Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kapal perikanan didefinisikan sebagai kapal atau alat apung lainnya yang
digunakan untuk melakukan kegiatan penangkapan ikan termasuk melakukan
survei atau eksplorasi perikanan. Kapal penangkapan ikan adalah kapal yang
secara khusus digunakan untuk menangkap ikan termasuk menampung,
menyimpan, mendinginkan atau mengawetkan.
Menurut direktorat kapal perikanan dan alat tangkap ikan (2009:61), gill
net atau jaring insang adalah alat penangkap ikan yang berupa selembar jaring
berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran mata jaring (mesh size) yang
sama atau seragam di seluruh bagian jaring. Pada atas bagian jaring, pelampungpelampung yang dilalui tali pelampung diikat pada tali ris atas, sedangkan pada
bagian bawahnya adalah pemberat yang dilekatkan pada tali ris bawah. Fungsi
dari pelampung dan pemberat ini agar jaring dapat terbentang sempurna di dalam
air.
Jenis ikan yang tertangkap dengan gill net adalah ikan-ikan dasar dan ikan
damersal seperti laying, cakalang, kembung, dan lain-lain. Selain ikan dasar dan
ikan damersal, ikan sauri, tuna, salmon, mackarel juga menjadi tujuan
penangkapan gill net. Tidak hanya itu saja udang, lobster, kepiting juga terjerat
oleh gill net.
Penanganan dan penempatan ikan secara higines merupakan prasyaratan
dalam menjaga ikan dari kemunduran mutu karena baik buruknya penanganan
akan berpengaruh langsung terhadap mutu ikan sebagai bahan makanan atau
bahan mentah untuk pengolahan lebih lanjut. Demikian juga penempatan ikan
pada tempat yang tidak sesuai, misalnya pada tempat yang bersuhu panas, terkena
sinar matahari langsung, tempat yang kotor dan lain sebagainya akan berperan
mempercepat mundurnya mutu ikan.
Salah satu masalah yang sering timbul pada sektor perikanan adalah dalam
mempertahankan mutu ikan. Kemunduran mutu ikan emang tidak dapat
dipungkiri sebab ikan merupakan produk yang peris hable (mudah rusak).
Kemunduran mutu ikan disebabkan oleh aktivitas enzim dan bakteri dan disusul
dengan semakin berkembangnya aktivitas mikroba pembusuk, proses ini terjadi
setelah ikan mati. Perubahan yang terjadi setelah ikan mati dapat terbagi menjadi
1

tiga fase menurut tingkat kesegarannya, yaitu pre rigor, rigor mortis, dan post
rigor. Mutu ikan dapat dipertahankan jika ikan tersebut ditangani dengan hati-hati,
bersih, disimpan dalam ruangan dengan suhu yang dingin dan cepat (FAO 1995).
Berdasarkan hal diatas maka penulisan Kerja Praktek Akhir mengambil
judul Pengamatan Penanganan Ikan Di Atas Kapal Gill Net Dan Proses
Kemunduran Mutu Ikan Pada KM.Anak Laut 2 Di Pelabuhan Perikanan
Nusantara (PPN) Pemangkat Kalimantan Barat.
1.2 Tujuan
Berdasarkan latar belakang diatas, tujuan penulis mengambil judul ini
adalah :
1. Mengamati proses penangkapan dengan gill net,
2. Mengamati proses penanganan ikan di atas kapal,
3. Mengamati proses kemunduran mutu ikan.
1.3 Manfaat Penulisan
Berdasarkan tujuan penulisan di atas, adapun manfaat yang dapat di ambil
oleh dalam melakukan kegiatan Kerja Praktek Akhir (KPA) yaitu agar mengetahui
bagaimana cara teknik pengoperasian gill net, mengetahui proses penanganan ikan
diatas kapal serta mengetahui proses kemunduran mutu ikan.
1.4 Batasan Masalah
Mengingat keterbatasan waktu yang tersedia maka penulis membatasi
pembahasan mengenai teknik pengoperasian gill net, proses penanganan ikan
diatas kapal gill net, serta proses kemunduran mutu ikan yang akan
dilaksanakan

di

Pelabuhan

Perikanan

Nusantara

(PPN)

Pemangkat

Kalimantan Barat.
1.5 Waktu Dan Tempat
Pelaksanaan kegiatan Praktek Kerja Akhir (KPA) dilaksanakan di
Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pemangkat Kalimatan Barat. Pada
tanggal 12 April sampai 6 Juni 2013.