan-kegiatan tahun anggaran sebelumnya yang belum diselesaikan


dan dianggarkan kembali dalam tahun anggaran ini;

25.

Lampiran XII

Daftar dana cadangan daerah ;dan

26.

Lampiran XIII

Daftar Pinjaman Daerah Dan Obligasi Daerah.

Pasal 6
Pelaksanaan APBD yang ditetapkan dalam peraturan ini dituangkan lebih lanjut dalam dokumen
pelaksanaan anggaran satuan kerja perangkat daerah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan.
Pasal 7
Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota*) ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota*)
ini dengan penempatannya dalam Berita Daerah.
Ditetapkan di ..
pada tanggal ..
GUBERNUR/BUPATI/WALIKOTA*)..
(tanda tangan)
(nama lengkap)
Diundangkan di .......

89

pada tanggal ............


SEKRETARIS DAERAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA*) ............
(tandatangan)
(nama lengkap)
NIP .
BERITA DAERAH PROVINSI/KABUPATEN/KOTA TAHUN NOMOR

90